MY SISTER IS MY GIRLFRIEND PART 4 END

Title : My Sister is My Girlfriend Part 4 END

Author  : soeunrim

Casts  : Lee Jinki, Lee Nayoung (a girl whoever)

Other casts : Kim Soohyun, Song Jihyo, Kim Jonghyun, Song Joongki

Length : Series

Note: Pelase jangan baca kalo ga mau komen. Tidak untuk silent readers! Thank you! 🙂

—————————————————————————————————————————————————

Desember, 2010

Lee Jinki POV

Jonghyun hyung benar. Aku harus memutuskannya. Jika tidak ingin datang, maka aku tidak perlu datang. Jika aku masih Lee Jinki yang dikenalnya, maka aku harus berjuang hingga akhir mendapatkan yang kuinginkan.

Aku dan Nayoung—kami bukan anak kecil lagi sekarang seperti 5 tahun yang lalu.

Dan statusnya sebagai adikku juga sudah lama sekali terhapuskan dengan meninggalnya orang tua kami yang baru 4 bulan menikah.

Aargh, aku merasa kepalaku mau pecah memikirkannya.

Aku memutar-mutar gelang perak imitasi yang 5 tahun lalu kuberikan pada Nayoung sambil tidur-tiduran malas di ranjangku. Acara itu besok. Aku mengacak rambutku frustasi dan menenggelamkan wajahku pada bantal. Sudah hampir gila sekarang.

Sejak meninggalkan Busan, tidak ada satu hari pun terlewat tanpa memikirkannya. Apakah ia sendirian di sana, apakah dia akan rapuh lagi seperti waktu ibunya meninggalkannya, apakah ia bahagia atau menangis setiap hari… Pikiran-pikiran inilah yang menghantuiku. Karena apapun jawabannya, aku tetap tidak bisa berada di sisinya. Aku hanya akan memperburuk keadaan baginya.

Aku menggenggam plester kuning bergambar jerapah di tangan kananku dan mengingatnya. Apa kabar dia sekarang. Tapi, dia sampai bisa bertunangan dengan Soohyun, bahagia kah. Dia pasti telah melupakan aku. Mengapa dia mengembalikan semua barang-barang ini? Apakah dia ingin bilang padaku bahwa “Hey Lee Jinki. Sorry ya, aku sudah lupa padamu. Datanglah ke hari pertunanganku dengan Soohyun.”

Tujuan dia mengembalikan barang-barang ini menjadi tanda tanya besar bagiku.

Dia bisa saja kan mengembalikannya tahun lalu, karena dia sudah mengetahui alamatku di Seoul tahun lalu, saat aku bertemu Minwoo yang kuliah di Seoul juga. Minwoo memberitahukan alamatku ke Soohyun, dan Soohyun akan memberitahukan ke Nayoung. Jadi, kenapa juga ia harus mengirimkannya sekarang, sambil memberitahukan bahwa ia akan bertunangan.

Saat aku memutuskan untuk mengambil foto keluarga besar kami, aku sempat tertegun ketika melihat tulisan rapi kecil-kecil di pojok kanan bawah. Sepertinya tulisan Appa, dan tulisan itu menyita perhatianku.

Kutinggalkan foto dan surat di baliknya untuk kedua anakku, Lee Jinki dan Lee Nayoung jika suatu hari aku pergi sebagai wasiat.

Februari 2005.

Appa… Appa menulis ini?! Apa-apaan kalimat ini?! Memang foto keluarga ini yang kami pasang di ruang keluarga kami, dan ia menulisnya sekitar bulan Februari 2005, sebelum keberangkatannya ke Seoul. Ternyata hal-hal kebetulan seperti ini memang ada. Tuhan memang ada. Ia meninggalkan surat sebagai wasiat untukku dan Nayoung.

Surat..?! Tunggu, Appa bilang surat?!

“Jonghyun hyung!” Aku berteriak-teriak memanggil Jonghyun hyung. Ia datang dengan wajah kesal. “Ada apa lagi sih?”

“Hyung, di amplop yang kemarin ku buka, adakah surat selain surat Nayoung? Atau di dalam undangan pertunangannya?”

Jonghyun hyung serta merta menggeleng.

“Hah?”

