Come To Me [1 / 2]

Tittle  : Come to Me [1 / 2]

Author : ninanino a.k.a. ninasomnia

Genre : romance (sedikit maksa sih)

Cast :

  • Choi Siwon as Siwon Super Junior
  • Park Soojung [fictional character]

Another Casts :

  • Min Soojin [fictional character]
  • Park Sooyoung [fictional character]

Credit picture : shinbitoki18

Disclaimer : I just do my own omagination. The fictional character and the others aren’t mine. They belong to themselves. Please enjoy and comment on it if just you want. I really appreciate speak reader.

Note FF : fanfiction ini saya persembahkan buat Siwonest, dimanapun anda berada. Nama korea yang tertera hanya karangan semata, dan tidak berdasarkan nama siapapun. Secara khusus, ini saya persembahkan untuk devia dan zakikiya. maaf kalo judulnya gak nyambung. hahahaha…

________________________________________________________________

COME TO ME [1 / 2]

(before story, 7 years ago)

Aku mengatupkan kedua tanganku. Menyandarkan siku-sikuku pada altar indah ini. Kupejamkan mata mencoba menikmati setiap doa yang kulafalkan dari mulutku. Perlahan airmata mulai keluar dari sudut-sudut mataku. Sedikit mendesak, agar aku mau membuka mata.

“Tuhan…” Suaraku lirih. Terdengar sedikit bergetar. Namun tak berarti menghentikanku untuk melakukan ritual suci ini. Aku sadar, saat ini hanya Tuhan yang mampu menolongku.

“…kumohon pada-Mu. Sembuhkan appaku. Aku mungkin tak pernah jadi hamba-Mu yang taat. Aku juga jarang ke gereja. Tapi aku percaya, di mata-Mu aku tetap anak-Mu. Aku perlu bimbinganmu Tuhan. Kumohon… Aku mungkin tak bisa memaafkan diriku jika…” Tanganku basah. Keringat tak henti mengucur deras di sekujur tubuhku. Juga airmata. Suasana gereja yang sunyi membuat doaku semakin terasa menyentuh. Sempat terpikir, kapan terakhir kali aku ke gereja. Dan sejauh usahaku untuk mengingat hal itu, semakin sadar bahwa aku mungkin sudah melupakan-Nya.

“…Kau tak mau menolongku. Sembuhkan appa. Hanya itu? Apa itu terlalu banyak?” Tanganku sudah teracung ke patung kritus  dihadapanku. Mataku melebar, sudah tak khyusuk sebelumnya.

“Nona, kau baik-baik saja?”

Aku menahan diri untuk berbalik saat mendengar suara misterius itu. Tangan kiriku meraih rosario yang kukenakan. Kemudian kuhapus sisa-sisa airmata dengan punggung tanggan satunya. Aku tak bisa berpikir apakah orang ini tahu aku menangis atau tidak. Yang jelas, saat ini aku ingin segera pergi dari tempat ini.

Perlahan kubalikkan tubuhku. Berjalan angkuh seakan tak memperdulikan orang yang menyapaku tadi. Sekilas kuperhatikan dia itu tinggi dengan senyuman menawan. Apa ia malaikat penunggu gereja? Aku juga tak tahu.

Perjalananku terhenti. Saat sebuah tangan mencengkram lenganku kuat. Tidak terlalu menyakitkan, tapi cukup membuatku merasa sedikit risih.

“Bisakah kau melepasku tuan? Aku sedang terburu-buru.” Kugertak pria ini. Pandangannya masih lurus ke depan. Menatap altar yang tadi kugunakan.

“Dia akan menolongmu. Pasti itu.” Ucapnya penuh keyakinan. Nada bicaranya tegas, namun tak terlalu menakutkan untuk didengar.

“Dari mana kau tahu?” Ucapanku terdengar sengit. Namun apa yang bisa dilakukan orang yang kalut sepertiku?

“Tuhan tak akan membiarkan hamba-Nya menghadapi cobaan yang tak sanggup hamba-Nya tangani. Dan semua tahu itu.” Kali ini dia menatapku dalam. Selengkung senyuman ia sunggingkan. Tulus sekali. Dan otomatis membuatku terhipnotis ke ucapannya itu. pasrah, aku hanya bisa menganggukkan kepala. Seperti anak kecil yang dijanjikan permen saat ia menangis.

Cengkraman di lenganku perlahan mengendur. Membiarkanku melepaskan diri. Laki-laki itu berjalan ke sebuah bangku, masih dalam gereja. Aku mengikutinya. Saat ini, aku memiliki kepercayaan dia bisa membantuku. Setidaknya membuatku sedikit tenang.

“Aku selalu kesini. Saat aku ada masalah, Dia selalu menawarkan bantuan untukku. Hanya dengan aku bercerita pada-Nya, itu sudah membuatku tenang. Kau tahu, akhir-akhir ini aku mengalami masa sulit. Dan tempat inilah, aku sanggup menceritakan semua masa sulitku ini. Bahkan masalah yang tak bisa kuceritakan pada bayanganku sendiri.”

Aku terpana dengan ucapannya. Sempat terlintas di benakku dia ini seorang motivator. Terbukti ucapannya cukup meyakinkanku.

“Kau sendiri, apa masalahmu?” tanyanya ingin tahu. Sedikit terkejut, saat menyadari kalau dia sudah menatap tepat ke arahku.

Aku memalingkan wajah ke arah lain. Berusaha menghindari tatapan matanya. “Bukan urusanmu.”

