Some Bloody Apples [Oneshot]

SomeBloodyApples-1

Tittle : Some Bloody Apples / Bloody Apples / Apples Killer

Author : Kazu1chi

Rating : NC 17+

Genre :  Dark, Gore, Suspense, Detective, Deathfic

Main Cast : Mizobata Junpei, Hongo Kanata

Other Cast : Choi Minho (SHINee), Lee Donghae (Super Junior), Kevin Woo (U-Kiss), Kim Kibum / Key (SHINee), Kim Jonghyun (SHINee), Lee Jinki (SHINee), UEE (After School), Park Jungmin (SS501), Park Yongha, Im Yoona (SNSD), Kim Taeyeon (SNSD)

Disclaimer : I don’t own Japanese Artist and Korean Artist, they belong to their artist management. Everything that happens in this story is just fanfiction. If there is equality of names and events, is just a coincidence. (Aku tidak memiliki Artis Jepang dan Artis Korea, mereka milik manajemen artis mereka. Segala sesuatu yang terjadi dalam cerita ini hanya Fanfiction. Jika ada kesamaan nama dan peristiwa, hanyalah kebetulan.)

Author’s Note : Ngomong2 ane tulis FF ini sampe 8.099 words (terhitung di Ms. Word tanpa menggunakan Introduction ini) dalam 23 halaman. Benar2 gila, baru pertama kali ane buat FF oneshot dengan 23 halaman LOL, ngomong2 ini FF mengisahkan tentang bukan pembunuh saja, melainkan menceritakan kejadian detektif, juga siaran berita. Kalo gitu, happy reading yo.. 😀 Mian ye* karena ada bahasa Jepang dan bahasa Korea + bahasa Inggris tercampur-campur < LOL Juga mian ye karna panjang bener ini -_- Sekali lagi happy reading!

Some Bloody Apples

Pintu-pintu terbuka lebar-lebar yang membuat cahaya masuk secara paksa. Pihak yang berwajib, yaitu polisi mulai mengepung gereja tua ini yang terdapat jenazah bersimbah darah, dan disebelahnya ada sebuah apel yang masih utuh.

“Apa maksudnya ini?” tanya detektif Minho sambil mengambil apel itu dengan sarung tangan. Badan forensik menyelidiki jenazah perempuan itu. “Perempuan ini disayat di bagian tangan kanan dan tangan kirinya sebanyak 15 kali. Lehernya ditusuk oleh kayu dan nyaris putus. Juga kedua matanya tercongkel. Benar-benar pembunuhan sadis,” ungkap pekerja dari badan forensik itu yang membuat mata sersan Minho terbelalak.

“Apakah dia telah kembali?”

***

“Aniki (Kakak laki-laki), kau berada dimana?” tanya adikku, Hongo Kanata dalam telepon. “Sedang jalan-jalan. Sebentar lagi akan pulang. Sayonara (Selamat tinggal),” aku mengakhiri pembicaraan ini.

Sore ini, udaranya lumayan juga, ditambah dengan pemandangan sunset indah ini. Berdiri bersandar di dinding di lantai dua ini sungguh menyenangkan. Hal ini mengingatkanku pada ayah yang selalu menemaniku bermain di lantai dua. Kami bermain bersama tanpa adikku, karena ia lebih asik membaca buku ketimbang bermain. Kami sering sekali berpindah tempat tinggal, sehingga aku dan adikku hanya memiliki teman yang sedikit.

Menanjak usia 15 tahun, ayahku menikah dengan seorang wanita. Keputusan pernikahan itu tanpa diketahui oleh aku dan adikku. Berkali-kali ayahku menyuruh aku memanggil sebutan “ibu”, tapi aku bersikeras untuk menyebutnya, “ibu tiri”. Ibu kandungku telah meninggal ketika ku berusia 5 tahun karena kecelakaan. Aku sungguh kangen padanya. Dialah orang pertama yang mengetahui kesukaan makananku yaitu, apel. Tak ada yang tahu pasti tentang buah kesukaanku.

Ayahku adalah seorang pembunuh bayaran. Yang mengetahui pekerjaannya hanya keluarga aslinya sedangkan ibu tiriku tak mengetahuinya. Aku sungguh terobsesi padanya, dia sungguh keren dan hebat. Dia juga mengajarkanku menembak saat kuberusia 7 tahun. Selain itu mengajarkanku memainkan pedang samurai. Ayahku tak pernah tertangkap oleh polisi bahkan tetangga-tetanggaku saja tak mengetahui pekerjaan ayahku yang sebenarnya. Ayahku selalu berpura-pura bekerja sebagai karyawan, jadi dia tidak dicurigai.

Akan tetapi, ketika aku berusia 17 tahun, pada saat ayahku sedang melakukan ‘aksi’nya, ada seorang saksi segera menelepon polisi. Polisi pun berdatangan, ayahku langsung mencoba kabur. Akan tetapi, ada salah satu polisi menembak dari belakang punggung ayahku. Ayahku sukses kabur pulang ke rumah dengan membawa luka yang parah. Pada akhirnya, ayahku menghela nafas terakhirnya didalam pelukanku. Kejadian ini sungguh membuatku depresi dan marah besar. Semakin besar pula kebencianku pada ibu tiriku. Kenapa? Karena saksi yang menelepon polisi itu merupakan ibu tiriku!

Ibu tiriku akhirnya mengetahui bahwa ayahku adalah seorang pembunuh, tapi dia tak mengetahui selanjutnya..

Karena kejadian itu, aku mengalami depresi berat hingga ibu tiriku dan adikku membawaku pada psikiater. Hasil konsultasi dari psikiater sungguh membuatku kesal. Berkali-kali pergi ke psikiater membuatku jenuh, sangat jenuh! Aku pun memberanikan diri untuk mengancam akan membunuh pada psikiaterku untuk mengatakan bahwa hasil test kejiwaanku normal. Dia pun mengatakan apa yang kuperintahkan. Seusai konsultasi berakhir, kami bertiga pulang ke rumah. Beberapa saat kemudian aku pergi kembali ke kantor psikiater sendirian. Kutusuk leher psikiater itu yang langsung menewaskan dia dengan pisau. Seusai menusuk, aku menarik kembali pisau itu dan memasukkan ke kantung jaketku. Psikiater itu merupakan korban pembunuhanku yang pertama. Orang-orang mengatakan bahwa membunuh itu sungguh membuat kita takut. Tapi aku merasa biasa saja, tak ada yang perlu ditakuti. Malah menurutku membunuh itu sangat menyenangkan.

Akhirnya matahari terbenam juga, aku pun memutuskan untuk pulang sambil memakan apel. “Aku pulang,” ucapku seraya menaruhkan sepatu pada raknya. “Ah, akhirnya kau pulang juga, Junpei-kun,” ibu tiriku mau memulai pembicaraan hangat denganku, akan tetapi aku menghiraukannya. “Aniki (Kakak laki-laki), akhirnya kau pulang juga. Mari makan malam bersama. Okaa-san (Ibu) kita sudah membuat masakan yang enak,” lontar Hongo dengan ekspresi datar dan tersenyum kecut. “Hongo-kun, bisakah kau menyebut dia dengan ‘keibo’ (Ibu tiri)?” pintaku dengan nada yang sengaja keras. Beberapa saat kemudian kami makan malam bersama. Keadaannya sama seperti biasanya, saling diam satu sama lain serasa berada di kuburan.

Seusai makan malam, aku pergi keluar rumah dengan alasan jalan-jalan. Tak luput membawa apel. Mereka tak mengetahui sesungguhnya tanganku dan mulutku sudah ingin sekali berlumuran dengan darah.  Aku berjalan kaki dengan santai di malam hari yang udara nya lumayan menusuk kulit. Tanpa sengaja aku melihat seorang pria sedang memarahi seorang anak kecil, dengan jarak dari pagar rumah dengan pintu rumah. Anak kecil itu menangis dan dilantarkan oleh pria itu. Pria itu pergi masuk ke rumah dengan membiarkan anak kecil itu di luar pagar rumah. Aku langsung mendekati anak kecil itu, ia masih tetap menangis. Kemudian aku membujuknya untuk tidak menangis, dan mengajaknya berjalan. Ia menyetujui sambil menghapus air matanya.

“Jangan menangis, otoutosan (Adik laki-laki),” bujukku membelai rambutnya.

“Huhu, apakah aku salah jika aku pulang terlambat?” keluh anak kecil itu.

Aku tersenyum.

***

Keesokan pagi harinya, adikku menyetel siaran berita. Aku melihat berita telah ditemukannya seorang anak kecil yang dalam keadaan tak bernyawa di tong sampah, “Setelah diperiksa, pihak polisi menjelaskan bahwa ini merupakan pembunuhan sadis. Bocah malang yang berusia 7 tahun itu, punggungnya tertusuk oleh besi, lehernya serta tangan kirinya tersayat-sayat sekitar 13 kali, dan tangan kanannya nyaris putus. Di dalam kantung baju bocah malang itu terdapat sebuah apel yang berlumuran darah. Darah tersebut telah diperiksa, bahwa DNA dalam darah itu milik bocah malang itu. Ayah korban menjelaskan bahwa apel tersebut bukan kepunyaan anaknya. Lalu apa maksud dari apel itu?”

