[Chapter 5] Truth or DARE?!

Author : Choi Seunhye

Main Casts : Cho Kyuhyun, Seo Joohyun, Lee Sungmin

Other Casts : Kim Ryeowook, Kim Joongwon, Kim Heechul, Kwon Yuri, Im Yoona, Park Jungsu a.k.a Leeteuk

T, Romance, Friendship, AU

anneyeong *lambai tangan*

Seunhye imnida! Mian telat ngepost! Listrik mati terus >_<

Chapter kali ini bakal ngejawab pertanyaan kenapa Ryeowook marah waktu Sungmin mendapat dare Yuri. Hahaha

Don’t be A SILENT READER!

happy reading ^^

previous chapter :

chapter 1 | chapter 2 | chapter 3

chapter 4

 

 

Cerita lalu

“Sungmin imnida…,”kata Sungmin. Seohyun tersenyum.

xxx


 

Seohyun’s POV

 

Kepalaku berat. Lututku juga. Tapi, aku dimana ya?

Aku berusaha membuka mataku yang juga terasa berat entah karena apa.

“Nggg…,”aku membuka mata dan…. “KYYYYAAAAAAAA!!!!!”

Brrakk! Plakkk!!!!

Aku langsung bangkit berdiri dan ngos-ngosan. Terkejut melihat muka Sungmin Sunbae yang pertama kali aku lihat. Dia sudah ngapain aku?! Aku lihat daerah sekeliling. Sudah gelap. Aku dimana ini? Tunggu dulu… Ini kan di kantin sekolah?!!!

Aku menatap Sungmin Sunbae yang sedang mengaduh ria karena kepala dan pipinya baru saja aku pukul. Tersadar, aku cepat-cepat kembali duduk di sebelahnya.

“Ah sunbae~ , mianheyo….,”kataku mengusap-usap pipinya.  Ia menatapku dan menggeleng.

“Tidak apa-apa,”katanya namun masih mengusap-usap pipinya. Aku merenung dan menatap sekeliling.

“Apa yang terjadi?”tanyaku. Ia memberhentikan aksi usap-usap pipinya dan menatapku bingung dan aneh.

“Ne? Kau tidak tahu?”tanyanya. Aku menoleh ke arahnya dan mengangguk.

“Kau pingsan…,”katanya dan menyenderkan punggungnya di kursi.

“Aku panik tapi tidak bisa ngapa-ngapain karena kau langsung pingsan saja. Jadi, aku tungguin kamu disini…,”katanya. Aku menatapnya lalu menunduk.

“Mian.. Aku banyak merepotkan Sunbae,”kataku. Ia tersenyum dan mengangguk. Ia masih terus menatapku dan aku juga jadi jengah diliatin. Jadi, aku melihatnya lagi.

“Jam berapa sekarang?”tanyaku. Ia melihat ponsel pink-nya itu.

“Jam delapan,”jawabnya. HA?! JAM DELAPAN? MATI AKU!!

“Aduhh!!! Udah malam banget! Gimana ini? Sunbae, aku harus pulang!!!”kataku dan langsung berdiri begitu saja. Tapi, aku baru ingat kalau aku tidak tahu jalan. Maka dari itu aku kembali berbalik dan menatap Sungmin sunbae.

“Sunbae~. Aku tidak tahu jalan…,”kataku memelas. Ia masih melihatku dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia berdiri dan menarik tanganku. Tentu saja aku menolak.

“Sunbae ah~?”panggilku.

Kini ia berbalik badan dan menatapku,”Seohyun, apa kau lupa semuanya?”tanyanya. Aku mengangkat bahu.

“Seohyun…. Appa mu koma di rumah sakit.” Perkataannya, intonasinya yang datar, volumenya yang kecil, tapi terasa seperti menggema dengan besar di telingaku.

Ne?! Appa?

Aku menutup mulutku untuk menahan suara tangisan yang akan memekik. Ne… Aku baru ingat. Alasan kenapa tadi aku pingsan. Appa ku… Appa ku… Aku anak tunggal. Jika Appa tidak ada, siapa yang akan merawat kami?

Air mata dari kedua mataku tumpah tak tertahan. Tubuhku kehilangan keseimbangan dan aku langsung terhempas. Jika tidak ada tangan Sungmin sunbae, mungkin aku sudah tergeletak disini.

“Tapi… Kok… bisa?”tanyaku pada diri sendiri di sela-sela tangis. Sungmin sunbae yang menahan kedua tanganku, ia berjongkok dan menatap kedua mataku.

“Seohyun… Kau harus sabar…,”katanya. Aku menatap tajam ke arahnya meski aku tidak bisa melihatnya dengan jelas karena air mata ini.

“Sunbae gak ngerti!!!!”bentakku. Ia menghela nafas dan mencoba tenang.

“Aku memang gak ngerti keadaannya yang sebenarnya. Tapi, mengertilah, kau tidak boleh sedih. Karena itu juga membuat appamu sedih,”katanya.

