[Freelance] Please, be my fiancee

Please, Be My Fiancée
Main cast : Kim Ryeowook, Aila Salsabila (Choi Hae Rin)
Genre : Romance, family, friendship,
Rating : PG-13
Support cast : Member Super Junior, Ciera Abigail

Ryeowook menatap ujung sepatunya lekat di depan pintu dorm. Masih terngiang jelas ucapan-ucapan yang membuat pikirannya kacau. Dia menegakkan kepalanya kembali sebelum akhirnya memutuskan untuk membuka pintu dorm yang ia tinggali bersama dengan member super junior lainnya.
“Kau sudah pulang. Bagaimana keadaan appa dan umma-mu?” sambut Yesung saat melihat Wookie –begitulah dia disapa– memasuki dorm. “Ugh, mereka dalam keadaan sehat, Hyung,” Wookie sedikit tersentak karena masih larut dalam pikirannya. Yesung hanya mengangguk, sebelum berlalu. Wookie menatap Yesung sampai hilang di balik pintu.
Wookie melongokkan kepalanya ke arah pintu masuk saat dia menyadari Yesung membawa dua mug tadi. “Ah, rupanya Aby sedang berkunjung,” batin Wookie ketika dia melihat sepasang wedges. Dia melangkahkan kaki menuju kamar untuk beristirahat.
Ketika melewati ruang santai kakinya terhenti, Wookie memandang Aby sejenak. Dia menggembungkan pipinya kemudian melangkah lagi. Baru beberapa langkah, wajah Wookie mencerah. Dia menjentikkan jarinya dan berbalik menuju ruang santai.
“Hyung, aku pinjam Aby sebentar,” Wookie menarik tangan Aby untuk membantunya berdiri. Yesung dan Aby menatap heran pada Wookie. “YA! Kim Ryeowook mau kau kemanakan gadisku?” ujar Yesung kesal. “Hanya sebentar, Hyung,” teriak Wookie yang terus berjalan cepat menarik Aby.
#####
“Bagaimana Aby?” tanya Wookie pada gadis di depannya. Aby memegang dagunya untuk berpikir. “Bukankah Oppa banyak mengenal gadis atau artis cantik. Kenapa malah meminta tolong padaku?” Aby menunjukkan wajah keheranan.
“Aku malas kalau dia seorang artis karena akan menimbulkan gossip yang lebih besar. Ayolah Aby, tolonglah aku,” Wookie menangkupkan kedua tangan di depan dadanya.
“Tapi Oppa, aku mengambil kelas internasional di Seoul University. Jadi kebanyakan temanku adalah orang asing atau blasteran,” sanggah Aby. “Itu tak masalah, asalkan dia bisa berbicara dengan bahasa korea,” jawab Wookie sambil nyengir. Aby kembali berpikir. “Ah, kenapa aku bisa lupa dengan sahabat baikku,” Aby berkata girang saat ide terlintas di kepalanya.
“Namanya Aila Salsabila, sedangkan nama koreanya Choi Hae Rin,” Aby menunjukkan sebuah foto dari ponsel miliknya. Wookie mengambil ponsel dari tangan Aby lalu mengamati foto gadis yang dipanggil ‘Aila Salsabila’ tersebut. “Dia manis,” komentar Wookie.
“Besok akan kukenalkan Oppa padanya. Datanglah ke kampus jam 9, aku tidak ada kuliah,” ucap Aby girang. Wookie mengangguk mantap dan tersenyum lebar.
#####
“CIERA ABIGAIL! What on earth are you trying to do?” bentak seorang gadis yang sedari tadi tanganya ditarik oleh Aby. “Oh come on, Aila. I wanna acquaint you with someone,” sanggah Aby yang masih menggenggam erat pergelangan tangan Aila.
“Oh please, Dear. I have some assignment to do,” melas Aila supaya Aby melepaskannya. “Huh, it’s must be about your math Olympiad, isn’t it?” Aby mengerucutkan bibirnya. “Of course, yes. Aiden must be waiting for me,” jawab Aila.
“Then you can send him message. Tell him that you’ll come late. Please, Sweetheart,” mohon Aby dengan menatap Aila lekat. Gadis yang ditatap hanya mendengus sebal dan mengelus keningnya, namun sejurus kemudian dia mengeluarkan android miliknya dan mulai mengetik sms. “Thank you,” jerit Aby sembari memeluk sahabatnya tersebut.
Aila dan Aby duduk di gazebo taman kampus, tengah menunggu seseorang. “Jadi, siapa yang ingin kau kenalkan padaku?” tanya Aila. “It’s a surprise,” jawab Aby cuek. Dering ponsel Aila memecah berdebatan dua sahabat tersebut. Aila melihat layar ponselnya dan terbaca sebuah nama ‘Aiden Alain’. “I pick up my phone,” Aila meminta izin pada Aby.
Aila masih terfokus dengan pembicaraannya di telepon sehingga tidak menyadari kehadiran seseorang. Dia menoleh kembali pada Aby dan mendapati seorang lelaki sudah duduk di samping Aby. Lelaki itu tampak serasi dengan topi fedora dan jas semi formal yang dikenakannya.
“So, this is someone whom I acquaint to you,” Aby mengawali perkenalan. “Hi. I’m Kim Ryeowook,” Wookie mengulurkan tangannya. Aila menyambut uluran tangan Wooki dan menjabatnya. “Hi, I’m Aila Salsabila. Nice to meet you,” balas Aila sambil tersenyum.
“You are one of Super Junior members, aren’t you?” ramah Aila. Wookie hanya mengangguk dan membalas senyum Aila. “Kau tampak lebih cantik daripada di foto,” sanjung Wookie tulus. Aila kembali tersenyum, “Terima kasih, Ryeowook-ssi,”.
