Now or Never – END

Tittle : NOW or NEVER?

Author : Satsukisorayuki a.k.a Tria

Genre : AU/ Romance, Angst, Family

Rating : PG/15

Lenght : Chaptered ( Prolog of 8 )

Cast :

  • Main Cast : (CN.Blue) Jung Yong Hwa, Kang Min Hyuk, Kang Min Ji & Jung Yoon Hee
  • Other cast : (CN.Blue) Lee Jong Hyun, Lee Jung Shin, Park Shin Hye, and Choi Minhye

Disclaimer : CN. Blue and Park Shin Hye punya Tuhan, other cast muncul dari imajinasiku. FF ini orisinil punyaku, Terinspirasi dari lagu-lagu CN.Blue and My dream at midnight ^^

Note : FF ini pernah aku post di => http://fan3less.wordpress.com/ jadi kalo yang udah pernah baca harap maklum 😀

 

NOW or NEVER

Part 8 (ending)

 

Min Ji tersentak saat merasakan sentuhan tangan seseorang di bahunya, dia pun mengalihkan pandangannya dari arah laut dan menoleh kepada seseorang yang telah menganggu kesendiriannya, namja itu tersenyum lembut padanya lalu duduk disampingnya.

“Noona, kenapa kau selalu salah paham?” tanya namja itu

“Salah paham? Apa maksudmu, Minhyuk-a? Aku tidak salah paham” jawab Min Ji

“Tadi kau tidak sengaja mendengarkan pembicaraan Yonghwa hyung dan Shin Hye noona lalu langsung pergi kesini, kan? Tapi noona tidak tau apa akhir dari pembicaraan mereka, kan?”

“Bukankah sudah jelas kalau mereka sudah kembali bersama, sekarang” jawab  Minhye dengan suara yang begitu lirih

“Makanya kubilang kau salah paham. Noona-a sebenarnya tadi aku juga menguping pembicaraan mereka, aku tau aku salah karena menguping pembicaraan orang. Tapi aku kan melakukan itu demi noona, karena ingin melindungi noona” jelas Minhyuk

“Apa maksudmu?” tanya Min Ji mengernyitkan kening tak mengerti

“Aku curiga tujuan Shin Hye noona kesini karena ingin kembali pada Yonghwa hyung, makanya aku menguping. Tapi ternyata aku juga salah paham noona, sebenarnya dia datang untuk mengakhiri semuanya. Aku lihat Shin Hye noona mengembalikan barang-barang yang pernah dihadiahkan Yonghwa hyung untuknya dan dia juga bilang kalau dia bahagia dengan Jonghyun hyung, sebab Shin Hye noona sudah bisa mencintai Jonghyun hyung. Lalu soal Yonghwa hyung…” Minhyuk pun menceritakan semua yang di dengarnya tadi pada Min Ji

“Mweo? Jadi selanjutnya itu yang terjadi?” tanya Min Ji yang langsung menunduk karena menyesal

“Ne, aku tidak berbohong noona. Kalau noona tidak percaya noona boleh menanyakannya sendiri pada Shin Hye noona” jawab Minhyuk

“Aku terlalu mencintai Yong, Minhyuk-a. Makanya aku sampai salah paham seperti ini dan aku menyesal karena langsung pergi sebelum mendengar semuanya, keunddae kenapa kau yang kesini? Apakah Yong marah padaku?”

“Dia pingsan, sekarang Mi Ri noona sedang menanganinya”

“Mweo? Dia pingsan? Wae, Minhyuk-a?” Min Ji terbelalak kaget mendengar penjelasan Minhyuk itu

“Noona juga tau sendiri kan kalau belakangan ini kondisi Yonghwa hyung sangat lemah? Akhir-akhir ini dia jadi sering pingsan, tadinya dia ingin menyusulmu kemari lalu menjelaskan semuanya padamu keunddae dia malah jatuh pingsan. Aku rasa hari ini adalah hari yang sangat melelahkan bagi Yonghwa hyung” cerita Minhyuk sambil terus memperhatikan ombak yang terus menerpa kakinya

Min Ji kembali menundukkan wajahnya dan bulir-bulir putih itu membasahi wajahnya, dia sangat sedih mendengar cerita Minhyuk. Ternyata Yonghwa sangat mencintainya, tapi Min Ji selalu saja salah paham terhadapnya. Min Ji mengigit bibir, dia bertekad bahwa mulai dari sekarang dia akan selalu mempercayai Yonghwa sepenuhnya. Dia tidak ingin salah paham untuk yang kesekian kalinya, dia hanya ingin hubungannya dengan Yonghwa lancar-lancar saja sampai akhirnya mereka bisa hidup bersama suatu saat nanti.

