Like A Happy Ending [Ellena Potion History] #1

 

Author: Kidneypea

Rating: T

Lenght: Chaptered

Genre: Romance, Angst, AU and (A Little Bit Fantasy)

Main Cast:

– Goo Hara (KARA) [PoV]

– Yong Junhyung (B2ST)

 

Cameo:

– Im Yoona (SNSD)

– Jessica Jung (SNSD)

 

“Orang lain mungkin dapat mengendalikan tubuh kita, namun tidak untuk perasaan kita. Tapi, apa yang kita lakukan secara fisik, akan berpengaruh pula pada perasaan kita. Itu sama artinya, orang lain dapat mengendalikan kita secara utuh—walaupun secara tidak langsung” -Kidneypea

(Hara PoV)

***

“Putri, sudah siap?” tanya Yoona dari balik pintu. Im Yoona—sebenarnya dia pelayan khusus yang dipekerjakan Ibu untukku, hanya saja aku menganggapnya sebagai sahabatku. Hey, sahabat bisa siapa saja bukan? Tapi, walaupun begitu, dia tetap saja memanggilku dengan embel-embel ‘Putri’.. Sungguh, aku muak akan hal itu!

“Sebentar lagi, Yoona~” jawabku. Sebentar lagi akan ada pesta! Pesta topeng yang akan diadakan di Istana, untuk merayakan ulang tahunku yang genap ke-20. Pesta ini aku yang menginginkannya, sebagai ganti karena aku tidak pernah keluar istana sama sekali! Itu benar, sungguh! Aku hanya bisa membayangkan asyiknya di luar sana, namun tak bisa berbuat apa-apa. Karena, penjagaan istana ini ketat sekali.

Aku menuruni anak tangga dengan mengenakan long dress ungu, dan rambut di cepol. Bersiaplah untuk terkejut! Aku ingin bermain-main dengan kalian.

***

Potongan kue-ku yang pertama diberi sambutan meriah oleh para tamu, dan pastinya, First cake-ku ini kutujukan untuk kedua orangtua-ku! Mereka segalanya. Mereka semua yang berada disini adalah tamu yang dipilihkan orangtua-ku, dan kalau mereka yang memilih.. aku bisa menebak kalau semua tamu di ballroom ini adalah bangsawan. Aku mengamati mereka-mereka yang bertopeng, namun pandanganku berhenti saat seorang pria bertopeng memberikan senyum indah kepadaku.. aku segera memalingkan kepala menuju kue-ku tadi.

Siapa pria itu? kuharap aku akan bertemu lagi dengannya..

Selang beberapa waktu, aku diberi instruksi untuk segera kembali ke kamar. Aku tahu, kedua orangtua-ku itu akan memberikan permainan untuk para tamu. Tujuan? Aku ingin berbaur, kalian bisa bayangkan kalau kau menjadi aku? Kesepian bukan? Tidak ada teman bukan? Aku bosan menjalani hidup hanya dengan mandi, makan, tidur, membaca atau paling-paling melukis.

Aku sampai dikamar-ku dan bergegas mengenakan cocktail dress berwarna kuning yang sudah kusiapkan sebelum ini. Setelah selesai, aku menggerai rambut keriting-ku dan meraih topeng warna serasi dengan dress yang kupakai kini. Topeng ini tidak menggunakan tangkai, tapi pita berwarna biru. Topeng ini juga memiliki mawar emas di salah satu sudutnya.

Aku kembali menuruni tangga, kali ini tangga yang berbeda. Kalau tadi tangga yang langsung menuju ballroom, kini tangga yang kuturuni menuju ruangan disebelah kanan ballroom. Kalau lewat sini, orang-orang akan mengira aku baru saja dari toilet—mengantisipasi agar para tamu tidak curiga.

Ketika aku membuka pintu menuju ballroom, untung saja tidak ada yang menatapku. Langsung saja aku berbaur dengan para tamu. Samar-samar aku mendengar seseorang bertanya kepada yang lain “Kau sedang mencari putri?” Huh, orang itu cukup bodoh ternyata. Aku tahu maksudnya bertanya seperti itu, yang menjawab ‘tidak’ pasti ia langsung mengira itu sang putri.

Seseorang mencolek bahuku, aku berbalik. “Kau mencari sang putri?” tanya wanita bertopeng nuansa merah dengan bulu-bulu panjang di salah satu sudutnya. Bodoh!

“Aku sedang mencarinya, cari saja yang terlihat mencurigakan.. jangan-jangan itu kau!” jawabku. Orang-orang disekitarku langsung menengok ke-arahnya. Dia terlihat reflek menggeleng dan melambaikan tangannya—mengisyaratkan bukan dialah orangnya.

“Kau gila! Aku bisa kena hukum! Oh, iya.. namamu siapa? Aku Jessica Jung dari kerajaan Zuri” tuturnya dengan seulas senyum.

