Endless Moment Part 8

 

AUTHOR: MINHYE_HARMONIC FEAT HOTARU YUHIME

POSTER BY AVYHEHE

PART-PART SEBELUMNYA DAPAT DILIHAT DI SINI

“Kak…Kakak mau tahu?”

Minhye tertawa.

“Kak, aku menyukaimu…”

————————————————————————————————————————————-8

Mulut Minhye langsung bungkam. Sedetik kemudian dia terkekeh, “Kau ini Kyu, masih saja suka bercanda~”

Kyuhyun hanya tersenyum kecut. Sadar, dia telah ditolak…

===============================================================================

“Sstt…apa yang mereka bicarakan di dalam?” Bisik Minho pada Hyukjae.

Hyuk mengangkat bahu. “Entah. Coba kau buka sedikit pintunya, supaya ada celah untuk kita mengintip atau mendengar percakapan mereka.” Usul Hyukjae, ikut berbisik kecil.

Minho mengangguk mengerti. Perlahan didorongnya sedikit daun pintu. Membentuk celah sepersekian centimeter, namun sanggup memperlihatkan sosok Kyu―terbaring di ranjang rumah sakit―dan Minhye yang memunggungi mereka berdua.

“Kak, aku menyukaimu…”

Sebuah kalimat langsung menyambar masuk ke dalam gendang telinga Hyuk dan Minho.

“Ha?! Aku nggak salah dengar?!” Minho memekik tertahan. Andai Hyuk tidak memelototinya, mungkin sekarang dia sudah histeris.

“Kita lihat dulu reaksi kakakmu.” Hyuk mencoba menenangkan Minho. Walau hatinya mulai kembang-kempis. Dia benar-benar tak menyangka, Kyu menyukai Minhye. Apalagi sampai berbuat nekat seperti itu. Dalam pikiran Hyuk: Benar-benar pernyataan cinta yang nggak romantis dan elit!!

Mereka berdiam diri, menunggu respon Minhye. Antara syok dan tegang berbaur. Memberikan efek menahan nafas bagi mereka selama menunggu reaksi dari gadis itu.

Sedetik terasa bagai sejam buat dua orang tukang nguping dan intip tersebut. Sampai kekehan Minhye membuat mereka terlongo.

“Kau ini Kyu, masih saja suka bercanda~”

Minho langsung menepuk jidatnya. Makin syok.

“Hei, Minho. Kakakmu bodoh atau apa sih?” Hyuk gemas dibuatnya.

Minho tidak menjawab pertanyaan atau tepatnya sindiran dari Eunhyuk, hanya bergumam, “Kasihan Kak Kyuhyun.” Sambil geleng-geleng kepala, Minho melangkahkan kakinya, meninggalkan tragedi pernyataan cinta Kyuhyun yang tidak elit, tidak romantis, bahkan ironis.

Eunhyuk mengekor di belakang. Memutuskan untuk pergi juga.

“Ssst…Kak, biarkan ini menjadi rahasia kita berdua. Kita bawa sampai mati…” Bisik Minho sambil terus mengarungi lorong-lorong rumah sakit yang penuh dengan bau obat-obatan menusuk indra penciuman.

Hyuk mengangguk setuju. Biar kejadian memalukan tadi hanya dia, Minho, Kyuhyun, Minhye dan juga Tuhan yang tahu.

===============================================================================

Seorang laki-laki berbadan kekar, berbalut jas hitam serta celana khaki senada berjalan tegap menuju sebuah kamar rawat-inap VIP rumah sakit. Kamar bernomor 95.

Pria itu menguak pintu perlahan, mendapati pemuda laki-laki berpiyama rumah sakit berdiri membelakanginya.

“Ada apa?” tanya pemuda itu―yang tak lain adalah Kyuhyun, tanpa menoleh sedikitpun.

“Ini saya Kangin, Tuan Muda Cho Kyuhyun. Keberangkatan Anda ke Amerika telah kami persiapkan. Tinggal menunggu persetujuan Tuan Muda,” pria bernama Kangin itu membungkuk hormat sebelum dan sesudah berkata-kata.

