[Freelance] YOU CAUSED THESE TEARS [CHAPTER 4-END]

JUDUL: YOU CAUSED THESE TEARS CHAPTER 4
AUTHOR: JIVON / @Gvonnn
CAST: KWON JIYONG, LEE CHAERIN, SEUNGRI, SANDARA PARK
OTHER CAST: FIND IT! 🙂
GENRE: ROMANCE, SAD, FRIENDSHIP
RATING: R

“Ya, Chaerin. Aku sangat nyaman bersender di bahumu seperti ini. Berkali-kali aku mencoba masa bodo dengan keadaanmu tapi aku tidak bisa. Sepertinya….” Jiyong mengehela nafasnya. “Sepertinya aku sudah terikat denganmu.”

DEG DEG DEG. Jantung Chaerin berdetak lebih cepat dari biasanya, wajahnya memerah.

“A-A-Aigo, o-oppa cepat pakai baju mu. Kau bisa masuk angin.” Chaerin mengambil pakaian milik Jiyong.

“Mengkhawatirkan ku ya?” Jiyong mengelus kepala Chaerin lalu memakai pakaiannya.

“Ayo pulang.” Jiyong tersenyum mengulurkan tangannya, Chaerin menyambut uluran tangan itu juga dengan senyum di wajahnya.

“Good Gaho.” Jiyong merangkul Chaerin mengacak-acak rambutnya.

“Mwo?! Enak saja kau aku disamakan dengan Gaho!”

Chaerin dan Jiyong tertawa berjalan ke mobil Jiyong dan berhenti saat seseorang berteriak memanggil Jiyong.

“Jiyong!!” Dara berlari ke arah Jiyong.

“Jiyong-ah, mianhae… Aku tidak ada maksud berbohong padamu!”

“Kita bicarakan ini besok saja.” Jiyong berjalan acuh tak acuh melewati Dara sambil menggandeng Chaerin.

“Ani! Aku mau kau dengar penjelasan ku sekarang juga!” Dara menahan lengan Chaerin.

“Oppa, kau bicara saja dengannya, aku tidak akan mengganggumu.” Chaerin melepas genggaman tangan Jiyong dan mendorong Jiyong mendekati Dara.

Dara tersenyum se-akan-akan berterima kasih kepada Chaerin. Chaerin hanya membalas nya senyuman. Chaerin bersandar dibawah sebuah pohon besar agak jauh dari Dara dan Jiyong. Youngbae menghampiri Chaerin dan bersender disebelah Chaerin.

“Hey.” Sapa Youngbae.

“You like him, huh?”

“What? You’re joking.” Chaerin tertawa.

“Jangan bohong, kau menyukai Jiyong kan?”

Chaerin menggeleng-gelengkan kepalanya. Chaerin tidak melepas pandangannya dari Dara dan Jiyong yang sedang berdebat di ujung jalan sana.

DEG! Jantung Chaerin seperti dituncap pisau saat melihat Dara mencium Jiyong. Chaerin tidak berkedip melihat mereka berciuman, dada Chaerin terasa seperti dihujam ratusan jarum, rasanya perih.

“Aigo. Sedang apa mereka?” Ucap Youngbae.

“Hm hm.” Chaerin tertawa pelan menundukan kepalanya.

“Wae? Sakit bukan rasanya?”

“Hah? Bicara apa kau ini. Sebaiknya aku pulang sekarang. Sampaikan salam ku untuk mereka berdua….” Chaerin tersenyum pahit meninggalkan Youngbae.

Chaerin berjalan tanpa arah tujuan dengan pandangan kosongnya, hanya berjalan mengikuti jalan yang tidak tau arahnya kemana. Chaerin berjalan sambil meremas pakaian di bagian dadanya.

“Aigo, kenapa rasanya sangat sakit?” Chaerin menggigit bibir bawahnya.

“Heisss. Kenapa rasanya sakit?!” Chaerin berjongkok di pinggir jalan.

TINN TINNN!

