Let’s Make a Baby [Chapter-4]

Author: Unie

Genre: Angst, AU (Alternate Universe)

Rating: PG-15

Length: Chaptered

Main cast:

  • Lee Donghae
  • Shim Changmin
  • Sung Hyosun
  • Jessica Jung
  • Cho Kyuhyun
  • Victoria Song
  • Etc.

Disclaimer:

FF ini bener-bener imajinasiku. Kalau misal ada yang mau komplain karena ada kesamaan. Ke acc twitterku ya di: @onyuni


[PROLOG] [CHAPTER 1] [CHAPTER 2] [CHAPTER 3]

“Berapa lama kau berpacaran dengannya?” tanya Kyu oppa tanpa melepas kendalinya dari mobil. Pandangannya lurus.

Aku berfikir sejenak menimbang-nimbang kebohongan apa yang akan ku rancang kali ini“Sekitar tiga bulan lebih. Kenapa?”

“Kau mau membohongiku?” dia menoleh dan memberikan sorot matanya yang lumayan tajam.

            Sial! Dia tidak percaya.

“Aku tidak berbohong, oppa” kilahku mencoba membela diri.

Jujur saja aku lumayan panik. Aku dan Donghae belum membicarakan masalah berapa lama kami berpacaran, kapan kami bertemu, bahkan tanggal berapa kami jadian. Kenapa harus alibi tentang dia melamarku yang aku buat? Kenapa tidak semuanya? Idiot!

“Tiga bulan? Bukankah tiga bulan lalu pacarmu bernama Changmin?” tanyanya lagi. Dari matanya yang berkilat, sudah sangat terlihat bahwa dia tidak mempercayaiku.

“Aku sudah putus…” kataku dengan nada yang melemah.

“Dan secepat itu kau berpacaran dengan laki-laki bernama… Donge itu?”

“Lee Donghae, oppa” jawabku membenarkan.

“Iya. Siapapun namanya! Kau tidak mencintainya, Hyosun-ah. Aku bisa melihatnya dari matamu. Ini bukan kau?” katanya kesal, sambil menekan klakson dengan penuh amarah pada mobil yang tepat berada di depan kami.

~Tin… Tin…Tin~

“Aku tidak bohong, oppa”

“Bohong!!! Katakan kenapa kau berbohong?”

“Oppa aku pusing!!!” teriakku.

            Ban mobil langsung berdencit dengan aspal beberapa detik setelah aku berteriak. Kyu oppa menginjak rem secara mendadak setelah membanting setir ke bahu jalan. Tubuhku langsung menjorok ke depan namun tertahan oleh seat belt kemudian kembali ke sandaran jok mobil.

“Oppa, apa-apaan ini? Kita bisa mati!” protesku.

            Sorot matanya masih tajam dan hal itu cukup membuatku bergidik. Dia orang yang terbiasa dengan sikapnya yang dingin dan tidak mau ambil pusing. Tapi dia adalah pribadi yang cepat murka apabila ada orang yang membohonginya. Dan sekarang aku tidak bisa mengelak. Dia seperti singa yang siap menerkamku.

“Masih tidak mau mengaku?”

Aku menghela nafas cukup panjang dan akhirnya menyerah “Ck! Susah sekali aku membohongimu. Iya aku tidak mencintainya. Tapi kami menjalani hubungan ini dengan serius. Dia ingin menikahiku, oppa”

Aku menunduk, menghindari tatapannya yang tajam itu.

“Menikah? Kau bilang kalian akan menikah? Bagaimana bisa kalian menikah tanpa cinta? Impossible!” dia mendengus kesal dengan jawabanku yang terdengar asal di telinganya.

“Kami akan mencobanya, oppa”

“Apa? Mencoba katamu? Pernikahan itu adalah hal yang sakral dan tidak bisa diputus oleh tangan manusia, Hyosun-ah. Ini hanya sekali seumur hidupmu. Tidakkah kau memikirkan itu?” dia masih mendebatku, belum mau menyelesaikan konfrontasi ini.

            Ya. Pernikahan adalah hal yang sakral. Sekarang yang aku pikirkan bukan hanya bertemu dengan kakakku atau pindah kewarganegaraan Perancis. Tetapi juga keluarga Lee Donghae itu sendiri. Seorang gentleman muda seperti Donghae tidak akan bersusah payah membujukku untuk menikah dengannya, tanpa alasan yang benar-benar krusial. Aku yakin dia tidak punya pilihan yang lebih baik selain ini.

“Aku mengerti, oppa. Aku tahu maksudmu. Tapi ini keputusanku”

“Dengar, Hyosun-ah. Aku tidak mau kau tidak bahagia. Setelah kau naik pelaminan, saat itu pula tanggungjawabku sebagai kakakmu berakhir. Aku akan menyerahkanmu sepenuhnya pada suamimu. Kau adikku dan aku mau kau tidak salah mengambil keputusan, mengerti?”

