Let’s Make a Baby [Chapter-12]

credit poster: Cute Pixie

Author: Unie

Genre: Angst, AU (Alternate Universe)

Rating: PG-15

Length: Chaptered

Main cast:

  • Lee Donghae
  • Sung Hyosun
  • Jessica Jung
  • Choi Seung Hyun [TOP]

Other cast:

  • Shim Changmin
  • Cho Kyuhyun
  • Lexy Kim
  • Victoria Song
  • Kim Sujin
  • Choi Siwon

Disclaimer:

FF ini bener-bener imajinasiku. Kalau misal ada yang mau komplain karena ada kesamaan. Ke acc twitterku ya di: @yuniLHJ

[PROLOG] [CHAPTER 1] [CHAPTER 2] [CHAPTER 3][CHAPTER 4]
[CHAPTER 5] [CHAPTER 6][CHAPTER 7][CHAPTER 8][CHAPTER 9][CHAPTER 10][CHAPTER 11]

Ada benarnya juga apa yang dikatakan Top tentang usulnya agar aku pergi ke Jepang. Tapi apa yang harus aku katakan pada Donghae jika aku benar-benar pergi ke sana? Apa aku harus mengatakan “Kejutan!” saat berada di depan pintu kamar hotelnya sambil membawa kue tart lalu menyodorkan pulpen yang harganya tidak sebanding dengan tiket pesawat dan waktu yang aku korbankan. Bagaimana kalau dia langsung mengatakan “Kau tidak punya kerjaan ya? Jauh-jauh hanya untuk ini?” Apa yang harus aku katakan? Memberitahu kalau aku hamil dan memberikannya kejutan dengan datang ke Jepang memang ide yang sangat brilian, tapi itu berlaku jika kami memang saling mencintai dan tahu perasaan masing-masing. Tapi faktanya tidak seperti itu. cinta kami hanya dari satu pihak –setidaknya sampai saat ini kenyataannya seperti itu-. Apa aku harus menebalkan muka untuk yang satu ini?

            Dengan ragu aku menyentuh –belum menekan- tombol-tombol telephone rumah di dekat buffet TV, kemudian setelah satu tarikan nafas yang cukup panjang aku mulai men-dial angka-angka yang aku butuhkan. Aku melekatkan gagang telephone tepat di telingaku dan dalam hubungan detik, sambunganku langsung ditanggapi dari arah yang  ku tuju.

“Lee Corporate, dengan Clara Han. Ada yang bisa saya bantu?” ucap sekretaris pribadi Donghae yang pernah aku temui di kantornya dua minggu sebelum hari pernikahan kami.

“Nona Clara, ini aku Hyosun” jawabku.

“Oh, nyonya Lee. Ada yang bisa saya bantu?” sapanya ramah dan tanpa aku melihat ekspresinya, aku merasa dia tengah tersenyum dari sana.

“Begini, ini tentang Donghae.” Aku menelan ludahku sebelum melanjutkan.

“Apa kau bisa memberiku informasi dimana dia menginap sekarang?”

“Oh, tentu. Tapi kalau boleh tahu, ada kepentingan atau…”

“Ah, begini. Hari ini dia ulang tahun dan aku bermaksud memberinya kejutan. Aku ingin ke Jepang hari ini juga” potongku mencoba menjelaskan.

“Benarkah?” dia sedikit terkejut.

Aku tersenyum dan mengangguk dari kejauhan.

“Dia pasti akan senang dengan kejutan yang anda berikan. Sebentar, saya akan mencarikan data perjalanan dinas tuan Lee.” Lanjutnya.

            Sambungan kami terhubung selama beberapa menit. Clara memberiku informasi yang begitu detil tentang perjalanan dinas Donghae. Dia memberitahu tentang maskapai penerbangan apa yang dipakai Donghae, kamar hotel, schedule-nya sekaligus tujuan Donghae ke Jepang. Setelah mendapatkan informasi yang kubutuhkan, aku mencoba mempersuasi Clara agar dia tidak memberitahu ini pada siapapun terlebih dahulu.

“Saya mengerti. Jika saya menyebarluaskan ini sebelum tuan Lee tahu, namanya bukan kejutan lagi. Semoga berhasil, nyonya. Oh, iya. Nanti saya akan pesankan tiket pesawat kelas bisnis penerbangan jam 11.35 sekaligus reservasi kamar di Keio Plaza Hotel. Saya usahakan di lantai yang sama dengan Tuan Lee” katanya.

Aku tersenyum mendengar dukungannya “Terimakasih, nona Han. Ini sangat membantuku.”

