Let’s Make a Baby [Chapter-6]


Author: Unie

Genre: Angst, AU (Alternate Universe)

Rating: PG-15

Length: Chaptered

Main cast:

  • Lee Donghae
  • Shim Changmin
  • Sung Hyosun
  • Jessica Jung

Other cast:

  • Cho Kyuhyun
  • Lexy Kim
  • Victoria Song

Disclaimer:

FF ini bener-bener imajinasiku. Kalau misal ada yang mau komplain karena ada kesamaan. Ke acc twitterku ya di: @onyuni

[PROLOG] [CHAPTER 1] [CHAPTER 2] [CHAPTER 3][CHAPTER 4]
[CHAPTER 5]

“Donghae-shi, coba kau lihat ini” aku mengangsurkan beberapa artikel terkait inseminasi. Dia mengalihkan pekerjaannya sejenak. Aku sengaja datang ke kantornya untuk memberitahunya tentang teknik inseminasi ini.

“Lalu kenapa?” dia menatapku, setengah menengadah.

Aku memundurkan kursi, kemudian duduk berhadapan dengannya. “Kita bisa mencoba ini. Bayi tabung terlalu beresiko. Nenekmu tinggal bersama kita, bagaimana kalau dia bertanya kenapa aku harus bolak-balik ke rumah sakit? Tidak mungkin kita memberitahu ini kan?”

“Kau sudah tidak perawan ya?” tanyanya heran.

“Apa?” mataku terbelalak karena tidak mengerti apa maksud pertanyaannya barusan.

Dia memandangku dengan tatapan yang sedikit meremehkan “Apa kau sudah tidak perawan?”

Tanpa pikir panjang aku langsung meraih gelas yang masih berisi penuh dengan air yang bertengger di atas meja kemudian membuka tutupnya dan menyiramkan seluruh isinya ke wajah Donghae. Dia menanyakan ‘keperawanan’, apa maksudnya? Sedetik pun tidak pernah terlintas di otakku dia akan menanyakan hal yang tabu itu.

“APA YANG KAU LAKUKAN?? Sebentar lagi aku harus rapat!!!” teriaknya murka mendapati anggota badan bagian atas beserta kemeja dan jasnya kuyup. Dia mengumpat-umpat sambil membersihkan dirinya dengan tissue.

“Demi Tuhan, kau menghancurkan kontrak yang baru saja ku tandatangani?” dia memandangku kesal setelah melihat sekilas ke arah map yang terbuka dihadapannya. Di atasnya sudah dipenuhi dengan percikan-percikan air mineral yang aku siramkan ke wajahnya. Beberapa bagian luntur, terutama pada tinta di atas materainya.

“Kau menanyakan virginitas? Apa maksudmu? Kau tahu itu hal yang sensitif bagi seorang wanita???” tanyaku tak kalah geram.

Dia memandangku dengan kilatan matanya yang cukup tajam. Untuk beberapa detik dia tidak menjawabku. Dia mengabaikanku dan memilih menuju salah satu sisi dari ruangan yang cukup luas. Dia membuka pintu lemari beraksen Eropa dengan cara mengeser. Aku melihat ada beberapa pasang setelan jas menggantung di sana. Aku mengabaikan kata “prepare” dengan semua jas itu. Dia mengambil salah satunya yang berwarna abu-abu dan warnanya tidak jauh beda dengan yang ia kenakan sekarang. Tanpa canggung dia membuka atasannya, mulai dari Jas lalu dasi dan barulah yang terakhir kemeja. Kalau bisa kututup mataku, aku tidak akan melakukannya sedetikpun. Aku tidak bisa mengabaikan kulit yang selama ini disembunyikan di balik semua kainnya begitu saja. Dia berjalan mendekatiku sambil mengancingkan kemejanya, bukan untuk mengatakan apapun tapi untuk meraih gagang telephone. Dia masih menatapku tajam.

“Clara, tolong siapkan ulang surat kontrak dari PHP Enterprise. Lima menit, aku tunggu” kemudian dengan cepat dia menutup sambungan lalu beranjak dari tempat itu dengan melirikku tajam lalu mengambil dasinya.

“Jawab aku!” paksaku di waktu yang tidak tepat.

“Aku hanya bertanya apakah kau sudah tidak perawan. Kau tinggal jawab, iya atau tidak? Bukan menyemburku dengan gelas yang masih terisi penuh! Stupid!” bentaknya kemudian menjejalkan kemejanya dengan kasar setelah memasang dasinya dengan benar.

“Lalu kenapa kau bertanya seperti itu??? Apa itu sopan, TUAN LEE?”

“Seberapa jauh kau tahu inseminasi?” tanyanya menantangku. Dia meraih jas kemudian berjalan mendekatiku.

“Ini teknik memasukkan sel-sel sperma langsung pada rongga rahim.” Kataku datar namun sarat dengan rasa heran.

“Apa hubungannya keperawanan dengan memasukkan sel-sel sperma itu langsung ke rongga rahim? Apa selaput dara tidak mengganggu? Kalau kau…” dia sedikit berdeham.

“Katakanlah kau sudah melakukan “itu” dengan pacarmu dulu, aku tidak keberatan kau inseminasi.” lanjutnya.

“Aku tidak pernah melakukan apa-apa, Donghae-sshi!!! Kenapa kau tidak sopan dengan bertanya seperti itu?” tanganku mengepal kuat, siap melayangkannya ke benda apapun yang ada di dekatku.

“Hei, umurmu berapa? Kau bukan anak di bawah umur lagi? Itu bukan pertanyaan aneh untuk ukuran dewasa. Kau tidak perlu marah. Sekarang pikirkan, bagaimana sel-sel sperma itu melewati rongga rahim jika selaput daramu belum koyak?” Donghae memandangku dengan tatapan meremehkan. Dia menghindari pandanganku lagi kemudian meraih berkas yang telah basah lalu membuangnya ke tempat sampah terdekat.