“Aku mengerti. Baiklah, mari kita berangkat sekarang…”

Sang pria berbadan kekar itu—Kangin—nampak terkejut mendengar jawaban dari Tuan Muda-nya. “Ba…baiklah, Tuan Muda. Saya menunggu Anda di luar,” pamit Kangin, menutup pintu perlahan.

“Ah, tunggu. Aku ingin ke sekolah dulu. Sebentar saja.”

===============================================================================

Sebuah Lexus memasuki pelataran sekolah di siang hari ketika Minho melangkah menuju ruang dance. Entah kenapa ia ingin sekali kesana, mengabaikan statusnya sebagai anggota semi-aktif. Minho hanya melirik mobil itu sekilas—namun segera dihentikannya langkahnya setelah menyadari siapa makhluk yang keluar dari mobil mewah itu.

“Kak Kyuhyun..?” tak habis pikir, Minho mencoba mengikuti Kyuhyun. Padahal baru kemarin ia menjenguknya di rumah sakit. Kenapa ia jadi ada di sekolah? Dan lagi, ia tak memakai seragam, hingga menarik perhatian para gadis yang melihatnya.

“Hei, lihat! Cowok tinggi itu, anak baru, ya?”

“Eh, tapi perasaan pernah lihat, deh.”

“Itu bukannya Cho Kyuhyun anak olimpiade matematika..? Ya ampun, keren sekali dia tanpa seragam…”

Dan bla-bla-bla, Minho tak ambil pusing. Kyuhyun memasuki ruang guru, sementara seorang pelayannya—entah bodyguard, sopir, atau apanya—menuju ruang kepala sekolah. Minho memutuskan untuk menunggui Kyuhyun saja, sambil menebak-nebak apa yang tengah berlaku saat itu.

Tak berapa lama, Kyuhyun keluar bersama pak Jungsoo. Kyuhyun memeluk guru itu—agak kurang sopan sepertinya mengingat status mereka sebagai murid dan guru, tapi Kyuhyun memang seperti itu—sementara pak Jungsoo menepuk-nepuk punggungnya lembut.

Kyuhyun kini berbalik arah, menuju ruang dance.

“Kak Kyu!”

Kyuhyun menoleh sejenak, tapi seperti tak terjadi apa-apa, ia meneruskan langkahnya. Mengabaikan Minho yang kini terpaksa berlari-lari kecil demi menyusul cowok jangkung itu.

Ruang dance terlihat lengang. Memang selalu begitu di saat istirahat siang, terutama di penghujung tahun ajaran ketika sebagian besar anggota mulai mengundurkan diri satu-per-satu. Langkah Kyuhyun menggema, melewati sebuah rak buku berisi kumpulan CD, dan terhenti di hadapan sebuah cermin besar.

“Kak. Sudah sehat?” tanya Minho.

“Aku memang nggak kenapa-kenapa, kok,” jawab Kyuhyun.

“Ngapain ke sekolah?”

“Bosan di rumah sakit. Pengen liat-liat. Mungkin..,” Kyuhyun menghela napas, “…untuk terakhir kalinya.”

“Maksud kakak?! Bukannya kakak akan ikut dance battle?”

“Siapa? Aku? Dengan Taemin maksudmu..?” Kyuhyun tertawa miris. “Taemin itu partner-mu, mana bisa aku menggantikanmu?”

“Tapi kakak kan sudah berlatih keras!”

“Semua orang,” Kyuhyun berbalik, menatap Minho tepat di matanya. “…punya tempat masing-masing. Kau tahu, ‘the right man on the right place’. Dan disini bukan tempatku.”

Redup. Kyuhyun seperti kehilangan cahayanya.

“Kak Hyukjae pasti kecewa.”