“Saya senang bisa membantu anda, nyonya Lee. Nanti saya akan menghubungi anda setelah maskapai penerbangan Korean airlines mengkonfirmasi tiket pesawatnya”

“Sekali lagi terimakasih, nona Han”

            Aku memutus sambungan dengan meletakkan gagang telephone pada tempatnya kemudian meraih bingkisan kecil berisi pulpen yang susah payah aku cari. Aku juga sudah menambahkan salah satu hasil test pack yang aku gunakan untuk mengetes air seniku kemarin. Dengan datang ke Jepang, sebenarnya secara kasat mata menunjukkan bahwa aku mencintainya. Memang samar. Tapi jika dengan cara seperti ini Donghae tidak mengerti perasaanku padanya juga, itu artinya dia tidak lebih pintar dari seekor keledai. Aku berfikir lagi sambil memandangi langit-langit apartemen kemudian mengusap perutku dan tersenyum kecil.

“Kau sudah siap untuk jalan-jalan ke Jepang?”

            Aku akan menerima semua resikonya. Jika dia mulai menjauh setelah kedatanganku ke Jepang, itu artinya dia memang tidak mencintaiku. Mungkin akan canggung, tapi aku akan bertahan hingga akhir. Tapi jika dia memberiku perhatian yang lebih, aku anggap itu adalah respon yang positif.

            Aku mengunci kamarku kemudian menenteng tas jinjing yang akan aku bawa ke Jepang. Setelah semuanya terasa aman, aku langsung keluar rumah dan menguncinya secara otomatis dengan menekan tombol-tombol angka kombinasi.

“Kau mau berangkat kerja dengan pakaian dan tas seperti itu?” hardik sebuah suara di belakangku. Aku sangat kenal dengan suara tetanggaku yang satu ini. Aku menoleh.

“Apa urusanmu?” tanyaku sengit.

Dia menyeret sebuah koper besar yang ditumpuki dengan tas jinjing sambil berjalan ke arahku. Apa dia akan minggat selamanya dari apartemen ini? Atau pergi untuk waktu yang lama?

“Sekedar ingin tahu saja” dia mengangkat bahu kemudian berjalan mendahuluiku. Aku tidak menanggapinya lebih jauh, sampai kakinya berhenti menapak dan berbalik mendekatiku lagi.

“Apa program bayi tabung kalian berhasil?”

            Pertanyaannya membuatku sedikit terperanjat. Bayi tabung? Apa maksudnya dengan menanyakan bayi tabung? Apa Donghae mengatakan bahwa kami menjalani program bayi tabung padanya?

“Kau sudah hamil?” tanyanya penuh selidik.

“Ah, untuk apa aku menanyakan ini padamu. Toh, Donghae juga akan memberitahuku dengan sendirinya” dia menebaskan tangan kanannya ke udara seolah pertanyaannya sendiri adalah hal yang basi dan tidak penting untuk siapapun.

            Gerahamku saling beradu mendengar senyumnya yang merendahkanku itu. Dia berbalik dan berjalan menjauhiku. Hingga punggungnya menghilang dari pandanganku, barulah aku berjalan agar tidak pernah berada dalam satu lift dengannya.

            Tapi pertanyaannya membuatku berfikir berulang kali hingga akhirnya aku bisa menyimpulkan satu hal, yaitu: “Jessica tidak tahu apa-apa tentang malam setelah pernikahan kami”. Apa Donghae tidak memberitahu apapun padanya?

_

            Hari ini aku harus pergi ke kantor terlebih dahulu untuk menyerahkan deadline yang aku kerjakan kemarin. Karena pekerjaan inilah aku hanya menghabiskan waktu untuk tidur selama tiga jam. Kepalaku juga sedikit pusing karenanya, mungkin karena terlalu lelah. Awalnya aku pikir setelah pekerjaan ini selesai aku bisa sedikit santai, tapi ternyata aku salah. Manager memberiku pekerjaan tambahan dan harus selesai hari ini juga.

“Tapi, Sir. Saya sudah mengajukan surat ijin jam sepuluh” elakku saat di ruangannya.

“Aku tahu. Tapi ini tidak bisa ditunda. Pegawai yang lain juga sedang keteteran karena pekerjaan mereka masing-masing. Apa kau tidak bisa menunda keberangkatanmu? Setidaknya sampai dokumen ini selesai”

“Saya harus pergi ke Jepang hari ini juga, Sir. Tiket sudah dipesan. Apa pekerjaan ini tidak bisa aku hibahkan ke yang lain?”

“Aku tidak yakin yang lain bisa karena semuanya sedang sibuk dengan pekerjaan tambahan bulan ini. Tapi tidak ada salahnya jika kau mencobanya, siapa tahu ada yang mau membantumu.”

            Setelah melakukan tawar menawar tentang dokumen ini dengan manajer, akhirnya aku diijinkan meminta bantuan pada rekan satu ruanganku. Tanpa berfikir terlalu lama, akhirnya aku mendekati meja kerja Sujin.

“Hyosun? Bukankah kau mengambil cuti hari ini?” tanyanya heran saat melihat keberadaanku.

“Seharusnya memang begitu. Hari ini aku hanya mengantarkan pekerjaanku dan bisa langsung ke bandara. Tapi manager menyuruhku mengerjakan ini hari ini juga” aku menyodorkan map kuning padanya. Sujin tanggap dan langsung meraihnya untuk melihat apa yang ada di dalam map itu.

