7 Years Of Love

Title: 7 Years of Love

Author: Han Jihyo a.k.a Hanny Purnama Dewi

Cast: Lee Donghae, Ahn Jieun

Other Cast: Han Suhyun, Park Jiho

Genre: Romance, Sad *Insya Allah* (?)

Length: Oneshoot

Rating: T

Backsound Song: Kyuhyun – 7 Years of Love

Annyeonghaseyo~

Aku dateng membawa ff dengan ber-genre sad ^^

Semoga kalian nangis bacanya hohoho~ *evil laugh w/Kyuhyun*

Kenapa aku buat ff ini? Karena aku suka liriknya ^^ dan aku baru tau liriknya itu menyentuh banget ._.v

langsung aja

Happy Reading~~

“Oppa!”

“Donghae oppa!”

Kudengar seorang yeoja yang kucintai memanggil-manggil namaku.

“Donghae oppa! Lihat! Ada kupu-kupu!”

Ujarnya sambil menunjuk kupu-kupu berwarna biru di bangku taman. Ya, warna biru adalah warna kesukaannya.

KRIIIIIIING

“Hmm?”

Suara bel rumahku berbunyi dengan keras. Membangunkanku dari dunia mimpiku.

“Oppa! Annyeong!” tutur Han Suhyun, yeoja chingu-ku yang baru.

“Ne, ada apa?” tanyaku padanya.

“Maukah kau mengantarkanku ke sebuah Departement Store di pusat kota? Aku dengar di sana ada baju musim dingin baru.” pintanya sopan.

“Hm.. ne, tunggu sebentar.” jawabku singkat lalu disambut senyum bahagia oleh yeoja cantik itu.

Aku pun mempersilahkan Suhyun masuk dan lalu mengganti pakaian agar tidak membuatnya menunggu lama.

****************

@Departement Store

“Oppa! Yang ini bagaimana?” tanyanya sambil mencoba pakaian pilihannya.

“Bagus.” jawabku tanpa melihat padanya.

“Oppa! Lihat dulu!” ujarnya sedikit kesal.

“Apapun yang kau pakai akan selalu cocok untukmu, Suhyun-ah.” sahutku dengan nada sedikit tinggi.

“Jinjja? Kalau begitu, aku pilih yang ini. Tunggu sebentar ya, oppa. Aku akan membayar ini ke kasir, lalu kita pergi makan.” tuturnya lalu beranjak pergi.

Sudah 2 tahun kami bersama, namun entah mengapa hatiku selalu tidak terisi dengan kehadirannya. Suhyun adalah tipe wanita yang kusuka sejak dulu, dia baik, sopan, keibuan, dan, pengertian. Tapi mengapa hati ini hampa? Sama seperti saat mengatakan ‘Selamat Tinggal’ pada Ahn Jieun.

Ahn Jieun, setiap mengingat dan menyebutkan namanya hati ini terasa sangat nyaman. Mengingat hari-hari bahagia kami membuatku senang. Melihat wajahnya membuatku tersenyum. Dan mengingat bahwa dia sudah tidak bersamaku membuatku sakit.

Sekarang kami hanya teman, sungguh sulit mempertahankan status teman bagiku. Dia yang pernah mengisi hari-hariku, membawakanku gelak tawa bahagia, dia yang membuatku khawatir padanya jika ada sesuatu menggangunya. Tak pernah kulupakan hari-hari bersamanya.

