Dance Under Moonlight

Dance Under Moonlight


Author : Noriko Kaoin

Credit Poster : @knoviaazr (thanks ya, bagus bgt posternya >.<)

Genre : Angst (seperti biasa), Hurt/Comfort, Romance

Length : Oneshoot (2013 words)

Rating : G

Cast :

1. Kwon Yu Ri (SNSD)

2. Choi Min Ho (SHINee)

3. Jung Jessica (SNSD)

Inspired by : The Story Only I Didn’t Know MV by IU

Desclaimer : The casts is belong to God, SME, and their parents

A/N : Tehehe, udh lama ga bikin FF. Dan mian, aku emang kebanyakan bikin yg angst, mungkin byk yg bosan ya? Anyway, setelah baca tolong komennya ya. Terserah mau pujian atau kritikan atau malah flame/bashing juga ga apa. Gomawo~

 

ENJOY

 

xxxxx

 

Ya, gadis itu di sana, di sebuah taman kecil. Menikmati waltz yang ia mainkan. Tidak ada bersamanya. Ia sendiri.

Tiba-tiba tangan gadis itu terulur seolah sebuah uluran tangan yang besar dan hangat, mengait jari-jarinya menuju sebuah dance floor yang beralaskan kristal-kristal putih dan dingin yang membuat kakinya biru akan dinginnya kristal tersebut.

Gadis itu mengenyahkan semuanya. Asalkan ia bisa meraih uluran tangan tadi, mengait lehernya, membenamkan kepalanya di atas dada yang bidang dan merasakan kecupan hangat untuk ujung kepalanya.

Sesekali gadis itu menggumam lagu yang biasa dimainkan untuk waltz, kakinya terus mengikuti irama yang pelan dan nyaman itu. Gumaman itu yang boleh dibilang membuat beberapa orang meneteskan airmata karena terlalu sedih. Sedangkan gadis itu tanpa ekspresi. Hanya menatap wajah laki-laki di depannya. Ia tidak tahu apakah laki-laki nyata atau tidak. Ia bisa merasakan tangannya, ia bisa merasakan kaki laki-laki saat  salah langkah dalam tariannya, ia bisa merasakan pipi yang dingin dan pucat, ia bisa merasakan jari-jarinya mengelus lembut di wajah gadis itu. Disaat ia menaruh kepalanya dan menenggelamkan kepalanya di atas dada laki-lakinya itu, sadar, ia tidak bisa merasakan detak jantung laki-laki tersebut.

 

Xxxxx

 

“Jadi, dia masih belum sadar juga? Dia tidak kritis lagi, bukan?” kata Jessica sambil memberikan segelas kopi susu hangat padaku. Aku menerimanya sambil mengucapkan terima kasih.

Aku menggeleng, “Dia sempat kritis, tapi hanya beberapa saat. Aku juga tidak sampai memanggil dokter.”

Jessica mengangguk-angguk. Pikiranku melayang, aku sudah tidak menatap Jessica lagi, aku melempar pandanganku mengarah pada etalase café dimana Jessica bekerja ini. Menatap kosong pada jalanan di luar dengan pemandangan para pejalan kaki yang beberapa dari mereka setengah berlari dikarenakan salju yang mulai turun.

Jessica terdengar menghela nafas kemudian ia berdiri, dengan pakaian seragam café ini, ia menurunkan rok mininya itu. Aku melirik sekilas.

“Kenapa kau turunkan?” tanyaku saat melihatnya menurunkan roknya itu.

“Tidak suka, terlalu pendek. Aku tidak terlalu suka menampilkan kakiku yang pendek ini. Lagipula harinya terlalu dingin,” sahutnya.

“Setidaknya kau punya kaki yang bagus. Umm, mungkin tidak sebagus kakiku,” ujarku sambil tersenyum miring padanya. Jessica jelas tersinggung karena aku lebih tinggi. Dan ia memang sensitif kalau dibandingkan denganku.

