Let’s Make a Baby [Chapter-7]

Author: Unie

Genre: Angst, AU (Alternate Universe)

Rating: PG-15

Length: Chaptered

Main cast:

  • Lee Donghae
  • Shim Changmin
  • Sung Hyosun
  • Jessica Jung

Other cast:

  • Cho Kyuhyun
  • Lexy Kim
  • Victoria Song

Disclaimer:

FF ini bener-bener imajinasiku. Kalau misal ada yang mau komplain karena ada kesamaan. Ke acc twitterku ya di: @onyuni

[PROLOG] [CHAPTER 1] [CHAPTER 2] [CHAPTER 3][CHAPTER 4]
[CHAPTER 5] [CHAPTER 6]

Aku masih saja memandangi tubuhku di depan cermin. Menilik setiap inci gaun putih berbahan sutra murni dari atas ke bawah melalui pantulan benda datar di hadapanku sekarang. Gaun hasil rancangan rumah mode Alexander Mcqueen ini membalut tubuhku dengan sempurna. Well, mungkin kalau aku tidak menikah dengan seorang Lee Donghae, aku tidak akan mungkin memakai gaun perancang kelas dunia, Sarah Burton yang terkenal sangat mahal ini. Begitu detil dengan brokat bunga aster di bagian pinggang kemudian turun hingga ujung ekor gaun sepanjang tiga meter. Replika berbentuk bordir bunga aster yang melambangkan cinta, kerapihan dan kehalusan ini, tampak dua kali lebih kecil dari ukuran normalnya. Aku sangat menyukai bunga mungil dan manis ini. Bahkan aku sampai tak berani duduk di sofa paling lembut sekalipun, takut-takut kalau perlakuanku akan membuat kusut gaun mahalku.

Aku menyibak kain penutup wajahku ke belakang dan tersembullah sebuah tiara bertabur batu kristal yang tidak begitu besar ukurannya tapi berkilau indah ketika terpantul cahaya. Aku meminta perias untuk tetap membiarkan rambutku terurai bebas karena ini akan memperkuat lekuk wajahku agar tetap bernuansa oriental. Dan riasan yang minimalis ini hanya mengubah karakter wajahku agar sedikit lebih kalem tanpa mengurangi kesan elegan.

“Dia belum menghubungimu?” tanya Kyu oppa yang baru datang dari arah pintu.

Aku menggeleng kemudian menatap jam yang menunjuk ke angka 10 kurang 5. Lima menit lagi Donghae harus berangkat dari rumahnya menuju gereja dan rombonganku menyusul lima belas menit kemudian.

“Batalkan saja pernikahan ini kalau dia belum menghubungimu juga. Aku yang akan bicara langsung pada keluarga mereka” Kyu oppa sudah menarik-narik dasi yang terasa mencekik setelah melepas jas hitamnya.

“Tapi…”

~Ndret… Ndret… Ndret~

Pandangan kami langsung terpusat pada ponselku yang mengeluarkan ringtone salah satu lagu yang pernah di populerkan oleh Mariah Carrie. Aku langsung mengangkat bagian bawah gaunku kemudian berjalan menuju meja kecil untuk meraihnya. Apakah itu dari Donghae?

Dahiku berkerut saat melihat barisan angka yang diawali dengan kode telephone internasional negara Perancis. Ini dari Max.

“Hallo” sapaku ragu.

“Hallo. Apa kabar, Hyosun-ah?”

“Sedikit gugup” kataku asal dan dia hanya terkekeh.

“Itu wajar. Maaf, aku tidak bisa datang memenuhi undanganmu. Aku harus terbang ke Moscow hari ini juga”

“Sudah ku duga. Kau menghindar? Apa kau merasa canggung untuk menghadiri pernikahanku karena kita pernah…”

“Oh, tidak. Sama sekali tidak, Hyosun-ah” potongnya cepat.

“Hari ini aku harus menemui seseorang di sana dan ini sangat penting” lanjutnya.

“Seseorang? Wanita?”

“Seperti itulah”

“Dan itu lebih penting daripada pernikahanku?” bibirku mengerucut karena dia memprioritaskan seseorang yang dianggapnya sangat penting.

“Kalau sampai besok aku tidak menemuinya, aku tidak tahu apakah dia masih mau menerimaku atau tidak. Aku benar-benar minta maaf…” suaranya pelan dan hampir mirip seperti desahan yang memohon pengertian.

“Ohh, wanita yang istimewa rupanya.” Aku mengangguk pelan dan ada sedikit rasa mencelos di hatiku. Tidak begitu dalam tapi terasa walaupun samar.

“Aku akan mengenalkannya saat aku pulang nanti. Bagaimana?”

“Sesuai kriteriamu?” tanyaku penasaran.

“Lebih dari yang ku harapkan. Kau sudah siap untuk hari ini? Pasti kau sangat cantik sekarang” tanpa aku melihatnya langsung, aku tahu dia sedang tersenyum dari kejauhan.

“Aku tidak tahu. Mungkin pernikahan ini akan aku batalkan” kataku pelan sambil melirik Kyu oppa yang sedari tadi mengawasiku.

“Kenapa?” dia terkejut.

