Ellena Potion Part. 4-1

Author: Kidneypea

Rating: PG15

Lenght: Chaptered

Genre: Romance, Fantasy, AU (Alternate Universe)

Main Casts:

– Park Jiyeon (T-ARA)

– Choi Minho (SHINee)

-Go Hara (KARA)

– Choi Jonghun (FT Island)

Read First: PROLOG | Part.1 (intro) | Part.1 | Part.2| Part.3 |

Note: Annyeong! saya hadir kembali. Mian sebelumnya kalo banyak yang kurang ngerti sama cerita ini.. soalnya dibutuhkan readers yang memiliki imajinasi tak terbatas (?) oh iya, maaf kalo ff ini tambah pendek.. efek puasa -__-” dan karena yang komen dikit, terus banyak yang ga ngerti pula. akhirnya saya memutuskan untuk didikitin aja.. supaya pada mudeng. ^^

Jeongmal Gomapseumnida yang udah nungguin FF ini 🙂

***

Ditempat Jonghun..

Sedikit lagi! Jonghun mengambil batang terakhir, lalu dengan tergopoh-gopoh ia membawanya ketempat Hara menunggu—pinggir danau. Menurutnya, itu adalah tempat yang bagus untuk berduaan. Tapi, kini intuisinya membuatnya gelisah, bahwa sesuatu yang tidak enak sedang terjadi. Jonghun berusaha untuk mengabaikannya. Ia berjalan santai menuju danau, padahal perjalanan masih sekitar 700m lagi.

Intuisinya terus mengatakan kalau hal yang buruk sedang terjadi, setiap langkah, setiap detik, setiap saat! Semakin ia mendekati danau, perasaannya semakin tidak karuan. Atau sebaiknya ia cepat-cepat?

Benar saja, sampai disana ia tak melihat adanya sosok Hara.. perasaannya makin kacau! Ia melihat sekeliling, namun pandangannya terganggu dengan adanya mawar merah di tengah danau, air disekitar mawar tersebut beriak.. menandakan ada yang tidak beres disana. Jonghun segera melompat kedalam danau dan berenang cepat kearah mawar tersebut, ia menyelam sedikit dalam, dan benar saja ada Hara disana! Tubuhnya nyaris benar-benar menghilang kedalam dasar danau, Jonghun dengan cepat menarik tubuh Hara dan membawanya kepermukaan.

Jonghun bisa melihat wajah Hara dari dekat—sangat cantik, apalagi ditimpa cahaya matahari.. wajah cantiknya jadi sangat tampak. Jonghun segera membawa Hara ke pinggir danau. Jonghun menyandarkan Hara di batang pohon. Jonghun bingung bagaimana cara menyelamatkan Hara.. ia teringat sesuatu..

Napas buatan..

‘Tidak! Aku tidak bisa melakukan itu pada Hara! Tapi.. bagaimana lagi cara menyelamatkan Hara!? Keadaan ini membuatku terdesak!’ batin Jonghun.

Akhirnya Jonghun mendekatkan wajahnya ke wajah Hara, jantungnya kini berdetak sangat cepat.. ia tak berpengalaman melakukan hal ini. Kini, wajah Jonghun dan Hara tak lebih dari 10cm..

“Jo.. Jong..hun..” bibir Hara mengucapkan nama Jonghun—padahal matanya sama sekali belum terbuka. Jonghun tersenyum, karena nama dialah yang pertama kali Hara ucapkan.. sekarang, Hara sudah siuman, Jonghun tidak bergeming.. ia masih pada posisinya. Mata Hara kini menatap Jonghun—ialah orang pertama yang dilihat Hara saat siuman. Hara tidak pernah berdekatan muka seperti ini dengan pria lain..

‘Tak kusangka, wajah Jonghun begitu menawan jika dilihat dari dekat~ matanya yang berwarna hitam pekat seakan menyusuri wajahku yang kian memerah saat ini, ada apa denganku? Perasaan apa ini?’ batin Hara. Ia seakan tersadar dari mimpinya, langsung memeluk Jonghun dengan erat. Jonghun kembali memiliki perasaan deg-degan itu ketika Hara memeluknya, begitu pula Hara.. jantungnya dari tadi tengah berdetak dengan kecepatan kuda (?)

