I READ YOUR MIND [Western Fict]

Author: Unie

Genre: Fantasi, AU (Alternate Universe)

Rating: PG-15

Length: Chaptered

Cast:

–         Kristen Stewart

–         Tom Felton

–         Rupert Grint

–         Emma Watson

–         Daniel Radcliff

Disclaimer:

FF ini bener-bener imajinasiku. Kalau misal ada yang mau komplain karena ada kesamaan. Ke acc twitterku ya di: @onyuni

            Well, mulai hari ini aku akan pindah sekolah dari St. Aden boarding school ke Stofe School yang terletak di Buckinghamshire. Sekolah asrama ini telah mencetak alumni-alumni dengan kualitas yang tidak perlu dipertanyakan lagi di seluruh dunia. Aku adalah pelajar yang bisa dibilang paling beruntung kurun waktu tiga tahun terakhir ini, karena di saat orang-orang bersusah payah mengikuti serangkaian test masuk Stofe School aku malah mendapat undangan langsung dari Professor Dalton (Kepala sekolah Stofe School) pada level 4 atau setara dengan kelas 1 SMA di sekolah umum. Padahal untuk masuk di Stofe School, seluruh siswa harus memulainya dari level 1. Kenapa aku diundang oleh Professor Dalton adalah semata-mata karena ayahku yang telah meninggal saat aku berumur 5 tahun merupakan salah satu pengajar tetap yang jenius di Stofe School. Dan itulah pengecualiannya terhadapku. Professor Dalton menggunakan kuasanya untuk mengundangku tahun ini, setelah tiga tahun lalu dia mengundang salah satu murid sekolah umum yang katanya cukup jenius pada tingkat 2.

            Aku merapikan seluruh bajuku satu per satu di ke dalam koper dan menjejalkan beberapa barang yang biasa aku pakai saat di St. Aden ke dalam ransel. Pindah ke sekolah asrama adalah hal yang biasa bagiku karena dari awal aku memang sudah sekolah di asrama. Dengan serangkaian peraturannya yang ketat, mulai dari: tidak boleh memakai ponsel, membawa computer jinjing (karena sekolah biasanya sudah menyediakan lab computer penunjang), keluar malam walaupun masih di lingkungan sekolah, berkunjung ke asrama pria, dan serentetan hal-hal yang mengekang. Tapi justru di situlah letak seninya, peraturan.

“Kristen, apa kau sudah siap?” bibi Grace membuka pintu kamarku saat aku meresleting koper.

“Lima menit” aku menunjukkan lima jariku padanya.

“Oke, kau harus segera sarapan agar tidak terlambat. Kau tahu kan kalau Stofe School tidak mentolerir keterlambatan apalagi ini hari pertamamu?”

“Oke”

            Bibi Grace menutup pintu dengan hati-hati agar tidak menimbulkan bunyi yang terlalu keras. Setelah ayahku meninggal, aku tinggal bersama bibi Grace dan paman Anthony di London. Dulu aku tinggal di Los Angeles bersama ayahku sebelum beliau meninggal. Dan ibuku, sudah meninggal saat melahirkanku dulu. Aku yatim piatu sejak berumur 5 tahun.

            Tidak lebih dari lima menit aku selesai mengepak seluruh barang, aku berjalan menuju pintu dan memutar gagang besinya.

~Hari yang melelahkan~

Fuck! Pikiranku sendiri berkelebat untuk yang kesekian kalinya. Kenapa pikiran ini bisa berulang-ulang memenuhi otakku sih? Setidaknya selama dua hari terakhir ini aku bisa merasakan atau tepatnya mendengar suara-suara yang berasal dari pikiranku sendiri, bibi Grace, paman Anthony, teman-temanku bahkan orang yang tidak aku kenal sekalipun.

~Sedang apa dia di dalam? Apa semuanya sudah beres?~

            Kali ini adalah pikiran bibi Grace yang berkelebat. Pasti pikiran ini ada di otak bibi Grace sebelum ia masuk ke kamarku. Aku berjalan dengan raut yang senormal mungkin agar tidak mengindikasikan sesuatu yang mencurigakan. Aku menutup pintu kamar dengan pelan dan menguncinya.

