Let’s Make a Baby [Chapter-10]

credit poster: Cute Pixie

Author: Unie

Genre: Angst, AU (Alternate Universe)

Rating: PG-15

Length: Chaptered

Main cast:

  • Lee Donghae
  • Sung Hyosun
  • Jessica Jung
  • Choi Seung Hyun [TOP]

Other cast:

  • Shim Changmin
  • Cho Kyuhyun
  • Lexy Kim
  • Victoria Song
  • Kim Sujin

Disclaimer:

FF ini bener-bener imajinasiku. Kalau misal ada yang mau komplain karena ada kesamaan. Ke acc twitterku ya di: @yuniLHJ

[PROLOG] [CHAPTER 1] [CHAPTER 2] [CHAPTER 3][CHAPTER 4]
[CHAPTER 5] [CHAPTER 6][CHAPTER 7][CHAPTER 8][CHAPTER 9]

            Ini hari ke lima setelah reuni SMA Donghae dan dia masih saja bersikap dingin padaku. Aku melihatnya tengah menyaksikan berita lokal di depan televisi. Dia duduk dan menyandar di sofa terbesar ruangan itu. Hari ini adalah hari minggu, jadi wajar saja jika dia seharian ini di rumah. Aku mendekat dan mengambil tempat duduk di salah satu bangku kosong yang letaknya paling dekat dengan Donghae sekarang. Aku merapatkan pahaku karena aku memakai rok yang cukup pendek hari ini.

“Bisa kita bicara?” tanyaku sedikit ragu.

Dia mengalihkan pandangannya dari televisi sesaat untuk memandangku. Tapi beberapa detik kemudian memfokuskan pandangannya lagi ke acara berita.

“Ada apa?” tanyanya tanpa memandangku.

“Top menawariku untuk bekerja di sini” aku menyodorkan kartu nama yang kemarin diberikan oleh Top padaku.

            Donghae menangkap gerakan tanganku dari salah satu sudut matanya, kemudian melirik benda plastik berwarna keemasan itu. Dia menatapku sejenak lalu mengambilnya.

“Penerbitan Choi?” Donghae menatapku cepat dengan matanya yang kian menyipit. Penerbitan Choi adalah salah satu penerbitan yang dirintis oleh adik dari ayahnya.

“Iya. Top memintaku untuk bekerja di bagian editing.”

Donghae mendengus dan menatapku penuh cemooh.

“Aku punya teman di Penerbitan Yonghwa. Aku akan mengenalkannya padamu” dia mencampakkan salah satu kartu nama ter-bonafide di bidang penerbitan itu di atas meja.

“Tapi aku ingin bekerja di Penerbitan Choi” kataku bersikukuh.

“Aku tidak setuju”

“Kenapa?”

“Karena aku tidak menyukai Top sejak SMA! Aku tidak mengijinkanmu!”

“Itu bukan alasan!” tukasku.

“Apa alasanmu bekerja di sana?” tanyanya tak mau kalah. Dia mengambil gelas minumnya yang ternyata sudah kosong, kemudian mengumpat kecil dan meletakkan gelas itu ke tempat asalnya.

“Penerbitan Choi adalah penerbitan besar yang cukup berpengaruh di Korea Selatan. Lagi pula aku bosan di apartemen terus”

“Penerbitan Yongwha juga tak kalah berpengaruh.”

“Tapi aku ingin bekerja di sana!”

“Kenapa kau keras kepala sekali? Kau istriku dan aku berhak mengaturmu, apapun itu” dia menaikkan nada suaranya satu oktaf lebih tinggi.

“Istri?” tanyaku sinis.

“Memangnya seberapa jauh kau menganggapku sebagai istrimu?”

Dia terlihat salah tingkah dengan pertanyaanku tapi masih bisa mengontrol ekspresinya setelah beberapa saat berlalu “Setidaknya bersikaplah dengan benar selama kau menjadi istriku”
“Bersikap benar yang bagaimana? Aku hanya memberitahumu bahwa aku akan bekerja di Penerbitan Choi dan menurutku itu adalah hal yang sudah cukup benar untuk kuberitahukan walaupun sebenarnya itu tidak penting. Bukankah dari awal hubungan kita dibina tanpa komitmen?” tanyaku menantangnya. Dia menatapku tajam karena pertanyaanku barusan.

“Kau…” dia menggeram dan memotong kalimatnya sendiri. Aku tidak tahu apa lanjutan kalimatnya itu, tapi dia membuatku sedikit bergidik karena matanya berkilat-kilat.

 “Apa kau menyukainya?” tanyanya kemudian mencoba mengalihkan kalimatnya yang terputus.

“Siapa? Top?” tanyaku pura-pura tidak mengerti tapi dia tidak menjawabnya, dia menunggu jawabanku.

“Dia baik dan aku mempercayainya sebagai seorang teman”

“Kau mempercayainya? Manusia macam apa kau ini bisa langsung mempercayai orang lain yang baru dikenal selama beberapa hari?” Donghae tidak percaya dan tersenyum keji padaku.

