Our Destiny (Ch.2)

Title : Our Destiny

Author : zeya (loly) & A.M (iif)

Genre : Romance, Friendship

Rating : PG-13

Length : Chaptered

Cast :

–          Na Youngmi

–          Jung Jinwoon

–          Park Aechan

–          Kim Myungsoo

Summary : A story about love, friendship, and life

Disclaimer : Ini FF duet saya dgn Iif.. FF straight.. smoga disukaiii~ ^^ Jinwoon bukan punya saya! Tapi, Myungsoo punya saya #plak~

Poster credit : @shinbitoki18 unnie~~

Series : Ch.1 |

AN : Dimohon bgt, tolong tinggalkan komen saat baca~ Kalo emang gamau komen, gausah baca. Jangan nge-bash juga. Jangan plagiat FF ini walaupun FF ini jelek -_- Trus, tolong jgn jadi siders. Tau gak, authornya cpek nulis? Mikirin ide? -_________-

 

 

(author pov)

Myungsoo terbelalak kaget saat melihat Aechan tiba-tiba terjatuh tak berdaya. Spontan saja ia membawa sahabatnya ke ruang kesehatan.
‘Kau kenapa Aechan? Kenapa mendadak pingsan begini?’ batinnya cemas.

Dikarena kan penyakit asma yang di derita Aechan sudah mencapai tingkat akut, maka gadis itu pun dibawa ke Rumah Sakit. Myungsoo dengan setia menemani sahabat sekaligus orang yang paling dicintainya.

Dokter Choi baru saja keluar dari kamar perawatan Aechan. Segera saja Myungsoo, Youngmi dan Jinwoon serta kedua orang tua Aechan langsung mengerumuni dokter muda nan ganteng ini.
“Bagaimana keadaannya dokter?” tanya mrs. Park cemas.
“Sudah membaik, tapi sebaiknya jangan biarkan dia melakukan aktivitas berat dan banyak pikiran karena akan memperburuk kondisinya” jawab sang dokter, lalu ia permisi undur diri.
Segera saja kelima orang tersebut masuk ke ruang perawatan Aechan. Terlihatlah Aechan yang sedang berbaring lemah dengan nafas yang sudah teratur. Tidur, itu lah kegiatan Aechan saat ini.

Myungsoo menggenggam tangan Aechan sangat erat. Youngmi memperhatikan apa yang dilakukan Myungsoo tersenyum kecil. Myungsoo benar-benar mencintai Aechan.

Aechan berusaha bernapas senormal mungkin dengan selang yang berada dihidungnya. Matanya berkedip-kedip, dan tangannya terkepal erat. Ia terus berusaha melawan rasa sakit yang ada ditubuhnya.

“Ada apa dengannya?” tanya Jinwoon bingung. “Myungsoo-ah, sebenarnya apa yang terjadi?” lanjut Jinwoon.
“Aku hanya berbicara ringan, setelah aku berlari. Lalu, ia pingsan..” katanya.
“Ahjuhmma… Aechan sakit apa memangnya?” tanya Jinwoon.
“Asma..” Myungsoo menjawab duluan. “Benar kan, ahjuhmma?” tanya Myungsoo.
“Ne… Myungsoo benar.. Tapi, tidak pernah separah ini..” kata Mrs. Park.

~~

*Myungsoo POV*

Aku menggenggam tangannya sangat erat. Entah mengapa aku tidak mau melepasnya lagi.
“Myungsoo-ah.. Temani aku membeli makanan…” ujar Jinwoon. Aku mendesah kecil dan mengangguk.
“Ne.. Kajja..” kataku. Selama perjalanan membeli makanan, tidak ada suara yang keluar antara aku dan Jinwoon.
“Kau menyukai Aechan ya?” suara Jinwoon memecah keheningan, dan membuatku kaget.
“Maksudmu?” tanyaku bingung. Jujur saja, aku tidak mau Jinwoon tau kalau aku menyukai Aechan.
“Haish.. Lupakan..” katanya. Aku tersenyum kecil.
“Kau sendiri.. Apa kau menyukai Young?” tanyaku.
“Hahaha… Dewi Setan itu? Tentu saja tidak!” katanya. Aku tersenyum kecil. Aku tau, ia pasti menyukai Youngmi. Mata Jinwoon yang kecil itu memang tidak pernah berbohong.

