LIFE

LIFE
Author : Keyholic (@keyholic9193)
Length : 2shoot
Genre : sad,Romance
Rate : PG 15
cast :

Lee Taemin

Choi Minho (dengan marga Lee)

Yoon Jisun a.k.a rara

Song Hyunwon a.k.a Hyunvy
Summary:

Selama ini sudah terlalu banyak hidup manusia yang tersia-siakan dan terbuang dengan percuma.Tak ada kesadaran bahwa Hidup adalah sesuatu yang amat sangat berharga.Saat seseorang sudah hampir kehilangan hidupnya,maka di saat itulah penyesalan datang.Penyesalan akan sesuatu yang selama ini dilakukan, yang hanya menyia-nyiakan sebuah kehidupan yang telah di berikan Sang pencipta.Andai saja Tuhan dapat memberikan ku nyawa ke dua,aku akan berusaha untuk mendapatkannya.Karena aku membutuhkannya,untuk impian ku,masa depan ku,dan orang-orang yang ku sayangi.


***

“neomu meosisseoyo *keren sekali* Taemin-ah” Seru yeoja yang tengah duduk di hadapan ku sambil menaikkan dua jempolnya.

“Hanbeongman *sekali lagi*,ne?” Ia menaikkan satu jari telunjuknya samabil menatap ku dengan wajah memelas.

“Mwo! Hangbeongman?!” Mata ku langsung membulat saat itu menatap wajahnya.

Yang benar saja?! Coba kalian bayangkan ini gerakan dance ke tiga kalinya yang telah ku tunjukkan padanya hari ini,dan dia masih mau menyuruh ku berdance lagi?

Yah ini memang salah ku.Seharusnya sejak awal aku tak pernah menunjukkan dance ku di hadapannya,kalau akhirnya seperti ini.Padahal aku hanya ingin dapat pujian darinya saja,bukan malah rasa letih seperti ini.

“Sirheoyo!” Tolakku tegas .

“nan phigonhaeyo *aku lelah*” Akhirnya ku hempaskan tubuhku tepat di samping Jisun,duduk bersamanya di bangku taman yang memang sejak dahulu merupakan tempat nongkrongan kami.
Ku lihat ia mengerucutkan bibirnya,tanda ia sedang kecewa pada ku.

“Lain kali saja lagi yah.”Ucap ku membujuknya.

“Dua minggu lagi kan aku sudah harus mengikuti kompetensi dance,jadi aku tak boleh terlalu kelelahan.Arasseo.”
Lama ia terdiam seolah memikirkan ucapan ku.

“Huh,Baiklah.”Ia menghela nafas.

“Tapi, sebagai gantinya traktir aku makan bulgogi di Tempat Lee ajusshi besok.Bagaimana?” Ucapnya mulai bernegosiasi dengan ku.
Anak ini,betul-betul tak ada kata menyerah.Kalau ada sesuatu yang di inginkannya lantas tak tercapai,pasti akan minta sesuatu yang lain.

“Terserah mau mu sajalah.” Ucapku menyerah pada permintaannya itu.

“Sepertinya aku haus.Kau tunggu di sini,aku beli minuman di sana dulu.” Ucap ku bangkit dari duduk ku.

Nama ku Lee taemin dan yeoja tadi itu adalah Yoon jisun.Sosok yang sudah ku kenal sejak 3 tahun yang lalu,ketika ia sekelurga menempati rumah kosong di seberang rumahku.Kehidupan ku yang dulunya sangat membosankan karena hanya hidup berdua dengan Hyungku,berangsur menyenangkan dengan kehadiran yeoja itu.Awalnya ku fikir ia anak pendiam,hingga aku mulai berkenalan dengannya saat ia juga ternyata menjadi teman sekelas ku,dan di saat itulah aku tahu,ia tak sependiam penampilannya,bahkan sangat cerewet.Dari situlah kami mulai akrab,bahkan Hyungku sendiri sudah menganggapnya sebagai dongsaengnya juga,namun tidak dengan ku.

Karena terlalu sering bersama, aku akui mulai mempunyai perasaan padanya.Tapi sayangnya,diriku yang terlalu pengecut ini tak punya segudang keberanian untuk menyatakan perasaan ku padanya.Ketakutan ku bahwa saat ia menolakku nanti akan berdampak pada pertemana kami,benar-benar mengalahkan keberanian ku,hingga semuanya hanya bisa ku pendam dalam hati ku.

