ANOTHER ROMEO AND JULIETTE (ONESHOT)

annyeong readers semuanya… vy sekarang ngepost satu ff oneshot, sebenernya ini project ff vy sama fara, salah satu reader ffindo juga yang ternyata punya kemampuan sangat baik dalam membuat ff dan ini dia yang bikin, vy cuma sebagai pembantu umum(?) aja… yang udah baca jangan lupa comment yah… 🙂 semoga suka… dan jangan lupa kenalan sama fara, yang sebenernya saya rekomendasiin buat jadi author juga… #halah, baiklah… tanpa berlama-lama lagi… cekidot…

(pict by: @shinbitoki18)

Title: Another Romeo and Juliette

Author: Fara Ayundha (@FaraAyundha) & Hyunvy (follow me @vyivyivy)

Main Cast: Sung Jungha, Song Hwae Yeon, Choi Minho (SHINee)

Other Cast: Song Hyunwon

Length: Oneshot

Rating : PG-13

Genre: Romance, Angst

***

Another Romeo Juliette

~ Sonyeoga sonyeoneul manna Apeun sarangi ije sijak dwae Malhal su eomneun sarangeun meariga dwae Sarangi tto sijak dwae ~

~ Girl meets boy and a painful love starts now An unspeakable love becomes an echo and love starts again ~

~ Song Hwae Yeon , Jung Sungha

Disanalah seorang gadis berdiri, menatap langit yang gelap gulita. Tersenyum perih mengingat dia tak dapat memiliki apa yang teramat ingin dia miliki. Bukan karena terhalang restu orang tua, dan bukan juga karena perbedaan-perbedaan yang benar-benar mencolok. Tetapi,karena sudah ada yang mengikatnya untuk tak dapat berpaling kepada laki-laki lain. Bukannya dia tak mau memperjuangkan privasinya, tetapi karena dia tak mampu untuk memperjuangkannya. Dia hanyalah gadis lemah yang tak dapat mengubah takdirnya,walau dalam hatinya menjerit ingin menyusul pria yang amat dicintainya.

*flashback 2 years ago*

“apa yang kau lakukan disini nona?” tegur seorang laki-laki pada seorang gadis mungil yang sedang termenung diatap sekolahnya,di malam hari.

“astaga Sungha oppa, kau membuatku terkejut!” gadis mungil itu mengelus dadanya,dia beranggapan sentuhan ringan itu akan meredakan debaran jantungnya karena terkejut.

“aniya, aku hanya sedang duduk-duduk  saja disini” sambung gadis kecil itu.

“jangan terlalu sering duduk disini Hwaeyeon~ah,tak baik untuk kesehatanmu” laki-laki itu -Sungha-  membelai lembut kepala gadis mungil itu -Hwaeyeon-.

Mereka adalah seorang senior dan junior di sekolah itu. Karena rumah mereka dekat dengan sekolah, mereka memiliki akses bebas ke sekolah kapan saja, dan atap sekolah lah tempat mereka menghabiskan waktu bersama.

“tapi aku suka oppa, disini..” Hwaeyeon menatap menerawang ke arah depan “bagaimana kalau Minho tahu kau disini?” pertanyaan Sungha membuat Hwaeyeon terdiam

“apakah tidak bisa kau tak membahasnya disini oppa? Aku muak mendengar namanya” perlahan air mata Hwaeyeon menetes

“aku tahu kau lelah Yeonie~,maafkan aku.. maafkan aku yang tak dapat berbuat apa-apa untuk menyelamatkanmu. Tak mampu bertindak di kala kau membutuhkan aku Yeonie~” Sungha dengan lembut menghapus air mata di pipi Hwaeyeon.

Hwaeyeon benar-benar tak mengerti dengan jalan pikir laki-laki yang disebut-sebut oleh Sungha tadi -Minho- , Minho dan Hwaeyeon sudah menjalin hubungan dari awal masuk ke SMA. Hwaeyeon yang berperawakan mungil sangat menarik dimata Minho yang notabene-nya adalah pria idola di sekolahnya. Namun beberapa bulan kebelakang ini sikap Minho membuat Hwaeyeon muak, Minho terlalu posesif terhadapnya. Perlahan rasa cinta itu memudar untuk Minho.

“kehadiranmu disampingku sudah lebih dari cukup oppa, kau hadir sebagai sesosok kakak dan sahabat yang menguatkanku. Aku pasti akan kuat” Hwaeyeon tersenyum tipis,Sungha terdiam mendengar kata ‘kakak’ dan  ‘sahabat’ yang keluar dari bibir mungil ‘Hwaeyeon tak adakah cinta untukku Yeonie~?’ Perasaan liarnya menyeruak,tak mampu terbendung. Sungha sangat mencintai gadis itu.

Rasa cinta yang dirasa Sungha tak dapat dirasakan oleh gadis mungil ini, perlahan Sungha mendekap Hwaeyeon dipelukkannya. Merasakan hangat tubuh Sungha yang menenangkan air mata Hwaeyeon mengalir semakin deras, berharap perasaan cintanya yang tak boleh terjadi ini tersampaikan kepada pria yang sedang mendekapnya sekarang ini.

“ku rasa kau harus pulang sekarang Yeonie~, aku tak bertanggung jawab jika ibumu tak memberimu uang saku besok” Sungha terkekeh bermaksud mencairkan suasana dan membujuk Hwaeyeon pulang

“ah ye oppa,annyeong” Sungha mengangguk singkat,kemudian Hwaeyeon bangkit dan meninggalkan sungha di atap sekolah sendirian.

***

~Geudaereul saranghaetgo, geudaereul wonhaetgo Neol weon-hae mi-chin dut nan neol weon-hae ~

~I loved you, I wanted you Want you, I want you like crazy~

~ Choi Minho

“darimana saja kau?” Tanya seorang laki-laki dengan tubuh yang menjulang tinggi kepada Hwaeyeon yang baru saja menutup pagar rumahnya.

