Let’s Make a Baby (Chapter-14)

Poster by @yuniLHJ

Author: Unie

Genre: Angst, AU (Alternate Universe)

Rating: PG-15

Length: Chaptered

Main cast:

  • Lee Donghae
  • Sung Hyosun
  • Jessica Jung
  • Choi Seung Hyun [TOP]

Other cast:

  • Shim Changmin
  • Cho Kyuhyun
  • Lexy Kim
  • Victoria Song
  • Kim Sujin
  • Lee Hyukjae

Disclaimer:

FF ini bener-bener imajinasiku. Kalau misal ada yang mau komplain karena ada kesamaan. Ke acc twitterku ya di: @yuniLHJ

[PROLOG] [CHAPTER 1] [CHAPTER 2] [CHAPTER 3][CHAPTER 4]

[CHAPTER 5] [CHAPTER 6][CHAPTER 7][CHAPTER 8][CHAPTER 9][CHAPTER 10][CHAPTER 11][CHAPTER 12] [CHAPTER 13]

Sudah genap sebulan aku dan Donghae terpisah. Seperti yang aku bilang saat kami di panti tempo lalu, aku belum siap untuk kembali dalam waktu dekat.Walaupun begitu, selama kami tidak tinggal dalam satu atap, Donghae rajin mengunjungiku dan acap kali memberiku perhatian-perhatian kecil seperti mengirimiku pesan singkat yang isinya hanya sekedar menanyakan apakah perutku sudah terisi atau belum dan kegiatan apa yang sedang aku lakukan. Sesekali dia juga mengajakku untuk makan malam dan memberiku beberapa buku keluaran terbaru yang tentunya berhubungan dengan bidangku, yaitu sastra.

Aku menyapukan kakiku di atas lantai marmer licin nan mengkilap, menyusuri koridor berpintu tertutup di kanan dan kiri, menuju sebuah pintu apartemen yang sudah cukup lama tidak tersentuh oleh tanganku. Aku langsung menekan kombinasi angka pada kunci otomatis sesampainya di muka pintu yang aku maksud. Seperti dugaanku, kombinasinya tidak pernah berubah. Aku langsung memutar kenop besinya setelah lampu signal yang tadinya berwarna merah berubah menjadi hijau, pertanda ijin akses diberikan berdasarkan angka yang aku tekan. Aku sempat tertegun beberapa saat setelah masuk ke dalam apartemen itu karena pemandangan yang tertera terhampar di hadapanku sekarang. Hingga akhirnya, pintu di belakangku menutup secara otomatis, barulah aku tersadar dari lamunan.

“Apa yang kau lakukan selama ini, Donghae?” desahku sendirian sembari meletakkan tas kecil yang tadinya tersampir di bahuku ke atas kursi anak sofa yang kosong.

Aku mendekati meja tamu yang berantakan karena ceceran kulit kacang, remah-remah biscuit yang entah apa merk-nya, kertas-kertas yang tumpukannya tak lagi rapi, dua gelas bekas air mineral yang sudah kosong dan sebuah cangkir kopi yang sepertinya bekas ia gunakan tadi pagi. Aku tidak menyangka keadaan apartemen akan separah ini selama aku tidak ada, padahal Donghae bukan tipe orang yang suka dengan hal-hal jorok. Aku menghela nafas panjang sembari mengangkat gelas dan cangkir untuk di bawa ke dapur. Sambil lalu, aku sempatkan untuk melirik ke sudut-sudut apartemen yang lain. Beruntung hanya ruang tamu yang terlihat parah, walaupun di atas meja makan ada beberapa piring bekas pakai dan cukup merusak pandanganku.

Tidak jauh berbeda dengan keadaan di ruang tamu, dapur pun tak kalah berantakannya. Toples garam terbuka, wajan dan panci anti lengket dicampakkan begitu saja di atas kompor tanpa dibersihkan, beberapa piring dan gelas kotor yang berserakan di atas bak cuci dan yang paling membuatku geram adalah banyaknya bungkus makanan instan saat aku mau membuang tissue lecek ke tempat sampah.

“God, apa dia memakan semua ini? Kemana otaknya? Apa dia mau sakit? Bukankah dia bisa memesan makanan di luar selama aku tidak ada?” gerutuku sembari mengeluarkan ponsel lalu menekan beberapa digit angka di atas layar sentuhnya.

“Hallo, bisakah aku memesan satu paket lengkap Hoe, Doenjang JJigae dan bulgogi dua porsi?” kataku setelah sambungan terhubung pada salah satu restoran Korea yang menawarkan jasa pesan antar.

“Satu paket lengkap Hoe, Doenjang JJigae dan bulgogi dua porsi. Anda mau menambah minum?” kata suara di seberang, mengulang pesananku lalu menawarkan sesuatu yang lain.

“Tidak. Itu saja.”

“Diantar kemana?”

Aku memutus sambungan setelah menyebut alamat apartemen ini pada customer service restoran itu. Dan untuk yang ke sekian kalinya aku menatap jengkel pada seisi ruangan yang seperti kapal yang hampir karam. Bagaimana bisa dia membiarkan tempat tinggal kami menjadi sudut-sudut yang menjijikkan dan tidak sedap dipandang mata seperti ini?

Tanpa pikir panjang aku langsung membereskan satu per satu bagian rumah yang berantakan, membuang barang-barang yang tidak perlu, mencuci benda beling yang kotor, mengelap perabot yang berdebu dan memanfaatkan vacum cleaner yang hampir sebulan tak tersentuh di sudut dapur untuk menyedot debu di atas karpet dan lantai. Rasanya aku menjadi pembantu rumah tangga hari ini.

Aku menatap jam dinding yang menempel di dinding yang tengah menunjukkan pukul 21.30 sekarang. Sudah berjam-jam aku di sini tapi Donghae juga tak kunjung datang, padahal normalnya dia pulang tiga puluh menit yang lalu.

‘Seharusnya dia sudah sampai di rumah.’ batinku.

Aku menatap hamparan makanan yang sudah terhidang tiga puluh menit yang lalu setelah aku hangatkan. Aku berharap tidak memanaskannya untuk yang kedua kali karena makanan ini tidak akan fresh lagi.

Aku bangkit dari tempatku duduk saat terdengar pintu yang merapat lalu berjalan memastikan siapakah gerangan yang telah membuka pintu. Aku bernafas lega karena itu adalah Donghae. Aku masih diam saat Donghae mendapati keadaan rumah yang kembali bersih dengan lampu utama yang menyala. Dia sedikit kaget saat melihatku.

“Kau di sini? Kenapa kau tidak memberitahuku?” tanyanya langsung seraya mengganti sepatu kerjanya dengan sandal rumah.

“Untuk apa aku memberitahumu?” tanyaku datar.