“Aku mengerti, oppa. Aku mengerti. Tapi aku mohon, kali ini percayalah padaku” aku memasang tampang memelas.

Dia menatapku sejenak, memastikan sesuatu yang entah apa itu.

“Kau yakin akan bahagia?”

Aku mengangguk cepat di hadapannya. Dia berfikir sejenak kemudian menyalakan mobilnya lagi.

“Awas saja kalau kau sampai tidak bahagia” gumamnya.

“Percayalah padaku, oppa”

“Lakukan dengan tindakan, bukan ucapan”

“Oke, oppa” aku mengangguk pelan.

Aku memandang ke luar jendela, memandangi gedung-gedung yang berkelebatan seolah berlari ke arah yang berlawanan dengan mobil. Sesekali aku menoleh pada Kyu oppa yang dari tadi masih diam. Seperti biasa, dia memang tidak banyak bicara.

“Oppa…” tanyaku setelah beberapa menit berlalu.

“Ada apa?”

“Kau tidak menyukainya ya?” tanyaku ragu sambil menatapnya.

“Kau kan tahu kalau aku tidak bisa langsung percaya begitu saja pada orang dalam waktu singkat”

“Iya, aku mengerti. Tapi percayalah, dia orang yang baik” jawabku takzim.

“Aku hanya takut dia adalah laki-laki brengsek”

“Percayalah…” aku menatapnya memelas dan dia hanya mengangkat bahu.

            Aku mencontoh sikap seperti ini darinya. Sikap yang tidak mudah percaya dengan siapapun yang baru dikenal. Tapi entah kenapa ini pengecualian untuk Donghae. Walaupun belum genap sebulan aku berkenalan dengannya, tapi aku bisa merasakan bahwa dia orang yang bisa dipercaya.

***

From: Lee Donghae

Nenek dan ibuku ingin bertemu denganmu.

Kita bertemu di Bonapetit resto, besok jam 9.

            Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal. Kenapa dia tidak pernah bertanya apakah aku bisa atau tidak sih? Selalu seperti ini. Dia yang memegang kendali. Aku menatap keluar jendela, tak terasa hari cepat sekali berubah menjadi gelap padahal aku merasa baru beberapa menit yang lalu sampai di rumah ini. Tapi kenyataannya tidak, aku sudah dua hari berada di rumah.

To: Lee Donghae

Oke!

            Kemudian aku merebahkan badan di atas ranjang kesayanganku setelah melempar ponsel itu ke sisi yang lain. Aku sangat merindukan pewangi ruangan khas yang semerbak memenuhi ruangan ini. Dan hal ini selalu membuatku teringat masa lalu. Aku memejamkan mata, menerawang ke waktu yang sudah lewat tapi selalu membekas diingatanku.

“Eh, Hyosun. Cita-citamu apa kalau sudah besar nanti?”

            Waktu itu dia mengusap kepalaku pelan saat kami duduk bersama di tepi pantai. Saat itu umurku masih tujuh tahun, terpaut enam tahun dengannya. Aku memandang lurus ke cahaya jingga di sore itu, memandangi matahari yang hampir tenggelam di ufuk barat. Aku menoleh padanya.

“Aku ingin jadi pengantin” kataku polos.

Dia hanya tertawa renyah mendengarnya “Apa? Pengantin? Kenapa pengantin? Itu bukan cita-cita, Hyosun-ah”

“Itu cita-citaku, kak. Aku ingin punya anak-anak yang banyak dan lucu-lucu”

“Dasar anak kecil. Cita-cita itu seperti menjadi dokter, guru, pilot…”

“Tapi cita-citaku ingin menjadi pengantin! Aku ingin seperti Umma. Menunggu Appa, aku, dan kakak di rumah. Aku ingin memasak, menggendong bayi, dan mengajak mereka bermain” aku bersikukuh waktu itu. Dengan tampang tanpa dosa, aku berbicara tanpa henti dihadapannya.

“Ya! Kau banyak omong, Hyosun-ah” dia menjitakku kemudian berlari di atas pasir putih.

“Kakak!!! Awas kau! Aku akan menangkapmu! Aku pukul kau nanti”

            Aku ingat, saat itu aku langsung berlari mengejarnya. Kakiku yang kecil tidak sanggup mengejar langkah yang panjang. Dia terus menggodaku sambil memercikkan air asin dari pinggir pantai. Kami bermain-main dibawah matahari yang sebentar lagi tenggelam dengan sempurna. Aku sangat bahagia kala itu tapi ibarat disambar petir di siang hari yang buta, orangtua kami meninggal karena kecelakaan mobil dihari itu juga.

