[FREELANCE] Complete

Title : Complete

Author : Choi Seun-U

Genre : Romance maybe?

Main Cast :

–          Kwon Yuri (Yuri SNSD)

–          Choi Minho (Minho SHINee)

Other Cast :

–          Im Yoona (Yoona SNSD)

–          Jessica Jung (Jessica SNSD)

–          Kangin (Kangin SuJu)

Rating : Maybe General or PG-12? Non NC

 

Hello, saya baru disini mengirim ff freelance. You can call me Nesdy or Sunu. Saya mencoba mengirim Fanfic karena hobi saya adalah mengarang. FF Ini pernah dikirim ke wonderfanfiction.wordpress.com.  Jadi selamat menikmati, maaf kalau gambarnya murahan hehe.

***

“Aww sakitnya. Dimana aku?” Yuri terbangun dari tidurnya. Kepalanya diperban karena luka.

“Ah, sudah sadar,” sosok perempuan berparas cantik langsung tersenyum lega di sebelah Yuri. Matanya terlihat agak bengkak dan merah “kuharap kau sudah baikan,” lanjutnya sambil menyeka air mata.

“Yoona, sebenarnya dimana aku? Apa yang terjadi? Aww,” Yuri merasakan sakit di kepalanya ketika ia berusaha menggerakannya.

“Kakak sedang berada di rumah sakit,” Jawab Yoona.

 

— Flasback—

Yuri masih gelisah menunggu Minho, temannya. Mereka berdua akan pergi menuju resepsi pernikahan Kangin dan Jessica, salah dua teman mereka. Sebenarnya Minho sudah berjanji akan datang jam 18.00 tapi sampai jam 18.45 Minho belum datang juga.

“Lama sekali orang itu datangnya,” Yuri mendengus kesal.

“Sabar sedikitlah kak, toh resepsi baru mulai jam setengah delapan nanti,” ucap Yoona, adik Yuri yang sedang asyik menikmati keripik singkong sambil menonton sinema favoritnya di televisi.

“Tapi tetap saja menyalahi janji,” Yoona tidak menggubris perkataan kakaknya itu karena ia telah tenggelam dalam alur cerita sinema yang ia tonton. Yuri mendudukkan dirinya ke sofa. Tidak lama kemudian bel pintu berbunyi. Yuri bangkit dari sofa lalu membuka pintu.

“Akhirnya datang juga, lama sekali kau!” ucap Yuri menyambut kedatangan Minho.

“Maaf,” jawab Minho singkat sambil menundukkan kepalanya “sekarang ayo kita pergi,” ajaknya.

“Baiklah, ehh Yoona! Jangan lupa kunci pintu ya! Jangan bukakan pintu kepada siapapun oke!”

“Oke! Ehh Kak Yuri!” Yuri dan Minho yang baru saja akan keluar mengehentikan langkah mereka “sepertinya kalian cocok ya bila berpacaran! Hehe.”

“Apasih kamu! Anak kecil belum boleh tahu pacaran ya! Lagipula aku dan Minho hanya sahabat kok!” bantah Yuri sementara Minho hanya tersenyum melihatnya.

“Hey umurku sudah 16 tahun dan tidak bisa lagi disebut anak kecil iihhh!” Yoona menggembungkan pipinya sambil mendengus kesal.

“Hahaha baiklah remaja, iih!” Yuri mencubit gemas pipi Yoona yang langsung tersenyum kembali karena itu. “baiklah aku pergi dulu ya!”

“Ya kak! Eh tunggu kak Minho!” ucap Yoona menahan mereka lagi “jangan kau apa – apakan kakakku ya!”

“Haha memang kau pikir akan kuapakan dia? Tenang saja! Yasudah kami pergi dulu,” akhirnya Yuri dan Minho pergi dari rumah itu. Minho membuka pintu mobil sedan hitamnya dan mereka berduapun memasuki mobil itu dan melaju pergi.

 

Mobil Minho melaju cukup kencang ketika mereka menyusuri malam hari di kota Seoul.

“Kalau malam hari begini aku jadi ingat ketika perpisaha SMA dulu,” ucap Minho.

“Ah iya, aku ingat saat kau masih suka kepada Gyuri, kau merengek – rengek kepadaku supaya aku membantumu PDKT. Dan ketika kau menyatakan perasaanmu malam itu kau ditolak mentah – mentah. Hahaha itu lucu sekali melihat ekspresi wajahmu ketika itu, merahnya mantap,” Yuri tertawa sementara Minho mendengus kesal.

