7 YEARS WITHOUT UR LOVE II

Author : Ocha Syamsuri

Cast : Han Chaeri

Cho Kyuhyun

Support cast : Lee Eunhye

Genre : Romance, Angst

Rating : BO (Bimbingan Orang Tua), PG-12

Disclaimer : semua cerita hanya karangan aku, hanya imajinasi aku sebagai fangirl yang cuma bisa ngayal aja. so, just for fun guys

Poster and Thank’s To : Rara a.k.a cutepixie

”Apa gunanya cinta jika didalamnya tidak ada kepercayaan?” –Ocha Syamsuri

****

7 YEARS WITHOUT UR LOVE

****

”Han Chaeri…. Aku mencintaimu.. Apa kau dengar? Aku mencintaimu.”

”…”

”Han Chaeri, mulai saat ini kau adalah milikku. Dan aku lah pemilik sisa hidupmu.”

”…”

”Chaeri-ya, hiduplah dengan menghirup udara di tempat yang sama denganku. Hiduplah dengan melihat matahari terbit ditempat yang sama denganku. Hiduplah dengan memejamkan mata ditempat yang sama denganku. Han Chaeri, maukah kau menikah denganku? Dan menyerahkan sisa hidupmu dan hatimu hanya untukku seorang?”

”…”

”Sampai aku memutuskan untuk menghirup udara ditempat yang jauh darimu, kau tidak boleh beranjak satu millimeter pun dari dekapanku. Karena Han Chaeri hanyalah untuk Cho Kyuhyun, dan sejak dulu tertulis begitu.”

”…”

Aku menggigiti bibirku, menahan diriku yang bodoh ini untuk tidak menghambur kepelukannya, karena memang aku sangat merindukannya, benar-benar merindukannya.

”Aku tanya sekali lagi, bisa kah kau jelaskan kemana saja kau selama tujuh tahun ini? Kemana kau pergi? Dan apa saja yang kau lakukan?”

Cengkraman tangan lelaki yang berada di depanku ini sama kuatnya dengan tatapan matanya yang seolah ingin menelanku hidup-hidup. Rasa amarah, kesal sekaligus benci tampak jelas dari tatapan matanya. Aku melirik ke arah pegawai restoran yang menatapku cemas dari dalam dapur melalui sudut mataku, mereka pasti menduga jika lelaki yang berada di hadapanku ini sedang memarahiku karena tidak puas dengan pelayanan restoran ini. Kulihat Park ahjumma menggigiti bibirnya dan mewanti-wantiku melalui tatapan matanya dan gerak wajahnya.

”Cho-Cho Kyuhyun, igo… Mereka sedang mengawasi kita. Aku mohon.”

Cho Kyuhyun tetap tidak melepaskan cengkramannya malah makin mengeratkannya. Sedikit saja ia menambahkan tenaganya lagi, kujamin tanganku akan remuk.

”Oppa, kumohon,” kali ini aku menatapnya dengan pandangan memohon, rupanya tatapanku barusan berhasil menggugah hatinya, dengan perlahan ia mengendurkan cengkramannya. Aku mengambil kesempatan ini untuk menarik tanganku kembali. Aku mengusap tanganku yang habis di cengkramannya untuk sekedar menghilangkan rasa sakitnya.

”Kurasa kita harus bicara sekarang juga. Kau tidak boleh melarikan diri lagi. Jika tidak, aku akan membunuhmu saat ini juga.” ia berkata dengan nada yang begitu datar namun berhasil membuatku ketakutan setengah mati, ”Aku serius Han Chaeri.” Tambahnya lagi, dengan nada suara yang sama seperti tadi.

”Tapi aku harus kerja.”

”Aku akan menunggumu.”

****

Aku tahu para karyawan disini pasti sedang memikirkan hal yang beragam di pikiran mereka masing-masing ketika melihat Presiden Direktur dari salah satu perusahaan terbesar di Korea belum beranjak juga dari restoran ini. Walaupun mereka menyibukkan diri mereka seolah-olah sedang bekerja tapi aku bisa menebak di pikiran mereka pasti tumbuh beribu pertanyaan. Di tambah lagi lelaki itu terus-terusan menatapku dan mengawasi setiap gerak-gerik-ku, seakan-akan aku ini adalah seorang narapidana yang tidak boleh dilepas  barang sedikit pun.