Aku sedikit kaget dengan ucapannya itu. Bukan bermaksud menghakiminya lagi, tapi malah rasa bersalah yang menelusup ke dalam pikiranku. Aku sudah berfikir yang aneh-aneh tentang dia tanpa mengecek lebih jauh tentang inseminasi.

            Konfrontasi kami berakhir ketika seorang wanita yang… aku pikir tidak sopan karena menerobos masuk ke ruangan ini tanpa permisi. Apakah dia wanita yang disuruh Donghae membawa surat kontrak barunya. Yang benar saja? Melihat dandanannya tidak bisa dipungkiri kalau wanita ini salah satu yang sangat mengorientasikan dirinya terhadap brand. Dari atas hingga bawah, walaupun aku bukan pengamat mode tapi aku tahu dia memakai merk-merk mahal dan berkelas. Hak sepatunya yang runcing itu mengetuk-ketuk lantai sempat mencuri perhatianku untuk beberapa detik. Pakaiannya yang demi Tuhan ‘sangat tidak pada tempatnya’ ini membuatku menyimpulkan satu hal, yaitu dia salah masuk catwalk.

“Katakan apa maksud dari semua ini?” tatapan matanya garang sambil melempar kertas yang ada di tangannya tepat mengenai dada bidang Donghae. Donghae terlihat cukup shock dengan kedatangan wanita ini.

            Aku menengok kertas itu sekilas dan menyadari bahwa aku sangat mengenalinya dari warna dan pita sebagai penghias bagian muka. Itu… undangan pernikahan kami. Aku memperhatikan wajah gadis itu. Matanya mulai berkaca dan aku yakin sebentar lagi air yang ada di dalamnya segera tumpah. Apakah dia…

“Jess, aku bisa menjelaskan ini” Donghae yang tanpa pikir panjang langsung mendekati wanita itu. Dia meraih lengannya.

“Lepaskan! Jangan menyentuhku!” dia menghempaskan tangan itu. Tapi apakah Donghae menyerah begitu saja? Tidak. Dia tetap mencoba memberikan sentuhan fisik pada wanita itu.

“Aku akan menjelaskannya. Tenangkan dirimu, Jess” Donghae bersikukuh.

            Benarkah dia Jessica? Bekas pacar Donghae? Kalau aku bisa menutup mata dan telingaku akan aku lakukan sekarang ini. Aku tidak ingin melihat pemandangan ini terlebih lagi mendengarnya. Aku seperti sebuah tensimeter yang diletakkan di meja dapur. Tidak pada tempatnya. Seharusnya aku tidak berada di sini dari awal.

“Kau membohongiku, Hae-sshi! Kau membohongiku! Kau akan menikah… Kau menyakitiku. Kau mengingkari janjimu”  Jessica menggeleng keras. Airmata yang deras telah mengalir menyurusi pipi tirusnya.

“Aku bisa menjelaskannya, Jess. Dengarkan aku” lagi-lagi Donghae mencoba meraih lengan wanita itu.

Jessica menggeleng dengan meluapkan sesenggukannya “Tidak ada yang perlu dijelaskan. Semuanya sudah jelas, Hae-sshi”

“Tenanglah”

“Lepas!” Jessica terus meronta dan mengelak.

            Donghae merengkuh tubuh Jessica dengan susah payah agar masuk ke dalam pelukannya. Kedua tangan Jessica menahan dada Donghae agar tidak lebih mendekat barang seinci pun. Tapi gagal, Donghae lebih kuat dan dia berhasil memeluk wanita itu.

“Kau jahat, Lee Donghae! Kau brengsek! Kau munafik!” Jessica mengumpat di pelukannya.

            Melihat melodrama di hadapanku ini, rasanya jantungku seperti ditusuk duri kecil yang sangat runcing. Walaupun kecil tapi duri tetaplah duri yang dapat menyakiti. Rasanya detak jantungku menjadi tak terkontrol akibat duri itu dan darah yang seharusnya dipompa oleh jantung sebagaimana mestinya serasa naik seluruhnya ke otakku. Apa ini? Donghae memeluk wanita itu di depan mata kepalaku sendiri?

“Hyosun-ah. Bisakah kau meninggalkan kami?” tanya Donghae tanpa menoleh ke arahku.

“Tapi…”

“Please…” pintanya antara sebuah ketegasan dan permohonan.

Dia masih ‘melindungi’ wanita di pelukannya itu dengan posesif. Itu memang hanya sebuah pertanyaan yang seharusnya dengan mudah aku jawab dengan kata ‘iya’ atau ‘tidak’. Tapi yang tertangkap di telingaku, pertanyaan itu adalah sebuah pengusiran secara halus agar aku menyingkir dari semua ini.

“Oke” aku langsung meraih tasku lalu keluar tanpa basa-basi lagi.

            Dadaku serasa bergemuruh. Seperti ada badai yang mengoyak-ngoyak setiap ruang di dalamnya tanpa menghiraukan sebuah ruang yang sedang butuh ketenangan. Dan tanpa sadar, setetes airmata keluar dari mata kananku. Sung Hyosun, apa yang kau lakukan? Kau mau membuat dunia menertawaimu karena airmata yang jatuh tanpa alasan yang kau tidak ketahui itu. Yang benar saja, Hyosun-ah! Aku mengabaikan pikiran-pikiran konyolku lalu mengusap yang telah menetes dengan kasar.

Kenapa wanita itu harus datang sekarang?

