7 YEARS WITHOUT UR LOVE I

Author : Ocha Syamsuri

Cast : Han Chaeri

Cho Kyuhyun

Support cast : Lee Eunhye

Genre : Romance, Angst

Rating : BO (Bimbingan Orang Tua), PG-12

Disclaimer : semua cerita hanya karangan aku, hanya imajinasi aku sebagai fangirl yang cuma bisa ngayal aja. so, just for fun guys

Poster and Thank’s To : Rara a.k.a cutepixie

“Beginilah aku, aku hidup dengan segala resiko yang akan kutanggung. Selama itu demi kebaikanmu, aku menerimanya dengan senang dan lapang dada.” –Ocha Syamsuri

****

7 YEARS WITHOUT UR LOVE

****

Jalanan ini masih sama seperti pertama kalinya aku menginjakkan kakiku di kota ini. Toko-toko yang berjejer di sepanjang jalan juga masih sama seperti tiga tahun yang lalu, paling hanya perubahan kecil itu pun tidak terlalu menunjukkan perubahan yang terlalu signifikan. Seperti toko yang menjual makanan khusus daerah Mokpo yang terletak sekitar sepuluh meter dari sini, toko yang menyediakan berbagai pakaian serba murah yang letaknya empat toko dari sini.

Semua masih sama, tidak ada yang berubah.

Semua tidak berubah? Tidak juga. Ada sesuatu yang berubah, sesuatu yang jika tidak dapat dirasakan oleh pancaindera, hanya bisa dirasakan bila kau mempunyai rasa yang sama. Ya, hatiku yang berubah. Di dalam sini rasanya sangat sunyi dan hampa. Tidak ada lagi jantung yang berdebar keras saat kulitnya menyentuh kulitku, tidak ada lagi rasa amarah yang memuncak saat ia memandangi dan menikmati keindahan yang dipunyai oleh makhluk berjenis kelamin wanita lainnya.

Semua rasa itu tergantikan dengan rasa rindu yang membuncah kalbu, rasa penyesalan serta rasa amarah yang begitu bergelora sehingga aku sulit membedakan apakah aku merasa sakit atau malah merasa patut dikasihani.

Bagaimana pun juga aku tetap lah manusia biasa. Aku tidak bisa seperti malaikat yang hatinya terlalu baik, tapi aku juga bukanlah seorang iblis yang mempunyai rasa amarah terus menerus. Setidaknya aku tidak ingin cinta ini habis terbakar karena digerogoti rasa kecewa dan amarah.

Apakah aku termasuk wanita bodoh?

Atau aku malah sudah menjadi wanita yang naïf?

****

”Ddubokki tiga di meja tiga belas,” teriak Park ahjumma dari luar, aku segera mencatat pesanan dan memberikan catatan tersebut ke chef atau karyawan yang bertugas untuk memasakkan pesanan pelanggan.

Restoran ini menjual makanan khas rakyat Korea, letaknya yang sangat strategis, yaitu berada di pertigaan jalan menuju Hongdae –distrik tebesar yang menjual berbagai pernak-pernik sekaligus surganya tempat belanja para turis local maupun mancanegara. Di hari-hari sibuk seperti ini, restoran Park ahjumma ramai dikunjungi para turis mancanegara yang ingin mencicipi makanan asli rakyat Korea, walaupun kebanyakan para konsumen yang singgah di restoran yang sudah berdiri sejak lima belas tahun yang lalu ini adalah para turis mancanegara, masyarakat lokal juga tak kalah ramainya singgah di restoran ini. Malah di malam hari penghujung hari, restoran ini dipenuhi masyarakat lokal.

Satu bulan lagi genap satu tahun aku bekerja di restoran ini. Mungkin aku termasuk salah satu orang yang beruntung karena bisa bekerja di restoran ini, selain karena kebaikan hati pemilik restoran ini, ini juga berkat pertolongan sahabatku –Lee Eunhye.

Juga karena pertolongan dia lah, sampai akhirnya aku bisa memperoleh kerja dan mendapatkan tempat yang layak untuk menghindari dari serangan matahari yang begitu menggila dan mengistirahatkan tubuhku di malam hari.

