[FREELANCE] Aku, Yoona, dan Mr Taxi

Aku, Yoona, dan Mr Taxi

Cast: me (as Ichi)

Im Yoon-Ah

Mr Taxi (Pak Kim)

Part 1 A Stranger Passenger and Taxi Driver

Oleh: Ichi

AKHIRNYA, aku telah sampai di Incheon International Airport, Korea Selatan. Pintu kedatangannya begitu sederhana dan terbuka sehingga semua orang bisa masuk termasuk pengantar atau penjemput. Traffic tower-nya berbentuk sangat unik seperti burung namun bersisik. Begitu turun dari pesawat, udara yang berhembus membekukan diriku hingga menusuk tulang. Mantel cokelat yang kubeli dari Jepang – yang tergantung di lengan kiriku – segera kutarik dan kupakai untuk menutupi diri dari hawa dingin yang melanda sekujur tubuh.

Suara hiruk pikuk di bandara begitu riuh – mulai suara koper beroda yang ditarik para pendatang maupun pelancong, lalu teriakan para penjemput, seruan orang-orang yang mengantar, percakapan orang-orang yang saling bertemu dan para pendatang yang berbicara melalui ponsel.

Aku berniat menghubungi rekanku yang ada di sana dengan ponsel yang sudah kuganti simcard-nya dengan simcard khusus internasional. Aku sudah memulai memijit layar touchscreen ponselku. Namun pandanganku sekilas mengarah pada seorang supir taxi yang memegang kertas besar warna putih bertuliskan “Mr.Ichwan”. Aku lantas membatalkan dan menghapus setiap nomor yang terlanjur tampil di layar dan bersedia untuk di-calling. Supir itu kelihatan tua namun dengan pembawaan tegak dan agak gemuk, dia seolah nampak belum sepenuhnya baya meski dia berjenggot dan berkumis tebal. Aku dengan tanpa ragu melajukan langkah kaki ke arahnya.

Dia melihatku yang mendekatinya dan bertanya sembari menonjolkan seyumannya yang mungkin sudah terlatih, “Mr.Ichwan?”

“Ya”, aku menjawabnya dalam bahasa Inggris – kubalas pula dengan senyuman.

“Mari ikut saya!” Pria gemuk bermata sipit itu menggulung kertas putihnya dan bergegas membawakan koperku.

Aku berjalan mengikuti pria itu. Kami menyusuri lorong ke arah pintu keluar. Di pintu keluar, kami berjalan menuju taxi yang akan kami tumpangi.

“Bagaimana perjalanan Anda?” dia bertanya kepadaku sembari tersenyum simpul namun bernada datar.

“Exciting!” jawabku sambil mengangkat jempol tangan kanan.

“Apa Anda sudah mencoba Kimchi kami?”

“Ya…sudah.”

“Bagaimana rasanya?”

Aku lalu bergaya ala orang Eropa, membuat lingkaran dengan merekatkan jari telunjuk dan ibu jari tangan kanan, lalu mencium lingkaran itu seperti sedang mengapresiasi atas makanan enak.

“Begitu, ya? Hahahahahaha”, dia nampak senang karena makanan asli negaranya dipuji oleh orang asing sepertiku.

Padahal itu hanyalah sebuah kebohongan kecil yang teracik sebagai akibat spontanitas belaka. Dan secara jujur dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku kapok memakan makanan itu. Rasanya seperti asinan Bogor yang disertai sensasi mint. Saat disuguhkan di pesawat tadi oleh pramugari ketika have lunch, aku bahkan tidak menghabiskannya. Sayuran dingin itu dihidangkan dengan tidak tepat – nasi yang menyertainya hangat. Bagiku itu tidak match dan membuat perutku seakan mau “hoek”.  Lidah Indonesiaku masih kelu dengan makanan –makanan asing. Yah,memang agak sedikit norak namun semakin sehat dan mahal sebuah makanan kebanyakan semakin tidak pernah merasa cocok di lidahku.

“Dasi Anda keren!” dia memuji dasi biru yang terlihat dari celah mantelku.

“Oh, terima kasih!” aku tahu dia sedang berbasa-basi.

Setelah menempuh jalan kaki yang tidak begitu panjang, kami sampai di mobil taxi yang kami tuju. Dan aku terkejut ketika melihat seorang cewek menggunakan jaket yang menutupi kepalanya dengan kerudung jaket itu, sudah menunggu di depan mobil taxi yang kami tuju.

“Apa yang sedang anda lakukan disini?” tanyaku dengan berbahasa Inggris.

“Aku juga sedang menunggu taxi ini”, jawabnya menoleh ke arahku.

Ternyata dia juga bisa berbahasa Inggris dan sepertinya aku tidak asing dengan wajah cewek ini, tapi dimana ya. Entahlah, aku lupa. Aku merasa memoriku hilang selaras dengan bertambahnya umur, apalagi dua tahun lagi usiaku sudah menginjak 30 tahun. Huh! Sudah semakin tua saja aku ini.

“Maaf! Tapi, saya sudah memesan taxi ini sebelumnya. Saya sedang terburu-buru Silahkan anda cari taxi yang lain saja!”

“Tapi saya juga sedang terburu-buru!” cewek itu lantas masuk ke dalam taxi dan duduk di jok belakang.

“Hah? ….. Maaf! Apa Anda tidak mendengarkan saya? Saya sudah memesan taxi ini jauh sebelum saya sampai di Korea!” aku mulai kesal.

“Maaf! Saya sendiri sedang terburu-buru. Lebih terburu-buru dari Anda!” jawabnya sambil mengatur tempat duduknya.

Aku sekilas melirik si supir. Si supir taxi cuma menggeleng-gelengkan kepala sambil membuka kedua tangannya. Sebuah isyarat ketidaktahuan.

“Woi!” aku menarik lengan kiri cewek itu karena kesal.

Dia pun menoleh ke arahku sambil mengerucutkan mulutnya dan menggembungkan pipinya. Alisnya mengarah ke bawah seolah kesal kepadaku.

 

Wajahnya lucu sekali. Sebenarnya, aku ingin tertawa. Tapi aku tidak bisa karena hatiku sedang ditekan emosi. Untuk meyakinkan emosiku, aku terpaksa memasang tampang serius dengan sorot mata yang tajam. Meskipun aku sedang menahan tawa.

Si supir taxi bersuara sambil tergagap-gagap,“Se…Sebentar! Saya minta Anda berdua tenang dulu! Saya akan mengantar Anda berdua.”

“Hah? Apa maksudmu?” tanyaku agak kesal kepada si supir taxi dan melepaskan genggaman tanganku di lengan kiri perempuan itu.

“Sudah Mr.Taxi, jangan hiraukan dia!” tukas cewek itu di dalam mobil taxi lalu memerintah, “Tolong, Mr.Taxi, masukkan koper-koper bawaan saya ke bagasi.”

“Ya!” jawabnya lalu membuka bagasinya.

“Woi, Mr.Taxi! Aku yang memesan taxi ini duluan. Seharusnya kamu memasukkan barang bawaanku dulu!” tukasku kepada si supir taxi.

“I..Iya!” Ia agak gugup lalu memasukkan koperku dulu. Dan saat mencoba masukkan barang bawaan cewek itu si supir taxi itu merasa kewalahan.

“Kamu jangan berdiri saja! Bantulah Mr.Taxi! Dia sedang kesulitan!” cewek itu nyeletuk dari dalam mobil.

“Jangan seenaknya! Aku bukan pembantumu!” tukasku kesal.

“Ternyata laki-laki dari Asia Tenggara tidak kuat mengangkat koper”, dia sekarang malah meledekku sambil menjulurkan lidah dan menarik kelopak bawah mata kirinya dengan jari telunjuknya yang mungil.

Sialan!! Dasar cewek menyebalkan! Kalau saja bukan cewek, mungkin aku sudah menendangnya keluar. Aku terpaksa membantu si supir taxi untuk memasukkan kopernya ke dalam bagasi. Terang saja! Berat banget! Apa sih yang dibawa cewek tengil ini?

Setelah masuk semua, aku berusaha menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan untuk menghilangkan emosiku. Aku lalu masuk ke dalam mobil dan duduk berdua di jok belakang dengan cewek menyebalkan itu. Kami saling memalingkan muka. Si supir pun sudah duduk terhenyak di depan setir . Jari-jarinya sudah mencengkeram setir dan siap untuk mengemudikan taxinya.

“Daedun-san, Mr.Taxi!” cewek itu nyeletuk ke supir taxi.

“Woi, jangan seenaknya! Aku yang memesan taxi ini duluan!” pekikku kesal ke cewek itu .

“Mr.Taxi, jangan pedulikan dia! Tolong antar aku ke Dassan!” aku lalu meminta si supir taxi.

Si supir taxi itu tampak bingung. Dari kaca yang tergantung di depan, tampak wajah pria itu mengerutkan dahinya. Terlihat keringat yang berembun di keningnya. Dia sepertinya menuruti kemauanku. Si supir memundurkan taxi keluar tempat parkir dengan gerakan kedua tangannya yang otomatis.

Cewek itu melepas tutup kepalanya. Terlihat rambut lurus sebahu dan wajahnya yang khas Korea. Mata yang agak sipit dengan alis yang tidak begitu tebal dan hidung mungil sedikit mancung menimbulkan kesan menarik. Bibirnya tipis dan jika tersenyum akan tampak melebar. Cantik natural tanpa make up dan tanpa anting yang melekat pada dirinya. Tapi aku tidak boleh terpesona begitu saja. Karena cewek ini harus kuakui…menyebalkan!

Taxi ini mulai bergerak ke jalanan. Saat di perempatan, lampu merah menyala. Refleks mobil taxi itu pun berhenti. Si supir bersandar dan dia tampak mengeluarkan sapu tangan dari sakunya dan mengelap keningnya yang berkeringat. Aku cuma memandang keluar melalui jendela sebelah kiri. Hanya gedung-gedung yang terlihat megah. Pikirku, keadaannya hampir tidak berbeda dengan di Gotanda dua tahun yang lalu.

Perjalanan kami ternyata cukup menyita waktu. Matahari pun sudah mulai redup dan perlahan tenggelam di Barat hingga tak kelihatan. Aku merasa si supir ini dari tadi seperti sedang berputar-putar saja.

Mendadak cewek itu angkat suara, “Aku punya ide!”

“Heeh?”

“Bagaimana kalau kita panco saja? Yang kalah harus mengalah dengan yang menang dan menuruti kemauan yang menang.”

“Hahahahahaha……Nona! Jangan bercanda!”

“Aku serius!” ketusnya melanjutkan, “Yang kalah harus turun dari taxi ini!”

Dasar cewek ini! Asal ngomong aja! Cewek mau adu panco dengan cowok? Apalagi aku. Aku pasti menang dan akan kusingkirkan dia dari taxi ini. Sudah terbayang dipikiranku kalau dia akan memohon-mohon agar tetap naik taxi ini. Hehehehehehe… Dasar cewek bodoh!

“OK!” jawabku senang hati.

Akhirnya kami berhenti di suatu taman yang lebar dan tidak terlalu ramai. Dia kembali menutupi kepalanya dengan kerudung jaketnya dan turun dari mobil taxi. Aneh sekali!

Kami pun menemukan sebuah gazebo.

“Nona! Apa kamu sudah siap?” tanyaku santai.

“Ayo kita lakukan!” wajahnya sangat serius.

“Sampai kapan kamu akan menampilkan wajah itu, Nona?” gumamku.

