[Part 3 Of 6] Honey Dew

Previous Part: 12

Author: v3aprilia

Length: chaptered

Genre: friendship, romance, family

Rating: PG

Cast: Gikwang ‘B2ST’, Jung Iseul (OC)

Iseul mengatakan pada Min dan Minzy kalau Gikwang mengajaknya kencan. Iseul merasa ‘kencan’ itu kata yang menggelikan. Inginnya dia menggantinya saja dengan ‘jalan-jalan’.

Min : hah, serius? Omo… Yong Dae oppa telat selangkah dari Gikwang!

Minzy : sama dong, Taemin oppa juga mengajakku kencan hari Minggu. Jangan double date ya, tidak seru!

Min: kau harus dandan, Iseul. Hari Minggu datang ke rumahku dulu, kami yang mendandanimu. Jangan kencan pakai T-shirt longgar!

Minzy: dandan yang feminin sedikit. Kita buat dada Gikwang berdebar saat melihatmu Minggu nanti.

Min menyuruh Iseul pergi ke rumahnya, tapi malah mereka yang menggedor pintu rumah Iseul dan langsung nyelonong masuk sambil membawa baju dan alat make-up. Dan beberapa saat kemudian, Iseul sudah memakai polo shirt warna pink, mini dress jeans, dan flat shoes warna krem. Rambut hitamnya diikat ke samping dan dipakaikan bando pink. Tak ketinggalan, gelang pink polkadot putih.

“Apa tidak terlalu pendek?” tanya Iseul khawatir saat melihat nyaris setengah pahanya tidak tertutup dress.

“Tidak!” jawab Minzy dan Min kompak. “Lihat kakimu, jadi terlihat jenjang kan?”

Ibu Iseul senyum-senyum melihat putrinya keluar kamar dengan kikuk.

“Omo, anak Ibu cantik sekali!” pujinya.

“Omma…” rengek Iseul. “Sudahlah, aku ganti dengan skinny jeans saja ya?”

“Jangan!” seru Min galak sambil berkacak pinggang. Minzy berjaga-jaga di depan lemari pakaian Iseul. “Mini dress itu sengaja kupakaikan padamu supaya kau tidak duduk sembarangan!”

***

“Wah, kau manis sekali!”

Iseul merasa canggung mendapat pujian Gikwang saat dia menemui Iseul di depan halte.

“Jangan senyum-senyum begitu,” kata Iseul pada Gikwang. Dia merasa risih melihat Gikwang menatap Iseul dari ujung kepala ke ujung kaki.

“Minzy dan Min yang mendadanimu, ya?” tanyanya. “Wah, aku harus bilang terima kasih, nih.”

Iseul salah tingkah.

Jalan-jalan dengan Gikwang terasa menyenangkan─Iseul sengaja tidak menyebutnya ‘kencan’─ Iseul tidak lagi merasa canggung. Sesekali mereka bercanda, Iseul atau Gikwang saling ledek. Iseul baru tahu kalau Gikwang ternyata tidak suka dipanggil ‘manis’ atau dipuji seperti itu.

“Kenapa?” tanya Iseul.

“Tidak suka saja,” jawab Gikwang singkat. “Kalau memuji orang dengan sebutan ‘manis’, baru aku suka.”

Ternyata ada seorang ahjumma yang menyapa Iseul di jalan, saat Iseul menodong Gikwang supaya membelikannya arumanis. Ahjumma itu mengaku mengenali Iseul saat menonton Korean Super Series.

“Anakku sangat menyukaimu,” katanya. Anak perempuan yang berdiri di sebelah ahjumma itu tersipu malu. “Dia juga ingin menjadi atlet bulu tangkis.”

Gikwang nyeletuk. “Apa anak laki-laki ibu juga mengidolakan Iseul?”

Iseul menyodok lengan Gikwang.

Ahjumma itu tertawa. “Aku tidak punya anak laki-laki, tapi keponakan laki-lakiku tampaknya menyukaimu juga, Iseul-ssi.”

Ahjumma lain yang menjual arumanis tampaknya mendengar obrolan mereka. Dia ikut menimpali, “Aku tidak heran kalau keponakan Anda menyukainya, dia manis sekali.”

Iseul membungkuk, wajahnya tampaknya mulai merah. “Aku masih belum apa-apa.”

“Semoga Iseul onnie bisa masuk tim nasional. Aku akan selalu mendukung onnie,” kata anak perempuan yang mengidolakan Iseul itu.