“habis jalan-jalan oppa,ada apa?” Hwaeyeon berbalik bertanya dengan takut-takut,tiba-tiba saja laki-laki bertubuh tinggi itu membanting keras ponsel Hwaeyeon yang sedari tadi ada di genggamannya ke atas tanah

“Minho oppa, waegeure? Kenapa kau membanting ponselku? Ponselku hancur oppa” suara Hwaeyeon bergetar

“tak ada guna juga bukan kau memakai ponsel jika kau tidak membawanya dan tidak menjawab panggilanku” suara Minho terdengar sangat dingin.

Perlahan air mata Hwaeyeon mengalir, nada suara yang didengar Hwaeyeon tadi adalah sinyal buruk, pertanda sebentar lagi sang empunya suara akan melampiaskan kemarahannya. Dan benar saja tak lama kemudian Minho menarik kasar Hwaeyeon ke dalam mobilnya. Sang ibu pun yang melihat apa yang di alami anak perempuan bungsunya –dari dalam rumah- itu hanya bisa meneteskan air mata, dan sang  kakakpun hanya mampu mengatupkan rahangnya rapat. Tak tega melihat adik kecilnya diperlakukan kasar oleh orang lain.

“aku gagal menjadi seorang eonni, eomma” sang kakak membuka suara

“bukan kau yang gagal  Hyunnie, kami lah yang gagal sebagai orang tua. Tak tau kah kau? Dengan begini sama saja aku menjual anakku sendiri” tak lama setelah sang ibu menyelesaikan kalimatnya, isakkannya meledak.

‘Tak tau kah kau? Dengan begini sama saja aku menjual anakku sendiri’ kata-kata itu benar adanya. Keluarga Song telah kehilangan sang kepala keluarga beberapa bulan yang lalu, meninggalkan satu hutang dengan jumlah yang besar kepada salah satu rekan bisnisnya. Yang ternyata anak dari rekan bisnis tuan Song adalah namjachingu dari anak bungsunya.

Rekan bisnis tuan Song –tuan Choi- memberikan penawaran kepada nyonya Song dan kedua anak perempuannya –Song Hyun Won dan Song Hwae Yeon- bahwa mereka akan terbebas dari hutang ayahnya, jika Hwaeyeon akan selalu mendampingi Minho.

Nyonya Song tak mampu berbuat apa-apa, tetapi Hyunwon menolak keras, dia tak ingin adiknya yang menjadi korban. Tetapi yang diutarakan Hwaeyeon sebaliknya, ia menyanggupi apa yang ditawarkan oleh tuan Choi.

Dan dimulailah perenggutan kebebasan Hwaeyeon, gerak-geriknya mulai di atur oleh Minho. Hwaeyeon tak mampu menolak seluruh peraturan yang dibuat Minho untuknya. Minho memonopoli Hwaeyeon untuk dirinya sendiri. Cinta yang awalnya dirasakan Hwaeyeon pun memudar.

“kita.. kita mau kemana oppa?”  Hwaeyeon tergagap ketakutan, “hanya disini saja,kurasa aku harus membuat hukuman jika kau melanggar perintahku Yeonie~” Minho menatap tajam Hwaeyeon.

“jebal andwae oppa,mian.. jeongmal mianhae. Aku benar-benar lupa membawa ponselku oppa” Hwaeyeon memberikan kebohongan, haruskah dia bilang bahwa dia sengaja meninggalkan ponselnya karena muak dengan perlakuan Minho padanya? Hal itu tak akan mungkin bisa terwujud jika Hwaeyeon masih ingin melihat eomma dan eonni-nya hidup dengan tenang.

“setiap peraturan harus ada sanksi Ms.Song  kau mengerti?” Minho merengkuh kepala Hwaeyeon dan langsung melumat bibir Hwaeyeon kasar. Nafsu dan kemarahan yang mendominasi ciuman ini, bahkan Hwaeyeon dan Minho bisa merasakan darah yang keluar dari bibir Hwaeyeon akibat perlakuan kasar bibir Minho. Minho pun melepaskan ciumannya.

“kau mendapatkan hukumanmu.”Minho masih menatap tajam Hwaeyeon, isakkan-isakkan kecil keluar dari bibir mungil Hwaeyeon. Gadis itu hanya dapat menangis, menangisi kemalangan nasibnya.

“aku benar-benar mencintaimu Yeonie~,menginginkanmu seperti layaknya orang gila kau tahu? Aku tak ingin kehilanganmu” tatapan Minho melembut, disejajarkannya wajahnya dengan wajah gadisnya itu. Merekatkan dahinya dengan dahi gadis itu,hidung mereka bersentuhan.

‘Tapi aku terluka oppa, dan aku sudah tidak mencintaimu’ jerit Hwae Yeon dalam hati, hanya dalam hati. Berharap Minho akan mengerti, tapi hal itu sangatlah mustahil.

“ayo, ku antar kedalam. Sudah malam dan kau butuh  istirahat” Minho tersenyum simpul,dan mereka berduapun keluar.

***

Sungha berjalan santai menuju ke kelas Hwaeyeon, berharap bisa bertemu dengan gadis itu. Walaupun jika ingin berbicara tak bisa terlalu lama, karena Minho pasti akan memarahi Hwaeyeon.

“Hwaeyeonnie, annyeong” Sungha menemukan Hwaeyeon sedang membaca buku novel yang baru dibeli Hwaeyeon.