            Tak terasa airmataku menetes pelan menyusuri pelipis di saat pelupuk ini menutup. Aku sangat merindukan mereka. Aku merindukan kakakku yang sekarang entah dimana dan orangtuaku yang kini di surga. Tanganku menggenggam erat simbol keluargaku. Sebuah lempengan logam silver bertuliskan “Kim Family”. Marga asliku memang bukan Sung, melainkan Kim. Secara sengaja aku tidak pernah menyebutkan marga asliku pada orang lain, kecuali keluarga Cho yang telah mengadopsiku dan panti asuhan yang telah menampungku dulu. Aku ingin dikenal sebagai Sung Hyosun, bukan Kim Hyosun.

            Ku usap airmata yang mengalir saat keadaan mataku masih terpejam, kemudian menyelipkan lempengan itu di bawah bantal. Aku berharap hari ini bisa bermimpi, berkumpul bersama mereka bertiga seperti dulu.

            Bercita-cita menjadi pengantin? Mungkin itu terdengar konyol, tapi itulah impianku sampai saat ini walaupun keadaan sekarang berbeda. Bukan untuk menjadi ibu rumah tangga yang baik, tetapi aku akan menikah sebagai batu loncatan untuk segera bertemu dengan kakakku dan tinggal bersamanya di Perancis.

***

            Tidak seperti biasanya aku memakai make up berlebihan seperti ini. Biasanya aku hanya menyapukan bedak tabur ke setiap lini kulit wajahku dan seoles lipgloss di bibir. Tapi kali ini aku menggunakan mascara, blash on berwarna pink dan lip balm agar bibirku tidak begitu kering. Dandananku tidak menor, tapi  sengaja aku bentuk agar karakter di wajahku terlihat sedikit kalem dari biasanya. Aku juga memperkuat lekuk alisku dengan goresan pensil alis.

            Aku harus tampil sopan di hadapan calon mertua hari ini. Kata “calon mertua” memang membuatku sedikit, sedikit apa ya? Bahkan aku tidak bisa menggambarkannya mengingat calon suamiku adalah Lee Donghae. Rasanya aneh kalau aku juga harus berpenampilan seperti ini di hadapannya juga. Tapi walau bagaimana pun, aku tahu bagaimana harus menyesuaikan keadaan.  Aku memilih mengenakan dress merah yang panjangnya dibawah lutut dengan lengan yang cukup panjang tapi tidak mencapai siku. Kemudian ku padukan lagi dengan sepatu gelap hak setinggi 12 sentimeter. Untuk yang satu ini aku tidak memilih yang lancip. Selesai!

            Aku menyambar tas di meja rias yang senada dengan sepatu kemudian keluar dari kamar.

“Mau kemana?” tanya Kyu oppa yang tidak sengaja melintas di kamarku.

“Donghae mengajakku bertemu dengan nenek dan ibunya hari ini. Dia sudah menungguku di Bonapeti” aku menutup kamar tanpa menguncinya.

“Bonapeti? Ayah dan ibu sudah tahu?” dahinya berkerut.

“Aku baru akan memberitahunya sekarang”

“Suruh dia datang kemari untuk menjemputmu. Ayah tidak akan mengijinkanmu keluar seperti ini”

“Kenapa?”

“Kalau dia gentle, dia harus berani menjemputmu di rumah. Bukan kau yang datang padanya. Biar dia menghadapi ayah dulu. Telephone dia sekarang”

            Aku berfikir sejenak. Benar juga yang dikatakan oppa. Sebelum dia mengajakku ke rumahnya dan bertemu dengan orang-orang yang tak terprediksi wataknya olehku, dia harus menghadapi ayah angkat dulu.

“Oke”

            Aku langsung men-dial nomor ponsel Donghae di atas keypad kemudian melekatkannya di telinga.

“Hallo”

“Kau dimana?” tanyanya langsung dari seberang sambungan.

“Aku masih di rumah. Kau sudah sampai?”

“Aku masih di jalan, lima menit lagi juga sampai”

“Donghae-shi, bisakah kau menjemputku di rumah? Kau harus meminta ijin dulu pada ayahku”

“Harus?”

“Sepertinya begitu” aku melirik Kyu oppa yang masih mengawasiku.

Terdengar dia menghela nafasnya sejenak kemudian berkata “Baiklah, aku ke sana. Kirimi aku alamat lengkapmu”

“Oke”

            Aku memutus sambungan dan dengan sigap mengetikkan beberapa karakter yang membentuk alamat dimana aku tinggal sekarang. Kemudian menekan tombol ‘send’ setelah pesan itu selesai ku teliti sebanyak satu kali.

“Dia masih di jalan. Aku sudah memberikan alamat kita”

“Baguslah. Sekarang beritahu ayah kalau pacarmu itu mau ke sini” Kyu oppa langsung melenggang pergi sambil berkutat dengan psp-nya.