“So, can I leave now?” tanya Aila pada Aby. Aby menyilangkan kedua tangannya di depan dada, “Tentu saja tidak. Tolong kau temani Wookie Oppa karena aku ada janji,”. Aila membulatkan matanya, “Tapi –,”. “Maaf aku tidak menerima penolakan. Aku pergi dulu,” Aby segera beranjak dari duduknya.
#####
“Ehm,” Wookie berdeham untuk mengurangi kecanggungan. “Where do you come from, Aila-ssi?” tanya Wookie. Aila mendongakkan kepalanya yang tadi menunduk, “Oh, I come from Singapure,”. “Kau sendirian di Korea?” tanya Wookie lanjut. Aila tersenyum, “Ya, dalam satu tahun ini. Papa dan Mama sudah kembali ke Singapure satu tahun lalu karena tugas Papa di Korea telah selesai,”. “Kenapa kau tidak ikut kembali?” Wookie memamerkan wajah penasarannya. “Aku ingin mengambil magister di Korea, di salah satu universitas terbaik dunia. Karena itu aku masih bertahan di Korea,”.
Semakin lama perbincangan mereka, Wookie semakin mengagumi sosok gadis di hadapnya tersebut. Gadis manis, mandiri, dan cerdas. Setelah satu jam habis untuk bercerita ringan, Aila mulai ingat janjinya.
“Wookie Oppa, I’ve to go now. I’m really sorry cause I can’t accompany you any longer,” Aila merasa agak tidak enak. Wookie sedikit kecewa karena waktu bertemu Aila hanya sebentar, namun dia tidak mungkin merengek pada Aila agar menemaninya lebih lama lagi. Wookie hanya mengangguk pasrah. “OK. Terima kasih karena mau menemaniku,”.
#####
Semenjak pertemuan kala itu, Wookie jadi sering menghubungi Aila. Hanya sekedar menanyakan kesibukkannya atau hal-hal kecil lainnya seperti mengingatkan makan dan mengucapkan selamat pagi. Ryewook juga sering mengunjungi Aila di kampusnya dan mencari alasan untuk sekedar memperoleh waktu bersama gadis tersebut.
Bukannya keberatan dengan semua perhatian yang Ryewook berikan, tapi Aila hanya merasa risih saja. Dunianya dengan dunia Ryeowook jauh berbeda. Jika Ryewook menggeluti dunia entertainment, sedangkan dia menggilai dunia sains. Dua dunia yang sangat jarang bersinggungan.
Walaupun begitu, Aila tetap membalas semua pesan atau mengangkat telephon dari Ryewook. Dia juga menerima ajakkan Ryewook untuk sekedar makan siang atau menghabiskan waktu bersama. Aila hanya berusaha untuk menghargai dan menjaga perasaan orang lain saja, tidak lebih.
Aila bukan gadis bodoh, dia tahu pasti ada sesuatu di balik setiap perhatian yang Ryewook berikan. Tapi, Aila hanya memilih diam dan membiarkannya mengalir. Dia tidak ingin terlalu ambil pusing karena persiapan olimpiade matematikanya sudah menyita semua perhatian dan pikirannya.
####
Aila membukakan pintu apartemennya ketika dering bel membuyarkan lamunannya. Dia tampak terkejut melihat seseorang yang telah berdiri di ambang pintu. “Wookie Oppa, ayo masuk,” ucap Aila.
Ryeowook telah duduk di ruang tamu apartemen Aila sembari mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan. Dia mengalihkan pandangannya ketika Aila sudah tiba di hadapnya dengan dua cangkir teh lengkap dengan camilannya. “Silakan, Oppa,” Aila menawarkannya pada Wookie.
Aila memposisikan dirinya duduk di sofa sebelah Wookie. “Kenapa tidak memberi tahu jika akan datang?” tanya Aila. Ryeowook meletakkan cangkir teh yang baru diminumnya, “Aku hanya kebetulan ingin mampir,”.
“Kau sedang apa, Aila,”. Aila mengangkat wajahnya yang dari tadi tertunduk, tampak gurat-gurat kelelahan di wajahnya. “Ah, aku hanya sedang menonton,” jawab Aila. Memang benar Aila sedang menonton film sebelum Ryeowook datang, namun pikirannya bukan tertuju pada film yang ditontonnya melainkan pada seabrek rumus, teorema, dan aksioma yang harus dipelajarinya.
“Kau sedang ada masalah?” Ryeowook membaca ekspresi Aila. Aila mencoba tersenyum untuk menjawabnya walaupun sebenarnya dia memang punya sesuatu yang mengganjal. “Senyummu palsu,” ucap Ryeowook.
Ryeowook bangkit dari duduknya dan berpindah duduk di sebelah Aila. “Aku tak akan memaksamu untuk bercerita. Semoga ini bisa membantu meringankan bebanmu,” Ryeowook menjulurkan tangannya dan memeluk Aila.
Aila terkejut dengan perlakuan Wookie, tapi dia hanya bisa diam saja. Aila memejamkan matanya dan mencoba menikmati pelukan dari Ryeowook. Menyandarkan sejenak kepalanya pada pundak lelaki tersebut. Dan dia memang merasa bebannya berkurang.
Dahulu ketika orang tuanya masih di Korea, dia akan langsung berlari memeluk mamanya saat pikirannya galau. Sekarang, tidak ada mama di sampingnya. Dia harus bertahan sendiri. Meskipun sebenarnya dia bisa saja pergi ke tempat Aby, tetapi raganya sudah lelah saat itu.