“Sudah jangan diingatkan lagi! Aku juga masih ingat ketika kau ulang tahun dua tahun yang lalu. Kau menangis ketika Kangin dan Jessica memarahimu karena kau merusak baju pesta Jessica. Itu lucu sekali tiba – tiba kau menangis lalu berlari kearahku dan mengadu seperti anak kecil,” kali ini  gentian Yuri yang mendengus kesal dan Minho yang tertawa. Tetapi kemudian wajah Minho berubah menjadi sedikit gerogi dan Yuri juga sama.

“Hey Minho.”

“Hmm?” jawab Minho tetap fokus mengemudi.

“Kau pikir apakah Kangin dan Jessica adalah pasangan yang cocok?” tanya Yuri.

“Ya mereka cocok, sama – sama orang yang keras dan galak haha,” Minho dan Yuri tertawa mendengar ucapan Minho itu.

“Benar juga ya, aku tak bisa membayangkan anak mereka nanti. Pasti akan galak juga, haha,” mereka kembali tertawa.

Tiba – tiba konsentrasi Minho untuk mengemudi buyar dan….

“Minho! AWAAAAASSSSS!!!!!!!!!!!!!,”

DUAAARRR………..

Mobil mereka menabrak sebuah pohon yang sangat besar. Mereka berduapun terkapar tidak sadarkan diri.

–Flashback End—

 

Yoona keluar dari ruang rawat Yuri dengan mata masih terlihat sembab. Minho yang sedang duduk langsung menghampirinya.

“Bagaimana keadaan kakakmu?” tanya Minho. Yoona menyeka matanya “dia sudah sadar.”

“Syukurlah, kukira kami berdua akan mati setelah itu. Aww,” luka di kepala Minho kembali berdenyut.

“Kau tidak apa – apa?” tanya Yoona “sepertinya kau juga harus di rawat.”

“Tidak perlu, sebentar lagi juga sembuh,” Minho berusaha meyakinkan “tadi bagaimana keadaan kakakmu?”

“Dia sudah sadar, tapi luka di kepalanya masih parah dan tadi dokter menyuruhku untuk keluar. Dia tidak boleh di jenguk dulu,” Yoona menahan Minho yang sudah bersiap memasuki ruangan Yuri.

Minho merasa sangat bingung, ia merasa bersalah atas kejadian yang menimpa Yuri semalam. Coba saja ia lebih fokus mengemudi waktu itu, pasti kejadian ini tidak akan terjadi. Dan sekarang karena kecelakaan itu ia hampir saja menghilangkan nyawa sahabat terbaiknya itu. Untungnya Yuri masih hidup dan sudah sadar. Ia ingin sekali menghampiri Yuri dan minta maaf atas kejadian ini, tapi ia belum diberi kesempatan untuk itu karena Yuri belum di izinkan untuk dijenguk lagi sekarang.

“Hei kalian!” seorang pria tiba – tiba menghapiri Yoona dan Minho. Tampak ia ditemani oleh seorang wanita berambut pendek. “Bagaimana keadaan Yuri, Yoona?” tanya pria itu.

“Dia baru saja sadar. Dia belum boleh dijenguk sekarang,” jawab Yoona.

“Oh poor Yuri. Dia pasti tidak sempat menghadiri pernikahan kami semalam,” keluh Jessica.

“Hus! Bukan saatnya membicarakan hal itu, Jess!” ucap Kangin kepada istrinya itu.

“Oh iya, selamat ya Kangin, Jessica. Atas pernikahan kalian,” Minho menjabat tangan sahabatnya itu dan memeluk mereka berdua. Begitupun dengan Yoona.

Beberapa saat kemudian, dokter yang mengobati Yuri keluar dari ruang rawat. Ia menghampiri kerumunan Yoona, Minho, Kangin, dan Jessica.

“Saudari Yoona?”

“Ya, itu saya. Ada apa? Bagaimana keadaan kakak saya?” ucap Yoona khawatir.

“Kau ikut ke ruangan saya sebentar,” kemudian dokter itu berlalu disusul oleh Yoona. Minho, Kangin, dan Jessica hanya terdiam kemudian melanjutkan kembali obrolan mereka tentang kejadian itu.

“Kalau saja aku lebih berhati – hati tidak mungkin terjadi seperti ini,” itulah yang berulang kali dia ucapkan.

“Kau tidak boleh seperti itu, ini semua kecelakaan. Tidak ada yang salah dalam kejadian ini, ini semua takdir yang harus kita lalui,” Kangin berusaha menenangkan Minho yang terus saja meratap.