~~

*Youngmi POV*

Aku menemani Aechan yang masih beristirahat. Selang dihidungnya masih ada. Penyakit asma yang diderita Aechan sudah memasuki tingkat akut. Bahkan, obat yang diberikan dokter tidak mempan lagi untuknya.

“Kami sampai..” suara Jinwoon memekikkan telingaku.
“Mata sipit! Jangan berteriak!” kataku jengkel. Aku rasa, akan terjadi perang mulut diantara kami berdua. Lagi.

~~

*Aechan POV*

Aku membuka mataku perlahan-lahan. Bayangan yang kulihat belum jelas dan masih buram dimataku.
“A-aku… Dimana?” itu adalah kalimat pertama yang aku ucapkan.
“Kau sadar?!” suara Myungsoo membuatk tersenyum. Aku senang sahabatku ada yang menemaniku disini.
“Ne.. Mana yang lain?” kataku berusaha berdiri. Myungsoo menolongku.
“Jangan banyak bergerak. Mereka sedang ada TO. Kan mereka sudah kelas 3.” jawab Myungsoo.
“Kenapa kau tidak sekolah?” tanyaku sambil tersenyum. “Aku.. Haus..” ia segera mengambilkan minuman untukku.
“Ini..” aku meneguk air putih dengan cepat.
“Gomawo..” kataku.
“Aku baru pulang sekolah..” benar saja, ia masih mengenakan pakaian sekolah. Aku tersenyum dan hening menyelimuti kami berdua.

~~

*Youngmi POV*

Yang tau penyakit Aechan selama ini hanya orangtuanya, aku, dan Myungsoo. Alasan Jinwoon tidak tau? Karna ia tidak mau Jinwoon iba padanya. Atau, jika suatu hari nanti Aechan menyatakan perasaannya, Jinwoon menerimanya karna iba.

“Try Out kali ini gampang ya!” ujar Jinwoon. Aku tersenyum dan mengangguk. “Kau bisa tadi?” tanyanya.
“Ish… Itu sepertinya hinaan.. Tentu saja aku bisa.. Aku kan tidak bodoh sepertimu!” ujarku.

~~

*Jinwoon POV*

Mengesalkan memang, karna aku dan Youngmi selalu bertengkar. Tapi, aku bersyukur, karna itulah kami dekat. Kata orang dulu, dari benci bisa menjadi cinta. Aku harap itu benar. Aku berharap Youngmi juga mencintaiku.

“Jelek!” ejeknya.
“Kau lebih jelek dariku!” kataku.
“Kau!”
“Kau!”
“Kau!”
“KAU!!!!!!!” kata kami berdua serempak.
“Haish… Lebih baik aku menanyakan keadaan Aechan daripada mengurusimu.” aku heran, kenapa ia begitu perhatian pada Aechan?
“Yeoboseyo? Myungsoo-ah! …… Ah, jinjja??? …. Geuraeyo… Ne… Choayo…” katanya.
“Bagaimana?” tanyaku.
“Aechan sudah sadar. Ayo! Kajja.. Kita kerumah sakit!” katanya berlari menyetop taksi. Aku tersenyum dan mengikutinya.