“Sejak awal dia memang tak berharap padaku. Toh aku bukan siapa-siapa”

“Kata siapa?!” Minho mulai emosi. “Kalau ia tak berharap padamu, untuk apa ia melatihmu begitu keras? Kau pikir ia orang yang akan menerima orang baru dengan begitu mudah?! Ia tahu kau punya kemampuan, karena itu ia mau melatihmu. Mungkin benar jika ia sempat menganggapmu sebagai anggota percobaan, tapi bukannya mengeluarkanmu, ia malah menyuruhmu ikut dance battle, padahal kau hanya anggota baru!”

“…dan itu bukan karena aku tidak bisa ikut. Sejak awal ia sudah memasukkan namamu—dengan kak Siwon. Jangan pernah merasa kau hanyalah pengganti,” lanjut Minho sebelum Kyuhyun menyela.

Kyuhyun terdiam.

“Lantas kau sendiri? Kau pikir dia tak kecewa padamu yang menghilang seenaknya?”

“Aku… ada hal penting yang harus kulakukan, kak,” kilah Minho. “Tidak sepertimu yang menyerah hanya karena ditolak sekali.”

“Kau—apa maksudmu?!”

“Kak, ayolah. Masih banyak gadis lain selain kak Minhye.”

Wajah Kyuhyun memerah—entah malu atau apa. “Bagaimana kau tahu..? Aish..” suara Kyuhyun mulai lirih. “Sudahlah, toh tak ada alasan bagiku untuk tetap tinggal. Ini,” ia menyerahkan selembar foto pada Minho.

“Eh? Ini kak Minhye? Bagaimana—”

“Ia ketahuan bekerja sambilan karena foto itu. Hari ini aku datang untuk menanyakannya langsung pada Pak Jungsoo, katanya beliau menemukannya di halaman belakang sekolah. Kemungkinan besar, yang memotretnya adalah siswa sini. Dan lagi, kemungkinan terburuk,” Kyuhyun tampak berpikir sejenak, “..orang itu masih punya foto-foto lain. Tidak menutup kemungkinan jika foto itu menyebar, maka akan timbul fitnah dan gosip-gosip yang bisa saja menghancurkan kakakmu itu.”

Minho tertegun, masih dengan menatap foto itu.

“Kafe tempatnya bekerja itu sejenis bar, bukan? Salah-salah, dia bisa dikira wanita panggilan.”

“Itu tidak benar!”

“Aku tahu, aku percaya,” potong Kyuhyun sebelum Minho meledak. “Tadinya aku ingin menyelidikinya sendiri, tapi hingga hari ini tak ada apapun yang terjadi, jadi kurasa kemungkinan terburuk itu hanyalah prasangka saja. Tapi untuk berjaga-jaga, coba saja kau selidiki.”

Hening. Minho terdiam. Ada perasaan kesal dan terluka menyusup dalam benaknya,

Kakak…

“Aku harus pergi sekarang. Sampaikan salamku pada yang lain. Dan maaf, jika aku banyak berbuat kesalahan selama ini,” Kyuhyun melirik jam dinding dan menghela nafas panjang.

Minho tetap mematung di tempat. Bahkan hingga Kyuhyun berlalu, ia masih tetap berdiri di tempatnya.

Srat!

Minho tersentak. Tepat ketika ia hendak meremas foto itu, seseorang merebutnya dari tangannya.

“Kak Hyuk?”

“Bel masuk kelas sudah berbunyi daritadi. Kau kembalilah ke kelas. Urusan ini, biar aku yang selidiki,” kata Hyuk tajam.

“Kakak… sejak kapan ada di sini? Dan…bukannya kakak sedang marahan dengan kak Minhye?”

Hyukjae berdecak kesal. “Ya! Aku disini sejak sebelum kau dan Kyuhyun datang!” Hyukjae menunjuk rak besar di sudut ruangan—ia sedang memperbaiki speaker di balik rak itu ketika Kyuhyun dan Minho masuk tadi, sehingga bisa dipastikan ia mendengar seluruh perbincangan mereka dengan jelas. “Dan lagi, kau pikir kami pacaran apa, bisa putus hubungan hanya karena sekali-dua kali bertengkar..?! Sudah sana, kembali ke kelas!”

