Quite Memories

Quite Memories

Author : Fai 신이 Kevin
Cast :

  • Im Jinah/Nana | Nana After School
  • Im Yoon-Ah/Yoona | Yoona SNSD
  • Kim Myungsoo/L | L Infinite

Genre : family, friendship, fluff(?) AU
Rating : G
Length : oneshot (3045 words)
Disclaimer : the plot mine mine mine! inspirasinya datang gara-gara liat foto Nana yang ada di poster itu hahaha
N.B. : gatau kenapa saya pengen aja bikin FF ini hahaha-_- Oh ya, anggep aja L itu lebih tua dari Nana, ya..

Nana POV
Hidup bukan tentang berapa kali engkau menghirup nafas, tapi hidup adalah tentang berapa banyak peristiwa yang berhasil menghentikan nafasmu.
Aku tidak tahu sudah berapa kali nafasku sempat berhenti. Tidak ada yang istimewa dalam kehidupanku, dan aku terlalu terpesona oleh kehidupan orang lain. Karena keterpesonaan itu aku sering menghentikan nafasku.
Tidak ada yang menginginkan hidupku. Hidupku terlalu menyedihkan untuk dijalankan. Aku bahkan tidak sanggup untuk menjalaninya lagi. Aku terlalu terpesona oleh kehidupan kakak perempuanku, Im Yoon-Ah, atau biasa dipanggil Yoona.
Kakakku bisa melakukan segalanya, sedangkan aku tidak mempunyai bakat sama sekali. Aku hanya bisa memainkan biola, sedangkan kakakku itu bisa melakukan segalanya. Dia selalu menyemangatiku untuk hidup, tapi aku tidak bisa mengikuti ajarannya.
“Hidup itu indah, Jinah. Asalkan kau menjalankan kehidupanmu sesuai takdir, hidupmu akan sangat menyenangkan,” ujarnya. Aku tidak tahu seperti apa takdirku, maka dari itu hidupku selalu menyedihkan.
Kakakku, sudah lama tidak ada di rumah. Kamarnya terbengkalai dan tidak terpakai lagi. Orang tuaku selalu menyalahkanku atas kepergian kakakku itu.
Walaupun kakakku sudah tidak berada di rumah lagi, aku masih sering dibanding-bandingkan dengan kakakku yang sempurna itu.
Yoona, dia adalah kakakku. Kakakku yang baik, ramah, cantik, pintar, dan selalu dibangga-banggakan oleh orang tuaku. Tapi aku? Aku tidak pernah dianggap sebagai salah satu dari keluarga Im. Orang tuaku tidak pernah menyebut-nyebut namaku disaat acara keluarga. Selalu nama ‘Im Yoon-Ah’ yang keluar dari bibir mereka.
Aku mengalihkan penglihatanku ke sudut ruangan, dan mataku hanya melihat sebuah biola yang terletak manis di tempatnya. Itu biola milik kakakku, Yoona. Tapi dia tidak bisa memainkan biola, maka dari itu dia memberikan biola itu padaku karena dia tahu bahwa aku sangat menyukai bermain biola tapi aku memang tidak mempunyai biola.
“Kakak, apakah hidupmu selama ini bahagia? Sebenarnya kau ada di mana?” gumamku pada diriku sendiri. Bodoh, kak Yoona tentu saja tidak akan bisa mendengarnya. Dan hidupnya pasti sangat bahagia.
Hidup kak Yoona selalu dipenuhi senyuman, sedangkan hidupku selama ini hanya dipenuhi oleh butiran kristal yang cair atau sering disebut air mata.
Terkadang aku sangat ingin pergi dari rumah dan memulai kehidupanku yang sebenarnya. Selama 18 tahun ini hidupku selalu tersiksa. Tidak seperti kak Yoona yang hidupnya selalu dipenuhi oleh senyum dan tawa.
Aku beranjak dari kasurku dan mengambil biolaku dari tempatnya dan berjalan keluar dari kamar. Aku ingin mencari kak Yoona dan memainkan lagu kesukaannya dengan biola milikku. Semoga saja kali ini aku bisa mencari kak Yoona.
Aku memang iri dengan kak Yoona, tapi aku sangat menyayanginya. Walaupun orang tuaku selalu menyalahkanku tentangnya, aku tetap menyayanginya.
Untungnya di rumah tidak ada siapa-siapa dan orang tuaku sedang pergi untuk 4 hari, jadi aku bisa keluar rumah dengan gampang dan tidak perlu berdebat dengan orang tuaku terlebih dahulu. Seperti biasa, aku selalu memegang kunci duplikat dan kunci yang aslinya dipegang oleh orang tuaku.

