Let’s Make a Baby [Chapter-11]

credit poster: Cute Pixie

Author: Unie

Genre: Angst, AU (Alternate Universe)

Rating: PG-15

Length: Chaptered

Main cast:

  • Lee Donghae
  • Sung Hyosun
  • Jessica Jung
  • Choi Seung Hyun [TOP]

Other cast:

  • Shim Changmin
  • Cho Kyuhyun
  • Lexy Kim
  • Victoria Song
  • Kim Sujin

Disclaimer:

FF ini bener-bener imajinasiku. Kalau misal ada yang mau komplain karena ada kesamaan. Ke acc twitterku ya di: @yuniLHJ

[PROLOG] [CHAPTER 1] [CHAPTER 2] [CHAPTER 3][CHAPTER 4]
[CHAPTER 5] [CHAPTER 6][CHAPTER 7][CHAPTER 8][CHAPTER 9][CHAPTER 10]

“Selamat. Anda positif hamil, Nyonya Lee.” Kata seorang dokter kandungan di rumah sakit bersalin yang letaknya tidak jauh dari apartemen. Wajahnya turut berseri-seri setelah membuka amplop berupa hasil pemeriksaanku dari laboratorium. Aku masih belum yakin dengan hasil ketiga test pack yang aku gunakan kemarin karena itulah aku pergi ke rumah sakit ini untuk memeriksanya setelah pulang dari kantor.

“Benarkah?” tanyaku tak percaya.

Hatiku berbunga-bunga mendengar pernyataannya. Rasanya aku baru saja menggenggam dunia. Aku bahagia sekali setelah tahu bahwa aku benar-benar hamil. Donghae pasti akan sangat senang jika dia mendengar ini.

“Usia kandunganmu sudah tiga minggu. Ngomong-ngomong, suamimu tidak menemanimu?” tanya dokter paruh baya itu penuh selidik.

“Dia tidak tahu kalau saya sedang memeriksa kandungan. Saya akan memberinya kejutan”

Aku sumringah sambil membayangkan reaksi Donghae jika mengetahui kesalahpahaman tentang flek yang aku kira adalah menstruasi tapi ternyata adalah tanda-tanda kehamilan.

“Oh, begitu rupanya. Pasti dia akan lebih memanjakanmu”

“Lebih memanjakan?” tanyaku heran.

Aku mengilas balik ke belakang, mencoba mengingat hari-hariku bersama Donghae. Memangnya dia pernah memanjakanku? Rasanya konyol membayangkannya memanjakanku. Yang benar saja?

“Ya. Rata-rata calon ayah akan memberikan perhatian yang berlebihan. Melarang ini itu, bahkan cenderung seperti nenek-nenek yang sentimentil. Kau jangan kaget jika perangainya demikian”

Aku tersenyum mendengar paparannya walaupun aku sendiri belum sepenuhnya bisa membayangkan reaksi seperti apa yang akan ditunjukkan Donghae. Perasaan seperti ini sangat luar biasa. Indah sekali. Ternyata menjadi calon ibu seperti ini euphoria-nya? Bagaimana mimik Donghae jika mengetahui ini? Arrrgh, bagaimana aku menyampaikannya nanti? Ouugh, kenapa pipiku menjadi panas? Kacau! Terlalu senang malah membuatku tidak bisa berfikir dengan normal, tapi terlalu sedih malah membuatku seperti orang gila. Dasar manusia!

Aku memegang perutku dan membayangkan kehidupan yang ada di dalamnya. Nanti aku akan ditendang-tendang dari dalam dengan kakinya jika sudah masuk hitungan bulan. Dia akan bermain-main, jungkir balik dan lain-lain di dalam rahimku sebelum keluar. Aku harap jika dia laki-laki bisa setampan ayahnya dan jika perempuan, tentu harus secantik aku tapi tetap mewarisi mata ayahnya yang indah. Mata Donghae yang sering kali membuat jantungku berdentum-dentum tak karuan. Aku tersenyum penuh arti sambil mengusap-usap perutku yang tertutup kain.

‘Ayahmu akan senang mendengar ini’ batinku dalam hati.

“Kalau begitu, saya permisi sekarang. Sepertinya kabar baik tidak bisa disimpan terlalu lama” aku bangkit dari kursi dengan raut wajah yang masih sama.

“Tentu saja. Kembalilah jika kau ingin melakukan USG agar kau tahu jenis kelaminnya. Ajaklah suamimu” kata Dokter itu sambil memamerkan barisan gigi putih bersihnya padaku.

Aku berfikir sejenak, kemudian tersenyum lagi.

“Sepertinya jenis kelamin lebih baik menjadi sebuah kejutan saat persalinan, dok”

“Oh, itu ide yang bagus. Dulu aku juga melakukan itu. Aku tidak pernah melakukan USG sama sekali bahkan sampai anak ketigaku”

“Benarkah?”

“Tentu saja. Menebak-nebak itu terkadang menyenangkan”

“Oke. Terimakasih atas bantuannya, Dok” aku mengulurkan tanganku.

“Senang bisa membantumu” dia menjabat tanganku.

Sepanjang perjalanan pulang, yang ada di otakku hanya membayangkan seperti apa wajah anakku kelak. Apakah dia berpipi chuby, berhidung lancip, memiliki kulit putih mulus, atau memiliki bibir yang tipis? Apakah dia akan keras kepala seperti aku dan Donghae? Ya ampun, ini baru tiga minggu dan masih ada delapan bulan lebih yang harus aku lewati tapi aku sudah membayangkan terlalu jauh. Ah, siapa peduli? Bahkan aku juga mulai berfikir nama apa yang paling cocok untuk anak pertamaku dan Donghae.