Aku takjub menatapnya. Kenapa? Kenapa? Hanya dengan perkataannya itu, rasanya batinku tenang. Kenapa? Aku baru kenal dengan sunbae pagi tadi. Itupun dalam suasana yang tidak enak. Tapi, rasanya dia baik sekali…

Ia mencoba tersenyum saat aku masih menatapnya. Tidak hanya takjub, aku juga tersenyum saat ia menarikku ke dalam pelukannya.

“Kau tau? Sekarang kau benar-benar rapuh.. Kau butuh sebuah pelukan,”katanya yang membuatku kembali menangis.

 

*

Kyuhyun’s POV

 

“Hahahaha… Jadi, kau tertawa waktu aku gendong si Seohyun?”tanyaku pada Ryeowook. Ia mengangguk-angguk.

“Hahahaha.. Tapi kau hebat ya, Hyun, cepat juga!”kata Yesung yang duduk di sebelahku dan ia meminum coffe latte-nya. Aku mengangguk sambil menepuk-nepuk dada dengan bangga.

“Ne! Kalau gak  gitu, bukan Kyuhyun namanya!”kataku. Ryeowook dan Yesung tertawa-tawa saja. Tiba-tiba, ponsel Yesung yang tergeletak di meja depan kami berkedip-kedip karena ponsel tersebut sudah di silent.

Kami berdua langsung diam ketika Yesung menyambut hubungan telepon itu,”yeoboseo? Sungminnie?!” Yesung menatap ke arahku ketika telepon itu masih ada di telinga kanannya. Wajahnya yang tadi ceria kini menjadi serius.

“Ne.. aku memang lagi sama Hyunnie,”kata Yesung melirik sekilas ke arahku. Aku terkejut! Hyunnie? Memang disini ada Seohyun?

Otomatis, aku langsung celingak-celinguk di rumah Wookie ini. Memangnya ada Hyunnie? Apa mereka mau buat kejutan untukku?

Aku langsung menatap Yesung yang masih berbicara di telepon setelah merasa pasti jika disini tidak ada Seohyun. Tapi Hyunnie itu siapa?

Aku berpikir dalam-dalam. Yang ada di ruangan ini cuman ada Yesung, Ryeowook, dan aku. Yesung? Anni… Ryeowook? Dia kan Wookie. Aku? Aku? Kyuhyun? Ha?! Kyuhyun?! Nee!!!! Hyunnie!!!

Aku memiliki nama panggilan sama dengan Seohyun! Jadi, setiap aku panggil Seohyun Hyunnie , berarti aku juga memanggil diriku sendiri!

“Ne?!”Yesung seperti terkejut. Ia menatap Ryeowook yang penasaran dengan siapa ia berbicara.

Yesung menghela nafas,”ne… Kami kesana sekarang,”katanya dan menutup telepon.

“Siapa?”tanya Wookie. Aku menatap Yesung penasaran.

Ia menatapku,”Kyu, Sungmin pinjam bajumu satu saja. Dan kita harus ke rumah sakit sekarang.”

Aku melongo juga bersama Wookie. Siapa yang sakit?!

 

*

Aku, Yesung, dan Ryeowook jalan dengan cepat-cepat saat kami sudah ada di lantai dua di sebuah rumah sakit swasta Seoul. Sungmin cuman bilang cari ruangan ICU yang ada di lantai dua. Siapa yang sakit? Soal itu, Yesung memang tidak tahu.

Saat kami sudah membaca tulisan ICU di atas sebuah daun pintu, aku terkejut melihat Sungmin yang tengah duduk di leretan kursi pengunjung dengan seorang yeoja yang mengenakan seragam sekolah yang sama dengan Sungmin. Seragam sekolah kami.

“Sungmin?”panggilku. Sungmin yang tadi hanya melamun melihat yeoja yang bersender di pundak kanannya, ia melihat ke arahku dan membuat tanda jari telunjuk di depan bibirnya. Menyuruh kami diam.

“Apa yang terjadi?”tanya Yesung mendahului jalanku dan ekspressinya terkejut saat ia mengetahui siapa yeoja itu.

“Dia?!”tanyanya dengan mata melotot. Sungmin mengangguk. Aku semakin penasaran dan aku langsung jalan mendekati Sungmin untuk mengetahui siapa yeoja itu.

Dan alangkah terkejutnya aku saat aku mengatakan,”SEOHYUN?!”

Sungmin mengangguk.

Aku berjongkok dan melihat matanya yang terpejam itu sangatlah bengkak. Sepertinya ia sudah menangis dalam waktu yang lama. Apa yang terjadi? Wajahnya juga nampak kusam. Kedua lututnya dibungkus dengan perban. Mungkin karena luka saat ia jatuh tadi pagi bersamaku. Tapi, yang terpenting, kenapa dia bisa bersama Sungmin?!

Aku menatap Sungmin dengan tatapan berbagai pertanyaan. Ia hanya diam saja dan ia menyuruhku untuk duduk di sebelahnya. Aku mengikuti saja perintahnya. Lalu, ia memegang kepala Seohyun dan menggesernya ke pundak kiriku. Aku terkejut dengan apa yang dilakukannya.