Minho bergidik mendengar omelan Hyukjae. Tanpa ba-bi-bu dia langsung berbalik, kabur. Namun diam-diam ia tersenyum. Benar juga. Persahabatan bukan hal yang bisa diremehkan. Meskipun tak ada hubungan darah, namun rasa kebersamaan yang tertanam terlanjur mengakar kuat akan sulit terputus begitu saja.

“Hei, ngomong-ngomong, kau tak bisa meninggalkan dance, eh? Aku tak tahu kau begitu memperhatikan klub ini.”

Minho menghentikan langkahnya. “Aku hanya mendengar cerita Taemin.”

“Dia yang bercerita atau kau yang bertanya..?”

Wajah Minho memerah.

“Lalu bagaimana dengan dance battle? Masih ada waktu untuk—“

“aku tak bisa,” potong Minho.

“Yah, aku tak akan memaksa.”

Sejenak hening, namun Minho masih belum beranjak meninggalkan ruangan itu.

“Kak?” panggil Minho akhirnya. “Aku..merahasiakan ini dari kak Minhye, tapi… boleh aku minta bantuan?”

===============================================================================

“Complicated,” kata Donghae saat melihat wajah Hyuk yang kusut. “Tak hanya Minhye yang menghilang dari sekolah. Beberapa siswa mengaku melihat Kyuhyun hari ini. Tapi, seperti kita tahu, baru kemarin kita menjenguknya di rumah sakit. Dan ketika aku mencoba mengecek ke rumah sakit,” Donghae menarik nafas sejenak, agak mendramatisir suasana, “…dia sudah keluar sejak tadi siang.”

“Dia pindah sekolah.”

Donghae melotot. “Yang benar saja?!”

“Berdasarkan keterangan staff TU, dia akan melanjutkan sekolah ke Amerika. Dokumennya sudah disiapkan sejak lama, sepertinya dia hanya menunggu waktu yang tepat.”

“Bagaimana bisa akhir semester begini disebut waktu yang tepat?!”

“Aku juga tak mengerti. Bisa kau cek jadwal keberangkatannya..?”

“Mendadak sekali… tapi mungkin bisa ku usahakan.”

Sejenak, keheningan menyusup. Seperti biasa, pohon besar—entah pohon apa—di belakang sekolah itu menjadi saksi bisu keluh kesah Eun-Hae sore itu. Andai pohon itu bisa bicara, pasti banyak sekali kisah yang mampu ia beberkan, mengingat hampir tiga tahun pohon itu setia menjadi penopang bagi kedua sahabat itu. Jadwal latihan dance kini di handle Siwon. Taemin terlihat tak bersemangat mengetahui Kyuhyun tidak ikut latihan—meskipun ia belum tahu alasan sebenarnya. Meskipun sering dikerjai, sebenarnya Taemin tak juga membenci Kyuhyun.

“Yah, terkadang orang nyebelin itu ngangenin…,” kilah Taemin. Sementara Minho telah menghilang sebelum Taemin sempat menghadangnya.

“Yoori juga tidak masuk sejak kemarin,” Donghae mengalihkan pembicaraan. “Padahal kemarin ia muncul di rumah sakit.”

“Eh? Tidak masuk kenapa?”

“Ijin sakit, katanya.”

Hyuk terdiam, mencoba berpikir sejenak.

“Ngomong-ngomong, bagaimana bisa Yoori muncul di rumah sakit? Aku baru ingat, ia tak memakai seragam kemarin,” ungkap Donghae dengan wajah penasaran. “Apa ia kenal Kyuhyun?”

“Sekilas, tapi kurasa ya, mereka saling kenal. Kyuhyun membantunya mengembalikan ponsel Minhye beberapa hari lalu. Tapi bagaimana ia ada di rumah sakit, aku tak tahu.”