“Setidaknya aku bisa menjemputmu. Kau sudah lama?”

“Yeah, lumayan. Setidaknya cukup lama untuk membereskan seluruh kekacauan di rumah ini.”

Donghae tertawa getir.

“Aku tidak punya banyak waktu untuk bersih-bersih. Bahkan sebulan terakhir ini aku harus bekerja seminggu penuh.” Dia mengangkat bahu.

Aku sedikit prihatin dengan ucapannya, tapi seperti biasanya aku tidak menunjukkan perasaanku itu secara berlebihan.

“Ayo makan.” Tawarku.

“Kau memasak?”

“Mana sempat. Aku memesan semuanya. Lain kali Donghae…” kataku terputus dan Donghae masih menunggu kelanjutannya.

“Ya?”

“Lain kali… Bukan, bukan lain kali. Maksudku nanti…” ralatku, masih terputus.

“Nanti kalau kita sudah berpisah, pesanlah makanan. Makanan instan tidak baik untuk pencernaanmu.”

Entah setan apa yang merasuki pikiranku saat ini hingga kalimat yang untukku pribadi cukup dramatis itu bisa lolos begitu saja dari mulutku. Aku benar-benar menyebut kata ‘berpisah’ yang kalau boleh jujur malah menyilet hatiku hingga bagian yang paling dalam sampai aku tidak bisa mendeskripsikannya. Donghae menatapku tanpa ekspresi, aku tidak tahu apa yang dipikirkannya sekarang. Cukup lama kami berpandangan hingga aku sendiri yang harus memutuskan kontak mata itu sendiri.

“Ayo, makan. Aku sudah menyiapkannya.” aku beranjak.

“Hyosun?”

Aku menoleh.

“Kau baik-baik saja?”

Aku tersenyum setiap kali Donghae melontarkan pertanyaan monoton itu dari mulutnya. Hampir setiap kali kami bertemu, dia selalu menanyakan keadaanku.

“Apa kau tidak punya pertanyaan lain?”

Aku berjalan mendahuluinya menuju meja makan dan mengambil tempat duduk yang letaknya berhadapan langsung dengan kursi yang biasa ia tempati.

“Setelah makan, aku akan mandi dan mengantarmu pulang.” Kata Donghae seraya menarik kursi lalu mendudukinya.

Aku berdeham, “Aku tidak berniat pulang. Aku akan di sini. Tadi aku sudah menelephone ke rumah dan besok pagi ayah akan mengutus orang untuk mengantar barang-barangku.”

“Benarkah?” aku bisa melihat sedikit senyum di sudut bibir tipisnya walaupun tidak begitu kentara.

“Kau pikir setelah aku melihat keadaan apartemen yang berantakan seperti tadi, aku bisa tidur di rumah dengan tenang? Semuanya kotor dan tidak teratur. Aku muak melihat kekacauan yang kau buat.”

Donghae malah terkekeh mendengar kata-kataku. Apa yang lucu?

“Kenapa tertawa?” alisku naik sebelah.

“Tidak ada. Hanya saja, suasana rumah terasa ramai setelah sekian lama kau pergi.”

“Kenapa kau tidak mengambil salah satu pelayan dari rumahmu? Bukankah dia bisa membersihkan debu di atas karpet dan perabot-perabot mahal yang kau pajang?”

“Aku tidak membutuhkannya. Lagipula jika ada pelayan dari rumah yang bekerja di apartemen ini, mau ku suruh tidur dimana dia? Kau mau berbagi kamar dengan pelayan?” Donghae meraih sumpit, lalu menjepit daging sapi khas korea yang berada di piring terdekat lalu memakannya.

“Selesai bekerja kan dia bisa kembali ke rumahmu.”

“Dia bisa mengadu kepada nenekku tentang keadaan kita.”

“Kau kan punya uang banyak.” kataku bersikukuh.

“Tapi nenekku punya kuasa penuh atas seluruh pelayan yang bekerja di rumah.”

Aku menghela nafasku, “Kalau begitu kau sewa saja pelayan dari luar.”

“Aku lebih memilih keadaan apartemen ini kotor daripada membiarkan orang asing masuk ke tempat tinggal kita.”

“Keras kepala.” Geramku lalu melahap potongan daging yang semula berada di sumpit makanku.

“Kita butuh privasi, oke?” dia menyuap makanannya lagi dan terlihat tidak mau membahas obrolan kami lagi.

Melihat antusiasmenya yang berkurang, aku juga enggan untuk membahasnya lebih lanjut. Kami makan dalam diam sampai Donghae angkat bicara lagi setelah meneguk air mineral.

“Kau benar-benar tidak akan bekerja lagi?” Tanya Donghae, lalu menyapukan serbet makan pada mulutnya.

“Aku sedang mengerjakan project novel. Untuk sementara aku ingin menulis. Kenapa?” aku meletakkan sepasang sumpit bambu sekali pakai itu di atas mangkuk nasiku yang sudah kosong.

“Bukankah kau suka mengedit? Mengurusi plot-plot dan merevisi karya-karya non-fiksi.”

Aku tersenyum. “Untuk saat ini aku mau menulis, bukan memperbaiki tulisan-tulisan orang lain yang masih cacat.”

“Kalau itu maumu, aku tidak keberatan.” Donghae memundurkan kursinya , lalu beranjak menuju ke kamar.

“Donghae…” panggilku saat dia berjalan. Dia berhenti dan menoleh padaku.

“Ada apa?”

“Aku akan minum teh di balkon. Kalau kau mau menemaniku, aku bisa menyiapkan cangkir lain untukmu.”

Dia tersenyum lembut. “Aku akan menyusul setelah selesai mandi.”

_

“Pakai ini.” Donghae mengulurkan selimut tebalnya padaku. Warnanya abu-abu.

“Udara di luar sangat dingin.” lanjutnya.

“Terimakasih.” Kataku, lalu mengalihkan pandanganku lagi pada lampu-lampu kota yang berkelap-kelip seperti kunang-kunang. Dari salah satu sudut mataku, aku bisa melihat Donghae duduk di kursi yang lain lalu menuangkan tehnya sendiri.

“Kau tidak ingin mencobanya lagi?” tanyaku dengan rasa percaya diri yang penuh tanpa menoleh sedikitpun padanya.

Aku sudah memikirkan ini ratusan kali selama aku tinggal di rumah orang tua angkatku. Donghae tidak mungkin secara terang-terangan akan bertanya langsung padaku mengenai ini. Dia lebih memilih menungguku angkat suara atau bahkan tidak akan membahasnya lagi.

“Aku tidak akan memaksamu.” desahnya.

“Aku tidak merasa terpaksa. Kita bisa mencoba inseminasi.” Aku menoleh padanya yang tengah menatapku lekat.

