Memories

Title : Memories
Author : Kim Ahra
Genre : Romance, Sad
Cast :
– Lee Donghae
– Cho Kyuhyun

“Seoul aku kembali.”, ucap seorang yeoja yang baru saja tiba di bandara Incheon. Yeoja itu berjalan keluar dari bandara Incheon sambil menyeret koper nya.
“Seoul Apartement.”, kata yeoja itu pada sopir taksi.
Begitu mendengar perkataan yeoja itu, sopir taksi itu lalu menjalankan taksi menuju Seoul Apartement. Selama perjalanan menuju Seoul Apartement, mata yeoja itu memperhatikan keadaan Seoul.
‘Hanya 5 tahun aku meninggalkan Korea, sudah banyak yang berubah.’, batin yeoja itu.
Begitu sampai di Seoul Apartement, yeoja itu turun dari taksi lalu membayar tarif taksi kemudian berjalan memasuki Seoul Apartement sambil menyeret kopernya. Yeoja itu berjalan memasuki lift, ketika pintu lift akan tertutup seorang namja masuk. Yeoja itu merasa seperti mengenal namja yang berdiri di sampingnya. Dia hendak melihat wajah namja itu, tetapi tidak bisa karena namja itu memakai topi dan kacamata hitam.

I’m walkin’ to the day, I’m walkin’ to the day (eh eh eh eh)

Hp yeoja itu berbunyi. “Hi Oppa, aku sudah sampai di Korea. Aku tinggal di Seoul Apartement.”, kata yeoja. Sambil berbincang di telpon, yeoja itu melepas kacamatanya.
Tanpa yeoja itu sadari, namja yang berada di samping nya menolehkan kepalanya. Namja itu merasa mengenali suara yeoja itu. Begitu melihat wajah yeoja yang ada di sampingnya, namja itu kaget.
‘Dia kembali…’, batin namja itu.
Tring…
Pintu lift terbuka dan yeoja itu keluar dari lift sambil menyeret kopernya dan masih berbincang di telpon. Diam-diam namja itu mengikutinya untuk memastikan apakah dugaannya benar.
Begitu sampai di depan apartementnya, yeoja itu mengeluarkan kartu apartement nya lalu membuka pintu apartement dan masuk ke dalam. Namja yang mengikutinya, ia berhenti tepat di depan apartement yeoja itu sambil memandang pintu apartement itu.
“Ternyata kau memang telah kembali…”, ucap namja itu lalu berjalan menuju apartement miliknya.

….

