Naughty Married ( Reasons )

Naughty Kiss

Title: Nughty Kiss ( Reasons )

Author: LucifeRain / aya

Genre: romantic – comedy / comfort / fantasi

Lengh: oneshoot *maybe

Ratting: PG – 15

Main Cast:

–          Kim Kibum a.k.a Key

–          Choi Minrin a.k.a You

–          Choi Minho a.k.a Minho (Minrin’s twin brother)

–          Lee Jinki a.k.a Onew (Key’s older brother)

–          Victoria song a.k.a Victoria ( Choi2Min’s Cousin)

Support Cast

–          Kwon Sohyun 4minute a.k.a Kwon Sohyum

sebelumnya baca Naughty Married ( Complicated )

Annyeong, ketemu lagi sama author amatiran dan ff Naughty moment huahuahua. Ini lanjutan dari yang kemaren, kan masih gantung.

Kalo kemaren kebanyakan KEY P.O.V, maka sekarang giliran Min Rin hehehe

Kenapa aku nggak bikin ber-chapter? Jujur belom ada ff chapter aku yang nyampe kata END. Kata temenku aku lebih bakat buat Oneshoot. Cause kebanyakan ide, klo ada ide baru jadi gk mood ngelanjutin ide lama hehe.

Udah ahhhhh… langsung byk baca aja ya

~*~

Minrin P.O.V

Aku terduduk di depan meja rias sambil memandang pantulan diriku, yang menjadi pusat perhatianku adalah piyama yang ku kenakan, semakin menatapnya semakin membuatku berdebar.

Piyama bermotif garis garis berwarna hitam – merah muda ini adalah kado pernikahan Victoria eonnie. Untung saja Vict Eonnie bukan memberiku piyama robek robek kekurangan bahan, bisa gosong wajahku menahan malu.

Ya, aku sudah menikah seminggu yang lalu, padahal aku masih berumur 21 tahun m(-_-)m . Aku menikah dengan seorang namja bernama kim Kim Kibum, dia anak dari sahabat Appa.

Kami tinggal di sebuah apartment di pusat kota seoul, sebelumnya aku dan Key –begitu kibum akrab di sapa- berbeda kamar. Namun karena 3 kunyuk serangkai itu seringkali datang dan mengetahui rahasia kami, mereka mengancam akan mengadukan ini pada appa dan mereka akan datang tiap hari untuk menghabiskan persediaan makanan kami. Huh! Dasar mulut baskom!

Jadi, ini adalah malam dimana aku dan Key sekamar untuk pertama kalinya. Sialnya Victoria eonni juga mengancam akan mengadukanku kalau aku dan Key tak memakai piyama errr… couple ini.

Aishh…. Eonni juga bilang kalau hitam – merah muda ini gabungan dari warna kesukaan kami. Kalau kalian mengira aku yang suka warna merah muda, kalian salah!

Akulah yang menyukai Hitam dan Key menyukai Merah muda. Aigooo… namja itu cerewet sekali! dia tak suka ada debu yang mendekatinya. Karena setiap aku memasak rasanya sama bedanya dengan sikat WC, jadilah dia yang memasak tiap hari.

Sebenarnya siapa yang yeoja disini huh? Kalau bukan karena eomma, aku tidak akan mau menerima perjodohan kolot bin konyol binti sadako ini (?)

Ini bermula dari ucapan eomma di danau kala itu

__FLASHBACK__

Seorang anak perempuan bergelayut manja pada eomma-nya, mereka sedang menaiki perahu perak menuju sebuah taman di tepi danau, kabut putih seakan terpancar dari air danau, nuansa putih menciptakan atmosfir ketengan dalam keheningan.

“minrin, eomma pernah bilang pada mu kan? Jika suatu saat nanti ada namja malaikat yang akan lewat di depan ruanganmu, kau akan terbangun. Tetaplah bersama malaikat itu, jangan pernah jauh darinya”

~*~

Aku menatap tubuhku yang terbaring lemah di atas tempat tidur, banyak alat medis yang terpasang di sekitar raga itu. Ragaku kosong tanpa jiwa, karena jiwanya sedang menatapnya dalam diam, Menunggu sebuah isyarat untuk dapat kembali bernafas dalam raga itu.

Cahaya beraura putih tampak dari kaca di sisi atas pintu ruangan. Cahaya itu memudar perlahan, dengan samar memperlihatkan seorang namja yang sedang melihat dari kaca luar.

