Me, Myself, and Time Part 7

Title       : Me, Myself, and Time Part 7

Author: @dee_9576

Genre   : Straight, Romance, Angst

Rating   : PG-15

Casts     : Kim Jaejoong, Shim Changmin, Park Taehyo,  other DBSK members, and random k-idols

Length  : Chapters

A/N       : Part 7… had no idea at first hehe 😛

Enjoy, readers~!!!

seoeunkyung’s note: INI BUKAN FF AKU. kekeke, ini ff temen aku, call her dee. happy reading~ ^o^

 Chapter 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7

“Saat ini.. ia sedang merahasiakan sesuatu dariku, Hyung. Ada seseorang yang menggangu pikirannya. Dan namja itu bukan aku.” Ia tersenyum miris.

Tampaknya Changmin sudah mulai terbuka terhadapku.

Aku menepuk pundaknya.

“Yang jelas, aku akan selalu ada untuknya, ada di sampingnya dan melindunginya. Aku tak akan memaafkan siapapun yang menyakitinya.

***

Taehyo’s POV

Angin berhembus kencang sore ini, menerpa wajahku, dari celah jendela di sampingku yang terbuka sedikit. Aku menatap langit yang semakin mendung, yang menandakan hujan akan turun. Aku menghela nafas, lalu kembali memusatkan perhatianku ke depan.

Jujur saja, bimbel kali ini cukup membosankan. Tak ada yang bisa kuajak bicara –bukannya aku tipe orang yang ribut saat pelajaran, tapi biasanya aku selalu mengajak orang bicara bila bosan. Dan kali ini Jihye tak ada, karena ia mengambil kelas yang mulainya tepat setelah jam pulang sekolah –saat kegiatan klub tepatnya. Ia tidak mengikuti kegiatan klub –ia bilang ia malas saja, karena toh nanti pada akhirnya ia yakin akan berakhir di dapur, menjadi ibu rumah tangga.

Aku kembali memusatkan perhatianku pada trigonometri yang sedang diterangkan Kim Seonsaengnim. Aku melirik sekelilingku. Semuanya sibuk mencatat. Bahkan Hyeri juga. Hal yang tak perlu dilakukan sebenarnya, mengingat Kim Seonsaengnim sudah mengajarkan ini pada pertemuan lalu.

Aku melirik ke koridor melalui jendela. Sekumpulan anak kelas sebelas sedang bercakap-cakap di luar. Aku melamun memerhatikan mereka, hingga akhirnya Yura lewat. Seketika aku tersadar dari lamunanku.

Apakah ia juga kursus di sini?

Kurasa baru kali ini aku melihatnya.. apa dia anak baru disini?

Hmmm.. ntahlah, tak ada hubungannya denganku juga.

Aku melirik Kim Seonsaengnim yang mulai menulis soal-soal di papan tulis.

Cepat-cepat kucatat soal-soal tersebut, sebelum Seonsaengnim sadar aku tak terlalu memerhatikan penjelasannya hari ini.

***

Aku menatap air hujan yang terus saja turun tanpa henti, yang malah semakin bertambah lebat. Aku menghela nafas dan melirik sekelilingku. Kebanyakan orang sudah pulang, hanya kurang dari 10 orang saja yang masih tinggal, yang bernasib sama denganku karena tidak membawa payung ataupun jas hujan.

Kulihat Yura berjalan menuju ke arahku, tapi kurasa ia tidak melihatku karena terlalu asyik berbicara dengan temannya. Lalu temannya itu pun berjalan melewatiku dan pulang.

Yura menatapku, tampaknya ia baru menyadari keberadaanku. “Taehyo bukan? Annyeong~”

“Annyeong, Yura-ssi.”

“Panggil aku Yura Eonni saja.” Ia tersenyum padaku.

“A-ah.. ne..”

“Kau tak bawa payung juga?”

Aku mengangguk. “Eonni juga?”

“Ne, tapi aku sudah memberitahu Jae untuk menjemputku.”

Jaejoong?

Aku tak tahu mengapa.. tapi.. aku tak senang mendengarnya.

“Ah.. itu Jae datang.. Jae-ah~!” Yura melambai pada sesosok namja yang membawa payung plastik transparan, yang kini berjalan ke arah kami.

“Yura-ah.. kau menunggu lama?”

“Baru sebentar…” Yura tersenyum padanya.

“Oh.. kukira kau sudah lama menung-“ Perkataan Jae terputus saat ia melihatku menatap mereka berdua. “gu.”

Ia terpaku sejenak, sebelum akhirnya bisa mengontrol dirinya kembali.

“Oh ya, Jae-ah, ada Taehyo~” Yura menoleh padaku, diikuti Jaejoong, yang masih menatapku.

“A-annyeong, Hyo..”

“Annyeong..” aku membungkuk sedikit.

Kami semua terdiam, sebelum akhirnya Jaejoong membuka suara.

“Yura-ah, kau mau pulang sekarang atau sebentar lagi? Yunho menunggu di mobilnya..”

“Yunho?”

Jaejoong mengangguk. “Tadi kami lagi main basket saat hujan.” Ia terkekeh.