Aku pun duduk di gazebo itu. Di meja itu, kami mengambil ancang-ancang. Sementara dia tidak duduk dan memilih berdiri agak membungkuk. Aku yakin aku pasti menang. Ya, namanya juga cewek. Aku tidak perlu sekuat tenaga untuk mengalahkannya. Ini pasti akan menyenangkan.

Tanpa sadar tangan kananku yang sudah berdiri tegak malah ditekan jatuh ke bawah oleh tangan kanannya. Ti…Tidak mungkin!

 

“Heeeh?” mataku melotot.

“Ckckckckckck…..!” supir taxi itu cuma menggeleng-gelengkan kepala.

“Aishh, Pecundang!” cewek itu kembali mengejekku.

Aku masih shock! Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutku. Aku telah kalah? Seakan membeku. Aku pun jatuh tersujud, merenungi kekalahan. Belum pernah aku dipermalukan sampai sejauh ini.

Tiba-tiba suara mobil dinyalakan. Aku kembali berdiri dan melihat taxi itu sudah melesat dengan kencang.

“Tunggu! Woi, Tunggu!” aku segera lari tunggang langgang mengejarnya namun tak sanggup dan aku berhenti membungkuk ngos-ngosan.

Tidak! Aku tidak boleh menyerah begitu saja! Aku lalu merogoh saku mantelku. Tidak mungkin! Mataku terbelalak. Pandangan mataku kosong. Aku baru sadar kalau HPku masih tertinggal di mobil taxi itu. Sialan! Aku lemas. Aku benar-benar tidak tahu sedang berada dimana. Tempat ini nampak asing.

Aku terdiam ke taman itu dan duduk-duduk merenungi kesialan yang baru saja kualami. Handphoneku masih tertinggal di taxi itu. Aku tertunduk lesu. Aku tidak dapat menghubungi rekanku. Dan sekarang aku tersesat di sebuah tempat yang nampak asing. Cuma pemandangan yang begitu tandus, running track, dan lapangan basket yang bisa kulihat.

Tanpa terduga ada sebuah mobil taxi yang berhenti tepat di depanku. Kemudian seseorang membukakan pintu belakang dari taxi itu. Ternyata cewek itu lagi. Apa yang ingin ia lakukan kepadaku?

 

“Annyeong! Ayo, masuklah!” cewek nyebelin itu sekarang tersenyum di depanku.

Aku cuma melongo. Tapi aku senang, ternyata dia tidak membuangku begitu saja. Mungkin dia merasa kasihan dan tidak tega kepadaku. Aku lantas masuk ke dalam.

“Selamat datang kembali, Mr! Bagaimana keadaan Anda?” si supir taxi itu menoleh ke arahku dan tersenyum.

“Aku sempat merasa akan tersesat di Korea Selatan selamanya”, jawabku pasrah.

“Begitu ya? Hahahahahaha”, supir itu lantas menarik persneling dan tancap gas.

“Kenapa kamu mau berhenti hanya untuk mengajakku kembali ke taxi?” tanyaku kepada cewek itu.

“Kita sudah berjanji, bukan?”

“Heeh?”

“Siapa yang kalah, dia harus mengalah dan menuruti kemauan yang menang.”

“Jadi?”

“Temani aku selama 3 hari untuk berkeliling Korea Selatan.”

“Heeeeeeeeeeeeeh?” aku shock.

Ternyata aku lagi-lagi dikerjai. Ke….Kejam! Terus gimana nih? Rekanku sedang mencariku.

Perjalananku kali ini nampaknya akan sangat panjang. Aku terjebak dalam perangkap cewek ini. Kesal! Kesal! Kesal!

Perjalanan kami melewati banyak pemandangan lampu-lampu kota yang indah. Mobil taxi ini pun akhirnya memasuki terowongan yang begitu panjang seolah tak berujung. Hanya cahaya kuning bohlam-bohlam yang menghiasi terowongan ini.

“Oppa, tadi seseorang sedang menghubungi Hpmu. Dia mengatakan kalau akan menjemputmu di China Town di Incheon.”

“Itu pasti rekanku?”

“Tapi tenang saja! Aku sudah mengatakan kepada temanmu itu untuk tidak mencarimu selama 3 hari.”

“Heeh? Jangan bercanda!”

“Itu benar, Mr! Saya juga dihubungi oleh Mr.Wijaya tadi. Tapi saya mengatakan kalau anda meminta tidak mau diganggu selama 3 hari.”

“Grrrrrrr….Kalian berdua ternyata saling berkonspirasi!” teriakku kesal.

Cewek itu meringis dan mengangkat jari telunjuk bersamaan dengan jari tengahnya membentuk huruf V, “Peace!”

Aku terduduk lemas. Aku hembuskan nafas demi nafas dari mulutku untuk menenangkanmu.

“Oppa, namamu siapa?” cewek itu tesenyum memandangku.

Pipiku sontak memerah. Aku dengan agak gugup menjawab, “Panggil saja aku Ichwan.”

“Ichiwan?”

“I-C-H-W-A-N”, aku mengejanya.

“Bagaimana kalau aku memanggilmu Ichi saja?”

“Terserahlah”, aku sadar kalau orang Korea tidak mampu mengucapkan namaku dengan benar.

“Salam kenal, aku Im Yoona, atau kamu bisa memanggilku Yoona.”

Aku pun berjabatan tangan dengannya. Tak berapa lama aku teringat sesuatu.

“Heeeeeeeeeeeeeh?” sontak aku terkejut.

Sekarang aku baru sadar, kalau dia adalah salah satu personil SNSD (So Nyeo Shi Dae)/Girl’s Generation, Im Yoona. Ti…..Tidak mungkin! Sekilas aku meliriknya. Mataku melotot! Ya! Aku tidak mungkin salah! Tidak kusangka, aku akan bertemu dia sampai sejauh ini!

“Mereka adalah idola para lelaki. Dan suatu saat nanti aku pasti bertemu dengan salah seorang dari mereka., “ teringat kata temanku dulu.

“Ah, jangan bermimpi yang tidak – tidak!”, jawabku sambil meninggalkan ruangan.

“Apa maksud Elu?” tanya temanku kala itu.

“Percuma saja kita menyukai mereka, toh, kita belum tentu bertemu dengan mereka. Lagian, prioritas utama kita setelah lulus adalah berkarir. Jangan membuang waktu hanya untuk mimpi yang tidak mungkin tercapai.”

Setelah teringat percakapan dengan temanku kala itu, aku akhirnya mengerti. Seharusnya, temanku yang sekarang duduk bersama Yoona SNSD, bukan aku. Apakah ini hanya sekedar keberuntungan? Tidak! Di setiap kejadian, Tuhan pasti punya rencana. Kita sendiri yang tidak tahu dan tidak menyadari rencanaNya.

“Sekarang aku baru tahu, kamu pasti personil SNSD itu kan?”

“Wah, ternyata kamu juga tahu tentang SNSD, ya?” tanyanya balik sambil tersenyum.

“Ah, cuma sedikit saja. Dan setiap kali aku melihat performance kalian di show, kalian nampak feminin natural.”

“Begitu ya?” dia pun tertawa-tawa kecil dan seakan tersipu malu.

Kalau aku mengingat SNSD, aku jadi teringat masa-masa seperti di kost saat kuliah dulu. Tapi, entah mengapa tahun-tahun belakangan ini, SNSD sudah jarang show lagi di televisi dan tidak ada informasi di internet sedikitpun tentang SNSD. Aku sendiri sudah lupa dan sejak bekerja aku sudah jarang lagi berkumpul dengan teman-teman yang dulu para fans SNSD atau Korea ahollic maupun para otaku (pencinta anime dan manga) meski aku bukan fans SNSD dan bisa dikatakan lebih ke arah otaku.

Aku segera mengeluarkan sebuah booknote kecil serta bolpoin di saku mantelku dan meminta tanda tangannya, “Aku boleh minta tanda tanganmu ?”

“OK!” dia pun menerima booknote itu dan menuliskan tanda tangannya.

Aku mendapatkannya kembali dan alangkah terkejutnya, di tanda tangannya ada gambar hati. Sekarang aku baru sadar, perempuan ternyata suka terhadap gambar hati. Aku tidak mengerti kenapa.

Setidaknya kali ini, dia tidak lagi nyebelin karena kami akhirnya saling larut dalam perbincangan kami. Entah kenapa, tiba-tiba dia ingin ke minimarket terdekat. Alamak, kami baru sadar kalau kami belum makan malam.

Mobil taxi pun berhenti. Yoona turun dan berjalan ke arah minimarket terdekat untuk membeli makanan.

Di saat Yoona sedang berbelanja. Si supir menoleh ke belakang dan mengajak berbincang-bincang denganku, “Apa anda fans SNSD?”

“Ah, tidak juga! Saya kebetulan menyukai performance SNSD waktu jaman saya kuliah dulu. Saya terkena pengaruh teman-teman saya.”

“Begitukah? Yoona itu adalah member SNSD yang fansnya banyak terutama dari kalangan para cowok.”

“Ah, Jadi begitu! Pantas saja dia setiap keluar dari mobil, dia pasti menutupi kepalanya dengan kerudung jaketnya.”

“Yoona itu suka ngemil di tengah malam selain itu dia juga suka buah strawberry.”

Aneh sekali? Supir taxi ini begitu tahu lebih banyak tentang Yoona. Siapa sebenarnya supir taxi ini?

“Besok tanggal 30 Mei, adalah hari ulang tahunnya”, pria itu nampak mengerutkan dahi dan raut muka sedih terpancar dari wajahnya.

“Ulang tahunnya?”

Supir taxi itu cuma mengangguk dan kembali meneruskan kembali kata-katanya,”Dia memang jahil dan usil. Bahkan anda saja dijahili. Tapi saya yakin dia melakukan itu untuk menutupi kesedihannya. Di hari ulang tahunnya besok, mamanya belum tentu bisa datang untuk ikut merayakannya.”

“Kenapa begitu?”

“Mamanya bercerai sejak Yoona masih kecil”, tutur si supir menegaskan.

Aku pun terharu dan merasa kasihan dengan Yoona.

“Ah, bolehkan saya meminta sesuatu kepada Anda?” pria itu memegang tanganku.

“Ya, silahkan! Saya siap mendengarkan.”

“Tolong jaga dan lindungi Yoona! Bahagiakan dia!”

“Heeeeeeeeeeh? Saya ini bukan siapa-siapanya!” teriakku kaget.

“Tolonglah! Selama tiga hari ini!”

“Jangan-jangan anda ini…..”

Pria itu mengangguk-angguk seakan tahu apa yang ada dipikiranku. Dia seketika mencabut kumis dan jenggot palsunya lalu memasangnya lagi. Sudah pasti? Dia pasti ayahnya Yoona yang sedang menyamar sebagai supir taksi. Itulah yang ada di pikiranku saat ini yang dapat dibaca oleh si supir taxi lewat anggukannya.

“Tolong panggil saja saya ini, Pak Kim!” pria itu tersenyum merekah.

Yoona akhirnya selesai berbelanja dan kembali ke mobil sambil membawa bungkusan camilan dan buah strawberry, “Aishh, kayaknya abis ngobrol asyik, ya?” dia menyeletuk dan tersenyum melihat kami yang saling berpegangan tangan.

Seketika kami saling menarik tangan kami secepat kilat. Aku pun memberitahunya, “To..Tolong jangan salah persepsi!”