Dia menghela napas berat. Sekali lagi, hanya membalas ucapan kasarku dengan sebuah senyuman. “Baiklah. Aku tak akan ikut campur nona.” Kini dia mengatupkan tangannya. Aku sempat meliriknya, saat tangan besarnya itu tak sengaja menyenggol tubuhku. “Tuhan, apapun masalah nona ini, aku harap dia akan mendapat hasil yang terbaik untuknya dan orang-orang di sekitarnya. Aku tahu Kau Maha Adil Tuhan.” Ucapannya membuatku tertohok. Dia, mendoakanku? Bahkan kami belum menyebutkan nama kami, tapi dia sudah mau mendoakanku?

“Nona, aku pamit dulu. Aku ada latihan. Kau masih ingin melanjutkan doamu?” pertanyaannya membuat kesadaranku terkumpul.

“Ah tidak. Aku juga harus ke rumah sakit. Malam ini ayahku akan menjalani operasi.”

Deg.

Bodoh. Kenapa aku malah memberi tahu permasalahanku?

Dia tersenyum singkat. Lalu berjalan keluar meninggalkanku seorang diri.

“Tuan, siapa namamu?” Tanyaku tepat sebelum ia menjejakkan kaki keluar pintu gereja ini.

“Siwon. Choi Siwon.”

“Namaku Kim.” Teriakku yakin. Sedikit terdengar tidak sopan mungkin, tapi setidaknya dia pasti mendengarnya. Mengenalku nanti.

Siwon. Nama yang indah. Cocok sekali dengan hati dan wajahmu tuan. Dan Tuhan, kurasa kau sudah memberi satu keajaiban padaku. Kau membuatku mencintai salah satu hamba-Mu.

Kurasa, aku sudah jatuh hati padanya. Choi Siwon.

***

Pengambilan gambar hari ini cukup sampai disini. Semuanya terima kasih.”

Teriakan sutradara itu kembali membantuku kembali pada kesadaran penuh. Sedari tadi, pikiranku hanya terfokus pada sosok laki-laki dengan perawakan tinggi dan paras tegas itu. Namja yang selama tujuh tahun terakhir kujadikan sumber oksigenku, alasan aku bernapas setiap detiknya.

“Terima kasih atas bantuannya.” Kulihat dia berjalan sambil sesekali membungkuk dan melemparkan senyum ke arah kru-kru. Wajahnya menampakkan raut kepuasan, serta tangannya tak berhenti ia lambaikan untuk menunjukkan ucapan terima kasihnya.

“Siwon-sshi.” Panggilan PD-nim menghentikan kegiatannya. Sekali lagi, ia berjalan penuh kharisma. Menahan dadanya tetap terbusung. Bukan untuk menunjukkan kesombongannya.

“Terima kasih sudah bekerja keras Siwon-sshi.” Beliau menepuk bahu Siwon keras. Tak bermaksud menyakiti, hanya demi menunjukkan keakraban. Sedangkan Siwon hanya tertawa lirih. Menunjukkan sikap beramah tamahnya.

“Tentu saja PD-nim. Saya juga harus berterima kasih atas kerja keras kalian. Sepertinya pekerjaan ini lebih cepat selesai dari waktu yang dijadwalkan.” Senyuman tulus itu sekali lagi ia perlihatkan. Dengan menunjukkan sederetan gigi rapinya yang terlihat begitu mempesona. Seketika membuat rasa lelahku –dan mungkin juga para kru yang lain– hilang seketika.

“Ah iya. Aku juga mau mengucapkan terima kasih pada hoobae-ku. Aku akan mengenalkannya padamu Siwon-sshi.” PD-nim mengedarkan mata mengelilingi setiap sudut ruangan. Mencari keberadaanku. Aku tahu itu.

“Hei, Kim.” Teriaknya memanggilku. Aku menganggukkan kepala segan lalu berjalan pelan ke arah mereka berada. Sepanjang langkahku aku justru terlalu sibuk dengan pengaturan napas di paru-paruku. Takut kalau nanti tiba-tiba kemampuan bernapasku hilang seketika saat bertemu sapa dengannya.

“Ah ye sunbaenim. Annyeonghaseyo Siwon-sshi.” Kucoba membuka pembicaraan. Menyapa seniorku dan juga, pangeranku.

“Kim, kenalkan Choi Siwon. Dan Siwon-sshi, ini Kim. Dia disini sebagai ide cerita, penulis naskah, juga perancang desain.” Aku tersipu sesaat. Wajahku sedikit memanas. Merasa perkenalan saat ini sedikit berlebihan.

Jeongmalyo? Aku hanya tahu kalau dia perancang desainnya saja.”

Deg.

Apa aku tak salah dengar? Dia tahu aku sebagai perancang desain? Apa bisa kuartikan dia tahu aku ada?

Aniya, sunbaenim hanya melebih-lebihkan. Aku hanya melakukan pekerjaanku disini.”

“Melebih-lebihkan bagaimana? Kau ini Kim. Oh ya, kalian berbincang sendiri saja dulu. Aku masih harus melihat adegan terakhir tadi.”

Siwon membungkukkan diri pamit. Lalu beranjak pergi dari tempat itu. Kuputuskan untuk mengikutinya di belakangnya. Masih belum sanggup bertanya langsung padanya, apakah ia benar-benar akan mengajakku mengobrol?

Langkahnya terhenti. Tepat di teras depan lokasi syuting kami hari ini. Dia bersandar di bahu kursi. Tubuhnya yang menjulang menghadap ke luar. Jika kugambarkan dari tempatku berada saat ini, dia seperti malaikat. Tinggi, tampan, dan perawakan sempurna. Sepertinya aku salah memilih orang untuk kucintai. Terlalu sempurna untukku.