+++

Aku berhenti di depan pagar taman yang sering dikunjungi kak Yoona, dan taman ini penuh dengan orang-orang yang kelihatannya bahagia. Tapi.., aku tidak bisa menemukan sosok kakakku. Apakah dia tidak pernah mengunjungi taman ini lagi?
Aku mulai memasuki taman dan duduk di kursi panjang yang sudah berada di taman ini. Kuangkat biolaku dan menaruhnya di pundakku, dan aku mulai memainkannya—memainkan lagu yang sangat disukai kak Yoona.
Seiring berjalannya waktu, langit mulai terlihat gelap dan sepertinya sebentar lagi akan ada hujan besar mengguyur taman ini. Seolah sependapat denganku, orang-orang yang tadinya bermain di taman sekarang terburu-buru kembali ke rumah mereka masing-masing. Tapi aku masih di sini, tidak peduli dengan cuaca hari ini.
Dan sesuai dugaanku, butiran-butiran air hujan mulai turun dan semakin lama semakin deras. Aku berdiri dan menatap langit yang masih menurunkan air hujan.
“Hujan.. Apa kau tahu di mana kakakku? Apa kau yang mengambil kakakku? Kalau iya, kembalikan kakakku sekarang juga! Walaupun aku sangat iri dengan kehidupannya, aku sangat menyayanginya..,” teriakku seperti orang bodoh.
Ya, aku memang bodoh. Tapi aku tidak peduli. Aku ingin mendengar suara kakakku lagi.. Aku juga ingin melihat keindahan matanya lagi.. Menangis? Ya, aku sekarang menangis. Aku terlalu mudah untuk menangis.
“Bodoh, walaupun kau berdiri di tengah-tengah hujan seperti itu, aku tahu kau sedang menangis.”
Aku berbalik mencari sumber suara tersebut. Dan aku menemukan seorang laki-laki berdiri di depan pagar taman sambil membawa payung berwarna putih. Dia berjalan memasuki taman, dan mendekatiku.
“Ah, ternyata kau bisa bermain biola, ya?” tanyanya. Aku hanya mengangguk. Aku tidak tahu siapa dia, baru kali ini aku melihatnya.
“Oh, aku Kim Myungsoo, tapi teman-temanku memanggilku L. Kalau kau?” ujarnya seolah tahu apa yang sedang aku pikirkan saat ini.
“Im Jinah, tapi kau bisa memanggilku Nana,” jawabku singkat. Dia hanya mengangguk. Aku menghapus air mataku dengan tanganku lalu memutar tubuhku sehingga saat ini aku berdiri membelakangi L.
“Hei, kau menangis? Walaupun kau menangis di bawah hujan, aku bisa membandingkan yang mana air matamu dan yang mana air hujan, lho..,” ujar L.
“Kalau iya, memangnya kenapa?” gumamku tanpa berbalik sama sekali. L berjalan mendekatiku dan dia sengaja menutup kepalaku dengan payung yang dipegangnya sehingga hujan tidak bisa membasahi tubuhku lagi.
“Mau menangis bersamaku? 1 jam cukup 5 won,” guraunya seraya tertawa kecil. Dia hampir saja membuatku tertawa.
“Tidak, terima kasih. Aku ingin mencari kakakku,” jawabku lagi.
“Kakak? Siapa kakakmu?” tanya L. Aku berbalik, dan aku baru sadar kalau jarakku dengan L sangat dekat sehingga membuatku tidak bisa mengontrol diri.
“Im Yoon-Ah, atau biasa dipanggil Yoona. Kau kenal? Atau pernah mendengar namanya?” aku balik bertanya.
“Im Yoon-Ah? Sepertinya pernah dengar.. Tapi aku lupa apakah aku pernah bertemu dengannya atau tidak. Memangnya dia pergi ke mana?” tanya L. Aku hanya menggeleng dan mengangkat bahuku.
“Tunggu.. Aku tidak percaya kau masih mau dekat-dekat denganku..,” gumamku. L menaikkan alisnya dan menatapku bingung.
“Maaf, tapi aku tidak mengerti maksudmu,” ujarnya sambil membenarkan posisinya memegang payung. Ah, payung ini memang terlalu kecil untukku dan L.
“Tidak ada orang yang mau bicara denganku. Mereka tidak pernah menganggapku ada dan tidak ada yang mau berteman denganku. Tapi kau, kau tidak seperti mereka,” jawabku. L hanya tertawa.
“Selama kau masih manusia, aku masih mau bicara denganmu. Bahkan aku mau berteman denganmu,” ujarnya. Sepertinya dia tulus mengucapkannya. Tapi, aku tidak boleh mudah terbuai oleh omongan seseorang. Apalagi aku baru kenal dengannya.
“Maaf, tapi aku ingin bertemu kakakku,” ujarku mengalihkan pembicaraan dan pergi meninggalkan L.
“Tunggu!” teriak L seraya menarik lenganku dan memaksa tubuhku untuk berbalik menghadapnya. Apalagi maunya?
“Kau tidak mau berteman denganku?” tanyanya ragu.
“Oke, mulai saat ini kita berteman. Puas?” ujarku.
“Yap. Aku sama sepertimu, tidak mempunyai teman. Jadi, kita sama, kan?” ucap L seraya tersenyum dan senyumannya itu membuat matanya berubah menjadi segaris.
“Baiklah, sampai jumpa,” ujarku sambil meninggalkannya dan kali ini dia tidak mengejarku lagi—melainkan hanya terdiam di posisinya.
Aku tidak butuh teman untuk saat ini, aku hanya ingin bertemu dengan kakakku..