“Iya..ya! Ini!” Yoona memberikan semacam roti kepadaku dan si supir taxi.

“Harganya berapa?”

“Kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu?” tanya dia balik.

“Aku akan membayarnya.”

“Ah, tidak perlu! Aku senang bisa membelikanmu.”

“Tapi…..”

“Sudahlah! Simpan saja uangmu untuk kebutuhanmu di sini.”

Sekarang aku baru sadar, dibalik sifatnya yang usil itu, dia ternyata sangat baik.

Kami pun memakan roti itu, dan Yoona ternyata membuat semacam sereal di taxi dengan mencampurnya dengan susu instan.

“Yoona, kamu nggak makan roti?”

Wae? Aku lebih suka makan sereal.”

Setelah makan malam bersama itu, kami kembali melanjutkan perjalanan. Taxi kembali bergerak menuju gunung Daedun seperti keinginan Yoona. Kami kembali melewati terowongan yang lainnya.

Yoona akhirnya tertidur. Dia tanpa sadar menyandarkan kepalanya di bahuku. Aku pun deg-degan. Aku belum pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. Waduh!

Dia lalu menggerak-gerakkan tangannya mencengkram badannya seolah-olah sedang menggigil kedinginan. Dia pun mengigau, “Gamgi”.

“Apa maksudnya?” aku bertanya bisik-bisik kepada supir.

Si supir melirikku lewat spion tengah dan mengatakan bahwa dia sedang kedinginan.

“Haruskah saya…?”

Pria itu pun mengangguk. Aku lantas melepas mantelku secara perlahan dan membagi mantel itu bersama Yoona. Aku merasa ragu-ragu karena si supir itu adalah ayahnya. Tapi, syukurlah! Dia tidak lagi merasa kedinginan. Dan entah kenapa jantungku berdetak lebih kencang. Aku memandang wajah imutnya saat tertidur. Dia masih bersandar dibahuku. Aku tidak tahu entah ada perasaan apa ini. Aku merasa seakan terperangkap dalam jaring namun aku bahagia walau sudah terjerat.

“Baiklah, Pak Kim! Saya sudah memutuskan akan memenuhi janji saya kepada anda.”

“Terima kasih!” Pak Kim sesekali menegok ke belakang dan mengusap matanya dengan jari telunjuk tangan kirinya seolah dia baru saja mengeluarkan air mata.

Bersambung

 

Ost ending : 2PM – Take Off

 

Part 2 The Late Birthday

Oleh: Ichi

AKU HANYA seorang auditor yang bekerja di bawah Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Sejak kecil, aku sudah menjadi teladan keluarga. Setelah lulus S2 di Todai University 2 tahun silam di Jepang, karirku pun menanjak. Ini semua termasuk hal yang patut aku banggakan dari apa yang keluargaku didik. Ya, keluargaku mempunyai sebuah idealisme. “Ketika berjanji, harus ditepati.” Tidak peduli apa yang terjadi, janji harus ditepati. Bagaimanapun, aku tidak akan menghancurkan idealisme yang sudah menjadi kebanggaan keluarga.

Awalnya, kedatanganku ke Korea Selatan tidak pernah kuduga sebelumnya. Sebuah perusahaan swasta multinasional meminta kami untuk mengaudit cabang perusahaan yang ada di Korea Selatan, Swasta Prima, Corp. Namun, karena sesuatu masalah yang tak diharapkan datang, tugas audit ini akan mengalami sedikit hambatan. Seorang cewek Korea telah membuatku harus menghabiskan waktu 3 hari bersamanya.

“Drrt…Drrt…Drrt” bunyi HP yang ku modus diam tiba-tiba bergetar. Aku membuka mataku dan melihat ternyata alarm yang telah kuatur pukul 5 dini hari. Si supir itu masih belum mengantuk juga dan terus menyetir. Aku lalu menengok ke samping perlahan.

 

“Waaaaa!” aku berteriak kaget melihat hantu.

Wae? Kenapa berteriak, Ichi?” Yoona terbangun dan segera memandangku.

“Sejak kapan kamu memakai masker? Mengagetkanku saja!” pekikku dengan mata terbelalak.

“Sebelum tidur, Ichi”, Yoona mengucek matanya.

“Heeh?”  aku bengong karena tidak tahu.

Aku benar-benar terkejut dengan penampilannya itu. Sejak kapan dia memakai masker putih itu? Padahal, dia tadi tidur lebih awal dariku. Kulirik jam tanganku. Sudah pukul 05.07.

“Pak Kim, apa Anda bisa mencarikan saya masjid? Saya mau beribadah.”

“Ah, Anda ini seorang muslim, ya? Saya akan antarkan Anda ke sana.”

Seusai sembahyang, aku kembali ke taxi, “Terima kasih sudah menunggu!”

Kami kembali melanjutkan perjalanan. Melewati perumahan elit, apartemen, ruko-ruko, dan gedung-gedung menjulang tinggi. Di tengah perjalanan, kami pun sempat singgah di sebuah pom bensin untuk mengisi bensin. Karena ini masih begitu pagi dan wisata Gunung Daedun baru mulai buka jam 08.00 pagi, kami akhirnya memutuskan singgah di suatu tempat.

“Pak Kim, kenapa kita berhenti di sini?”

“Aku mau mampir ke apartemen Pak Kim untuk berganti pakaian”, Yoona yang menjawab lalu turun dari mobil.

“Mari, Mr! Kita turun!”

Pantas saja! Kami nggak nyampai-nyampai ke tujuan. Tapi? Bukannya apartemennya juga rumah Yoona. Aku menarik lengan kiri Pak Kim. Pak Kim menoleh. Aku lalu bertanya kepada Pak Kim dangan berbisik, “Pak Kim, apa benar ini apartemenmu?”

“Tentu saja bukan, ini apartemen teman saya yang ia titipkan kepada saya karena dia sedang keluar kota.”

Aku segera mengambil kesimpulan bahwa Pak Kim ini benar-benar cerdik. Dia rela menggunakan apartemen temannya untuk mendukung penyamarannya.

Wae? Kenapa kalian bisik-bisik?” Yoona menatap kami berdua.

“Ah, tidak ada apa-apa. Silahkan masuk!” Pak Kim mengantar kami berdua ke apartemennya.

Yoona membawa tas ranselnya dari bagasi taxi ke dalam. Dia mandi terlebih dulu. Sementara aku dan Pak Kim duduk-duduk bersila di ruang tamunya yang nggak lebar.

Pak Kim memberikanku minuman dari kulkasnya seperti air mineral yang telah dituang ke dalam gelas kaca, “Silahkan diminum! Saya sendiri lupa kalau disini tidak ada makanan.”

“Terima kasih! Anda tidak perlu repot-repot!” aku meminumnya seteguk.

“Oh ya! Bolehkah saya meminta sesuatu kepada Anda?”

“Hmmmm?”

“Ini adalah hari ulang tahunnya. Apa anda sudah membeli sesuatu sebagai hadiahnya?”

“Benar juga! Aku lupa!”

“Saya tahu sebuah hadiah yang mungkin ia suka!”

“Apa itu?”

Pak Kim pun membisiku sesuatu. Awalnya aku kaget karena hadiah itu mungkin sangat mahal. Tapi dia telah memberitahuku bahwa ada yang lebih murah dari hadiah itu.

Aku pun mengikuti saran Pak Kim dan berjalan keluar apartemen sekitar 40 meter. Disanalah aku membeli hadiah. Ya, dengan hadiah yang kubeli ini mungkin Yoona akan senang. Dan dia pasti berpikir ulang untuk tidak menahanku selama 3 hari. Dengan begitu janji yang telah kami buat akan ia cabut sendiri. Ya, dengan begitu, aku dapat dikatakan tidak melanggar janji dan aku tidak akan merusak idealisme keluargaku.

Hadiah ini cukup kecil, sehingga dapat dengan mudah masuk saku jas hitam yang kukenakan. Aku pun mengocek kantong dalam-dalam untuk mendapatkannya. Sekitar 245.000 won aku membeli barang tersebut. Namun, ini spesial.

Setelah membeli hadiah itu, aku pun kembali ke apartemen Pak Kim. Aku pun mandi lalu berganti baju dengan kemeja putih yang lain dan dasi biru sebagai penghias.

“Oppa, kamu seperti pegawai kantor saja”, Yoona nyeletuk sambil tersenyum daan geleng-geleng kepala.

“Waaaaa!” aku terkejut dan jatuh terjungkal ke belakang karena penampilannya yang begitu berbeda.

“Kenapa Ichi?” jawabnya sembari membenarkan topi dan jaket sport dengan rambut terikat.

“Kenapa kamu memakai kumis palsu?” tanyaku sambil berteriak kaget.

“Sebagai penyamaran supaya tidak diketahui fansku.”jawabnya santai.

“Bagaimana kalau kita berdua cari sarapan di luar saja?” Pak Kim memberikan sebuah ide.

Karena perutku sendiri sudah keroncongan, aku cuma mengangguk sebagai jawaban. Begitu pula Yoona. Kami kembali menaiki taxi lagi untuk mencari tempat sarapan dan  sampailah di sebuah restoran yang menurut Pak Kim cukup murah.

Kami memesan makanan yang berbeda-beda. Awalnya Pak Kim berniat memesankan Kimchi, namun aku memintanya untuk memesankan makanan lain dengan alasan ingin mencoba yang lain. Padahal aku sudah kapok dengan Kimchi, tapi untuk menyenangkan hatinya aku tidak mau mengatakannya terus terang dari awal.

 

Aku memesan “Ojingobogo” (mie yang didalamnya ada ikan tuna) karena tidak ada menu ramen. Dan aku memang baru sadar bahwa aku sedang tidak di Gotanda, Jepang seperti dulu. Memori lama sampai terbawa-bawa.

Sementara Yoona memesan “Sensonkui” (katanya ikan yang digiling). Dan Pak Kim memesan “Chimsisige” (cumi panas dengan saus pedas).

Saat sarapan itu, kami saling berbagi cerita.

“Hei, Yoo…”

Belum selesai berbicara, Pak Kim sudah menutupi mulutku rapat-rapat dengan kedua tangannya. Dia segera berbisik ke telingaku, “Sssstttt….Jangan memanggil namanya keras-keras!”

Aku mengangguk-angguk. Spontan, si supir itu melepaskan tangannya dari mulutku. Dia lalu menghela napas yang cukup panjang.

Kemudian, kualihkan pandanganku ke arah Yoona. Yoona menatapku dengan tajam dan lalu bertanya kepadaku dengan suara yang direndahkan seolah menirukan suara cowok, “Ada apa, Ichi?”

“Hari ini ulang tahunmu, bukan?” tanyaku dengan mata dingin.

“Memangnya kenapa?” tanyanya kembali sambil memelintir kumis palsunya.

Kamu ini sebenarnya cewek atau cowok. Setidaknya bersikaplah layaknya cewek. Aku khawatir jangan-jangan kepalanya telah terbentur sesuatu.

“Aku akan merayakannya bersamamu. Jadi, apa yang bisa kulakukan untuk merayakannya?” aku kembali tersenyum.

“Ichi!”

“Ya?”

“Kamu ternyata tahu hari ulang tahunku.”

“Ah, aku kebetulan diberi tahu  oleh Pak Kim.”

Pak Kim sontak menyikutku. Aku berhenti berbicara.

“Wah, ternyata Pak Kim ini tahu juga?” Tanya Yoona.

“Ah, saya kebetulan tahu dari infotainment di televisi.”