“Kim-sshi, bagaimana aku harus memanggilmu?” Suaranya lembut, meski ketegasan itu tetap ada.

“Kim saja. Kurasa itu cukup.” Aku mengambil posisi. Berada sejajar dengan posisinya saat ini. Melepaskan kesempatan menikmati pemandangan maha indah yang sedari tadi kunikmati dari tempatku berdiri.

“Itu margamu?”

“Bukan. Margaku Park. Hanya saja aku menyukai nama itu. Marga ibuku.” Aku tak tahu kemana arah pembicaraan ini. Yang kutahu, saat ini aku hanya terlalu bahagia bisa berbicara langsung dengannya.

“Ah, kalau begitu aku tidak akan mempermasalahkan nama lagi.” Selengkung senyum itu kembali ia sunggingkan. Meski tak bisa melihat langsung, saat ini aku bisa merasakannya. Mungkin inilah kemampuan lain orang jatuh cinta.

“Aku menyukai karya-karyamu. Semuanya begitu sempurna.” Tambahnya lagi. Aku tersentak dengan ucapannya. Sedikit tak percaya, pujian itu keluar dari mulut orang yang kukagumi.

“Kau, tahu karyaku?” Kupaksakan mempermalukan diriku sendiri dengan pertanyaan itu. Aku tahu dia orang yang memiliki sopan santun tinggi. Hanya terlalu takut saat ini dia hanya mencoba berbasa-basi denganku.

“Tentu saja. Bukankah kita sudah bekerja sama kurang lebih sepuluh kali?” Tanyanya ragu-ragu. Siwon-sshi, jadi artinya kau benar-benar menganggap keberadaanku.

“Empat belas. Ini yang keempat belas kalinya.” Ralatku cepat. Aku tak tahu kenapa aku sangat bernafsu untuk segera meralat jawabannya. Bodoh. Aku bahkan tak bisa menahan diri sebentar.

“Hahaha. Aku belum menghitung dengan benar rupanya. Oh ya, berapa umurmu?”

“Aku mahasiswi semester akhir jurusan desain visual. Jadi mungkin empat atau lima tahun di bawahmu. Kenapa?”

Dia mengacak rambutku pelan. Membuatku jantungku hampir berhenti bekerja karna terlalu terkejut. “Kenapa tidak memanggilku oppa? Dasar!”

Aku mengerucutkan bibir mendengar cibirannya. Sepertinya aku harus mulai menghapuskan sikap sopannya di daftar seratus sikapnya yang kusukai. Dan mungkin harus kuganti dengan catatan dia itu terlalu percaya diri.

Tak lama dia kembali mengajakku bicara lagi. Dengan berbagai masalah berbeda. Memancingku dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak terlalu pribadi. Jujur ia pandai memilih kata. Aku mulai merasa nyaman dengan pembicaraan ini. Pembicaraan pertama dengannya cukup berkesan.

“Kim, bisa bantu kesini sebentar?”

Nde. Sebentar sunbaenim.” Aku menatap Siwon lemah. Berusaha memohon undur diri dari pembicaraan ringan ini. Raut wajahnya sedikit berubah. Bisa kuartikan ada kekesalan yang Nampak di wajahnya itu. Mungkin karna ada seseorang menginterupsi obrolannya.

“Siwon-sshi, aku undur diri sebentar.” Siwon menggelengkan kepalanya tegas. Pertanda dia tak mengijinkanku untuk beranjak dari tempat itu.

“Tidak akan kuijinkan kau Kim. Kecuali kau berjanji dua hal padaku.” Dia menarik tanganku. Menggenggamnya hangat sekali.

Kutarik napas dalam. Mencoba mengenyahkan berbagai pemikiran yang tidak-tidak. Aku tak mau dia tahu hal itu. Hahaha, konyol sekali kau ini, Kim. “Apa Siwon-sshi?”

“Pertama, beritahu aku siapa namamu?”

“Kukira tadi kau tak mempermasalahkannya?” Aku mengernyitkan dahi bingung. Dia ini plin-plan sekali.

“Hahaha. Entahlah, tiba-tiba saja aku merasa aneh memanggilmu Kim.” Dia tertawa ringan. Tangan kanannya ia kepalkan untuk menutupi bagian mulutnya. Benar-benar penggambaran seorang pangeran.

“Soojung. Park Soojung. Lalu, apa yang kedua?” Tanyaku tak sabar. Ia menghembuskan napas berat. Sepertinya masih menimang-nimang apa yang dia mau untuk kujanjikan.

“Soojung-sshi, bisakah kau berjanji untuk membantuku?”

Ini pertama kalinya dia meminta bantuanku. Dan sepertinya akan menjadi penyesalan kalau aku menolak untuk tak mau membantunya. Kuanggap ini balasanku atas kebaikanmu di masa lalu, tuan Choi.

***

“Sebenarnya ada apa Siwon-sshi? Kenapa kau mengajakku bertemu di luar pekerjaan?”

Siwon masih berkutat dengan kemudinya. Memasang senyuman penuh misteri. Membiarkanku menerka-nerka sendiri apa yang sedang direncanakannya.

Merasa tak diperhatikan, aku mengerucutkan bibirku kesal. Hanya sebagai bentuk pelampiasan kecil. Pada kenyataanya, aku tetap tidak akan marah padanya. Mungkin, karna aku sudah memutuskan untuk menerimanya di hidupku.

