[Freelance] Under The Rain

Title: Under The Rain
Author: Qey.yeonSone
Cast: Park Jungsoo a.k.a Leeteuk (super junior), Kim Taeyeon (snsd),
Lee Sunny (snsd)
Genre: Romance
Length: Oneshoot
Rating: PG 15
Disclaimer: all is mine except the cast
Point of View: All is Leeteuk’s Pov

—*—

Leeteuk POV

“Oppa, kita putus saja.”

Aku menatap yeoja yang kini ada di depanku dengan tatapan tak percaya.
Wae? Putus katanya? Apa dia sudah tidak waras?

“Hajiman Sunny, waegurae? Kenapa mendadak seperti ini? Apa aku
bersalah denganmu, atau…” tanyaku bertubi-tubi. Setengahmya ingin
menutupi rasa gusarku.

“Err… mollayo Oppa. Aku rasa… kita sudah tidak cocok.”

“Chakaman! Jangan bilang kau menyukai namja lain?” selidikku.

Sunny menunduk. Tampak gelisah.

“Lee Sunny?”

“N… ne Oppa. Sebenarnya aku menyukai namja lain.”

—*—

Untuk kesekian kalinya aku mengacak rambutku frustasi. Aku tidak
percaya seorang Lee Sunny yang kukenal sebagai gadis manis bisa
sekejam itu padaku.

Aku menambah kecepatan mobilku. Namun, lama kelamaan mobilku semakin
melambat hingga akhirnya berhenti sama sekali.

“Sial! Bensinnya habis!” aku mengumpat kesal.

Aku mengedarkan pandanganku ke sekelilingku. Rupanya belum jauh dari
kantorku. Masih ada di halte dekat kantorku.
Aku keluar mobil. Tapi sebenarnya bingung apa yang mau kulakukan
walaupun aku keluar mobil -___-.

Tes…tes…tes… Aku mendongkak. Hujan. Sial.

Aku mengusap wajahku yang sudah basah kuyup. Lantas menggaruk kepalaku.

Apa yang harus kulakukan? -____-’a

“Ada yang bisa saya bantu, Oppa?”

Aku tersentak lalu menoleh menatap yeoja asing yang menatapku sambil
tersenyum. Aigoo~ dia sangat imut. Bahkan lebih imut dari Sunny. Ia
memakai hoodie berwarna putih, dan juga memakai rok berwarna senada.
Tangannya menenteng payung berwarna transparan.

“Eung~ Oppa. Apa ada yang bisa kubantu?” ulangnya, yang membuatku sadar.

“Eh? Sebenarnya mobilku kehabisan bensin.” aku menggaruk kepalaku.

Dia mengangguk-anggukkan kepala. Bibirnya sedikit mengerucut. Aigoo~
manisnya >.<

“Kau mau kuantar ke Pom *?* bensin terdekat, Oppa? Lihatlah, kau sudah
basah kuyup.” kekehnya.

“Oh, baiklah. Kamsahamnida.” aku membungkuk.

Ia balas mengangguk lalu merapat ke arahku untuk memayungi kepalaku.

—*—

Berkat dia. Kini aku bisa menghidupkan kembali mesin mobilku. Berkat
dia, kini aku bisa pulang.

Gomawo, berkat kau.

Masih kupandangi dia yang menjauh. Ia lalu duduk di halte. Memandang
hujan, memainkan payungnya, mengerucutkan bibirnya dengan lucu,
mengayun-ayunkan kakinya. Entah kenapa ada suatu hal yang menarikku
untuk mengamatinya. Seakan setiap gerakan yang ia perbuat adalah suatu
tontonan yang sangat menarik.

—*—

Hari ini aku tidak membawa mobil. Karena entahlah, aku tidak terlalu
bersemangat hari ini. Mungkin karena kesialan dengan mobilku kemarin
membuatku malas untuk membawanya.

Kini aku sedang membereskan barang-barangku, bersiap untuk pulang.

Aku berjalan menuju halte.
Halte dimana kemarin aku bertemu dengan yeoja itu. Yeoja misterius
yang menarik. Apa hari ini aku akan bertemu dengannya lagi ya? Semoga
saja.

Tes…tes…tes… Aish, hujan. Kenapa akhir-akhir ini sering sekali hujan?
Aku berlari kecil menuju halte yang tinggal beberapa jengkal dari
tempatku sebelumnya.

Mataku langsung tertancap pada seorang yeoja yang berdiri di sana.
Yeoja itu. Ya! Itu yeoja kemarin.

Ia tengah berdiri di halte sambil menenteng payung transparannya.
Matanya menerawang ke atas langit. Menatap rinai hujan yang mulai
deras. Di teliganya terpasang earphone, menandakan bahwa ia sedang
mendengarkan alunan musik. Ditandai dengan anggukkan kepalanya yang
nampak sangat menikmati musik yang hanya ia dengar sendiri itu.

Aku duduk di bangku halte. Tak jauh dari yeoja itu. Dia tidak
menyadari kehadiranku sama sekali.

