It’ll Gonna Be Ok

Title : It’ll Gonna Be O.K

Author : ilmacuccha (@mailsaurus_)

Cast :

  • SHINee Key
  • Han Nayoung (OCs)

Support Cast :

  • Misa Jung (OCs)
  • Lee Heejin

Genre : Friendship, Romance, Fluff

Length : Oneshoot

Rate : T

Poster and Thanks To : Fai (@knoviaazr)

Disclaimer : I just own the story not the cast. Han Nayoung and Misa Jung belongs to my friend. But Lee Heejin it’s my Korean name. (I want own Kim Jonghyun)

 

Not For Silent Readers!!!

 

Normal P.O.V

“Maaf kami sudah berusaha sekuat kami bisa, tapi kali ini kita hanya bisa menunggu keajaiban datang,” ujar seorang dokter di depan pasangan paruh baya. Pasangan paruh baya itu hanya menghela nafas sebentar.

“Apa maksud Anda putra kami tak bisa diselamatkan?” Tanya pria paruh baya itu.

“Tidak, Mr.Kim yang saya lihat sepertinya anak Anda tidak mempunyai semangat untuk hidup. Dilihat dari akibat dia bisa menjadi seperti sekarang, seperti yang saya katakan sekarang kita hanya bisa menunggu keajaiban dan semangat hidup putra Anda untuk menyelamatkan putra Anda, selama jantung putra Anda masih berdetak.” ujar dokter itu.

“Baiklah, terimakasih dokter,” ujar pria paruh baya itu sambil memeluk erat istrinya yang kini sudah tengah terisak. Mereka pun melihat anak mereka yang kini sedang tidur dengan beberapa alat medis yang melekat di tubuhnya.

“Tuhan selamatkan anak kami,” ujar pria itu sambil menitikkan air matanya.

***

Kriing-Kriing

Bunyi sebuah jam weker langsung memenuhi sebuah kamar yang didominasi oleh warna ungu itu. Si pemilik kamar yang masih setengah sadar hanya mencoba mencari-cari dimana letak jam weker itu sampai akhirnya dia menepuk sesuatu yang aneh yang akhirnya membuatnya harus membuka matanya.

“KYAAA!!!” Gadis yang menempati kamar itu langsung berteriak ketika menemukan seorang pria muda tengah berbaring santai di sampingnya. Dia tak habis pikir bagaimana bisa pria itu bisa masuk ke kamarnya. Seingatnya dia tak mabuk tadi malam, dan tak akan pernah mabuk diusianya sekarang, tapi bagaimana bisa ini terjadi?

“Hanna? Kau kenapa? Kenapa berteriak seperti itu?” Seru Ummanya dari bawah setelah mendengar teriakan gadis tadi yang cukup kencang.

“Gwenchana. Tadi aku terjatuh dari tempat tidur, aku baik-baik saja!” Timpal Hanna dengan raut wajah bingung.

“Hei, hei, hei,” Hanna mengibas-ngiaskan tangannya di depan wajah pria yang kini sedang terlelap itu. Namun pria itu masih saja diam, tak menunjukkan reaksi apapun.

“Ya, gwenchana? Apa dia mati?” Pikir Hanna kaget.

Dia memegang tangan pria itu. “Dingin sekali tangan namja ini,” gumamnya. Dia meraba pergelangan tangannya dan berusaha merasakan denyut nadi pria itu.

“Ada, tapi bagaimana bisa dia tidak mendengarku?” Gumamnya pelan. Dia mulai menepuk-nepuk pria itu. Mencubit-cubit wajahnya, dan sepertinya usahanya sedikit berhasil. Pria tadi sedikit menggerakkan badannya.

“Tampan juga,” gumam Hanna saat melihat pria tadi sudah terlentang memamerkan wajahnya yang sukup tampan dengan rambut sedikit berwarna-warni di ujung poninya.

“Ya! Sampai kapan kau akan tidur? Kalau Umma menemukanmu disini, mati aku!” Umpat Hanna kesal. Tanpa basa-basi dia langsung menampar keras pipi pria itu dan akhirnya pria itu pun terlonjak bangun.

“Ya! Sakit! Apa kau tak tahu kalau aku sedang tid- Siapa KAU?!” Teriak Pria itu tanpa basa-basi. Hanna menggelengkan wajahnya pelan. Apa-apaan pria ini? Sudah tidur dikamarnya malah berteriak keras seperti ini.

“Harusnya aku yang bertanya, kau siapa? Ini kan kamarku,” ujar Hanna sedikit ketus.

“Mwo? Kamarmu? Bagaimana bisa?” Tanya pria itu heran.

Hanna mendegus kesal. “Harusnya aku juga yang bertanya, kau ini mabuk ya?” Tanya Hanna semakin heran.

“Ani, setahuku kemarin aku baru saja menabrakkan motorku ke sebuah truk, tapi kenapa aku malah ada disini ya?” Tanyanya heran. Hanna membulatkan mulutnya. Bagaimana bisa dia berkata soal menabrakkan diri dengan santai seperti itu? Atau jangan-jangan dia …

“Jangan-jangan kau sudah mati?” Tebak Hanna.

“Mungkin saja, tapi kenapa kau bisa melihatku kalau begitu?” Tanya pria itu.

“Takdir mungkin, tapi denyut nadimu ada loh,” gumam Hanna asal. Dia beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan menuju kamar mandinya. Si pria tadi dengan cepat memegang pergelangan tangannya dan membulatkan matanya saat merasakan apa yang terasa dari pergelangan tangannya.