“annyeong oppa” balas sapa dari Hwaeyeon, dan kemudian mendongakkan kepalanya untuk melihat sosok yang menyapanya. Sungha terdiam melihat luka dibibir Hwaeyeon, Hwaeyeon yang menyadari perubahan air muka Sungha langsung tersenyum simpul. Menutupi luka bibirnya “gwaenchana oppa~ya”

Saat Sungha akan menyentuh bibir Hwaeyeon sebuah suara menghentikan gerakan tangannya “jauhkan tanganmu dari gadisku Sungha~sshi” Minho, pria yang membuat luka fisik dan batin pada Hwaeyeon gadis yang amat dicintai Sungha. Membuat Sungha memendam seluruh rasa cintanya pada Hwaeyeon, sekarang melarangnya untuk menyentuh gadis itu.

“ayo ikut aku Hwaeyeon~ah” perintah Minho, Hwaeyeon langsung menurutinya tanpa bantahan sedikitpun. Meninggalkan sungha yang masih terpaku.

“ada hubungan apa kau dengan pria itu?” Minho membuka percakapan, setelah hening menyelimuti mereka. “Sungha oppa itu sahabatku oppa” jawab Hwaeyeon sekenanya, “tak nampak seperti itu” kata Minho tajam.

“cukup oppa, keumanhae.. berhentilah mengaturku, dengan siapa aku berteman, mau kemanapun aku pergi, itu hakku oppa. HAKKU!!” Hwaeyeon kehilangan kontrol,. Rasa muak itu membuncah hingga ke pangkal tenggorokannya yang membuatnya mual .

Minho hanya menatapnya datar  “apa maumu?”

“tak ada gunanya aku memberitahumu apa yang aku mau,kau tak akan mau mengabulkannya”

“ku tanya apa maumu Song Hwae Yeon!”

“aku mau kita mengakhiri semuanya! Aku mau kau melepaskanku, aku lelah!”

Kata-kata Hwaeyeon membuatnya membeku, seperti yang dikatakannya tempo hari. Dia tak ingin kehilangan Hwaeyeon, tak akan pernah ingin.

Tak seperti biasanya, Minho langsung meninggalkan Hwaeyeon begitu saja. Tak mengiyakan atau menolak permintaan Hwaeyeon tadi.

Minho menghampiri salah seorang temannya ,air mukanya tak terbaca, tak ada ekspresi.

“tolong bawakan Jung Sungha padaku” temannya itu pun hanya mengangguk mengiyakan.

Yang terjadi sebenarnya adalah Minho telah mengetahui semuanya. Kedekatan Sungha dengan gadisnya, tempat biasa mereka bertemu, kapan saja mereka menghabiskan waktu bersama, dan perasaan gadisnya pada Sungha. Minho mengetahui, bahwa Hwaeyeon mencintai Sungha.

Minho berjalan ketempat dimana dia akan menemui Sungha, tempat Sungha dan Hwaeyeon bercengkrama.

“seperti apa yang aku katakan, aku tak akan pernah rela kehilangan gadisku. Dia milikku, milikku seorang. Bahkan Tuhan pun tak akan ku biarkan mengambilnya dariku” gumamnya sambil melangkahkan kakinya.

***

“ada apa kau memanggilku kemari?” Sungha benar-benar merasa heran saat tadi salah seorang temannya mengatakan bahwa Minho ingin bertemu dengannya.

“aku hanya ingin mengetahui semuanya Sungha~sshi” Sungha mengernyit mendengar perkataan Minho “apa maksudmu? Mengetahui semuanya?”

“aku ingin mengetahui apa yang kau rasakan kepada gadisku”

Sungha terdiam, haruskah ia memberitahukan semuannya? Mengatakan pada Minho bahwa dia mencintai Hwaeyeon.

“katakan lah dengan jujur Sungha~sshi,”

“aku mencintainya, sangat mencintainya” Sungha memotong kata-kata Minho dengan tegas. Minho menyeringai kecil.

“hmm.. seperti yang telah kuduga, aku tak ingin kau menyalahkanku dengan apa yang harus ditanggung Hwaeyeon dengan cintamu itu”

“ini bukan salahnya Choi Minho, cinta ini hanya ada padaku” Sungha berhasil menghentikan langkah Minho yang berniat ingin meninggalkan Sungha.

“bagaimana jika cinta itu juga ada pada Hwaeyeon?” Minho menatap tajam Sungha “apa maksudmu? Cinta ini tak mungkin ada pada Hwaeyeon juga.”

“sebegitu yakinnya kah kau? Bagaimana jika Hwaeyeon juga mencintaimu?” perlahan Minho mendekati Sungha “menyedihkan sekali bukan? Kisah kalian layaknya sepasang Romeo dan Juliette” Minho tertawa sinis dan langsung pergi meninggalkan Sungha.

‘Tuhan, apa ini benar? Apa dia benar-benar mencintaiku?’ Pikir Sungha, dia masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan Minho padanya. ‘Tapi cinta ini terlarang untuknya Tuhan’ Sungha masih bergumam dalam hati.

Hwaeyeon duduk di kelasnya dengan perasaan cemas, setelah mendengar salah satu temannya mengatakan bahwa Minho ingin bertemu dengan Sungha. Dalam hati kecilnya Hwaeyeon sungguh-sungguh berdoa, semoga tak terjadi hal buruk pada pria yang ia cintai itu.

“ada apa Hwaeyeonnie?” suara Sungha terdengar memanggilnya

“oppa, kau baik-baik saja? Minho oppa tidak melakukan hal buruk padamu bukan?” suara Hwaeyeon mengisyaratkan kekhawatiran yang teramat sangat. “dia tak melakukan apapun padaku Yeonnie~ kau tenang saja”

“aku takut oppa.. sangat takut.. bahkan .. bahkan.. takut sekali..” kata Hwaeyeon terbata

“semua akan baik-baik saja, percaya padaku Song Hwae Yeon” Sungha tersenyum lembut pada Hwaeyeon dan langsung kembali ke kelasnnya.