Seminggu menjelang pernikahan…

            Setelah memikirkan ini dengan matang, akhirnya aku memberanikan diri berkunjung ke rumah Lexy untuk mengetahui detil tentang inseminasi yang pernah memicu konflik antara aku dan Donghae. Well, setelah kejadian di kantornya seminggu yang lalu, praktis dia tidak menghubungiku sama sekali. Bahkan saat fitting baju pengantin dia memilih datang ke butik terlebih dulu dan kembali ke kantornya sebelum aku mencapai butik yang sama. Dia terkesan menghindariku. Apa dia harus semarah itu padaku? Atau karena… Jessica telah kembali?

“Kenapa tiba-tiba kau bertingkah sok ilmiah, Hyosun-ah? Ini bukan bidangmu. Kenapa kau sangat tertarik dengan inseminasi?” tanyanya terheran.

“Seorang temanku ingin mencoba inseminasi setelah 2 tahun menikah dan tidak mendapat anak. Aku butuh referensi untuknya” kataku berbohong.

Dia menatapku penuh tanya “Sungguh?”

Aku menjawabnya dengan sebuah anggukan.

“Apa pengaruh keperawanan dengan inseminasi?” tanyaku ragu tapi walau bagaimanapun aku harus tetap menanyakan ini.

“Maksudmu?” dahinya berkerut.

“Maksudku, apa selaput dara wanita bisa menghambat proses inseminasi?”

“Memangnya dia masih perawan?”

Aku mengangkat bahu, berlagak tidak mengerti.

“Orang itu bertanya pada orang yang salah. Dia menanyakan bagaimana cara membuat kue pada seorang montir. Seharusnya dia pergi pada seorang koki” Lexy mendesah sambil menggelengkan kepalanya sejenak setelah berkata dengan cukup retoris.

“Yeah, tapi seorang montir yang pintar akan menemui si koki untuk mengetahui jawabannya walaupun hal itu tidak ada kaitannya dengan oli dan besi-besi” aku tersenyum bangga padanya.

“Kau pintar sekali…” dia tertawa kecil.

“Jadi, katakan. Apa selaput dara itu mempengaruhi proses inseminasi?”

“Kalau dibilang menghambat… Bagaimana ya?” dia tampak berfikir, mencari jawaban yang tepat sebelum ia tuangkan ke dalam kuliahnya padaku.

“Perawan atau tidak, itu bukan masalah. Walaupun selaput dara wanita itu masih utuh, sel-sel sperma masih bisa merembes melewatinya dan berhasil masuk ke rongga rahim.” Lexy bangkit dari duduknya. Dia meraih beberapa kertas hasil print out yang telah disatukan dengan sebuah penjepit kertas.

“Kebetulan aku sedang meneliti ini” dia menyerahkan kertas tadi. Isinya adalah artikel-artikel yang diperolehnya dari internet.

“Banyak pengakuan dari orang-orang yang berhasil hamil melalui inseminasi. Entah itu memakai donor sperma atau sperma pasangan mereka masing-masing. Tapi…” katanya terputus saat aku membaca setiap kata yang ada di artikel pertama. Aku mendongak.

“Begini logikanya, anggap saja kau sedang memasukkan air mineral ke dalam botol, tapi di atas botol itu ada semacam saringan yang lumayan rapat. Apa yang akan terjadi?”

Aku mengimajinasikan pertanyaannya dan tidak butuh waktu yang banyak untuk menangkap maksudnya.

“Tidak lancar dan membutuhkan waktu yang lebih lama” kataku singkat.

“Nah! Itu maksudku. Sperma akan tetap masuk tapi tidak selancar pada miss. V yang sudah pernah dimasuki oleh ‘itu’ dan selaput daranya telah koyak. Lagi pula untuk apa sih memelihara keperawanan kalau sudah menikah? Toh, pada akhirnya dia akan melahirkan juga. Oke, kalau proses persalinan bisa dilakukan secara sesar. Yang aku heran, apa orang-orang ini tidak melakukannya secara alami dengan pasangan masing-masing? Semakin hari dunia ini semakin aneh saja” dia menggumam dengan nada yang cukup mencemooh.

            Apa bedanya denganku? Aku juga orang yang masih perawan tapi ingin melakukan teknik ini. Aku orang ‘aneh’ yang ‘terpaksa’.

“Apa keuntungan dari inseminasi?” tanyaku lagi.

Dia menghela nafasnya “Pasien bisa memilih jenis kelamin bayinya. Bisa perempuan, bisa laki-laki dengan mendominasikan salah satu kromosom antara kromosom X dan kromosom Y saat pencucian sperma.”

“Benarkah?” aku terhenyak, sedikit tidak percaya.

“Iya. Lebih baik temanmu langsung menemui dokter yang lebih ahli. Aku masih mahasiwa, belum banyak yang aku ketahui.”

“Sepertinya penjelasan ini sudah cukup untuknya” aku berkata sedikit ragu.

“KINKEY HOSPITAL biasa menangani teknik ini. Coba kau suruh dia ke sana”

“Oke, dia pasti senang mendengar ini”

            Lexy menimang-nimang majalah yang ada di tangannya. Membolak-balikkan setiap lembarnya dengan khusyuk. Sementara itu, aku memilih membaca isi artikel-artikel yang kini ada di tanganku.

“Kau sudah fitting baju pengantin?” tanyanya mengalihkan perhatianku dari artikel.

“He hem” jawabku dengan gumaman singkat.

“Apa dia tampan saat mencoba baju pengantinnya?”

“Aku tidak tahu. Dia pergi dari butik lebih awal karena harus menghadiri rapat penting”

“Ooh… Lalu kau? Bagaimana gaun pengantinmu?”

Aku menutup artikel itu kemudian menyesap teh hangat yang sudah ditawarkan Lexy saat aku datang.

“Kau lihat saja nanti. Yang jelas jangan bosan untuk memegangi ekornya” aku tersenyum kecil membayangkan gaun pengantin yang pernah ku coba seminggu yang lalu.

“Sepanjang apa?”

