In My Room

In My Room

 

Author            :           Park Kyungjin

Cast                :           SHINee – Lee Jinki

                                    YOU (girl’s name)

Genre              :           Find it by your self

Rating             :           PG-13

Disclaimer      :           Inspiration by SHINee – In My Room lyric

PS                   :           Saat disarankan agar membaca sambil dengar lagunya SHINee – In My Room

Warning         :           Fanfic ini asli gaje n ngenes -__-

+++

Namaku Lee Jinki, dan aku seorang lelaki yang bodoh.

Sampai detik ini, semuanya masih bisa ku ingat dengan sangat jelas. Semuanya, dari awal bermulanya hingga akhir yang sangat pahit itu. Sangat pahit, seolah setiap detail dari kejadian itu sengaja terus-menerus berputar di dalam benakku.

Ku tatap cermin di hadapanku ini lekat-lekat, memperhatikan dengan baik pantulan yang dihasilkan dari bidangnya yang datar. Dan di dalam cermin itu, aku bisa melihat dengan jelas sosok seorang lelaki yang benar-benar bodoh… Ya, itu aku… Yang karena terlalu bodohnya, aku sendiri bahkan merasa sangat muak untuk berlama-lama menatap wajahku sendiri.

Ku edarkan pandanganku ke sekeliling ruangan yang dulunya terasa sangat hangat ini. Dan lagi-lagi, kenangan bersama dirimu kembali terbayang dengan jelas di setiap sudut pikiranku.

I close my eyes in this sleepless night

And you dance in my thoughts

I get so angry at myself, who knew nothing

I turn on the lights and look around my room

The place where my two faint eyes are placed on

is where I placed the birthday present I didn’t throw away

and everything of you

Dengan berat ku coba untuk melangkahkan kakiku secara perlahan, berjalan mendekati sebuah tempat tidur yang dulunya terasa sangat nyaman itu.

Ku raba salah satu sudutnya, dan lagi-lagi aku hanya bisa mendesah pelan saat membayangkan seharusnya kau berbaring di tempat itu, di sampingku, bersamaku…

Pelan-pelan ku coba untuk merebahkan tubuhku ke atas tempat tidur, ku tarik selimut hingga menutupi sebagian tubuhku, ku pejamkan mataku dengan perasaan yang sangat lelah.

Ku paksakan diriku untuk segera tertidur. Kenapa? Karena aku berharap ini semua hanya mimpi buruk… Mimpi buruk yang nantinya bisa segera berakhir saat aku kembali membuka mata. Mimpi buruk yang jika ku ceritakan padamu maka kau akan tersenyum dan menenangkanku bahwa semua itu tidak akan pernah terjadi.

Tapi kenyataannya, itu sama sekali bukan sebuah mimpi. Kenapa? Karena saat ku coba untuk kembali membuka mata, bayang-bayang buruk itu semakin terasa sangat nyata. Dan yang paling buruk, saat aku kembali membuka mata, aku tidak lagi menemukan dirimu yang menemaniku di sampingku. Tidak menemukanmu tersenyum ke arahku… Tidak menemukanmu untuk menenangkanku…

Cause you were my sun, the moon

You were my everything and

Everything in my room seems to miss you

If I get tired putting myself in harms way to find you

and forget for a moment

our hidden memories still linger

cause you’re still in my room

Apakah kau tahu? Semenjak kau tidak ada lagi di sisiku, aku tidak lagi merasa hidup. Aku seperti lupa bagaimana cara bernapas, aku seperti lupa bagaimana cara mendengar, aku seperti lupa bagaimana cara berjalan, dan meskipun pada akhirnya aku masih bisa bernapas, masih bisa mendengar, masih bisa berjalan, semua itu berlangsung seperti aku tidak lagi bernyawa.

Semua itu karena kau tidak ada lagi di sampingku.

Sebab kehilangan dirimu sama artinya dengan siang yang kehilangan matahari…

Sebab kehilangan dirimu sama artinya dengan malam yang kehilangan rembulan…

Karena bagiku, kau bahkan lebih dari sekedar matahari ataupun bulan di dalam hidupku…

Wandering the sea of life, all the lost dreams

are in the corners of my desk drawers

you were hidden within them

A picture of you I found in a box, under a layer of dust

A love letter filled with my young heart

and everything of you

Ku sibakkan selimut yang menutupiku ini dengan perasaan marah. Ku langkahkan kakiku menuju sebuah meja kecil di sudut kamar. Di atas sana terpajang dengan manis sebuah pigura dengan bingkai kayunya. Lihatlah, kita tampak sangat bahagia di gambar yang ukurannya lumayan kecil itu. Hatiku terasa diiris-iris, sangat perih, kenangan bersamamu kembali terbayang….

