Endless Moment part 11

Authors: minhye harmonic feat hotaru yuhime

poster by AVYHEHE

Please, kalau kamu penganut READ-FAVE-RUN,

Jauh-jauh deh dari ff ini -___-

Ting…Tong…

Bunyi bel menyentak. Donghae buru-buru menuju pintu, melihat siapa yang datang pagi-pagi begini. Minhye yang tertinggal di dapur, masih saja menunduk dalam. Lagi-lagi, perasaan aneh memacu jantungnya untuk berdetak lebih cepat dari biasanya. Selalu. Setiap berada di dekat Donghae. Entah mengapa…

Lama. Donghae tidak juga kembali. Was-was mulai menyelinap. Minhye bangkit dari kursi, menuju ruang tamu. Memastikan semuanya baik-baik saja.

Makin cepat langkah Minhye kala mendengar bisik-bisik.

“Donghae, siapa itu?” Tepat ketika kalimat Minhye berakhir. Bisik-bisiknya juga berakhir.

PART—————-11

Tidak ada yang menjawab. Minhye makin mempercepat langkah, menuju ruang tamu. Terkejut. Minho pulang.

“Minho!” Girangnya bukan main. Berlari menuju Minho. Memeluk erat. “Kau membuatku takut.” Bisiknya pelan.

Kaku. Minho tidak membalas. Membuat Minhye mengernyit heran. Dia melepas pelukan dan menatap lamat-lamat wajah adik laki-lakinya itu. “Kau? Kenapa berpakaian seperti ini?” Terheran, menyadari Minho mengenakan blazer serta celana khaki, hitam-hitam.

“Kau yakin akan memberitahunya?”

“Aku yakin, Bi.”

Kilasan kejadian semalam memenuhi benak Minho. Minho berdiri tegang, balas menatap Minhye. Lidahnya tiba-tiba kelu, padahal semalaman dia sudah merangkai kata-kata sedemikian rupa untuk membuat kakaknya mengerti.

“Minho?” Minhye meminta penjelasan.

Minho masih diam. Dia benar-benar tidak bisa mengeluarkan kata-kata. Takut tepatnya. Dia tidak mau ambil resiko untuk memberikan penjelasan. Tapi Minhye menuntut untuk itu-

“Minho! Ayo kita sarapan, kau belum sarapan kan?” Donghae tiba-tiba menarik tangan Minho, secara tidak langsung menyelamatkan Minho. Tapi sama saja sih, Minho tetap harus menjelaskan pada Minhye. Waktunya saja yang diundur.

“Biarkan dia menjelaskan semuanya, Tuan Lee.” Sebuah suara mengagetkan semuanya. Berasal dari arah pintu.

Lihatlah, siapa di pintu. Hyeonjeong.

Donghae melepas cengkraman tangannya. Menghampiri Minhye. Setidaknya, hanya itu yang bisa dia perbuat. Berjaga-jaga jikalau gadis itu nanti melakukan sesuatu yang tidak-tidak.

“Jelaskan Minho.” Nada suara Hyeonjeong terdengar memerintah. Minhye menatapnya tidak suka.

Minhye beralih ke Minho. Melihat pemuda itu hanya diam mematung dengan pandangan sayu. Mau tidak mau, membuat Minhye merasakan firasat buruk.

Minho menghela nafas panjang, dia mencoba menatap langsung mata kakaknya, berharap pancaran mata-nya dapat melukiskan kata-kata yang hendak keluar. “Kakak-“ Jeda lama. Menghela nafas.

Minhye tanpa sadar mencengkram erat lengan Donghae. Donghae tersentak kaget, dia melepas cengkraman Minhye di lengannya, memindahkan ke telapak tangannya, menggenggam erat. Minhye tidak menyadari sama sekali. Dia terlalu tegang.

===============================================================================

“Kau bohong kan-bohong kan-BOHONG KAN?!” Minhye meraung marah. Dia menarik kerah blazer Minho, kilatan marah terpancar jelas di matanya.

“Minho tidak bohong.”

“Diam kau!”

“Sopanlah pada Bibi!”

Minhye tersentak kaget. Minho barusan membentaknya. Kemarahan Minhye seolah menguap, berganti perasaan terluka. Pandangannya seketika menjadi terlihat kosong, menyedihkan. Pelan cengkramannya mengendur. Tanpa berkata apa-apa, Minhye menarik diri. Menaiki tangga, menuju kamar.