“Sebaiknya kau segera keluar, karena aku tak mengenalmu dan kau pun tak mengenalku,” ujar Hanna sebelum masuk ke kamar mandi.

***

Hanna berjalan dengan kesal. Dia menghentakkan kakinya ke tanah sedikit keras sampai orang yang sedang berada di belakangnya terlonjak karena sedikit kaget.

“Bukankah sudah kubilang untuk pergi? Kenapa masih berada di dekatku dan mengikutiku?” Tanya Hanna kesal saat menyadari pria yang tadi baru saja ditemui di kamarnya dan berbicara soal mati sedang mengikutinya dalam perjalanan ke sekolah.

“Aku tak tahu harus kemana? Lagipula yang hnaya bisa melihatku hanya kau, mungkin ada suatu kesengajaan,” ujar pria itu sambil mulai menyejajarkan jalannya dengan Hanna.

“Kau ini benar-benar sudah mati? Kenapa bisa berjalan dan meyentuhku? Bagaimana dengan benda lain?” Tanya Hanna sedikit kesal dengan nada heran. Pria itu lalu berjalan menuju tiang listrik dan ternyata dia dengan mudahnya melewati tiang listrik itu tanpa harus merasakan sakit di kepalanya karena dia bisa menembus tiang listrik itu.

“Baiklah, sulap yang hebat,” gumam Hanna tanpa terkejut sedikit pun.

Pria itu menghela nafas sebentar. “Oke, nona aku tak tahu apa maksud semua ini, tapi bisa tidak biarkan aku tetap di dekatmu, setidaknya sampai aku tahu apa yang harus kulakukan lagi sebagai roh,” ujar pria itu. Hanna menoleh.

“Baiklah, tapi jangan menggangguku,” ucap Hanna.

“Aku Kim Kibum, panggil saja Kibum atau Key,” ujar pria itu sambil mengulurkan tangannya.

“Aku Han Nayoung, jangan panggil aku Nayoung, panggil aku Hanna,” ujar Hanna sambil membalas uluran tangan Key.

“Baiklah, Hanna,” ujar Key sambil tersenyum. Hanna pun membalas senyum Key sambil mulai berjalan lagi menuju sekolahnya. Selama perjalanan itu tidak ada percakapan apapun diantara mereka berdua. Sampai akhirnya Hanna membuka mulutnya untuk berbicara.

“Jangan ajak aku bicara di kelas, jangan komentar apapun nanti kalau sudah melihat kehidupan sekolahku,” ujarnya dengan tegas. Key hanya bisa mengangguk sambil menatap gadis yang mempunyai rambut panjang itu.

Mereka pun memasuki halaman sekolah, sejak mereka masuk dan menapakkan kaki ke sekolah hampir semua orang menatap mereka atau lebih tepatnya Hanna dengan tatapan kesal dan benci. Key menyadari hal itu namun dia tetap diam saja karena Hanna sudah menyuruhnya seperti itu.

“Kau baik-baik saja?” Tanya Key saat melihat Hanna terjatuh karena ulah salah seorang murid yang sengaja menjulurkan kakinya saat Hanna berjalan di dekatnya. Hanna hanya mengangguk dan melanjutkan jalannya menuju kelasnya. Key sedikit berpikir kalau semua orang di sekolah ini tidak menyukai Hanna dilihat dari cara mereka menatap gadis itu itu menjelaskan semuanya.

Lagi-lagi baru saja Hanna melangkahkan kakinya di kelasnya, tatapan semua orang yang semula ceria kini berubah menjadi tatapan benci yang ditujukan pada gadis itu, tapi Hanna hanya diam tak menunjukan perlawanan apapun. Key hanya menghela nafas karena semakin penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi. Sampai seorang guru datang ke kelas ini, suasana atmosfir kelas tetap saja terasa mencekam.

“Baiklah selamat pagi anak-anak. Hari ini kita akan mendapatkan teman baru, silahkan Misa,” ujar guru tersebut sambil mempersilahkan seroang gadis masuk ke dalam ruangan kelas. Gadis itu sedikit membungkuk saat baru saja berdiri di depan teman-teman barunya.

“Annyeonghaseyo, chonen Misa Jung imnida. Saya baru saja pindah dari Jepang tapi jangan khawatir, bahasa Korea saya cukup fasih, kalian boleh memanggil saya Misa ataupun Mii terserah. Douzo yoroshiku onegaishimasu, mannaseo bangapseumnida chinguya,” ujar gadis itu sambil tersenyum manis.

“Baiklah, kau duduk di samping Han Nayoung itu,” ujar guru tadi sambil menunjuk kursi kosong di sebelah Hanna. Misa pun membungkuk sebagai tanda terimakasih. Dia berjalan sambil terus berusaha ramah di depan semua teman barunya, termasuk Hanna.

“Annyeong, Nayoung-san. Oops, Nayoung-sshi,” bisiknya. Hanna menoleh, dia tersenyum simpul.

“Annyeong Misa-sshi,” balasnya sambil berbisik pula. Misa pun tersenyum, setelah itu tak ada percakapan apapun diantara mereka karena guru mereka terlihat cukup kejam untuk tidak membiarkan mereka bercakap-cakap selama belajar.

***

“Nayoung-sshi! Bagaimana kalau kita ke kantin?” Tanya Misa sambil tersenyum. Dia tak menyadari tatapan kesal dari temannya yang lain.

“Aku ta-“

“Mii!!” Baru saja Hanna akan menjawab ajakan Misa, seseorang sudah memanggil Misa dengan kencangnya.