“Memangnya kau mau pergi kemana?” tanyanya sambil membuka lembar-demi lembar kumpulan kertas penting itu, sesekali dia berhenti sejenak untuk membaca beberapa barisan kalimat sebelum menyingkap lembar berikutnya.

“Aku harus ke Jepang dan ini penting sekali”

“Berapa lama kau cuti?”

“Dua hari. Lusa aku bekerja seperti biasa”

Dia menatapku penuh pengertian karena wajahku yang memelas “Aku akan membantumu, tapi lusa kau harus membantuku menyelesaikan sebagian pekerjaanku. Bagaimana?”

“Benarkah kau mau membantuku?” tanyaku tak percaya, ekspektasi dari rasa senang itu sendiri.

“Tenang saja, aku akan membantumu” lanjutnya.

“Kau bisa pergi sekarang”

“Terimakasih, Sujin. Kau yang terbaik” dengan cepat aku memeluknya kemudian berlari dan menyambar tas yang ada di meja kerjaku sendiri.

            Aku berjalan ke tempat penitipan barang untuk mengambil tas jinjing berisi baju-baju yang akan aku bawa ke Jepang. Aku tidak membutuhkan koper karena aku hanya mengambil cuti selama dua hari sehingga pakaian yang aku butuhkan tidak terlalu banyak.

“Jadi, kau benar-benar akan ke Jepang?” tanya Top saat aku mengambil tasku di counter. Entah kenapa dia selalu muncul tiba-tiba seperti ini.

“Tentu saja. Memangnya kenapa?”

“Kau bisa bahasa Jepang?”

“Jangan meremehkanku. Setidaknya aku menguasai empat bahasa asing, termasuk bahasa Jepang”

“Kau juga tidak perlu khawatir jika aku sampai tersesat. Aku punya GPS” potongku saat dia hampir membuka suara.

“Tapi ini perjalanan pertamamu ke Jepang, kan?”

“Kau ini plin-plan sekali. Kemarin kau sendiri yang memberiku usul untuk ke Jepang” kataku gemas karena melihat ekspresinya.

Dia menggaruk-garuk kepala belakangnya yang sudah tentu tidak gatal. “Kau mau ku antar ke bandara?”

“Sejak kapan kau pindah profesi menjadi supir taksi? Kau ini mirip manula yang minta diimunisasi lagi”

“Aku hanya khawatir. Kelihatannya kau tidak sehat. Wajahmu pucat dan dahimu berkeringat”

Mendengar alasannya itu, aku langsung mengusap dahiku dengan lengan bajuku “Tidak apa-apa. Mungkin efek dari begadang semalam. Aku memakai kelas bisnis, aku akan tidur sasampainya di pesawat”

“Kau yakin?”

“Banyak komentar” tukasku.

Dia mengangkat bahunya “Ya sudahlah kalau kau merasa baik”

            Sebenarnya aku memang sering merasa lemas akhir-akhir ini. Tapi aku tidak begitu mengindahkannya karena aku anggap ini adalah efek karena aku hamil. Untuk menuju bandara aku menggunakan taksi, aku tidak menerima tawaran dari Top.

_

            Berkali-kali aku mencoba untuk memejamkan mataku selama di pesawat, tapi hasilnya nihil. Goncangan saat take off membuat perutku keram dan terkadang ingin muntah. Ditambah lagi dengan landing yang cukup menimbulkan getaran hebat hingga aku harus berpegangan –tidak seperti biasanya saat aku naik pesawat-.

            Tapi itu semua tidak penting, karena yang terpenting sekarang adalah aku sudah berada di ibu kota negeri sakura. Aku memandangi langit Tokyo yang masih berwarna biru dengan seulas harapan dari senyum yang aku torehkan. Semoga hari ini adalah keberuntunganku.

“Keio Plaza Hotel” kataku pada supir taksi dengan bahasa Jepang setelah dia menanyakan tujuanku.

            Selama di perjalanan aku hanya memandangi kota asing yang baru pertama kali aku sambangi ini melalui kaca mobil. Aku merasa barisan gedung dan pohon-pohon kota yang seolah berlari dengan cepat ke arah yang berlawanan dengan laju kendaraan roda empat ini. Aku memandangi perutku, lalu mengusapnya pelan.

“Sebentar lagi kita sampai, sayang”

            Aku mengabaikan rasa nyeri yang masih bergulat di perutku sekarang. Biasanya tidak senyeri ini, tapi aku tetap berfikiran positif bahwa ini adalah tanda-tanda kehamilan seperti yang dijelaskan Lexy beberapa waktu lalu.

            Tidak butuh waktu lama untuk mencapai hotel mewah yang terletak di pusat kota Tokyo itu. Aku langsung turun dari dari taksi saat pegawai hotel membukakan pintu belakang.

“Welcome to the Keio Plaza Hotel, Mrs…” katanya mengatung.

