My Bestfriend’s Wedding [1/?]

poster credit : @shinbitoki18

“Sekuat-kuat apapun aku menaruh baja di depan pintu hati, toh pada akhirnya runtuh dengan sendirinya karena satu nama, yaitu: Key”


Author: Unie

Genre: Friendship

Rating: PG-12

Length: Chaptered

Cast:

  • Kim Kibum
  • Lee Jinki
  • Lee Hyejin (@HyejinOnew)
  • Kim Inseul (@Injae_Cassie)
  • All member Shinee
  • Shim Syerin (@onyuni)
  • Lee Hyukjae
  • Sung Hyosun
  • Catherin Choi

Disclaimer:

FF ini bener-bener imajinasiku.

Kalau misal ada yang mau komplain karena ada kesamaan.

Ke acc twitterku ya di: @onyuni


Flashback…

Aku menatap pria yang ada dihadapanku ini dengan nanar. Benarkah? Benarkah barusan dia mengatakan itu? Dia ingin mengakhiri hubungan yang masih seumur jagung ini? Apa aku mimpi?

“Hubungan kita terlalu susah, Inseul-ah” katanya parau. Dia menundukkan kepala tak mampu memandangku yang tengah mengeluarkan airmata.

“Apa kau bercanda, Key?” tanyaku setengah tak percaya.

“Tidak, Inseul-ah. Aku tidak bercanda” dia mengangkat kepalanya dan menatapku lekat.

“Apa ada wanita lain?”

Dia menggeleng.

“Jarak kita terlalu jauh. Kita jarang bertemu. Komunikasi sering kali tersendat. Dan sekarang kau memilih untuk menetap di sini. Aku hanya mencoba realistis, Inseul-ah” lanjutya.

            Dia menenggelamkan kedua tangannya ke dalam saku celananya yang sudah Nampak sedikit kusut di bagian depan. Baru beberapa menit dia sampai di California dia langsung menemuiku dan setelahnya dia mengatakan satu hal yang begitu menyakitkan hati. “putus”. Bukan rasa rindu seperti biasanya yang kami bagi, tapi rasa sakit yang setiap detiknya semakin menggerogoti nafasku.

“Aku tidak akan menetap selamanya, Key. Aku hanya menjaga nenekku yang sedang sakit di sini”

“Tapi kau sudah merubah kewarganegaraanmu. You’re not Korean again. You’re American. Kau sudah menjadi warga Negara ini. Selama apa aku harus menunggumu pulang ke Korea sementara kau sekarang telah menjadi warga asing di tanah kelahiranmu sendiri? Mungkin lebih baik kita akhiri saja daripada memaksakan hubungan ini” dia melemparkan pandangannya ke samping.

            Aku sempat melihat kedua bola matanya berkaca. Dia juga merasakan sakit. Tapi kalau dia sakit, kenapa dia harus melakukan ini? Dia terlalu berharga bagiku.

“Di saat orang-orang berkencan dengan kekasihnya, aku hanya menonton TV di dorm. Di saat mereka merayakan tanggal jadian mereka, aku hanya bisa mengucapkannya melalui telephone. Saat aku ingin bercerita tentang sesuatu yang penting dan hanya bisa ku ceritakan padamu, aku hanya bisa berbagi melalui email dan chatting” dia mengelap air asin yang akhirnya turun juga melalui pipi kanannya.

“Kau tahu, saat kau melambaikan tanganmu di bandara aku merasa kehilanganmu. Dan aku merasakan ada sesuatu yang hilang ketika kau bilang, kau mengganti kewarganegaraan. Yang hilang itu adalah harapan. Harapan kita bisa hidup bersama”

            Aku mengehela nafas dan berusaha memberikan tanggapan atas apa yang dikatakannya walaupun suaraku terdengar bergetar.

“Aku pikir kau akan sanggup menjalani ini semua. Tapi kenyataannya aku salah. Aku salah menilaimu, Key”

“Maafkan aku, Inseul-ah. Aku hanya berusaha realistis” jawabnya sementara aku hanya menunduk, seolah tanah yang ku injak jauh lebih menarik ketimbang pria yang ada di hadapanku.

“Tapi hubungan kita realistis, Key. Kita saling mencintai. Kita juga selalu berkomunikasi”

Dia menggeleng menanggapi responsku. Sejenak dia berfikir untuk memberikan jawaban atas pernyataanku.