“Oppa…”

“Ya?”

“Kau sayang padaku bukan?” masih ku ingat dengan jelas caramu merajuk manja sambil memelukku. Aku tersenyum lebar, pertanyaan bodoh…

“Tidak…”

“Hah?”

“Haha maksudku tidak salah lagi…” aku melirik ke arahmu sembari memamerkan sederetan gigiku, yang selanjutnya kau balas dengan sedikit mendengus.

“Lee Jinki, kau mencintaiku bukan?” lagi-lagi kau melayangkan sebuah pertanyaan konyol. Ada-ada saja.

“Kau mau tahu jawabannya?” bisikku tepat di telingamu.

“Ya tentu saja…” tegasmu dengan alis yang terlihat berkerut.

Aku memutar bola mataku sebentar lalu mulai menatap matamu. Bukan menatapmu dengan cara yang biasa-biasa saja, sebab aku menatapmu sangat dalam dan tajam. Ku lihat kau mulai risih dengan tatapanku. Perlahan-lahan aku mulai mendekatkan wajahku padamu, dan bisa ku rasakan sepertinya kau sedang menahan napas. Semakin dekat dan kau mulai memejamkan matamu rapat-rapat. Ku biarkan kau terus seperti itu.

“Jangan sampai kau kehabisan napas ya…” ujarku kemudian sambil terkikik geli. Seketika itu pula kau kembali membuka matamu. Kau lalu tertunduk, menyembunyikan rona merah yang perlahan-lahan bersemu di pipimu.

“Tidak lucu…” sungutmu sedikit kesal sambil mengerucutkan bibirmu. Aku tersenyum sekilas.

“I Love You…” bisikku nyaris tak terdengar, lalu ku raih dagumu dan langsung mencium bibirmu bahkan saat kau belum sempat merespon sedikit pun.

Aku sungguh merindukan saat-saat itu…

Ku alihkan pandanganku dari pigura yang mulai agak berdebu itu menuju sebuah kotak kecil yang ada di sampingnya. Ku raih secara perlahan lalu ku buka dengan hati-hati. Kotak yang berisi cincin ini harusnya menjadi kado ulang tahunmu… Kalau saja kau tidak pergi meninggalkanku…

Cause you were my sun, the moon

You were my everything and

Everything in my room seems to miss you

If I get tired putting myself in harms way to find you

and forget for a moment

our hidden memories still linger

cause you’re still in my room

Apa lagi yang membuatku tidak cukup untuk merasa bahagia? Karier yang bisa dibilang cukup sukses, dan kini ditambah dengan kehadiran seorang pendamping hidup yang kini menemaniku untuk mengisi hari-hariku. Cantik, baik, cerdas, perfect!

Setiap hari saat semua aktivitasku di kantor telah selesai, aku selalu merasa tidak sabar untuk pulang ke rumah. Dan walaupun kita belum terlalu lama menikah, aku sudah merasa sangat bergantung padamu.

 “Oppa, aku minta maaf kalau suatu hari nanti aku tiba-tiba meninggalkanmu… Maaf…” suatu hari saat kita sedang bersantai di kamar ini, kau tiba-tiba berkata seperti itu.

“Jangan bicara yang bukan-bukan!”

“Entahlah oppa, hidup seseorang sudah ada yang mengaturnya…” ujarmu sambil menghela napas yang terdengar sangat berat.

“Oppa, aku sakit…”

“Sakit apa? Kau baik-baik saja kan?” desakku dengan nada bicara yang agak lantang. Maaf, bukannya aku bermasuk untuk kasar padamu. Hanya saja, waktu itu aku terlalu terkejut.

“Oppa, ku rasa waktuku tidak akan lama lagi…” kau menatapku dengan nanar. Aku terkejut, sangat terkejut dengan setiap kata-kata yang keluar dari bibirmu.

Ku tuntun kau menuju jendela yang ukurannya lumayan besar yang ada di kamar kita. Ku arahkan kau menghadap ke jendela, membiarkanmu menatap bintang-bintang yang bertaburan di langit malam itu. Ku dekap tubuhmu dari belakang, sangat erat seakan aku benar-benar tidak ingin melepaskanmu.

“Aku tidak peduli… Dengarkan aku, aku akan terus menjagamu… Takkan ku biarkan apapun merenggut sesuatu yang sangat ku sayangi… Aku janji…” bisikku tepat di telingamu. Apakah kau tahu? Saat itu aku bertekad sangat kuat.