“Lee. Mrs. Lee” jawabku.

“Mrs. Lee? That’s a good name. What kind I do for you, Mrs. Lee?” tanyanya ramah dibarengi senyuman yang wajib diberikan pada setiap tamu hotel –standart untuk hotel internasional-. Aku menenteng tas jinjingku yang tidak begitu berat sendirian.

“Oh, it’s enough. I already reserved a room here”

“Oh, okay. You can check it in the receptionist”

“Thanks”

            Aku langsung melenggang dari hadapan salah satu pegawai hotel itu setelah greeting yang harus dilakukannya menuju meja recepsionist.

“Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?” tanyanya dengan bahasa Jepang, berbeda dengan penerima tamu yang menggunakan bahasa inggris.

“Saya sudah reservasi atas nama Kim Hyosun dari Korea”

“Oh, nyonya Kim. Reservasi dari Lee Corporate? Bisa tolong tunjukan paspor dan tanda kependudukan anda?”

“Oke”

Aku mengeluarkan paspor yang pernah aku gunakan untuk pergi ke Perancis dan KTP dari dalam tas, keduanya asli dan legal. Yang aku palsukan selama tinggal di sana hanyalah dokumen kewarganegaraan sebagai warga negara tetap.

“Ini kunci kamar dan identitas anda. Semoga pelayanan kami tidak mengecewakan” dia menyodorkan barang-barangku beserta kunci kamar.

“Terimakasih”

            Kamar 515 adalah kamar dimana Donghae tinggal, sementara aku mendapatkan kamar di 426 yang letaknya satu lantai di bawah kamar Donghae. Seluruh kamar yang ada di lantai lima sudah penuh sehingga dengan terpaksa aku harus menginap di kamar yang terpisah lantai dengan kamar Donghae. Tapi itu tidak masalah. Yang terpenting sekarang adalah aku sudah sampai di sini dan akan segera bertemu dengannya.

            Aku tidak langsung menuju kamarnya, melainkan beristirahat sejenak di kamarku. Aku melepaskan sepatuku dengan asal dan merebahkan badanku di atas ranjang. Seluruh badanku terasa pegal setelah kurang lebih dua berada di pesawat. Aku memejamkan mataku.

_

            Seharusnya aku membawa koper. Sekarang aku merasa kebingungan karena opsi baju yang bisa aku pakai hanya beberapa helai. Kenapa aku sebingung ini untuk menentukan baju mana yang cocok? Aku kan hanya akan bertemu dengan Donghae, bukan presiden. Biasanya baju-baju ini selalu nyaman untuk ku kenakan. Tapi kenapa selalu saja ada kendala jika menyangkut Donghae. Rasanya tidak ada yang cocok.

            Akhirnya pilihanku jatuh pada dress pendek berwarna coklat berlengan pendek. Aku menaruhnya di tempat tidur untuk sementara karena aku harus mengeringkan rambutku terlebih dahulu dengan handuk. Aku melirik jam dinding dan waktu sudah menunjuk ke angka tujuh.

‘Seharusnya Donghae sudah selesai rapat’ batinku.

            Rambut yang biasanya aku ikat penuh ke belakang, hari ini aku gerai bebas. Aku juga memilih warna yang soft untuk memulas wajahku tapi aku tidak memakai pensil untuk menebalkan atau memperkuat lekukan alis karena alisku sudah cukup bagus tanpa harus dibentuk lagi. Aku beranjak dan memakai pakaianku setelah dandananku selesai. Tidak lupa aku menambahkan bros cabachon sedang berhias batu safir imitasi di bagian dada kiriku.

            Setelah semuanya selesai, aku menarik nafasku dalam-dalam sambil memejamkan kedua mataku. Aku berkonsentrasi dan berusaha mensugestikan bahwa ini adalah hal yang mudah. Aku mengumpulkan segenap keberanian untuk menemui Donghae malam ini. Jantungku dag dig dug, tapi aku tetap bersikukuh untuk datang ke kamarnya. Rasanya seperti mendengarkan pantulan bola yang semakin lama-semakin cepat dan tidak bisa dikontrol. Sepanjang jalan aku hanya bisa berdo’a agar tidak nervous. Aku juga berharap agar Donghae bersikap manis, setidaknya untuk hari yang ku korbankan ini. Semoga saja tidak ada kecanggungan setelah ini.

            Aku mengamati nomor-nomor kamar di lantai lima satu per satu sambil membawa bingkisan kecil di tangan kiriku. Di koridor pertama aku tidak menemukan kamar bernomor 515 dan aku harus berbelok ke kanan.

            Belum sempat aku melangkahkan kakiku satu jengkal pun, tengkukku terasa meremang karena melihat wanita yang berdiri di hadapanku sekarang. Tubuhnya tinggi dengan perawakan yang cukup proporsional. Badannya mengarah ke salah satu pintu kamar hotel di lantai ini. Aku berusaha mengabaikan pikiranku, tapi hatiku semakin lama semakin tidak bisa menyangkalnya. Tidak! Pasti bukan dia. Pasti dia hanya seseorang yang mirip dengan ‘Jessica’.