Lee Hongki beberapa kali mengirim sinyal kepadaku dari tempat duduknya di meja kasir, sedangkan Hyeri beberapa kali menyenggol lenganku meminta penjelasan kepadaku saat kami tidak sengaja berpapasan. Sedangkan aku sendiri hanya menundukkan kepalaku tidak berani menatap matanya, bahkan aku tidak bisa bernafas dengan baik saking takutnya aku dengan tatapan matanya.

Dua jam kemudian para karyawan restoran mulai membereskan meja-meja dan menyusun bangku-bangku ketempatnya semula. Dua puluh menit kemudian setelah semua pekerjaan selesai, aku segera mengambil tas di loker dan keluar dari restoran sebelum aku diserbu dengan berbagai pertanyaan dari mereka.

”Kau mau melarikan diri lagi?” tanya Kyuhyun saat beberapa langkah aku keluar dari restoran. Aku berhenti dan membalikkan badanku, aku terus menundukkan kepalaku saat mendengar langkah kakinya yang semakin terdengar jelas di telingaku. Pasti ia sedang menuju kemari.

”Sekarang bisa kau jelaskan kepadaku kemana saja kau selama ini?”

****

”Chaeri-ya kalau kita punya anak nanti aku ingin kita menghabiskan waktu kita sebanyak mungkin untuk membesarkan anak kita.”

”Oppa, kau ingin punya anak berapa?”

”Berapapun yang Tuhan berikan aku terima. Tapi aku lebih menyukai proses pembuatannya lebih banyak daripada hasilnya.”

”Cish, pikiranmu selalu mesum.”

”Aku laki-laki, kurasa mempunyai pikiran sedikit mesum itu alamiah.”

”Tapi mesum-mu itu sudah melebihi kadar kemesuman para pria di dunia ini oppa.”

”Terus apa? Kau berharap aku jadi biksu? Agar pikiranku selalu bersih?”

”Oppa!!”

”Ya! Yak~ Han Chaeri!! Berhenti mencubiti pinggangku!”

Apartemenku sesungguhnya sangat lumayan untuk ukuran sepertiku yang hanya sendirian menempatinya, dengan dilengkap satu kamar tidur, satu pantry, satu kamar mandi dan satu ruang tamu yang luasnya hanya berkisar empat kali lima meter. Namun apartemen ini termasuk kumuh untuk ukuran seorang Cho Kyuhyun, itu terbukti dari raut wajahnya yang tampak aneh ketika melihat ke sekeliling apartemen mungil-ku ini. Tak jarang ia menghela nafasnya melihat kejelekan apartemen mungil-ku ini.

Aku memperhatikan gerak-gerik Kyuhyun yang mengelilingi seluruh bagian apartemen-ku ini dari pantry yang terletak di sudut sebelah kanan ruangan, dari pantry ini semua seluk beluk apartemen terlihat, karena memang apartemenku tidak cukup besar sehingga dari pantry sini saja aku bisa melihat keseluruh bagian ruangan apartemenku. Termasuk bisa mengawasi Kyuhyun yang sekarang ini sedang mengernyitkan dahinya setelah memasuki kamar mandiku.

”Apa kau sudah selesai berdarmawisata di apartemenku tuan?” sindirku, aku menaruh dua gelas teh dingin di atas meja ruang tamu. Kyuhyun menutup pintu kamarku, berjalan ke arah-ku lalu duduk di sofa yang kujamin tidak terlalu nyaman bagi seorang pengusaha kaya raya sepertinya.

”Bereskan semua barang-barangmu Han Chaeri, mulai saat ini kau akan tinggal di rumahku.”

Aku menganga mendengar penuturannya. Tinggal dirumahnya?

”Gudang yang kau sebut sebagai apartemen-mu ini tidak layak untuk kau tinggali. Dirumahku semua fasilitas lengkap, kau tidak perlu tinggal di gudang seperti ini.”

Aku mendengus, menahan sikapku agar tidak berteriak didepannya, ”Kita bahkan baru bertemu tuan. Apa hak-mu menyuruhku untuk tinggal di rumahmu?”

”Aku suami-mu Han Chaeri.”

Hatiku mencelos, suami?

Tapi mendadak diperutku seperti ada ribuan kupu-kupu yang bertebangan.

”Tapi kita sudah berpisah selama tujuh tahun tuan, apa kau tidak risih kepadaku? Aku bahkan sangsi kau masih mengingatku. Kita sudah berpisah selama tujuh tahun, ingat?” astaga, kenapa aku tidak bisa menjaga mulutku ini dengan baik? Kenapa aku malah melontarkan kata-kata yang bisa menyakiti hatinya?