“Begitu ya?” Yoona tertawa kecil.

“Ichi?” Yoona kembali memanggilku.

“Apa kamu benar mau merayakan hari ulang tahunku.”

“Tentu saja, bukankah aku telah berjanji bahwa aku akan …….”

Pak Kim menginjak kakiku dan melirikku.

“Aku telah berjanji kepadamu bahwa yang kalah akan menuruti kemauan yang menang.”

“Jadi begitu! Aku baru ingat.”

“Heeeeeeeeeh?” tahu begini sebaiknya tidak aku ingatkan.

“Dengan mempunyai orang yang perhatian sepertimu, Ichi…..”

“Hmmm?”

“Kamu telah membuatku senang”, jawabnya sembari tersenyum.

 

Aku bingung untuk mengatakan apa. Tapi satu hal yang aku dapat, entah kenapa aku merasa nyaman ketika ia tersenyum. Aku senang mendengar apa yang ia katakan.

“Terima kasih, aku senang mendengarnya”, jawabku.

Dia terdiam dan menatapku begitu lama. Senyum di bibirnya terlihat menghiasai wajahnya. Meski tertutup oleh kumis palsunya.

“Ehm……Ayo kita habiskan makanan ini dan segera ke gunung Daedun! Hahahahahaha”, Pak Kim menyahut dan terkekeh sambil menikmati makanan.

Kami pun akhirnya larut dalam canda tawa bersama Pak Kim dan seusai sarapan, kami kembali melanjutkan perjalanan kami. Suasana sudah begitu cerah. Pagi yang lumayan dingin, beberapa orang masih belum keluar dari rumah. Jalanan pun tampak lengang sehingga tak begitu menghambat bagi kami yang ingin secepatnya ke gunung Daedun.

Aku cuma tersenyum melihat pemandangan ini dari jendela di sebelah kiriku.

“Ichi?” Yoona memanggilku.

Aku lekas menoleh ke kanan. Yoona telah melepas kumis palsunya. Dia nampak cantik. Inikah yang disebut-sebut temanku sebagai idola para lelaki. Aku tidak pernah menyadari hal ini sebelumnya. Pantas saja temanku sampai mengidolakannya. Sementara aku ini cuma penonton yang sekedar lewat untuk melihat. Harusnya, temanku yang saat ini bersamanya.

“Apa kamu yakin mau menemaniku?”

“Ya, tentu saja. Aku sudah berjanji padamu. Aku tidak akan mengingkari janji.”

“Begitu ya! Kamu memang seorang namseong yang bertanggung jawab!” dia lantas tersenyum kepadaku.

“Terima kasih!” aku senang mendengarnya meski tidak mengerti namseong itu sebenarnya artinya apa.

∞∞∞∞∞∞∞∞∞

AKHIRNYA kami sampai di gunung Daedun. Korea memang memiliki daratan pegunungan yang dapat dijangkau dan dilewati. Suasananya begitu berbeda dengan sebelumnya. Tadi pemandangan perkotaan sekarang nuansa alam.

Perjalanan kami cukup memakan waktu. Ternyata sudah 2 jam. Memang masih pagi. kami akhirnya bisa menikmati perjalanan kami. Fee parkir untuk taxi ternyata cuma 1000 won. Yah, karena ini adalah kemauanku untuk menemani Yoona ke tempat yang ingin ia kunjungi, akulah yang menanggung biayanya.

Entah kenapa aku juga senang. Sebuah pemandangan indah pegunungan ini membuatku takjub dan seketika kepenatan yang telah terjadi seakan sirna dari tubuhku.

“Ayo!” Yoona sudah di depnku lalu menarik tanganku.

Seketika wajahku memerah. Belum pernah sekalipun seorang cewek yang memegang tanganku sampai sejauh ini. Aku bengong dan deg-degan.

“Ayo!” Yoona menyeru sekali lagi sambil menoleh ke arahku.

Seketika perasaanku seakan buyar karena kumis palsu yang menempel di atas bibirnya.

Kami melakukan perjalanan yang mengasyikkan. Melewati jembatan gantung menanjak yang sempit dan tidak bisa dua orang secara bersamaan melewatinya. Setapak demi setapak kami berjalan di jembatan gantung ini yang terdiri dari 127 anak tangga. Kami bisa melihat pemandangan jurang yang begitu indah. Hingga kami sampai ke puncak dan melihat sebuah kristal warna putih yang disebut-sebut sebagai “berlian puncak”. Seperti sebuah monumen namun kecil dan memang sepertinya dipahat dan berbahan dari berlian. Keterangan dari Yoona dan Pak Kim tidak membuatku ragu.

Kemudian, kami menaiki cablecar semacam kereta gantung, namun lebih besar. Kami bisa melihat pemandangan alam di sekitar. Luar biasa. Aku kembali takjub dengan pemandangan alam yang diciptakan Tuhan ini.

“Oh ya, Yoo….Maksudku Unnie”, untung aku tidak keceplosan.

“Hmmmm?” dia menoleh ke arahku.

“Sebenarnya, kenapa kamu ingin sekali pergi ke gunung Daedun?”

“Apa kamu tidak lihat itu, Ichi?” dia menunjuk ke luar jendela.

Aku mengubah pandangan sesuai dengan arah  yang ia tunjukkan. Betapa terkejutnya. Sebuah pemandangan sisi gunung yang berwarna merah kecoklatan seperti halnya sebuah lukisan.

“Indah, bukan?” tanyanya tersenyum.

Aku hanya mengangguk dan masih merasa takjub dengan pemandangan yang terjadi.

“Dulu, aku dan keluargaku sering jalan-jalan kemari.”

“Heh?” aku agak terkejut lalu merasa ingin mendengar kelanjutannya.

“Jadi setiap kali ke sini. Aku akan teringat terus apa yang menjadi kenangan kami dulu.”

“Apa kamu rindu dengan mamamu?”

Ia menoleh ke arahku lalu menjawab, “Ya,sangat. Tapi aku tidak bisa. Biarlah, aku hanya ingin seperti ini. Kalau tahu aku sedang bersedih karena mama tidak bisa datang, mama pasti juga akan sedih”, matanya mulai sayu.

Tanpa sadar mataku berkaca-kaca. Aku akhirnya memahami apa yang membuatnya sedih. Aku tidak tahu kenapa, aku ingin sekali membuatnya terus tersenyum.

Kami pun makan siang dengan menu baru “Bibimbap”, sayuran, nasi, dan telur yang dicampur aduk. Selain itu, kami juga menikmati “Macalee”, sebuah anggur beras. Warnanya kuning kecoklatan dengan beras merah di dalamnya. Awalnya, aku mengira itu adalah “dawet Jepara”. Yah, aku memang norak dan masih asing dengan makanan yang ada di sana, namun lidahku akhirnya bisa menerima semua makanan itu. Dan sejauh ini, hanya “Kimchi” yang belum bisa kuterima dengan baik.

Seketika aku meminta waktu untuk beribadah kepada Pak Kim dan Yoona. Pak Kim mengantarku ke suatu tempat yang telah disediakan untuk beribadah.

“Terima kasih, Pak Kim! Anda telah mengantar saya sampai kemari.”

“Tidak perlu sungkan-sungkan!

Setelah sembahyang, sebuah telepon datang dari Handphoneku. Aku segera merogoh saku dan ternyata rekanku. Aku pun mengangkatnya.

“Halo!”

“Pak Ichwan!?”

“Ya, ada apa Pak Wijaya?”

“Kami semua sedang mencari anda. Tolong jangan seenaknya pergi begitu saja!”

“Maaf, tapi aku ada sedikit masalah di sini!”

“Katakan saja sekarang! Lokasi anda berada di mana?”

“Saya ……” , aku belum bisa menjawabnya karena aku telah berjanji dengan Yoona.

Kalau aku memberitahunya sekarang dan menjemputku, aku tidak akan menuntaskan janjiku. Dan lebih buruk lagi. Aku tidak akan melihat senyuman itu lagi? Entah, kenapa hatiku merasa enggan untuk meninggalkannya. Ada perasaan apa ini?

“Halo! Coba katakan sesuatu!” temanku bersuara di dalam handphone dan menghentikan lamunanku.

“Besok lusa saja! Saya tidak bisa bertemu sekarang!”

“Besok lusa? Apa anda lupa ya? Besok lusa kita semua harus mulai melakukan pertemuan dengan kepala cabang! Kita harus bersiap-siap!”

“Saya mengerti! Jemput saja saya besok di tempat yang Anda inginkan!”

“Baiklah kalau begitu!  Kita bertemu di China Town jam 9 pagi!”

“OK!” jawabku ragu.

Telepon pun di tutup. Aku dengan pelan memasukkannya ke kantong. Aku merasa bimbang karena janjiku belum bisa sepenuhnya ditepati. Entah kenapa aku tidak mau pergi dari cewek itu? Rasanya begitu berat!

Akhirnya aku kembali ke tempat peristirahatan dan berhasil bertemu dengan mereka. Aku lelah sekali telah berjalan dari luar gunung hingga ke sana.

“Ichi dari mana saja? Lama sekali?” Yoona menatapku.

“Ah, cuma mencari angin segar sejenak.”

“Begitu ya! Aku pikir kamu akan kabur?”

“Jangan…..sembarangan! Aku…tidak mungkin ……mengingkari janjiku!” nafasku masih ngos-ngosan.

“Begitu ya! OK, saatnya kita kembali!” dia pun berdiri dan tersenyum menghampiriku.

“Heeh? Hanya begitu saja?”

“Kita jalan-jalan lagi ke Incheon!” tukasnya.

Kami pun beranjak dari tempat itu dan kembali ke taxi. Kami kembali menempuh perjalanan dan singgah dulu di apartemen Pak Kim untuk mandi. Sementara itu, aku meminta waktu untuk beribadah karena waktu itu matahari sudah mulai tenggelam. Setelah urusan kami terpenuhi. Kami melanjutkan perjalanan dan berhenti di sebuah taman di dekat minimarket. Yoona lagi-lagi ingin ke minimarket terdekat. Dia ternyata mau membeli semacam cemilan.

Aku dan Pak Kim menunggunya sambil duduk-duduk di taman.

“Apa Anda sudah membelinya?”

“Ya! Dan hari ini aku akan memberikannya sekarang juga!”

“Syukurlah kalau begitu!” dia membuka dompetnya.

Alangkah terkejutnya diriku. Ada foto Yoona di dalam dompet itu.

“Pak Kim! Anda menyimpan foto Yoona?”

Pak Kim sesegera mungkin menutup dompetnya dan mengatakan, “To…Tolong! Jangan beritahu Yoona akan hal ini!”

Dasar aneh bapak yang satu ini! Kenapa dia menyimpan foto anaknya di dompetnya? Tapi, namanya juga seorang ayah, mungkin dia tidak ingin melupakan wajah anaknya.

Yoona pun sudah keluar dari minimarket. Dia tahu kami sudah begitu lama menunggunya duduk-duduk di taman. Lalu, Yoona tersenyum dan menghampiriku sambil berlarian. Sejurus aku menengok ke samping, sebuah mobil melaju dengan kencang.

Aku berdiri dengan cepat lalu dengan kilat sebelum mobil itu menyambarnya, aku telah berhasil menyelamatkannya. Tanpa sadar, aku telah jatuh di atasnya.

Aku membuka mata. Dengan gerakan kilat, aku kembali berdiri. Aku lalu membantu Yoona untuk berdiri. Dia tersenyum dengan mata yang sayu lalu memelukku. Ya, sangat erat. Aku sampai tidak bisa bergerak.