            Dia menumpangkan kue tart dengan barisan lilin-lilin kecil yang menyala dan jumlahnya lebih dari dua puluh buah di atas kedua telapak tangannya. Kemudian keluarlah sang empunya kamar setelah wanita itu mengetuk pintu kamarnya. Tubuhku benar-benar menjadi kaku saat menyaksikan pemandangan di depanku sekarang. Melihat senyum laki-laki itu airmataku langsung meleleh tak terkendali. Rasanya telingaku tuli, aku tidak mendengar apapun yang mereka bicarakan karena jarak kami yang lebih dari sepuluh meter. Laki-laki yang mengenakan jas gabrdine biru tua tidak lain adalah Donghae. Suamiku sendiri. Dia tersenyum pada wanita yang tengah mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Dan saat Donghae meniup lilin-lilin itu, rasanya seluruh harapanku langsung padam seketika. Aku menutup mulutku agar isakannya tidak keluar dan aku memilih berjalan menjauh saat wajah mereka kian mendekat. Hanya orang bodoh yang tidak tahu apa yang akan mereka lakukan. Aku tidak punya kuasa apapun untuk melabrak dan menuntut penjelasan dari mereka. Aku tidak punya kapasitas sebanyak itu. Jika aku bersikukuh untuk melakukannya, itu sama artinya aku menjatuhkan harga diriku sendiri.

            Sepanjang jalan aku hanya bisa menangis dan menangis. Rasanya sakit sekali karena pengorbanan yang aku lakukan hari ini untuk Donghae tidak ada artinya sama sekali. Sarkasme kini mengoyak-ngoyak relung hatiku hingga ke bagian yang paling dalam. Kancing baju yang ada di bagian atas gaunku seolah menjelma menjadi paku-paku karet yang ditancapkan dalam-dalam hingga aku tidak bisa menarik nafas lagi. Aku mengabaikan orang-orang yang memandangiku penuh tanda tanya. Yang aku lakukan hanyalah menangis dan berjalan semakin cepat. Sesampainya di kamar, aku langsung meraih gagang telephone dan menekan angka satu untuk dihubungkan ke bagian receptionist. Aku berusaha menekan suaraku agar terdengar biasa saja saat sambungan terhubung sambil membesut airmataku walaupun setiap usapan malah menimbulkan airmata yang jauh lebih deras dari sebelumnya.

“Hallo. Aku aku akan check out sekarang.” kataku tanpa basa basi.

“Tapi anda mem-booking kamar selama dua hari nyonya” kata suara di seberang, heran.

“Ini penting.”

“Anda tidak keberatan jika kami tetap menghitungnya penuh, nyonya?”

“Tidak masalah. Bisakah kau pesankan satu tiket pesawat ke Incheon international airport malam ini juga?”

“Baiklah jika itu yang anda mau” katanya akhirnya menyerah.

“… Oke, terimakasih” aku langsung menutup sambungan dan menjatuhkan diri di atas lantai.

            Aku menjatuhkan diriku begitu saja di atas lantai berkarpet ala timur tengah dan membenamkan wajahku di pinggir tempat tidur, berharap airmataku berhenti mengucur. Tapi hal yang aku lakukan adalah sia-sia. Airmataku terus mengalir. Seharusnya aku menyadari bahwa Jessica akan pergi ke Jepang saat dia membawa koper besar itu. Jahat sekali! Donghae sudah merencanakan ini untuk berlibur bersama Jessica di sini.

_

            Bodoh! Kenapa aku harus menangisi laki-laki yang sudah jelas-jelas tidak menyukaiku? Airmata brengsek! Memalukan, kenapa kau terus keluar? Tuhan tidak menciptakanmu untuk keluar karena alasan paling bodoh sedunia! Berhentilah!

            Semakin aku mencoba menahan airmataku, semakin susah pula aku menghentikannya. Selama di pesawat kerjaku hanya mengumpat dan mengutuki diriku sendiri dalam hati karena keputusanku untuk datang kemari. Aku tidak menoleh ke samping kanan dan kiri karena aku tidak peduli apapun lagi. Yang ada di pikiranku adalah ingin segera sampai ke Korea. Aku membenamkan wajahku di kedua telapak tanganku, badanku juga bergetar-getar karena isakanku yang terus keluar.

“Hei, nona. Are you okay?” seseorang mengoyak-ngoyak bahuku pelan, tapi aku tidak menghiraukannya.

Dari suaranya aku tahu dia adalah laki-laki. Aku terus tenggelam dalam kesedihanku sendiri. Sekali, dua kali, dan setelah kali laki-laki itu melakukan hal yang sama barulah aku menengadah.

“Apa?” aku menyalak galak pada pria flamboyan yang bisa dibilang cukup tampan itu. Pakaiannya formal layaknya manajer kantoran pada umumnya.