“Bagaimana mungkin ponsel Minhye ada pada Yoori?” kini alis Donghae tertaut. Makin ditelusuri, semua ini makin ruwet. Rasanya semua hal terjadi akhir-akhir ini saling tertaut—seperti membentuk labirin yang bercabang-cabang. Entah bagaimana ujungnya.

“Entahlah. Aku agak curiga dengan kakaknya. Kau tahu, kencan kemarin aku dikerjai—yang menemaniku bukan Yoori, tapi kakaknya.”

“Tunggu dulu, seingatku kau pernah bilang dia hanya 3 bersaudara, dan kakaknya itu—“

“Laki-laki, yap.” Hyukjae menunjukkan wajah antara sedih, kesal, malu, dan entah apa lagi saat melanjutkan kalimatnya yang bernada miris. “..aku kencan dengan lelaki.”

Donghae berusaha menahan tawa. Ekspresi Hyukjae saat itu benar-benar…. Entahlah. Terluka?

Alih-alih bertanya ‘bagaimana mungkin kau kencan dengan lelaki,’ Donghae memilih kalimat, “Apa kakaknya semanis itu?”

“Aku menyadari dia bukan Yoori, tapi aku benar-benar tak menyangka di laki-laki. Berani bertaruh—kau tak akan menyadari perbedaannya.”

Curhatan Hyukjae membuat tawa Donghae lepas juga, membuat Hyuk menatapnya tajam.

“Kau tahu siapa namanya? Siapa tahu aku bisa menyelidikinya juga,” tawar Donghae, sekedar menghibur Hyuk yang muram supaya tidak jadi marah padanya.

“… Heechul. Kalau tidak salah Yoori pernah menyebutkan bahwa nama kakaknya Kim Heechul.”

“Nama yang cantik.”

“Jangan meledek.”

Donghae tertawa lagi.

“Kau bermasalah dengan Minhye dan Yoori, eh? Kulihat baik Yoori dan Minhye bahkan tidak menoleh sedikitpun ke arahmu saat kalian bertemu kemarin.”

Jeli sekali, diam-diam Hyuk memuji dalam hati. Sifatnya yang seperti ini memang khas Donghae. Tak heran Donghae mampu mengenalinya saat pertemuan pertama mereka setelah 10 tahun berpisah, padahal Hyuk saja tak langsung tanggap.

“Biar saja. Toh bukan aku yang salah. Kalau sempat, akan kujelaskan masalahnya.”

“Masalah apa?

“Kau tahu berita tentang skorsing Minhye..?”

Donghae diam, menatap Hyukjae. Menunggunya melanjutkan kalimatnya.

“Kau tahu?! Hei, bagaimana bisa kau tak memberitahuku?!”

“Aku tak tahu, sungguh!!” sergah Donghae cepat. “Aku memang agak curiga karena dia terlalu lama tak masuk sekolah, tapi aku tak tahu dia di skors!”

Hyuk mengeluh pelan.

“Mungkin itu sebabnya ia stress akhir-akhir ini,” gumam Donghae.

“Dia di skors karena ini,” Hyuk menunjukkan foto yang tadi diberikan Minho. Ekspresi Donghae mengeras.

“Ini..?”

“Fotonya saat ia bekerja sambilan. Sepertinya ada yang diam-diam menguntitnya.”

“Mana mungkin,” desis Donghae.

“Menurutmu, siapa pelakunya..?” tanya Hyuk.

Donghae terdiam, menatap foto itu lama. “Akan kucari tahu,” gumamnya, dengan nada bergetar.

Donghae melompat turun dari pohon itu, dan berlari menjauh. Sementara Hyuk termenung menatap punggung sahabatnya.

“Kau kan belum menjawab. Siapa..?” gumam Hyuk, seakan berbicara pada dirinya sendiri.

“Aku tak tahu kau siswi SMA.”

Minhye hanya menunduk dalam-dalam. Shiftnya baru dimulai beberapa jam lagi, tapi manajer Park memanggilnya untuk bicara.

