Meosjin Hospital [part 8]

baiklah… *sigh* para reader setia yang tercinta,  vy udah ga punya kata-kata lagi buat minta maaf kalo publish ff ini sangat lama sekali… T___T pengennya sih cepet-cepet publish, tapi ceritanya belum ada, apa yang mau di publish?? tak ada waktu untuk menuangkan semua ide yang udah mendidih di otak… saya sibuk kuliah dan kegiatan kampus lainnya T___T jeongmal mianhaeyo… *very very deep bow* #lebay. pokonya vy mau ngucapin jeongmal gomawoyo buat semua reader yang udah setia baca ff ini… :’) walopun publishnya sangat lama tapi kalian setia nunggu dan tetep RCL… bener-bener bersyukur ada kalian yang bisa ngehargain vy… #eeeaaaa. ya udah deh, daripada makin kesel saya terlalu banyak bacot, mari cekidot ffnya… 😀

Title: Meosjin Hospital

Author: Hyunvy (follow me @vyivyivy)

Main Cast: SHINee, Hwang Jiyeon, Song Jesang, Park Minhyo

Other Cast: Kim Sohyun, Eunjung (T-ara)

Length: Series

Rating : PG-15

Genre: Romance, Friendship, Comedy (?)

Desclaimer: ff ini banyak terinspirasi dari komik ‘God Hand Teru’ dan komik-komik kedokteran lainnya juga dari “Grey’s Anatomy” drama tentang kedokteran juga, tapi untuk plot, tokoh, dan yang lainnya author yang bikin sendiri dan hanya milik author (?). ini ada sedikit edukasi kedokterannya, jadi kalo yang minat sama kedokteran semoga bisa nambah-nambah ilmu juga…hehe. Enjoy ^^

Nanti dibawah (di akhir cerita tiap partnya) bakal ada keterangan penjelasan buat kata-kata istilah kedokteran yang mungkin belum banyak diketahui sama para readers, ya semoga nambah pengetahuan juga…

Summary: Liburan kelima namja itupun sudah berakhir. Kisah cinta mereka mulai bersemi satu persatu. Taemin, Jiyeon dan susu pisang mereka tampaknya akan berlanjut kehubungan yang lebih dalam. Kibum mulai menetapkan hatinya pada Jesang, perawat yang ‘memaksa’nya untuk bekerja bersama. Mungkin takdir yang menyatukan mereka.

Meosjin Hospital (prologpart1 / part 2 / part3 / part4 / part5 / part6 / part7)

***

Pagi ini bukan pagi yang biasa.mereka berlima sedang berkumpul di ruangan mereka, duduk melingkar di sofa yang ada di tengah ruangan. Mereka bukan sedang mengobrol melainkan hanya duduk dan sibuk dengan dunianya sendiri. Jonghyun menopang dagu dengan dahii yang mengerut, berkutat dengan pikirannya sendiri, memikirkan apa? mungkin ia tidak usah memberitahukannya lagi. Jinki sibuk dengan berkas-berkasnya, membolak-balikkan kertas-kertas proposal bakti sosial yang akan oleh perkumpulan waktu itu, tetapi sekarang ia memiliki tanggung jawab besar karena ia dan Shinri menjadi penanggung jawab untuk mengurus semuanya. Taemin sibuk menyedot susu pisangnya sambil jari-jarinya sibuk menyentuh layar handphonenya, jelas ia sedang kasmaran. Kibum mungkin hampir sama seperti Jonghyun, berkutat dengan pikirannya sendiri. Tetapi Kibum agak berbeda, wajahnya lebih berseri dan terkadang ia tersenyum sendiri. Minho, satu-satunya yang mengerutkan dahinya karena bingung, bingung melihat sikap keempat temannya yang tidak biasanya. Ia mulai menyelidiki satu persatu.