Aku tersenyum licik melihat pria atau ayahnya anak kecil itu menangis menyesal. “Benar-benar sadis,” komentar Hongo yang matanya terbelalak sebentar tapi tetap fokus pada televisi.

***

Terdengar suara para penonton yang menyaksikan kejadian terbunuhnya anak kecil ini saling berbisik satu sama lain, “Apel? Apakah pembunuhnya seorang Shinigami (Malaikat Pencabut Nyawa)?”

“Hal ini sungguh mengingatkanku pada Death Note ya.”

“Sepertinya pembunuh ini pengagum berat Death Note.”

Komentar-komentar busuk dari mereka sungguh membuatku kaget, apa hubungannya dengan Death Note? Aku membunuh bukan karena Death Note! Apel yang aku letakkan memiliki makna tertentu bukan bermakna Death Note! Maknanya adalah rasa penasaran yang terkadang membuat orang terjebak! Apelnya kuanggap adalah korban.

Aku hanya tersenyum jengkel dan tetap berjalan. Aku melihat ke arah ayah dari anak kecil yang kubunuh itu, dia tampak kacau balau. Waktu terus berlalu akan tetapi kenapa lokasi kejadian ini masih saja ramai pengunjung? Meski pada akhirnya menepis keramaian yang menjadi normal kembali.

***

Setiap hari aku terus menerus membunuh dan meninggalkan jejak dengan apel yang berdarah. Menapaki langkah dengan mengambil nyawa orang lalu meminum darah itu. Aku merasakan bahwa aku seperti seorang vampir. Tapi ketahuilah, bahwa aku haus akan darah kematian bukan darah kehidupan. Aku memakan apel yang telah berlumuran darah korban yang kubunuh. Dan itu sungguh membuatku bahagia. Selain membunuh, aku juga turut membantu membalaskan dendam seseorang yang kugali dari keinginan terpendam orang itu. Meski orang itu kubunuh demi menjalankan tugas pembalasan dendam.

“Telah ditemukan jenazah dengan seluruh badan hangus terbakar dan hanya meninggalkan setengah apel yang sudah hancur di tepi sungai. Setelah diperiksa, jenazah ini berjenis kelamin pria yang bernama Lee Jinki, pria yang berdarah Korea dan Jepang. Beliau merupakan seorang dosen di Fushi University,” kata pembawa berita begitu televisi dinyalakan oleh ibu tiriku. Ibu tiriku terkejut seketika dan memandang diriku yang berpura-pura terbelalak. “Bukankah itu dosen bidang seni musik di universitasmu?!” kejutnya. Aku diam saja dan tetap fokus menonton berita tanpa menghiraukan ucapan yang keluar dari mulutnya.

“Sekitar puluhan kasus pembunuhan hal ini sungguh membuat maraknya rumor bahwa Apples Killer merupakan seorang dewa kematian. Dan banyak yang mengkaitkan hal ini dengan Death Note,” begitulah media-media serta masyarakat menyebutku ‘Apples Killer’. Nama sebutan yang lumayan keren, tapi aku sangat tak menyukai bahwa hal ini dikaitkan dengan Death Note! Lihatlah banyak komentar-komentar seperti ini di sebuah situs internet, “Apples Killer kurasa seorang plagiator Death Note!”, “Apples Killer shinigami kiriman Death Note kah? Haha..

Aku masuk ke dalam kamar meninggalkan ibu tiriku tanpa ekspresi yang kukeluarkan sedikitpun. Pintu tertutup rapat kemudian kukunci agar tak ada yang masuk untuk mengangguku. Aku merebahkan diriku di kasur dan memandang langit-langit di kamarku. Pikiranku bukan fokus pada langit-langit kamarku melainkan fokus pada’aksi’ yang akan tiba selanjutnya. Kemudian kuteringat akan sesuatu. Yang biasa ku bermain bersama ayahku di lantai dua sebuah gedung tak berhuni. Yakni pedang samurai. Aku melihat pedang samurai yang tersarung di atas pintu kamarku. Kugapai pedang samurai yang tersarung itu, kemudian melepaskan pedang samurai dari sarungnya.

***

Kuletakkan pedang samuraiku di balik jaket yang seperti jubah ini yang ada saku rahasia nya. Aku pun keluar beralasan untuk minum kopi serta mengerjakan tugas kuliahku. Di luar kafe, aku melihat artis asal Korea Selatan, UEE, sedang sibuk syuting untuk film Jepang. Berkali-kali kulihat UEE melakukan kesalahan dalam syuting sehingga membuat sutradara memarahinya terus menerus. UEE tampak kesal dan izin untuk permisi ke toilet kafe. Aku mengikutinya tanpa ia sadari.

Dia telah masuk ke toilet khusus perempuan, di luar aku melihat seorang tukang bersih-bersih tengah keluar dari toilet perempuan. Secara sengaja, aku menendang ember pelnya, aku meminta maaf terus menerus dan kemudian menusuk punggungnya dengan pisau, dan menusuk kepalanya, ketika dia hendak mengepel lantai nya yang penuh air. Seketika ia tewas.

Aku langsung merogoh kunci toilet perempuan, kemudian kubuka pintu toilet perempuan dan kukunci. UEE yang sedang mengaca di toilet, langsung terkejut begitu melihat aku tiba. “Ya! (Hey!) Apa yang kau lakukan? Pergi dari sini!” bentaknya sambil mundur-mundur. Kuambil pedang samurai, dan kutarik pedang samurai dari sarungnya. Dia langsung teriak, dan kutusuk perut nya seketika yang membuat ia muntah darah. Setelah itu, ku belah lehernya, hingga kepalanya putus. Begitu kepalanya telah putus, di tengah-tengah leher kutusuk dengan pedang samurai. Pedang samurai itu kucabut yang tadinya masuk ke dalam leher yang terpotong. Karena penuh dengan darah, pedang samurai itu kucuci di wastafel. Dimasukkan kembali pedang samurai itu ke dalam sarungnya di saku balik jaketku. Tak luput kutinggal apel yang berdarah dan telah teriris-iris.

Aku tak langsung keluar dari toilet begitu saja, karena dengan begitu polisi dapat menemukanku. Aku memutuskan untuk lewat jendela kecil toilet, untung saja jendela nya rada cukup besar, sehingga aku dapat keluar dari toilet perempuan ini. Meski begitu di luar aku terjatuh ke tanah, tapi itu tak menyakitkan diriku. Untung saja belakang kafe adalah jalanan biasa yang agak sepi, jadi tak ketahuan.

— Author’s P.O.V —

Di waktu yang sama, Park Jungmin, yang juga seorang artis asal Korea Selatan keluar dari toilet pria. Jungmin hendak berjalan ke lokasi syuting, namun langkahnya tiba-tiba berhenti begitu terdengar suara teriakan dari arah toilet. Semua mata tertuju ke arah toilet, dan ada salah satu yang menelepon polisi.

Beberapa saat kemudian polisi telah tiba. Badan forensik mulai menyelidiki tubuh korban. “Jenazah tersebut adalah seorang artis asal Korea Selatan bernama UEE. Menurut saksi mata, terlihat dia pergi menuju toilet dan tak balik-balik lagi. Kemudian seorang pria yang artis juga asal Korea juga, Park Jungmin, keluar dari toilet itu. Diduga terdakwa Jungmin merupakan pelaku pembunuhan ini,” kata reporter di luar kafe.

Kini Jungmin sedang diinterogasi oleh detektif Donghae.

“Apa betul Anda saudara Jungmin, artis dari boyband SS501 itu?” tanya detektif Donghae ragu-ragu.

“Iya betul. Bukan saya pelakunya. Saya hanya buang air kecil saja tak melakukan apapun,” jawab Jungmin yakin.

“Benar? Mengapa dari sekian banyak pria-pria dan wanita-wanita keluar-masuk dari toilet. Hanya Anda saja yang terlihat di saat UEE tewas?” tanya Donghae.

“Ya, mana saya tahu. Jangan interogasikan saya. Saya benar-benar tak membunuh UEE. Apalagi yang namanya Apples Killer. Apa itu? saya benar-benar tidak tahu apa-apa.”

Beberapa menit kemudian, interogasi pun selesai. Hasil interogasi nya pun tak membuktikan secara pasti. Namun nanti akan diadili hukumannya di pengadilan seminggu kemudian setelah kejadian. Terlihat dari raut wajah Jungmin tampak kesal dengan hal yang menimpanya yang berbau-bau dengan Apples Killer.

“Aku akan membalaskan dendammu, Jungmin,” komentar Junpei dengan tersenyum nakal menyaksikan video berita di internet.

Pada malam harinya, Junpei yang berada di sebuah rumah milik ayahnya di belakang rumah dia, tengah sibuk menyiapkan senjata untuk membunuh Jungmin. Sesudah itu ia bersiap-siap untuk pergi menuju kantor polisi daerah dimana terdapat penjara kecil yang memenjarakan Jungmin. Untuk menembak Jungmin dengan senjata sniper, Junpei harus pergi ke bukit yang jaraknya tak begitu jauh dari kantor polisi. Tiba di bukit, Junpei langsung menyiapkan senjata Steyr Scout SSG 69 PIV dengan memasukkan peluru-peluru .308 Winchester yang kabiler pelurunya 7,62x51mm NATO ke dalam magasen.