“Kita memang berpacaran. Tapi aku butuh seseorang yang dekat denganku, Inseul-ah. Ini terlalu menyiksaku. Aku tidak bisa jauh darimu selama ini. Aku tidak mau menyiksa perasaanku sendiri”

Aku menumpahkan airmataku dihadapannya. Membiarkan dia merasakan rasa sakit yang merayap di sel-sel darahku akibat apa yang diucapkannya. Dalam hati aku berfikir semoga dia menarik ucapannya. Tapi aku juga tidak mau membuat orang yang aku sayang merasa “tersiksa” dengan hubungan yang kami bina lebih dari enam bulan ini.

“Pergilah, Key. Aku tidak akan menahanmu lagi. Kau bebas sekarang” kataku akhirnya sambil berbalik memunggunginya.

“Aku akan mengantarmu pulang”

“Tidak, tidak perlu. Aku akan pulang sendiri” aku mengelap airmata di pipi kiriku tanpa menoleh ke padanya lagi.

“Tapi…”

“Aku butuh waktu sendiri, Key. Lebih baik kau pergi!”

“Baiklah. Aku pergi. Jaga dirimu baik-baik. Jangan lupa pakai baju hangat, jangan telat makan…”

“JANGAN KATAKAN ITU!! KAU BUKAN SIAPA-SIAPA LAGI!” aku berteriak dalam suara yang terdengar serak karena tangisan.

            Mungkin waktu tidak akan berubah. Setiap tahun masih ada dua belas bulan. Dan setiap bulannya bisa terdiri dari 28, 29, 30 atau 31 hari. Satu hari juga masih tetap 24 jam. Tapi cinta bisa berubah. Cinta bisa termakan oleh waktu dengan sendirinya. Cinta adalah dua mata pisau yang bisa membuat kepayang dan bisa membuat penderitaan seperti sekarang. Cinta bisa menimbulkan rasa sakit yang teramat dalam.

“Baiklah. Selamat malam, Inseul-ah”

            Dalam waktu yang bersamaan, airmataku membanjir lebih deras dari sebelumnya diikuti dengan derap langkah kaki Key yang semakin menjauh. Aku memeluk tubuhku sendiri dengan tangan. Biar, biarlah airmata ini mengalir. Mungkin dengan begitu rasa sakit yang berkecamuk bisa hilang dengan sendirinya. I hope.

“Pakai ini” sebuah suara yang tak asing di telingaku membuatku mendongak.

            Jinki oppa. Ya, itu dia. Dia yang selalu menjadi penengah di antara kami. Selalu memberikan solusi setiap kami bertengkar. Sekaligus menjadi tempat curhatku kalau-kalau Key membuat ulah denganku. Tapi sekarang? Sekarang keberadaannya pun tidak akan bisa merubah keputusan kami.

“Semuanya sudah berakhir, oppa” aku memeluknya tanpa diaba.

            Memeluk seseorang yang aku tuakan dan aku anggap sebagai kakakku sendiri. Menumpahkan segala rasa sakit dalam pelukannya. Aku tidak peduli walaupun kaos yang ia kenakan sekarang tengah basah karena airmataku yang tak mampu ku tahan. Untuk sementara aku membutuhkan ini. aku harap sarkasme tidak merusak saraf-sarafku. Well, ini tidak akan lama kan? Tidak akan lama melepas Key? Yeah, aku terlambat untuk belajar lebih realistis. Long distance relationship tidak akan lama bertahan.

“Maafkan, oppa. Oppa tidak bisa merubah keputusannya, Inseul-ah” mendengar itu aku semakin sesenggukan. Dia membalas pelukanku dan mengelus kepala bagian belakangku.

“Key jahat, oppa! Dia jahat”

            Semilir angin malam musim gugur di California menemaniku membagi rasa sakit yang menyeruak ke permukaan bersama Jinki oppa.

End Flashback…

~Ting… Tong~ aku menekan tombol bergambar lonceng yang tertempel di samping pintu dorm Shinee.

~Ceklek~

“Inseul-ah!” seru Jinki oppa bersemangat saat melihatku berdiri di ambang pintu.

“Oppa, apa kabar?”

“Aku baik. Bagaimana kabarmu?”

“Aku juga baik, oppa”

“Taemin! Minho! Jjong! Kemarilah!” teriak Jinki oppa ke dalam rumah.

“Ya! kenapa kau teriak-teriak, Hyung?” Jjong oppa datang sambil mengacak rambut bagian belakangnya.

“Iya, ada ap…” belum sempat Taemin menyelesaikan kalimatnya, saat melihatku dia langsung kegirangan melihatku.

