A Whole New World

Author: Unie

Genre: Romance

Rating: PG-12

Leght: Ficlet

Cast:

  • Cho Kyuhyun
  • Choi Ji Hyun
  • And other

Disclaimer:

FF ini bener-bener imajinasiku.

Kalau misal ada yang mau komplain karena ada kesamaan.

Ke acc twitterku ya di: @onyuni

Pemburu berita semakin ramai di muka rumah kesakitan itu. Tapi tak kunjung satupun dari mereka yang dipersilahkan masuk dan menorehkan tintanya atas berita yang gempar saat ini. Sementara itu masih terdapat perdebatan di meja operasi untuk menentukan hidup dan mati. Segala keputusan cepat harus segera di ambil untuk melakukan segala tindakan yang bisa dibebankan. Harapan dan rasa takut kini beradu menjadi satu.

“Aku tidak bisa ikut andil dalam operasi ini, Dok. Aku tidak bisa” kata seorang co-ass perempuan yang biasa mendampingi dokter bedah itu. Dia menggeleng dengan cukup keras.

“Kenapa, Ji Hyun-ah? Kau kan biasa melakukannya?” dokter itu mengerutkan dahinya merasa heran.

“Mungkin ini sedikit konyol, Dok. Tapi lututku terasa lumpuh saat melihatnya sekarat seperti itu. Memang baru kali ini aku melihatnya tapi aku merasa lemas dan dadaku sesak. Aku takut akan merepotkanmu di kamar bedah. Aku mohon, kali ini jangan aku.” gadis bernama Ji Hyun itu menangis tanpa diminta.

“Rasanya seperti melakukan tindakan pada orang-orang yang dekat denganku, Dok. Aku takut fatal” lanjutnya.

            Sang dokter langsung menghela nafas panjang. Sindrome seperti ini memang biasa di alami oleh paramedis jika menghadapi orang-orang terdekatnya yang tergolek lemah di meja operasi. Mereka lebih memilih membedah seribu nyawa yang tak dikenalnya ketimbang harus melakukan tindakan pada sanak saudara dan handai taulan serta orang-orang yang disayang.

”Baiklah. Yoori-ah bantu aku kali ini” laki-laki paruh baya itu menangkap tatapan yeoja lain yang berada di hadapannya.

“Baik, Dok” jawabnya tegas.

“Dokter Han! Orangtua tuan Cho sudah menunggu di ruangan anda” kata seorang namja berseragam putih memacu tenaganya agar segera sampai di hadapan sang dokter.

“Kita harus bergegas” dokter Han memberikan isyarat pada co-ass Yoori untuk meninggalkan tempat itu.

‘Bertahanlah, Kyu’ kata Ji Hyun sambil memandang sesosok tubuh yang berada di  ruang UGD melalui kaca. Airmatanya mengalir lagi.

            Di sisi lain, Dokter Han memasuki ruangannya dan langsung di serbu dengan pertanyaan-pertanyaan oleh kedua orang tua Kyuhyun.

“Bagaimana keadaan anak saya, Dok? Dia tidak apa-apa kan?” sang ibu terisak berusaha sekuat mungkin menahan airmatanya yang kian membanjir.

“Begini…” sang dokter memotong ucapannya sejenak sambil mengolah apa yang ada di pikirannya. Mencari kata-kata yang pas agar bisa ia gunakan untuk membuat kedua orangtua Kyuhyun merasa sedikit tenang. Walaupun kenyataannya keadaan Kyuhyun jauh dari frasa ‘baik’. Dia terlalu kritis.

“Saya tidak bisa menjamin apakah operasi ini dapat menyelamatkannya atau tidak. Tapi jalan yang terbaik adalah menghancurkan beberapa tulang rusuknya untuk menyelamatkan paru-parunya.” dokter itu berdeham sedikit tapi sang ibu semakin meraung.

“Sebegitu parahnya, Dok?” kata sang ayah dengan nada sedikit bergetar dan terperangah.