Pertama kali aku menjejakkan kakiku di kota Seoul sekitar satu tahun tiga bulan yang lalu, ketika itu aku yang hanya tamatan sekolah menengah –itu pun beralmamaterkan sekolah yang berada di daerah pinggiran– dengan kenekatan mencapai titik teratas aku datang ke Seoul sendirian. Tanpa saudara yang menampungku, serta tanpa biaya akomodasi yang memadai. Aku hanyalah seorang wanita –Busan yang miskin, tujuanku ke Seoul pun hanya karena aku merindukannya. Ya, alasanku satu-satunya datang ke Seoul hanya karena dirinya, pemilik sah sisa hidupku.

Biarpun aku tidak berharap bisa bertemu dengannya lagi, aku hanya berharap aku bisa menghirup udara ditempat yang sama dengannya, walaupun itu berjarak berpuluh kilometer.

Dan juga dengan berada di satu kota yang sama, aku bisa leluasa memandangi wajahnya yang selalu menghiasi papan reklame dan juga di majalah-majalah terkenal lainnya.

Sebenarnya aku bisa langsung menemuinya, berdekatan dengannya dan juga berinteraksi langsung dengannya. Namun, aku tidak bisa, bukan tidak bisa namun tidak akan pernah bisa. Dunia yang mengitarinya dan dunia yang mengitariku begitu jauh berbeda.

Bagaimana jika ia memilih untuk berpura-pura tidak mengenaliku? Atau bagaimana jika ia benar-benar telah melupakanku? Tentunya aku tidak ingin sakit hati menerima kenyataan itu, lebih baik aku memandanginya dari jauh, memastikan jika ia hidup baik-baik saja, ketimbang bertemu dengannya namun hingga akhirnya aku sendiri yang akan menanggung malu.

”Chaeri-ya, kau boleh pulang sekarang. Wajahmu begitu pucat, istirahatlah. Besok pagi kau bisa kemari,” Park ahjumma berkata dari dalam dapur, aku mengambil sisa piring dari meja lalu menuju ke dapur, mengantarkan sisa pekerjaanku. ”Kau tampak lelah sekali, istirahatlah. Pulihkan tenagamu.”

Aku tersenyum, melepaskan celemek yang membalut tubuhku seharian ini dan menaruhnya di loker karyawan yang letaknya di dalam dekat ruang istirahat para karyawan. Setelah berpamitan dengan para karyawan restoran dan Park ahjumma, aku melangkahkan kakiku keluar dari restoran dan menuju ke halte bus yang letaknya lima menit dari restoran tempatku bekerja. Aku sengaja menghitung waktu jarak antara restoran dengan halte bus, dengan begini aku bisa mengatur waktuku serta memperkirakan apa yang bisa kulakuan dan tentunya tidak akan membuatku terlambat ataupun menunggu bus terlalu lama. Bukankah itu lebih efisien dan cermat? *)

Aku mengambil alat pemutar musik di dalam tas, meluruskan tali earphone yang berbelit karena tadi pagi aku memasukkan alat pemutar musik  kedalam tas dengan terburu-buru sehingga menyebabkan talinya terbelit. Kemudian aku memasang earphone ke dalam telingaku lalu memutar lagu secara acak. Lagu pertama yang terputar adalah lagu ballad dari penyanyi solo yang berasal dari Negara latin. Aku tidak begitu hafal apa judul lagu ini, namun dari suaranya yang khas aku bisa menebak jika pemilik suara itu adalah si tampan Taylor Swift (?)

Lima menit aku menikmati lagu dari alat pemutar musik, bus yang kutunggu tiba. Pintu bus terbuka, aku masuk dan menempelkan kartu ke alat sensor. Aku memilih duduk di bangku paling belakang, dan menyenderkan kepalaku ke samping jendela bus. Mataku tak lepas dari foto-foto seorang pria yang tersebar di papan reklame di atas gedung-gedung yang berdiri kokoh di sepanjang jalan. Pria itu semakin tampan saja dengan balutan jas mahal buatan desainer terkenal. Senyumnya yang terkesan angkuh semakin menyempurnakan sosok fisiknya.