Bunyi klakson mobil membuat Chaerin terkejut, lampu mobil yang menyorot Chaerin dari jauh semakin mendekat. Mobil itu berhenti tepat di depan Chaerin, seseorang turun dari mobil itu. Jiyong rupanya…

“Aigo kenapa kau main pulang saja sih?!” Jiyong menarik lengan Chaerin kasar.

“Sakit! Aigo untuk apa kau kesini?!” Chaerin menarik lengannya.

“Untuk apa?! Tentu saja mencari mu pabo! Jangan main hilang begitu saja!”

“Wae?! Kau urus saja Dara! Aku kan bukan siapa-siapamu!”

“Kau bukan siapa-siapaku?! Memang!” Jiyong menarik Chaerin kedalam pelukannya, “Tapi aku mencemaskanmu….. Bodoh….”

Chaerin terpaku didalam pelukan Jiyong, niatnya ingin mendorong Jiyong diurungkan.

“O-Oppa jangan begini.”

“Wae?” Jawab Jiyong memper-erat pelukannya.

“K-Kalau kau terus memperlakukan ku begini, aku takut.”

“Takut apa?” Jiyong memotong omongan Chaerin.

“Aku takut aku akan menyukaimu.” Chaerin mendorong Jiyong pelan.

Jiyong masih terpaku mendengar kalimat yang barusan keluar dari mulut Chaerin.

“Kalau aku menyukaimu, kau tidak akan membalas perasaan ku kan?”

Jiyong hanya terdiam.

“Kalau begitu jangan buat aku menyukaimu. Rasanya sakit kau tau kan?” Chaerin menepuk dada nya, mulai mengeluarkan airmata lagi.

“C-Chaerin.. Mianhae…” Jiyong ingin menghapus airmata Chaerin.

“Jangan terus-terusan begini padaku oppa. Aku bisa sangat menyukaimu, aku juga bisa sangat sakit.” Chaerin menepis tangan Jiyong. Berjalan meninggalkan Jiyong sendirian.

“Apa itu berarti aku tidak boleh peduli denganmu?! Iya?! Aku tidak bisa tidak perduli dengan mu Chaerin!!” Teriak Jiyong.

“Kalau begitu belajar benci padaku!! Benci aku!! Kau tidak akan memperdulikanku lagi kan kalau begitu?!” Chaerin berteriak dengan suara goyang karena menangis.

“M-MWO?!” Jiyong menghampiri Chaerin memeluknya lagi. Chaerin membantah dari pelukan Jiyong tapi Jiyong tidak melonggarkan pelukannya sedikitpun.

“Aku mana bisa membencimu?! Aku tidak bisa!!”

“Wae?! WAE?! YANG KAU CINTAI DARA HARUSNYA KAU BISA MEMBENCIKU!!”

“AKU MENYUKAIMU!” Jiyong berteriak dihadapan Chaerin.

Chaerin terdiam kaku dengan airmata yang masih terus mengalir keluar dari matanya.

“Jangan bercanda. Kau mau bermain dengan perasaanku?” Chaerin melepas pelukan Jiyong.

“Aku menyukaimu Chaerin.”

“Kalau kau menyukai ku, kau seharusnya bisa memilih antara aku dan Dara.”

Jiyong lagi-lagi dibuat diam oleh Chaerin.

“See? Kau tidak bisa memilih kan? Kau tidak menyukai ku, kau hanya kasihan padaku. Sudahlah, bahagiakan dia oppa. Aku senang kalau kau senang.” Chaerin tersenyum berlari meninggalkan Jiyong.

“ARGHHHH!!!!” Teriak Jiyong menendang pohon yang ada disebelahnya, terduduk lemas menyender di pohon itu.

“Kenapa rasa nya lebih sakit dari yang tadi?” Jiyong memegangi dadanya menggigit bibir bawahnya melihat Chaerin yang semakin jauh sosoknya.

***

Menempuh perjalanan ke rumah sendiri, beruntung Chaerin bisa sampai kerumah dengan selamat. Untuk ke sekian kalinya, lagi-lagi Chaerin bertemu dengan Seungri yang sedang berdiri didepan rumahnya.

