[Drabble] Happiness Autumn [Last Series]

Title : Happiness Autumn

Author : Flameunrii★

Genre : Romance

Cast : Han Shinbi |  Kim Eli (Kim Kyoung Jae) | Kim JongHyun

Length : Drabble | Series [869]

Another Series : Foolishness WinterSpring Melody | Impression Summer

***

“Rambutku warna kuning.”

“Ne.”

“Tubuhku sangat tinggi. Kau hanya sebahuku.”

“Ne.”

“Mataku warnanya hitam.”

“Ne.”

“Aku ini sangat tampan.”

“Hahaha,”

“Kenapa tertawa? kamu tidak percaya ya?”

“Hahaha…percaya. Aku percaya.”

“Bagus. Hm apa lagi?”

“…”

“Ah! Tanganku ini sangat hangat.”

“Mwo? Y-ya!” Aku terkaget karna Eli yang sedari tadi masih duduk disebelahku sudah menggenggam tanganku, erat. Di ambilnya tangan kiriku dan di genggam dengan dua tangannya. Hal ini sukses membuat jantungku berkerja dua kali lebih cepat.

 Hey, Kim Eli. Selain pada Jonghyun, bagaimana bisa aku juga merasakan hal ini pada mu?

“Apa kau gugup?” Pertanyaan Eli memecah lamunanku.

“Nde?”

“Aku tanya, apa kau gugup?”

“Oh, hm…” Aku mengangguk malu. Dan tanpa melihat, aku tau Eli tersenyum karna ini.

“Shinbi.” Mendengar Eli menyebut namaku, aku reflek mengangkat kepalaku. Membayangkan rupanya dari ciri-ciri yang ia sebutkan di awal. Namja ini…

Kenapa aku jadi ingin sekali melihat wajahnya?

“Han Shinbi.” Jantungku makin berdegup kencang ketika Eli menyebut nama lengkapku.

“Mwo ya?”

“Tolong…Ijinkan aku, untuk terus berada disampingmu.”

“Mwo?”

“Ijinkan aku, untuk melindungimu sampai mati.”

Deg. Jantungku semakin berdegup kencang. Tidak hanya dua kali, ini sepuluh atau mungkin seratus kali lipat.

“Ya! Kim Eli. Kenapa kau seperti sedang melamarku?”

“Seperti? Hahaha.”

“…”

“Hey, mulai sekarang. Panggil aku Kyoung Jae-oppa.”

Kim Kyoung Jae. Atau yang lebih dikenal orang sebagai Kim Eli. Seorang member dari salah satu Boy Band ternama di negara ini. Seorang namja satu-satunya yang mampu mengisi tempat kosong dihatiku. Tempat yang dulu di isi oleh Kim Jonghyun.

Tap-tap-tap.

Aku menghentikan permainan biolaku ditengah-tengah lagu. Mendengar suara tapak kaki melangkah menuju ruangan dimana aku berada sekarang.

Yah, semenjak kehilangan satu indra, dua indra ku yang lain menjadi lebih tajam. Peraba dan pendengaran, mereka menggantikan satu indra ku yang telah hilang.

Tap. Langkah kaki itu mulai memasuki pintu. Aku menurunkan biola dari pundakku dan berbalik kebelakang.
“A-annyeong, Kyoung Jae-oppa.” Dan berkata seraya memberi seyuman termanis yang aku punya.

“Hey, kenapa kamu selalu bisa menyadari kehadiranku? Haha.” Tapak kaki itu terdengar lagi. Dia, Kyoung Jae-oppa ku mendekat.

“Annyeong jagiya. Nan saranghanda.” Ucapnya dan yah…Seperti setiap kali ia lakukan ketika bertemu denganku. Dia mengecupku tepat di dahi dan mengucapkan kalimat itu, yang sudah berkali-kali kudengar. Karna hampir setiap bertemu, dia membisikkannya  di telingaku. Menghembusnya sampai ke hatiku.

 Hey, Kim Kyoung Jae. Sepertinya aku benar-benar sudah jatuh hati padamu. Bagaimana ini?

“Nona Han Shinbi. Dalam suka maupun duka. Sakit maupun senang. Apakah kamu bersedia untuk mencintai tuan Kim Kyoung Jae dan bersama dengannya melewati sisa-sisa hidupmu?”

“Ne. Aku bersedia.” Setelah berkata begitu, kami saling bertukar cincin. Di iringi oleh tepukan tangan para member boybandnya dan senyuman bahagia keluarga kami. Eomma ku dan Appa yang ada disurga, mereka pasti juga sedang tersenyum karna ini.

“Apa kamu gugup?” Bahkan dia masih bisa membisiki pertanyaan itu setelah cincin pernikahan kami tersemat di jariku. Haha, benar-benar Kim Eli-ku.