Ahra POV

KRING KRING KRING
Bunyi alarm membangunkanku dari tidurku. Aku segera mandi lalu memanggang roti sambil membuat susu. Hari ini aku kan memulai pekerjaanku sebagai model dan penyanyi di Seoul. Aku harap karierku bisa sebagus di France.
Setelah selesai bersiap-siap, aku keluar dari apartementku lalu berjalan menuju depan gedung apartement. Begitu aku sampai di depan gedung apartement, aku melihat Kyuhyun Oppa sudah menunggu.
“Oppa sudah lama menunggu?”, tanyaku.
“Aku baru saja datang. Aku kangen sekali denganmu. 5 tahun kita berhubungan jarak jauh, membuatku sangat merindukanmu.”, ucap Kyuhyun Oppa lalu memelukku.
“Aku juga kangen dengan Oppa. Ayo berangkat!”, kataku.
“aku tidak menyangka kau melepas kariermu di France.”, kata Kyuhyun Oppa ketika perjalanan menuju Lee Entertaiment. Perusahaan di mana aku akan memulai karierku.
“Aku sudah tidak betah hidup di France sendiri. Dan oppa juga tidak pernah mengunjungiku di France.”, ucapku sedikit kecewa.
“Mianhae Ahra-aa, aku tidak ada waktu untuk mengadakan liburan ke luar negeri.”, sahut Kyuhyun Oppa.
“Gwaenchana Oppa, aku mengerti.”, ucapku.
“Kau pulang jam berapa? Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.”, Tanya Kyuhyun Oppa ketika kami sampai di depan gedung Lee Entertaiment.
“Hari ini aku akan banyak pekerjaan, mungkin lain waktu saja kita pergi.”, jawabku.
“Aish, baiklah. Kau jangan lupa makan siang dan malam. Aku tidak mau kau sakit.”, nasehat Kyuhyun Oppa.
“Ne Oppa Annyeong.”, aku mencium pipi Kyuhyun Oppa lalu keluar dari mobilnya dan berjalan memasuki gedung Lee Entertaiment.
Aku berjalan menuju receipsionist. “Aku Choi Ahra. Bisa bertemu dengan manager Choi?”, tanyaku pada pegawai.
“Selamat datang Ms. Choi. Manager Choi sudah menunggu anda di ruangannya. Mari saya antar.”, ucap pegawai itu lalu mengantarku menuju ruangan Manager Choi.
“Manager Choi, Ms. Choi sudah datang.”, ucap pegawai itu.
“Silahkan masuk.”, sahut Manager Choi.
Aku masuk kedalam ruangan nya, “Selamat pagi Manager Choi.”, sapaku.
“Ahra-aa, tidak usah seperti ini. Appa kangen sekali denganmu. Bagaimana kabarmu?”, tanya Appa.
“Aku baik Appa, bagaimana keadaan Appa dan Umma? Maaf aku baru bisa pulang sekarang.”, ucapku.
“Kami baik, kenapa kau tidak bilang kalau pulang kemarin? Aku dan Ummamu pasti menjemputmu di bandara.”, Tanya Appa.
“Aku tidak mau merepotkan Appa dan Umma.”, jawabku.
“Kau sejak kecil sudah tinggal bersama kami, dan kami sudah menganggapmu seperti anak sendiri. Jadi mana mungkin hanya menjemputmu di bandara itu merepotkan. Ummamu sudah sangat kangen padamu. Hari ini kau harus pulang ke rumah kami.”, kata Appa.
“Baik Appa.”, kataku.
“Appa sudah menemukan manager untukmu. Dan hari ini kau sudah mempunyai kegiatan untuk pemotretan majalah. Managermu sudah menunggu di sana. Kau akan melakukan pemotretan di studio 5 di lantai 8.”, kata Appa.
“Kamsahmnida Appa. Aku permisi.”, pamitku.
Aku menuju lantai 8 lalu masuk ke studio 5.
“Ms. Choi, aku managermu. Namaku Shin Eun Kyung.”, kata seorang yeoja yang kira-kira berumur 30 tahun.
“Annyeong unnie.”, sapaku.
“Kita harus segera memulai pemotreatan.”, kata Eun Kyung unnie lalu menyeretku ke ruang rias.
Aku melakukan pemotretan untuk majalah remaja dengan tema Summer. Pemotretan dilakukan sekitar 3 jam. Setelah itu aku dan Eun Kyung onnie berjalan menuju cafeteria untuk makan siang. Eun Kyung unnie adalah orang yang sangat baik, ramah dan cekatan. Aku senang bisa mendapat manager sepertinya.
Setelah selesai makan siang, aku mulai mempersiapkan single untuk comebackku sebagai penyanyi. Aku berlatih vocal dan lain-lain dan itu membutuhkan waktu sekitar 4 jam. Setelah itu aku memutuskan untuk pulang.
Mobil yang aku beli sudah diantarkan, jadi aku tidak usah repot-repot naik taksi. Aku menjalankan mobilku ke arah apartementku. Ketika perjalanan menuju apartement, aku teringat suatu tempat. Kemudian aku memutar arah.
‘Apakah tempat itu masih ada?’ batinku.

….

Aku turun dari mobilku kemudian berjalan menuju tepi danau. Tempat ini sama sekali tidak berubah, masih indah seperti dulu. Yang berubah hanya bagaimana aku pergi tempat ini dan bersama siapa aku pergi.


Danau ini merupakan saksi bisu dari semua kejadian yang aku alami bertahun-tahun yang lalu.
Aku duduk di tepi danau sambil melempar batu ke arah danau.
Bagaimana kabar Donghae Oppa sekarang? Aku benar-benar merindukannya. Aku ingin sekali bertemu dengan Donghae Oppa, walaupun aku tahu ia tidak akan mau melihat muka ku lagi.