“Ya, sedang apa disini?”

“A-aku…”

“Ya, Seungri-ah, sebenarnya apa mau mu? Kau pernah bilang kau masih mencintaiku tapi nyatanya kau masih berhubungan dengan wanita lain. Apa menyakitiku belum cukup?”

“A-Aku menyesal sudah melakukan semua itu kepadamu Chaerin. Mianahe…. Kembali padaku, aku sangat membutuhkanmu.” Seungri berlutut di depan Chaerin.

“Aigo, apa-apaan kau ini. Sudahlah berdiri.” Chaerin membantu Seungri berdiri.

“Aku sudah memaafkanmu, aku sudah melupakan semuanya. Tapi mian, aku tidak bisa menerima mu lagi. Mian…”

“Wae? Kau mencintai pria itu?”

Chaerin terdiam.

“Jawab aku Chaerin, kau menyukai nya?”

“Ne, aku menyukainya.” Chaerin menjawab dengan tegas.

“Apa dia juga menyukaimu?” Pertanyaan Seungri membuat Chaerin speechless.

“Dia tidak menyukai mu? Kembali padaku Chaerin.” Seungri maju mendekati Chaerin.

“Mian Seungri….” Chaerin berjalan melewati Seungri dan masuk ke dalam.

Chaerin menghela nafasnya mencoba tidak terlihat lesu didepan Bom dan Minzy, terdengar suara ramai dari dalam ruang tamu rumah Chaerin, Chaerin berjalan masuk ke dalam.

“Eonnie! Kau sudah pulang!” Minzy menarik lengan eonnie nya itu.

“Eonnie, kenalkan ini Daesung oppa.”

Seorang pria tinggi bermata sipit dan berwajah manis menghampiri Chaerin dan membungkukan badannya memberi salam, “Annyeong, Daesung imnida.”

“Ah, ne.. Chaerin imnida.” Chaerin membungkukan badannya.

“Oppa, sedang apa disini?” Chaerin melihat Seunghyun yang sedang bersantai-santai di sofa ruang tamunya.

“Ya, pertanyaanmu seperti mengusirku tau. Memang nya kenapa kalau kakak ipar mu disini?”

“Hah?” Chaerin mengerutkan wajahnya. “Kakak ipar?”

“Ne, Seunghyun oppa sudah melamar Bom eonnie! Mereka akan menikah!” Minzy menjawab sambil meloncat-loncat kegirangan.

“M-MWO?! MENIKAH?! KAPAN?!” Chaerin duduk disebelah Bom.

Bom mengacungkan dua jarinya membentuk ‘V’.

“2 bulan?” Bom menggelengkan kepalanya.

“2 minggu?” Seunghyun menggelengkan kepalanya.

“2 HARI LAGI?!” Chaerin berlari ke belakang Seunghyun dan melingkarkan tangannya di leher Seunghyun.

“YA! Oppa! Lebih baik kau jaga eonnie ku baik-baik atau mati kau!” Chaerin mengancam Seunghyun sambil tertawa.

“Araso araso. Mau sampai kapan kau mencekik kakak iparmu?” Seunghyun tertawa.

“AAA eonnie chukkae!” Chaerin lari ke pelukan Bom. Bom menyambut pelukan Chaerin dengan penuh kasih sayang.

“Ya, kau tidak memberi selamat padaku?” Seunghyun mencibir.

“Heisss. Chukkae oppa!” Chaerin memeluk Seunghyun.

“Gomawo.” Seunghyun mengelus kepala Chaerin, “Ah, nanti kau datang dengan Jiyong?”

“Ani. Biarkan Jiyong datang dengan Sandara, aku datang dengan temanku.”

“Aku? Aku?” Minzy ikut memeluk Seunghyun.

“Kau dengan Daesung. Kalian sangat cocok.” Seunghyun menjahili Minzy membuat wajah Daesung dan Minzy.