Kupaksakan diri menikmati jalanan di hadapanku. Melihat-lihat sekeliling, yang sudah kuhafal betul setiap bloknya. Kemudian kurasakan mobil ini sudah tak bergerak. Terparkir sempurna di hadapan sebuah toko perhiasan kenamaan. Siwon memutuskan turun dari mobil mendahuluiku. Penasaran dengan apa yang akan diperbuatnya, kuputuskan menyusulnya langsung untuk mencari tahu.

“Ayo masuk. Aku ingin mengajakmu bertemu dengan seseorang.” Serunya ramah. Kurasakan tangannya menarik lembut tanganku. Membimbingku masuk ke toko yang hampir membuatku terpana melihat etalase yang terpajang di depannya. Ini, kedua kalinya aku merasakan genggamannnya.

Gemerincing lonceng yang sengaja ditaruh dibalik pintu toko ini menyambut kedatangan kami. Keputusan memasuki toko ini sepertinya keputusan yang salah. Di dalam toko ini aku semakin dimanjakan dengan keindahan-keindahan aksesoris mewah itu. Tapi sepertinya membeli di toko ini sangat tidak memungkinkan bagiku. Mengingat pekerjaan sebagai kru yang bayarannya tak seberapa.

“Soojin-ah.” Sebuah nama terucap dari mulutnya. Membuatku sadar bahwa saat ini dia sudah tidak ada di sampingku. Dia sudah berlari menyambut seorang gadis cantik di depan sana.

“Siwon-nie. Kau dari mana saja? Aku sudah hampir menyerah menunggumu.” Gadis itu mengerucutkan bibirnya sebal. Kedua tangannya meninju kecil dada Siwon. Membuat laki-laki itu hanya tertawa gemas melihat tingkahnya.

Mianhe. Aku terlambat karna menjemput dia.” Siwon menunjuk ke arahku. Membuatku sedikit merasa tak enak hati. “Kau ingat penulis naskah iklan yang sering kubicarakan? Itu dia.”

Aku membungkukkan badan sopan. “Annyeonghaseyo. Park Soojung imnida. Maaf, karna aku anda harus menunggu lama.” Ucapku sopan. Mungkin terdengar sedikit mencampuri urusan mereka, tapi sepertinya itu lebih baik daripada melihat kesalah-pahaman terjadi karenaku.

“Ah, tidak apa-apa Soojung-sshi. Bukan salahmu. Pasti itu karna pria ini terlalu lama berdandan. Oh iya, Min Soojin imnida. Senang bertemu denganmu.”

Aku tersenyum melihat ekspresi gadis itu. Wajahnya cantik, juga pembawaan cukup ceria. Aku tak tahu siapa dia sebenarnya. Tapi kurasa, aku mulai menyukainya.

“Berapa umurmu Soojung-sshi?”

Baru saat aku akan membuka mulut, Siwon oppa menyela menjelaskan. “Dia mahasiswi tingkat akhir desain grafis.” Jelasnya bangga. Membuatku sedikit merasa tersanjung.

“Aku tidak bertanya padamu tuan Choi.” Gadis itu mendorong bahu Siwon oppa kasar. Pertanda bahwa ia benar-benar kesal padanya saat ini. “Kalau begitu aku harus memanggilmu Soojung saja. Dan kau bisa memanggilku eonnie.”

Nde, eonnie. Tapi, sebenarnya ada apa aku dipanggil kemari?” Kuberanikan diri menanyakan hal itu. Aku sedikit bingung, tidak mungkin kami datang ke sebuah toko perhiasan hanya karna ingin mengenalkan satu sama lain.

“Kau belum menjelaskannya?” Giliran Soojin eonnie yang memasang tampang tak percaya. Siwon oppa hanya menggaruk bagian belakang kepalanya. Menggumamkan sesuatu yang bisa kuartikan ucapan maaf.

Babo. Ah begini Soojung-ah, Siwon-nie sering bercerita tentangmu…”

Kusela ucapannya. “Tentangku?” Seakan tak percaya dengan apa yang kudengar. Bagaimana bisa dia bercerita tentangku, kalau saja awal pembicaraan kami hanya berselang dua hari lalu. Mungkin pertemuan pertama kami terjadi tujuh tahun lalu, tapi aku tidak yakin ia mengingatnya.

“Kenapa kau tak percaya?” Soojin eonnie bertanya padaku. Tapi sorot matanya, seakan ia minta penjelasan dari Siwon oppa.

“Tentu saja ia tak percaya. Baru dua hari lalu aku berani menyapanya.”

Soojin eonnie memukul Siwon oppa cukup keras. Bisa kudengar jeritan menyakitkan dari bibir Siwon.

“Ya, appo.”

“Jadi selama ini kau hanya mengaguminya secara sembunyi-sembunyi? Jadi dengan segala kharisma yang selalu kaubanggakan di depanku selama ini, ternyata itu hanya ucapan belaka? Cih.”

Siwon oppa hanya bisa terkekeh pelan. Dari yang kuperhatikan, Soojin eonnie memang orang yang menggemaskan. Sedari tadi aku melihatnya, tak satupun darinya yang kubenci. Meski ia cenderung terlalu sering membentak Siwon oppa.

Tunggu. Mengagumiku secara sembunyi-sembunyi? Apa maksudnya ini? Jangan bilang kalau, dia itu menyukaiku?