‘Mianhae, Yong. Aku selalu salah paham padamu’

>>>>>.<<<<<

 

“Hyung, bagaimana kabarmu hari ini?” Minhyuk bertanya pada Yonghwa yang baru saja selesai memainkan gitarnya

“Aku baik-baik saja, wae?” tanya Yonghwa setelah meletakkan gitarnya di tempat semula

“Aku ingin bercerita padamu, hyung”

“Sejak kapan kau suka curhat seperti wanita?” tanya Yonghwa cuek

“Yaa, dengarkan aku dulu! Begini, setelah kejadian kemarin aku semakin ingin cepat-cepat menikah dengan noonamu lalu kau akan memanggilku ‘hyung’ assik” ujar Minhyuk antusias

Yonghwa tersenyum senang dan langsung bersemangat “Jinjjayo? berarti aku harus berterimakasih lagi pada Sulli, berkat dia akhirnya kau mau mempertimbangkan keinginan terakhirku”

“Yaa, kenapa kau bilang keinginan terakhir?!” protes Minhyuk menatap Yonghwa tajam

“Ahni, mianhae hyung. Cih, rasanya aneh sekali memanggilmu hyung” goda Yonghwa yang kemudian tertawa terbahak-bahak, membuat Minhyuk jengkel

“Yaa, tidak mau tau.. pokoknya kau harus memanggilku hyung, sebentar lagi aku kan jadi kakak iparmu Yong” sambung Minhyuk menepuk bahu Yonghwa so dewasa

“Yaa! kau panggil aku apa? Yong? Tidak sopan..” Yonghwa menjitak kepala Minhyuk lalu berjalan meninggalkan ruang seni

“Aish, appo. Kau sama saja dengan kakakmu suka memukul kepalaku. Dengar anak nakal, tentu saja itu harus sebentar lagi aku kan jadi kakak iparmu, hei” protes Minhyuk sambil mengikuti langkah kaki Yonghwa yang cuek

“Aku tidak akan pernah memanggilmu hyung, rasanya aneh karena kau lebih muda dariku”

“Tapi Yong, aku ini sebentar lagi akan jadi kakak iparmu. Jadi lebih tidak sopan lagi jika kau tidak memanggilku hyung” Minhyuk masih bersikeras

“Berhenti memanggilku ‘Yong’, dan tetap panggil aku ‘hyung’ arraseo?” bentak Yonghwa kesal

“Aish, kenapa kau selalu marah-marah sih? Baiklah karena aku belum menjadi suami noonamu aku akan tetap memanggilmu hyung, keunddae setelah kami menikah kau harus memanggilku hyung arraseo?!” balas Minhyuk

“Baiklah, kau puas?” tanya Yonghwa yang langsung membuat senyuman Minhyuk mengembang

“Nanti malam aku akan melamar noonamu, bantu aku ya hyung?!” bujuk Minhyuk

“Ne, aku akan membantumu”

“Gomawo, hyung” seru Minhyuk senang dan langsung memeluk Yonghwa

>>>>>.<<<<<

 

 

Yoon Hee memasuki cafe itu dengan perasaan heran dan penuh tanda tanya. Untuk apa Minhyuk memintanya datang ke cafe ini? Dan yang paling membuat Yoon Hee heran adalah suasana cafe yang sepi, seakan hanya Yoon Hee saja yang datang ke cafe malam ini, bahkan cafe itu pun gelap. Hanya ada penerangan terbatas, berkat cahaya lilin. Yoon Hee mengernyitkan dahi, mungkinkah dia salah tempat? Tiba-tiba musik mulai mengalun dan cafe itu kembali terang berderang.