Suara tawa dan candaan terdengar nyaring didalam rumah itu, kekeluargaan yang sangat membuat Chaerin merasa tenang dan melupakan sakit yang dirasakan.

***

2 days later

“AIGO! EONNIE KAU CANTIK SEKALI!” Chaerin dan Minzy terpesona melihat Bom yang tampak seperti putri negeri dongeng dengan gaun pengantinnya.

“Eonnie, chukkae akhirnya kau menikah! Sayang sekali eomma dan appa tidak bisa hadir.” Minzy menangis haru.

“Gomawo Minzy. Tapi appa eomma pasti bisa merasakan rasa senangnya juga kan disana.” Bom menghapus airmata Minzy.

KRING KRING KRING

HP Chaerin berbunyi, Chaerin mengambil HP nya dari dalam tas nya.

Jiyong pabo calling

Chaerin mematikan telpon dari Jiyong itu dan mematikan HP nya. Melemparnya kembali ke dalam tas.

“Kenapa tidak diangkat eon?” Minzy bertanya pada Chaerin.

“Ani tidak apa-apa.”

KREKKK.

Suara pintu terbuka, mempelai pria, Seunghyun yang sudah siap dengan tuxedo nya menjemput mempelai wanita nya untuk berangkat ke tempat pernikahan.

“AIGO! SEUNGHYUN OPPA! Kau seperti pangeran negeri dongeng!” Minzy dengan polos mengagumi ketampanan Seunghyun.

“Ya! Minzy pangeranmu juga sudah datang.” Chaerin menunjuk Daesung yang sudah ada di ambang pintu.

Pipi Minzy yang chabby berubah warna menjadi merah dan malu-malu menghampiri Daesung.

“Aigo, eonnie ini!”

“Kita tunggu di mobil yuk.” Daesung merangkul Minzy keluar dari ruang hias pengantin.

Chaerin tertawa melihat gelagat Minzy, Chaerin melihat Seunghyun dan Bom yang sedang asik sendiri mengagumi pasangannya.

“Chaerin-ah, kau mau sekalian berangkat ke sana tidak?”

“Hah?? Ani kalian berangkat saja duluan. Aku nanti nyusul dengan……… Temanku.”

“Ah, okay.” Seunghyun dan Bom meninggalkan Chaerin sendirian di ruang hias itu. Seunghyun, Bom, Daesung dan Minzy berangkat dengan 1 mobil yang sama ke tempat pernikahan dilangsungkan.

Chaerin berdiri di hadapan cermin, melihat gambaran dirinya sendiri yang lemah, terlalu mudah disakiti, bodoh, semuanya terpantul di cermin.

“Ya, Lee Chaerin. Chaerin yang lama sudah mati.” Chaerin mengambil gunting yang ada dilaci meja rias itu dan mulai menggunting rambutnya yang panjang.

“From now, there’s no more weak and old Chaerin.” Chaerin mengambil tasnya dan pergi meninggalkan rambut nya yang masih berserakan di lantai.

***

Gemuruh ricuh terdengar jelas dari gerbang gereja tempat Seunghyun dan Bom akan menikah. Para tamu undangan sudah mulai berkumpul dan berbincang satu sama lain. Chaerin turun dari mobil dengan seorang pria yang tidak di duga kedatangannya.

Chaerin dengan wajahnya yang galak dan sini memasuki gerbang dan berdiri di bawah sebuah taman. Chaerin tidak mau berkumpul dengan para tamu undangan.

“Chaerin!”

Charin menoleh, “Oh, damn.” Chaerin menggerutu kesal saat melihat Jiyong bersama dengan Dara menghampirinya.

“Chae- YA! Sedang apa kau disini?!” Jiyong membentak Seungri yang berdiri disamping Chaerin.

“Apa masalahmu?! Dia ini pasanganku!” Chaerin membela Seungri.

“Hah, jangan bercanda. Aku tau kau sangat membenci pria brengsek ini!” Jiyong menarik lengan Chaerin.