“Terlalu kritis. Dia mengalami patah tulang pinggul dan juga patah tulang rusuk yang berakibat pneumothorax. Harapan untuknya hidup sekitar 20%. Tindakan ini adalah yang terbaik yang kami bisa lakukan tapi kami tidak bisa berjanji dia akan selamat” sang dokter berusaha menatap orang tua pasiennya dengan sesantai mungkin walaupun hatinya juga bergejolak menahan emosi.

“Tidak, dokter. Jangan katakan itu. Anda bercanda, kan? Anda pasti bisa menyelamatkannya” sang ibu kini semakin menjadi-jadi dengan menarik sedikit lengan dokter Han.

“Berapa pun akan saya bayar, dok. Aku mohon tolong selamatkan dia” sang ayah tak kalah kalutnya dengan istrinya. Dia turut dalam isakan.

“Tuan, Nyonya. Bukan uang yang mampu menyelamatkannya sekarang ini. Tapi keajaiban. Saya melakukan tindakan sekuat yang saya mampu. Saya hanya perantara dan Tuhan yang menentukannya” Dokter Han menatap mata mereka bergantian.

“Saya mohon, tarik ucapan anda dokter. Saya tidak sanggup mendengarnya. Kyu……. Anakku..” sang ibu yang semula menangis tersedu-sedu kini jatuh dan hampir tersungkur ke lantai. Tapi dokter Han dan tuan Cho langsung menangkap badannya.

“Perawat!!!” teriak sang dokter.

“Istriku, bangunlah. Istriku bangun” tuan Cho tampak panik.

 

 

***

 

            Dalam tragedi ini, Leeteuk dan Kyuhyun yang mengalami luka paling parah. Sementara Eunhyuk dan Shindong hanya mengalami luka ringan. Di tempat terpisah, tim dokter telah mengoperasi Leeteuk. Dia menerima 150 jahitan di punggung dan 20 jahitan di bagian wajah. Operasi ini melibatkan beberapa dokter spesialis, termasuk dokter bedah plastik terkenal. Walaupun tergolong parah, tapi Leeteuk tidak mengalami luka dalam seperti Kyuhyun. Kyuhyun harus menerima segala perlakuan yang dihibahkan padanya dengan serangkaian alat-alat rumah sakit itu. Beberapa kali tim dokter harus menyeka keringat yang timbul akibat rasa lelah bercampur ketegangan. Berjam-jam lamanya semua orang menunggu di luar ruang operasi dengan sejuta harapan.

“Bagaimana, Dok?” lagi-lagi sang dokter harus menerima serbuan dari orang-orang terdekat Kyuhyun setelah dia keluar dari ruangan itu.

“Operasinya berjalan lancar. Tapi kondisinya masih kritis dan dia belum sadar. Dia harus dipindahkan ke ruang ICU”

“Maksud dokter, dia koma?” ibu Kyuhyun langsung menutup mulutnya setelah melontarkan pertanyaannya sendiri. Dia masih tidak percaya. Dia rapuh.

“Kita hanya bisa mengharapkan keajaiban, nyonya. Bersabarlah. Semoga keadaan menjadi semakin baik. Jika dia sadar, saya harap semuanya akan jauh lebih baik” dokter mengelus pundaknya kemudian berlalu.

 

            Semua orang menangis di koridor. Menangisi Kyuhyun, Leeteuk, Shindong dan Eunhyuk yang terlibat dalam tragedy berdarah itu. Mungkin Leeteuk, Shindong dan Eunhyuk selamat dari kenyataan terburuk. Tapi ya, hanya keajaiban yang mampu menyelamatkan Cho Kyuhyun saat ini. Sang magnae Superjunior yang sangat cool itu tengah tebaring tanpa daya di atas ranjang.

 

            Seluruh member superjunior meninggalkan segala urusannya hanya untuk memberikan semangat pada rekan mereka dengan datang ke rumah sakit. Simpatisan yang terbentuk dari fan-base superjunior berorasi memberi dukungan pada Kyuhyun dan kawan-kawan di manapun mereka berada. Kuli tinta yang berhasil menulis dengan apik mengenai berita ini memberikan sumbangsihnya dalam mengedarkan berita hingga booming dalam hitungan menit. Sungguh menggemparkan dunia hiburan negara Korea bahkan hingga mancan negara.