”Tapi aku tidak pernah meninggalkanmu Han Chaeri!” suaranya mulai meninggi, ”Apa kau tidak tahu betapa gilanya aku mencarimu kesana kemari selama tujuh tahun ini?” ia mengatur nafasnya yang sedikit tersengal, ”Aku tidak ingin ada bantahan, bereskan barang-barangmu sekarang juga.”

Aku mendengus lagi, ”Kalau aku tidak mau bagaimana?” tantangku, ia mendecak lalu sedetik kemudian seringaiannya menghiasi wajah tampannya.

”Apa kau lupa siapa aku? Aku bisa melakukan apapun yang aku mau. Aku perintahkan sekali lagi, cepat bereskan barang-barangmu dari apartemen jelekmu ini.”

Cukup! Aku tidak ingin mendengarnya lagi menghina apartemen yang walau bagaimanapun juga hasil dari kerja kerasku selama ini walaupun aku masih berstatus sebagai pengontrak. Tapi apartemen ini lah yang menjadi saksi bisu-ku bagaimana aku menjalani kehidupanku yang keras di kota Seoul ini. Aku bisa memahami maksudnya Kyuhyun mengenai kepindahanku kerumahnya dengan harapan agar aku bisa memperoleh kehidupan yang lebih baik, namun aku tidak menyukai caranya yang menghina rumahku.

”Apartemen jelek katamu? Apa kau lupa kita dulu pernah tinggal di gubuk yang lebih jelek dari apartemen ini? Tujuh tahun berpisah ternyata membuat sifatmu sedikit berubah menjadi angkuh Cho Kyuhyun-ssi.”

”Aku tidak angkuh Han Chaeri. Aku masih ingat betapa kerasnya dan susahnya kehidupan kita dulu. Karena itu lah aku tidak ingin melihatmu menderita lagi seperti ini. Aku suami-mu dan aku berkewajiban menghidupimu Chaeri-ya.”

Aku menghela nafaku, ”Kurasa ini sudah terlalu malam untuk bertamu Cho Kyuhyun-ssi. Tidak baik jika seorang pria bertamu malam-malam di rumah seorang wanita.” Aku beranjak dari tempat dudukku menuju ke kamar tidur, aku berhenti sebentar sebelum memasuki kamarku, ”Aku harap kau menutup pintunya setelah keluar dari apartemen jelek ini.”

Aku menutup pintu kamarku dan terduduk di lantai. Aku membenamkan kepalaku di kedua lipatan tanganku. Ya Tuhan, rasanya sulit sekali menahan diriku yang bodoh ini agar tidak menghambur dipelukannya. Aku sangat merindukan hangatnya pelukannya, merindukan dekapannya setiap malam, merindukan suara lembutnya yang selalu mendendangkan beberapa lagu penghantar tidur setiap aku ingin tidur, merindukan tingkah polanya yang terkadang membuatku kesal. Aku merindukan semua yang ada di dalam dirinya. Tapi diriku yang bodoh ini malah bersikeras untuk tidak melampiaskan kerinduanku.

Apa kerasnya sifatku karena terbawa rasa amarah dan takut yang menggerogotiku selama tujuh tahun ini?

”Chaeri-ya, aku tahu kau belum tidur. Diam dan dengarkan perkataanku Chaeri-ya.” ia diam, suaranya tidak terdengar untuk beberapa saat, ”Maafkan perkataanku barusan. Aku berkata seperti itu karena aku marah dengan diriku sendiri. Kau hidup susah seperti ini namun aku tidak bisa berbuat apapun untuk menolongmu. Aku tidak bermaksud menghina kerja kerasmu Chaeri-ya, tapi aku hanya sedih melihatmu hidup seperti ini. Bagaimana-pun kau adalah istriku, selama apapun kita berpisah itu tidak bisa menutup kenyataan bahwa kau masih tetap berstatus istriku. Chaeri-ya kumohon buka lah pintu kamar (hati) mu, ayo kita bicara lagi. Aku merindukanmu Chaeri-ya, benar-benar merindukanmu.”

Ku buka pintu kamarku dengan perlahan dan kulihat Kyuhyun masih berdiri di depan pintu. Airmata yang sedari tadi minta kebebasan untuk mengalir, kini tidak bisa kutahan lagi. Kyuhyun memegangi wajahku lalu menarikku kedalam pelukannya. Tangisanku semakin mengeras dan terisak didalam pelukan lelaki yang sangat kurindukan tujuh tahun ini.