Dengan senjata yang sudah dipasang teleskop serta peredam suara juga peredam cahaya api, sehingga dari jarak lebih dari 500 meter tak akan terdengar  dan terlihat cahaya api yang muncul ketika memuntahkan peluru. Junpei mulai mencari dan akhirnya menemukan target “Jungmin” yang tertidur di kasurnya dalam keadaan duduk. Junpei mengambil nafas kemudian menahan nafas supaya tepat sasaran, dan segera Junpei menembak Jungmin. Meski ada kaca yang pecah, peluru ini terus melaju ke arah dada Jungmin, dan bingo!

Karena kaca pecah, alat detektor di kantor polisi seketika berbunyi. Junpei segera turun dari bukit, kemudian berlari kabur dari bukit, supaya tak ketahuan. Sampai di jalanan, Junpei melihat para polisi sedang sibuk mencari arah suara tembakan tersebut dan Junpei pun secara diam-diam melemparkan apel yang sudah ditusuk dengan peluru sampai ke pintu polisi, kemudian kabur dengan jaket yang sangat menutupi kepala.

— Junpei’s P.O.V —

Akhirnya sampai juga ke rumah rahasiaku dengan lolos. Segera kuletakkan senjata itu serta barang-barang lainnya, kemudian aku kunci rumahnya karena tak bisa lama-lama. Sesudah itu kembali ke rumahku.

“Selamat datang di Breaking News. Kembali lagi berita mengenai Apples Killer. Pada hari Senin kemarin artis Korea Selatan, UEE, meninggal secara mengenaskan di toilet perempuan sebuah kafe, dan dikabarkan bahwa diduga pelakunya adalah Park Jungmin. Kini di hari Minggu, artis Korea Selatan, Park Jungmin, telah ditemukan tewas seketika di ruang sel nya dalam keadaan tertembak tepat di jantung. Badan Forensik menyelidiki bahwa peluru yang digunakan merupakan peluru .308 Winchester. Juga pelaku meninggalkan jejak sebuah apel yang tertancap peluru .308 Winchester di samping depan kantor polisi daerah. Dari kamera CCTV, terlihat seorang berjaket coklat melempar apel itu dan lari kabur. Apakah orang itu adalah Apples Killer?”

***

Hari terus berjalan, sahabatku yang juga teman sekelasku, Pak Yongha, meneleponku dengan tiba-tiba dan menyatakan bahwa besok akan diadakan reuni SMA di restoran Sushi Hana. Hari esok telah tiba. Aku telah menginjak di lantai berkayu di restoran Sushi Hana yang suasana seperti rumah makan tradisional. Terlihat Park Yongha — yang sekarang wajahnya masih sama seperti waktu SMA — sedang memanggilku untuk kemari di antara banyak teman-temanku lainnya.

“Ohayou gozaimasu (Selamat pagi), Junpei-san! Haha, long time no see (Sudah lama tidak bertemu),” sapa Yongha setengah bahasa Jepang dan setengah bahasa Inggris.

“Haha, bahasamu masih campur-campur gitu,” balasku kemudian duduk di sebelah Yongha.

“Ne (Iya), aku kuliah di Amerika. Dahulu hanya mencampurkan bahasa Korea dan bahasa Jepang, sekarang jadi bahasa Korea, Jepang, dan Inggris. Haha,” candanya.

“Ah, kau bisa aja, Yongha-san. Oh ya, bagaimana kabarmu akhir-akhir ini?” tanyaku.

“Baik-baik saja tentunya. Tapi, akhir-akhir ini aku jadi stress gara-gara memikirkan kuliahku. Sebentar lagi sudah akan semester yang sulit. Kalau kau, bagaimana?”

“Ah tentu seperti dirimu, baik-baik saja tentunya, haha.. Oh.. iya, aku juga.”

“Oh ya, ku dengar di Jepang lagi maraknya kasus Apples Killer ya?”

“Iya. Kudengar Apples Killer membunuh orang-orang Korea Selatan juga.”

“Wah, masa sih? Aduh, jadi seram. Oh ya, tunggu sebentar ya,” Yongha tiba-tiba menghentikan perbincangan ini karena handphonenya berbunyi. Dia angkat, dan berkata pelan padaku dan teman-teman lainnya sambil menunjuk handphonenya, “Pacarku,” seraya menyuruh untuk teman-teman kami diam sebentar.

Sesaat kemudian handphonenya dimatikan. “Ah, sungguh merepotkan pacarku ini. Setiap hari selalu rewel. Menyuruhku untuk mengantar ke mall, ke taman, dan sebagainya, bahkan sampai ke luar negeri. Giliran aku pergi ke Jepang, dia membujukku agar dia bisa ikut. Sekarang, dia tetap rewel karena ditinggal sendirian shopping di mall,” jelas Yongha menunduk.

Teman-teman kami semua termasuk aku tertawa terbahak-bahak. “Haha, kasihan sekali dirimu, Yongha,” tawaku.

Beberapa menit kemudian, kami semua akhirnya balik ke tempat masing-masing. Yongha melambaikan tangan padaku sebelum mengendarai mobil menuju mall. Akan kubalas, Yongha, ucapku dalam hati. Aku pun mengikutinya dengan mengendarai mobilku, memang satu jalan dengan dia, tapi berpisah di persimpangan. Agar kubisa hadang dia, aku tetap jalan di persimpangan yang biasa kulewati, kemudian aku berjalan ke Utara lalu ke Timur, agar ku bisa bertemu dia dengan bertolak belakang. Sampai di jalanan yang lagi sepi, aku menghadangnya dengan mobilku. Kubuka pintu mobilku, dan dia juga membuka pintu mobilnya.

“Ada apa, Junpei-san? What’s wrong, man? (Apa ada yang salah, pria?)” kata Yongha bingung.

Aku tersenyum simpul. Dibalik senyumanku tersirat aura untuk membantu membalas dendam Yongha. Aku mendekati Yongha, dan bersiap-siap merogoh pisau belati dari sakuku, kemudian kutusuk ke dada kiri tepat jantungnya Yongha.

“Ah.. apa.. yang kau la..kukan?” tanya Yongha terakhir sebelum dia tersungkur tak bernyawa dengan mata yang melotot. Sesudah itu kutarik kembali pisau belatiku. Sarung tangan masih terpakai di tanganku, aku langsung meletakkan apel yang masih utuh, kemudian kutusuk dengan pisau belati. Lalu masuk ke dalam mobilku dan pergi meninggalkan Yongha yang telah menjadi mayat.

“..Breaking News. Warga negara Amerika Serikat yang asli Korea Selatan, Park Yongha, ditemukan  telah bersimbah darah dan keadaan yang tak bernyawa. Sudah dinyatakan bahwa ini adalah kasus Apples Killer, karena di sebelah tubuh korban tergeletak juga sebuah apel yang tertusuk pisau belati yang berdarah. Setelah diperiksa, DNA tersebut milik korban. Pacarnya yang juga warga negara Amerika Serikat menangis histeris hingga pingsan, begitu mendengar kabar Park Yongha ditemukan tewas. Pacarnya menyatakan bahwa Park Yongha sedang reuni bersama teman-temannya. Juga dari saksi teman-temannya melihat terakhir kali Park Yongha keluar dari restoran, kemudian mengendarai mobil menuju mall,” dengarku dalam radio berita di mobilku. Aku tersenyum puas mendengarnya. Akhirnya ku telah sampai di rumah.

Beberapa saat kemudian, terdengar gedoran pintu di rumahku. Dibukakan oleh ibu tiriku, dan terlihat dua polisi pria muncul dihadapan ibu tiriku. “Selamat pagi, aijin (nyonya). Apa disini ada saudara yang bernama Mizobata Junpei?” tanya salah satu dari dua polisi pria itu.

“Oh sumiasen (permisi), kalau boleh tahu, ada keperluan apa ya dengan anak saya?” tanya ibu tiriku heran. Aku pun memunculkan diri juga bertanya yang sama seperti pertanyaan ibu tiriku, “Ada keperluan apa ya, pakku (pak)?”

“Saudara Mizobata Junpei, Anda akan dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan lebih lanjut mengenai kasus Park Yongha,” jelas dua polisi itu yang akan mengantarku ke kantor polisi untuk menjadi saksi.

Sampai di kantor polisi, di ruang interogasi.

“Maaf kalau saya terlambat,” ucap seorang detektif yang baru masuk ke dalam ruang interogasi. Aku tersenyum untuk memberikan bahwa tak-apa-apa.

“Anda saudara Mizobata Junpei, betul?” tanyanya. Aku mengangguk, “Iya, betul.”

“Bisa ceritakan kejadian sebelum korban Park Yongha meninggal?” tanyanya.