‘pasti ini soal dr.Song. Ah, ini tentang bakti sosial itu kan… Aku yakin ia sedang sibuk menulis sms untuk Jiyeon noona. Kalau Kibum,  hhmmhh, apa ya? Jangan-jangan ia…… omo… semuanya sibuk dengan yeojanya masing-masing?!’ Minho bergumam dalam hatinya yang akhirnya membuatnya menjadi kesal sendiri

“aaaiiisssshhh, Kibum, kau sudah punya yeoja incaran ya?” akhirnya Minho memecah keheningan, tetapi sayangnya tak ada satupun yang berkutik

“Kibum-aaahhhh!!!!”

“ah, ne?” akhirnya ada yang menanggapi Minho

“kau tidak mendengarku?”

“anni….”

“aku tanya kau sudah punya yeoja incaran?”

“eh?! Yeoja? Ah, ne… Jesang-ah…”

“mworago? Jesang noona maksudmu, hyung?” Taemin mulai beralih perhatiannya

“nde… memangnya kenapa? Dia manis ya….” Kibum mulai menampakkan wajah membayangkan-wajah-manis-Jesang

“ah, benar juga ternyata, kalian memang cocok…” ujar Taemin kemudian kembali beralih ke handphonenya dan memberitakan berita gembira itu pada calon yeojachingunya

“astaga Kibum, aku tidak percaya… muali kapan dia menjadi incaranmu?”tanya Jonghyun yang perhatiannya mulaii teralih pada temannya yang sedang kasmaran

“sejak kemarin?!” entah itu sebuah pernyataan atau pertanyaan, yang pasti Kibum sedang dimabuk asmara

“sudah cukup bersantai-santainya?” sebuah suara terdengar dari pintu ruangan mereka yang sedari tadi sedikit terbuka

“ah, songsaenim…” kelimanya terkejut melihat dokter kepala, dr.Park sudah berdiri tegap di ambang pintu sambil melipat tangannya di dada. Cepat-cepat mereka berdiri dan membungkukan badan mereka

“ada beberapa pekerjaan yang harus kalian lakukan…” ujar dr.Park sangat berwibawa sambil berjalan meninggalkan mereka, dan artinya mereka berlima harus bergegas mengikuti langkah dokter kepala.

“kira-kira ia akan membawa kita kemana?” bisik Kibum yang mulai cemas

“tiba-tiba sekali, aku bahkan belum sempat membalas sms dari Jiyeon noona…”keluh Taemin sambil merengut wajahnya

“mana ku tahu… jangan-jangan ia akan menyidang kita…”pembicaraan Jonghyun mulai ngelantur

“sidang apa? jangan berfikir yang aneh-aneh” dengan segera Jinki menyadarkannya

“sidang karena kalian hanya memikirkan yeoja…” sua Minho membuat keempat temannya merasa tersindir dan mengalihkan pandangannya pada pria bertubuh tinggi itu

“hehehehehe, aku hanya bercanda…” Minho terkekeh sambil berdoa agar hidupnya selamat dari amukan teman-temannya itu

“dasar… sirik saja kau hyung!!!” ujar Taemin pelan, tetapi berhasil membuat Jinki, Jonghyun dan Kibum terkekeh

***

Mereka berenam tiba di sebuah ruangan. Ruang itu cukup besar dengan sebuah podium di tengah ruangan. Kursi-kursi berjajar bertingkat-seperti di teater, bedanya, kursi ini terpisah agak jauh satu sama lainnya dan memiliki meja yang terhubung dengan kursi lainnya yang sejajar. Kira-kira ada 4 tingkat dan terbagi 3 banjar membuat setengah lingkaran yang tertuju pada podium dengan LCD projector. Ini ruang conference. Bukan ruang conference berkapasitas 10-20 orang, tetapi berkapasitas 50-70 orang. Ini ruang conference besar. Hanya digunakan pada saat-saat terpenting yang harus mengundang setiap jajaran pemimpin di Meosjin Hospital.