“Uwaaaaa… ada kakak ipar!!!”

“Apa kabar, kak?”

            Kakak ipar? Masih saja si magnae ini memanggilku seperti itu setelah aku berpisah dengan Key tiga tahun silam? Mendengar ini aku jadi menangis. Rautku yang tadinya sumringah tiba-tiba berubah menjadi sedikit kaku dan bingung. Aku melirik Jinki oppa dan seketika menjitak kepala Taemin.

~PLETAK~

“Yak! Kenapa kau menjitakku, Hyung?”

“Hehehe sudah-sudah. Tidak apa-apa kok. Aku baik. Bagaimana kabarmu, Taemin-ah?” kataku berusaha menengahi.

“Aku juga baik, noona. Sudah lama sekali tidak bertemu denganmu”

“Apa kabarku tidak ditanyakan ya?” Jjong tiba-tiba menghardik dengan mulut yang mengerucut. Tampangnya seperti baju kusut yang minta disetrika.

“Oh? Tentu saja aku akan menanyakan kabarmu. Apa kabar Oppa?” aku mengulurkan tangan.

“Kabarku baik. Ayo ngobrol di dalam saja”

“Iya, noona. Ayo di dalam saja!” Taemin menimpali.

“Aku hanya sebentar saja. Hari ini aku sudah janji ingin bertemu dengan Syerin. Aku mau memberikan ini untuk anaknya” aku mengangkat tas kertas berisi mainan yang aku beli sebelum datang ke mari.

“Yak! Kenapa Cuma sebentar?” Taemin mengeluh, menampilkan puppy eyesnya.

“Nanti aku mampir lagi. Oh, iya. Minho mana?”

“Dia masih hibernasi, Noona. Dia memang si raja tidur”

“Owh, ya sudah tidak apa-apa”

“Oppa, sepertinya ada yang perlu kita bicarakan empat mata” aku memandang ke arah Jinki oppa yang dari tadi tidak banyak bicara.

“Jjong, Taemin. Masuklah. Kami butuh waktu berdua” Jinki Oppa member isyarat pada kedua dongsaengnya untuk meninggalkan bagian depan rumah. Mereka berdua menurut tanpa protes.

“Maafkan, oppa karena tidak memberitahumu lebih awal” dia menghela nafas yang cukup dalam setelah kedua dongsaengnya masuk ke dalam dorm.

“Sejak kapan mereka saling mengenal, oppa?”

“Sekitar dua setengah tahun lalu mereka berkenalan. Tapi mereka baru jadian hmmm, sekitar 9 atau sepuluh bulan terakhir. Apa kau tidak diberitahu Hyejin? Kau bilang dia sahabatmu?”

“Aku tahu dia berpacaran, tapi dia tidak bercerita padaku dengan siapa dia menjalin hubungan. Dia merahasiakan ini dari semua orang” airmataku merebak.

“Sudahlah, ikhlaskan ini semua. Semuanya sudah terlanjur” Jinki oppa mengelus-elus puncak kepalaku dengan hati-hati seolah takut menyakitiku lebih dalam.

“Kau masih mencintainya?”

Sekuat-kuat apapun aku menaruh baja di depan pintu hati, toh pada akhirnya runtuh dengan sendirinya karena satu nama, yaitu Key. Tiga tahun aku mencoba me-recovery parasaanku. Berusaha mengumpulkan satu per satu mozaik yang pernah tercecer karena kehilangan Key. Dan sekarang, aku harus menerima kenyataan bahwa dia akan menikahi sahabatku.

            Kenapa harus Hyejin? Kenapa harus orang yang sangat dekat denganku. Kenapa harus dengan orang yang sudah seperti saudaraku sendiri?

“Kau masih mencintainya?” tanyanya lagi.

            Aku hanya menunduk. Membiarkan airmata yang tertahan jatuh satu per satu. Tanpa aku minta, Jinki oppa langsung membawaku ke dalam pelukannya. Dia sangat tahu kalau seorang wanita yang sedang menangis hanya dua hal dibutuhkan, yaitu uluran tangan untuk menguatkan dan sebuah pelukan untuk menumpahkan lara. Untuk yang ke sekian kalinya aku membasahi dada Jinki oppa dengan airmataku. Sementara itu dia hanya diam tanpa mengeluarkan kata apapun. Dan itu yang paling aku butuhkan sekarang.