Karena insiden malam itu, ketika Hyuk datang dan membuat kehebohan, manajer Park beberapa kali memanggil Minhye namun tak berhasil membuatnya bicara untuk sekedar memberi penjelasan. Dan hari ini manajer Park kembali mencoba berbicara dengannya.

“Hei, Chullie, kau tahu kan kalau dia ini anak SMA? Kenapa tak bilang padaku?”

Minhye melirik sosok di sampingnya sejenak. Kim Heechul, kakak Yoori. Tadi manajer Park sempat memperkenalkannya. Sekilas ia benar-benar mirip dengan Yoori, sehingga Minhye sempat mengira dia memang Yoori. Dan yang menyebalkan, Heechul bahkan bersikap seakan dia memang Kim Yoori—membuat Minhye jengah saat mengetahui kebenarannya.

Pikiran Minhye mengelana saat pertama bertemu Heechul di kafe itu. Saat ia mencari keberadaan Yoori.

Flashback~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Selamat da.. eh? Itu kau, nona Minhye?”

Minhye hanya mengangguk canggung.

“Kau terlambat, sepertinya kau harus lembur lagi.”

“Maaf, manajer Park. Tapi saya kan sudah…”

“Ah. Baiklah, kau kuberi cuti kali ini. Kuanggap kau tamu hari ini. Silahkan duduk,” jawab Park Yoochun sebelum Minhye menyelesaikan kalimatnya.

“Anda tidak marah..?”

“Kau sungguh-sungguh ingin berhenti?”

Minhye menggeleng cepat.

“Kau kelihatan bermasalah kemarin. Aku tak bisa menerima keputusan orang yang sedang tertekan,” Yoochun menjawab ringan. “Silakan duduk.”

“Terima kasih,” jawab Minhye. “Terima kasih atas segalanya, manajer Park..”

“Aku juga punya saudara sesusiamu.. ah, tidak, mungkin sedikit lebih muda, dia masih SMA. Karena itu, aku tak bisa tidak berbuat baik padamu. Aku sangat menyayanginya.”

Minhye tersenyum hambar. Manajer Park selama ini mengira ia telah lulus SMA, karena itu ia berbaik hati menerimanya bekerja di kafe itu.

Setelah manajernya itu berlalu, Minhye mulai melongokkan kepala, mencari jejak keberadaan Kim Yoori. Minhye mengingat dengan cukup jelas bahwa ia melihat Yoori bukan hanya sekali berada di kafe itu. Bisa dibilang..Gadis itu memiliki shift yang sama dengannya, jika ia bekerja di tempat itu. Tapi Minhye tak pernah melihatnya di dapur. Bahkan pelayan pun akan masuk ke dapur, sesekali. Maka Minhye mengambil kesimpulan bahwa Yoori bukan pekerja di tempat itu.

Lantas..?

Tepukan tangan riuh memenuhi ruangan, menyadarkan Minhye akan lamunannya. Saat ia memfokuskan pandangan kearah yang sama dengan para penghuni kafe lainnya, ia mendapati yang ia cari.

“Kim Yoori,” gumam Minhye pelan.

Entah bagaimana, sosok yang ia tatap itu menatap balik ke arahnya. Menuruni panggung, ia berjalan langsung kearahnya. Minhye mengalihkan pandangan, berusaha bersikap normal, hingga gadis itu kini duduk di hadapannya.

“Hai.”

“Hai,” jawab Minhye canggung.

“Sepertinya kita pernah bertemu.”

“Ya, tentu saja. Kita kan satu sekolah. Kau Kim Yoori, kan? Anak baru itu.”

Dia tampak terkejut.

“Aku Minhye. Choi Minhye,” Minhye mencoba bersikap ramah. Yoori menyambut uluran tangan Minhye sambil tersenyum. “Aku bekerja di belakang—bagian cuci piring, tapi hari ini aku sedang cuti.”

“Apa manajer tahu kau anak SMA..?” bisik Yoori, takut terdengar yang lain.