~Tut… Tut… Tut~ Terdengar suara lain di percakapan kami. Bukan suara yang menandakan putusnya sambungan karena aku masih merasakan Max di seberang sana sedang bertanya “kenapa”. Aku tidak tahu itu dari arah mana. Kemudian aku ambil ponsel itu dari telinga dan melihat layarnya.

Lee Donghae calling

Aku menatap panggilan itu tak percaya. Rasanya dadaku ikut bergemuruh seirama dengan pendaran cahaya dari layar ponselku.

“Max, ada panggilan masuk. Bolehkah aku…” kataku cepat.

“Oh, silahkan. Aku bisa menghubungimu lagi lain waktu”

“Terimakasih kau sudah mau mengerti” aku langsung memutus sambungan dari Max.

Aku tidak langsung mengangkat panggilan itu, melainkan memperhatikannya sampai sambungan terputus sendiri. Dan aku baru sadar betapa tololnya diriku. Dua minggu tanpa komunikasi dan sekarang aku sia-siakan begitu saja panggilan ini. Dia tidak menghubungiku lagi.

“Oppa…” aku menoleh pada Kyu oppa yang sekarang tengah bermalas-malasan di atas kasurku. Aku tidak tahu sejak kapan dia sudah asyik dengan PSP-nya.

Dia hanya melongok sebentar, lalu kembali menekuri benda elektronik yang sudah dianggapnya seperti dewa itu.

“Donghae menelephoneku…”

“Benarkah?” dia langsung bangkit dari ranjang dan melempar PSP-nya ke sisi yang lain.

“Apa yang dia katakan?” tanyanya bersemangat sambil mendekatiku.

Aku menggeleng pelan “Sambungannya terputus. Apa aku harus menghubunginya?”

Dia berfikir sejenak, kemudian melanjutkan setelah melihat jam yang tepat menunjuk ke angka 10 tepat.

“Tidak perlu. Aku rasa itu sudah cukup. Sekarang bersiaplah. Waktu kita tidak banyak” katanya bersemangat. Dia langsung membenarkan dasi yang sempat berantakan itu dan mengambil jas dan memasangnya dengan sempurna.

Aku memandangi ponselku sendiri dan memandangi kata “1 missed call” itu dengan tampang paling bodoh sedunia. Dalam hati bertanya-tanya apakah yang akan dia katakan? Apakah dia akan bertanya apa aku sudah siap atau belum? Atau apa?

“Sorry, aku terlambat…” sebuah suara yang tak asing di telingaku terasa menggema di kamar yang tidak begitu besar ini.

Dia mengenakan gaun putih gading bermotif golden flower mini di bagian dada dan lengan. Dipadukan dengan shoe-lift yang tidak begitu tinggi, pendamping mempelai wanita ini tampak begitu anggun dengan kesederhanaan yang ditampilkannya.

“Lexi… Aku pikir kau tidak akan datang” aku berdecak saat dia mendekatiku.

“Hyosun-ah. Lihat dirimu” dia langsung mendekat ke arahku mengabaikan kekhawatiran yang terpeta di wajahku sekarang. Wajahnya berseri-seri, melihatku dengan balutan yang bisa dibilang baru pertama kali di lihatnya.

“Kau luar biasa” dia merdecak kagum sambil mengarahkan badanku ke cermin. Pantulan kami berdua memang sangat indah, hanya saja aku takut mengakuinya dari awal.

“Kau membuatku iri…” dia mendesah pelan dengan tampang polos yang dibuat-buat.

“Aku bisa memberikan yang lebih bagus dari itu” gumam Kyu oppa yang berada di belakang kami tiba-tiba.

            Sontak kami menoleh ke arahnya. Dia berlagak sibuk membenarkan jas yang memang sudah rapi dan berpura-pura mengarahkan pandangannya ke sisi lain kamar ini. Aku hanya tersenyum simpul, tapi Lexy mendekatinya perlahan.

“Kau yakin? Tapi pak walikota tidak akan mengijinkan putrinya menikah sampai dia benar-benar lulus kuliah. Lagi pula pak walikota juga tidak sembarangan menerima menantu” Lexy membenarkan dasi Kyu oppa yang sedikit melenceng. Jarak mereka begitu dekat.

“Cho Kyuhyun bisa membuat walikota yakin. Bahkan Presiden sekalipun”

“Kita lihat saja nanti” kata Lexy sedikit meremehkan.

“Kau cantik sekali” puji Kyu oppa.

“Ehm…” aku berpura-pura berdeham.

“Sepertinya aku belum memakai sepatu” kataku membuyarkan mereka berdua. Sama bodohnya, mereka berdua salah tingkah dengan keberadaanku di ruangan ini.

“Kau mau memakai sepatu yang mana?” Lexy mendekatiku lagi dengan canggung.

 “Bisa tolong kau ambilkan yang di kardus hitam itu” aku menunjuk ke arah kardus di samping lemari.

“Ini?” dahi Lexy berkerut saat melihat isinya.

“Iya. Kenapa?”

“Ini pantofel. Bukankah seharusnya kau memakai yang itu?” Lexy menunjuk ke arah sepatu hak tinggi yang berada di samping meja riasku.