“Aigo! Aku sudah bilang dia ini pasanganku! Lepas!” Chaerin membantah dan menampar tangan Jiyong kasar. Membuat Jiyon terkejut.

“K-Kau! Ada apa denganmu?! Kenapa jadi begini?!”

“Wae?! Kau yang kenapa! Sembarangan menarikku didepan pacarku?!” Chaerin membentak Jiyong.

“P-Pacar?! Aku ini pacarmu kan?!” Jiyong masih berupaya bersandiwara.

“Bukan! Kau hanya temanku! Tidak lebih dari seorang teman! Pacarku ada disini! Seungri!” Chaerin menggandeng lengan Seungri. Membuat Jiyong terpancing emosi nya.

“BUKAN KAH KAU MENYUKAIKU?!”

“AKU HANYA MENYUKAIMU AKU TIDAK BILANG AKU MENCINTAIMU KAN?!” Chaerin membentak Jiyong.

“C-Chaerin, kenapa kau jadi seperti ini?” Dara dengan lembut bertanya pada Chaerin.

“Mian Dara, tolong bawa PACARMU pergi dari sini. Aku muak melihatnya.” Chaerin berjalan melewati Jiyong.

“C-Chaerin!” Dara mendorong Chaerin hingga terguling di rerumputan. Sebongkah kayu lapuk dari atas pohon jatuh menimpa Dara yang menolong Chaerin.

Batang kayu itu jatuh tepat mengenai kepala Dara, membuat darah segar mengalir dari kepala Dara.

“D-DARA!” Chaerin dengan panik mengangkat bongkahan kayu itu.

“D-D-DARA!!” Jiyong mendorong Chaerin dan menyentuh pipi Dara.

“Dara! Sandara! Kau tidak apa-apa?! DARA!”

Sandara yang pingsan tidak menjawab apa-apa.

“PUAS KAU SEKARANG?!” Jiyong menggendong Sandara ke dalam mobilnya dan pergi.

Suasana menjadi tambah ricuh, para tamu undangan memusatkan perhatiannya kepada Chaerin. Seungri memeluk Chaerin, menutupi wajah Chaerin. Seunghyun dan Bom yang panik menghampiri Chaerin.

“A-Ada apa?!”

“Eonnie! Aku takut sekali Dara kenapa-kenapa! Aku harus menyusulnya sekarang!” Chaerin berlari meninggalkan tempat pernikahan itu.

Chaerin melepas heelsnya dan berlari sekuat tenaga ke rumah sakit terdekat, tempat Jiyong membawa Dara. “Dara maafkan aku!” Batin Chaerin menahan airmatanya.

“Dara!!” Teriakan Chaerin memecah keheningan di lorong rumah sakit itu.

Jiyong yang sedang terduduk lemas didepan pintu ruang ICU menatap Chaerin dengan tatapan benci nya yang membara.

“J-J-Ji-“

“Puas?” Jiyong memotong omongan Chaerin.

“Puas kau sekarang?! Aku sudah membantumu, menjagamu, tapi kau membalas ku begini?!”

Chaerin yang sudah menangis tambah deras mengeluarkan airmata dari matanya membasahi pipinya.

“A-Aku tidak bermaksud mencelakakan Dara.”

“SEMUA INI GARA-GARA KAU! SEHARUSNYA DARI AWAL AKU TIDAK MEMBANTUMU!”

BUAKK!

Jiyong menonjok dinding rumah sakit dengan keras, membuat tangannya mengeluarkan darah segar.

Seorang dokter dari ruang ICU keluar dengan raut wajah yang membuat Jiyong dan Chaerin semakin panik.

“D-D-Dok, Sandara tidak apa kan?” Mata jiyong berlinangan airmata.

“Benturan keras yang mengenai kepala Sandara membuat beberapa saraf nya rusak dan……”

“Dan? Dan apa?!” Jiyong menggunakan nada tinggi.

“Membuat Sandara buta.”