“Apa salahnya? Kenapa kau tidak bertanya manusia macam apa aku ini yang langsung menerima tawaranmu sebagai istri dalam beberapa hari?”

            Aku meremas bagian sofa yang tidak terlihat oleh mata Donghae. Sejujurnya aku takut melihat ekspresinya yang seperti ini. Dia marah tapi tidak mengatakan sesuatu padaku tapi memilih menatapku dengan garang. Jangan sampai dia mengangkat tangannya untuk memukulku.

“Aku akan menuruti semua yang kau mau, Donghae. Semuanya. Jika memang kau memberiku hak sepenuhnya untuk menjadi istrimu. Tapi hubungan kita memang dari awal tidak dibuat seperti itu.”

“Nanti aku akan menyerahkan aplikasiku pada Top, mungkin mulai minggu depan aku bisa mulai bekerja” kataku untuk terakhir kalinya karena dia tidak mengatakan apapun lagi. Dia masih sibuk dengan pikirannya sendiri.

            Aku beranjak dari tempat dudukku. Rasanya ada sesuatu yang menganga di jantungku hingga aku merasa sakit dengan ucapanku sendiri. Airmataku menetes saat aku menutup pintu kamarku. Aku bersandar di daun pintu sejenak, membiarkan air asin ini mengalir, menyusuri wajahku hingga ke bagian yang landai.

_

“Bagaimana?” tanya Top bersemangat saat aku datang ke ke apartemennya beberapa jam setelah berbicara dengan Donghae. Dia mendekatiku tapi aku langsung melemparnya dengan sebuah buku yang tidak begitu tebal.

“Brengsek! Aku hampir mati, bodoh!” kataku geram.

Dia malah tertawa sesuka hati dan menganggap semuanya adalah lelucon konyol.

“Berhentilah tertawa!”

“Maaf, Hyosun-ah. Aku hanya tidak tahan melihat ekspresimu itu. Jadi, dia mengijinkanmu?” tanyanya setelah berhasil mengontrol tawanya tapi masih menyisakan kikikan.

“Dia tidak punya pilihan. Tapi kau tahu, aku takut sekali menghadapinya kali ini. Dia seperti monster. Aku takut dia menghajarku karena menentangnya” aku belum sepenuhnya bisa mengontrol nafasku, masih merasa panik walaupun pembicaraan dengan Donghae sudah berlalu.

Top menebaskan tangannya, memberi nada yang sedikit menenangkan.”Donghae bukan tukang pukul. Semarah apapun dia, dia akan memilih meninju tembok daripada mengangkat tangan untuk memukul seorang wanita. Jadi kau tenang saja”

“Kau yakin ini akan berhasil?”

“Tidak ada salahnya untuk mencobanya kan? Kalau dia belum sadar dengan perasaannya padamu, kau sendiri yang harus menyadarkannya”

“Tapi kenapa harus dengan cara seperti ini? Bukankah melawan api dengan api yang lain malah menimbulkan api yang lebih besar” sangkalku kemudian mengelus-elus dahiku sendiri.

“Tapi cinta itu bukan api kan?”

“Setahuku cinta memang seperti api yang sewaktu-waktu bisa kuat dan kadang-kadang meredup”

Top menggeleng tidak setuju, kemudian meraih tangan kananku. Memperhatikan logam yang melingkar di jari manisku.

“Cinta yang dangkal memang seperti api. Tidak konsisten, terkadang redup dan terkadang menyala besar. Tapi cinta sejati seperti ini” dia menunjuk ke berlian kecil yang ada di tengah-tengahnya.

“Mineral yang memiliki sifat-sifat fisika yang istimewa, terutama kekerasannya dan kemampuannya mendiskripsikan cahaya. Selain itu, berlian hanya bisa dipecah dengan berlian yang lain. Sama halnya dengan cinta sejati, Hyosun-ah. Kau juga harus melawannya dengan hal yang sama kalau kau yakin dia adalah cinta sejatimu”

“Tapi, entah mengapa jika ada Jessica, rasanya aku kehilangan kepercayaan diri, Top. Dia selalu membuatku merasa tidak ada apa-apanya” kataku lemah. Aku menunduk saat Top melepaskan tanganku.

“Karena itulah kau harus menyadarkan Donghae. Aku yakin dia juga memiliki perasaan padamu. Tapi dia belum mau mengakuinya. Aku bisa melihat bagaimana posesifnya dia di acara reuni waktu itu. Makanya kau harus sesering mungkin membuatnya cemburu” Top memegang kedua lenganku dan itu cukup untuk membuatku menengadah.

“Dan itu kulakukan denganmu?”

Top memberikan sebuah anggukan.

“Kau bilang padaku kalau dia terpaksa menikah denganmu tapi kau tidak memberitahu detilnya padaku. Sekarang ceritakan semuanya padaku”

Aku menatapnya intens “Bagaimana aku bisa percaya padamu?”