Aku tersenyum memikirkan kesimpulan bodohku. Dalam kamusku, mengagumi bisa diartikan rasa suka. Terdengar berpikiran sempit memang. Tapi, mana ada orang yang kagum tapi tak menyukai apa yang dikagumi. Sepertinya akan semakin mudah bagiku untuk menjadikan dia milikku. Pasti itu.

“Kau mau membuatku malu di depan Soojung, Jinnie-ya?” Wajah Siwon oppa bersemu merah. Benar-benar membuktikan padaku kalau dia sedang menahan malu saat ini. Jadi, apa kesimpulan bodohku itu benar Tuhan?

“Hahaha. Kau ini. Baiklah, Soojung-ah. Kurasa kau masih belum mengerti. Tapi dari cerita Siwon, dia bilang dia cukup puas dengan hasil kerjamu. Dan dia bilang kau selalu menghasilkan  desain yang mengagumkan.” Puji Soojin eonnie padaku. Aku hanya tersenyum mendengar ucapannya. Dan jantungku, belum bisa kembali ke rutinitas normalnya. Masih berdetak dalam kecepatan di luar batas. Apalagi kalau mengingat ucapannya. Bisa ditarik kesimpulan, pujian itu datang dari mulut Siwon oppa. Pangeranku.

“Ah, Siwon-sshi hanya melebih-lebihkan eonnie. Aku hanya berusaha melakukan semampuku.”

“Kau masih memanggilku Siwon-sshi, Kim?” Sindir Siwon oppa. Aku hanya meringis menahan malu.

“Maksudku, Siwon oppa.” Kulihat dia tersenyum puas saat aku memanggil namanya dengan embel-embel oppa. Kalau aku tahu sejak awal kau menyukai panggilan itu, aku akan memanggilmu dengan itu oppa. Pasti.

“Kurasa tidak Soojung-ah. Aku lihat iklan yang dibintanginya memiliki konsep luar biasa. Dan aku menyukainya.” Dia menarik bahuku lembut. Membawanya ke pelukan tubuhnya. “Dan aku ingin kau yang merancang desain untuk pesta pertunanganku.”

Aku tersipu. Tak kuasa untuk menolak. Hanya mampu menganggukkan kepala menyanggupi. Tentu saja eonnie. Anggap saja ini hadiah perkenalanku dariku. Karna aku cukup menyukaimu.

“Bagaimana pesta pertunanganmu saja? Ini pesta pertunangan kita Jinnie-ya.”

Tubuhku membeku. Tepat saat mendengar ucapan Siwon oppa yang terakhir. Pertunangan?

“Iya. Bagaimana Soojung-ah, jadi kapan kita akan membicarakannya?”

Aku masih belum bisa bereaksi. Wajahku menegang. Tak sanggup untuk memikirkan hal lain. Masih tak percaya dengan apa yang kudengar.

“Soojung-ah… Soojung-ah…” Kurasakan seseorang mengguncang-guncang tubuhku keras. Berusaha mendapatkan kembali kesadaranku.

Kucoba memaksakan diri membuka mulutku. Tapi pada kenyataannnya tetap sama. Tenggorokanku tercekat. Tak mampu mengucapkan sepatah katapun. Dan sepertinya mataku mulai memanas. Tuhan yang baik, kalau masih bisa, kumohon jangan sampai ia tahu aku akan menangis sekarang. Tahan sebentar saja Tuhan. Kumohon.

Sekali lagi kuanggukkan kepalaku. Sedikit kaku, tapi setidaknya itu lebih baik daripada aku hanya tetap berdiam diri seperti tadi.

“Kau baik-baik saja Soojung-ah?” Aku tahu ini suara Siwon oppa. Tapi sekali lagi kutegaskan, aku bahkan tak mampu menguasai kontrol tubuhku. Memandang dengan benar saja tidak bisa.

“Oke eonnie, oppa. Aku berjanji pada kalian akan membantu. Tapi sekarang, sepertinya aku perlu ke kamar kecil.” Akhirnya kata-kata itu bisa keluar dari mulutku. Dan kalimat terakhir, itu hanya perijinan bodohku untuk pamit dari pembicaraan ini. Aku tidak yakin aku bisa terus-terusan menahan airmata yang mulai mendesak keluar ini.

“Hahahaha. Kukira kau kenapa. Kamar mandinya di ujung lorong ini. Kau tinggal lurus saja. Apa perlu kutemani?” Soojin eonnie menjelaskan padaku. Menawarkan sedikit bantuan.

“Ah tidak perlu eonnie. Aku hanya perlu…” Kudekatkan wajahku ke telinganya. “…mengganti pembalut.” Bisikku pelan tepat di telinganya.

Sekali lagi dia hanya terkekeh. Lalu mendorongku lembut ke arah yang ditunjuknya tadi.

Siwon oppa, Soojin eonnie, mereka akan bertunangan? Pangeranku akan pergi.

***

“Park Soojung bodoh. Kenapa kau malah membantunya?”

Aku menutup telinga dari teriakan liar Sooyoung, adikku. Aku menceritakan semuanya padanya. Dan kukira, selain Tuhan, hanya dia yang tahu aku mencintai Choi Siwon.

“Aku bisa apa, Youngie. Aku tak bisa menolak keinginan Soojin eonnie.” Kataku pasrah. Mataku masih sembab. Pertanda sisa-sisa tangisan di mataku masih membekas.

“Kau bisa bilang kau sedang banyak pekerjaan. Atau kau juga bisa bilang kalau sedang ada tugas akhir di kampus. Kenapa kau malah membantu menyiapkan pertunangan mereka? Jadi kau membiarkan mereka menikah?”