#FLASHBACK

“Ahra-aa kau pergi duluan saja ke danau. Aku masih ada rapat organisasi.”, kata Donghae Oppa.
“Ne Oppa, annyeong.”, sahutku lalu pergi ke danau yang terletak cukup jauh dari sekolahan.
Begitu sampai di danau, aku melihat seorang namja sedang melempar batu ke arah danau.
“YES!!”, teriaknya begitu batu itu memantul 5 kali di permukaan air. Sepertinya menyenangkan bisa melempar batu seperti itu. Aku melepas sepatuku dan meletakkan tasku lalu berjalan ke arah namja itu.
“Permisi, boleh aku ikut bermain denganmu?”, tanyaku pada namja itu.
Namja itu menolehkan wajahnya dan menatapku, lalu tersenyum tulus. “Tentu.”, jawab namja itu. Kenapa jantungku berdetak begitu kencang ketika melihat namja ini tersenyum. Seharusnya aku tidak boleh merasakan itu, karena aku sudah punya Donghae Oppa.
Aku mencoba melempar batu itu, tetapi bukannya memantul tetapi batu itu tenggelam.
“Aish!! Kenapa aku tidak bisa!”, gerutuku.
“Kau mau aku ajari?”, namja itu menawarkan bantuan.
“Tentu.”, jawabku. Namja itu mengambil batu kerikil, lalu menyerahkannya padaku. Aku mengambil batu itu lalu menggenggamnya.
“Begini caranya…”, namja itu memegang tanganku lalu mengayunkannya dan menyuruhku melempar batu itu dalam hitungan ketiga. Jantungku semakin berdetak kencang ketika ia menggenggam tanganku. Astaga!! Apa yang terjadi padaku??
“Berhasil kan? Cobalah…”, ucap namja itu lalu memberiku batu kerikil.
Aku mengambil batu itu, lalu mencoba melemparnya kembali dan berhasil!! Batu itu memantul 3 kali.
“AKU BERHASIL!!”, teriakku senang.
“Gomawo ^^…”, ucapku bingung.
“Cho Kyuhyun.”, kata namja itu.
“Gomawo Kyuhyun Oppa. Namaku Choi Ahra. Senang bisa bertemu dengan mu.”, ucapku.
Setelah perkenalan itu, kami bermain air danau dan membuat baju seragamku dan miliknya basah. Baru pertama kali ini aku merasa sebahagia ini. Rasanya berbeda dengan rasa bahagia ketika aku bersama Donghae Oppa.
Kami duduk di tepi danau untuk beristirahat sambil menunggu baju seragam kami kering.
“Ahra…”, panggil seseorang dan membuatku menoleh ke belakang.
“Donghae Oppa!!”, kataku lalu berlari ke arah Donghae Oppa.
“Kau menunggu lama ya? Mianhae…”, ucap Donghae Oppa.
“Anhi, aku tidak merasa menunggu lama. Oh iya, aku ingin mengenalkanmu pada seseorang.”, kataku lalu menarik tangan Donghae Oppa.
“Kyuhyun Oppa, kenalkan ini namjachinguku Lee Donghae. Donghae Oppa, kenalkan ini teman baruku Cho Kyuhyun.”, kataku.
Mereka saling berjabat tangan.
“Sepertinya ini sudah cukup sore, ayo aku antar kau pulang. Kami permisi Kyuhyun-ssi.”, pamit donghae Oppa lalu menarikku.
“Oppa tunggu, kau duluan saja. Aku mau mengambil sepatu dan tasku dulu.”, kataku lalu melepas pegangan tangan Donghae Oppa.
Aku mengambil sepatu dan tasku lalu menghampiri Kyuhyun Oppa.