“Untuk percaya pada seseorang, kau tidak perlu bukti apapun. Tapi biarkan hatimu yang menentukannya. Aku memang terkenal play boy, nakal, bermasalah dengan para pengajar dan lain-lain selama di SMA. Tapi ada satu kebaikan yang aku sisihkan, yaitu aku bisa dipercaya. Itu saja” dia melepaskan tangannya lalu membiarkanku berfikir.

“Dan karena itulah Donghae tidak menyukaimu?”

“Terlebih lagi saat aku mematahkan gitar akustiknya” dia mengiyakan.

Aku berfikir lagi. Apa harus seperti ini jalannya?

“Sejujurnya aku juga tidak bisa menyimpan ini terlalu lama seorang diri” desahku menyerah.

            Aku tidak mungkin lagi datang pada Kyu Oppa. Dia yang memintaku bertahan. Aku sudah tidak bisa lagi membagi perasaan seperti ini padanya, aku tidak mau dia terlalu banyak memikirkanku. Aku hanya ingin terlihat baik-baik saja di hadapannya dan mengatakan semuanya OK.

“Bagi bebanmu itu padaku. Maka semuanya akan terasa lebih ringan”

            Aku menatapnya sejenak. Sama halnya dengan Donghae, aku bisa mempercayai Top tanpa perlu kenal dengannya terlalu lama. Dari matanya yang cukup tajam itu, aku bisa merasakan bahwa dia bisa menjadi salah satu orang yang bisa aku percaya. Aku mengambil tempat di salah satu sofa yang masih kosong, lalu menceritakan semuanya pada Top. Dia mendengarkan tanpa banyak bicara.

“Menurutmu jika aku menginginkan lebih dari Donghae, apa itu salah?”

Top menggeleng “Tidak.”

“Hanya saja….”

“Hanya saja apa?”

“Hanya saja mereka berdua sudah berpacaran cukup lama. Apa kau siap jika nantinya Donghae memilih Jessica?”

Aku menelan ludah mendengar hal itu dari mulut Top. Rasanya aku sudah melihat kegagalan di depan mataku. Pandanganku sudah mulai blur. Mataku mulai berkaca.

“Apa lebih baik aku mundur sebelum jauh?”

Top malah terkekeh “Kenapa kau jadi ciut begitu? Dengar, kau tidak perlu menjadi yang pertama untuk menjadi yang utama. Jika kau tidak bisa berjalan cepat, maka jangan terburu-buru. Karena dengan berjalan lambat kau bisa melihat banyak hal. Kalau memang Donghae tidak pernah memberikan tempat di hatinya untukmu…”

“Maka aku yang akan mengantarmu ke museum of broken heart di Kroasia”

Aku mendengus “Kurang ajar!”

“Haha paling tidak kau harus berusaha sampai akhir”

“Sekarang ceritakan tentang wanita itu dan apa yang harus aku lakukan?” tanyaku kemudian.

“Namanya Kim Sujin. Dia adalah wanita yang tidak pernah melirikku sama sekali selama di SMA. Dia juga terkesan tidak peduli padaku. Tapi aku tahu dia menyukaiku”

“Dari mana kau tahu? Sudah jelas-jelas dia mengabaikanmu” kataku meremehkan.

“Dulu saat perpisahan dia mengirimiku surat cinta tanpa nama. Aku hafal setiap lekuk tulisannya jadi aku yakin kalau tulisan itu miliknya. Tapi dia tidak pernah mengaku”

“Kau menyukainya?”

Dia tersenyum kecil “Sampai sekarang daya tariknya tidak pernah berkurang.”

“Lalu apa yang harus aku lakukan?”

“Dia juga bekerja di bagian editing. Tolong cari tahu tentang dia. Semuanya, apakah dia sudah punya kekasih atau belum. Pokoknya sesuatu yang seperti itu”

Aku mengernyit “Kau mau aku menjadi penguntit?”

“Ayolah. Aku bekerja di bagian humas. Aku tidak punya kenalan di bagian editing. Kalau bukan kau siapa lagi? Aku bisa meminta pamanku untuk memasukkanmu di sana. Please… Aku juga rela mengambil resiko kalau sewaktu-waktu Donghae menghajarku karena berdekatan dengan istrinya” dia memohon.

“Kenapa tidak kau saja yang bekerja di bagian editing? Kau kan bisa bertemu dengannya setiap hari”

“Dulu aku sudah mencobanya, tapi HRD menolakku karena jurusanku tidak sesuai. Pamanku juga tidak bisa membantu banyak. Lagi pula Sujin anti berdekatan denganku”

“Kenapa?” mataku menyipit.

“Ah… Kau tidak perlu tahu. Yang jelas kau harus membantuku, ayolah”

“Aku perlu tahu apa masalahmu.”

“Ini memalukan” dia mendesah kesal sambil mengacak-acak rambutnya.

“Seberapa memalukan?”

“Sangat memalukan”

“Memangnya apa yang kau lakukan padanya?” tanyaku penasaran.