Ryeowook sendiri kaget dengan keberaniannya. Tapi ketika dirasakannya Aila yang hanya diam dan menyandarkan kepalanya di pundaknya, dia tidak bisa berbuat apa-apa kecuali mempererat pelukannya. Dihirupnya wangi parfum Aila yang menenangkan, menurutnya. Entah mengapa, tapi hatinya merasa tenang ketika memeluk gadis tersebut.
“Aku hanya jenuh dengan persiapan olimpiadeku, Oppa. Terima kasih atas pelukkannya,” ucap Aila yang masih bergeming di posisinya. Ryeowook membelai kepala Aila lembut dan tersenyum. “Kau pasti bisa melaluinya,” ucap Ryeowook.
#####
Aila menyenggol lengan Aby yang duduk disebelahnya yang sedang menyesap juz. Aby menolehkan kepalanya menghadap Aila, “Why?”. Aby masih mengemut sedotan di bibirnya. “Ish, kau ini,” Aila hanya memicingkan matanya.
“Ada yang aku ingin tanyakan padamu,” tanya Aila. Aby yang kembali menyedot minumannya berlaku cuek. “Katakanlah,” jawab Aby singkat. “Apa kau sedang berusaha mendekatkanku dengan Wookie-Oppa?” tanya Aila.
“Uhuk,” Aby tersedak minumannya sendiri. Aila tampak menghela napas, “Sudah kuduga,”. Aby baru akan memberikan sanggahan, tapi Aila sudah memotongnya. “Kau tau kan, kalau aku sama sekali tidak tertarik dengan seorang entertainer?” oceh Aila.
Aby hanya mendengus mendengar pertanyaan sahabatnya. Sebenarnya dia tahu itu, tapi dia tidak tahu siapa lagi teman yang bisa dikenalkannya pada Ryeowook. “Ya, aku sangat tahu. Kau menyukai orang-orang seperti Aiden, seorang dengan otak brilliant,”.
“Lalu, kenapa kau mengenalkanku dengan Wookie Oppa? Pasti ada sesuatu?” selidik Aila. Mata Aby membulat, bagaimana sahabatnya ini bisa menebak dengan benar. “Err, sudahlah biarkan Wookie Oppa saja yang memberi tahumu,” jawab Aby enteng.
“Oh my, kenapa orang itu berumur panjang?” Aila menepuk jidatnya ketika menyadari kehadiran seseorang dari kejauhan. Dia kemudian bersegera membereskan buku-bukunya yang berserakan di meja taman di hadapnya. “Aku ada janji dengan Aiden untuk mendiskusikan sesuatu. Jadi tolong katakan itu pada Wookie Oppa,” Aila segera beranjak dari duduknya dan berlari kecil. “YA, Aila Salsabila,” teriak Aby yang sama sekali tidak menghentikan langkah sahabatnya tersebut.
Aby hanya memamerkan cengirannya ketika Wookie mencapai tempatnya. “Maaf Oppa. Aila ada janji,” terang Aby. Wookie menggembungkan pipinya dengan perasaan agak kecewa. “Sudahlah Oppa, dia memang sibuk untuk mempersiapkan diri menghadapi olimpiade itu,” hibur Aby sembari menepuk pelan lengan Wookie.
Setelah kejadian di apartemen Aila dan pernyataan Aby, Aila hanya merasa tidak enak kepada Ryeowook. Oleh karenanya, dia memilih menghindar untuk bertemu Ryeowook. Lagipula, dia memang ada janji belajar bersama Aiden, teman satu timnya.
“Oh my gosh, dewi fortuna ternyata belum meninggalkanmu, Oppa,” Aby memungut buku dari kolong meja. Aby menyodorkan buku tersebut pada Ryeowook. Wookie hanya menerima buku tersebut dan memandangnya dengan wajah bingung.
“Kau ini Oppa. Itu buku Aljabar linier lanjut milik Aila. Kau jadi punya alasan untuk menemuinya,” ujar Aby. Senyum merekah di bibir Wookie. Dia berterima kasih kepada Aby dengan mengacak poni gadis tersebut.
#####
Ryeowook telah berada di depan apartemen gadis yang membuat dunianya lebih berwarna. Setelah menekan bel dan mendapat balasan, pintu terbuka menampakkan sang empunya rumah.
“Oh, Oppa, masuklah,” Aila sedikit bergeser untuk memberi jalan pada Wookie. Aila mempersilakan Wookie masuk. “Duduklah, Oppa,” sahut Aila lagi setelah mereka berada di ruang tamu.
Ryeowook sedikit mengernyitkan dahinya ketika melihat seorang lelaki telah duduk di sofa ruang tamu. Lelaki tersebut masih sibuk berkutat dengan coret-coretannya atas beberapa simbol matematis. Sang lelaki mendongak ketika menyadari kehadiran Aila dengan seseorang.
“Ah, kenalkan dia temanku,” ucap Aila pada Wookie. Ryeowook membungkukkan badan sedikit, “Annyeonghaseyo, Kim Ryewook-imida,”. Sang lelaki balas menganggukkan kepalanya, “Aiden-imida,”.
Ryeowook beberapa kali mengangkat pandangannya untuk melongok pada Aila yang sedari tadi sibuk berdiskusi dengan Aiden. Dia bersikukuh tinggal karena merasa tidak rela jika Aila hanya berduaan dengan lelaki lain di apartemennya. Berulang kali sudah Wookie menghembuskan napasnya dengan berat. Dia menyibukkan diri dengan ponselnya untuk menjelajah sosial network miliknya.
