[5 of 6] 순진한 사랑 [Innocent Love]

Author: v3aprilia feat dwiananing

Length: chaptered

Genre: romance, family

Rating: PG-13

Soundtrack: Lifehouse – You And Me

PS: author mengalami kesulitan menyelesaikan FF ini. Hehehe, kalian akan tau jawabannya setelah melihat siapa cast di FF ini 🙂

INNOCENT 5

Junhyung – Eunhoon

 Junhyung melihat yeoja berambut panjang itu keluar dari apartemennya. Sudah dua kali Junhyung keluar dari apartemennya untuk berangkat kuliah bersamaan dengan yeoja itu menutup pintu apartemennya.

Tak ada yang spesial dari yeoja itu, menurut Junhyung, kecuali wajahnya yang cantik. Gerakannya pun biasa saja saat dia mengunci pintu. Junhyung, seperti biasa, langsung meninggalkan apartemennya dan tidak berniat untuk menyapa tetangganya itu. Ketika dia mendengar bunyi benda kecil jatuh, Junhyung menoleh dan melihat yeoja itu berjongkok dan meraba-raba lantai mencari kuncinya, padahal kuncinya terjatuh di dekat kakinya. Ya, yeoja itu ternyata buta.

Junhyung menghampiri yeoja itu, memungut kuncinya dan meletakannya di telapak tangan yeoja itu. Yeoja itu terkejut merasa tangannya tiba-tiba ditarik seseorang dan ada sesuatu yang dingin dan kecil menyentuh telapak tangannya, kunci apartemennya. Wajah yeoja itu yang semula panik berubah cerah.

“Ah, kamsahamnida!” katanya dengan tatapan mata yang berbinar tapi kosong. Junhyung tidak menjawab apa-apa, dia langsung pergi meninggalkan yeoja itu. Saat hendak menuruni tangga, dia melirik yeoja itu lagi. Yeoja itu terlihat kebingungan, mungkin dia penasaran siapa yang mengambilkan kuncinya tadi.

***

Entah kenapa Junhyung merasa dia tidak ingin dikenal oleh siapapun. Termasuk saat dia menolong yeoja buta tadi, dia diuntungkan karena dia tidak bisa melihat wajah Junhyung. Junhyung terlalu tertutup dan dia memang sengaja melakukan itu.

Dan tempat yang akan ditujunya sekarang, kalau saja dia bisa… Dia akan berbalik pulang dan tidak pergi ke tempat itu. Konkuk University, fakultas kedokteran. Dia benci itu. Kedokteran sama sekali tidak ada dalam daftar tujuan hidupnya dan kenapa dia malah berada di tempat ini. Ini semua karena paksaan kedua orangtuanya. Mereka ingin Junhyung seperti kakaknya yang saat ini sudah menjadi dokter dan menurut pandangan mereka, kakaknya itu sukses. Memangnya sukses itu dilihat dari berhasil atau tidaknya kau jadi dokter? batin Junhyung.

Junhyung duduk di halte, menatap orang-orang yang berjalan di depannya. Semua orang pasti sedang berjalan menuju ke tempat yang benar-benar mereka tuju, dan itu semua karena keinginan mereka. Junhyung merasa hanya dialah satu-satunya orang di dunia ini yang tidak bisa mencapai tujuannya, dia merasa menjadi orang yang sangat pengecut karena tidak bisa mencapai tujuan itu.

Kalau Junhyung mencoba menceritakan apa yang sedang menjadi masalahnya, dia sudah bisa menebak apa jawaban orang-orang. “Jalani saja apa yang ada di hadapanmu sekarang. Orangtuamu pasti tahu apa yang terbaik untukmu. Bisa jadi, apa yang kau inginkan belum tentu jadi yang terbaik untukmu.” Baiklah, Junhyung sudah menghapal jawaban itu diluar kepala. Itulah yang membuatnya jadi muak dengan orang-orang, mereka semua sok tahu!

Junhyung pergi meninggalkan halte, lebih memilih bolos kuliah untuk yang kesekian kalinya. Dia berjalan tanpa tujuan, tapi kemudian dia melihat seseorang yang tampak tidak asing.

Orang itu berjalan membelakanginya, dia membawa tongkat penuntun di tangan kanannya, sementara tangan kirinya berada di depan tubuhnya, mungkin membawa sesuatu. Rambut panjangnya mengingatkan Junhyung, dia yeoja buta tetangganya itu.

Yeoja itu berjalan sendirian. Tampaknya dia sudah hapal dengan rute yang dia lalui, mungkin dia sudah terbiasa berjalan di tempat ini setiap hari. Saat yeoja itu melewati beberapa orang namja, Junhyung melihat melihat orang-orang itu menatap yeoja itu lalu mereka mengikuti yeoja itu. Khawatir terjadi sesuatu dengan yeoja itu, Junhyung diam-diam juga ikut mengikutinya.

Salah satu dari namja itu melambai-lambaikan tangan di depan wajah yeoja itu, yang tentu saja tidak bisa dilihat yeoja itu, teman-temannya yang lain tertawa. Yeoja itu berhenti berjalan, wajahnya berubah tegang.

“Siapa kalian?” tanya yeoja itu. Dia tahu kalau ada orang-orang yang tidak dia kenal berdiri di sekelilingnya.

“Sayang sekali, yeoja secantik ini ternyata galak juga,” jawab namja pertama. Teman-temannya bersuit-suit menggoda yeoja itu.

“Daripada sendirian lebih baik kau menemani kami minum-minum, bagaimana?” namja yang lain mulai bertindak kurang ajar dengan merangkul bahu yeoja itu.

“Lepaskan!” seru yeoja itu, tapi tiba-tiba tongkatnya direbut oleh namja berandalan itu dan tangannya ditarik dengan kuat.

“Ayolah, jangan sombong begitu…”

“Kau tidak tuli kan? Dia minta dilepaskan.”

Namja-namja berandalan itu menoleh, di belakang mereka sudah berdiri seorang namja bertubuh tinggi, Junhyung.