“annyeonghasimnika…” ujar Hyunwon sambil membungkuk pada dokter kepala. Ia sudah ada di dalam, mempersiapkan sebuah slide presentasi

“kamsahamnida, dokter Song…” ujar dr.Park menuju keatas podium dan mulai bersiap

“silahkan duduk…”ujar Hyunwon kepada kelima dokter muda itu. Mempersilahkan kelimanya duduk di kursi paling depan yang sudah disediakan oleh Hyunwon, totalnya 6 kursi. Kelima anggota The Fabulous ini mengikuti perintah. Mereka pun duduk dengan hati penuh tanya. Selain mereka baru pertama kali masuk keruangan ini, mereka pun masih bingung, mengapa mereka dibawa ke tempat ini dan apa yang sebenarnya ingin dibicarakan oleh dokter kepala. Sepertinya masalah serius.

“selamat siang semuanya” dokter kepala mulai berbicara dengan mic yang ada di depannya

“mungkin kalian agak bingung mengapa saya menyuruh kalian untuk berkumpul disini” tepat, dokter kepala bisa membaca pikiran mereka

“ini semua mengenai spesialis. Saya kira kalian berlima sudah sepatutnya memilih dimana kalian akan menetap dan inilah saatnya…” sontak kelima orang yang sedang dibicarakan itu tercengang. Pikiran mereka mulai menjelajah kemana-mana. Dan menurup mereka 2 tahun di Meosjin Hospital bukanlah waktu yang lama

“ada beberapa option yang bisa kalian pilih… satu per satunya akan saya presentasikan” ujar dokter kepala sambil terus menjelaskan apa yang tertulis di dalam slide yang sudah dipersiapkannya itu

“yang pertama adalah bedah jantung. Mungkin subdivisi yang satu ini yang memang banyak digemari dan memang banyak dibutuhkan. Kita tidak bisa menyangkal bahwa penyakit jantung adalah penyakit kronik yang sudah mendominasi sekarang ini. Apa yang akan kalian pelajari di subdivisi ini adalah semua tentang jantung. Organ vital utama dalam tubuh manusia.” Kelimanya mengangguk kecil menerima materi singkat itu, jujur, sampai saat ini mereka masih belum bisa menerima kenyataan bahwa sebentar lagi mereka akan mengambil kuliah untuk spesialisasi lagi

“yang kedua, bedah syaraf. Subdivisi yang satu ini tak kalah penting. Kunci utamanya adalah ketelitian. Kalian akan bekerja dengan organ terkecil dari tubuh, salah sedikit saja, akibatnya bisa sangat fatal. Jangan dilupakan, kalian juga akan berkutat dengan otak. ‘komputer’ dalam tubuh manusia, pengendali semuanya.”

“yang ketiga, bedah GIT atau saluran cerna. Infeksi saluran cerna adalah penyakit infeksi terbanyak kedua di dunia setelah penyakit infeksi saluran pernafasan. Organ pencernaan mulai dari mulut sampai anus memang sangat banyak dan sangat kompleks, hal tersebut yang membuat subdivisi ini hanya memilih beberapa dokter yang tepat saja. Tak sedikit dokter yang berminat dalam subdivisi ini, tetapi pada akhirnya, hanay setengahnya yang berhasil.”

“yang keempat, bedah plastik. Korea menempati posisi pertama negara dengan operasi plastik terbanyak setiap tahunnya. Tapi subdivisi ini tidak hanya mempelajari tentang operasi plastik yang sifatnya seakan-akan hanya memancungkan hidung atau mengecilkan bibir seorang artis baru, tetapi juga bagaimana menyelamatkan permukaan tubuh seseorang yang nyaris tak berbentuk lagi.”

“yang terakhir, bedah anak. Kalian sama saja akan mempelajari bedah secara keseluruhan, tetapi bedanya, organ yang akan kalian tangani ukurannya jauh lebih kecil dari organ tubuh orang dewasa yang kalian tangani. Butuh ketekunan dan kerja keras, dan jangan dilupakan, komunikasi dan kekreatifan sangat dituntut untuk membuat pasien –yang disini adalah anak-anak merasa nyaman. Yang kalian tangani adalah calon penerus bangsa.”

Kalimat dokter kepala memang sudah selesai, tetapi otak kelima namja tersebut belum selesai mencerna semua materi singkat itu. Kelimanya masih terdiam, tidak berkomentar. Bukannya mereka bodoh, sekali lagi mereka belum bisa menerima kenyataan. Ruanganpun menjadi hening. Dokter kepala mulai bingung dan bertanya-tanya apalah kelima namja dihadapannya ini terlalu bodoh atau dirinya sendiri yang terlalu bodoh untuk mengambil keputusan besar ini.

