Victoria (Kid, it’s Me After Story)

Victoria

 

Author            :           Park Kyungjin

Cast                :           SHINee – Lee Taemin

                                    YOU (girl) as Victoria

Genre              :           Romance, Fluff

Rating             :           G

Length            :           One Shot

Disclaimer      :           Just own the story belongs to my stupid imagination

PS                   :           aku g tau ini bisa dijadiin sequelnya Kid, it’s Me atau enggak. Yg jelas ff ini aku persembahkan buat yang minta sequel ff ngenes itu ._.

+++

1st day

Aku bersenandung kecil mengikuti alunan musik yang keluar dari I-Pod ku sambil sesekali memperhatikan beberapa orang-orang yang kebetulan berlalu-lalang. Jam sekolah sudah selesai namun aku lebih memilih untuk tidak langsung menelepon manajer hyung untuk menjemputku pulang. Yeah aku tahu kalau jadwal SHINee lumayan padat, tapi ku rasa duduk-duduk bersantai di taman sekolah sejenak ku rasa tidak masalah. Lagipula saat-saat seperti sekarang ini aku butuh untuk mengembalikan semangat hidupku.

yasashi sugita kara ka osanai kara ka

sono kuuki kan de subete wakatta~

and i think I’m gonna hate it girl

kitto nagaku nai

“Err, suaramu lembut sekali” seseorang menginterupsi nyanyianku. Aku menoleh dan mendapati seorang gadis berseragam junior high school duduk di ujung bangku yang sama. Sejak kapan ia ada di situ?

“Terima kasih” ujarku sambil tersenyum ke arahnya tanpa melepaskan earphone di telingaku. Volume suaranya sudah ku atur minim sehingga aku masih bisa mendengar suara di sekitar.

“Yeah, seperti suara perempuan” gumamnya lagi sambil sedikit terkekeh.

“Apa kau bilang?” aku mendengus dan melotot ke arahnya. Ia menggeser posisi duduknya untuk lebih menjauh dan sesaat kemudian ia akhirnya beranjak dan berlari menjauh sambil tertawa.

“Dasar anak yang aneh” gumamku lalu kembali menekuni I-Pod ku. Aku melirik jam tanganku dan tanpa sadar sudah menghabiskan banyak waktu. Akhirnya aku merogoh saku seragamku dan mengeluarkan ponselku dari sana.

“Hyung, aku sudah pulang” ujarku saat orang di seberang telepon menjawab.

+++

2nd day

Kriiinggggggg…

Bel tanda jam pelajaran selesai berbunyi. Aku buru-buru merapikan barang-barangku dan bergegas keluar menuju gerbang. Kali ini manajer hyung sudah menunggu di gerbang depan. Aku harus buru-buru sebab kurang dari sejam SHINee harus stand by di sebuah stasiun radio.

Aku terus melangkahkan kakiku dengan setengah berlari. Ponselku juga tak henti-hentinya berdering. Sedari tadi manajer hyung terus menghubungiku dan aku lebih memilih untuk mengabaikan teleponnya.

‘Nah itu dia’ gumamku dalam hati saat tiba di gerbang depan dan melihat van yang biasa menjemputku itu di seberang jalan. Aku bersiap-siap untuk menyebrang namun tiba-tiba seseorang yang melintas di depanku menabrakku. Aku melangkah mundur secara refleks dan ternyata bukan hanya itu, es krim yang ada di tangannya kini dengan sukses menumpahi jasku. Aku melongo sambil menatap jas dan orang itu secara bergantian.

“Benar-benar…” aku mengumpat pelan sambil berusaha untuk tidak terpancing emosi. Ku lihat ia juga cukup terkejut dengan kejadian ini. Hey tunggu sebentar, sepertinya aku pernah melihatnya.

“Hey, bukankah kau orang yang kemarin mengataiku dengan seenaknya?” tanyaku sambil terus menatap tajam ke arahnya.

