[ONESHOOT] Tragedy of Love

Title: Tragedy of Love
Author : DheeAKTF Yunjae’s child @DheeAKTF
Cast(s):
Goo Ha Ra
Choi Min Ho
Length : Oneshoot
Genre : Romance, AU, Thriller
Rating: PG-16
Disclaimer: I do not own any characters in here. They belong to themselves. I just own the story. I don’t make money from this story. So please don’t sue me ^^
Warning : Salah satu FF saya yang menurut saya fail -_- bad language, some typo, sorry i dont have any time too editing this FF ^^
okay, im SHINeeKara Shipper, jadi kalo misalnya mau koment don’t bashing my great OTP okay ^^

===================================================================================================================

June 10, 2011

“Hara~ya,” panggil Minho.
Gadis yang bernama Hara terlihat kebingungan mencari suara orang yang memanggilnya.
“Goo Ha Ra, disini…”
Hara masih saja sibuk mencari sosok kekasihnya ditengah keramaian. Hingga sebuah tangan mengapit lengannya, membawa sosok gadis manis itu menepi, jauh dari kerumunan.
“Ya, Minho… kau membuatku terkejut,” ujar Hara.
Minho hanya tersenyum. “sekarang kita pergi..” lanjutnya, mengapit erat lengan Hara.

HARA POV

Hari ini aku sedang berkencan dengan Minho, iya berkencan dengan Choi Min Ho, anak keluarga Choi yang terkenal itu. Aku senang? Aku rasa tidak. Bagaimana aku bisa bersenang-senang jika tujuanku mendekati Minho sebenarnya adalah untuk membunbuhnya.
“ke toko ice cream dulu ya…” ujar Minho.
Aku mengangguk dan memperhatikan sosok itu lekat. Mengenaskan, hidupnya mungkin tidak lama lagi. Dan irosnisnya, yang mengakhiri hidupnya adalah kekasihnya sendiri, ya aku Goo Ha Ra.
Aku seorang pembunuh bayaran. Satu bulan yang lalu seorang pria paruh baya memintaku menghabisi Minho. Aku tidak tahu apa penyebabnya, tapi menurut perkiraanku masalah bisnis orang tua Minho.
“ini..” Minho meletakkan satu gelas penuh ice cream vanilla dihadapanku.
“terimakasih…”
“aku dengar penelitianmu sebentar lagi selesai..”
Aku terhenyak, diam beberapa saat dengan sendok ice cream dimulutku. Aku memang mengatakan jika keberadaanku disini adalah untuk suatu penelitian, tapi aku tidak menyangka jika dia akan terus mengingatnya, padahal aku tidak pernah menyinggungnya lagi.
“iya…” balasku. Kuredam suaraku agar tidak terdengar jika aku kecewa.
Satu bulan penelitian, itu alasanku untuk mendekatinya, yang berarti satu bulan lamanya kesempatan yang diberikan klien ku untuk menghabisi Minho. Tapi hingga saat ini, seperti yang kalian lihat, Minho masih baik-baik saja. Bahkan untuk melukai tubuhnya saja aku tidak mampu, berkali-kali aku nyaris meracuninya, nyaris menembaknya dengan berbagai jenis senapan yang akibatnya sudah kupikirkan matang-matang, tapi semuanya gagal.
Sebenarnya satu bulan adalah waktu yang sia-sia untukku. Tapi entah untuk kali ini satu bulan rasanya begitu memuakkan. Choi Min Ho benar-benar telah menghilangkan kemampuanku.
“lalu, kau akan kembali ke Amerika, atau tetap berada di Korea?” tanyanya lagi.
Ke Amerika? Saat aku tidak berhasil melaksanakan tugasku lalu apa yang harus aku lakukan, kembali ke Amerika adalah sesuatu yang terdengar konyol.
“entahlah..”
“tetap disini saja, aku ingin selalu berada didekatmu.”
Bahuku bergetar sesaat, sesuatu menjalar menyentuh hatiku, terasa begitu dingin dan menyakitkan. Ya, tak bisa aku pungkiri jika aku jatuh cinta padanya. Terdengar sangat konyol jika Goo Ha Ra, seorang pembunuh bayaran yang tidak pernah gagal, saat ini bertekuk lutut pada Choi Min Ho lantaran suatu rasa yang disebut cinta.
“akan aku pikirkan…” balasku.
Terlihat secerca senyum kebahagiaan di wajah Minho. Dia pasti sangat senang jika aku akhirnya memutuskan untuk tidak berpisah dengannya, termasuk membunuhnya.
Tiba-tiba ponselku berdering, dilayarnya nampak deretan nomor yang tidak aku kenal.
“ya, hallo…”
“bagaimana Hara? Sepertinya kau senang denga tugasmu, aku lihat kalian sedang pergi berjalan-jalan. Bukankah dia seharusnya sudah mati Hara..” sahut suara diseberang.
Wajahku serta merta berubah pucat, bahkan aku yakin kini tubuhku sudah membeku karena terkejut.
“Hara, kau baik-baik saja?” Tanya Minho.
Aku mengangguk kemudian kuedarkan pandanganku kesekeliling toko ice cream tempat kami berada, mencari orang yang sedang menghubungiku, Alexander Hook, klien ku.
“tidak usah mencariku Hara, selesaikan saja tugasmu karena waktunya tinggal 3 hari lagi..”
“aku akan segera menyelesaikannya..” balasku santai, berusaha sebisa mungkin tidak membuat Minho curiga.
“ingat Goo Ha Ra, aku tidak main-main. Jika kau tidak bisa menghabisinya maka aku sudah menyiapkan seseorang yang akan menggantikanmu menghabisi Minho, dan kau akan kuhabisi dengan tanganku sendiri…”
KLIKKKK….. dia menutup telefonnya.
Sialan… bahkan disaat aku sedang bingung seperti ini, tua bangka itu justru mendesakku.
“siapa?”
“orang tuaku, dia memintaku kembali ke Amerika..”
“ohhh…” terdengar sekali kekecewaan dari nada bicaranya.
“maaf. Bisakah kita pulang sekarang? Aku ingin memikirkan tentang semua ini.”