Aiden melihat dari ujung matanya, Ryeowook yang sudah mulai bosan. “Aila, lets finish our discuss. We can continue to solve the problems tomorrow,” Aiden mengakhiri diskusinya. Dia bukan tipe orang yang suka mengganggu hubungan orang lain karena dia mengira Wookie teman dekat atau bahkan kekasih Aila. Aila hanya mengangguk untuk mengiyakan, padahal dia masih ingin menyelesaikan beberapa soal.
Setelah mengantar Aiden sampai pintu depan, Aila kembali duduk di karpet agar badannya nyaman untuk menulis dengan menumpukan bukunya di meja tamu. Dia mengerjakan kembali soal-soal yang belum terselesaikan.
Wookie merasa lega ketika Aiden telah pulang. Namun, Wookie menatap heran pada gadis di hadapnya, “Kau tidak merasa bosan? Sudah dari tadi kau mengerjakannya. Apakah otakmu tidak panas?”. Aila masih tetap pada posisinya, “Hmm,”.
Mendapat jawaban yang seperti itu, Wookie hanya mengangkat bahunya. Dia memperhatikan Aila yang sedari tadi terus mengutak-atik rumus. Wajah Chinese gadis itu tampak serius ketika pikirannya terpusat untuk mengerjakan soal. Kening Aila berkerut menandakan dia sedang berpikir. Sesekali dia juga mengetuk-ngetukkan pensil di dahinya, mungkin dengan begitu dia berharap mendapat pencerahan untuk menyelesaikan soal.
Ryeowook sangat menikmati semua ekspresi yang ditunjukkan Aila. “Gadis ini sungguh manis ketika dia berkonsentrasi mengerjakan sesuatu,” batin Wookie. Tangan Wookie terulur mencopot jepit yang mengikat poni Aila. Dirapikannya poni Aila kemudian dijepitnya kembali.
Aila hanya terbengong mendapat perlakuan seperti itu. “Apa yang kau lakukan Oppa?” tanyanya dengan sedikit tergugup. “Hanya membenahi ponimu yang sudah berantakan,” Wookie tersenyum ke arah Aila. Sejenak desir halus mengusik hati Aila. Senyum itu, sangat memukau.
“Ah, ya. Terima kasih karena sudah membawakan bukuku. Tadi aku belum sempat berterima kasih padamu,” ucap Aila. “Sama-sama, Aila. Oh, ya aku ingin mengundangmu pada konser Super Junior lusa, ini tiketnya,” Wookie menyerahkan selembar tiket VVIP pada Aila.
Kening Aila kembali berkerut memandangi tiket tersebut. Sebenarnya dia tidak ada acara di hari itu, tapi rencananya dia akan menghabiskan waktunya di rumah untuk mengulang materi-materi olimpiade. “Umm, aku usahakan datang Oppa,”.
“Oya, ini sudah hampir makan malam. Bagaimana kalau aku masakkan sesuatu,” tawar Wookie setelah dia mengecek arlojinya. Aila menunjukkan muka keheranan kembali. “Ayolah, aku ini jago memasak,” Wookie meyakinkan Aila.
Beberapa saat kemudian, Wookie sudah menyibukkan diri di dapur, sedangkan Aila malah memindahkan semua bukunya ke meja makan dan mulai berkutat dengan dunia matematikanya lagi. Ryeowook menyajikan beberapa piring ke meja makan. “Bereskan dulu bukumu. Kita makan,” perintah Wookie.
Setelah meja makan bersih dari buku-buku Aila, mereka mulai makan. “Hmm, masakanmu sungguh enak, Oppa,” puji Aila sambil memasukkan suapan ke mulutnya. “Tentu saja,” bangga Wookie. “Aku saja yang perempuan tidak bisa memasak seenak ini,” Aila hanya menyengir.
Ryewook hanya terkekeh menanggapi kejujuran gadis yang sedang makan di hadapnya tersebut. “Oh my,” batin Aila saat menatap Ryewook yang tertawa ringan. Tidak dipungkiri bahwa dia memang mengagumi senyum dan tawa Ryeowook. Senyum memukau yang penuh ketulusan.
Ryeowook meminta waktu sebentar sebelum dia pulang. Dia ingin mengatakan sesuatu yang peting pada Aila. Sesuatu yang mengganjal di hatinya dan membuat pikirannya tidak tenang.
“Ehm, mungkin ini akan terdengar gila. Tapi inilah kenyataannya,” Ryeowook memulai pembicaraan. Mereka berdiri di balkon apartemen Aila dan menikmati kelap-kelip lampu kota. Wookie menatap Aila dan menghembuskan nafas untuk mengurangi ketegangan. “Please be my fiancée, Aila Salsabila,” ujar Wookie lancar sambil menunjukkan sebuah cincin di kotak kecil.
Mata Aila membulat, “Are you kidding me, Oppa?”. Aila masih terperanjat dengan permintaan tiba-tiba Ryeowook. Bagaimana bisa dia dilamar seseorang yang baru dikenalnya sebulan lalu. Tak ada kata-kata romantis yang menyatakan cinta, namun mendadak lelaki yang dihadapnya ini memintanya menjadi tunangannya. Ini gila.
Ryeowook bergeming dengan tangan yang masih menyodorkan cincin. “Aku sedang tidak bercanda, Aila,” ucap Wookie mantap. “Aku tahu ini terlalu cepat. Bahkan aku belum menyatakan perasaanku padamu. But, please be my fiancée,” ulang Wookie.
Ryeowook menarik tangan Aila yang memegang besi pembatas balkon dan menariknya. Wookie menyematkan cincin di jari manis Aila. Aila tidak bisa berbuat apa-apa karena masih syok. Dia membiarkan Wookie memasangkan cincin.