BRAK

Pintu dibanting keras. Minhye menyandarkan diri pada pintu. Merosot turun. Masih dengan pandangan kosong. Semenit. Dua menit. Tak ada isak tangis yang keluar. Air mata keluar perlahan, menyusuri pipi pucatnya. Menangis dalam diam.

“Kau yakin ini yang terbaik?” Donghae bertanya ragu. Dia tidak tega melihat Minhye.

“Aku tahu apa yang aku lakukan.” Minho berbisik pelan. Memandang nanar ke arah tangga.

===============================================================================

Angin berhembus sepoi, namun daun berguguran karenanya. Melayang pelan mengikuti angin, menuju mana saja. Sore sendu nan cerah. Cahaya jingga menghiasi batas cakrawala. Mobil Hyeonjeong melaju pelan. Sebuah gapura pemakaman tujuan mereka.

Mereka? Ya, Minho, Hyeonjeong dan Minhye (yang tertidur pulas―tadi Minho mengendongnya ke mobil tanpa membangunkannya).

“Bangun…” Bisik Minho lembut, tepat di telinga Minhye.

Perlahan-lahan kelopak Minhye mulai terbuka. Memperlihatkan mata yang terluka, penuh kesedihan. “Ini di mana?” kepala-nya terlongok, memandang aneh ke sekeliling. Asing. Ingatan terakhir; menangis di belakang pintu. Pastilah dia tertidur. Tapi bagaimana bisa dia tiba-tiba ada di sini? Di depan gapura makam pula?

Tanpa bertanya dan sedikit linglung, Minhye mengikuti langkah Minho dan Hyeonjeong yang sudah berada di dalam area pemakaman. Bingung. Benar-benar tidak mengerti apa-apa.

Tunggu,,, pemakaman?

Langkah Minhye seketika terhenti. Manik matanya tertuju ke dua titik yang berdampingan. Dua buah tulisan yang seketika membuatnya seolah kehilangan pegangan hidup. Menghancurkan tulang-tulang kakinya, membuatnya jatuh terduduk dengan ekspresi syok luar biasa.

“Kakak, beri salam pada ayah dan ibu.”

“Bohong! BOHONG!” Minhye menjerit pilu. Menjambak rerumputan tak berdosa, menarik paksa dari tanah.

“Kakak! Sadarlah! Ini kenyataan!”

“Tidak! Tidak mungkin! Ayah dan Ibu masih hidup! Kau jangan macam-macam!” Minhye menatap marah adiknya, begitu manic matanya menangkap sosok Hyeonjeong―yang berada tepat di belakang Minho, Minhye langsung menunjuk wanita itu kasar. “KAU! PASTI KAU YANG MERENCANAKAN SEMUA INI?! KAU MENCUCI OTAK ADIKKU! APA YANG KAU MAU SEBENARNYA?!!!” Matanya melotot seperti hendak keluar, mukanya memerah, terbakar amarah.

Diam. Hyeonjeong tidak membalas. Hanya menatap Minhye dengan tatapan tak bisa terdefenisikan. “Kau salah paham nona.” Dia berkata datar.

“SALAH PAHAM APA?! KAU WANITA―”

“CUKUP KAKAK!!!” Potong Minho cepat, takut kata-kata tidak sepantasnya keluar dari mulut kakaknya. Dia juga takut Bibinya akan terluka akibat perkataan Minhye. Tunggu…takut? Sejak kapan Minho peduli pada Bibi? Ah ya, sejak lama, sepertinya… Dia menangkap tubuh Minhye dari belakang sewaktu gadis itu hendak melangkah mendekati Hyeonjeong. Minho berusaha sekuat tenaga menahan kakaknya yang meronta minta dilepaskan.

“Minho, aku akan pergi ke taman dekat sini. Kau di sinilah dengan kakakmu.” Masih tanpa emosi Hyeonjeong berkata-kata. Dia balas menatap tatapan membunuh Minhye sebelum berlalu.