Sahabatku itu melenggang pergi dari tempat duduknya dan kembali melayani beberapa pelanggan di café. Aku tahu, ia sengaja pergi untuk membiarkan aku kembali masuk dalam khayalanku. Sekilas, aku bisa merasakan bergejolaknya hatiku, bukan dalam artian aku sedang gugup atau senang. Sebuah perasaan sesak yang terlalu sempit dihatiku.

“Oh, Tuhan. Sampai kapan aku terus diuji untuk sabar? Kalau ia bukan orang yang aku cintai dan ia masih mau bertahan hidup, aku pasti sudah meninggalkannya,” lagi, aku mengucapkan kata itu tanpa sadar. Refleks, aku menutup mulutku lalu mengusap-usap wajahku, kemudian menggigit bibirku menahan bulir-bulir airmataku yang sebentar lagi akan jatuh.

“Wuah, jangan! Andwae! Uljima andwae! Aku tidak boleh menangis! Astaga…” panikku. Tak lama kemudian, gadis itu kembali berdiri di depanku lagi. Kali ini ia membawa sekotak tisu. Oke, ia benar-benar sahabat yang mengerti situasiku. Tapi aku tidak ingin Jessica lelah melihat aku menangis lagi.

“Tidak apa, kau bisa menangis Kwon Yu Ri. Tuhan masih mengujimu karena kau mempunyai rasa sabar yang luar biasa. Aku salut. Tampaknya Min Ho memang berusaha hidup untuk orang sekelilingnya, terutama kau, Yu Ri. Aku justru tetap berharap suatu saat aku akan melihatmu menikah dengannya dan bahkan bisa menerima lemparan bunga darimu.” Jessica menghela nafas lagi sambil tersenyum simpati. Aku membalas senyumnya. Aku tahu Jessica berusaha menghiburku, membuatku tegar, membuatku bangkit lagi. Tapi, rasanya aku sudah frustasi dan lelah dengan menunggu.

Rasa menyesak itu kembali menghampiriku, akhirnya aku menunduk dan menggigit bibirku. Airmataku sudah berkumpul di daerah kelopak mataku, bersiap-siap.

Here,” Jessica menyerahkan selembar tisu padaku. Aku menerimanya sambil terus menunduk, airmataku sudah mengalir. Pundakku sedikit bergetar dan mungkin saat itu Jessica melihatnya, ia pun duduk di sebelahku. Ia memaksa diriku untuk menaruh kepalaku di bahunya dan berusaha menenangkanku.

Tangisanku tidak berlangsung lama, airmataku seolah semakin berkurang karena terlalu banyak menangis.

Thanks, Jess,” ucapku serak setelah tangisku reda. Jessica mengangguk.

“Kau ingin sendiri? Akan ku ambilkan secangkir kopi susu untukmu. Mau?” tawarnya.

Aku menggeleng, “Aku memang ingin sendiri. Tapi, aku tidak mau minum kafein lagi. Kepalaku sakit.”

Okay,” gumamnya. Kemudian ia menoleh tepat saat pintu café terbuka. Pelanggan baru datang. Jessica menepuk pundakku pelan dan berjalan menjauh.

Sesegukan sesekali keluar dari mulutku, aku berusaha menyapu bagian hidungku yang berair. Belum lagi mataku yang panas dan bengkak akibat terlalu banyak menangis. Sambil menghela nafas, pandanganku kembali kosong ketika melemparnya ke luar jendela. Tanpa sengaja mataku melihat kearah ponselku yang sedari tadi tergeletak diam. Aku mengambilnya dan membuka flip-nya. Bibirku tertarik membentuk senyuman kecil saat melihat wallpaper yang ada di sana. Foto kami berdua, tersenyum bersama.

Ah, masa-masa yang sekali saja akan terjadi. Kalau berharap akan kembali terjadi seperti yang ada difoto ini, mungkinkah? Aku ingin itu kembali terjadi. Ketika ia sadar nanti. Kuharap.

Aku bangkit dari tempat dudukku saat melihat kearah jam yang tertera di ponselku.

“Jess!” panggilku pada Jessica yang sudah selesai melayani pelanggannya dan bercengkrama dengan pelayan café lainnya.