Hyunwon menyadari hal itu, seakan ia bisa membaca pikiran kelima namja itu plus dokter kepala yang sedang kalut. Ia bangkit dari duduknya, berjalan menuju podium dan meminta ijin untuk berbicara menggunakan mic yang tersedia disana.

“aku akan menyelesaikan semuanya…” bisik Hyunwon dengan balasan senyum dan anggukan dari dokter kepala. Hyunwon memang ahli dalam hal seperti ini

“aku tahu kalian bukan dokter yang bodoh” kalimat Hyunwon yang pertama mampu mengalihkan perhatian. Keenam pasang mata sedang tertuju padanya.

“kalian diam bukan karena terlalu bodoh dan tidak mengerti apa yang sedari tadi dokter kepala jelaskan, tetapi kalian hanya masih bingung saja, bukankah begitu?”lagi-lagi kelimanya hanya mengangguk tanpa berkata sepatah katapun

“maka dari itu, masih ada waktu kurang lebih 3 bulan sampai tahun ajaran baru, dan selama itu pula kalian akan berfikir keras dan nantinya memutuskan, subdivisi mana yang akan kalian pilih, araseo?”

Mendengar kata 3 bulan, kelimanya menjadi sedikit lega. Mereka kira saat itu juga mereka harus memutuskan. Ternyata mereka masih mempunyai cukup waktu untuk memilih.

“ah, ne… araseo…” jawab Jinki sebagai wakil juru bicara. Lagi-lagi anggukan yang Hyunwon terima

“kalian boleh keluar dan mulai bekerja…” ujar dokter kepala mengakhiri perbincangan kaku ini

“kamsahamnida…” kelimanya membungkuk dan meninggalkan ruangan

“kau memang ahlinya dalam hal ini, dr.Song…”ujar dokter kepala menghampiri Hyunwon

“ahjushi, kau ini, aku tidak suka kau memanggilku dengan panggilan itu…”ia merajuk, berubah 180 derajat dari sikap tegasnya tadi

“kau panggil kau apa, dr.Song? kita sedang di rumah sakit, panggil aku dokter kepala!!!” ia berakting marah pada keponakan kesayangannya itu, orang andalannya untu masalah operasional rumah sakit yang kadang tidak bisa ditanganinya seorang diri

“araseo, dokter kepala…hihihi” Hyunwon terkekeh, ia memang agak geli harus memanggil paman yang sudah ia anggap sebagai ayahnya sendiri itu dengan sebutan dokter kepala. Tetapi bagaimanapun mereka harus profesional.

***

“mwo?! Ini adalah kunci rumahnya?” ujar Minho setengah berteriak melihat hasil radiologi thorax

“nde, tidak salah lagi…” jawab Minhyo sambil mengangguk yakin, berusaha meyakinkan Minho

“bagaimana keadaan pasien sekarang?” tanya Minho sambil beranjak menuju kamar tempat beradanya pasien itu

“compos mentis, tidak tampak kesakitan, hanya merasa ada yang mengganjal. Suaranya agak tercekat saat berbicara, tetapi ia masih saja berdebat dengan kekasihnya.” Paparan Minhyo itu seakan tidak berguna bagi Minho yang sedang bingung bercampur cemas. Pasien pertamanya hari ini adalah seseorang yang menelan segantung kunci.

“sudah aku katakan, kau jangan bermain-main dengan kunci itu, bisa tertelan, benar saja kan sekarang.”

“aku tidak sengaja menelan kunci ini, aku hanya bermain-main”

“tapi acara main-mainmu ini berakhir di rumah sakit”

3 meter dari pintu kamar terdengar pembicaraan –atau mungkin lebih tepat disbut perdebatan sepasang kekasih yang salah satunya telah menelan kunci rumahnya

“ehm, tuan Kim”

“ah, nde?” jawab salah satu suara, yang pasti adalah suara si namja yang tercekat

“tuan Kim Sohyun, umur 26 tahun. Datang dengan keluhan menelan segantung kunci rumah.” Minho membaca karte pasien dan memang terdengar agak miris. Kasus kali ini kasus langka.