Yoon Hee terkejut menatap pemandangan di depannya, sebuah pemandangan yang begitu romantis. Ada sebuah meja dengan dua kursi, dengan sebuket bunga mawar merah dalam vas di tengah meja dan beberapa lilin yang menghiasi meja itu. Yoon Hee mengalihkan pandangannya ke arah lain, dan disana terlihat Yonghwa yang sedang memainkan gitar bersama Minhyuk yang sedang menyanyikan sebuah lagu.

 

Star the shines in the sky

Star that shines far away from me

Seems like you came down to my heart

Star engraved in my heart

Star that shines in my heart

I think that might be you

 

Can you hear a quavering voice? Oh star

Can you feel my passionate heart? You’re my star

 

From a very long time ago

I know that you are the love, I’ve been dreaming of

Let us always be together

Even if time passes (hope that you)

Always shine on the same place

My heart, will only be given to you

 

The star engraved in your heart

The star that shines in your heart, I hope that is me

Forever I will love you

( Star- Kang Minhyuk )

 

Setelah alunan musik itu berhenti, Minhyuk menghampiri Yoon Hee. Dia menggandeng Yoon Hee menuju kursi yang tersedia lalu duduk berhadapan dan mulai saling pandang dari hati ke hati.

Yonghwa tersenyum melihat pemandangan itu. Dia pergi meninggalkan cafe dan menemui Min Ji yang sedang menungguinya di luar.

“Yong, apa yang sedang mereka lakukan?” tanya Min Ji setelah Yonghwa berada dihadapannya

Yonghwa mengangkat bahu “Molla. Kajja, kita jalan-jalan saja” ajak Yonghwa yang lekas menggandeng tangan Min Ji, lalu mereka berdua pun pergi bersama.

Minhyuk tersenyum kepada Yoon Hee. Dia mengambil kotak kecil dalam saku dan membukanya, memamerkan sepasang cincin yang sangat indah kepada Yoon Hee.

“Jagiya, saranghae. Will you marry me?”

Yoon Hee membalas senyuman Minhyuk “Yes, I do” jawabnya membuat Minhyuk hampir jingkrak-jingkrakan saking senangnya.

“Gomawo” ujar Minhyuk, dia memasangkan cincin itu di jari Yoon Hee dan Yoon Hee memasangkan cincin satu lagi di jari Minhyuk.

Minhyuk semakin mendekatkan wajahnya dengan wajah Yoon Hee, membuat Yoon Hee reflek memejamkan kedua matanya. Dan sedetik kemudian mereka pun berciuman mesra, setelah merasa puas keduanya pun melepas ciuman itu.

“Mulai sekarang aku akan selalu berada disisimu, melindungimu sepanjang hidupku dan aku berjanji tak akan pernah melukaimu. Noona percaya?” tanya Minhyuk sambil menatap mata Yoon Hee lekat.

“Ne, aku percaya padamu dan kita akan selalu bersama” jawab Yoon Hee dengan senyum diwajahnya

“Gomawoyo, jagiya” sambung Minhyuk lalu mereka pun berpelukan, setelah itu mereka berdansa di iringi alunan music yang sangat indah

>>>>>.<<<<<

 

Yoon Hee dan Minhyuk berdiri di depan altar dan saling mengucap ikrar suci, hari ini adalah hari yang penuh dengan kebahagiaan. Bukan hanya hari bahagia untuk Minhyuk dan Yoon Hee, tetapi juga merupakan hari bahagia bagi Yonghwa dan Min Ji. Air mata kebahagian meluncur membanjiri wajah Min Ji. Yonghwa tersenyum penuh arti ketika melihat Minhyuk dan Yoon Hee yang sedang berciuman mesra. Hari ini Yoon Hee terlihat sangat cantik dan anggun dengan gaun pengantinnya, Minhyuk juga terlihat gagah dengan tuxedo putih yang ia kenakan.

Yonghwa memejamkan matanya ‘Chukkae, noona-a. Sekarang noona sudah mempunyai pendamping hidup yang akan selalu berada disisi noona, aku harap noona dan Minhyuk akan selalu bahagia dan tak akan pernah terpisahkan. Sekarang aku bisa tenang’

Min Ji mengalihkan pandangannya ke arah Yonghwa yang masih memejamkan matanya. Min Ji meraih tangan Yonghwa dan mengenggamnya erat. Kini Yonghwa telah membuka matanya kembali dan tersenyum lembut padanya.