***

~ Apeun sarangi tto sijak dwae  Apeun sarangi tto sijak dwae  Apeun sarangi tto sijak dwae ~

~ A painful love starts again  A painful love starts again  A painful love starts again ~

~ Song Hwae Yeon , Jung Sungha

“Hwae Yeon~sshi, kusarankan kau agar cepat ke kantin.” Seorang teman Minho yang Hwaeyeon ketahui namanya adalah Taemin menghampirinya

“memangnya ada apa sunbae?”

“kalau kau ingin melihat Sungha mati, kau ke kelasmu saja langsung, tetapi kalau tidak ku sarankan kau cepat ke kantin, tubuhnya sudah babak belur dihajar orang suruhan Minho”

Hwaeyeon membeku mendengar apa yang dikatakan Taemin padanya, tanpa menunggu lebih lama lagi Hwaeyeon berlari ke kantin. Fikirannya mulai berfikir yang tidak-tidak, ketakutannya terjadi. Pasti hal yang mereka bicarakan kemarin adalah hal yang serius.

Dan benar saja apa yang dikatakan Taemin padanya, Sungha benar-benar babak belur. Teman-teman yang lain tak mampu berbuat apa-apa, hanya bisa menatap Sungha iba dengan luka yang diterimanya.

“KEUMANHAE!!!!!” teriakan Hwaeyeon mengheningkan kantin, matanya berkilat marah. Telah berkaca-kaca tetapi tetap mencari sosok brengsek itu, Choi Minho.

Hwaeyeon melepaskan tas-nya dan berlari kecil ke arah Sungha yang terkapar tak berdaya, berlutut di samping Sungha yang tak dapat membuka matanya. Akibat dari pukulan bertubi-tubi yang diberikan orang suruhan Minho.

“apa yang kau lakukan oppa? Kenapa kau memukuli Sungha oppa?” butiran-butiran air mata Hwaeyeon mengalir, membentuk sungai kecil di pipi bulatnya.

“aku tak memukulinya Yeonnie~ tapi mereka.” Kata Minho santai “tapi kau yang menyuruh mereka bukan?!” nada suara Hwaeyeon meninggi, tapi bergetar.

“untuk apa kau mengetahui hal itu Yeonnie~? Ini masalah pria.”

“kau gila oppa! Untuk apa kau bilang? Sungha oppa ini sahabatku!! Aku tak mungkin rela melihat sahabatku dipukuli tanpa adanya alasan yang jelas, meskipun itu oleh namjachinguku sendiri!”

“kau yakin menanyakannya hanya karena dia SAHABAT mu? Bukan karena kau MENCINTAInya, huh?” Minho memandang tajam Hwaeyeon.

Hwaeyeon tak mampu menjawab lagi, kemudian dia hanya membantu Sungha bangkit dan membawanya pergi dari kantin.

‘Maafkan aku oppa ,maafkan aku.. ini semua salahku, kau menjadi terlibat. Kau tak bersalah oppa..’ air mata Hwaeyeon mengalir, seiring dengan langkahnya yang memapah Sungha berjalan ke arah gerbang sekolah. Hwaeyeon akan membawa Sungha kerumahnya.

“kau mau kemana Hwaeyeon~sshi? Dan kenapa dengan Sungha sunbae?” tanya seorang teman Hwaeyeon.

“bisakah kau mengurus izin kami berdua? Aku ingin membawanya pulang, tolong..” pinta Hwaeyeon.

“hmm hmm.. baiklah.. serahkan saja padaku. Kau dan Sungha sunbae hati-hati dijalan”

“ne, kamsahamnida” Hwaeyeon dan Sunghapun berjalan pulang kerumah Hwaeyeon yang letaknya tak jauh dari sekolah mereka.

***

“apa yang terjadi padanya Hwaeyeon~ah?” tanya Hyunwon melihat adiknya membawa Sungha dengan kondisi babak belur, Hyunwon yang statusnya adalah mahasiswi sedang tidak ada jadwal kuliah.

“Minho oppa yang melakukannya eonni” jawab Hwaeyeon sambil membaringkan Sungha di sofa panjang rumahnya,

“oppa, kau tunggu disini dulu ya. Akan ku ambilkan obat-obatan” Sungha hanya bisa mengangguk lemah, membuat hati Hwaeyeon terasa teriris. Hwaeyeon beranjak menuju kamarnya yang berada dilantai dua untuk mengambil kotak P3K, dia memang sengaja membeli kotak P3K pribadinya. Agar lebih leluasa menggunakannya.

“Sungha~ya kau masih bisa berbicara?” tanya Hyunwon ragu, ia lalu mengambil tempat disamping Sungha sambil menggenggam ponselnya.

“bisa noona,ada apa?”

“aku kenal betul siapa Minho, apa yang kau katakan padanya sehingga membuatmu menjadi babak belur seperti ini?” Sungha terdiam sejenak.

“aku mencintai Hwaeyeon, noona..” Hyunwon terdiam mendengar kata-kata yang meluncur dari bibir Sungha yang penuh luka lebam.

“kau gila Jung Sungha, dan kau mengatakan semuanya pada Choi Minho huh?” Sungha mengangguk “kau benar-benar gila Sungha, jika begini bukan hanya kau yang ada dalam bahaya. tetapi juga adikku kau tahu?”

“aku sudah tak dapat membendungnya lagi noona, aku sudah merasakannya selama bertahun-tahun. Kau tahu hal itu bukan? Aku.. benar-benar mencintainya noona” untuk pertama kalinya air mata Sungha mengalir, Hyunwon terdiam. Jujur, dia lebih ingin adiknya bersama laki-laki yang sedang ada di hadapannya ini ketimbang bersama Minho. Hyunwon percaya, adiknya akan aman dan bahagia jika bersama Sungha. Tapi apa daya, ia pun tak dapat berbuat apa-apa.

“maafkan aku Sungha~ya” hanya permintaan maaflah yang mampu dikatakan oleh Hyunwon pada Sungha, rasa bersalah itu menggerogoti hati Hyunwon melihat kondisi sekarang ini.