“Te.. Terima kasih..” gumam Hara terbata-bata ditelinga Jonghun.

‘Detak jantung siapa ini?’ ternyata mereka berdua memiliki pemikiran yang sama. Hara langsung melepas pelukannya—seakan takut kalau Jonghun mendengar suara detakan jantungnya.

Mereka langsung canggung. Menyadari keadaan seperti ini Jonghun langsung membakar kayu yang tadi ia bawa, hanya dengan 2 kali gesekan kayu api sudah menyala.. sementara ini mereka mengahangatkan tubuh mereka dulu. Karena hari sudah agak gelap jadi suhu udara jadi turun dan pastinya mereka akan kedinginan..

“Kalau kau tidak bisa berenang, sebaiknya jangan bermain di tempat yang dalam..” kata Jonghun.

“Kau bisa mengajariku berenang?” tanya Hara polos, langsung disambut senyum oleh Jonghun.

“Tentu, kalau kita ada waktu” jawabnya sambil terkekeh.

Setelah menghangatkan tubuh, mereka kembali menuju pondok dengan kuda putih Jonghun.

***

 

Keesokan pagi harinya..

“Kau sudah bangun?” tanya Minho. Jiyeon masih mengumpulkan nyawa, sambil mengangguk kearah Minho yang sedang memegang sebuah buku.

“Ini makanlah, keburu dingin..” Minho menyodorkan ikan bakar yang ditusuk ranting, Jiyeon mengambilnya dan langsung memakannya dengan lahap.

“Kau bukankah pernah memainkan game ini?” tanya Minho, Jiyeon hanya mengangguk—malas berbicara. “Berarti kau tau seluk beluk di dimensi ini?” tanyanya lagi.

“Iya, tapi aku hanya hapal jalan-jalan yang berada di Ellofaire dan Canary saja” Jiyeon membuka mulut akhirnya. Minho mengangguk—excited—sambil tersenyum riang.

“Kau tau sebuah kedai terpencil yang berada di Ellofaire?” Minho mendekati Jiyeon, seolah meminta jawaban pasti. Urusan Jiyeon dengan ikan bakar itu sudah selesai, ia ingin membasuh muka dengan air. Jiyeon pun berdiri dan bergegas menuju sungai yang hanya berjarak 10 meter dari tempatnya saat ini.

“Kau.. mau kemana?” tanya Minho seraya menarik tangan kanan Jiyeon.

Jiyeon terjatuh karena tarikan Minho terhadap tangannya begitu kuat. Minho tertindih Jiyeon, 5cm kini jarak wajah mereka berdua. Mereka saling bertatapan, jantung mereka berdua semakin berpacu.

‘Ini detak jantungku atau jantungnya? Ternyata wanita ini memiliki rambut yang indah, dan harus kuakui.. wajahnya sangat manis~ aku merasakan deru napasnya..’ batin Minho, sambil menatap Jiyeon lurus—mengeluarkan image ‘Flaming Charisma’nya.

‘Oh tidak! Matanya, seakan menelanjangiku (?) kharismanya, sungguh.. membuatku tak tahan~ Jantungku! Bagaimana ini? apa ia mendengarnya? Matanya yang kecoklatan terlihat indah! Aish! Jiyeonnie, jangan kau mudah terpikat lagi dengan segala tipu daya nya(?)’ batin Jiyeon.

“Aku hanya ingin membasuh muka!” gumam Jiyeon ketus—tepat di wajah Minho. Lalu, Jiyeon berdiri dari tubuh Minho. “Dasar mesum!” sahut Jiyeon. Lalu pergi meninggalkan Minho yang tengah melongo melihat sikap Jiyeon. Seumur-umur tidak ada yang tidak terpikat dengan tatapan mautnya, tapi.. kenapa Jiyeon..?

Jiyeon sudah kembali dari acara membasuh wajahnya. Minho mendongakkan wajahnya untuk melihat Jiyeon, ia membutuhkan memori Jiyeon akan game yang pernah ia mainkan.. ia sangat berharap otak Jiyeon lebih berkualitas dari yang ia bayangkan.