“Kau yakin?” Donghae mengerutkan dahi.

“Aku sudah memikirkannya. Tidak ada salahnya untuk mencoba. Jika masih gagal, kita bisa mencobanya dengan cara lain. Bayi tabung, seperti rencana awal kita.”

Donghae berfikir sejenak, lalu menatap lurus ke arah lain.

“Semenjak kejadian itu, aku sudah memikirkan hal yang lain. Aku tidak akan menuntut apa-apa lagi darimu dan membiarkanmu pergi. Urusan kakakmu, aku akan tetap mencarikannya untukmu.”

“Kau gila? Bagaimana dengan perusahaan dan keluargamu?”

Dia menatapku penuh pengertian.

“Kau tidak usah memikirkan hal itu. Akan aku urus semuanya. Seluruh sahamku tidak akan dilelang. Empat puluh persen saham perusahaan masih bisa aku pegang, jika sudah jatuh tempo. Kemungkinan besar ibuku yang harus dipensiunkan dan digantikan oleh pemegang saham tertinggi. Tapi sebelum semua itu terjadi, aku akan membeli sebelas persen dari bursa effect. Mungkin aku akan mengorbankan property yang aku punya dan beberapa harta lainnya.”

“Kau mau bermain saham? Itu sangat beresiko, Donghae. Kau bisa bangkrut karena saham yang tidak stabil dan tiba-tiba anjlok.”

“Masalah anjlok tidaknya saham, tidak ada pengaruhnya. Yang harus ku lakukan adalah mengumpulkan saham Lee Corporate hingga lima puluh persen lebih. Dengan begitu aku bisa menyelamatkan asset terbesar keluargaku. Yang menjadi kendalaku saat ini adalah salah satu kolega bisnis ayahku sudah memegang tiga puluh lima persen saham perusahaan kami. Tidak menutup kemungkinan kalau dia juga akan melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan.”

Aku mencoba memahami apa yang dikatakan Donghae walaupun aku sendiri tidak begitu mengerti dengan apa yang dia paparkan. Pengetahuanku sangat minim dalam bidang ekonomi. Tapi aku tidak bisa membiarkan suamiku terpuruk begitu saja. Aku sangat mencintainya.

“Kalau kau pikir aku masih trauma dengan kejadian itu, kau salah Donghae. Jangan merasa kasihan padaku karena aku terluka. Aku sudah menyembuhkannya dengan caraku sendiri. Kalaupun masih tersisa rasa pedihnya, aku bisa mengatasinya.” kataku mencoba kuat, walaupun bayang-bayang keguguran kerap kali menghantuiku.

Donghae menatapku serius, “Kau yakin tidak apa-apa?”

Aku mengangguk. “Seperti kesepakatan kita, kau harus menemukan kakakku dan membantuku merubah kewarganegaraanku.”

“Berhentilah membahas kewarganegaraan. Kakakmu masih di Korea!” katanya dengan nada yang sedikit tinggi.

“Kau sudah menemukannya?” tanyaku penuh semangat.

“Baru jejaknya saja. Sekarang orang-orangku sudah bergerak mencarinya.”

“Benarkah?”

Dia mengangguk lalu menyesap tehnya yang masih mengepulkan asap. “Minumlah tehmu agar kau merasa lebih hangat.”

“Donghae… terimakasih.”

“Simpan ucapan terimakasih itu sampai aku benar-benar mempertemukanmu dengan Kim Young Woon.”

Kami menikmati suasana malam yang cukup terang di bawah sinar bulan yang utuh pada tanggal 15. Dengan secangkir teh di tangan dan selimut yang menutupi tubuh kami, suasana ini terasa semakin lengkap. Sesekali uap air keluar dari mulut kami seperti kepulan asap rokok dan bergabung dengan benda gas lainnya di udara.

“Kalau kau hamil, kita pindah ke rumah.” Katanya tiba-tiba saat aku terlena dalam lamunan.

“Aku tidak keberatan tinggal di sini, Donghae.” Timpalku mengingat Jessica yang masih lama di Jepang. Lebih dari itu, aku memilih tinggal di kediaman keluarga Lee jika Jessica berada di sini.

“Aku tidak mau kau sendirian. Biar pelayan yang mengurusi semua kebutuhanmu. Lagipula, nenekku sangat rewel setelah kejadian itu.”

“Aku bukan bayi.” Cibirku kesal.

“Aku juga tidak menganggapmu bayi. Tapi bisakah sekali ini saja kau menurutiku agar aku tenang selama di kantor?” dia menatapku lekat dan memohon.

Sial! Selalu saja saat dia menatapku tiba-tiba seperti ini, jantungku serasa mau meledak dan keadaan sekitar serasa menyempit hingga detak jantungku sendiri terpental ke segala arah. Aku harap Donghae tidak mendengarnya. Seharusnya tidak karena dia tidak bisa menangkap gelombang ultrasonic, dia bukan kelelawar.

“Baiklah,” kataku menyerah dan memalingkan wajahku darinya.

“Kau ingin anak laki-laki atau perempuan?” lagi-lagi dia membuat pertanyaan yang tidak sempat terantisipasi olehku.

Aku menelan ludah, membasahi tenggorokanku yang terasa kering. “Kau sendiri?”

“Laki-laki.”

“Kenapa?”

“Dia bisa menggantikanku dalam beberapa hal.”

“Contohnya?”

“Dia bisa menggantikan posisiku dan menjaga keluarga. Aku rasa anak pertama memang lebih cocok jika laki-laki. Perempuan tidak bisa melakukan yang seperti itu, dia lebih cocok menjadi anak kedua, ketiga dan seterusnya.”

Mendengar pernyataannya yang terakhir, aku merasa telingaku berdesing. Kalimatnya seperti olok-olok kalau wanita adalah makhluk Tuhan yang lemah. Aku tidak terima jika kaum kami dikatakan seperti itu.

“Siapa bilang wanita tidak bisa setara dengan laki-laki?”

“Nyatanya wanita selalu berdiri di belakang laki-laki untuk meminta perlindungan.” Katanya santai dan hal itu membuatku semakin geram karena merasa diremehkan.

“Tapi tanpa perempuan yang mengandung kaummu selama sembilan bulan, kalian bukan apa-apa.”

“Itulah kelebihan kaummu yang kodratnya tidak akan pernah kami miliki. Kalian memang diciptakan istimewa.” Donghae meneguk cairan manis lagi.

Aku tidak mampu berkata-kata lagi. Dia seperti sedang mengajakku bermain tarik tambang, tapi saat aku ingin menarik tali itu dengan kekuatan penuh, tiba-tiba dia melepaskannya begitu saja lalu berjalan ke arahku sambil berkata ‘kau menang’. Dia tidak mau berargumen apapun lagi.