“apa yang kalian bicarakan? Sepertinya serius sekali” kehadiran Hwaeyeon mengejutkan Sungha dan Hyunwon “Omo~ neo waegeure oppa? Kenapa menangis? Apa sakit sekali?” Hwaeyeon terlihat khawatir sekali dengan kondisi Sungha.

“aniyo Yeonnie~ gwaenchana..”

Hwaeyeon menaruh wadah yang berisi air dingin dan handuk kecil untuk kompresan,dan kotak P3K di meja kecil dekat Sungha berbaring lalu menggantikan Hyunwon yang tadi ada dihadapan Sungha.

“maafkan aku oppa, ini semua salahku.” Air mata Hwaeyeon mengalir kembali

“kumohon jangan menangis Hwaeyeonnie~ sudah cukup banyak airmata yang kau keluarkan, sudah .. jangan menangis lagi, kumohon.” Sungha menghapus airmata Hwaeyeon dengan ibu jari tangannya, berharap dia juga bisa menghapuskan derita dari Hwaeyeon. Hyunwon, Sungha dan Hwaeyeon terdiam, tak ada percakapan.

“ah ya Sungha~ya, apa Soojung sudah pulang?” Hyunwon sangat tidak suka dengan keheningan, dan memulai pembicaraan. Mengalihkan topik.

“Soojung noona? Ahye, dia sudah pulang.” Sungha menjawab dengan sedikit ringisan-ringisan kecil, karena Hwaeyeon sedang mengompres luka-luka lebam diwajahnya.

“arasseo, aku akan menelfonnya untuk kemari” Hyunwon pun membuka ponselnya dan menghubungi Soojung –kakak Sungha-

Luka-luka Sungha telah selesai dikompres dan diobati, berkali-kali Hwaeyeon mengucapkan kata maaf. Dan berkali-kali pula Sungha meyakinkan Hwaeyeon bahwa dia baik-baik saja.

“OMO~ JUNG SUNGHA!! KAU KENAPA? APA YANG TERJADI DENGANMU? SIAPA YANG MEMBUATMU SEPERTI INI????” pekik Soojung melihat adik kesayangannya ini babak belur.

“mianhae eonni, ini semua karenaku. Minho oppa yang memukulinya.” Setelah Hwaeyeon menyelesaikan ucapannya Sungha menatap tajam Soojung, karena Soojung membuat Hwaeyeon merasa bersalah lagi. Setelah susah payah Sungha membuat Hwaeyeon tenang.

“aah aigoo~ aniyo Hwaeyeonnie, ini bukan salahmu. Mianhae aku hanya terkejut tadi, jangan merasa bersalah seperti itu.” Soojung mengerti arti dari tatapan tajam yang diberikan Sungha padanya tadi. “lagi pula sebenarnya tidak apa-apa, bagus malah wajahnya menjadi jelek seperti itu” sambung Soojung, yang membuat Sungha membulatkan matanya dan Hyunwon terkekeh. Hwaeyeon hanya tersenyum kecil.

“apakah semua luka Sungha kau yang mengobatinya Hwaeyeon~ah?” Soojung menyentuh lembut wajah adiknya, lalu pandangannya berpaling pada Hwaeyeon. Hwaeyeon mengangguk.

“gomaweo, kau memang gadis yang baik” Soojung mengacak ringan rambut Hwaeyeon, membuat Hwaeyeon tersenyum.

“baiklah, kami pulang dulu ya. Sebenarnya aku lagi mengerjakan tugas dirumah tadi, lagipula anak kecil ini sudah cukup merepotkan kalian” Sungha memberenggut mendengar kakaknya menyebutnya ‘anak kecil’

“aku bukan anak kecil noona” Sungha mengerucutkan bibirnya membuat semua tertawa.

“aniyo Soojung~ah, sama sekali tidak merepotkan” Hyunwon menengahi sebelum terjadi keributan kecil antara kakak adik di hadapannya ini, Hwaeyeon pun mengangguk mengiyakan.

Akhirnya Soojung dan Sungha pun pulang kerumahnya, dengan pikiran yang mengganjal Hwaeyeonpun hanya terdiam selama dirumah. Dan Hyunwon tak mampu berbuat apapun untuk menenangkan adiknya itu.

***

Hari-hari berikutnya terus seperti itu, Minho semakin menjadi-jadi tatkala melihat perubahan sikap Hwaeyeon padanya. Hwaeyeon sering membantah perintahnya, lebih seirng menghabiskan waktu bersama Sungha. Semuanya itu membuat kemarahan Minho membuncah.

“Hwaeyeonnie~ apa kau sedang bertengkar dengan Minho?” tanya nyonya Song pada putri bungsunya di sela-sela makan malam. Hwaeyeon terdiam, menatap kakaknya meminta pertolongan. Ibunya sama sekali tidak mengetahui kejadian tempo hari, tentang aksi pemukulan yang dilancarkan Minho untuk Sungha.

“an..aniyo eomma. Ada apa? Tumben sekali eomma menanyakan hal itu.” Hwaeyeon berbalik bertanya “tuan Choi menghubungi eomma tadi siang, dia mengatakan bahwa Minho menjadi uring-uringan dan lebih sering keluar malam. Dan saat tuan Choi menanyakan apa alasan Minho melakukan hal itu, Minho bilang dia sedang bertengkar denganmu dan hanya ingin mencari hiburan.”

Hwaeyeon terdiam mendengar penjelasan dari ibunya, inilah yang ditakutkan Hwaeyeon, masalah ini pasti akan menyeret keluarganya juga. Dan Hwaeyeon sangat membenci hal ini.

