Endless Moment part 9!

AUTHOR: Minhye_harmonic feat Hotaru Yuhime

Poster editing by AVYHEHE

“Kau masih pura-pura tidak tahu kalau dia di-skors..?”

***

Preview —–:

“Minhye, kau marah padaku?”

“Kau—“ Minhye lekas meralat kalimatnya. ”Anda berbohong pada saya. Anda berpura-pura menjadi Kim Yoori, dan itu membuat saya terganggu.”

“Kau juga berpura-pura padaku, seolah-olah kau itu mahasiswi,” sahut manajer Park.

“Saya tak pernah mengaku mahasiswi, anda juga tak pernah bertanya pada saya mengenai status pendidikan saya.”

“Aku juga tak pernah mengaku sebagai Kim Yoori. Kau yang mengira begitu,” jawab Heechul.

Minhye terpojok.

Sejenak ia teringat Hyuk, dan betapa ia terluka mengetahui bahwa dirinya menyembunyikan sesuatu dari sahabatnya itu. Menyembunyikan, apa bisa disebut berbohong?

“Dan sekarang kau bermasalah dengan sekolahmu,” lanjut manajer Park sambil mengeluarkan surat panggilan yang terus berpindah tangan itu. “Kau kan sebentar lagi ujian akhir.”

Minhye terus terdiam.

“Begini saja. Aku akan ke sekolahmu dan menjelaskan permasalahannya—kau hanya membantuku karena aku kekurangan pekerja. Bagaimana? Aku bisa berpura-pura menjadi walimu,” tawar manajer Park. ————————————————————————-9

“Wah, ide bagus, Chun!” sambut Heechul. “Berbohong demi kebaikan sekali-kali kan tak apa.”

Mata Minhye membulat. “Anda baik sekali manajer Park, tapi tidak—itu tidak bisa.”

“Kenapa?”

Minhye hanya menggigit bibir kalut. Teringat bibinya.

===============================================================================

“Ternyata dia masih punya wali. Tapi, kenapa sampai sekarang masalahnya tidak kunjung selesai?”

Shift Minhye seharusnya sudah dimulai, namun Yoochun menyuruhnya pulang. Kasarnya, ia dipecat. Sementara Heechul tak mau beranjak dari tempat duduknya—sudah kebiasaannya untuk mengurusi masalah orang lain. Dan dia paling benci berurusan setengah-setengah.

Yoochun angkat bahu, “Aku pun tidak tahu. Sepertinya, sampai batas simpati saja yang bisa kita berikan. Kita tidak bisa ikut campur terlalu jauh, dia punya wali, Heechul,” dia menghela nafas panjang.

Heechul mengangguk-angguk, menerima kalimat sepupunya itu. Tiba-tiba dia tersenyum, “Bagaimana kalau kita tetap datang menjelaskan semuanya pada pihak sekolah?” usul Heechul seraya menjentikkan jari, “Siapa tahu sedikit membantu, bagaimana?”

Yang dimintai pendapat langsung tersenyum. “Sepertinya itu ide bagus. Hei…kenapa kau ingin sekali membantu gadis itu?”

“Karena… dia teman Yoori, kan?”

Yoochun terkekeh mendengar jawaban Heechul.

Pagi berikutnya menjelang. Eunhyuk terdiam di depan sebuah gerbang kayu rumah dengan desain tradisional korea. Memandang ragu bel di sebelah gerbang, tangannya hendak terjulur, namun urung. Begitu seterusnya selama setengah jam. Dia tahu, seharusnya dia tidak di situ, menunggu seseorang yang mungkin saja membenci dirinya. Sepatutnya sekarang dia menyelesaikan masalah dirinya dengan Minhye. Tapi, nurani-nya telah memerintahkan untuk pergi ke tempat Yoori, bertemu dengan gadis itu. Setidaknya jikalau Yoori benar-benar membenci Eunhyuk, dia bisa memastikan bahwa Yoori baik-baik saja.

KLEK.

Gerbang terbuka, Eunhyuk kaget setengah mati ketika Yoori muncul dari balik gerbang, sama terkejutnya dengan Eunhyuk.

“Hai…” Sapa Hyuk sambil tersenyum kikuk. Yoori hanya membalasnya dengan tatapan bingung.

Setengah sadar Yoori membuka gerbang lebih lebar, mempersilahkan Eunhyuk untuk masuk.

“Kau tak sakit kan? Lalu mengapa tak sekolah?”