“Heeca!!” Seru Misa sambil berlari menuju gadis yang baru saja memanggilnya tadi. Hanna sedikit mengerucutkan bibirnya sedikit kesal dengan perlakuan Misa yang langsung berlari meninggalkannya saat ada seseorang yang memanggilnya.

“Ah! Nayoung-sshi, kau pasti sudah kenal Heeca kan?” Tanya Misa sambil menunjuk seseorang yang sedang ada di sebelahnya.

“Maksudmu Ketua Heejin-sshi?” Tanya Hanna dengan heran. Yang ada dihadapannya selain Misa adalah Lee Heejin, ketua OSIS yang sangat disanjungi itu, dan Misa memanggilnya Heeca?

“Ah, ya Heejin, aku sudah sering memanggilnya Heeca sih.” ujar Misa sambil terkekeh pelan. Sementara Heejin hanya memperlihatkan senyum manisnya pada Hanna.

“Kau mau ke kantin bersamaku dan Heeca Nayoung-sshi?” Tanya Misa lagi.

“Ah, aku ada sesuatu yang harus kukerjakan di perpustakaan, kalian saja tak apa ke kantin,” balas Hanna.

“Baiklah, kalau kau memang ingin ke kantin nanti hampiri saja kami ya Hanna-sshi,” ujar Heejin sambil melambaikan tangannya. Misa sedikit aneh dengan nama yang baru saja diucapkan oleh Heejin, dan dia terlihat ingin mengetahuinya. Hanna hanya menggelengkan kepalanya lalu segera berjalan ke perpustakaan sambil menghindari tatapan-tatapan kesal yang ditujukan padanya.

“Hei, kau sebenarnya ingin ikut kan? Kenapa malah menghindar?” Tanya Key. Hanna menepuk dahinya, dia baru menyadari kalau dia tidak sendiri selama berbicara dengan Misa dan Heejin tadi.

“Kau tak ingat apa peraturan kau mengikutiku?” Tanya Hanna tegas.

“Oke, oke, jangan banya berkomentar dan mengganggu. Tapi aku sungguh penasaran Hanna-sshi,” ujar Key dengan nafas beratnya. Hanna tak mempedulikan Key yang kini sibuk menghela nafas dan sedikit mengoceh, dia terus saja berjalan menuju perpustakaan.

“Hanna, ayolah ceritakan padaku,” rengek Key sambil sedikit menarik-narik seragam Hanna.

“Kau ini, bisa berhenti menggangguku tidak? Cerewet sekali sih kau ini,” gerutu Hanna kesal dengan suara pelan, menyadari hanya dia yang bisa melihat Key. Key hanya bungkam, dia sedikit mengerucutkan bibirnya.

“Baiklah, aku akan jalan-jalan saja di sekitar sini,” ujar Key pelan.

“Semoga tersesat ya,” gumam Hanna pelan tapi bisa terdengar oleh Key. Dan alhasil Key pun semakin mengerucutkan bibirnya. Dia berjalan keluar dari perpustakaan dan berjalan menuju kantin.

“Kenapa aku tak lapar ya?” Gumamnya. Key terus berjalan menuju kantin, dia melihat beberapa siswa sibuk melahap makan siang mereka, dia pun duduk di salah satu kursi yang kosong sambil menerawang seolah berpikir dulu dia juga pernah makan di kantin sekolah.

“Eh, aku heran kenapa Ketua bisa ramah seperti itu pada Hanna ya? Kalau Misa sih aku mengerti, dia kan murid baru,” Key menoleh ke belakang, sedikit mendekatkan dirinya pada dua gadis yang kini sepertinya sedang sibuk membicarakan kejadian soal Misa mengajak Hanna ke kantin.

“Tapi Ketua kan memang selalu ramah pada Hanna, walaupun setelah kejadian itu,” ujar yang satunya. Key mengerutkan dahinya, kejadian itu?

“Yah, aku juga tak mengerti kenapa kepala sekolah masih membiarkan Hanna sekolah disini, padahal dia kan sudah membuat Hyunwoo Oppa meninggal,” Key membulatkan matanya. Bagaimana bisa? Setelah mendengar ucapan gadis yang ada di hadapannya ini, dia pun memutuskan untuk ikut bergabung dengan dua gadis ini untuk menghapus rasa penasarannya.

***

Hanna menatap Key heran setengah kesal, dia menutup buku yang baru saja akan dibacanya di tempat tidurnya, tapi kini makhluk yang sebenarnya baru dia temukan tadi pagi itu malah bertanya padanya apa dia sudah membunuh seseorang? Dia pasti mati karena otak gilanya, pikir Hanna.

“Kau ini berbicara apa sih? aku tak mengerti,” ujar Hanna. Dia kembali mencoba memfokuskan matanya pada buku biologi yang akan dibacanya, namun Key malah menyingkirkan buku itu dari tangannya dan memandangnya dengan serius.

“Aku serius Hanna-sshi,” ucap namja itu sambil sedikit mendekatkan dirinya ke Hanna. Hanna menghembuskan nafasnya, dan memandang Key dengan wajah heran sekaligus sedikit terkejut pada Key.

“Aku juga serius Key-sshi, kau yang harusnya lebih serius? Apa maksudmu membunuh orang? Aku tak mengerti, kau mendengar hal konyol itu dari siapa huh?” Tanya Hanna sedikit kesal. Dia masih berumur 17 tahun dan masih duduk di bangku kelas 2 SMA, bagaimana mungkin dia bisa membunuh orang tanpa alasan?