“Lepaskan dia,” kata Junhyung lagi.

Namja yang merangkul bahu yeoja buta itu berdecak kesal, dia menoleh ke teman-temannya dan memberi kode untuk membereskan Junhyung. Berandalan itu dengan brutal melayangkan pukulan kearah Junhyung, tapi Junhyung berhasil berkelit dan mau tidak mau sekarang dia menghadapi lima orang berandalan sekaligus. Junhyung terdesak ke sudut, ini pertama kalinya dia berkelahi, dan langsung menghadapi lima orang. Salah seorang berandalan itu memiting lengan Junhyung, dan berandalan yang lain sudah mengeluarkan pisau lipat dari sakunya…

BUUAAK!!

Namja yang membawa pisau itu tersungkur, seseorang memukul tengkuknya dengan kayu. Junhyung mengambil kesempatan ini dengan menendang tulang kering berandalan di belakangnya dan memukulnya hingga jatuh. Orang yang menolongnya, masih memakai seragam SMA, dia terengah-engah mengayunkan pemukul kayunya memukul berandalan-berandalan itu dengan ganas, sekaligus tidak beraturan, asal kena saja. Tiga berandalan itu semakin brutal berusaha melawan. Akhirnya berandalan itu memilih kabur, sambil menyeret kawannya yang pingsan.

Murid SMA itu terengah-engah menatap kawanan berandalan yang kabur itu. Dia membuang kayunya dan bergegas menghampiri yeoja buta yang masih berjongkok ketakutan.

“Pergi kau! Pergi!” teriak yeoja itu histeris, ketika murid SMA itu menyentuh lengannya.

“Noona, ini aku noona, Yoseob!” seru Yoseob, berusaha menenangkan kakaknya. “Eunhoon noona, mereka sudah tidak ada!”

Yeoja yang dipanggil Eunhoon itu langsung memeluk erat adiknya, Yoseob. “Yoseob! Aku takut sekali tadi! Kau tidak apa-apa kan?”

“Tidak apa-apa, aku tadi di…” belum selesai Yoseob bicara, Junhyung berjongkok di depannya, mati-matian menyuruh Yoseob supaya dia tidak cerita kalau tadi Junhyung yang menolong Eunhoon. Yoseob awalnya bingung dengan isyarat dari Junhyung, tapi akhirnya dia menurutinya.

“Kau melawan mereka semua sendirian?” tanya Eunhoon.

“Ya… pakai kayu…” jawab Yoseob berbohong. “Gomawo,” katanya pada Junhyung, tanpa suara. Junhyung mengangguk sekilas, dia berdiri dan merapikan bajunya, lalu pergi meninggalkan Eunhoon dan juga Yoseob.

Yoseob menatap punggung Junhyung, bingung kenapa namja itu tidak mau kakaknya tahu kalau tadi dia yang menolongnya. Dia menoleh ke kakaknya yang masih terlihat pucat. “Noona tidak apa-apa? Ayo kita pulang sekarang.”

Eunhoon mengangguk pelan, dia mencengkram lengan seragam adiknya dengan erat.

***

Junhyung baru kembali ke apartemennya saat malam hari. Dia hendak membuka pintu apartemennya, ketika pintu apartemen sebelahnya terbuka dan Eunhoon, yang ditolongnya tadi siang, keluar. Junhyung bersikap seolah-olah dia tidak melihat yeoja itu dan segera membuka pintu.

“Siapa namamu?” tanya Eunhoon. Junhyung tidak menjawab, seperti tidak mendengar ada yang bertanya padanya. Dia bergegas masuk ke apartemennya.

“Apa aku tidak boleh mengenal tetanggaku sendiri?”

Pintu apartemen Junhyung tertahan, Junhyung menatap Eunhoon yang berdiri di luar, pandangannya yang kosong membuatnya mengira kalau Junhyung masih berdiri di depannya.

“Siapa namamu?” Eunhoon mengulang pertanyaannya.

“Junhyung,” jawab Junhyung singkat.

“Kamsahamnida,” kata Eunhoon cepat, sebelum Junhyung sempat menutup pintu. “Ternyata memang kau yang menolongku tadi siang.”

Junhyung membuka pintunya. Bagaimana yeoja ini bisa tahu? “Apa adikmu yang menceritakannya?”

Eunhoon menggeleng. “Aku ingat suaramu.”

Junhyung sedikit salah tingkah, baru kali ini ada orang yang bisa mengingat suaranya. “Aku hanya tidak suka melihat ada orang diganggu,” katanya, lalu segera menutup pintu.

Eunhoon menghela napas. Dia tahu, dia sedang berhadapan dengan orang yang tertutup.

***

“Noona, aku berangkat.”

Junhyung mendengar tetangganya yang masih SMA itu, Yoseob, pamit kepada kakaknya. Junhyung keluar dari apartemennya dan melihat pintu apartemen Eunhoon terbuka. Entah apa yang ada di benaknya, Junhyung berjalan mendekati apartemen Eunhoon. Membiarkan pintu terbuka sementara hanya ada seorang yeoja buta disana sepertinya agak mengkhawatirkan, Junhyung berinisiatif menutup pintunya. Dia melongok hendak meraih gagang pintu, dari sana dia bisa melihat kalau di ujung dapur, Eunhoon sedang meraba-raba jalan di depannya, berulang kali pinggangnya terantuk buffet. Dia kesulitan berjalan tanpa menggunakan tongkat.

Alih-alih menutup pintu, Junhyung kembali ke apartemennya mengambil sesuatu, lalu berjalan memasuki apartemen Eunhoon. Dia menarik tangan Eunhoon dan menaruh tongkat di tangannya. Eunhoon terkejut, dia meraba-raba benda di tangannya.

“Yoseob? Kau tidak sekolah?” tanya Eunhoon. Junhyung tidak menjawab, setelah memastikan kalau Eunhoon sudah menggenggam tongkat penuntunnya, dia berjalan keluar dari apartemen.

“Junhyung-ssi?”

Junhyung berhenti melangkah.