“Terima kasih!” dia membisikkannya di telingaku.

“Heeh?” wajahku sudah memerah dan masih kaget.

“Terima kasih! Karena telah menyelamatkanku”, dia pun melepas pelukannya.

Aku cuma diam. Aku memandangi wajahnya sekali lagi. Dia pun tersenyum kepadaku.

“Ayo! Kita makan dulu!” ajaknya seraya berjalan ke tempat duduk.

Dia pun membelikan lagi kami roti. Aku dan Pak Kim bersama-sama memakannya. Begitu pula Yoona akhirnya dia makan rotinya.

“Aku mau ke toilet sebentar!” Pak Kim menyeletuk dan meninggalkan kami.

Sekilas dia mengedipkan matanya kepadaku. Sebuah isyarat, “Inilah waktunya!”

Huuh! Tibalah saat-saat yang sulit! Aku memang tidak ahli dalam hal-hal seperti ini. Untuk membuka percakapan saja, aku harus berpikir agar percakapanku dengannya berjalan dengan mulus. Ini karena aku masih single dan belum berpacaran dengan siapapun sehingga tidak punya pengalaman untuk hal-hal seperti ini. Bahkan, saat di Jepang, kenalanku di sana sampai menyebutku “Ohitorisama”.

Apa yang harus kukatakan? Apa topik yang tepat untuk membuka pembicaraan ini? Ayo! Berpikir! Berpikir! Apa perlu aku berhumor? Apa perlu aku langsung menyerahkan hadiahnya begitu saja? Atau apa aku harus berbasa-basi dulu dengan mengatakan keindahan alam? Ya, tapi apa? Sejenak aku melihat ke atas. Ya, aku dapat!

Aku pun memulai pembicaraan dengan Yoona, “Aishh, biru langitnya sudah mulai menghilang!”

“Hmmmmmm!” dia memandang ke atas lalu menambahkan, “Pemandangan langitnya begitu indah! Meski warna biru langit yang sudah gelap namun dengan diikuti cahaya rembulan warna biru sepertinya tidak akan menghilang. Kamu suka warna biru ya?”

“Heeh?” aku tidak menyangka kalau dia tahu warna favoritku.

Dia kembali melanjutkan, “Apa itu alasanmu memakai dasi itu?” dia menunjuk dasi yang kukenakan.

“I..Iya! Sebenarnya aku memang suka warna biru! Karena warna biru itu melambangkan……..” belum selesai aku menjawab, dia pun angkat suara.

“Kesejukan”, kami pun mengucapkannya secara bersamaan.

“Heeh?” bagaimana dia bisa tahu apa yang akan aku maksud.

“Kalau begitu kita sama.”

“Hmmm?”

“Aku juga suka warna biru. Warna biru adalah warna favoritku”, dia menatapku sembari tersenyum.

Untunglah dia telah melepas kumisnya, sehingga senyum di wajahnya itu bisa terlihat. Aku merasa nyaman dengan senyuman itu. Aku seakan tidak mau berhenti melihat senyuman itu.

“Terima kasih! Kamu telah menemaniku saat aku ingin merayakan ulang tahunku”, dia tersenyum menatapku.

“Kenapa kamu tidak ingin merayakannya di rumah?”

“Karena ibuku belum tentu bisa datang di hari ulang tahunku. Tapi, aku senang karena setidaknya saudaraku dan ayahku pasti sedang merayakannya di rumah.”

“Yoona, selamat ulang tahun, ya!” aku memberikannya sebuah kado kecil yang aku beli tadi sesuai petunjuk Pak Kim.

Yoona melihat dan menerima bingkisan kecil itu. Dia membukanya dan terkejut.

“Ichi, kamu telah melakukannya sampai sejauh ini?” dia terkesan lalu tertawa begitu kencang.

Heeh? apa dia tidak suka dengan cincin emas yang menjadi hadiahnya. Padahal, kata Pak Kim, Yoona pasti suka dibeliin cincin emas. Apalagi harganya cukup menguras dompet.

“Apa kamu tidak suka dengan hadiah itu?”

“Bukan begitu, Ichi! Terima kasih, ya! Aku suka dengan hadiah ini”, Dia tersenyum memandangku lalu melanjutkan, “Seharusnya kamu tidak perlu repot-repot memberiku hadiah. Bagiku itu sudah cukup.”

“Heeh? Tapi tidak apa-apa kok. Aku memang ingin membelikannya. Tapi kenapa kamu tertawa?”

“Cincin emas ini biasanya sebagai hadiah seseorang dari kekasihnya.”

“Heeh? Jadi begitu!”

“Oppa, kamu ini polos sekali!” dia tertawa.

“Masalahnya sampai saat ini aku belum pernah pacaran”, jawabku malu.

Chinca? Memangnya kenapa bisa begitu?”

“Sejak remaja aku hanya ingin mengejar karir.”

“Wah, benar-benar sebuah idealisme yang bagus. Aku menghargainya. Tapi, apa kamu mau selamanya mengejar karir?”

“Tidak juga, Aku mungkin akan menikah ketika usiaku sudah menginjak 27.”

“Ternyata, kamu juga sama sepertiku.”

“Haah?”

“Iya, aku juga sama. Aku juga ingin mengejar karir dulu baru mengejar cinta. Aku akan menikah di usia 27 atau 28 tahun.”

“Dan sekarang usiamu?”

“27 tahun.”

“Sama sepertiku”, jawabku dengan santai.

Entah kenapa aku tidak grogi di saat berbicara dengannya. Karena aku mulai merasa aku seperti berbicara dengan temanku sendiri.

“Berarti kita masing-masing seharusnya sudah merencanakan pernikahan dengan orang yang kita cintai”, jawabnya sembari tertawa kecil lalu menatapku.

“Begitu ya?”

Aku hanya diam dan memandangnya sambil tersenyum. Kami agak lama saling menatap.

“Maaf, ya? Aku tidak tepat memberi hadiah.”

“Tidak, Ichi-ah! Ini bukan kesalahanmu! Aku sudah senang dengan semua yang telah kamu lakukan untuk merayakan ulang tahunku”, jawabnya manis.

“Jadi begitu! Terima kasih! Aku senang mendengarnya!”

Sekarang aku harus mengatakan sesuatu kepadanya. Ya, aku tidak bisa lagi menemaninya lagi besok. Rekan satu kerja sudah mencariku. Tapi, rasanya sangat berat. Tidak! Aku harus mengatakannya.

“Yoona….”

“Hmmmm…”, seketika dia menoleh ke arahku.

Bersambung

Ost ending : 2PM – Take Off

 

 

 

Part 3 Yoona, mianhae!

Oleh: Ichi

MALAM INI begitu indah. Seribu bintang seolah menjadi penghias yang menyertai perbincangan kami berdua. Ya, hanya berdua. Meskipun angin berhembus dan memukul – mukul pakaian kami seakan ingin kami terbang bersama angin itu. Tapi, suasana saat ini benar – benar lain. Aku baru menyadari, apakah ini yang dinamakan romantis?

Entah kenapa, aku begitu menikmati suasana saat ini. Bersama dia. Melihat senyumannya. Melihat canda tawanya. Melihat caranya bertutur kata. Mendengar keluh kesahnya. Menikmati keceriaannya. Apakah ini yang dinamakan cinta?

Pertanyaan – pertanyaan itu sempat aku lontarkan kepada diriku sendiri. Aku memang kikuk. Tapi, setiap melodi yang bernuansa ballad seolah mengiringi kami dalam perbincangan kami kali ini.

“Yoona….”

“Hmmmm…”, seketika dia menoleh ke arahku.

Aishiteru…” (I Love U)

“Hah?” Yoona tampak melongo.

“Astaga! Kenapa jadi begini? Kenapa bisa salah ucap? Sadarlah! Ini bukan lagi di Jepang!” gumamku gugup.

Yoona sontak tertawa. Aku pikir mungkin dia tidak mengerti dengan apa yang baru saja aku katakan. Tapi, itu seakan lepas dan keluar begitu saja. Seharusnya aku mengatakan “saranghae”. Dan, aku memang sepertinya sengaja mengeluarkannya daripada mengatakan “saranghae” karena mungkin belum ada keberanian untuk mengatakan” aku mencintaimu”. Yah, benar, aku memang tidak berani mengucapkan hal itu. Apalagi kami baru dua hari saling bertemu.

Sunao Ni Narenakute! (hard to say I Love You!)”, gumamku perlahan dalam bahasa Jepang.

Yoona lalu menyentuh pipi kananku dengan tangannya dan menjawabku sambil tersenyum manis, “ Jo a hae”.

Jo a he?” aku bertanya.

Kebetulan sekali, Pak Kim waktu itu melihat ke seberang ada sebuah toko es krim. Pak Kim segera memberitahuku untuk membelikan es krim cokelat rasa mint via sms ke ponselku. Aku pun meninggalkan Yoona sebentar untuk membelikannya es krim.

Saat itu memang sudah malam, namun toko itu masih belum tutup. Si pemilik toko itu ramah sekali dan sanggup berbicara bahasa inggris. Dia melayani penjual sambil melihat televisi yang ada di sudut ruangan. Acara talkshow berbahasa Korea sedang ditampilkan. Terlihat seorang pria tua mengangkat foto Yoona dengan menangis dan berbicara dalam bahasa Hangeul.

Aku pun bertanya pada penjual yang kebetulan juga menyaksikan acara itu, “Miss, ada apa di acara TV itu?”

“Ah, Mr! kasihan sekali, sudah dua hari artis kebanggaan kami, Yoona SNSD belum pulang ke rumah. Ayahnya sampai bersedih.”

“Jadi begitu!” Aku merasa bersalah karena tidak menasehati Yoona untuk pulang ke rumah.

Setelah membeli es krim rasa cokelat yang bersensasi mint itu, aku menghampiri Yoona yang telah lama duduk – duduk di taxi.

Ichi-ah, kamu bawa es krim kesukaanku?” Yoona

Aku cuma mengangguk sembari tersenyum simpul. Aku tidak sanggup menyembunyikan rasa simpatiku kepada ayahnya Yoona yang ada di acara TV kala itu. Sepertinya, aku harus menyuruhnya untuk pulang ke rumah sekarang. Jika tidak….

“Ichi, kenapa kamu bengong?” Yoona menatapku tersenyum manis.

“Ah, tidak ada apa – apa!” jawabku agak gugup.

Gomaweo, Oppa! Kamu sudah mau memberikan waktumu kepadaku.” dia kembali tersenyum padaku.

Aku tidak sanggup menjawab. Hanya anggukanku yang bisa membuatnya mengerti saat ini.

“Ayo, kita kembali ke mobil!” dia berdiri dan langsung menarik tanganku. Aku sontak ikut berdiri dan menyertainya.

Sampai sekarang, aku tidak tahu harus berbuat apa. Sulit bagiku untuk berkata jujur atas keduanya. Yang pertama, soal aku yang tidak bisa memenuhi janjiku. Yang kedua, aku memang sulit mengatakan bahwa aku mencintainya. Keduanya sangat mengganjal di pikiranku.  Yang ketiga, aku tidak berani menasehatinya untuk pulang ke rumah. Aku benar – benar merasa seperti seorang pengecut.

Di dalam taxi, Pak Kim sudah menunggu kami di jok depan. Dia seakan sudah siap dengan gaya mencengkeram setir. “Bagaimana? Apa kita sudah siap berangkat?”