Dua buah minuman soda sudah tergenggam di kedua tangan ku.Ku percepat langkah ku,takut dia akan menungguku terlalu lama.Kulihat dari kejauhan ia masih duduk di bangku itu sambil menikmati udara musim gugur yang sejuk ini,dengan kedua kakinya yang ia ayun-ayunkan.Belum puas aku memperhatikannnya,tiba-tiba kurasakan badan ku menjadi tak seimbang,hingga akhirnya aku terjatuh di tanah.

“Taemin pabbo!” rutukku dengan kebodohan ku ini.

Ku perhatikan sekitarku,mencari sumber yang menyebabkan ku kehilangan keseimbangan,tapi tanah yang ku jejaki betul-betul bersih dari batu-batu yang mungkin saja menjadi sandungan ku tadi.

“Mungkin ini karena aku lelah”Batin ku.

“Taemin-ah?gwenchanayo?”Tiba-tiba saja Jusun sudah berada di hadapanku, memegang pundak ku.

“Ne,sepertinya aku hanya agak kelelahan,jadi terjatuh seperti ini.”

Aku bangkit sendiri lalu kami pun kembali duduk di bangku tadi.
Sebentar lagi musim dingin akan menyambut dan udara yang sejuk ini akan berganti menjadi udara yang begitu dingin,yang membuat orang-orang lebih memilih meringkuk di balik selimut yang hangat.

“Jisun-ah,kira-kira di masa datang kita akan jadi seperti apa yah?” Tanya ku padanya,topik yang benar-benar sangat tak penting.

“kalau kau,aku yakin kau akan jadi dancer yang hebat,dan aku akan menjadi reporter,seperti cita-cita ku.”Jawabnya tanpa mengalihkan perhatiannya pada segerombolan wallet yang menghiasi langit senja.

“kau tetap ingin menjadi reporter?Bukannya eomma mu menyuruh mu mengambil kedokteran?”

“Ah,aku tidak mau masa-masa kuliah ku kuhabiskan dengan bergelut dengan semua hal yang berkaitan dengan biologi,bisa gila di masa muda aku.” Ucapnya sambil memasang ekspresi aneh..

“Ciee yang lagi pacaran,asik nih.” Ucap Hyung ku tiba-tiba dari arah belakang kami dengan kemeja kerja yang bisa di bilang tak rapi lagi.

“Minho hyung.” Ucap ku dengan wajah risih mendengar ledekannya tadi.

“Minho oppa! Habis pulang dari kantor yah?” Ucap Jisun,sepertinya ia tak menyadari ledekan Minho Hyung tadi.
Syukurlah,Jisun termasuk ke dalam orang yang tak cepat tanggap.

“Uhm begitulah,jisun-ah.Ck seperti dugaan ku,tenyata kalian nongkrong di sini.”

“Ayo pulang,aku membeli banyak pizza hari ini.Kita pesta pizza di rumah yah.” Minho Hyung terlihat bersemangat sekali.

“Asikkk.” Seru kami berdua,lalu mengikuti Minho Hyung naik ke mobilnya.

Sepertinya hari ini aku akan kekenyangan pizza.

***

Ucapan selamat langsung menyerbuku saat kaki ku baru saja melangkah memasuki gerbang sekolah.Tak ku sangka kabar kemenangan ku semalam di kompetisi dance tingkat nasional, bisa tersebar secepat ini.Tapi memang sih perlombaan semalam ini di tayangkan di salah satu stasiun tv negri,jadi mungkin wajarlah kalau kabarnya menyebar secepat ini.

Ku lihat Jisun sudah berdiri menunggu di depan pintu masuk gedung sekolah,aku segera menghampiri yeoja itu.Namun tiba-tiba tanpa sebab yang jelas aku terjatuh lagi.Aku segera bangkit dari posisi ku.Ada yang aneh dengan tubuh ku.Aku bisa merasakan tadi kaki ku seakan tak bisa melangkah untuk waktu sedetik itu,hingga aku yang kehilangan keseimbangan dan akhirnya terjatuh.

Astaga! Lagi-lagi kejadian ini terulang.Dua minggu yang lalu aku juga pernah mengalami hal seperti ini.Saat dimana aku terjatuh tanpa sebab apa pun.