(author pov)

“AECHAN~~~” seru Youngmi girang saat memasuki ruang perawatan Aechan.
‘BLETAK!!’ Sebuah tas mendarat tepat dipuncak kepala Youngmi.
“Jangan teriak-teriak jelek!! Kau membuat pasien terganggu dengan suara cemprengmu yang memekakkan telinga itu” tegur Jinwoon setengah meledek.
“Brengsek kau!! Aku kan hanya mengekspresikan rasa senangku karena Aechan sudah sadar” ujar Youngmi membela diri seraya memukul bahu Jinwoon keras. Jinwoon meringgis saat merasakan sakit yang teramat sangat di bahu yang menjadi sasaran pukulan sang ratu iblis ini.
“Ugh!! Setidaknya kau lebih tenang sedikit, cewek jadi-jadian!!” balas Jinwoon mengabaikan rasa sakitnya.
“Apa katamu? Cewek jadi-jadian? Memang apa urusanmu!? Huh?” tanya Youngmi sinis lalu menghampiri Aechan yang masih terbaring lemah di tempat tidur.
“Aechan, gwenchanayo?” tanya Youngmi cemas. Aechan tersenyum kecil dan mengangguk.
“Gwenchana Young-ah” jawab Aechan.
Youngmi tersenyum senang dan mulai berbincang seru dengan Aechan dan Myungsoo. Sementara itu Jinwoon yang hanya sesekali menimpali pembicaraan mereka -yang pasti berakhir dengan perang mulut antara dirinya dan Youngmi- sedikit shock melihat noda di bahu seragamnya. Segera saja ia undur diri ke toilet.
“Maaf aku mau ke toilet sebentar” ujar Jinwoon lalu pergi membawa serta tas sekolahnya.
Myungsoo dan Aechan yang sempat melihat noda di bahu seragam Jinwoon hanya bisa saling pandang.
“Hei, apa si mata kecil itu terluka?” tanya Aechan pada Youngmi yang tengah memakan cokelat batangan.
“Huh? Terluka? Apa maksudmu?” tanya Youngmi sedikit kaget.
Aechan dan Myungsoo saling berpandangan lalu memandang Youngmi yang sedang berpikir keras.

***
(jinwoon pov)

Shit!! Gara-gara cewek jadi-jadian itu, lukaku jadi terbuka begini. Shit!!
Segera saja aku membuka seragamku dan membersihkan luka dan membalutnya dengan perban. Bisa bahaya kalau ketahuan mereka.
Kupandangi seragamku yang terkena darah tadi. Ini tidak akan bisa di sembunyikan. Ah! Kalau tidak salah aku tadi bawa jeket. Bisa di pakai.
Tak ingin mereka menunggu lama, aku pun segera kembali.

***
(aechan pov)

Jinwoon baru saja kembali, ah dia make jeket. Berarti dia benar-benar terluka.
“ah, maaf. Apa aku terlalu lama? Tadi ada sedikit urusan” ujarnya tersenyum kecil.
Aku dan Myungsoo mengangguk maklum tapi Young-ah malah menghampiri si mata kecil itu dan langsung meremas bahu kiri Jinwoon.
“akh!!” Kulihat Jinwoon meringgis sakit. Berarti benar dia terluka.

***
(youngmi pov)

“Buka jeketmu!!” perintahku pada Jinwoon.
“tidak!!” tolaknya mentah-mentah.
Aku membuka paksa jeket yang di pakainya. Pertanyaan Aechan dan reaksi si bodoh ini membuatku berpikir kalau dia terluka.
“Apa-apaan kau??” salaknya saat aku berhasil membuka jeketnya.
“Kau diam saja! Atau akan kubuat kau semakin terluka” ancamku. Tapi si bodoh ini sama sekali tidak peduli dan justru semakin berontak.
Dengan terpaksa aku merebahkannya di sofa yang ada lalu membuka paksa seragamnya. Hatiku mencelos saat melihat banyak bekas luka di badan dan juga lengannya. Ini kah alasan kenapa dia selalu memakai pakaian tertutup. Ia pun terlihat sangat kaget karena tindakanku ini.
“Kauu!!! Kenapa badanmu penuh bekas luka seperti ini??” tanyaku geram.

“tidak usah tau!!!” katanya keras kepala. Aku mendesah keras. Ia segera mengenakan kembali jaketnya, da keluar dari ruang rawat.