“Lihat nanti saja. Oke, sepertinya aku harus segera memberitahukan ini pada temanku. Boleh aku membawanya?” aku mengangkat  artikel-artikel itu ke udara.

“Tidak masalah. Aku mempunyai salinannya. Aku bisa mencetaknya lagi atau membacanya langsung di depan PC”

            Setelah berkunjung dari kediaman Lexy, aku memutuskan untuk menemui Donghae ke kantornya. Aku akan memberitahunya bahwa inseminasi bisa dilakukan oleh wanita manapun sekalipun dia masih perawan. Sekaligus meminta maaf atas kejadian minggu lalu. Kejadian saat aku dengan frontal menyiramkan air minum kepadanya.

            Entah kenapa hari ini perasaanku tidak seperti biasa. Aku merasa ada hawa yang aneh saat melangkahkan setiap tapak kakiku di atas lantai marmer Lee Corporate. Apa ini hawa kekesalan Donghae yang masih tersisa? Beberapa kali hatiku ingin melangkahkan kakiku menjauhi perusahaan multinasional ini. Tapi pikiranku yang sangat egois lebih enggan untuk menghentikan langkah maju. Ada sesuatu yang ingin ku lihat sekarang ini. Ah, bukan sesuatu tapi tepatnya adalah seseorang. Seseorang yang membuatku merasa serba salah kurun waktu seminggu terakhir ini.

“Oh, nona Kim. Anda mau menemui tuan Lee?” sapa sekretarisnya ramah saat melihatku datang.

“Iya. Apa dia ada?”

“Anda sudah membuat janji dengan tuan Lee sebelumnya?”

“Sebenarnya belum, aku hanya ingin memberinya semacam kejutan kecil. Bolehkah aku masuk?”

“Sepertinya tuan Lee sedang ada tamu. Anda mau menunggu?” raut wajah wanita bernama Clara Han ini sedikit kecewa.

“Tidak masalah. Aku akan menunggu di depan pintunya.”

“Apa aku perlu menyiapkan kursi untuk anda?”

“Ah, tidak perlu. Kalau aku harus menunggu lebih dari satu jam, baru aku akan meminta bantuanmu”

            Aku langsung melenggang menuju ruangan Donghae. Jaraknya tidak terlalu jauh, sekitar lima meter dari meja sekretarisnya. Aku menatap pintu kayu ruangan itu. Pintunya tidak bisa dibilang menutup dengan sempurna. Masih ada celah yang tersisa karena kerapatan pintu yang tidak tepat. Alih-alih ingin menutupnya, aku malah menangkap pemandangan yang tak kusangka-sangka dari celah kecil itu.

            Aku kesulitan menelan ludah saat melihat ini. Terasa keringat dingin mulai mengucur menuruni tengkukku. Lidahku kelu sementara artikel yang ada di tanganku terjatuh ke lantai begitu saja. Donghae sedang berciuman dengan wanita berambut pendek yang aku temui minggu lalu di kantor yang sama. Donghae benar-benar mencium wanita bernama Jessica itu. Aku bisa melihat bagaimana dia membalas setiap kecupan-kecupan yang diberikannya. Ini bukan semacam ciuman satu arah yang sangat pasif.

            Dadaku sesak. Aku urung menutup pintu itu dan memilih memungut artikel yang terlanjur jatuh lalu hengkang dari titik dimana aku berdiri terakhir kali. Aku sempat mendengar panggilan dari Clara, tapi aku mengabaikannya dengan mempercepat langkahku. Aku tidak bisa menahan airmata yang mulai mengucur tetes demi tetes. Sakit. Bahkan artikel yang lusuh karena ku remas dan sudah terlanjur masuk tempat sampah tak mengimpaskan rasa sakit yang ku rasa. Aku sulit bernafas, rasanya ada yang menusuk-nusuk paru-paruku dengan jarum yang jumlahnya ribuan. Rasa ini lebih sakit ketimbang saat aku melihatnya memeluk wanita itu di hadapanku tempo lalu.

            Aku memandang sebuah katedral yang berdiri kokoh di hadapanku. Kakiku lelah setelah berjalan sejauh ratusan meter dari kantor Donghae. Walaupun begitu, lelahnya kakiku tidak tersinkronisasi dengan airmataku yang keluar tanpa henti. Kenapa aku harus seperti ini? Kenapa aku harus menangis? Aku tidak punya alasan untuk itu.

Ku beranikan diri untuk melangkah masuk ke tempat itu. Barisan bangku kosong telah menyambutku dari kejauhan. Aku memilih bangku panjang yang paling belakang tanpa pikir ulang dan menangis lagi di rumah Tuhan. Bahkan kali ini lebih keras dan tanpa malu-malu. Aku menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku.

“Kenapa kau menangis?” tanya sebuah suara yang cukup asing di telingaku beberapa saat setelah aku memasuki tempat suci ini. Aku mendongak dan mendapati seorang pastor dengan pakaian khasnya menatapku penuh tanya. Airmataku masih berleleran.

“Bolehkah aku meminjam salib dan injilmu?” kataku kemudian saat melihat semacam buku tebal di tangan kanannya yang aku yakini adalah Al Kitab.

“Kalau itu bisa membuatmu lebih baik” pastor itu langsung memberikan injilnya dilanjutkan dengan meloloskan salip yang terkalung di lehernya.

“Terimakasih” aku mengambil kedua benda suci itu.

“Kau butuh teman?”

Aku menggeleng lemah.

“Baiklah. Aku akan kembali jika kau membutuhkanku” pastor itu menatapku sejenak lalu mengeloyor, menghilang di balik salah satu pintu gereja.