            Dia tidak mengatakan apapun tapi langsung meraih tanganku dan meletakkan sebuah kain yang dilipat bujur sangkar di atas telapak tanganku. Setelah itu dia menyandarkan kepala ke sandaran bangku lalu memejamkan matanya. Aku mengamati sapu tangan berwarna biru laut itu dan melihat bagian ujungnya bertuliskan nama “Siwon Choi”, kemudian memandangnya sejenak.

            Betapa bodohnya diriku, menangis di tempat umum seperti ini tanpa rasa malu. Aku meremas sapu tangan itu, kemudian setelah beberapa saat berfikir akhirnya aku mengusapkannya ke pipi kanan lalu ke kiri. Aku akan mengembalikannya saat pesawat sudah berhenti. Airmataku mungkin sudah bisa aku tahan, tapi yang ada di dalam hatiku sekarang seperti bara api yang sukar untuk dipadamkan. Sesekali airmataku masih menetes saat aku memandangi langit hitam berselimut malam. Kalau aku tidak ingat ada kehidupan di dalam rahimku sekarang, mungkin aku akan berdoa agar Tuhan menghembuskan badai yang besar hingga pesawat ini meledak di udara.

Aku memegangi perutku, rasanya sangat nyeri setelah pesawat lepas landas lebih dari sejam yang lalu. Kenapa ini? Kenapa sakit sekali? Dan semakin sakit ketika guncangan terjadi akibat landing-nya pesawat hingga aku menutup mataku rapat-rapat dan menggigit bibir bawahku. Aku terus memegangi perutku dan rasanya keringat dingin kian mengucur di dahi, tengkuk dan punggungku. Rasanya kepalaku turut berkunang-kunang, tapi aku masih tersadar hingga pesawat benar-benar berhenti.

“Ini milikmu. Terimakasih” kataku pada pria bernama Choi Siwon –menurut nama yang tertera di sapu tangannya- itu saat dia membuka mata.

“Kau tidak apa-apa? Wajahmu pucat sekali” dia meraih sapu tangan yang basah itu.

“Aku hanya kurang istirahat. Kalau kau tidak keberatan, aku ingin mengambil tasku”

“Oke”

            Aku berdiri terlebih dulu walaupun rasanya sempoyongan untuk mengambil tas yang ada di bagasi atas. Tapi aku masih bisa berpijak di atas kakiku sendiri.

“Pakai ini.” Dengan cekatan Siwon menutupi tubuh bagian belakangku dengan coat coklat yang dipakainya. Aku menoleh dan menatapnya bingung.

“Kau sedang datang bulan?” bisiknya di telingaku.

Mendengar itu rasanya kepalaku seperti habis dipukul oleh palu hingga seluruh isinya berceceran ke lantai. Aku memandanginya tak percaya. kemudian dengan ragu-ragu, aku meraba pahaku yang terasa basah. Ada sesuatu yang mengalir. Aku mengangkat tanganku dan menemukan zat cair berwarna merah gelap di ujung-ujung jemariku. Aku menggeleng keras agar yang ku lihat ini adalah halusinasi dan saat aku mencoba mengangkat kepalaku untuk melihat pria itu lagi, semuanya menjadi kabur lalu berubah menjadi gelap dalam hitungan detik. Aku sempat mendengar suara yang samar-samar yang bersahut-sahutan hingga suara itu semakin lama semakin pudar. Aku tidak bisa merasakan tubuhku lagi.

_

            Aku mengamati ruangan berbau obat-obatan dan bercat putih terang ini selama beberapa menit. Aku tidak tahu siapa yang membawaku sampai ke sini. Pergelangan tanganku sudah tersalur dengan infus dan bajuku juga sudah diganti dengan seragam pasien rumah sakit. Aku cukup sadar dimana aku berada sekarang. Saat pintu ruangan ini terbuka, aku langsung menoleh dan mencoba untuk mendudukkan badanku.

“Nona, kau sudah sadar?” tanya pria itu. Pria yang duduk di sebelahku saat berada di pesawat. Dia meletakkan jas-nya di kursi kecil yang ada di ruangan ini kemudian mendekatiku.

 “Apa yang terjadi?” tanyaku datar dengan mengabaikan pertanyaan-pertanyaan lain yang bermunculan di otakku. Airmataku meleleh pelan tanpa alasan. Tapi aku tahu sesuatu yang buruk telah menimpaku.

“Kau pingsan saat di pesawat dan aku membawamu ke sini”

“Apa yang terjadi?” tanyaku lagi dengan nada yang sama.

“Oh, iya. Aku juga minta maaf karena aku tadi mengotak-atik ponselmu. Aku menghubungi contact name Cho Kyuhyun dari sana karena dia orang terakhir yang kau hubungi. Dia dalam perjalanan kemari. Dia kakakmu kan?” katanya berusaha mengalihkan perhatian.