Minho mengangguk kecil, sorot matanya mengucapkan ‘terima kasih’. Sepeninggal Hyoenjeong, rontaan Minhye melemah. Begitu pula pelukan Minho yang mengendur. Tepat ketika Minho melepaskan pelukannya, Minhye jatuh terduduk. Gadis itu menunduk dalam, dia masih tidak bisa mempercayai semua ini. Ayah-Ibu yang masih dia yakini hidup, menjadikan acuan semangat untuk tetap melanjutkan hidup dirinya dan adiknya. Kini, ia dipaksa untuk menerima bahwa mereka berdua telah tiada. Padahal sudah beberapa tahun belakangan ini dia berusaha menyakinkan diri bahwa orang tuanya masih hidup.

Semilir angin lewat. Membelai wajah Minhye yang sembab. Kembali menangis.

===============================================================================

Senja berlanjut. Bersiap-siap berganti malam. Cahaya jingga keemasan mulai menggelap. Hyeonjeong menengadahkan kepala, menatap langit. Tadi dia berhasil sedikit mengendalikan emosinya, walau sebenarnya tadi dia hamper terpancing kemarahan keponakannya.

“Bibi…”

Hyeonjeong menoleh, mendapati Minho telah mengambil duduk di sebelahnya. “Mana Minhye?”

“Dia butuh privasi,” ada jeda sejenak, “Bibi, aku minta maaf atas perkataan dan reaksi kakak.” Minho bangkit. Berdiri di hadapan Bibinya kemudian membungkuk dalam.

“Kau tak perlu meminta maaf, Minho. Kau seperti tidak tahu kakakmu saja.” Hyeonjeong malah tertawa.

Minho kembali duduk, dia sama sekali tidak tergoda untuk ikut tertawa. “Aku belum berani mengatakannya pada kakak.”

“Kau belum bilang?”

“Belum,” geleng Minho, “Aku takut dia makin sedih.”

“Semua keputusan bergantung padamu, Minho. Aku tak punya hak untuk memilihkan untukmu. Pikirkan yang terbaik.” Hyeonjeong tersenyum, dia menepuk pundak keponakannya sebelum beranjak dari duduk. “Ayo pulang, ini sudah malam.”

===============================================================================

Sejak kejadian hari itu, Minhye mengurung diri di kamar. Menolak untuk bertemu siapa pun, termasuk Hyukjae. Minho masih bingung apa yang harus ia lakukan dan katakan. Padahal audisi tinggal menghitung hari dan dia harus bersiap-siap.

“Minhye, buka pintunya dong. Kau harus makan.” Ini sudah bujukan kesekian kali yang dikeluarkan Hyuk, tapi Minhye tak merespon sama sekali. Yang ada hanya keheningan.

“Hyuk bagaimana ini? Dia belum makan sejak tiga hari yang lalu.” Donghae khawatir luar biasa.

Hyuk angkat bahu, dia juga pusingnya bukan main.

“Masih tidak membuka pintu?” Tiba-tiba Minho muncul dari balik pintu kamar-nya.

Donghae dan Hyuk kompak menggeleng.

“Kau benar-benar akan pergi?” Donghae melihat koper hitam dibelakang Minho. “Kau sudah meminta izin?”

“Ya dan belum.”

“Apa maksudmu?!”

“Hyuk, pelankan suaramu.” Bisik Donghae mengingatkan.

“Aku akan bilang sekarang, Kak.” Kata Minho yakin. Bagaimanapun ini demi kebaikan dia dan kakaknya.

“Kau bercanda?! Kau tidak lihat keadaannya?!” Nada bicara Hyuk meninggi.

“Hyuk, tenanglah…”

“Bagaimana mau tenang Hae!”

Donghae diam. Bermaksud menenangkan malah kena bentak. Sial!

“Lihat—“

BRAK!

Kata-kata Donghae terpotong, dalam sekejap mata mereka bertiga langsung tertuju ke arah pintu kamar Minhye yang menjeblak terbuka. Di ambang pintu Minhye tengah berdiri, matanya merah, sembab ada kantung hitam di area matanya. Rambut Minhye kusut masai. Benar-benar kacau!

“Kau mau kemana?” Minhye menatap tajam adiknya.

“Kakak…”

“Kau mau kemana?!” ulang Minhye, meninggikan nada bicaranya.

“Kak. Kembalilah ke sekolah.”