“Lho?!”tanyaku dengan suara yang kecil. Sepertinya Seohyun tertidur dengan lelap. Ia sampai tidak sadar kalau kepalanya baru saja dipindahkan oleh Sungmin. Sungmin berdiri dan meregangkan tubuhnya.

“Hoooaahhhh… Capek sekali!”katanya lalu menggerak-gerakkan pundak kanannya, seperti melakukan pelemasan. Ryeowook yang duduk di depanku, berdiri dan menyodorkan sebuah tas karton.

“Ini..,”katanya. Sungmin mengangguk,”gomawo..,”katanya dan menaruh tas itu di sebelahku.

“Ada apa ini?”tanyaku. Sungmin hanya tersenyum.

“Nanti biar Yesung atau Wookie yang cerita. Aku mau cari makan dulu,”katanya lalu berjalan menarik Yesung dan Ryeowook menjauhiku. Aku menatapnya dengan sangat bingung.

Tiba-tiba ia menatap ke arahku meski terus berjalan,”lagipula aku membatumu untuk memenangkan dare ini,”katanya dan kembali menghadap depan lalu tertawa-tawa dengan Yesung dan Ryeowook.

Ada apa ini? Siapa yang sakit? Kenapa ada Seohyun?

Aku menatap kursi penunggu yang kosong dan menatap Seohyun yang tertidur di pundak kiriku.

 

*

Normal POV

 

Kyuhyun sudah tahu semuanya. Yesung dan Ryeowook sudah menceritakan semuanya padanya. Ia pun akhirnya menaruh simpati pada Seohyun. Ibu Seohyun juga sudah mulai percaya pada Kyuhyun. Malam itu, ia pulang ke rumah untuk beristirahat. Dan Kyuhyun menerima permintaan tolong dari ibu Seohyun untuk menjaga Seohyun. Seohyun masih tertidur di ruang tunggu depan ICU di pundak kiri Kyuhyun. Malah sekarang kini ia memeluk tangan kiri Kyuhyun yang mungkin disangka guling. Kyuhyun pun juga sepertinya menjaga Seohyun dengan baik. Kadang ia menatap wajah Seohyun yang tengah tertidur pulas. Kadangpun ia juga tidak bisa menahan tangannya untuk mengelus rambut Seohyun.

Tiba-tiba, Seohyun bergerak. Ia mengucek-ucek matanya. Kyuhyun langsung saja pura-pura tidur.

“Nggg?”desahnya. Ia masih mengucek-ucek matanya dan nampak bingung dengan keadaan sekelilingnya. Lalu seperti ia teringat sesuatu, ia melirik namja yang ada di sebelahnya.

“Sungmin sunbae?”panggilnya. Namun, belum ia tahu jawabannya, kini ia kembali menyenderkan kepalanya di pundak kiri Kyuhyun yang mungkin disangka Sungmin. Setelah yakin Seohyun sudah kembali tidur, Kyuhyun membuka matanya dan melirik ke arah Seohyun.

“Sungmin? Ada apa dengan Sungmin?”tanyanya yang tepatnya ia bertanya pada diri sendiri.

 

*

Pagi-pagi sekitar jam 5, Seohyun sudah terbangun dan terkejut ketika boneka beruang besarnya sudah ada di sebelahnya tempat kepala ia senderkan dan selimut sudah melingkari badannya. Ia mengucek-ucek matanya dan mencari-cari seseorang di sekitarnya.

“Ah, Seohyun…,”kata seorang wanita paruh baya yang keluar dari ruang ICU yang tak jauh dari tempat ia tidur. Setelah merasa yakin dengan penglihatannya, ia langsung berdiri dan mencoba berjalan dengan benar karena lututnya yang masih luka.

“Ibuu!!!”teriaknya dan memeluk ibunya. Ibunya tersenyum.

“Ibu… Bagaimana keadaan Appa?”tanya Seohyun. Senyum ibunya langsung menghilang dan menghela nafas.

“Belum ada kemajuan…,”katanya dan mencoba tersenyum untuk anak tunggalnya itu,”tapi kita harap yang terbaik,”kata ibunya lagi. Seohyun mengangguk dan ia berbalik badan bermaksud untuk mencari Sungmin untuk mengajaknya makan pagi. Tapi saat ia berjalan, ia malah menemukan Kyuhyun yang masih terbaring di leretan kursi dengan bantal kepala yang menyangga kepalanya.

Seohyun tidak percaya dengan penglihatannya karena kacamatanya entah ada dimana. Makanya ia berjongkok dan menyerngitkan kedua matanya. Meski yang ia lihat memang wajah Kyuhyun, ia masih tidak percaya. Makanya ia mendekatkan wajahnya dan ia menyipitkan matanya.

“Ng? Kyuhyun Oppa?”tanyanya pada diri sendiri. Lalu, secara mendadak, Kyuhyun terbangun dan langsung terkejut melihat wajah Seohyun yang tidak sampai 10cm dari arah wajahnya.