“Lee Hyunwoo. Kau tahu dia kan?” Tanya Key serius. Hanna membulatkan matanya, dia sedikit menutup mulutnya yang kini sudah menganga karena terkejut. Dia menarik nafas panjang, sementara Key menunggu apa yang dikatakan oleh gadis yang ada dihadapannya itu.

“Darimana kau tahu Hyunwoo Oppa?” Tanya Hanna dengan nada sedikit bergetar.

“Kau tahu, tadi aku berjalan-jalan di sekitar kantin dan saat itu ada dua orang gadis yang membicarakan dirimu dan orang yang mereka sebut Ketua, lalu muncullah nama itu. Mereka bahkan berkata kau yang membuatnya meninggal, aku tak habis pikir bagaimana bisa begitu? aku tahu aku baru mengenalmu sekarang, tapi bisakah kau menceritakannya padaku yang sangat penasaran ini? Aku berjanji tak akan menceritakannya pada siapapun, aku berjanji.”

Key berkata panjang lebar lalu diakhiri dengan mengacungkan jari kelingkingnya untuk melakukan pinky promise-nya dengan Hanna. Hanna terkekeh pelan, dia menautkan jari kelingkingnya sendiri dengan jari kelingking Key kemudian tersenyum simpul.

“Kau ini roh? Memangnya dia dunia roh ada teman untuk bergosip?” Tanya Hanna sambil sedikit menyusut sudut matanya yang kini sudah sedikit berair.

Key mendelik kesal pada Hanna, “Mungkin saja aku akan hidup lagi? Kau bisa mendengar denyut nadiku kan? Itu artinya aku hidup,” dia kemudian tersenyum kecil saat mengatakan hal ini. Lalu keduanya menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.

“Oke, karena kau roh aneh jadi aku akan menjelaskan padamu tapi hanya sekali, dan jangan bertanya ara? Hyunwoo Oppa itu pacarku, dan hampir semua orang yang tahu kami pacaran tak suka, karena yeah~ kau tahu dia itu cukup terkenal. Beberapa bulan yang lalu dia mengajakku kencan dan aku setuju, kami kencan setelah pulang sekolah. Setelah menghabiskan waktu beberapa jam bersama kami memutuskan untuk pulang, lalu dia mengantarkan aku pulang. Saat sebelum aku masuk ke rumahku Hyunwoo Oppa mencoba menciumku dan aku menolaknya,”

Hanna menghela nafas panjang. Key menatap Hanna dengan pandangan sedikit mengerti, lalu dia mengacungkan tangannya.

“Aku ingin bertanya, satu pertanyaa~n saja, boleh ya?” Tanyanya penuh harap.

“Aku belum selesai bercerita, jangan potong kata-kataku roh. Aku tak sengaja mendorongnya dan dia jatuh tentu saja, tapi hal yang tak terduga terjadi, sebuah mobil menabraknya di depan mataku. Kejadiannya begitu cepat sampai aku tak sadar Hyunwoo Oppa sudah bersimbah darah di depanku, aku mencoba tenang dan memanggil ayahku untuk segera membawa Hyunwoo Oppa ke Rumah Sakit, tapi terlambat.”

Hanna menatap Key dengan senyum terpaksanya, dia sekali lagi mengusap matanya dan mencegah air matanya jatuh.

“Semua orang langsung tidak menyukaiku, walaupun orangtua Hyunwoo Oppa sudah mengatakan kalau itu bukan salahku. Tapi mereka tetap seperti itu, kecuali Ketua Heejin. Dia sangat baik, selalu membelaku sampai-sampai aku ingin sekali berteriak pada semua orang kalau Ketua Heejin itu orang yang paling baik sedunia.”

Kali ini air mata Hanna sukses meluncur, dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya sambil sedikit terisak. Key hanya tersenyum simpul, gadis ini bodoh sekali, pikirnya.

“Kenapa bisa ada yang menabrak Hyunwoo itu? Apa pelakunya sudah tertangkap?” Tanya Key pelan sambil sedikit mengusap pundak Hanna.

“Sudah ku-bilang kan k-kau tida-k boleh bertan-nya,” ujar Hanna sedikit tergagap karena sibuk mengusap air matanya yang masih mengalir dari pelupuk matanya. Key terkekeh pelan.

“Sudahlah, kau jawab saja,”

Hanna kembali mengusap matanya dan memandang Key heran. Sementara Key hanya memasang wajah seolah berkata ‘cepat-jawab-pertanyaanku’.

“Pelakunya yang iri dengan bisnis ayahnya Hyunwoo Oppa, dia sudah ditangkap dan sudah dipenjara kok,” jawab gadis itu sambil tersenyum.

“Kalau begitu seharusnya kau berkata yang sebenarnya pada teman-temanmu, katakan isi hatimu pada mereka,” ujar Key sambil mulai berani mengusap puncak kepala gadis bernama Han Nayoung itu.

“Tap-tapi,”

“Kau harus melakukannya besok,” tekan Key tajam seolah tak ada pilihan lain bagi Hanna.

***

Hanna terus menerus mengerutkan keningnya sambil terus menghela nafas panjang dan menghembuskannya perlahan selama perjalanan menuju sekolahnya. Dibelakangnya Key kini sedang menatapnya dengan tatapan tajam. Hanna menggerutu kesal dalam hatinya, ‘Kenapa ada roh secerewet dia sih?’

Hanna sekali lagi menghela nafasnya, baru kali ini dia merasakan gugup seperti ini sampai-sampai untuk menatap lurus ke depan pun dia tak sanggup.

“Wae?”

Suara Key dari belakang sedikit membuyarkan rasa gugup Hanna. Dia menoleh menatap Key yang masih berjalan dengan pakaian yang sama dengan hari kemarin.