“Aku tahu kau bukan Yoseob,” kata Eunhoon. “Dia pasti akan menjawab kalau ditanya.”

“Mianhae, aku masuk tanpa izin,” kata Junhyung. “Tongkatmu… aku menemukannya di dekat tong sampah kemarin.”

Junhyung bukan menemukannya tanpa sengaja, sebenarnya dia pulang malam karena mencari tongkat yang diambil berandalan itu. Dia tahu orang buta akan kesulitan berjalan tanpa dibantu tongkat penuntun.

“Kamsahamnida, kau sudah tiga kali menolongku,” kata Eunhoon, lalu tersenyum. Junhyung lagi-lagi tidak menjawab, dia berjalan meninggalkan Eunhoon.

“Apa aku boleh meminta tolong lagi?” tanya Eunhoon. Junhyung menoleh.

“Tolong antarkan aku ke rumah sakit, aku ingin memeriksakan mataku,” katanya. “Yoseob tidak bisa mengantarku karena dia akan pulang malam hari ini.”

“Tapi aku kan orang asing,” jawab Junhyung. “Kau tidak boleh minta tolong pada orang asing sepertiku.”

Eunhoon tersenyum. “Kau tetanggaku kan, bagaimana mungkin aku masih menganggapmu orang asing. Aku tidak memaksa, kalau kau tidak bisa tidak apa-apa, aku akan berangkat sendiri.”

“Aku antar!” secara refleks Junhyung memotong kata-kata Eunhoon. Eunhoon terkejut dan menatap kosong ke depannya, tidak menyangka Junhyung berkata secepat itu. Junhyung khawatir dengan keinginan Eunhoon untuk berangkat sendiri, padahal kemarin dia diserang lima orang berandalan.

“Ah, iya, kamsahamnida,” kata Eunhoon, setengah bingung.

***

“Kau kuliah?” tanya Eunhoon pada Junhyung, membuka obrolan sementara mereka menunggu bis.

“Konkuk, kedokteran.”

“Wah, ternyata aku bertetangga dengan calon dokter,” kata Eunhoon kagum.

“Aku tidak ingin jadi dokter,” jawab Junhyung singkat. Eunhoon menunjukkan ekspresi heran.

“Wae? Masuk kedokteran ya seharusnya menjadi dokter, kan?” tanya Eunhoon heran.

“Yang ingin aku jadi dokter itu orangtuaku, bukan aku. Ah, sudahlah…”

Eunhoon sudah terlanjur mengetahui sedikit masalah Junhyung, kalau dia tidak ingin kuliah di kedokteran lebih lama lagi. Junhyung tidak berniat untuk melanjutkan ceritanya, dia sudah hapal dengan jawaban umum itu. “Jalani saja apa yang ada di hadapanmu sekarang. Orangtuamu pasti tahu apa yang terbaik untukmu. Bisa jadi, apa yang kau inginkan belum tentu jadi yang terbaik untukmu.”

“Kau tidak suka di kedokteran, tapi orangtuamu memaksa?” tanya Eunhoon, dia bisa menebak kelanjutan masalah Junhyung. Junhyung tidak menjawab, anggaplah diam itu berarti iya.

“Kau punya impian, Junhyung-ssi? Apa kau punya kegiatan yang kau suka?”

“Aku hanya bisa melukis,” jawab Junhyung.

“Melukis juga bagus. Tidak semua orang bisa melukis,” kata Eunhoon.

“Coba saja katakan itu pada orangtuaku. Mereka selalu menganggap kalau melukis itu pekerjaan yang hanya menghasilkan sampah yang digantung di tembok,” kata Junhyung pesimis.

“Mungkin karena kau belum terlalu bisa meyakinkan mereka,” kata Eunhoon. Junhyung menoleh menatap yeoja di sampingnya ini. Jawaban umum yang memuakkannya itu ternyata sama sekali tidak diucapkan Eunhoon, setidaknya sampai sekarang ini.

“Belum terlalu bisa? Aku kabur dari rumah karena aku sudah tidak tahu cara apa lagi yang harus kulakukan untuk meyakinkan mereka!” kata Junhyung. Eunhoon sedikit terkejut mendengar kalau Junhyung ternyata kabur dari rumah. Junhyung sendiri menyadari kalau dia sudah keceplosan bicara, dan dia merutuki dirinya dalam hati.

“Kau tidak bisa terlalu menyalahkan orangtuamu. Mungkin mereka memaksamu karena mereka takut melukis tidak akan bisa membahagiakanmu secara materi, meskipun aku tahu kau tidak akan terlalu peduli dengan materi,” kata Eunhoon. Nah, sekarang ini pasti akan keluar jawaban umum itu, gumam Junhyung malas.

“Tapi kalau kau memang sangat ingin melukis, dan kau yakin kalau itulah jalan hidup yang ingin kau tempuh, aku percaya kalau kau bisa meyakinkan orangtuamu kalau kau akan bahagia dengan jalan hidup yang telah kau ambil. Jangan ambil jalan pintas dengan cara kabur dari rumah, itu tidak akan menyelesaikan masalah. Mianhae, Junhyung-ssi, aku tidak bermaksud mengguruimu.”

“Tidak apa-apa,” kata Junhyung.

“Selama kau jauh dari orangtua dalam keadaan bermusuhan, apa kau merasakan perubahan? Kau tetap kuliah di kedokteran, padahal kau tidak ingin,” kata Eunhoon. “Aku yakin kalau kau kembali ke rumah dan membicarakannya baik-baik dengan orangtuamu, mereka pasti mengijinkanmu menjadi pelukis.”

Junhyung terdiam. Jawaban Eunhoon benar-benar di luar dugaannya. Intinya, Junhyung harus bicara baik-baik dengan orangtuanya tentang kenginannya itu. Seingatnya, selama ini dia tidak pernah melakukan hal itu. Dia hanya mengatakan sekali kalau dia ingin jadi pelukis, tapi setelah itu orangtuanya melarang. Junhyung dan orangtuanya bertengkar karena masalah itu dan Junhyung pergi dari rumah.