“Huuuaaa! Huuuaa!”teriaknya panik. Seohyun pun juga langsung panik dan ia langsung mundur. Kyuhyun mengucek-ucek matanya, berusaha melihat dengan jelas.

“Hyunnie?!”

 

*

Hari kelima

 

Kyuhyun’s POV

 

Tentu saja aku terkejut sewaktu merasakan seperti ada nafas yang berhembus di depanku. Dan makin terkejut ketika membuka mata, dan hal pertama yang aku lihat wajah Seohyun yang tengah mengernyit dengan mata yang disipit-sipitkan!!!!

Sekarang, aku dengan Seohyun tengah ada di kantin rumah sakit ini. Seohyun menatapku.

“Oppa… Kok oppa bisa disini?”

Aku yang tengah memainkan ponselku menatapnya,”ne? Ada masalah?”tanyaku. Seohyun menggeleng lagi.

“Annio~. Cuman…,”ia menunduk menggantungkan kalimatnya,”Sungmin sunbae mana?”tanyanya. Kini aku menghentikan permainan ponselku dan menatap tajam ke arah Seohyun.

“Ne? Ada apa ini? Kenapa kau bisa dekat dengan Sungmin?”tanyaku penasaran. Seohyun menatapku datar dan mengangkat bahu.

“Meolla..,”jawabnya,”Oppa kesekolah?”tanyanya. Aku mengangguk.

“Ne..,”jawabku dan mulai memakan pesanan makan pagiku. Seohyun pun juga demikian.

“Oppa..,”panggilnya.

“Ne?” Aku masih terus memakan sarapanku tanpa melihatnya.

“Sungmin Sunbae…,”ia menggantungkan kalimatnya lagi,”suka warna pink?”tanyanya. Aku memberhentikan aksi makan pagiku dan menatap lurus ke arah piring. Bingung. Lalu aku mau mengangkat kepala.

“Kenapa?”tanyaku.

Seohyun cuman tersenyum. Bukan, ia seperti tertawa. Tertawa kecil.

“Annio~..,”ia menyuapkan sesendok nan mulai berbicara lagi,”Sungmin Sunbae.. really a unique boy.”

Aku menatapnya yang masih tersenyum-senyum sambil makan. Aku menunduk untuk melanjutkan makanku,”makanlah dulu. Baru tertawa..,”kataku. Seohyun masih tersenyum-senyum lalu mengangguk,”ne… .”

 

*

Aku berjalan menaikki tangga untuk ke lantai dua menuju kelasku. Sepanjang jalan aku terus berpikir, kenapa Seohyun bisa kenal dengan Sungmin?

Namun, belum sampai aku menginjakkan langkah pertama di lantai kedua, Sungmin sudah muncul dan menarikku untuk cepat-cepat.

“Ya! Ada apa ini?”tanyaku. Sungmin yang menarik tangan kananku tertawa.

“Ya!!! Aku punya sesuatu yang bagus!”katanya dan masih menarikku menuju perpustakaan. Saat masih jauh, aku melihat Yesung yang tengah mengintip-intip sesuatu melalui jendela perpustakaan.

Aku berlari bersama Sungmin dan berdiri di sebelahnya.

“Ya! Ada apa ?!”tanyaku. Yesung melihatku dan memasang tanda untuk diam.

“Liat!”katanya dan menunjuk sesuatu. Aku mengikuti arah tunjukkan Yesung dan melongo seketika.

“Ne?!” Aku masih terbelalak tak percaya,”Wookie ah~? Yuri?”tanyaku. Sungmin tertawa.

“Ne..,”katanya dan kembali ikut-ikutan mengintip,”pantas saja ia tertawa saat kemarin aku menerima dare dari kalian! Ternyata… Dia pacaran sama si tomboy itu!”katanya.

Aku tertawa dan langsung berbalik badan. Begitu juga dengan Sungmin dan Yesung.

“Ah… Sudahlah, biarkan saja mereka lagi asyik-asyik pacaran,”kataku dan kembali berjalan menuju kelas. Yesung mengangguk dan berjalan di sebelahku.

“Kyuhyun ah~, bagaimana keadaan Appa Seohyun?”tanyanya.

Aku mengangkat bahu. “Sewaktu tadi aku pergi, masih koma sih.. Ya, aku berharap yang terbaik,”kataku dan melihat ke arah Sungmin.

“Minnie~, kenapa kau bisa bersama Seohyun kemarin?”tanyaku.

Sungmin tersenyum,”panjang ceritanya…”

Aku menatapnya bingung.

“Kyu, jadi Seohyun hari ini tidak pergi bersamamu?”tanya Yesung yang membuat wajahku kembali menatapnya.

Aku menggeleng,”dia memang tidak pergi ke sekolah dulu hari ini…”

Yesung mengangguk.

“Kyu!”panggil Sungmin lagi.

“Ne?”tanyaku.

“Seohyun masih belum tahu kalau dia menjadi dare-mu?”tanyanya. Aku mengangkat bahu.