“Sudah berapa kali kukatakan untuk tidak berolahraga saat hujan? Bagaimana kalau nanti kau sakit, Jae-ah?” Yura mengomel, cemberut menatap Jae yang hanya mengusap kepalanya.

“Uhm, Taehyo, kurasa aku dan Jae akan pulang sekarang..” Yura berbalik menghadapku. “Aku tak ingin membiarkan Yunho berlama-lama menunggu kami.. Kau mau ikut kami pulang?”

“Anni, Yura eonni..nanti merepotkan..” aku tersenyum tipis.

“Tidak kok. Tapi kau tak apa-apa sendirian? Atau mau kutemani dulu?”

“Gwaenchana, eonni, jeongmalyo. Masih ada orang lain kok di sini.. Aku tunggu saja hingga hujan reda..”

Aku melirik Jae yang masih menatapku. Kurasa ia ingin mengatakan sesuatu. Ia tampaknya menyadari tatapanku dan memandang keluar, memandangi hujan yang tak kunjung reda.

“Kau tak menelepon untuk dijemput saja?” aku kembali mengalihkan perhatianku pada Yura.

“Uhm.. aku tak ingin merepotkan Minnie Oppa..”

Dari sudut mataku kulihat Jaejoong langsung berbalik menatapku.

“O-oh…” Yura mengangguk pelan.

“Hyo-ah~~” aku mengangkat kepala dan melihat Changmin Oppa sedang berlari ke arahku hujan-hujanan.

“Minnie Oppa.” Aku tersenyum lebar menatapnya. “Kenapa kau..?”

“Well, tadi aku sedang di toko buku di dekat sini.. Aku berencana untuk pulang jalan kaki saja karena jaraknya dekat. Lalu aku teringat kau bimbel disini.. Dari tadi aku sudah mencoba menelpon Yoochun Hyung dan Junsu, tapi handphone mereka tidak aktif.. Kurasa kita tunggu saja hingga hujan reda.” Changmin Oppa terkekeh pelan.

“Annyeong, Changmin Oppa.” Yura tersenyum padanya.

Changmin Oppa menoleh dan mengangguk sekilas padanya. Ia kemudian melirik Jaejoong yang masih diam saja, lalu kembali menghadapku.

“Jadi kau mau-“

“Kalian kok lama sekali sih?” Kulihat Yunho Oppa telah berdiri di samping Jaejoong, yang lebih pendek beberapa senti darinya. “Ada ap- Oh hai, Taehyo, Changmin~” Yunho tersenyum lebar pada kami berdua. “Sungguh suatu kebetulan bertemu kalian berdua disini.”

Aku mengangguk. “Annyeong, Yunho Oppa.”

“Kalian mau pulang ikut mobilku?”

“Tak perlu, nanti mobilmu basah, Yunho Oppa.” Aku melirik Changmin yang hanya terkekeh pelan.

“Hm.. jadi kalau begitu..”

“YA!!!!!! CHANGMINNIEEEEEEE!!!!!!!!!” aku melihat mobil Matiz berwarna oranye kemerah-merahan yang tak kukenal ada di depan tempat bimbelku. Pemiliknya membuka jendela mobilnya.

Entah mengapa akhir-akhir ini aku telat menyadari sesuatu. Apakah aku terlalu sering melamun? Ntahlah.

“Kibum?” Changmin berjalan menghampiri mobil itu.

Kami semua menoleh ke arah Kibum Oppa yang tampak sedikit kaget melihat kami semua.

“Kok kau bisa ada disini?”

Kibum menoleh pada Changmin Oppa, yang kini berdiri di sebelah kursi penumpang bagian depan. “Tadi aku melihatmu berlari menembus hujan, jadi aku kesini saja. Kupikir kau pasti masih ada disini.”

“Antar aku dan Hyo ke rumah ya~” Changmin Oppa membuka pintu mobil dan masuk ke dalam. “Ayo, Hyo.” Ia mengisyaratkanku untuk duduk di kursi belakang.

“Ya Changmin!!!! Nanti mobilku basah, kau tahu!!!!!”

“Nanti juga kering sendiri kok. Ayo Hyo~!!!”

Aku menatap Yura, Yunho Oppa, dan Jaejoong secara bergantian. “Well, aku permisi dulu. Sampai jumpa lagi.” Aku berjalan ke arah Matiz milik Kibum Oppa dan masuk. “Annyeong Oppa~” aku tersenyum padanya.

“Hai, Hyo-ah. Kenapa mereka bisa ada disini?”

“Ehm, Yura bimbel disini juga, dan Yunho Oppa dan Jaejoong datang menjemputnya. Kami berpapasan saja..”

“Kapan kita akan jalan? Daritadi kau terus saja mengobrol…” Changmin Oppa berdecak pelan sambil menopangkan dagunya di tangan kirinya.

“Ya!!! Sudah untung kau kuantar pulang!! Nanti kau harus mengelap kursiku!!!!!”

***

“Gomawo, Kibum Oppa.” Aku tersenyum seraya keluar dari Matiz miliknya.

Kibum Oppa mengangguk, lalu menoleh ke arah kursi penumpang bagian depan yang sudah ditinggal Changmin Oppa –yang begitu sampai langsung lari dan masuk ke rumahnya.