Kharisma yang dimiliki pria itu masih sama seperti dulu. Lirikan serta senyumannya tetap saja sangat ampuh membuat jutaan wanita bertekuk lutut. Dan aku senang menyadari jika semakin hari pria itu semakin bahagia dan hidup dengan segala kesuksesan.

”Oppa, aku kerja saja ya? Aku tidak ingin melihatmu terlalu lelah. Lagipula aku bosan berada di rumah terus,” aku menatap wajah tampan pria itu dengan pandangan penuh permohonan, dengan harapan agar pria tampan yang tinggi badannya melebihi tinggi badanku ini bisa memenuhi permintaanku. Namun aku menghela nafasku kecewa saat pria itu menggelengkan kepalanya.

Lagi, dia menolak permintaanku.

”Aku tidak suka kau  terlalu banyak berhubungan dengan lawan jenismu,” Lagi-lagi ia melontarkan alasan yang ampuh untuk menolak semua permintaanku. Laki-laki ini lebih senang aku berdiam diri dirumah ketimbang berada seharian diluar.

”Tapi oppa,”

Ia menggelengkan kepalanya lagi, ”Aku lebih suka disaat aku pulang dalam keadaan lelah istriku menyambutku dengan wajah penuh senyuman dibandingkan hidup senang namun setiap hari dipenuhi dengan pertengkaran.”

”Ah, dan melayani ditempat tidur. Bukankah begitu maksudmu oppa?”

Ia terkekeh lalu mengerlingkan matanya. Dasar !

Airmata ini lagi-lagi menetes dan tidak bisa aku tahan. Kenangan-kenangan itu juga masih tetap bertahan di hati dan pikiran ini, semua sama, tidak ada berubah. Aku senang kenangan-kenangan ini tidak luntur dengan mudahnya, setidaknya melalui kenangan-kenangan ini lah aku bisa merasakan kehadirannya  yang menguatkan aku jika aku mampu hidup dan bernafas di tempat yang sama namun jauh darinya.

Dan juga kenangan-kenangan itu mengingatkan aku jika aku tidak boleh berhenti mencintainya.

****

Aku mendesahkan nafasku berat melihat tumpukan tagihan yang tergeletak didepan rumah kecil yang telah kutempati setahun belakangan ini. Aku memunguti tumpukan surat lalu masuk kedalam rumah. Kutaruh tumpukan surat itu keatas meja kecil di dekat pantry dan aku duduk di sofa, menyenderkan kepalaku di pinggirannya. Aku memijat dahiku yang terasa berat sampai suara ponselku berbunyi. Aku mengabaikan panggilan yang masuk kedalam ponselku namun ketika ponsel-ku berbunyi lagi untuk ketiga kalinya barulah aku memutuskan untuk mengangkatnya. Menurut prinsipku, jika seseorang menelpon sampai tiga kali, pasti ia hendak menyampaikan sesuatu yang mendesak. Aku tersenyum saat melihat siapa yang menelponku dari layar ponsel.

”Apa kau merindukanku? Apa kau tidak bisa tidur karena merindukanku?” belum apa-apa orang yang menelponku sudah menyerangku dengan pertanyaan bodohnya.

”Tentu saja aku merindukanmu Lee Eunhye,” aku benar-benar merindukan sahabatku ini. Tiga bulan berpisah darinya membuat hidupku yang hambar semakin hambar saja, karena dia lah orang lain yang sering menemani hari-hariku. Terkadang ia membantuku bekerja di restoran agar aku bisa pulang lebih cepat dan tentu saja agar bisa menemaninya pergi berbelanja atau kemanapun.

”Apa urusanmu di Kanada sudah selesai?” tanyaku lagi.

”Sedikit lagi, mungkin minggu depan aku sudah bisa pulang ke Korea. Chaeri-ya, sepulang aku ke Korea nanti temani aku mencari gaun pengantin ya.”

Mataku otomatis membulat lalu senyumku mengembang, ”Kau akan menikah? Hei, kenapa kau baru bilang padaku? Nappeun yeoja.”

Ia terkekeh, jelas sekali ia tertawa puas di ujung telepon sana, ”Semalam eommonim baru saja melamarku di depan orang tua-ku. Kau tahu Chaeri-ya, aku senang sekali sekarang ini,” lalu ia mendesah, ”Coba saja saat ini aku ada di Korea, kita pasti akan berteriak bersama-sama.”