”Nado, aku juga sangat merindukanmu oppa.”

Kyuhyun mengeratkan pelukannya, ia juga menciumi puncak kepalaku, ”Mulai saat ini jangan pernah pergi dariku lagi, aku tidak bisa membayangkan hidup berpisah denganmu lagi. Aku mencintaimu Chaeri-ya, sangat mencintaimu.”

****

”Oppa, apa kau tahu cerita orang-orang jaman dahulu tentang seorang kekasih sejati walau mereka berpisah ratusan tahun lamanya namun mereka akan bertemu lagi?”

”Bodoh! Mereka itu manusia, mana mungkin mereka hidup sampai ratusan tahun.”

”Yak~ tapi ini cerita jaman dulu. Ck, kau ini merusak cerita saja.”

”Arra, arra.”

Aku seperti kembali ke tujuh tahun yang lalu dimana setiap aku terbangun di pagi hari sepasang tangan yang kekar memeluk tubuhku secara posesif, dimana setiap aku membuka mataku wajah tampannya terlihat dihadapanku, dimana setiap aku mendekatkan wajahku aku bisa merasakan deru nafasnya yang menghembus di wajahku. Aku tahu aku tidak bermimpi atau berkhayal, lelaki yang sedang tertidur di hadapanku ini adalah lelaki yang sama dengan lelaki yang selalu tidur disampingku tujuh tahun yang lalu. Pelukannya masih sama, semuanya masih sama, hanya saja wajahnya saja yang terlihat semakin tampan.

”Oppa, bangunlah. Aku harus berangkat kerja, dan bukankah kau juga harus bekerja pagi ini?” aku mengelus wajah tampannya.

Tanpa menghiraukan ucapanku, Kyuhyun malah mengeratkan dekapannya, ”Bisakah kita seperti ini lebih lama lagi? Aku takut jika semua ini hanyalah mimpiku, aku takut disaat aku membuka mataku aku tersadar jika ini hanyalah sebuah mimpi.”

Aku mengelus wajahnya lagi, mendekatkan bibirku ke wajahnya dan mencium pipinya singkat, ”Kau tidak bermimpi oppa. Ini benar-benar aku.”

”Aku tahu, aku hanya ingin memelukmu lebih lama lagi.” dengan senyum mesumnya ia mengunci tubuhku dengan kedua kakinya. ”Kalau kau mencium bibirku, aku akan segera bangun dan menuruti perintahmu.”

”Oppa!”

”Ya! Ya! Ya Han Chaeri! Berhenti mencabuti bulu kakiku.”

****

Sehabis sarapan dengan menu yang bisa aku masak seperti tujuh tahun yang lalu di apartemen mungilku, Kyuhyun mengantarku menuju restoran Park ahjumma. Sebelum berangkat menuju tempat kerjaku, kami –maksudku aku dan Cho Kyuhyun sempat beradu mulut. Ia masih seperti dulu yang selalu melarangku untuk bekerja namun setelah beradu argument dan berbagai persyaratan yang ia berikan akhirnya ia menyetujuinya.

”Jam berapa kau selesai bekerjanya Chaeri-ya?”

”Mungkin sekitar pukul sembilan malam.”

”Kalau begitu aku akan menjemputmu pukul setengah Sembilan.”

”Menjemputku? Untuk apa?” tanyaku sedikit bingung.

”Bukankah sudah kubilang kalau kau harus membereskan barang-barangmu dan pindah ke rumah-ku. Aku tidak mungkin pindah ke apartemenmu, dan lebih tidak mungkin lagi kita tinggal ditempat yang terpisah.”

”Tapi oppa..”

Kyuhyun mencium bibirku singkat, ”Tidak ada bantahan. Sudah syukur kau kuijinkan bekerja disini. Masuklah, aku akan menjemputmu nanti.”

Aku menutup pintu mobil, melambaikan tanganku sampai mobil Kyuhyun tidak terlihat lagi. Aku masuk kedalam restoran dengan wajah penuh senyuman. Karyawan restoran yang pertama kali menyadari perubahan suasana hatiku adalah Lee Hongki, baru saja aku memasukkan tasku kedalam loker dan memakai celemek bermotifkan huruf sansakerta (?) Hongki segera membrondongiku dengan berbagai pertanyaan. Hyeri yang tadinya tampak acuh juga ikut-ikutan menanyai perubahan raut wajahku.