Ya, saat itu aku memang berjanji akan terus menjagamu…

Even if I throw it away,

again and again

I want to call you

and see you smiling in front of me

I want to keep you right here

Bahkan sampai penyakit bodoh itu semakin membahayakanmu… Aku masih ingat dengan jelas…

Aku masih ingat, bagaimana caraku mengancam dokter itu agar ia bisa menyembuhkan penyakitmu… Aku masih ingat betapa aku terus berdoa agar kau tidak diambil dari sisiku…

Tapi seberapa keras pun aku melakukan semuanya, pada kenyataannya kau tetap pergi meninggalkanku… Kau telah pergi ke suatu tempat dimana aku tidak lagi bisa menemukanmu… Kau telah pergi ke sebuah dunia yang bukan duniaku…

Padahal, aku sudah berjanji untuk menjagamu…

Apakah kau tahu?

Tanpamu, kamar ini tidak lagi terasa hangat…

Tanpamu, tempat tidur itu tidak lagi terasa nyaman…

Tanpamu, bintang-bintang di luar sana tidak lagi terlihat indah…

Cause you were my sun, the moon

You were my everything and

Everything in my room seems to miss you

If I get tired putting myself in harms way to find you

and forget for a moment

our hidden memories still linger

cause you’re still in my room

Sampai detik ini, aku masih bisa merasakan kehadiranmu. Mungkin kau sudah menjelma menjadi sesuatu yang tidak bisa lagi ku tangkap dengan panca indraku. Kau pasti tahu, aku sangat merasa kehilangan dirimu. Seisi kamar ini juga sangat merindukanmu.

Bagaimana keadaanmu di dunia sana? Apa kau baik-baik saja? Apa kau tidak merasa kesepian di sana?

Ah, kau pasti kesepian… Ku rasa aku harus menemanimu…

Ku langkahkan kakiku menuju lemari. Ku buka lemari itu perlahan-lahan. Di sebuah laci kecil yang ada di dalamnya, aku mengambil sebuah pistol yang letaknya agak tersembunyi.

Ku tatap pistol di tanganku ini lekat-lekat. Lee Jinki, mengapa mesti ada keraguan yang terlintas di benakmu? Ini sudah jalan yang tepat.

Aku harus menyusulmu… Aku ingin menemanimu… Aku ingin terus menjagamu… Oleh karena itu, aku harus menghampirimu di duniamu yang baru itu…

Ya, karena aku sudah berjanji dan aku harus menepatinya. Aku bahkan sudah bersumpah atas janjiku itu. Tunggu aku.

DOR!

Cause you were my sun, the moon

You were my everything

I can’t live without you…

 

THE END

 

PS 1 : untuk penyakit istrinya g aku sebutin ya.. terserah mau dianggap sakit apa.. yg jelas penyakit mematikan gitu deh #PLAK

 

feel free to comment ya.. i promise i’ll reply it ^^ gamsahamnida *bow*

104 responses to “In My Room

    • ah mianhae ya chingu,,
      masih pagi moodnya udah aku rusakin T.T #nangisdipojokan
      btw,, makasih ya.. ^^
      salam kenal ^^

    • aaa jangan sampai nangis!!
      #brbbantuinngipas2(?)
      huhu 😦

      btw,, makasih ya udah mampir..
      salam kenal ^^

    • huhu..
      sedihnya jangan dibawa2 terus ya 😦

      anyway,, makasih udah mau baca..
      salam kenal ^^

  1. wuuuaaaaaaaa nie ff bikin aku nangis 7 hri 7 mlm (lebay*) >.<

    tu tuh si onew kq bnuh diri,,,,hu..hu..
    wah sad ending tp buagus bngt…. ^^
    nice dh buat ff"ny

    • omaigat.. :O
      bukan 3 kali puasa 3 kali lebaran chingu?? <– korban lagu dangdut #gubrak

      wah wah makasih banyak ya ^^
      salam kenal 🙂

    • ah jangan sesek T.T <– jadi maunya apa?!
      #plak #abaikan

      waduh makasih banyak ya makasih ^^
      salam kenal btw ^^

  2. wah, kece sangat ffnya..
    sedih bgt bacanya :”)
    kata-katanya keren.
    keren, betul betul keren..(mulai dah ni anak)
    terus berkarya ya.
    FIGHTING^^

  3. Baca ff ini sambil denger lagunya bener-bener bikin nyesek Unn! Aigoo~ aku kira si Onew bakal semangat lagi, ternyata malah bunuh diri, dosa lohh(?)!! untung aku gak nangis deh Unn, jadi tissue aku selamat(?) hehe.. Nice ff~!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s