“Oke” jawabku malas-malasan.

            Aku berjalan ke ruang tengah dan mendapati Ayah dan ibu sedang menonton TV. Wajar saja semua orang berada di rumah sekarang, hari ini adalah hari minggu. Biasanya ayah pergi ke kantor dan Kyu oppa pergi ke universitas Inha untuk mengajar. Dia adalah dosen muda jurusan sains. Aku duduk di anak sofa yang masih kosong.

“Kau cantik sekali hari ini. Kau mau kemana, Hyosun-ah?” tanya ibu yang menyadari kedatanganku. Dia menatapku sumringah. Sementara itu ayah masih fokus pada acara televisi.

“Donghae mengajakku ke rumahnya, bu. Nenek dan ibunya ingin bertemu denganku” kataku ragu.

“Oh, pacarmu yang diceritakan Kyuhyun semalam?”

Aku mengangguk. “Kata oppa, dia harus bertemu dengan ayah dulu untuk meminta ijin. Makanya dia aku menyuruhnya menjemputku di rumah”

“Laki-laki memang harus begitu. Dulu ayahmu juga melakukan hal yang sama pada ibu.”

“Katakan satu hal pada ayah, Hyosun-ah. Apa yang membuatmu ingin menikah dengannya?” ayah yang tadi fokus menonton berita, sekarang menatapku serius.

Well, ini pertama kalinya seorang pria akan berkunjung ke rumah untuk menemuiku. Dan sepertinya semua orang benar-benar menanyakan keyakinanku memilih Donghae. Satu hal? Ayah bertanya tentang satu hal? Tapi apa keistimewaan Donghae? Aku juga baru mengenalnya.

Aku berdeham kecil “Aku memang belum lama mengenalnya, ayah ibu. Tapi aku punya satu keyakinan kalau dia adalah orang baik sekalipun aku bukan paranormal yang bisa membaca pikirannya”

“Ku dengar kalian berencana menikah?” tanya ayah dan aku menjawabnya dengan anggukan.

“Iya, ayah”

“Kau yakin dengan pilihanmu ini?”

“Aku yakin tidak akan mengecewakan kalian”

            Hampir satu jam aku menunggu kedatangannya di rumah. Tapi ini terbilang cukup lama. Dari Bonapeti resto ke rumah jaraknya tidak lebih dari lima belas kilometer. Seharusnya dia sudah sampai dari tadi. Aku mondar-mandir di salah satu sisi rumah karena SMS-ku belum juga dibalas olehnya. Ada apa ini?

“Mungkin dia terjebak macet” kata Kyu oppa yang datang dari arah dapur sambil membawa segelas air.

“Mungkin” aku mengangkat bahu. Aku melihat jam tanganku sekilas.

Kyu oppa berjalan menuju kamarnya, tapi langkahnya terhenti kemudian dia berbalik dan memandangku. “Menurutmu kado yang cocok untuk seorang wanita apa?”

“Kado untuk wanita?” tanyaku heran tapi sekian detik kemudian aku sadar apa yang dimaksud olehnya.

“Sejak kapan kau punya pacar?”

“Bukan pacar. Hanya teman biasa”

            Tidak. Pasti bukan teman biasa. Expresinya sedikit berubah walaupun dia tidak banyak bicara.

“Ayolah, katakan. Siapa dia? Apa ayah dan ibu sudah tahu?” aku merajuk, menatapnya dengan menggoda.

“Aku belum berpacaran dengannya. Ini baru semacam pendekatan” katanya malu-malu.

            Astaga. Kakak angkatku yang satu ini ternyata bisa mengenal wanita juga? Biasanya yang ada di otaknya adalah bagaimana caranya mengalahkan seluruh game di laptop dan PSP-nya. Sisanya mengurusi materi untuk perkuliahan reguler.

“Katakan siapa gadis tak beruntung itu?” aku semakin dibuat penasaran olehnya.

“Kau mengenalnya”

“Aku?” terperanjat.

“Dia mahasiswi semester akhir fakultas kedokteran Universitas Seoul”

            Sejenak aku memandangnya penuh tanya sampai akhirnya aku sadar wanita mana yang dia maksud. Otakku mengolah sesuatu tentang seorang wanita berambut panjang dan bergelombang yang sorot matanya sangat aku kenal. What the hell is going on?

“Oppa, kau…”

~Tin…Tin…Tin~ suara klakson mobil membuyarkan kami.

Kyu oppa langsung meninggalkanku dengan senyum yang penuh arti. Kau berhutang penjelasan padaku oppa! Aku langsung berjalan menuju pintu dan membukanya. Pandanganku tertuju pada seorang pria yang baru saja keluar dari Mercedes-Benz miliknya. Dia berjalan ke arahku sambil membenarkan kancing jasnya yang terlepas kemudian mengendurkan dasi yang hampir mencekiknya.