            Aku langsung memeluk al kitab dan salib itu ke dadaku. Aku pikir dengan kedua benda ini aku akan merasa lebih baik, tapi hal itu malah mengantarkanku ke tangisan yang berkali-kali lipat lebih dalam dari sebelumnya. Ampuni aku…

~Ndret…Ndret…Ndret~

Aku mengabaikan ponsel yang dari tadi berdering tanpa henti selama beberapa kali. Itu panggilan masuk dari Kyu oppa. Beberapa menit yang lalu aku mengirimi pesan singkat bahwa aku merasa lelah. Setelah deringannya berhenti dalam beberapa menit, barulah aku menghubunginya.

“Hallo, Hyosun-ah” katanya cepat.

“Oppa…” aku terisak tanpa bisa ku kontrol. Aku bermaksud mengatakan sesuatu, tapi airmata ini seolah menghalangiku dan memicu lidahku menjadi kelu. Tenggorokanku rasanya diikat oleh semacam tali hingga menghambat pita suaraku.

“Hyosun-ah! Kau dimana? Kau kenapa? Please, jangan membuatku cemas” aku merasakan kekhawatiran yang teramat dari suaranya.

“Oppa, aku di…” suaraku tercekat lagi.

“Kau dimana sekarang?” tanyanya dengan suara yang lebih keras.

Aku menelan ludahku dengan susah payah “Katedral Myeongdong”

“Oppa akan segera ke sana. Jangan kemana-mana!”

            Aku menjatuhkan ponselku ke lantai tanpa peduli setelah putusnya sambungan. Aku tidak tahu apakah Kyu oppa tahu tempat ini atau tidak. Aku tidak memberikan rinciannya. Seharusnya dia tahu, ini adalah tempat suci untuk pemberkatan pernikahanku nanti. Airmata ini? Konyol sekali, aku menangisi perbuatan Donghae? Apa yang salah pada otakku? Tuhan, ampuni aku. Ampuni aku.

“Hyosun-ah!” setelah hampir satu jam telephone itu terputus, akhirnya Kyu oppa berhasil menemukanku.

Aku menoleh. Kali ini aku telah menampilkan wajah tanpa airmata. Aku telah mengusapnya beberapa menit yang lalu dan mencoba mengontrol nafasku agar normal.

“Ada apa? Apa yang terjadi?” dia langsung duduk di bangku panjang yang sama denganku. Dia tidak bisa menutupi kepanikan yang terlukis jelas di wajahnya.

“Bersumpahlah di atas Al kitab ini, demi Tuhan, demi aku dan salib ini bahwa kau tidak akan mengintimidasi siapapun saat aku membuat pengakuan” kataku retoris dengan  menyodorkan Al Kitab dan salib itu.

“Hyosun-ah! Apa-apaan ini?” tanyanya bingung.

“Berjanjilah, oppa!!!” teriakku dan membuat tempat suci ini menggema sesaat. Walaupun memaksa, aku malah mengeluarkan airmataku lagi.

“Hyosun-ah! Jangan membuatku bingung! Sebenarnya ada apa ini? Jangan main-main dengan Al kitab dan Tuhan!” bentaknya keras namun tidak bisa menutupi kecemasan yang terpancar dari sinar-sinar matanya.

“Karena aku tidak main-main maka bersumpahlah, oppa! Atau aku tidak akan mengatakan apa-apa” ancamku.

“Hyosun-ah…”

“Please…” Nada suaraku melemah terkesan membuat sebuah rengakan padanya.

Akhirnya dengan ragu dia meletakkan tangan kanannya di atas Injil dan salib “Aku bersumpah…”

“Sekarang katakan, sebenarnya ada apa?”

Aku mencoba mengatur nafasku sebelum membuka suara. Aku mengusap airmata yang telah menetes pelan.

“Aku yakin kau akan kecewa dengan apa yang aku katakan, oppa. Aku mohon maafkan aku…” airmata yang tadinya aku pikir bisa kutahan ternyata runtuh dengan sendirinya.

“Katakan… Kau kenapa? Aku berjanji tidak akan marah” dia mengusap airmata yang mengalir di pipi dengan hati-hati, takut melukaiku lebih dalam lagi.

“Aku…” kataku dengan nada serak dan tercekak. Aku sedikit menunduk.

“Aku menikah dengan Donghae… Karena…” aku mengangkat kepalaku dan menatapnya ragu.

“Karena apa, Hyosun-ah? Bisakah kau tidak bertele-tele seperti ini, please?” dia meraih wajahku, menjaga pandanganku agar tidak kemana-mana lagi.

“Karena… Aku ingin memberinya seorang anak” kataku akhirnya dan di saat yang bersamaan airmataku mengucur lagi.

“Memberinya anak? Apa maksudmu?”

“Aku dan Donghae membuat sebuah perjanjian. Jika aku memberikan seorang anak padanya… Maka dia akan mencarikan kakakku dan melegalkan aku sebagai warga negara Perancis”

            Kyu oppa melepaskan tangannya dari wajahku dan menggeleng lemah dan mengatakan kata “tidak mungkin” beberapa kali. Dia diam, sibuk dengan pikirannya sendiri tanpa sudi menatapku lagi.

“Kau sudah berjanji tidak akan marah, oppa” kataku memelas.

“Tapi aku tidak berjanji untuk tidak kecewa” dia masih enggan menatapku.

“Aku tidak habis fikir kau melakukan ini, Hyosun-ah. Kau terpelajar dengan didikan yang tidak kurang dari keluarga Cho. Tapi kenapa kau keluarkan sisi bodohmu untuk hal yang seperti ini? Kau kemanakan otakmu? Kenapa kau mau bermain-main dengan sebuah pernikahan?” dia menatapku. Aku bisa melihat ada genangan airmata di sudut-sudut matanya. Dia sangat kecewa. Belum pernah dia mengatakan hal yang blak-blakan seperti ini dengan mengeluarkan kata bodoh.