Gadis berambut cat pirang itu menoleh cepat dan segera menuju kearahu. Aku pun berjalan sambil menuju kasir café ini.

“Sudah mau pergi?” tanyanya lalu pergi ke balik mesin kasir. Setelah ia menghitung jumlah pembayaranku aku pun membayarnya dengan tergesa-gesa. “Kenapa tergesa-gesa?”

“Jam besuk sudah mau habis. Aku harus cepat. Mungkin malam ini aku juga akan menginap di rumah sakit.”

“Oh, oke. Sampaikan salamku untuknya.”

“Hm, gomawo.”

Saat aku hendak berbalik hendak pergi, langkahku terhenti. Seolah ada yang kulakukan lagi sebelum meninggalkan café ini. Aku berbalik dan menemukan Jessica yang menatapku heran karena kembali berbalik.

“Jess, kau sahabatku bukan?”

Jessica heran dengan tingkahku itu, aku tersenyum kecil padanya. Lalu berjalan menuju kearahnya dan segera memeluknya dengan erat. Seolah hanya sahabatku inilah yang bisa menenangkan diriku saat ini.

“Ah, kau ingin tenang rupanya? Kebiasaan…” Aku tau saat ini Jessica tersenyum prihatin padaku. Ya, memang kebiasaanku kalau ada masalah dengan laki-laki bernama Min Ho itu, aku selalu minta tenangkan oleh Jessica. Aku merasa nyaman di pelukannya selain dari pelukan Min Ho atau Ibuku.

Setelah beberapa saat aku jatuh di pelukan sahabatku, aku merasa sedikit lebih tenang di tambah dengan helaan nafas yang lebih membuatku lega.

Thanks, Jess.” Ia hanya mengangguk sambil menepuk kedua bahuku pelan.

 

Xxxxxx

 

Di dalam ruangan yang serba putih ini, aku terdiam menatap sosok laki-laki di depanku. Matanya tertutup rapat, damai, tidak bergerak, pucat. Aku hanya bisa meringis. Belum lagi suara dari monitor yang menunjukkan jantungnya berdetak dengan lemah. Suara mesin itu memekikkan telingaku. Suasana sangat mencekam dan menyesakkan.

“Bagaimana kabarmu, Choi Min Ho?” Aku seperti berbicara pada tembok saat ini. Ia sama sekali tidak merespon diriku.

“Aku merindukanmu. Bangunlah…” Lagi, entah keberapa kali aku memaksanya untuk bangun. Laki-laki itu sudah terbaring koma selama satu tahun lagi. Orang-orang mungkin heran karena Min Ho masih tergeletak koma selama satu tahun. Tapi aku paham, Min Ho masih ingin hidup. Ia ingin bertahan. Aku juga percaya, ia akan bangun dan mengucapkan sumpah untuk bersama selamanya denganku nanti.

Min Ho, tunanganku sejak satu tahun tiga bulan lalu. Aku sempat merasakan dunia kebersamaan dengannya selama tiga tahun. Dan pada tahun ketiga itulah, ia memutuskan untuk menjadikanku sebagai calon pendamping hidupnya. Namun aku hanya bisa menikmati kebahagiaan bersama dirinya selama 3 bulan. Setelah itu, kejadian yang membuatku trauma adalah melihat Min Ho terjatuh disaat penampilannya di sebuah kompetensi dance dengan level internasional. Sebuah kesalahan gerakan yang dilakukan Min Ho membuatnya terjatuh ke belakang dan kepalanya membentur lantai yang keras. Aku yang saat itu menjadi partner dance dirinya hanya bisa berdiri membeku menatap ngeri pada dirinya yang tidak kukira sampai sekarang ia tidak membuka matanya lagi. Semua karena memar otak yang dideritanya.

Kutatap wajah tampan itu, kuelus lembut bagian pipinya yang kurus dan pucat itu.