“Sudah malam. Masuklah. Udara terlalu dingin. Bisa-bisa kau sakit jika terus-terusan berada di sini.” Katanya seraya bangkit dari kursi bercat putih yang warnanya sedikit pudar.

“Kau duluan. Aku ingin di sini dulu.”

“Apa aku harus menggendongmu agar kau menurut?”

Aku menatapnya sedikit kesal tapi tidak protes. Aku langsung beranjak agar dia tidak membuktikan keseriusan dari apa yang dia katakan barusan, memangnya siapa yang mau bertingkah konyol dengan membiarkannya menggendongku?

_

“Atau aku akan menyemprotkan spermaku ke dalam botol, lalu menyerahkannya padamu.”

Kalimat itulah yang sekarang mengiang-ngiang di otakku. Kalimat menyebalkan yang dulu pernah diucapkan Donghae di hari pertama kami bertemu. Dan sekarang hal itu benar-benar terjadi. Dia menyerahkan spermanya dalam wadah khusus yang sudah disediakan untuk proses inseminasi. Saat di rumah sakit, aku dan Donghae pergi ke tempat terpisah. Aku di ruang pemeriksaan untuk melakukan pengecekan pra insem, sementara dia ke bagian klinik infertile –untuk mengeluarkan spermanya-. Well, apa sebelum dia mengeluarkannya dia membaca buku porno atau sejenisnya? Atau menonton blue film sampai dia benar-benar terangsang?

‘Ya ampun, kenapa aku malah berfikir kemana-mana?’

“Kau sudah siap?” Tanya dokter yang sekarang menanganiku sambil membenarkan sarung tangannya. Aku sengaja mencari rumah sakit yang memakai jasa dokter wanita dalam proses ini. Sudah beberapa kali aku menolak jika dokter yang menanganiku adalah pria, dengan alasan risih jika organ intimku “diotak-atik” oleh orang yang bukan suamiku.

“Aku siap.”

Posisiku sekarang berbaring telentang di atas meja khusus yang biasa digunakan untuk memeriksa ibu hamil. Kedudukan pinggangku lebih tinggi dari badan dan kepala, sementara kakiku dalam keadaan terbuka dan tergantung di penyangga kiri dan kanan.

“Ini tidak akan lama. Kau rilex saja.” Dokter itu melangkah lalu menghadap pada organ kewanitaanku. Di tangannya sudah ada speculum (alat yang digunakan untuk memeriksa bagian dalam vagina). Entah bagaimana prosesnya –aku tidak berani melihat– ada semacam cairan yang dengan hati-hati mengalir ke rongga dalam.

“Oke, selesai.” Kata dokter itu beberapa saat setelah alat yang tadi dia masukkan keluar dari lubang itu.

“Secepat itu?” tanyaku tak percaya.

“Memang hanya seperti itu prosedur pelaksanaannya. Hanya persiapannya saja yang memakan waktu. Tunggu sampai satu jam dengan posisi seperti ini. Jangan rubah keadaan ini sampai aku datang, oke?”

“Oke.”

“Ngomong-ngomong, kau mau ku panggilkan suamimu?”

“Dengan keadaan seperti ini?” mataku sedikit terbelalak mendengar penawarannya.

“Memangnya kenapa?”

Aku buru-buru menggeleng. “Lebih baik dia menunggu di luar.”

“Baiklah kalau itu maumu.”

Bersamaan dengan perginya dokter itu, aku langsung mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja. Aku langsung mengetikkan beberapa karakter untuk aku kirimkan pada Donghae bahwa semuanya sudah selesai. Tapi belum apa-apa, SMS darinya sudah lebih dahulu masuk ke ponselku.

From: Lee Donghae

Bagaimana?

Semuanya lancar?

To: Lee Donghae

Sudah selesai…

Tapi aku harus menunggu sampai satu jam.

Kau bisa pergi dulu kalau kau mau…

Kalau boleh jujur, sebenarnya aku tidak mau dia pergi. Malah aku berharap dia menemaniku di ruangan ini. Tapi bagaimana bisa dengan posisiku yang seperti sekarang? Dengan kaki yang mengangkang dan terangkat? Oh, tidak! Sekalipun aku menutupinya dengan selimut, pikirannya pasti akan tetap… mesum. Dia membalas SMS-ku lagi.

From: Lee Donghae

Aku boleh masuk?

Belum sempat aku membalas SMS-nya, Donghae sudah membuka pintu ruangan ini. Aku panik dan seketika langsung menarik selimut lalu menutupi bagian tubuhku yang bawah dengan cekatan.

“Apa yang kau lakukan? Aku kan belum mengijinkanmu masuk!” kataku panik sambil merapikan selimut tanpa merubah posisi kakiku.

“Aku hanya ingin melihat prosesnya dan memastikan kau baik-baik saja.” katanya santai.

“Jadi seperti ini?” lanjutnya sambil mengarahkan matanya pada kakiku yang terangkat lalu menatapku lagi.

Tuhan, aku malu saat dia menyeringai. Apa yang dipikirannya sekarang? Ouggh, pasti sesuatu yang mesum.

“Kau sudah lihat, kan? Sekarang kau bisa keluar.”

“Untuk apa? Aku akan menunggu di sini.” Donghae menarik kursi lalu mendudukinya. Setelah mendapat posisi yang dirasa nyaman, dia mengambil koran yang ada di atas meja. Dia menutupi wajahnya dengan melebarkan koran itu.

“Donghae, kau tidak risih?”

Dia menyibak korannya lalu bertanya, “Risih kenapa?”

“Ah, lupakan.” Aku langsung melemparkan padanganku ke arah lain. Aku yakin pipiku bersemu merah sekarang.

“Aku pernah melihatmu tanpa busana. Jadi, kalau kau berfikir keadaanmu sekarang membuatku risih, kau salah besar.”

Dengan santai dia menutupi wajahnya lagi dengan koran saat aku akan menanggapi ucapannya. Aku tidak menyangka dia akan mengungkit malam yang sudah lewat itu sekarang.

“Malam ini nenek mengundang kita untuk makan malam.”

“Tidak masalah.”

“Kau mau datang?” Donghae menyibakkan koran itu lagi dan menatapku heran.

“Memangnya kenapa? Lagipula sudah terlalu lama aku tidak ke sana semenjak kejadian itu. Aku merasa bersalah karena sudah mengabaikan keluargamu.”

“Mereka memahami keadaanmu. Tenang saja.”

Donghae menutupi wajahnya dengan koran lagi. Entah kenapa karena agar aku tidak merasa canggung atau apa, yang jelas sikapnya itu membuatku merasa nyaman.