“Bisa. Hari sebelumnya, aku ditelepon oleh dia karena ada reuni SMA. Aku sama dia itu teman sekelas dulu. Aku tak pernah menyangka bahwa dia meninggal dengan tragis seperti ini. Terus hari ini, kami semua sedang mengadakan reuni. Tak ada yang terjadi aneh-aneh. Hanya seperti biasa saja. Dan tiba-tiba dia ditelepon oleh pacarnya untuk temani pacarnya yang sedang shopping di mall. Beberapa saat kemudian kami semua akhirnya pulang. Dia melambaikan tanganku sebelum mengendarai mobilnya pergi menuju mall. Aku tak pernah menyangka bahwa itu merupakan terakhir kalinya,” jelasku sambil menangis.

Detektif itu memberikan tisu padaku. Kuhapus air mataku dengan tisu yang diberi oleh detektif itu. “Jadi, dia mengendarai mobilnya menuju ke mall untuk menemui pacarnya?” tanya detektif itu sambil menulis. Aku mengangguk.

“Kira-kira ada yang mengikuti dia ketika dia sedang pergi ke mall?” tanya detektif.

“Aku tidak tahu. Aku memang pulangnya satu jalan dengan dia, tapi begitu di persimpangan kami berpisah, dan setelah itu aku tak tahu lagi apa yang terjadi padanya,” ucapku menggeleng sambil tetap menghapus air mataku.

“Baiklah. Terima kasih atas informasinya dan bantuannya. Anda sudah boleh pulang,” kata terakhir detektif itu, aku membungkukkan kepala dan berjalan keluar dari kantor polisi.

Ah, untung saja aku jalan ke arah seperti biasa, kalau aku melewati jalan yang dia tempuh di persimpangan, bisa-bisa aku ketahuan. Aku tetap tersenyum puas.

***

“Malam ini telah terjadi kembali ditemukannya jenazah yang terpotong-potong di rerumputan taman. Jenazah ini merupakan seorang wanita, tak teridentifikasi karena sekujur tubuhnya hangus terbakar, diperkirakan berusia 20 tahun. Di sebelah jenazah itu terdapat sebuah apel yang terpotong-potong menjadi dadu. Tentu apel ini memiliki maksud tertentu.”

Aku tersenyum simpul kembali begitu menyaksikannya di layar siaran yang besar yang tertempel di sebuah gedung. Wanita itu merupakan mantan teman sekelas adikku yang sangat sombong, sehingga dia dijauhi maupun dihina-hina oleh teman sekelasnya termasuk adikku. Wanita itu berasal dari Korea Selatan. Ketika sekelas dengan adikku, dia sangat sombong dan memiliki dendam sangat besar begitu teman-teman lainnya menghina-hina dia. Saat lulus dia kembali ke Korea Selatan. Tapi tak tahu ada kejadian apa, dia kembali lagi ke Jepang.

Pada malam hari ini, tanpa sengaja aku bertemu dengannya pada saat di zebra cross. Aku pun mengikutinya secara diam-diam seperti maling yang akan melakukan aksinya. Pada akhirnya di jalanan yang sangat sunyi dan lampu jalanannya yang kurang terang, aku menutup mulutnya. Kemudian merogoh dengan cepat pisau di sakuku, dan membelah lehernya. Begitu dibelah, aku membuka mulutnya dan menyaksikan dia yang akan kehilangan nyawanya. Dia menghadap ke arahku dengan mata terbelalak, kemudian terjatuh tersungkur.

Setelah dia tewas, aku menjambak rambutnya dengan keras dan menyeret-nyeret hingga ke taman yang tak jauh dari tempat dia meninggal. Sesampai di taman yang sangat kosong ini dan hanya tersisa gemerisik dedaunan yang melambai-lambai, aku mulai membelah perutnya, kemudian menarik ususnya dan membiarkan tergeletak di tanah. Lalu memotong kepalanya dengan gergaji yang sudah kusimpan di semak-semak taman, lalu tangan kanan, tangan kiri, kaki kanan, kaki kiri, dan seluruh anggota tubuhnya. Kemudian kubakar. Sebelumnya, aku telah memakai jas  hujan, sehingga darah-darah segar milik korban tertempel di jas hujan ini. Jas hujan ini juga terbakar bersama dengan korban. Tak luput kuletakkan apel yang kupotong-potong dengan pisau yang berdarah korban itu.

***

“Setelah diperiksa, jenazah wanita ini asal Korea Selatan yang bernama Im Yoona..,” ujar pembawa berita yang membuat sekelilingku yang menyaksikkan terkejut.

“Huh? Asal Korea Selatan lagi? Apakah Apples Killer benar-benar dewa kematian?” kaget seseorang di belakangku. “Ternyata bukan Jepang saja yang sedang bahaya. Korea Selatan juga terseret dalam bahaya kalau begini.”

“Telah ditemukan kembali tiga jenazah pria asal Korea Selatan di selokan dari lokasi TKP yang tak jauh dari lokasi terbunuhnya Im Yoona. Tiga pria asal Korea Selatan ini merupakan mahasiswa universitas ternama di Jepang. Tiga jenazah ini diantaranya ada yang terbakar juga, dan ada yang kepalanya putus, serta ada yang alat kelaminnya putus. Tiga apel juga terletak disebelah masing-masing jenazah dalam bentuk yang sangat buruk. Karena kejadian miris itu, pemerintah Jepang menyatakan bahwa mereka telah melakukan sebuah perjanjian kerja sama dengan Korea Selatan untuk menangkap pelaku Apples Killer.”

Apa? Mau menangkapku? Haha, kalian takkan bisa menangkapku!

Mengapa aku membunuh mereka? Karena, tiga pria ini menyaksikan adegan ketika aku hendak menghancur tubuh Yoona. Mereka melihat wajahku, karena ini sangat mendesak dan sangat membuatku emosi, aku langsung menimpuk batu masing-masing dan menusuk kakinya agar tak bisa kabur. Kemudian aku ikat dan ada yang kubakar bersamaan dengan Yoona, ada yang kupotong alat kelaminnya, dan ada yang kupotong kepalanya. Memang aku seperti melanggar prinsipku, tetapi kalian jangan lupa bahwa ada prinsip rahasiaku, yakni keadaan mendesak harus dibunuh biar itu siapapun dan bagaimanapun!

“Aish, sudah 5 korban berdarah Korea yang dihabisi. Benar-benar kurang ajar Apples Killer. Awas kau! Akan kutangkap dengan tanganku sendiri!” kesal salah seorang pria di sebelahnya orang disebelah kiriku dalam bahasa Korea. Aku mengerti apa yang dia ucapkan karena aku pernah diajari berbagai bahasa di dunia oleh ayahku. Kulangkahkan kakiku untuk pergi ke belakang, dan bersembunyi di balik pohon dan mengatakan dalam bahasa Korea dengan menggunakan alat ubah suara perempuan. “Apa kau bisa menangkap dengan tanganmu sendiri? Apa mungkin kau yang malah terperangkap?” ejekku dengan nada kencang.

Dia tampak kaget dengan ejekan seperti itu. Kemudian dia melihat sekitar mencari-cari siapa orang yang bicara seperti itu. Tapi dia takkan menemukanku, karena aku telah berjalan pergi menuju rumahku.

***

— Minho’s P.O.V —

Pintu kafe kubukakan seusai aku menghabiskan mochacino ku. Aku berjalan santai dan hendak menyebrangi ke gedung sebrang. Kulihat banyak sekali orang-orang berdiam diri menengadah ke layar siaran besar di luar gedung untuk menonton. Melihat itu, aku juga seakan terikat untuk mengikuti aksi mereka, ya menonton juga.

Tak kusangka ternyata aksi Apples Killer kembali. Dan kali ini merupakan korban dari negara asalku!

Aku meluapkan separuh emosiku dengan memaki-maki sendiri. Tanpa disadari terdengar ada suara perempuan membalas ucapanku dengan nada kencang dalam bahasa Korea juga. Segera kucari sekelilingku, tapi aku tak dapat menemukan siapa orang yang berbicara seperti itu.

Kurogoh sakuku untuk menelepon rekanku, Donghae. “Yeoboseyo (Halo), Donghae-ssi? Aku mendapatkan kabar. Tapi kurang tahu juga benar apa tidak,” sapaku dengan cepat.

“Kabar apa?” tanya Donghae.

“Mengenai Apples Killer. Tadi aku sedang menonton layar siaran besar yang tertempel di sebuah gedung, tentang berita mengenai Apples Killer,” jawabku.

“Itu mah aku sudah nonton,” sela Donghae.

“Anio, anio (Tidak, tidak). Bukan itunya, ketika aku sedang maki-maki sendiri tentang Apples Killer. Terdengar suara perempuan membalas makianku dalam bahasa Korea juga! Aneh bukan?”

“Perempuan? Bahasa Korea?”

“Ne (Iya). Kurasa itu pelakunya, akan tetapi aku masih kurang yakin apa benar pelaku yang kita incar perempuan atau bukan. Bisa saja dia menjebak kita dengan alat ubah suara.”

“Haha, Minho-ssi, mengapa kau sangat begitu yakin kalau itu Apples Killer? Bisa saja orang Korea yang mengejekmu? Ada-ada saja kau ini.”