”Yak~ kalian ini. Berhentilah bergosip! Kembalilah ke tempat masing-masing.” Teriakan Park ahjumma menghentikan kegiatan Hongki dan Hyeri yang membrondongiku dengan pertanyaan-pertanyaan aneh mereka.

”Han Chaeri, kau harus bercerita denganku nanti.” Ujar Hyeri lalu ia melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.

Aku meneruskan pekerjaanku dan tetap berpura-pura tidak mendengar dehaman-dehaman dan sindiran yang dikeluarkan dari mulut kedua manusia itu. Mengingat rasa penasaran mereka yang begitu tinggi maka aku pun segera mengubah ekspresi wajahku seperti dulu, agar mereka tidak tambah curiga dan memaksaku untuk menjelaskannnya kepada mereka apa yang terjadi kepadaku.

Well, bukannya aku tidak mau. Namun, coba kalian berpikir dengan menggunakan logika kalian. Apa ada yang mempercayai ucapan seorang pegawai restoran rendahan sepertiku ini jika aku bilang aku telah menemukan suamiku kembali, dan ternyata suamiku itu seorang Presiden Direktur perusahaan terbesar dan paling berpengaruh di Asia. Apa ada orang yang mempercayaiku jika lelaki yang sering disebut-sebut sebagai pangeran Korea itu adalah suamiku sejak tujuh tahun yang lalu? Ini abad dua puluh satu, orang-orang tidak akan mudah mempercayai cerita klasik dan terdengar seperti dongeng tersebut. Walaupun pada kenyataannya lelaki tampan dan nyaris mendekati sempurna itu memang suamiku sejak tujuh tahun yang lalu.

”Kurasa salah seorang pegawai restoran ini harus memeriksakan dirinya ke dokter kejiwaan. Tidak ada yang lucu dia tertawa sendiri.” Sindir Hongki, aku mendelik namun ia acuh dan berpura-pura sedang membereskan wilayah kekuasaannya –meja kasir– .

”Ne, kau benar Hongki-ah. Wanita itu harusnya pasti benar-benar mengalami gangguan kejiwaan. Apa kau melihat wajahnya yang tersenyum seperti itu? Ck, menakutkan sekali.” Sahut Hyeri.

”Iya, lebih menakutkan dari boneka Chakky!”

Aku memukul sapu yang kupegang ke atas lantai, ”Yak! Kalian ini!” aku mendengus, ”Arra. Akan aku jelaskan sekarang,” ujarku lalu menaruh sapu ke pinggir dinding dekat dapur. Aku menarik kursi dan duduk diatasnya. Restoran masih sepi pengunjung, sehingga aku bisa lebih leluasa untuk berbuat apapun. Kedua manusia itu tertawa tidak jelas, mereka menarik kursi yang berada didepanku dan mendudukinya.

”Kalian ingin mendengar ceritaku darimana?”

Mereka beradu pandang lalu menjawab secara bersamaan, ”Tentu saja dari awal.”

”Apa kalian masih ingat tujuan awalku kenapa aku berada di kota ini?”

Mereka serempak mengangguk, ”Kau ingin mencari suamimu kan?” tanya Hyeri.

Aku menggeleng, ”Ani, aku tidak ingin mencarinya. Aku hanya ingin melihatnya dari jauh saja,” dan pikiranku pun langsung menerawang ke satu tahun yang lalu saat aku pertama kali menginjakkan kakiku di kota ini. Bulan-bulan pertama hidupku sulit sekali, aku hanya mengantungkan hidupku dari uang tabunganku yang tidak seberapa. Aku keliling mencari pekerjaan, namun tidak satupun yang menerima seorang yang hanya lulusan sekolah menengah sepertiku. Sampai akhirnya secara tidak sengaja aku bertemu dengan Lee Eunhye. Dia lah yang menolongku, memberiku tumpangan sementara, dan juga sekaligus mengenalkanku ke pemilik restoran ini. Park ahjumma adalah ibu dari sepupunya. Awalnya Eunhye ingin mempekerjakanku di butik miliknya, namun aku menolak. Aku merasa tidak enak jika terus-terusan tergantung dengannya. Bagaimanapun aku tidak ingin hidup dengan rasa kasihan orang lain. Hidup miskin adalah pilihanku asal semuanya melalui kerja kerasku sendiri.