Tanpa pikir panjang, aku bergegas berdiri dan membuka lemariku, memasukkan satu-dua potong baju pada travelling bag-ku dan Jonghyun hyung hanya menonton dari pintu.

“Ya, Lee Jinki bego. Mau kemana kau?”

Aku memakai jaketku dan mengambil semua barang-barang kenangan itu serta undangan pertunangan Nayoung dan Soohyun dari atas tempat tidurku dan berjalan melewatinya. Jonghyun hyung mencengkram lenganku, tersenyum penuh makna.

“Sudah memutuskankah?” tanyanya.

“Hemm,” jawabku. “Aku akan ke Busan sekarang.”

Jonghyun hyung mengacak rambutku. “Good boy.”

Aku tersenyum licik padanya. “Tatata! Kunci mobilmu kuambil barusan dari sakumu! Hahaha. Pinjam mobilmu ya hyung.” Dan aku berlari keluar dari rumah. Jonghyun hyung mengejarku namun aku terlalu licin baginya.

“Ya! Bocah tengik sialan!”

“Pinjam, pinjam sebentar saja hyung!” kataku sambil berlarian tertawa-tawa. Aku masuk ke mobilnya dan menstrarter. Jonghyun hyung mengetuk-ngetuk pintu mobilnya. “Ya! Buka!”

Ia akhirnya mundur, menyerah juga. “Oke, baiklah. Kembalikan dalam keadaan utuh.”

“Arasseo, hyung. Aku pergi dulu hyung. Bye bye.”

Jonghyun hyung cemberut sambil mengeluarkan sumpah serapah, tapi saat mobil ini sudah melaju, bayangannya tertangkap oleh spion dan dia tersenyum. Ah hyung-ku, I love you.

Aku memakai seatbelt. Tujuan sudah ditetapkan. Let’s go to Busan.

Flashback

Maret, 2006

Lee Jinki POV

Kami di subway menuju Seoul sekarang. Karena sudah sangat malam, kereta ini sangat sepi. Dalam gerbong ini aku melihat hanya ada seorang pria mabuk yang baru pulang kerja, seorang kakek-kakek yang sudah renta, serta kami—aku dan Nayoung.

Kami duduk berjauhan dalam satu baris kursi. Nayoung duduk sambil menyandarkan kepalanya di tiang agak ke pojok, sedangkan aku duduk di tengah gerbong, 3 meter jauhnya darinya. Ia memegang keningnya. Tidak menangis, tapi kusimpulkan, tidak menangis bukan karena ia kuat. Tidak menangis juga bisa jadi karena luka terlalu dalam sehingga mengeluarkan air mata pun tidak sanggup lagi. Aku memandangnya dari kejauhan. Ia pingsan dua kali tadi. Yang pertama, aku berusaha menyadarkannya sendirian, di lantai 3 gedung sekolah kami setalah pesta kembang api usai. Ia bangun, lemas sekali.

Yang kedua, ia pingsan lagi ketika kami turun ke bawah dan disambut tatapan tanda tanya Jihyo, Soohyun, dan lainnya. Kami naik secara terpisah, tapi turun bersama dengan keadaan muka-suram karena mendengar berita kematian orang tua kami.

“Aku dan Nayoung akan ke Seoul,” kataku pada mereka. “Orang tua kami kecelakaan.”

Jihyo menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Nayoung tersadar tidak lama kemudian dan hanya berjalan dengan tatapan kosong melewati mereka. Aku menyusulnya.

“Aku akan memberi kabar kalian, bye!” Aku melambai ke arah mereka dan pergi bersama Nayoung. Dan di sinilah kami, di subway terakhir menuju Seoul ini. Kami tidak mengganti baju seragam kami dan tidak membawa apa-apa.

Aku bergeser pada Nayoung.

Ia mendongak padaku, menatapku dengan tatapan aneh… Tatapan benci, jijik, seolah-olah aku adalah makhluk yang amat nista. Aku hanya ingin memberinya pelukan, karena kupikir ia membutuhkannya. Tapi ternyata tidak. Ia malah menatapku dengan tatapan seolah-olah aku adalah pendosa. Hei, ada apa…

“Jangan mendekat.”

Katanya dengan suara bergetar yang sangat dingin. Ia gemetar, seluruh tubuhnya gemetar.

“Jangan… pernah, mendekat…lagi, padaku.”