“Katakan padaku, apa yang terjadi?!” bentakku karena dia tidak mau menjawab pertanyaanku. Sejujurnya aku merasa sangat takut dengan pertanyaanku sendiri. Jemariku bergetar dan airmataku menetes lagi. Aku merasa ada yang hilang, sesuatu yang penting. Aku ingin mengatakan sesuatu itu, tapi tenggorokanku tercekak. Aku masih berharap bukan hal itu.

“Kau mengalami pendarahan, tapi kau tidak perlu khawatir karena kau baik-baik saja” dia ragu saat memberi jawaban.

“Pendarahan?” ada sekilas bayangan yang berkelebat di otakku. Aku mengingat darah berbau anyir di ujung-ujung jemariku kala pesawat telah sepenuhnya berhenti.

“Iya. Tapi kau baik-baik saja. Tenanglah. Keluargamu juga sebentar lagi akan datang”

“Bagaimana dengan…” kataku terpotong. Aku berusaha menelan ludah yang rasanya seperti lem lengket hingga aku susah untuk meloloskannya dari tenggorokan.

“Dengan kandunganku…” lanjutku. Aku tidak mengerti kenapa airmataku kian membanjir saat menyebutkan potongan kalimat terakhirku. Rasanya ada jarum-jarum kecil yang menusuk-nusuk jantungku hingga dadaku dan ada sebuah tambang kecil yang mengikat batang paru-paruku hingga dadaku sakit dan sesak.

“Kandunganmu…” suaranya ragu-ragu dan terputus oleh satu suara yang tidak asing di telingaku.

“Hyosun! Kau tidak apa-apa?” seru kakak angkatku yang langsung berlari mendekat, dia sendirian.

“Oppa…” kataku lemah.

“Tidak apa-apa. Semuanya akan baik-baik saja, Hyosun”

            Aku menangis sekencang-kencangnya ketika dia memelukku. Aku tidak bodoh, aku tahu apa yang terjadi dari kontak mata antara Kyuhyun dan Siwon, serta raut kecemasan dari semua wajah yang ada di ruangan ini.

“Katakan, apa yang terjadi?” isakku sambil menarik-narik kemejanya hingga kusut. Aku masih menangis dan dia semakin memelukku erat ketika aku mencoba untuk meronta.

“Tenanglah. Semuanya akan baik-baik saja” dia mengelus-elus puncak kepalaku.

“Katakan, oppa. Katakan semua ini tidak benar”

            Nyatanya aku tidak merasa baik-baik saja. Airmataku tidak mau berhenti. Aku semakin terisak saat menyaksikan diamnya orang-orang di ruangan ini dan rasa prihatin yang mereka berikan. Sesuatu memang tidak perlu dikatakan agar kita mengerti dengan sendirinya. Aku tahu, aku ‘keguguran’.

_

            Aku duduk di atas kasur dan menyandarkan punggungku ke tumpukan beberapa bantal sambil memandang ke luar jendela dengan tatapan kosong. Aku pikir setelah membuka mata, aku sedang berada di kamarku dan semuanya berjalan seperti biasa. Tapi ternyata tidak. Kenyataan ini memang pahit. Tidak ada pecahan gelas yang bisa hubungkan kembali jika semuanya sudah berceceran di atas lantai karena terjatuh. Semuanya hilang dan saat itulah khayalan-khayalan indahku lenyap dalam sekejap. Airmataku menetes pelan.

            Aku menimang-nimang ponselku, kemudian menekan tombol gagang telephone berwarna hijau saat menjelajah di contact name.

“Hallo, Top” sapaku dengan suara yang masih bergetar saat sambungan terhubung.

“Hyosun. Hei, kau tidak jadi berangkat ke Jepang? Nomor ponselmu masih nomor lokal” tanyanya bersemangat. Dia tidak tahu apapun yang telah terjadi padaku.

“Top, Jangan mengatakan pada siapapun kalau aku pernah ke Jepang. Terutama pada Donghae” kataku dingin.

“Tunggu. Kau kenapa? Kau habis menangis? Suaramu terdengar aneh di telingaku”

“Aku mohon jangan katakan pada siapapun tentang kepergianku ke Jepang. Kau bisa melakukannya?” aku menyeka airmata di pipi kiriku.

“Katakan padaku, apa yang terjadi?”

“Berjanjilah, Top. Jangan katakan apapun…” aku terisak mengingat kejadian di hotel waktu itu, ditambah lagi hal buruk yang menimpaku hari ini.

“Hyosun! Hyosun! Apa yang…” teriaknya, tapi aku langsung memutus sambungan ketika dia mau menanyakan lebih lanjut lagi. Aku membiarkan benda elektronik itu jatuh begitu saja dari tanganku.

            Aku menekuk kakiku hingga aku bisa memeluk keduanya dengan lengan-lenganku yang sebenarnya sudah lemas. Aku menundukkan kepala, membiarkan dahiku beradu dengan lutut untuk beberapa saat dan mengabaikan tetesan-tetesan air asin yang membasahi kainku sekarang. Suasana pagi yang seharusnya menjadi penyemangat baru, kini selalu membuatku terbayang-bayang pada kenyataan yang sesungguhnya.