+++

Sudah terlalu lama aku berhujan-hujanan, dan akhirnya aku memutuskan untuk pulang tanpa menemukan kakakku, Im Yoon-Ah. Aku memutuskan untuk mencarinya lagi esok hari, dan hari ini akan kupakai untuk beristirahat.
Laki-laki bernama L itu sebenarnya siapa? Kenapa dia bilang sepertinya pernah mendengar nama kakak? Apakah dia pernah mengenal kakak sebelumnya?
Atau dia belum lama ini pernah bertemu kakak?

+++

Aku terbangun karena terkejut akan suara pintu yang sepertinya dibanting. Aku melirik jam yang tergantung di dinding kamarku, dan sekarang baru jam 6 pagi.
Sudah 4 hari berlalu. Orang tuaku pasti sudah pulang, dan sebentar lagi mereka akan melakukan aksinya.
“JINAH! Apa yang kau lakukan selama kami tidak ada?” teriak ayahku. Yang dimaksud kami adalah dirinya dan ibu.
Setiap hari, hanya kejadian seperti inilah yang terjadi di keluargaku. Mereka akan berteriak dari depan rumah sambil menyebut-nyebut namaku seolah-olah aku ini teroris.
“Kelakuanmu berbanding terbalik dengan Yoona, dia sangat rajin dan selalu membersihkan halaman depan. Sedangkan kau hanya mementingkan diri sendiri!” teriak ibu.
Aku merubah posisi tidur menjadi duduk, lalu menggosok kedua mataku dan berjalan mendekati pintu. Aku membuka kunci kamar secara pelan-pelan dan berjalan menuju ruang tamu.
Seperti yang sudah kuduga, orang tuaku saat ini sedang berdiri sambil berkacak pinggang dan membulatkan kedua matanya seolah sedang mencari teroris di rumah ini.
“Maaf, tapi aku sudah melakukan apa yang kalian perintahkan..,” gumamku. Hidupku selama ini hanya seperti ini, tidak ada yang spesial. Gertakan dari orang tuaku selalu berhasil menghentikan nafasku sejenak.
“Jangan bicara seolah kami adalah temanmu! Saya ini orang tuamu, kenapa sikapmu tidak menunjukkan adanya rasa hormat sama sekali?” ujar ayahku. “Apa perlu aku mematahkan biolamu itu agar kau mau menuruti kata-kata kami?”
“Tapi, itukan biola dari kak Yoona..,” gumamku—lebih tepatnya sedikit berbisik.
“Kau berani menyebut namanya di depanku? Jangan sekali-sekali kau menyebut nama itu di depanku!” teriak ibu frustasi.
“Sudah 18 tahun aku hidup, tapi sedikitpun aku belum merasakan yang namanya manis di dalam hidupku. Tidak bisakah kalian menyayangiku sedikit saja? Apakah aku harus kritis dulu baru kalian bisa menyayangiku?” tanyaku.
“Aku tidak peduli,” ketus ibu dan masuk ke dalam kamarnya. Ayah menatapku dengan kesal, dan akhirnya dia menyusul ibu. Aku tidak tahu harus berbuat apa, akhirnya aku masuk ke dalam kamarku dan mengambil biolaku lalu pergi dari rumahku.