Yoori diam saja, sibuk memindahkan minuman dari nampan ke meja. “Seperti yang kau lihat.” Sahutnya datar.

Hyuk terdiam. “Kau marah padaku?” Tebaknya.

Binggo…tepat sasaran.

“Tidak…”

“Jangan berkilah! Jujur saja…”

“Baik,…sedikit…”

Spontan Hyuk berdiri, “Kalau begitu ayo kita jalan-jalan!” Serunya.

“Jalan-jalan?”

“Iya, kau kan tidak sakit. Jadi kita bisa jalan-jalan.” Hyuk menyugingkan senyum gummy-nya.

“Jalan-jalan?! HOREEEE!!!”

Hyuk terkejut. Memang itu yang ingin didengar Hyukjae, tapi itu dari Yoori bukan dari seorang bocah laki-laki yang tiba-tiba berlari memeluk Yoori seraya berteriak girang.

===============================================================================

“Ayo naik ITU!!”

Hyuk menatap ngeri kearah yang ditunjuk Yoori dan adiknya. Ia memang berhasil berbaikan dan mengajak Yoori jalan, namun dengan bonus tuyul kecil yang terus menempel manja pada gadis itu. Kim Inhwan, bungsu dari 3 Kim bersaudara. Berkat bujuk rayu Inhwan lah, mereka tiba di tempat itu. Taman bermain. Tempat itu tak begitu ramai, karena memang bukan hari libur. Entah mengapa Yoori begitu mudah luluh pada bocah imut itu.

“Inhwan, kau kan harus sekolah..,”

“Tapi kak, aku kan tidak pernah jalan-jalan dengan kakak.. Ya? Ya? Aku ingiiiin sekali ke taman bermain… semua teman-teman pernah kesana…”

Entah apa yang mereka bicarakan berikutnya, tapi tiba-tiba Inhwan berlari masuk ke kamarnya, dan kembali dengan seragam sekolah yang telah berganti baju biasa. Hyuk hanya bisa mengiyakan saat Yoori mengajukan penawaran untuk pergi bertiga. Yah, daripada tidak sama sekali?! Lagipula, mana bisa ia mengabaikan tatapan malaikat bocah kecil itu.

“Hyuk? Ayo!”

Hyuk tersadar, menatap wahana itu sekali lagi, dan menggeleng kuat. Membayangkannya saja membuatnya mual. Bagaimana tidak, wahana itu—entah apa namanya, Hyuk sama sekali tak ingin tahu—membawa penumpangnya naik ke ketinggian entah berapa puluh meter hanya untuk menghempaskan mereka lagi dengan kecepatan tinggi, berulang-ulang. Bisa-bisa, sesampainya di bawah, jiwa Hyuk tertinggal di atas dan tak bisa kembali lagi.

“Inhwan masih terlalu kecil untuk naik itu,” kilah Hyuk.

“Tapi aku mau naik! Mau! Mau!!” rajuk Inhwan, menarik-narik tangan Hyukjae, membuatnya terseok mengikuti langkah sang bocah kecil. Yoori ikut mendorong Hyuk dari belakang.

Teriakan-teriakan yang mengerikan dari para pengguna wahana itu terdengar makin jelas seiring langkah kaki mereka mendekat.

“Inhwan, naik yang lain saja yuk? Kau bisa kena serangan jantung kalau naik itu..,” bujuk Hyuk.

Seketika, langkah Inhwan terhenti. Begitupun Yoori.

“Benarkah?” mata Inhwan menyipit.

“Iya, benar. Naik yang lain saja ya? Kan kakak tadi sudah ikut naik jet coaster. Sekarang kakak yang tentukan main apa. Gimana?”

Inhwan menatap Yoori, meminta pertimbangan. Yoori mengangguk kecil.

“Ayo, deh. Kakak mau main apa?”

“Itu!”

Dan disanalah mereka; di dalam sebuah tea-cup yang berputar di luar kendali. Yoori dan adiknya tertawa girang, sementara Hyukjae berusaha keras untuk tidak menjerit ketakutan. Tea-cup yang seharusnya jadi wahana yang romantis dan menyenangkan itu pun menjadi neraka sesaat setelah Inhwan memutar driver di tengah cangkir—yang berfungsi untuk mempercepat putaran cangkir—dengan semena-mena.

Hyuk mulai menyadari bahwa dibalik wajah polos sang malaikat kecil Kim Inhwan, tersembunyi jiwa penguasa neraka.