“Semua barangmu sudah kau cek ulang?” tanya bibi Grace yang tengah menuang susu ke gelasku.

“Yup. Kemana perginya paman Anthony?”

“Sedang mempersiapkan mobil”

            Aku melongok ke arah jendela depan dan menyaksikan paman Anthony yang tengah memanaskan mobil.

“Kebiasaan buruknya” aku menatap bibi Grace, memberi tanda pada TV yang masih menyala.

~Hari ini drama kesukaanku… Bagaimana bisa Chelsea kalah?… Acara TV yang membosankan… Mana the Simpson? Berita sampah… Kartun murahan… Ah, acara cooking style~

 

            Aku memukul-mukul kepalaku sendiri setelah mematikan TV menggunakan remote control. Ucapan-ucapan yang tumpang tindih antara aku, bibi Grace dan paman Anthony berkelebat memenuhi otakku yang terkadang jelas dan terkadang sama-samar. Kenapa suara-suara ini terasa sudah lewat? Ini lebih mirip suara hatiku saat menonton TV semalam. Ini bukan suara di masa depan. Astaga, apa mulai sekarang aku bisa membaca pikiran orang lain?

“Kau kenapa?” suara bibi Grace mengagetkanku. Dia berjalan mendekatiku sambil membawa segelas susus segar di tangan kanannya.

“Ah, tidak apa-apa. Kepalaku hanya sedikit pening”

“Minum ini” bibi menyodorkan susu yang dia bawa.

~Hari ini dia akan pergi lagi… Aku akan sangat merindukannya… Semoga harinya tidak buruk di Stofe School… Eh, kenapa wajahnya pucat? Apa dia sakit?~

 

            Hampir saja susu yang aku minum menyembur keluar dari mulutku. Suara kekhawatiran bibi Grace terdengar jelas di otakku. Apa itu yang dipikirkan oleh bibi beberapa waktu lalu? Dia mencemaskanku? Sial! Ini tidak sopan! Membaca pikiran orang yang sudah jelas-jelas adalah sebuah privasi adalah hal paling hina. Lalu kenapa ini menimpa otakku sekarang?

            Aku menatap bibi Grace dengan lekat. Adik perempuan dari ayahku ini sudah seperti ibuku sendiri. paman Anthony juga sudah seperti ayahku sendiri. Aku akan sangat merindukan mereka berdua selama di Stofe School. Mereka tidak mempunyai anak selama lima belas tahun menikah karena rahim bibi Grace terpaksa diangkat melalui operasi. Dulu ada tumor ganas yang menyerang bagian penting seorang wanita itu.

“Aku akan merindukanmu” aku memeluknya yang sedari tadi memperhatikanku lekat.

“Kau harus bisa menjaga diri selama di sana. Ingat, jangan mudah percaya pada orang lain dan jangan membuat onar. Bibi juga akan sangat merindukanmu, sayang”

“Aku akan merindukan masakanmu, merindukan omelan paman Anthony, pokoknya aku akan merindukan kalian. Ah, terutama merindukan masakanmu yang tidak ada duanya di dunia ini” kataku merajuk sambil melepaskan pelukan.

“Ya sudah. Ayo makan dulu. Akan sangat lama menunggu liburan musim panas”

“Okay”

            Beberapa menit setelah sarapan, aku dan bibi pergi ke depan menyusul paman Anthony yang terlihat sudah sangat siap mengantarku pergi ke Stofe School. Aku mengabaikan suara-suara bibi yang menggema di otakku dan terkadang tertindih oleh suara dariku sendiri dan paman saat di meja makan tadi.

Aku melambaikan tanganku. “Morning”

“Hey. kau sudah siap, Dear?”

“Tentu saja”

            Paman Anthony terlihat seperti executive tua di perkantoran karena pakaiannya yang ia kenakan sekarang. Dengan atasan kemeja panjang berwarna biru laut yang dipadupadankan dengan celana bahan hitam polos beliau tampak formal. Tak ketinggalan dasi bermotif yang mengikat sempurna di kerah leher keriputnya. Usianya sudah kepala lima dan kalau beliau memakai jas hari ini, beliau akan lebih terlihat seperti bos di kantor asuransi. Tapi sayangnya dia hanya seorang guru SMA Swasta di London.