+++

Di saat aku kesal seperti ini, tujuanku hanya satu, yaitu taman favoritku dan taman favorit kak Yoona. Lagi-lagi aku duduk di kursi panjang yang ada di taman ini dan menaruh biolaku di bahuku lalu mulai memainkan biolaku secara lembut.
Tumben sekali saat ini taman tidak ramai, dan di taman ini hanya ada aku. Tapi, kenapa kak Yoona masih tidak kunjung datang? Ke mana dia sebenarnya?
“Sudah kuduga kau pasti akan ke sini lagi.”
Aku berbalik dan menemukan L tengah berdiri di depan pagar taman. Ah, orang itu lagi. 4 hari yang lalu adalah pertemuan pertama dan terakhir kami, dan hari ini adalah pertemuan kedua kami.
“Boleh aku mendekat?” tanyanya polos. Aku hanya mengangguk dan melanjuti permainan biolaku. L duduk di sebelahku sembari menikmati permainan biolaku.
“Indah, apa namanya?” tanya L.
“Itu lagu Fur Elise, lagu kesukaan kak Yoona. Aku harap dia bisa mendengarnya walaupun jarak kami berjauhan,” jawabku tenang.
“Fur Elise? Biasanya aku hanya mendengar lagu itu di kotak musik anak-anak, dan lagu itu biasanya lebih sering dimainkan dengan piano,” ujar L.
“Ya, tapi aku lebih suka memainkannya memakai biola,” ujarku singkat.
Setelah itu, kesunyian menyelimuti kami. Aku dan L sama-sama terdiam, sedangkan aku masih memainkan biolaku.
“Aku heran kenapa kau masih mau menemuiku,” ujarku sedikit tertawa.
“Aku juga heran kenapa kau masih berada di sini dan tidak meneruskan hidupmu layaknya seorang perempuan biasa,” jawabnya. Hh, dia memang benar, sih.
“Bagaimana kabar.. er.. kakakmu?” tanyanya ragu. Sepertinya dia agak takut menanyakannya. Mungkin dia takut aku tiba-tiba down.
“Aku belum bertemu dengannya,” jawabku datar.
“Oh, maaf,” ujarnya. Aku menggeleng. Untuk apa dia meminta maaf atas kakakku? Dia bahkan belum tahu keadaan yang sebenarnya.
“Aku tidak tahan lagi.. Aku ingin bertemu dengan kakakku sekarang. Berjuta kata yang ingin kuucapkan padanya,” ujarku sambil menundukkan wajahku.
“Kau tidak tahu sama sekali ke mana kakakmu itu pergi?” tanya L. Aku terdiam, lalu berdiri dan menarik tangan L.
“Kau mau ikut atau tetap di sini saja?” tanyaku sebelum menarik tangannya. Tanpa basa-basi lagi dia langsung berdiri dan mengikuti langkahku.