Aku mendengus keras. Membuat adikku sedikit emosi. “Mereka hanya bertunangan Youngie. Belum akan menikah.”

Kulihat Sooyoung menepuk jidatnya cukup keras. Meninggalkan tanda memerah di bagian itu.

“Benar. Mereka hanya akan bertunangan. Bertunangan Park Soojung. BERTUNANGAN!” Dia mengguncang-guncang tubuhku keras. Aku –yang sudah tak mampu membalas apa-apa- hanya bisa diam saja. Menunggu penjelasan selanjutnya dari mulutnya itu.

“Kau tak mengerti?” Tanyanya kesal. Aku hanya menggelengkan kepala lemah. Membuat dia menoyor kepalaku. “Tidak kukira aku memiliki kakak sebodoh kau. Soojung eonnie-ku tersayang, kalau dua orang memutuskan akan menikah, itu artinya akan sangat sulit bagimu memisahkan mereka. Tapi saat dua orang ‘hanya’ memutuskan untuk bertunangan, sepertinya kau masih memiliki kesempatan itu.”

“Apa maksudmu Youngie? Jelaskan secara jelas. Jangan bertele-tele.”

“Mereka masih bisa putus.”

“MWORAGO?!?” Aku sangat tak habis pikir dengan adikku ini. Bisa-bisanya dia berpikiran seperti itu. “Tak kusangka kau bisa berpikir serendah itu Park Sooyoung. Kau mau kakakmu ini menjadi perusak hubungan orang lain?”

Sooyoung hanya terkekeh melihatku menahan emosi. Padahal sudah kujambak-jambak rambutku. Tak menyangka usulan gila itu muncul dari mulut adikku.

“Aku hanya mengusulkan. Lagipula aku mengatakan masih bisa. Bukan berarti aku meminta kau membuat mereka putus. Tapi, kalau kau mau kau bisa melakukannya.” Dia memasang senyuman yang dibuat-buat. Membuatku semakin emosi melihatnya.

“YA! Park Sooyoung!”

Eonnie.” Dia memanggilku dengan sebutan sakral itu. Usia kami yang hanya terpaut satu tahun, membuat dia tak pernah memanggilku eonnie. Kalaupun pernah, itu bisa dihitung jari. “Apa kau yakin akan melepaskan orang yang membuatmu tak bisa tidur tujuh tahun terakhir?”

Aku menggelengkan kepala pasrah. Ucapannya kali ini benar-benar menohokku.

“Lalu kau akan begitu saja membiarkan orang yang tujuh tahun ini menjadi alasanmu bernapas pergi begitu saja dengan orang lain?”

Dia benar-benar mengintimidasiku dengan permainan kata-katanya. Hebat sekali kau Park Sooyoung. “Dia mengejar kebahagiannya Sooyoung-ie.”

“Jangan sok bijak. Kejar juga dia. Berusahalah menarik hatinya. Dia itu kebahagiaanmu, Kim.”

Aku hanya terdiam mendengar ucapannya terakhir. Kurasakan dia menghentak-hentakkan kakinya keras-keras. Meluapkan kekesalannya karna sikap bodohku ini mungkin.

Apa mungkin Sooyoung benar? Aku harus mengejar kebahagiaanku. Tapi, apa itu tidak terlalu egois?

***

“Ini benar hasil kerjamu, Soojung-ah?” Nada tak percaya jelas sekali terdengar di suara Soojin eonnie. Aku tak tahu itu bermakna positif atau negatif.

“Benar eonnie. Kau tidak suka ya? Maaf, aku mengerjakan dengan…”

Dia menyela ucapanku. Memukul pelan lenganku. “TAK MUNGKIN. Ini sempurna Park Soojung. Pantas saja Siwon selalu mengeluk-elukkan namamu.” Ia menyikut dada Siwon. Memberi tanda bahwa ia puas dengan saran kekasihnya itu. Mengerikan sekali nasibku. Satu sisi aku bangga, tapi disisi lain, aku membantu mewujudkan keinginan mereka.

“Aku melakukan hal yang tepat bukan?” Goda Siwon oppa. Kulihat Soojin eonnie memasang ekspresi sedikit tersinggung. Tapi kemudian mereka melanjutkan bercanda dengan saling menggelitik satu sama lain.

“Ehem. Sepertinya ada yang melupakan ada orang lain disini.” Sengaja kusindir mereka. Aku tak mau rasa sakit di dadaku ini semakin menjadi. Apapun akan kulakukan untuk membuat mereka sedikit mengurangi bermesraannya.

“Hahaha. Mian, Soojung-ah. Siwon menggodaku duluan.”

“YA! Kenapa kau menuduhku? Siapa suruh kau memasang tampang seperti itu? Itu akan sia-sia jika tidak dilanjutkan dengan menggodamu.”

Aku memainkan bolpenku malas. Desain yang kubuat jadi terabaikan di tangan mereka. Mereka sepertinya benar-benar melupakanku.

“Terserah kau saja.” Sungut Soojin eonnie. Aku hanya bisa memaksakan diri untuk tersenyum. Sampai kemudian sesuatu mengagetkanku. Membuatku membuka mulut lebar tak percaya. Siwon, dia mengecup bibir Soojin eonnie. Dan bodohnya, dia melakukannya di hadapanku.

Bukan ciuman dalam ataupun sesuatu penuh nafsu. Hanya sebuah kecupan singkat. Namun cukup membuatku sakit.