Minhye menggeleng. “Entahlah, kurasa tidak, dia tak pernah menanyakannya.”

“Dia juga tak pernah bertanya padaku,” tawa Yoori. “Aku biasa menyanyi disini, dari jam 7 sampai jam 12.”

“Shift kita sama.”

“Wah. Apa kita jodoh? Sekolah yang sama, shift yang sama,” Yoori tertawa lagi.

Mereka kemudian berbincang mengenai banyak hal. Kedua orangtua Yoori sudah meninggal dan ia kini tinggal hanya dengan kakak dan adik laki-lakinya, nyaris sama dengan Minhye—hanya saja Minhye menolak mengakui bahwa orang tuanya sudah meninggal—yang kini tinggal hanya berdua dengan adiknya, Minho. Tentang rumah kehidupan Yoori sebelum pindah sekolah. Tentang masakan kesukaan Yoori, nasi goreng Beijing. Dan lain-lain. Minhye bingung sendiri. Dia tidak sedang mabuk—dia bahkan belum minum apapun di tempat itu, tapi sepertinya ia terlalu banyak bicara. Sejak kapan ia suka membuka diri pada orang yang baru di kenal? Atau itu karena ia terlalu depresi?

“Hei, boleh aku minta nomor teleponmu?” pinta Yoori.

Minhye mengambil ponselnya dan mulai bertukar nomor dengan gadis itu.

“Kau kenal Hyukjae?” obrolan mulai berlanjut kemana-mana.

“Lee Hyukjae, maksudmu? Ya, tentu saja. Ketua klub dance, gadis mana yang tak mengenalnya?”

“Dia orang yang seperti apa?”

“Playboy, cassanova, entahlah. Dia sering gonta-ganti pacar, sih,” kata Minhye. Sejenak Minhye terkejut sendiri. Dia membicarakan Hyuk—sahabatnya sendiri—seolah ia bukan siapa-siapa.

Eh, tapi memang dia siapa-nya Hyuk?

“Tapi dia orang yang baik. Dia gonta-ganti pacar bukan untuk kesenangan pribadi,” Minhye mencoba memperbaiki kalimatnya.

“Bukan untuk kesenangan pribadi, maksudnya?”

“Dia itu…bisa menilai orang hanya dengan sekali lihat. Ia hanya memilih gadis tertentu saja untuk dipacari, namun pada akhirnya gadis itu akan memutuskannya dan berteman baik dengannya.”

“Kau jangan-jangan salah satu mantannya..?!”

“Enak saja—bukan!” sergah Minhye. “Aku hanya temannya saja.”

“Oh,” tawa Yoori. “Bagaimana bisa gonta-ganti pacar itu bukan untuk kesenangan pribadi?”

“Aku juga tak begitu mengerti, sih. Hanya saja setahuku tak pernah ada gadis yang dendam atau merasa dipermainkan olehnya.”

Yoori tercenung.

“Kadang aku merasa Hyuk itu punya sixth-sense—kau tahu, indera ke enam. Dia bisa baca pikiran. Tapi tidak, kurasa itu hanya perasaanku saja,” kata Minhye lagi.

“Eh, sudah giliranku untuk tampil lagi, nih,” kata Yoori. Minhye tersenyum, menyemangatinya.

“Sudah berkenalan dengannya?”

“Eh?” Minhye terkejut mendapati menajernya itu telah duduk di sampingnya.

“Kau harus hati-hati dengannya, dia senang menggoda wanita,” tawa manajer Park. “Bercanda. Dia itu sepupuku. Ngomong-ngomong, sudah hampir jam 9. Apa tak sebaiknya kau pulang? Tak baik berkeliaran malam-malam kalau tak ada hal yang penting.”

“Ah, benar juga. Terimakasih sudah mengingatkan. Saya pulang dulu,” Minhye buru-buru undur diri. Tak enak juga terlalu lama di sana jika tak sedang bekerja—lagipula berbahaya jika ada yang mengenalinya. Bisa dikira yang tidak-tidak.

