Ellena Potion Part. 1

Author: Kidneypea

Rating: PG15

Lenght: Chaptered

Genre: Romance, Fantasy, AU (Alternate Universe)

Main Casts:

– Park Jiyeon

-Choi Minho

Read First: PROLOG | Part.1 (Intro)

Note From Me: Annyeong! aku kembali membawa full part 1 nyaaa 😀 kayaknya aku bakal ngepost seminggu sekali deh.. soalnya disibukkan oleh tugas2.. maafkan hamba..

gasuka pairingnya gausah baca, gasuka posternya gausah diliat, terserah mau jadi Sider.. yang penting dibaca dan lebih bagus lagi kalian suka ^^

***

“Mengapa kau terus mengikutiku?” kata Minho akhirnya. Jiyeon kaget, ia melihat sekelilingnya—ia berharap bukan ia yang Minho maksud.

“Aku?” akhirnya Jiyeon membuka mulut. Minho mengangguk.

Jiyeon tambah kaget lagi, Minho dapat mendengar suaranya.. itu berarti memang dia yang Minho maksud. Jiyeon terus berbicara pada dirinya sendiri, ‘Mengapa Minho bisa melihatku? Aku harus jawab apa?’. Jiyeon berpikir keras, lalu tersenyum—ia punya ide.

“Karena aku tahu, kau dapat melihatku!” kata Jiyeon akhirnya. Tentu saja Jiyeon berbohong.. ia berkata seperti itu karena ia mendapatkannya dari komik kesukaannya, juga agar kesannya dramatis gimanaaa gitu.

“Apa yang kau inginkan dariku?” tanya Minho dengan sinis. “Aku.. aku.. ingin meminta bantuanmu” kata Jiyeon setengah memohon.

“Bagaimana kalau aku jawab ‘Tidak’?” tanya Minho lagi. Jiyeon cemberut, ‘Ini cowok kok ribet banget sih?’ batin Jiyeon.

“Aku akan berusaha agar kau mau membantuku! Karena, cuma kau saja yang bisa melihatku” Jiyeon tidak mau kalah, bagaimanapun juga ia ingin bisa kembali normal lagi.

“Baiklah, kita lihat saja Park-Ji-Yeon.. kau salah satu fansku kan?” Minho pun pergi keluar. Jiyeon kesal, sepertinya ia ingin sekali melempar Minho dengan semua benda yang ada di rumah ini.

***

          “Minho! Aku tidur dengan mu ya?” kata Jiyeon sambil menguap. Minho terlonjak kaget, “Apaa!? Apa kau bilang?”

“Hei, lagipula aku tidak terlihat dan tidak dapat disentuh.. ayolaaah!” Jiyeon mencoba membujuk Minho.

Minho mencoba mendorong Jiyeon, Jiyeon nyaris terjatuh.. “Tidak dapat disentuh katamu? Buktinya aku bisa mendorongmu” kata Minho.

“Mungkin karena kau dapat melihatku..” kata Jiyeon. Mata Jiyeon sudah kedap-kedip, badannya juga sudah lemas, sepertinya Jiyeon lelah sekali. Jiyeon jatuh ke kasur Minho lalu tertidur pulas.

“Ah.. merepotkan sekali perempuan ini!” kata Minho sambil membenarkan posisi Jiyeon lalu menyelimutinya. Minho akhirnya tidur di sofa.

***

Hari sabtu! Pagi-pagi sekali Minho sudah pergi sekolah karena ada futsal, sedangkan Jiyeon tetap di rumah Minho karena alasan Jiyeon ‘tak terlihat’. Jiyeon tetap manusia, cuma wujudnya saja tidak terlihat.. jadi sebagai manusia dia pasti juga merasakan yang namanya lapar, ya kan?

“Aku lapar..” kata Jiyeon sambil menelusuri tangga dan turun ke bawah untuk mengisi perutnya yang kosong. Jiyeon melihat meja makan penuh dengan makanan, ini waktu makan siang! Tentu saja meja makan penuh.

“Tidak ada siapapun.. ini kesempatan!” Jiyeon pun melahap semua makanan yang ada di meja makan, cewek satu ini memang memiliki suatu kelebihan.. yup, kelebihan nafsu makan.