“Oppa gomawo sudah mau bermain denganku.”, ucapku.
“Sama-sama, boleh aku minta no hp mu??”, pinta Kyuhyun lalu menyerahkan hpnya padaku.
“Ne…”, jawabku lalu mengetikkan no hp ku.
“Bye Oppa, sampai jumpa!!”, kataku lalu berlari menuju mobil Donghae Oppa.
Selama perjalanan pulang, aku terus menatap jendela. Aku tersenyum mengingat apa yang aku lakukan bersama Kyuhyun Oppa. Ia namja yang sangat menyenangkan. Aku ingin bertemu dengannya lagi.
“Ahra kita sudah sampai.”, ucap Donghae Oppa. Mendengar ucapan Donghae Oppa aku langsung keluar dari mobilnya.
“Bye Oppa.”, ucapku lalu masuk ke dalam rumah.
“Umma, appa aku pulang.”, ucapku gembira.
Tidak ada yang menjawab ucapanku. Aku meletakkan sepatuku di rak sepatu. Mungkin appa dan umma ada di ruang kerja milik appa. Aku berjalan kea rah ruang kerja appa. Ketika aku hendak mengetuk pintu aku mendengar suara umma.
“Appa, aku tidak ingin Ahra tahu yang sebenarnya. Aku tidak ingin kehilangan Ahra.”, kata umma.
“Tapi kita tidak bisa selamanya menyembunyikan siapa dia sebenarnya? Aku takut kalau Ahra mengetahuinya dari orang lain, dia akan marah dan membenci kita.”, jawab Appa. Apa sebenarnya yang mereka sembunyikan dariku?
“Tapi aku takut begitu Ahra tahu kalau dia bukan anak kandung kita, dia akan sedih dan meninggalkan kita.”, kata Umma sambil menangis. Mendengar jawaban umma, aku merasa seperti diberi beban 1000 kg. Aku membuka pintu ruang kerja appa.
“Apa benar aku bukan anak kandung kalian??”, tanyaku sambil menahan air mataku.
“Ahra…”, umma menghampiriku lalu memelukku.
“Maafkan kami, seharusnya kami memberitahumu dari awal. Tapi kau tenang saja, umma dan appa sangat menyayangimu.”, kata umma sambil memelukku.
Aku tidak bisa mengatakan apapun. Mulutku seperti dijahit.
“Kami mengadopsimu ketika umurmu masih 2 tahun. Kami sayang sekali padamu.”, kata Appa lalu memelukku aku dan umma.
“Ahra, umma mohon jangan marah pada kami dan jangan tinggalkan kami. Hanya kau satu-satu harta yang paling berharga bagi kami.”, kata umma. Mendengar perkataan umma, tangisku pecah. Aku sama sekali tidak marah atau berniat meninggalkan mereka. Aku beruntung memiliki orang tua sebaik mereka.
Setelah aku tenang, appa menceritakan semuanya padaku. Aku mereka adopsi dari panti asuhan yang ada di Busan. Selama ini mereka sudah berusaha mencari tahu di mana keluarga kandungku. Mereka mengatakan kalau orang tua ku sudah meninggal.mendengar itu aku kembali menangis, dan umma kembali menenangkanku.
“Tapi kau masih punya saudara laki-laki. Umurnya 2 tahun diatas mu. Ia di adopsi setelah kami mengadopsimu. Oppa mu di adopsi oleh keluarga mapan seperti kita. Dan ia sekarang berada di Seoul. Ini alamat rumah Oppa mu.”, kata Appa lalu menyerahkan secarik kertas padaku.
‘Aku akan menemui Oppaku.’, batinku.