Aku mengikuti arah pandangannya. Tetes-tetes air masih tersisa di beberapa bagian, walaupun yang lain telah kering karena AC.

“Geez Changminnie!!!!” ia mengumpat pelan.

“Mau kulap?” aku tersenyum menawarkan.

Ia menggeleng. “Tak perlu, Hyo-ah. Tinggal sedikit saja. Biar kulap sendiri saja.”

“Tak apa-apa?”

Ia menggeleng, tersenyum meyakinkanku.

“Hyo-ah~~ Mianhada aku tak bisa menjemputmu tadi~~~” pintu rumahku terbuka, memperlihatkan sosok Yoochun Oppa dalam balutan sweater abu-abunya dengan jeans hitam dan Junsu Oppa yang berjalan di belakangnya dalam kaus Armani EX putih dan celana pendek Armani.

“Annyeong, Kibum imnida.” Kibum Oppa menunduk sedikit.

“Annyeong, Yoochun imnida. Ini Junsu.” Yoochun tersenyum padanya, diikuti Junsu yang melambai padanya.

“Mereka..?” Kibum Oppa menoleh padaku.

“Yoochun Oppa itu sepupuku, sedangkan Junsu Oppa adalah temannya. Ia menginap disini selama di Seoul.”

Kibum Oppa manggut-manggut.

“Apakah kau namja chingu Hyo?” aku melirik Junsu Oppa yang bergerak maju sedikit.

“Kibum Oppa itu temannya Changmin Oppa. Ia hanya Oppa-ku saja.” Cepat-cepat aku menjawab.

“Tapi aku berharap iya.” Kibum Oppa tersenyum. “Bye~” Ia menutup kaca jendelanya dan melajukan Matiz-nya meninggalkan rumahku, meninggalkanku yang terbengong.

“Wow, Hyo..” Yoochun Oppa menyeringai dan menepuk pundakku pelan. “Banyak juga yang tertarik padamu.. Ckckckck.” Ia lalu berbalik pada Junsu. “Kenapa kau menanyakan apakah ia namja chingu Hyo? Jangan-jangan kau cemburu? Apa kau mulai suka pada Hyo?” Yoochun Oppa tertawa.

“Y-ya!! Aku hanya ingin tahu saja.” Su Oppa mengerucutkan bibirnya.

“Nah nah, kau cemberut sekarang~ kau cemburu kan?? Tak kusangka rencanaku berjalan sesuai yang kuharapkan bahkan tanpa perlu ikut campur dariku.” Yoochun Oppa berdecak pelan.

Junsu Oppa menghembuskan nafas. “Ya!!! Aku hanya bertanya saja!!!!”

“Mengaku sajalah!!”

“Terserah padamu sajalah. You’re always teasing me.”

Aku tertawa pelan.

“Su-ah~” Yoochun Oppa mengikuti Junsu Oppa yang sudah lebih dulu masuk ke rumahku. Aku mengangkat bahu dan berjalan di belakang mereka.

***

Jaejoong’s POV

Kami diam saja di sepanjang perjalanan, sampai akhirnya Yura membuka suara untuk mengucapkan terima kasih atas tumpangan pada Yunho ketika kami tiba di depan rumahnya.

“Annyeong Yura~” aku melambai dan tersenyum padanya.

“Bye Jae-ah~” ia tersenyum, lalu membuka pintu pagar rumahnya.

Yunho melajukan mobilnya kembali.

“Yunnie-ah..” Yunho melirikku yang duduk di kursi penumpang bagian depan.

“Hm?”

“Yang tadi itu Kibum yang setim denganmu?” aku menoleh dan memandang pemandangan di sekitar.

Yunho mengangguk pelan. “Ne. Mworagoisseo, Jae-ah?”

Aku menggeleng pelan.

“Jae-ah, apa kau mengenalnya?”

Aku menggeleng.

“Aku merasa dia sedikit… aneh saat bertemu denganmu.. Ada apa sebenarnya, Joongie-ah?” Yunho berpaling padaku, menatapku dengan tatapan lembut yang menenangkan.

“Uhm… aku hanya pernah berpapasan dengannya… dan ia.. juga Yura.. pernah memergokiku..” aku menunduk sedikit. Aku merasa agak segan menatap kedua matanya yang penuh keingintahuan –juga kecemasan.

“Ia memergokimu dengannya?” Tidak ada perubahan dalam nada Yunho, meskipun kurasa seharusnya ia kaget, karena aku belum pernah menceritakan soal ini padanya –dan siapapun. Tapi kurasa ia tetap berusaha mengontrol volume dan nada suaranya. 1 hal dari segelintir hal yang kusukai dalam diri Yunho.

Aku mengangguk, lalu menjawab ‘ya’ begitu aku sadar ia tak bisa melihat anggukan kepalaku karena sedang menyetir.

Kemudian kami berdua terdiam. Aku menoleh dan menatap Yunho. Tampaknya ia sedang memikirkan sesuatu.

Aku menghela nafas pelan. Entah mengapa aku merasa sedikit bersalah karena menyembunyikannya dari Yunho. Aku meliriknya, sedikit cemas.