Mataku tidak sempat berkedip saat dia mendekat. Kemeja putih yang dibalut dengan jas berwarna pastel itu sangat pas di badannya. Ditambah lagi dengan dasi yang mencekik kerah kemeja dan disesuaikan agar senada, dia tampil dengan elegan dan … tampan. Tapi kenapa aku baru menyadarinya? Hentikan Hyosun! Hentikan! Kau tidak perlu memikirkan hal yang tidak penting.

Saat berada tepat di hadapanku, ia menatapku sejenak. Aku tidak tahu apa yang membuatnya diam untuk sesaat. Apa ada remah-remah biscuit di bibirku?

“Kau lama sekali?” tanyaku memecah pandangannya.

“Aku terjebak macet.”

“Masuk dulu. Akan mengenalkanmu pada ayah dan ibu angkatku”

            Aku membimbingnya masuk ke ruang keluarga dimana Ayah dan Ibu angkatku masih belum melepas channel favoritnya.

“Ayah, Ibu. Kenalkan, ini Donghae” ayah dan ibu yang sedari tadi duduk berdiri menyambutnya.

“Apa kabar, paman, bibi. Saya Lee Donghae” Donghae membungkuk sebagai tanda penghormatan.

“Oh, jadi kau yang bernama Donghae. Ternyata kau sangat tampan ya” Ibu memuji dengan senyum yang terkembang.

“Hyosun-ah, kau masuk ke kamar dulu. Ayah ingin berbicara dulu dengan Donghae” Ayah memberikan pertanda dengan matanya.

“Iya” aku berjalan menuju kamar tanpa protes lagi.

            Ada apa ini? Kenapa Ayah mengajaknya bicara tanpa aku? Ck! Jangan-jangan Donghae diadili oleh ayah. Tapi atas kesalahan apa? Atau jangan-jangan ayah tidak menyukainya?

            Bermenit-menit aku menunggunya di dalam kamar, mematuhi instruksi yang diberikan oleh ayah. Gusar? Tentu. Yang aku lakukan hanyalah mondar-mandir dari satu sisi kamar ke sisi kamar yang lain. Aku memandang ke kaca. Pantulannya memperlihatkan bayangan diriku sendiri. Sejenak aku menatap dress marun. Aku merasa mencolok dan tidak percaya diri dengan yang membalut badanku dengan sempurna ini.

            Akhirnya setelah beberapa saat berfikir, aku berjalan menuju lemari. Memilah-milah antara satu dress ke dress lainnya. Kalau aku tetap memakai merah, tidak akan senada dengan pakaian Donghae. Dan akhirnya pilihanku jatuh pada drees putih bertali sedang dan panjangnya kurang lebih sama dengan dress merah yang ku kenakan sekarang. ini lebih match dengan pakaian formal Donghae.

“Hyosun-ah… Keluarlah” suara nyaring khas dari mulut ibu itu membuyarkanku.

“Ya, bu! Sebentar!”

            Aku bergegas mencopot dress yang ku kenakan kemudian melemparnya sembarangan di atas kasur lalu menggantinya dengan dress yang tadi ku pilih. Setelah menarik resleting punggung, aku tidak langsung keluar melainkan menghadap cermin lagi. Kusibakkan beberapa helai rambut yang tidak rapi ke belakang lalu berkata “Looks better”. Aku keluar kamar dan menuju ruang keluarga, menemui Donghae, ayah dan ibu.

“Kau mengganti bajumu?” ibu bertanya heran. Suaranya yang renyah membuatku tersenyum.

“Aku tidak percaya diri memakainya. Terlalu mencolok mata” aku menatap Donghae sekilas yang turut memperhatikan penampilanku yang baru.

“Ya, sudah. Kau bisa pergi sekarang. Donghae-ah, tolong jaga putri kami” ayah menatap wajah Donghae dengan saksama. Lalu apa yang dibicarakan mereka?

“Saya mengerti. Paman, bibi, kami pergi dulu” Donghae membungkuk, kemudian melirik padaku agar ikut berjalan mengikutinya.

“Ayah, Ibu aku pergi dulu”

“Hati-hati ya…”

            Donghae berjalan mendahuluiku dan aku bergegas menyamai langkahnya saat berada di muka pintu. Tidak ku pungkiri jika rasa penasaran sekarang menyergap ke seluruh urat nadiku. Apa yang mereka bicarakan?

“Donghae-shi, ayah mengatakan apa?” tanyaku saat kami tengah berada di dalam mobil. Dia tidak langsung menjawab, tapi mengendalikan mobilnya dulu agar bisa keluar halaman.