“Astaga, aku benar-benar tidak sengaja. Maaf…” ujarnya lirih sambil membungkukkan badannya.

“YA! APA YANG KAU LAKUKAN DI SITU HUH?” manajer hyung menurunkan kaca mobil dan berteriak dari arah seberang jalan. Aku kembali tersadar dan akhirnya memilih untuk mengabaikan masalah ini dan segera menyeberang jalan.

“Tunggu!” serunya padaku sesaat sebelum aku sempat menyeberang jalan. Aku berhenti sejenak dan menoleh ke arahnya.

“Ada apa lagi? Sudahlah kali ini aku memaafkanmu. Aku sedang buru-buru!”

“Berikan jasmu, biar aku yang mencucinya! Aku janji akan mengembalikannya besok”

Tanpa pikir panjang aku segera melepaskan jasku dan melemparnya ke arahnya. Aku tidak lagi mempedulikannya dan langsung berlari menyeberangi jalan.

“Maafkan aku hyung” aku meringis ke arah manajer hyung saat aku sudah naik ke van. Ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya lalu segera melajukan van dengan kecepatan yang cukup tinggi.

Sepanjang perjalan aku memikirkan semuanya kembali. Gadis itu, dilihat dari seragamnya, sekolahnya berada di kompleks yang sama dengan sekolahku. Hhh, pantas saja ia sering berkeliaran di tempat itu. Dan buruknya, pertemuanku dengannya tidak pernah terkesan baik.

Aku menepuk jidatku pelan saat aku menyadari kenapa dengan bodohnya aku malah memberikan jasku padanya. Bagaimana kalau ia terlambat mengembalikannya padaku? Astaga, aku bisa dihukum karena tidak berseragam lengkap!

+++

3rd day

Pagi ini aku berangkat ke sekolah dengan perasaan cemas. Key hyung bahkan tak henti-hentinya bertanya kenapa aku nekat ke sekolah hanya dengan kemeja putih polos, tanpa balutan jasnya. Dan butuh banyak alasan untuk tidak mengatakan hal yang sebenarnya sebab ku rasa ia juga akan menyebutku sebagai orang yang bodoh.

Namun rasa cemasku perlahan-lahan memudar saat aku melihat sosok gadis itu berdiri di depan gerbang sekolahku sambil menenteng sesuatu yang berwarna hitam yang ku duga sebagai jasku. Aku segera berlari menghampirinya.

“Hey, syukurlah kau membuatku selamat dari hukuman!” seruku sambil menyambar jasku yang ada di tangannya dan segera mengenakannya. Sesaat kemudian aku mengernyitkan alisku saat melihat wajahnya yang tiba-tiba terlihat agak pucat.

“Hey hey, tidak usah tegang seperti itu. Meskipun agak berat juga tapi kali ini aku memaafkanmu. Jangan diulangi lagi ya…” ujarku padanya. Ia terlihat menelan ludah.

“J..jadi, kau ini Lee Taemin, salah satu personil SHINee…” ujarnya terbata-bata.

“Eh? Jadi sebelumnya kamu tidak tahu?” tanyaku sedikit terkejut dan ia menggeleng pelan. Hhh, apa ia tidak punya televisi di rumah huh?

“Baiklah… Jadi apa yang membuatmu akhirnya mengetahuinya?”

“Noona-ku yang memberitahu…” gumamnya pelan.

“Noona? Hey kau ini kan perempuan… Harusnya kau memanggilnya dengan sebutan onnie…” aku mencibir ke arahnya. Ku rasa otak anak ini mulai tidak sinkron lagi.

“Ah ya maksudku onnie-ku. Dia terkejut saat melihat name tag yang ada di jasmu” ujarnya masih dengan ekspresi datar. Ku rasa ia benar-benar terkejut. Hahaha.

Akhirnya ku putuskan untuk meninggalkannya dan beranjak memasuki gerbang.