“Donghae yang memberiku ini. Aku ingin memakainya”

            Aku memandangi sepatu tanpa hak berwarna putih itu dengan saksama. Entah kenapa aku sangat menyukainya. Apa karena ini dari Donghae? Aku juga tidak tahu. Ada butiran batu berkilau yang tidak berlebih di bagian ujungnya. Setidaknya ini tidak kontras dengan gaun yang aku kenakan sekarang.

“Kau yakin?”

“Kenapa tidak?” aku langsung menarik sepatu itu dan memakainya.

“Apa semuanya sudah siap? Kita harus berangkat sekarang” Ayah berseru dari luar kamarku, memastikan segala sesuatunya telah berjalan sebagaimana mestinya.

_

            Ini adalah langkah kakiku yang kedua di katedral umat katolik roma pertama yang didirikan di Seoul, Korea Selatan. Katedral yang didirikan pada masa pemerintahan konfusius Dinasti Joseon ini akan menjadi saksi bisu upacara pemberkatan pernikahan antara aku dan Lee Donghae. Aku menatap jam Katedral yang dibangun oleh pendeta Eugene Coste telah menunjukkan angka 10.25. Dan itu artinya waktuku hanya lima menit menuju altar.

“Ayo” Kyu oppa mengulurkan tangan kanannya untuk membimbingku.

            Aku meraih tangan kakak angkatku itu tanpa ragu. Walaupun tanganku terselubung oleh kaos tangan yang hampir mencapai siku, aku bisa merasakan kulit dingin yang berasal dari telapak tangan Kyu oppa. Dia sama tegangnya denganku. Sementara Lexy yang saat di dalam mobil duduk di sampingku, merapikan ekor gaunku agar sempurna menyapu pelataran. Dan sekarang dia memegangi ujungnya.

“Kau siap?” Kyu oppa memposisikan telapak tangannya menyentuh perut dan memberi ruang di sikunya agar tanganku bisa melingkar.

Aku mengangguk pelan dan melingkarkan tangan kiriku sebagaimana mestinya.

“Dengarkan baik-baik. Apa yang oppamu ini katakan mewakili Kim Young Woon yang seharusnya membawamu menuju altar, ok? Aku tidak akan mengucapkannya dua kali”

            Dia adalah evil yang bertransformasi menjadi malaikat di hari-hari menjelang pernikahanku. Dia yang biasanya usil dan menggangguku, kini menjadi pria dewasa yang akan melepas adiknya ke tangan orang lain. Inilah sisi lain dari seorang Cho Kyuhyun. Tidak peduli seberapa menyebalkannya dia, aku menganggapnya sebagai kakak terbaik sedunia setelah Kak Young Woon.

“Okey” kataku singkat pada langkah awal kakiku di atas karpet merah sepanjang jalan menuju altar.

“Tataplah ke depan, lihat yang ada di hadapanmu sekarang” Aku menatap ke depan dan mendapati seorang pastor yang berdiri di satu garis lurus denganku dari kejauhan.

Tapi bukan itu yang membuat jantungku berdegup tak karuan dan semakin lama semakin kencang. Yang membuat detak jantungku tak senormal biasanya adalah pria ber-tuxedo putih yang kini membelakangiku. Lee Donghae. Aku menangkap sosoknya sebagai satu titik tujuan hidupku sekarang ini. Ini kali pertama aku melihatnya menggunakan busana warna putih secara menyeluruh. Dengan mengesampingkan perfective yang terbentuk dari barisan bangku, aku dapat menangkap sosoknya yang berdiri tegap dari balik kain sutra yang sekarang menghalau pandanganku ke segala arah.

“Kau akan memulai dunia baru. Dunia dimana yang kau lihat seharusnya hanyalah kilauan dan keindahan yang bersinar” lanjutnya.

“Buka matanya untuk melihat dunia yang mempesona itu sampai-sampai dia tidak berani menutupnya lagi. Mungkin tidak akan dalam waktu singkat, tapi aku percaya kau bisa”

Aku yakin hari ini sangat luar biasa, tapi aku mengabaikan seribu pasang mata yang melihatku terheran-heran. Fokusku hanyalah pada apa yang ada di hadapanku sekarang dan yang aku dengar dari Kyu oppa. Keduanya membuatku berkonsentrasi. Kakiku berjalan dengan perlahan namun dinamis.

“Kejarlah cakrawala baru bersamanya. Hingga kalian sama-sama tersesat dan tidak tahu jalan kembali”

“Oppa…” aku mengeratkan tanganku di lengannya dan mencengkram kuat rangkaian bunga yang ada di tangan kananku sekarang.

“Sebuah sudut pandang yang fantastis untuk melihat seratus ribu hal yang baru. Kejarlah tempat yang mempesona itu melalui langit berlian yang tak berujung”

Airmataku meleleh di bagian kanan mendengar ucapannya.

“Ini adalah mimpi di atas karpet merah yang sekarang kau injak. Tapi percayalah kau bisa meraihnya bersama laki-laki yang memang kau cintai sekarang. Kau harus yakin”

“Buat dia bertanya-tanya atas keindahan demi keindahan yang kau temukan. Ini adalah dunia baru kalian.”

            Langkahku sudah kian mendekatinya. Tinggal beberapa langkah lagi aku sampai di sampingnya.