END HARA POV

Minho dan Hara keluar dari toko ice cream yang tidak terlalu ramai. Tidak jauh dari tempat mereka berdiri, dua orang pria sedang memperhatikan gerak-gerik mereka.
“kenapa tidak kita selesaikan saja sekarang?” Tanya pria pertama.
“santailah, kita harus bermain-main dulu…” sahut pria lainnya.

——————————————————————————————————————–

June 11, 2011
At Hara’s apartement

“aku terlihat semakin kurus..” gumam Hara.
Gadis itu sedang memperhatikan pantulan dirinya didepan cermin, memang terlihat berbeda dari biasanya, terlebih lagi lingkaran hitam dibawah matanya, terlihat begitu mengerikan.
“pasti karena memikirkan tentang Minho… ah..” ia menghela nafas panjang.
Perlahan gadis itu membuka laci meja di samping tempat tidurnya, mengambil sesuatu yang nampak sedikit asing, kemudian berjalan ke balkon apartemennya.
“apa yang harus aku lakukan..” gadis itu masih terus bergumam.
Kedua tangannya menggenggam sebuah pistol, diwajahnya terukir sebuah seringaian yang nampak menakutkan, tapi beberapa saat kemudian wajahnya berubah masam.
“tetap saja aku tidak tega..”
Hara terduduk lemas, memperhatikan pistolnya, membayangkan jika tangannya tega menekan pelatuk dan selongsong peluru menghantam tepat di jantung Minho. Wajahnya mengernyit, menahan rasa mual saat bau anyir darah perlahan menyergap hidungnya.
“sepertinya aku nyaris gila…” ujarnya frustasi.
Hara segera bangkit dan meraih ponselnya.
“Minho~ya, bisa bertemu sebentar…”

——————————————————————————————————————–

“sudah lama menungguku?” Tanya Minho yang segera duduk disamping Hara.
“tidak..”
“ada apa? Kenapa tiba-tiba?”
“tidak boleh?” balas Hara, hari ini dia terlihat sedikit dingin.
“bukan seperti itu. Sepertinya kau sedang sibuk, aku sebenarnya tidak ingin mengganggumu. Makanya aku terkejut saat kau mengajakku bertemu,” terang Minho.
“bagaimana jika pada akhirnya kita harus berpisah,” ujar Hara tiba-tiba.
Minho menghela nafas panjang, kemudian dia meraih tangan kekasihnya. “kau pulang ke Amerika bukan berarti semuanya berakhir kan?”
Hara tersenyum masam, “bukan itu yang aku maksud…”
“lalu?”
“sudahlah lupakan saja. Kau mau menemaniku jalan-jalan?”