Ia mengulangi. Tatapannya kemudian berubah lagi menjadi tatapan terluka.

Aku ingin mengingatkannya bahwa kami baru saja berciuman beberapa waktu yang lalu dan saling memberitahukan perasaan kami, bahwa sesungguhnya perasaan kami sama-sama lebih dari sekadar kakak dan adik, bahwa aku menyayanginya, tapi Nayoung bertingkah aneh, seolah-olah aku adalah kuman yang tidak ingin disentuhnya karena jijik.

And here we are. Kami sampai di Seoul Hospital jam 2 pagi. Nayoung berjalan bergegas di depanku, seperti mau membunuh orang. Auranya tidak begitu baik, ia gemetar hebat. Kami berbelok di lorong dan menemukan ruang UGD dimana polisi sedang mengelilingi tubuh orang tua kami. Mayatnya sedang diautopsi dan Nayoung dengan tidak sabar menerobos kerumunan itu, memastikan apakah memang benar Appa-nya yang terbaring di sana.

Dan sepertinya benar. Karena ia berjalan mundur ke belakang sambil gemetar dan menabrak tembok. Ia terduduk di bawah tembok dan aku menghampirinya. Ia tidak bergeming, aku hanya berfikir bahwa sentuhanku padanya akan membuatnya merasa lebih baik. Tapi ternyata tidak. Ketika aku memeluknya, ia menepis tanganku dan berontak dari pelukanku lari berlari. Aku sempat hampir mengejarnya, namun ia cepat sekali menghilang sementara beberapa polisi dan dokter yang mengautopsi mayat orang tua kami mencegahku.

“Lee Jinki ssi, Anda adalah keluarga kedua korban, benar?”

Aku mengangguk, mengkhawatirkan Nayoung. Kemana anak itu?

“Ada beberapa hal yang harus kami bicarakan. Terkait dengan pengurusan jenazah dan sebagainya. Bisakah ikut kami sekarang?”

Lagi-lagi aku mengangguk. Semoga Nayoung baik-baik saja.

Lee Nayoung POV

Tepat esoknya setelah ujian kelas 3 kami berakhir, hujan turun lebih lebat dari biasanya.

Semua hadirin yang hadir dalam upacara ini membawa payung berwarna gelap tanda mereka berduka atas perginya dua orang dari dunia ini.

Aku berdiri dari kejauhan melihat Jinki dan seluruh kerabat melakukan upacara melepas kepergian Appa dan ibu Jinki. Jihyo datang pagi tadi, mengetuk pintu kamarku sekitar 10 kali hingga aku akhirnya memutuskan untuk keluar. Jihyo memelukku dan membantuku bersiap-siap, membawakan satu setel baju hitam yang kupakai pada upacara pemakaman.

Setelah memastikan bahwa mayat itu adalah mayat orang tuaku, aku pulang ke Busan sendirian meninggalkan Jinki menlakukan pengurusan autopsi jenazah dan lainnya. Lalu, sesuai dengan yang ayahku inginkan, mereka berdua kami bawa ke Busan untuk dimakamkan.

Jinki berdiri sangat jauh dariku, ia tidak tergapai lagi. Aku kerap menampar-nampar wajahku agar tersadar dari hipnotisnya, agar tidak dia lagi yang bertahan di benakku, agar bukan dia lagi yang menghantui mimpi-mimpiku, karena dia hanyalah kakakku. Tidak lebih. Kejadian malam itu, saat pesta kembang api, hanyalah sebuah kecelakaan. Suasananya saat itu memang sangat mendukung kami melakukannya, tapi itu bukan karena adanya perasaan yang lebih pada kakakku sendiri. Aku berusaha meyakinkan diriku bahwa aku tidak pantas memiliki perasaan ini terhadap kakak tiriku sendiri.

Tiba-tiba Jinki melihat ke arahku. Ia masih setampan biasanya. Memakai kemeja hitam dan dasi hitam, sangat-sangat tampan. Ia juga tidak menangis. Luka kami porsinya sama.

Aku membuang muka.

Ia menghampiriku. Aku mundur dua langkah, mau apa dia di tengah kerumunan ini. Tapi, dia hanya mengangkat tangan kanannya dan memegang kepalaku, mengelusnya.