 

Empat hari kemudian…

 

            Siang berganti malam dan langit yang awalnya benderang, kini telah menghitam. Cucuran harapan masih mengalir atas keselamatan Kyuhyun. 96 jam sudah dia di atas ranjang tanpa geming.

            Ji Hyun yang berdiri mematung di hadapannya kini berleleran airmata. Hari ini dia menggantikan dokter Han untuk mengkrontrol keadaan Kyuhyun. Wanita itu mengenakan jas putih dan stetoskop yang menggelayut di lehernya. Tatapannya hanya tertuju pada satu wajah yang pucat pasi. Cho Kyuhyun.

“Bangunlah. Banyak yang menunggumu, Kyu. Mereka semua ingin kau membuka matamu.” walaupun menangis dia menyempatkan tangannya meraih kursi dan duduk di atasnya.

“Lihatlah dirimu sekarang. Kau menyedihkan.”

“Aku memang tidak mengenalmu, Kyu. Tapi aku cukup mengagumimu saat kau bernyanyi. Suaramu sangat, apa ya? Aku tidak bisa menjelaskannya. Kata indah atau berkarakter pun tidak cukup mewakili diskripsinya. Bangunlah, Kyu. Semuanya menghawatirkanmu. Lihat dirimu, kau jelek sekali. Ayo, bangun” dia menggenggam tangan Kyuhyun dengan hati-hati.

“Kau bisa mendengarku, Kyu? Bangunlah. Mungkin kedengarannya ini sedikit tolol, tapi aku ingin meminta tanda tanganmu. Aku ingin kau menarikan penamu di atas diariku. Dari awal kau menjadi member suju, aku sudah mengagumimu. Hal yang ku impi-impikan adalah bertemu denganmu secara langsung. Tapi bukan dalam keadaan seperti ini. Kau tidak mau melihat matahari begitu indah tahun ini? Terlalu sayang kalau kau melewatkan musim gugur ini di tempat tidur. Pohon deciduous melepas daun-daunnya dengan sempurna. Indah sekali, Kyu. Bukalah matamu. Dunia ingin melihat dan mendengarmu, Kyu. Cepatlah keluar dari rumah sakit ini, pabo! Kau membuat ELF berduyun-duyun datang kemari. Ini bukan mall. Banyak yang sakit di sini. Mereka mengganggu ketenangan. Makanya kau harus cepat bangun agar mereka tidak kemari lagi. Jebal… bangunlah, Kyu.”

 

            Ji Hyun masih terisak dan kini malah menundukkan kepalanya di pembaringan dan membiarkan tangisnya keluar sejadi-jadinya. Dia hanya bisa menangis saat dokter Han memberitahukan keadaan yang sebenarnya. Operasi tidak akan menyelamatkannya kecuali campur tangan Tuhan. Perasaan yang lebih dari sekedar simpati itu telah mengoyak hatinya yang paling dalam. Tak pernah lekang keadaan Kyuhyun dari pantauannya. Bahkan dia sangat rajin jika Dokter Han meminta menggantikannya untuk mengontrol perkembangan Kyuhyun.

            Untuk beberapa saat dia terlena dalam keadaan itu. Tapi kepalanya langsung tersentak tatkala ada gerakan yang keluar dari genggamannya. Dia menengadah dan menatap wajah Kyuhyun yang tengah berkerut-kerut. Kemudian melempar tatapan matanya ke beberapa alat medis lain.

 

‘Kyuhyun, sadar’

 

            Ji Hyun langsung membesut airmatanya dengan cepat dan memeriksa nadi di pergelangan tangan Kyuhyun. Memperhatikan jam tangan untuk mensinkronisasi intensitas detak jantung dan gerakan jarumnya. Kemudian dia menekan tombol otomatis pemanggil suster yang letaknya menempel di dinding. Tak lama kemudian dua orang suster datang.