Dan belum sempat ku jawab. Namja yang sudah resmi menjadi suamiku itu telah merebut ciumanku.

“Hey, aku bahkan belum bersiap-siap!” Bisikku setelah dia mengakhiri ciumannya.

“Hahaha, serangan tiba-tiba jauh lebih menarikkan?”

Benar-benar Kim Eli.

“Bukan begitu! Aku bukan tidak ingat, tapi aku tiba-tiba saja ada pekerjaan mendadak.”

“Oh ya? Kalau begitu kau bertunangan saja dengan pekerjaanmu.”

“Mwo?”

“Ini ku kembalikan! Kita sudah berakhir!”

“Yak! Shin Sekyung-ah! Hey! Aish.” Namja itu mengumpat kasar setelah langkah kaki wanita-nya menjauh. Namja itu, ya, dia adalah namja itu.

Di bangku taman, dimana aku menunggunya selama tiga tahun. Dimana aku yang dipenuhi kebodohan, berharap dia akan datang menemuiku. Seperti yang ia tulis dalam sebuah surat yang ia berikan padaku dulu. Dulu…

Tiga tahun yang lalu.

“Aish!” Kurasakan umpatan itu mendekat, sampai kemudian dia telah duduk disebelahku. Dia duduk disebelahku? Iya, dia duduk disana, seperti dulu…

Kim JongHyun-ah

Akhirnya…

Kita bertemu lagi ditempat ini.

Akhirnya kau datang kembali…
“Bagaimana?” Aku buka suara.

“M-mwo?” Dan sahutan itu terdengar kemudian.

“Bagaimana Kim Jonghyun?”

“Mwo? Nona, kau mengenalku?”

“Hm…” Aku bergumam sambil tersenyum kecil.

Dia benar-benar tidak mengenaliku. Han Shinbi yang bodoh. Kenapa bisa kau menghabiskan tiga tahun demi namja seperti Kim Jonghyun?

“Bagaimana? Apa kau sudah menemukan dunia yang kau cari?”

“Mwo?” Dan suara itu terdengar kaget.

“S-siapa kamu sebenarnya? Apa kita saling mengenal?”

 Bahkan atas semua yang sudah ku lakukan untukmu, kau masih bisa bertanya begitu? Kim Jonghyun. Apa kamu, sedikitpun tidak mengingatku?

“Aku? Hh…” Aku menarik nafas sebentar sebelum melanjutkan,

“Hanya seorang wanita, dari masa lalumu…”

“…”

“Yang mengisi hari-harimu selama dua-tiga musim.”

“…”

“Baiklah, mari ku ingatkan…Aku adalah wanita, yang saat Summer, kau beri tahu nama mu tanpa ku tanya. Lalu saat Autumn, yang menjadi tempat sandaranmu ketika kau menangis di sebelahku. Dan saat Winter, yang kau tinggalkan pergi begitu saja.”

“M-mwo?”

“Dan aku juga, seorang wanita yang mendapat perlakuan istimewa darimu. Saat Summer tahun ini…”

“Mwo?” Suara itu makin terdengar kaget. Tapi dengan unsur kebingungan.

 Baiklah, Kim Jonghyun. Pertemuan musim ini, kau yang memulai dan aku yang akan mengakhiri.
Maka aku menoleh pada namja disebelahku. Membiarkan ia menatap wajahku sepenuhnya.

“Han Shinbi.”

“…”

“Masihkan kau mengingat nama itu?”

“N-neo!” Bahkan suaranya ternyata lebih terkejut dari yang kuperkirakan.

“Ini…” Ku dorong sehelai lipatan kertas kearahnya.

“Aku tidak punya alasan untuk menyimpan benda ini lagi.” Dan suara yang terdengar berikutnya adalah suara kertas yang dibuka tidak sabaran.
“K-kamu! Han Shinbi! Kamu! Yang memberiku…” Sayangnya, kalimat itu tak sempat selesai karna dari arah yang jauh sebuah suara memanggilku.

Jauh lebih kencang. Jauh lebih kuat.

Jauh lebih tegas.

“Han Shinbi!”

“Oh, suamiku sudah datang…” Aku berguman pelan, lalu meraih tongkatku dan berdiri dari tempatku sekarang.

Sudah tak ada alasan lagi untukku berada disini. Bersamanya.
Tapi sebelum berjalan menghampiri Eli yang dari suara langkahnya tengah berlari ke arah kami, aku membalik tubuhku sebentar ke Jonghyun untuk mengucapkan satu kalimat saja.

Satu kalimat yang mengakhiri satu cerita,

“Selamat tinggal Kim Jonghyun.”

***

.:FIN:.

Kyaaa~ Akhirnya drabble empat musim selesai juga >v<

Cheuka! buat Shinbi onnie ^^ (?)

Advertisements

21 responses to “[Drabble] Happiness Autumn [Last Series]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s