+++

“Pemakaman? Kenapa kau mengajakku ke pemakaman?” tanya L.
“Untuk mencari kak Yoona,” jawabku. Seketika air mata mulai membasahi mataku, dan aku mengangguk. Kak Yoona yang selama ini kucari, memang sudah tiada.. Dan orang tuaku selalu menyalahkanku atas kepergian kakakku.
Aku berjalan menelusuri pemakaman seraya mencari makam kak Yoona. Dan aku terperanjat begitu melihat nama ‘Im Yoon-Ah’ di sebuah batu nisan.
“Kak Yoona.. Memang sudah tiada.. Dan orang tuaku selalu menyalahkanku atas kepergian kak Yoona,” gumamku seraya menahan tangisku.
“Ma.. maaf.. Aku tidak tahu.. Tapi, bagaimana bisa?” tanya L.

-Flashback-
“Tapi, aku tidak bisa menyetir mobil, kak..,” tolakku. Kak Yoona masih memaksaku untuk mengendarai mobil dan dia akan menyaksikanku menyetir mobil.
“Tenang saja, kau pasti bisa! Kau kan belum mencobanya,” ujar kak Yoona. Dia memaksaku untuk duduk di kursi pengemudi, dan dia akan duduk di sebelahku. Akhirnya atas paksaannya, aku masuk dan memasang sabuk pengaman.
“Tapi, sekarang sudah malam..,” ujarku sambil menggenggam erat stir mobil. Kak Yoona hanya tersenyum dan meyakinkanku untuk menyetir.
“Ayo, nyalakan mesinnya,” perintahnya. Aku masih takut, dan dengan ragu aku memutar kunci sehingga mesinnya mulai menyala. Kak Yoona menyuruhku untuk memegang stir dengan erat, dan dia menyuruhku untuk menginjak gas.
Aku turuti semua permintaannya, dan semuanya masih lancar-lancar saja. Tapi saat di pertigaan, aku lupa membunyikan klakson mobil dan di depanku terlihat dengan jelas sebuah mobil yang membunyikan klakson-nya berkali-kali.
Setelah itu, aku hanya ingat cahaya lampu mobil menyinari mataku sehingga mataku tidak bisa melihat apa-apa. Aku membanting stir mobil, dan mobil yang aku kemudikan ini membentur sesuatu. Dan setelah itu, aku tidak ingat apa-apa lagi.
-Flashback end-

“Jadi, itu masalahnya?” tanya L. Aku mengangguk.
“Kakak, sudah setahun kita tidak bertemu dan sudah setengah tahun aku tidak mengunjungi makammu. Bagaimana kabarmu? Aku tahu hidupmu pasti sangat bahagia, tidak seperti aku yang selalu disiksa oleh ayah dan ibu. Tapi, apa kau tahu? Aku masih menyimpan biola darimu!” ujarku seperti orang gila.
Aku merasakan tangan L menggenggam bahuku dan tangannya mulai mengelus lenganku. Seolah tidak peduli, aku masih saja berbicara di depan makam kak Yoona.
“Apa kau tahu, sudah berapa kali nafasku berhenti? Setiap ayah dan ibu membentakku, nafasku berhenti seketika,” ujarku masih menahan tangis.
“Kalau kau mau menangis, menangis saja..,” bisik L.
“Aku tidak mungkin menangis di depan kak Yoona!” seruku. Kak Yoona.. Aku lebih baik ikut denganmu..