“Hyosun, please jangan paksa aku untuk mengatakannya…” wajahnya kini memelas, mengurangi karakter garang dari wajahnya.

“Yeah, aku tidak akan memaksamu lagi. Tapi jangan paksa aku untuk membantumu” kataku, merasa menang.

“Ck!” dia berdecak, menatapku penuh protes tapi tidak punya pilihan.

“Aku pernah menciumnya setelah acara perpisahan”

“Apa? Menciumnya? Lalu apa yang dia lakukan padamu?”

“Dia langsung menamparku” Top nyengir.

“Tindakan yang bagus, nona Sujin!” kataku mantap, setuju dengan tindakan Sujin di masa lalu.

“Heh! Kenapa kau membelanya? Kau kan temanku”

“Cih! Untung saja dia hanya menggamparmu. Kalau aku jadi dia, aku akan melemparmu ke jurang setelah menyumpal mulutmu itu dengan popok bayi”

“Sial! Lebih baik aku tidak pernah mengatakannya padamu kalau kau berniat mencemoohku seperti itu”

            Mendengar dia mengeluh, aku malah tertawa.

“Jadi bagaimana?”

“Oke. Aku akan membantumu. Ini aplikasinya” aku menyerahkan map berisi transkrip nilai, riwayat hidup dan lain-lain.

“Yes! Sekarang aku punya alasan untuk datang ke tempat editing” dia berdecak kegirangan.

Dahiku berkerut”Alasan? Maksudmu?”

“Aku akan sering menemuimu di bagian editing. Dengan begitu aku bisa melihatnya setiap hari” katanya sumringah.

“Yeah, terserah kau saja. Kalau dipikir-pikir nasib kita tidak jauh berbeda ya. Sama-sama mengejar cinta dari orang yang belum tentu mencintai kita” aku mendesah.

“Eh, sudah jelas-jelas kita berbeda. Dia menyukaiku saat SMA. Sementara kau…”

“Eh, itu asumsimu saja. Bagaimana kalau surat itu dari orang lain dan orang lain itu meminta tolong pada Sujin untuk menulisnya?” potongku tidak terima.

Wajahnya menjadi muram “Benar juga.”

Aku buru-buru menyikutnya “Heh! Tadi kau berorasi tentang cinta sejati. Kenapa sekarang loyo begitu? Jangan sampai kau yang aku antar ke Museum of Broken Heart di Kroasia ya”

“Ah! Konyol. Baru kali ini aku dibuat gila oleh wanita” dia menoleh padaku, tersenyum masam.

“Memangnya kau sendiri yang gila? Aku juga gila karena Donghae”

“Kalau mereka bukan cinta sejati kita…” katanya mengatung.

“Bagaimana kalau kita ke Kroasia bersama-sama?”

“Sudahlah, belum apa-apa sudah membicarakan masalah Kroasia. Eh, bolehkah aku menumpang ke kamar mandi? Akhir-akhir ini aku mengalami gangguan di saluran kemih”

_

1 Week later…

            Aku memilah-milah blazer formal yang akan aku kenakan di hari pertama kerja. Entah kenapa, aku merasa tidak ada yang menarik untuk dikenakan hari ini. Tapi mau tidak mau aku harus memilih salah satunya. Berat badanku naik beberapa kilo dalam dua minggu terakhir. Akhirnya aku mengambil blazer putih bergaris di sepanjang kerah kemudian memilih rok pendek hitam agar warnanya netral. Masalah baju mungkin sudah bisa ku atasi, tapi ada masalah lain yang akhir-akhir ini timbul. Seluruh braku menciut atau lebih tepatnya ukuran payudaraku bertambah satu tingkat. Aku heran padahal sekarang ini sudah bukan masa pubertasku lagi. Selama menjadi istri Donghae, aku tidak pernah berbelanja lagi. Apa sebaiknya aku membeli beberapa keperluanku setelah pulang kerja? Ah, aku bisa mengajak Lexy.

            Aku buru-buru menyambar benda elektronik yang tergeletak di atas kasur. Kemudian mengetikkan beberapa karakter di atas touch screen-nya.

To: Lexy

Aku butuh bra!

            Aku langsung menekan tombol “send” setelah selesai mengetikkan pesan singkat untuknya. Tidak perlu menunggu lama balasan SMS itu sudah masuk ke ponselku.

From: Lexy

Kau pikir aku penjual bra?

Memangnya ada apa dengan semua bra-mu?

Apa selain memakan isinya Donghae juga menggerogoti tempatnya? LOL

Aku tersenyum melihat jawabannya.

To: Lexy

Seluruh bra-ku menyusut XD

Eh, kau bisa menemaniku belanja hari ini jam 5?

From: Lexy

Menyusut? Astaga!

Bringas sekali dia sampai-sampai ukurannya berubah? LOL

Oke. Di tempat biasa ya…

            Melihat kata “bringas”, aku teringat dengan malam itu. Walaupun itu adalah hal yang pertama yang pernah kami lakukan, tapi kalau boleh jujur aku menginginkannya ‘lagi’. Donghae tidak “bringas” tapi berhati-hati.