“Perasaan yang tak terlukiskan, langit yang seakan bertaburan berlian, dan hanya senyuman yang bisa kalian ulas bersama-sama di dunia baru yang akan kalian jalani”

“Buat dia menahan nafas layaknya bintang jatuh yang sengaja datang dari tempat yang sangat jauh”

“Semua yang aku katakan adalah kiasan, Hyosun-ah. Aku harap kau mengerti apa yang aku maksud. Buat dia mencintaimu hingga kau mengerti arti dari dunia baru yang aku katakan, yaitu sebuah kebahagiaan…”

“Sebelum kau menumpangkan tanganmu di atas injil, ulurkan tanganmu padaku terlebih dulu, Hyosun-ah. Itu akan menjadi pesan terakhir seorang kakak yang akan menjadi saksi pernikahan adiknya karena setelah itu aku tidak punya tanggung jawab apapun atas dirimu”

“Aku mengerti…” aku menoleh sejenak dan melepaskan tanganku dari lengannya, menaiki satu undakan yang tidak terlalu tinggi di depan altar. Aku tidak berani menoleh kepada Donghae yang kini telah berdampingan denganku.

            Tidak perlu menunggu waktu yang lama, pernyataan pernikahan pun dimulai. Semua bibir berhenti berbicara dan mengkonsentrasikan pandangan mereka kepada sepasang pengantin.

“Tuan Lee Donghae. Apakah saudara bersedia menerima Kim Hyosun sebagai istri dengan tulus dan ikhlas hati?” tanya sang pastor pada Donghae.

“Ya. Saya bersedia”

“Bersediakah Saudara mengasihi, menghormati dan selalu setia kepada istri saudara seumur hidup sampai maut memisahkan?”

“Ya, saya bersedia”

“Bersediakah saudara menjadi ayah yang baik atas anak-anak yang dipercayakan Tuhan kepada saudara dan mendidik mereka dalam iman kepada Tuhan?” tanya pastor itu lagi.

“Ya, saya bersedia”

Sang pastor memusatkan perhatiannya berganti ke arahku dengan memberikan tiga pertanyaan yang sama.

“Nona Kim Hyosun. Apakah saudara bersedia menerima Lee Donghae sebagai suami dengan tulus dan ikhlas hati?” tanya sang pastor padaku.

“Ya. Saya bersedia” jawabku mantap.

“Bersediakah Saudara mengasihi, menghormati dan selalu setia kepada suami saudara seumur hidup sampai maut memisahkan?”

“Ya, saya bersedia”

“Bersediakah saudara menjadi ibu yang baik atas anak-anak yang dipercayakan Tuhan kepada saudara dan mendidik mereka dalam iman kepada Tuhan?” tanya pastor itu lagi.

Aku menelan ludahku sejenak, kemudian menjawabnya “Ya, saya bersedia”

            Setelah pernyataan itu selesai, Kyu oppa berbisik kepadaku.

“Dunia baru tidak akan datang begitu saja tanpa kau mencarinya, Hyosun-ah. Mungkin akan sulit membuatnya jatuh cinta padamu. Tapi percayalah satu hal… Ulurkan tanganmu” aku memberikan tangan kananku dan dengan perlahan Kyu oppa mengarahkannya di atas Alkitab.

“Batu sekeras apapun akan pecah dengan sendirinya hanya karena tetesan air yang konsisten” katanya kemudian telapak tangan Donghae menyentuh punggung tanganku dengan sendirinya.

            Aku masih belum menoleh ke arahnya. Kyu oppa langsung meletakkan tangan kami berdua di atas Alkitab dan inilah bisikan terakhirnya “Mewakili kakakmu, tugasku selesai mengantarkanmu sampai di sini”

            Airmataku runtuh lagi. Ingin sekali aku memeluk Kyu oppa sekarang. Belum pernah aku mendengar ucapan-ucapan indah dan sebijak ini dari mulutnya. Dia seperti kerasukan malaikat hari ini.

“Di hadapan Tuhan, Bapak Pastor/Imam, dan para saksi, serta umat beriman yang hadir di sini. Saya Lee Donghae dengan tulus hati memilih Kim Hyosun sebagai istri saya. Saya berjanji untuk setia kepada istri saya dalam suka maupun duka, dalam untung maupun malang, di waktu sehat maupun sakit. Saya tetap mencintai istri saya sepanjang hidup saya. Demikian janji saya di hadapan Tuhan dan Injil Suci ini.”

Janjinya begitu menggetarkan hatiku. Andai saja janji ini adalah benar-benar sebuah janji yang tulus dari mulutnya, aku akan sangat bahagia atas ini semua. Berharap semua ini bukanlah kepura-puraan adalah mimpi. Tapi Lee Donghae, perlu kau tahu bahwa aku akan membuat janji yang sesungguhnya di hadapan Tuhan, di atas Injil dan di depan seribu pasang mata tamu undangan yang kini datang.

“Di hadapan Tuhan, Bapak Pastor/Imam, dan para saksi, serta umat beriman yang hadir di sini. Saya Kim Hyosun dengan tulus hati memilih Lee Donghae sebagai suami saya…”

“Saya berjanji untuk setia kepada suami saya dalam suka maupun duka, dalam untung maupun malang, di waktu sehat maupun sakit. Saya tetap mencintai suami saya sepanjang hidup saya. Demikian janji saya di hadapan Tuhan dan Injil Suci ini.”