Dalam sekejap semua makanan yang ada di meja makan itu pun habis dilahap oleh Jiyeon. Ia menyikat habis semuanya dalam waktu cukup singkat. Tepat sekali, Minho pulang tepat pada saat Jiyeon sudah menghabiskan makanannya. Minho pulang dengan wajah lelah dan penuh keringat, jelas saja habis futsal.

“Aish.. pasti ulah perempuan itu lagi, perutnya terbuat dari apa sih? merepotkan!” gerutu Minho. Dari kejauhan Jiyeon hanya cekikikan..

Tak lama Ibu Minho ke ruang makan dan melihat semua makanan di meja habis tak tersisa. Lalu wanita itu melihat ke arah Minho, mungkin ia berpikir kalau Minho telah memakan semuanya.. ibunya tentu saja ada sedikit perasaan senang, karena dari dulu Minho susah sekali disuruh makan.

“Masih lapar?” tanya Ibu Minho dengan nada menyindir.

“Tentu saja!” katanya dengan mantap. Mata Ibunya kini nyaris keluar mendengar jawaban anak tunggalnya itu..

***

Ingat kan kalau Jiyeon tetap manusia? Setiap manusia, pasti mencintai kebersihan. Begitu juga Jiyeon, sekalipun malas. Tetap saja dia harus mandi..

Jiyeon pun melangkahkan kakinya ke kamar mandi. Ia pun mandi. Setelah mandi, ia lupa membawa handuk. Tunggu, dia juga tidak punya baju ganti! Masa iya dia harus meminjam baju Minho?

“Ah, bagaimana ini?” katanya panik. “Oh iya, panggil Minho saja!” Jiyeon membuka pintu sedikit lalu memanggil nama Minho.

“Minho! Minhooo!!” teriak gadis ini.

Minho yang mendengar teriakan ini akhirnya berjalan dengan malas, lalu sampai di tempat asal suara itu, “Ada apa?” tanya Minho.

“Aku tidak membawa handuk dan baju.. tolong aku ya?” wajah Jiyeon mulai memelas.

“Salah sendiri.. tinggal lah kau di kamar mandi” jawab Minho dengan cueknya. Jiyeon cemberut.

“Kau tega, kau membiarkan ku telanjang untuk mengambil baju! Dasar otak mesum!!” kata-kata Jiyeon membuat Minho meringis geli. “Ah! Baiklah.. dasar merepotkan!” kata Minho akhirnya. Jiyeon tahu kalau ia telah berkata benar.

“Hei! Jangan lupa dalamannya!” teriak Jiyeon.

Minho berjalan menuju kamar ibunya. Karena ia takut ketahuan ibunya, ia pun berjalan diam-diam. Ia membuka lemari dan memilihkan baju untuk Jiyeon—sebuah T-Shirt dan celana ¾ tidak lupa dalamannya, lalu bergegas pergi.

“Min-ho…?” seseorang menyadari hal itu dari kejauhan. Minho secara reflek menengok ke sumber suara—ibunya ternyata, tamatlah riwayatnya.

“Sedang apa kau dengan baju, dan… pakaian dalam ibu?” Ibunya bingung akan tingkah anaknya akhir-akhir ini. Minho hanya tersenyum, lalu pergi.

Minho kini menuju kamar mandi, rasanya sangat sial dengan adanya Jiyeon di rumahnya.. ‘Mengapa harus aku yang dapat melihat wujudnya, sih?’ batin Minho.

Tok tok! Tok!! Tok!!

Jiyeon membuka pintu kamar mandi, “Mana?” tanya Jiyeon. Minho pun memberikan handuk dan baju ke Jiyeon.

Tak lama setelah itu, Jiyeon keluar dari kamar mandi.. tentu saja dia sudah memakai baju yang tadi diberikan Minho. Ukurannya pas dengan Jiyeon, karena tubuh ibu Minho juga sama mininya seperti Jiyeon.

“Merepotkan!” kata Minho. Mimik Jiyeon seperti ingin mengatakan sesuatu pada Minho, “Hei! Terimakasih ya!” Minho pun tersenyum simpul.