_

            Setelah selesai menumpahkan semuanya pada Jinki oppa, kini aku akan pergi ke tempat Syerin. Masih di apartemen ini juga tapi di lantai 12, satu lantai di atas dorm Shinee. Dulu apartemen itu adalah milikku, tapi aku jual pada Syerin setelah aku pindah ke California. Lagi pula itu adalah keputusan yang baik untuk dia dan Enhyuk oppa. Mereka bisa menjalani rumah tangganya dengan tentram dan tanpa di ketahui public.

“Aku tidak menyangka sudah selama ini aku pergi” aku menggeleng sambil cengengesan melihat Syerin yang tengah menggantikan popok anak keduanya (?)

“Unyu…Unyu…Unyu…” terlihat Syerin tengah mengganti popok bayi berusia enam bulan itu sambil mengajak bercanda agar tidak menangis.

“Kau terlalu melewatkan semua yang ada di sini, Inseul-ah” katanya tanpa menoleh ke arahku.

“Oppa!!! Sudah selesai belum memandikan Hyurin?” teriak ke arah kamar mandi yang letaknya berada di dalam kamar.

“Arrrrrrrghhh… Hyurin main air terus. Bagaimana ini?” teriak Hyuk oppa dari kamar mandi.

“Gendong saja bawa ke sini! Aku gantikan bajunya!”

“Dia tidak mau, Chaggi-ah. Dia mau menangis”

“Sudah angkat saja dari bath up. Nanti dia bisa sakit kalau terlalu lama bermain air!”

“Iyaaaaaaaaaaa….”

“Uwaaaaaaaa… uwa… uwa… uwa…uwa”  kali ini anak kecil yang belum genap dua tahun itu menangis.

“Apppa… Pa… aku mau ail… akku mau mainail pppapa” Hyurin menangis sambil mengeluarkan suara yang lafalnya sangat tidak jelas. Tapi sepertinya dia ingin main air.

“Sini sama, Eomma ya nak” Syerin langsung menggendong anaknya itu dengan cekatan.

“Cup… Cup… Cup” aku ikut-ikutan mengelus kepala Hyurin agar lebih tenang.

“Uwa… uwa… wa..wa.. wa”

“Oppa, tolong bawa Jaerin jalan-jalan. Aku akan mengurus Hyurin”

“Baiklah. Aku akan bawa si kecil ke dorm SUJU. Ayo sayang ikut appa. Unyu… Unyu… Unyu” Hyuk oppa mengangkat anak keduanya yang sedang telentang di atas kasur.

“Inseul-ah. Maaf sekarang keadaan kami sedikit rusuh hehehehe” kata Hyuk oppa.

“Tidak apa-apa, oppa”

“Ok, aku pergi ya. Pasti para pria kesepian di bawah sana akan senang dengan kehadiranku dan Jaerin”

“Aku pergi, chaggi-ah” Hyuk oppa mengecup kening Syerin.

“Appa pergi dulu ya sayang” Hyuk menunduk sambil mencium pipi Hyurin yang airmatanya belum berhenti mengalir. Dia sesenggukan.

            Well, ini memang pemandangan yang dulu pernah ku imajinasikan. Syerin dan Hyuk oppa mempunyai anak-anak dan mengurusnya dengan cukup kewalahan. Tapi nyatanya tidak persis seperti yang aku bayangkan. Ini lebih parah dan rumit. Errrrr… Bagaimana nanti kalau aku punya anak? Apa akan serepot ini? Konyol? Lucu? Atau malah menggelikan?

“Mumma, mau chololat” rengek si Hyurin saat sang ibu menyisir rambutnya.

“Nanti ya sayang” Syerin mencium puncak kepala yang tengah duduk di atas kasur.

“Oh, iya. Ahjumma bawa ini untukmu” Syerin menyodorkan boneka Barbie yang aku bawa jauh-jauh dari California.

“MWO? AHJUMMA??” protesku merasa diriku ini telah menjelma menjadi seorang tante-tante beruban.

“Bilang terimakasih pada ahjumma” pinta Syerin pada anaknya yang tengah duduk manis.

“limahasih, jumma”

“Aish, jangan panggil aku ahjumma. Panggil saja Eonni saja yah… yah… yahh” kataku dengan nada yang cukup profokatif pada Hyurin sementara dia hanya terpaku pada mainan barunya.

“Memang harus begitu, bodoh!”

“Arrrrhh, tapi aku masih muda. Hmmmmm”

“Hmmm, kau tahu kalau Key akan…”

“Aku sudah tahu. Dia akan menikah dengan Hyejin” potongku cepat.