“Semuanya akan baik-baik saja,” katanya, tidak tersenyum. Tapi, aku tahu ia serius.

Aku menggigit bibir dan tertunduk karena seberapa pun aku menepisnya dari benakku, aku selalu memikirkannya dan menginginkannya.

“Semuanya gara-gara kau dan aku,” aku tidak tahu, tapi kata-kata ini muncul begitu saja pada benakku dan keluar begitu saja dari mulutku.

Ia menatapku dalam, semua orang melihat kami. Ada Soohyun, Jihyo, dan yang lain, tak jauh dari kami, membawa payung payung mereka. Upacara memang sudah usai. Appa dan Ibu Jinki sudah dimakamkan.

“Gara-gara kau dan aku.”

Aku mengulanginya lagi agar Jinki mengerti apa yang sedang aku bicarakan. TENTANG APA.

“Karena kita saling mencintai?”

Kata-kata Jinki terdengar sangat getir dan menyakitkan.

Mulutku langsung terasa pahit dan hujan di sekitar kami makin deras. Aku melihat bahu Jinki bergetar dan ia menangis, sesenggukan di hadapanku. Tangannya yang memegang gagang payung ikut gemetar. Ia menggigil. Dalam hatiku yang terdalam, aku ingin sekali memberinya pelukan, tapi hanya tidak bisa. Aku hanya terpaku pada tempatku, menatapnya yang menangis dan pelan-pelan mengatakan kalimatnya padaku.

“Bukan hanya kau yang kehilangan, Lee Nayoung,” ia mengatakannya sambil menunduk. Aku menatapnya. “Aku memiliki kehilangan yang sama denganmu. Aku juga tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Bukankah adil kalau kita bersama?”

Aku hanya terdiam menatapnya dan ia memang tidak membutuhkan jawabanku.

Malam itu, aku dan dia menandatangani warisan yang diberikan kuasa hukum Appa pada kami, bahwa kami sudah dapat memegang warisan kami sendiri, bahwa mereka meyakinkan kami akan hidup normal seperti biasanya karena uang yang Appa dan Ibu Jinki tinggalkan sangatlah banyak.

Setelah itu, kami berjanji bertemu di beranda.

Ia menggenggam tangaku, menciuminya. Kami belum sempat mengganti baju hitam-hitam kami, masih berharap bahwa ini semua hanyalah mimpi bagi kami.

“Oppa.”

Tiba-tiba saja kata-kata ini keluar dari mulutku. Kata-kata yang dirindukan Appa berada di rumah ini. Aku memanggilnya Oppa. Dan hari ini, aku dengan mudah mengatakannya. Meyakinkan diriku sendiri, bahwa ia HANYALAH oppa-ku.

“Kau hanyalah oppa-ku. Kita tidak seharusnya bersama.,”

Karena kalau aku berada bersamamu aku akan mencintaimu lebih dari rasa cinta seorang adik kepada kakaknya. Karena aku rapuh berada bersamamu, kau menghantuiku. Karena jika aku ada di dekatmu, aku terus menginginkanmu. Karena jika kami bersama, tidak aka nada lagi hidup yang bahagia, akan berakhir bencana seperti kematian Appaku dan Ummanya.

Jadi memang kami harus tidak bersama. Aku memutuskan untuk pergi kuliah ke kota lain dengan uang pemberian Appa setelah hari kelulusan, meninggalkannya dan kota ini.

Tapi, aku terlambat. Esok paginya, ia telah pergi lebih dulu, meninggalkan aku… sendirian.

Desember, 2010

Lee Jinki POV

Seharusnya aku naik subway saja.

Setelah menyetir tidak karuan selama hampir sehari semalam, aku sampai di Busan. Kota ini tidak banyak berubah. Aku berbelok pada jalan menuju rumah kami dan aku melihatnya. Pohon besar yang dulu ada di depan rumah kami sudah ditebang. Dan cat nya baru. Nayoung telah menggantinya.

Aku turun dari mobil dan memencet bel. Sekali, dua kali, tiga kali. Tidak ada yang keluar. Aku mengetuk-ngetuk gerendel di pagarnya dengan tidak sabar.