            Aku benar-benar berjanji akan memperlihatkan dunia baru padamu, Lee Donghae. Membuka matamu untuk melihat sesuatu yang tak terlukiskan. Mungkin sekarang kau menutup pintu hatimu rapat-rapat. Tapi suatu saat nanti, sebagai istri yang mencintaimu, aku akan berusaha masuk seperti pencuri hatimu saat kau lengah melalui celah-celah yang ku temukan. Itu janjiku, dihadapan Tuhan dan di atas Injil ini.

“Atas nama Gereja Katolik dan di hadapan para saksi, orangtua, serta saudara sekalian, saya menyatakan bahwa dengan mengucapkan janji pernikahan di hadapan Tuhan dan Kitab Suci, pernikahan Lee Donghae dan Kim Hyosun ini adalah pernikahan yang sah menurut Hukum Gereja Katolik. Melalui sakramen ini, Lee Donghae dan Kim Hyosun telah resmi menjadi suami istri. Semoga sakramen ini menjadi sumber kekuatan dan kebahagiaan bagi kedua mempelai. Apa yang telah dipersatukan oleh Tuhan janganlah diceraikan oleh manusia.” Pastor menyelesaikan pemberkatannya, kemudian mengijinkan kami bertukar cincin satu sama lain.

            Donghae memasangkan cincin bertahta berlian kecil itu di jari manisku. Aku masih belum berani menengadah untuk menatapnya. Bahkan seinci pun. Kemudian aku melakukan hal yang sama padanya, melingkarkan cincin ke jari manisnya. Aku bisa merasakan telapak tangan yang sama dinginnya dengan telapak tanganku.

“Tuhan, berkatilah kedua cincin pernikahan ini supaya menjadi lambang cinta dan kesetiaan bagi kedua suami istri ini. Semoga cincin ini mengingatkan mereka akan cinta kasih dan kesetiaan yang mereka janjikan pada hari bahagia ini.” kata pastor itu untuk yang terakhir kalinya.

            Seperti sebagaimana seharusnya, Donghae mendekatiku dan membuka selubung yang sedari awal menghalangi pandanganku. Mau tidak mau aku menengadah untuk menatapnya walaupun aku sangat gugup. Rasanya aku ingin memegangi dadaku, takut-takut debarannya bisa didengar olehnya atau bahkan jantung itu sendiri yang lompat dari tempatnya. Dia sangat… tampan. Belum pernah aku melihatnya setampan ini, atau sebenarnya aku baru sadar kalau dia memang benar-benar tampan? Dia mengambil kalung yang pernah diperlihatkan oleh neneknya padaku kemudian memasangkannya di leherku dengan sempurna. Simbol keluarga Lee. Sempat aku merasakan lapisan epidermisnya menyentuh kulit leherku pelan hingga darahku terasa berdesir. Dan setelah itu, dia meraih tengkukku, mendekatkan wajahnya hingga aku bisa mencium aroma badan dan nafasnya dari jarak paling dekat. Aku menutup mataku.

“Maafkan aku” bisiknya kemudian menyapukan kecupan pelan di atas kulit pipiku selama beberapa detik.

            Tidak peduli permintaan maaf atas apa, entah karena kesalahannya dua minggu lalu di kantornya atau karena dia terpaksa harus menciumku di hadapan para undangan, aku tidak peduli lagi. Ini untuk pertama kalinya seorang Lee Donghae menciumku. Walaupun ciuman bukanlah hal yang asing untukku, tapi kali ini sangat berbeda dengan apa yang pernah aku rasakan saat Max menciumku. Aku tidak bisa menafsirkannya. Aku hanya bisa merasakannya hingga airmataku meleleh. Dia menatapku setelahnya, kemudian mengusap air asin yang terlanjur keluar dari tempatnya. Diiringi tepuk tangan seluruh oleh semua orang yang berada di Katedral Myeongdong ini, secara agama Katolik kami resmi menjadi sepasang suami istri. Dan sekarang aku menyandang status sebagai Nyonya Lee.

‘Umma, Appa… Apakah kau melihatku dari atas sana? Aku menikah. Aku menikah dengan orang yang benar-benar aku cintai. Kalian tidak perlu khawatir, aku berjanji akan hidup bahagia dengannya. Aku akan bekerja keras. Dan kakak, sekalipun kau tidak ada di sini, aku menganggapmu ada melalui tangan Kyu oppa.”

_

“Kau pendek sekali hari ini, sampai-sampai aku harus menunduk” celetuknya saat aku mulai membersihkan make up wajahku dengan kapas. Aku berfikir sejenak, mencerna obrolan yang dia mulai.

“Ohh, maksudmu ini?” aku berbalik menghadapnya dan mengangkat bagian bawah gaun yang belum ku lepas agar pantofel pemberiannya terlihat lebih jelas.

Dahinya berkerut bercampur senyum simpul dari raut wajahnya “Kau memakainya?”

“Sepatu hak tinggi tidak baik untuk peranakan” kataku lalu melengos dan menghadap ke cermin lagi. Dia terkekeh.

Aku menatapnya dari pantulan kaca. Dia melepaskan tuxedo-nya dan berjalan ke kamar mandi dengan membawa pakaian yang lebih santai sebagai pengganti baju formalnya. Aku masih belum percaya bahwa kami benar-benar telah menikah hari ini.