Setelah selesai makan malam, Hwaeyeon memutuskan untuk langsung ke kamarnya yang terletak dilantai dua rumahnya. Dia memikirkan masak-masak semua yang telah dialaminya, memikirkan untuk mengambil keputusan yang sangat sulit. Membuang egonya untuk kebahagiaan keluarganya, dan untuk keamanan Sungha. Ya, dia akan menjauh dari Sungha.

Dia beranjak ke kamar Hyunwon untuk meminjam ponselnya. Dia meminjam ponsel eonninya untuk menghubungi Sungha karena ponselnya dihancurkan Minho tempo hari, malam dimana setelah Hwaeyeon bertemu dengan Sungha.

“eonni, apa aku boleh meminjam ponselmu?” Hwaeyeon menyembulkan kepalanya dari balik pintu. Hyunwon menghentikan aktifitasnya membaca dan mengalihkan pandangannya kepada Hwaeyeon.

“untuk apa Yeonnie~?”

“aku.. ingin menghubungi Sungha oppa,eonni..”

Hyun W\\won terdiam sejenak, kemudian menganggukkan kepala dan menyerahkan ponselnya pada Hwaeyeon. “kuharap keputusan yang kau ambil adalah keputusan yang terbaik” seperti bisa membaca apa yang akan dilakukan Hwaeyeon, kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibir Hyunwon.

Hwaeyeon hanya menganggukan kepalanya singkat, kemudian kembali ke kamarnya dengan membawa ponsel Hyun Won.

“yoboseyo Hyunwon noona?”

“yoboseyo oppa, ini aku Hwaeyeon”

“ah, Hwaeyeonnie? Waegeure? Tumben menelfonku? Kenapa tidak menggunakan ponselmu?”

“ponselku rusak oppa, tak sengaja terjatuh beberapa hari yang lalu.”

“oh begitu, ada apa?”

“apa besok.. kau ada wakyu?”

“besok? Besok libur ya? Hmm.. ada, aku seharian hanya dirumah. Kau.. ingin bertemu denganku?”

“ne oppa, besok kita bertemu di café biasa ottokhaeyo? Apa kau bisa?”

“tentu saja bisa, jam berapa?”

“jam 10 pagi”

“ah arasseo, ada yang ingin disampaikan lagi Yeonnie~?”

“aniyo oppa, hanya itu saja. Baiklah ku tutup ya telfonnya, salam untuk Soojung eonni”

“ne, baiklah. Ya, akan aku sampaikan. Salam juga untuk Hyunwon noona”

“ne baiklah,  annyeong oppa”

“annyeong Yeonnie~”

Sesaat setelah menutup telfonnya air mata Hwaeyeon mengalir ‘besok akan menjadi hari terakhir aku bisa merasakan kehangatan Sungha oppa,Tuhan.. aku mohon kuatkanlah aku’ gumam Hwaeyeon dalam hati. Keputusan yang berat memang untuk meninggalkan orang yang teramat kita cintai, namun dalam hal ini Hwaeyeon juga tak boleh egois. Ini untuk kepentingan bersama juga.

Hwaeyeon menghapuskan air matanya, lalu berjalan ke kamar Hyun Won untuk mengembalikan ponsel kakaknya itu.

“gomaweo eonni, sudah meminjamkan ponselmu” Hwaeyeon menyerahkan ponsel Hyunwon, dan duduk disebelah Hyunwon diatas tempat tidurnya. “ne cheonmanaeyo,” Hyunwon menutup buku yang sedang ia baca lalu memandang Hwaeyeon.

“kau bisa menceritakan semuanya pada eonni, jangan kau menutupi apapun dariku Yeonnie~. Kau adikku satu-satunya, dan aku akan menjadi kakak yang terbaik untukmu”

Perlahan airmata Hwaeyeon mengalir lagi “aku..aku..muak eonni, sangat muak. Aku lelah dengan semuanya, aku ingin.. aku ingin bebas eonni. Aku benci apa yang aku alami sekarang ini”

Hyun Won memeluknya penuh kehangatan “aku mengerti Yeonnie~, lalu keputusan apa yang kau ambil?” Hwaeyeon terdiam sejenak “aku sudah memutuskan akan meninggalkan Sungha oppa, eonni. Untuk kebaikan kita bersama” air mata Hwaeyeon mengalir lebih deras, membuat air mata Hyunwon akhirnya mengalir juga.

Setelah beberapa lama menangis, kedua kakak beradik tersebut tertidur. Dengan saling berpelukan.

***

~ Sarangeul molla ibyeoreul molla ajikdo nan molla Nae mami neol wonhaneun geol ara Oh, my Girl! Oh, my Love! ~

~I don’t know love I don’t know goodbyes I still don’t know I know that my heart wants you Oh, my girl! Oh, my love!~

~ Jung Sungha

 

Hwaeyeon hari ini sengaja bangun lebih pagi dari biasanya, mengingat dia akan bertemu dengan Sungha jam 10 pagi. Sangat mengherankan, hari ini dia memakai pakaian serba hitam. Baju hitam tipis lengan panjang, celana jeans warna hitam dan sneakers warna hitam.

Waktu sudah menunjukan jam 09.30, Hwaeyeon berpamitan pada eonni dan eommanya untuk pergi menemui Sungha.

“ada apa Yeonnie~? Tumben sekali kau ingin menemuiku di café, bukan di atap sekolah seperti biasa” Sungha membuka percakapan diantara keduanya, Hwaeyeon masih terdiam ragu. Apa mungkin dia bisa menyampaikan maksudnya pada Sungha.

“maaf oppa, aku tidak bisa berbasa-basi lagi. Bisa aku langsung sampaikan maksudku?” Hwaeyeon bertanya ragu “tentu saja, ada apa memangnya?”

“aku ingin kau meninggalkanku.” Sungha membeku, tak percaya dengan apa yang dikatakan Hwaeyeon padanya. “apa kau tak mau memperjuangkannya?” pertanyaan itulah yang Hwaeyeon takutkan keluar dari bibir Sungha, dan ketakutannyapun terjadi.