Hari yang sangat indah seperti ini merupakan waktu yang tepat untuk menghidangkan makanan yang enak-enak di atas meja. Rasanya aku ingin memberitahu seluruh dunia kalau aku sedang hamil. Tapi Donghae harus menjadi orang pertama yang mengetahui hal ini, bukan orang lain. Membayangkan memberitahunya saja, kakiku terasa lumpuh. Bagaimana reaksinya? Aku tidak sanggup membayangkan bagaimana dia memandangku nanti. Donghae…

Aku membuka pintu apartemenku dengan tangan kiri sementara tangan yang lain tengah sibuk memegangi bahan makanan yang aku gunakan untuk memasak nanti. Aku langsung pergi ke dapur setelah pintunya ku tutup dan meletakkan seluruh belanjaan di atas meja dapur. Aku menepuk-nepuk kedua telapak tanganku seperti seorang koki kue yang tengah menepuk-nepuk telapak tangannya hingga tepung terigu yang terselip di antara jemari ikut terbang ke udara sebelum adonan diuleni. Aku tersenyum memandangi kantung belanjaanku, kemudian beringsut menuju ke kamar. Aku harus mengganti baju sebelum memasak.

Saat aku memasuki kamar, aku melihat ada sesuatu yang mecolok di atas meja riasku. Itu pasti bukan milikku. Aku berjalan mendekat, dan mendapati sebuah komputer jinjing yang diikat dengan pita plastik berwarna pink. Dahiku berkerut. Aku melihat ada sebuah kertas –lebih tepatnya sebuah kartu ucapan- yang terselip di sela-sela pita. Aku mengambilnya kemudian melihat tulisan apa yang tertera.

Happy Birthday…

LDH

Aku melongo melihat tulisan di kartu ucapan itu. Dan dengan sigap aku langsung menyambar kalender meja yang berada di dekat tempat tidur . Aku baru sadar kalau hari ini aku berulang tahun. Aku melihat angka tiga belas di bulan oktober. Tapi bukan itu yang membuatku lebih kaget, melainkan hadiah kecil (untuk ukuran Donghae) ini. Dia tahu aku berulang tahun? Bahkan aku sendiri lupa kalau aku hari ini adalah hari kelahiranku. Kapan dia menaruh laptop ini?

‘Tuhan, indah sekali. Kau memberiku double hari ini’ seketika airmataku meleleh.

Aku mengelus benda elektronik ber-icon apel yang betuknya sudah tidak utuh lagi itu. Dengan ini aku bisa menyimpulkan satu hal, yaitu dia benar-benar mendukung apa yang aku kerjakan walaupun dia tidak menyukai keputusanku untuk bekerja di penerbitan Choi. Aku langsung mengambil ponsel yang dari kemarin ku biarkan begitu saja di atas meja. Aku melihat display-nya dan ternyata sudah banyak pesan yang berisi ucapan selamat ulang tahun untukku. Selain itu, ada beberapa panggilan tak terjawab. Tapi aku mengabaikan semua itu dan memilih untuk segera menghubungi Donghae. Saat aku hampir menekan icon gagang telephone berwarna hijau, nyaliku menjadi hilang bersamaan dengan detak jantungku yang tak karuan. Hell, apa ini? Aku hanya akan mengucapkan terimakasih tapi kenapa aku jadi gugup sekali.

Akhirnya aku memutuskan untuk mengiriminya pesan singkat daripada aku semakin salah tingkah.

To: Donghae

Terimaksih ucapan dan kadonya:D

I Love U

Aku tertawa melihat kalimat “I Love U” kemudian buru-buru menghapusnya dan mengirim pesan dengan kalimat pertama. Belum saatnya untuk mengatakan itu padanya. Aku mondar-mandir di dalam kamarku, menunggu jawabanya selama beberapa menit. Lama sekali. Apa dia sibuk? Tapi akhirnya ada dering dari ponselku saat aku melangkah meninggalkan kamar. Aku langsung berbalik dan menyambar ponsel. Rasanya seperti baru saja menang lotre saat melihat namanya.

From: Lee Donghae

Hari ini aku akan pulang lebih cepat…

Aku tersenyum seperti orang gila melihat pesan itu. Sudah terlalu biasa jika dia menjawab apa yang aku ucapkan dengan hal yang tidak seharusnya. Tidak ada kolerasi antara pulang lebih cepat dan terimakasih, tapi aku tidak peduli. Itu sudah menjadi adatnya.

_

“Kau masak banyak sekali?” Donghae keheranan saat melihat beranekaragam makanan yang tersedia di meja.

“Hari ini kan hari spesialku” aku nyengir dan mengambil tempat yang berhadapan langsung dengannya.

“Kau senang sekali? Memangnya kau dapat kado spesial apa?” Donghae mendengus, kemudian meraih sumpit dan mencisipi masakanku.

“Sesuatu yang penting” aku mengangkat bahu kemudian mengikuti Donghae menjepit satu salah satu lauk yang tersedia.

Aku tidak akan memberitahu Donghae tentang kehamilanku ini sekarang, melainkan dua hari ke depan –saat ulang tahunnya tanggal 15. Saat aku melihat kalender dan menyadari bahwa hari ulang tahun kami hanya berjarak dua hari, aku memutuskan untuk memberitahukan keadaanku ini nanti. Aku memegangi perutku lalu mengelusnya.

‘Sabar ya, nak’ batinku.

“Besok sore aku akan berangkat ke Jepang. Mungkin selama empat sampai lima hari di sana” katanya lalu menyuap nasi yang terlanjur terjepit di sumpitnya.

“Ohh…”

Aku mengunyah nasiku sambil berfikir. Kalau dia ke Jepang, lalu kapan aku bisa mengatakan kabar baik ini padanya? Apa aku harus mengatakannya hari ini juga?

“Donghae” pekikku tanpa pikir panjang dan dia mendongak.

Dengan tatapannya yang seperti itu, aku malah semakin gugup.

“Ada nasi di dekat bibirmu” aku menunjuk ke dekat pipinya.