DEG! Jantung Chaerin dan Jiyong seperti ditembak dengan peluru beruntun saat mendengar dokter berkata Sandara tidak bisa melihat lagi, buta….

“M-Mwo?! Tidak bisa disembuhkan?!” Wajah Jiyong berubah menjadi pucat seperti mayat.

“Mau tidak mau harus mencari cangkok kornea mata dalam waktu dekat ini. Kalau terlalu lama…. Mungkin akan menjadi permanen.”

Dokter meninggalkan Jiyong yang masih shock dan terpaku tidak bergerak mendegar keadaan Dara didalam sana. Jiyong jatuh dengan kedua lutut menumpu badannya.

“Jiyong-ah, aku minta maaf.” Chaerin berbisik pelan.

“Kau merusak hidupku, sekarang kau juga merusak hidup Sandara? Kau meruak kebahagiaanku!” Jiyong membentak Chaerin sambil menangis.

“Apa kebahagiaanmu itu Sandara?” Chaerin yang ikut menangis berlari meninggalkan Jiyong.

***

Hari sudah berganti, sinar matahari pagi masuk menerangi ruang rawat Dara. Jiyong yang terduduk disebelah Dara menggenggam tangan Dara tanpa melepas nya sedetikpun. Mata Jiyong terlihat bengkak karena menangis semalaman dan wajahnya terlihat
pucat karena tidak tidur menjaga Dara.

“Jiyong-ssi!” Seorang perawat berlari ke dalam kamar rawat Jiyong.

“Ada apa?” Jawab Jiyong lemas.

“O-Operasi untuk Sandara sudah bisa dijalankan, pihak dokter sudah mendapat donor kornea mata.”

“Mwo?! Benarkah?!” Sebuah senyuman terpancar di wajah Jiyong.

“Tapi, siapa yang mendonorkan kornea nya?” Tanya jiyong.

“Pihak dokter bilang dari seorang korban kecelakaan.”

Jiyong menganggukan kepalanya dan mengelus dahi Dara, “Aku akan menemanimu selama operasi.” Sebuah kecupan manis didaratkan Jiyong di dahi Dara.

Jiyong mengurus jadwal operasi Dara hingga selesai. Tiba saatnya untuk melakukan operasi cangkok kornea mata. Lampu ruang operasi sudah dinyalakan, Jiyong terduduk lemas di depan ruang operasi melipat tangannya dan berdoa.

1 jam dilewati. 2jam. 3 jam. Sampai akhirnya lampu operasi dimatikan dan tim dokter keluar.

“D-Dokter, bagaimana? Hasilnya?”

“Hasilnya belum bisa diketahui. Besok saya akan membuka perban dimata Sandara. Kita bisa tau berhasil apa tidak nya besok.” Tim dokter membawa Dara untuk dipindahkan ke ruang rawat biasa.

“Ah, k-khamsahamnida.” Jiyong membungkukan badannya.

“Ah, Jiyong-ssi, ini formulir nya.” Seorang perawat memberikan sebuah amplop cokelat kepada Jiyong. Jiyong mengucapkan terima kasih dan membuka surat itu duduk di depan kamar Dara.

TRINGGG.

Sebuah kalung jatuh saat Jiyong mengeluarkan surat dari amplop itu. Jiyong mengambil kalung itu. Jiyong kaget saat melihat kalung berinisial J<3S yang waktu itu ingin diberikan pada Dara ada didalam amplop itu.

Jiyong membaca-baca surat dan formulir rumah sakit itu, terselip sebuah amplop kecil tanpa ada tulisan diatasnya. Jiyong mengeluarkan beberapa lembar surat yang ditulis tangan oleh seseorang untuknya. Tangan Jiyong bergetar hebat ketika mulai
membaca surat itu.