Aku kembali menatap ragaku. Tiba tiba raga itu bersinar, sinar yang menyerupai aura namja tadi. Aku merasakan jiwaku ditarik untuk mengisi ronga ronga dalam raga kosong itu.Aku seperti butiran kristal yang pecah, terbang lalu berpendar namun terhirup oleh raga ku sendiri. Inilah isyarat itu.

4 jam berlalu dari waktu kesadaranku. Minho oppa sedang membeli makanan yang baru saja aku pesan dan Appa terlihat sibuk menyebarkan kabar gembira bahwa aku sudah sadar.

Sejak aku sadar, perkembangan kesehatanku sangat pesat sehingga dalam waktu 3 jam tubuhku sudah bersih tanpa alat medis dan kini aku bisa bernafas normal tanpa bantuan apapun.

Dokter pun sampai geleng geleng kepala mendapati perkembanganku yang ‘diluar batas normal ini’. Prediksinya tentang usiaku yang akan berakhir sebentar lagi sangat jauh melenceng dari kenyataan. Semua ini berkat Dia J

~*~

Hanya aku di dalam ruangan ini, terduduk dengan kotak kado di pangkuanku. Ini adalah hadiah ulang tahun dari Appa, isinya gaun putih polos berdesain klasik dan aku menyukainya. Ternyata Appa masih ingat seleraku.

Aku menurunkan kakiku, berniat untuk berganti pakaian dengan gaun ini. Sudah berapa tahun aku mengenakan baju rumah sakit yang Butek nan Kuno ini? Warnanya saja tak berbeda dengan rambut ngejreng di iklan jadul Daia *author nostalgila*

Ketika aku mencoba menggerakkan kakiku, enatah kenapa tulang ini serasa runtuh seperti agar agar. Hei, nan ottokhae?. Ku coba melangkah lagi, namun hasilnya nihil. Aku tersungkur dan jidatku sukses berciuman dengan lantai -__-

Ada apa dengan ku? Ada apa dengan kakiku? Apa aku lumpuh? Aku bergetar hebat, tak bisa ku bayangkan jika itu terjadi. Eomma… what should I do? Eomma… what can I do? Eomma…

Bagaikan petromax berjalan berkilau, secerca cahaya menyilaukan muncul. Ketika cahaya memudar, muncul seorang yeoja cantik dengan senyum lembut khasnya.

“Eomma…” sontak aku langsung menghambur dalam pelukanya

“wae, Minrin?”

“eomma, aku tidak bisa berjalan. Kaki ini sangat susah di kendalikan”

“benarkah?” eomma tersenyum, ia mengeratkan pelukanya “ dengarkan eomma Minrin. Apa kau merasa sakit saat jatuh tadi?” tanyanya, aku menggeleng cepat “kau kesakitan saat keningmu terbentur lantai?” kali ini aku meraba keningku lalu menggeleng lagi “lalu kenapa kita bisa bersentuhan? Bukankah malaikat dan manusia itu beda?”

“ehhh…?” aku menatap eomma heran ”maksud eomma apa?”

“ini bukan kenyataan sayang. Kau sedang berkhayal”

DOENGGGG~!

Pabboya! Jadi itu cuma khayalan? Aku menatap sekitar, keadaan masih sama. Aku terduduk di atas ranjang dengan kotak kado di pangkuanku. Ku gerakkan kakiku mencoba untuk turun dari tempat tidur.

Jantungku terpacu semakin cepat, menegangkan rasanya. Apa aku akan lumpuh? Mengingat sudah bertahun tahun raga ini tak di gerakkan. Ku angkat kakiku mencoba melangkah dan…

BISA~! YEY! Aku pun berjoget joget ria ala Lucifer, Err…. Tapi tidak jadi (ToT) kakiku masih terlalu kaku. bisa di gerakkan namun tidak sesempurna dulu, mungkin akibat kakiku tak pernah di gerakkan selama bertahun tahun.

Tak apalah, yang penting ak masih bisa berjalan. Aku pun melangkah ke toilet, berjalan terseok seok bahkan sesekali harus di bantu dengan tangan huhuhu

Perlahan aku melangkah ke luar kamar, aigoo…. Kenapa kaki ini susah sekali di ajak kopronomi? Eh kamsudnya komporompi, Aish! Apalah itu namanya aku lupa.

aku berjalan menuju lift. sambil menunggu lift itu terbuka, ku amati pantulan diriku dalam pintu lift millenium itu. Rambut panjangku sengaja di urai agar lebih terkesan klasik jika mengenakan gaun ini.