“AKU BERTANYA PADAMU, MINHO! KAU MAU KEMANA?!!” kali ini Minhye benar-benar berteriak, membuat semua orang di ruangan itu berjengit.

“Aku harus pergi.” Minho mengulurkan selembar kertas. Brosur dance competition yang selalu dibawa Minho, yang kini tampak kumal karena terlalu sering dipegangnya.

“Kau mau pergi?! Kau juga mau meninggalkanku?!!”

“Ini kulakukan juga demi kakak!” kini Minho balas menatap kakaknya. “Kalau aku menang, aku bisa dapat beasiswa—menjadi trainee—dan punya pekerjaan yang pasti. Aku bisa membiayai hidup kita. Kakak tidak perlu bekerja lagi!”

Minhye menatap Minho dengan terluka.

“Aku juga bisa tetap melanjutkan sekolah, kak. Jadi kumohon, kakak kembalilah ke sekolah. Ujian akhir tinggal beberapa minggu lagi, masih belum terlambat. Bibi juga sudah bicara dengan pak Jungsoo.”

“Lantas bagaimana jika kau gagal?”

“Kakak ingin aku gagal?”

“Aku hanya tidak ingin kau pergi!” Minhye benar-benar menangis kali ini. “Aku bersedia melakukan apapun, asal kau tetap disini.. Siapa yang akan menjagamu? Siapa yang akan menjagaku? Minho.. kumohon..”

Minho memeluk kakaknya erat. “Kakak. Disini ada kak Eunhyuk, kak Donghae… Kakak tidak akan sendirian. Kalau sampai kakak kenapa-kenapa, aku akan datang untuk membunuh mereka.”

Minhye mengeratkan pelukannya pada Minho.

“Kak. Kalau aku berhasil, ah, tidak. Aku pasti berhasil. Aku akan menjemput kakak. Jika aku gagal, bibi akan memasukkanku ke sekolah dance di kota itu, dan setelah lulus dan dapat pekerjaan aku akan mengembalikan semua uang bibi yang telah kugunakan. Kakak mengajarkanku untuk tidak bergantung pada orang lain, kan? Kakak juga pernah mengatakan kalau aku punya bakat sejak lahir, karenanya aku yakin,” Minho melepaskan pelukannya, menatap kakaknya lembut. “…aku pasti berhasil. Ini jalan yang aku pilih, kak. Aku mencintai dance dan aku akan melakukan yang terbaik demi kakak.”

Minhye hanya bisa terisak.

===============================================================================

Minhye menatap lampu warna-warni itu, tak bergeming. Minho sudah berangkat siang tadi dengan bibinya. Hyuk dan Donghae juga sudah ia usir pulang. Kini ia berdiri seorang diri menatap papan nama café tempatnya dulu bekerja. Entah mengapa, hatinya menyuruhnya mendatangi tempat itu. Masih terlalu sore, lampu café itu belum menyala sama sekali. Minhye sendiri ragu café itu sudah buka atau belum.

“Minhye..?”

Merasa namanya dipanggil, Minhye menoleh. Manager Park Yoochun balas menatapnya.

“Sedang apa disini..?”

===============================================================================

“Hai.”

“Hai,” balas Minhye.

“Aku beli minuman dulu. Kau ingin titip sesuatu, Hye-ah?” tawar Heechul.

“Tidak usah, terimakasih,” tolak Minhye.

Heechul berlalu dari ruangan, meninggalkan Minhye dengan gadis itu. Yoori.

“Kau sakit..?” Minhye tak tahu harus berkata apa, hingga akhirnya menanyakan hal sebenarnya tak perlu lagi ditanyakan. Seorang gadis terbaring di ranjang kecil ruang rawat VIP sebuah rumah sakit dengan selang infus yang menancap di lengannya, memang ia sedang apa?

Alih-alih menjawab, Yoori hanya tertawa kecil. “Bagaimana kau bisa kemari?”

“Aku sedang banyak pikiran akhir-akhir ini. Kupikir aku perlu seseorang yang lebih dewasa untuk bertukar pikiran, jadi aku ke café. Tadinya aku mencari kakakmu. Tapi kemudian aku bertemu manager Park dan ia memberitahuku kau masuk rumah sakit, jadi Chullie tak akan datang. Jadi kuputuskan untuk menjengukmu.”