“Kalau saja kami tidak tertawa – tawa kemarin, pasti Yuri masih sehat sekarang,”

“Kau berbicara itu seakan Yuri sudah mati, Minho! Tenang saja, kau tahukan dia sudah sadar sekarang? Jadi kamu tidak perlu khawatir lagi, sebentar lagi Yuri akan sehat kembali kau tenang saja,” ucap Jessica. Kemudian Yoona datang dengan mata yang merah, dia sedang menangis.

“Kak Minho, kak Yuri……,” Yoona terisak.

“Kenapa? Ada apa dengan Yuri? Dia pasti baik – baik saja kan?”

“Kak Yuri……” Yoona menjelaskan sesuatu kepada mereka.

“APA?!?”

 

*****

 

“Kak Yuri hari ini sudah di rumah.”

“Baiklah aku akan segera ke sana,” Minho menutup teleponnya dan bergegas mencari taksi untuk menuju rumah Yuri. Mobilnya belum benar dari insiden itu. Sepanjang jalan Minho hanya memikirkan Yuri, apa benar ucapan Yoona kemarin? Hati Minho makin gusar, rasa bersalahnya kepada Yuri semakin menjadi – jadi. Ia benar – benar marah kepada dirinya sendiri. Beberapa menit kemudian ia sampai di rumah Yoona.

“Ah, kak Minho, sudah datang,” sambut Yoona di depan pintu.

“Kak, aku ingin bicara sesuatu,” mata Yoona terlihat bengkak seperti habis menangis “kau harus berjanji tidak memberitahu Yuri hal itu sebelum waktunya ya,” lanjutnya.

“Tentu saja, Yoona. Aku janji,” ucap Minho. Kemudian mereka berdua masuk ke apartemen.

“Ah, Minho! Selamat datang, aku seperti sudah lama sekali tidak bertemu kau!” Yuri tersenyum menyambut kedatangan Minho. Yuri sedang duduk di sofa sambil menonton TV. Begitu sakit hati Minho melihat senyuman Yuri, sungguh ia tidak ingin kehilangan dia secepat itu. “Kenapa kau menatapku seperti itu? Duduklah.”

“Yuri, aku berjanji akan membuatmu bahagia walaupun ini yang terakhir,” kata itu keluar begitu saja dari bibir Minho.

“Kau bicara apa sih? Seakan aku akan mati saja! Haha, sudahlah,” tawa Yuri. Sedikitpun tawa itu tidak membuat Minho tersenyum, hatinya malah makin sakit “kenapa semua orang begitu aneh hari ini? Tadi Yoona yang terus menangis, Kangin dan Jessica yang malah berkata yang aneh – aneh, dan sekarang Minho yang malah mematung dan berbicara aneh juga di depanku? Oh tidak,” Yuri menggelengkan kepalanya. Tentu saja semuanya bertingkah laku seperti itu.

“Kata dokter kakak bisa diajak jalan – jalan hari ini, mungkin kak Minho mau mengajaknya ke café?” usul Yoona.

“Baiklah, tapi mungkin Yuri mau naik taksi saja? Mobilku masih rusak,” ujar Minho. Kemudian Yuri menjawab. “Tentu saja! Ayo! Aku ingin sekali jalan – jalan,” Yuri begitu semangat mendengar ajakan itu. Minho dan Yoona saling berpandangan, Yoona mengangguk kepada Minho kemudian Minho menggandeng tangan Yuri. “Ayo,” kemudian mereka keluar lalu taksi dan pergi. Yoona menangis sendiri di dalam rumah, mungkin tadi saat terakhir dia melihat kakaknya.

 

*****

“Tumben sekali kau mau mengajak ku ke café ini, Minho. Aku sudah lama sekali ingin ke sini,” Yuri tersenyum penuh kebahagiaan. Minho tersenyum, inilah yang bisa membuat Yuri bahagia.

“Kalau ini bisa membuatmu bahagia, akupun juga bahagia Yuri,” namun Yuri tidak menjawab ucapan Minho, dia masih asyik menyantap makanan yang dipesannya “kuharap kau senang.”

“Tentu saja aku senang, Minho!” senyum masih melekat kuat di wajah Yuri “kalau boleh tahu, kenapa kau mengajakku ke sini?” jantung Minho seakan berhenti berdetak, tidak mungkin ia jujur sekarang juga. Masih ada hal lain yang ingin dia sampaikan kepada Yuri sebelum itu.

“Membuatmu bahagia tentu saja,” jawab Minho.