Sebenarnya aku malas mengakui ini terang terangan, tapi harus ku akui kalau aku terlihat cantik (?). jangan melihat penampilan bawahku, jebal! Jangan di lihat. Ya! Kenapa kau melihatnya???

Oke, aku terpaksa memakai sandal jepit a.k.a selop jepang. YA! Jangan menghina ya, jelek jelek gini namanya juga sandal jepang pasti di buat di jepang M-A-H-A-L. karena hanya ini yang ada di kamar inapku, dari pada tidak pakai sendal entar dikira model iklan shampoo lagi, errrrr…..

TING~

Lift itu terbuka dan aku masuk ke dalamnya. Saat pintu itu hendak menutup, aku bertemu tatap dengan seorang namja. Namja itu, bukankah ia yang disebut eomma sebagai malaikat?

Aku berdecak kagum ketika kaki ini menapaki atap rumah sakit. gedung gedung kota Seoul tampah jelas dari sini, terlihat kecil bagaikan miniatur.

Aku terpejam, memanggil eomma dalam hati. Ketika mataku terbuka, merpati putih mengelilingiku. Namun ada satu merpati yang terlihat lebih putih, sangat putih melebihi susu.

“eomma apa itu kau?” merpati itu berhamburan terbang menari nari di atasku. Aku mengangkat tanganku, mencoba menggapai merpati itu. Angin membelai lembut wajahku, membuatku seakan terbang bersama merpati itu.

Tanpa sadar aku telah menginjak sudut atap, angin yang tadinya lembut kini mengganas. Tiba tiba angin bertiup kencang bagai hentakan yang membuat tubuhku kehilangan keseimbangan.

Kakiku terangkat di udara, jantungku berpacu cepat. Ku harap aku berkhayal, ARGGHHH…. NO! THIS IS REAL! Baru saja sadar, appakah aku akan menyusul eomma secepat ini?

“Aaaa! Eomma” teriakku

Tiba tiba serasa ada yang menopang tubuhku, membuatku tertahan daam keadaan miring 45%. Seakan menarikku, membuatku kembali berdiri tegak lalu menuntunku menjauhi sudut atap.

Tubuhku masih bergetar karena kejadian tadi, Shock! Aku membuka mata, menatap yeoja aura kristal di hadapanku. Ia tersenyum ”dasar anak nakal!” umpatnya

~*~

Sebulan berlalu sejak kejadian itu. appa menyuruhku mengikuti pelajaran tambahan dengan guru khusus agar kelak aku dapat kuliah.

Sebenarnya aku menginginkan home schooling, tapi apa menyuruhku belajar di Leehwa University agar bisa bersosialisasi mengingat telah bertahun tahun aku tak berkomunikasi dengan dunia. disana telah tersedia ruangan khusus untuk aku belajar, university itu punya Teman baik Appa karena itulah aku mendapatkan fasilitas khusus.

Aku berjalan menelusuri taman persegi yang di kelilingi 4 gedung fakultas di setiap sisinyadi sepanjang jalan terlihat kumpulan orang orang tengah mengumbar tawa. Melihat mahasiswa itu bercanda dan tertawa bersama mengingatkanku pada masa SMA-ku dulu.

RING… DING… DONG…

Alunan bell bergema. Aku terdiam membiarkan mahasiswa itu berlalu lalang di sampingku, dentang jam terus berjalan namun aku mengacuhkanya. Entah apa yang membuatku tertahan di posisi ini.

Seperti sebuah isyarat yang memberiku komando untuk diam menunggu sebuah pertunjukan. Awan yang tadinya menyelimuti matahari kini menjauh, membiarkan sinar teriknya lebih bercahaya. Angin ikut berhembus lebih kencang dari biasanya menyapukan setiap helai rambut dan membuatnya melambai di udara.

Merasa ada yang ganjil, aku menatap sekeliling dan Tak ada mahasiswa di sepanjang lorong. Ani! Ada seorang namja di depan air mancur tengah berdiri, dengan lekukan mata tajamnya ia menatapku.

Wae? Bukankah bell masuk sudah berbunyi? Atau ada yang salah denganku? Apa rambutku yang terbang terlihat seperti sapu ijuk atau dia bisa melihat kaus kakiku yang bolong? OH NO!