Entah mengapa, mengamatinya merupakan hal yang sangat menyenangkan
saat ini. Mataku sedari tadi tidak lepas dari sosoknya.

Bibir kecilnya sesekali ia menyenandungkan sesuatu. Matanya pun
sesekali terpejam, terlihat sangat menikmati.

Entah sudah berapa bus yang berhenti dan lewat begitu saja. Namun
gadis itu tidak mengacuhkannya. Akupun sama, karena ketertarikanku
dengannya membuatku ingin tinggal dan terus mengamatinya.

—*—

Sudah beberapa hari ini, aku memilih berangkat dan pulang kantor
dengan menaiki bus. Entahlah, aku selalu berharap mendapati yeoja
misterius itu sepulang kerja. Wajah imutnya selalu membuatku seakan
lupa dengan rasa lelahku.

Mengamatinya adalah hobby baruku saat ini. Mengamati tanpa berani
menyapanya. Ia pun tidak pernah menyapaku lagi. Mungkin sudah lupa
dengan wajahku.

Aku pun mulai tahu kebiasaannya. Dia selalu membawa payung berwarna
transparan, dia sering sekali mengerucutkan bibirnya. Dan ia datang ke
halte setiap kali hujan datang. Itu pasti. Saat hari cerah tiba, ia
tidak pernah muncul.

Entah apa yang ia selalu tunggu di halte. Dan entah apa yang ia lakukan disana.

Aku yang tidak pernah percaya akan cinta pada pandangan pertama. Kini
agaknya mulai memparcayainya. Karena aku kini merasakan itu.

—*—

“Jungsoo, umma mau bicara.”

Kalimat dan nada bicara umma yang terkesan serius membuatku
menghentikan pandanganku dari laptopku sejenak.

“Waeyo umma?” tanyaku penasaran. Aku sedikit terkesiap menyadari bahwa
appa sudah ada di sebelah umma. Aku merasakan ada firasat buruk
disini.

“Umma rasa. Kau sudah saatnya untuk menikah. Dan…umma sudah
menjodohkanmu dengan seseorang.”

“Mwoya??”
ternyata memang tidak beres.

“Appa mohon Jungsoo, Appa tahu ini berat bagimu. Hajiman, yeoja ini
berbeda. Dia cantik, baik, pintar, dan sangat berbakti kepada orang
tua. Jebal Jungsoo, jangan buat Appa dan Umma-mu malu.” kali ini Appa
yang bicara.

Aku langsung teringat dengan yeoja misterius itu.
“Hajiman…aku sudah mencintai orang lain, Appa.” sangkalku.

“Nugu? Lee Sunny itu? Ani, ani! Kau tidak boleh menikah dengannya.
Sampai mati pun umma tidak akan merestui kalian berdua!!”

“Tapi…”

“Tidak ada tapi-tapian! Seminggu lagi kau harus menemui keluarga
mereka! Kita bicarakan pernikahan!”

Mwo?? Pernikahan? Aish, ottokhae? Kenapa bisa begini? Padahal yeoja
yang kumaksud bukan Sunny!!!

—*—

Kuputuskan hari ini, aku akan menemui yeoja misterius itu untuk
berterus terang. Aku ingin mengatakan perasaanku yang sebenarnya
padanya. Meski ini aneh, karena pada dasarnya kami hanya pernah
bercakap-cakap satu kali itupun hanya percakapan yang tidak penting
sama sekali.

Tapi aku tidak mau menyesal nantinya. Aku tidak mau hidup dengan orang
yang tidak kucintai sama sekali.

—*—

Aku melangkah ke arah halte dengan gusar. Setibanya disana, kucari
sosok yang sangat familiar dimataku. Tapi… nihil, tidak ada.

Ah, mungkin aku terlalu cepat datang. Kuputuskan untuk menunggu.

Beberapa jam kemudian…

Entah sudah berapa jam aku menunggu yeoja misterius itu. Tapi sosok
cantik yang kutunggu-tunggu tak juga muncul.

Aku mengelap peluh diwajahku. Hari ini cukup panas. Tunggu dulu,
panas? Itu berarti dia tidak kemari. Aish, Leeteuk sejak kapan kau
menjadi orang bodoh seperti ini??

Aku melangkah lunglai ke arah pintu bus. Gwenchana Leeteuk! Masih ada
6 hari lagi untuk menyatakan perasaanmu. Fighting!

—*—

6 hari kemudian… *cepet amat yak? xD*

Besok, ya besok adalah hari dimana pertemuan antara dua keluarga
dengan keluarga teman Appa untuk membicarakan pernikahanku.

Namun, selama 6 hari ini aku belum juga menemui yeoja itu. Hujan tidak
turun seperti yang aku harapkan. Aku selalu menunggunya dengan sabar
hingga sore hari tiba. Tapi yeoja itu… tidak pernah datang.

Galau. Kata yang sangat pas untuk hatiku saat ini adalah galau.
Bagaimana tidak?? Aku akan dijodohkan dengan yeoja yang tidak kukenal
sama sekali. Dan sebenarnya sudah ada yeoja lain yang sudah menguasai
hatiku.