“Oppa! Kajja!” ucap Suhyun membuyarkan lamunanku lalu menggandeng tanganku.

~~~~~~~~~~~~~~~

@Restaurant

“Oppa! Kau mau pesan apa?” tanya Suhyun padaku yang sedari tadi diam.

“Samakan saja denganmu.” jawabku singkat.

Drrrrt Drrrt

Handphone-ku bergetar dan kulihat sebaris nama yang tertera.

‘Ahn Jieun calling’

Entah mengapa saat aku melihat nama itu tertera di Handphoneku, aku merasa sangat senang dan bersemangat.

“Yobosseyo?” ucapku kepada orang di seberang telepon sana.

“”Yobosseyo, Donghae-ssi…”

“Panggil aku ‘oppa’ ” potongku sebelum Jieun menyelesaikan kata-katanya.

“Aish~ ne, ne. Donghae OPPA!” tuturnya dengan sedikit penekanan di kata ‘oppa’ dan membuatku terkekeh pelan.

“Waeyo?” tanyaku.

“Bisakah kau mengantarkanku ke Bandara besok? Aku ada urusan di pulau Jeju.” jelasnya.

“Ah~ ne, keurae. Besok aku akan menjumputmu jam 10 di depan rumah. Jangan sampai lupa!” ujarku sedikit menyindirnya yang terkadang melupakan janjinya.

“Huh! Ne!” ucapnya ketus lalu menutup sambngan teleponnya.

Tuuut Tuuuut Tuuuut

“Siapa yang menghubungimu, oppa?” tanya Suhyun sambil menaruh pesanan kami di atas meja.

“Teman.” jawabku tidak memberitahukan siapa yang menghubungi tadi.

“Jieun eonnie, ya?” tebak Suhyun dan sedikit membuatku terkejut karena tebakannya benar.

“Bagaimana kau…?”

“Benarkan? Hehe, aku tahu kalian akrab.” tuturnya sambil tertawa pelan.

Sekilas tawanya seperti di paksakan atau hanya perasaanku saja?

“Jalmokkesseumnida~” ucapnya dan langsung menikmati makan siangnya.

__________________

Besoknya….

9 a.m_KST

Tiiiiin

“Ne! Tunggu sebentar!” pekik yeoja bernama Ahn Jieun dari dalam rumahnya.

Seperti biasa, suara besar (?) nya terdengar sampai keluar rumah. Apa tetangganya tidak merasa terganggu dengan suara lantangnya? Jujur, selama 7 tahun bersamanya aku tidak pernah memasuki rumahnya. Aku hanya mendengar kehidupan aslinya dari tetangga atau teman terdekatnya.

Ia tinggal sendiri. Ayah dan ibunya tinggal di pulau Jeju. Ah! Mungkinkah urusannya ke pulau Jeju adalah untuk menemui orang tuanya?

Klek

Suara pintu terbuka. Jieun keluar dengan tergesa-gesa dan membawa koper di tangannya.

“Jieun-ah, kau mau pergi kemana?” tanya seorang halmeoni di samping rumahnya.

“Ah! Annyeonghaseyo halmeoni! Aku akan pergi mengunjungungi orangtuaku di pulau Jeju.” jawabnya sambil menyenyumi halmeoni itu.

“Aah, berapa lama kau berada di sana? Aku akan merasa sangat kesepian di sini.” tutur halmeoni itu dengan muka memelas.

“Tenang saja, halmeoni. Aku hanya pergi selama 5 hari, setelah itu aku akan kembali ke sini dan membantumu membuat kue lagi.” sahutnya yang lagi-lagi sambil tersenyum.

Aish~ mengapa ia selalu tersenyum manis seperti itu?

“Baiklah, selamat menikmati liburanmu, jalga!”

“Ne~ Jalitsseo.”

Ah, mungkin karena itu ia disukai banyak orang.

“Hei!” sapanya membuyarkan lamunanku.

“Ah, cepat masuk.” tuturku.

Ia pun menaruh kopernya di jok belakang mobilku dan duduk di sampingku.

“Kajjaaaa!” ucapnya bersemangat membuatku terkekeh pelan.

“Urusan apa yang membuatmu pergi ke pulau Jeju?” tanyaku membuka bahan pembicaraan.

“Entahlah, appa dan eomma hanya memintaku mengunjungi mereka.” jawabnya sambil mengemut permen dari sakunya.

Dasar maniak permen.

“Bagaimana hubunganmu dengan Suhyun?” tanya Jieun dan membuatku sedikit terkejut.

“Bagaimana kau tahu tentang Suhyun?” tanyaku membalikkan pertanyaan.

“Tentu saja, Han Suhyun adalah juniorku semasa SMA. Apakah kau belum pernah mendengarnya?”

‘Ah, karena itu Suhyun kenal dengan Jieun.’

“Aku dan Suhyun baik-baik saja. Bagaimana denganmu?”

“Aku masih seperti dulu.” jawabnya sambil tersenyumm kepadaku.

“Kau juga harus mencari orang lain, Jieun-ah.” Jieun lagi-lagi tersenyum membalas ucapanku.

“Ne, aku akan mencoba mencarinya.” sahut Jieun pelan dan sedikit menyunggingkan senyuman, lebih tepatnya senyuman pahit.

Apa yang kau lakukan Donghae?! Kau menyakiti perasaannya! Mengapa kau harus mengatakan hal itu? Tak bisakah kau jujur pada dirimu sendiri?!

“Tapi mungkin akan sedikit sulit mencari orang itu, haha.”