“Oh.” Yoori menegakkan badannya. “Aku sudah tidak apa, tenang saja. Aku keluar malam ini,” Yoori tersenyum. “…hanya tinggal menunggu infus sialan ini habis.”

Minhye tertawa. Ternyata gadis ini bisa mengumpat juga.

“Bunga itu untukku?” Yoori kembali membuka percakapan.

“Eh, iya. Untukmu,” Minhye menyerahkan buket mawar putih yang dipegangnya sejak tadi. “Aku tak tahu kau suka bunga apa, jadi, yah…”

“Tak apa. Aku suka mawar putih. Mengingatkanku pada seseorang, dia juga sering memberiku mawar putih.”

“Seseorang yang penting, eh?” tebak Minhye.

“Em.. bisa dibilang, cinta pertamaku.”

“Bukan Eunhyuk, kalau begitu. Dia kan nggak romantis.”

Yoori tertawa kecil. “Ngomong-ngomong. Jangan bilang-bilang Hyukie ya, kalau aku disini.”

Minhye mengangkat alis. “Hyuk.. tidak tahu kau dirawat di rumah sakit?”

Yoori menggeleng kecil. “Aku bilang sedang ada urusan dan menginap di rumah keluarga. Aku tak ingin dia khawatir.”

“Memangnya..kau sakit apa?”

Yoori menunduk sesaat, lalu menghela nafas panjang. “Sejak kecil fisikku lemah. Jadi sudah biasa keluar masuk rumah sakit. Karena itu aku tak ingin orang lain khawatir padaku. Aku tak apa, kok. Hanya kelelahan.”

Minhye menatap gadis itu. Sekilas, ia merasa gadis itu menyembunyikan sesuatu, entah apa. Disatu sisi ia penasaran. Tapi di sisi lain, tak baik memaksa orang lain untuk mengatakan sesuatu yang tak ingin ia ceritakan.

“Em, aku ke toilet sebentar, ya” kata Minhye akhirnya setelah saling terdiam beberapa saat. Yoori hanya tersenyum dan mengangguk.

Minhye beranjak meninggalkan ruangan itu, menuju toilet. Membasuh wajah. Aneh, hari ini ia merasa canggung sekali dengan gadis itu. Tapi di satu sisi ia merasa tak lagi kesepian. Hanya saja…

Minhye menatap langit malam dari balik ventilasi. Menarik nafas panjang. Seperti sudah waktunya pulang.

Tap. Minhye menghentikan langkah, tepat di depan pintu. Sesosok pria tampaknya baru saja tiba dan menghampiri Yoori, dengan sebuket mawar putih di tangannya. Bukan, bukan Kim Heechul. Bukan pula manager Park Yoochun.

“Donghae..?” gumam Minhye, cukup keras hingga sosok itu menoleh. Yoori tampak gugup saat meletakkan mawar putihnya di atas meja. Tepat di sebelah mawar pemberian Minhye.

TBC

ckckck… lagi-lagi TBC

SIMBIOSIS MUTUALISME~

Advertisements

20 responses to “Endless Moment part 11

  1. .wah kasian tuh minhye sdah patah hati sma hyukkie eh ternyata donghae cnta prtamanya yoori ..
    .Tpi mdahan minhye sma hae deh ..
    .mungkin Nasib memang tdk brpihak sma minhye saat ini ..
    .Ttep tegar yh minhye ..
    .Lnjut thor ..

  2. waduh?

    sebenernya apa yg terjadi pada Donghae? Minhye? Yoori dan Hyukjae? .___. kenapa aku semakin penasaran akut ~

    semoga minho berhasil^^ ye ye fighting ~ next chap ditunggu 🙂

  3. Waduh..minhye malang benar neh…hyuk,hae,kyu..galau dah bener2 galau..yg mane stu nih yg jd tambatan hti minhye..smuanya msh gantung…huhuuhuu..

  4. hadeeuuhh,, tu c.bang ikan bkin pnasaran aj. wktu tu foto, skarang soal yoori,
    ayo next chap.a cpetan,, pnasaran >.<

  5. eeeeeeeh….ko ada donghae????
    ff ini penuh kejutan
    ga pernah di sangka” mulu
    authornya hebat d(^o^)b
    ditunggu lanjutannya ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s