“Apa kau sudah buta sejak kecil?” tanya Junhyung, mengalihkan pertanyaan.

“Aku… korban tabrak lari,” jawab Eunhoon. Selama beberapa saat dia tidak melanjutkan kata-katanya, dia tidak ingin mengingat kejadian yang sudah merenggut penglihatannya itu.

“Ah, bisnya sudah datang,” kata Junhyung. Eunhoon mengangguk pelan, dia menggengam lengan baju Junhyung dan namja itu membantu Eunhoon menaiki bis.

***

“Kuharap aku bisa secepatnya mendapatkan donor mata,” kata Eunhoon pada Junhyung, saat mereka berjalan menyusuri lorong rumah sakit. “Aku sudah mengumpulkan tabungan untuk biaya operasi, tapi yang sulit hanya donor matanya. Tak banyak orang yang bersedia mendonorkan matanya.”

“Sebentar lagi sampai,” kata Junhyung, dia mencari pintu ruangan dokter spesialis mata. Saat menemukan ruangannya, Junhyung terbelalak. Langkahnya terhenti saat membaca tulisan di pintu ruangan itu.

Yoon Doojoon.

“Junhyung-ssi? Ada apa?” tanya Eunhoon. Junhyung tidak menjawab, dia menggigit bibirnya saat membaca nama itu. Kenapa aku tidak tahu kalau dia bekerja disini? batinnya.

“Eunhoon-ssi?”

Eunhoon dan Junhyung menoleh kearah suara itu dan wajah Junhyung seketika berubah tegang. Yoon Doojoon, orang yang paling tidak ingin dia temui, sekarang ini berdiri tak jauh darinya. Wajah Doojoon yang semula cerah berubah keruh, dia tidak menyangka Junhyung ternyata mengenali salah satu pasiennya.

“Dokter Yoon?” tanya Eunhoon. “Kukira anda sedang ada di dalam ruangan.”

“Ah, aku tadi keluar sebentar,” kata Doojoon canggung. Baik Junhyung maupun Doojoon menghindari kontak mata. Doojoon membuka pintu ruangannya dan menyuruh Eunhoon masuk.

“Aku tunggu di luar saja,” kata Junhyung dingin. Eunhoon sedikit bingung dengan nada suara Junhyung yang mendadak ketus.

***

“Maaf Eunhoon-ssi, sampai sekarang masih sulit mencari donor mata untukmu. Kalaupun ada, sudah ada pasien yang mengantri lebih dulu darimu,” kata Doojoon, setelah dia selesai memeriksa mata Eunhoon. Eunhoon tersenyum masam, harapannya untuk bisa melihat lagi kembali menjauh.

“Tidak apa-apa,” jawab Eunhoon pelan, dia menggigit bibir bawahnya.

Ada semacam perasaan bersalah yang selalu dirasakan Doojoon tiap kali dia melihat Eunhoon. Dia tahu kalau Eunhoon menjadi buta karena dulu dia korban tabrak lari, dan itu membuat Doojoon teringat lagi dengan kejadian beberapa bulan yang lalu, saat dia tidak sengaja menabrak seseorang karena menyetir dalam keadaan mabuk. Doojoon tidak bisa menyalahkan orang yang menabrak Eunhoon karena nyatanya dia juga melakukan hal yang sama, tidak bertanggung jawab dengan perbuatannya.

“Kau tahu, Doojoon-ssi, aku tidak pernah bisa melupakan hari itu,” kata Eunhoon sedih. “Dalam keadaan antara sadar dan tidak, aku sempat melihat seseorang keluar dari mobil, dengan langkah yang sempoyongan…”

Deg! Sempoyongan?

“Ma… maksudmu mabuk?”

“Mungkin,” kata Eunhoon. “Mungkin karena mabuk dia menabrakku. Lalu dia kabur.”

“Kapan kau mengalami kecelakaan itu?” tanya Doojoon.

“Malam itu aku baru pulang kerja, saat akan menyebrang jalan tiba-tiba ada mobil yang menabrakku. Padahal sebelum menyebrang aku sudah pastikan kalau jalan sudah sepi, tapi entahlah, mungkin saat itu aku sedang sial.”

Doojoon pucat. “La…lalu?”

“Aku tidak ingat apa-apa lagi, kecuali saat aku melihat seseorang keluar dari mobil itu, itupun aku tidak melihat wajahnya. Itulah terakhir kalinya aku bisa melihat.”

Doojoon berdiri dari kursinya, lalu menghampiri Eunhoon. “Eunhoon-ssi, apa yang akan kau lakukan kalau kau bertemu dengan orang yang menabrakmu itu?”

Eunhoon terperanjat, tidak menduga Doojoon akan menanyakan itu. “Entahlah, aku sudah melupakannya. Kalaupun aku bertemu dengannya, apa yang bisa kutuntut darinya? Mata baru?”

“Aku ingin tahu apa yang akan kau lakukan pada orang itu,” kata Doojoon.

“Kau kenapa, Doojoon-ssi? Suaramu bergetar, kau sakit?” tanya Eunhoon.

Junhyung yang dari tadi mendengar percakapan Eunhoon dan Doojoon di luar, menoleh kearah pintu, dia juga mendengar suara Doojoon yang mendadak berubah gugup.

“Orang yang menabrakmu dulu itu… aku.”

Mata Eunhoon terbelalak. Awalnya dia hanya tertawa mendengarnya. “Bicara apa kau, Doojoon-ssi? Aku kan bertemu denganmu jauh sebelum…”

“Aku tahu itu kau,” kata Doojoon. “Delapan bulan yang lalu, aku tidak sengaja menabrak seseorang. Seorang yeoja, dan saat itu aku mabuk. Aku ketakutan dan kebingungan saat itu, jadi aku…”

“Maksudmu apa, Doojoon-ssi? Aku tidak mengerti,” kata Eunhoon.

“Aku yang menabrakmu! Akulah orang yang tidak bertanggung jawab itu, yang lari setelah tahu kalau dia menabrak seorang yeoja! Aku orangnya!” seru Doojoon.