Aku terdiam mendengar perkataannya. Mungkinkah dia masih mencintaiku?

^^^^^^^^^^^^^^^^

@Bandara

“Gamsahamnida sudah mengantarkanku.” tutur Jieun lalu membungkuk sopan.

“Ne, jalga. Sampaikan salamku pada orang tuamu.” ujarku dan membalas membungkuk dengan sopan.

“Ne.”

Jieun pun membalikkan badannya dan mulai berjalan menjauh. Ingin sekali aku memanggilnya dan mengatakan ‘Kembalilah…’ namun sepertinya kata-kata itu tidak akan pernah ku katakan.

5 days later…

Hari ini hari kepulangan Jieun. Apakah aku harus menelponnya? Aku ingin sekali mendengar suaranya. Setelah mengantarnya dari bandara, aku hanya mengiriminya pesan singkat untuk memastikan bahwa ia sudah sampai di sana dengan selamat.

“Oppa!” tutur Suhyun membuyarkan lamunanku.

“Sedang memikirkan apa?” tanyanya.

“Ah, tidak. Aku tidak memikirkan apa-apa.” jawabku sambil mengalihkan tatapanku.

“Apakah orangnya Jieun onnie?” tebaknya.

“Suhyun-ah, mengapa akhir-akhir ini kau…”

“Tidak apa-apa oppa, aku mengerti.” tuturnya memotong kata-kataku.

“Aku… selama ini aku selalu memperhatikan cara oppa memandang Jieun onnie, dan cara Jieun onnie memandang oppa. Cara kalian bertatapan masih sama seperti saat kalian masih bersama. Berbeda saat oppa menatapku, aku tahu oppa menyayangiku, namun hatimu sudah di tetapkan kepada satu orang, yaitu Jieun onnie.” ujarnya sambil tersenyum.

Aku makin mengerti caranya tersenyum. Dia berusaha tersenyum untuk memberiku semangat.

“Pergilah oppa.” tuturnya.

“Tapi… aku…”

“Tidak apa. Pergilah.”

“Terima kasih, Suhyun-ah.” ucapku sopan sambil membungkuk lalu pergi meninggalkannya.

“Huff.. dia pergi… Sekarang, siapa yang akan membayar makanan ini?” tuturnya pelan, namun masih terdengar di telingaku.

Aku pun berbalik mengahampiri dirinya dan menaruh beberapa uangku di sana.

“Eh? Kenapa oppa…?”

“Aku tahu hari ini kau tidak membawa uang, Suhyun-ah.” sahutku sambil mengedipkan sebelah mataku kepadanya. Lalu berlari keluar café.

*************

Ku naiki mobil sport milikku dan mengendarainya secepat mungkin. Aku berencana untuk mengungkapkan perasaanku yang sesungguhnya bahwa aku masih mencintainya dan tetap mencintainya.

Aku tidak akan melespakannya seperti dulu…

Lima belas menit berlalu dan aku sudah sampai di depan rumahnya. Kuketuk pintu kayu rumahnya.

Tok Tok Tok

“Tunggu sebentar!” ucap sang pemilik rumah.

Klek

“Jieun-ah.. Aku…”

“Ah! Donghae oppa! Kebetulan sekali! Tadinya aku ingin menghubungimu, tapi kau tidak menjawab telponku.” tuturnya memotong kata-kataku.

“Ini… kuharap kau bisa datang.” lanjutnya sambil memberikan secarik surat undangan.

“Apa ini?” tanyaku berusaha menyanggah dan berpura-pura tidak tahu bahwa surat itu adalah surat undangan pernikahan.

Aku tidak akan mempercayainya sebelum ia yang mengatakannya sendiri.

“Itu.. surat pernikahanku dengan Jiho. Kau tahu dia kan? Park Jiho, teman semasa kecilku. Appa dan eomma berencana menikahkanku dengannya. Pernikahan kami akan dilaksanankan 3 hari lagi. Karena itu, kuharap kau datang, oppa…” jelasnya lalu tersenyum kepadaku.

Entah kenapa kata-kata yang ingin kukatakan, tertahan di lidahku. Aku tidak dapat mengatakan apa-apa!

“Oppa… apa yang ingin kau katakana tadi?” tanyanya membuyarkan lamunanku.

“Ah.. tidak apa-apa. Se-selamat atas pernikahanmu! Semoga kau bahagia. Dan.. s-sepertinya aku harus pergi sekarang. Terima kasih telah mengundangku. Aku pergi dulu. Jalga, Jieun-ah.” tuturku lalu membungkuk sopan.

“Ah, ne. Gamsahamnida, oppa. Jalitsseo.” jawabnya dan membalas membungkuk sopan.

Kulangkahkan kakiku ke arah mobilku yang kuparkir di depan rumahnya. Kulihat pintu rumahnya sudah tertutup rapat. Aku pun menaiki mobil sport-ku.

“Ukh… sial!” ku pukul keras setir mobiku.

Tidak lama kemudian, air bening dari mataku membasahi pipiku. Mengapa aku mengatakan hal bodoh itu! Ini sama seperti aku membiarkannya pergi lagi! Mengapa aku begitu bodoh? Mengapa aku tidak mengatakan hal yang sebenarnya? Mengapa aku tidak bisa mengatakan bahwa aku masih mencintainya? Mengapa aku tidak di takdirkan untuk bersamanya?!