“Yunnie-ah…”

“Ne?” ia tersenyum lembut padaku.

“Kau marah karena aku menyimpannya darimu?” aku menatap Yunho dan bertanya padanya, meskipun aku sudah yakin jawaban apa yang akan kudapat.

Ia mengacak-ngacak rambutku dan tertawa pelan.

“Ya!!! Rambutku berantakan!!” Aku membuka dasbor mobil dan mengambil cermin dari dalamnya lalu merapikan rambutku.

“Aku tak marah Jae… kau pasti punya alasan tertentu bila kau menyembunyikannya dariku…” ia tersenyum menatapku, dan mengacak-acak rambutku lagi.

“Yunnie-ya!!!” aku mengambil cermin dan merapikan rambut hitamku. “Geez~ Kau hanya melakukannya padaku saja!!! Aku tak pernah melihat kau melakukannya pada orang lain..” Aku menatap pantulan diriku di cermin.

“Masa?” ia tertawa.

Aku diam saja melihatnya.

“Bukan salahku untuk mengacak-acak rambutmu.. rambutmu sangat lembut, Jae-ah..” ia terkekeh. “Berbeda dengan yang lain..”

“Ngomong-ngomong, Yunnie-ah, kenapa kau membawa cermin dalam mobilmu?”

“Kau tak ingat kau pernah protes padaku karena cermin di mobil ini sangat kecil?”

“Ehehehe.”

“Dan juga…” Yunho tersenyum nakal.

Feeling-ku tidak enak. Aku menelan ludah. “d-dan?”

“Agar aku bisa bebas mengacak-acak rambutmu.” Yunho tertawa dan mengacak-acak rambutku lagi hingga berantakan.

“YA, JUNG YUNHOOOOO!!!!!!!!!!!!!!!”

***

Junsu’s POV

“Aku kesana sebentar.” Yoochun melambai padaku dan berjalan menjauh, menuju gedung sekolah di depanku.

Aku mengangguk, lalu berjalan mengelilingi sekolah, hingga akhirnya sampai pada lapangan sepak bola. Kulihat seseorang sedang berlatih sendirian.

Aku berjalan ke arahnya. Tampaknya ia menyadari kedatanganku. Ia menghentikan permainannya dan mengangkat kepalanya.

“Ah.. annyeong~ maaf  mengganggu latihanmu.”

“Gwaenchana.”

“Rasanya sudah lama sekali aku tak main.. boleh ikut?”

“Tentu saja boleh. Mau tanding?” ia tersenyum.

Aku mengangguk, lalu mengulurkan tangan kananku. “Junsu imnida.”

“Yunho. Jung Yunho.”

***

Taehyo’s POV

“Taehyo-ah, boleh pinjam catatan fisikamu?” aku menoleh dan mendapati Kwanghee berdiri di belakangku, tersenyum menatapku.

“A-ah.. ne..” aku mengeluarkan sebuah buku bersampul merah dari dalam ransel coklatku.

“Gomawo, Hyo-ah.” Ia tersenyum lebar.

“N-ne..”

“Hyo-ah, aku mau ke Red Mango. Kau mau ikut?”

“Aku..”

“Aku traktir. Tenang saja, nanti kuantar pulang juga. Ayo.” Ia menarik tanganku.

“K-kwanghee, aku-“

“Dia denganku.” Aku merasa seseorang menarik tanganku. Aku menoleh ke sebelah kiriku.

“Minnie Oppa…” aku tersenyum lebar menatapnya.

Aku mencoba melepaskan genggaman tangan Kwanghee, tapi tidak berhasil karena ia terlalu kuat mempertahankannya.

“K-kwanghee.. tanganku..”

“Ayo, Hyo-ah..” ia menarikku tanpa memperdulikan Changmin Oppa.

“Ya!!! Lepaskan tangannya!!!” Changmin Oppa bergerak maju.

“Bagaimana kalau aku tak mau? Kau bukan namja chingu-nya!!!” Ia menatapku sengit.

Changmin Oppa tertegun sejenak.

“Nah..” Kwanghee menarikku menjauhi Changmin Oppa.

“Ya!!!! Kau kira kau bisa pergi begitu saja?!!!!!” Changmin Oppa menarik tangan kananku dan melepaskannya dari genggaman Kwanghee yang kuat. “Aku sudah memperingatimu dulu, tapi tampaknya kau masih saja seperti ini. Kau beruntung karena kita masih di sekolah.” Changmin Oppa mengedarkan pandangannya, mendapati murid-murid lain mulai memerhatikan kami, lalu menunduk menatapku. “Ayo, Hyo.”

Aku berjalan mengikuti Minnie Oppa yang melingkarkan tangannya di bahuku.

“Gwaenchanikka?”

Aku mengangguk pelan. “Gomawo Min.nie.op.pa~” aku memeluknya.

Ia tersenyum lembut.

“Ehm.” Suara dehaman terdengar di telingaku.

Oh geez!!! Gawat!!!! Apa itu Seonsaengnim?

Aku mengigit bibir bawahku, lalu mengangkat kepalaku pelan.