“Tapi, firasatku mengatakan bahwa orang itu adalah Apples Killer.”

“Sudahlah, Minho-ssi. Kau terlalu terobsesi dengan Apples Killer.”

“Aku tak terobsesi padanya. Melainkan aku ingin sekali menangkap Apples Killer!”

***

Di kantor polisi pusat kota Tokyo inilah tempat aku dipindahkan dari kantor polisi pusat kota Seoul. Aku serta rekanku diberi tugas oleh atasanku untuk menyelidiki kasus Apples Killer. Jadi disini, hanya beberapa saja yang merupakan orang Korea Selatan dan yang lainnya orang Jepang. Detektif Korea Selatan yang dikirimkan ke Jepang adalah detektif-detektif yang sangat menguasai bahasa Jepang. Tapi karena aku memiliki jiwa nasionalisme tinggi, aku lebih terbiasa menggunakan bahasa Korea dalam berbicara. Akan tetapi kalau ada urusan penting, aku akan bicara bahasa Jepang.

Tanpa diketahui oleh detektif-detektif asal Korea Selatan lainnya, atasan kami membawa seorang detektif lagi yang juga asal Korea Selatan.

“Annyeong haseyo, noenun Kevin-imnida. Noenun Hanguk saraminida. Gamsahamnida (Halo, saya Kevin. Saya orang Korea Selatan. Terima kasih),” salam detektif baru itu yang bernama Kevin.

“Coba kau bicara dalam bahasa Jepang,” pinta atasan.

“Hai. Ohayou gozaimasu. Watashiwa Kevin desu.  watashi Korean desu. Arigatou gozaimasu (Baiklah. Selamat pagi. Saya Kevin. Saya orang Korea. Terima kasih),” sambung Kevin dalam bahasa Jepang.

“Haha, muka nya kawaii (imut/lucu) sekali. Seperti aku ya,” ejekku yang membuat seisi ruang tertawa. Aku mendekati Kevin yang malu-malu itu. “Wajahmu seperti gadis ya, haha.” Ketika kami semua saling tertawa satu sama lain, televisi yang sedang dinyalakan tiba-tiba menampilkan breaking news tentang Apples Killer. Ruangan ini seketika hening, semua terfokus pada layar televisi.

“Kembali lagi berita mengenai Apples Killer. Telah ditemukan jenazah perempuan di lokasi parkir gedung universitas Fushi. Perempuan itu berasal dari Korea Selatan bernama Kim Taeyeon. Setelah diperiksa oleh pihak forensik, kepala korban tertusuk oleh benda tajam seperti pisau. Selain itu juga terdapat sebuah apel yang ditusuk oleh sebuah pisau. Badan forensik juga menyatakan bahwa pisau tersebut terdapat sidik jari yang bukan milik korban. Melainkan milik seorang mahasiswa, Kim Jonghyun, yang memang pisau dapur tersebut milik dia. Apa benarkah mahasiswa berdarah Korea Selatan ini adalah Apples Killer?”

Kami semua langsung mendatangi kantor kepolisian daerah tersebut. Untuk menyelidiki apa benar orang itu adalah Apples Killer atau bukan. Aku mendapatkan pertama untuk melakukan interogasi Kim Jonghyun. Begitu kumasuk, dia memang tampak seperti kesal.

“Kim Jonghyun, kau tahu Apples Killer?” tanyaku untuk memulai pengawalan interogasi.

“Huh, itu sungguh membuatku jijik,” jawabnya tak santai. “Benar-benar memuakkan.”

“Benarkah? Itu menurutmu?” tanyaku yang mencoba untuk menjebaknya.

“Iya. Memangnya kenapa?” jawabnya lagi yang tetap tak santai.

“Setelah dihitung jumlah korban untuk Apples Killer sudah lebih dari 50 orang. Untuk korban asal Korea Selatan sudah 6 orang,” jelasku yang mencoba menjebak dia dalam hal psikis.

“Lalu kenapa? Apa hubungannya denganku?” tanyanya yang masih tak santai.

“Apa kau tak bisa berpikir sama sekali?” tanyaku balik.

“Huh? Apa maksudmu?” jawabnya dengan sebuah pertanyaan yang tak sopan sama sekali. “Oh, aku mengerti. Kau sengaja menjebakku dengan perkataan-perkataanmu tadi, agar aku mengaku bahwa aku adalah Apples Killer, kan? Ya! (Hey!) Aku sudah bilang bahwa aku ini bukan Apples Killer yang kalian maksud. Aku bukan pembunuh!”

Karena dia berbicara kasar, maka aku pun membalas dengan cara kasar agar dia mengaku. “Ya! (Hey!) Kau memang pembunuh! Mengaku sajalah, atau kau bakal menerima akibat dari tanganku yang sudah panas ini!”

Mengapa aku bersikap seperti itu? Karena kasus ini, aku jadi tak dapat kembali ke Korea Selatan menemui pacarku yang tercinta. Kalau saja kasus ini selesai, aku bisa bertemu dengan pacarku!

“Ya! (Hey!) Perlakuan macam apa itu? Tak melindungi masyarakat, benar-benar payah!”  keluhnya sambil berdiri seperti menantang. “Kau ajak ribut, hah?!” kesalku yang sudah mau menonjoknya. Namun sudah dihadang oleh beberapa polisi serta detektif agar tak terjadi baku hantam ini. “Hyung, sabar. Lebih baik aku yang menggantikanmu untuk interogasi, ya? Bukan seperti itu interogasi yang baik,” saran Kevin yang kemudian masuk ke dalam ruang interogasi.

***

— Kevin’s P.O.V —

“Apa orang itu sudah gila, huh?!” Jonghyun masih kesal dengan perlakuan dari detektif Minho. Aku berusaha membalikkan suasana, dan mencoba melakukan interogasi yang baik.

“Jonghyun, apa benar kau Apples Killer?” tanyaku secara singkat tanpa basa-basi.

“Kalian semua mau berapa kali aku mengatakannya? Aku sudah mengatakan berkali-kali, bahwa aku ini bukan Apples Killer!” teriaknya dengan kesal.

“Baiklah. Baiklah. Kita ini sesama orang Korea Selatan. Apa mesti perlu berteriak-teriak seperti itu?” tanyaku untuk menghilangkan suasana tadi.

Tiba-tiba pintu ruang interogasi terbuka, salah seorang polisi mengabarkan bahwa telah terjadi pembunuhan Apples Killer kembali. “Tuh, lihat kan? Itu sudah terbukti bahwa bukan aku pelakunya!” keluh Jonghyun sambil berdiri.

“Kumohon duduk,” ucapku singkat, dia pun akhirnya duduk.

“Bukti itu masih kurang kuat, Jonghyun,” kataku.

“Apa maksudmu?” tanyanya bingung dan kaget.

“Apples Killer sepertinya adalah sebuah kelompok,” jawabku santai.

“Oh shit!” kesalnya. “Aku memerlukan pengacara. Kurasa ku cuma bisa berbicara padanya.”

***

— Minho’s P.O.V —

Setelah mendengar kabar dari polisi itu, aku langsung ke lokasi TKP bersama rekanku, Donghae. Di sepanjang perjalanan, aku berpikir apa benar Apples Killer itu sebuah kelompok atau hanya satu orang saja?

Begitu sampai di lokasi TKP yaitu, sebuah gereja tua, aku melihat polisi-polisi telah bertebaran mengelilingi gereja tua ini. Kemudian aku serta detektif lainnya masuk ke dalam gereja tua ini. Badan forensik tengah sibuk memeriksa tubuh korban.

Aku pun bertanya apa makna dari apel sebenarnya setelah ditemukan korban-korban dalam bentuk dibunuh yang berbeda-beda.

“Perempuan ini disayat di bagian tangan kanan dan tangan kirinya sebanyak 15 kali. Lehernya ditusuk oleh besi dan nyaris putus. Benar-benar pembunuhan sadis,” ungkap pekerja dari badan forensik itu yang membuat mataku terbelalak. Sama dengan yang terjadi pada anak kecil itu, meski hanya berbeda dikit. Apa benar Apples Killer ini sebuah kelompok? Benar-benar membuatku bingung!

***

— Kevin’s P.O.V  —

Pengacaranya Jonghyun, Key, akhirnya tiba.

“Coba ceritakan hubungan dari Jonghyun dengan korban,” pintaku.

“Baiklah. Jonghyun adalah mahasiswa di universitas Fushi jurusan tata boga. Sedangkan korban adalah mahasiswa di universitas Fushi jurusan seni lukis, Kim Taeyeon. Setiap hari Jonghyun bersama teman-temannya sering mengintimidasi korban, tapi tak pernah berpikir untuk membunuh korban. Hanya sering mengancamnya, tapi tak pernah mau melakukannya. Kemarin, Jonghyun seperti biasa mengintimidasi korban bersama teman-temannya, dengan menakut-nakuti mengancam akan membunuhnya dengan pisau. Tetapi, 100% Jonghyun tidak membunuhnya. Salah seorang murid jurusan tata boga melaporkan bahwa Jonghyun bermain-main pisau. Kemudian Jonghyun dan teman-temannya diberi hokum berdiri di lapangan. Begitu kuliah telah usai, Jonghyun pulang dan lupa bahwa pisau nya ketinggalan di meja nya. Sampai di rumah di malam hari, ibunya meminta untuk Jonghyun mengambil pisau dapurnya. Begitu sampai di universitas, ia segera meminta kunci kepada penjaga untuk membuka pintu ruang tata boga, dan meminta tak usah ditemani. Namun ia cari terus-menerus tak dapat ditemukan pisau itu. Dengan perasaan putus asa, dia mengembalikan kunci nya pada penjaganya. Dia pun pergi ke minimarket untuk membeli pisau dapur yang sama jenis seperti ibunya. Begitu beli, langsung ia pulang.”