***

          “Apa kubantu dia saja ya?” tanya Minho pada dirinya sendiri. Minho juga sangat direpotkan oleh Jiyeon akhir-akhir ini. “Ah, baiklah..” Minho pun telah membuat keputusan. Lalu ia turun ke bawah untuk mencari Jiyeon. setelah lama mencari Jiyeon, Minho tak kunjung menemukan dia di dalam rumahnya. Tiba-tiba ia mendengar seseorang menangis dari luar, Minho pun keluar untuk mencari tahu.

Ternyata Jiyeon yang sedang menangis, “Kau tidak apa-apa?” Tanya Minho. Jiyeon mengangguk, “Aku tidak apa-apa” Minho pun mendekati Jiyeon.

“Aku tau kau tidak..” kata Minho sambil merangkul Jiyeon yang sedang memeluk lututnya. Jiyeon setengah kaget, ia pun melirik ke arah Minho.

“Mukamu basah, ada apa?” tanya Minho sambil menatap Jiyeon.

“Aku.. tidak ingin menghilang! Aku kesal tidak ada orang yang menanggapi ku” kata Jiyeon lirih.

“Ceritakan padaku, bagaimana awalnya kau bisa menghilang?”

Jiyeon menceritakan semuanya kepada Minho, dari awal ia mengantar barang ke Lab. Kimia sampai ia memecahkan sebuah botol, lalu bercermin di toilet wanita. Minho mengangguk tanda mengerti, “Kurasa kita harus bertanya pada guru kimia itu besok, cepat istirahat!” kata Minho, Jiyeon pun mengangguk.

***

          “Maaf, sepertinya beliau tidak masuk hari ini” kata Penjaga Sekolah. Minho langsung pergi ke halaman belakang sekolah, biasanya Minho memang sering datang ke tempat ini untuk tidur, tapi mungkin kali ini tidak.

Dari pagi sekali, Minho sudah datang ke sekolah untuk mencari Jaewon sonsaeng—guru kimia. Minho menunggu sampai ia datang. Tapi ia tak kunjung datang.. pasti Minho sangat lelah!

“Lalu, sekarang kita harus bagaimana?” tanya Jiyeon.

“Lebih baik kita sekarang istirahat dulu” Minho tidur dipangkuan Jiyeon. jantung Jiyeon berdegup dengan cepat, ‘Bagaimana kalau ada orang yang melihat kami? Lalu melihat kepala Minho melayang?’

Tiba-tiba Jiyeon melihat guru kimia itu, “Minho! Itu guru Jaewon!” kata Jiyeon sambil mengguncang-guncangkan tubuh Minho.. akhirnya Minho terbangun dan langsung menghampiri guru tersebut.

“Jaewon sonsaeng, bisakah saya berbicara dengan anda sebentar?”

Jaewon tidak menjawab, ia merogoh kantong celananya dan memberi Minho setangkai bunga yang indah, bunga itu berwarna putih dan bercak emas.. sungguh cantik. Lalu, Jaewon langsung pergi tanpa mengatakan apapun.

“Bunga?” tanya Minho pada dirinya sendiri. Minho pun langsung berjalan menghampiri Jiyeon.

“Apa yang dikatakan Jaewon sonsaeng?” tanya Jiyeon. Minho hanya menggelengkan kepalanya. Jiyeon melihat bunga ditangan Minho, ia langsung mengambilnya.

“Guru memberikanmu ini?” Jiyeon memandang kagum terhadap bunga itu. sepertinya bunga itu adalah bunga yang asing, jarang ditemukan di sini. Minho hanya mengangguk, “Aku tidak tahu apa maksud Jaewon sonsaeng memberikanku bunga ini” katanya.

Jiyeon memejamkan matanya, dan mengendus bunga itu..

***

kalo gangerti ceritanya dan pengen nanya, MENTION ke twitter ku aja @Mandadps jangan follow kalo kalian gamau.. follow aku kalo kalian pengen liat timeline ku aja ^^ walaupun gak follow tapi mention kalian kan masih keliatan~

keep RCL yaaaw 😉

59 responses to “Ellena Potion Part. 1

  1. huwaaaaa gurunya cuek amat deh… pasti ada apa apanya nih *readers sok tau* .___.v ehhehehehe btw keren ceritanyaaaa… menarik banget kayaknya aku masuk kedunia dongeng gitu ya(?) maaf ya thor reader-mu yang satu ini emang demen mengkhayal, suka deh sama fic beginian!! keep writing! good job 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s