“Soojung-ah. Gwenchana?” Tanya Soojin eonnie lembut. Membuatku tersadar mereka telah berhenti melakukan ‘itu’.

Dan bodoh, aku menangis. Di depan mereka.

“Soojung-ie, kau menangis?” Kali ini Siwon oppa yang memberanikan diri buka suara. Tangannya terulur, berusaha meraih daguku.

Kutepis tangan itu lembut. “Aku baik-baik saja. Hanya terlalu lelah.” Kuhapus cepat sisa-sisa air mata itu. “Oppa, eonnie, aku pamit dulu. Aku ada kuliah sore. Annyeong.” AKu menarik paksa kertas-kertas desain yang kubawa tadi. Memasukkannya dengan sedikit terburu-buru. Sesegera mungkin ingin segera pergi dari tempat itu.

“Biar kuantar.” Siwon menahanku. Kuedarkan pandangan cepat ke arah Soojin eonnie. Dia hanya tersenyum, lalu memberi isyarat dengan kepalanya.

Tak butuh waktu lama. Kami berdua sudah terduduk tenang di dalam mobil Siwon oppa. Tadi aku ingin sekali menolak tawarannya. Tapi dia pintar, mengambil tasku sebagai sanderaan.

Suasana di dalam mobil sedikit canggung. Tak seperti suasana beberapa hari yang lalu. Di tempat yang sama. Tak ada yang berusaha memulai percakapan. Dan rasanya, sangat aneh.

Kuhela napas berat. Melancarkan peredaran oksigen di tubuhku. Menahan tangis, sepertinya cukup melelahkan.

Gwenchana?” tanyanya hati-hati. Hampir membuatku terlonjak gila mendengar suaranya.

“Tentu. Tak-pernah-sebaik-ini.” Sengaja kutekankan kalimat terakhir. Kami hanya berdua, kurasa aku tak perlu lagi menyembunyikan kekesalanku.

“Kau marah padaku?”

Aku menatap ke arah luar. Mempersempit kemungkinan akan terjatuh di pelukannya. “Tidak. Memang apa hakku untuk marah padamu?”

“Soojung-ah…”

“Panggil aku Kim. Setidaknya saat kau melihatku sendirian.” Bentakku padanya.

“Tapi namamu Park Soojung. Dan aku lebih menyukai nama itu daripada Kim.”

Napasku memburu. Airmata? Sepertinya sudah menghilang begitu saja. Laki-laki ini benar-benar menyebalkan.

“Itu nama ibuku. Kalau kau tidak suka, terserah.”

“Baiklah Kim, aku minta maaf.”

“Untuk?”

“Secara tak sengaja menghina nama ibumu.”

Kim, kau berharap terlalu banyak. Jangan mengira dia meminta maaf karna membuatmu menangis. Bodoh.

“Kurasa tak perlu. Lagipula ibuku tak tahu mengenai hal ini.” Dia tertawa keras. Sepertinya menggunakan suara perutnya.

“Apa?”

Aku berbalik menatapnya. Ini pertama kalinya kulakukan sejak memutuskan untuk duduk di sampingnya sepanjang perjalanan kami ini.

Dia menggeleng pelan. Wajahnya menampilkan raut bahagia. Seperti saat kau menonton acara komedi. “Tidak. Hanya saja kau sangat lucu.”

Aku mendengus keras. Sudah pasti bisa didengarnya dengan jelas. “Kau pikir aku ini pelawak Siwon-sshi?”

Aku terpelanting ke depan. Hampir mencium dashboardnya. Sepertinya dia menggunakan kaki panjangnya untuk menginjak rem, dan merencanakan pembunuhanku. Ampuni dosaku Tuhan.

“Siwon-sshi?”

Aku berusaha kembali ke posisi dudukku awal. Menatapnya dengan tatapan benci. Meski menurutku itu tidak akan berhasil. “Jadi kau hampir membunuhku hanya karna hal itu?”

“Hal itu? Beberapa hari lalu kau sudah memanggilku oppa, Soojung-ah.”

“KIM. Panggil aku Kim.” Kenapa susah sekali baginya memanggilku Kim.

“Terserah. Berikan aku satu alasan kenapa kau memanggilku dengan embel-embel –sshi?” Diktenya. Aku mensejajarkan wajah kami. Memperkecil jarak diantara kami.

“Karena aku menghormatimu.” Hanya jawaban itu yang terlintas di otakku saat ini. Aku tidak yakin apa bisa membuatnya berhenti merecokiku.

“Menurutku memanggilku oppa itu lebih menghormati, Soojung—“

“KIM. Panggil aku Kim.” Potongku cepat. Dia menggebrak setir di hadapannya keras. Lalu memutuskan untuk menjauhkan dirinya dariku.

“Baiklah Kim. Kau ini kenapa? Apa kau cemburu?”

Aku mengernyitkan dahiku tak percaya. Cemburu? Apa itu terlihat jelas?

Imposible. How can I get jealous to you Mister Choi?”

Dia tersenyum. Aku bisa melihatnya dari sudut-sudut mataku.

Nothing is imposible, Soojung-ah.”

“KIM. Bisakah sekali saja aku tak perlu mengingatkanmu untuk memanggilku Kim?”

Mobil ini sudah kembali berjalan tepat saat ia berkata “Kalau begitu, lupakan Kim. Namamu jauh lebih bagus dari Kim.”

Aku baru mau membuka mulut saat ia memotongnya lagi. “Dan jangan ingatkan aku soal itu nama ibumu. Aku sudah tahu. Sepertinya kau tak cocok jadi artis. Kau hanya bisa menghafal dialog yang itu-itu saja.”