Bodoh! Aku kan tidak bermaksud mengatakan itu. Tapi bukan berarti berbohong, memang ada sebutir nasi yang belum sempat masuk ke mulutnya. Donghae sibuk menggerayangi pipinya. Mengusap-usap hingga nasi itu jatuh.

“Apa kau akan pulang dulu sebelum berangkat?” tanyaku ragu-ragu.

“Aku tidak akan ke kantor. Ada beberapa pekerjaan yang bisa aku selesaikan di rumah. Yang aku butuhkan hanya koneksi internet”

Itu artinya besok dia seharian di rumah. Lalu kapan aku bisa mengatakan kabar ini padanya? Hari ulang tahunnya bertepatan saat di berada di Jepang. Kalau mengatakannya melalui telephone atau media lain, rasanya aku tidak akan puas.

“Jam berapa kau akan berangkat?”

“Sekitar jam lima.” Dia menatapku, entah apa yang ada di pikirannya sekarang. Tapi dia buru-buru mengalihkannya ke arah makanan lagi.

Aku berdeham “Ngomong-ngomong, terimakasih atas kadomu”

“Kau menyukainya?”

“Mulai sekarang aku akan memakainya untuk berkerja”

“Baguslah…” aku bisa melihat senyum yang cukup samar di salah satu sudut bibirnya dan itu membuatku cukup lega.

Tidak lebih dari dua puluh menit acara makan malam kami telah selesai dan masing-masing dari kami kembali ke kamar masing-masing. Aku mengabaikan cucian piring yang masih menumpuk karena badanku cukup pegal hari ini, mungkin efek dari hamil juga. Aku tidak tahu. Aku akan mencucinya besok pagi setelah membuat sarapan untuknya.

_

Aku menekuri pekerjaanku di depan komputer dan sesekali melirik ke arah jam dinding yang hampir menunjukkan jam dua belas lewat tiga puluh. Sebentar lagi jam makan siang dan Top akan ke sini untuk menemuiku.

“Menurutmu draft ini cocok tidak untuk di ajukan ke bagian penerbitan?”

Aku mendongak dan mendapati Sujin yang tengah berdiri di depan mejaku. Dia mengulurkan tumpukan kertas tebal yang pinggirnya sudah dijilid padaku. Well, ini kali pertama Sujin menyapaku padahal aku sudah bekerja di sini selama dua hari. Dari cerita Top, Sujin adalah gadis yang tidak populer di masa SMA-nya. Dia sederhana dalam segala hal, tidak berlebihan seperti yang lain. Tapi bagaimana bisa dia tidak terkenal? Dia cukup pintar. Aku bisa melihat itu dari caranya berbicara dan menanggapi  berbagai pertanyaan. Selain itu dia juga sangat cantik. Apa dulu dia tidak membuka diri seperti sekarang ini?

Aku mengulurkan tanganku dan meraih draft itu.

“Oh, ini? Aku sudah melihatnya kemarin. Menurutku… ” aku berfikir sejenak, mencari kalimat yang pas untuk mengomentari hasil jerih payah penulis draft itu sendiri.

“Kalau boleh jujur, draft ini tidak layak untuk diterbitkan. Beberapa kali aku menemukan unsur SARA.”

“Aku juga berfikir seperti itu. Lalu bagaimana? Apa sebaiknya kita pending sementara?”

“Sebaiknya begitu. Kita bicarakan dengan manajer saja” kataku sepakat.

“Oke, nanti aku akan bertemu dengan manajer. Sekarang dia sedang keluar”

Dia tersenyum kemudian berbalik, bermaksud untuk menuju mejanya.

“Hyosun, aku boleh bertanya sesuatu padamu?” dia menghadapku lagi.

“Tentang?”

“Tentang Top. Apa kau punya hubungan khusus dengannya?” dia bertanya ragu-ragu dan itu menimbulkan kerutan di dahiku.

“Memangnya kenapa?”

“Kau tidak takut? Dia terkenal playboy sewaktu SMA”

“Benarkah? Aku malah tidak menyadarinya.” Aku pura-pura tidak mengerti maksudnya.

“Sebaiknya kau berhati-hati dengannya. Dia sering bergonta-ganti pacar. Yang aku tahu hanya sejauh itu, dulu aku pernah menjadi temannya”

“Apa kau pernah menjadi korbannya?” tanyaku penuh selidik.

Dia memasang wajah angkuh “Cih~ Jangan sampai aku berurusan lagi dengannya. Dia itu menyebalkan”

Aku tersenyum melihat ekspresinya. Ekspresi yang sepertinya mirip dengan ekspresiku saat mengatakan bahwa Donghae adalah manusia  paling menyebalkan di jagat raya. Tapi belakangan ini, justru yang menyebalkan itulah yang bisa membuat tergila-gila dan susah untuk memejamkan mata.

“Aku sudah menikah.” Aku menunjukkan tangan kananku agar dia melihat logam putih yang melingkar di jari manisku.

“Kami dekat karena tinggal di apartemen yang sama. Dan kebetulan juga, aku sedang ada urusan penting dengannya”

Sebenarnya itu tidak begitu penting bagiku, tapi bagi Top ini sangat penting. Yaitu misi mendekati Kim Sujin. Aku tidak yakin dengan ekspresi Sujin sekarang, menurutku dia lega karena aku sudah menikah. Tapi itu masih presepsiku saja.

“Ohh… Ya sudah aku kembali ke tempatku” dia buru-buru pergi meninggalkanku. Tingkahnya aneh.

“Heh, ada apa?” beberapa detik setelah Sujin pergi, kini muncul Top di hadapanku.

Pantas saja Sujin langsung pergi dari hadapanku, ternyata ada Top yang mendatangiku. Dia seperti hantu padang pasir yang datangnya tiba-tiba.