“Nona” suara itu lagi. Dia menggoyang-goyangkan lenganku seperti saat di pesawat.

“Aku harus pergi sekarang. Aku harus menyelesaikan satu kasus penting yang dialami temanku. Aku sudah sangat terlambat sekarang” dia memakai jas-nya yang ada di bangku. Apa semalaman dia menginap di sini?

“Oh, iya. Ini untukmu saja” dia meraih telapak tanganku dan memberikan sapu tangan itu lagi.

            Kemudian dia pergi meninggalkanku, menghilang di balik pintu. Tidak lama setelah itu, Kyuhyun masuk ke ruangan ini. Dia mencoba tersenyum walaupun dipaksakan. Aku tidak mengeluarkan suara satu kali pun setelah mendengar kenyataan yang disampaikan langsung oleh dokter jaga tadi malam.

“Pria itu baik sekali. Dia ikut menemaniku semalaman di sini” Kyuhyun mengecup puncak kepalaku, tapi aku masih diam tanpa suara.

“Oh, iya. Nenek Donghae dan Victoria sudah pulang. Mereka akan kembali lagi nanti. Ibu mertuamu akan menggantikan pekerjaan Donghae di Jepang. Mungkin beberapa jam lagi Donghae akan sampai ke sini”

“Oppa, bawa aku pulang” kataku untuk pertama kalinya setelah diam dalam waktu yang cukup lama.

Aku tidak berbicara apapun pada siapa saja yang ada di ruangan ini sejak semalam, bahkan pada Nenek Donghae maupun orang tua angkatku sendiri. Aku tidak menjawab pertanyaan apapun yang mereka berikan. Dan aku rasa pria bernama Siwon itu juga tidak mengatakan apapun tentang perjalananku dari Jepang, karena aku memintanya untuk diam.

-TBC-

Halo, apa kabar?

Bacanya sambil buka puasa atau sahur nih? Ati-ati, keselek sendok kalau bacanya sambil makan XD Kalau masih ada yang bilang chapter ini kurang panjang aku timpukin pake duit selembar-selembar deh wkwkwk /ngefet dulu. Kan aku udah bilang, jangan keasikan baca yang ada malah kalian bilang kurang panjang.

Oke, aku jelasin peran Siwon di sini. Dari awal Siwon emang udah mau aku masukin cast, tapi karena belum waktunya keluar aku gak pernah nulis namanya. Bahkan dulu aku mau masukin dia buat meranin karakter Donghae. Rrrr tapi berhubung aku diiming-imingi Donghae bisa foto bareng sama Justin Bibir, makanya aku pakai dia deh sebagai cast utama /efectpuasa=nglantur /abaikan. Jadi setiap karakter di sini gak ada yang ditambah-tambahi atau dikurang-kurangi:D You know what? Aku hampir Ilfeel buat masukin Siwon gara-gara teaser. Tapi mau gimana lagi gak ada yang se-charming dia, yaudah akhirnya aku tetep jadiin dia sebagai cast. Ehhhhhhhhhh, ternyata MV /akeakukehabisankata-kata. Gak jadi Ilfeel deh wwkwkwk *ngomongapaansihini

 Yang terakhir:

NO BASHING!!!! Kalau ampe aku nemuin satu komen pun yang nge’bash cast di FF ini, aku bakalan protect lagi kelanjutan FF ini. Kalau sekedar bilang “Sebel sama Jessica di sini” masih aku tolerir deh tapi kalau udah menjurus dengan menjelek-jelekkan cast, aku gak mau…

Oh, iya mau nanya. Ada yang nangis ga????? LOL

LUVE U ALL:D

PS:

  • Untuk sementara blog pribadiku aku protect karena alasan yang tidak bisa aku sebutkan XD
  • Wanita hamil yang usia kandungannya belum mencapai trimester 2 dianjurkan untuk tidak naik pesawat karena dikhawatirkan akan keguguran
Advertisements

379 responses to “Let’s Make a Baby [Chapter-12]

  1. Sudah kuduga keguguran kenapa ? Karena stress? Aku fikir nanti jg donghae tau dari sekertarisnya kl dia kejepang. Eiii kenapa ff ini nguras hati banget si jujur aja si aku neting pertama tama sm ff ini karena judulnya tp aku jg heran knp bnyk yg rekomen ternyata ga salah daebakkk bngt!

  2. ya ampun buat donghae sadar dan tahu sedikit dong soal perjuangan hyoaun ke dia. kasian hyoaunnya tersakiti terus.

  3. Ya ampun nyesek bgttt..
    Eotthokhe?air matany gk brnti kluar…gk bs ngbygn kl aq ada d posisi hyosun..mending hyosun pisah aja dh ma donghae,drpd skt ht trs..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s