“Donghae-shi…” tegurku lagi dan ini lebih mirip seperti sebuah rengekan.

“Hanya pembicaraan pribadi antara calon mertua dan menantu. Tidak ada yang penting” matanya fokus, berkonsentrasi pada jalan tanpa menoleh padaku.

“Tentang apa? Katakan. Apa ayah memarahimu? Atau apa?”

Dia menghela nafas cukup panjang dan mengeluarkannya dengan hentakan yang sangat kentara “Kau tahu, saat menghadapi ayahmu rasanya seperti sedang melihat grafik saham-sahamku yang anjlok di bursa efek. Tanganku langsung dingin”

Tapi sejurus dengan itu dia tersenyum simpul, seperti tanda kemenangan. Lalu apa yang dibicarakan ayah dengannya?

“Lalu? Apa yang dikatakan oleh ayah, Donghae-shi?” suasana tegang menyusup di tengkukku.

“Semacam wejangan yang diberikan oleh mertua kepada menantunya hanya itu. Jangan bertanya detailnya karena aku tidak akan memberitahumu”

“Donghae-shi…”

“Sudah ku bilang belajarlah memanggilku oppa. Nenekku sangat cerewet dan terbilang galak. Bisa-bisa seharian kau jadi bulan-bulannya kalau kau terus memanggil namaku”

            Oppa? Kenapa susah sekali menggunakan kata ini untuk memanggilnya. Oppaku hanya satu, yaitu Cho Kyuhyun. Aku tidak terbiasa memanggil orang lain sama seperti Cho Kyuhyun. Arrrghh! Perutku jadi keram membayangkan keluarga Donghae. Sudah cukup aku mendapat sambutan yang kurang mengenakkan dari Victoria, dan sekarang aku harus berhadapan dengan dua anggota keluarga Donghae yang lain? Oh, God! Please, help me!

“Walaupun cerewet dan galak, hati nenekku terbilang lembut. Dia tidak akan menyampaikan rasa sayangnya secara implisit tapi lebih ke hal-hal yang eksplisit. Dan kitalah yang harus pandai-pandai memahaminya. Kalau kau berhasil mendapatkan hatinya, ibuku dengan sendirinya akan luluh. Kau bisa membunuh lalat dalam satu kali tepukan” paparnya berlagak sastrawan. Terlihat jelas dari kata-kata yang dipilihnya.

“Kenapa kau memakai pribahasa itu? Mengibaratkan ibu dan nenekmu sebagai lalat.” Protesku.

“Karena kalau aku menggunakan sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, itu sangat tidak masuk akal. Mana bisa mencapai dua atau tiga pulau yang berbeda dengan sekali dayung? Imposible”

“Tapi itu kan pribahasa…”

“Logikaku seperti itu. Mau bagaimana lagi?”

“Terserah kau” aku menyerah menghadapinya.

“Kenapa dari awal kau tidak memakai dress ini? Warna merah membuatmu terlihat sedikit garang dan pantulan warnanya merusak mata” katanya sambil memandangi dress yang ku kenakan.

Aku memutar bola mataku “Garang atau tidak yang penting aku tetap terlihat cantik”

“Yeah, terserah kau mau memuji dirimu sendiri seperti apa. Oh iya, ayahmu sudah mengijinkanku mengajakmu ke Mokpo” dia memilih tidak berargumen lebih lanjut. Tangannya masih mengendalikan setir dan matanya fokus terhadap jalan walaupun sesekali melihatku saat berbicara.

“Mokpo? Untuk apa kita ke sana? Bukankah rumahmu di ibu kota?” aku terkesiap karena dia baru bercerita sekarang.

“Nenekku mengundangmu. Nenek dan ibu masih di sana. Kemarin adalah hari kematian kakek karena itulah nenek masih di sana”

“Apa kau bercerita banyak tentangku?”

“Tidak. Aku hanya bilang ingin menikah dan aku menceritakan tentang dirimu”

“Lalu?”

“Nenek ingin bertemu denganmu secara langsung. Itu saja”

            Dalam perjalanan, aku masih memikirkan tentang bagaimana karakter nenek Donghae. Apakah dia tipe nenek yang kolot dan tidak menerima peradaban baru,  atau seorang nenek yang bersikap cool seperti Donghae sekarang ini, atau bagaimana. Aku penasaran. Pertanyaan-pertanyaan itu timbul tenggelam seiring kendaraan ini melaju.

            Beberapa jam kemudian kami sampai di daerah Mokpo yang letaknya di provinsi Jeollanan-do, ujung barat daya semenanjung Korea. Memang tidak sebesar dan sepadat Ibu kota, tapi Mokpo menawarkan panorama alam yang cukup indah terutama pesisir pantainya. Sepanjang jalan menuju rumah Donghae, mataku terbius dengan birunya air laut yang membentuk ombak-ombak kecil. Indahnya daerah ini.