Aku sangat terkejut ketika yang keluar dari pintu rumah kami bukanlah Nayoung melainkan Jihyo. Ia tambah cantik sekarang, rambutnya semakin panjang. Terlihat sangat dewasa. Air mukanya seperti melihat hantu ketika melihatku. Ia seperti tidak bisa bernafas dan berteriak-teriak seperti orang gila.

“Oppa! Oppa!”

Tidak lama seseorang keluar dari pintu dan menunjukkan ekspresi yang sama. Ekspresi yang lebih bodoh, Song Jungki.

“Ya! Kemana saja kau bego?!” Tapi, wajahnya terlihat gembira melihatku. Jungki segera membukakan pintu pagar untukku dan bersiap memelukku, namun aku mendorong wajahnya.

“Nanti saja kita berkangen-kangenannya! Ada yang harus kucari di sini!”

Aku berlari melintasi halaman dan masuk ke dalam rumah. Jihyo dan Jungki mengejar kami, “Hey, sembarangan saja kau masuk hah.”

“Ini rumahku,” kataku sambil menjulurkan lidahku pada mereka.

“Haish, tidak berubah,” kata Jungki gusar.

“Ya! Lee Jinki ssi! Ini rumahku juga sekarang! Sejak 5 tahun lalu aku pindah ke sini menemani Nayoung!” Teriak Jihyo saat aku menaiki tangga menuju ruang keluarga kami di lantai 2. Jihyo menemani Nayoung? Mengapa tidak terpikirkan olehku? Ya benar, Jihyo pun memang tinggal bersama kerabatnya di Busan, namun ayah dan ibunya sudah tidak ada. Baguslah ia tinggal di sini sejak 5 tahun lalu setelah aku pergi. Setidalnya Nayoung tidak sendiri…

Aku mengambil pigura kosong di buffet ruang keluarga dan membongkarnya. Tapi, tidak ada, surat itu tidak ada.

Aku bergegas ke kamar yang dulunya menjadi kamarku dan sangat kaget melihat semua barang masih sama pada tempatnya. Nayoung tidak memindahkannya, bahkan Jihyo tidak tidur di sini. Tidak tidak, tidak mungkin ada di kamarku, jadi aku memutuskan masuk ke kamar Nayoung.

Kamar Nayoung… berubah. Ia mengganti wallpaper dinding kamarnya dengan warna yang lebih cerah, dan kamarnya terlihat lebih girly bagiku. Aku menuju meja belajarnya namun langkahku terhenti pada meja di sebelah ranjangnya.

Nafasku tercekat di tenggorokan dan perutku serasa ditojok ketika melihat deretan pigura di sebelah tempat tidurnya. Fotonya dan ibunya masih ada di sana dan di sebelahnya… Ia menyimpan fotoku yang diambil oleh Minwoo pada festival awal maret tahun 2006 dulu. Ia membingkainya dan menaruhnya di sebelah ranjangnya. Namun, melihat foto itu tidak seberapa sakit, karena foto berikutnya lebih menyakitkan lagi. Ia dan Soohyun, pada upacara kelulusan, aku menebaknya. Aku tidak datang karena telah meninggalkan Busan.

Aku membuang muka. Oke, fokus pada tujuanku. Mencari surat.

Aku menuju meja belajarnya dan ada sebuah agenda yang sangat mudah di temukan tergeletak begitu saja. Agenda itu berwarna Biru laut dan aku membukanya, pas sekali pada halaman di mana aku menemukan sebuah…. Surat. Terlipat 4. Aku mengambilnya gemetar. Nayoung telah membacanya lebih dulu dari aku.

Saat aku mengambil surat itu dari agenda Nayoung, hatiku terasa mencelos. Rasanya… surat wasiat Appa adalah sesuatu yang akan menjadi sangat spesial bagi hidupku, aku tidak tahu mengapa tapi aku merasakannya. Jadi, aku memutuskan untuk membacanya…

Untuk kedua anakku, Lee Nayoung dan Lee Jinki

Aku menulis surat ini karena aku merasa bahwa hidupku tidak akan lama lagi. Aneh ya? Aku pun merasa aneh. Rasanya aku tahu saja.

Kalau kami sudah tidak bersama kalian, ada satu hal yang kumohon dengan sangat padamu, Jinki-ya. Janji yang pernah kau ucapkan padaku, untuk menjaga Nayoung, kuharap kau memegangnya sebagai lelaki yang mengucapkannya di depan seorang ayah yang menginginkan semua yang terbaik untuk putrinya.