End of Flashback~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Kini, ‘Yoori palsu’ itu duduk di sampingnya, tanpa merasa bersalah sama sekali. Minhye kesal sekali sebenarnya. Disatu sisi ia merasa dibohongi.

“Aku merasa senasib dengannya,” aku Heechul. “Dan lagi, aku menyukainya sejak pertama bertemu dengannya. Maksudku, ia mengingatkanku pada Yoori.”

Tuh, kan. Makin jengah rasanya. Entah mengapa, rasanya akhir-akhir ini ia selalu dikaitkan dengan Kim Yoori. Padahal kenal saja tidak. Okelah, mereka satu sekolah, tapi secara resmi, mereka belum pernah berkenalan. Bahkan ia tak merasa kenal dengan makhluk jejadian di sampingnya itu.

“Minhye, kau marah padaku?”

“Kau—“ Minhye lekas meralat kalimatnya. ”Anda berbohong pada saya. Anda berpura-pura menjadi Kim Yoori, dan itu membuat saya terganggu.”

“Kau juga berpura-pura padaku, seolah-olah kau itu mahasiswi,” sahut manajer Park.

“Saya tak pernah mengaku mahasiswi, anda juga tak pernah bertanya pada saya mengenai status pendidikan saya.”

“Aku juga tak pernah mengaku sebagai Kim Yoori. Kau yang mengira begitu,” jawab Heechul.

Minhye terpojok.

Sejenak ia teringat Hyuk, dan betapa ia terluka mengetahui bahwa dirinya menyembunyikan sesuatu dari sahabatnya itu. Menyembunyikan, apa bisa disebut berbohong?

“Dan sekarang kau bermasalah dengan sekolahmu,” lanjut manajer Park sambil mengeluarkan surat panggilan yang terus berpindah tangan itu. “Kau kan sebentar lagi ujian akhir.”

Minhye terus terdiam.

“Begini saja. Aku akan ke sekolahmu dan menjelaskan permasalahannya—kau hanya membantuku karena aku kekurangan pekerja. Bagaimana? Aku bisa berpura-pura menjadi walimu,” tawar manajer Park.

TBC

A/N ;Don’t forget to leave your comment

Komentarmu seperti sebuah penghargaan tersendiri buat kami

Membuat kami merasa bahwa kami tidak gagal dalam menyalurkan imajinasi

Kalau nggak bisa comment di sini, bisa kok message ke fb saya (minhye_harmonic): Gaemgyu Hoobae(Goo Eun Jo) atau mention ke twitter saya: @hye09

Cara apapun yang kalian lakukan untuk memberikan comment terhadap karya kami (lewat mention di twitter, message fb atau comment di sini) insya allah kami membalas. Kalau ada yang mau kenalan, boleh-boleh saja. Diterima kok, SKSD tidak dilarang di sini. Berawal dari SKSD, berakhir dengan kedekatan. Saya (minhye_harmonic) juga SKSD kok, karena SKSD saya mempunyai banyak teman bahkan membuat saya seperti memiliki keluarga ke-2. 😀

Sider? oh no~, dulu memang saya (minhye_harmonic) seorang sider, sekarang udah tobat kok. Nggak ada kata terlambat untuk bertobat, luangkanlah sedikit waktumu (nggak sampai lima menit kali) untuk merangkai kata demi kata untuk sebuah penghargaan bernama comment. *wink*

Hargai karya orang. Ara? 🙂

Ghamsahamnida *deep bow*

sampai jumpa minggu depan *lambai2*

19 responses to “Endless Moment Part 8

  1. Authot aq mw baca dr part awal gimna yh aq cari” gadpet…
    #frustasi:(
    kamrin aq bca yg after storyx bgus bget aq pnarasan dg konflikx ipart ini aj aq blum bca thor……
    Klo ga keberatan Tlong sms aq yh thor kasi tw dmna aq bsa bca..
    085247409899

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s