“Ha? Wae?” Key mengerucutkan bibirnya. ‘aku yang bertanya, kenapa dia malah bertanya juga sih?’ gerutunya dalam hati.

“Kau tak usah gugup, mereka pasti mengerti.”

Hanna menyunggingkan senyumnya mendegar ucapan Key. “Gomawo,” key membalas senyum Hanna sambil mengacungkan jempolnya tanda semuanya akan baik-baik saja.

“Haha, gomawo Key,” ucap Hanna pelan. Dia berhenti tepat didepan gerbang sekolahnya, mengambil nafas panjang sambil sedikit berkomat-kamit agar semuanya berhasil hari ini.

Key menarik tangan Hanna agar cepat masuk ke sekolah. “Kajja!” teriaknya sambil tersenyum manis pada Hanna. Hanna menunduk mengumpat dalam hati kenapa pipinya bisa sepanas ini?

Hanna melangkahkan kakinya menuju kelasnya, walau tatapan semua orang selalu sama padanya kali ini dia berjalan dengan langkah yang mantap. Dia terus menyunggingkan senyum pada semua orang yang dilihatnya pagi ini, walaupun mereka malah membuang muka dan tak peduli dengan wajah ramah Hanna.

“Hanna-sshi!” Seru seseorang dari belakang Hanna. Hanna menoleh mendapati Misa sedang berlari tergopoh-gopoh untuk menyamai langkahnya dengan dirinya.

“Pagi,” sapanya ramah.

Hanna tersenyum menimpali sapaan Misa, “Pagi.” Misa ikut tersenyum melihat Hanna kini sudah tak sedingin kemarin.

“Hari ini cerah ya,” ujar Misa. Hanna menatap gadis yang lebih tinggi darinya 7cm ini. “Ne,”

“Ah! Kau lihat Heeca? Si ketua yang sok sibuk itu?” Tanya Misa. Hanna menggeleng sambil sedikit terkikik.

“Kau sangat dekat dengan Ketua ya?” Tanya Hanna. Misa menoleh dan tersenyum, “Ne, aku dan dia pernah sesekolah sewaktu dia tinggal di Jepang, yah bisa dibilang kami ini teman sejak kecil, haha.”

Misa terkekeh pelan, sedangkan Hanna hanya menimpali jawaban Misa dengan membulatkan mulutnya.

“Kenapa semua orang disini memanggilnya Ketua sih? Aku jadi heran sendiri. kemarin aku menanyakannya pada Heeca dia malah tersenyum dan menyuruhku menanyakannya langsung pada orang yang memanggilnya Ketua,”

Hanna terkekeh mendengar pertanyaan Misa, “Dia itu sangat disanjungi oleh semua murid disini, dan tanpa disadari setelah dia menjadi ketua OSIS semua orang memanggilnya ‘ketua’ karena merasa ketua itu memang pantas menjabat sebagai seorang ketua OSIS di sekolah ini,” terang Hanna panjang lebar.

“Memangnya apa yang membuatnya jadi bisa disanjungi?” Tanya Misa heran.

“Karena dia berhasil membuat Kim Jonghyun cs berhenti berkelahi dan mulai meniti bakat mereka sendiri-sendiri. Jonghyun mempunyai bakat di seni, Minho di olahraga, dan Jinki di pelajaran, dan semuanya itu akhirnya membuat sekolah ini menjadi lebih terkenal karena sering meraih juara di setiap kompetisi bukan karena ahli berkelahi dan bodoh,”

Misa membulatkan matanya saat mendengar penjelasan Hanna. Heeca? Dia yang melakukan semua itu? Heeca yang dulu sangat pendiam itu? Dia benar-benar tak menyangka Heeca kini sudah berubah. Kemudian Misa tersenyum, ‘ini lebih bagus daripada dia hanya diam sendiri di kelas seperti dulu’.

Mereka pun melangkahkan kakinya di ruangan kelas. Sontak seisi kelas pun memandang Misa dan Hanna yang kini sedang berjalan berbarengan sambil sedikit mengobrol. Hanna diam, dia menyadari semua orang begitu membencinya, tapi dia juga ingin semuanya kembali seperti dulu.

“Ehm, teman-teman aku ingin berbicara pada kalian semua,” ujar Hanna di depan kelas.

Misa memandang Hanna heran tapi kemudian dia tersenyum, setelah mendengar cerita dari Heejin benar-benar membuatnya ingin membantu Hanna dalam memulihkan hubungannya dengan teman-temannya. Tapi ternyata Hanna sudah selangkah lebih maju, dia hanya bisa melihat Hanna berjuang.

Semua orang memandang Hanna dengan tatapan sedikit benci dan penasaran. Hanna mengambil nafas beberapa kali, dia merasa sangat gugup kali ini. Dia menatap ke jendela kelas, saat itu Key sedang berada di luar kelas membiarkan Hanna melakukannya sendiri. Key tersenyum dan lagi-lagi mengacungkan jempolnya pada Hanna agar gadis itu tak gugup.

“Aku tahu kalian membenciku karena masalah Hyunwoo Oppa, tapi aku mohon kalian mengerti. Aku tidak melakukan itu semua, aku ingin kalian tidak menganggapku sebagai penyebab meninggalnya Hyunwoo Oppa. Selama beberapa bulan ini aku benar-benar kesepian di kelas, tak ada yang menyapaku sama sekali kecuali ketua dan sekarang Misa. Aku benar-benar ingin kita bisa berteman lagi dengan baik, walaupun mungkin kalian akan mengacuhkan aku tapi aku mohon aku benar-benar rindu dengan kehangatan kalian padaku. Aku-aku benar-benar tak tahu lagi apa yang harus aku lakukan, aku terlalu takut untuk mengungkapkan semua ini pada kalian. Jadi, aku mohon kalian mengerti.”