‘Apakah kau bahagia, Yong? Aku juga sangat bahagia, dan aku berharap setelah ini kita bisa menyusul mereka. Keunddae, bisakah?’ bathin Min Ji dengan senyum yang masih menghiasi wajahnya, matanya lekat menatap mata Yonghwa

‘Noona? Apa yang akan kau lakukan setelah aku pergi? Bisakah kau hidup bahagia walau tanpa aku? Aku harap kau bisa berbahagia seperti mereka.. demi aku’

Yoon Hee mengalihkan pandangannya ke arah Yonghwa dan Min Ji, dilihatnya pasangan itu saling bertatapan sambil tersenyum.

‘Yong, apakah setelah ini kalian akan menyusul kami juga? Aku ingin sekali melihat adik kesanganku menikah dengan sahabatku’ tanya Yoon Hee tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Yonghwa. Dia menggigit bibir dan air mata mulai menetes membasahi pipinya.

Minhyuk mengenggam tangan Yoon Hee erat sambil memamerkan senyumnya “Ini pernikahan kita, jadi kau tidak boleh menangis” bisik Minhyuk di telinga Yoon Hee

Yoon Hee menyeka air matanya dan kembali menunjukkan senyum kebahagiannya kepada semua tamu yang hadir, dia benar-benar bahagia karena mempunyai suami sebaik dan seperhatian Minhyuk.

>>>>>.<<<<<

 

Matahari mulai terbenam. Pandangan Yonghwa terlempar jauh, menatap kosong pada sunset yang hampir menghilang dari pandangannya. Seorang yeoja duduk di sampingnya, kemudian meraih tangan Yonghwa dan mengenggamnya erat.. memberikan sebuah kehangatan tersendiri bagi Yonghwa. Yonghwa menoleh ke arah samping, dilihatnya Min Ji sedang tersenyum manis padanya. Dia pun membalas senyuman Min Ji itu.

“Kenapa kau masih disini?” Min Ji bertanya setelah memegang sebelah tangan Yonghwa

“Hanya ingin melihat matahari terbenam..” jawab Yonghwa kembali mengalihkan pandangannya ke arah laut

“Lalu kenapa kau tidak mengajakku, hmm?” tanya Min Ji

“Karena aku tahu, noona pasti akan menemukanku disini”

Min Ji memperhatikan sosok namja disampingnya, namja itu tetap fokus menatap sunset yang tidak lama lagi akan menghilang. Air mata meluncur membasahi pipinya, entah kenapa Min Ji tidak ingin melepas pandangannya dari Yonghwa. Dan dia mulai merasa gundah, ketika memperhatikan sosok disampingnya itu. Hari ini Yonghwa tidak seperti biasanya, dia memakai pakaian serba putih dan wajahnya terlihat begitu pucat. Bibir Yonghwa yang sangat Min Ji sukai, tidak berwarna merah seperti biasanya, melainkan putih seputih wajahnya.

Yonghwa mengalihkan pandangannya dari sunset, lalu menatap lekat wajah yeoja di sampingnya. Yeoja itu merunduk sedih dengan pandangan kosong, Yonghwa mengangkat wajah Min Ji, menyeka air mata yang masih menempel di wajah yeoja itu sambil tersenyum hangat.

“Noona, wae? Kenapa kau menangis?” tanya Yonghwa, namun tidak ada sahutan dari yeoja itu.

“Jangan menangis! Tersenyumlah noona-a, aku hanya ingin melihat senyummu” tambahnya

Dengan susah payah Min Ji mengulas sebuah senyuman tulus diwajahnya, padahal sebenarnya hatinya terasa begitu perih dan sakit.

Yonghwa semakin mempererat genggaman tangan mereka, lalu menyenderkan kepalanya ke bahu Min Ji. Dia merasa semakin lemas dan tidak bertenaga, dan Yonghwa mulai merasa sulit untuk bernafas.