“Temani aku mencari sesuatu” kataku kemudian.

“Mencari apa?”

“Aku juga belum tahu. Ini kado untuk ulang tahun Donghae”

“Wah, kapan?”

“Besok dan waktuku tidak banyak untuk memberikan kado itu. Jam lima dia akan terbang ke Jepang. Menurutmu kado apa yang cocok? Seharian aku sampai pusing memikirkan ini ”

Top menarik kursi, kemudian duduk di atasnya. Dia berfikir sejenak.

“Sebenarnya laki-laki itu simple, tidak seperti wanita. Diberi apapun mereka akan menerimanya dengan senang hati. Aku pikir hanya kaum wanita saja yang mendramatisir dengan memberikan sesuatu yang berlebihan”

“Kemarin dia memberiku laptop, menurutmu aku harus memberi apa untuk membalasnya?”

“Dalam rangka apa dia memberimu laptop?” dia mengernyit, sementara tangannya sibuk memainkan pulpen yang baru saja diambilnya dari benda silinder di depanku.

“Kemarin aku ulang tahun. Saat aku pulang laptop itu sudah ada di kamarku” jelasku berusaha santai.

“Benarkah? Wah, selamat ulang tahun” dia bangkit dan langsung meraih tanganku yang masih menempel di keyboard. Aku menatapnya malas sementara dia merasa girang.

“Tidak perlu heboh kalau kau mau menarik perhatiannya, dasar playboy”

Aku menatapnya kemudian melirik pada Sujin yang tengah berkutat dengan papan ketiknya, sesekali dia manatap layar. Aku tahu kalau teknik-teknik seperti ini biasa dipakai oleh kaum adam untuk menarik perhatian lawan jenisnya. Top ikut menoleh ke belakang.

“Temanmu cantik sekali” katanya setelah selesai mengamati Sujin.

“Tidak heran kalau kau dikatainya playboy. Kemarin kau bilang aku cantik, hari ini dia. Besok siapa lagi?” kataku mencemooh.

“Semua wanita memang dilahirkan cantik, tapi ibuku paling cantik dari semuanya”

“Tampangmu sangar tapi kelakuan mawar. Ya, ampun” aku memamerkan tampang jijik.

“Haha, jadi intinya apa sekarang?” tanyanya tidak menggubris olokanku.

“Aku bingung mau memberinya apa.”

Top berfikir lagi.

“Beri dia sesuatu yang bisa dipakai, sesuatu yang penting, dan benda itu bisa dibawa kemana-mana. Dengan begitu, saat dia melihat benda yang kau berikan maka dia akan teringat padamu. Kalau laptop, ponsel, atau benda-benda mahal lainnya aku rasa tidak cocok, karena dia bisa membelinya sendiri”

Aku mengangguk-angguk sambil berfikir. Sesuatu yang bisa dipakai, penting, dan bisa dibawa kemana-mana? Ponsel! Tapi ponselnya masih bagus. Lalu apa yang cocok? Aku memperhatikan Top yang sedang menimang-nimang pulpen hitam di tangannya, dia memain-mainkannya dan terkadang mengetuk-ngetukkannya ke paha. Ah! Iya, pulpen. Aku bisa memberinya pulpen. Orang seperti dia tidak akan lepas dari pulpen. Dia butuh menandatangani file-file dan data-data penting diperusahaan.

“Kau jenius sekali.” Dengan terburu-buru aku mematikan komputer kerjaku, lalu mengambil bangkit dan menyeret tasku.

“Ayo ikut aku!” kataku.

Aku berjalan terlebih dahulu dan tidak mendapati Top mengikuti langkahku. Aku menoleh ke belakang dan menangkap sebuah pemandangan dimana Top tengah mendekat ke meja kerja Sujin. Aku hanya memperhatikannya dari jauh.

“Sepertinya aku mengenalmu” katanya.

Sujin menengadah dengan malas, kemudian asik dengan kerjaannya lagi. Dia tidak merespons.

“Mau makan siang bersamaku?” tawarnya.

“Kau tidak lihat aku sedang bekerja”

Top memandang jam tangannya “Tapi ini sudah jam makan siang. Kau tidak lapar?”

“Nanti aku akan makan. Trims”

“Ya sudah”

Aku menyilangkan kedua tanganku di dada dan tersenyum melihat kelakuan Top. Top berjalan ke arahku, sambil mengangkat kedua bahunya.

“Ayo!” serunya.

“Berapa banyak informasi yang kau dapat darinya?” bisiknya.

“Sejauh ini belum ada. Aku harus mendekatinya pelan-pelan dan menjadi temannya terlebih dahulu.”

“Menurutmu dia wanita yang seperti apa?”

Aku diam sejenak, kemudian menjawab pertanyaannya “Sepertinya menyenangkan. Kalau dia tidak mau terlalu dekat denganmu, berarti kau yang bermasalah. Sudahlah kita bahas nanti, sekarang temani aku mencari kado”

“Kau mau mencari apa?”

“Pulpen. Aku mau mencarikannya pulpen”

_

To: Lee Donghae

Kau masih di rumah?

Aku menekan tombol “send” saat perjalanan pulang dari kantor. Aku berusaha pulang satu jam lebih awal dari waktu yang ditentukan, berharap masih bisa bertemu dengan Donghae di rumah sebelum dia ke airport. Aku merogoh tas dan melihat bungkusan kecil berbentuk balok memanjang dengan pita yang mengikat di bagian tengahnya. Aku berhasil menemukan pulpen simpel berwarna hitam dengan harga yang bisa dibilang lumayan menguras dompetku hari ini. Di bagian tengahnya terdapat cincin logam besi putih yang diukir dengan singkatan nama Donghae, yaitu LDH. Aku memesannya secara khusus karena itulah harganya lebih mahal dari harga semula. Tidak peduli seberapa harganya, yang jelas aku berharap dengan ini dia akan selalu mengingatku. Semoga saja dia mau memakainya. Aku merogoh ponselku saat deringnya berbunyi.