“Semuanya sudah siap?” tanyanya sambil mendekatiku. Dia mengambil koper yang ada di tanganku.

“Yep. Aku sudah siap”

“Apa kau gugup?” tanya paman Anthony saat memasukkan koperku ke dalam bagasi.

“Sedikit” aku menyeringai kaku.

“Oke, sebaiknya kita tidak buang waktu. Terlambat sedikit bisa terjebak macet”

“Yes, bos”

“Bibi, aku pergi ya” aku memeluk bibi Grace.

“Kristen, Ingat pesanku tadi. Keadaan di sana mungkin tidak akan semudah di St. Aden. Carilah teman yang baik dan bisa dipercaya, okay?”         Bibi Grace melepaskan pelukan kami dan menatapku lekat. Airmatanya jatuh.

“Hei, kenapa kau menangis? Aku kan hanya sekolah, bukan mau wajib militer” aku mengusap airmatanya yang terlanjur menyusuri pipinya yang sedikit keriput.

“Aku pergi” aku mencium pipinya kemudian berlari menuju mobil.

~Aku akan merindukannya… Semoga dia mendapat teman-teman yang baik di Stofe School… Pasti dia sedang sarapan di dalam~

            Kali ini suara paman Anthony yang mengoyak-oyak otakku. Tak kalah khawatirnya dengan suara-suara dari bibi Grace. Suara itu muncul sebelum aku masuk mobil dan tanganku tengah melekat di gagang pintu. Aku memandangi paman Anthony yang tengah memegang stir, sambil bertanya sendiri dalam hati. Bagaimana ini bisa terjadi? Hah! Tapi setidaknya aku bisa tahu kalau paman dan bibi adalah orang yang sangat peduli padaku.

“Ayo, Kristen! Kenapa kau melamun?”

“Oh, aku tidak melamun” aku mengelak.

“Aku hanya ingin bilang, kalau aku akan sangat merindukan paman dan bibi. Itu saja” aku tersenyum kemudian masuk dan duduk di jok samping pengemudi.

“Kami juga akan sangat merindukanmu, Kristen”

“Honey, kami pergi. Hati-hati di rumah” paman Anthony melambaikan tangannya.

“Bibi, jaga dirimu” teriakku saat paman tengah menginjak gas.

“Kau juga!”

***

“Mr. Dalton. Nona Steward ingin bertemu dengan anda” kata salah satu staff Stofe School pada gagang telephone.

Paman Anthony hanya mengantarkanku sampai di gerbang utama, kemudian dia langsung pergi meluncur ke tempat kerjanya. Itulah salah satu aturan dari Stofe School. Batas wali murid hanya sampai di gerbang depan.

“Oh, oke” katanya lagi.

“Kau bisa masuk sekarang. Mari saya antar” Staff Stofe school itu sambil mendorong kursinya ke belakang kemudian berjalan di depan kami.

“Mr. Dalton?” Sebagian dari staff wanita paruh baya itu menyembul masuk ke dalam ruangan Professor Dalton.

“Oke, silahkan masuk” Wanita itu membukakan pintu kepada kami. Mungkin Professor Dalton telah memberikan pertanda.

            Saat aku masuk dengan tangan kananku erat memegangi koper. Seluruh isinya tadi sudah diperiksa di ruangan pemeriksaan agar barang-barang seperti ponsel, laptop, benda tajam dan lain-lain tidak turut serta aku bawa. Dan aku, clear!

“Nona Steward. Apa kabarmu?” Proffesor Dalton mengulurkan tangannya padaku.

~Ah, akhirnya yang aku tunggu-tunggu datang juga~

 

            Suara yang tak terucap di mulut professor Dalton menyeruak di otakku saat kami berjabat tangan.

“Oh, it’s fine”

“Kau sudah siap belajar di sini?”

“Yes, Prof. Saya sudah mempersiapkan diri saat undangan anda selesai saya baca. Ini suatu kehormatan bagi saya”

“Bagus jika demikian. Dulu ayahmu sangat berdedikasi dan berprestasi di Stofe School. Aku berharap kau mewarisi sifat-sifatnya. Dan ibumu, dia adalah seorang seniman berbakat di sini. Mungkin darah seninya juga mengalir padamu” katanya sambil tersenyum.