Karena Nayoung selalu penuh dengan rasa kesepian, selalu penuh dengan perasaan itu.

Jika aku sudah pergi, aku memohon dengan sangat dan kau harus berjanji dengan sepenuh hati, kau harus menjaganya menggantikanku.

Berada di sisinya, selamanya.

Aku merasakan tanganku meremas surat Appa dan hatiku tidak pernah sesakit ini. Semua sudah terlambat, iya kan? Aku tidak bisa memenuhi permintaan Appa untuk terus selalu bersama Nayoung. Nayoung akan dimiliki oleh orang lain.

Tidak. Aku menggeleng. Aku tidak akan menyerah!

Aku bergegas keluar dari kamar Nayoung, membabi buta seperti orang gila, menuruni tangga dan Jihyo serta Jungki masih di sana. Menatapku terheran-heran.

“Nayoung dimana, dimana?” tanyaku tak sabar.

“Dia..,” Jihyo saling bertukar pandang dengan Jungki. “Berada di sekolah kita, bersama Soohyun. Mereka sedang melihat aula sekolah yang akan mereka jadikan tempat pertunangan. Nayoung yang menginginkannya, mengadakan pesta di bekas sekolah kita…”

Lee Nayoung POV

“Apa?!!”

Aku berteriak dengan sangat kencang saat Jihyo memberitahukan lewat telepon bahwa Jinki datang ke rumah kami. Aku menatap Soohyun dan ia menunjukkan ekspresi penasaran dan bertanya, “Kenapa?”

Kami sedang melihat pendekorasian aula tempat kami mengadakan pertunangan besok.

“Kenapa?”

Soohyun langsung memberondongiku dengan pertanyaan saat aku menutup telepon. Aku menggigit bibir, tidak tahu harus atau tidak mengatakan ini padanya. Aku menarik nafas dan menyiapkan diri terhadap berbagai respon yang akan dilakukan Soohyun. Tapi, aku kenal dia. Cowok paling baik dan berjiwa besar yang pernah aku kenal.

“Ada… Jinki.”

Soohyun kaget luar biasa. “Lee Jinki?” tanyanya. Aku mengangguk.

Kami menghabiskan waktu bersama melihat aula dengan tanpa berkata-kata setelahnya. Beberapa kali aku memandang wajah Soohyun, tapi ia memalingkan wajahnya dariku. Aku tahu perasaannya pasti campur aduk. Kami memang sepakat, kami hanya bersahabat selama lima tahun ini, namun besok kami akan bertunangan. Bertunangan dan akan menikah dengannya, untuk melupakan Jinki. Soohyun paham dan memaklumi bahwa cinta bukan untuknya, untuk orang lain.

Karena itu ia takut, terlihat sangat takut mendengar Jinki kembali ke Busan, jadi aku menggenggam tangannya.

“Ya, Kim Soohyun,” kataku. Ia menggenggam tangaku balik. Para pekerja yang mempersiapkan dekorasi tertawa cekikikan melihat kami berpegangan tangan. Aku sedikit malu sih, tapi.. Soohyun, ia harus tahu bahwa aku tidak akan mengecewakannya. “Aku akan bertunangan denganmu besok.”

“Iya, aku tahu,” katanya sambil mencium punggung tanganku yang digenggamnya.

Brak!

Pintu aula terbuka lebar dan menimbulkan gema pada ruangan dan aku segera melihatnya. Dia, Lee Jinki, berdiri di depan pintu, ngos-ngosan.

Dia berlalri menghampiri kami, aku dan Soohyun hanya dapat terdiam di temapt karena kejadiannya sangat sangat cepat dan yang dilakukannya pertama kali adalah berdiri di hadapan kami. Oh my god, dia masih Jinki yang dulu. Dengan rambut selebat dulu, pipi yang tampak sehalus dulu, dan ia berkeringat. Masih Jinki yang sangat tampan. Ingin sekali aku memeluknya bahkan menciumnya, melepakan kerinduan yang aku rasakan selama 5 tahun. Aku langsung membuang muka menatap Soohyun, berusaha menguasai diri.

“You are a little liar.”

Kata Jinki padaku.

“Pembohong.”