“Noona, saranghaeyo..” ujar Yonghwa, setelah itu dia kembali mengalihkan pandangannya ke arah Min Ji kemudian mencium bibir yeoja itu

Min Ji merasakan sensasi yang aneh saat ini. Ciumannya bersama Yonghwa kali ini terasa begitu berbeda. Bibir itu terasa dingin dan Min Ji merasakan rasa yang aneh, rasa asin, asam bercampur pahit seperti rasa logam dan tiba-tiba dia merasa agak pusing dan mual. Selang beberapa menit dia merasakan Yonghwa melepas ciuman mesra mereka.

“Yaa, noona?! Kenapa lipstikmu sampai belepotan begitu? Memang seberapa tebal kau memakai lipstick?” tanya Yonghwa sambil menatap mata Min Ji lekat

Dalam jarak yang sedekat itu Min Ji bisa melihat dengan jelas warna mata Yonghwa yang agak kekuningan juga benda cair berwarna merah yang tertempel di bibir putih namjacingunya itu. Pandangan matanya buram karena cairan bening mengumpul di pelupuk matanya. Min Ji menyentuh bibirnya sendiri dengan jari dan dia menggelengkan kepalanya ketika menyadari benda cair yang sama tertempel di jarinya

“Yong, percayalah ini bukan lipstikku melainkan darahmu. Sebaiknya kau…”

Yonghwa mengerucutkan bibirnya “Yaa, apa kau tidak bisa berbohong sedikit kalau itu lipstikmu? Ayolah, kau jangan merusak suasana romantis ini!”

“Keundae, Yong…”

Yonghwa menempelkan tisu di mulutnya dan perlahan warna putih tisu itu berubah menjadi merah

‘Omo, darahnya banyak sekali. Apa yang harus aku lakukan? Aku yakin saat ini Yongie pasti sedang sangat kesakitan’ pikir Min Ji dengan air mata tertahan

‘Jebal, jangan keluar lagi’ Yonghwa melempar tisu itu

Saat ini Min Ji ingin sekali menangis dan berteriak sekencang-kencangnya, namun dia sudah menegaskan dirinya sendiri untuk tidak menangis sekarang.. tidak didepan Yonghwa. Min Ji menghela nafas lalu mengalihkan pandangannya ke arah laut.

“Sunset nya sangat indah, ya?” tanya Min Ji dengan senyum di wajahnya

“Ne”

“Kau lebih suka melihat sunset atau sunrise?”

“Sunrise, kalau noona?”

“Tentu saja sunset, kenapa kau lebih suka melihat sunrise? Padahal menurutku sunset jauh lebih indah”

“Karena itu berarti aku masih punya hari esok”

Min Ji meremas butiran pasir basah disampingnya, perkataan Yonghwa barusan benar-benar hampir membuat pertahanannya runtuh seketika dan selang beberapa detik dia kembali merasakan senderan seseorang di bahunya.

“Aku lelah, bolehkah aku tidur?”

“Yaa, pemalas?! Ini masih sore kenapa kau sudah lelah?” protes Min Ji

“Tubuhku, entah kenapa aku tidak kuasa menopang tubuhku lagi?” jawab Yonghwa dengan nada suara yang amat pelan namun masih bisa di dengar Min Ji.

“Kau benar-benar sudah berubah ya, Yongie?”

“Apa maksud noona?”

“Sekarang, namjacinguku ini sangat lemah” jawab Min Ji “Tidurlah di pahaku, nanti kau terjatuh lagi” lanjutnya

Yonghwa merubah posisinya seperti apa yang di perintahkan oleh Min Ji. Dia tersenyum dengan pandangan tidak pernah terlepas dari wajah yeojacingunya itu.

“Mianhae, sejujurnya aku paling benci terlihat lemah seperti ini. Keunddae.. tubuhku tidak bisa di ajak kompromi. Ah ya, noona-a”

“Wae?”

“Adikmu selain pandai menabuh drum juga pandai bernyanyi, bagaimana denganmu? Min Ji noona adalah kakaknya, pasti kau juga pandai menyanyi kan?”

“Tidak juga” jawab Min Ji sambil mengembungkan pipinya

“Jinjja? Coba nyanyikan sebuah lagu untukku?”