“Gomapseumnida,” Iseul membungkuk.

Iseul-Gikwang berpisah dengan ibu-anak itu. Gikwang berbisik pada Iseul, “Wah, aku kencan dengan atlet terkenal, rupanya.”

Iseul tertawa. “Tapi kupikir, sebentar lagi aku akan kalah terkenal dibanding kau.”

Gikwang tersipu. Sebenarnya Gikwang terlihat manis saat tersipu, tapi Iseul tidak berani memujinya.

Mereka benar-benar bersenang-senang hari itu, hingga tanpa terasa hari mulai beranjak sore. Mereka pulang naik bis.

“Terima kasih,” kata Iseul tulus pada Gikwang. Dia membelikan Iseul teddy bear warna cokelat yang lucu. Gikwang hanya tersenyum.

“Kenapa kau baik sekali padaku?” Tanya Iseul.

“Karena aku sahabatmu,” jawab Gikwang sambil menatap keluar jendela. Tak biasanya dia tidak menatap Iseul saat bicara.

Sepanjang perjalanan mereka diam. Ketika sudah sampai di halte dan mereka akan berpisah pulang, Gikwang mencegah Iseul.

“Tunggu sebentar,” katanya lalu mencopot cincin di kelingkingnya. Dia menarik tangan kiri Iseul dan menyematkan cincin itu ke telunjuknya.

“Aku tidak menyangka ternyata ukuran telunjukmu sama dengan kelingkingku,” katanya.

“Apa ini?” tanya Iseul.

“Masa tidak tahu? Ini cincin, babo.”

“Aku tahu!” kata Iseul gemas. “Untuk apa…”

Kata-kata Iseul terpotong karena Gikwang sudah lebih dulu maju dan tiba-tiba mencium kening gadis itu. Gikwang menatap Iseul tepat di kedua matanya.

“Karena aku menyukaimu.”

Bahu Iseul merosot. Halte mendadak terasa sangat sepi. Apa?

“Aku jatuh cinta denganmu, Jung Iseul,” kata Gikwang, pandangannya benar-benar menohok. Iseul menggenggam teddy bear di tangannya erat-erat.

“Kau bercanda, kan?”

“Tidak, aku serius.”

Apa yang harus kujawab, bukankah dia sudah tahu kalau aku jatuh cinta dengan orang lain? batin Iseul. Ya, Gikwang tidak mungkin lupa. Dia sendiri yang tanya itu padaku, dia sendiri yang menebak siapa yang kusukai.

“Aku tahu, seharusnya aku mengatakannya lebih dulu, sejak awal aku duduk sebangku denganmu. Tapi saat aku tahu kalau kau menyukai orang itu sejak kelas 1 SMP, aku sadar kalau aku benar-benar terlambat.” Dia tersenyum, senyum yang terpaksa. “Tapi kejujuran tidak pernah mengenal kata terlambat, kan?”

Iseul kehabisan kata-kata. Ini pertama kalinya ada orang yang mengatakan ‘cinta’ padanya. Tapi kenapa dia? Kenapa bukan Yong Dae?

Kenapa aku harus membuat orang lain sakit hati, bahkan sahabatku sendiri?

“Kenapa kau menyukaiku?”

Gikwang menatap Iseul dalam-dalam, ingin rasanya Iseul menghindari mata itu. “Aku menyukaimu, karena aku tak pernah bisa menghentikan senyumku tiap kali melihat wajahmu. Aku mencintaimu, karena aku ingin memilikimu. Aku menyayangimu, karena aku ingin melihatmu bahagia.”

Iseul mau menangis. Dia tidak berani membayangkan perasaan Gikwang saat ini. Iseul tidak perlu mengatakan apa-apa untuk menjelaskan bahwa dia menolak namja ini. Tak mungkin Iseul menerimanya…

“Tapi aku sadar, aku tidak mungkin memilikimu.”

Dada Iseul sesak.

Gikwang menghela napas sambil menatap langit. “Pulanglah, hari sudah sore.”

“Tidak mau,” kata Iseul. Dia menunduk menahan air mata.

“Kenapa?”

“Karena kalau aku pulang lebih dulu, sama saja dengan aku meninggalkanmu dan itu membuatku merasa sangat jahat.”

“Untuk apa kau merasa seperti itu? Aku kan hanya menyatakan perasaanku, masalah diterima atau tidak itu urusan belakangan,” kata Gikwang, kali ini senyumnya benar-benar tulus. Dia menggenggam tangan Iseul. “Aku menyayangimu, Iseul, karena aku ingin membuatmu bahagia. Jangan pikirkan aku, pulanglah.”