“OK!” seru Yoona.

Aku cuma mengangguk. Dan entah kenapa, kali ini begitu berbeda. Pak Kim tidak biasanya melepas kumisnya. Tu…Tunggu dulu!

“Ternyata Pak Kim memakai kumis palsu juga ya!” Yoona bercanda dengan Pak Kim.

“Ah, ya! Aku memang sengaja”, jawabnya bercanda.

“Tu…Tunggu dulu, Pak Kim!” Aku curiga bagaimana mungkin Yoona merasa biasa saja dengan keadaan Pak Kim yang tanpa kumis.

“Ya, Ada apa Mr?” Pak Kim bertanya sambil sesekali menoleh ke arahku.

“Kita bicara di luar saja!” aku dengan tatapan mata serius memintanya turun di sebuah jalan. Sementara Yoona hanya diam menatap aku yang berubah aneh.

Seketika, Pak Kim memberhentikan taxi. Aku dan Pak Kim segera berjalan agak menjauh dari taxi agar pembicaraanku tidak didengar Yoona.

“Ada apa, Mr? Sepertinya penting sekali!” Pak Kim garuk – garuk pelipis dengan jari telunjuknya.

“Sekarang jawab pertanyaan saya! Siapa anda sebenarnya?” Aku mulai agak kesal dengan orang ini.

“Bukankah sudah saya bilang, saya ini Pak Kim, supir taxi!”

“Jangan bohong!”

“Eh? Tentu saja! Apa gunanya saya berbohong?” Pak Kim semakin tidak mengerti.

“Lantas, kenapa saat Anda melepas kumis , Yoona tidak terkejut sedikitpun?”

“Hah?” Pak Kim melongo dan tidak mengerti.

“Bukankah, saya telah berjanji kepada Anda untuk tidak mengatakan janji saya kepada Anda untuk menemaninya selama tiga hari.”

“Janji? Oh, yang itu! Ya, saya pernah mengatakannya!”

“Lalu, kenapa anda malah membongkar penyamaran Anda sendiri?”

“Itu! Karena sudah tidak ada gunanya lagi saya menyamar? Karena pada akhirnya Yoona sendiri telah mengetahui bahwa saya sebenarnya fansnya Yoona, Yoon-Addict”, Pak Kim tersenyum simpul.

Andre begitu terkejut dengan apa yang baru saja dia sampaikan. Seolah aku baru saja mendengar petir yang sedang menyambar dengan telinga telanjang. “Jadi selama ini, Anda bukan ayahnya Yoona?”

Pria itu terdiam sejenak. Lantas tertawa terbahak – bahak. “Hahahahaha….Tentu saja bukan, Mr!”

“Lalu kenapa kamu mengangguk-angguk saat malam itu?” pekikku kencang.

“Maaf, Mr! Tapi saya pikir, anggukan saya itu maksudnya bahwa saya ini fansnya Yoona. Bukan berarti saya ayahnya Yoona! Anda sepertinya telah salah tafsir! Hahahahahaha….”

“Jangan tertawa!” teriakku kesal.

Sialan!! I was so fooled, after all. Aku benar – benar telah salah mengambil kesimpulan. Tidak, ini bukan kesalahan Pak Kim. Aku seharusnya tidak terlalu cepat mengambil kesimpulan. Pantas saja dia menyimpan foto Yoona di dompetnya. Seharusnya aku menyadari hal itu. Dengan begitu aku tidak akan terjebak dalam perjanjian dengan Yoona. Ah, Tidak! Kenapa aku harus mengeluhkan hal ini? Toh, perjanjian dengan Yoona tidak seburuk yang aku kira. Dan entah kenapa, aku sebenarnya merasa beruntung juga dengan terperangkap perjanjian dengan Yoona. Aku merasa bahagia walau harus menyita waktuku.

Entah kenapa, setiap kali aku mengunjungi sebuah tempat. Aku sepertinya banyak mengalami kesialan dan keuntungan sekaligus. Di Jepang misalnya, keuntungannya aku bertemu actor idola, Kimura Takuya. Namun, sialnya, Kimura Takuya sangat menyebalkan dan harus menginap di apartemenku karena dikejar – kejar fansnya. Selain itu, aku sempat dikira mau bunuh diri dengan melompat ke sungai dari Jembatan Eitai, padahal aku sedang berusaha mengambil boneka teddy bear milik anaknya Kimura. Juga, segala hal yang kulakukan untuk menyatukan rumah tangganya yang sedang retak. Sementara di Korea, aku beruntung karena bertemu dengan seorang artis cantik, Im Yoon Ah. Namun, sialnya dia sama menyebalkannya dengan Kimura. Dan gara – gara dia, aku harus dicari – cari rekan kerjaku karena dikira orang hilang. Tapi banyak segi positif yang aku dapat dari kesialan – kesialan yang terjadi. Aku merasa senang setelah semua ini.

“Apa ada yang perlu kita bicarakan lagi?” Pak Kim bertanya.

“Ah, tidak! Aku pikir sudah cukup!”

Kami berdua kembali ke taxi.

“Kalian tadi ngobrol soal apa? Sepertinya serius sekali!” Yoona mencoba menginterogasiku.

“Ah, tidak! Soal….Soal……Soal…..”

“Ya….”dia terus menunggu jawabanku.

“Jika kamu tidak keberatan, tetaplah bersamaku sekarang dan di hari esok!”

Yoona tersenyum lalu mengangguk. Dia lantas tertawa terbahak – bahak. Apa yang kukatakan terlalu jauh?

Meski di dalam mobil, keadaan saat itu seakan menghangatkan kami.

∞∞∞∞∞∞∞∞∞

PAGI BEGITU dingin, aku bergantian mencoba pergi ke minimarket. Ada beberapa barang yang akan kubeli hari ini. Aku berbelanja hanya sebagai kedok agar saat bertemu rekanku nanti, aku tidak disangka macam – macam olehnya. Aku masih kepikiran. Bagaimana ini? Hari ini aku sedang dicari rekan kerjaku. Apa aku harus meninggalkan Yoona begitu saja?

Setelah membayar, aku berjalan keluar dari minimarket. Namun, sebuah kejadian tak terduga terjadi. Aku tanpa sengaja menyenggol seorang pria tua di sampingku. Pria tua itu terjatuh dan kue tart dengan hiasan strawberry di sekelilingnya yang ia bawa hancur berantakan di lantai minimarket itu. Sebuah lilin berbentuk angka 27 seakan terlepas dari kue itu.

Shimase….Oh bukan….Saya minta maaf! Mianhae!” aku membungkuk sejenak lalu membantunya berdiri. Lagi –lagi aku tanpa sebab mengucapkan sesuatu dalam bahasa  Jepang “shimase” (maaf).

Pria tua itu nampak putus asa dan berdiri sempoyongan. Sementara seorang pria setengah baya mendekatiku dan menarik lenganku sambil berbicara dalam bahasa Inggris, “Apa yang baru saja kamu lakukan?”

“Maaf! Aku tidak sengaja menabraknya! Aku akan menggantinya!”

Pria itu sontak melepaskan lenganku. Awalnya, pria tua itu menolak ganti rugi yang kuberikan dengan membeli kue tart yang baru. Namun akhirnya pria tua itu tersenyum kembali dan berkata, “gomaweo ahjusshi”.

Aku membalasnya dengan senyuman dan anggukan. Pria muda yang bersamanya itu tampak menyesal karena telah salah paham. Dan entah kenapa aku jadi teringat sesuatu. Ya, acara talkshow tadi malam yang aku lihat saat di ice cream store. Pria tua yang kutabrak tadi ternyata sama dengan yang ada dalam televisi. “Jangan – jangan dia ayahnya!” batinku menyimpulkan.

Aku lalu mengejar orang itu hingga sampai di dekat parkir mobil.

“Sir! Tunggu!” aku menyeru kepada mereka berdua.

“Apa lagi?” pria muda yang membopohnya itu berbalik punggung dan bertanya kepadaku.

“Apa Bapak adalah ayah Yoona?”

Mendengar kata “Yoona”, Pria tua itu berbalik memandangku dengan sorot mata memelas.

“Kalau ya, memangnya kenapa?” Pria muda itu masih terlihat emosional.

“Saya akan memberitahu dimana Yoona berada sekarang.”

Pria muda itu matanya melebar. Ayahnya Yoona itu nampaknya tidak mengerti dengan apa yang baru saja kukatakan. Pria muda itu lantas membisikkan sesuatu ke telinga ayah Yoona. Ayah Yoona sontak memandangku dengan tersenyum merekah seolah telah menemukan secercah harapan.

∞∞∞∞∞∞∞∞∞

SEKETIKA aku menunjukkan kedua orang itu dimana Yoona berada. Aku berjalan menuju apartemen teman Pak Kim yang sempat kami singgahi. Yoona dan Pak Kim telah menungguku di sekitar mobil taxi.

“Ichi, dari mana saja? Kenapa lama sekali?”

“Ah, mianhamida!” aku agak membungkukkan kepala.

“Hmmm?”

“Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu, Yoona!”

“Siapa?” Yoona tampak penasaran.

Lalu sebuah mobil sedan datang dan menepi. Ayah Yoona bergegas keluar dari mobil itu, “Yoona?” senyumnya mengembang.

“Papa?” Yoona terkejut dan sesekali melirikku yang sedang tersenyum.

Aku benar – benar bahagia hari ini melihat ayah dan anak saling bertemu dan mungkin saling melepas rindu. Jika aku menjadi ayah Yoona, mungkin aku akan sangat senang saat bertemu dengan anakku. Sebodoh dan senakal apapun anakku, mereka tetap anakku. Kata mutiara itulah yang membuatku terkadang berhasarat untuk memiliki keluarga.

Namun dalam pertemuan itu, percakapan antara keduanya – Yoona dan ayahnya – seakan tidak seimbang. Meski berbicara dalam bahasa Hangeul, aku sanggup menerjemahkan ekspresi bicara keduanya. Yoona tampak tidak mau menurut dengan ayahnya. Sementara ayahnya dengan raut muka memelas ingin mengajaknya pulang.

Setelah pembicaraan emosional di antara keduanya, Yoona akhirnya mengangguk dan meminta sesuatu kepada ayahnya sejenak. Dia lantas menatapku. Dengan raut muka emosi yang tidak biasa – marah bercampur sedih – dia mengatakan sesuatu kepadaku, “Aku kembalikan kata aishiteru yang pernah kau ucapkan kepadaku! Aku kembalikan semua kata – kata darimu yang membuatku tersenyum! Aku kembalikan semua senyumanmu!”

Dia terdiam sejenak, air matanya mendadak menetes pelan dari kedua matanya. Dia mengusap air matanya sesegera mungkin dan kembali melanjutkan hal – hal yang ingin dia katakan sambil menangis, “Sekarang….Kembalikan kata Jo a Hae dariku! Kembalikan senyumanku! Kembalikan semua kebahagiaanku setelah bertemu denganmu! Aku sangat membencimu, Ichi! Aku tidak suka dengan namja yang tidak suka menepati janji!”

Mianhae! Aku harus menjalankan pekerjaanku di sini. Aku tidak bisa menemanimu lagi!” jawabku pelan sambil mengarahkan tangan kananku kepadanya.

Dia memalingkan muka lantas dengan tergesa – gesa masuk ke dalam mobil di kursi belakang. Terlihat tangannya masih sibuk membersihkan air mata yang terus membasahi pipinya. Dia terus menatapku dari jendela mobilnya yang gelap.