“Saya harap juga seperti itu”

“Mark Steward dan Angela Bedingfill adalah murid-murid teladan di angkatannya dulu”

            Aku membalasnya dengan tersenyum. Menurut cerita paman dan bibi, memang kedua orangtuaku adalah alumni Stofe school yang bertalenta. Ayahku jenius dalam bidang sains sementara ibuku berbakat di bidang seni terutama teater.

“Aku akan memanggilkan kepala asrama Magnolia 4 untuk mengantarmu ke kamar kalau kau sudah siap. Seluruh peraturan Stofe School bisa kau baca di buku panduan yang nantinya akan diberikan oleh kepala asrama Magnolia 4” katanya lagi.

“Oke. Saya rasa lebih cepat lebih baik, Prof” jawabku sopan tanpa mengesampingkan sikap formal terhadapnya.

“Baiklah”

            Professor Dalton langsung menekan salah satu speed dial pada telephone wireless-nya. Well, nama setiap asrama pria dan wanita di Stofe School berbeda satu sama lain. Untuk asrama perempuan seluruhnya bernama Magnolia namun dibedakan dengan nomor yang mengekor di belakangnya. Nomor yang tertera itu menunjukkan level. Sementara untuk nama asrama pria adalah Golden flower. Entah bagaimana sejarah dari penamaan asrama ini aku belum mencari tahu.

“Anda memanggil saya, Mr. Dalton?” Sesosok wanita paruh baya berjalan dari arah pintu mendekati kami. Dia mengenakan blazer formal dan rok span di atas lutut. Dia sangat ramping.

“Iya. Ini adalah nona Steward. Kau bisa mengantarnya ke asramamu”

“Owh, jadi kau datang hari ini nona Steward?” dia sedikit terkejut. Di saat yang hampir bresamaan aku mengulurkan tangan.

“Steward. Kristen Steward, Mrs…”

“Mrs. Turner. Emily Turner”

~Satu lagi murid jenius di asramaku setelah Emma Watson~

            Apa yang dipikirkannya terbaca jelas saat kami berjabat tangan. Emma Watson? Siapa dia?

“Oh, iya. Mrs. Turner. Apakah saya bisa ke kamar sekarang? Mungkin saya bisa langsung menata barang-barang bawaan agar saya lebih siap menghadapi hari pertama saya belajar di sini besok” aku melepaskan tangannya.

“Tentu. Anda tidak keberatan Mr. Dalton?” tanyanya mengarah ke Professor Dalton yang tengah memperhatikan pembicaraan kami.

“Tentu saja. Silahkan”

            Aku menyeret koper, mengikuti langkah kaki Mrs. Turner yang ada di depanku. Dia tidak terlalu banyak hal yang kami bicarakan setelah beliau memberiku buku panduan, seragam, dan perangkat tulis yang wajib digunakan dilingkungan Stofe School. Aku juga bersyukur selama di perjalanan, aku tidak menemukan suara-suara dari orang-orang yang tidak ku kenal. Apakah semuanya sudah kembali normal?

“Kau akan tinggal sekamar dengan nona Watson, nona Steward. Dia adalah salah satu murid terjenius di Stofe School. Kemampuannya di atas rata-rata siswa lain”

“Owh, oke. Tidak masalah”

“Dan ini adalah kamarmu” Mrs. Turner berhenti pada kamar 4Magnolia15 dan aku mengikutinya.

~Tok… Tok…Tok~

“Yes, wait” terdengar teriakan dari dalam kamar.

“Mrs. Turner? Ada apa?” tanyanya saat melihat Mrs. Turner di ambang pintu kamarnya.

“Mulai hari ini, kau sekamar dengan nona Steward”

“Benarkah?” tanyanya dengan ekspresi tidak percaya kemudian melemparkan pandangannya ke arahku.

“Hey, Aku Kristen. Kristen Steward” aku mengulurkan tangan.

~YES! Aku tidak sendirian lagi!~

            Oh, God! Ternyata suara-suara dari pikiran orang lain ini masih menggerayangi otakku. Isi hati Emma saja terdeteksi dengan sempurna oleh otakku. Sampai kapan ini akan berakhir?