Junhyung yang mendengar kata-kata Doojoon dari luar terbelalak, sedetik kemudian rahangnya mengeras karena menahan amarah. Dia menghambur masuk ke ruangan dan, BUAAK! Dia menghajar Doojoon. Eunhoon menjerit.

“Dan selama delapan bulan kau bersembunyi dari kesalahanmu sendiri? Dasar brengsek!” teriak Junhyung. Doojoon terjatuh dari kursinya menatap Junhyung sambil memegangi sudut mulutnya yang berdarah.

“Junhyung! Apa yang kau lakukan?” Eunhoon berusaha menggapai lengan Junhyung dan hendak menariknya keluar, tapi Junhyung menepisnya.

“Kau lihat? Seorang dokter mata ternyata sudah membuat salah seorang pasiennya buta karena mabuk!” seru Junhyung.

“Aku tidak tahu kalau orang yang kutabrak itu Eunhoon!”

“Jadi karena kau tidak tahu, itu artinya kau bebas meninggalkannya dan tidak peduli apakah dia hidup atau mati?” tanya Junhyung. “Pantas saja Geun Young pergi meninggalkanmu!”

Doojoon refleks memukul Junhyung, dia tersinggung Junhyung menyebut-nyebut Geun Young di depannya.

“Hentikan!” Eunhoon susah payah berjalan menghampiri Doojoon dan Junhyung lalu berdiri di tengah-tengah dua namja itu. “Hentikan! Kalian membuatku takut!” katanya lagi.

Junhyung terengah-engah menatap Doojoon. “Kau,” katanya. “Tebus kesalahanmu pada Eunhoon, tebus dengan matamu.”

Doojoon terperanjat. “Apa?”

“Kenapa? Takut? Itu kan yang paling diinginkan Eunhoon sekarang, dia hanya ingin bisa melihat. Untuk kesalahan yang sudah kau sembunyikan selama delapan bulan, kupikir itu setimpal.”

“Junhyung, apa yang kau bicarakan?” tanya Eunhoon. “Sudah, cukup!”

“Jawab aku,” kata Junhyung. “Jawab aku kalau kau memang berani menebusnya dengan matamu, Hyung!”

Eunhoon terperanjat. “Hyung?”

Junhyung mengatupkan rahangnya dengan keras. Eunhoon menarik lengan baju Junhyung, tidak percaya dengan apa yang dia dengar. “Apa maksudmu, Junhyung?”

Junhyung tidak menjawab, Eunhoon hanya mendengar suara tangisan Doojoon.

“Aku benar-benar terpukul…” isak Doojoon. “Saat itu aku kehilangan orang yang aku cintai dan aku tidak bisa berpikir jernih, aku bahkan tidak tahu apa yang harus aku lakukan saat aku melihat seseorang tergeletak di jalan karena kutabrak.” Doojoon mendongak menatap Junhyung dan Eunhoon. “Kau benar, Junhyung-ah. Aku memang bukan kakak yang baik. Orangtua kita selama ini salah menganggapku sebagai contoh yang baik untukmu, mereka sudah keliru menjadikanku anak kesayangan mereka. Aku hanya manusia pengecut…”

“Kalau kau memang tidak suka,” kata Junhyung. “Kau katakan pada mereka. Kau jangan berpura-pura menjadi orang baik tanpa dosa. Kau sudah mengecewakan keluargamu, Hyung.”

Doojoon membenamkan wajahnya dengan telapak tangannya, menangis. Junhyung mengepalkan tangannya menahan emosi. Dia masih marah. Eunhoon tahu kalau Junhyung masih menyimpan emosi. Dia menggenggam tangan Junhyung.

“Hyung-mu pasti sudah sangat menderita selama ini…” bisik Eunhoon.

Junhyung tidak menjawab apa-apa.

***

“Junhyung memang adik kandungku. Dia pergi dari rumah setelah bertengkar dengan Appa karena dia ingin keluar dari kedokteran. Hubunganku dengannya pun tidak terlalu baik, dia tidak menyukaiku karena hanya aku yang bisa memenuhi keinginan Appa untuk untuk menjadi dokter, dan karena itu Appa lebih perhatian denganku.”

Eunhooon terdiam selama beberapa saat setelah mendengar penjelasan Doojoon. “Apa kau tertekan dengan keadaanmu sekarang? Apa pekerjaan sebagai dokter ini membuatmu tertekan?”

“Bukan karena pekerjaanku, tapi karena aku tidak bisa menjaga adikku sendiri, dia pergi karena aku tidak mempedulikannya dan lebih memilih pekerjaan. Aku terlalu sibuk menjaga citra sebagai seorang kakak yang sempurna di mata orang lain, selama ini aku tidak sadar kalau ada satu orang yang tidak menganggapku sempurna, dan orang itu justru adikku sendiri.”

“Kupikir, setelah ini dia pasti akan semakin membenciku, karena selama ini aku telah lari dari tanggung jawab,” kata Doojoon.

“Kalau aku ada di posisimu, aku juga pasti akan ketakutan,” kata Eunhoon. “Kau dituntut bertanggung jawab dengan melepaskan sesuatu yang paling berharga darimu…”

“Tapi dia pasti akan melakukannya, kalau dia ada di posisiku,” kata Doojoon. “Aku tahu sifatnya, dia jauh lebih pemberani dariku.”

“Doojoon-ssi…”

“Aku akan membantumu,” kata Doojoon. “Aku berjanji akan berusaha mencarikan donor mata untukmu. Kalau perlu, aku yang akan membiayai operasimu.”

Doojoon menatap mata Eunhoon yang hampa, dia berjanji pada dirinya sendiri untuk membuat sepasang mata itu kembali bersinar.

***

Dua minggu kemudian, Eunhoon kembali ke rumah sakit setelah dihubungi oleh Doojoon kalau dia sudah menemukan donor mata untuk Eunhoon.

“Apa kakakmu akan berangkat hari ini?” tanya Junhyung pada adik Eunhoon, Yoseob.

“Ya, sebentar lagi kami berangkat,” kata Yoseob. “Hyung mau ikut?”