“aku sudah melihat hasil foto thorax, untung saja kunci itu masih mengganjal di pertengahan kerongkongan anda, jadi kita akan melakukan endoskopi, sekaligus pengambilan kunci tersebut”

“Minhyo, tolong siapkan ruang endoskopi”

“nde…” Minhyo beranjak keluar dan tentunya melakukan apa yang telah diperintahkan Minho kepadanya

“kau ini menyusahkan saja!!!” ujar sang yeoja setengah berteriak, padahal Minho masih ada di ruangan itu.

“ssstttt, ada dokter Choi disini, jangan keras-keras…”ujar Sohyun agak berbisik, tetap dengan suaranya yang tercekat

“sebaiknya anda tidak banyak berbicara tuan Kim…” imbau Minho yang setidaknya bisa sedikit melerai pertengkaran sepasang kekasih ini

“ruang endoskopi telah siap…” ujar Minhyo saat tiba di kamar itu lagi

“baiklah, mari kita bergegas kesana…”ujar Minho. Minhyo sudah mengerti apa yang harus dilakukannya. Ia mendudukan Sohyun di atas kursi roda dan mulai mendorong kursi itu mengikuti Minho yang ada di depan menuju ruang endoskopi. Tak ketinggalan yeojachingu dari Sohyun yang mengikuti dari belakang

Mereka pun sampai di ruang endoskopi. Ruangan itu tidak terlalu besar, terdapat sebuah alat endoskopi lengkap dengan layarnya. Minhyo menyuruh Sohyun untuk tidur di meja periksa yang sudah disiapkan, sedangkan Minho bersiap untuk melakukan endoskopi. Ia mencuci tangannya lalu memakai sarung tangan. Untuk melakukan tindakan ini, tidak dibutuhkan kesterilan seluruhnya, tidak seperti melakukan operasi dengan membuka tubuh seseorang. Dan kali ini pun pendamping pasien diperbolehkan untuk masuk.

Tindakan endoskopi kali ini bukanlah seperti biasanya yang hanya melihat, tetapi kali ini ia juga harus mengambil kunci yang sedang mengganjal di kerongkongan pasien.

“baiklah, kita akan segera melakukan tindak pengambilan kunci di kerongkongan pasien” Minhyo menyodorkan selang endoskopi yang telah steril dan siap pakai kepada Minho. Tetapi selang endoskopi kali ini agak berbeda. Ada sebuah pengait yang sengaja dipasang untuk mengambil kunci-kunci tersebut. Untungnya kelima buah kunci tersebut tergantung pada satu buah gantungan kunci, yang dalam hal ini mempermudah pengambilan.

“tindakan ini butuh kerja sama dari pasien, usahakan agar kau tidak menelan atau melakukan tindakan apapun” ujar Minho sambil menengadahkan kepala Sohyun dan mulai memasukan selang itu kedalam mulutnya. Minho mulai mengamati dari layar.

“ohok.. ohok..” Sohyun tercekat, ini memang respon fisiologis dari tubuh. Selang itu perlahan masuk dan hampir sampai pada tempat yang dituju. Perlahan tapi pasti, kunci itu sudah terlihat, sekarang tinghal mengaitkan dan menariknya perlahan.

“huh, sudah kubilang jangan bercanda berlebihan…” satu suara menghancurkan segalanya. Sohyun terbatuk keras, membuat Minho harus mengeluarkan selang endoskopi dari saluran cerna bagian atas dari Sohyun.

“nona, siapa namamu?” tanya Minho yang sudah setengah kesal karena mulut yeoja yang satu ini tidak bisa berhenti meracau, mengutuki kekasihnya

“Eunjung, namaku Eunjung, waeyo? Mengapa kau mengeluarkan selang itu?”