_

Mobil melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalanan ibukota yang masih cukup ramai dengan kendaraan lain di jam-jam orang kantoran pulang kerja. Sedikit macet memang, tapi hal itu tidak membuat kami telat dalam jamuan makan malam di rumah Donghae. Dalam waktu kurang dari satu jam, kami sudah sampai di sebuah rumah bergaya modern minimalis dengan atap berbentuk pelana dan ditutupi genteng beton flat merk Cisankan. Saat aku turun dari mobil setelah kendaraan itu terparkir sempurna, tiba-tiba ponselku berdering. ‘Max calling’.

“Kau duluan saja. Aku akan mengangkat telephone ini dulu.” Kataku pada Donghae sambil merogoh gadget yang mengeluarkan bunyi itu dari tasku.

“Jangan lama-lama.”

“Oke.”

Aku langsung menekan tombol gagang berwarna hijau pada touch screen ponselku lalu mendekatkannya ke telinga hingga nyaris seluruh layarnya menempel pada kulitku.

“Hallo, Max.” sapaku ramah.

“Apa kabarmu?”

“Aku baik. Kau sendiri?”

“Dan suamimu?” tanyanya tanpa menjawab sedikitpun perhatianku. Suaranya cukup datar dan tidak terdengar ramah seperti biasanya.

“Dia juga baik. Kenapa kau tiba-tiba menanyakannya?”

“Kau bahagia dengan Tuan Lee-mu itu?”

Degup jantungku terasa lebih kencang dari biasanya. Max selalu bersikap lembut dan nyaris tidak pernah menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan yang baru. Tapi kali ini dia melakukan itu dan mengatakannya dengan penuh tekanan. Sepintas terdengar… mengintimidasi.

“Kami bahagia. Tunggu, dari tadi kau tidak menjawab pertanyaanku. Kau kenapa, Max?”

“Aku hanya ingin memastikan sesuatu. Maukah kau mengenalkannya padaku saat aku pulang nanti?”

“Tentu saja. Kapan kau akan pulang?”

“Lusa aku sampai di Korea.”

“Oh, oke.”

“Boleh aku bertanya sesuatu, Hyosun?”

“Tanyakan saja.”

“Siapa nama lengkap Tuan Lee-mu itu?”

Baru kali ini Max menanyakan nama asli Donghae. Dalam pembicaraan biasanya kami menggunakan kata ganti untuk menunjuk seseorang. Itu kebiasaannya yang tertular padaku. Seperti menggunakan julukan ‘si gigi tonggos’ untuk menggantikan nama Gracia Parker, ‘si pirang’ untuk Antonio atau ‘tuan berkumis’ untuk penjual kebab di sekitar Seine river. Dan kami menggunakan kata ganti ‘tuan Lee’ untuk menyebut nama Donghae.

“Kenapa?” tanyaku heran.

“Aku ingin tahu.”

“Namanya Lee Donghae.” Kataku kemudian. Entah kenapa hal itu malah menimbulkan jeda yang cukup lama. Max diam, tidak menanggapi sedikitpun.

“Max, kau masih di situ?”

“Ya. Oke, aku rasa itu sudah cukup untuk menjawab rasa penasaranku.”

“Penasaran? Penasaran tentang apa?”

Sambungan terputus begitu saja bahkan sebelum Max menjawab pertanyaanku. Ada perasaan gelisah yang kini mengerubungi hatiku. Bahkan nafsu makanku langsung turun drastis saat makan malam.

“Kau kenapa?” Donghae berbisik sambil menyikut lenganku.

“Apa makanannya tidak enak?” tegur nenek Donghae yang seperti mengamatiku terus sepanjang makan malam.

“Masakannya lumayan enak, nek. Hanya saja kepalaku sedikit pusing hingga aku sulit menikmatinya.”

Kilahku. Biasanya aku menyukai tenderloin –biasa disebut fillet mignon- yang dimasak dengan cara medium seperti agar bagian tengahnya masih terasa jussy seperti ini. Tapi percakapanku dengan Max membuatku berfikir terus-menerus.

“Masuklah ke kamar, biar pelayan mengambilkan aspirin untukmu.”

Aku tahu semua mata tertuju padaku, tapi aku menuruti perintah orang tertua di rumah ini. Kepalaku tidak pusing, tapi pikiranku yang acak-acakan. Apa Max tahu alasanku menikah? Tidak mungkin. Hanya Kyuhyun oppa yang aku beritahu tentang ini. Bahkan Lexy yang sudah seperti saudaraku sendiri tidak tahu menahu tentang alasanku. Lantas kenapa aku malah takut?

“Kau kenapa?” Donghae masuk ke kamar sambil membawa segelas air mineral di tangan kanan dan sebutir aspirin yang masih bersegel di tangan lainnya.

“Minumlah.” Dia menyodorkan keduanya padaku.

Aku langsung meraihnya dan meletakkannya di atas meja dekat tempat tidur.

“Donghae, tadi…” aku menjilati bibirku yang terasa kering sebelum melanjutkan omonganku. Sementara itu Donghae masih mengamatiku dengan serius.

“Bekas pacarku menelephone.”

“Lalu?”

“Dia ingin berkenalan denganmu. Dia ingin memastikan aku bahagia setelah menikah denganmu.”

“Hanya itu?”

Aku mengangguk dengan mengindahkan reaksi datar yang Donghae berikan.

“Ada-ada saja.” Untuk kali pertama Donghae mengacak rambutku lalu beranjak.

“Tapi di sini rasanya aneh.” aku menahan tangannya agar dia berbalik dan melihat telapak tanganku yang lain yang tengah memegangi dadaku.

Donghae menghela nafasnya, lalu duduk di sampingku. Dia menoleh. “Apa dia temperamental?”

“Tidak”

“Pernah memukulmu?”

“Dia bukan orang yang gampang mengangkat tangan, terlebih lagi pada wanita.”

Dahinya berkerut, ”Apa dia pernah mengucapkan sumpah serapah yang kasar padamu?”

Aku menggeleng.

“Lalu apa masalahnya?” Tanya Donghae tidak sabaran.

“Aku takut. Aku rasa dia tahu alasan kita menikah. Tapi aku tidak pernah mengatakan apapun padanya. Yang dia tahu, aku menikah karena dijodohkan. Itu saja.”

“Omong kosong! Kalau kau tidak mengatakan apapun, pasti dia juga tidak tahu kebenarannya. Jangan terlalu dipikirkan. Tidurlah sekarang. Nenek memaksa kita untuk menginap.”

“Tapi dia tidak seperti biasanya, Donghae.”

“Kau bilang dia ingin bertemu denganku, kan? Kenapa kau malah senewen. Kami –kaum pria–, punya cara sendiri untuk menyelesaikan masalah.”

“Kalian tidak akan berkelahi, kan?” tanyaku panik.

“Untuk apa menghabiskan tenaga untuk sesuatu yang tidak perlu.”