“Tidak, aku harus pergi ke rumah orangtuaku,” kata Junhyung. Yoseob mengangguk.

Beberapa menit setelah Yoseob berangkat mengantarkan Eunhoon, Junhyung berjalan menuju rumah orangtuanya. Sudah hampir setahun dia tidak pernah pulang ke rumah. Saat melihat halaman rumahnya, nyaris tak ada yang berubah. Bahkan motornya yang terparkir di garasi pun masih ada. Junhyung sempat berpikir ayahnya akan membakar motor itu setelah dia pergi dari rumah.

“Apa itu sikap seorang laki-laki?”

Junhyung menoleh dan melihat ayahnya ternyata sudah berdiri di depan pintu.

“Kabur dari rumah karena keinginannya tidak terpenuhi? Kau pikir dengan kabur dari rumah, aku akan merasa bersalah lalu menuruti keinginanmu?”

“Yeobo, sudahlah,” kata ibu Junhyung. “Yang penting kan dia sudah pulang ke rumah…”

“Aku tahu aku salah,” kata Junhyung. “Aku minta maaf, Appa. Tapi sampai kapanpun aku tidak akan berhenti ingin menjadi pelukis.”

“Kau pulang ke rumah hanya untuk merengek ingin jadi pelukis?” tanya ayah Junhyung. “Apa yang kau harapkan dari pekerjaan seperti itu? Hanya menciptakan coretan-coretan tidak berguna yang memenuhi tembok…”

“Tapi disitulah aku menemukan kebahagiaan, Appa. Aku tahu kalau Appa menginginkanku menjadi dokter karena Appa ingin melihatku hidup mapan, sejahtera. Tapi aku tidak bahagia disana. Aku sudah menemukan jalan hidupku dan aku ingin menjalaninya.”

“Sampai kapanpun aku tidak akan menyetujui!” gertak ayah Junhyung.

Junhyung berlutut di depan ayahnya. “Appa, aku tidak ingin melihat Appa tertekan karena melihatku yang tidak menurutimu. Tolong izinkan aku menekuni apa yang kusukai.”

“Jangan berpura-pura khawatir denganku hanya supaya aku terharu dan akhirnya menuruti keinginanmu, Junhyung!” kata ayah Junhyung. “Kau benar-benar keras kepala!” katanya lalu pergi meninggalkan Junhyung yang masih berlutut di depan pintu.

“Yeobo! Jangan seperti itu!” kata ibu Junhyung.

“Kau ingin membelanya? Membela anak keras kepala seperti itu?” tanya ayah Junhyung keras. “Aku sudah bersusah payah memikirkan masa depannya tapi dia sama sekali tidak mau menurut.”

“Justru karena dia sudah menentukan masa depannya sendiri, dia memohon padamu untuk mengizinkannya,” kata ibu Junhyung. “Yeobo, aku sangat memahami sifatnya, dan aku yakin kalau pelukis adalah hal yang benar-benar diinginkannya.”

“Tapi pelukis itu…”

“Tidak mapan? Tidak bahagia?” tanya ibu Junhyung. “Yeobo, kau tidak bisa mengukur kebahagiaan seseorang menurut pengamatanmu sendiri, membandingkannya dengan sesuatu yang membuatmu bahagia. Kalau kau pikir dia akan bahagia dengan hidup yang mapan dan dengan uang banyak, belum tentu dia menginginkan hal seperti itu. Tolong pikirkan lagi, yeobo.”

Ayah Junhyung mengatupkan rahangnya dengan keras. “Kenapa kau selalu meladeni keinginan anak keras kepala itu?”

“Karena aku sudah sangat berpengalaman dalam menghadapi pria yang keras kepala,” kata ibu Junhyung lembut. “Apa kau tidak sadar betapa miripnya kau dengan Junhyung? Kalian tidak pernah menyerah untuk meraih apa yang kalian inginkan.”

Ayah Junhyung tidak menjawab, dia memilih masuk ke kamar dan mengunci pintu.

***

Sudah tiga jam Junhyung berlutut di depan pintu, wajahnya pucat karena kelelahan dan lututnya sangat sakit, tapi dia tidak mau pindah sama sekali.

“Junhyung-ah, ayo masuk. Wajahmu sangat pucat,” ibu Junhyung menarik lengan Junhyung, tapi namja itu tidak bergeming.

“Aku tidak akan pergi kemana-mana,” kata Junhyung singkat.

“Junhyung-ah, jangan siksa dirimu seperti ini…”

“Ini tidak ada apa-apanya dengan perasaan tersiksa yang harus aku jalani selama setahun ini karena harus melakukan sesuatu yang kubenci!” kata Junhyung.

Ayah Junhyung keluar dari kamar dan berjalan menghampiri Junhyung. Dia menatap putra bungsunya itu dengan tatapan tajam. “Aku akan menjual komputer di kamarmu dan motormu, Junhyung.”

Ibu Junhyung menoleh kaget. “Yeobo!”

“Dan kau tidak boleh menginjakkan kakimu ke rumah ini,” kata ayah Junhyung. “Sebelum kau membuktikan padaku kalau kau bisa sukses menjadi seorang pelukis.”

Junhyung mendongak, menatap ayahnya dengan tatapan tidak percaya.

“Aku tidak punya cukup uang untuk membiayai kuliahmu, jadi aku harus menjual komputer dan motormu.”

Junhyung segera berdiri dengan susah payah. Wajahnya yang pucat langsung berbinar. Dengan langkah goyah dia menghampiri ayahnya dan memeluknya. “Terima kasih, Appa. Aku janji aku akan berusaha keras untuk meraih impianku, aku janji tidak akan menyusahkanmu lagi. Aku janji!”

Ayah Junhyung menepuk punggung putranya, dia akhirnya benar-benar melihat kemiripannya dengan anak bungsunya ini. “Aku pegang janjimu, Junhyung-ah.”