Sebuah perasaan sesak itu kembali merasuki diriku bersamaan dengan memori-memori yang pernah kami buat bersama. Seharusnya aku sudah harus siap untuk melupankannya. Tapi, tetap saja aku tidak bisa menolaknya jika mereka datang. Setiap hari aku menemuinya beberapa jam, tapi it tidak cukup. Aku merindukannya yang lebih. Aku merindukan matanya yang besar saat ia menatapku. Aku merindukan bibirnya yang selalu mendarat di wajahku dengan kasih sayang. Aku merindukan rangkulan hangatnya. Aku merindukan dirinya yang tidak pernah absen mengucapkan kata sayang dalam sehari. Aku merindukan semuanya…

Air mataku menetes lagi, entah sudah ratusan atau bahkan tak terhitung lagi aku menangisi dirinya di samping ranjangnya, menggenggam tangannya sambil memaksanya untuk bangun.

“Aku merindukanmu, Min Ho. Noe bogoshipeo… Bangun, Min Ho. Bangun…”

Tiba-tiba suara mesin pendeteksi jantungnya kembali menyatakan ia kritis lagi. Hampir saja aku terpekik karenanya. Tanganku yang gemetar segera memencet tombol darurat di dekat ranjangnya. Aku menangis meraung-raung sambil meneriakkan namanya, menyuruhnya untuk terus bertahan.

“Min Ho, kumohon. Jangan menyerah dulu. Kau harus bertahan! Kau tidak tega bukan melihat tunanganmu seperti ini? Kumohon…”

Tidak berapa lama kemudian dokter bersama beberapa perawatnya mendobrak kamar Min Ho. Mereka bekerja cepat menangani Min Ho. Di saat aku ingin berada di sampingnya untuk menyemangatinya, aku justru di paksa oleh seorang perawat untuk keluar dari kamar. Aku sempat memberontak, aku tidak mau terpisah dengannya. Biarkan aku menemaninya di saat kritis ini. Aku mempunyai perasaan tidak enak untuknya.

Tangisanku menjadi saat di luar kamar. Bibirku komat-kamit mengucapkan doa dan terus memanggil namanya.

“Ya Tuhan, aku bisa gila kalau seperti ini. Aku frustasi, ya Tuhan. Kumohon, jangan buat Kau ambil dia. Ia terlalu berharga untukku. Aku masih ingin bersamanya. Berikan dia satu kesempatan lagi. Kumohon…”

Suara mesin penampung hidup Min Ho terdengar samar-samar. Seolah memekikkan telingaku hingga membuat telingaku berdenging. Aku tidak mau mendengar hasilnya. Yang kuinginkan hanya melihatnya membuka mata lagi.

Ketika aku menjadi relegius, mempertahankan segala perasaanku sebagai tunangannya, harapan yang selalu membuatku positif. Tiba-tiba menjadi putus, hancur berantakan hanya dengan suara pekikkan panjang dan datar dari mesin penampung hidupnya.

Kedua mataku melebar mendengarnya, sontak aku menutup kedua telingaku. Tangisanku juga terhenti begitu saja. Aku sudah tahu apa arti dari pekikkan panjang tadi. Rasanya itu membuat aku tidak mempunyai tulang lagi. Aku hanya bisa membeku dan terjatuh terbaring di depan kamarnya. Pandanganku kabur, kepalaku sakit, suaraku juga tercekat, belum lagi suara mesin tadi masih terdengar mendengung di telingaku.

“Begitu kah akhirnya? Baiklah.”

Pasrah, itu yang kupikirkan. Aku sudah hampir kehilangan kesadaranku. Pada akhirnya aku terakhir kali melihatnya tertawa bersamaku saat satu tahun tiga bulan kemarin. Aku sungguh tidak menyadarinya sejak dulu.

“Selamat tinggal Min Ho. Suatu saat kita akan bertemu lagi. Saranghae…”

 

Xxxxx

 

Rasanya kakinya tidak mempunyai telapak lagi. Kaki gadis itu telanjang diatas busa-busa putih dan dingin ini. Dinginnya mungkin sudah sampai di bawah nol derajat. Tapi itu tidak membuatnya berhenti berjalan keluar dari ruangan inapnya. Ia terus berjalan menuju sebuah bayangan bulan berada.