“Yoochun Hyung!” Changmin Oppa tersenyum pada Yoochun Oppa yang berdiri di depan lokerku.

***

Changmin’s POV

“Chunnie Oppa~” Hyo berlari ke arah Yoochun Hyung dan memeluknya sekilas. “Kau membuatku kaget saja. Kok kau bisa ada di sini?”

“Untuk menjemputmu?” ia tersenyum, menepuk kepala Hyo.

“Junsu?”

Yoochun Oppa menoleh padaku. “Dia bilang dia ingin keliling sekolah. Paling dia menonton anak klub sepak bola.”

“Kau mau pulang sekarang?” aku menatap Taehyo yang membalikkan badannya menatapku.

“Boleh. Tunggu disini ya~ aku cari Su Oppa dulu.”

“Chankaman, Hyo!! Jangan pergi sendirian!!! Bagaimana kalau-“

“Tenang saja, Minnie Oppa.” Ia tersenyum meyakinkanku, lalu mengecup pipiku sekilas. “Kalau ada apa-apa aku akan teriak memanggilmu~ bye~” Ia mengedipkan matanya sekilas, lalu berlari ke samping gedung sekolah.

Aku tersenyum menatap sosoknya yang menghilang dari pandanganku.

“Boleh juga kau.” Aku menoleh dan menatap Yoochun Hyung yang kini bersandar pada loker Hyo sambil menyilangkan kedua tangannya.

“A-apa maksudmu?”

“Yang tadi.. namja itu..”

“Kau.. melihatnya juga?” Aku terperangah menatapnya.

“Dari awal. Bahkan sebelum kau datang dan menarik Hyo.” Ia terkekeh pelan.

“Ya!! Kalau kau melihatnya, mengapa kau tak membawanya pergi dulu?”

“Well, aku melihatmu berjalan di ujung koridor.. jadi kurasa kau akan datang pada saat yang tepat, dan dugaanku benar.” Ia tersenyum tipis.

“Bagaimana kalau misalnya aku tak datang?”

“Saat itu aku baru akan beraksi.”

***

Yunho’s POV

“Su Oppa~~!”

Aku mengangkat kepalaku begitu aku menyadari Junsu telah berhenti mencoba merebut bola dariku dan menoleh ke belakang. Kulihat Hyo berlari ke arahnya.

“Hyo-ah~ Sudah selesai?” aku tersenyum dan berjalan ke arahnya, dengan Yunho mengikuti di belakangku.

Yeoja itu mengangguk.

Ia menatapku. “Annyeong, Yunho Oppa.”

“Kau mengenalnya, Hyo-ah?”

“N-ne.. kami pernah.. berpapasan.”

Aku mengangguk. “Annyeong~”

“Bukankah seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu, Su Oppa?”

Ia tertawa pelan. “Aku baru bertemu Yunho Hyung hari ini… ia bermain sepak bola, jadi aku ikut saja.”

Taehyo berdecak pelan. “Kau memang tak bisa dipisahkan dari sepak bola.”

Junsu tertawa lagi.

“Uhm, Chunnie Oppa dan Minnie Oppa ingin pulang sekarang. Ayo, Su Oppa~”

Junsu menoleh padaku dan melambai. “Bye, Yunho Hyung.”

Taehyo melambai padaku. “Sampai ketemu lagi, Yunho Oppa.”

Aku mengangguk pelan, menyaksikan mereka berdua berjalan menjauh dariku.

“Junsu-ah, jangan lupa besok, di lapangan ini!!!!” Junsu menoleh padaku dan mengangguk, lalu kembali melanjutkan langkahnya.

Aku mengambil bola sepakku dan menggelengkan kepalaku pelan.

Ckckck. Mengapa sepertinya orang-orang yang kutemui dan baru kukenal mengenal Taehyo?

Aku mengerutkan dahiku.

Bahkan Jae juga~!!!

Ckckck.

***

Changmin’s POV

Aku merasakan seseorang menepuk pundakku. Aku berbalik. “Taehyo?”

Kulihat Yoochun Hyung berdiri di belakangku dengan tampang bête, dengan Junsu dan tampang innocent-nya di belakangnya. “Maumu!!” Ia duduk di kursi di sebelah kananku, diikuti Junsu Hyung di sebelahnya.

“Kerjamu makan terus..” Yoochun Hyung berdecak.

Aku terkekeh pelan, lalu melanjutkan menyendok yoghurt strawberry milikku.

“Kenapa kalian ada di rumahku?” aku seakan tersadar, menatap kedua namja di sebelahku.

“Hyo mau belajar, kami tak mau menganggunya. Kami bosan, jadi kami ke sini saja.” Junsu Oppa menjawab sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.

Aku mengangkat sebelah alisku. “Dan mengangguku? Hahaha. Lucu sekali.” Aku kembali menunduk dan menyendok yoghurt-ku.

“Apa kau selalu begini?” Junsu menatapku sambil mengernyitkan dahinya.

Aku mengangkat bahu, tak mempedulikan mereka.

“Minta~” kuangkat kepalaku. Junsu menatapku dengan tampang memelas.

“Sudah habis. Tinggal ini saja.”