Aku tertunduk memastikan apa sepatuku ikutan bolong atau tidak, aish! Bodohnya aku melakukan ini! Saat aku menengadah, dia menghilang. Kemana namja itu?

“CHOI MINRIN!” teriakan melengking seorang yeoja membuatku sadar. Tiba tiba aku seperti diseruduk dari belakang, membuatku tersungkur dan jidatku berciuman dengan lantai (lagi)! Huh! Apa jidatku berpacaran dengan lantai huh?

“YA! CHOI MINRIN! Akhirnya kau sembuh! Aku senang sekali” yeoja itu langsung memelukku, aku menatapnya bigung “Minrin-ah kau lupa padaku?” ia menatapku kecewa

“ani, tentu saja aku ingat. Kau kan Kwon Sohyun, nae chingu yang selalu berpacaran dengan kaca, si cempreng karena makan toa’ ruang tata usaha, suka masang ringtone ponsel yang tidak nyambung dan Miss Minjemholic-minjem tapi nggak balik balik” tuturku dengan ekspresi datar
“YA! Kau hanya inggat kejelekanku huh?” seru sohyun dengan cemprengnya, besok aku harus membawa ddangkoma untuk menympal mulutnya.

“sorry” ucapku datar tanpa ekspresi

“bapamu orang arab ya?

Kok tau?

Karna kamu telah mengurabkan hatiku”

YA!YA!YA! suara siapa itu? kenapa ada onta nyasar disini?. ku lihat Sohyun merogoh sakunya lalu mengeluarkan ponsel yang layarnya berkelap kelip, ia melayangkan cengiran.

AISHH! SOHYUN PABO! JADI ITU RINGTONE PONSELMU??

~*~

Tepat hari ini aku akan menikah dengan seorang namja yang bisa kuhitung dengan  jari kapan saja aku berbicara denganya. Appa bilang Lee Ahjussi berjanji jika aku sadar aku akan dinikahkan dengan anak bungsunya.

Perjanjian ini karena kecelakaan pesawat itu. kata Appa waktu kecil aku dan Lee Ahjussi sangan dekat, entahlah aku lupa sedekat apa.

Karena sudah bertahun tahun tidak bertemu, Lee ahjussi merindukanku, dia mengajakku bermain ke rumahnya dengan Jet Pribadinya dan kecelakaan itu terjadi.

Banyak alasan untuk menolak perjodohan ini, tapi ada satu alasan yang membuatku harus menerima semua ini. Perkataan eomma di danau kala itu seakan menghipnotisku ketika aku menatap wajah namja itu.

Aku mematung di depan sebuah cermin seukuran diriku, gaun pernikahan berwarna putih gading melekat cantik di tubuhku di tambah dengan riasan yang elegan namun terkesan natural bagai penyempurna penampilan ini.

Aku berbalik ke belakang saat melihat pantulan Minho oppa di kaca itu. Minho Opaa tersenyum ke arahku, ia terlihat charismatic dengan setelan tuxedo hitamnya. Aku berjalan ke arahnya, lalu menyandarkan kepalaku di pundak kembaranku itu.

“kenapa aku harus menikah? Aku ingin selamanya bersama Oppa dan Appa”

Minho Oppa tertawa kecil, ia mengusap pelan pundakku.

“sesuatu yang kita fikir benar benar milik kita, ternyata bukan benar benar milik kita. Kita memiliki dia, tapi tidak untuk seutuhnya ataupun selamanya”

Aku melepas pelukanku, lalu menatapnya bingung. Tiba tiba jari telunjuk Minho Oppa menyentuh puncak hidungku, ia tersenyum sendu “tunggu sampai kau menjalaninya dan tau arti dari apa yang kau jalani”

Ia menggenggam tanganku, membawaku keluar dari kamar rias pengantin wanita, Menuntunku berjalan ke depan pintu gereja. disana aku di sambut oleh senyuman Appa, ia mengandengku dan mengiringi langkahku menuju Altar untuk di serahkan pada calon pendamping hidupku nanti.

Sebelum aku mengulurkan tangan untuk menyambut uluran tangan namja itu, sempat ku tangkap tatapan senyuman haru Appa dan orang orang di sekitarku. Kenapa mereka yang semula menyebalkan mendadak berubah jadi mellow seperti ini?

Pengucapan janji selesai, walaupun aku tak begitu memperhatikan karena sibuk berperang melawan kegugupanku. Kini aku berhadapan denganya, ia lalu membuka kain yang menutupi wajahku sehingga aku dapat melihat lekuk wajahnya dengan jelas.