“Iya. Bukan aku pelakunya. Aku merasa terjebak!” sambung Jonghyun.

“Lalu, kau pergi ke universitas kembali naik apa?” tanyaku.

“Aku jalan kaki. Jarak universitas dengan rumahku tak begitu jauh. Jadi kalau jalan kaki, 15 menit juga sampai,” jawab Jonghyun santai. “Ibuku mengetahui bahwa aku jalan kaki.”

“Begitu pulang dari minimarket, apakah dia kembali lagi ke universitas?” tanyaku yang masih kurang yakin.

“Ada saksi mata, yaitu ibunya,” jawab pengacara Key.

“Bisa tolong panggilkan ibunya?” tanyaku.

Beberapa saat kemudian, ibunya pun tiba dan interogasi dimulai kembali.

“Bu, waktu pulang ke rumah tanpa membawa pisau, kira-kira jam berapa?” tanyaku.

“Dia pulang jam 20.45 JST. Kemudian saya tanya padanya, dia bawa pisau dapur atau tidak,” jawab ibunya Jonghyun. Aku mulai mencatat kembali.

“Mengapa ibu tanya seperti itu?”

“Karena dia itu terkadang lupa dengan pisau dapur saya. Maka dari itu, saya menanyakan dia.”

“Terus?”

“Nah, dia bilang dia melupakannya. Saya langsung memarahinya dan menyuruhnya untuk kembali ke universitas mengambil pisau dapur itu.”

“Oh begitu, terus begitu pulang ke rumah..?”

“Begitu pulang rumah, dia sudah bawa pisau dapur. Saya heran, kenapa dia dituduh pelaku Apples Killer padahal pisau dapur nya kan sudah ada sama dia.”

“Bu, pisau dapur yang dia bawa begitu pulang, pisau dapur nya itu baru beli. Pisau dapur aslinya ada di ruang bukti kami.” Ibu itu terkejut.

Interogasi akhirnya berakhir, dan Jonghyun akan diadili seminggu setelah kejadian.

***

— Junpei’s P.O.V —

Kim Jonghyun, mahasiswa yang selalu menganggu mahasiswi jurusan seni lukis, Taeyeon. Setiap hari setiap pagi maupun sore sesuai dengan jadwal kuliah, Jonghyun bersama teman-temannya menganggu Taeyeon. Begitu Jonghyun dan teman-temannya pergi, Taeyeon tampak kesal dan terlihat dendam, namun dia tak berani mengungkapkan kedendamannya.

Hari ini jadwal kuliahku menunjukkan sore sampai malam, begitu juga dengan Taeyeon dan Jonghyun. Dari kejauhan, di luar ruang tata boga, terlihat Taeyeon berjalan hanya melewati, tiba-tiba dihadang dan Jonghyun bersama teman-temannya menganggu Taeyeon, yakni mengancam akan membunuh dengan pisau. Aku hanya bisa melihat saja tanpa melakukan reaksi apapun. Lalu, ada seorang mahasiswa yang juga jurusan tata boga melihat aksi itu dan melaporkannya ke dosen. Jonghyun dan teman-temannya pun berhenti begitu dosennya mengetahui aksinya. Dosen meminta Jonghyun meletakkan pisau nya dan pergi ke lapangan untuk hokum berdiri selama pelajaran tata boga selesai. Jonghyun pun meletakkan pisau nya di mejanya di ruang tata boga.

Seusai pelajaran tata boga, semua mahasiswa-mahasiswi telah pergi dari ruang tata boga, aku pun menyempatkan diri untuk mengambil pisau dengan sapu tangan milik Jonghyun. Yang kemarin ketika bertabrakkan dengannya, aku mencopet sapu tangan dari sakunya tanpa diketahui olehnya. Lalu mengambil sampel sidik jari di sapu tangannya untuk ditempelkan ke telapak tanganku.

Malam harinya, aku mengetahui bahwa Jonghyun telah pulang, sedangkan Taeyeon masih berada di universitas, karena dia berada di perpustakaan yang bersamaan denganku. Aku sudah mengetahui bahwa pasti Jonghyun akan balik lagi untuk mencari pisau dapur milik ibunya itu. Taeyeon pun keluar dari perpustakaan dan hendak pulang.

Pada jam 21.10, aku melihat pustakawan sedang tertidur di mejanya. Perlahan-lahan aku keluar dari perpustakaan dengan membuka pintu pelan-pelan. Sesudah itu berjalan menuju tempat parkir, dan melihat penjaga tempat parkirnya sedang berbincang-bincang dengan satpam universitas. Juga aku menemukan Taeyeon yang berjalan menuju mobilnya. Belum sampai ke mobilnya, aku segera berlari dan menutup mulutnya dengan sapu tangan milik Jonghyun, kemudian kutusuk kepalanya dengan pisau. Taeyeon pun tewas seketika pada jam 21.15 dengan mata yang melotot. Aku letakkan Taeyeon dengan posisi tersungkur. Kurogoh apel yang masih utuh, kemudian kutancapkan dengan pisau milik Jonghyun dan kutusuk ke tangan kiri Taeyeon.

Aku langsung menjilat darah segar dari Taeyeon yang menempel pada kulitku, gunanya untuk menutupi diriku yang habis membunuh. Tanpa sengaja kulihat Jonghyun dari kejauhan sedang berada di luar ruang tata boga dalam keadaan bingung memikirkan pisau dapur nya. Aku segera berlari menuju arah perpustakaan. Begitu sampai, kubuka pintu perpustakaan perlahan-lahan, dan mendapati pustakawan yang masih tertidur. Sambil berjalan ke posisi semula, aku merogoh permen rasa apel di saku jaketku, agar mulutku tak bau darah. Syukurlah aku tepat waktu, dan sangat sesuai dengan rencanaku.

Keesokan pagi harinya, aku melihat berita bahwa Jonghyun sebagai terdakwa. Aku tersenyum puas. Karena pagi ini masih terlalu pagi sekitar jam 7, aku bersiap-siap untuk lari pagi seperti biasa. Tanpa disengaja aku melihat sebuah gereja tua yang tak jauh dari posisi ku berdiri. Di luar gereja tua, tampak seorang wanita sedang sibuk memotret gereja tua ini. Dan pria disampingnya selalu dimarahi oleh wanita itu. Di belakang wanita itu, pria itu merasa sangat kesal karena diperlakukan seperti itu.

Aku segera menghampiri mereka berdua seraya mengambil sarung tangan yang telah tersimpan dengan baik-baik di tasku. Kuambil pisau cutter sambil berjalan dengan sedikit cepat. Kemudian ku tutup mulut pria itu. Pria itu sempat melawan namun tak berdaya begitu aku belek lehernya dengan pisau cutter. Wanita itu melihat ke belakang dan sangat terkejut. Aku langsung menarik lengan tangannya dengan kasar kemudian mencongkel kedua matanya dengan pisau cutter. Wanita itu masih sempat melawan dan kabur meski dengan terseok-seok sambil berteriak minta tolong. Kuambil kayu yang tajam yang memang ada di luar gereja tua ini, kemudian kutusuk leher wanita ini. Kujambak dengan keras rambutnya, menyeret-nyeret hingga sampai di tengah-tengah dalam gereja tua. Kemudian kepalanya kubenturkan ke tanah dengan keras, dan menyayat-yayat tangan kanan dan kiri nya sebanyak 15 kali.

Pintu gereja tua tertutup, aku melihat pria itu tergeletak tak bernyawa di luar gereja tua.  Kujambak rambutnya dengan keras kemudian kuseret sambil bersiul-siul, lalu membuat tubuhnya berdiri. Kuangkat tubuh pria itu dan kutusukkan pada kayu-kayu yang terikat kuat di belakang gereja tua.

***

— Minho’s P.O.V —

“Minho-ah, telah ditemukan jenazah kembali di belakang gereja,” ujar Donghae yang mengajakku untuk ke belakang gereja tua ini.

“Aish, benar-benar sadis. Kepalanya nyaris putus itu sama seperti wanita di dalam gereja. Apa hubungannya dengan wanita ini?” tanyaku pada Donghae.

“Pria ini adalah asisten nya wanita yang dalam gereja itu. Wanita itu merupakan seorang fotografer yang konsepnya klasik,” jawab Donghae.