Mendung mulai menggelayut sesaat setelah mereka keluar dari rumah hantu—permainan berikutnya, yang dipilih Yoori. Awalnya Hyuk cukup percaya diri memasukinya, toh bukan kali pertama ia kesana. Tapi akhirnya—lagi-lagi—ia harus mengaku kalah. Bukannya membuat Yoori atau Inhwan ketakutan dan memeluknya. Malah dia sendiri yang bersembunyi dibalik punggung Kim Yoori.

“Huuuuft…..”

“Kakak capek? Duduk sini!” Inhwan menepuk-nepuk sebuah kursi taman yang menghadap sebuah danau dengan perahu-perahu bebek yang terapung-apung membawa berpasang-pasang kekasih di atasnya. Sejenak Hyuk merutuk—kenapa ia tak memilih naik perahu bebek itu saja tadi. Kalau sekarang, ia sudah lelah.

Hyuk menghempaskan diri di kursi itu. Yoori ikut duduk di sampingnya.

“Kau haus..? Biar kubelikan minum,” tawar Hyuk pada Yoori.

“Kak! Biar aku yang belikan, kakak duduk sini aja,” Inhwan menyodorkan tangan, menunggu Hyuk memberinya uang.

“Tidak usah, biar kakak saja.”

“Nggak. Aku aja. Aku sudah besar, tau,” ketus Inhwan, seolah tahu apa yang ada di pikiran Hyuk. Hyuk tertawa kecil melihat wajah malaikat itu menggembungkan pipi.

“Iya deh,” Hyuk menyerahkan sejumlah uang pada Inhwan. Bocah mungil itu berlari-lari riang meninggalkan mereka berdua.

“Maaf ya. Dia kadang-kadang memang suka hiperaktif,” kata Yoori.

“Tak apa. Aku malah senang dia ikut hari ini.”

“Senang?” Yoori menautkan alis. “Tapi kau bilang dia itu setan kecil.”

“Memang! Setan berwajah malaikat!” timpal Hyuk. “Tapi kalau hanya denganku, kau tak akan tertawa seperti tadi.”

Hyuk menatap Yoori lembut, membuat semburat merah mewarnai wajah Yoori yang pucat.

“Ah, banyak hal yang tak ku ketahui dari dirimu.”

“Memangnya kau tahu apa tentang aku?”

“Apa ya..?” Hyukjae berpikir sejenak, membuat jeda hingga ia meneruskan kalimatnya. “Anak baru kelas sebelah, pendiam, suka musik klasik, buta arah dan selalu tersesat di tempat yang sama,” Hyuk terkikik geli, membuat rona kemerahan di wajah Yoori semakin kentara. “Anak kedua dari tiga bersaudara, kakak bernama Kim Heechul, adik Kim Inhwan…”

“Yatim piatu…,” gumam Yoori menambahkan. Hyuk terdiam. “Kau harus bersyukur masih punya orang tua—walau mereka jarang ada di rumah.”

“Iya,” jawab Hyuk pelan. “…Kau juga. Tetaplah bersyukur. Setidaknya, kau punya saudara yang sayang padamu.”

Yoori tersenyum kecil.

“Hey Hyukkie.”

“Eh..? Kau memanggilku apa..?”

“Hyukkie,” ulang Yoori, terkekeh melihat ekspresi imut Hyukjae saat ia memanggilnya dengan nama kecil. “Berjanjilah. Jangan jatuh cinta padaku.”

Hyuk terdiam. “Ap—“

“Jangan jatuh cinta padaku. Aku tak akan membuatmu bahagia. Aku sungguh berharap,” kali ini Yoori menatap lurus pada Hyukjae, “…kita bisa berteman seperti ini selamanya.”

“Apa kata-katamu ini ada hubungannya dengan Minhye?” tanya Hyuk hati-hati.

“Tidak. Eh. Mungkin iya. Tidakkah persahabatan itu lebih kekal..?”

Yoori beranjak dari tempat duduknya, menghampiri Inhwan yang kesusahan membawa 2 minuman dingin dan 1 cup es krim. Gerimis mulai turun semakin deras.

===============================================================================

Donghae berlari-lari keliling sekolah sepanjang siang. Mencari Hyukjae. Dari kelas, kantin, ruang dance, halaman belakang sekolah, atap tempat ia biasa makan siang dengan Yoori…seujung kuku pun tak ia temukan. Perpustakaan, bahkan kelas matematika pun ia jelajahi, tapi tak ada tanda-tanda keberadaan makhluk satu itu. Begitu pun Yoori dan Minhye—mereka raib.