“Aku… Im Yoona dari… ehm.. Canary, ya.. Canary” ucapku gugup, tidak mungkin aku mengatakan yang sebenarnya! Canary.. aku terpaksa menjawab negara kecil tetangga kerajaanku ini, kalau aku menjawab dari Xila.. kuyakin dia langsung menatapku tajam, belum lagi wajahnya terlihat memiliki raut antagonis.

“Canary? Berarti kau kenal dengan Pangeran Yong Junhyung!? Oh, God! Dia orangnya bagaimana?”

Ia semangat sekali sepertinya, tapi, sayangnya.. aku tidak kenal. Tunggu? Dia pangeran kan? Pasti dia juga diundang ke pesta ini. “Aku dilarang memberitahu siapapun, maaf. Ohya, sepertinya dia juga datang, temuilah” kataku.

“Aah, sayang sekali. Benarkah? Wuaah, hari ini beruntung sekali mendapat teman seperti dirimu! kudengar dia orangnya cukup misterius.. aku jadi penasaran. Kalau begitu, aku duluan yaa~” ucap Jessica sambil mengedipkan sebelah matanya dan berlalu. Oh! Aku baru sadar, sedari tadi aku berbincang dengan siapa! Salah satu dari Jung bersaudara! Dia Jessica yang kudengar-dengar memiliki sifat angkuh dan sombong. Begitukah yang namanya angkuh?

Ooh, mungkin karena dia tahu kalau semua orang disini adalah bangsawan, jadi ia tak ingin menurunkan pamornya dimata orang berkelas. Ehm, kalau tidak, mungkin dia itu tergila-gila dengan pangeran itu, lalu saat mendengar aku berasal dari sana dia langsung act like a sweet girl. Tapi, itu hanya tebakan. Hati orang siapa yang tahu?

Melepas dahaga kupikir ide yang cukup bagus. Aku pun menghampiri meja yang penuh dengan wine, lalu mengambilnya satu. Tak lama, seseorang mengambil satu gelas juga. Secara reflek, aku menoleh. Yang kudapat adalah seorang pria bertopeng hitam, dengan tubuh yang atletis, tinggi, dan tegap. Ia seperti sadar kalau aku perhatikan.. lalu, pria itu tersenyum. Sebuah senyuman yang mampu membuatku terjun ke samudra (?) aku pun membalas senyuman itu dengan senyum yang paling manis dalam sejarah senyuman..

Tapi tunggu.. Senyum itu.. rasanya familiar? Atau jangan-jangan ia adalah pria yang tersenyum tadi saat aku memotong kue!

Pria itu, dapat membuat hatiku menjadi taman bunga dalam seketika.. Love at the first sight?

Aku baru menyadari, sedari tadi aku memandangi pria itu. Aku mendadak sadar dari lamunanku, karena seseorang pria tengah menepuk pundaknya—kurasa itu temannya..

“Hey!” sapa orang itu.

“Ah, Kau!” Pria bertopeng hitam itu tersenyum menatap orang yang menepuk pundaknya. Lagi-lagi senyum itu. Aku hanya bisa menatap punggung mereka menjauh. Suaranya, ya.. suaranya sangat terekam jelas olehku.

Ya, Kini aku sendiri lagi..

15 menit mungkin sudah lewat, aku berniat untuk berkeliling.. namun pandanganku tertuju kepada seorang pria sedang bersandar disalah satu meja—sendirian. Cirinya menyerupai pria tadi.. namun, aku tak merasakan adanya perasaan gugup atau berdebar yang seperti saat aku melihat pria dengan senyum mengagumkan itu. Ada suatu hasrat ‘aku harus menghampirinya’ bukan—bukan aku yang ingin menghampirinya, tetapi suatu perasaan aneh.

Tak lama kemudian, aku berjalan..

Aku tak tau, keinginan entah berasal darimana. Kaki ini seolah berjalan sendiri kearah pria itu.

“Hai..” itu yang keluar dari mulutku. Hanya mulutku, tidak pernah terpikirkan olehku untuk menyapanya. Sebenarnya ada apa denganku?

Pria itu hanya menatapku sebentar, lalu tersenyum simpul. Ia hendak pergi dari hadapanku, entah apa yang merasuki-ku daritadi.. aku menahan lengannya.

Lampu perlahan-lahan diredupkan, musik dansa mulai mengalun. Kulihat beberapa pasangan sudah mulai berdansa, aku jadi ingin juga. Tapi, tidak lucu kalau aku berjoget ria sendiri.

Pria tadi tersenyum seraya mengulurkan tangannya, dengan ragu aku membalas uluran tangannya. Dia menarikku lembut menuju tengah ruangan dimana semua orang berdansa. Ia memeluk pinggangku, kamipun mulai berdansa mengikuti alunan musik. Aku sungguh beruntung, nenek-ku pernah mengajariku dansa sewaktu masih kecil—masih sangat terekam di otakku.