 

Aku terdiam membisu. Aku shock. Mataku sedang berkaca – kaca. Aku tidak tahu harus berkata apa? Aku benar – benar merasa sangat bersalah. Apa yang baru saja telah kulakukan? Aku telah membuatnya menangis! Kenapa jadi begini?

Ayah Yoona berpamitan kepadaku sambil membungkukkan kepala dan tersenyum lalu masuk ke dalam mobil di kursi depan. Aku tidak sanggup berkata apapun lagi. Hatiku seakan terluka mendengar kata – kata Yoona. Disamping itu, aku telah membuatnya menangis. Aku benar – benar merasa marah kepada diriku sendiri.

Mobil itu pun mulai bergerak. Aku melihat Yoona yang ada dalam kaca jendela mobil itu. Semakin lama, semakin menjauh. I feel pain in my heart.

Aku melirik Pak Kim. Keningnya mengerut seakan ada perasaan kecewa kepadaku.

“Maaf, Pak Kim! Saya tidak dapat memenuhi janji saya kepada Anda!” kataku lemah.

Bersambung

Ost ending : 2PM – Take Off

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Part 4 Yoona, Saranghaeyo!

Oleh: Ichi

SETELAH KEADAAN berubah menjadi semakin buruk, aku merasa putus asa. Kepergiannya itu membuatku bersedih. Galau. Aku benar – benar tidak bisa menjelaskan perasaan sedih yang sedang melanda diriku. I should blame myself.

Aku melirik Pak Kim. Keningnya mengerut seakan ada perasaan kecewa kepadaku. Ya, raut wajahnya itu sudah cukup untuk menyalahkan perbuatanku.

“Maaf, Pak Kim! Saya tidak dapat memenuhi janji saya kepada Anda!” kataku lemah sembari melirik mukanya.

“Saya yang seharusnya minta maaf!” dia pun mengalihkan pandangannya ke bawah. Alisnya turun. Ekspresi keputusasaan begitu terpancar dari wajahnya, “Saya minta maaf! Saya memang tidak seharusnya menyebabkan masalah ini kepada Anda. Saya telah membawa anda terlalu jauh.”

“Ti…Tidak! Saya yang bersalah! Saya minta maaf Pak Kim!” aku agak membungkukkan badan sedikit.

“Sekarang saya akan mengantar Anda ke tujuan semula?” Pak Kim lantas membukakan pintu belakang, “Silahkan!”

Aku cuma mengangguk pelan dan masuk mobil. Pak Kim lantas menutup pintu dan berjalan sesegera mungkin ke arah pintu depan. Dia duduk di bangku kemudi, memasang sabuk pengaman, dan siap menyalakan mobil.

“Pak Kim! Antarkan saya ke China Town di Incheon!”

“Baiklah kalau begitu!” Pak Kim mengangguk.

∞∞∞∞∞∞∞∞∞

SEBUAH PANGGILAN telepon datang dari ponsel di saku Pak Kim. Pria itu nampak gelagapan dengan ponselnya yang berdering itu. Dia segera menepi dan berhenti sejenak. Dia pun angkat suara dan mulailah percakapan dalam bahasa Hangeul.

Sejenak aku memperhatikan setiap ekspresi yang terjadi pada muka Pak Kim saat bercakap – cakap. Yah, aku pikir inilah hobiku. Hobi memperhatikan perasaan dan jalan pikiran seseorang. Seperti untuk menilai kejujuran seseorang. Ilmu semacam ini cukup berguna untuk melakukan tugas audit investigasi yang menjadi santapan kerjaku sehari – hari.

Setiap kerutan kening, tetesan keringat yang mendadak mengembun di jidat, alis menurun yang dialami pak Kim, itu semua sebuah pertanda bahwa dia sedang cemas. Cemas kemungkinan besar berasal dari masalah. Yah, aku pun menyimpulkan bahwa dia sedang menghadapi masalah.

Sementara itu, aku tidak tahu apa yang sedang dialami Yoona sekarang. Yang aku tahu pastinya, dia membenciku setelah semua yang telah kulakukan. Dan entah kenapa, aku benar – benar merasa khawatir dengan keadaan dirinya.

Aku melihat ke samping. Kini terasa kosong. Hampa. Tempat duduk di belakang terasa longgar. Tidak ada lagi suara canda tawa khasnya. Tiada lagi suara manjanya yang memanggilku “Ichi” ataupun “Oppa”. Aku benar – benar merasa kehilangan dirinya.

Aku mulai banyak menghayal. Berimajinasi yang macam – macam. Mulai merasa ada yang harus kuselesaikan. Harus kutuntaskan. Semua seakan tak ada habisnya beban berat di pikiranku yang menuju pada satu orang, Yoona. Perasaan bersalah yang tidak bisa membuatku tenang ini harus segera aku bersihkan dari kepalaku. Tapi bagaimana caranya?

Gerbang depan Chinna Town sudah mulai terlihat. Terlihat tidak terlalu megah. Warna merah yang menyala pada tiang penyangganya sudah cukup jelas untuk mengatakan bahwa itu gerbang Cina. Aku pun melihat Pak Wijaya sudah berdiri di depan Taewon Oriental Medicine – yang sebelah kirinya merupakan gereja Cina yang terlihat tua.

Mobil taxi ini mulai menepi. Aku lalu keluar dari mobil taxi. Pak Wijaya akhirnya melihatku. Dia tinggi jangkung 180 cm. Warna kulitnya yang kuning cerah membuat dirinya tampil seperti orang oriental. Tanpa ragu, aku mulai melangkah ke arahnya.

Pak Wijaya menatapku sambil memicingkan matanya dia pun menyambarku dengan tangan kanannya yang mengajak berjabatan. Aku pun menerima jabatan tangannya. Berasa dingin.

“Bagaimana perjalanan Anda, Pak Ichwan?” dia mulai berbasa – basi.

“Tidak begitu baik! Aku mendapat masalah sekarang!” jawabku tegas.

“Terus! Bagaimana?” dia terus bertanya seakan tidak peduli dengan masalah apa yang terjadi padaku.

“Aku minta sedikit waktu untuk menyelesaikan masalahku.”

“Jangan bercanda, Pak! Hari ini kita harus bertemu dengan manajer klien untuk mendapatkan informasi intern control-nya”, Pak Kim mengalihkan pandangannya sekilas ke kiri dengan tajam lalu kembali menatapku dengan sorot mata yang suram.

“Aku mengerti! Tolong! Berikan aku waktu!” aku terus memaksanya.

Dia terdiam sejenak sambil melihat – lihat ke samping kanan dan kiri lalu manatapku kembali dengan tajam. Dia seakan melihat keseriusanku.

“Baiklah! Kira – kira berapa lama?” dia pun bertanya lagi.

“Satu jam!” jawabku spontan.

Matanya agak sedikit melebar dan menatapku dalam – dalam. Seketika dia mengangguk – anggukkan kepalanya. Dia merogoh saku kemeja di balik jas hitamnya dan  memberikanku secarik kertas, “Nanti Anda langsung saja ke Apartemen di Dassan! Rekan – rekan sudah menunggu di sana!”

“Baiklah! Terima Kasih!” Aku segera berbalik punggung dan berjalan kembali ke taxi.

Setelah masuk kembali ke taxi, Pak Kim menolehku. Dia menatapku sambil mengernyitkan dahi, “Maaf, Mr! Saya lupa tidak memberitahukan kepada Anda. Saat ini juga saya harus mengembalikan mobil taxi ini ke kantor saya. Saya telah dipecat oleh manajer saya.”

“Apa?”

“Saya minta maaf, Mr! Mungkin lebih baik Anda bersama rekan Anda saja! Kita cukup sampai di sini saja!” katanya pelan sambil menunjukkan muka memelas.

“Kenapa bisa begitu?”

“Perusahaan kami menerima komplain dari rekan Anda karena tidak mengantar Anda tepat waktu.”

“Apa?” Seketika aku melirik temanku di seberang sedang membuka pintu mobilnya.

“Kalau begitu kita ke kantor Anda?”

“Haah?” Dia bertanya sambil membelalakkan matanya.

“Saya tidak akan membiarkan Anda dipecat karena kesalahan teman saya.”

Dia masih melongo. Terlihat dari ekspresi wajahnya yang semakin tidak mengerti.

Aku pun berusaha membuatnya mengerti, “Saya akan membela Anda dari manajer Anda!”

“Mr. Ichiwan?” Dia mulai membuat dirinya tersenyum kembali.

∞∞∞∞∞∞∞∞∞

SEKETIKA kami memulai perjalanan kami ke kantor perusahaan taxi di Seoul. Perjalanan kami cukup menyita waktu. Sekitar 15 menit. Padahal, ada masalah yang harus kuselesaikan. Ya, masalah terkait aku dengan Yoona.

Masalah pertama yang harus aku selesaikan adalah Pak Kim. Keadaannya menjadi buruk karena selama 2 hari lebih dia tidak kembali ke kantor dan melaporkan tugasnya. Aku harus membantu orang ini. Karena yang aku tahu, dia hanya pria tua yang tidak punya pekerjaan lain selain menjadi seorang supir taxi. Jika dia dipecat, aku akan merasa bersalah padanya.

Kami pun telah sampai di kantor Pak Kim. Seketika aku dan Pak Kim berjalan masuk menuju ruangan manajer. Pegawai – pegawai yang merupakan orang asli Korea melihat kami dengan terheran–heran.

Kami pun akhirnya sampai ke ruangan manajernya. Seorang pria agak gendut dan kening lumayan berkerut dengan rambut hitam polos sudah menunggu kami. Dia merasa heran karena Pak Kim membawa orang yang tidak ia kenal.

Percakapan dalam bahasa Hangeul pun dimulai. Mereka berdua berbicara seakan sedang saling berdebat. Pada akhirnya, Pak Kim menyebutkan nama “Mr.Ichwan” kepada si manajer sambil menunjuk diriku.

“Mr.Ichwan?” manajer itu tersenyum dan bertanya padaku seolah – olah ingin meyakinkan diriku adalah orang yang ditunjukkan Pak Kim.

“Ya, saya Mr.Ichwan”, jawabku singkat dalam bahasa Inggris.

“Saya minta maaf atas kesalahan pelayanan pegawai kami” dia segera berdiri dan berjabatan tangan denganku sambil membungkukkan dirnya 30 derajat ke arahku.

“Tidak! Ini bukan kesalahan Pak Kim! Sayalah yang bertanggung jawab atas kesalahannya. Saya meminta macam – macam kepada Pak Kim.”

“Jadi begitu!” jawabnya tersenyum simpul.

“Jadi, Anda tidak perlu memecat Pak Kim! Karena saya akui pelayanannya sudah bagus.”

“Baiklah, saya tidak akan memecat Pak Kim! Terima kasih atas apresiasi Anda terhadap pelayanan kami. Kami meminta maaf atas kesalahpahaman ini.”

Aku hanya mengangguk. Manajer itu akhirnya mengerti dengan hal tersebut. Pak Kim tidak jadi dipecat. “Masalah pertama sudah berhasil teratasi”, gumamku perlahan sambil menghembuskan nafas.

Saat kembali ke mobil taxi. Pak Kim berjabatan tangan denganku sambil membungkukkan badannya. Dia pun meneteskan air matanya, “Saya benar–benar berterima kasih kepada Anda. Padahal saya telah membuat masalah kepada Anda. Terima kasih, Mr!”