“Aku tak peduli. Aku juga tak ingin menjadi artis.” Bantahanku cukup meyakinkan. Nada bicara angkuh yang kupelajari dari adikku, juga sedikit banyak menolongku.

“Tapi masih ada kemungkinan memiliki tunangan artis kan?”

Aku membulatkan mulut tak percaya. Terkejut dengan ucapannya.

“Lupakan saja ucapanku tadi. Aku hanya bercanda.” Dia menepuk punggungku pelan. Seolah berpikir akan membuatku berhenti bertanya-tanya dengan ucapannya tadi. “Kembali ke topik, apa kau benar tidak cemburu? Tingkahmu hari ini sedikit aneh.”

Kenapa dia membahas hal ini lagi. Kukira dia sudah membiarkan pertanyaan ini menjadi sebuah misteri (?)

“Untuk apa aku cemburu pada kau dan Soojin eonnie.”

“Aku bahkan tidak mengatakan kau cemburu pada kami, Soojung-ah.” Dia mengedipkan sebelah matanya. Sial. Aku dijebak. ==”

“Terserah kau saja Siwon-sshi. Bisa turunkan aku di halte depan saja? Sepertinya satu mobil denganmu terasa seperti naik ‘taksi selebriti’.”

“Aku kan memang selebriti Park Soojung. Atau kau bisa menyebut perjalanan ini ‘mobil pribadi selebriti’. Hanya kurang kamera saja.”

Tuhan, jika Kau masih berencana membuatku terus hidup, ijinkan aku keluar dari mobil ini. Laki-laki di sampingku ini mengerikan.

Kurogoh sesuatu dari dalam tasku. Meraih sesuatu yang mungkin bisa menolongku saat ini. Penggaris?

Cepat kukeluarkan benda itu. menodongkannya di leher Siwon oppa.

“Siapa kau? Dimana Choi Siwon?”

Kulihat dia hanya menautkan kedua alisnya. Seakan tak takut dengan gertakkanku ini. “Kau kenapa?”

Merasa tak digubris, kutarik perlahan penggaris itu. melemparkannya sembarangan ke bagian belakang mobilnya.

“Kau gugup ya? Hari ini tingkahmu benar-benar aneh.”

“Itu kampusku.” Aku menunjuk ke sebuah gedung yang berdiri kokoh di depan sana. Hanya beberapa puluh meter lagi. “Kau bisa menurunkanku disini.”

Mobilnya sudah berhenti. Kurapikan sebentar penampilanku. Sebelum kemudian mengemasi barang-barangku dan beranjak turun dari mobil ini SEGERA. Ah aku sungguh tak sabar dengan hal terakhir.

“TANAH~!!! Akhirnya aku menjejakkan kakiku di tanah lagi. Terima kasih Tuhan.” Posisiku sudah bersujud. Tak kuhiraukan lalu lalang mahasiswa yang begitu ramai dan mungkin menatap miris ke arahku.

“Memangnya cara menyetirku mengerikan ya?” Aku berbalik mendengar suaranya. Tak percaya kenapa ia malah mengikutiku turun.

“LEBIH DARI ITU.” Aku beranjak bangkit. Dia mengulurkan tangan untuk membantuku. Tapi sengaja tak kuhiraukan. Biar saja.

Baru beberapa langkah berjalan, aku merasakan sesuatu yang cukup mengganggu. Sepertinya dia masih mengikutiku.

“Apa lagi?” Tanyaku, tanpa berbalik memandangnya.

“Hanya memastikan kau masih mau membantu mengurusi pertunanganku.”

Kugigit bibir bawahku. Sial sekali, disaat moodku membaik dia malah mengangkat topik sialan itu.

“Entahlah. Lihat saja nanti.” Aku mengendikkan bahu sombong. Lalu melangkah mantap memasuki kampusku.

“KUTUNGGU KAU BESOK SIANG DI KEDAI DEKAT TOKO PERHIASAN WAKTU ITU. AKU TIDAK AKAN PERGI SAMPAI KAU DATANG.”

Aku bisa mendengar teriakannya jelas. Ingin sekali kubalas, tak perlu menungguku. Aku mulai memikirkan untuk mundur dari jabatan pembuat-desain-pertunangannya itu.

Baru saat aku akan memberinya sebuah isyarat, sebuah teriakan mengacaukan segalanya(?)

“SIWON OPPA! ITU SIWON SUPER JUNIOR KAN?”

“CHOI SIWON”

Aku tertawa puas. Tanpa perlu melihatnya, aku bisa membayangkan bagaimana ekspresinya saat ini.

Kukira aku tidak perlu membantumu. Anggap saja itu hadiah karena telah menyakitiku tuan Choi.

***

Ya ampun, mimpi apa sampe bikin cerita merusak seperti ini? Gak ada intinya sama sekali kan? Maaf ya~~~ buat yang mau komen, silakan =) saya hargai itu. Yang udah mau baca aja syukur. Mau minta pertanggung jawaban atas cerita tak mutu ini? HUBUNGI LINK DIATAS (?)

fyi, ihmsw part 9 terpaksa ketunda karna suatu hal. maaf ya~ maaf banget. tapi pasti aku usahain secepetnya.

Advertisements

36 responses to “Come To Me [1 / 2]

  1. unieeee bagus kok. Aku suka deh kalo pemeran utamanya berantem huahahahaha.
    Justru kalo berantem itu kesannya lebih romantis. Selalu menanti ff dari unie loh 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s