”Lalu? Apa kau bertemu kembali dengan suamimu itu?” pertanyaan Hyeri barusan membuyarkan lamunanku. Aku tersenyum sekilas lalu melanjutkan perkataanku.

”Ne, kemarin aku bertemu dengannya.” Setelah aku berkata seperti itu mereka berdua menjadi heboh sendiri dan semakin memaksaku untuk menceritakan semuanya lebih mendetail lagi.

”Lalu bagaimana ceritanya sampai kalian bisa bertemu kembali? Apa kalian tidak sengaja bertemu di jalan seperti yang ada di drama-drama itu?” desak Hongki si pecinta drama, tampaknya ia sering kali menyamakan cerita-cerita nyata dengan cerita-cerita yang ada didalam drama.

”Bagaimana kami bisa bertemu? Kalian kan sudah melihatnya kemarin.”

”Kemarin?” Hyeri menunjukkan raut wajah tidak mengerti.

”Kalian masih ingat laki-laki tampan yang datang ke restoran ini kemarin malam?”

Mereka berdua menganggukkan kepalanya serempak lagi.

”Dia lah suamiku itu.”

”Suamimu?” tanya mereka serempak. Aku mengiyakan pertanyaan mereka melalui anggukan kepalaku. Dan kemudian mereka tertawa terbahak-bahak.

”Yak~ Chaeri-ya! Kurasa sepertinya kau benar-benar harus pergi ke dokter. Lama ditinggalkan suami-mu membuat otakmu sedikit tidak beres.” Hongki menggelengkan kepalanya, ”Aigoo~ aku tidak menyangka khayalanmu tinggi sekali.”

Wajah Hyeri pun yang tadinya bersemangat berubah menjadi masam, ”Cish, sekali lagi kau membual seperti ini. Aku akan menjambak rambutmu.”

Aku hanya tersenyum masam. Tapi aku sedikit lega. Setidaknya aku sudah berusaha jujur dengan mereka. Mereka mempercayainya ataupun tidak, itu bukanlah urusanku.

****

Malamnya setelah aku menyelesaikan pekerjaanku, aku langsung menuju ke tempat mobilnya Kyuhyun di parkir. Aku sengaja menyuruhnya menjemputku sedikit jauh dari restoran, untuk sementara ini aku tidak ingin orang-orang mengetahui siapa suamiku, siapa itu Kyuhyun. Tadi siang saja Hyeri dan Hongki menertawai kejujuranku, apalagi jika orang lain yang melihat. Bisa-bisa aku dituduh telah merayu seorang pengusaha kaya raya.

Dari kejauhan aku bisa melihat Kyuhyun berdiri sambil menyender di mobilnya. Ia sangat tampan dengan balutan jas kerja seperti itu, sepertinya ia baru pulang dari kantornya dan tidak sempat mengganti pakaiannya. Aku tersenyum dan mempercepat langkah kakiku mendekatinya. Kyuhyun memperbaiki caranya berdiri dan membalas senyumanku.

”Apa kau menunggu lama, oppa?” aku memegangi wajahnya, ”Kenapa wajahmu dingin sekali? Ya~ sudah berapa lama kau menungguku?”

”Err, sudah dua jam. Aishh~ berapa lama aku menunggumu itu tidak penting. Ayo kita pulang sekarang.” Tanpa menunggu jawabanku Kyuhyun mendorongku masuk kedalam mobil dan menutup pintu mobil. Sementara ia masuk melalui pintu kemudi. Ia pun mulai menjalankan mobil.

”Kenapa kau tidak bilang jika kau sudah datang dari dua jam yang lalu? Ini sudah memasuki musim dingin oppa, aku tidak ingin kau kedinginan.” Omelku. Kyuhyun itu mudah terserang sakit, sedikit lelah atau suhu tidak sesuai dengan badannya, ia akan langsung demam.

Bukannya menjawab pertanyaanku, Kyuhyun malahan tersenyum kecil dan mengacak rambutku.

”Arra. Aku hanya tidak sabar untuk menjemputmu. Tujuh tahun tidak bertemu ternyata tidak membuat kecerewetanmu menghilang ya? Kau masih seperti dulu, sama-sama suka memarahi dan mengomeliku.”

”Itu karena kau berbuat salah.”

”Arra. Kita langsung pulang ke rumah kita saja ya?”

Aku mengernyit, ”Rumah kita?”