Hanna tiba-tiba berlari keluar kelas sambil sedikit mengusap air mata yang kini sudah mengalir dari pelupuk matanya. Dia terus berlari sampai akhirnya memutuskan untuk masuk ke toilet. Dia memandang pantulan wajahnya dari cermin, terlihat kusut dan sedikit menyeramkan karena rambutnya menjadi tak rapi karena berlari cepat tadi.

“Kenapa langsung kabur?”

Hanna menoleh kesamping, dia sedikit terkejut melihat Key sedang berdiri disana sambil melipat tangannya di dada. Hanna hanya diam, dia menyadari tatapan Key sangat tajam padanya. Hanna hanya menunduk, dia benar-benar bingung apa yang dia lakukan itu benar. Dia benar-benar takut kalau ternyata semua kekuatan yang dia keluarkan hanya untuk berbicara seperti tadi itu hanya akan sia-sia. Dia benar-benar takut semuanya gagal.

“Kau ini. Aishh! Harusnya kau berdiri disana dan menuggu reaksi mereka, bukannya kabur seperti kucing habis mengambil ikan saja!” Key masih menatap Hanna dengan tatapan tajamnya.

“A..aku takut Key, aku takut. Aku takut semua ini akan gagal..” Hanna akhirnya angkat bicaranya. Nada bicaranya terdengar sedikit bergetar seperti menahan tangis.

Key mendekati Hanna, dia kemudian memeluk gadis itu. Bisa dirasakannya sendiri wajahnya mulai memanas saat dia menyentuh tubuh gadis yang kini sedang berusaha menahan tangis itu. Sementara Hanna, dia akhirnya malah menagis di pelukan Key sambil mulai membalas pelukan Key.

“K..kau roh k..an? Aku hiks masih a..neh ke..napa aku hiks bisa menyentuh..mu,”

Key terkekeh pelan. Saat seperti ini gadis bodoh ini masih saja memikirkan hal yang tak penting. Key mengelus puncak kepalan Hanna pelan dan penuh kasih sayang. Key melepas pelukannya dan memberanikan diri mengangkat dagu Hanna. Dan tanpa permisi bibirnya tiba-tiba saja menyentuh bibir Hanna yang sedikit basah karena air matanya, lalu menyapu permukaan bibir gadis itu dengan lembut.

“Tenang saja, semua akan baik-baik saja Hanna.” Ujarnya sambil mengerling nakal. Hanna hanya menggerutu kesal sambil berusaha tidak memperlihatkan semburat merah kini sudah menghiasi pipinya.

“Tunggu apa lagi, cepat ke kelas! Atau kau ingin kucium lagi?” Ucapan Key sontak membuat Hanna meninju Key pelan. Sebelum keluar Hanna memeluk Key pelan. “Gomawo,” ucapnya. Key hanya tersenyum, dan akhirnya dia menyadari sesuatu yang berhasil membuat jantungnya bekerja lebih cepat dari batas normalnya.

“Aku tunggu kau di taman belakang sekolah ya,” ucap Key sebelum Hanna pergi. Hanna pun mengangguk kemudian berlari dengan hati yang mantap ke kelasnya.

Key menghela nafas panjang. “Dia sama denganku. Hanya berbeda sedikit. Aku tidak diperhatikan orangtuaku sedangkan dia dibenci teman-temannya. Dan kami berdua sama-sama kesepian.” Key tersenyum saat mengatakan itu.

“Aku menyesal berniat bunuh diri saat itu, entah kenapa aku rindu Umma dan Appa.”

***

Hanna berlari kecil sambil sedikit bersenandung. Dia benar-benar tak tahu lagi apa yang dia rasakan hari ini. Misa dan Ketua benar-benar membantunya, dia tak tahu kalau tak ada mereka akan apa yang mungkin terjadi. Dan juga Key, dia sudah banyak membantu dengan menyemangatinya.

Flashback

Hanna berjalan dengan pelan ke kelasnya. Rasa gugup kembali hinggap di hatinya, apalagi setelah Key menciumnya tadi di toilet, itu benar-benar keterlaluan! Pikirnya. Dengan ragu dia pun masuk ke ruangan kelasnya sendiri.

Hening.

Semua orang kini menatap Hanna termasuk Misa dan Ketua yang sudah ada disana. Hanna tak mampu berkata apa-apa lagi. Dia bisa merasakan tatapan tidak menyenagkan dari teman-temannya. Tiba-tiba salah seorang temannya berdiri dan menghampiri Hanna. Hanna langsung menundukkan kepalanya berharap sesuatu yang buruk tidak terjadi padanya. Dan do’anya berhasil, gadis yang bernama Yoo Yoonrin itu langsung memeluknya.

“Mungkin akan lama, tapi kami akan coba menerimamu kembali Hanna-sshi,”

Hanna membelalakkan matanya. Dia benar-benar tak percaya apa dikatakan Yoonrin itu benar-benar sungguhan. Yoonrin melepaskan pelukannya, kali ini dia menatap Hanna dngan tatapan yang biasa tak ada rasa kesal seperti dulu.

“Ehm, jangan salah sangka. Ka..kalau bukan ehm karena Ketua dan Misa mu..mungkin ini tak terjadi. Lag..lagipula kenapa tadi kau langsung berlari begitu saja dan meninggalkan kami dengan tatapan heran sih? kau itu bodoh sekali Hanna-sshi!!”