“Donghae, bisakah kau keluar sebentar? Aku akan mengganti gaun ini. Tidak mungkin aku menggantinya di kamar mandi kan?” tanyaku saat dia keluar dari kamar mandi dan tengah mengenakan pakaian santainya.

“Okey…” dia meletakkan pakaian kotornya di atas ranjang begitu saja kemudian berjalan menuju pintu.

“Oh, iya…” katanya terputus.

“Aku minta maaf atas kejadian dua minggu lalu” lanjutnya dengan nada yang terdengar pelan.

“Kejadian yang mana? Saat kau bertanya tentang keperawanan atau saat kau dan Jessica berpelukan di depanku?” tanyaku sinis saat memori-memori itu berkelebatan di ingatanku.

Dahinya berkerut “Kau mempermasalahkan kami?”

“Seharusnya aku punya hak untuk mempermasalahkan itu karena waktu itu aku adalah calon istrimu, Donghae-shi. Tapi kenyataannya semua ini hanya pura-pura, jadi aku tidak akan menuntut apapun. Bahkan saat kau berciuman dengannya seminggu lalu, di matamu aku juga tidak punya hak untuk menuntut apa-apa”

            Entah kenapa mengingat kejadian-kejadian itu rasanya ada api yang selalu berkobar di dadaku. Panas! Dan itu selalu memicu emosiku. Mendengar itu Donghae terperangah dan berusaha menjelaskan.

“Aku…”

“Kau kenapa?” potongku cepat.

“Kau tidak punya kewajiban untuk menjelaskan apapun padaku, Donghae. Kau sudah tahu statusku sebagai apa di sini. Aku juga tidak akan mengumbar bagaimana perasaanku saat melihat kalian melakukan itu. Toh, kau tidak akan peduli dan menganggapnya angin lalu” aku bangkit dari tempat dudukku lalu melepaskan tiara dan selubung yang masih menyangkut di kepalaku. Aku memilih tidak menghadapnya.

“Kalau aku peduli?”

-DEG-

Aku menoleh ke arahnya. Aku tidak tahu tatapan macam apa yang dipancarkan oleh matanya saat ini. Aku tidak mengerti.

“Dengar ya, Donghae. Walaupun kau menganggap semua ini adalah pura-pura, mau tidak mau statusku adalah istrimu. Lindungilah namaku dengan kelakuanmu. Kalau Kyu oppa atau orangtua angkatku tahu, kau akan menyakiti mereka semua.”

“Kau tidak menjawab pertanyaanku, Hyosun-ah. Bagaimana kalau aku peduli dengan semua itu?”

Aku menghela nafas panjang. Rasanya tidak ada tenaga lagi untuk melanjutkan perdebatan ini. Aku lelah dan malas meladeninya.

“Pergilah, aku akan berganti baju”

“Aku akan menyewa kamar yang lain. Sepertinya kau tidak akan nyaman berada di dekatku”

Aku berbalik dengan cepat dan menyalaknya frontal “Bagaimana bisa kau mau menyewa kamar yang lain??? Kita sudah menikah!! Apa kata orang di luar?”

“Lalu maumu apa? Kau mau kita sama-sama tidur di ranjang itu?” tak kalah garangnya Donghae menunjuk ke super bed di belakangku.

“Aku bisa tidur di sofa” sergahku.

“Terserah kau!”

            Tanpa pikir panjang Donghae keluar dan membanting pintunya. Aku bisa melihat guratan kemarahan yang ada di wajahnya. Lagipula, kenapa aku harus memulai pertengkaran lagi dengannya? Bodoh!!! Kenapa aku tidak bisa diam dan bertingkah seolah tidak terjadi apapun antara dia dan Jessica? Sebegitu cemburunya kah aku? Demi Tuhan ini sangat menyebalkan.

            Sudah hampir 6 jam aku sendirian di kamar hotel ini. Kemana dia? Apa dia benar-benar akan menyewa kamar lain? Apa aku tadi keterlaluan? Ya ampun, ini sudah hampir jam sepuluh tapi dia belum juga kembali.

~Ceklek~

            Aku mendengar pintu kamar terbuka dan mendapati Donghae dengan malas melangkah masuk. Dia menatapku sejenak saat aku berdiri dari sofa untuk memastikan bahwa yang datang adalah dia.

“Donghae-shi, apa kita bisa bicara sebentar?” kataku.

“Aku lelah. Aku malas berargumen lagi denganmu” jawabnya dengan nada yang sama malasnya tatkala memandangku.

“Kita bisa bicara baik-baik”

Dia berfikir sejenak, lalu mendekat dan memilih duduk di sebelahku.”Katakan”

“Tentang inseminasi, sepertinya perawan atau tidaknya seseorang bukanlah kendala. Minggu lalu aku sudah berkonsultasi dengan Lexy.”

Dia mengelus dahinya sendiri “Tetap saja itu menghambat, Hyosun-ah. Jika wanita yang sudah tidak virgin saja hanya memiliki kesempatan 10% bagaimana yang masih virgin? Potensinya akan lebih kecil”

“Aku mengerti. Tapi apa salahnya untuk mencoba ini, Donghae-shi? Setidaknya kalau ini gagal kita bisa mencoba bayi tabung”

“Atau…”

“Kita bisa melakukannya dengan normal, Donghae-shi” kataku sedikit ragu, tapi aku serius untuk mengatakan ini.