”Rumahku yang telah menjadi rumah kita.” Aku hendak menjawab namun dengan cepat ia memotong perkataanku, ”Dan aku telah memindahkan barang-barangmu ke rumah kita. Apartemen itu telah kubeli, kalau kau tidak suka tinggal di rumahku, kita bisa pindah ke apartemenmu.”

Aku tidak bisa membantah perkataannya. Lelaki di hadapanku ini selalu membuatku kehilangan kata-kata. Sejak dulu dia memang begini, merasa seakan-akan aku hanyalah milik dirinya yang bisa ia kendalikan sepenuhnya. Dan bodohnya aku tampak nyaman saja diperlakukan seperti itu.

****

Aku tercengang melihat keindahan arsitektur rumah ini. Semuanya sama persis dengan rumah idamanku. Rumah dengan arsitektur minimalis dari luar namun seperti istana dari dalam. Belum sempat aku mengatasi rasa kagumku Kyuhyun sudah mengajakku menuju kamar tidur kami, awalnya itu kamar tidurnya, namun kini berubah menjadi kamar tidur kami. Sekaligus kamar tidur satu-satunya yang ada di rumah super besar seperti ini. Aku sudah menanyakan kepadanya kenapa hanya ada satu kamar tidur, ia bilang jika ia hanya tinggal sendirian disini. Sementara ahjumma yang membersihkan rumah ini tinggal di paviliun yang letaknya tak jauh dari rumah ini.

Aku menutup mulutku yang ternganga melihat keindahan dan kemewahan kamar tidur kami. Semua sama persis dengan yang ku impikan, bahkan warna cat dindingnya pun sama persis. Aku mengernyitkan dahiku ketika melihat sebuah foto ukuran raksasa yang menempel di dinding dekat ranjang, bukan fotonya yang aku bingungkan namun obyek dalam foto itu yang aku bingungkan. Bukankah ini adalah foto saat malam pertama kami dulu? Di foto itu tampak kami sedang tertidur dengan berbalutkan selimut walaupun kami dalam keadaan sama-sama telanjang, di foto itu kami tampak seperti sedang berpelukan dan Kyuhyun memandangi wajahku sambil tersenyum, sementara aku disitu masih tertidur pulas.

Kyuhyun memelukku dari belakang, ia menaruh dagunya di bahuku, ”Apa kau menyukainya? Aku berusaha membuatnya sama persis dengan yang kau impikan Chaeri-ya. Jika ada yang tidak kau sukai, katakan padaku, aku akan membuatnya sama seperti yang kau inginkan. Kecuali foto itu, aku tidak akan menggantinya walaupun kau menjambak rambutku.”

”Bagaimana kau bisa mengingat semuanya oppa? Padahal sudah tujuh tahun yang lalu, tapi..”

”Semua kenangan akan dirimu masih terukir jelas di pikiranku Chaeri-ya. Cintaku kepadamu jauh lebih besar daripada yang ada didalam pikiranmu.”

”Oppa..” aku tidak mampu lagi mengucapkan sepatah kata apapun. Suami-ku ini benar-benar membuatku kehilangan kata-kata.

Kyuhyun memutarkan badanku menghadap dirinya, ia menyunggingkan senyuman khasnya dan mencium bibirku singkat. ”Lebih baik kau bersihkan dirimu sekarang, lalu buatkan aku makan malam. Aku lapar sekali Chaeri-ya.”

Aku memeluknya singkat, ”Gomawo oppa. Terima kasih untuk semuanya. Aku tidak tahu lagi harus membayarnya dengan apa.”

”Dengan kau hidup baik-baik saja disampingku, itu bayaran yang lebih dari cukup.”

Setelah membersihkan diriku dan berganti pakaian aku segera menuju ke dapur dan memasakkan makanan untuk makan malam kami. Soal barang-barang yang dipindahkan dari apartemenku ternyata hanyalah beberapa barang pribadiku dan beberapa lembar pakaianku, semua pakaian yang ditaruh di dalam lemari rata-rata adalah pakaian baru, karena seingatku aku tidak pernah membeli semua pakaian itu.

Aku menata makanan yang selesai kumasak di atas meja makan. Rasanya seperti bermimpi, aku menemukan suamiku kembali, hidup mewah, rasanya semua yang para wanita impikan berada didalam genggamanku.

Tak lama kemudian Kyuhyun datang dan menarik salah satu bangku dan mendudukinya. Ia telah mengganti jas kerjanya dengan pakaian yang lebih santai. Tapi ia tetap seperti dulu, lebih suka memakai celana dasar ketika berada didalam rumah.