Bajunya yang tipis membuatnya menggigil hebat. Tapi tidak membuatnya ketir pada langkah waltz yang dimainkannya.

Ia tidak bermain sendiri. Ada seseorang yang bermain bersamanya. Laki-laki tampan. Matanya besar. Bibirnya tersenyum merekah pada gadis dengan rambut panjang dan acak-acakkan itu. Tapi, laki-laki itu pucat, transparan, dan hanya gadis itu yang bisa melihatnya.

“Sudah lama kita tidak melakukan seperti ini. Aku merindukan seperti ini. Lagipula, ini peringatan hari tunangan kita bukan? Kenapa kau tidak kembali saja, Min Ho? Ayo, kita kembali membuat chapter terbaru untuk hidup kita. Kau tega sekali meninggalkanku. Seharusnya kau mengajakku pergi, jangan duluan. Bukannya kita sudah berjanji untuk terus bersama? Kau pengkhianat, Min Ho! Kau tega! Kau jahat! JAHAT!!!”

Ia tidak berteriak pada siapapun. Mungkin, bagi orang-orang awam. Tapi bagi gadis itu, ia sedang berteriak pada tunangannya yang sudah meninggal sejak satu tahun yang lalu itu.

Dua  perawat yang bertugas malam di rumah sakit jiwa itu menghampiri Yu Ri yang mulai berteriak tidak karuan. Mereka memang maklum, tapi ia segera membujuk Yu Ri untuk masuk ke dalam kamarnya. Gadis itu sudah menggigil hebat hingga membuat bibirnya biru dan giginya gemeletuk kedinginan.

Namun, Yu Ri yang memberontak dan tidak berhenti memanggil nama kekasihnya itu terpaksa di suntik bius dan dibiarkan tenang di dalam kamarnya. Yu Ri hanya bisa pasrah dengan keadaannya yang di rawat oleh rumah sakit jiwa ini, setidaknya besok ia akan menghampiri taman itu lagi di bawah sinar bulan. Ia tidak tahu kenapa ia ingin mengunjunginya di bawah sinar bulan, ia hanya tahu ia akan bertemu dengan kekasihnya di bawah sinar bulan itu. Meskipun itu hanya khayalannya, hanya Yu Ri yang bisa merasakannya.

 

xxxxx

 

THE END

 

A/N : aakhhh, sorry ya kalo jelek >.<

Btw, makasih udh baca. Silahkan komennya ya~ :))

Advertisements

34 responses to “Dance Under Moonlight

  1. satu kata untuk FF ini “DAEBAK!!!!”
    😀
    saya minyul shipper … maknya suka nih FF !!!!

    • Wo? O.o kamu suka MInYul ya? Hahaha, ya udh aku persembahin nih ff buat km deh.
      Makasih atas pujiannya ya. Makasih juga udh baca~

  2. sad ending 😦
    sedih bacanyaaa..
    kasian sama yuri juga 😦
    tapi feelnya aku kurang dapet thor!! mian…
    tapi tapi tapi,bikinnn lagi yaahh thor…. heheheh ^^

    • feel-nya? Mungkin pair-nya km kurang suka ya? Biasanya sih gitu, tapi mungkin jg aku kurang pendeskripsiannya? Hmm…
      Tapi makasih atas kritiknya jg ya. Akhirnya ada jg yg ngekritik #senang #aneh
      Oke, oke. Pasti bikin lagi kok. Makasih udh baca jg ya~

  3. aku suka aku suka aku suka
    walaupun sad ending hehe
    aku minyul shipper soalnya haha

  4. huaaa kirain bakal ada keajaiban dan selamat T__T
    tapi ternyata…. U,U
    keren thorr :’) lanjut berkaryaaa!! fighting!! 🙂

    • hehe, sorry~ author suka yg bikin kesiksa2 gitu. hahaha

      yep, thanks atas pujiannya ya. Makasih jg udh baca ^^ aku pasti ttp bikin ff kok :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s