~~

*myungsoo POV*

“L! Kejar Jinwoon!” perintah Aechan. Aku mengangguk, dan segera keluar untuk mengejar Jinwoon. Apa itu tadi self-injury. Tidak mungkin Jinwoon berkelahi.

“HYUNG!” pekikku. Ia berhenti, dan terduduk.
“kenapa kau mengikutiku??” tanyanya.
“aechan menyuruhku..” kataku polos. “hyung.. Kenapa ada luka di bahumu?” tanyaku.
“aku sudah katakan tidak usah tau, kan!” katanya jengkel. Ia mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.
“hyung… Apa kau melakukan… Self injury?” tanyaku takut-takut. Aku takut ia akan marah padaku.
“self-injury?” ulangnya. Aku mengangguk.
“ne…” kataku.
“hahahaha… Yang benar saja… Tentu saja tidak!” katanya. Aku mendesah lega. Kami berdua pun terdiam dengan pikiran masing-masing.

~~

*aechan POV*

aku mau menyudahi perih ini. Tidak mungkin aku bisa mendapatkan Jinwoon, penyakitku saja mungkin tidak bisa sembuh..

“young..” panggilku.
“ne?”
“aku… Aku ingin menyerah…” airmata sudah sampai dipelupuk mataku. “tentang Jinwoon..” lanjutku. Aku tau respon dari Youngmi akan seperti apa. Tapi, tampaknya keputusanku sudah bulat.
“MWO? Kau kenapa si? Kenapa menyerah?!” aku tau Young akan mengatakan ini.
“Young.. Aku lelah..” airmataku akhirnya jatuh. Pertahananku suda roboh skarang. “penyakitku memburuk, young. Ini asma akut! Bahkan obat pun sudah tidak mempan!” kataku sambil terisak.
“lalu? Kau menyerah tentang Jinwoon gara-gara ini?!” katanya.
“IYA! Aku menyerah karna ini! Apa kau puas?!” kataku.
“TIDAK!” ia membalas membentakku. “kau pasti sembuh, Ae! Harusnya kau percaya itu!” katanya. Aku menangis.
“aku sudah kalah sebelum berperang, nayoung… Ini sudah selesai..” kataku.
“aku kan sudah berjanji akan mempersatukanmu dengannya..” ujar youngmi.
“tidak usah… Semuanya terlambat..” kataku.

~~

*youngmi POV*

kenapa anak ini? Kenapa ia berubah pikiran?

“kau harus berjuang!” kataku.
“keluar, nayoung.. Aku ingin sendiri dulu…” katanya. Ia masih menangis, aku tidak tega meninggalkannya.
“tapi…”
“tinggalkan aku, nayoung!!” pekiknya. Aku mendesah dan mengangguk.
“baiklah, aku keluar..” kataku dan meninggalkan Aechan sendiri dalam kamar.

Apa-apaan itu? Tadi Jinwoon lari begitu saja tanpa menjawab pertanyaanku. Sekarang Aechan malah ingin menyerah. Ada apa dengan mereka?
“Young-ah” langkahku terhenti saat mendengar suara Myungsoo memanggilku.
“Apa jam besuk sudah habis? Kenapa keluar?” tanyanya. Aku menggeleng pelan.
“Tidak, hanya saja tadi Aechan bilang ingin istirahat” jawabku. “Oh ya, dimana si bodoh itu?” tanyaku lagi.
“Dia bilang ingin langsung pulang. Oh ya, kalau begitu aku mau mengambil tasku dulu lalu kita pulang bersama” ujarnya lalu menuju kamar perawatan Aechan. Aku menahannya.
“Aku pulang sendiri saja. Oh ya, kau semangati Aechan ya? Entah kenapa ia ingin menyerah pada hidupnya” kataku lalu meninggalkan Myungsoo yang kuyakini pasti sangat kaget.

***

Advertisements

2 responses to “Our Destiny (Ch.2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s