Hanna langsung memeluk Yoonrin. “Gomawo, Yoonrin-ah. Gomawo, jeongmal gomawoyo..” Yoonrin sedikit canggung menerima pelukan dari Hanna, tapi akhirnya dia memutuskan untuk membalas pelukan Hanna. “Cheon, Hanna-sshi.”

Sementara itu Misa dan Heejin hanya menatap Hanna sambil tersenyum dan mengacungkan ibu jarinya. Hanna terkejut menyadari sesuatu. Dia segera melepas pelukannya dengan Yoonrin.

“A..aku ada urusan sebentar. Gomawo chingu, jeongmal gomawo!” Hanna berkata itu sambil membungkukkan badannya kehadapan semua teman-temannya dan langsung pergi menuju taman belakang sekolahnya

Flasback End

“Key!!”

Hanna mencoba melihat sekelilingnya. Tapi tak ada siapapun disana. Dia melangkah dnegan tatapan heran, kemana Key? Pikirnya. Bukannya dia akan menemuiku di taman belakang sekolah?

“Key?” “Kau dimana?” Hanna terus berusaha memanggil roh cerewet itu. Tapi nihil, tak ada balasan dari si pemilik nama itu. Hanna duduk di kursi yang ada di taman belakang sekolahnya.

“Key? Hei roh cerewet yang menyebalkan! Dimana kau? Kau bilang menungguku disini?” Hanna masih berusaha memanggil Key. “Ya! Namja dengan rambut aneh! kau dimana sih?” Lanjutnya.

Hanna mendesah pelan. “Ya! Jangan bilang kau pergi Key! Key! Kau dimana?!!” Hanna kali ini mulai berteriak. Tapi hasilnya tetap sama. Key tak datang menghampirinya. Dia tak ada.

***

Hanna menghela nafas panjang. Sudah dua bulan sejak kejadian dia mengungkapkan isi hatinya pada teman-temannya dan sudah dua bulan pula dia tak melihat Key berdiri di hadapannya. Walau hanya sekedar menatapnya dengan tatapan tajamnya atau memarahinya karena keteledorannya, dia ingin Key ada disampingnya seperti dua bulan lalu.

“Hanna-sshi!!”

Seseorang memanggil Hanna dari pintu kelas. Hanna tersenyum melihat gadis berambut panjang yang tadi memanggilnya itu.

“Yoonrin!” Panggil Hanna riang. Sejak dua bulan itu, dia memang dekat dengan Yoonrin, Misa, dan Ketua Heejin. Suasana di kelas kini sudah berangsur-angsur normal sejak kejadian dua bulan lalu itu. Dia benar-benar bersyukur Key waktu itu memarahinya karena hanya diam saja menerima kelakukan teman-temannya.

Yoonrin duduk di depan meja Hanna, lalu menoleh ke gadis itu. “Gwenchana? Kau telihat melamun terus, Hanna-sshi..” Hanna menatap Yoonrin dengan tatapan sebal.

“Jangan memanggilku dengan embel-embel sshi, itu terdengar aneh ditelingaku.” Yoonrin terkekeh pelan, lalu dia tersenyum. “Geurae, Hanna.”

“Ah! Kau sudah dengar? Akan ada mu- Ketua!” Yoonrin langsung memutuskan kata-katanya saat melihat Heejin sang Ketua OSIS sedang berdiri di depan kelasnya.

“Pagi semua.” Sapa Heejin.

“Pagi Ketua!!” “Pagi Heeca.”

Misa menutup mulutnya. “Ah, maksudku Ketua,” sementara itu semua orang kembali memusatkan pandangannya pada Heejin.

“Karena Kim Songsaenim berhalangan hadir, jadi aku yang akan mengucapkan ini. Hari kalian akan mendapatkan teman baru, dia berasal dari Daegu. Dan aku harap kalian akan berteman baik dengannya, karena kudengar dia baru saja sembuh dari kecelakaan yang menimpa dirinya.”

“Ya! Ketua! Kenapa kau berpidato dulu sih?” Semua orang langsung menoleh ke pintu ruangan kelas mereka, berusaha untuk melihat siapa murid barunya itu. Tapi dari suaranya yang tadi terdengar sudah jelas dia seorang namja.

Heejin mendengus kesal. “Kau ini murid baru tapi menyebalkan Kibum! Ya sudah masuk cepat! Dasar cerewet!”

Seorang namja dengan rambut sedikit warna-warni di poninya memasuki ruangan kelas dengan cara jalan yang terlihat angkuh. Hanna membelalakkan matanya melihat siapa yang baru saja masuk ke kelasnya, ingin sekali dia berteriak meneriakkan nama namja yang kini sedang berdiri bersanding dengan Heejin.

“Annyeonghaseyo. Chonen Kim Kibum imnida, kalian bisa memanggilku Key itu terdengar lebih bagus daripada Kibum. Benar kan Ketua Lee Heejin?” Key menatap Heejin dengan tatapan liciknya.

“Murid baru menyebalkan, sudah cepat duduk di sebelah Misa!” Key menggelengkan kepalanya lalu menunjuk Hanna. “Aku mau duduk dengannya. Aku mau duduk di samping pacarku.”

Ucapan Key langsung dihadiahi teriakkan dari hampir semua orang yang berada di kelas itu, termasuk Hanna sendiri. Heejin hanya mendengus kesal melihat tingkah semena-mena Key yang memang menyebalkan.