Flashback…

“Kita bisa melakukannya dengan normal, Donghae-shi” kataku sedikit ragu, tapi aku serius untuk mengatakan ini.

Dia menoleh dengan cepat, menatapku tak percaya.

“Ini yang paling tidak beresiko” tambahku.

“Aku tidak mau mengambil terlalu banyak darimu, Hyosun-ah!” sergahnya cepat.

“Aku tidak akan menganggap kau mengambil terlalu banyak, Donghae-shi”

            Dengan ragu aku menggeser tubuhku agar lebih dekat dengannya lalu mengalungkan tanganku di lehernya dengan pelan. Aku masih mencoba agar lebih dekat lagi. Ketika dia tidak protes, aku memberanikan diri mendekatkan wajahku sedekat mungkin dengan wajahnya, dia juga melakukan hal yang sama walaupun setengah ragu.

“Hyosun-ah, ini tidak mungkin” protesnya lalu melengos begitu saja tapi tidak menghempaskan tanganku dari badannya.

“Apanya yang tidak mungkin?”

            Donghae menatapku lagi dan kali ini dia berani memberikan sebuah kecupan di bibirku hingga membuat mataku terpejam sesaat. Aku merasakan setrum-setrum kecil yang menggelitik saraf-saraf di bibirku. Aku menikmatinya. Dia melepaskan kecupan itu lalu memandangku sejenak untuk melihat reaksiku, kemudian melanjutkan ciuman yang sesungguhnya.

Dia berhenti dan mencoba melepaskan tanganku“Tidak, ini tidak benar. Ini gila! Jangan seperti ini. Aku akan sangat merasa bersalah padamu, Hyosun-ah”

“Percayalah aku tidak akan mempermasalahkannya. Setidaknya sekali ini saja kita lakukan, jika gagal kita akan mencoba alternative”

“Ini akan membuat pernikahan…”

“Please, kalau kau bicara lagi aku tidak bisa melanjutkan ini” aku menutup mulutnya dengan beberapa jariku.

            Tanpa dia meneruskan kalimatnya, aku tahu dia akan mengatakan bahwa pernikahan kami tak-terceraikan jika disempurnakan dengan persetubuhan. Dan memang itulah yang aku mau sekarang ini. Aku menginginkan perkawinan yang tak-terceraikan. Berbeda dengan hari-hari yang telah lalu ketika aku belum sadar bahwa aku begitu menginginkan Donghae. Aku hanya berharap sentuhan yang paling intim ini mampu membuatnya luluh walaupun sedikit.

            Aku memandangnya dengan tatapan memohon agar dia mau memenuhi permintaanku. Dan dia kembali mendekatkan wajahnya setelah beberapa saat berfikir. Aku merasakan nafasnya yang hangat saat dia mulai menciumku pelan. Dia seperti melakukan percobaan untuk meminta ijin. Terasa sangat ragu-ragu. Kemudian ku beranikan untuk membalasnya dan barulah bibir kami benar-benar bertaut, memberi respons satu sama lain. Aku tidak tahu apakah dari awal dia memang menginginkan ini atau tidak, tapi yang aku rasakan seperti itu. Dia seperti memiliki hasrat yang sama denganku. Dia masih menghujaniku dengan ciuman-ciumannya sampai beberapa menit sebelum foreplay dan menurutku ini terlalu lama. Ini semacam rasa… kerinduan yang mendalam. Apakah benar ini sebuah kerinduan?

            Ciumannya turun, menyusuri leherku yang cukup jenjang dan untuk beberapa saat dia berkutat di bagian sensitifku itu. Well, ini pertama kalinya untukku dan rasanya aku ingin teriak karena bulu kudukku mulai meremang. Dia menurunkan tali kecil di bahuku dan di saat yang bersamaan, aku menelan ludah. Aku rasa bra-ku terlihat karena baju tidurku sudah sedikit melorot. Oke, kenapa kamar ini menjadi panas saat dia menjelajahi dadaku padahal sudah jelas-jelas dia belum sampai ke bagian puncaknya? Aku merasa tangannya mulai terulur dan hampir menyentuh bagian itu, tapi…

~Ndret…Ndret…Ndret~

            Tangan dan ciumannya berhenti saat ringtone dari ponselku berbunyi. Lagu dari salah satu penyanyi solo pria dari negeri Paman Sam mengalun dari sana. LEXY KIM! Ya ampun, apa yang ada di otak sahabatku itu? Kenapa dia menghubungiku di saat yang tidak tepat seperti ini? Tapi demi apapun, rasanya aku terselamatkan karena telephone-nya itu. Bodoh! Aku tidak tahu kalau melakukan hubungan sex untuk yang pertama kali sesulit ini.

SKIP

Dia lemas dan terlihat tidak punya tenaga lagi. Baik dia maupun aku sama-sama mengeluarkan peluh. Aku tersenyum kecil, kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh kami berdua.