Dia menoleh dengan cepat, menatapku tak percaya.

“Ini yang paling tidak beresiko” tambahku.

“Aku tidak mau mengambil terlalu banyak darimu, Hyosun-ah!” sergahnya cepat.

“Aku tidak akan menganggap kau mengambil terlalu banyak, Donghae-shi”

            Dengan ragu aku menggeser tubuhku agar lebih dekat dengannya lalu mengalungkan tanganku di lehernya dengan pelan. Aku masih mencoba agar lebih dekat lagi. Ketika dia tidak protes, aku memberanikan diri mendekatkan wajahku sedekat mungkin dengan wajahnya, dia juga melakukan hal yang sama walaupun setengah ragu.

“Hyosun-ah, ini tidak mungkin” protesnya lalu melengos begitu saja tapi tidak menghempaskan tanganku dari badannya.

“Apanya yang tidak mungkin?”

            Donghae menatapku lagi dan kali ini dia berani memberikan sebuah kecupan di bibirku hingga membuat mataku terpejam sesaat. Aku merasakan setrum-setrum kecil yang menggelitik saraf-saraf di bibirku. Aku menikmatinya. Dia melepaskan kecupan itu lalu memandangku sejenak untuk melihat reaksiku, kemudian melanjutkan ciuman yang sesungguhnya.

Dia berhenti dan mencoba melepaskan tanganku“Tidak, ini tidak benar. Ini gila! Jangan seperti ini. Aku akan sangat merasa bersalah padamu, Hyosun-ah”

“Percayalah aku tidak akan mempermasalahkannya. Setidaknya sekali ini saja kita lakukan, jika gagal kita akan mencoba alternative”

“Ini akan membuat pernikahan…”

“Please, kalau kau bicara lagi aku tidak bisa melanjutkan ini” aku menutup mulutnya dengan beberapa jariku.

            Tanpa dia meneruskan kalimatnya, aku tahu dia akan mengatakan bahwa pernikahan kami tak-terceraikan jika disempurnakan dengan persetubuhan. Dan memang itulah yang aku mau sekarang ini. Aku menginginkan perkawinan yang tak-terceraikan. Berbeda dengan hari-hari yang telah lalu ketika aku belum sadar bahwa aku begitu menginginkan Donghae. Aku hanya berharap sentuhan yang paling intim ini mampu membuatnya luluh walaupun sedikit.

            Aku memandangnya dengan tatapan memohon agar dia mau memenuhi permintaanku. Dan dia kembali mendekatkan wajahnya setelah beberapa saat berfikir. Aku merasakan nafasnya yang hangat saat dia mulai menciumku pelan. Dia seperti melakukan percobaan untuk meminta ijin. Terasa sangat ragu-ragu. Kemudian ku beranikan untuk membalasnya dan barulah bibir kami benar-benar bertaut, memberi respons satu sama lain. Aku tidak tahu apakah dari awal dia memang menginginkan ini atau tidak, tapi yang aku rasakan seperti itu. Dia seperti memiliki hasrat yang sama denganku. Dia masih menghujaniku dengan ciuman-ciumannya sampai beberapa menit sebelum foreplay dan menurutku ini terlalu lama. Ini semacam rasa… kerinduan yang mendalam. Apakah benar ini sebuah kerinduan?

_

            Ku kerjapkan mataku dengan susah payah. Rasanya seperti ada lem pekat yang kompak mengapit kedua kelopak mataku. Tapi akhirnya aku berhasil membukanya sedikit demi sedikit. Pandanganku terantuk pada sosok yang kini tertidur pulas di sampingku. Badan kami terbungkus oleh kain selimut sebagai pengganti pakaian kami yang tercecer di lantai. Aku juga masih merasakan rasa nyeri yang menyerang daerah pangkal pahaku. Bukan bayi tabung atau inseminasi seperti yang telah kami bahas sebelumnya, melainkan cara alami untuk mengurangi resiko agar tidak semakin melebar kemana-mana. Aku tidak menyesal sedikitpun telah melakukan ini untuk pertama kalinya dengan Donghae karena aku percaya sentuhan fisik seperti ini akan sangat berarti dalam sebuah pernikahan. Dan apa yang kami lakukan telah membuat pernikahan kami benar-benar ‘tak-terceraikan’ di mata agama. Aku akan mempertahankanmu Donghae.

            Aku hendak menyentuh wajahnya yang sangat lucu itu, tapi dia menggeliat hingga mengendurkan keberanianku. Aku menarik salah satu kain yang menutupi badan kami, kemudian turun dari ranjang dan memunguti pakaianku satu per satu. Aku sempat melihat bercak merah yang tertinggal di atas ranjang yang menandakan virginitasku yang telah hilang oleh Donghae. Rasa ngilu yang menyerang, bisa aku tahan hingga aku mencapai kamar mandi untuk menghilangkan sisa-sisa peluh karena ‘aktivitas’ kami semalam.