Ryeowook menggenggam tangan Aila karena melihat gadis itu masih tidak merespon pernyataannya. “Jika memang kau tidak bersedia, maka kembalikan cincin itu nanti. Namun untuk saat ini, tolong pertimbangkan permintaanku,” Ryewook mengusap lembut pipi Aila.
“Sebulan yang lalu, orang tuaku mendesakku menikah dengan seorang gadis, tapi aku tidak bisa menerimanya. Bukan karena gadis itu tidak cantik, melainkan karena aku sudah menganggapnya sebagai yeodongsaengku sendiri. Orang tuaku tidak keberatan dengan penolakanku, asalkan aku sudah memiliki calonku sendiri. Dan ini malah semakin memberatkanku karena aku tidak dekat dengan gadis mana pun,” Ryeowook menghembuskan napas pelan untuk jeda saat dia bercerita.
“Ketika itu aku meminta Aby mengenalkanku pada salah satu temannya. Awalnya, aku hanya akan memintanya menjadi pacar pura-puraku untuk dikenalkan pada Appa dan Umma. Kemudian, setelah beberapa saat aku akan mengakhiri sandiwara dengan gadis itu sehingga bisa mengulur waktu sampai aku menemukan seorang gadis yang benar-benar kusukai,” lanjut Wookie.
“Tapi aku kemudian malah jatuh hati pada gadis yang dikenalkan Aby padaku. Ketika menatapnya, hatiku yakin bahwa gadis itu akan menduduki tempat spesial di hatiku. Aku menyukai segala karakter yang melekat padanya. Awalnya aku hanya mengaguminya, tapi lama-kelamaan kurasa rasa kagum itu telah berubah menjadi rasa sayang,” Wookie semakin mengeratkan genggamannya pada kedua tangan Aila.
“Hari-hariku serasa menyenangkan ketika dia berada di sisiku. Sangat menenangkan ketika memandangnya dari dekat dan menyadari dia berada di sisiku. Aku bahkan tidak sabar menunggu pagi, hanya untuk menyapanya lewat sms. Aku merasa ada sesuatu yang kurang ketika satu hari tidak menghubunginya,” Wookie berdeham kecil . “Aku menyayangimu Aila. Kumohon pertimbangkan permintaanku,” Wookie menutup ceritanya.
Aila masih terpaku menatap Ryeowook, dia tidak tahu apa yang harus diucapkannya. “Oppa, aku –,” jawabannya menggantung. Ryeowook tersenyum lembut dan memahami perasaan Aila. “Pikirkan dulu semuanya. Aku akan menunggu jawabanmu,” ucap Wookie kemudian.
“Sudah larut. Aku pulang dahulu,” pamit Wookie. “Umm, bolehkan aku memelukmu sebentar saja?” tanya Wookie hati-hati. Aila mengalihkan pandangannya, merasa bimbang harus menjawab apa. Dia ingin menolak, namun sejurus kemudian dia malah mengangguk. Sepertinya neuron tidak menyampaikan dengan baik perintah otaknya.
Ryeowook tersenyum dan melangkah maju memperkecil jaraknya dengan Aila. Dia memeluk gadis tersebut. Aila masih membeku dan tidak membalas pelukan itu. Pelukan itu terasa hangat baginya. Dapat diciumnya wangi parfum maskulin dari tubuh Ryeowook. Dan sungguh dia menyukainya.
Ryewook melepaskan pelukannya dan membelai rambut Aila. Dia meninggalkan apartemen Aila setelahnya.
#####
Aila duduk dengan sedikit gelisah di bangku VVIP konser Super Junior. Dipangkuannya telah tergeletak sebuket bunga. “Hei, kau ini kenapa? Kau tidak menikmati konsernya?” Aby yang duduk disebelahnya menyenggol lengan Aila. “Ugh,” Aila hanya menunjukkan keterkejutannya.
Bukannya dia tidak menikmati konsernya karena sedari tadi pandangannya tertuju pada seseorang diantara sembilan member SuJu yang tampil, namun dia masih bingung dengan perasaannya. Dia sangat menyukai senyum Ryewook dan merasa senang dengan semua perhatian yang lelaki itu berikan. Tetapi, sungguh tak pernah terlintas sekali pun di benaknya mendapat seorang kekasih dari kalangan entertainer. Karena mereka bukanlah type lelaki idamannya.
Baginya yang menyukai sains, seseorang impiannya adalah dari kalangannya juga. Seseorang dengan otak cemerlang dan ber-IQ tinggi. Yah, boleh dikatakan seperti sosok Aiden. Dia berpikir bahwa yang semua dirasakan pada Ryeowook hanya sebuah rasa suka seorang fans kepada superstar.
Getaran ponsel membuyarkan lamunan Aila. Sebuah pesan dari seseorang masuk.
From: Aiden Alain
Aila, would you please come to library now? I’ve something to discuss with you. It’s about vector problems that we solved yesterday.
Aila segera mengetik pesan membalas sms tersebut.
To: Aiden Alain
Yes, I will. Wait for me, I’ll be there in 30 min.
Aila segera bangkit dari tempat duduknya setelah menyerahkan buket bunga pada Aby. Dia menunduk untuk mendekatkan wajahnya pada Aby. “Tolong berikan ini pada Wookie Oppa. Aku harus pergi. Aiden menungguku,” ujarnya di dekat telinga Aby. “What?” kaget Aby. Belum sempat Aby protes, Aila sudah berjalan cepat meninggalkan bangkunya.
Seseorang memandang nanar punggung Aila dari atas panggung. Dia melihat Aila yang tergesa meninggalkan konser, padahal dia sangat ingin bertemu dengan gadis tersebut usai konser.