End Flasback…

            Mengingat itu aku jadi berfikir, apa karena itu ukuran bra-ku harus kunaikkan? Yang benar saja? Kami kan baru melakukannya sekali. Aku mencoba mengabaikan pikiran itu, kemudian memakai baju yang telah aku pilih barusan, tentu saja dengan bra seadanya. Mungkin sepulang dari tempat kerja aku bisa memborong bra di sebuah toko.

_

“Itu. Dia yang memakai kemeja orange”

Top menunjukkanku ke arah wanita berambut panjang yang kini tengah berjalan di salah satu koridor dari lantai ini. Dia menyibakkan rambutnya ke samping sambil membawa beberapa buah map dengan warna berbeda di tangan kirinya. Matanya sipit dan dandanannya juga tidak begitu menor tapi tetap elegan. Kalau aku pikir-pikir dia mirip dengan bintang iklan sampo yang ada TV, rambutnya membuatku iri. Dia melintasi kami, sementara kami pura-pura mengobrol dan tidak mengamatinya yang tengah melintas.

“Pantas saja dia tidak mau padamu. Dia cantik, tapi tampangmu pas-pasan” kataku setelah gadis bernama Sujin itu menjauh dan hilang dari pandangan kami.

“Yang benar saja. Kenapa kau dan dia sama-sama mengataiku bertampang pas-pasan? Saat SMA maupun kuliah, banyak wanita yang mengejarku” kilahnya merasa diremehkan.

“Mereka saja yang bodoh. Menurutku tidak ada yang lebih tampan selain suamiku sendiri.”

“Donghae tampan? Alah, dia itu tidak sepopuler aku saat SMA”

“Donghae memang tidak populer, tapi dia berkarisma”

“Mau sampai kapan kau memuji ikan mokpomu itu? Sekarang bekerjalah dengan benar. Kalau aku sedang luang, aku akan bermain-main ke tempatmu. Carikan aku informasi yang banyak tentang Sujin ya.” dia nyengir sambil menggaruk kepala bagian belakangnya yang tidak gatal.

“Untung saja kau memberiku pekerjaan yang sesuai dengan bidangku, kalau tidak pasti aku sudah menolaknya dari awal.”

Dia tertawa”Terimakasih, cantik”

“Tidak usah merayuku atau memujiku seperti itu. Hak sepatu yang aku pakai hari ini lumayan runcing dan itu cukup untuk membuat kepalamu bocor”

“Kau ini galak sekali sih? Pantas saja Donghae tidak menyukaimu” Top memberengut.

“Sembarangan. Kalau dia belum mencintaiku itu mungkin saja. Tapi kalau dia tidak menyukaiku, untuk apa dia memilihku sebagai istrinya?” aku bersedekap.

“Well, Donghae tidak cukup kritis dalam memilih istri. Apa dia tidak takut kalau anaknya menjadi monster seperti ibunya”

“Cih~ Mengocehlah sesuka hati di sini. Sudahlah aku mau ke ruanganku. Ini hari pertamaku, jadi aku harus bersikap sebaik mungkin” aku beringsut pergi menjauhinya.

“Bekerjalah dengan benar, Nyonya Lee!”

            Aku tersenyum, tapi tidak menoleh padanya sambil mengacungkan jempol kananku ke samping.

_

            Setelah beberapa jam bekerja, akhirnya aku bisa bertemu dengan sahabatku. Setelah hari pernikahan, praktis aku belum bertemu dengannya sama sekali. Dan dalam kesempatan kali ini dia malah menggodaiku terus-terusan.

“Ayo, ceritakan. Bagaimana?” tanyanya semangat saat aku memilah-milah pakaian dalam yang ada di toko itu.

“Bagaimana apanya? Kau usil sekali sih? Nanti kau juga akan tahu rasanya seperti apa”

“Kau seharusnya memakai yang seperti ini” Lexy menyodorkan sepasang pakaian dalam transparan padaku. Aku melihat itu dan menatapnya jijik.

“Tidak. Terimakasih”

Dia tertawa.

“Eh, ngomong-ngomong kau belum hamil?”

Aku menatapnya sejenak. Lalu mendesah.

“Aku mendapatkan menstruasiku minggu lalu. Satu minggu lebih cepat dari biasanya. Tapi anehnya menstruasiku kali ini tidak lama dan rasa kram di perutku tidak bisa hilang begitu saja.”

“Sekarang masih terasa?” tanyanya dengan raut wajah yang lebih serius.

“Masih. Sepertinya aku harus memeriksanya ke dokter”

Aku selesai memilah-milah barang yang ingin ku beli dan bermaksud berjalan menuju kasir.

“Kau tidak merasa mual?”

“Apa?” aku berbalik menghadap Lexy lagi.

“Selama ini kau tidak pernah merasa mual?”