 

*

Aku masih baring-baring di tempat tidur saat jam dinding menunjukkan jam tujuh malam.

Tok.. Tok.. Tok..

Aku bangkit berdiri dan membukakan pintu, dan terkejut ketika Omma berdiri di depanku.

“Omma? Ada apa?”tanyaku dan membiarkan omma masuk ke kamarku. Ia hanya tertawa dan duduk di samping tempat tidurku. Dan aku mengambil kursi meja belajar dan menariknya ke hadapan omma supaya aku bisa melihatnya.

Omma masih tersenyum kepadaku membuatku sedikit risih.

“Kyuhyun…,”kata omma.

“Ne?”

Omma tersenyum,”kau sudah makin besar. Ya sedikit berubah kecuali gamemu itu.”

Aku tertawa. Apa maksud omma ?

“Kyu… Kau tau kan, appa mu punya perusahaan dan ia sudah tua…”

Aku mengangguk,”ne.”

“Kau… Sudah waktunya belajar untuk sebagai pemimpin.”

Aku merengut,”mwo?”

Omma mengangguk,”kau.. Setelah lulus, pergilah ke Amerika untuk belajar tentang manajemen.”

Aku membelalakkan mata hingga membuka mulut,”nde?!?!?! Amerika?! Omma! Kenapa tidak di Korea saja?”tanyaku. Omma tertawa.

“Di Amerika, universitasnya lebih bagus daripada Korea, Kyuhyun….”

Aku masih melongo dengan perkataan omma. Apa omma tidak salah.

“Omma… Kalau aku disana, bagaimana dengan komunikasi. Omma tahu, inggrisku tidak terlalu bagus. Aku cuman bisa berbahasa lancar untuk mengucapkan : Yes, no, You’re so gorgeous, and I love you…”

Omma tertawa terbahak-bahak,”ne.. Aku tahu. Maka dari itu, kau tidak akan langsung kesana. Kau akan kursus intensif selama setengah tahun.”

Aku mengangguk dan ingin berbicara ketika ponselku berdering dengan hebat.

“Yeoboseo? Hyunnie?! Nde… Kau tau, aku berlumut menunggu telepon darimu. Ne… Bagaimana appamu?… Ah… Ne… Ne, mengerti. Ne… Anneyeong,”kataku dan memutuskan hubungan telepon. Saat aku berbalik, omma kembali tertawa.

“Yeoja chingumu?”tanya omma. Aku menggeleng.

“Annio~ Omma, aku harus ke rumah sakit sekarang. Anneyeong!”kataku dan bergegas pergi.

 

*

Saat sampai di rumah sakit, aku menuju kamar perawatan biasa yang tadi sudah disebut Seohyun. Appanya sudah lepas dari koma dan sudah sadar cuman saja masih butuh perawatan. Setelah menemukan kamar yang aku cari, aku langsung membukanya dan menemukan Seohyun yang tengah duduk di sebelah tempat tidur yang nampak fokus dengan buku yang sedang ia baca.

“Anneyeong, Hyunnie~,”sapaku sambil meletakkan buah-buahan yang aku bawa di atas meja. Seohyun yang tengah membaca langsung berhenti dan menunduk untuk memberi salam.

“Anneyeong, Oppa…,”katanya. Aku tersenyum dan duduk di sebelahnya.

“Bagaimana kabar ajussi?”tanyaku. Seohyun tersenyum.

“Sudah membaik kok. Gomawo… Apa yang kau bawa?”tanyanya.

Aku menunjuk sesuatu yang tadi aku bawa,”buah-buahan. Kau suka kan?”

Seohyun mengangguk,”gomawo…”

Aku mengangguk dan mengambil buku yang dibaca Seohyun.

“Cara menjadi seorang pemimpin yang hebat… Apa maksudnya?”tanyaku. Seohyun tersenyum.

“Annio~. Aku cuman ingin berusaha menjadi pemimpin yang baik suatu saat nanti.”

“Ne? Maksudmu kau ingin membuat sebuah perusahaan ?”tanyaku. Seohyun tertawa sambil menggeleng.

“Anni~. Tepatnya meneruskan perusahaan Appaku,”jawabnya.

Aku mengangguk.

“Kita sama…,”kataku. Seohyun tersenyum sambil mengangguk.

“Hyunnie~. Kenapa kau bisa kenal dengan Sungmin?”tanyaku. Seohyun menatapku.

“Mwo? Memangnya kenapa?”tanyanya yang membuat aku jadi serba salah. Iya ya? Kenapa?

“Ah.. Aku cuman penasaran,”jawabku akhirnya.

Seohyun tertawa lagi lalu menaruh bukunya di atas meja dan berdiri,”annio~, Oppa…,”katanya. Aku langsung berdiri dan menarik tangannya.

“Kau mau kemana?”tanyaku. Ia melihat ke arahku.

“Kantin. Lapar!”jawabnya dan langsung menarik tangannya dari tanganku. Aku tertawa dan kini menaruh tangan kananku di belakang lehernya.