“Emma. Emma Watson. Aku senang bisa berbagi kamar denganmu” katanya sambil melepaskan tanganku.

“Baiklah. Silahkan kalian mengenal satu sama lain. Aku masih ada urusan lain setelah ini. Kalau ada sesuatu yang penting, kalian bisa menghubungiku” Mrs. Turner menatap jam tangannya kemudian mengambil langkah yang tidak terburu-buru untuk menjauhi kami.

“Baik, Mrs. Turner” jawab Emma.

“Oke, Mrs. Turner” tambahku.

“Ayo, Kristen. Kita lihat kamarmu” Emma menarik tanganku kemudian menutup pintu dengan kaki kirinya.

            Aku memperhatikan sisi kanan ruangan dengan ranjang yang masih kosong, meja yang belum tersentuh, lemari kosong dan dinding yang masih belum penuh dengan foto-foto ataupun rumus-rumus matakuliah untuk memudahkan dalam menghafal. Dalam ruangan yang kira-kira mencapai luas 64 meter per segi ini, aku juga dapat mencium semacam aroma terapi dengan extract lavender.

“Itu tempatmu. Kau bebas melakukan apapun di areamu”

“Berapa lama kau di sini sendiri?” tanyaku sambil meletakkan ransel ke atas ranjang dan menghentikan laju koper di depan meja kecil.

“Setelah teman sekamarku dikeluarkan dari Stofe School tahun lalu”

“Dikeluarkan? Kenapa?”

“Dia gagal di satu mata pelajaran”

“Tidak heran jika alasannya seperti itu. Tapi terkadang peraturan memang menyebalkan”

“Itulah Stofe School. Hmmm, tapi kau kan salah satu yang paling beruntung. Kau diundang langsung oleh Prof. Dalton untuk belajar di sini”

“Itu hanya kebetulan saja karena orangtuaku pernah mengemban ilmu di sini.” aku melepaskan syal dan melemparkannya sembarangan saat Emma duduk di kasurnya sendiri.

“Beberapa pengajar pernah menceritakan tentang ayahmu di kelas sains. Mr. Steward, dia genius”

“Benarkah?”

“Ya”

“Kalau Dad dan Mom masih hidup, mereka akan senang karena aku bisa berada di sini seperti mereka” aku menundukkan kepala dan menyeka airmata yang belum sempat menetes.

“Kristen, aku tidak bermaksud…”

“Tidak apa-apa. Jangan khawatir” kataku buru-buru.

“Ngomong-ngomong, apa kau mau mengantarku berkeliling di Stofe School?” tambahku lagi.

Dia berfikir sejenak kemudian menjawab “Bukan ide yang buruk. Ayo”

            Aku berjalan mendahuluinya. Memutar gagang pintu setelah berada tepat di samping Emma.

~Ouuugh kenapa ada ujian filsafat hari ini? Kira-kira nilai sejarah dapat A tidak ya… Menu makan siang hari ini apa? Sial! Kalkulus menyebalkan… Prof. Andrew selalu mempersulit~

TBC OR NOT?

Hahaha aku datang dengan membawa FF terbaru. Tapi kali ini western Fict…

Aku gak yakin banyak yang minat sih…

Jadi tergantung komen aja, FF ini lanjut ato enggak:D

Advertisements

36 responses to “I READ YOUR MIND [Western Fict]

  1. Giyaa.. castnya ad bang daniel xD ..
    Hmm.. Chater in blm keliatan konfliknya.
    Tp seperti biasa tlisan km slalu pnya daya tarik.
    Maka dari it lanjoottt yaaa..

  2. baru sekali ini baca western fic sih~ (setelah fic-ku ttg harry potter campur amigos campur SMTown yang gajelas itu orz *abaikan)

    ini sih terserah authornya aja mau lanjut apa nggak…

    emily turner… pirates of carribean? *teringat will turner*

  3. masi brgentayangan ney thooor..hehe
    hwaaa, ada emma-nya dsni..
    tkohnya keren2..
    author emang pny gaya bhsa yg author banged..
    cara deskripsi author tntang pkiran, prsaan emang ngena deh..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s