Ya, pabo! ^^

Ini aku kembalikan kalung yang waktu itu aku cari di danau. Aku lupa mengembalikannya padamu waktu itu, mian!
Ya, aku minta maaf aku sudah banyak merepotkanmu dari awal bertemu saat aku menuduhmu mengintipku padahal itu rumahmu. Saat Seunghyun oppa salah sangka dengan kita karena aku yang jatuh diatasmu.
Juga waktu aku mencium mu di depan Seungri. Maaf aku sudah banyak terlibat dalam hidupmu oppa… Aku sangat menyukai panggilan oppa sekarang^^ aku baru sadar memanggil mu oppa ada bagusnya juga saat aku menulis surat ini.
Aku minta maaf sudah membuat hubungan mu dan Sandara terganggu karena ku, aku sudah banyak merepotkanmu dan Sandara. Aku sering mabuk dan membuatmu repot membawa ku pulang. Aku sudah mencium mu saat aku mabuk juga.
Aku sering mematikan telpon mu tiba-tiba. Aku sering memanggilmu pabo, aku sering membentakmu, tapi aku sangat menikmati masa-masaku bersamamu oppa^^~
Oppa. Aku tidak mau melihatmu sedih, itu menyakitkan untukku. Melihatmu sedih dan menangis membuatku terluka lebih dalam lagi. Aku tau kau pasti sangat membenciku sekarang, ini semua salahku. Kau memang pantas membenci seorang wanita brengsek seperti ku.
Ya, oppa. Sandara sangat berarti bagimu dan oppa sangat berarti bagiku. Oppa tidak mau melihat Dara sedih, begitupun aku tidak mau melihat oppa sedih. Aku senang melihat oppa tersenyum saat bersama Dara.
Oppa, aku akan menghilang dari kehidupanmu. Aku tidak akan melupakan sejarah awal kita bertemu, berkelahi, berteman, jalan-jalan, mabuk, aku menyayangi memori-memori itu^-^

Airmata Jiyong mengalir membasahi kertas surat yang dipegangnya. Dada nya sesak, Jiyong tidak perduli dengan orang-orang disekitarnya lagi, Jiyong menangis terisak-isak. Tangannya yang gemetar membuka halaman surat berikutnya.

Aku akan pergi dari Korea. Aku tidak akan mengganggumu lagi. Tidak akan ada lagi yang memaksamu menjemputnya dirumah. Kau bisa menikmati hari-harimu dengan kekasihmu.
Mungkin saat aku kembali suatu hari nanti aku sudah bisa melihatmu seperti Bom eonni dan Seunghyun oppa. Kau dan Sandara berdiri di altar pernikahan memakai gaun dan jas pernikahan.
Maaf aku sudah memperlakukanmu kasar, aku hanya ingin membuatmu membenciku. Tapi sekarang aku rasa kau sudah sangat membenciku kan ^^ Tapi aku tetap menyukaimu!

Terimakasih buat semua kebaikan oppa….

Adikmu yang bodoh,
Chaerin….

Jiyong dengan wajah yang masih basah karena airmata masuk ke dalam kamar rawat Dara, memakaikan kalung dileher nya dan mencium keningnya.

“Dara, aku harus berbuat apa…”

***

“Jiyong!!!!” Suara Dara terdengar nyaring sampai keluar kamar.

“Aku bisa melihat!!” Dara melompat kedalam pelukan Jiyong.

“Aku senang kau bisa melihat lagi.” Jiyong mencium pipi Dara lalu melihat kedalam mata Dara.

Terlihat warna mata Chaerin yang kecokelatan menempel di mata Dara, membuat Jiyong teringat saat Jiyong bertatapan mata dengan Chaerin.

“Tapi, siapa yang mendonorkan kornea nya untukku?”

Jiyong dan dokter yang ada dikamar itu bertatap-tatapan sejenak.

“Korban kecelakaan.” Jawab Jiyong singkat.

“Dara, kau istirahat. Aku mau pulang sebentar.” Dara menganggukan kepalanya lalu memeluk Dara.

Jiyong berlari ke dalam mobilnya mengendarai mobilnya dengan cepat menuju rumah Chaerin, berharap masih bisa bertemu dengan Chaerin.