Ia mengulanginya. Jinki tampak mengeluarkan sesuatu dari kantong jaketnya. “Lihat apa ini!”

Aku tertunduk dengan sangat dalam. Surat dari Appa, sudah berada di tangannya.

“Kau memang menginginkan aku mengejarmu ke sini kan? Oleh karena itu, kau mengirim kembali barang-barang kenangan denganku, untuk mengingatkanku kembali pada kita, iya kan?!”

Aku hanya menunduk. Soohyun terlihat sangat kaget, mengambil dan membaca surat yang ada di tangan Jinki.

“Benarkah?” tanya Soohyun padaku. “Benarkah begitu, Nayoungie?”

Ada sakit yang amat dalam terdengar dari suara Soohyun yang bergetar. Ya, aku memang telah melakukannya. Aku mengirimi Jinki foto itu, agar ia tahu bahwa Appa meninggalkan surat untuk kami. Agar ia juga datang ke Busan untuk mencari surat itu. Agar ia, datang sebelum aku bertunangan dengan Soohyun…

Aku memang benar-benar bitch.

“Aku..,” aku mengambil nafas. “Juga baru menemukan surat itu seminggu yang lalu. Aku tidak ingin kau membacanya di Seoul jadi aku hanya mengirimi fotonya, agar kau datang ke Busan, mencari surat itu, mencariku…”

Soohyun memandangku dengan tatapan yang amat sangat sedih. Maafkan aku Soohyunnie.

“Maafkan aku Soohyunnie…”

Jinki masih menatapku lurus. Aku tertunduk lagi.

“Aku pikir, aku pikir, Jinki tidak akan datang. Karena aku mengiriminya surat satu minggu yang lalu dan ia tak kunjung datang,” Aku terus tertunduk dalam. “Oleh karenanya, kupikir kita akan terus meneruskan pertunangan. Karenanya aku di sini, percayalah…”

Aku menggenggam tangan Soohyun, tapi Soohyun menepisnya pelan.

“Dan sekarang Jinki sudah datang kan?” kata Soohyun getir. “Jadi kau akan meninggalkanku?”

Aku tertunduk makin dalam. “Kau sudah tahu aku sangat mencintainya, mencintai kakakku sendiri…”

Soohyun hanya memandangku dengan tatapan sedih.

Tiba-tiba Jinki melakukan sesuatu yang aku bahkan Soohyun tidak menduganya. Ia berlutut di hadapan kami. Ia menunduk dan berlutut, lebih tepatnya kepada Soohyun.

“Soohyun-a, aku memohon padamu. Maafkanlah Nayoung.”

Soohyun memandangi Jinki lama, tampak berfikir, matanya menatap Jinki sedih lalu ia berkali-kali menghela nafas.

“Shit!”

Tidak lama kemudian, hal yang juga tidak kuduga terjadi. Soohyun menghampiri Jinki dan membantunya berdiri, lalu serta merta memeluknya erat.

“Kemana saja kau? Dasar bocah tengik, aku merindukanmu, tahu!” Lalu memukul-mukul lengannya dan menempeng kepalanya setelah melepas pelukannya pada Jinki.

“Ya! Soohyunnie, apho! Apho! Ya! Ya!!!”

Jinki tertawa-tawa sambil membalas Soohyun. Aku memerhatikan mereka berdua yang sedang melepas kerinduan, memandangi Soohyun dengan sedih namun ada rasa lega terselip di hatiku saat memandanginya.

Jinki menghampiriku dan menciumku, rasanya masih sama seperti malam itu. Aku membalas ciumannya dengan penuh kerinduan. Yeah, waktu kami masih panjang, banyak hal yang masih akan kami lakukan.

Terima kasih Tuhan, Kau telah mengirimkan kedua lelaki yang pantas dicintai dalam hidupku. Kim Soohyun yang sangat berjiwa besar, dan Lee Jinki, yang berjuang untuk mendapatkan apa yang diinginkannya—bersamaku, selamanya.

THE END

Read, Like, Comment! Gomawo!

P.S. Gw lagi suka Song Jungki sama Song Jihyo LOL

BYE BYE READERS, SAMPE KETEMU LAGI 😀

(labil. belom tau mau nulis FF kapan lagi LOL)

Advertisements

73 responses to “MY SISTER IS MY GIRLFRIEND PART 4 END

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s