***

— Author’s P.O.V —

Di ruang kerja tiga detektif, yaitu Minho, Donghae, dan Kevin, Donghae sedang sibuk membuka berkas data korban yang diambilnya di ruang berkas data. Kevin menghampiri Donghae sambil memegang dua cangkir kopi di kedua tangannya. “Hyung (Kakak laki-laki sebutan dari adik laki-laki), mau kopi?” tawar Kevin menunjukkan satu cangkir yang dipegang tangan kanannya. “Baiklah, terima kasih. Taruh saja di meja situ,” tunjuk Donghae ke meja kerja Minho. Kevin kelihatan bingung, dia pun berani bertanya pada hyung nya, “Loh? Kok di meja Minho?”

Donghae menghentikkan bacanya, dan  menoleh ke muka Kevin, “Bisakah kau lihat bahwa mejaku ini penuh dengan data-data? Kalau kau taruh disini, bisa-bisa rusak kertas ini,” tegurnya. Kevin pun paham dan menaruhkan cangkir kopi untuk Donghae di meja Minho.

Donghae langsung terkejut seketika. Ia kemudian mencari berkas data korban yang berasal dari negaranya, Korea Selatan, kemudian dikumpulkan secara berurutan dari yang lebih dahulu dibunuh sampai yang baru dibunuh. “Pasti ada keterkaitan antara korban-korban yang berbeda-beda ini,” batin Donghae.  “Juga pasti Apples Killer merupakan orang Jepang. Karena selalu membunuh korban yang asal Korea Selatan maupun asal Jepang di Jepang selalu,” tambah Donghae dalam batin. Meski Donghae tampak terlihat tak terobsesi pada Apples Killer waktu telepon dengan Minho, tapi sejujurnya dirinya sangat terobsesi untuk menangkap Apples Killer.

“Lee Jinki, UEE, Park Jungmin, Park Yongha,  Im Yoona, Kim Taeyeon. Hmm, Jinki meninggal di hari Kamis, UEE di hari Senin, Jungmin di hari Minggu, Yongha di hari Senin, Yoona di hari Senin, Taeyeon di hari Sabtu,” ucap Donghae dalam nada pelan seperti suara berbisik. “Hari Kamis adalah hari keempat jadi angka 4, hari Senin adalah hari pertama jadi angka 1, hari Minggu adalah hari ketujuh jadi angka 7, hari Senin ya angka 1, hari Senin ya angka 1, hari Sabtu adalah hari keenam jadi angka 6,” ucap Donghae dalam hati. “Hmm, kalau 1 adalah huruf abjad “a”, berarti d-a-g-a-a-f. Coba tak cari arti ‘dagaaf’,” ucap Donghae dalam hati kemudian membuka kamus-kamus berbagai bahasa. Tapi tak ada satupun yang menyatakan arti ‘dagaaf’. Tapi kalau dibalik jadi ‘faagad’, dan satu ‘a’ di ‘faa’ hilangkan, menjadi ‘fagad’ atau juga bisa ‘fagada’ yang merupakan bahasa Galisia yang artinya, ‘kamu’. Donghae semakin dibuat penasaran dengan teka-teki ini, ia pun terus mencoba untuk menebak-nebak, dan akhirnya..

***

“Minho-ah, aku menemukan sesuatu! Sekarang kau ada dimana? Aku akan ke sana,” ucap Donghae yang terburu-buru berbicara singkat, karena handphone nya sebentar lagi akan mati karena lowbat. Tak disadari oleh Donghae, dari kejauhan gedung bertingkat empat, Junpei sedang bersiap-siap menembak target Donghae dengan senjata Steyr Scout SSG 69 PIV miliknya yang bekas milik ayahnya dulu. Taksi yang dipakai Donghae berhenti begitu lampu lalu lintas berubah menjadi merah, Junpei pun langsung menembak punggung Donghae yang membuat Donghae memuntahkan darah. Supir taksi pun keluar dari pintu nya dan berlari menuju kantor polisi yang tak begitu jauh dari posisi kendaraannya.

Kevin pun segera berlari menuju Donghae, dan melihat keadaan sekitar dengan panik. Kevin membuka pintu taksi, dan mengangkat Donghae untuk dibawa ke medis, tapi Donghae tak berdaya hingga membuat mereka jatuh ke tanah. “Hyung, bertahanlah! Ambulan akan segera tiba!” panik Kevin. “Aku tak bisa. Aku tak bisa menahan lagi. Kumohon panggil Minho. Apa kau mengerti morse?” tanya Donghae yang terus berusaha berbicara. Kevin mengangguk, dia pernah mengikuti dunia kepramukaan, jadi mengerti bahasa morse. Donghae bertanya apa Kevin bawa kertas dan pulpen atau tidak. Kevin yang setiap hari membawa catatan dan pulpen segera dia berikan. “Kamu catat, empat titik satu garis setrip, lalu satu titik empat setrip, terus dua setrip tiga garis, terus satu titik empat setrip, lalu satu setrip empat titik, dan satu titik empat setrip,” ucap Donghae yang membuat Kevin menulis ‘….- .—- –… .—- -…. .—-‘ di kertas.

“Na..ma..kor..ban..Ko..rea,” ucap terakhir Donghae sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.

Tak lama kemudian Donghae telah dibawa ke ambulan, Kevin hanya termenung melihat taksi di lokasi TKP. Sesaat kemudian Minho baru sampai di lokasi TKP dengan panik, “Dimana Donghae?!” tanya Minho pada Kevin. “Dia sudah tiada,” ucap Kevin dengan sedih, “Dia hanya meninggalkan beberapa bahasa morse, dan mengucapkan ‘Nama korban Korea’,” tambah Kevin.

Minho jatuh terpuruk mendengar kabar dari Kevin. Tiba-tiba Minho terbangun kembali dengan semangat dan menghardik, “Mari kita tuntaskan kasus ini!”

***

“Kau mengerti bahasa Morse, Kevin-ah?” tanya Minho menatap Kevin. Dengan penuh yakin Kevin mengangguk, ia pun menerjemahkan bahasa Morse.

“….- adalah angka ‘4’, .—- adalah angka ‘1’, –… adalah angka ‘7’, .—- adalah angka ‘1’, -…. adalah angka ‘6’, .—- adalah angka ‘1’, jadi angka ‘417161’,” jelas Kevin. “Juga Donghae bilang ‘Nama korban Korea’, coba kita cari berkas data korban asal Korea Selatan,” lanjut Minho sambil mencari data korban.

“Coba kita secara berurut dari yang meninggal dahulu dan yang baru meninggal, yaitu Lee Jinki, UEE, Park Jungmin, Park Yongha,  Im Yoona, Kim Taeyeon,” ucap Minho satu per satu.

“Eh tunggu, kata Donghae ‘Nama korban Korea’, hmm.. angka ‘4’ dari Lee Jinki yaitu huruf ‘J’, angka 1’ dari UEE yaitu huruf ‘U’, angka ‘7’ dari Park Jungmin yaitu huruf ‘N’, angka ‘1’ dari Park Yongha yaitu huruf ‘P’, angka ‘6’ dari Im Yoona yaitu huruf ‘N”, angka ‘1’ dari Kim Taeyeon yaitu huruf ‘K’, jadi ‘Junpnk’,” jelas Kevin. “Tak mungkin ‘Junpnk’, tak ada artinya itu. Coba Kim Taeyeon lebih dahulu dari Im Yoona,” ujar Minho.

“Angka ‘4’ dari Lee Jinki yaitu huruf ‘J’, angka 1’ dari UEE yaitu huruf ‘U’, angka ‘7’ dari Park Jungmin yaitu huruf ‘N’, angka ‘1’ dari Park Yongha yaitu huruf ‘P’, angka ‘6’ dari Kim Taeyeon yaitu huruf ‘E”, angka ‘1’ dari Im Yoona yaitu huruf ‘I’, jadi ‘Junpei’,” kata Kevin yang membuat dirinya dan Minho langsung terkejut. “Jangan-jangan.. Mizobata Junpei!” seru mereka bersamaan.

***

— Junpei’s P.O.V —

Aku sudah tahu pasti bakal ada yang memecahkan teka-teki buatanku ini. Yang mengetahui teka-teki itu adalah detektif yang waktu meng-interogasikan aku, detektif Donghae. Sudah lama aku mengawasi detektif Donghae. Hingga akhirnya ia dapat memecahkan tebak-tebakan buatanku, yang mengharuskanku untuk membunuhnya!

Sehabis membunuh Donghae, aku segera kembali ke rumah rahasiaku, akan tetapi ku mengetahui bahwa ada yang menguntitku sedari tadi, dan orang itu adalah ibu tiriku. Aku pun segera menjebaknya dan terlihat ibu tiriku kebingungan bahwa aku pergi kemana, juga ia sedang menelepon tampaknya polisi. Aku langsung datang dari belakangnya, dan menutup mulutnya dengan sapu tangan yang sudah diberi obat bius.

Aku langsung pergi ke stasiun kereta untuk menuju kota Kobe bersama ibu tiriku. Begitu dia bangun, aku menyuruhnya untuk diam sambil menunggu sampai di kota Kobe. Tiga jam lebih telah berlalu, begitu sampai di kota Kobe aku mengajaknya ke tempat yang rada sepi, kemudian kututup kembali mulutnya dengan sapu tangan yang sudah diberi obat bius.