“Hei, Minho!” panggil Donghae melihat Minho melintas.

“Eh, kak Donghae. Kakak lihat Kak Hyukjae?”

“Justru itu yang mau kutanyakan padamu. Lihat Eunhyuk, tidak?”

“Kenapa kakak menanyakan Kak Hyuk ke saya? Kan biasanya sama kakak.”

“Aish… jangan-jangan dia bolos. Ya sudahlah. Bagaimana Minhye? Masih belum masuk?”

Minho hanya angkat bahu.

“Kau masih pura-pura tidak tahu kalau dia di-skors..?”

Minho menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Aku tak tahu harus bersikap bagaimana padanya,” keluh Minho. “Aish, semua ini gara-gara si penguntit itu! Apa sih maksudnya, pakai motret kak Minhye segala..?!”

“Pengagum rahasia, mungkin,” gumam Donghae terdengar asal. Minho hanya mendengus. “Aaaah, dimana Eunhyuk, sih?”

“Coba di telepon, deh, kak.”

Donghae menepuk dahi. Lupa dia kalau dia hidup di jaman sesudah ponsel ditemukan. Ia berlari kembali ke kelas, mengambil ponselnya. Melewati ruang bina konseling tanpa menoleh. Sementara dua orang pria tengah menghadap pemilik ruangan.

“Jadi tujuan anda berdua datang kemari apa?” Jungsoo membenarkan letak kacamata seraya menatap kedua orang dihadapannya. Heechul dan Yoochun.

“Begini, kami ke sini berniat menjelaskan masalah perihal Nona Minhye.” Jelas Yoochun yang langsung diusung anggukan Heechul.

“Tenanglah, masalah itu sudah saya tangani…”

Serentak mereka bertiga menoleh ke pintu.

“Perkenalkan saya Go Hyeonjeong, bibi Minhye—Teuki maaf! Aku masuk seenaknya…”

Yoochun dan Heechul langsung bangkit dari duduk dan membungkuk hormat sambil memperkenalkan diri.

===============================================================================

Minhye mendecak kecewa. Hujan makin deras dan ia terperangkap di emperan toko. Sedikit merapat pada kaca etalase, menghindari tempias. Ada keinginan untuk berlari menembus hujan deras, namun barang-barang di dalam ranselnya tidak bisa diajak kompromi. Ponselnya serta ipod milik Minho. Bisa rusak nanti.

Emperan toko itu sepi. Hanya ada beberapa orang berteduh, termasuk Minhye. Guyuran tangis langit tak juga reda, membuat Minhye menghela nafas kesal.

BET.

Seseorang menyepak kaki Minhye. Minhye tak acuh. Toh, mungkin pelakunya tidak sengaja.

BET.

Dua kali. Terjadi aksi penyepakan kaki seorang gadis. Minhye menelengkan kepala ke kanan dan kiri, mencari tersangka. Bisa ditangkapnya gerakan mencurigakan dari seorang pemuda berkacamata. Minhye memperkecil jarak di antara mereka sambil melayangkan tatapan tajam.

“Kak Minhye, ya?”

Belum sempat Minhye marah-marah, pemuda itu sudah mengeluarkan suara duluan.

“Eh?” Minhye menaikkan sebelah alis. Mulai merasa sedikit familiar dengan wajah di hadapannya.

“Ini aku, Kim Kibum.” Si Pemuda berkacamata—Kibum tersenyum sumringah. Membuat beberapa gadis yang juga kebetulan berteduh di sana terpesona.

“Kibum? Ah!!” seru Minhye sedikit keras. Dia tertawa sambil mengacak rambut Kibum. “Bagaimana kabarmu? Eh, tadi kau sengaja ya menyepak kakiku?” Mata Minhye mendelik menakutkan.

Kibum nyengir. “Maaf, Kak. Tadi itu memang sengaja. Habisnya tadi sempat nggak yakin, itu kakak atau bukan.” Kibum ber-peace ria dengan kedua tangannya.

“Dasar.” Desis Minhye seraya menoyor Kibum. “Eh? Kau sudah bertemu Kyu belum? Dia masuk rumah sakit?”

“Masa? Kakak bercanda? Dia sudah keluar dari rumah sakit…” Kibum ingin melanjutkan kalimat namun ekspresi Minhye yang syok menghentikannya.