From: Lee Donghae

Masih

Setelah membaca pesannya, aku langsung melirik jam tanganku dan ku dapati waktu yang sudah menunjukkan pukul empat sore. Perjalanan dari kantor ke rumah membutuhkan waktu sekitar setengah jam, itupun jika jalanan lancar tanpa hambatan yang berarti. Untung saja jalanan hari ini cukup lancar –mungkin karena aku pulang lebih awal dari jam pulang kantor- sehingga aku hanya membutuhkan waktu sekitar empat puluh menit.

Aku menetralkan nafasku yang terengah-engah selama beberapa saat di depan pintu apartemen agar tidak terlihat terburu-buru saat pulang. Kemudian ku putar knop lalu masuk ke dalam rumah setelah semuanya terasa aman. Saat aku masuk, aku melihat Donghae melintas dari arah dapur dan anehnya dia masih menggunakan pakaian biasa. Bukankah seharusnya dia sudah siap-siap untuk mengangkat koper?

“Donghae, kau belum bersiap-siap?” tanyaku heran setelah menutup pintu seperti sediakala.

“Darimana saja kau?” tanyanya dengan nada yang kurang bersahabat.

“Dari kantor.”

“Benarkah?” nadanya mengejek, menjurus ke arah cemooh.

“Kau ini kenapa sih?” tanyaku sewot.

“Menurutmu kenapa?”

“Aku lelah, aku mau istirahat!” kataku tanpa minat.

Melihatnya dengan raut wajah seperti itu aku jadi malas untuk memberikan bingkisan kecil yang ada di dalam tas. Jenuh sekali melihat tampangnya yang senantiasa mengintimidasiku seperti itu. Aku lelah karena sepanjang istirahat makan siang kerjaku hanya berkunjung dari toko satu ke toko yang lain untuk sekedar mencari sebuah pulpen yang bisa diukir seperti ini. Dia membuat mood-ku benar-benar buyar dengan sambutannya yang tidak mengenakkan. Aku memilih berjalan ke kamarku. Tapi belum sempat aku memutar gagang pintu, dia sudah meraih lenganku dengan cukup kasar.

“Katakan, apa kau kerja di Penerbitan Choi agar kau bisa bersenang-senang dengan Top?” katanya blak-blakan.

Aku mengamati jari-jarinya yang merekat di lenganku, kemudian melihat wajahnya tanpa mengelurkan suara. Dia melepaskan cengkramannya karena tatapanku yang membuatnya merasa tidak nyaman.

“Kau ini bicara apa?”

Dia mendengus kesal kemudian berkacak pinggang di hadapanku.

“Ternyata pekerjaanmu berjalan-jalan dengan dia saat jam makan siang. Editing? Bullshit!”

“Kau ini lucu sekali. Sudahlah, aku mau ke kamar. Aku mau mandi” kataku seenaknya, mengabaikan hal yang aku rasa tidak penting untuk dibahas. Aku juga tidak peduli dia mendapat informasi tentang kegiatanku dari siapa. Otakku sudah buntu untuk diajak berfikir.

“Aku belum selesai berbicara!” bentaknya, membuatku sedikit melonjak.

“Pantas saja kau tidak mau aku kenalkan dengan temanku di penerbitan Yonghwa, ternyata motifmu ini”

“Arah pembicaraan ini kemana sih? Kenapa kau harus marah-marah? Top hanya…” kalimatku terpotong, membuatku berfikir ulang untuk memberitahukan hal yang sebenarnya.

“Hanya apa?”

“Hanya… Hanya mengantarkanku mencari sesuatu”

“Apa yang kau cari? Kau lupa ya kalau kau sekarang istriku? Bagaimana anggapan orang jika melihatmu berjalan dengan pria lain sementara suamimu sedang sibuk bekerja. Bisakah kau menjaga sikap?”

“Aku tidak peduli dengan anggapan orang lain tentang kami. Dia itu temanku dan kami juga tidak pernah melakukan apa-apa. Kami hanya sebatas teman. Lagipula, kau juga bukan artis. Paparazi tidak akan mengejarmu untuk meminta konfirmasi. Tidak usah membesar-besarkan masalah yang sepele, tuan Lee” aku menaikkan suaraku satu oktaf lebih tinggi.

“Sepele katamu?”

“Ini sepele. Rekan kerja pergi bersama untuk makan siang atau saling membantu untuk mencari barang adalah sesuatu yang wajar. Aku sendiri yang memintanya untuk menemaniku, jadi tidak usah berlebihan. Kecuali aku pergi ke hotel bersamanya, silahkan kau membentak-bentakku seperti itu!”

Tanpa segan-segan lagi aku langsung masuk ke kamar dan membanting pintu sekeras yang aku bisa, lalu menguncinya dari dalam. Dia menggedor pintu dan berteriak, tapi aku mengabaikannya. Aku memelenting badanku di atas kasur berseprai bunga akasia. Badanku tidak mau diajak kompromi untuk berdiri lebih tegak. Bahkan untuk sekedar duduk pun aku tidak melakukannya. Mungkin karena hamil jadi aku cepat lelah. Aku mengelus perutku setelah Donghae menghentikan aksinya. Aku memejamkan mataku.

‘Ayahmu hanya salah paham, sayang’

_

Aku mengerjap-kerjapkan mataku. Rasanya lengket sekali, seperti ada sisa-sisa lem super yang masih menempel dan membuat kelopak mataku mengatup hebat. Tapi akhirnya aku berhasil melakukannya setelah bersusah payah. Aku langsung melihat ke arah jam yang sudah menunjuk ke angka enam. Aku diam sejenak, kemudian mencoba bangkit setelah seluruh nyawaku terasa terkumpul. Tidur sejenak membuatku merasa lebih segar dari sebelumnya.