#####
Aby menyodorkan sebuket bunga pada Wookie. “Oppa, dia ada urusan mendadak. Aila menitipkan ini untukmu. Dan selamat atas suksesnya konser SuJu hari ini,” ucap Aby. Ryeowook menerima buket bunga itu dan tersenyum tipis. Walaupun agak kecewa namun dia tetap lega karena Aila mau datang di konsernya.
“Apakah dia ada janji lagi dengan Aiden?” tanya Wookie. Aby hanya mengangguk. Wookie menampakkan raut kekecewaan yang ditangkap oleh Aby. “Ah, dia hanya berteman saja dengan Aiden. Dia sedang sibuk dengan persiapan –,”. “Olimpiadenya. Begitu kan Aby?” potong Wookie.
“Ayolah Oppa. Besemangatlah,” ujar Aby. Ryeowook mengiyakan perkataan Aby sampai terdengar suara seseorang telah berdiri di belakang Aby.
“Ya, Aby kenapa kau malah menyapa Wookie dahulu ketimbang dengan namjacingumu sendiri, huh?” Yesung memberangut. “Jangan marah Oppa,” bujuk Aby. “OK, aku tak akan marah jika kau menemaniku seharian ini. Otte?” ucap Yesung. Aby hanya memicingkan matanya, “At always,”.
#####
Untuk kesekian kalinya Aiden mendongak untuk mengecek bunyi yang mengganggunya. Bunyi ringtone dari ponsel orang disebelahnya. “Hei, why don’t you pick your phone up?” Aiden menjawil lengan Aila.
“Ugh, sudahlah. Aku sedang sibuk,” ucap Aila dengan masih menulis rangkuman dari bab yang baru saja dipelajarinya. “Kau sedang ada masalah dengan namjacingumu? Nasehatku, sebaiknya kau tidak membuat masalah sekecil apa pun sehingga bisa memecah konsentrasimu dalam persiapan ini,” ucap Aiden yang masih menatap Aila.
Aila segera menegakkan kepalanya setelah mendengar ucapan Aiden. Dia ingin meluruskan perkataan Aiden tentang ‘namjacingu’, namun belum sempat mulutnya terbuka, ponselnya berdering kembali. Dengan kesal disambar ponsel miliknya lalu beranjak dari duduknya.
“hallo, Oppa. Ada apa?” sapa Aila langsung.
“Aku menunggumu di taman dekat dengan apartemenmu,” ucap Wookie di seberang jaringan.
“Maaf, aku tidak bisa. Aku sedang sibuk,”
“Aku akan tetap menunggumu sampai kau datang,”
“Aku –,” ucapan Aila terputus saat terdengar bunyi sambungan terputus. Aila mendesah kesal dan menghentakkan kakinya. Dia kemudian segera masuk ke perpustakaan kembali.
#####
Aila mengecek arloji yang melingkar di tangan kirinya. Sudah jam 11 malam, badan dan pikirannya sudah amat lelah. “Sudah malam, kita lanjutkan besok saja,” ucap Aila pada Aiden. “Ok,” Aiden mengangguk.
Aila menuju basement perpustakaan. Dia membuka mobil miliknya dan segera melempar beberapa tumpukan buku di jok sebelahnya. Aila melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata.
Saat dekat dengan apartemennya dia mulai ingat dengan pembicaraannya dengan Ryewook tadi. “Tidak mungkin dia masih menungguku,” gumam Aila. Aila melajukan mobilnya perlahan melewati taman di belakang apartemennya. Ditajamkan penglihatannya ke seluruh penjuru taman.
“Oh, my gosh,” desisnya saat melihat seorang namja yang duduk di bangku taman. Aila segera menepikan mobilnya. Dia keluar dan berjalan cepat menghampiri namja tersebut.
#####
Ryeowook masih bergeming dari posisinya. Diayun-ayunkan kakinya untuk mengusir kejenuhan. Pikiran dan hatinya kalut ketika mendengar Aila sedang bersama Aiden. Tidak dipungkiri bahwa cemburu sedang melandanya.
“Oppa, apa yang kau lakukan di malam selarut ini?” tanya suara yang sangat familiar dengan nada gusar. Suara yang memecah lamunannya karena pemilik suaralah yang sedari tadi dinantinya. Sedikit kekhawatiran tercetak jelas di wajah manis gadis keturunan Chinese tersebut karena melihat Ryeowook dengan wajah pucatnya. Bagaimana tidak pucat, jika harus menunggu di malam sedingin ini.
Ryeowook berdiri dan menatap Aila tajam. Gadis di hadapannya melontarkan suatu pertanyaan retoris, menurutnya. Wookie menghela nafas berat. “Kau baru datang?” tanya Wookie. “Oppa,” Aila sedikit membentak karena rasa khawatirnya. Baru pertama kali ada orang yang menunggunya hampir 4 jam.
“Apakah kau tak tahu berapa lama aku menunggumu?” marah Wookie. Aila melengos, “Aku tidak pernah meminta Oppa menungguku. Dan bukankah sudah kukatakan aku tidak bisa datang?”. Wookie menangkap kebenaran pada sanggahan Aila. Dia sendiri yang memutuskan menunggu, namun dilampiaskan kekesalannya pada gadis dihadapnya. Semua semata karena Wookie merasa semua rasanya tak terbalaskan dan itu amatlah sakit.
“Ya aku tahu. Dan betapa bodohnya aku tetap menunggu. Bagimu Aiden dan Olimpiademu itu lebih penting dari pada Aku,” Wookie menahan perih yang sangat ketika mengucapkannya. Aila memandang tajam Wookie karena mendengar ucapan tersebut.