Ini hari keenam aku menunggu di halte dengan sisa kesabaran yang aku
punya. Sangat menyedihkan.

Aku mendongkak ke langit. Menatap pilu semburat jingga kemerahan yang
tersirat diatas sana. Beberapa hari ini sudah memasuki musim panas.
Musim yang biasanya menjadi musim favoritku, kini menjadi musim petaka
bagiku.

Bus berwarna hijau mendesis berhenti di depanku. Aku berusaha bangkit.
Lantas dengan lunglai memasuki bus itu. Untuk terakhir kalinya aku
menoleh, berharap yeoja itu datang dengan senyum manisnya. Tapi
rupanya itu hanya sebatas khayalanku belaka.

—*—

Keesokan harinya, pada malam perjodohan…

“Turunlah. Mereka sudah tiba.” bisik Appa sambil membuka pintu.

Aku mengangguk lemah. Sepertinya aku harus menyerah kali ini. Menyerah
meninggalkan yeoja impianku. Dan berharap bisa mencintai calon istriku
yang dijodohkan denganku.

Aku merapikan jas berwarna abu-abu yang sudah melekat di badanku. Lalu
turun ke bawah untuk menemui keluarga teman Appa.

—*—

Seseorang yeoja berambut disanggul ke atas tampak duduk memunggungiku.
Dari belakang dia terlihat cantik *?*. Tapi secantik apapun dia tetap
tidak akan secantik yeoja misterius itu. Yeoja itu diapit kedua pasang
suami-istri yang juga memunggungiku.

Appa dan umma berdiri saat melihatku. Begitupun teman Appa dan Umma
juga yeoja itu. Aku langsung membungkuk memberi salam.

“Annyeong ahjumma, ahjussi.”

“Annyeong Jungsoo-ssi.” balas mereka.

“Kenalkan Jungsoo. Ini Kim Taeyeon. Putri Tuan dan Nyonya Kim.” ujar Umma.

Aku menoleh ke arah gadis bernama Kim Taeyeon itu. Mataku terasa
langsung membulat. Dadaku berdetak lebih cepat dari semestinya. Aigo,
aigo. Siapa ini? Bukankah ini yeoja itu? Yeoja misterius itu.

Yeoja yang ternyata bernama Kim Taeyeon itu pun terlihat sama
terkejutnya denganku. Ia menatapku bingung.

Belum sempat aku mengatasi keterkejutanku, appa sudah berujar.

“Duduklah Jungsoo. Mau sampai kapan kau mengagumi kecantikan Taeyeon, huh?”

Sontak perkataan appa mengundang gelak tawa dari orang-orang yang ada
di situ. Aish, aku yakin mukaku sudah merah menyaingi kepiting rebus
-___-

Kutatap Taeyeon. Ia terlihat sama malunya denganku. Dia menunduk
menutupi wajah merahnya.

Aku duduk di sebelah umma dan appa. Kutatap wajah familiar yang 7 hari
tidak kulihat itu. Baru kusadari malam ini dia tampak sangat cantik.
Wajah imutnya terlihat lebih dewasa malam ini. Kini bibirku mengukir
sebuah senyuman. Sadar akan senyumanku, Taeyeon membalas senyumanku.
Ya tuhan… Manisnya. Aku bisa mati saat ini juga karena jantungku
berhenti saat aku melihat senyumnya.

Rupanya seperti ini. Rupanya seperti ini takdirku. Aku kini percaya
bahwa segala sesuatu harus melalui sebuah proses, dan akhirnya aku
mendapatkan kebahagiaan itu walaupun melalui sebuah proses. Sebuah
proses yang sudah Tuhan rencanakan dengan sangat rapi. Semula aku yang
mungkin akan marah pada Tuhan, tapi kini aku harus memanjatkan rasa
terimakasih pada-Nya. Karena rupanya dia menyimpan sebuah hadiah manis
di akhir cerita ini. Terima kasih Tuhan… *harusnya terima kasih
author!!*

-END of Under The Rain-

Ini FF kedua setelah Fragile Eternity. coment ya?

Advertisements

26 responses to “[Freelance] Under The Rain

  1. sukaaaaa…
    entah kenapa aku suka banget sama konsep cewek imut yg slalu bawa-bawa payung transparan waktu ujan! *kalo bawanya pas panas sih disangka cewe gila*
    tapi stuju sama komen-komen di atasku..
    ceritanya terlalu singkat dan ketebak endingnya .___.v
    tapi overall, aku sukaa XD

  2. singkat bgt.
    konfliknya juga kurang nih sepertinya.
    padahal ceritanya bagus.
    kalo gitu dibuat aja Taeyon POV.
    hehehe

  3. kirain cewek misterius itu hantu atau halusinasi leeteuk semata,,
    tapi ternyata calon pendamping hidup nya.,,,
    semoga leader suju dan snsd ini beneran ya,,,,
    hehe,,,peace><

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s