            Untuk mencapai rumah Donghae kami memerlukan waktu sekitar tiga puluh menit dari pusat kota Mokpo itu sendiri.

“Tempat ini indah” kataku memuji.

“Kau baru pertama kali ke sini?” tanyanya menanggapi tanpa menoleh padaku.

“Iya. Dulu waktu aku kecil aku pernah pergi ke pantai, tapi di hawai saat liburan. Aku, umma, appa dan kakak berlibur saat musim panas di sana” mengingat butiran pasir putih yang terhampar, membuatku ingat akan masa lalu yang kelam.

“Apa kau sudah menemukan jejak kakakku?”  dengan suara parau aku menatap Donghae penuh harap. Aku ingin dia menjawab telah menemukan kakakku walaupun itu mustahil. Aku rindu sekali padanya.

“Aku akan mencarikannya untukmu. Percayalah kalian akan berkumpul lagi” Donghae menatapku penuh arti kemudian menginjak rem-nya setelah sampai di tikungan lalu membunyikan klakson.

            Donghae menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah rumah yang pagarnya bisa dibilang cukup menjulang tinggi. Melihat sisi luarnya saja, aku bisa menerka bahwa halaman rumah ini cukup luas. Setelah klakson berhenti berbunyi pintu pagar pun terbuka secara otomatis dan mobil pun melaju kembali. Roda mobil bergesekan dengan kerikil-kerikil kecil yang merupakan sekat antara sisi halaman bagian kanan dan kiri yang terbentuk menyerupai jalan setapak.  Mataku terpaku pada halaman di sisi kanan yang dipenuhi dengan berbagai macam bunga dan membentuk sebuah gradasi indah di bagian depan. Kemudian aku lemparkan pandanganku ke luar jendela di samping Donghae dan yang ku temukan adalah hamparan rumput hijau yang cukup luas dengan beberapa pohon berdiri di pinggirannya. Halaman kiri itu menyerupai lapangan mini untuk sekedar bermain lempar tangkap bola.

“Nenekku suka berkebun” kata Donghae dan hal itu cukup singkat untuk menyimpulkan pertanyaan-pertanyaan yang menyeruak di kepala.

“Ohh… Rumahmu lumayan Indah.”

 Pamanku yang tinggal di Kanada adalah seorang arsitek. Dia cukup mengerti masalah design interior dan exterior. Sebagian besar dialah yang memperbaharui keadaan rumah ini sebelum kakek meninggal” Donghae menginjak rem kaki kemudian mematikan mesin mobilnya setelah berada tepat di muka rumah.

“Ayo turun…” tambahnya saat melepas seatbelt yang sedari tadi mengikatnya.

            Aku mengikutinya berjalan ke dalam rumah. Rasanya jantungku berdegup lebih kencang dan kalau diibaratkan mungkin ini seperti drum yang sedang ditabuh dengan stick oleh seorang drummer. Stupid! Kenapa seperti ini? Apa tadi Donghae merasakan yang seperti ini? Kalau dia merasa sahamnya akan anjlok, tapi aku merasa seperti seluruh file hasil editanku hampir termakan virus. Semoga jantung ini tidak lompat dari tempatnya. Aku harap detakan ini tidak didengar oleh Donghae. Apakah ini sindrom sebelum bertemu dengan calon mertua? OMG!

            Aku memperhatikan setiap parabot yang tertatap rapi di ruang tamu yang seolah menertawaiku karena rasa gugup yang sangat kentara. Aura rumah ini terasa horror. Kenapa aku harus merasa seperti ini? Hello!!! Ini hanya sekedar bertemu dengan calon mertua, tidak lebih. Kau hanya duduk, mengobrol, kemudian minum teh, itu saja. Calm down, baby!

            Aku mengekor di belakang Donghae, mengikutinya menuju sisi rumah yang lain sampai akhirnya kami berhenti di sebuah ruangan dimana ada seorang wanita yang sangat aku kenal tengah duduk bersama dua wanita lainnya. Dia adalah Victoria yang beberapa hari ku temui di bandara, melihatku datang rautnya berubah dan langsung membuang muka. Persetan! Aku memperhatikan dua wanita yang lain yang duduk bersebelahan, aku mengenali wajah mereka melalui bingkai foto di kantor Donghae yang berada di Paris. Aku yakin yang aku pandang saat ini adalah ibu Donghae. Pakaiannya cukup formal layaknya exsecutive di perusahaan swasta. Tapi itu tidak membuatku heran karena dialah pemegang kendali utama Lee Corporate saat ini, menggantikan ayah Donghae yang sudah meninggal. Jadi wajar saja jika tampilannya seperti itu. Aku melemparkan pandanganku pada wanita tua berkacamata yang kini rambutnya tengah dipenuhi uban. Dia juga memandangku dan secara refleks aku membungkuk kecil.