+++

Aku.. ketiduran? Kenapa aku tidak ingat apa-apa?
Aku membuka mataku secara perlahan, dan penglihatanku masih kabur. Aku menggosok kedua mataku, dan penglihatanku kali ini lebih baik dari sebelumnya—walaupun masih buram.
Yang pertama kali kuingat adalah kak Yoona, dan aku tidak tahu saat ini aku ada di mana. Aku menggosok kedua mataku lagi, dan kali ini aku bisa melihat wajah L dengan jelas.
“Sudah bangun?” tanyanya seraya tersenyum. Aku mengubah posisi tidur menjadi duduk dan L memberikan sebuah gelas padaku seolah menyuruhku untuk meminumnya.
“Minumlah, itu hanya coklat panas. Mungkin dengan meminumnya keadaanmu bisa membaik sedikit,” ujar L. Aku mengambil gelas itu darinya dan mulai meminumnya.
“Aku di rumahmu?” tanyaku. L hanya mengangguk. “Aku kenapa? Dan sekarang jam berapa?”
“Aku bahkan tidak tahu kau kenapa. Tiba-tiba saja kau tidak sadarkan diri. Sekarang sudah malam, Jinah. Sudah jam 8 malam,” jawab L. Aku terkejut mendengarnya.
“Jam 8?! Aku tidak berani pulang..,” ujarku takut—lebih tepatnya saat ini aku sedang membayangkan reaksi orang tuaku kalau aku pulang sekarang. Pasti mereka akan memarahiku habis-habisan.
“Aku.. aku ingin ikut dengan kak Yoona..,” ujarku tiba-tiba. L tersenyum simpul, dan menarik tanganku seolah ingin aku mengikutinya.
“Kalau begitu, ayo ikut aku,” ujarnya. Aku tidak tahu dia ingin membawaku ke mana, tapi aku hanya bisa menurutinya.
Aku menaruh gelas berisi coklat ini ke atas meja, dan berdiri di samping L.
“Biolaku…?” tanyaku. L masuk ke suatu ruangan, lalu dia kembali sambil membawa biola milikku dan dia memberikan biola itu padaku.
L menarik tanganku lagi, dan aku hanya bisa mengikuti langkahnya. Dia membuka pintu rumahnya, dan mengajakku keluar.
Aku terkejut melihat keadaan di luar, ternyata hari ini adalah awal musim salju. Aku hanya memakai t-shirt panjang dan rok selutut, sedangkan L hanya memakai sebuah kaus dilapisi mantel bulu dan jeans panjang. Setelah aku berada di luar, L menutup pintu rumahnya tapi tidak menguncinya.
“Kenapa kau tidak menguncinya?” tanyaku heran.
“Aku tidak membutuhkannya lagi,” jawab L seraya terseyum. Eh? Apa maksudnya? Belum sempat aku bertanya, lagi-lagi L menarik tanganku dan dia mengajakku ke taman favoritku dan kak Yoona.
“Untuk apa kemari?” tanyaku. L hanya mengangkat bahunya lalu mengajakku masuk ke taman dan duduk di kursi yang panjang—yang biasa aku duduki kalau ke taman ini.
“Aku mau kau mainkan lagi biolamu.. Mainkan lagi lagu Fur Elise itu..,” pinta L. Aku hanya menuruti permintaan L, dan mulai memainkan lagu Fur Elise seperti biasa. Apakah dengan begini, aku bisa bertemu dengan kak Yoona?
“Myungsoo, apakah aku bisa bertemu dengan kakakku?” gumamku—lebih tepatnya berbisik.
“Hei, kenapa kau memanggilku Myungsoo? Haha. Hm, menurutku sebentar lagi kau bisa bertemu dengannya,” jawab L tenang. “Sekarang, kau mainkan saja lagu Fur Elise itu.”
Aku menurutinya, tapi aku semakin kedinginan. Tubuhku juga sepertinya mulai membeku. L mendekapku, dan mulai memelukku.
Baru kali ini aku merasakan kebahagiaan. Dalam 18 tahun ini, baru kali ini aku merasa bahagia dalam hidupku. Aku menggenggam erat biolaku sedangkan aku semakin kedinginan.
“Kau mau ikut bersamaku?” tanya L.
“Ke mana?” aku balik bertanya.
“Menemui kakakmu..,” gumam L. Aku pikir dia hanya bercanda, dan aku hanya mengiyakan ucapannya barusan. Aku melihat senyuman L yang terakhir dan setelah itu aku tidak sadarkan diri, aku tidak merasakan adanya beban dalam hidupku, aku merasa bebas..
Sebelum aku menutup mataku, aku melihat kak Yoona tersenyum di depanku dan tanpa pikir panjang lagi aku memutuskan untuk ikut dengannya, dan nafasku berhenti untuk yang kesekian kalinya. Dan mungkin kali ini, nafasku berhenti untuk yang terakhir kalinya.