”Aku senang mendengarnya Eunhye-ah. Tapi ngomong-ngomong, tanggal pernikahan kalian sudah ditetapkan?”

”Kata eomma mungkin sekitar awal musim dingin.”

”Awal musim dingin? Berarti tiga bulan lagi?”

Ia tertawa kecil, ”Ne, dan tiga bulan lagi aku akan menjadi istri dari pria itu.”

”Tapi sebelum itu kau kenalkan kepadaku dulu calon suami-mu itu. Kau sudah setahun bertunangan dengannya namun kau tidak pernah mengenalkannya kepadaku.”

”Aku mengerti, setiba disana aku akan mencoba meluangkan waktu agar kau bisa berkenalan dengan calon suami sahabat baikmu.”

Lalu percakapan mengenai calon suami sahabatku itu terjadi sepanjang satu jam lamanya. Jika berbicara mengenai calon suami-nya itu, ia tidak henti-hentinya memuji kesempurnaan calon suami-nya itu. Aku menjadi sangat penasaran dengan sosok asli calon suami sahabatku itu. Apa laki-laki itu sama sempurnanya dengan yang ia ceritakan selama ini? Atau malah sebaliknya?

****

Aku menggeliatkan tubuhku di atas sofa yang berada di dalam ruang istirahat karyawan restoran tempatku bekerja. Hari ini aku kebagian shift dari pagi hari, dan setelah bekerja tanpa henti selama empat jam akhirnya aku mendapatkan waktu dua puluh menit untuk meluruskan tubuhku dan mengisi tenagaku.

Sekarang ini adalah musim panas, dan di musim seperti ini banyak sekali turis mancanegara yang mampir ke restoran. Dan di waktu seperti ini aku harus bekerja dua kali lipat dari karyawan lainnya, karyawan lainnya tidak lancer berbahasa inggris, dan mau tak mau aku menggantikan mereka dalam mencatat pesanan serta melayani mereka semua sekaligus. Lelah memang, namun itu sebanding dengan gaji yang kuterima di akhir bulan, aku juga sering mendapatkan bonus dua kali lipat dari biasanya. Ya, seperti yang sudah kusebut sebelumnya, aku termasuk salah satu wanita yang beruntung bukan?

Pintu ruang istirahat terbuka lebar, Jang Hyeri – salah seorang karyawan restoran– tiba dari balik pintu, ia mendekatiku lalu duduk di sampingku. Ia meregangkan tubuhnya sampai timbul bunyi yang dihasilkan oleh gerakan-gerakan tulang punggungnya.

Aku mengernyitkan keningku menatap pola laku wanita di sampingku ini, tidak biasanya ia berkeluh kesah seperti ini, ”Kau kenapa Hyeri-ah? Apa kau sedang ada dalam masalah?”

Ia menggeleng, ”Ani, aku hanya kelelahan. Semalam aku hanya tidur tiga jam saja,” Hyeri memijat tengkuknya, ”Aigoo~ rasanya tulang-tulang yang ada dibadanku mau copot semua.”

Aku terkekeh dan mendorong dahinya dengan jari telunjukku, ”Kau pasti habis berkencan dengan Joonie oppa-mu itu kan?”

Hyeri mengulum senyumnya malu, ”Wae? Kau iri huh? Makanya cari pacar?”

”Ya, aku sudah menikah. Mana mungkin aku melirik laki-laki lain.”

Ia mencibirkan bibirnya yang menurut-ku sangat-tidak-seksi, ”Suami? Cish, kau pasti berbohong. Kalau kau memang benar telah menikah, ayo tunjukkan siapa suami-mu itu. Atau jangan-jangan kau hanya berkhayal saja?”

Aku mendorong kepalanya lagi, kali ini disertai dengan jentikan jariku di dahinya, ”Ya! Kenapa kau malah menjentikan jarimu? Aishh~ jinjja,” sungutnya sembari mengusap dahinya.

”Aku serius, aku sudah menikah sejak tujuh tahun yang lalu.”

”Arra, kau memang sudah menikah. Tapi mana suamimu? Aku ingin lihat,” tantangnya.