“Jangan jauhi aku,” kata Iseul spontan. “Aku tidak mau kita musuhan, kau sahabatku yang paling baik…”

“Bukannya seharusnya aku yang mengatakan itu padamu?” kata Gikwang. “Aku tidak akan menjauhimu, aku janji. Sekarang pulanglah…”

“Tapi aku tidak bisa menerima ini, kau sudah berkorban banyak untukku,” Iseul hendak melepas cincin di telunjuknya. Gikwang mencegahnya.

“Jangan, tolong simpan itu. Kumohon…” pintanya.

“Gikwang, aku takut kalau aku pulang, aku menangis…”

“Lari saja,” kata Gikwang. “Rasa lelah akan membuatmu lupa menangis.”

Iseul mundur. “Maafkan aku…”

Dia mengangguk. “Hati-hati, Iseul…”

Dan Gikwang pergi, tanpa sekalipun menoleh ke arah Iseul. Iseul memeluk teddy bear pemberiannya erat-erat. Iseul berbalik, dan mulai berlari. Mini dress membuat langkahnya terhambat, tapi dia tak peduli. Iseul terus berlari, sementara kata-kata Gikwang terngiang terus di telinganya.

Aku sudah membuatnya sedih, aku jahat… aku jahat… pikir Iseul.

Iseul tersengal-sengal di depan lobi apartemen. Dia mengendap-endap masuk ke apartemen, berharap Minzy dan Min tidak melihatnya. Tampaknya ibu Iseul sedang keluar rumah. Iseul masuk ke rumah dan langsung masuk kamar dan mengunci pintu.

Aku jahat, benar-benar jahat…

Setelah berganti pakaian, Iseul duduk di tepi tempat tidur. Kepalanya berat sekali. Inikah yang dirasakannya padaku, sejak kami duduk sebangku di hari pertama sekolah? Inikah sebabnya mengapa wajahnya sangat sedih saat kulihat di halte bis beberapa hari yang lalu? Inikah sebabnya dia sempat menjauhiku? Bagaimana mungkin?

Iseul melihat teddy bear cokelat di sampingnya. Dia tak tega menatap mata polos teddy bear itu, mengingatkannya dengan Gikwang…

***

2009…

“Kenapa dulu kau tidak pernah cerita pada kami kalau Gikwang lulus audisi?” tanya Minzy.

“Iya, sekarang sudah pakai nama panggung lagi, AJ,” timpal Min.

“Aku juga tidak tahu, tampaknya dia ingin membuat kejutan,” kata Iseul, berbohong. Mereka sedang melihat MV debut Gikwang alias AJ, Dancing Shoes. Gikwang memanjangkan rambutnya, dan Iseul ingat saat dia mengatakan Gikwang mirip Rain. Yoseob, teman sekolah Iseul juga ada di MV itu sebagai backup dancer.

“Penggemarnya di sekolah semakin bertambah deh,” kata Minzy.

Min mengangguk setuju. “Aku jadi dikenal di sekolah sebelah hanya gara-gara aku ini temannya AJ. Sinting.”

Iseul diam saja. Baginya, ini semua tidak lagi berarti. Semenjak kelas dua hingga sekarang, dia dan Gikwang benar-benar berpisah. Mereka tidak lagi sekelas, dan Iseul sekarang malah sekelas dengan Yoseob, hanya saja dia tidak duduk sebangku dengan namja itu. Memang, semenjak Gikwang mengatakan ‘suka’ pada Iseul, komunikasi mereka tidak berubah. Gikwang tetap ceria, dan atas permintaan Iseul, dia tidak pernah menjauhi Iseul, seolah-olah dia tidak pernah punya perasaan apa-apa pada Iseul. Tapi semenjak mereka pisah kelas, Iseul merasa Gikwang semakin menghilang. Iseul merasa sangat jauh dengannya. Tak pernah lagi Iseul melihat Gikwang berjalan di koridor atau di kantin, atau berpapasan dengannya di ruang loker. Padahal teman-teman Iseul tidak merasa begitu, mereka selalu bisa bertemu dengan Gikwang di sekolah.

Apa dia menjauhiku? Tapi dia kan sudah janji…

“Iseul, kenapa bengong?” tanya Minzy.

Iseul tersentak. “Tidak, hanya memikirkan sesuatu.”