Donghae naik ke atas ranjang dan mengambil tempat yang masih kosong. Seperti biasa, keadaan kami di atas kasur selalu bersekat benda non permanen, yaitu guling. Aku menatapnya dengan intens saat dia berbaring dan menindih kedua tangannya dengan kepala.

“Kau bisa berpura-pura mencintaiku di hadapannya?” tanyaku spontan dan menghasilkan respons yang spontan pula darinya. Dia menoleh dengan cepat tanpa mengatakan apapun.

“Kenapa?” tanyaku heran.

“Tidurlah!” Donghae memutus pembicaraan dan memilih memunggungiku.

“Aku tahu apa yang harus aku lakukan.” Lanjutnya.

Aku masih belum merasa lega. Masih ada yang bergejolak dan sulit ditafsirkan. Aku mencoba merebahkan badanku dan memejamkan mata agar semuanya berubah sebagaimana wajarnya. Tapi percuma.

“Kau belum tidur juga?” kata Donghae setelah bermenit-menit lamanya. Aku langsung membuka mataku dan langsung menoleh pada badannya yang kini menghadap padaku.

“Aku pikir kau sudah tidur.”

“Aku ingin mengenalkanmu pada kedua sahabatku…”

Ini kali pertama Donghae membahas tentang sahabatnya denganku.

“Mereka sekarang di Eropa. Besok mereka akan pulang. Kalau tidak ada penundaan, lusa mereka sampai. Kau tidak keberatan kan untuk menjamu mereka?”

“Kalau hanya sekedar menyiapkan makanan dan mengobrol sambil minum teh, aku rasa itu bukan hal yang sulit.”

“Kau tidak keberatan?”

“Asal kau tidak menyuruh mereka menginap di apartemen kita yang kecil itu, aku tidak akan mempermasalahkannya.”

Dia tertawa kecil.

“Kapan mereka akan berkunjung?”

“Mungkin malam hari setelah kedatangan mereka.”

“Kalau begitu besok aku akan berbelanja.”

“Mau aku temani?” tawarnya.

“Tidak perlu. Kau harus bekerja. Lagipula supermarket tidak begitu jauh dari apartemen.”

“Terserah kau saja kalau begitu.” Donghae menyingkap selimut yang menutupinya lalu beranjak.

“Kau mau kemana?”

“Aku tidak bisa tidur. Aku mau menonton film.” Donghae berjalan ke arah sofa besar yang menghadap TV Flat yang tertanam di tembok. Dia mengambil remote control lalu memasang kacamata 3D-nya agar visualisasi bisa tampak se-real mungkin.

Aksinya itu membuatku tertarik. Aku mendekat dan mengambil kacamata yang lain di atas meja lalu duduk di sampingnya.

“Kau punya popcorn?”

Donghae tersenyum lagi.

_

“Ini untukmu.” kata Victoria, seraya menyodorkan sebuah buku bersampul ibu hamil yang tengah memegang perutnya padaku. Judul buku itu adalah “Save our Little Angel”. Aku melihatnya sekilas, lalu mengambilnya.

“Aku rasa kau membutuhkannya.” Lanjutnya, lalu melenggang pergi.

“Vic…”

Dia berhenti lalu berbalik menghadapku. Dia mengangkat alisnya dan seketika mengubah ekspresinya menjadi lebih tegas.

“Dengan memberimu itu, bukan berarti aku sudah menerimamu. Aku hanya mengikuti naluriku sebagai seorang calon dokter, itu saja.”

“Well, apapun alasanmu aku tetap berterimakasih.”

Aku tersenyum padanya lalu mengamati buku yang diberikan Victoria setelah dia pergi. Awalnya aku kira buku itu adalah novel, tapi ternyata buku psikologi untuk ibu hamil.

“Kenapa kau tersenyum seperti itu?” Tanya Donghae yang baru keluar dari kamar. Tangan kirinya sedang sibuk membetulkan ikatan dasinya.

“Vic, memberiku ini.” aku memamerkan buku pemberian Vic pada Donghae, tapi dia tidak begitu antusias menanggapiku. Dia kesulitan membenarkan dasinya dengan satu tangan.

“Kau butuh bantuan?”

“Tangan kiriku pegal karena kau.”

Aku mendekat dan menepis tangannya. Kini dasi itu dalam kuasaku.

“Siapa suruh kau menumpangkan tangan kirimu di sandaran? Aku kan tidak bisa memastikan bakal tertidur di sofa atau tidak.” Kilahku sambil melakukan beberapa tarikan pada dasi itu, memutar, lalu membuat simpul sebagaimana mestinya.

“Sudah salah, malah mengomel.”

“Apa?”

Donghae tidak mengulang perkataannya lagi hingga tarikan dasi yang terakhir. Dia memilih diam.

“Ngomong-ngomong, tinggi badanmu berapa? Aku baru sadar kalau kau tidak begitu tinggi.”

Dia menarik dasinya yang sudah benar dari tanganku. “Setidaknya aku lebih tinggi darimu. Kau itu pendek.”

“Heh, apa katamu?” aku menarik dasinya lagi hingga wajah kami terpaut beberapa senti.

Tiba-tiba nafasku memburu, jantungku berdegup kencang, aliran darahku mengalir deras, bahkan ada sesuatu yang hangat dan kini menjalari wajahku setelah tubuh kami berjarak sedekat ini. Nafasnya yang terasa berhembus di bagian muka, aku rasa telah berhasil membuat pipiku merona. Aku selalu merasa seperti ini saat mata kami bertemu satu sama lain.

“Kenapa? Aku tampan?”

“Ada sisa makanan di bibirmu.” Aku langsung melepaskan dasinya agar tidak tampak semakin tolol. Dia tertawa dan mengabaikan ucapanku tanpa memeriksa bibirnya. Dia tahu aku berbohong.

“Kau sudah siap?”

“Kau akan mengantarkanku pulang ke apartemen dulu atau…”

“Aku akan mengantarmu dulu baru ke kantor. Kita harus pamit dulu pada nenek dan ibu.” Potongnya cepat, sembari melangkahkan kakinya lebih dulu.

Aku menata gelas dan piring di atas meja makan setelah menyajikan makanan barat yang cukup cocok dengan lidah orang Asia. Antara lain Chicken Cordon Blue, Mashed Potato dan Escargot. Untuk dessert, aku sudah menyiapkan tiramitsu yang belum ku keluarkan dari kulkas. Selain itu, aku juga mengganti isi gelas anggur dengan coctail apel non alkohol karena di rumah kami tidak menyediakan minuman yang berbau alkohol bahkan sebotol soju sekalipun.

“Mereka datang jam berapa?” tanyaku pada Donghae saat menuangkan air pada gelas berkaki panjang.