…..

Hari ini adalah hari libur, aku bangun dengan mata bengkak. Ini lah efek dari menangis kemarin sore. Aku segera mandi dan berusaha menghilangkan bengkak pada mataku. Setelah itu aku turun untuk sarapan. Aku menyapa Umma dan Appa seperti biasa, aku tidak peduli kalau mereka bukan orang tuaku.
“Hari ini kau akan menemui Oppa mu?”, Tanya Umma.
“Ne.”, jawabku.
“Kau ingin Appa antar??”, Tanya Appa.
“Tidak usah Appa, aku bisa minta diantar pak Kim.”, jawabku.
“Baiklah, Appa dan Umma akan mengurusi perusahan di Jepang selama 2 minggu. Kau yakin tidak mau ikut?”, Tanya Appa.
“Tidak Appa, aku tidak mau ketinggalan pelajaran.”, jawabku yakin.
“Baiklah, jaga dirimu! Jangan sampai kau sakit!”, ucap Umma.
“Ne Umma.”, sahutku.
“Kami berangkat dulu…”, ucap Appa lalu mencium pipiku kemudian gantian umma yang mencium pipiku.
Walaupun mereka bukan orang tua kandungku, aku bahagia memiliki mereka.
Setelah selesai sarapan, aku meminta pak Kim mengantarku ke rumah Oppa ku. Begitu sampai di depan rumah Oppa ku, ketika aku hendak turun dari mobil, aku melihat Donghae Oppa keluar dari rumah itu lalu mengambil Koran yang ada di gerbang rumahnya.
Perasaanku jadi tidak enak, apakah Donghae Oppa adalah Oppaku?? Berarti aku tidak boleh…
“Pak Kim, tolong tanyakan pada warga sekitar sini. Berapa anak yang dimiliki oleh keluarga itu?”, kataku sambil menunjuk ke rumah Donghae Oppa.
Pak Kim keluar dari mobil kemudian menghampiri seorang warga. Semoga keluarga ini memiliki banyak anak.
Begitu Pak Kim kembali ke mobil, aku langsung menyiapkan mentalku. “Bagaimana?”, tanyaku.
“Keluarga Lee hanya mempunyai 1 putra.”, jawab pak Kim dan membuatku lemas. Air mataku menumpuk siap untuk keluar.
“Ayo kita pergi dari sini! Aku ingin ke danau!”, kataku sambil menahan air mata.
Begitu sampai di danau, aku menyuruh pak Kim pulang. Aku kemudian duduk di tepi danau dan mengeluarkan semua air mataku yang aku tahan.
‘Kalau Donghae Oppa, adalah Oppa kandungku maka aku tidak boleh menjadi yeojachingunya. Kenapa harus Donghae Oppa!!’, batinku. Aku menangis cukup lama, dan tiba-tiba aku mendengar suara langkah kaki.
“Tidak baik seorang yeoja sendirian di sini sambil menangis seperti itu.”, aku kenal dengan suara orang itu. Aku mendongakkan kepalaku dan melihat Kyuhyun Oppa berdiri di hadapanku sambil memegang sapu tangan.
Entahlah, setan apa yang merasuki ku dan membuatku langsung memeluk Kyuhyun Oppa lalu kembali menangis.
“Keluarkan semua kekesalanmu!”, ucap Kyuhyun Oppa sambil membalas pelukanku. Berada di dalam pelukannya saat ini membuatku sangat nyaman. Pelukannya sama seperti pelukan umma dan Appa.
Setelah tenang, Kyuhyun bertanya kenapa aku menangis. Kemudian aku menceritakan semuanya tanpa bagian manapun yang aku hilangkan.
“Kau harus memilih keputusan dengan pikiran dingin dan tanpa ada emosi.”, ucap Kyuhyun Oppa setelah aku menyelesaikan ceritaku.
“aku tidak tahu harus melakukan apa?”, ucapku frustasi.
“Aku tahu kau bisa! Ahra Semangat!!”, sahut Kyuhyun Oppa memberikanku semangat. Melihatnya seperti itu membuatku tersenyum.
“Nah begitu dong. Kau tampak lebih cantik kalau tersenyum.”, ucap Kyuhyun Oppa dan membukaku malu. Aku merasa pipiku memanas.

….