“Ibu, nenek, ini adalah Sung Hyosun yang aku ceritakan kemarin.”

-TBC-

Sorry banget buat yang chapt 3 gak aku edit sama sekali dan hasilnya pas ku preview banyak banget yang acak-acakan mulai dari salah ketik, penggunaan kata-kata yang monoton dan imbuhan “–nya” yang kurang tepat ditambah lagi feel di Paris yang kurang greget. Computer tiba-tiba mati beberapa kali ampe aku frustasi dan udahlah banyak banget yang bikin emosi waktu itu /males bahas/. Kenapa aku nampilin Kyu sama Vic? Gak jelas! Aku sendiri juga bingung saking stressnya waktu itu /plak. Pas liat fotonya Vic lagi megang lipstick langsung aku daulat (?) aja sbg cast. Tadinya mau aku masukin biasku sendiri tapi setelah aku pikir-pikir gak cocok, ujung-ujungnya malah lawak ngebayangin tampangnya dia. Urusan Vic and Kyu jadian ato gak, temuin aja di chapt2 selanjutnya. Soal Max?  Ehhhhhhmmmm………

Kuis: Yang bisa jawab siapa kakaknya Sung Hyosun aku bikinin oneshot. Tapi aku publish setelah dia nongol di FF. Tertarik? Marganya dah aku kasih tau kan? Kim. Bukan Sung.

 

To: anakingusan

Iya mainset, sory salah. Kamu anak ITS?

To: Dead Swordmaster

Hahaha I LIKE U!!!

Belum waktunya genre medical muncul lagi…

Ntar aku munculin dengan kemasan yang berbeda (?)

To: Ryezkyae Kim

Jangankan kamu, aku juga ngerasa janggal pas terlanjur publish LOL.

To: yepipo

Kapan sih aku gak bikin kamu meleleh, dik?

LOL LOL LOL

To: Angiefishy

/GABRUK/ Ah kamu mesum sekaleeeeeeeeeee?

Minta dicium-cium mulu…

Ntar chapt selanjutnya aku bikin Sung Hyosun dikejar anjing LOL

To: The

Baru kali ini ada sider muncul di FFku langsung nyodorin kelingking…

*kasih telunjuk*

Aku yang menang (?)

To: nindyminhosiwon

Coba baca lagi dari part 1 kenapa bayi tabung gak boleh di Kristen/katolik…

Jangan baca langsung chapt 3, ntar kamu gak negrti awalnya.

To: SAERYUNG

Nikahnya kapan? Sebenarnya bsa aja dari awal bikin mereka langsung nikah, Cuma aku lebih seneng cerita prosesnya dulu kalau menikah itu gak segampang membalikkan telapak tangan. Tunggu aja, pasti mereka bakalan menikah kok.

To: zolaallodyanail

Dari awal aku emang milih changmin sebagai Cast, tapi jujur aku sama sekali gak tahu kalo agamanya Buddha. Setelah part 1 publish aku baru mikirin alasan2 dari Donghae maupun Sung Hyosun. Dan pas nyampe Changmin aku juga ngerasa dilema mau pake alasan apa. Tapi aku langsung googling nyari fakta2nya dia dan pas tahu agamanya Buddha, ide langsung muncul gitu aja.

 

To: Lee Hyejin-Kim Inseul

Eh, lo berdua janjian ya komen berurutan.

FF kalian belom ku buat!!!

Ngetik gampang tapi ide lagi gak ada.

Buntu!!!

 

To: Teytaismyname

Wah, gak tau deh kalo novel mah hehehehehehe

 

INDEX: [PROLOG] [CHAPTER 1] [CHAPTER 2] [CHAPTER 3]

310 responses to “Let’s Make a Baby [Chapter-4]

  1. Kim siapa sih kak? Uh penasaran banget. Izin baca next chapter ya… Kim Jonmyeon, Kim minseok, Kim jongdae, Kim Myungsoo, Kim Jongin, Kim bum, kim heechul, kim jonghyun, kim kim kim an. Haha kenapa yang aku tahu cuma seputaran exo ya?

    From your reader
    CantikaPark

  2. Eon aku readers baru izin baca ya ceritanya bagus eon.. Greget gimana gitu..
    Ketawa sendiri wkt pas adegan 15% dipart sebelum’y… Maaf ya eon aku baru komen dipart ini.. Tp aku janji dipart selanjut’y bakal komen dan ga jd readers gelap..
    Salam kenal eon….

  3. keren…. jangan jangan kakaknya kim kibum hhehhehe *ngarep…. tp bener deh, ini keren bikin penasaran…. itu penasaran juga sama kyu n vic…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s