“Jangan bawa Aiden, dia bahkan tidak tahu apa-apa. Dan benar, olimpiade itu adalah impianku,” Aila mengatakannya dengan cukup membentak. Emosinya meluap. Dia tidak habis pikir, bagaimana bisa Ryeowook membawa-bawa Aiden dalam masalahnya.
“Ini sudah larut, aku tak ingin bertengkar. Sebaiknya Oppa cepat pulang. Selamat malam,” Aila mengatakan dengan nada lambat hanya untuk menahan amarahnya. Dia segera melangkah pergi sebelum hatinya semakin tercabik.
Wookie menatap kepergian Aila kemudian merutuki segala ucapannya. Bodohnya dirinya, padahal dia menanti kedatangan Aila. Tetapi ketika gadis itu datang, ucapan-ucapan sinis yang terlontar dari mulutnya. Wookie membekap mulutnya untuk menahan tangis.
#####
“Keep on fighting, Aila,” Aby mengepalkan tangannya di depan wajah manisnya untuk menyemangati sahabatnya. “Of course, I will do my best,” Aila membalas dengan senyuman.
“Kembalilah dengan membawa medali emas yang berkilat itu,” Yesung yang berdiri di samping Aby turut memberi semangat. Aila hanya mengangguk sambil tersenyum. “Yesung Oppa, kau tidak marah padaku?” tanya Aila tiba-tiba.
Yesung mengerti makna ucapan Aila, dia menepuk pundak Aila pelan. “Perasaan terhadap seseorang bukanlah sesuatu yang bisa dipaksakan. Baik kau dan Wookie mempunyai takdir masing-masing. Jika Wookie memang seorang yang ditakdirkan untukmu, maka Tuhan akan menuntunmu padanya. Jadi semangatlah,” Yesung mencoba bijak dalam menyikapi hubungan dongsaengnya.
Aila melongokkan kepalanya ke belakang pundak Yesung. Berharap seseorang akan muncul, namun tak ada sosok seseorang itu. Saat ini dia sedang membutuhkan semangat, tapi sosok yang belakangan ini memberi dukungan tak menampakkan dirinya.
Hari itu Aila berjuang untuk memenangkan olimpiadenya. Dan benar saja, dia berhasil menyambet medali emas tingkat nasional. Sungguh membanggakan baginya, namun ada sesuatu yang masih mengganjal hatinya. Sesuatu yang membuat lubang dalam hatinya.
Perasaannya bukanlah seperti soal matematika yang hanya memiliki penyelesaian mutlak. Bukanlah sebuah soal yang dengan mudah dia pecahkan. Dia benar-benar masih bimbang dengan hatinya sendiri.
Tapi ketika sebulan ini Ryeowook tidak menghubunginya, serasa ada yang kurang dalam harinya. Aila merindukan senyum dan tawa Ryeowook padanya. Selama ini dia mampu menampikkan perasaan tersebut karena memang pikirannya terfokus pada olimpiadenya.
Dan di sampingnya juga ada Aiden yang menjadi teman satu tim olimpiade dengannya. Aidenlah yang mengisi hari-harinya, sebelum dan selama dia mengenal Ryeowook. Aila sangat mengagumi sosok Aiden yang pendiam dan berotak brilliant.
#####
Aila duduk di bangku santai di balkon apartemennya. Ingatannya melayang pada malam ketika Ryeowook memintanya menjadi tunangannya. Aila mengamati sebuah cincin di dalam kotak yang di genggamnya. Cukup lama, kemudian dia mulai mengetik sms.
To: Wookie Oppa
Oppa, how are you? long time no see.
Beberapa saat telah diterimanya sebuah balasan.
From: Wookie Oppa
I’m fine, Aila. Oh, congratulation! Finally you win that Olympiad.
Aila tampak menggembungkan pipinya. Bukan itu balasan yang diinginkannya.
To: Wooki Oppa
Oppa, apakah kau punya waktu bertemu denganku? Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan.
Aila memberanikan diri untuk mulai menyelesaikan semua, agar tidak ada ganjalan di hatinya lagi. yah, di sudah memutuskan.
From: Wookie Oppa
Tentu, lusa aku tidak ada jadwal apa pun. Kapan dan dimana kau ingin kutemui. Atau, aku jemput kau saja?
Aila membaca pesan Wookie. “Bagus, jadi ini semua cepat selesai,” batin Aila kemudian kembali mengetik sms.
To: Wookie Oppa
Tidak perlu Oppa. Aku ingin melihat pantai. Jadi temui aku di ______ pukul 11.00. Terima kasih, Oppa.
From: Wookie Oppa
Ok.
#####
Sebulan ini Ryeowook masih belum bisa menemui Aila. Semata karena hatinya yang belum bisa menerima kenyataan bahwa rasa sayang yang diberikannya tidak terbalas. Dia belum bisa menatap Aila untuk melepaskan gadis tersebut.
Ryeowook terisak di kamarnya karena mengingat segala kenangan yang dilaluinya bersama Aila. Dengan singkat gadis itu mampu mempesonanya. Namun, tidak demikian dengan si gadis. Ini sungguh sangat menyesakkan bagi Wookie.
“Bertahanlah, Wookie. Jika kau memang mencintainya, kejarlah dia sekali lagi dan sampaikan perasaanmu padanya,” ucap Yesung yang tanpa Ryeowook sadari sudah berada di sampingya. “Bagaimana jika semua yang kulakukan tetap tidak mengubah perasaannya, Hyung,” tanya Wookie di sela tangisnya. “Maka lepaskanlah dia. Teruslah berjalan karena kau akan menemukan takdirmu sendiri,” jawab Yesung sembari menepuk-nepuk punggung Ryeowook untu menenangkan.