“Aku akan ke lantai sebelas. Tolong pantau perkembangannya selama aku tidak ada. Aku akan segera kembali. Dan tolong jangan bicara apapun pada keluarganya dulu” Ji Hyun langsung mengambil langkah seribu meninggalkan ruangan. Kedua suster itu saling berpandangan kemudian menatap ke arah elektrokardiograf dan sosok Kyuhyun.

“Bagaimana keadaannya, Dok?” tanya tuan Cho saat melihat Jihyun keluar dari ruang ICU.

“Saya harap semakin membaik. Permisi, saya harus menemui dokter Han” setelah menundukkan kepalanya sejenak.

            Jihyun langsung berlari menuju lift. Kemudian menunggu lift terbuka bersama orang-orang yang memiliki kepentingan yang berbeda. Saat lift terbuka, dia mencoba masuk tapi gagal karena orang-orang di depannya sudah memenuhi lift sampai overload. Lift yang satunya lagi terbuka dan dia berpaling. Tapi kali ini dia gagal lagi karena paramedis memakainya untuk membawa pasien dengan bangsal menuju ruang operasi. Tanpa pikir panjang dia langsung pergi ke tangga darurat. Semangat yang bergejolak tanpa sadar membuat kakinya beradu dengan lantai agar lebih cepat bergerak. Untuk menuju lantai sebelas, dia harus melewati enam belas tangga yang mana setiap tangganya memiliki lima belas anak. Dalam waktu sepuluh menit dia telah menyelesaikan urusannya dengan anak tangga yang totalnya mencapai 240.

            Beruntungnya saat dia mencapai puncak tangga lantai sebelas, dihadapannya dokter Han tengah berlalu menuju lift terdekat.

“Dokter Han!” pekiknya saat melihat sang dokter hampir memasuki lift. Dokter Han langsung keluar dari lift dan membiarkannya menutup kembali.

“Ada apa?” dokter Han langsung memberikan sebotol air mineral yang baru di ambilnya dari ruang direksi setelah melihat Ji Hyun yang tersengal-sengal.

“Kyuhyun sadar. Dia bergerak” jawabnya dengan nafas yang tercekak kemudian meneguk air itu sebanyak mungkin. Dia dahaga tapi tidak sampai dehidrasi.

“Benarkah? Kalau begitu kita harus bergegas” sang dokter menatap dengan mantap ke arah Ji Hyun. Ji Hyun pun mengangguk dengan cepat. Keduanya langsung masuk lift yang telah terbuka bersama dengan pengantri yang lain.

“Kau naik tangga?” tanya dokter Han dengan tatapan heran pada Ji Hyun yang menatap ke pintu lift dengan mulut yang berkomat-kamit.

“Iya, Dokter” Jihyun menoleh.

“Dari lantai tiga?” sang dokter semakin mengerutkan dahinya.

“Enam belas tangga tepatnya” Ji Hyun tahu kalau dirinya saat ini tampak tolol. Dia lupa kalau ponselnya ada di saku. Seharusnya dia tidak menemui sang dokter secara langsung, melainkan men-dial nomor dokter Han. Tapi dia melupakan semua itu.

“Kau tidak pernah memakai ponsel ya? Enam belas tangga itu tidak sedikit loh” Dokter Han menyeringai.

“Aku terlalu bersemangat sampai melupakannya, Dok. Konyol, kan?” Jihyun tersenyum malu dan hal itu malah membuat dokter Han terkekeh. Dokter Han suka dengan kegigihan Ji Hyun tapi untuk hal-hal tertentu dia memang bisa dibilang sembrono.

            Kesadaran Kyuhyun adalah kabar bahagia di tengah malam buta. Beberapa keluarga dan sahabat Kyuhyun langsung menumpahkan keharuan dan suka cita dengan pelukan dan airmata. Ribuan bintang yang bertaburan di angkasa seolah menjadi saksi bisu euforia. Malam ini, tidak ada hal yang lebih membahagiakan selain melihat Kyuhyun membuka mata.