“bukan aku tak mau oppa, tapi aku tak mampu.” Hwaeyeon memalingkan pandangannya keluar jendela café, tak mampu menatap mata Sungha.

Sungha hanya terdiam membeku, pikirannya melayang entah kemana. Dia sangat mencintai Hwaeyeon, sangat mencintainya. Sampai tak dapat dia ungkapkan hanya dengan sepenggal kalimat ‘Aku mencintaimu’.

“boleh aku minta satu permintaan terakhir oppa?” Hwaeyeon membuyarkan lamunan Sungha

“apa itu?” Sungha menatapnya datar, air mata Hwaeyeon sudah menggenang di pelupuk matanya “satu pelukkan terakhir untukku oppa, aku mohon.”

Sungha masih terdiam menatap Hwaeyeon kosong, dia tak akan mampu untuk melepaskan gadis itu. Sungha teramat mencintainya, dan seharusnya Hwaeyeon menyadari hal itu. Tapi pada akhirnya Sungha mampu menggerakan tubuhnya untuk memeluk Hwaeyeon. Mendekapnya begitu erat, mengartikan bahwa sesungguhnya Sungha tak ingin melepas Hwaeyeon. Air mata Sungha mengalir untuk yang kedua kalinya. Rasa perih menghiasi hati keduanya, dan tanpa mereka sadari Minho melihat semuanya. Di pikirannya menari-nari rencana gila untuk memisahkan mereka berdua, padahal hal itu sebenarnya tak perlu ia lakukan. Karena ia telah menang.

“aku rasa sudah cukup oppa, aku pulang dulu.” Tanpa menunggu jawaban dari Sungha, Hwaeyeon langsung berlari keluar café. Hatinya terasa sangat perih melihat ekpresi terluka dari Sungha. Sungha menyusulnya keluar karena ada sebuah benda yang sangat ingin diberikan oleh Sungha untuk Hwaeyeon.

Dilihatnya Hwaeyeon sedang menyebrangi jalan, tapi pandangan Sungha teralih pada mobil yang sedang melaju kencang ke arah Hwaeyeon. Merasakan firasat buruk Sungha tanpa berfikir panjang langsung berlari ke arah Hwaeyeon dan menyingkirkannya dari mobil yang akan menabraknya, tapi takdir mengatakan salah satu dari keduanya harus ada yang pergi pada saat itu. Sungha tak mampu menyelamatkan dirinya, tubuhnya tertabrak keras oleh mobil itu dan terhempas ke jalanan.

Hwaeyeon hanya bisa terdiam melihat kejadian tersebut, tak ada ekpresi. Dilihatnya orang-orang mulai mengerubungi Sungha yang terkapar tak berdaya, sedangkan penabrak tak berperasaan itu kabur. Hwaeyeon bangkit dan berjalan menghampiri kerumunan itu, tak peduli dengan banyaknya orang ia terobos begitu saja manusia-manusia itu. Terlihat Sungha berlumuran darah, ditangannya menggenggam sebuah benda. Hwaeyeon berlutut disamping tubuh Sungha, melihatnya dengan ekpresi datar dengan air mata yang berjatuhan di pipinya. Digenggamnya tangan Sungha yang sudah mulai melemah.

“maafkan aku…” hanya itu yang mampu terucap dari bibir mungil Hwaeyeon.

Sungha hanya tersenyum lemah disisa kesadarannya “ja..nga..n..ba..wa..aku..ke..rum..ah..sakit..” kata-kata Sungha bisa sedikit menyentil emosi Hwaeyeon “wae?” tapi tetap jawaban bernada datar yang diberikan Hwaeyeon

“karena..aku..ingin..mati..dalam..keadaan..” Sungha tak melanjutkan kata-katanya, dia menyerahkan sebuah benda yang ia genggam sedari tadi yang ternyata adalah sebuah kalung kepada Hwaeyeon.

“ini..untuk..mu..,dan..sampai..kan..pada..Soojung..noona..aku..menyayanginya..” Sungha pun pergi, meninggalkan dunia ini. Ketempat yang tak mampu dijangkau oleh Hwaeyeon, tempat dimana Hwaeyeon tak akan pernah bisa meminta pelukan hangat Sungha. Dan pelukkan yang tadi, benar-benar menjadi pelukkan yang terakhir untuk Hwaeyeon.

Di sebrang jalan, terlihat seorang laki-laki tersenyum licik. Mengeluarkan karismanya, bukan karisma ketampanan, melainkan karisma yang menunjukan dialah pembunuhnya. “aku fikir, aku harus menyingkirkan gadisku. Ternyata sasaran lebih dari sekedar tepat” seringaian laki-laki itu bertambah lebar.

Tak seperti di drama-drama yang ada, Hwaeyeon tak meneriaki Sungha untuk bangun dan meminta untuk tidak meninggalkannya. Hwaeyeon tetap pada ekpresi semula, datar. Dia menyelipkan rambutnya ke balik telinga, mengusap wajah Sungha yang penuh darah. Perlahan ia mendekatkan wajahnya dan Sungha, melemuat bibir Sungha yang sudah tak bernyawa dengan lembut.

“maafkan aku oppa, aku harap kau tenang disana.” Gumamnya,lalu dia memandang salah satu warga yang ada di kerumunan itu “tolong hubungi ambulance, dia sudah tak ada.”

***

Hari itu hujan turun dengan deras mengiringi pemakaman Sungha. Soojung menangis histeris, dia kehilangan lagi, setelah sebelumnya kehilangan kedua orangtuanya. Sekarang adik kesayangannya yang diambil Tuhan darinya. Hwaeyeon hanya memandang makam itu dengan ekpresi datar, sama seperti saat Hwaeyeon menyaksikan langsung kematian Sungha. Hanya air mata yang memperlihatkan bahwa dia juga benar-benar kehilangan Sungha.