Dering ponsel Ryeowook memecah suasana. Ryeowook dengan malas membuka pesan tersebut, namun matanya berbinar ketika melihat sender-nya. Aila.
Walaupun dengan jemari bergetar, Wookie tetap membalas dengan secepat mungkin, sms dari Aila. Wookie menahan napas sejenak ketika sang gadis memintanya bertemu. Dia belum mampu bertemu dengan Aila, tetapi dia juga tidak bisa menghindar terus, sehingga diiyakannya ajakan Aila untuk bertemu.
#####
Wookie memarkir mobilnya tepat di samping Toyota camry hitam milik gadis pujaannya. Dia keluar dari mobil dan berjalan mendekati seorang gadis yang tengah duduk di pasir putih.
Aila memandang birunya laut dengan tatapan takjub. Diarahkan bidikan kamera SLR-nya pada deburan ombak yang terbentang di hadapnya. Dia menyadari seseorang telah duduk di sampingnya sehingga diturunkan kamera dari wajahnya, karena tadi masih dalam posisi memotret. Diletakkan kamera miliknya pada tas khusus yang tergeletak di depannya.
“Laut ini sungguh indah,” Wookie memulai pembicaraan. Aila menatap Wookie lalu mengangguk. Wookie tampak menghela napas berat karena perasaannya yang galau. Dia tahu benar maksud Aila mengajaknya bertemu. “Katakanlah,” ucap Wookie singkat. Seakan dia tak mau menunda kesedihannya lagi sehingga menambah berat bebannya.
Aila mengalihkan pandangannya ke laut, namun kemudian dia merogoh sesuatu dari saku blazer miliknya. “Aku hanya ingin mengembalikan ini, Oppa. Maaf,” Aila mengulurkan kotak yang dilapisi beludru biru sapphire.
Wookie menatap kotak di tangan Aila sejenak, kemudian mengambilnya. “Tidak. Seharusnya akulah yang meminta maaf karena telah menyeretmu dalam masalahku. Sejak awal akulah yang terlalu berharap banyak dan memaksamu. Selalu mengusik hidupmu dan membawa luka,” Wookie membuka kotak tersebut dan memandangi cincin di dalamnya.
Aila memandang Wookie lekat, ikut merasakan kesedihannya. “Aku tidak keberatan, Oppa. Dari dulu hingga sekarang dan masa datang, aku tidak keberatan jika kau harus selalu hadir dan mengusik hidupku,” senyum terukir di bibir Aila. Wookie menoleh cepat ke arah Aila, “Apa maksudmu?”. Wookie mengernyitkan dahinya dan meminta penjelasan.
Aila menjulurkan tangannya di udara dan memandangi jemarinya yang lentik. “Maaf, karena aku tidak bisa memakai cincin itu sekarang. Mungkin saat ini aku belum bisa menyayangi Oppa sebesar Oppa menyayangiku. Jadi, bisakah Oppa membuatku jatuh cinta padamu? Hingga saatnya nanti aku pantas untuk memakai cincin itu?” ucap Aila yang bergeming dari posisinya.
Senyum merekah di bibir Wookie. Semua kegalauan dan kesedihannya terbayar sudah. Kehangatan menyeruak di hatinya atas jawaban Aila. Tangannya terulur dan membelai lembut kepala gadis yang disayanginya. “Terima kasih, Aila. Dan akan kupastikan kau jatuh cinta padaku,” ucap Wookie mantap.
Aila menurunkan tangannya dan menoleh pada Wookie, “Err, apakah tidak ada adegan romantis seperti di film-film itu dalam akhir bahagia?”. Wookie terkekeh pelan mendengar penuturan Aila.
“Baiklah,” Wookie berdiri dan memutar tubuhnya menghadap Aila. Diulurkan tangannya untuk membantu Aila berdiri. Dan dengan senang hati Aila menyambutnya. Direngkuhnya Aila dalam peluknya. Tanpa ragu, Aila membalas pelukan itu dengan senyum yang terukir indah di bibirnya.
Wookie melepaskan pelukannya, disapukan tangannya pada wajah Aila. “Thank you for giving me an opportunity, Aila Salsabila. I love you with all my heart,”. Wookie mendekatkan wajahnya pada wajah Aila hingga dia bisa merasakan deru hangat nafas Aila menerpa wajahnya. Dia mencium lembut bibir Aila.
Wookie melepas ciumannya dan memandang sendu Aila. “Apakah ini sudah romantis?” goda Wookie. Aila mengerutkan keningnya, berpura-pura berpikir. Wookie terkekeh melihat ekspresi lucu yang ditunjukkan Aila.
Sontak Aila memegang bahu Wookie sebagai tumpuan dan berjinjit. Dia mengecup kilas bibir Wookie. “Tapi aku sudah sejak dulu menyukai senyum itu,” ujar Aila. Wookie hanya terbengong dan kaget atas perlakuan gadis tersebut. “Mwo? Ya, Aila. Kau…” geram Wookie yang disambut senyum manis Aila.

“Pepatah mengatakan ‘Kau akan menyadari seberapa penting dia dalam hidupmu, ketika kau kehilangannya’, tapi aku berkata bahwa ‘Kau akan menyadari seberapa penting dia dalam hidupmu, setiap kau menatapnya’. Dengan begitu, kau akan belajar menggenggamnya.” (Arsvio)
END

Advertisements

14 responses to “[Freelance] Please, be my fiancee

  1. Ehmm akhir yg bahagia, aku kira dia bakal nolak dan rye oppa ttl dengan kesendiriannya.
    Aku suka yesung yg bertindak bijak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s