MINHO POV

Dia nampak aneh. Terlalu banyak pikirankah Goo Ha Ra ku itu? Bahkan badanya terlihat lebih kurus dari biasanya, sikapnya tadi juga sedikit dingin.
“dengan senang hati…”
Sepertinya dia memikirkan tentang hubungan kami. Tidak masalah sebenarnya jika Hara ingin kembali ke Amerika, aku bisa meminta orang tuaku untuk memindahkan ku ke Amerika.
“aku lapar…” ujar Hara.
“kita makan, kesukaanmu, bagaimana?”
Hara tersenyum, tampak manis seperti biasanya. Aku terlampau senang melihat dia yang sedang heboh mengoceh tentang penelitiannya yang sepertinya sangat sulit. Hingga aku tak sadar jika ada sebuah mobil yang melaju cukup kencang dan nyaris menabrak kami saat kami menyebrang.
“Minho, awas…” Hara yang melihat mobil itu memekik keras dan menarik tubuhku. Kami berdua tersungkur di bahu jalan.
“kau baik-baik saja?” aku bertanya kepada Hara tapi pandanganku tertuju pada isi tas tangan Hara yang berhamburan. Aku terpaku pada sebuah benda yang aku rasa itu adalah pisau lipat.
Untuk apa Hara membawa benda itu?
“ya, aku baik-baik saja…” jawab Hara, dia terlihat sedikit gelagapan, dengan cepat ia mengemasi barang-barangnya yang berhamburan, termasuk pisau lipat yang tadi aku lihat. “kau?”
“aku juga baik-baik saja…” balasku.
Aku membantunya berdiri dan berusaha sebisa mungkin melupakan apa yang baru saja aku lihat. Pisau lipat? Untuk apa?

END MINHO POV

Hara kembali melihat tas tangannya, memastikan jika tidak ada yang tertinggal. Ia menghela nafas saat ia temukan pistolnya masih berada aman didalam tas.
“kita pulang saja..” ujar Minho.

———————————————————————————————————————

At Hara’s apartement

HARA POV

Sialan, kenapa bisa sampai terlihat?? Apa yang akan terjadi padaku selanjutnya. Bisa mati aku jika pada akhirnya Minho mencurigaiku.
Ponselku berdering, tanpa melihat layar aku segera mengangkatnya, aku harap itu Minho.
“halo…”
“kenapa menghalangiku? Bukankah lebih baik jika tuan muda Choi itu mati tertabrak…”
Tubuhku membeku seketika. Ternyata kejadian tadi disengaja. Sialan.
“huh… aku sudah bilang jangan campuri urusanku.”
Sosok penjahat diseberang terkekeh lirih, “aku tidak percaya dengan anak kecil sepertimu Hara.”
“tadi kau juga bisa membunuhku..”
“itu tujuanku. Kau itu tidak berguna, sia-sia aku membayarmu, maka kau mati saja…”
“SIALLANNN… HEYYY… DASAR… ARGHH…” aku berteriak sekuat tenaga untuk memakinya, tapi sia-sia, lagi-lagi orang memuakan itu yang menyudahi percakapan kami.
“BANGSATTTT…” aku kalap. Kulempar apa saja yang bisa aku raih. Kemudian kubiarkan tubuhku jatuh disamping ranjang.
“kenapa harus Minho?” gumamku, suaraku terdengar sedikit bergetar. Mataku juga sudah mulai panas, aku menangis. Kupeluk erat kedua lututku, kemudian menenggelamkan kepalaku disana.
“kenapa harus orang yang aku sayang? Choi Min Ho… maaf.”