“Aku ingin kakakku, oppa. Dan sebagai gantinya…”

“Lalu kau anggap aku ini apa??!!! Apa selama ini kau tidak menganggapku sebagai kakakmu? Kau mencari kakakmu dengan mengorbankan masa depanmu??? Hentikan semua ini!! Aku akan mencari Kim Young Woon untukmu!!” bentaknya tak terkendali karena merasa tidak ku hargai. Aku tidak pernah melihatnya semarah ini.

“Oppa…”

“Kau…” dia menatapku antara kesal dan tidak percaya. Melihat airmataku yang terus turun, Kyu oppa tidak tahan untuk tidak memelukku. Dia mencoba memberiku ketenangan dengan caranya ini.

“Aku tidak tahan melihatmu menangis, Hyosun-ah. Please, berhentilah. Aku tidak pernah melihatmu seperti ini sebelumnya”dia mengusap kepalaku.

“Wanita itu… Wanita itu kembali…” aku menyembunyikan wajahku di dadanya dan melepaskan airmata ini tanpa henti.

“Menangislah sepuasmu. Baru kau bisa berbicara”

            Kyu oppa mendekapku semakin erat. Dari dulu aku tidak pernah menangis seperti ini di hadapannya. Aku memilih menumpahkan kesedihan di atas bantal sampai basah. Bukan di hadapan orang lain. Tidak peduli seberapa bengkak mataku akibat tangisan demi tangisan ini, yang jelas aku ingin menghabiskan seluruh persediaan airmataku.

“Kau sangat mencintainya, Hyosun-ah” katanya setelah airmataku mengering dan menyisakkan isakan demi isakan.

Aku langsung melepaskan pelukannya dan menatap heran “Mencintainya? Siapa? Donghae?”

“Awalnya aku yakin kau tidak mencintainya tapi seminggu belakangan ini kau bertransformasi menjadi pribadi yang lain dari biasanya. Kau gelisah. Kau merindukannya?”

“Aku tidak…”

“Akuilah… Kenapa kau menangis seperti ini?” tanyanya retoris.

“Oppa, aku… Apa benar aku mulai mencintainya, oppa?” tanyaku setengah tak percaya padanya dan pada diriku sendiri.

Dia mengangguk kecil dengan memamerkan wajah teduhnya. “Sekarang jawab aku, apa yang membuatmu menangis seperti ini?”

“Aku melihatnya bersama Jessica di kantor.” Aku menunduk lesu.

“Pacarnya?”

“Aku tidak tahu apakah mereka berpacaran lagi atau tidak. Mereka putus karena Jessica sekolah model di New York. Tapi sekarang dia terlihat sangat dekat bukan seperti bekas pacar pada umumnya”

“Berikan aku detil tentang semua ini”

Aku menelan ludahku dengan susah payah, kemudian membuka suara dan tatapanku masih ke bawah “Donghae mengajakku menikah dan memintaku melahirkan seorang anak. Semuanya berhubungan dengan surat warisan kakeknya. Sampai batas waktu yang ditentukan jika aku tidak bisa memberikannya keturunan, 60% sahamnya akan dilelang bebas di bursa efek dan rapat umum pemegang saham. Dan itu artinya, dia tidak bisa memegang perusahaannya sendiri karena seluruh sahamnya tidak mencapai 50%+1. Sejujurnya aku tidak terlalu mengerti dengan surat warisan keluarga mereka. Dan… sebagai gantinya dia akan mencarikan kakakku dan membantu proses kewarganegaraanku ke Perancis”

“Kau tahu arti sebuah pernikahan?”

Aku mengangguk “Sesuatu yang sakral dan tak terceraikan”

“Lalu kenapa kau lakukan ini?”

“Aku ingin bertemu kakakku dan…”

“Kau yakin akan meninggalkan tanah Korea?” potongnya dengan pertanyaan yang  mendekatati sebuah cemoohan.

“Entahlah, oppa. Sekarang yang ada di pikiranku hanyalah menghentikan semua ini”

            Lama kami terdiam dengan suasana hening seperti ini. Aku merenungi apa yang sejauh ini aku lakukan bersama Donghae. Aku menatap lilin-lilin yang bercahaya indah di hadapanku, cahaya temaramnya mampu membuatku sedikit merasa damai. Di sana, tepat di depan lilin-lilin itulah seharusnya aku dan Donghae mengikat janji suci enam hari ke depan terhitung dari sekarang.

“Apa yang kau rasakan jika berada dekat dengannya?” tanya Kyu oppa tiba-tiba. Aku menoleh dan dia menoleh.

“Oppa…”

“Katakan semuanya. Apapun itu” dia mengelus puncak kepalaku seolah menyuruhku menuruti apa yang dia perintahkan.

Aku menerawang, sejenak memandangi langit-langit yang menjulang tinggi dengan arsitektur bergaya roma. Terlukis pula wajah malaikat-malaikat kecil bersayap yang memadukan senyumnya satu sama lain.

“Dia sangat menyebalkan dan membuatku muak. Itulah perasaan pertama yang aku rasakan di hari pertama aku bertemu dengannya”

Kyu oppa mendengus, merasa lucu dengan ucapanku “Lalu?”

“Tapi aku tetap datang menemuinya lagi. Ada semacam… semacam magnet yang menarikku untuk terus datang. Kau ingat Max Changmin yang pernah aku ceritakan?”

Dia mengangguk pelan.”Mantan pacarmu”

“Saat itu aku masih berpacaran dengannya tapi aku masih saja datang menemui Donghae tanpa dia tahu. Bahkan sampai sekarang dia tidak pernah tahu tentang aku dan Donghae. Sejujurnya, aku tidak terlalu takut dengan ancamannya yang akan melaporkanku ke petugas imigrasi kota Paris. Entahlah… Ada sesuatu yang membuatku selalu datang padanya walaupun hampir di setiap pertemuan kami selalu ada debat kusir. Saling beradu argumen, tanpa ada yang mau mengalah. Aku tidak serta merta begitu saja percaya dengan seseorang, oppa” aku memandangnya sejenak, meminta persetujuan dari statement-ku yang terakhir.