Saat siuman, ia kaget karena melihat dirinya tangan dan kakinya terikat dengan tali dan penuh luka. Aku segera keluar dari mobilku, kubuka pintunya, dan kuseret dengan keras ke trotoar.

“Aahh, tinggi sekali!” komentarnya begitu mengetahui bahwa dirinya telah berada di atas jembatan Akashi-Kaikyō. “Haha, aku tahu bahwa keibo adalah orang yang fobia ketinggian! Hahaha!” tawaku nakal. Dia tampak penuh ketakutan, keringat dinginnya pun mengucur di kulitnya. Jantungnya berdebar-debar sangat keras. “Kumohon, Junpei-san, jangan lakukan ini!” pintanya meringis. Aku tersenyum puas melihatnya menderita. “Tak ada yang bisa menggantikan ibuku!” teriakku.

***

— Hongo’s P.O.V —

Aku sedang asik membaca buku di ruang tamu, akan tetapi keasikanku tiba-tiba terganggu karena terdengar suara gedoran dan bel pintu di rumahku. Aku segera membuka, dan kupikir orang yang kutemui adalah ibu tiriku, akan tetapi polisi!

“Dimana saudara Mizobata Junpei?!” tanya seorang detektif yang membawa serdadu polisi di belakangnya dengan marah. “Aku tak tahu. Aku sungguh tak tahu,” jawabku bingung. “Tahukah kau, bahwa Mizobata Junpei adalah Apples Killer?!”

Pupilku membesar menandakan ekspresiku yang terkejut. Pembuluh darahku seakan tertarik oleh syarafku yang kejang. Darahku mulai mengalir lebih deras, serta suhu tubuhku mengubah keringatku menjadi keringat dingin. Kulit seakan tertusuk-tusuk oleh angin yang mengembara di sekelilingku. Aku sungguh tak mengetahui bahwa.. kakakku adalah pembunuh Apples Killer!

“Cek 123. Lapor, detektif Minho, banyak saksi mata serta polisi-polisi kota Kobe melihat Mizobata Junpei sedang menyandera seorang wanita yang merupakan ibu tirinya di jembatan Akashi-Kaikyō.” Kami semua langsung segera menuju ke kota Kobe.

Sesampai di kota Kobe, ada sebagian polisi yang pergi menuju jembatan Akashi-Kaikyō dengan naik kapal, juga ada yang naik helikopter dan aku yang ikut naik helikopter. Aku terkejut melihat ibu tiriku dan kakakku berada di tengah-tengah jembatan Akashi-Kaikyō. Begitu turun menginjak tanah kota Kobe, aku berusaha untuk masuk ke jembatan ini.

“Aniki (Kakak laki-laki)! Jangan lakukan itu!”  teriakku mencoba masuk untuk berbicara empat mata dengan kakakku. “Otouotousan (adik laki-laki), jangan masuk, berbahaya!” pinta polisi yang menahanku. “Tapi biar bagaimanapun juga dia adalah kakakku! Aku harus berbicara padanya! Aku mohon!” bujukku. Akhirnya aku diberi izin, aku pun berjalan pelan mendekati kakakku yang sedang menodong pisau belati di leher ibu tiri.

“Jangan dekat-dekat, Hongo-kun!” hardik kakakku yang membuatku berhenti melangkah. Aku berjalan pelan kembali, “Ku bilang berhenti disitu!” teriaknya sambil menunjuk pisau belati mengarah padaku. Aku pun berhenti setelah jarak jauhnya sekitar 50 cm lebih.

“Aniki (Kakak laki-laki), mengapa kau jadi seperti ini? Apa karena ayah?” tanyaku yang berlinang air mata.

“Apa maksudmu karena ayah? Kau menghina ayah kita, huh?!” jawabnya dengan penuh kesal.

“Menyerahlah, aniki! Kau sudah dikepung, lihatlah keadaan sekitar banyak polisi mengepungmu! Ibu kita pasti tak mau kau seperti ini, aniki!” bujukku untuk membuatnya menyerah.

“Biarkan! Ini semua tak ada hubungannya dengan ibu kita!” jawabnya dengan kesal.

“Kau jangan seperti ayah! Tahukah kau, bahwa ayahlah yang membunuh ibu kita, dia berbohong pada kita! Dahulu, ibu adalah mata-mata, tapi sejak menikah dengan ayah dia didiskualifikasi dari pekerjaannya. Sebelum ibu meninggal, ayah baru mengetahui bahwa ibu adalah seorang mata-mata, padahal ibu sudah tidak bekerja lagi menjadi mata-mata. Ayah langsung membunuh ibu, dan berpura-pura di depan kita dengan menyatakan bahwa ibu kecelakaan!”

— Junpei’s P.O.V —

“Tutup mulutmu!” gertakku sambil memegang kepalaku yang terasa sangat sakit. Tiba-tiba aku teringat sewaktu ayahku berkata, ‘Ibumu meninggal karena kecelakaan. Maafkan ayah,’ kemudian pergi meninggalkan kamar tidurku. Kepalaku sakit terus menerus, aku pun melawan rasa sakitku. Aku menggeleng sambil berkata, “Kau telah membunuh orang lain. Hahaha,” dan memotong lehernya ibu tiriku dengan pisau belati. Begitu terpotong, aku melepaskan pelukanku pada ibu tiriku, terdapat tetesan darah menetes dari pisau belati ini.

Tanpa kusadari, sebuah peluru menusuk dada kananku dari kejauhan oleh seorang penembak jitu. Aku terjatuh jongkok merintih kesakitan nyeri di dadaku, kukepalkan tanganku sekeras mungkin kemudian meninju ke tanah. Amarahku mulai melonjak, tak peduli dia adalah adikku atau tidak, kurogoh pisau dapur di saku balik jaketku, kukejar dia yang kabur, setelah melihat aku beraksi akan membunuhnya. Tiga peluru panas secara berbeda detik menusuk punggungku hingga membuatku terjatuh tersungkur. Aku merasakan kesakitan yang sangat luar biasa, aku pun beranjak berdiri untuk membunuh adikku. Akan tetapi kembali lagi dua peluru panas dari penembak jitu menusuk punggungku, yang membuatku tak berdaya diri. Aku masih bisa bertahan meski sangatlah lemah, aku mengucurkan air mataku sebelum aku menewaskan diri sendiri.

— Hongo’s P.O.V —

Dia yang tadi terjatuh jongkok kemudian berdiri dan mengejarku untuk membunuhku! Seketika aku berlari menghindarkan pisau nya menancap pada tubuhku. Tetapi, penembak jitu terus membantuku agar aku dapat terhindar dari pisau milik kakakku. Dia sempat tersungkur, namun dia bangkit kembali dan sekali lagi aku dibantu oleh penembak jitu. Dia masih terlihat dapat bertahan meski sangat gemetaran tubuhnya.

Dan yang tak diduga-duga olehku, tiba-tiba ia mengucurkan air matanya. Kemudian membelah lehernya sendiri, dan tewas dalam keadaan tersungkur. Sebuah apel dari saku nya tiba-tiba menggelinding pelan sendiri. Semua polisi pun mendekati kakakku untuk memastikkan apakah dia masih hidup atau tidak, ternyata kakakku telah kehilangan nyawanya. Ambulan pun mulai mendekati dan mengangkat jenazah ibu tiriku dan kakakku, sedangkan para pencari berita mulai berdatangan ke lokasi TKP.

Kini aku hanya sendiri saja, aku telah kehilangan keluargaku. Meski aku hidup sendiri, aku mulai belajar mandiri, serta kenyataan kehidupan bahwa hidup itu harus terus dijalani mau seberat apapun tetap harus dijalani. Aku memahami bahwa kakakku yang telah menempuh jalan yang sesat, dia sama sekali tak mengerti apa yang dia inginkan, dia hanya merasa bahwa membunuh adalah hal yang tepat baginya, padahal membunuh dapat membuat dirinya terbunuh oleh dirinya sendiri.

The End

SomeBloodyApples-2

Soundtrack : Jay Chou – Qing Tian (Clear Sky)

Notes : Akhirnye kelar juga LOL kemarin kerjain seharian, sekarang juga seharian ude lama kerjainnye seh tapi kemarin dan hari ini kerjainnya seharian –” cape nye -_-

Ngomong2 mian ye dan gomenasai ye karena panjang banget ini –”

Tq ude baca FF oneshot yang super panjang ini -_-

Jangan lupe kasih komentar ye kalo bisa jgn lupa kasih like juge dan tolong bantu promosi FF ini -_-

Advertisements

65 responses to “Some Bloody Apples [Oneshot]

  1. astaga…
    baru sadar lok dy junpei ……
    astaga….
    pdahal sya kn ngefans bnget ma ne orng….
    #paraah

    • jiahh..
      bisa gitu.. =))
      haha, sama tos dulu donk (?)..
      hehe, gomawo uda mampir, baca, komen.. 😀 *bow*

  2. bagian kanata hongo nya cuma sedikit 😦
    tapi daebakk!! kerrennnn ffnya. authornya pinter nih 😀 bisa sampe teliti banget

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s