Suasana apartemen begitu lengang saat aku melangkahkan kakiku keluar kamar. Kemana perginya Donghae? Apa dia sudah berangkat? Dengan ragu-ragu aku berjalan menuju kamarnya, ada sedikit celah dari pintu yang tidak menutup rapat. Aku mendorongnya dan ternyata Donghae tidak ada di dalam kamarnya. Aku melihat kopernya yang masih teronggok di lantai. Dia belum berangkat.

‘Mungkin dia di kamar mandi’ pikirku singkat.

~Ting…Tong~

Aku berjalan menuju ruang tamu setelah mendengar bunyi bel. Pasti bukan Donghae, dia kan punya kunci kombinasi apartemen ini. Aku memutar knop setelah menekan beberapa digit angka untuk membuka kunci otomatisnya.

“Hallo, apa kabar? Sudah lama tidak bertemu denganmu, Hyosun. Bisa tolong panggilkan Donghae?” sapanya dengan nada yang cukup culas.

Jessica. Memang sudah hampir dua minggu –sejak terakhir di acara reuni- aku tidak pernah melihatnya lagi. Tapi dengan kedatangannya yang mengejutkan seperti ini, aku malah semakin kesal melihat tampangnya yang dibuat seolah-olah dia adalah tetangga yang baik.

“Tidak ada. Dari tadi aku tidak melihatnya”

“Benarkah? Lima menit yang lalu dia baru saja dari apartemenku”

Donghae ke apartemen Jessica? Untuk apa?

“Untuk apa dia ke apartemenmu?”

Dia tertawa, mengejek “Untuk apa? Sudah jelas dia berpamitan karena akan pergi ke Jepang. Memangnya kau tidak tahu kalau dia akan pergi ke Jepang jam delapan nanti?”

“Jam delapan? Bukankah pesawatnya jam lima sore?” dahiku berkerut. Seingatku kemarin Donghae mengatakan pesawatnya akan take off jam lima sore.

Dia tertawa lagi “Dia tidak mengatakannya padamu? Pasti dia juga tidak bilang kalau dia menyewa pesawat jet pribadi untuk ke Jepang?”

Aku berusaha mencerna kalimat Jessica. Sebenarnya aku paham, tapi yang menjadi pertanyaan kenapa dia tidak mengatakan apapun padaku tentang kepergiannya yang diundur sampai jam delapan malam dan menggunakan pesawat Jet?

“Itulah bedanya kau dan aku, Hyosun. Donghae lebih senang menceritakan segala sesuatunya padaku ketimbang denganmu. Kau bisa menilainya dari hal yang kecil seperti ini” lanjutnya. Ucapannya memang terdengar datar, tapi kalau diresapi terasa sangat menekan.

“Oh, iya. Ku dengar kau sekarang dekat dengan Top. Apa itu benar?”

“Apa urusanmu?”

Kami masih berdiri di depan pintu. Aku tidak sudi untuk menyuruhnya masuk ke dalam apartemen kami. Donghae, dimana dia sekarang?

“Memang itu bukan urusanku, nona. Tapi syukurlah, setidaknya kau tidak mengejar-ngejar Donghaeku lagi. Aku dengar kau juga sering keluar bersamanya di jam makan siang. Kalian akrab sekali”

“Apa urusanmu dengan semua itu? Tidak usah ikut campur! Atau jangan-jangan kau yang mengatakan semua ini pada Donghae agar hubungan kami semakin keruh?” tukasku tajam, sementara dia hanya tersenyum tipis.

“Aku? Kau menuduhku? Yang benar saja.”

“Kalau bukan kau siapa lagi?!!”

Dia mendesis, merubah ekspresinya menjadi lebih galak dari sebelumnya.

“Aku tidak peduli dengan kalian! Puas? Aku ke sini hanya ingin memberikan ini pada Donghae” dia menyodorkan sepiring marshmallow berlapis coklat padaku.

“Donghae tidak membutuhkan ini!” aku menghempaskan piring itu hingga terjun ke lantai dan menimbulkan bunyi kaca pecah. Aku melihat wadahnya yang hancur berkeping-keping dan beberapa bagiannya masih terdapat sisa-sisa marsmallow.

“Hyosun! Apa yang kau lakukan???”

“Kau sengaja memanas-manasiku dengan membawakan itu pada Donghae?”

“Jadi kau benar-benar menantangku? Ingat, apa posisimu di sini. Tidak usah berlagak seolah-olah kau adalah nyonya rumah. Kau… Hanya dimanfaatkan oleh Donghae! Catat itu baik-baik di benakmu agar kau tidak lupa!” dia mengucapkannya dengan penekanan yang cukup kentara.

“Ada apa ini?” Terdengar suara yang tidak lagi asing di telingaku kian mendekat dari belakangku. Donghae ada di dalam rumah? Aku menoleh ke belakang.

“Donghae, dia sengaja menghancurkan makanan yang aku buat untukmu” Jessica berkicau seolah-olah dia adalah pihak yang teraniaya dan menunjuk ke lantai yang kotor akibat pecahan piring.

“Hyosun, apa yang kau lakukan?” Donghae menatapku tak percaya.

“Dia menuduhku telah memberitahumu tentang kencannya bersama Top hari ini karena itulah dia melempar piringku” Sela Jessica, tidak membiarkanku untuk membela diri.

“Apa itu benar?” Suara Donghae terdengar dalam dan sengaja di tahan, tapi dia menatapku tajam.

“Aku tidak menuduhnya. Aku hanya bertanya apakah dia yang mengatakan itu padamu” Aku membalas tatapan Donghae, tak kalah tajam.

“Tapi dari nadamu, kau memang menuduhku dan kau… Ya ampun, kau menghancurkan kerja kerasku” Jessica terisak, entah itu pura-pura atau sungguhan aku tidak peduli. Itu membuatku ingin menyumpal mulutnya dengan sepatu.