“Mwo? Pacar? A..aku?” Hanna hanya membulatkan matanya sambil menunjuk dirinya sendiri. Key mengangguk lalu berjalan menuju Hanna lalu duduk disampingnya sambil tersenyum. “Annyeong, chagi.” Ucapnya sambil mengerlingkan matanya.

“Ketua Heejin. Sekarang tak ada yang perlu kau khawatirkan soal teman kecimu ini. Teman kecilmu sudah mendapatkan tempat duduk dan menemukan pacarnya, jadi kau bisa kembali ke kelasmu sendiri.”

Key menatap Heejin dengan tatapan yang menyebalkan. Heejin lagi-lagi mendengus kesal. Dan hanya menatap Key –yang statusnya teman kecilnya itu– dengan tatapan sebal juga.

“Andwae! Kenapa kalau Key bisa sekelas dengan pacarnya? Sedangkan aku tidak bisa sekelas dengan teman tercintaku Heeca?! Ini tak adil! Aku akan protes pada kepala sekolah!!” Misa berteriak kencang yang langsung dihadiahi gelak tawa dari seluruh penghuni kelas itu.

“Mii, aku sudah ditakdirkan dengannya.” Ujar Key yang langsung membuat Misa cemberut. Heejin hanya terkekeh melihat tingkah Misa karena keiriannya pada Key –yang teman kecil Misa juga. Dia berjalan mendekati Misa lalu tanpa ragu mencium kening Misa pelan.

“Aku tahu kau suka padaku kan chagi?” Heejin bertanya dengan suara keras sambil mengerlingkan sebelah matanya pada Misa. Misa menatap tajam Heejin.

“Aku bukan lesbian!!” Teriaknya kesal. Sementara yang lain sibuk melihat Heejin dan Misa yang sedang sibuk berperang mulut, Hanna menatap Key dengan pandangan sedikit kesal.

Key menoleh dan menatap Hanna. “Wae?” Hanna mendengus kesal. Bagaimana bisa dia hanya berkata ‘wae’ setelah apa yang dia katakan di depan semua temannya.

“Kapan aku jadi pacarmu bodoh? Kau ini! Apa maksudmu sih mengatakan hal itu di depan semua orang?!” Hanna berbisik kesal pada Key sambil menatap namja berponi pelangi itu dnegan tatapan yang tajam.

Key terkekeh. “Kau pikir untuk apa aku menciummu dua bulan lalu kalau bukan karena aku ingin kau menjadi pacarku?” Hanna menelan ludahnya. Kenapa dia ingat hal itu? Aku pikir dia akan lupa semua hal yang dia lakukan saat menjadi roh, batinnya.

“Saranghae Hanna-chagiya,” bisik Key lembut di telinga Hanna dan berhasil membuat wajah gadis yang ada disebelahnya itu merah padam.

“A..aku-“

“Mencintaimu kan?” Key memotong ucapan Hanna dan lagi-lagi membuat pipi Hanna berubah menjadi merah seperi tomat.

“Kau! Roh menyebalkan!”

“Apa? Kali ini kau manusia looh, Tuhan memberikanku kesempatan kedua untuk menjalani hidup ini, untung saja lukaku tidak parah, jadi aku hanya tak bisa bertemu denganmu selama 2 bulan. Dan Key yang sekarang ada di hadapanmu ini berwujud manusia chagi..” Key hanya menatap Hanna dengan tatapan liciknya. Hanna menghindari tatapan dari Key yang memang selalu membuatnya menjadi salah tingkah.

“N..na..do sarang..saranghae, manusia menyebalkan…” desah Hanna pelan.

Key terkekeh pelan mendengar desahan Hanna yang terdengar jelas di telinga tajamnya. Dia tiba-tiba meraih wajah Hanna dan membuat wajahnya tepat berada di depannya. Dan lagi-lagi tanpa permisi dia langsung mendaratkan bibirnya di bibir lembut Hanna lalu menggigit telinga Hanna pelan.

“Aku tahu.” Ujar Key santai. Hanna membelalakkan matanya lalu bersiap menerjang Key yang sudah kabur duluan ke kerumunan Heejin dan Misa.

“SIALAN!!”

It’ll Gonna Be Ok status : END

Annyeong All Readers!!

ketemu lagi dengan saya si author cantik-imut-narsis-si pacar Jonghyun, haha

Akhirnya saya post FF lagi, walo mungkin gaje kayak gini, hihi.. Mian kalo gak ngerti + gaje banget!! Oh ya, selamat akan menunaikan ibadah puasa buat yang menjalankannya!!

Udah lah yah, sekian aja pidato saya.. Terimakasih.. #bow

note :

1. Jangan panggil saya thor, panggil aja mail/chingu oke?

2. Buat yang gak suka, please jangan baca aja (tapi kalo udah keburu baca langsung komen aja yak!) daripada komen aneh(?)

3. Please Leave a Comment (Important) !!

4. Don’t Be a Plagiarism!!!

5. See You on Next Fanfiction !!

6. Ini note terakhir : BYE!!


-ilmacuccha-

Advertisements

48 responses to “It’ll Gonna Be Ok

  1. keren abis !!
    Key bikin envy ih cium2 cewek seenak jidat >,< wkwkwk..
    btw, Heejin itu yeoja atw namja? ._. kaya'a yeoja yah? wkwk. awal2 ngira dia Namja, eh tau'a….seperti'a dia yeoja wkwk

  2. OMO !! bgus bgt chingu :*
    mau deh jadi si hanna, tp pasangannya sama yesung #plak hehehe.nice FF 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s