***

Junhyung kembali mengunjungi Eunhoon di rumah sakit. Dia melihat Eunhoon duduk di atas tempat tidur, kedua matanya diperban. Eunhoon baru menyadari kehadiran Junhyung setelah namja itu duduk di pinggir tempat tidur.

“Junhyung-ssi?”

Junhyung tersenyum. “Kau selalu bisa menebakku.”

Eunhoon tertawa. “Insting orang buta itu lebih kuat, tahu.”

“Tapi sebentar lagi kau kan sudah bisa melihat.”

“Masih harus menunggu seminggu lagi. Ah, aku tidak sabar,” kata Eunhoon antusias. “Seandainya aku tahu siapa orang baik yang mendonorkan matanya padaku…”

“Kau tidak tahu siapa yang mendonorkan mata?”

Eunhoon menggeleng. “Doojoon-ssi bilang si pendonor tidak mau aku tahu namanya. Tapi dia tahu kalau aku yang menerima donor matanya. Ah, Yoseob bilang kau pergi ke rumah orangtuamu. Bagaimana? Kau sudah bicara dengan mereka?”

“Yah, karena aku nekat meminta untuk keluar dari kedokteran, ayahku memaksaku untuk menjual komputer dan motorku,” jawab Junhyung. Eunhoon menutup mulutnya, kasihan dengan Junhyung.

“Untuk biaya kuliah di Taekyung,” lanjut Junhyung lalu tersenyum.

“Benarkah?” tanya Eunhoon senang. “Mereka mengizinkanmu kuliah di Taekyung? Syukurlah, aku senang sekali.”

“Kenapa malah kau yang lebih gembira dari aku?”

Eunhoon merasa malu dengan tingkahnya yang seperti anak kecil. “Ah, tidak… aku hanya senang mendengar berita bahagia. Oh, lalu bagaimana dengan Doojoon-ssi? Kau… pernah bicara lagi dengannya?”

“Aku sedang berusaha untuk berbaikan dengannya,” jawab Junhyung. “Meskipun aku sempat marah karena dia lari dari tanggung jawab, tapi kupikir selama beberapa bulan ini dia pasti merasa sangat tertekan.”

“Dan tidak adil kalau kau terus marah padanya,” kata Eunhoon. “Aku pun sepertinya harus berterima kasih pada Doojoon. Karena bantuannya, sebentar lagi aku akan bisa melihat wajah penolongku.”

“Penolongmu?”

“Ya, kau,” Eunhoon tersenyum. “Aneh sekali rasanya, kita sudah mengobrol seperti ini tapi aku sama sekali tidak tahu bagaimana wajahmu.”

Aku justru berharap kau tidak pernah melihat wajahku, batin Junhyung. Junhyung menganggap dirinya hanya sebagai tongkat penuntun untuk orang buta, hanya diperlukan saat dibutuhkan.

“Junhyung-ssi?” tanya Eunhoon. “Kenapa diam?”

Junhyung menyentuh pipi Eunhoon, Eunhoon sedikit terkejut saat merasakan telapak tangan Junhyung yang hangat menyentuh pipinya. Junhyung mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Eunhoon.

***

“Noona, kau melihat wajahku?” tanya Yoseob, matanya berbinar cerah saat melihat Eunhoon membuka matanya yang sudah seminggu diperban. Mata Eunhoon terasa kabur awalnya, dan setelah dia mengerjapkan berkali-kali, dia bisa melihat beberapa wajah di depannya.

“Doojoon-ssi? Yoseob?” tanya Eunhoon. “Ini benar-benar kalian?”

Yoseob memeluk kakaknya bahagia. “Iya noona, ini aku!”

“Kenapa kau memakai baju hitam?” tanya Eunhoon. “Kenapa matamu sembab?”

“Aku baru saja dari pemakaman teman,” kata Yoseob. “Kamsahamnida, Doojoon-ssi, kau sudah banyak membantu kakakku,” kata Yoseob lalu membungkuk.

“Anggap saja ini sebagai balas budi karena Eunhoon sudah memaafkanku,” kata Doojoon.

“Memaafkan? Untuk apa?” tanya Yoseob bingung. Dia memang tidak tahu dengan kejadian beberapa waktu yang lalu itu.

“Bukan masalah yang serius,” kata Eunhoon. “Kau pergilah ke kafetaria, kau belum makan dari pagi kan?”

Yoseob mengangguk pelan, dia berjalan keluar. Eunhoon tersenyum melihat adiknya, rasanya sudah lama dia tidak melihat wajahnya. Dia menoleh menatap Doojoon. “Sekali lagi terima kasih, Doojoon-ssi.”

“Seharusnya kau berterima kasih kepada pendonor matamu itu, tak banyak orang yang sebaik dia,” kata Doojoon. “Sayang sekali, dia tidak ingin kau tahu namanya. Dia masih sangat muda, seumuran dengan adikmu.”

“Benarkah?” tanya Eunhoon. “Jadi, dia… meninggal di usia muda?”

Doojoon mengangguk. Eunhoon menghela napas, dalam hati dia berjanji akan menjaga mata ini baik-baik sebagai bentuk terima kasihnya pada pemilik mata sebelumnya, meskipun Eunhoon tidak mengenalnya sama sekali.

Tapi selain itu, ada sesuatu yang mengganjal di hati Eunhoon. Junhyung sama sekali tidak datang menjenguknya.

***

Eunhoon kembali ke kamarnya setelah berjalan-jalan di halaman rumah sakit, dan dia melihat ada sesuatu yang ditaruh di atas tempat tidurnya. Eunhoon melihat sesuatu yang terbungkus kertas coklat itu, ada pesan di atasnya.

Saat seseorang sudah merasakan silaunya cahaya, tongkat penuntun menjadi tidak berguna lagi.

Eunhoon mengernyitkan dahi, dia tidak paham apa maksudnya. Dia merobek bungkusan berwarna coklat itu, dan dia terperanjat melihat benda itu.

 

Sketsa wajahnya. Junhyung? gumamnya. Dia bergegas ke bagian resepsionis. “Permisi, apa ada seseorang yang tadi menanyakan kamarku? Namaku Yang Eunhoon.”