END HARA POV

———————————————————————————————————————

June 12, 2011

“Minho~ya, ini Hara. Bisakah besok kita bertemu di tempat biasa? Hubungi aku secepatnya.”
Minho mematung memandangi mesin penerima pesannya. Ini pertama kalinya Hara menghubungi Minho semenjak kejadian beberapa hari yang lalu.
“akhirnya dia yang menghubungiku terlebih dahulu setelah sekaian lama dia tidak menerima telefon dan membalas pesanku. Besok bertemu dengannya? Bisakah aku menanyakan sesuatu yang selama ini membuat ku pening. Pisau lipat itu, untuk apa dia membawanya?”

———————————————————————————————————————

June 13, 2011

“Minho…” panggil Hara.
Minho nampak senang ketika pada akhirnya dia dapat melihat pujaan hatinya.
“Wajahrmu kenapa?” Tanya Minho, terkejut melihat lebam di wajah kekasihnya.
“ah… tidak…” Hara berusaha menepis tangan Minho yang hendak memegang lebamnya. “aku hanya terjatuh.”
“terjatuh? Hingga terluka seperti itu?” Minho terlihat panik.
“Sudahlah…. Bisa ikut aku sebentar?” Tanya Hara, membuat sosok Minho memincingkan matanya, memperhatikan setiap inci Hara-nya yang terlihat semakin berbeda. Gadis itu kini hanya berbalut kemeja putih kedodoran dan mengenakan celana panjang hitam. Bahkan tanpa make up sedikitpun, rambut panjangnya ia biarkan tergerai berantakan, wajahnya terlihat begitu pucat dan tentunya dengan luka lebam diwajahnya.
“kau baik-baik saja kan?” Tanya Minho khawatir.
“aku tidak penah sebaik ini sebelumnya,” balas Hara dengan cengiran khasnya.

MINHO POV

“kita sudah sampai..” ujar Hara.
Mobilnya menepi didepan sebuah bangunan yang sepertinya sudah tidak terpakai.
“disini?” aku masih belum percaya dia membawaku ketempat ini.
Hara mengangguk, ia keluar terlebih dahulu kemudian membukakan pintu untukku. “ayo…”
“memangnya ada apa?”
“ada yang ingin ku tunjukkan padamu.”
Sebenarnya aku masih penasaran, tapi jika Hara yang meminta aku tidak pernah bisa menolak.
Kami masuk kedalam bangunan yang ternyata tidak seburuk yang kulihat. Di ruangan tempat aku dan Hara berada saat ini terdapat dua sofa besar disudut ruangan, satu buah TV dan karpet besar membentang di lantai.
“kau tunggu disini, aku akan mengambil sesuatu,” ujar Hara.

END MINHO POV

Minho mengangguk saat Hara memintanya untuk menunggu. Kemudian gadis manis itu pergi menuju ketempat yang nampak gelap. Beberapa saat ia tidak kembali. Apa yang sebenarnya ia ambil.
“Hara~ya…” panggil Minho, mulai khawatir dengan kepergian kekasihnya.
Minho menangkap sesuatu yang bergerak dari tempat tadi Hara menghilang.
“Hara, itu kau?” tanyanya, perlahan ia mendekati tempat itu. “jangan bercanda Hara,” lanjutnya.
Dan DUAKKKK…. Sesuatu mengantam kepala Minho, membuat sosok jangkung itu tumbang.
“bantu aku..” desis sesorang.