+++

4th day

Jam pulang sekolah dan lagi-lagi aku memutuskan untuk tidak langsung pulang ke dorm. Hari ini SHINee terbebas dari jadwal dan itu berarti aku bisa sedikit bebas menghabiskan waktu. Aku berjalan ke taman samping sekolah, tempat yang menjadi favoritku untuk bersantai-santai sejenak.

Aku duduk di bangku seperti biasa dan mulai menyalakan I-Podku. Sesaat kemudian aku sudah tenggelam dalam lagu-lagu yang mengalun lewat earphone-ku.

“Dasar anak nakal!” samar-samar aku mendengar kegaduhan. Aku melepas earphone-ku dan mencoba mencari tahu penyebab kegaduhan itu.

Di lingkungan sekolah sebelah yang letaknya hanya beberapa meter itu aku melihat seorang pedagang yang sedang memarahi seseorang. Aku memicingkan mataku agar bisa melihat dengan jelas anak yang sedang ia marahi itu.

Aku tertegun saat berhasil mengenalinya. Ck, lagi-lagi gadis itu. Ku rasa ia tak henti-hentinya berbuat ulah. Ia terlihat meringis sambil terus menggaruk-garuk kepalanya, menerima setiap omelan yang keluar dari wanita paruh baya itu. Aku tertawa geli lalu memasang earphone-ku dan kembali tenggelam dalam lagu-laguku.

Beberapa saat kemudian aku merasakan lenganku seperti di tusuk-tusuk. Aku menoleh dalam sekejam dan mendapati gadis itu tengah duduk di sampingku, lengkap dengan ranting yang ada di tangannya.

“Ya! Sejak kapan kau ada di situ huh?” tanyaku dengan sedikit terkejut sambil mengusap-usap lenganku.

“Baru saja. Makanya jangan terlalu banyak mengkhayal…” celetuknya santai. Ia lalu menggunakan ranting yang ukurannya cukup panjang itu untuk menggaruk-garuk punggungnya.

“Ih” aku bergidik melihat tingkahnya. Dasar gadis yang aneh. “Oh iya, masalahmu dengan ibu-ibu tadi sudah kau bereskan huh?”

“Hah? Kau melihatnya hyung?” ia membelalak. Mata kecilnya yang bulat terlihat lucu. Aku hanya mengendikkan bahuku.

“Hey, kau ini perempuan atau bukan? Kenapa memanggilku dengan sebutan hyung?”

“Ish, aku lebih suka memanggilmu seperti itu…”

“Aneh…” hanya itu kata-kata yang bisa menggambarkan gadis ini, itupun kalau dia layak dikatakan seorang gadis. Tingkah lakunya, caranya berpakaian, semuanya terlihat sangat tomboy. Apalagi ia juga memiliki rambut yang pendek.

“Oh iya, namamu siapa?” tanyaku saat aku tersadar aku sama sekali belum mengetahui namanya.

“Err, panggil Vicky saja…”

“Vicky? Memangnya nama lengkap kamu siapa?”

“Mau tahu saja…”

Aku mendengus mendengar kata-katanya barusan. Gadis jadi-jadian ini memang menyebalkan. Ah iya, kenapa baru kepikiran sekarang? Aku bisa mengetahui namanya dari name tag-nya!

Aku sedikit memajukan kepalaku agar bisa melihat name tag di seragamnya dengan jelas. Oh, jadi namanya Victoria. Nama yang bagus sebenarnya, tapi kenapa ia ingin dipanggil Vicky? Bagiku nama panggilannya itu terdengar seperti nama laki-laki.

“Hey apa yang kau lihat?! Jangan kurang ajar!” pekiknya tiba-tiba lalu menyilangkan kedua lengannya untuk menutupi bagian dadanya. Aku merenggut.

“Ah tidak tidak kau salah sangka!”

“Dasar mesum…” desisnya sambil menatapku dengan tatapan yang sangat aneh.

“Hey bocah! Aku sama sekali tidak tertarik untuk memperhatikan itu!”