“Yang Eunhoon…” kata suster itu. “Ada, seorang namja. Dia membawa bungkusan berwarna coklat di tangannya. Tapi aku tidak menanyakan namanya.”

Eunhoon ingin menanyakan ciri-ciri namja yang dimaksud suster itu. Tapi percuma saja, dia tidak tahu wajah Junhyung sama sekali. “Apa sudah lama dia pergi?”

“Baru saja tadi kulihat dia lewat,” kata suster.

Eunhoon bergegas pergi ke lobi, dia ingin mencari Junhyung meskipun itu sangat sulit karena dia tidak tahu wajah Junhyung. Ada banyak orang lalu lalang di lobi, dan tidak mungkin Eunhoon menanyakannya satu per satu.

Sementara Junhyung, dia sebenarnya masih berada di lobi, di tempat yang sama dengan Eunhoon. Dia melihat Eunhoon mondar-mandir mencarinya dengan wajah panik, tapi dia sama sekali tidak berniat memanggil Eunhoon. Dengan sedih dia berjalan keluar dari lobi. Jangan berharap tongkat penuntun akan digunakan oleh orang yang bisa melihat, kata Junhyung dalam hati.

“Eunhoon-ssi,” panggil suster di bagian resepsionis. Eunhoon menoleh.

“Itu dia,” suster itu menunjuk Junhyung yang sudah keluar. “Yang memakai jaket coklat.”

Eunhoon bergegas menyusul orang yang ditunjuk suster itu. Sampai di halaman depan, dia berteriak, “Junhyung-ssi!”

Junhyung berhenti melangkah, Eunhoon memanggilnya. Tapi kalau dia tetap berhenti, Eunhoon akan mengetahuinya. Junhyung perlahan kembali berjalan. Orang-orang menatap Eunhoon dengan heran.

“Aku tahu itu kau! Jangan pergi, Junhyung!” teriak Eunhoon lagi, dia menatap namja berjaket coklat di depannya. Dia menghampiri Junhyung, lalu menarik lengannya. “Apa maksudmu meninggalkanku seperti itu?”

Junhyung menghindari tatapan Eunhoon. Dia hendak menarik lengannya dari Eunhoon, tapi Eunhoon berdiri di depannya menghalangi jalannya. “Kenapa kau pergi tanpa mengatakan apapun padaku?”

“Kau sudah baca pesanku kan,” kata Junhyung. “Aku hanya tongkat penuntun yang tidak berguna lagi. Aku tahu diri, lebih baik aku pergi lebih dulu sebelum dibuang.”

Junhyung berbalik meninggalkan Eunhoon. Tapi tiba-tiba Eunhoon memeluknya dari belakang. “Aku tidak pernah menganggapmu seperti itu. Aku tidak pernah menganggap siapapun sebagai tongkat penuntun. Aku bahkan tetap menyimpan tongkat yang kau berikan, Junhyung. Aku tidak mau membuangnya. Aku menyukaimu, Junhyung.”

Junhyung terdiam. Dadanya berdebar kencang, dia menyadari kalau dia juga menyukai yeoja ini, dan sikapnya yang pergi menghindari Eunhoon setelah Eunhoon bisa melihat lagi, karena dia takut Eunhoon menolaknya. Dia takut Eunhoon tidak memiliki perasaan yang sama dengannya.

Junhyung menggenggam tangan Eunhoon, melepaskannya. Dia berbalik menatap Eunhoon, lalu memeluk yeoja itu erat. Eunhoon membalas pelukan Junhyung, merasakan dada namja itu yang berdebar kencang.

“Dadamu berdebar kencang sekali,” kata Eunhoon.

“Karena aku juga menyukaimu,” kata Junhyung.

Eunhoon tersenyum, air matanya perlahan mengalir.

***&&&***

Next part:

“Dia bukan ibuku!”

“Aku hanya khawatir melihatmu seperti ini…”

“Kenapa kau membohongiku?”

“Kau lebih rapuh dari daun-daun kering…”

“Jangan marah lagi padaku, jangan pergi… aku ketakutan…”

“Saranghaeyo…”

Advertisements

70 responses to “[5 of 6] 순진한 사랑 [Innocent Love]

  1. Pingback: [6 of 6] 순진한 사랑 [Innocent Love] « FFindo·

  2. junhyung pengecut ih! abis cium mau langsung kabur gitu aja #plak
    happy ending, yeyeyeyeye aku suka 😀
    gx nyangka kalo yoseob kakaknya eunhoon + junhyung adeknya doojoon, kkk~
    btw, fotonya eunhoon cantik banget *tunjuk2* #abaikan
    nice 😀 *nyacirkepart6*

  3. ulzzangnya namanya siapa ya? cantik!! >w<
    ihihi~ aduh terharu banget pas baca yang Junhyung minta jadi pelukis sama appanya itu :')
    daebbak iih ceritanya!! 😀

    aigooooo~~ keren banget!! 😀
    author berdua bahasanya bagus banget!! XD

  4. sukaa …
    terharu banget pas baca partnya junhyung mohon ama appanya … :’)

    yang donorin mata siapa tu ?
    gadikasi tau ??

    nice … 🙂

  5. keren-keren-keren!! aigoo~
    so sweet banget! T.T
    mau dong dipeluk ma Jun Oppa,haha
    lahh,emg yang donorinmata siapa? kirain Junyang donorin,ahh
    nice ff!!

  6. ternyata junhyung dan doojoon bersaudara..
    kereeenn…
    penasaran sapa yg donorin matanya eunhoon..
    yoseob lucu deh..^^

  7. wah keren2 chingu, smua partny sling berhbungan.
    doojoon n junhyung trnyta saudara toh, kirain dpart sblumny doojoon itu die tabrakan loh chingu.
    trnyta cman nabrak org doank, slah paham aku nih haha.
    untung aj y junhyung diizinin jd pelukis y m appany, kalo smpat jd dokter ntar tubuh pasienny dlukis2 lgi wktu operasi. Kan g lucu tuh chingu wkwkwk
    nice ending dh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s