“Minta sesuap~”

“Tak ada bagianmu.” Aku mendekatkan mangkuk yoghurtku ke arahku, yang kini tersisa sedikit saja.

“Pelit.”

Aku mengangkat bahu.

“Tak ada gunanya kau berdebat dengan Changmin saat ia sedang makan.. ia tak boleh diganggu..”

Aku mengangkat kepalaku. Junsu menoleh pada Yoochun Hyung, dengan raut bertanya.

“Hyo memberitahuku.”

Aku terkekeh pelan.

Junsu mengangguk. “Oh ya, besok kalian mau ikut main sepak bola?”

“I’m in~!” Yoochun Hyung mengangkat tangan kanannya. “Kau Changminnie?”

Aku menggeleng. “Aku malas. Di rumah saja. Selain itu masih banyak tugas yang harus kukerjakan.”

Yoochun Hyung memutar bola matanya. “Oh, come on!! Untuk ukuranmu, kurasa tugas-tugas itu akan selesai dalam sekejap.”

“Memang. Tapi aku tetap tak mau ikut.” Aku terkekeh.

Tanpa kusadari Yoochun Hyung merebut mangkuk yoghurtku. “Ya, Hyung!!!!”

Ia dan Junsu Hyung melihat isinya yang tinggal beberapa suap saja.

“Kalau kau mau mangkok ini kembali padamu, kau harus ikut besok.”

“Ahh, jinja!!!” aku berusaha merebutnya, tapi Ia langsung memeberikannya pada Junsu.

“Ikut saja besok~”

“Sudahlah, kau ambil saja, toh tinggal sedikit saja.”

“Kau yakin?” ia menyendok yoghurt strawberry-ku.

Aku menelan ludah, menyaksikan Yoochun Hyung yang bersiap menyuapi Junsu Hyung –yang telah membuka mulutnya- dalam gerakan slow motion. “Baiklah, baiklah, aku ikut!!! Kemarikan yoghurt-ku!!!!”

Yoochun hyung mengambil mangkokku dari tangan Junsu dan memberikannya kembali padaku. “Kau tak bisa menarik kembali ucapanmu. Ingat itu.” Ia menyeringai padaku.

“Terserah padamulah.” Aku kembali menyendok yoghurt milikku.

“Aish~ Yoochun-ah!!” Junsu merengut.

“Bagaimana kalau misalnya tadi aku tetap menolak?”

“Aku yakin kau tak mungkin menolak. Bila ya, itu artinya kiamat sudah dekat.” Yoochun Hyung tertawa, diikuti tawa dolphin Su.

Aku berdecak pelan, lalu menghabiskan seluruh yoghurt yang tersisa dalam sekali teguk.

Yoochun Hyung berdecak seraya menggelengkan kepalanya pelan. “Changminnie dan makanannya.”

***

Jaejoong’s POV

“Jae-ah, kau mau ikut main sepak bola besok?”

Aku menoleh pada Yunho yang sedang mengenakan kacamatanya dan duduk sambil membaca buku di sofa ruang tamu rumahku yang minimalis.

“Dimana?”

“Sekolah. Besok kan hari minggu..”

Aku mengangguk. “Siapa saja yang ikut?”

“Well, tadi aku mengajak seorang namja yang baru kutemui tadi di sekolah… Permainannya sangat bagus~ Namanya Junsu.”

Junsu?

Aku mengernyitkan dahiku. Sepertinya aku pernah mendengar nama itu..

“Hm.. aku penasaran sebagus apa permainannya..”

“Lihat saja besok~”

Aku mengangguk, kembali memusatkan perhatianku pada majalah fashion yang sedang kubaca.

“Ngomong-ngomong, Joongie-ah..”

“Ne?”

“Kau sudah tahu orang itu? Namja yang disukai Yura, maksudku?”

Aku menegakkan sandaranku. “Belum.”

Yunho mengangguk pelan, lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruang tamu rumahku. “Jae-ah, kau tak merasa rumah ini terlalu besar untukmu seorang diri?”

“Hm? Tidak.. biasa saja.”

“Kapan orangtuamu akan kembali? Sudah 2 tahun aku tak melihat mereka.”

Aku mengangkat bahu. “Kurasa mereka masih akan lama di Kanada. Urusan pekerjaan, kau tahu.”

“Hey~ aku menginap di sini ya malam ini~” Yunho menatapku.

Aku mengangguk. “Boleh, tapi kau yang memasak malam ini. Dan juga besok pagi.”

Yunho cemberut. “Ya, Jae!!!! Kau tahu sendiri aku tak terlalu bisa memasak!!!! Masakanmu jauh lebih enak disbanding masakanku!!!!!”

“Salahmu sendiri tak belajar…”

“Kau juga belajar kan karena eomma-mu harus pergi ke Kanada dan menemani appa-mu.”

Aku menghela nafas. “Baiklah..baiklah.. hari ini kau bebas.. tapi kau yang mencuci.”

Ia mengangguk. “Aku mau-“

“Ddeokbokki. Seperti biasa.”

“Kau tahu saja.” Ia terkekeh.

“Bagaimana tidak?” aku tersenyum padanya.