Aku diam sebentar lalu menarik nafasku, aku menunjuk wajah seorang laki-laki yang kebetulan muncul di layar televisi, pandangan mata Hyeri mengikuti arah jariku, dan sedetik kemudian ia tertawa keras.

”Ya~ Han Chaeri! Kau pikir aku ini anak kecil yang mudah dibohongi huh?”

”Aku serius, laki-laki itu memang suamiku,” ujarku.

”Arra, arra,” Hyeri memutar bola matanya, ”Jadi suamimu itu Cho Kyuhyun heh?” dan ia tertawa lagi.

Aku hanya tersenyum lirih melihat reaksi Hyeri, ternyata apa yang kutakutkan selama ini ada benarnya juga. Hyeri saja tidak mempercayai ucapanku, apalagi laki-laki itu.

Saat aku dan Hyeri sedang asyik-asyiknya menonton siaran musik sedang menayangkan penampilan boyband dengan anggota terbanyak di dunia suara gaduh yang berasal dari langkah kaki seseorang datang mendekati kami. Lee Hongki –karyawan restoran yang menangani bagian kasir– dengan tergesa-gesa menarik tangan Hyeri.

”Yak~ appo. Kenapa kau menarik tanganku?” Hyeri menarik tangannya kembali dan mengusapnya pelan, ”Aish, untung saja tanganku tidak terluka. Ya! Katakan ada apa?”

Hongki mengatur nafasnya yang tersengal, ”Itu, ada pria super tampan di luar sana.”

Kulirik reaksi Hyeri yang tampak datar-datar saja, tidak seperti biasanya jika ia mendengar kata ‘pria tampan’. Ternyata pengaruh Joonie oppa-nya memberi efek yang baik juga bagi dirinya.

”Lalu apa hubungannya denganku Lee Hongki?” sahut Hyeri kesal.

”Tapi itu bukan pria tampan yang biasa Hyeri-ya, itu pria tampan yang kau gilai itu.”

”Pria tampan yang aku gilai? Nugu?” Hyeri terdiam, dan tiba-tiba ia berteriak, ”Maksudmu pria tampan yang sering muncul di tivi itu?”

Hongki menganggukkan kepalanya, ”Ne, yang itu.”

”Ayo kita berikan layanan ekstra kepadanya,” kali ini gantian Hyeri yang menarik tangan Hongki dengan penuh semangat. Aku menggeleng melihat kelakukan mereka berdua, dan aku tidak bisa membayangkan jika mereka berdua sampai berpacaran.

”Chaeri-ya, kau tidak ikut?”

”Ani, aku ingin istirahat sebentar lagi,” jawabku cepat, ”Dan tolong tutup pintunya Hyeri-ya.”

”Oppa, ada bintang jatuh. Apa permintaanmu?”

”Kalau disebutkan, tidak akan terwujud Chaeri-ya”

”….”

”Lalu apa permintaanmu?”

”Bukankah kata oppa tidak boleh disebutkan?”

”Aku meminta agar kau tidak pernah bosan bersamaku, agar cintamu tidak pernah luntur, dan aku juga meminta supaya istriku tidak cerewet dan tidak menjambak rambutku lagi, agar aku bisa hidup tenang sampai tua tanpa takut kepalaku menjadi botak.”

”Ya, permintaan macam apa itu? Dan siapa bilang aku cerewet huh? Aku hanya memberitahu jika kau melakukan kesalahan.”

”Ya Tuhan, apa salah hambamu yang tampan ini sehingga mempunyai istri yang sangat cerewet dan suka mengomel.”

”OPPA!!”

”Yak~ Han Chaeri! Berhenti-menjambak-rambut-ku!!”

Aku terkekeh ketika kenangan itu melintas di benakku. Dan kekehan itu semakin lama memudar dan digantikan dengan isakan kecil. Sial, aku menangis lagi. Selalu seperti ini.

”Ya~ kenapa hanya ada sayur di atas meja? Memangnya suami-mu yang tampan itu seekor Dinosaurus huh?”

”Dinosaurus tidak makan sayur oppa. Dan sayur itu bagus untuk kesehatanmu.”

”Cish, teori macam apa itu? Yang bagus untuk kesehatanku itu saat kita di atas ranjang semalaman, bukannya malah menelan makhluk hijau ini.”