“Sekarang dia dimana?”

Kalimat Kibum selanjutnya membuat Minhye memekik, “Kibum?! Kau naik apa?! Motor?! Aku pinjam!!”

===============================================================================

Hujaman titik-titik air—serasa menusuk kulit—tak diindahkan Minhye. Dia semakin menarik gas motor Kibum. Membuatnya melaju kencang di tengah tumpahan air langit. Dipertengahan jalan, ada genangan air. Minhye lewati begitu saja, membuat air-air genangan memercek ke seluruh pakaiannya—yang sudah basah kuyup. Untung sebelum melompat naik ke motor Kibum, dia terlebih dahulu menitipkan tas-nya, mencegah akan basah kuyup.

“Dia ada di bandara. Bersiap untuk pergi ke Amerika. Pindah ke sana, tepatnya. Kakak tidak tahu?”

Kalimat Kibum terngiang jelas membuat kian bertambah laju kendaraan.

Setelah menantang hujan, beberapa genangan berserta hampir terjadi insiden tabrakan. Minhye sampai di bandara dengan selamat. Dan tentunya dengan basah kuyup. Seperti baru saja terjatuh ke dalam danau. Namanya juga hujan-hujanan. Dan hujan telah menjadi gerimis sewaktu kakinya menginjak ubin bandara.

Dihiraukannya semua tatapan aneh dari setiap orang yang dia temui. Minhye terus berlari ke dalam. Mencari sosok Kyuhyun.

“Jangan sampai penerbangannya di tunda lagi,” keluh Kyuhyun.

“Semoga saja, Tuan,” jawab Kangin. Kyuhyun hanya melengos. Yang benar saja, bisa-bisanya keberangkatanku tertunda sampai 24 jam karena pesawat delayed? 24 jam! Sungguh menyebalkan, keluhnya dalam hati.

Namun jauh di dalam lubuk hatinya, dia tak benar-benar ingin pergi…

Kyuhyun menatap sekeliling, berharap akan ada seseorang yang akan menahannya agar tidak pergi. Tapi nihil. Gerimis rintik-rintik membuat suasana makin menyedihkan, muram. Dia memejamkan matanya rapat-rapat. Meyakinkan diri bahwa langkah yang ia ambil kali ini adalah yang terbaik, sebagai permulaan sesuatu yang—semoga—lebih baik.

“Kyuhyun—hei!! Cho Kyuhyun!!!!”

Dapat Kyuhyun dengar dengan jelas suara Minhye diantara rinai gerimis dan derap langkah yang menggema mendekat.

Bruk!!

Kyuhyun membuka kelopak matanya dan berseru marah. “Ya!!” Sedetik kemudian dia membelalak kaget. “Kakak?!”

Sosok Minhye tiba-tiba sudah ada dihadapannya, bersedekap dengan bibir tercebik dan basah kuyup. “Hei kau, Cho Kyuhyun!” Tudingnya kasar, “Bagus sekali kelakuanmu!!”

Kyu tergagap. Dia memang berharap Minhye akan datang untuk mencegahnya, sayang, dia ternyata datang tapi tidak sesuai harapan. Bukan mencegah malah marah-marah. “Choi Minhye…”

“Ya! Yang sopan bodoh! Mana embel-embel ‘Kakak’?” Teriak Minhye marah.

“Maaf…” Ucap Kyu lirih, “…Kakak kenapa di sini?”

“Aku ke sini untuk mengucapkan selamat jalan.”

“Selamat jalan?”

“Tentu saja bodoh. Kalau aku mengatakan selamat tinggal, berarti kita tidak akan bertemu lagi.” Minhye tersenyum, “Berjanjilah kita akan bertemu suatu saat nanti, Adikku…” Diulurkannya telapak tangan.

Segera saja Kyu menyambutnya dengan suka cita. Walau kata ‘adikku’ sedikit menyakitinya…

“Tentu…”

Sementara itu, dari kejauhan seseorang mengawasi mereka. Lee Hyukjae. Tepat setelah ia mengantarkan Yoori dan adiknya pulang, Donghae menghubunginya.

“Hyuuuk, kau kemana saja, sih?”

“Ada info apa?”

“Ck. Kyuhyun. Kupikir pesawatnya berangkat kemarin, tenyata setelah ku cek ulang, di tunda jadi hari ini. Tepatnya…err, 20 menit lagi.”

“Eh? Ck, anak itu!”