Aku menggeleng “Tidak. Memangnya kenapa? Aku kan sudah mendapatkan menstruasiku bulan ini, jadi tidak mungkin aku mual-mual karena hamil”

“Apa kau sering merasa pusing, lelah. Ceritakan semua keadaanmu akhir-akhir ini”

Aku sedikit bingung mendengar pertanyaannya tapi aku berusaha menjawab sesuai dengan kondisiku akhir-akhir ini.

“Aku memang merasa cepat lelah. Tapi kalau pusing hanya sesekali. Sebenarnya selain perutku yang masih terasa keram, aku juga mengalami gangguan di saluran kencingku. Aku jadi lebih sering buang air kecil akhir-akhir ini. Itu saja. Memangnya kenapa?”

“Bisa jadi kau hamil”

“Apa? Hamil? Bagaimana bisa? Aku kan tidak…”

“Sudah, lebih baik kau bayar dulu barang-barangmu itu. Nanti ku jelaskan”

            Aku menurutinya kemudian membayar seluruh barang-barang keperluanku. Setelah melakukan transaksi dengan kasir, aku dan Lexy pergi ke kedai es krim yang biasa kami kunjungi.

“Katakan, apa maksudmu dengan mengatakan bahwa aku hamil? Aku tidak mengalami gejala seperti mual-mual”

“Memangnya gejala hamil itu mual-mual saja? Hanya 50% ibu hamil mengalami mual-mual.” katanya saat aku menyuap satu sendok kecil es krim rasa vanila.

“Kram perut yang kau alami itu mungkin pengaruh tingginya kadar estrogen. Perubahan yang terjadi pada payudaramu juga karena selain dari tingginya estrogen juga karena naiknya hormon progesteron.  Lalu sering buang kecil, istilah ilmiahnya adalah frequent urination. Ini terjadi karena janin yang semakin berkembang dan mendesak kandung kemih hingga memicu seringnya buang air kecil. Cepat lelah dan mengantuk juga pengaruh dari faktor hormonal”

            Aku merasa tertegun dengan penjelasannya walaupun aku tidak mengerti secara menyeluruh tentang apa yang dia katakan. Terlalu ilmiah. Tapi intinya, dia mengatakan kemungkinan besar aku hamil.

“Lihat juga cara makanmu sekarang. Kau rakus sekali. Ini sudah gelas es krim yang ketiga. Pasti berat badanmu sudah naik”

Aku memperhatikan tiga gelas es krim yang sudah kosong di depanku dan aku baru sadar kalau aku makan es krim sekalap ini. Dahiku berkerut. Biasanya aku tidak pernah makan es krim sebanyak ini. Apa benar aku hamil? Aku menatap Lexy dan mengingat kapan terakhir aku menimbang berat badanku.

“Ini” Lexy menyodorkan sebuah test pack yang masih tersegel padaku.

“Sebenarnya itu milik Ahjuma. Dia memintaku untuk membelikannya. Nanti aku bisa membelinya lagi. Periksalah. Kalau negatif kau coba dengan test pack lain dengan merk yang berbeda. Tapi kalau hasilnya tetap negatif, kau harus periksa ke dokter. Sepertinya kau memang bermasalah dengan kesehatanmu” Lexy mengayunkan sendok, memakan suapan terakhir dari es krimnya.

Aku menjilati bibirku, sedikit ragu dengan apa yang ingin ku tanyakan padanya “Kau yakin?”

“He hem…” Dia mengangguk pelan.

_

            Aku duduk di atas closet dan menarik nafasku dalam-dalam. Aku belum berani melihat hasil dari tiga buah test pack yang aku genggam erat-erat di bagian ujungnya. Apakah ini akan berhasil? Lalu aku harus bagaimana jika aku benar-benar hamil?

-TBC-

Yeeeeey, Lexy Kim memberi jawaban /plak… Silahkan nebak-nebak aja Hyosun hamil ato enggak. Untuk penjelasan ilmiahnya kalau mau lebih gamblang, kalian bisa trackback ke komen dari username “fa” dan “clanyuuki”. Wkwkwkwkwk They’re smart girls. Gak bisa dikecoh…

Ada yang penasaran sama jawaban kuisnya? Sebelum aku jawab, aku kasih tahu hadiahnya dulu ya…

  • Buat yang bisa jawab dua-duanya: Aku jadiin satu-satunya orang yang tahu alur cerita FF ini kaya apa [mulai dari awal hingga akhir]. Dia mau nanya apa aja tentang isi FF ini akan aku jawab tanpa aku tutup-tutupi. Itu yang pertama. Yang kedua, dia masuk cast di FF Let’s Make a Baby [pairing TOP]. Yang ketiga, Dia boleh baca kelanjutan ‘seluruh’ chapter 2 hari sebelum chapter itu di posting di FFindo [aku pasword-in di WP pribadi]. Yang keempat, mendapat kesempatan memperoleh setiap full version FF NC Let’s Make a Baby [Ini juga aku pasword-in di WP pribadi]. Yang kelima, boleh request FF ke aku.
  • Buat yang hanya bisa jawab salah satu dari pertanyaan kuis. Yang pertama, Dia boleh baca kelanjutan ‘seluruh’ chapter 2 hari sebelum chapter itu di posting di FFindo [aku pasword-in di WP pribadi]. Yang kedua, mendapat kesempatan memperoleh setiap full version FF NC Let’s Make a Baby [Ini juga aku pasword-in di WP pribadi]. Dan yang ketiga, kalian boleh mengajukan maksimal 3 pertanyaan tentang FF ini.
  • Ini buat yang jawab salah tapi umurnya 17 tahun ke atas. Mendapat kesempatan memperoleh setiap full version FF NC Let’s Make a Baby [Ini juga aku pasword-in di WP pribadi]
  • Buat yang ikutan tapi umurnya di bawah 17 tahun dan yang gak sesuai rule [Tidak menyertakan namkor/umur/domisili], kalian gak masuk kualifikasi ya…: D