+++

5th day

Aku melangkahkan kakiku dengan santai menyusuri koridor sekolah dan terlonjak saat seseorang tiba-tiba menepuk bahuku dengan kasar. Aku menoleh dan mendapati Victoria tengah memamerkan sederetan giginya.

“Victoria, Great! Kau sukses membuatku hampir jantungan!” umpatku padanya. Ia hanya terkekeh.

“Hyung, bisakah kau tidak memanggilku Victoria?”

“Kenapa?”

“Aneh, terdengar sangat perempuan”

“Eh? Kau kan memang perempuan!” aku tetap pada pendirianku. Lagipula Victoria jauh lebih baik daripada Vicky. Ia terdengar mendengus. Ku kibaskan tanganku dengan asal di depan wajahnya lalu kembali melangkahkan kaki menuju gerbang depan.

Ku rasakan gadis itu mengikutiku. Ku coba untuk mempercepat langkahku dan ia pun melakukannya juga.

“Kenapa membuntutiku terus huh? Kau fans ya?”

“Pede sekali”

“Lalu kenapa sekarang dan beberapa hari belakangan ini kau terus-terusan muncul di hadapanku huh? Sekarang kau malah berani masuk ke lingkungan sekolahku…”

“Hahaha. Tak tahu kenapa mengusik-usikmu terasa sangat menyenangkan” ujarnya sambil memperdengarkan kekehannya yang sangat khas itu. Aku menoleh sekilas dan menatapnya tajam.

“Oh iya hyung, hari ini kau ada jadwal bersama SHINee tidak?” tanyanya lagi.

“Tidak juga. Memangnya kenapa?”

“Jadi hari ini kau tidak sibuk kan?”

“Lalu?”

“Traktir aku es krim…” ujarnya santai.

“Eh?”

“Kenapa? Kau tidak mau? Pelit sekali. Padahal aku yakin uang sakumu banyak…” ia mencibir sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

“Bukannya begitu…”

“Lalu masalahmu apa lagi?”

“Ah baiklah…” akhirnya aku memilih untuk mengalah daripada meladeni mulut kecilnya yang ternyata berbicara tidak sesuai porsinya. Aku menghela napas sejenak dan kini berjalan pasrah mengikuti langkah kakinya yang terlihat riang. Langkah kami akhirnya terhenti pada kedai es krim yang ada di seberang jalan.

Ia memesan es krim rasa pisang, sama seperti rasa kesukaanku. Aku tersenyum simpul lalu ikut memesan es krim yang sama.

“Hey hyung kau ikut-ikutan saja…” cibirnya penuh semangat. Aku hanya terkekeh, malas menanggapi perkataannya yang ujung-ujungnya hanya menjadi perdebatan yang tidak penting.

“Ku beri tahu, kau ini sebenarnya gadis yang beruntung. Aku belum pernah mentraktir siapa-siapa”

“Ah bilang saja kalau kau ini memang pelit” ujarnya tak peduli. Hey, padahal tadinya aku berniat untuk sedikit menggodanya. Aish, dasar gadis jadi-jadian.

+++

6th day

Hari ini SHINee tidak memiliki jadwal lagi jadi ku putuskan untuk bersantai-santai sejenak di taman samping sekolah. Seperti biasa aku duduk di bangku yang sama sembari mengeluarkan I-Pod ku dari dalam tas dan mulai mencoba menikmati lagu-lagunya.

Berkali-kali aku mengganti list lagu, mencoba mencari lagu yang kira-kira cocok untuk aku dengarkan saat ini. Tapi sampai aku memilih-milih semua daftar lagu yang ada di I-Pod ku, aku sama sekali tidak tertarik untuk mendengarkan yang manapun. Aku malah sesekali disibukkan oleh kegiatan mendongak ke sekolah sebelah. Well, jangan bilang kalau aku mencari gadis jadi-jadian itu.

Ku rasakan ponselku berdering. Ku tatap layar ponselku sekilas yang menampilkan nama manajer hyung.