~~~~~~~~~~~~~~~~~

3 days later…

9 a.m_KST

Hari pernikahannya berlangsung hari ini. Dan aku masih bersembunyi di balik selimut yang membalut tubuhku.

“Uhh.” Aku berusaha bangun dari kekacauan ini.

3 hari berturut-turut aku tidak sadarkan diri. Bau alcohol dimana-mana. Pakaianku kusut, wajahku terlihat tirus sekarang. Mataku memerah.

Aish! Monster macam apa aku ini?!

“Akh!” ringisku saat kakiku tersandung botol minuman dan kepalau terbentur dinding.

Bruk

Kubuka mataku perlahan dan melihat sekeliling. Dimana aku? Mengapa semuanya berwarna putih? Mengapa ruangan ini sangat kosong?

Kulihat penampilanku sangat berbeda. Celana, kemeja, dan blazer putih yang kukenakan semakin membuatku kebingungan.

“Cahaya apa itu?” Kulihat secercah cahaya  datang dari utara.

Haruskah ku ikuti dari mana cahaya itu berasal?

Semakin dekat, cahaya itu semakin menyilaukan. Sangat sulit melihat ke depan.

“Jieun-ah?” tuturku saat melihat sumber cahaya itu berasal dari tubuh Jieun.

“Oppa! Annyeonghaseyo!” sapanya dengan senyum yang lembut.

“Annyeonghaseyo! Mengapa kau ada di sini? Tempat apa ini? Bagaimana degan perni…”

Kata-kataku terputus karena pada saat itu juga Jieun mencium lembut bibirku.

“Saranghaeyo, Donghae oppa!” tuturnya lalu pelahan menghilang bersama cahaya.

^^^^^^^^^

Drrrt Drrrt Drrrt

“Hmm?” ku terbangun dari mimpi aneh itu dan melirik Handphoneku yang sedari tadi berbunyi.

“Yobossaeyo?” jawabku.

“Yobossaeyo? Donghae-ssi. Ini aku, Park Jiho. Perlu kau tahu bahwa.. Jieun.. dia mengalami kecelakaan.”

Bruk

Handphone-ku terjatuh. Jieun kecelakaan? Bagaimana bisa?

“Jieun menolak pernikahannya, dia mengatakan bahwa ia masih mencintai seseorang dan tidak akan bisa melupakannya, orang itu.. adalah kau, Donghae. Dia pun berlari keluar dari gereja. Namun pada saat ingin menyeberangi jalan, sebuah truk menabraknya dan Jieun pun di larikan ke rumah sakit terdekat. Tapi sudah terlambat, nyawanya sudah tidak dapat tertolong. Masih terngiang di kepalaku saat dia memanggil-manggil nama kedua orang tuanya, lalu.. dia juga memanggil-manggil namamu.” Tutur Jiho dengan suara bergetar.

“Maukah kau menghadiri perkabungan besok?” tanyanya.

“Ya, aku pasti datang.”

“Terima kasih.” Ia pun menutup sambungan teleponnya.

Ku buang tubuhku ke sofa sambil mengacak rambutku. Aku masih tidak percaya dengan perkataan Jiho barusan.

Kecelakaan… Mimpi tadi.. Jieun…?

Sedetik kemudian kurasakan air mata mengalir membasahi pipiku.