“Yaa! Sudah kubilang aku tidak pandai menyanyi” Min Ji mencubit pipi Yonghwa geregetan

“Hentikan, aku bukan anak kecil. Dan aku tidak mau tau, kau harus menyanyikan sebuah lagu untukku”

‘Aish, pemaksaan sekali anak ini’ pikir Min Ji “Arra, lagu apa yang harus kunyanyikan?” tanyanya

“Whatever”

“Nanti bayarannya apa?” goda Min Ji

“Yaa, cepat nyanyi dan tidak usah meminta bayaran?!” tegas Yonghwa galak

“Dasar tukang maksa, baiklah” Min Ji menyerah dan mulai menyanyikan sebuah lagu dengan suaranya yang merdu.

 

Kanashimi no mukou kishi ni, Hohoemi ga aruto iu yo

(On the opposite coast of sadness, is something called a smile)

Tadori tsuku sono saki ni wa, Nani ga bokura wo matter?

(But before we can go there, is there something we are waiting for?)

 

“Yaa, kenapa kau menyanyikan lagu berbahasa Jepang?! Aku kan tidak menyuruhmu untuk menyanyikan lagu Only human, K” protes Yonghwa

“Wae? Katanya terserah aku, yang penting kau kan mengerti. Aku tahu nilai Nihon go mu bagus. Mau aku lanjutkan tidak?” sanggah Min Ji

“Ne, lanjutkan” ujar Yonghwa, Min Ji pun membelai rambut Yonghwa lembut

 

Nigeru tame ja naku, yume ou tame ni. Tabi ni deta hazusa, tooi natsu no ano hi

(In order to chase our dream, we can’t have a reason to run away. We’ve got to go to that far away summer’s day)

 

Setetes air mata jatuh dari sudut mata Yonghwa. Begitu juga dengan Min Ji, dari sudut matanya yang saat ini sedang terpejam jatuh bulir-bulir bening yang menetes ke wajah Yonghwa.

 

Ashita sae mieta nara, tame iki mo nai kedo

(If we find it tomorrow, we can sigh)

Nagare ni sakarau fune you ni. Ima wa mae he susume

(Because like a boat that opposes the stream. We have to walk straight on)

 

Min Ji masih mengenggam erat sebelah tangan Yonghwa, dan dia belum membuka matanya. Sedangkan sebelah tangan Yonghwa yang bebas mencengkram kuat dadanya yang semakin terasa sesak dan sakit. Namun dia belum mau menyerah sekarang, Yonghwa masih ingin bertahan sebentar lagi.

 

Kurushimi no tsukita basho ni, shiawase ga matsu toiu yo

(In a place worn down by sadness, something called a miracle)

Boku wa made sagashite iru, kisetsu hazure no himawari

(Yet we are still searching for the sunflower that grows, at the end of spring)

 

‘Mianhae, nuna-a. kurasa aku tidak bisa menunggu sampai musim panas datang’

Yonghwa mengangkat sebelah tangannya dari dada dan menyentuh bibir Min Ji dengan jari telunjuknya, lalu kembali memamerkan sebuah senyum

Merasakan sebuah sentuhan lembut di bibirnya, Min Ji membuka matanya dan berhenti menyanyi. Dia membalas senyuman Yonghwa. Min Ji menurunkan jari Yonghwa dari bibirnya dan bertanya.

“Wae? Lagunya kan belum selesai, suaraku jelek ya?”

“Ahni, suaramu sangat bagus noona. Kenapa kau tidak menjadi penyanyi saja?”

“Shireo”

“Waeyo?”

“Kalau aku jadi penyanyi mungkin aku tak akan pernah bertemu dengan murid nakal seperti dirimu”

Senyuman Min Ji dibalas Yonghwa dengan tawa kecilnya “Aku baik noona, aku tidak nakal?!” ujarnya

“Ahniyo, kau sangat nakal sampai berani mencuri hatiku” sanggah Min Ji

“Noona bisa saja. Oh iya aku punya pertanyaan?”

“Dasar pabo, kau sering sekali bertanya ya? Aku sampai bosan mendengar semua pertanyaanmu” canda Min Ji

“Yaa, banyak bertanya tuh bagus. Memangya kau tidak pernah mendengar istilah malu bertanya sesat di jalan?”