-TBC-

Big Tanks buat : Melvina Permata Sari a.k.a Lee Hyejin yang udah ngirimin email. Kalo gak ada kamu mereka berdua gak akan nikah2 wkwkwkwkwk. OH, iya FFmu sama Kim Inseul mungkin besok aku posting. Lagi aku edit di sana-sini sekarang…

~Kekkekekekekek…

Tadinya aku gak mau ada malam pertama tapi kenapa malah melenceng beginiiiiiiii /plak. Oh, iya. Chapter ini gak ada full version-nya. Mungkin suatu saat (?) di bagian yang lain aku bikin full, tapi bukan di sini. Nah, banyak banget kemaren yang agak bingung sama hubungan Donghae-Hyosun-Max. Mereka udah sama-sama tahu apa belum sih? Jawabannya belum walaupun Donghae udah tahu semua tentang Hyosun. Mereka semua gak tahu kolerasi antara Hyosun-Max, Hyosun-Donghae, ataupun Max-Donghae. Coba flashback ke chapter2 sebelumnya, aku ngasih percakapan yang nandain kalo mereka gak tahu apa2 loh. Kalau masih bingung, nanti aku ceritain di chapter depan (gatau chapter berapa). Yang jelas aku gak mau cerita apa-apa dulu tentang tulisan yang belum aku ketik satu karakter pun. Buat yang nanya-nanya tentang isi FF ini, aku pasti gak akan jawab. Jangankan kalian, orang yang aku bikinin FF ini aja gak pernah aku kasih bocoran. Kalau di rumah aku lagi ngetik belum selesai dan ada yang baca, aku lebih milih matiin computer lalu ngetik lagi setelah gak ada orang. Kalo udah selesai, boleh deh pada baca. Jadi jangan marah ya kalau aku gak jawab pertanyaan kalian. Aku emang kaya gini. Aku emang gak mau ngasih sesuatu yang belum jadi.

Buat: lee hyunki

  • Kamu mengkritik kalau unsur sastra FF ini kurang? Coba kamu perjelas kritik kamu. Unsur sastra itu setahuku ada dua, yaitu intrinsik dan ekstrinsik. Mungkin yang kamu maksud bukan unsur sastra-nya tapi cenderung Gaya bahasa FF-ku (masuk ke salah satu unsur intrinsik). Aku memang gak terlalu banyak ngasih Gaya bahasa di FF ini. Tapi kalau kamu lebih teliti, kamu bisa tahu kok dimana aku pakai kalimat-kalimat yang sebenernya majas. Seperti personifikasi, metafora, perumpamaan dll. Ada juga kata-kata serapan dan pengandaian. Kalau menurut kamu masih kurang [terlalu biasa], oke gak masalah aku terima. Patokanku nulis FF ini sebenernya Cuma 1, yaitu prioritas ke isi ceritanya ketimbang bahasa. Ada beberapa novel yang pernah aku baca dan kurang lebih udah di translate ke 33 bahasa, bahasanya biasa aja tp isinya yang luar biasa. Aku coba ngambil contoh dari novel2 yg kaya gini, walaupun FFku jga masih kalah jauh banget dari novel2 itu.
  • Kenapa Jessica? Karena menurutku karakter dia kuat dan cocok jadi antagonis di sini.
  • Kamu minta ditambahin salah satu personel T-ARA [Jiyeon] biar kamu punya alasan buat baca FF ini? Aku gak bisa karena aku milih cast asal pilih bukan dengan perencanaan. Itu mengalir begitu aja sesuai feel yang aku dapet saat ngetik. Asal comot gitu aja (?)

Aku ngomong banyak kaya gini karena aku sangat menghargai komentar kamu. Aku gak bisa janjiin apa-apa di FF ini, bahkan happy ending pun aku juga gak mau janji. Sekarang tinggal keputusan kamu aja mau tetep baca atau enggak. FF ini bakalan panjang, itu aku pastiin:D [Gatau ampe chapter berapa]

Buat yang lain yang mau kritik silahkan, Apapun itu. Tapi aku harap kalian ngerti sebenernya kritik kalian itu apa. Buatku pujian yang terlalu banyak dan gak diiringi dengan kritikan malah bahaya kalau aku gak bisa mengendalikan dan merasa udah di awang-awang. Jadi, silahkan kalau mau mengkritik. Aku gak akan marah-marah dan nge-tweet yang gak jelas gara-gara komentar kalian. Aku menghargai kalian sebagaimana kalian menghargai tulisanku.

Buat: Demone [kalo gak salah]

Aku inget komen kamu tapi lupa di postingan mana. Aku udah bongkar-bongkar tadi, tapi karena kebanyakan komen aku jadi rada susah. Kamu bilang yang mengeluarkan surat cerai bukan uskup? Coba kamu check di SINI deh.

Dan ini kalo aku terusin bakalan lebih panjang dari FF-nya…Tengkyu semua udah mau baca, komen, like, dan nungguin postingan ini…

LUVE U ALL:D

266 responses to “Let’s Make a Baby [Chapter-7]

  1. Aku ngga aka mendebat ff ini. Karena author menawarkan bahasa yg bener2 mentupi segala yg sebenrnya kontra. Yak! Tp ini jalan ceritamu hufffttt reader mah apa atuh. Feelingku bilang apa author bener2 katolik? Km bener2 detail tentang upacara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s