”Makhluk hijau itu mengandung banyak vitamin oppa.”

”Tetap saja aku tidak mau memakan-nya. Cepat ganti atau sebagai ganti makan malamku, kau harus menemaniku semalaman di atas ranjang kita yang empuk, hahahaha.”

”Ya! Dasar mesum!”

”Ayolah Han Chaeri-ku tercinta, bukankah kau ingin juga?”

”OPPA!”

”Hahahaha”

Ya Tuhan, hanya kau lah yang mengetahui betapa aku merindukan pria itu. Dan rasa rindu ini sangat menyiksaku, mengikis dan mengiris hatiku yang pilu karena hampir mati merindukannya.

Dengan cepat aku menghapus sisa-sisa airmataku saat pintu terbuka lebar dan Hongki masuk dengan tergesa-gesa. Ada apa lagi dengannya kali ini?

”Chaeri-ya, kau harus menolong kami. Pria tampan itu,”

”Pria tampan apa?”

”Aishh~ tidak banyak waktu menjelaskannya. Yang pasti kau harus menolong kami, jika tidak kita semua akan menjadi pengangguran.” Keringat yang mengalir di dahi Hongki semakin banyak, ini sudah menjadi kebiasaan lelaki ini, jika ada sesuatu yang membuatnya gugup, maka ia akan mengeluarkan keringat yang berlebih.

Hongki menarik tanganku menuju ke dapur, sesampainya di dapur aku bisa melihat Hyeri dan Park ahjumma yang mengintip ke depan dari balik dapur. Aku mendekati mereka dan bertanya apa penyebab sehingga mereka ketakutan dan cemas seperti ini. Hyeri menoleh kearahku dan menjelaskan apa yang terjadi. Rupanya pelanggan yang mempunyai wajah super tampan –menurut penjelasan Hyeri– menolak semua makanan yang disuguhkan dan bersikeras jika rasa yang ada di makanan itu berbeda dengan rasa yang ia makan sebelumnya, padahal makanan yang disuguhkan itu sama persis dengan pesanan pria itu.

”Kalau begitu usir saja dia ahjumma. Merepotkan saja,” sungutku dan mendapatkan sebuah pukulan di kepalaku, Park ahjumma mempelototiku.

”Apa kau tahu akibatnya hah dengan restoran kita? Kita semua akan kehilangan pekerjaan.”

Park Young-Ah, anaknya Park ahjumma kembali kedapur sambil menekukkan wajahnya. Semua karyawan restoran tiba-tiba menghela nafasnya dengan kecewa. Aku melirik laki-laki yang duduk memunggungi kami, dari postur tubuhnya aku bisa menebak betapa tampannya pria itu. Pantas saja Hongki tiba-tiba heboh sendiri dengan kehadiran pria tampan itu.

”Ya, bagaimana ini? Semua masakan yang kita suguhkan ditolak mentah-mentah,” ujar Park ahjumma cemas. Sekali-kali ia meremas tangannya dan menggigit bibirnya sendiri.

Tiba-tiba Hongki melirikku, dapat kurasakan jika itu bukanlah ide yang baik. Pasti ada sesuatu di balik lirikan pria ini.

”Chaeri-ya, ayo layani tuan itu,” ujar Hongki melalui bahasa matanya, aku menjawabnya dengan bahasa mata juga, ”Shireo! Lebih baik kau saja. Aku tidak ingin terkena imbas,”

Hongki mempelototiku dan mengancamku dengan gerakan bibirnya yang menunjuk ke arah pria itu, ”Aishh, kau lama sekali,” kesalnya dan mendorongku kedepan. Aku ingin berbalik dan berniat memukul kepalanya yang menyebalkan itu namun aku sudah terlanjur dekat dengan pria-tampan-tapi-cerewet-dan-suka-memilih-makanan itu.

Aku mengambil memo dan pena dari saku celemek yang ku pakai, aku melirik ke dapur dan kulihat mereka semua membuat gerakan tangan seakan-akan mengucapkan ‘hwaiting’ kepadaku. Aku melemparkan tatapan tajamku ke pria yang sudah mendorongku kesini, Lee Hongki akan ku kunyah rambut pirangmu itu!