Setelan tuxedo putih gading yang melekat pas di tubuhnya, membuatnya terlihat sangat tampan. Ahhh… apa yang kau pikirkan Choi Min Rin, kau pasti sudah gila gara gara menyaksikan perubahan Minho oppa yang semula Monyet berubah jadi kuda poni -___-

“silahkan cium pasangan kalian untuk mengekspresikan cinta sejati yang kalian miliki” ujar pendeta itu lembut namun berefek dahsyat dengan aku dan dia.

Aku tersentak pelan saat tatapan mataku bertemu dengan matanya, tanganku bergetar gugup membuat boquet bunga dalam genggamanku terjatuh. Spontan aku membungkuk untuk meraihnya

Saat aku menengadah ternyata ia telah ikut membungkuk, memperkecil karak di antara kami. Mataku terpaut dengan matanya, ingin berpaling namun seakan tertahan. Sial! Aku benar benar sudah gila. Semoga ia tak mendengar degub jantungku yang semakin liar ini.

‘brukkk’

Sebuah benda melayang ke punggungnya membuat nya terdorong kedepan dan Chu~~~~~

Seketika mataku membulat ketika tanpa sengaja bibirnya menyentuh bibirku, bibir kami bertemu membuat tubuhku benar benar kelu. Ahhhh…. Aku malu sekaliiiiiii

__FLASHBACK END__

Aku tersentak kecil saat pintu kamar mandi terbuka, aku tertunduk tak berani menatapnya meski melalui kaca sekalipun. Namun wangi basah sabun yang menyeruak seakan menarikku untuk menikmati pendaran aroma namja itu.

Ia berdeham, membuatku tersentak dan mendongak refleks. Melalui pantulan kaca dapat ku lihat ia mengenakan piyama dengan corak yang sama namun berbeda berntuk.

Ia menatapku melalui kaca, membuatku lagi lagi tersentak dengan jantung yang hampir gila. Nan ottokhae? Mutiara hitam yang bersemayang dalam kelopak matanya langsung menghujamku, seakan memerintahku hanya melihat ke arahnya.

handuk putih mengalungi lehernya, titik titik air yang tertinggal di rambutnya seakan berbias terkena cahaya lampu. Membuat rambut coklat madunya terlihat semakin manis.

YA! YA! Ya! Apa aku gila? Barusan aku memuji namja musim itu? cih! Namja itu cerewet dan menyebalkan. Oke, anggap saja yang ku puji tadi Joe jonas, bukan dia errrrrrrrrrrr….

Mungkin aku gila kerena terlalu banyak mendengarkan ringtone ponsel sohyun yang aneh sejagat rayap itu -__-

“Sudah malam, lebih baik kau tidur” ucapnya lembut, ia lalu berbaring di atas tempat tidur dan aku mengikutinya. Mwo? Apa tadi dia berbiaca lembut? Cih! Angin topan mana yang menyerangnya? Pasti dia tidak minum tolak angin, mangkanya jadi orang pintar! LOL

Terpaksa kami tidur dengan guling sebagai pembatasnya,  mungkin aku akan di lempar dengan panci atau penggorengan jika melewatinya. Padahal aku suka bergulat sendiri jika sedang tidur errrr…. -___-

Bulak balik aku memutar tubuh untuk mencari posisi ternyaman. Hey! Kenapa aku tidak bisa tidur? Apa aku terlalu gugup? Ahh… ani! Aku tidak gugup >////<

Aku memiringkan badan menghadap Key, matanya terpejam sepertinya ia sudah tidur. Aku menghela nafas lega namun sekejap kemudian kembali menahan nafas, Key membuka matanya yang berlekuk tajam itu. dia belum tidur!

“kanapa kau berisik sekali huh?”

Mampus! Batinku. Aku pun berkomat kamit mbah dukun baca mantra dengan segelas air putih lalu pasien di sembur byur! YA! Kenapa nyambung ke lagu ini?!!

Hana… dul… set… net…

1 detik… 2 detik… 5 menit… -__-

Kenapa tidak ada penggorengan yang menempel di jidat ku? Atau pantat Panci yang pup dimukaku?  YAAA!!!! Apa yang kau pikirkan Choi Minrin! mana mungkin Key turun ke lantai satu demi penggorengan dan pantat panci?!