“Ya hyung, aku segera ke gerbang”

Klik.

Aku memasukkan kembali ponselku ke saku bajuku dan membereskan tasku. Aku mulai melangkah meninggalkan taman namun sesekali menoleh ke belakang.

“Aish, ku rasa aku mulai gila” gumamku pada diriku sendiri saat menyadari apa yang aku perbuat. Entahlah, ku rasa aku mulai terbiasa dengan kehadirannya. Anak kecil itu…

+++

7th day

Sepanjang jam pelajaran aku lebih banyak termenung sambil sesekali melirik jam tanganku. Err, kenapa jam pulang terasa berkali-kali lipat lebih lama?

Ku paksakan diriku untuk berkonsentrasi dan ketika bel tanda pelajaran usai berbunyi, tanpa membuang-buang waktu lebih banyak lagi aku segera beranjak meninggalkan kelas.

Tempat utama yang ku kunjungi saat ini adalah taman samping sekolah. Aku duduk di kursi biasa sambil melipat kedua tanganku di depan dada. Kali ini aku sama sekali tidak tertarik untuk mengeluarkan I-Pod ku.

Beberapa menit kemudian aku mulai menghentak-hentakkan kakiku. Ish, kenapa terkesan sangat tidak sabaran? Jujur saja aku penasaran, kira-kira mengapa gadis itu tidak lagi datang mengusikku sejak kemarin? Atau jangan-jangan ia sudah bosan? Astaga, kenapa aku mau repot-repot memikirkannya!

Baru saja aku ingin mengurungkan niatku untuk menunggu lebih lama namun tiba-tiba mataku menangkap sosok gadis berambut pendek itu melintas di pekarangan sekolahnya. Aku mulai menimbang-nimbang untuk menemuinya atau tidak dan pada akhirnya ku putuskan untuk berpura-pura melihatnya secara tidak sengaja.

“Victoria!” aku berteriak dengan volume suara yang ku perkirakan agar ia bisa mendengarnya. Berhasil. Ia berhenti sejenak dan menoleh ke arahku.

“Oh iya, aku sedang berbaik hati. Kau mau ku traktir es krim?” tawarku padanya. Ia terlihat berpikir sejenak lalu pada akhirnya berjalan menghampiriku. Hahaha. Gampang sekali untuk membuatnya menurut. Ia lalu ikut duduk di sampingku.

“Hey, bukankah ini hari sekolah? Kenapa tidak memakai seragammu huh? Ah kau membolos ya? Ck kau ini nakal sekali!” ujarku saat melihat pakaian yang ia kenakan. Ku pikir ia akan membalas omonganku seperti biasanya namun yang terjadi ia malah tertunduk lesu.

“Ah maaf maaf… Aku kan cuma bertanya… Kalau memang kau tidak membolos ya sudah katakan saja…” ujarku pelan, merasa tidak enak hati padanya.

“Aku tidak bisa bersekolah lagi oppa…” ujarnya lirih sambil menatap ke arahku. Aku tertegun, mencoba mencerna maksud dari perkataannya barusan. Dan baru kali ini ia memanggilku dengan sebutan oppa.

“Kau kenapa Victoria? Ada masalah?” tanyaku dengan lembut. Jujur saja aku sedikit aneh dengan Victoria yang seperti ini.

“Kepala sekolah memutuskan untuk memberhentikanku dari sekolah” ujarnya lagi dan kini matanya terlihat berkaca-kaca.

“Kenapa?”

Ia kembali tertunduk dan terdiam cukup lama. Aku mulai bingung mengatasi situasi seperti ini. Akhirnya ku coba untuk memegang bahunya dan tiba-tiba ia menangis.

“Victoria?”