“Jadi, kau tahu tidak!?” tanya Minho dengan emosi. Jiyeon mengerucutkan bibir merahnya—sepertinya ia kesal.

“Gamau ah, pake emosi!” jawaban Jiyeon membuat emosi Minho agak naik. ‘Apa-apaan perempuan ini!? moodnya berubah dalam seketika! Aiish!’ ucap Minho dalam hati.

“Apa maumu?” nada Minho kini melembut. Ditanya begitu Jiyeon malah kebingungan sendiri. Kini, ia malah menggaruk kepala yang tidak gatal.

“Kau mau tanda tanganku? Foto berdua denganmu?” tawar Minho dengan enteng. ‘Aku tidak yakin dia cowok terpintar di sekolahku, mengapa dia begitu bodohnya?’ pikir Jiyeon.

“Tanda tangan dimana? Di jaman ini sudah ada pensil? Pulpen? Memang kau bawa alat tulis? Aku tidak melihat kau membawa alat tulis. Foto? Foto pakai apa? sudah ada kamera di jaman ini?” cerocos Jiyeon—membuat Minho membeku.

“Kau mau apa sebenarnya?!” pekik Minho stres.

“Tadinya aku mau kau, tapi karena tau kau bodoh begitu.. tidak jadi!~” sahut Jiyeon, sempat membuat Minho kaget. Lalu, menyunggingkan senyum—tak bisa ditebak.

“Aku beruntung itu tidak terjadi, kalau begitu bisakah kau menjawab pertanyaanku!?” terbesit nada aneh disana. Minho-pun membuang muka.

“Ya, aku tahu! Dulu aku sering membeli special item disana, barang yang tidak ada di toko lain.. tempat itu cukup terpencil.. memang kenapa?” jawab Jiyeon.

“Baca, maka kau akan tahu!” Minho menyodorkan sebuah buku yang sudah terbuka.

“Bacakan..~” bujuk Jiyeon dengan ‘Puppy Eyes’-nya. Minho menghela napas—pasrah (atau terhipnotis? o.O).

“Jadi, si pemilik kedai itu pada saat wafat, seminggu kemudian baru ada warga yang menyadari..”

“Kasihan sekali.. bagaimana keadaan pemilik kedai itu?” potong Jiyeon.

“Kau suka memotong pembicaraan orang ya?” tanya Minho sinis. Jiyeon menggeleng.

“Pemilik Kedai itu namanya Ahn Hwamin, seorang nenek yang kira-kira usianya 70. Salah satu warga ada yang langsung menyadari kalau nenek itu adalah mantan ratu kerajaan negaranya, Aquidra. Kau tahu kan kalau Aquidra waktu itu sudah dihapus karena ‘game versi laki-laki’? warga yang selamat dari kejadian itu hanya beberapa, cucu dan anaknya yang menentang pangeran Canary, telah terbunuh.. Ingat cerita Jaejoong kan?”

Jiyeon mengangguk, lalu Minho melanjutkan ceritanya, “Hwamin di usir dari istana oleh menantunya sendiri karena Hwamin tau ia akan membunuh istrinya sendiri. Untuk menguasai seluruh harta istrinya. Tapi, rencana itu gagal karena tak lama kemudian ia wafat karena serangan jantung. Dan tak ada yang tau keberadaan Hwamin setelah itu..” cerita Minho panjang-lebar.

          “Jadi.. Kalau begitu.. Hwamin itu, neneknya Jonghun!” sahut Jiyeon kaget. Minho tersenyum misterius..

*** TBC ***

Advertisements

28 responses to “Ellena Potion Part. 4-1

  1. omooo omoo!! hara jonghun udah mulai ada rasa satu sama lain nih ciyeeeeeehhhhh *towel* omooo omooo!! semuanya saling berkaitan! ternyata neneknya jonghun tak diduga-duga adalah warga negeri Ellofaire! kereeen! penasaran deh, btw kok chap 4 dibikin 2 part? pasti panjang ya? okelah langsung cuuusss ke past selanjutnya 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s