”Mwoya? Sayur-sayuran lagi?” Kyuhyun menyingkirkan piring yang berisikan sayuran sejauh mungkin dari hadapannya.

”Ini sehat untukmu oppa. Lihatlah dirimu sekarang ini, kau pasti tidak pernah lagi makan sayur.”

”Aishh~ shireo. Ck, buatkan aku ramyun saja. Lebih baik aku makan ramyun daripada makan rumput-rumput ini.”

”Ya~ kalau kau tidak makan sayuran ini, jangan harap malam ini aku akan tidur satu ranjang denganmu.” Ancamku, dan sepertinya ancamanku itu sukses membuatnya menurut perkataanku. Dengan raut wajah yang masih kesal dan terpaksa ia mulai memasukkan sayur-sayur itu kedalam mulutnya. Aku ingin tertawa melihat pola tingkahnya yang seperti anak kecil, tapi kuurungkan mengingat ia bisa tambah kesal.

”Dasar kau ini. Mendengar ancamanku soal tidur saja pasti langsung membuatmu menurut perkataanku.”

”Yak~ kenapa kau berkata seperti itu? Seolah aku ini pria yang selalu berpikiran mesum saja.”

”Mwo? Memang seperti itu kan kenyataannya, Mr mesum?”

”Yak~ Han Chaeri!!”

”Wae?” aku memeletkan lidahku, ”Dasar Mr Mesum!!” aku berdiri dan berlari menjauh darinya.

”Awas kau!!” Kyuhyun berdiri dari duduknya dan mengejarku. Untung saja rumah ini sangat luas, sehingga aku bisa berlari menghindarinya. Tapi tentu saja tenagaku kalah jauh dari tenaganya, baru beberapa meter aku berlari, Kyuhyun sudah menangkapku dan memelukku dengan erat. Ia juga menggelitiku, aku yang pada dasarnya memang sangat sensitif hanya bisa tertawa terbahak-bahak saat tangannya menyentuh titik tergeli di tubuhku.

”Oppa! Hentikan! Aku tidak sanggup untuk tertawa lagi.”

”Shireo, kau harus mendapatkan hukuman karena telah mengataiku mesum.”

”Oppa! Hahahahaha.”

Cho Kyuhyun, aku harap kegembiraan ini akan terus terjadi dan tidak akan berhenti sampai disini. Mulai saat ini mari kita memulai semuanya dari awal lagi, lupakan masa lalu, dan hadapi masa depan kita bersama-sama.

Karena aku sangat mencintaimu Cho Kyuhyun.

****TBC****

Ada sebuah komen yang bilang kalau membaca FF ini kayak menonton live drama. Ya, memang benar ^^ aku membuat FF ini seakan-akan kalian menonton sebuah drama. Ceritanya pun aku bikin seperti cerita didrama, konfliknya pun seperti konflik yang ada didrama.

Soal Vakum, memang benar aku akan vakum untuk waktu yang lumayan lama (mungkin juga untuk selamanya). Namun sebelum vakum, aku akan berusaha menyelesaikan FF ini dan FF YMC.

Secara pribadi, aku suka banget sama cerita FF ini, karena karakter Han Chaeri disini aku ambil dari beberapa karakter asli-ku. Bahkan kebiasaannya seperti menghitung waktu jarak antara halte dan restoran pun sama persis seperti karakter asli aku ^^

Dan mohon komen, saran, plus kritik kalian mengenai FF ini ^^

-Ocha Syamsuri-

Advertisements

147 responses to “7 YEARS WITHOUT UR LOVE II

  1. Pa krn dah dbilang dr awal ff niy bakal sedih bgt.. jd sedihnya dah terasa..whe… ky pa y masa lalu mrk?!!!

    vakum selamanya?!! T_T

  2. Chaeri apa2an sih main cabut bulu kaki? Hahahahaha 😆
    masih belum keliatan konfliknya ya eon.
    Lanjut part 3 deh…

    YAK~ EONNI MAU VAKUM SELAMANYA? EH EONNI JANGAN BECANDA DEH EON. 😦 UTANG FFMU MASIH BANYAAAAAK. PLEASE DONT GO~ T___T *CAPS ILANG*

  3. whaaaaa…..keren bgt dah
    gk tau harus brkata apa
    author daebaaak bgt,sumpeeh…#lebee hehe….

    tp author mo vakum??jangan ah
    ntar gk bisa baca FF keren kyk gni
    jangan ya…ya….ya…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s