Aku hanya bisa menunggu lama sambil berusaha menenangkannya hingga perlahan-lahan ia mau menceritakan masalahnya. Ternyata ia diberhentikan sekolah karena tidak bisa membayar biaya sekolah. Semakin jauh ia bercerita, aku akhirnya mengetahui kalau ia sudah tidak memiliki ayah. Saat ini ia hanya tinggal bersama ibu dan kakak perempuannya. Ibunya terpaksa bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Padahal ibuku hanya butuh menambahkan beberapa lagi hingga akhirnya semua biayanya sudah dilunasi… Tapi kepala sekolah tidak bisa berbuat apa-apa lagi” katanya sambil terus terisak.

“Memangnya masih kurang berapa?”

Ia menatapku sekilas. Aku buru-buru minta maaf, takut kalau ternyata ia tersinggung dengan perkataanku. Namun pada akhirnya ia menyebutkannya.

“Bagaimana kalau aku membantumu? Kebetulan aku punya jumlah segitu…” aku mencoba untuk menawarkan bantuan.

“Hey oppa, aku sama sekali tidak berniat untuk menguras uangmu… Oh iya tentang es krim yang kemarin, sebenarnya aku hanya bercanda…”

“Ah tidak, aku tidak merasa kau ingin menguras uangku. Aku sungguh hanya ingin membantu…” aku mencoba untuk meyakinkannya. Lagi-lagi ia tertunduk.

“Ayolah, tidak usah sungkan-sungkan… Lagipula aku membantumu dengan satu syarat, bagaimana?”

Ia mengangkat kembali wajahnya dan menatapku bingung.

“Syarat? Apa itu?”

“Pertama, berhenti menangis seperti itu. Kau terlihat jelek…”

“Pertama? Tadi kau bilang hanya satu syarat?”

“Yeah ku tambah satu lagi… Hehe…”

“Ah dasar tidak konsisten…” ia mendengus. Hm, ku rasa Victoria yang asli sudah hampir kembali.

“Ayo hapus air matamu…” aku melipat tanganku di depan dada. Ia berpikir sejenak. Sesaat kemudian, tanpa ku duga ia menarik ujung jasku dan menyapukannya di sekitar wajahnya.

“Ya! Kenapa mesti menggunakan jasku huh?!” protesku ke arahnya. Ia hanya terkekeh pelan. Dasar!

“Lalu syarat yang satunya apa?”

“Kau harus mau ku jadikan pacar…” ujarku mantap. Saat mengatakannya tiba-tiba jantungku terasa berdetak lebih cepat. Ia terlihat terkejut. Aku mulai gugup, kira-kira apa ia mau atau tidak?

“Pacar?”

“Ya. Bagaimana?”

Ku lihat ia mulai menggaruk-garuk kepalanya. Sepertinya ia tengah memikirkan sesuatu.

“Kau tidak sedang bercanda kan?” tanya lagi.

“Memangnya aku terlihat seperti sedang bercanda?” aku mulai sedikit kesal. Aish, untuk menjawab saja lama sekali.

Beberapa saat kemudian ia akhirnya mengangguk. Aku hampir saja terlonjak senang namun untungnya aku berhasil mengendalikan diri. Aku mencoba untuk terlihat biasa.

“Nah, mulai sekarang kau pacarku ya” ujarku sambil menepuk puncak kepalanya pelan. Ia hanya terlihat meringis. Lucu sekali.

Diam-diam aku mengecup pipinya secara tiba-tiba. Seketika itu pipinya langsung memerah. Aku terkikik geli melihat ekspresinya. Dasar anak kecil. Yeah, anak kecil yang mampu membuatku menyukainya hanya dalam waktu seminggu.

 

THE END

 

PS : mohon dimaafkan ya kalo ceritanya jelek banget.. aku emang payah soal romance,, n sebenarnya aku gak pede bikin ff bergenre fluff romance kayak gini ._. tapi yang jelas endingnya g semengenaskan Kid, it’s Me kan?? Hehe.. semoga ff ini bisa nutupin ff ngenes itu..

Now,, feel free to comment.. ^^

©parkkyungjin.wordpress.com

Advertisements

60 responses to “Victoria (Kid, it’s Me After Story)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s