“Eh apa-apaan ini?!”tanyanya seperti protes. Namun, tentu saja aku tidak mau melepas tanganku.

“Aku juga lapar lagi. Nanti aku traktir!”kataku dan menariknya ke arah kantin rumah sakit.

 

*

Seohyun’s POV

 

Sekarang jam sebelas malam. Oppa sedang tidur di kursi penunggu di luar kamar. Aku masih menjaga Appa dengan membaca buku yang sama sambil menunggu ibu yang akan datang menggantikanku menunggu appa malam ini.

Teringat sesuatu, aku mengambil sebuah selimut dan membawanya keluar. Saat membuka pintu, aku melihat oppa yang tengah berbaring di leretan kursi. Aku menutup tubuhnya dengan selimut yang aku bawa dari kamar dan kembali masuk ke kamar.

“Kenapa dia seperti itu?”tanyaku pada diri sendiri.

Kreeekk…

Pintu kamar terbuka dan ibuku masuk dengan dua kantong plastik besar.

“Ibu…,”aku mulai berbicara dengan bahasa Indonesia supaya tidak semua orang yang bisa mengerti pembicaraan kami.

“Seohyun, kenapa dia ada disini?”tanya Ibuku sambil membereskaan bawaannya. Aku mengangkat bahu.

“Aku tidak tahu,”jawabku.

“Bu, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba ibu menyuruhku untuk mempelajari ini?”tanyaku. Ibu yang tengah berberesan langsung melihat ke arahku dan ia mengambil kursi dan duduk di atasnya.

“Seohyun…”

Aku menatapnya dengan tanda tanya.

“Kau memang masih lima belas tahun. Seharusnya, saat kau tingkat tiga Ibu baru memberitahumu. Tapi jika keadaannya seperti ini…,”ibuku melihat sebentar ke arah appa yang masih terbaring dan kembali berbicara padaku.

“Perusahaan kita.. Benar-benar mengalami kemunduran. Seorang bawahan telah berkhianat dan membuat perusahaan rival kita menjadi jauh mengalahkan kita. Appa shock. Karena jika seperti ini terus, kita bisa gulung tikar. Maka dari itu, sementara ini Jungsu Ajussi yang mengambil alih. Tapi, dia tidak mau untuk selamanya. Karena kau lah yang lebih berhak dibanding dia. Maka sejak ini..,”ibu menggantungkan kalimatnya.

“Setiap pulang sekolah, Jungsu Ajussi akan memberikanmu sedikit demi sedikit pelajaran yang berhubungan tentang ini.”

Aku menatap bingung ke arah ibuku.

“Hahaha… Tapi, tenang saja, kau tidak akan langsung jadi pemimpin jika kau belum siap. Semua keputusan ada di tanganmu karena kau anak satu-satunya.”

Aku tersenyum dan mengangguk. Secepat ini ? Aku sudah bersiap-siap sebagai pemimpin salah satu perusahaan elit Asia.

“Seohyun, kau bilang dengan Kyuhyun, suruh dia pulang saja. Kan Ibu sudah ada disini..,”kata Ibu lagi. Aku yang tadi melamun sebentar kini mengangguk dan aku berjalan keluar kamar.

Aku duduk di sebelah kepala Kyuhyun oppa dengan matanya yang masih terpejam. Aku menggoyang-goyangkan pundaknya.

“Oppa… Oppa…,”panggilku. Ia masih diam. Tidur.

“Nyenyak sekali?”gumamku.

Aku kembali menggoyang-goyangkan pundaknya memintanya untuk bangun,”Oppa… Oppa… Bangun! Pulang! Ommaku sudah ada disini…,”kataku.

“Ng?”katanya.

Ah! Dia sudah sedikit sadar!

“Oppa! Oppa puang saja! Ib-“

Aku diam seketika ketika ia malah menggeser kepalanya di atas kedua pahaku dan melanjutkan lagi tidurnya. Malah kini dengan sedikit dengkuran. Aku menatapnya putus asa. Aku memukul-mukul lemah kedua pipinya.

“Oppa~!!! Kenapa malah gini?!!! Bangunn!!!”teriakku. Ia masih diam saja dan tetap tertidur dengan pulas. Membuatku menjadi nyerah seketika.

 

*

Hari keenam

 

Kyuhyun’s POV

 

Aku bersama Seohyun turun dari mobil yang aku kendarai yang aku parkirkan di lapangan parkir depan. Setelah turun, Seohyun langsung pergi begitu saja tanpa menungguiku. Dia pasti masih marah!

Aku mengejarnya.

“Hyunnie ah~! Kenapa masih marah?”kataku berjalan cepat mengejarnya. Seohyun terus saja berjalan tanpa melihat ke arahku. Aku berlari dan berdiri di depan hadapannya.

“Oppa!”bentaknya. Aku tersenyum.

“Masih marah ya? Mianhe… Mianhe…,”kataku mencoba dengan tulus.

Seohyun mendengus,”ne.. Sudah aku maafkan. Sana pergi!”usirnya. Aku (pura-pura) cemberut dengan mengeluarkan jurus BIMOLI (bibir moncong lima centi meter).