———————————————————————————————————————

MINHO POV

Kepalaku pening, bahkan untuk membuka mata saja terasa sakit.
“sudah sadar tuan muda Choi?” ujar sesorang mengagetkanku.
Perlu beberapa menit untuk membuatku sadar seutuhnya jika aku sedang ditahan. Kedua tanganku diikat keatas. Dan ada beberapa orang disekelilingku, semuanya pria… kecuali..
“Hara?” desisku lirih, mataku belum bisa terbuka seutuhnya.
“sudah selesai waktu kalian bermain-main tuan muda Choi,” terdengar suara itu lagi, suara yang asing.
“Hara, kenapa kau disana?”
Kuperhatikan Hara, sama persis saat kami datang tadi, yang berbeda hanya sebuah pistol perak yang ia genggam.
“Hara?” kupanggil namanya lagi, tapi gadis itu justru menyeringai.
“Goo Ha Ra, kau mau tahu siapa dia?” sosok memuakkan yang sedari tadi berbicara, akhirnya aku bisa melihatnya. Dia… Alexander Hook, rekan kerja appa. “Goo Ha Ra adalah seorang pembunuh…” dia menghentikan kalimatnya, tertawa puas saat melihat wajah tidak percayaku.
Kupalingkan pandanganku pada Hara, memintanya untuk mengatakan jika semua itu bohong. tapi yang terjadi justru sebaliknya. Hara menghampiriku.
“Aku memang pembunuh Minho~ya,” ujarnya sarkastis. Ia mengambil sesuatu dari saku celananya, sebuah pisau lipat yang aku lihat saat itu. “masih mau bermain denganku?” lanjutnya. Ia menorehkan sebuah luka goresan di leherku.
“ARRGGGHHHH….” rasanya benar-benar perih.
“berhenti bermain-main, cepat lakukan.”

END MINHO POV

*FLASHBACK*

“Goo Ha Ra, masih ingin melindungi orang itu?”
Hara hanya diam, matanya memandang tajam sosok dihadapannya.
“tidak mau menjawab?” sebuah pukulan mendarat di perut kanan Hara.
“arghhhh….” Jeritnya tertahan. Gadis itu mengernyit menahan sakit. “aku selesaikan besok..”
“besok? Cih… satu bulan lamanya baru bisa kau selesaikan. Professional apanya???” sebuah pukulan mendarat lagi di perut kanan Hara.
“aku janji besok akan aku selesaikan semuanya…” ujar Hara setengah berteriak. Tubuhnya sudah benar-benar remuk karena berbagai pukulan.
“SELESAIKAN BESOK. aku ingin melihat kau membunuhnya dengan mata kepalaku sendiri.”
Hara terjatuh saat untuk yang terakhir kalinya sebuah pukulan mendarat ditubuhnya, kali ini menghantam rahangnya, membuat sudut bibirnya robek dan mengeluarkan darah.
“Besok dia harus mati… ingat itu..” desis sosok lelaki paruh baya dihadapan Hara, kemudian sosok itu pergi bersama dengan pengawalnya, meninggalkan Hara yang kini mulai terlihat ketakutan.
“Choi Min Ho… Choi Min Ho ku…” gumamnya, nyaris berbisik. Badannya meringkuk diatas lantai yang dingin, menggigil ketakutan dan menahan tangis. Bibirnya tidak pernah berhenti bergumam, menyalahkan dirinya sendiri.
“kenapa harus Minho? kenapa aku harus bertemu dengannya? Kenapa aku begitu mudah mencintainya? Kenapa aku berani melindunginya? Kenapa?”
Hara menangis hebat, berusaha keras melupan kekasihnya dan kembali menjadi Goo Ha Ra yang sadis membunuh siapa saja.
“maaf Minho aku memang begitu bodoh…”

*END FLASHBACK*

“Hara.. kau??? Aaa..ak…aku benar-benar tidak percaya…”
“kenapa, nyatanya aku seperti ini Choi Min Ho…” balas Hara, ia mendur beberapa langkah mendekati Minho, tangan kanannya mengambil sesuatu dari saku belakang celananya. Sebuah benda yang berkilauan juga, warnanya perak, ya, itu pistol milik Hara.
“Hara..”
“Lakukan sekarang Goo Ha Ra…”

HARA POV

Maafkan aku Minho… entah sudah kuucapkan berapa kali kata-kata itu, yang jelas akal ku saat ini benar-benar sedang kacau. Aku ketakutan, aku ingin tetap hidup, tapi aku sakit melihat Minho seperti saat ini.
“cepat…”
Perlahan aku mengarahkan pistol kedada Minho, berharap dengan sekali tembakan semua ini biasa terselesaikan.
Tanganku bergetar, terasa berat menekannya padahal ini bukan yang pertama kalinya. Diriku sudah benar-benar kesulitan berpikir, berharap apa saja yang aku lakukan ini adalah yang terbaik untukku dan Minho.
Tembakan pertamaku, Minho maaf…