“Aku tahu itu.”

“Entah kenapa dengan mudah dia membuatku percaya walaupun aku tidak menunjukkannya dengan dramatis. Ini sesuatu yang hanya bisa ku rasakan… Tapi, aku tidak bisa menjelaskan alasannya.”

“Katakan, seberapa besar kau ingin menikah dengannya, Hyosun-ah”

Aku mendesah “Aku juga tidak tahu, oppa. Aku tidak mengerti. Aku ingin sekali mundur setelah Jessica datang. Terlebih lagi hari ini… Saat aku melihat mereka…”

Aku menutup mataku sejenak, kemudian membukanya sepelan mungkin “Saat melihat mereka berdua berciuman.”

Suasana hening sejenak.

“Aku takut terlalu jauh. Aku tidak mau mendekati Donghae lagi, oppa”

“Kenapa?”

“Aku juga tidak tahu…” aku menundukkan kepalaku lagi.

“Dengar…” Kyu oppa mengangkat wajahku hingga menatapnya.

“Dari awal kau memang sudah menyukainya, Hyosun-ah. Tapi kau tidak paham dengan apa yang kau rasakan di hatimu. Kau menafikkannya. Kau merasa semuanya masih abu-abu. Kau melakukan semua ini bukan semata-mata ingin bertemu dengan kakakmu atau karena ingin mengubah kewarganegaraanmu, tapi kau juga menginginkannya. Menginginkan Donghae…”

“Oppa, aku…”

“Sebanyak apapun kau menyangkal, hatimu tidak bisa berbohong, Hyosun-ah” kyu oppa menutup bibir kecilku dengan salah satu telunjuknya.

“Sudah aku bilang aku ingin kau bahagia, Hyosun-ah…”

Dia berfikir sejenak kemudian melanjutkan “Dalam setiap kehidupan selalu ada satu warna tunggal, sebagaimana terdapat dalam palet seorang pelukis yang memberikan arti bagi kehidupan dan seni, yaitu cinta… Apa kau tidak mau meraihnya?”

“Tapi ia tidak pernah melihatku…” kataku ragu. Wajahku lagi-lagi kutundukkan. Serasa air bening mengalir pelan di pipiku.

“Jangan menunduk…” Kyu oppa meraih daguku dan menyaksikan mataku yang kembali berkaca.

“Tegakkan kepalamu… Jangan berhenti melihatnya sampai dia menoleh padamu dan tidak pernah bisa memalingkan wajahnya lagi darimu. Mengerti?”

“Lihat altar itu…” Kyu oppa menunjuk ke meja panjang yang menjadi center of view tempat suci ini yang berada di hadapan kami.

“Aku yang akan mengantarkanmu langsung menuju tempat itu saat kau menikah jika kau berani memutuskan ini. Anggap saja ini adalah badai kencang yang harus kau lalui jika kau mengatakan ‘iya’. Ketika badai itu terlalu kuat, berpeganglah…” Kyu oppa meletakkan injil di atas tanganku yang terbuka dengan mantap.

“Jika badai itu semakin kuat, kau harus berpengan lagi… Lagi dan lagi sampai kau mencapai titik tujuanmu” dia meletakkan salib itu di atas Al Kitab yang berada di tanganku.

“Tapi, oppa… Dia tidak…”

“Tidak mencintaimu?” potongnya cepat.

Aku mengangguk lesu.

“Jika sampai detik kau akan menikah dia tidak menghubungimu… Batalkan semua ini” tukasnya tajam.

“Tapi jika dia menghubungimu dengan alasan apapun, ambil ini sebagai sebuah keyakinan bahwa dia akan mencintaimu sebagaimana kau mencintainya. Bersumpahlah di atas Al Kitab kau akan melakukan ini untukku…”

***

Author’s POV

            Pria itu berjalan ke sana kemari dari sisi kamarnya ke sisi yang lain. Pikirannya kacau. Sudah hampir pukul setengah sepuluh, tapi ia belum juga mengenakan jas putih yang tergantung itu sebagaimana mestinya. Dia tidak menghiraukan waktu yang kian menghunus. Seluruh kain yang ia kenakan hari ini didominasi dengan warna putih, mulai dari kemeja sampai celana bahannya tapi tidak untuk dasinya yang berwarna keemasan. Dia memilih pantofel berwarna senada juga agar semuanya tampak match. Segala sesuatu yang telah tertata dengan perhitungan yang cukup matang itu membuatnya tampak lebih tampan dari biasanya dengan riasan yang tidak begitu kentara.

~Ndret… Ndret… Ndret~

            Benda elektronik yang sedari tadi teronggok di atas meja kecil begetar hebat hingga membuatnya sempat terlonjak kecil. Dia langsung berjalan dan meraih ponselnya sekilat mungkin lalu memencet tombol gagang telephone berwarna hijau.

“Hallo…” katanya cepat.

“Hallo, tuan Lee. Apa kabarmu?” tanya suara dari seberang terdengar meledek dan lumayang nyaring.

“Terlalu basa-basi…” tukas Donghae kesal.

“Bagaimana perasaanmu sekarang?” tanya suara dari seberang itu dengan nada yang masih sama.

“Menurutmu apa?” Donghae menyalak galak.

“Donghae, kau galak sekali?” lawan bicara Donghae malah terkekeh geli merasa tak terancam.

“Aku hampir stress masih saja kau bercanda” Donghae menurunkan nada suaranya beberapa oktaf hingga terdengar seperti desahan.

“Kau masih belum menghubunginya?”