“bisakah kau berhenti merutuki kekasihmu sendiri?” baiklah, Minho sudah menyalahi kode etik sebagai dokter dengan mencampuri urusan pasien

“kalau seperti ini terus, kunci-kunci itu bisa tertelan lebih jauh dan bisa saja memasuki lambungnya, kalau itu terjadi, kami harus melakukan tindakan pembedahan. Tolong kekasih anda dengan memberinya semangat…” yeoja yang bernama Eunjung itu pun terdiam

“aku tahu kau seperti itu karena mencemaskan kekasihmu bukan? Sekarang kita harus sama-sama berusaha untuk mengeluarkan kunci itu dari kerongkongannya” Minhyo angkat bicara. Eunjung mengangguk pelan dan mulai meraih tangan Sohyun

“kau pasti bisa yeobo!!! Fighting!!!”ujarnya membuat Minho –juga Minhyo tersenyum. Minho mulai memasukan selang itu ke kerongkongan Sohyun. Perlahan-lahan sampai akhirnya mereka menemukan kunci tersebut, dengan sekali gerakan, Minho berhasil mengaitkan alat tersebut dengan gantungan yang menyatukan kunci-kunci tersebut. Ia mulai menarik selang endoskopi itu perlahan, diikuti dengan kunci-kunci itu yang ikut tertarik. Perlahan, namun pasti, sampai akhirnya kunci itu pun dapat keluar dari tubuh Sohyun

“ah, syukurlah…” Eunjung mengelus dadanya lalu memeluk Sohyun erat. Sohyun yang sudah merasa lega itu pun membalas pelukan yeojachingunya

“kau sudah boleh pulang, Minhyo akan memberikan kunci itu padamu nanti.”ujar Minho seraya Minhyo sedang mencuci kunci yang hampir membahayakan nyawa seseorang

“aku sarankan kau untuk menelan makanan dan bukan kunci…”ujar Minho membuat sepasang kekasih itu pun terkekeh

“jeongmal kamsahamnida dr.Choi…” bungkuk keduanya dibalas dengan bungkukan Minho. Keduanay bergegas pergi meninggalkan ruangan itu

“tindakanmu patut diacungi jempol, dokter muda…”ujar Minhyo sambil mencuci kunci-kunci itu di atas air yang mengalir

“tindakan mencampuri urusan pribadi pasien, maksudmu?”

“nde…”

“kalau tidak begitu, mungkin kunci itu sudah masuk kedalam lambung. Eh, kata-katamu tadi bagus juga, Minhyo…hehe”

“ya, begitulah sikap seorang yeoja. Kadang-kadang kalau mereka sudah panic mereka sudah tidak bisa berfikir jernih… tunggu, kau panggil aku apa tadi?”ujar Minhyo sambil mengeringkan kunci yang telah bersih itu

“aku panggil Minhyo…”ujar Minho polos

“kita hanya berdua disini, setidaknya kau menghargaiku dengan memanggilku noona…”ujar Minhyo agak menyindir sambil bergegas menyerahkan kunci itu kembali pada pemiliknya

“eh, padahalkan aku hanya lebih muda 2 tahun darimu, noonaaaaaaaa…”ujar Minho agak berteriak karena Minhyo sudah berada di luar ruangan. Minhyo mendengar kalimat itu. Ia hanya tersenyum sambil terus berjalan melaksanakan tugasnya.

***

Jonghyun kebagian jaga malam hari ini, dan ia paling malas melakukan tugas yang satu ini. Ia tidak bisa melakukan apa-apa selain menunggu. Kalau ia tidur lalu ada pasien, gawat. Karena saat kelelahan seperti ini ia bisa tidur tanpa terusik apapun setidaknya selama 5 jam. Bermain game, tidak mungkin, membaca buku? Sangat membosankan. Ia memutuskan untuk berjalan berkeliling rumah sakit. Setidaknya ia tidak bosan hanya duduk di ruangannya.

“josonghamnida, kami tidak bisa menyelamatkan keduanya, sesuai keinginan anda, kami hanya bisa menyelamatkan sang ibu. Josonghamnida” Hyunwon membungkukan badannya berkali-kali dihadapan seorang namja berumur sekitar 30an tepat di depan ruang operasi dengan menggunakan baju operasi lengkap.