“Kau pasti terbebani karena minggu depan berangkat ke Malaysia ya?” tebak Min. Minggu depan Iseul memang berangkat ke Malaysia mengikuti Malaysia Open. Iseul mengangguk, berbohong.

“Tak biasanya kau begini. Santai saja, kau kan juara muda,” Minzy menyemangati. “Oiya, kau tidak pernah ketemu Gikwang lagi?”

“Jarang. Dia kan sekarang sibuk,” jawab Iseul.

“Iya juga sih, tapi sebagai cewek yang pernah kencan dengannya…”

“Hei, kau tidak pernah menceritakan tentang kencanmu dulu!” kata Minzy.

“Iya, benar. Kau menghindar terus tiap kali kami menanyakan itu,” timpal Min.

“Hanya kencan biasa, apa istimewanya? Aku hanya dibelikan teddy bear dan cincin, itu saja. Ini kan hadiah persahabatan,” kilah Iseul.

Iseul menghindari tatapan mereka. Minzy masih penasaran, sementara Min menatap Iseul seolah dia ingin memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan sahabatnya.

Maafkan aku, teman-teman…

***

Two weeks later…

Iseul baru saja kembali dari ruang guru mengambil kopian materi pelajaran. Dia beberapa hari tidak masuk sekolah karena harus bertanding ke Malaysia. Iseul membaca kertas-kertas di tangannya sambil jalan menyusuri koridor, Iseul bahkan tidak sadar kalau di belakangnya ada seseorang. Dia menyenggol Iseul dengan keras dan yeoja itu langsung terjerembab. Kertas-kertas di tangannya bertebaran di lantai.

“Aduh, maaf! Maaf! Aku saja yang bereskan!”

Iseul mendongak dan mendadak lidahnya kelu. Ternyata yang menabraknya adalah Gikwang. Gikwang sendiri, selama beberapa detik juga merasa kikuk. Mereka tidak pernah bertemu lagi di sekolah, sangat jarang.

“Kau tidak apa-apa? Maafkan aku, tadi aku tidak melihatmu…”

“Tidak apa-apa,” kata Iseul lalu mengambil kertas yang disodorkan Gikwang. Dia membantu yeoja itu berdiri.

“Ah, lututmu!” serunya.

“Tidak, ini memar karena aku terjatuh saat bertanding,” kata Iseul.

“Hyung!” seseorang memanggil Gikwang, adik kelas yang Iseul tidak tahu namanya tapi jauh lebih tinggi dari Iseul.

“Oh, ya, sebentar!” sahut Gikwang. “Maaf, aku buru-buru. Tapi kau benar tidak apa-apa?”

“Tidak, tidak apa-apa,” kata Iseul. Gikwang tersenyum lalu pergi dengan adik kelas itu.

Begitu saja, tak ada kata-kata lagi, tak ada ledekan atau senyum jahil darinya. Iseul ingin marah padanya, menanyakan janjinya dulu. Tapi Iseul mengurungkan niatnya, dia menganggap Gikwang menjauh gara-gara dirinya…

***

“Sunbaenim,” sapa Iseul ketika melihat Yong Dae sedang duduk sendirian di bangku semen, sementara tak jauh di belakangnya ada sekelompok orang berlatih skateboard. Saat itu sudah agak malam.

Yong Dae menoleh, lalu tersenyum. “Iseul-ssi! Ayo, duduk di sini,” dia menepuk tempat kosong di sebelahnya.

Iseul duduk. Dia merasa seperti sedang bermimpi bisa duduk berdampingan dengan orang yang dia suka. Yong Dae terdiam menatap langit.

“Namjachingu-mu tidak marah kalau kau sibuk latihan saat malam minggu seperti ini?”

Iseul tertawa. “Aku belum punya pacar.”

Iseul terdiam, bingung apa yang harus dia bicarakan. Tiba-tiba Iseul teringat kata-kata Gikwang dulu.

Aku kan hanya menyatakan perasaanku, masalah diterima atau tidak itu urusan belakangan.

Ah, Gikwang yang ceria, cuek, dan namja. Ya, apa sulitnya bagi seorang namja? Mereka bisa dengan mudah menutupi perasaannya, atau dengan mudah bisa melupakan. Iseul mungkin tidak bisa seberani itu, tapi dia tidak mau memendam ini lebih lama lagi.

“Sunbaenim, aku minta maaf…”

“Untuk apa?” tanya Yong Dae heran. “Kita baik-baik saja, kan?”

“Ya, tapi sebelumnya aku minta maaf. Aku… aku menyukai sunbaenim.”