“Untuk apa?” tanya Donghae sedikit galak.

“Untuk meminta maaf, apa lagi?”

“Kau tidak waras ya?” Donghae menghempaskan badannya hingga terduduk di atas sofa di belakang tubuhnya.

“Kau lupa kalau kau yang salah?”

“Aku?” Donghae mendengus tak setuju dengan statement-nya itu.

“Siapa lagi? Dia tidak salah. Kau sendiri yang bertanya tentang keperawanannya. Itu tidak sopan sekalipun kalian sudah sama-sama dewasa” hardik suara di seberangnya.

“Tapi…”

“Tapi apa?” potong suara itu cepat.

“Jangan melakukan pembelaan. Reaksi wajar jika dia menyirammu dengan segelas air jika pertanyaanmu seperti itu. Kau baru bisa mengatakan dia tidak normal jika dia tidak melakukan perlawanan. Dua minggu tidak menghubunginya, itu tidak baik, Donghae. Hubungilah dia, mungkin dia menunggu telephone darimu. Mintalah maaf…”

“Lagi pula…”

“Lagi pula apa lagi?” potong suara itu lagi.

“Lagi pula dia hanya akan menjadi istri pura-puramu? Dengar ya, Donghae. Aku peringatkan kau untuk terakhir kali. Pernikahan bukan sebuah permainan sekalipun ini terpaksa kau lakukan. Kau telah membuat arus di dasar lautan yang semakin lama semakin besar. Mungkin sekarang kau masih bisa mengendalikannya, tapi jangan sampai suatu saat nanti kau ikut terseret oleh pusaran arus yang kau buat sendiri, Donghae” paparnya tegas dengan sedikit nada yang mengintimidasi.

“Tidak usah berlagak sastra. Apa kau menghubungiku hanya untuk memberiku kuliah sebelum menikah?”

“Tidak. Aku hanya peduli terhadap masa depan sahabatku. Karena hanya ini yang bisa aku tawarkan”

Untuk sesaat suasana berubah hening tanpa argumen lagi.

“Kenapa kau tidak pulang? Aku kan akan menikah…”

“Ada hal yang harus ku kejar. Aku tidak ingin menyesal kali ini…”

“Wanita?” Donghae menaikkan alisnya sebelah.

“Cantik dan baik” jawab pria dari seberang itu sarkastis.

“Kau belum berubah rupanya…” Donghae menahan tawanya sejenak.

“Bagaimana dengan dia?”

“Kau tahu standart-ku kan?”

“Yeah. Kita lihat apakah istrimu lebih cantik daripada wanitaku sekarang. Dua bulan lagi aku akan kembali ke Korea”

“Bosan di Eropa?”

“Tidak juga. Hanya saja pulau Jeju lebih indah dari benua Eropa” tanpa melihat, Donghae bisa merasakan bahwa sahabatnya itu tengah tersenyum di seberang sana.

“Kau mencintai wanita itu?” tanya Donghae penasaran.

“Tantu saja. Dia yang mengobati hatiku yang pernah luka. Kenapa?”

“Apa harus ada alasan jika aku bertanya?”

“Kau terlalu sensitif, sedikit-sedikit marah akhir-akhir ini. Ngomong-ngomong, jam berapa pemberkatannya?”

“Jam setengah sebelas…”

“Donghae…”

“Ada apa?”

“Kau yakin dengan keputusanmu itu?”

“Kenapa sih kau gemar mengulang-ulang pertanyaan yang sama?”

“Memangnya kau tidak takut jatuh cinta padanya? Akuilah, Donghae. Nona Kim mempunyai potensi untuk menaklukanmu”

“Kau bicara apa sih?” Sahut Donghae dengan nada sinis.

“Aku hanya memperingatkanmu, Donghae” desah suara di seberang.

“Aku tidak akan mencintainya! Aku punya Jessica”

“Mulut masih bisa menipu, tapi dalam hati siapa yang tahu? Pikirkan, kau tidak pernah menghubungiku lebih dari tiga kali dalam sehari karena seorang wanita. Bahkan karena seorang Jessica pun”

“Max!!!”

~Klik~

Sambungan diputus satu arah dari suara di seberang sambungan. Donghae mengumpat pelan. Donghae tampak kesal dengan pernyataan yang diucapkan oleh sahabatnya itu. Bukan kesal, tapi cenderung semakin stress.

~Ndert… Ndret… Ndret~

Ponselnya bergetar lagi dan dari ringtone yang dipasangnya, hal itu menunjukkan sebuah pesan singkat masuk.

From: Max Changmin

Aku berharap kau tidak menyesali keputusanmu.

Hubungilah dia sebelum pemberkatan.

Itu akan lebih baik.

 

End Author’s POV

-TBC-

Jessica dan Victoria adalah idolaku, jadi please jangan di bash. Karena FF ini  aku bikin bukan untuk memicu konflik, ok?

Yang kemaren-kemaren nanyain Jessica kapan keluarnya, aku jawab di chapter ini ya…. Dan yang nanyain Changmin nimbrung lagi atau enggak, silahkan simpulkan dari closing yang aku buat di chapter ini. Ada pertanyaan lagi? Temukan jawabannya di chapter2 berikutnya… ~kekekekekek gara-gara Kyuhyun maen di FF ini saya tiba-tiba menjadi makhluk 4l4y tingkat dewa yang mention-mention gak jelas ke dia. Ah, kemaren sudah authis karena Eunhyuk dan sekarang saya 4l4y karena Kyuhyun #abaikan. JALJAYO /sleepwithkyu.

Ada yang biasnya Changmin gaaaaaaaaaaaaaak????

Kalau ada dan udah follow aku di twitter, mention aku yaaaaaaaaaaaa….

Artikel tentang inseminasi

Advertisements

279 responses to “Let’s Make a Baby [Chapter-6]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s