“Kau tahu, Jae, kalau kau yeoja, mungkin aku akan suka padamu.” Ia tertawa.

“Y-ya!!!! Aish~ Sudah kuduga drama waktu festival budaya itu bukan ide yang bagus.” aku berdecak pelan.

“Aku masih mengingatnya dengan sangat jelas..” ia menyeringai. “Bahkan aku punya rekamannya.”

“Yunho-ya!!!!” aku mengambil bantal di sofa bulu di dekatku dan melemparnya ke Yunho yang tertawa.

***

Junsu’s POV

“Ayo~~” Aku menarik Yoochun yang baru saja memarkir Audi-nya di tempat parkir siswa di sekolah.

“Kau semangat sekali kalau soal sepak bola.” Yoochun berdecak pelan.

Changmin berjalan di belakang kami dengan malas-malasan.

“Yunho Hyung!!!” Aku melambai pada seorang namja yang sedang memegang bola sepak dan duduk di kursi di pinggir lapangan.

“Yo Junsu!!” ia menoleh dan tersenyum padaku.

“Aku mengajak Yoochun dan Changminnie.”

“Annyeong, Changmin-ah. Kita bertemu lagi.” Ia tersenyum kepada Changmin, yang hanya mengangguk.

“Kalian sudah saling kenal?” aku memandang Changmin dan Yunho bergantian, yang dibalas dengan anggukan keduanya.

“Baguslah kalau begitu.” Aku menoleh pada Chunnie. “Ini Yunho Hyung yang kuceritakan padamu kemarin. Yunho hyung, ini temanku, Yoochun, sepupunya Taehyo.”

“Hello~” Chunnie melambai pada Yunho.

“Ayo main. 2 on 2?”

Yunho Hyung mengangguk.

“Yoochun denganku. Changmin-ah, kau dengan Yunho Hyung.” Aku mengisyaratkan Changmin agar berjalan ke arah Yunho Hyung.

Changmin mengangkat bahu dan melangkah gontai.

“Ayo~” Yunho Hyung bangkit dari tempat duduknya dan membawa bolanya.

“iPod-mu tak apa-apa ditinggal di situ?” Yoochun menunjuk iPod silver yang tergeletak di kursi tempat Yunho Hyung duduk.

“Itu milik temanku. Ia sedang di toilet.. kurasa ia sebentar lagi kembali.”

“Yunho-ah~ maaf lama..”

Aku melirik ke belakang Yunho dan mendapati seorang namja yang tak kukenal berjalan ke arah kami. “Kurasa itu temanmu?” aku menatap Yunho Hyung.

***

Yoochun’s POV

“Hey Jae~!” Yunho Hyung ber-high 5 dengannya, lalu memberikan iPod nano-nya.

“Thanks.”

“Oh ya, Jae.. ini Junsu dan Yoochun, dan Changmin. Yoochun adalah sepupu Taehyo..”

Baik aku dan Su melambai pada Jaejoong Hyung, yang tersenyum pada kami.

“Aku tak ikut. Kalian berempat main saja.” Jaejoong Hyung berbalik dan duduk di kursi yang tadi diduduki Yunho Hyung.

Kulihat ia dan Changminnie berpandangan sebentar, sebelum keduanya saling membuang muka.

Aku tersenyum tipis.

Jadi Jaejoong Hyung orangnya? Hm… it’s gonna be so excitingggg~!!!!!!!!

***

Jaejoong’s POV

“Yura.. yura-ah..” aku menggoyangkan badan yeoja di sampingku.

Ia menatapku. “Ne?”

“Kau melamun terus dari tadi… nanti makananmu dingin..”

“A-ah ne..”

“Wow~ adegan romantic sang pangeran dan princess-nya tampaknya akan segera dimulai..” Seunghyun yang duduk berhadapan denganku terkekeh, diikuti tawa Hyunjoong dan Yunho.

Kulihat Heechul masih sibuk dengan handphone-nya hingga tampaknya ia tak mendengar percakapan kami.

“Mulai lagi..” aku berdecak pelan.

“Memang begitu kenyataannya kok.. Atau mungkin begitu yang tampak di mata semua orang Jae..” Heechul mengangkat kepalanya menatapku, lalu kembali menunduk dan menatap layar kecil di depannya. Di luar dugaanku, ia masih mendengarkan percakapan kami.

Aku mengangkat bahu, lalu menoleh pada Yura.

Aku mengikuti arah tatapannya.

Seorang namja, yang sedang bercanda tawa dengan seorang yeoja yang sangat kukenal.

Jadi dia? Aku tersenyum miris.

Aku melirik Yunho yang memandang sekilas ke arah namja dan yeoja itu, yang kini memandangku. Ia menatapku tepat di kedua mataku. Aku mengangguk.

“Bahasa tubuh antara Yunho dan Jae lagi… Ckckck.. aku tak mengerti.” Hyunjoong menatap kami berdua, lalu kembali mengalihkan perhatiannya pada sepiring kimbap di depannya.

“Hey, Yura!! Kau melamun terus!!!” Aku menoleh dan mendapati Sooyoung telah duduk di hadapan Yura –yang kurasa baru sadar dari lamunannya- yang menyebabkan Seunghyun mengomel karena ia harus menggeser tempat duduknya.