Sampai di rumah Chaerin, Jiyong melihat Seunghyun dan Bom yang sibuk memasukan koper-koper ke dalam bagasi mobilnya. Juga Minzy yang memapah….. Chaerin, naik ke mobil.

Jiyong buru-buru turun dari mobilnya. Bom, Minzy dan Seunghyun yang melihat Jiyong memutuskan untuk meningglkan Jiyong berdua dengan Chaerin, memberi Jiyong waktu untuk berbicara dengan Chaerin.

“Eon? Oppa? Tongkatku, tolong…” Chaerin meraba-raba berusaha mencari tongkatnya yang jatuh.

Jiyong yang melihat keadaan Chaerin kembali menangis dan mengambil tongkat milik Chaerin. Jiyong menahan suara tangisnya, tidak ingin ketahuan oleh Chaerin.

“Jiyong-ah.” Panggil Chaerin.

“M-Mwo?” Jawab Jiyong terkejut.

“Ah, jadi benar itu kau.” Chaerin tertawa. “Sedang apa disini?” Tanya Chaerin.

“Aku… Melihat keadaanmu.”

“Wae? Aku tidak apa-apa. Aku sehat.” Chaerin tertawa.

Seunghyun, Minzy dan Bom keluar dari rumah dan menghampiri Jiyong.

“Chaerin, sudah jam 11.” Kata Bom lembut.

Seunghyun masuk ke dalam mobil menunggu Bom, Minzy dan Chaerin masuk ke dalam mobil.

“Well, kita harus berpisah. Aku senang bisa mengenalmu.” Chaerin mengulurkan tangannya mengundang Jiyong masuk ke pelukannya.

Jiyong masuk ke dalam pelukan Chaerin dan memeluk Chaerin dengan erat.

“Aku dan Minzy akan tinggal di Perancis. Bom eonnie dan Seunghyun oppa akan menjagamu disini. Jaga dirimu baik-baik oppa.” Chaerin membalas pelukan Jiyong.

“Ne… Kau jaga dirimu baik-baik.” Jiyong memeluk Chaerin lebih lagi seakan-akan tidak rela melepas Chaerin.

“Kau bisa hidup tenang sekarang.” Chaerin tertawa lalu memelapas pelukannya dan masuk ke dalam mobil.

Bom tersenyum dan memberikan sebuah kotak besar kepada Jiyong sebelum masuk ke dalam mobil.

“Ini dari Chaerin.” Bom tersenyum lalu masuk ke dalam mobil.

Mobil Seunghyun mulai berjalan semakin jauh meninggalkan Jiyong sendiri. Jiyong yang masih terpaku mengantar kepergian Chaerin membuka kotak yang ada ditangannya.

“Apa ini…” Jiyong tertawa kecil melihat isi kotak itu adalah gaun pengantin yang dipakai oleh Bom dan Seunghyun kemarin.

Sebuah memo ditempel diatas gaun itu.

Saat aku kembali, aku mau melihat kau dan Dara memakai gaun ini. Aku harap aku sudah bisa melihat saat itu. Kau pasti menangis kan?! Jangan menangis cengeng!^^
Chaerin.

Jiyong menghapus airmata nya, menghela nafasnya, melihat ke langit dan berusaha tersenyum.

“I cry because of you. You caused these tears, stupid."
"Aku sudah terlalu sering membuatmu menangis. Sekarang biar aku yang menangis menyesali perbuatanku.”

Jiyong pergi meninggalkan rumah Chaerin. Membawa semua kenangan-kenangannya dengan Chaerin, mencoba membuka lembaran yang baru.

THE END :')

*mianhae kalo ceritanya kurang memuaskan*

Advertisements

15 responses to “[Freelance] YOU CAUSED THESE TEARS [CHAPTER 4-END]

  1. Asli sedih dan kecewa ak kira ending Πγª skydragon…. (-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩__-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩)
    Tapi apa mau dikata nasip mreka ada ϑϊ tangan author…..
    Tapi ff Πγª bagus mzki ak Ъќ>:/ biasa baca part 1 Πγª …..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s