Dan disinilah ia, menonton drama perpisahan Kyuhyun dan Minhye dari jauh. Mengetahui keberadaannya tak berarti, ia berbalik. Pulang sepertinya menyenangkan.

“….Lalu, bagaimana dengan foto..? Kau sudah tahu siapa pelakunya?”

“………Aku masih belum yakin..”

Hyuk menghela nafas panjang mengingat percakapan terakhirnya dengan Donghae sebelum ia menutup telepon. Kalut, ia berbalik arah, melajukan motornya menuju rumah Donghae.

===============================================================================

“Nenek! Aku pulang!” Donghae melempar sepatunya sembarangan dan menyambit sandal rumah.

Nenek langsung menyambutnya dengan teriakan marah dari dapur, “Donghae! Kenapa sudah pulang? Kau bolos kelas tambahan?!”

Menghiraukan teriakan marah Neneknya karena bolos kelas tambahan, Donghae berlari menaiki tangga dan melempar sepatu tanpa menaruh di rak. Donghae masuk ke dalam kamarnya.

Dengan gerakan cepat, Donghae kembali membongkar isi beberapa laci meja belajarnya—mengeluarkan amplop-amplop tebal coklat besar, berisi foto-foto hasil potretannya. Wajahnya kecewa setelah hampir seluruh isi-isi amplop-amplop itu berserakan di lantai kamar Donghae.

Dirogohnya foto yang Donghae dapat dari Eunhyuk di dalam saku seragam sekolah. “Jadi, ini memang benar hasil potretanku…tapi, kenapa bisa?”

“…Jadi…kau pelakunya?”

TBC

Maaf… banget… sebulan nggak nge.post… terlalu banyak alasan untuk itu…. hehehehehhe *plak*

kami sama-sama sibuk… jadi tolong pahamilah kami 🙂

sekarang saya (minhye_harmonic) mencoba untuk post lagi 🙂

untuk menyambut liburan, minggu depan entah saya bisa post atau tidak, karena mungkin saya dalam perjalanan dari makassar ke jogja 🙂

doain yah, supaya selamat sampai tujuan *lebay*

Tolong dong, komen yah… please banget…. tolong… banget *sujud*

kalo nggak bisa komen saja di fb.saya: Gaemgyu Hoobae atau twit saya: @hye09

Bye*lambai-lambai*

17 responses to “Endless Moment part 9!

  1. Akhirny dipublish jga ><
    kirain minhye bkal cegah kyu, eh trnyta cma ngucpin slmt jalan. Poor kyuhyun.
    Yg motret minhye donghae? Tp yg nyerahin foto itu g mngkin hae kan. hae kn sk sm minhye, g mngkn dong dy tega, hehe.
    Next partnya jgn lma2 yaa. Pnasaran bgt nih ^^
    i'm waiting 4 next part! ^^

  2. Begitu tau ff ini udah publish, aku sadar kalo ternyata ketinggalan dr part 7 T.T
    mslhnya makin ruwet yak u.u ternya hae yg motret toh, pantes td dia bilang pengagum rahasia.. Ternyata dia sndiri org nya.. Tp yg nemu foto itu dulu cewe kan pas jatoh di taman sklh. Siapa sih sbnrnya.. Penasaran..
    Heechul suka ya sm Minhye? Peduli bgt hihi
    next part ditunggu ^^

  3. totally feel guilty for not thinking about this FF anymore T.T

    annyeong, author Hota imnida
    *bow*
    mohon maaf, maaaaaaaaaf bageeeeeeet trutama bwt jeung Fie,
    aye mentok n g s4 nerusin ni FF,
    n bwt tmn2 n readers yg nunggu2 lanjutan FF nii, harap dimaklumi yaa…
    lg sbuk bgt al.x, pdhl hrs.x lburan tp yeaaa
    byk job,
    n mungkin krna gak semangat jga…

    curhat deh.

    maaf bgt,
    mianhada,
    jeongmal mianhae…

    cma komen kalian yg bkin saia inget lagi utk nerusin FF ini,
    dgn feel yg bner, tntu.x
    *s4 nerusin tpi ngaco sangaaaaad~*

    okeh, bwt jeung fiee *lagi*
    aye gda pulsa T^T
    luv u

    annyeong,

  4. I’m very pleased to find this web site. I need to to thank you for ones time due to this wonderful read!!

    I definitely appreciated every part of it and i also have you
    book-marked to look at new information in your website.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s