“Baiklah, coba katakan apa yang ingin kau tanyakan…” balas Min Ji

“Aku sangat bahagia mempunyai pacar sepertimu, bagaimana denganmu?”

“Tentu saja aku juga sangat bahagia, Yongie”

“Jinjja, lalu ini pertanyaan terakhirku untuk songsaenim. Apa yang akan kau lakukan jika aku tidak ada?”

Min Ji terdiam tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Kali ini dia tidak bisa menjawab pertanyaan muridnya itu. Dan dia terbelalak kaget ketika tiba-tiba merasakan genggaman tangan Yonghwa yang mulai melonggar, dan terasa dingin.

“Kelak, walau jasadku sudah tak ada.. aku ingin tetap hidup di dalam hatimu. Mianhae”

“Kau meminta maaf untuk apa lagi, huh?” tanya Min Ji

“Sebab muridmu yang pabo ini tidak lulus dari universitas” jawab Yonghwa

“Yaa, kenapa kau masih bisa becanda disaat seperti ini?” marah Min Ji

“Aku tidak becanda, memang aku belum lulus kan?”

“Salah sendiri kenapa selama beberapa bulan ini kau bolos kuliah terus. Tapi baiklah karena kau murid kesayanganku, aku akan meluluskanmu secara khusus”

“Jinjja? Gomawoyo?” ujar Yonghwa dengan suara lirih

Min Ji semakin erat menggenggam tangan Yonghwa, sebab dia tidak ingin genggaman tangan mereka itu terlepas begitu saja dan Ia ingin sekali menjerit ketika melihat wajah Yonghwa yang semakin terlihat pucat. Sebelah tangannya kembali membelai rambut Yonghwa lembut.

Yonghwa tersenyum pada Min Ji “Jaga dirimu, noona! Kelak kita akan bertemu lagi dan tolong katakan pada Yoon Hee nuna dan Minhyuk hyung, kalau aku sangat menyayangi mereka. Dan noona juga harus bahagia walau tanpa aku, Arraseo?!” ujarnya terputus-putus

Air mata terakhir menetes membasahi pipinya, lalu nafasnya turun secara teratur. Yonghwa kembali tersenyum pada Min Ji, dia mememejamkan matanya perlahan dan genggaman tangannya terkulai tepat setelah sang surya menghilang dari pandangan dan tergantikan oleh hitam pekatnya langit malam.

Tangis Min Ji pecah seketika, dia mendekap tubuh namjacingunya yang kini terasa begitu dingin dan kaku itu dengan erat. Dia menyadari bahwa sekarang Yonghwa telah pergi untuk selamanya dan dia tidak akan pernah bisa mendengar suara Yonghwa lagi, namun Min Ji tidak berteriak histeris. Min Ji mengerti bahwa sekarang Yonghwa telah bebas, Yonghwa sudah terbebas dari rasa sakitnya selama ini. Walaupun di satu sisi Min Ji tidak rela ditinggal oleh namjacingunya itu, namun disisi lain biarpun sangat sedih.. Min Ji juga merasa lega, karena dia tidak harus menyaksikan penderitaan Yonghwa lagi. Bagi Min Ji melihat Yonghwa yang selalu terlihat kesakitan, jauh lebih sakit daripada membiarkan namja itu menghilang dari hidupnya untuk selamanya.

Min Ji menekan tombol 3 di layar ponselnya dan menunggu suara disebrang sana.

Yobosseo, waeyo Min Ji-ya?” tanya suara lembut disebrang sana

“Yoon Hee-ya”

“Wae? Kenapa suaramu terdengar serak begitu. Kau bertengkar dengan adikku lagi?”

“Ahniya, Yoon Hee-a”

“Lalu kenapa kau menangis?”

“Adikmu.. dia sudah pergi meninggalkan kita. Perkataan terakhirnya adalah, dia sangat menyayangimu dan Minhyuk. Minhyuk pasti senang karena Yong akhirnya memanggilnya ‘hyung’ aku sangat paham, itu adalah keinginannya” cerita Min Ji yang semakin terisak

‘Tut.. tut.. tut’ dan sambungan telpon pun terputus

“Kau keterlaluan anak nakal, Lihat kau membuat kakakmu shock sampai panggilanku terputus seperti ini?! Aku yakin dia pasti langsung pingsan dan harusnya kau meminta maaf dulu padanya. Keunddae kau tidak usah cemas, sebab Minhyuk adikku akan selalu berada disisinya. Tidak seperti kau yang sejahat ini meninggalkanku sendiri”

Min Ji meletakkan ponselnya diatas pasir dan kembali memeluk erat jasad namjacingunya itu, dia mengecup kening Yonghwa lembut.