“Diam kau! Tidak usah ikut campur!” kataku menanggapi ucapannya.

“Kau yang diam, Hyosun-ah!!!” bentak dengan Donghae hingga membuatku terkejut. Tatapan matanya dalam dan penuh amarah. Baru kali ini aku dibentak dengan cukup kasar olehnya.

“Sekarang minta maaf pada Jessica!” lanjutnya datar tapi penuh dengan paksaan.

“Kau menyuruhku minta maaf? Aku tidak sudi! Dan kau, Donghae. Kau tidak punya hak untuk membentakku seperti itu. Kau harus ingat, kau bukan siapa-siapa!”

Dengan kesal aku berjalan menuju kamarku lagi. Membanting pintu seperti dua jam yang lalu, kemudian menguncinya rapat-rapat dari dalam. Entah ini perbuatan yang benar atau tidak, yang jelas hari ini Donghae benar-benar membuatku muak! Walaupun aku mencintainya, bukan berarti aku mau diperlakukan begitu saja. Aku tidak mendewakannya seperti orang yang tidak waras. Tidak ada perjanjian di atas materai manapun yang memperbolehkan dia membentakku sekasar itu.

Aku mengusap airmataku saat berjalan ke kamar mandi. Tanpa membuka baju, aku langsung memutar keran dan membiarkan badanku basah oleh air yang keluar dari pancuran setelah menutup pintunya. Airmataku masih keluar hingga bercampur dengan air tawar.

Tidak bisakah suasana rumah bisa lebih tenang? Tidak bisakah jika percekcokan seperti ini dihilangkan? Kenapa hal seperti ini malah memancing keributan yang sebenarnya tidak perlu?

Aku memasang headset di kedua telingaku dan memutar musik sekeras mungkin saat menghadapi pekerjaanku yang sengaja aku bawa pulang setelah beberapa saat berkutat dengan air di kamar mandi. Ada deadline yang harus ku kerjakan dan batas penyerahannya adalah besok siang. Yeah, setidaknya dengan begini aku bisa menghilangkan penatku. Aku mencintai pekerjaanku sekalipun ini terlihat begitu membosankan. Ditambah lagi yang ku edit adalah draft buku tentang sastra. Ini akan sangat menyenangkan.

Belum sempat aku menekan papan keyboard, beberapa helai foto sudah tersebar di atasnya. Aku memandangi foto itu sejenak tanpa melihat ke arah orang yang sengaja melemparkannya. Aku juga tidak melepas headset-ku. Ini foto-foto terbaruku bersama Top saat makan siang hari ini. Aku tidak heran melihat foto-foto itu, malah dengan santai menumpuknya hingga rapi dan meletakkannya di samping laptop.

“Opera sabun” gumamku, kemudian menyalakan tombol on pada laptop.

Sebuah tangan dengan kasar menarik headset-ku hingga kedua lubang telingaku tidak tersumbat lagi. Aku masih belum menoleh.

“Aku yang meminta orang untuk mengawasimu. Jadi jangan libatkan Jessica, apalagi menuduhnya!”

Aku menghentikan aksiku di atas keyboard, berfikir sejenak. Aku melihat ke arah pintu yang terbuka dan aku baru sadar kalau apartemen ini miliknya. Dia punya semua kunci apartemen ini. Tidak heran jika dia masuk dengan mudah. Kemudian aku memandangnya sejenak lalu berdiri hingga berjajar dengannya. Dia sudah memakai pakaian rapi dan sepertinya akan segera berangkat beberapa saat lagi.

“Untuk apa kau mengawasiku?”

“Tentu saja untuk memastikan tingkahmu di luar rumah, apalagi?”

Aku mendekap lenganku sambil memandangi lantai sejenak, kemudian memandangnya lagi dengan tatapan miris “Kau cemburu pada Top, Donghae?”

Matanya sedikit terbelalak mendengar pertanyaanku, tapi dia mati-matian membela diri “Apa maksudmu?”

“Dengar ya Tuan Lee, kau tidak perlu repot mengawasiku. Aku sudah dewasa. Aku bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Jangan sampai aku berfikir kalau kau cemburu dan mulai tertarik padaku. Kau seperti penguntit, kau tahu itu?” kataku blak-blakan dengan nada yang tidak begitu kencang dan mencoba mendeteksi tatapan yang ia suguhkan padaku sekarang.

Dia memandangiku lekat, kemudian beringsut ke sisi lain kamarku. Dia mengambil dua lembar tissue lalu berjalan lagi ke arahku. Dia menutup lubang hidungku, lalu berkata “Kau mimisan”

Dia meraih tangan kananku agar menahan tissue di hidungku kemudian keluar dari kamar. Kepalaku rasanya baru saja dibenturkan ke tembok yang paling keras. Aku pikir akan terjadi debat kusir lagi, tapi ternyata dia membungkamku dengan dalih mimisan. Aku mengambil tissue di tangaku dan memang benar, hidungku mengeluarkan cairan berwarna merah tua lalu aku menutupnya lagi. Aku tidak percaya mitos yang mengatakan jika kita melihat orang yang kita sayangi, kita bisa mimisan. Omong kosong! Tapi kenapa aku mimisan?

~Ndret…Ndret…Ndret~ ponselku bergetar di atas meja dan dari suaranya aku bisa memastikan bahwa ada pesan singkat yang masuk. Aku meraihnya dengan cepat sementara tangan kananku masih memegangi tissue yang disumpalkan Donghae ke hidungku.

From: Lee Donghae

Aku berangkat sekarang…

Aku di Jepang selama empat hari…

Jaga dirimu

Aku keluar kamar bersamaan dengan suara pintu yang sedikit berdencit. Pasti dia baru saja keluar. Aku memeriksa kamarnya dan tidak ada tanda-tanda kehidupan lagi di sana. Walaupun begitu, aku juga tidak berminat untuk melihat punggungnya yang kian menjauh dengan keluar rumah. Aku lebih memilih membalas pesan singkatnya.