Aku mendekati pria itu secara perlahan dan berdeham, seraya mengatur pita suaraku, bagaimana pun aku harus menjaga wibawa suara (?) kan di hadapan pria tampan ini?

”Maaf tuan, tapi sebenarnya anda ingin memesan apa?” tanyaku ramah.

Pria itu mendecak kesal, ”Sudah kubilang kalau aku memesan…” ia terdiam, ”Han Chaeri?”

Pena dan memo yang kupegang terjatuh ke lantai, seketika udara di sekitarku tidak mengalir dan memusatkan pikiranku ke pria di hadapanku yang telah kurindukan selama tujuh tahun ini. Dia adalah pria yang sama dengan pria yang mengisi hidupku tujuh tahun yang lalu, dan dia juga pria yang sama yang selalu kupandangi wajahnya di papan reklame.

Dia pria itu, Cho Kyuhyun-ku, suami-ku.

Aku bersiap lari dan meninggalkannya namun tangannya dengan cepat mencengkramku dan menahanku walaupun aku berulang kali meronta meminta di lepaskan.

”Kau tidak akan bisa lepas dariku lagi nona Han Chaeri,” desisnya tajam. Aku menelan ludahku saat melihat matanya yang menatapku seolah-olah aku ini makanan yang disajikan di atas meja. Dan bulu kudukku sontak berdiri. Tuhan, apa aku akan di potong-potong olehnya dan dijadikan makanan ikan Pesut?

”Oppa, berusahalah yang terbaik. Aku akan menunggumu.”

”Kau juga Chaeri-ya, jaga kesehatanmu. Aku pasti akan kembali secepatnya.”

”…..”

”Han Chaeri adalah milik Cho Kyuhyun, dan sejak dulu tertulis seperti itu.”

”…..”

”Apa yang kau sukai dariku Han Chaeri?”

”…..”

”Kau adalah hal yang terhebat yang kutemui selama hidupku. Hidup sempurna bukanlah hidup dengan harta yang berlimpah, tapi hidup sempurna adalah hidup dimana di pagi hari aku bisa melihat dan mendengar suaramu.”

”…..”

”Aku pasti akan kembali Chaeri-ya, maka tunggulah aku.”

”Bisa kau jelaskan kemana saja kau selama tujuh tahun ini nona Han Chaeri?”

Aku menggigiti bibirku, menahan diriku yang bodoh ini untuk tidak menghambur kepelukannya, karena memang aku sangat merindukannya, benar-benar merindukannya.

”Aku tanya sekali lagi, bisa kah kau jelaskan kemana saja kau selama tujuh tahun ini? Kemana kau pergi? Dan apa saja yang kau lakukan?”

****TBC****

Lalalala~ setelah beberapa hari ini mewek karena our boys (Super Junior) akhirnya aku keluar sambil menyinsingkan rambut (?) dengan FF super nista lainnya.

Semoga kalian gak bosen ngikutin perkembangan dan kelanjutan FF super nista ini (?) karena FF ini akan aku telurkan (?) seminggu dua kali.

Di part ini memang tidak terlalu sedih dan masih aku sisipi unsur komedinya, tapi dua atau tiga part selanjutnya siap-siap saja menangis sepuas kalian (?) hahahaha!

Oh ya, backsound FF ini adalah MY LOVE, MY KISS, MY HEART. Dan untuk part selanjutnya silahkan dengarkan lagu itu biar feel FF ini lebih terasa.

Salam cinta dari calon istrinya Cho Kyuhyun ❤

Nb : FF ini dan YMC adalah FF terakhir aku sebelum aku vakum untuk waktu yang tak terhingga dari dunia FF ^^

166 responses to “7 YEARS WITHOUT UR LOVE I

  1. Saia uda koment blm cii?? Lupa.. Baca’Y buru2 waktu ituu..
    Eonni,, it’s me.. RyuChrizta..
    Knp cewe’Y cengeng ya.. Apa perasaanku saja??

  2. wew,,,,bukannya castnya Donghae oppa ya
    ko skrg jdi Kyu oppa,ini beda cerita ya thor
    tp ko judulnya sama ya?? #bingung

    tp ceritanya keren thor 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s