“Tunggu aku di surga, Yong. Setelah itu kita akan selalu bersama, karena cintaku hanya untukmu” gumam Min Ji dengan air mata yang masih meluncur mulus membasahi wajahnya.

 

=> THE END <=

 

Akhirnya Fanfic ku yang ini tamat juga. Semoga ending nya tidak mengecewakan ya? terutama yang part nya Minhyuk. Aigoo, aku worry dengan scene Minhyuk-YoonHee soalnya aku bukan namja jadi nggak bisa membuat scene yang romantis bahkan merangkai kata yang romantis..TT.TT

Tapi biarpun begitu mohon tetap bikin RCL nya, ya? Sankyuu?! ^^ Soalnya di blog ini aku hadiahkan sesuatu yang khusus untuk reader, yaitu endingnya nggak aku protect. Kalau di blog Fan3less kan endingnya aku protect tuh. Maka dari itu saya mohon jangan jadi SILENT READER, tolong hargailah semua author yang ada di blog manapun karena bikin fanfic itu nggak gampang lho, malah kami sering bergadang demi melanjutkan FF kami hanya untuk kalian reader. Selain itu kami juga nggak meminta sesuatu yang lebih, hanya meminta feedback dari kalian berupa komen. So mohon pengertiannya juga kerjasamanya and NO BASHING, PLEASE! Thank you…

Note : Dan buat kak Riana => Terimakasih banyak karena kakak mau bantuin aku yang pengen nitip fanfic ke blog ini, beribu Terimakasih untukmu kak ^^ Mianhae karena selama ini aku udah ngerepotin kakak. Love you so much, kakak adalah salah satu author favoritku disini lho kekeke *peluk ka Riana sampe gepeng*. Dan buat semua author yang ada disini, terimakasih sudah membuatkan berbagai macam cerita yang menarik untuk kami baca 😀 kalian semua author yang hebat *kasih 10 jempol, yang 8 lagi pinjem jempol semua member CN.Blue hehe*. Ya ilah panjang amat nih pidatonya, Mianhae. #bow

 

 

Advertisements

14 responses to “Now or Never – END

  1. Aniyoong haseyo..!!!

    Congrat’zz Yªªª … Loe Sukses membuat Gwa menangis di ENDing cerita.. Bias Gw LeeJonghyun oppa.. Sedikit kecewa krna dia cman figuran di sini… (⌣́_⌣̀) ..[н̲̅α̲̅][н̲̅α̲̅][н̲̅α̲̅][н̲̅α̲̅]

    Hmm… AwaaL nya gw sempat BOZAN di awaL cerita …

    Sekedar masukan Yªªª : Coz sepertinya karakter Jonghwa ♈ǝлƍ Manjaa di aWaL tidak t’LaLu cocok.. Coz Karakternya EmotionaL nya tidak keluar pada saat di Kampuz itu Loh (part 1.. Yonghwa tidak membawa catatan fisika)… Seharusnya dia keluar kelas bukan lari karna takut di hukum .. Tapi keluar sendiri dengan membangkang..(Lebih cocok karakternya Emotional tapi penyayang wanita) bukan lari dan takut..itu aja sih.. Sarannya Ƙȃƪȏ ada cerita lagi karakter pemeran Utamanya di PERKUAT…Q tunggu cerita berikutnya Yªªª ..
    {Masukan di atas hanya untuk menunjang anda agar menjadi lebih baik.. Tidak ada unsur hinaan or lain sebagainya Yªªª .. (Ơ̴̴̴̴̴̴͡.̮Ơ̴̴͡) }

    BUT, So far Away sampai ENDing nya… SUMPAH gwa Nangiiss sangking Sedihnya..!!! ƪ‎​​‎​(-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩__-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩)ʃ. Gomawoyo tuk ceritanya.. Anyoong..!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s