            Walaupun dia sudah sadar, tapi Kyuhyun belum sepenuhnya keluar dari masa kritis. Dia masih tetap di ruang ICU. Selama empat hari ini, tidak ada yang boleh masuk ke ruang intensif itu kecuali dokter dan suster. Tapi, malam ini barulah kedua orangtuanya diperbolehkan masuk. Untuk sementara, hanya mereka berdua.

“Kyu, kau sudah sadar nak? Kau memang putra ibu yang kuat” nyonya Cho mengelus lengan Kyuhyun dengan hati-hati. Takut kalau-kalau bakal menyakitinya lebih dalam. Kyuhyun tidak menjawab. Dia berbicara dengan matanya. Nyonya Cho tak kuasa menahan airmatanya. Airmata bahagia.

“Setelah kau pulih nanti, kau boleh menyanyi sesuka hatimu, nak. Ayah tidak akan menghalangimu. Ayah tidak akan melarangmu lagi. Itu mimpimu. Kejarlah. Banggakan kami dengan suaramu. Kami mencintaimu, nak. Maafkan ayah, selama ini ayah telah mengekangmu. Ayah baru sadar kalau suaramu lebih berharga dari apapun. Kembalilah ke superjunior. Kami semua menunggumu” lagi-lagi Kyuhyun menjawabnya dengan tatapan. Tapi kali ini dengan beberapa bulir air asin yang keluar dari kelopak matanya.

            Ji Hyun dan dokter Han yang masih berada di situ saling berpandangan tanpa suara mengisyaratkan satu kata syukur. Ji Hyun membiarkan airmatanya mengalir. Dia turut larut dalam rasa haru dalam kebisuan.

            Ayah Kyuhyun awalnya menentang keras keputusan Kyuhyun menjadi penyanyi. Tapi empat hari lalu saat keputusan operasi harus diambil dengan cepat, ayah Kyuhyun adalah orang pertama yang berdiri di depan barikade untuk melindungi impian besarnya. Dia meminta dokter untuk melakukan segalanya yang terbaik bagi Kyuhyun tapi dengan syarat jangan mengambil kode vokal Kyuhyun. Saat mendekati ajal seperti ini, barulah tuan Cho merasa harus membiarkan anaknya melangkah di jalan hidupnya. Menyanyi adalah mimpi dan hidup Kyuhyun.

            Melalui mata, Kyuhyun menatap Ji Hyun nanar. Dia ingin mengatakan sesuatu entah apa itu. Ji Hyun yang menangkap tatapan itu langsung memeleh lagi airmatanya padahal pipinya belum sepenuhnya kering.

‘Kau hebat’ katanya dalam hati sambil mengacungkan jempol kanannya pada Kyu Hyun.

77 hari berlalu…

            Derap langkah kaki Ji Hyun memenuhi koridor tepat jam dua belas malam. Dia buru-buru memasuki kamar rawat Kyuhyun. Suster jaga telah memberitahunya kalau dia harus segera ke kamar itu. Dia terlihat panik. Takut kalau sesuatu yang buruk terjadi ‘lagi’ padanya walaupun dokter Han telah mengijinkannya pulang besok.

“Ada apa?” tanyanya saat mendapati Kyuhyun duduk di ranjangnya. Di kamar itu hanya ada Khuhyun. Tidak ada suster atau yang lainnya.

“Temani aku. Aku ingin melihat bintang” katanya santai.

“Kau ini. Aku sudah tergesa-gesa datang kemari. Aku pikir kau kenapa-kenapa.” jawab Ji Hyun dengan sewot. Dia melangkah maju. Tapi Kyuhyun malah terkekeh geli. Wajahnya tampak menyebalkan di hadapan Ji Hyun.

“Kenapa malah menertawakanku?” alisnya naik sebelah.

“Aku tidak apa-apa. Kau jangan terlalu khawatir. Aku ingin ke balkon. Kau mau menemaniku, kan?” kini tatapan dan ucapan Kyu mulai melembut.

“Hanya itu?”

            Kyuhyun mengangguk. Ji Hyun menghela nafas panjang karena gemas dengan tingkah Kyuhyun. Kemudian langsung membantu Kyuhyun turun dari ranjang. Dia tidak perlu di papah, cukup dipegang lengannya karena dia sudah cukup kuat untuk berdiri sendiri. Mereka berjalan menuju balkon yang letaknya hanya beberapa meter dari kamar pasien itu.