END HARA POV

———————————————————————————————————————

Two years later

MINHO POV

Hari ini aku menemui Hara, ada yang ingin aku tunjukkan padanya, sesuatu yang sangat penting untuk kami.
“Hara-ya, aku datang,” ujarku, sebuket bunga edelweis kuletakkan dihadapnnya. Benar-benar sempurna, dia mengenakan gaun berwarna putih yang nampak indah.
Aku diam beberapa saat, berusaha merangkai kata-kata yang selama dua tahun ini sudah benar-benar aku persiapkan.
“Goo Ha Ra, maukan kau menikah denganku?” ujarku mantap.
Hara hanya diam, tak ada sepetah katapun terucap dari bibirnya. Wajahnya bahkan tidak berekspresi sedikitpun, nampak pucat dan dingin.
Aku merogoh saku belakang celanaku, berusaha meraih sesuatu, sebuah cincin. Kemudian aku berusaha meraih tangan Hara, tapi aku tersadar akan sesuatu, tidak ada tangan yang bisa aku raih. Tawa gadis itu sudah pergi, nafasnya sudah hilang, raganya kini membeku ditelan bumi. Goo Ha Ra ku sudah tiada.
Aku seperrti orang depresi yang berharap sosok gadis yang aku cintai itu masih berada disampingku. Bahkan waktu dua tahun tidak bisa membuatku melupakannya. Saat ini aku melamarnya, melamar orang yang kulihatpun sudah tidak bisa.
Saat itu, saat dimana harusnya aku yang mati, Hara justru melakukan suatu kesalahan. Bukanya menembakku tetapi dia justru menembak klientnya sendiri, membuat hampir semua orang yang ada disana membalasnya. Begitu menyakitkan saat melihat dirinya ditembak berkali-kali tetapi dia masih bisa membalas, berusaha melindungiku.
Andai dia membunuhku saat itu, mungkin saja senyumnya masih bisa terukir manis. Andai aku yang pergi, rasa sakit ini pasti tidak pernah kurasakan.
Goo Ha Ra, aku tahu mencintaimu adalah sebuah tragedy, sesuatu yang ironis dan merupakan keputusan yang salah. Tapi aku tidak akan pernah menyesal, dirimu adalah sosok terindah yang dikirimkan Tuhan untukku. Goo Ha Ra adalah orang yang sangat aku sayangi, sampai kapanpun.

END MINHO POV

*THE END*

Advertisements

54 responses to “[ONESHOOT] Tragedy of Love

  1. serem terakhirnya (-__-) tapi bagus ffnya !! sedih gitu~ 😦
    aku suka ff ini, oh ya salam kenal. new reader saya 😀
    itu terkahirnya minho nikahin setan ?? mending ikutan mati aja biar bisa nikah ama hara <– *ajaran sesat*

  2. suka shinra juga ?
    Asik !! Ketemu sama shining melody supporter lagi ‎\(´▽`)/

    Hua hara sayang >< kenapa juga harus jadi pembununuh ? 😦
    Tuh balasan , cantik2 jadi pembunuh akhirnya dibuat jatuh cinta kan sama si jangkung XD
    Ah hara mati 😦 kasian mino depresi .

    Ntar buat FF shinra lagi donk :3 keke

  3. OMG!
    My twins beside Sohyun!
    Kenapa kau beginiii???
    Bagus bgt 😉
    aku sukaaaaaaaa…
    Buat lg yayayayaaa??
    MinRa !!

  4. Annyeong!
    Seneng deh akhirnya bisa nemuin Shinra Shipper disini. Aku addict banget sm Shining Melodies, apalagi Onyeon and Keycole.
    Runtutan jalan ceritanya udah bagus. Karakter hara yg sadis and pembunuh itu dapet. Konflik batin haranya kuat. Hara yg mendominasi.
    Aku tggu fanfic shinra yg lain, fighting! ^^

  5. bagusss
    minho keliatan sayang banget sama hara
    tapi akhirnya… hiks
    oya, akan lebih baik lagi kalo dijelasin alasan kuat kenapa minho mau dibunuh 😉

  6. huaaa, ahir cinta yang menyedihkan T_____T
    tapi keren juga sama minho yg tetep cinta walaupun tw hara pembunuh..
    like this ff d(^^)b

    *gtw mw ngomong aplg, maklum reader newbie*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s