“Mungkin sebentar lagi.”

“Ngomong-ngomong, kau belum memberitahuku siapa nama mereka. Apa mereka juga hadir di acara pernikahan kita?” aku meletakkan teko kaca bening yang isinya sudah terkuras hampir separuh.

“Tidak. Mereka tidak datang. Yang satu sibuk mengejar wanita dan yang satunya lagi malah sibuk dengan urusan Negara orang. Lee Hyukjae, waktu itu dia bekerja di Amerika tapi baru-baru ini dipindahkan ke Belanda.”

“Namanya Lee Hyukjae?” dahiku berkerut dan sudut bibirku tertarik untuk menertawai sesuatu.

“Namanya memang seperti nama pelawak.” Donghae mengiyakan.

“Baru saja aku mau mengomentarinya. Dia diplomat?”

“Bukan.”

“Lalu?”

“Nanti kau bisa menanyakannya sendiri.”

“Oke.” aku mengangguk.

“Dan yang satunya lagi bernama Shim Changmin. Kami biasa memanggilnya dengan sebutan Max.”

Max? Setelah mendengar nama itu keluar dari mulut Donghae, jemariku yang tadinya tenang kini terasa gemetaran. Pasti bukan Max yang sekarang wajahnya terpeta di pikiranku. Pemilik nama itu tidak hanya satu di muka bumi ini. Tapi orang yang bernama Shim Changmin dan biasa dipanggil dengan sebutan Max pasti terbatas jumlahnya. Aku masih berharap kalau aku salah dengar. Pasti bukan Max-ku.

“Tadi kau bilang siapa namanya?” tanyaku dengan suara yang sedikit bergetar.

“Shim Changmin. Dia bekerja di salah satu perusahaan manufaktur di Paris. Kabar terakhir darinya, dia tidak akan melanjutkan kontraknya lagi. Dia akan menetap di Korea.”

Tengkukku serasa basah. Seperti ada cairan dingin yang mengalir menyusurinya. Kupingku tidak bermasalah, Donghae memang menyebutkan nama asli Max. Dadaku serasa terhimpit hingga aku kesulitan untuk bernafas. Perasaan takut semakin menjalar setiap detiknya. Ditambah lagi dengan suara bel yang berbunyi.

“Itu pasti mereka.” decak Donghae seraya bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju pintu.

Detak jantungku semakin tak karuan saat melihat punggung Donghae yang kian menjauh. Tanganku mencengkram sandaran kursi, takut-takut kalau aku terhuyung. Itu keluar dari mulut Donghae, jemariku yang tadinya tenang kini terasa gemetaran. Pasti bukan Max yang sekarang wajahnya terpeta di pikiranku. Pemilik nama itu tidak hanya satu di muka bumi ini. Tapi orang yang bernama Shim Changmin dan biasa dipanggil dengan sebutan Max pasti terbatas jumlahnya. Aku masih berharap kalau aku salah dengar. Pasti bukan Max-ku.

Aku menahan nafasku saat melihat Donghae yang tengah memegang gagang pintu dan menariknya setelah memutar kenopnya.

“Selamat malam. Dengan tuan Lee Donghae?” sapa seorang pria yang tidak aku kenal sama sekali. Tapi melihat seragam yang dikenakannya, dia pasti security apartemen ini. Aku langsung menghembuskan nafas yang tadi sempat ku tahan.

“Iya, saya sendiri.”

“Anda menjatuhkan dompet anda di parkiran.” security itu langsung menyodorkan dompet kulit berwarna hitam pada Donghae. Donghae langsung meraihnya dan membolak-balikkan isinya.

“Iya, benar. Ini milikku. Terimakasih sudah mengantarkannya.”

Interaksi antara Donghae dan security itu untuk sementara tersita oleh deringan ponselku di atas meja. Aku langsung mengambilnya dengan tangan kiri. ‘Lexy calling’, begitulah yang tertera pada layarnya.

“Hallo,” sapaku setelah menekan tombol gagang berwarna hijau.

“Hallo, Hyosun. Bisakah kau menyalakan skype-mu?”

“Untuk apa?”

“Aku akan makan malam. Bisakah kau membantuku memilih gaun?”

“Makan malam?” ulangku penuh selidik.

“Iya.”

“Dengan oppaku?” aku langsung menebaknya. Tidak perlu berfikir lama untuk mengetahui dengan siapa dia pergi dinner karena Lexy bukan tipe orang yang meminta saran dalam urusan memakai gaun, kecuali hal itu sangat istimewa.

“Cerdik.”

Aku tertawa, “Kenapa tidak lewat video call saja?”

“Fiturku sedang bermasalah. Aku sudah mencobanya berulang kali.”

“Oke, beri aku waktu untuk menyalakan laptop.” kataku lalu berjalan menuju kamar.

Untuk sesaat aku sempat terlena dengan pembicaraanku dengan Lexy. Dia menunjukkan beberapa potongan gaun dengan motif yang berbeda dari lemarinya. Dua diantaranya berhias batu swarovsky. Aku memilihkan gaun merah selutut dengan lengan yang cukup pendek untuknya karena menurutku gaun itu sederhana tapi tampak glamour karena warnanya. Setelah beberapa menit berbicara dengan Lexy di kamar, aku mematikan laptop dan berjalan ke luar kamar. Tenggorokanku langsung tercekak saat melihat pemandangan di muka pintu. Tiga orang pria sedang berdiri di sana. Ketiganya langsung menoleh padaku saat aku keluar dari kamar. Dua dari ketiga orang itu adalah orang yang sangat aku kenal, Donghae dan Max. Sementara pria yang satunya lagi terlihat asing di mataku. Apakah dia Lee Hyukjae?

Max. Iya, benar. Itu Max. Dia Shim Changmin yang ku kenal. Dadanya tengah ditahan oleh pria yang tidak ku kenal itu. Max tampak menyeramkan, tatapannya benar-benar garang. Bukan seperti Max yang pernah ku kenal.

“Max…” kataku lirih.

“Lepaskan!” Max meronta dan menghempaskan tangan yang mencekal dadanya. Max menatapku penuh amarah.

“Ku beri kau waktu satu menit untuk mengatakan semuanya pada Hyosun, Donghae.” katanya singkat dan menimbulkan sebuah pertanyaan di benakku.

“Max, tidak sekarang.” lagi-lagi pria yang tak ku kenal itu mencoba menghalau sesuatu yang tidak ku ketahui.

“Jangan ikut campur, Lee Hyukjae! Apa kau juga mau ku hajar?!” Max berapi-api. Baru kali ini aku melihat ekspresi menyeramkan dari wajahnya. Dan hal itu berhasil membuatku takut bukan main.