“kau bilang ada kemungkinan 5%, kemana kemungkinan itu? Kau menyia-nyiakan 5% kehidupan anakku” ujar namja itu, air matanya mulai mengalir

“josonghamnida…” Hyunwon membungkukan badannya untuk kesekian kali

“kau telah membunuh anakku, kau pembunuh!!!” teriak namja itu sambil mengguncangkan tubuh Hyunwon keras. Hyunwon hanya tertunduk, ia tidak melakukan pembelaan diri

“KAU KEMANAKAN ANAKKU???” teriakkannya lebih keras, menggema hampir keseluruh ruangan. Namja itu menghempaskan tubuh Hyunwon keras. Hyunwon kehilangan keseimbangannya, ia sudah siap bahwa sebentar lagi tubuhnya akan membentur tanah.

‘hap’ tubuhnya berhasil ditangkap oleh sepasang tangan yang dengan segera menopang tubuh yang sudah terkulai lemas

“istriku…” perhatian namja itu beralih pada tubuh seseorang yang baru saja di dorong keluar dari ruang operasi. Jonghyun merasa lega karena setidaknya namja itu tidak akan memperlakukan hyunwon kasar

“dr.Song, kau tidak apa-apa?” Jonghyun mengguncang tubuh Hyunwon pelan. Tidak ada respon dari Hyunwon, sontak Jonghyun panik dan segera menggendong Hyunwon, membawanya ke ruangan Hyunwon dan menidurkannya di salah satu sofa yang paling panjang

‘aku sudah melihatnya pingsan dua kali. Sebenarnya apa yang terjadi padanya? Mengapa ia jadi lemah seperti ini? Tidak seperti biasanya yang tegas dan sangat kuat. Bahkan waktu itu aku melihatnya menangis. Yeoja misterius…’ Jonghyun berkelut dengan dirinya sendiri sambil menatap Hyunwon yang terbaring lemah

“eomma, appa…” Hyunwon mengigau

“aku telah membunuh…”

—–tbc—–

urinologi: bagian ginjal dan urine
GIT (GI Tract) : saluran pencernaan
thorax: dada
compos mentis: sadar penuh
endoskopi: sebuah alat seperti selang yang dilengkapi dengan kamera dan lampu yang terhubung dengan layar. alat ini biasa digunakan untuk melihat apa yang terjadi di saluran pencernaan

***i

oh iyah… yang udah baca wajib comment!!!hohoho

untuk kelanjutan ff ini, Meosjin Hospital, sepertinya akan segera berakhir… entah berapa part lagi, tapi author memutuskan untuk segera menyelesaikan ff ini…huhuhuhuhu

tetep pantengin Meosjin Hospital dan ff2 vy yang lainnya… #promosi

jeongmal gomawo… 🙂

Hyunvy^^

40 responses to “Meosjin Hospital [part 8]

  1. hahaha 😀
    pasangannya lucu >< berdebat terus sampe namjanya ketelan kunci. wkwk
    ehem ehem.. kayaknya sebentar lagi minho bakalan nyusul kawan2nya untuk saling memikirkan yeoja. hahaha 😀
    kenapa dengan dr.song???
    ditunggu lanjutannya eonni^^

  2. Kok pendek bgt sih .?
    Kyknya mereka pda jatuh cinta sma noona2 ya .?
    Keke ..
    Itu kenapa sih dr.song itu .?
    Penasaran deh .,
    Lanjutannya d tunggu ya ..

  3. wah cuma minho yg blm mikirin yeoja..
    tp abis ini kyknya minho jg bakalan mikirin yeoja deh..
    hehehe
    kuncinya ketelen??
    ya ampun..
    untung aja minho bs ngeluarin meskipun hrs bentak pacarnya..
    ada apa sih sama dr.song??
    jadi penasaran..
    next chap ditunggu deh..

  4. AKHIRNYA!!! T_T Udah lama ini aku nungguin kelanjutan FFnya ~~ XD Kutunggu chapter selanjutnya ya!!Fighting author!! d(^o^)b

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s