Selama dua minggu ini, aku menghindari bertemu Donghae Oppa. Aku sudah tahu apa yang harus aku lakukan.
Ketika pulang sekolah, aku segera keluar dari kelas dan berjalan menuju pintu gerbang. Aku melihat Kyuhyun Oppa sudah ada di depan sekolahku.
“Apa kau yakin akan melakukan hal itu?”, Tanya Kyuhyun Oppa ketika kami berada di mobilnya.
“aku yakin Oppa. Ini lah yang terbaik.”, jawabku yakin. Kyuhyun Oppa mngantarku ke Danau. Aku turun dari mobilnya lalu menunggu Donghae Oppa datang. Kyuhyun Oppa menungguku di dalam mobilnya, aku takut kalau Donghae Oppa melihat Kyuhyun Oppa, ia akan berpikiran buruk. Sekitar 30 menit aku menunggu, akhirnya aku mendengar suara Donghae Oppa.
“Ahra, aku kangen denganmu. Kemana saja kau selama 2 minggu ini? Sulit sekali aku menghubungimu.”, kata Donghae Oppa sambil memelukku.
“Aku sedang banyak tugas.”, sahutku lalu melepas pelukannya dan mundur satu langkah.
Aku melepas kalung yang diberikan Donghae Oppa lalu menyerahkannya pada Donghae Oppa.
“Aku rasa hubungan kita cukup sampai di sini.”, ucapku sambil menatap matanya.
“Apa maksudmu? Kenapa? Apa aku melakukan sesuatu yang buruk padamu?”, Tanya Donghae Oppa.
“Kau tidak melakukan apa pun, aku lelah menjalin sebuah hubungan. Aku ingin focus pada sekolahku. Terima kasih atas semua yang kau berikan padaku. Selamat tinggal.”, ucapku lalu berjalan meninggalkannya.
“Ahra…”, Donghae Oppa menahan tanganku.
“Lepaskan Oppa!!”, ucapku sambil menahan air mataku.
“Apa ini karena Kyuhyun??”, Tanya Donghae Oppa.
“Ini bukan karena siapa pun. Aku sendiri yang ingin hubungan ini berakhir. Lepaskan!”, jawabku lalu melepas tanganku dari genggamannya dan berjalan menuju mobil Kyuhyun Oppa.
“Kau lega??”, Tanya Kyuhyun Oppa ketika perjalanan menuju rumahku.
“Aku sangat lega. Aku melakukan ini demi kebaikan bersama. Aku tidak ingin orangtua kandungku kecewa kalau melihat aku dan Donghae Oppa berpacaran.”, jawabku sambil mengelap air mataku dengan tisu.
Setelah kejadian itu, aku sama sekali tidak pernah bertemu dengan Donghae Oppa. Walaupun aku bertemu dengannya, aku tidak akan melihat senyumnya lagi. Aku menjalin hubungan dengan Kyuhyun Oppa, dan kedua orangtuaku setuju. Setelah lulus SMA aku bertunangan dengan Kyuhyun Oppa. Aku memutuskan untuk sekolah di France.

#ENDFLASHBACK

Aku sadar dari lamunanku dan meninggalkan danau itu. Ketika aku berjalan beberapa langkah, aku melihat seorang namja yang memakai topi dan kacamata bersandar di pohon. Aku melewati namja itu begitu saja.
“Kau sudah kembali?”, ucap namja itu. Aku membalikkan badanku dan melihat namja itu melepas topi dan kacamatanya lalu menhadap ke arahku.
“Dong…hae Oppa…”, ucapku.
“Selamat datang kembali ke Korea.”, ucapnya lalu berjalan ke arahku.
“Thanks.”, ucapku.
“Aku sudah tahu semuanya. Pertamanya aku sangat marah karena keputusanmu itu, tetapi setelah aku mencari tahu alas an sebenarnya aku bangga padamu, dongsaeng.”, kata Donghae Oppa dan membuatku terkejut.
Aku tidak bisa membalas apapun karena kaget mendengar Donghae Oppa memanggilku ‘ dongsaeng’.
“Seharusnya dari awal kau beri tahu aku kalau kau adalah adikku, jadi aku tidak sempat membencimu dan membenci Kyuhyun. Karena aku mengira Kyuhyun merebutmu dariku. Kau tidak kangen dengan Oppamu ini?”, Tanya Donghae Oppa lalu melentangkan tangannya.
“Aku sangat kangen padamu.”, ucapku lalu memeluk Donghae Oppa.

….

“Bagaimana hubunganmu dengan Kyuhyun?”, Tanya Donghae Oppa ketika kami berada di restaurant.
“Baik-baik saja. Oppa sendiri?”, tanyaku balik.
“Kalau aku bilang aku sudah menikah dan punya seorang anak, apa kau akan percaya?”, canda Donghae Oppa.
“Oppa jangan bercanda!”, ucapku.
“aku serius Ahra, aku sudah menikah 2 tahun yang lalu. Dan aku memiliki seorang putra berumur 1 tahun.”, kata Donghae Oppa serius.
“Benarkah?? Chukae Oppa!! Aku ingin bertemu dengan istrimu dan anakmu.”, ucapku semangat.
“Akhir pekan, aku akan mengajak mereka ke danau. Kau ajak Kyuhyun ke sana.”, kata donghae Oppa.
“Arraso!!”, sahutku.

~THE END~

 

pendek ya ceritanya? feel nya pasti kurang?  #memang

sebenernya aku mau bikin yang Donghae POV nya kalau banyak yang mau…

yang gak comment aku doain gak ketemu sama biasnya….

34 responses to “Memories

  1. oOo….jdi Donghae oppa tu kakaknya Ahra toh??
    btw…sapa ya istrinya Donghae oppa??Sica ya hehehe……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s