To: Lee Donghae

Hati-hati…

Bertengkar, kemudian berdamai. Bertengkar, lalu meminta maaf. Bertengkar, beberapa saat berlalu sudah akur lagi tanpa penjelasan apapun. Inilah agenda rutin hubunganku dengan Donghae. Monoton, tapi tidak bisa membuatku menghentikannya begitu saja. Aku menghela nafasku cukup panjang, kemudian melangkah ke kamar lagi.

_

“Benarkah?” tanya Top saat aku memberitahunya bahwa Donghae menyuruh orangnya untuk mengawasiku.

Top hanya tertawa dari seberang sambungan dan berhasil menorehkan kerutan di dahiku.

“Apanya yang lucu?”

“Tidak ada. Lalu bagaimana kadonya? Apa dia menyukai pemberianmu?”

Aku menghela nafasku cukup panjang “Belum. Kami bertengkar dan aku kehilangan semangatku untuk sekedar memberikannya.”

“Lalu apa rencanamu?”

“Entahlah, mungkin aku akan menunggunya pulang baru memberikannya”

“Hei, kenapa kau tidak menyusulnya ke Jepang? Kau memberikan pulpen itu, lalu menjelaskan sebenarnya tujuan kita keluar makan siang adalah untuk mencari itu. Dengan begitu hubungan kalian mungkin bisa lebih baik”

“Jauh-jauh ke Jepang hanya untuk memberikan ini?” aku mengamati bungkusan balok kecil yang ada di tanganku sekarang dengan heran. Sedikit konyol mendengar idenya itu.

“Yang dinilai oleh pria jika ada seorang wanita jauh-jauh datang hanya untuk memberi barang yang tidak seberapa mahal harganya bukanlah apa yang diberikan wanita itu, melainkan seberapa besar perhatiannya. Percayalah, aku ini laki-laki dan tidak ada salahnya jika kau mengikuti sudut pandang yang aku ambil” paparnya.

Aku terdiam sejenak, berfikir lagi dengan ide yang diberikan oleh Top. Aku tersenyum sambil mengelus perutku yang masih rata dan belum menunjukkan tanda-tanda ibu hamil.

-TBC-

Hallo apa kabar? /lambai2 tissue

Sebelumnya aku mau ngucapin met puasa buat yang menjalankannya:D Buat yang pernah ngerasa tersakiti karena lidah ini yang gak bertulang, aku minta maaf… Dan buat semuanya yang gak dapet PW, maaf juga ya… Dan selama ramadhan ini, aku gak main twitter dulu ya… Aku mau vakum dari jagat per-twitteran #halah

Makasih semuanya yang udah nungguin FF ini…

Ideku buat FF (Termasuk side story maupun main story) ini lumayan banyak dan dari awal udh aku siapin buat bikin ini di liburan semester 2 (Hampir 3 bulan lamanya) biar gak ngaret postingnya dan aku juga gak was-was sama tugas kuliah yang numpuk… Ini pun juga udah aku mulai pas UAS kemaren. Semoga aja sebelum tgl 20 Sept cerita Hyohae couple ini bisa selesai, kalau gak sisanya bakalan lama karena aku musti kuliah lagi Hehehe Sabar ya… Aku ini juga udah sabar nih ngetiknya sampai2 judul FF yang lain aku vakumin buat nyelesaiin ini dulu… Emang aku pernah nge’post FF ini lewat dari 2 minggu? Enggak kan? Nulis itu juga gak gampang, apalagi ceritanya rada ruet begini. Belom lagi masalah mood dll ditambah lagi sekarang udah puasa, aku gak tahu bakalan bisa cepet ato gak buat nulis tiap chapter-nya… Bukan karena laper ampe gak kuat ngetik, tapi balik lagi ke mood…

Oh, iya aku mau rekomendasiin satu FF buat kalian yang menurutku bahasanya cantik banget ampe bikin aku ngiri. Visit ya, klik di SINI ini FF dari salah satu reader yang sering lalu lalang di FFindo. Buat yang ngerasa blog-nya aku kunjungi, makasih ya udah ngikutin FF-ku baik yg freelance maupun yg aku post sendiri di FFIndo:D

Happy reading, I LUVE U ALL:D

Eh, satu lagi. Kalo puasa masih pada baca FF ini gak sih?

Advertisements

310 responses to “Let’s Make a Baby [Chapter-11]

  1. Aduh donghae oppa blm memandang Hyosun sepenuhnya, kalau ia th Jessica memberikan tekanan batin pd hyosun.. gregetan sama sikap Donghae oppa

  2. “Apa salahnya? Kenapa kau tidak bertanya manusia macam apa aku ini yang langsung menerima tawaranmu sebagai istri dalam beberapa hari?” aku inget ada kata itu di part sebelumnya dan ini “Kau menyuruhku minta maaf? Aku tidak sudi! Dan kau, Donghae. Kau tidak punya hak untuk membentakku seperti itu. Kau harus ingat, kau bukan siapa-siapa!” bener2 suka bngt ama kalimat itu kkk~ smoga hyo bener nyusul dan ada momen dijepang yeheiii

  3. aq ingin tau bagaimana perasaan donghae yg sebenarnya. apa sampai sekarang belum ada persaan kah terhadap hyosun?
    ku mohon…biarkan donghae sedikit tersiksa karena merindukan hyosun.

  4. Mmmm gini ya thor.. bukannya aku mau nge bash jessica.. aku mah biasa2 aja.. malah seneng ada jessica di sini.. *aku kan sone*… yg ga aku suka itu karakter yg dimainkan jessica di sini.. oke

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s