“Maafkan aku ya. Aku tidak memberitahumu. Aku sudah tahu hubungan mereka tapi selama ini aku tidak pernah mengatakan apapun. Aku tidak tega memberitahumu karena aku tahu kau masih terpukul dengan kandasnya hubungan kalian”

“Sudahlah tidak usah dibahas lagi. Lagipula ini juga bukan salahmu. Oh, iya. Dimana barang-barangku yang masih tertinggal?”

“Sudah aku kemas di kardus. Nanti akan ku kirimkan orang untuk mengantarnya ke alamatmu”

“Oke. Apa semuanya masih lengkap?”

“Iya. Apa kau mau memeriksanya dulu?”

“Ah, tidak perlu. Toh kalaupun ada yang hilang, tidak akan menjadi masalah lagi sekarang ini” tanpa sadar airmataku meluncur dengan sendirinya akibat dari ucapanku sendiri.

“Yang sabar ya…” Syerin memelukku, memberikan ketenangan.

_

            Setelah puas bermain dengan si kecil Hyurin dan mengobrol banyak dengan Syerin, aku memutuskan untuk beranjak karena Hyejin memintaku untuk datang ke rumahnya. Dia meminta pendapatku tentang sesuatu yang entah apa itu. Tadinya aku mau mampir ke dorm Shinee lagi, tapi aku urungkan karena Hyejin memintaku dengan segera. Aku tidak bisa menolaknya.

            Setelah menunggu sekian detik, akhirnya lift terbuka juga. Di sana ada sepasang manula yang sedang bergandengan tangan. Omo~ walaupun sudah berusia lanjut, tapi mereka masih romantis. Aku jadi merasa salah naik lift. Tapi mau bagaimana? Aku tetap masuk ke dalam lift dan menekan tombol 1.

~Ting~

            Benar-benar drama. Lift terbuka di lantai 11 dan di hadapanku ada seseorang yang saat ini sangat aku hindari. Dia yang membuatku meleleh dan membuatku berdebar-debar setiap kali dia menatapku seperti ini. Key?

                      

TBC

Notes: Hyuk and me have 2 babies? Ehm… no comment LOL.

Oke, ini buat Melvin and Indah yang udah menggerogoti kehidupanku karena nagih2 FF ini *LOL

Met baca ya mantan teman sekelasku hahahahaha…….

Oh, iya. Kalo ada kata Luna, anggap aja itu Hyejin karena dulu aku gak pake cast Hyejin buat FF ini. Mohon dimaklumi kalo ada yg typo ya… Keep RCL:D

Advertisements

74 responses to “My Bestfriend’s Wedding [1/?]

  1. Hoaaaaaa gila keren, penasaran banget
    Emang sakit banget kalo tau mantan yang msh kita cintai mau nikah ama sahabat sendiri (˘̩̩̩.˘̩ƪ)
    Ebuset TBCnya bener2 dah kekekeke
    Daebak lah thor! 🙂

  2. apa it tbc’y.whoaa.
    Pasti skit bgd si inseul, ngliat shabat sndiri nikah ma org yg kita cinta.ditnggu lanjutan’y.hehe iy tyuh kya’y aq pernah bca luna.disini atw di prolog y,aq lupa. shabat sndiri nikah ma org yg kita cinta.ditnggu lanjutan’y.hehe iy tyuh kya’y aq pernah bca luna.disini atw di prolog y,aq lupa.

  3. Unnie sumpah nyesek aku kalo jadi Inseul kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa >_< Key koq gitu siiiiih…. Lanjutannya dong unnie…. Semoga Onyu oppa sama Inseul deh /dor…. AKu selalu suka FF buatan unnie XD

  4. Omo! Aku nyesek ini bacanya. Astaga eon aku jadi kesengsem sama Key gara-gara baca ff ini. Anw itu posternya bagus banget. Key-nya unyu ganteng:3
    Ada sisi humornya kalo kataku cerita ini. Entah kenapa aku ngakak waktu adegan Hyuk mandiin anak ‘kalian’. Setidaknya itu bisa ngehibur dan mengobati(?) rasa kesalku terhadap Key. Ditunggu part selanjutnya, semoga dilanjutin amin;p

  5. Tinggalin jejak duluuu…
    Hufftt, TBC-nya ngeganggu bangettttzzzz…. Kapan lanjutannya di publish? Jangan lama-lama yaaaa…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s