“Ah… Kau masih marah denganku! Ya! Seohyun ah~!” aku terkejut melihatnya yang kini terus berjalan meninggalkanku. Aku melihat dari jauh  Yoona yang berdiri bersama Lady Hee di sebelahnya. Melihatku.

Aku menatapnya lurus datar dan aku langsung berbalik badan dan mengejar Seohyun yang tengah berbicara pada Sungmin.

“Ya! Sungmin!”sapaku.

“… Mianhe, Sunbae…,”kata Seohyun sambil menyerahkan sebuah sapu tangan pink. Ini pasti punya Sungmin!

Aku menatap Seohyun,”ada apa ini?”tanyaku.

Sungmin tersenyum,”no problem. Ambil saja…,”katanya dan melihat ke arahku,”anneyeong, Kyu!”sapanya. Aku tersenyum.

Lalu, ia berbalik badan dan berjalan menuju kelas kami. Aku menatap punggungnya yang berjalan menjauhi kami di tengah kerumunan siswa. Aku menatap Seohyun di sebelahku yang tersenyum-senyum sambil memegang sapu tangan pink yang aku duga itu punya Sungmin.

“Hyunnie~”

“Ne?”katanya. Namun, tatapannya itu masih menatap punggung Sungmin yang sekarang tengah naik tangga menuju lantai dua. Aku menghela nafas dan mengambil sapu tangan itu.

“Oppa!!!!”bentaknya. Aku tersenyum dan memasukkan sapu tangan itu ke dalam kantong celana panjangku.

“Ha?! Yaa!!! Oppa!!!”teriaknya berusaha mengambil sapu tangan yang sudah ada di kantong celana panjangku.

 

*

Seohyun’s POV

 

Aku terbangun.

Omooooo!!!! Aku kembali ketiduran di sekolah!

Aku langsung berdiri dan mencoba berlari dengan keadaan lutut yang sudah sedikit membaik. Aku berlari menuruni tangga di bawah cahaya remang-remang di langit sore Seoul. Aku melirik jam ponsel yang tengah aku pegang di tangan kiriku.

“Yah! Jam 6! Omo!!!! Bus sekolah sudah pergi!!”

Aku berlari melintasi lapangan basket dan berhenti seketika. Aku teringat kejadian dua hari lalu. Apa Sungmin sunbae masih ada dan mau mengantarkanku?

Dua menit…

Lima menit..

Langit semakin gelap dan sosok Sunbae tidak muncul dari arah loker. Aku menghela nafas dan kembali berlari. Bagaimana cara aku pulang? Bus apa yang harus aku pakai untuk ke rumah?

Aku terus berjalan untuk mencari halte.

 

*

Sudah tiga puluh menit.

Aku capek dan duduk di sebuah kursi yang ada di tepi jalan. Jalanan Seoul ramai membuatku pusing. Dimana aku sekarang?

Aku mengambil ponsel bermaksud untuk mengkontak ponsel ibu.

Mohon maaf… Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif. Tinggalkan pesan”

Mwo?!

Aku menatap ponselku dengan kesal. Bagaimana ini?

Aku mengontak nomor telepon rumah.

Tuuut…. Tuuutt…. Tuuutt…

Tidak ada jawaban?! Omo.. Kayaknya ibu belum sampai di rumah!

Aku mendengus kesal. Bagaimana ini? Aku memutuskan untuk mengkontak Kyuhyun Oppa. Dan hasilnya?!

Mohon maaf… Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif. Tinggalkan pesan”

Ahhhhhhh!!!!!!

Aku ingin mencoba teriak. Tapi tidak bisa! Sekarang aku harus gimana?

Aku menyenderkan kepala dan memejamkan mata mencoba menenangkan pikiran. Ini gara-gara Oppa juga! Gara-gara tindakannya semalam, aku tidak bisa tidur nyenyak dan bisa tidur dengan nyenyak waktu udah jam 4! Makanya aku jadi ngantuk gini!

“hah…. Bagaimana ini?”tanyaku pada diri sendiri. Tiba-tiba, pundakku ditepuk dan aku melihat sosok yang aku nantikan.

Senyumku merekah,”Sunbae?!”

 

*

Kini aku ada di gendongan belakang Sungmin Sunbae. Tadi dia sedang berjalan-jalan dan terkejut menemukanku yang sudah kelelahan karena sudah kecapekan.

“Kau ini bagaimana? Masa masih tidak tahu jalan pulang?”tanyanya. Aku tertawa saja digendongannya.

“Untung saja tidak jauh! Jadi aku tidak ngos-ngosan menggendongmu!”katanya. Aku tertawa.

“Jadi, kau tidak rela?”tanyanya. Sunbae hanya tertawa saja.

“Itu sunbae!”kataku menunjuk sebuah rumah yang tidak jauh dari posisi kami. Sunbae mengangguk.

“Kau siap?”tanyanya. Aku merengut.

“Siap? Siap untuk apa?”