Kaki Iseul seperti mati rasa.

“Iseul-ssi?”

“Sunbaenim, maafkan aku,” kata Iseul. Beberapa detik yang berlalu serasa seperti seabad, Iseul merasa dia ingin menarik kata-katanya kembali, berpikir kalau lebih baik dia tidak perlu mengatakannya. Dia ketakutan dengan pikirannya sendiri, dia takut Yong Dae menjauhinya…

“Itu… aku tidak tahu kalau kau…”

“Aku sendiri tidak tahu kenapa aku bisa menyukai sunbae,” kata Iseul. “Awalnya karena mengagumimu, tapi kemudian berlanjut…”

Oh, bisakah aku pergi dari tempat ini sekarang juga? batin Iseul. “Sunbae?”

“Kau tahu, aku kagum denganmu,” kata Yong Dae, memecah kesunyian. “Aku… aku bahagia kau menyukaiku. Tapi akulah yang seharusnya minta maaf padamu, karena selamanya kau akan kuanggap sebagai dongsaeng-ku.”

Hati Iseul mencelos, hampa, dan mendadak terasa nyeri. Ternyata seperti ini rasanya ditolak. Baru sekarang Iseul memahami perasaan itu.

“Aku senang,” kata Iseul, berbohong. “Yang terpenting bagiku, sunbaenim tidak membenciku.”

“Aku tidak mungkin membencimu.”

Iseul menghela napas. “Sunbaenim?”

“Ya?”

“Jangan menjauhiku,” kata Iseul. “Jangan memusuhiku hanya karena aku…”

“Aku tidak akan menjauhimu,” kata Yong Dae.

Iseul memberanikan diri menatap Yong Dae, membuktikan padanya kalau dia kuat. Tenggorokannya tercekat, dadanya terasa sangat nyeri.

“Gomawo,” kata Iseul. Suaranya bergetar.

***

Di hari yang sepagi ini, Iseul sudah keluar rumah. Dia bilang pada ibunya kalau aku ingin lari pagi. Iseul sengaja pergi sendiri, karena selain Minzy dan Min pasti masih mendengkur di balik selimut, dia memang sedang ingin sendiri.

Jalanan masih sepi. Hanya ada beberapa orang tua yang jalan-jalan santai di sekitar rumah mereka.

Lari saja. Rasa lelah akan membuatmu lupa menangis.

Kata-kata Gikwang terngiang lagi. Dia seumuran dengan Iseul tapi begitu banyak hal yang diajarkannya pada Iseul. Kalau Iseul tidak teringat dengan kata-katanya mungkin Yong Dae tidak akan tahu kalau Iseul menyukainya, dan mungkin sampai sekarang Iseul masih ke-GR-an mereka-reka kalau Yong Dae juga menyukainya.

Iseul mengelus cincin di telunjuknya, menelusuri ukiran kecil di tengahnya dengan jarinya. Lalu Iseul mulai berlari. Angin pagi yang dingin menusuk wajahnya, tapi Iseul tak peduli. Dia terus berlari, semakin lama semakin cepat, menelusuri rumah-rumah dan jalan yang masih sepi. Dia terus berlari hingga sampai di lapangan bola, lalu memasuki lapangan dan memutarinya sekali. Iseul keluar, terus berlari hingga ke taman, dan dia memutari taman itu. Iseul terus berlari hingga energinya habis. Dia jatuh berlutut di tanah, tersengal-sengal.

“Ya! Berlutut di tengah jalan!”

Iseul mendongak, terkejut. Dia ingat dengan suara itu.

***TO BE CONTINUE***

Advertisements

34 responses to “[Part 3 Of 6] Honey Dew

  1. omo! apa itu suara pelatihnya si iseul? <– pertanyaan paling ga mutu, ga ada hubungannya juga
    hiyaaaa.. ditolak 😦
    semoga dgn iseul ditolak yongdae dia bisa nerima gikwang *berdoa*
    hahaha
    lanjut ke chapter selanjutnyaaaa

  2. “Aku
    menyukaimu, karena aku tak
    pernah bisa menghentikan
    senyumku tiap kali melihat
    wajahmu. Aku mencintaimu,
    karena aku ingin memilikimu. Aku
    menyayangimu, karena aku ingin
    melihatmu bahagia.”

    suka sama kata2 yg diatas dan bikin nangiiiiis, ga tau knp, mngkin terlalu mndalami peran sbg iseul.. hahahaa /plaaakk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s