Tiba tiba Key memiringkan tubuhnya, membuat kami berhadapan dan saling tatap. Kenapa mata ini tak mau berpaling dari matanya hah? Bertatapan denganya membuatku kaku

“apa kau gugup?”

“a… ani” jawabku gugup, aishhh! Sudah jelas masih saja menyangkal.

“kau gugup” ia tersenyum lembut membuat pertahananku luluh, senyumnya seakan menular membuat kedua sudut bibirku ikut tertarik.

“this is our first night”bisiknya. huh? First night! Awas kau kalau berani macam macam KIM KIBUM!

“be relax girl” bisikanya membuatku merinding, kau benar benar Lucifer Key! Ia tersenyum lalu mengangkat punggungnya sedikit. Perlahan ia mendekatkan wajahnya ke wajahku, membuatku semakin diam dan berdebar.

Sontak aku pun memejamkan mata, tiba tiba ku rasakan sebuah kecupan mendarat di pangkal hidungku. Ketika mataku kembali terbuka kudapati key telah di posisi semula dengan mata terpejam.

Ada apa dengan namja itu? apa dia kesetrum obat atau salah makan listrik?

Benar benar namja musim. Sifatnya selalu berubah seperti ciri khas empat musim di setiap tahunya, selalu membuatku bingung dengan sifat misteriusnya. Ia bisa menciptakan pancaroba dengan tiba tiba tanpa bisa diterka sebelumnya

Autumn seasons mengambil komando akan dirinya kali ini. Sikap cerewet dan galaknya seakan rontok seperti dedaunan yang gugur kala autumn menyapa.

Sikapnya yang lembut seperti langit kelabu yang memberikaan kesan romantis ditengah atmosftir kaku yang tercipta ketika Autumn berkuasa.

Heran, mengapa suasana hati namja ini benar benar menyerupai musim?

Aku menyibakkan selimut, terduduk di atas tempat tidur. Tak berapa lama kemudian ku putuskan untuk mencari angin, berharap setelahnya aku bisa terlelap. Ku buka pintu balkon lalu berjalan menuju pagar pembatas dan menumpukan kedua tanganku di sana.

Ku tatap langit, tak ada satu pun bintang bersinar pertanda hujan akan datang. Tak lama kemudian kilat bercahaya menerangi langit dalam sekejap mata, rintik rintik air turun menyapa alam.

Ku pejamkan mata mencoba menikmati aroma khas hujan yang terpendar dengan aura dingin menusuk. Saat mataku terbuka aku teringat sesuatu, sesuatu yang aku lupa sejak pertama kali aku sadar.

Kalbu seakan bergetar ketika bayangan sesosok wajah terlintas dalam kepingan memori runtuh.

Hujan kali ini mengingatkanku tentangnya.

Tentang dia yang mengisi hariku dulu.

Hujan kali ini membawaku pada kisah tak berujung karena si penoreh kisah tak menggoreskan penanya pada lembar kejadian itu lagi…

Kejadian itu mengapa aku bisa melupakanya? Kejadian yang mengharuskanku memberi sebuah jawaban sebagai titik akhir cerita.

Cerita yang nyaris terlupakan, ceritaku denganya dia yang pertama datang menelusuri rongga hatiku, merobohkan pertahananku. Apakah aku harus melanjutkan kisah ini? Tapi bukankan aku sudah menuliskan kisah baru dengan dia yang menjadi pendampingku sekarang?

“kau dimana, Lee Tae…”

“YA! CHOI MINRIN SEDANG APA KAU?!!!”

Aishhhh! Sepertinya namja autumn telah beralih ke summer lagi -___- aaaaaaaaaaa…

Aku pun beregegas masuk sebelum panci menutup benjol di kepalaku.

-FIN-

Haha garing ya ff nya? Mian hehe.. penasaran? pantengin blogku. Aku tekankan genre ff ini adalah fantasy.

Soal marga, sorry udah bikin binggung. Anggep aja key marganya lee *seenaknya ganti marga orang* abis aku dah terlanjur dapet feel ceritanya sama cast yg aku tentuin ini hehe jeongmal mianhaeyo

Bagi readers yang baca fanfict aku, tolong di comment ya. Aku nggak minta di bayar dengan material atau apapun. Aku hanya minta karyaku di hargai dengan bentuk sebaris atau duabari komen, kalau bisa lebih malah aku seneng banget.

kalau komenya dikit, mungkin ceritanya samoe sini aja :))

 

Advertisements

83 responses to “Naughty Married ( Reasons )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s