Sunbae diam saja dan tiba-tiba dia berlari.

“Kyyyyaaaa~!!!! Sunbaee!!”

Sungmin sunbae ternyata berlari dengan kencang membuatku menjadi deg-degan sendiri. Takut jatuh!!! Tubuhku jadi terlompat-lompat sendiri di atas punggungnya mengikuti irama langkahnya. Namun, tiba-tiba dia berhenti. Aku yang tadi menutup mata, membuka mata dan terkejut melihat Kyuhyun Oppa yang tengah berdiri di depan kami sambil memasukkan kedua tangannya di masing-masing saku celana.

Aku turun dari gendongan Sunbae dan tersenyum melihat Oppa.

“Oppa!”sapaku. Tapi, dia sama sekali tidak tersenyum dan malah seperti marah.

“Ah, Seohyun… aku pulang dulu!”kata Sunbae dan aku mengangguk.

“Gomawo!!”kataku. Namun, Oppa bergerak maju dan menahan Sungmin sunbae yang akan segera pergi.

“Kau! Sebenarnya apa yang terjadi?”tanyanya. Aku menatapnya. Begitu juga Sunbae yang nampak tenang.

“Tidak ada apa-apa,”jawabnya singkat. Oppa menatapnya dengan tajam namun Sunbae juga menatapnya dengan tajam.

“Oppa! Sudahlah!”kataku mencoba mendamaikan mereka.

BUK!!!

Sebuah pukulan mendarat di pipi Sunbae yang membuatnya terhuyung seketika.

“Kau! Jangan dekati Seohyun!”bentak Kyuhyun Oppa. Tentu saja aku tidak senang dan aku berjalan mendekatinya. Berdiri di depannya.

“Kau!!!! Kenapa kau memukul Sunbae?!”tanyaku. Oppa yang tadi menatap marah ke arah sunbae, kini ia menatapku.

“Kau?! Kau membelanya?!”tanyanya. Aku mengangguk pasti.

“Ne!!!!! Aku membelanya!! Kenapa kau?!”

Kini sopan santunku hilang sudah. Tidak ada oppa-oppa-an lagi.

Tiba-tiba, sebuah pukulan kembali mendarat di pipi Kyuhyun. Ia langsung terhuyung dan kembali mencoba seimbang. Sunbae berdiri di sebelahku.

“Ada apa dengan kau? Kyu! Kau sudah gila?”tanyanya. Kyuhyun menatap tajam ke arah Sunbae.

“Kau yang gila!!!”teriaknya dan memukul lagi pipi Sunbae. Ia diam dan mengusap bekas tinjuan itu.

“Oh.. Jadi, kau seperti Wookie?! Jatuh cinta dengan daremu?!”

APA? DARE?

Aku menatap bingung ke arah Sunbae dan Kyuhyun yang sekarang menjadi diam,”ne? Dare? Maksud Sunbae aku jadi dare untuk Kyuhyun?”tanyaku. Sunbae diam dan Kyuhyun menatap bengis ke arahnya. Lalu ia menatapku.

“Ah, Hyunnie~. Bukan seperti itu…,”katanya bermaksud memegang tanganku. Aku menghempaskannya dan menamparnya.

“Kau gila!!!”kataku dan berjalan ke arah rumah. Namun, Kyuhyun meraih tanganku.

“Ya!!! Hyunnie! Dengarkan aku dulu!”katanya. Aku menarik tanganku dan menatap kesal kearahnya.

“Apa lagi?!”

Kyuhyun menatapku,”ne.. Kau memang aku dekati karena kau adalah dareku. Tapi, aku….”

Aku menatapnya.

Ia menghela nafas dan menatapku lagi,”aku menyukaimu. Bukan sebagai dare. Tapi, sebagai real life!!”

Aku diam dan tentu saja aku tidak percaya!

Aku menarik tanganku lagi dan menatapnya,”makan saja omonganmu itu!” Dan aku kembali berjalan ke rumah. Namun, tiba-tiba suara bantingan pintu mobil terdengar membuatku berhenti melangkah dan melihat Jungsu Ajussi berjalan ke arahku.

“Seohyun? Ada apa ini?”tanyanya berjalan ke arahku dan melihat ke arah Kyuhyun. Kyuhyun tersenyum lalu menunduk memberi salam.

“Kau?!”tanya Jungsu Ajussi. Aku menoleh ke arah Jungsu Ajussi.

“Ajussi? Ajussi kenal?”tanyaku. Ajussi mengangguk.

“Kau! Kau adalah anak dari pemilik Seoul Company yang sudah membuat Hyungku masuk rumah sakit!”

Apa?!!!

Aku terkejut mendengar omongan Ajussi dan menatap bingung ke arah Kyuhyun yang juga terkejut. Jadi? Kyuhyun adalah anak dari pemilik perusahaan saingan perusahaan appa yang sudah membuatnya jatuh sakit?!!!

 

*

To be continued>>

 

 

Advertisements

72 responses to “[Chapter 5] Truth or DARE?!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s