Aku bingung harus mengatakan apa. Tapi aku senang karena setidaknya hari ini aku telah menolong orang lain. Aku berusaha menghentikan aksi membungkukkan badannya. Meski tidak sepenuhnya berhasil.

“Hari ini saya akan mengantarkan Anda kemanapun yang Anda mau!” dia tersenyum sambil mengusap–usap air matanya.

“Kalau begitu, tolong antarkan saya ke rumah Yoona!” aku membalas senyumannya.

“Haah?” senyumnya semakin merekah.

“Saya mau minta maaf kepadanya.”

“Baiklah, Mr!” serunya berteriak riang. Sontak orang–orang di sekitar tempat parkir melihat kami.

Aku sempat mengedarkan senyum kepada orang–orang di sekelilingku saat itu. Mereka pun memakluminya. Pak Kim menjadi begitu bersemangat. Dia segera mungkin membukakan pintu belakang mobil taxi untukku, “Silahkan, Mr!”

Aku pun masuk sembari tersenyum. Dia terlihat begitu senang dan enerjik. Lalu dia segera bergegas ke kursi depan, memasang sabuk pengaman, dan mulai menjalankan mobil.

Seketika, gerakan tangan kiri di persneling dan tangan kanannya di setirnya mulai beraksi kembali. Dia lalu tancap gas. Aku tidak menyangka dia sampai sesemangat ini.

Aku sudah memberitahunya bahwa aku hanya punya waktu 30 menit untuk bertemu dengan Yoona. Dia pun mengemudikan mobil taxi dengan kecepatan mengagumkan. Di belokan yang lengang dia sempat melakukan drift. Awalnya aku merasa ngeri, namun aku akhirnya memaklumi sikapnya yang bersemangat.

“Pak Kim! Bisa tidak kita…..lebih pelan saja!” Aku memintanya pelan karena melihat cara mengemudinya yang ugal – ugalan.

“Wah, maaf! Maafkan saya! Saya terlalu bersemangat sehingga masa lalu saya dulu sempat terbawa!”

“Masa lalu?” aku penasaran.

“Ya. Saya adalah mantan pembalap nascar. Lalu menjadi supir taxi seperti sekarang karena pernah menabrak batuan gunung hingga mobil saya hancur lebur. Untungnya saya masih hidup dan memutuskan keluar dari dunia balap.”

Glekkk! Aku menelan ludah. Bulu kudukku berdiri. Mengerikan sekali.Tidak! Jangan sampai dia menabrak! Aku masih terlalu muda untuk mati. Aku tidak mau mati disini!

∞∞∞∞∞∞∞∞∞

PERJALANAN dengan Mr. Taxi ternyata tidaklah sia – sia. Sebuah rumah besar di Seoul kami kunjungi. Rumah bergaya eropa dengan dua lantai. Di depannya terdapat gerbang yang di kedua sisinya terpasang tiang yang menempel dengan ujung miniature atap istana Korea.

Aku segera turun dari mobil. Gerbang masih tertutup. Pak Kim juga ikut turun dan berjalan mendekati salah satu sisi gerbang. Di sana sudah terpasang alat berbentuk kotak besar semacam alat komunikasi yang sudah dilengkapi alat pemencet bel.

Pak Kim memencet belnya lalu menghadap pada semacam lensa kamera webcam sambil berbicara dalam bahasa Hangeul. Ucapan – ucapannya itu masih belum aku mengerti.

Andaikata aku tersesat di Korea, mungkin aku selamanya tidak akan bisa kembali. Ya, sejak pertama kali menjejakkan kaki di Korea, aku tidak dapat berbicara dalam bahasa Hangeul, kecuali kata – kata tertentu saja.

Seseorang pria berdandan ala kepala pelayan datang dan membukakan pintu. Dia membungkuk 30 derajat sambil tersenyum dan berkata secara otomatis, “Welcome!”

Dia mempersilahkan kami masuk ke dalam. Kami pun mengikuti langkah kaki orang itu. Halaman rumahnya begitu luas. Untuk mencapai rumahnya dari gerbang membutuhkan kurang lebih 50 langkah.

Dari pintu rumah yang cukup besar, seorang pria muda membukakan pintu, “Ah, anda lagi?”

Pria muda itu adalah yang bersama ayahnya Yoona saat itu. Namun kali ini dia kelihatan lebih sopan dan senyumnya turut melengkapinya. Ayahnya Yoona juga akhirnya keluar dari rumahnya dan datang menyambutku, “Mr. Ichiwan?”

Ne!” jawabku spontan.

“Ada yang bisa saya bantu, Mr!” si pria muda itu mengajakku berbicara sembari tersenyum.

“Saya ingin bertemu Yoona!” jawabku mantap.

Pria muda itu membisikkan sesuatu ke telinga ayah Yoona. Sontak, ayah Yoona tersenyum dan terlihat mengangguk – angguk.

Pemuda di samping kanannya itu lantas berkata padaku, “Kalau begitu, silahkan masuk!”

“Heh?………Terima Kasih!…………..Tapi saya akan menunggunya di sini saja!”

Geuraeyo?” pemuda itu heran. Ayah Yoona juga heran melihatku yang tidak mau masuk rumah.

Ne!” jawabku singkat sambil mengangguk.

Si pemuda itu segera masuk ke dalam dan sepertinya sedang berusaha memanggil Yoona untuk menemuiku. Namun si pemuda itu kembali dengan tangan hampa. Dia hanya menggeleng – gelengkan kepala.

“Maaf, Mr! Dia sepertinya tidak mau bertemu dengan Anda!” dia menegaskan.

Geuraeyo? Jika saya berteriak dari sini, apa dia bisa mendengar suara saya?”

“Hah? Mwoerago!” pemuda itu melongo dengan pertanyaanku kemudian dengan agak gugup dia meneruskan kata – katanya, “Se..sebenarnya, bisa! Kamarnya tepat di atas kita!” dia menunjuk ke atas – ke arah kamar yang berada tepat di atas ruang tamu yang belum sempat aku masuki.

Aku pun mengangguk. Dengan bersemangat, aku mulai mengumpulkan tenaga ke dalam tenggorokanku untuk berteriak. Aku meletekkan kedua telapak tanganku ke kedua pipiku sehingga membentuk sebuah corong.

Aku mulai berteriak, “Yoona, Mianhae! Yoona, Mianhamida!”

Masih belum ada respon. Dia tidak memunculkan suaranya sedikitpun. Sementara Ayah Yoona dan pemuda itu nampak heran dengan tingkahku.

“Yoona, Aku merindukanmu. Aku ingin melihat senyumanmu lagi karena…. senyumanmu lebih manis dari roti yang pernah kamu berikan padaku. Aku ingin kita kembali berjalan bersama – sama di taman. Aku merindukan segalanya bersamamu. Aku ingin selalu berada di sisimu!”, aku tetap berteriak.

Namun, tidak ada respon yang muncul dari dirinya. Tidak! Aku tidak boleh berputus asa! Inilah saatnya, aku harus memberanikan diriku untuk mengatakan bahwa aku mencintainya.

“Aku telah bersalah padamu, tapi berikanlah kesempatan padaku untuk meminta maaf padamu, Yoona!”

Dia masih belum juga merespon.

“Baiklah! Sekarang aku akan pergi! Hanya satu yang bisa aku katakan padamu. Yoona……..Gomaweo! Kamu telah melengkapi hidupku! Dan hanya satu harapanku, kembalilah tersenyum!” aku berteriak untuk yang terakhir kalinya.

Aku telah kehabisan suara. Aku tidak punya kata – kata lagi untuk di ucapkan. Aku pikir sudah sampai di sini saja.  Aku merasa sudah kehilangan harapan untuk bersama lagi dengan Yoona. Aku segera berpamitan kepada Ayah Yoona dan  pemuda itu.

Mianhamida! Saya telah merepotkan Anda berdua!” aku membungkukkan diriku 30 derajat kepada mereka.

“Seharusnya kami yang meminta maaf. Mianhae atas perilaku Yoona yang telah menyusahkan Anda”, pemuda itu tersenyum melihatku dengan mata tulus.

Aku pun segera beranjak dari tempat itu dan berjalan menuju taxi yang sudah bertengger di depan gerbang. Pak Kim melihatku dengan mata yang sayu. Dia seakan merasa kasihan denganku. Tapi, aku tidak peduli dengan hal itu. Harapanku untuk medapatkan cinta Yoona telah pupus.

Aku pun sudah membuka pintu belakang mobil taxi. Mendadak aku mendengar suara derap langkah seseorang berlari. Aku mengarahkan pandanganku ke arah sumber suara itu. Aku terkejut. Yoona ternyata berlari ke arahku. Mataku terbelalak dengan spontan.

Aku pun melangkah ke arahnya. Yoona spontan  memelukku. Aku kaget dan tidak bisa berkata apa – apa.

Dia memelukku dengan erat dan air matanya mengalir deras sambil membisikkan seseuatu ke telingaku, “Babo! Kenapa kamu menyerah begitu saja?”

“Yoona, mianhae!” aku tidak bisa mengatakan apapun selain hal itu karena aku masih kaget.

“Aku sudah memaafkanmu, Ichi!” dia membisikkannya ke telingaku.

Aku senang dan seketika senyumanku muncul. Entah kenapa, air mataku juga ikut turun membasahi pipiku, “Yoona, saranghaeyo!” aku membisikkannya perlahan.

Ichi!” dia tertawa kecil meski suara isak tangisnya masih terdengar.

Yoona, saranghae! Jangan pernah melepas tanganku lagi!”

Ichi, saranghae!” dia membalas ucapanku sambil mengangguk.

 

THE END

OST ENDING : SNSD – COMPLETE

 

Advertisements

10 responses to “[FREELANCE] Aku, Yoona, dan Mr Taxi

  1. Hihi, ceritanya unik, lucu.
    Daebak lho!
    Keep writing ya! Btw, si cowo yg sama bapaknya yoona itu siapa sih?

  2. DAEBAK!!! 🙂
    Aq kira td’a ichi itu prempuan kekekeke~
    So sweer bgr lah poko e ^_~
    LANJUUTT ampe mreka nikah & pny anak 13 ^-^ nma anak’a taxi 1, taxi 2, dsb..

    Mr.Taxi’a kyuhyun ajj *-*

  3. Panjang banget…
    Bagus.. Gimana klo di bikin after story nya..
    Kenalan sama member snsd yang lain gitu…
    Kyknya seru… Hehehehehe

    Fighting!!!

  4. hihihihi…. lucu critax. yoona naksir ma orng indo. TKI lg. impossible bgt. but i like your story. 2 thumb for you. aq jg mau menghayal d taksir ma “max changmin” n merit ma dy. heeeeeeee ^^’

  5. Bagus hehe itu Ichwan dikira beneran Ichiwan wkwk keren thor, aku suka ceritanya. Karang lhoo cerita kayak gini. Kekeke keren. Fighting author!! ^o^

  6. rada ga ngerti ya sama ceritanya. hehehe. ada beberapa scene yang aku ga ngerti gitu. ini maksudnya ngapain, ini siapa yang ngomong. hehehe ._.v
    yoonanya udah pas. manjanya dapet banget.
    ichwannya pun udah pas. ekspresi bingungnya dapet.
    untuk karakter dapet tapi kalau untuk pemakaian bahasa, emm.. menurut aku pribadi sih kurang ya. mianhae banyak bacot. gomawo ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s