“Hi Sooyoung!!” Heechul tersenyum dengan ceria pada yeoja berambut pendek itu, yang menatapnya dengan malas.

“Dan sekarang giliran sang Cinderella yang pdkt dengan Sooyoungie.” Seunghyun bernarasi sambil menirukan gaya Heechul di depan cermin, yang membuat kami semua tertawa –kecuali Sooyoung dan Heechul tentunya, yang malah cemberut.

“Kau sedang memandanginya lagi?” Sooyoung berbisik pelan pada Yura –yang terdengar olehku- dan menyengir padanya.

Aku menatap Yura, yang memerah.

“Nanti Prince Jae cemburu lohh~” Sooyoung terkikik pelan, dibalas Yura yang melotot padanya.

“Sooyoung-ah, kau mau kimbap?” Aku melirik Heechul yang menggeser piringnya ke arah Sooyoung, yang menatapnya dengan tampang dingin.

“Geez…” Kulihat Seunghyun memutar kedua bola matanya. “Tampaknya usahamu tak berhasil mencairkan Sooyoung..” Ia tertawa.

Heechul menatapnya sengit, lalu kembali menatap Sooyoung tanpa mempedulikan Seunghyun –yang menggumamkan sesuatu yang terdengar seperti ‘mulai lagi’. “Kau mau?”

“Jujur saja, aku kasihan melihat Seunghyun harus duduk di antara mereka berdua..” Hyunjoong tertawa, diikuti gelak tawa Yunho dan aku.

Seunghyun menatap kami dengan tampang yang semakin bête, diikuti Sooyoung dan Heechul yang melotot pada kami.

“Ups?” Hyunjoong tertawa, lalu lari meninggalkan meja, sebelum dilempar Heechul dengan benda apapun yang berada dalam jangkauan Heechul di atas meja.

***

Taehyo’s POV

“Changmin..”

Aku, Changmin Oppa, dan Kibum Oppa menoleh ke arah sumber suara. Kang Seonsaengnim mengeluarkan kepalanya dari ruang guru.

“Ne, seonsaengnim?”

“Ke sini sebentar. Ada yang perlu kuberitahukan padamu.”

Changmin Oppa mengangguk, lalu berbalik menatap kami. “Aku ke sana dulu.”

Aku dan Kibum Oppa mengangguk. Kami diam selama beberapa saat, tak tahu apa yang harus dibicarakan satu sama lain.

Perkataan Kibum Oppa kemarin terputar di kepalaku.

“Tapi aku berharap iya. Bye~”

Aku merasa mukaku memanas. Kibum Oppa tampaknya juga menyadari hal itu.

“Kau sakit, Hyo-ah?” ia memegang dahiku.

Aku menggeleng. “Gwaenchana, Oppa.”

Kibum Oppa tampak berpikir sebentar, sebelum akhirnya mengangguk pelan.

“Kau masih kepikiran soal kemarin?” ia tersenyum padaku.

Pelan-pelan kuanggukkan kepalaku. “Santai saja, Hyo-ah. Tak usah dipikirkan, ok?” ia menepuk kepalaku.

“Ne, Kibum Oppa.”

Kami terdiam lagi.

“Menurutmu apa yang sedang dibicarakan Kang Seonsaengnim dan Changmin Oppa?” aku menatapnya, yang berbalik menatapku.

“Ntahlah.” Ia mengangkat bahu.

Pintu ruang guru terbuka dan Changmin Oppa pun keluar.

“Apa yang dikatakan Seonsaengnim?” aku menatap Minnie Oppa dengan raut penasaran bercampur cemas.

“Well… ia bilang…”

“Hm??”

“Ia bilang karena tim basket kami menang pertandingan antar sekolah se-Seoul kemarin, jadi selama satu minggu ke depan, kami harus pergi ke Busan dan mengikuti karantina dan pertandingan di sana.” Ia tersenyum dengan raut wajah berseri-seri.

“Chukae Oppa~” aku memeluknya.

“Congrats Minnie!!” Kibum Oppa memukul lengannya pelan.

“Tunggu dulu… kapan kau harus pergi?” aku melepaskan pelukanku.

“Mmm… mulai besok..” ia menatapku dengan raut wajah sedikit bersalah.

Hah??????

Itu artinya aku tak akan bertemu dengannya selama seminggu????!!!!!!!!!!!

-tbc-

Comment ya~!!! ^^

Semoga cukup memuaskan 🙂

Part 8 mungkin baru bisa aku post hari minggu nanti.. jeongmal mianheyo *bows* aku ada urusan, harus ke luar kota >.< *bows*

Aku tetep usahain post secepatnya~ harap memaklumi~ 🙂

Advertisements

22 responses to “Me, Myself, and Time Part 7

  1. Pingback: Me, Myself, and Time Part 9a « FFindo·

  2. Pingback: Me, Myself, and Time part 12 B | FFindo·

  3. Pingback: Me, Myself, and Time Part 13 | FFindo·

  4. Pingback: [FF] Me, Myself, and Time Part 14 | Fun Fiction·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s