Setelah lihat list di atas, itu artinya FF Let’s Make a Baby aku posting 2 hari sebelum publish di FFindo. Nah, ada yang nyesel gak karena gak ikut kuis ini? Aku sengaja gak ngasih tahu hadiahnya karena aku mau kalian ikut kuis secara sukarela. Bukan karena lihat hadiahnya dulu. Aku udah koar-koar di tweet biar kalian ikut karena partisipasi aja bisa dapet hadiah kok kalaupun jawabannya gak ada yang bener asal umurnya 17 tahun ke atas. Masalah Full Version NC-nya, aku gak bikin yang aneh2. Kebanyakan pakai kata ganti dan aku juga gak make ‘kata saru’ apapun. Dan NC model kaya gini aku belom pernah nemuin selama baca FF, bahasa NC-ku sengaja aku buat sopan LOL…

Hmmm, mungkin jawaban buat nomer satu sangat susah karena aku juga baru bilang ke beberapa orang. Tapi nomor dua udah jelas-jelas gampang banget.

Jawaban:

1.      Shalof [author/admin SJFF]. Kalau kalian gak kenal dia, mungkin kalian bakal mikir ni anak jutek, galak dsb. Tapi dia gak sepenuhnya kaya gitu. Walaupun aku gak kenal sangat dekat sama dia, tapi dia ngasih aku satu kepercayaan yg hanya dibagi ke orang2 terdekatnya. Buatku itu sangat berarti banget karena dia mau percaya sama aku. Satu-satunya hal yg bikin aku berkunjung terus ke SJFF ampe skrg ya Cuma buat nungguin FF dia publish, itu aja. Dan satu hal lagi yg paling penting, kalau dia gak berbagi sedikit cerita tentang hobi nulis FF-nya mungkin FF ini udah aku pasword-in lagi FF ini dari dulu. Haha aku gak mau muji2 banyak tentang dia, cukup hatiku aja yang mengakui. [Kalau novel, aku gak punya author favorite. Tapi pengen nulis kaya Agatha Cristy and Sandra Brown]

2.      Tidak ada percakapan dalam bahasa Korea. Gampang kan?

Pemenang 1: –

Pemenang 2: chaekyoung^^, autumnsnowers, park_ahrin, V3viya

Daftar penerima NC Full Version:

vero, liezzoeng, iankksadjahh, Kim Ririn, ms.o, PSYoung, meeisclara, The, Haha, lily191, wonwonwon,  hee young, danti, Vii2Junshuuu_kim, iin, tyas sparkyu, ade, fianacassieopeia, kimkyu’s, keyrissa,

 Buat yang dapat PW FF NC, silahkan follow n mention ke @hilmayoam. Jangan lupa sebutkan username yang kalian pakai di blog:D Kalau udah dapet PW, klik FULL VERSION

Buat pemenang 2: Aku urus (?) kalian secara langsung melalui email:D Silahkan cek email kalian masing2 ya…

Aku udah punya editor yang mau ngedit FF ini. Tapi ngeditnya ya suka-suka dia aja maunya kapan LOL. Kalau kalian pas baca masih ada typo brarti belom diedit yaaaaaaaa….. Dia orang yang sok sibuk, jadinya jual mahal kalo kerja /plak. Suka-suka dia aja ngeditnya kapan, yang jelas aku males ngedit. Jangan keasikan baca, terlalu asik efeknya bakal bilang “Kurang panjang”.

Advertisements

289 responses to “Let’s Make a Baby [Chapter-10]

  1. Ommo, ada apa dengan siapa itu lupa namanya. Dia hamil? chukkae! Yeay, bakal punya bayi deh. Huhu. Ada NC nya toh? Tobat nak, kamu masih di bawah umur O_o
    Tapi tadi termasuk NC buatku kakak! Hehe, aku khilaf. Izin baca next chapter kak.

    From your reader,
    Cantikapark

  2. Emmm.. gimana yah…aku juga sempet curiga sama masalah saluran kemih.. sama kram perut.. apalagi ditambah ukuran bra sama berat badan.. itu yg membuatku makin yakin… klo part sebelumnya sih.. masih abu2..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s