Dia cukup tinggi, untung saja aku memakai heels ber-hak 9cm. Jadi, tinggiku lumayan hampir menyamainya. Baru kusadari, ternyata wajah kami sangat dekat, sampai-sampai aku bisa merasakan deru napasnya.

Apakah ini pria yang sama dengan yang sebelumnya? Aku mulai bimbang. Kostum yang ia kenakan memang persis seperti yang terekam diotakku.. tapi..

“Aww..” aku meringis kesakitan akibat tersandung. Hal ini membuatku tersadar dari lamunanku.. Pria yang tadi berdansa denganku merunduk—mengambil sesuatu yang terjatuh mungkin.

Ia menyodorkan sesuatu—sebuah topeng—itu topengku! Topeng emas dengan mawar di salah satu sudut. Jemariku kini menelusuri wajahku.. Ya, bisa dibilang topengku terlepas..

Identitasku terbongkar.

Tidak ada senyum yang terpancar diwajahnya.. Apakah ini benar pria yang tadi? dengan lembut ia menarik tanganku menuju singgasana Ayah dan Ibu. Dari jauh—aku yakin, mereka melihat-ku sedang diseret oleh pria ini.

Ia membungkuk dihadapan orangtua-ku.

“Saya telah membawa kembali putri anda” katanya dengan suara khasnya. Suaranya—yang saat itu membuatku yakin kalau pria ini bukanlah pria yang tadi. Pria itu menatap orangtua-ku. Kini, orangtua-ku dengan murahnya memberikan senyum.

Pria itu melepas topengnya.. lalu, tersenyum kearahku. “Aku Yong Junhyung, Canary”

<DEG!>

Diakah Yong Junhyung yang tadi dibicarakan Jessica?

Alunan musik berhenti seketika, membuat seluruh orang yang sedang berdansa bingung dan bertanya-tanya. Namun, mereka melihat kami di singgasana. Mengetahui bahwa aku telah ditemukan.

“Kurasa, kita harus mencari tempat untuk berbincang” sahut Ibu-ku, dan diberi anggukan oleh Junhyung. Aku memutar bola mata-ku.

Aku mengedarkan pandanganku—melihat satu-persatu tamu yang hadir.. tetapi, pandanganku terhenti saat melihat seseorang yang memakai kostum serupa dengan Junhyung, ia sedang mengobrol dengan temannya tadi—dia! Dia pria itu! Pria yang membuat jantungku berdegup kencang! dia melihatku! Dan, lagi-lagi ia tersenyum, sama seperti tadi.

Cukup! Hal itu membuatku semakin sakit, semakin menyesal mengapa aku ditemukan oleh orang yang tidak kuharapkan sama sekali. Hatiku hancur seketika..

Tidak, aku ingin menghampirinya! Aku ingin kenal dengan dia lebih jauh. Tanpa memperdulikan Junhyung dan orangtua-ku, aku bergegas kearahnya..

Tiba-tiba 2 orang penjaga sudah menghalangi jalanku.

“Putri, maaf tapi anda harus ikut dengan Yang Mulia Ratu” ujar salah satu penjaga. Cih! Aku tak peduli, kembali kutatap wajah pria bertopeng hitam itu, ia tampak sedikit terkejut. dengan cepat aku menyingkir dari kepungan kedua penjaga tersebut.

Aku lolos dengan mudahnya.. aku berlari kearahnya, sedikit lagi! Kini aku hanya berjarak kurang lebih 2 meter dengannya..

<SRIINGG!>

Dua buah pedang bersilang dihadapanku. Aku tak bisa berkutik. Rasanya aku ingin meneriaki nama pria itu—jika aku tahu. Sayangnya, tidak. Kedua lenganku sudah dicengkram seseorang yang kuyakin 2orang penjaga yang lain.

Mereka menarikku dengan kasar kembali menuju singgasana, dimana Junhyung dan kedua orangtua-ku menungguku, menyaksikan aku seperti ini. Aku meronta hebat dari cengkraman ini, tapi tidak bisa, kekuatanku tidak sebanding dengan mereka.

Aku merasakan bulir-bulir air hangat yang mengalir di pipiku. Air mataku tengah mengalir…

Samar-samar aku melihat ia ingin berlari kearahku, namun ditahan oleh temannya. Air mataku semakin deras.. sakit… rasanya aku tak sanggup untuk bernapas..

Tuhan, mengapa kau memberikan perasaan istimewa ini kepadaku untuknya bila akan jadi seperti ini…

*** To Be Continued ***

Note:

nih, saya sodorin (?) historynya dulu. masalah fact.. kalo dipikir2 mending pas udah mau ending aja deh. kayaknya, gabakalan bisa post cepet2 untuk MFaG.. bisa ngepost itu paling weekend doang.

siders? kalo dipikir2 itu hak mereka sih mau komen. terserah. yang saya fokusin sekarang adalah orang yang nikmatin. kalo jelek, bilang ya.. jangan dipendem entar jerawatan.

Advertisements

25 responses to “Like A Happy Ending [Ellena Potion History] #1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s