“Yah, sebenarnya tanpa beginipun aku sudah bahagia denganmu, aku yakin ada hal lain selain ini kan? Hayo jujur!” wajah Yuri kini berubah seperti seorang detektif yang berusaha membongkar suatu masalah

“Oh baiklah, sebenarnya aku tidak tega memberitahukan ini tapi… ah,” perasaan Minho makin bercampur “umurmu sudah tinggal 45 menit lagi.” Yuri menyemburkan minumannya.

“APA!?! Kau bercanda?” ucap Yuri tidak percaya.

“Tidak aku tidak bercanda, dokter memvonismu setelah kecelakaan itu. Pembuluh dara di otakmu akan pecah sebentar lagi, ini semua karena aku,” air mata Minho akhirnya jatuh.

“Satu lagi yang ingin kuutarakan padamu,” sekarang detak jantung Minho terasa makin cepat

I Love You, Yuri,” Minho mencium kening Yuri beberapa saat. Yuri tersenyum, tetapi beberapa saat kemudian.

“Aduh, kok aku terasa pusing ya? Aduh,” Yuri ambruk dari kursi dan tidak berbicara apa – apa lagi setelah itu.

*****

Minho hanya meratapi rumput. Sekarang ia sedang duduk di halaman rumah sakit. Sekarang Yuri sudah pergi pikirnya. Ia masih menyesali kecerobohannya ketika itu. Sekarang karenanya-lah Yuri meninggal. Air mata mulai membasahi pipinya, ia tidak kuat menghadapi ini. Berulang kali ia berusaha tidak cengeng berulangkali pula air matanya jatuh.

“Berhentilah menangis,” suara yang begitu familiar membuat Minho terbangkit dari tangisannya. Tepat di depannya wanita itu berdiri.

“Yuri?”

“Ya ini aku, tolong berhentilah menangis! Aku tidak suka kau menangis,” Minho mengelap air matanya walaupun masih tetap menyisakannya.

“Yuri, aku tahu ini salahku. Kalau aku tidak ceroboh waktu itu kau tidak akan seperti ini. Tolong maafkan aku Yuri, maafkan,” Yuri hanya tersenyum melihat Minho.

“Kau tahu Minho. Selama aku berteman denganmu tidak ada yang membuat sedikitpun aku benci kepadamu, kau adalah sosok paling baik dan sempurna yang pernah aku kenal Minho, aku sangat bahagia bila bersamamu. Dan walaupun aku pergi karena masalah itu aku tidak akan pernah menyalahkanmu Minho,” Yuri mengusap kepala Minho “dan mengenai pernyataan cintamu kemarin, sebenarnya aku juga mencintaimu Minho. Aku senang dan nyaman bila berada didekatmu,” Minho menaikkan wajahnya menatap wajah Yuri yang memucat “tapi dunia kita sekarang berbeda Minho, aku minta maaf.”

Minho kembali tertunduk dan meneteskan air mata “aku akan tetap mencintaimu Yuri. Kapanpun itu,” Minho berusaha memeluk Yuri, tapi sosok itu tidak bisa disentuh.

“Baiklah, Minho. Jika kau mencintaiku berjanjilah kau akan menjaga Yoona. Nah, sekarang aku pergi dulu, jaga dirimu baik – baik. Dan terimakasih telah membuat hidupku sempurna,” bayangan Yuri perlahan naik ke langit dan lama kelamaan memudar. Sosoknya menyatu dengan angin, bayangan itu telah pergi, Yuri telah pergi. Air mata Minho kembali jatuh.

 

 

 

Advertisements

26 responses to “[FREELANCE] Complete

  1. suka sih tau knyataannya mreka saling suka .
    berharap di dunia nyata juga 🙂

    tapi , ko mati ?
    minho sama yoona ?
    euh ….

    hikshiks ..:(
    mian ya baru comment , baru sempet sih … 🙂

  2. Vonis dokter tidak meleset. Hm, Yuri harus meninggalkan Minho setelah keadaan yang diperkirakan membaik.
    Nice story.

  3. sedih.. kasian Minhonya :”
    jangan sedih ya Minho tenang masih ada Jiyeon sama YoonA
    #MelukMinho, Minhonya nangis

  4. Aish sad ending ;( ;(
    hm minho oppa awas yah kalau dekat2 sama yeoja lain , hm yulnie menunggu minho oppa disana hahaha ..
    Mmm.. Bagus chingu ff nya ,
    apapun yang berhubungan dengan minyul , gak ada yang gak bagus , hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s