“Tutup mulutmu, Max! Kau tidak tahu apa-apa! Sekarang pergilah!” kata Donghae sambil mengelap pinggiran bibirnya yang berdarah.

Astaga! Aku melewatkan sesuatu yang penting selama aku di kamar dan bergelut dengan headset. Apa yang terjadi? Apa Max… memukul Donghae?

“Apa yang terjadi?” tanyaku gemetaran. Aku seperti penonton bodoh yang tengah menyaksikan drama yang dimainkan Donghae, Max dan Hyukjae. Aku sama sekali tidak tahu dengan cerita yang mereka bawakan.

Max langsung menatapku sinis, “Ini yang kau sebut bahagia?”

“Max ini…”

“Kalau aku tahu pria yang akan kau nikahi adalah Donghae, dulu aku tidak akan melepaskanmu begitu saja!” potongnya cepat dan frontal. Aku semakin ketakutan melihat perangainya itu. Dia benar-benar marah.

“Hentikan, Max! Keluar dari rumahku sekarang!” bentak Donghae.

“Hentikan? Apa yang mau dihentikan? Apa perlu aku mengatakan pada Hyosun sebrengsek apa dirimu, Donghae?”

“Cukup, Max…” Hyukjae menahan langkah Max, tapi yang dilakukan Max adalah mendorongnya hingga tersungkur.
“Sudah ku bilang jangan ikut campur!”

Max kembali menatap Donghae dengan mata yang berkilat-kilat sementara orang yang diintimidasinya masih bergeming tanpa menunjukkan reaksi yang berarti. Max langsung menoleh padaku.

“Kau menikah karena Kim Young Woon?”

-DEG-

Itulah yang selama ini ku takutkan. Max tahu alasanku menikah.

“Diam!” Donghae langsung menarik kerah Max dan mendaratkan sebuah tinju hingga rahang kirinya berbunyi dan mengeluarkan darah.

“Donghae, apa yang kau lakukan?” teriakku tanpa beranjak sedikitpun dari tempatku berdiri. Donghae tidak menggubrisku sama sekali, sementara Max tertawa miris menatap Donghae. Kerahnya masih dalam kuasa Donghae. Lalu Max memandangku.

“Tanyakan pada tuan Lee-mu ini dimana kakakmu. Bahkan sebelum menikahimu, dia sudah tahu dimana dia berada.”

“Keparat!” umpat Donghae lalu menggelendeng Max hingga mencapai pintu, disusul oleh Lee Hyukjae yang sudah bangun dari lantai.

-TBC-

Hallo, apa kabar? Sehat semua?
Haha lama ya nunggu chapter ini? Kan udah aku bilang kalau PCku rusak, bahkan sampai sekarang pun masih. Selama PCku mati suri, aku nulis ini secara manual loh alias tulis tangan dan baru hari ini aku ketik slama beberapa jam di rental. Itupun juga enam lembar sisanya aku ketik dari hape karena mataku udah kecapean. Aku nglakuin ini selain ga mau kalian nunggu terlalu lama, juga karena liburanku dah mau kelar. Tapi untuk chapter berikutnya, aku gatau kapan bsa publish. Aku harap sih sabtu/minggu ini bapakku udah bwa tukang service ke rumah jadi bsa lanjut lg nulisnya. Aku gamau mendesak ortu buat service cepet, soalnya ortu bkalan bilang “belum kuliah ini”. Gak mungkin kan aku bilang mau nglanjutin FF, sementara artikel2 yang pernah ku ikutin lomba n jelas2 dapet sertifikat aja ga pernah aku singgung (karna aku sering bolos di jam akuntansi buat rapat LOL). Jadi tunggu aja, kelanjutannya pasti aku posting. Masalah copy paste di FB waktu itu, aku udah maafin. Cuma jangan diulangin lagi. Aku mempersilahkan kalian buat baca tapi bukan buat copas, apalagi tanpa ijin. Jangan diulangi dan selamat membaca kelanjutannya.

Masalah blog:
Entahlah blogku mau aku buka atau enggak. Cuma aku tekankan, jangan berharap yang berbau NC dari tulisanku. Toh, kalaupun ada juga akan aku kasih ke kalangan terbatas.

Masalah twitter:
Aku ga akan melakukan pembelaan karena udah unfoll puluhan followingku. Aku ngelakuin itu karena TLku terlalu penuh sama kpopers yg tweetnya bergerak cepat sementara tmen2 dket dan riilku terabaikan. Selain itu, ada beberapa kejadian yg cuma tersebar di tweet tapi aku baru tahu seminggu kemudian dan lagi2 karena TLku bergerak cepat yg akhirnya nutup tweet tmen2ku sendiri. Untuk itu aku minta maaf. Aku terlihat sombong ya di tweet karena ga bales mention2 kalian? Silahkan berfikir seperti ini. Aku emang sering cuek masalah twitter. Bahkan sama tmen kampus/SMA/SMP/deketditwitter jga gtu kalau ditwitter. Apalagi sama orang yang baru ku kenal, aku makin cuek lagi. Jadi, aku saranin jangan follow aku dan kalau kalian udah terlanjur follow, jangan minta follback karena aku ga akan follback kecuali udah dket satu sama lain.

Masalah FB:
FBku aku nonaktifin mungkin permanen.

Masalah email:
Waktu masih puasa aku pernah janjiin mau ngasih postingan+pw buat liat semua poster n prolog after story LMaB. Seperti yg aku bilang kalau PCku blm diservice, aku gbsa ngeluarin datanya. Sory ya. . .

Welcome buat founder FFIndo and Heeshinju serta reader2 baru yang ikut bergabung buat baca FF ini /plak. Udah ah itu aja, pegel ngetik dari hape. Sebenarnya msh bnyak yg mau aku omong, tapi pegel bgt. Bye. . .

Yuni,
Bukan Bintang Biasa (LOL)

450 responses to “Let’s Make a Baby (Chapter-14)

  1. boleh aku mengatakan sesuatu?
    aku mencintaimu eonni,mencintai karyamuuu :’ aku jatuh cintaaa :’:’:’ emosinya udah naik turun nih :’

  2. Serius dongghae udh tau ? Sialan bangke banget. Panteslah max marah hyo bener2 dimanfaatin yaaa cepet2 sadar deh hae sm perasaan gedeg juga gua. Kkkkk~ complicated

  3. donghae jahat bener pantes max marah..ck aq ga sabar baca part berikutnya..maaf selama ini aq jd silent reader cz begitu bc ff ini aq ga sabar ingin bc terus sampai kelar..nah sekarang baru komen..bwt author yuni trims ya
    krn udah menghasilkan karya yg bagus..top bgt

  4. Apa lg yg donghae tutupin dr hyosun?kl mmg dy udh tw dmn kk ny hyosun,trus knp dy boong ma hyosun?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s