Minho mendekat pada Hwaeyeon dan merengkuh gadis itu dari belakang, keduanya tak menggunakan payung. Membuat baju hitam mereka basah kuyup. “Tuhan berkata lain sayang” kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibir Minho.

Acara pemakaman selesai, seluruh pelayat telah pulang termasuk Minho. Soojung, Hwaeyeon, dan Hyunwon kembali ke kediaman Soojung.

“kau boleh memukulku, memakiku, bahkan membenciku jika kau mau eonni.” Hwaeyeon mengatakan hal itu pada Soojung tetap dengan ekpresi datar.

“semua itu tak akan mengembalikan Sungha, Hwaeyeon~ah. Aku sudah mengikhlaskannya pergi, tujuannya tercapai sekarang” Soojung masih sangat dirundung duka.

“tujuan apa maksudmu?” Hyunwon mengeluarkan suara

“dia ingin mati, dalam keadaan mencintai Hwaeyeon” ucapan Soojung seperti pukulan telak untuk Hwaeyeon, ingin sekali rasanya Hwaeyeon mengenyahkan dirinya sendiri.

“ah ya, ada satu titipan dari Sungha. Sepertinya ia sudah berfirasat akan pergi, dia mengatakan ‘tolong sampaikan ini pada Hwaeyeon, jika pada akhirnya kami berdua tak menyatu dan aku pergi dari sisinya’ saat memberikan itu padaku” Soojung berjalan ke kamarnya dan mengambil sepucuk surat, lalu kembali ketempatnya semula dan memberikan surat itu pada Hwaeyeon.

Hwaeyeon membuka amplop dan mengambil kertas yang ada didalamnya, wangi khas Sungha yang pasti akan sangat ia rindukan itu menyeruak. Membuat air matanya mengalir lagi, dibukanya perlahan surat itu.

“ Maaf, maafkan aku. Maafkan atas derita yang kau tanggung akibat cintaku, membuat seakan akulah yang terjahat untukmu.

 Tadi aku bilang apa? Cinta? Aku bahkan sangsi pernah mengatakannya langsung dihadapanmu.

Cinta ini tak pernah terucap langsung di telingamu. Aku mengumbar pada semua orang bahwa aku sangat mencintaimu, tapi seperti yang kau tahu aku tak pernah menyatakannya dihadapanmu Hwaeyeonnie~

Aku benar-benar meminta maaf padamu dan berharap kau mampu merasakan semuanya.

Dan pada akhirnya aku akan mengatakannya walau hanya lewat surat ini, aku.. mencintaimu.

-Jung Sungha-”

Akhirnya Hwaeyeon berekspresi, bukan senyum seperti yang diharapkan. Berawal dari tawa seperti orang yang dalam proses kehilangan warasnya, dilanjutkan dengan jatuhnya airmata dengan deras. Terakhir sangat memilukan, Hwaeyeon menjerit-jerit hilang kendali. Membuat Soojung dan Hyunwon bingung sekaligus sedih.

*Flashback End*

***

“sedang apa kau disini Yeonnie~?” suara berat dari Minho terdengar ditelinga Hwaeyeon “masih mengenangnyakah?” sambungnya

“apa itu penting untukmu? Kau bebas memonopoliku semenjak kematiannya bukan?” kata Hwaeyeon acuh. Memang semenjak kematian Sungha Hwaeyeon berubah, Hwaeyeon seperti tak tahu caranya tersenyum. Hanya ekpresi datarlah yang diperlihatkan.

“tapi kau tetap aku izinkan bukan memakai benda pemberiannya itu? Hari ini dua tahun peringatan kematiannya bukan?” ucap Minho lagi, seraya meraih bandul kalung yang dikenakan Hwaeyeon. Pemberian Sungha.

Tiba-tiba saja Hwaeyeon menepis tangan Minho kasar, Minho terkesiap. Lalu Hwaeyeon berjalan ke pinggir atap sekolahnya dan memutar badan kearah Minho.

“apa yang akan kau lakukan Yeonnie~?? Menyingkir dari situ!!” perintah Minho.

“aku tak mau oppa, aku ingin menyusul Sungha oppa kesana.” nada suara Hwaeyeon melembut, tapi justru terdengar menakutkan. Nada suara orang yang kehilangan warasnyalah yang terdengar dari Hwaeyeon.

“kau tak boleh bersatu dengannya Hwaeyeon! Dimanapun!! Aku akan ikut denganmu pergi!” Minhopun mendekat ke arah Hwaeyeon, digenggam erat oleh Minho tangan Hwaeyeon. Akhirnya setelah dua tahun Hwaeyeonpun tersenyum.

“sebelum kita pergi, aku ingin membertahu padamu sesuatu”

“apa itu oppa?”

“akulah yang membunuh Sungha” Hwaeyeon terdiam sejenak, lalu tersenyum.

“jinjjaeyo oppa?” Minho mengangguk

“kalau begitu jangan sebut aku pembunuh” Hwaeyeon menghempaskan tubuhnya dari atap gedung sekolah seraya menarik tangan Minho. Membawanya jatuh bersamanya.

Dan mereka pun pergi, dengan meninggalkan kisah cinta yang penuh luka.

-END-

otte?? ada yang bingung jung sungha itu siapa?? silahkan tanya sama gugel ahjushi… :p

sip… be a good reader dengan meninggalkan jejak…

Gomawo 😀

Advertisements

31 responses to “ANOTHER ROMEO AND JULIETTE (ONESHOT)

  1. Hwaaaa sedih banget thor!!!! Tragis + mirisnya dapet banget!!!

    Sungha Jung tau min wong bojoku alias pacarku mah pasti tau min *halah hehe :V

    Banyakin cerita tentang sungha dong min. Aku suka banget ama diaaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s