Bodoh.. Kau sangat BODOH DONGHAE! Mengapa aku tidak hadir saat pernikahannya? Jika kau hadir, hal ini tidak akan terjadi! Lalu mimpi itu.. mengapa kau tidak menjawabnya! Kau tahu kau mencintainya kan?! Mengapa kau tidak menjawab perkataannya?! Mengapa kau menyia-nyiakan kesempatan untuk kedua kalinya?!

Ku pecahkan botol alcohol itu ke lantai dan ku goreskan pecahan itu ke tanganku. Aku tidak dapat berpikir jernih sekarang. Ku mengerang kesakitan karena hal bodoh yang kulakukan. Ini semua untuk melupakan semua hal-hal yang tidak ingin kuketahui hari ini.

Bruk

Lagi-lagi aku ambruk dengan keadaan yang memalukan.

“Oppa!”

“Apa yang kau lakukan?!”

Terdengar suara yeoja memanggilku. Apakah itu kau? Ahn Jieun…?

Jieun.. maafkan aku.. Namja bodoh sepertiku tidak pantas memliki hatimu. Tapi aku tetap mencintaimu! Walaupun kau tidak mengetahuinya, aku akan tetap mencintaimu. Ingin kukatakan kata-kata ini sambil mendekapmu di pelukanku. ‘Saranghaeyo, Jieun-ah.’

><><><><><><><><>

Hari perkabungan…

Semua di dominasi warna hitam. Para hadirin datang satu persatu dan mengelilingi makam Jieun.

Aku datang bersama Suhyun, Jiho, dan halmeoni tetangga sebelah rumah Jieun. Kemudian ayah dan ibu Jieun turut mengikuti dari belakang. Pendeta pun membacakan doa-doa kepada Jieun, dengan diikuti hadirin yang hadir.

Ku melirik ayah dan ibu Jieun, mereka pasti sangat terpukul. Seharusnya kemarin adalah hari yang berbahagia bagi mereka karena mereka dapat melihat anaknya menikah. Namun tidak di sangka-sangka keesokan harinya adalah hari yang paling menyedihkan dimana mereka kehilangan anak semata wayangnya.

Park Jiho, calon suami Jieun, yang berdiri di sampingku sekarang, terlihat sedang berusaha menahan air matanya. Aku sangat merasa bersalah kepadanya.

Suhyun, dia menyelamatkanku dari sikap hal bodoh yang kulakukan. Ya, aku hampir saja menyusul Jieun ke surga. Jika dia tidak datang, mungkin aku sudah menemui Jieun.

Halmeoni juga sangat terkejut saat aku memberitakan bahwa dia telah tiada. Jieun sudah ia anggap seperti cucunya sendiri.

Selesai perkabungan, para tamu yang datang pergi satu-persatu meninggalkan makam. Begitu pula ayah dan ibu Jieun, ibu Jieun tidak sanggup lagi menahan keadaannya yang semakin melemah karena semalaman menangis. Hal itu terlihat sekali dari wajahnya. Ia memakai kacamata hitam untuk menutupi matanya yang merah dan membengkak.

Sekarang hanya ada aku dan Suhyun.

Aku berlutut di depan batu nisan bertuliskan Ahn Jieun. Makamnya, tempat tubuhnya di baringkan namun tidak dengan jiwanya.

“Donghae oppa!” panggil suara yang sangat ku kenal.

“Kau memanggilku, Suhyun-ah?” tanyaku tidak yakin bahwa pemilik suara itu adalah Jieun.

“Tidak.” jawabnya sambil menggelengkan kepala.

“Jieun, Ahn Jieun. Aku tahu kau tidak akan mendengarku, tapi aku hanya ingin kau tahu bahwa aku mencintaimu dan akan selalu mencintaimu. Saranghaeyo, Jieun-ah.”

……::FIN::……

Huah! Akhirnya selesai juga ^^

Gimana adakah reader yang menangis? Aku harap ada hehe

Gamsahamnida, jangan lupa RCL

Advertisements

52 responses to “7 Years Of Love

  1. Jadi ini ya arti dari lagunya Kyuhyun yang 7 years of love itu? Keren ya? Keren banget. Itu lagu kesukaan aku lo? #nggak ada yang nanya.

  2. hwaaa…oppa,don’t cry….
    bner2 dapet feelnya smbil dnger lagu Kyu yg ini
    jdi mewek dech T____T

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s