“Malam ini bintang begitu indah.” katanya kemudian memegang besi pembatas balkon bergaya Eropa itu.

“Kau menyukainya?”

“Iya. Aku sangat menyukainya. Bahkan saat sekarat pun aku berharap masih bisa melihat bintang yang bertaburan. Waktu itu aku pikir aku akan mati. Aku tidak bisa melihat keindahan Tuhan ini”

“Besok aku akan pulang. Apa ada yang perlu ku tandatangani, Ji Hyu-ah” suara Kyuhyun melemah kemudian menundukkan kepalanya lalu menatap Ji Hyun yang berada di sampingnya.

            Masih di tempat yang sama, Ji Hyun mengalirkan airmatanya yang sudah tak terbendung lagi. Selama ini dia berfikir kalau Kyuhyun tidak pernah mendengar apa yang dia utarakan di hari terakhir sebelum dia siuman. Sampai detik ini, barulah Kyuhyun membahasnya. Tanda tangan di buku pribadinya. Dan bukan hanya itu, ini kali pertama Kyuhyun memanggil co-ass berusia dua puluh tiga tahun itu dengan nama aslinya. Semenjak dirawat, dia tidak pernah memanggilnya dengan sebutan apapun. Bahkan kata dokter sekalipun.

“Mana diarimu?”

            Tak ada jawaban. Yang ada hanyalah isakan yang keluar dari tubuh Ji Hyun. Malam ini adalah terakhir kalinya dia bertemu dengan Kyuhyun. Tanda tangan atau apapun tak lagi penting. Senyum yang ditorehkan Kyuhyun di wajahnya sudah menjadikan oase di tengah padang pasir yang tandus. Melihat airmata itu meleleh, Kyuhyun langsung mendekat dan mengusapnya pelan.

“Terimakasih kau telah menjagaku. Kau telah merawatku. Menemaniku saat tidak ada yang menemaniku. Terimakasih, Ji Hyun-ah.”

“Entah kenapa aku tidak ingin kau pergi dari sini” ujarnya dengan suara yang sesenggukan.

“Apa kau tidak mau aku sembuh?” Tanya Kyuhyun sembari menebarkan senyum manisnya.

“Bukan begitu. Pasien yang merepotkan sepertimu tidak pernah aku temui di sini. Kau harus banyak istirahat dan jangan terlalu lelah. Jangan sampai telat makan, oke? Apa kau masih mau bertemu denganku setelah ini?”

“Tentu saja. Aku akan mengatur waktuku sebaik mungkin untuk bisa bertemu denganmu. Aku janji” Kyuhyun mencium punggung tangan Ji Hyun dengan mesra. Kemudian mereka berpelukan. Tanpa kata cinta, perasaan itu diungkapkan secara eksplisit.

            Harapan adalah sebuah mimpi yang tidak akan pernah tidur. Sekalipun vonis yang menyeramkan itu telah dilontarkan, tapi suatu saat harapan setipis kain perca akan dijawab oleh Tuhan dengan sebuah keajaiban. Kyuhyun merasa mengalami hidup kembali. Melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda dan memanfaatkan kesempatan kedua ini dengan sebaik-sebaiknya. Mengudarakan suaranya lagi. Menggapai mimpi.

            Kyuhyun who found himself on the brink of death following a car accident in this year(2007). All suju members praying for his fast recovery on radio programs :No matter if you act childish of prank us, we will not be angry with at all. We hope that you can return to our side again, performing together, together fighting!” Now that Kyuhyun had recovered and back to superjunior, bringing us ‘A whole new world’

 

 

-The end-

Hari ini saya posting 3 FF hahaha…

Saya mau hiatus dulu yaaaaaaaaaa…

FF Let’s Make a Baby akan hadir 2 minggu lagi berikut side story-nya…

Side story-nya siapa?

Liat aja nanti ya……..

Love u all:D

Advertisements

45 responses to “A Whole New World

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s