+++

Author POV
Esok paginya, taman yang dikunjungi oleh Nana dan L semalam kini tertutup oleh salju. Taman itu dipenuhi banyak orang yang kaget melihat tubuh seorang perempuan yang diselimuti oleh salju dan terkulai lemas seraya memeluk biolanya di atas kursi panjang yang ada di taman itu.
“Dia Im Jinah, bukan?” ujar seorang warga.
“Ya, dan sekarang dia sudah tidak bernyawa,” sahut warga lainnya. Im Jinah, atau yang biasa dikenal dengan sebutan Nana, kini sudah tiada, dia menyusul kakaknya ke alam yang abadi.
Sedangkan L? L bukanlah siapa-siapa, dia hanya sebuah sosok, sosok untuk menemani Nana selama 4 hari itu. Dan L bukanlah manusia, dia hanya sosok yang membawa Nana menemui kakaknya di alam yang abadi itu. Maka dari itu orang-orang tidak menemukan jasad seorang laki-laki, dan mereka hanya menemukan jasad perempuan yang dikenal sebagai Im Jinah atau Nana.
Nana sekarang sudah bersama kakaknya, dia tidak menyesali pilihannya untuk mengikuti kakaknya itu. Setidaknya dia meninggal dengan senyum di wajahnya dan dalam keadaan damai, yaitu dalam pelukan L.

.::END::.

HUWAAAAAAA DEMI ALLAH SAYA GATAU INI APAAN.. SAYA GATAU SEBENERNYA SAYA NGETIK APAAN.. HAHAHA!!
Stress banget deh sumpah~ Tadinya mau bikin full family, tapi gara-gara sambil nonton drama Korea yang ntah apa judulnya ceritanya malah nyasar ke sini..
Maaf banget kalo ceritanya ngelantur banget kayak gini =____=
Jadi, L itu siapa? L itu hanya sosok, yah istilahnya semacam malaikat utusan(?) untuk nemenin si Nana #ngarang #ngaco #plak
Maklumi saja ya kalo ceritanya ngaco banget kaya gini.. Ngetiknya aja pas tengah malem kok hahaha *bei dewei
Ya sudahlah.. Biarkan kegajean ini melanda FF saya dan para readers(?) #plakplok
Yang udah baca komen ya 😀

51 responses to “Quite Memories

  1. aku jadi teringat ffku yg the recipe deh, hahahahaaa
    tp kenapa ini lebih bagus yaaa -___-a emng sih ya aku bego buat FF/door
    tp family? ehmmmmm kurang dapet sih, romance mungkin, aku suka ff ini fai
    family? ehhmmmmm, org tuanya jahat, yahaaaaa fai akukan anak berumur 18 tahun yg tidak mngetahui tntg kejahatann, huwaaa jd aku benci mlihat karakter org tuanya, uhuhuhuhuhuhuu, aku msh tdk bisa mnyangka bhwa, emng adakah org tua sprti itu? impossible sekali yaaa —a selem jadinya

    • emang mirip ya? (⌣́_⌣̀)♉
      hahahahaha masa sih? nggak juga kok kakakkkk :*
      wah romance? *nyebur ke kali depan sekolah /plak/duar*
      ehehehe gitu ya._________. berarti kita berbeda 360 derajat ya kak(?) #apasi #mintadiciumjeber #jeger
      hahahaha iya ceyem._.v
      makasih ya kak (˘⌣˘)ε˘`)

  2. saya jadi curiga… apakah… nana anak pungut? hahahaha.
    jadi L itu peri biola? ato sosok imajiner doang? ato jangan2 dia malaikat pencabut nyawa? O,o
    tapi genre-nya aku sukaaaa~
    kyaa kyaa. lain kali ditunggu lho ff fluff-nya. khekhe

    • hmm mungkin saja .________.
      L itu malaikat buat nemenin nana di hari2 terakhirnya(?) ngahahaha #ngasal #ditabokL
      makasih banyak yaaa 😀 salam kenal^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s