“Gwenchana? Saking senangnya mendapat selamat dari teman-teman, kau sampai tak memperhatikan jalan mu hingga terjatuh,ckck benar-benar kejadian memalukan.” Ejeknya di selingi sedikit tawaan.

“Kurasa begitu.” Ucapku sambil ikut tertawa menyadari kebodohan ku yang terjatuh,tapi sebenarnya di dalam fikiran ku ada sesuatu yang mengganjal,soal kejadian penyebab aku jatuh tadi.
Kami berdua mulai berjalan beriringan menyusuri koridor demi koridor.

“Oh iya taemin-ah,pulang sekolah nanti kita ke lotte word yah,aku yang traktir.” Ucapnya dengan sikap yang dibuat sombong.

“jinjja?!Kau lagi banyak uang yah?” ucap ku agak heran,gadis seperti Jisun yang biasanya paling malas jalan-jalan kini mengajak duluan.

“Anio,anggap saja ini sebagai hadiah kemenangan.”

“Baiklah kalau begitu.Sepertinya ini akan menjadi hari yng menyenangkan.” Ucap ku begitu semangat.

“Dasar kau! Giliran yang gratisan saja,langsung semangat begitu.” Cibirnya lalu mendahulu langkah ku.

***

Huhhh rasanya begitu puas bermain seharian di tempat ini.Ada begitu banyak wahana yang sangat menyenagkan di sini.

“Ini.” Jisun memberikan es krim coklat pada ku.

“Jisun-ah,aigoo, jeongmal gamsayo.Kau begitu baik hari ini.” Ku berikan senyuman terlebarku padanya.

“Ne,cheonmaneyo.Tapi kapan-kapan aku tak akan mau menraktirmu lagi.” Ucapnya.

“Wae?Kau bangkrut yah?” Candaku.

“Yah sepertinya aku akan jatuh miskin.” Ucapnya penuh dengan wajah kemelaratan.

“Ya! Jangan pasang wajah begitu.Mentraktir Lee taemin adalah sebuah amal.Kau akan mendapatkan keberuntungan setelah ini.” Aku pun tertawa di sambut dengan tawa Jisun juga.

Walau dia sempat bilang akan miskin mendadak,tapi jangan percaya dengan kata-katanya,dia itu hanya berbohong.Mana ada sih seorang Yoon jisun bisa melarat hanya karena mentraktir ke lotte word,hahaha yang benar saja?

Mentari sore tampak mulai ingin kembali keperaduannya.Sinar oranye dari sang matahari menerangi langkahku dan jisun menuju jalan ke rumah kami yang hanya berseberangan. Ku lihat di lapangan dekat rumah beberapa anak-anak kecil masih sibuk bermain bola dengan semangatnya,walau sang malam sebentar lagi akan tiba.

“Awas Hyung!” Teriak seorang anak kea rah ku.
Aku bisa melihat dengan jelas sebuah bola sedang melayang menuju ku.Segera saja ku gerakkan badan ku untuk menghindari bola itu,tapi..

Kenapa ini? Badan ku tak mau berpindah sesuai dengan perintah otak
ku.

Bukkk!

Bisa kurasakan bola itu menghantam pelipis ku,karena aku yang tak mengindar.

“Joseonghamnida hyung.” Ucap aseorang anak kecil yang bergigi ompong menghampiriku,lalu memungut bola kakinya.

“Ne,gwenchana.” Aku tersenyum padanya.

“Noe jeongmal gwenchanimnikka?” Tanya Jisun dengan raut kehawatirannya.

“Pabboya namja! Kenapa tak menghindar tadi.” Omelnya.

“Ya~ tak usah mengomel seperti itu.Nan gwenchana.aku hanya agak kaget dengan teriakan bocah tadi,jadi terlambat menghindar.”Bohongku padanya.

Ia terlihat mengerutkan keningnya,orang gilapun bisa tahu tadi kalau saat bola itu mau mengenaiku,aku masih punya banyak waktu untuk menghindar dengan cepat.

“Sudahlah,ayo jalan lagi.Sudah hampir malam.” Aku menariknya untuk melanjutkan perjalanan,agar ia tak berfikiran yang macam-macam.
Sepertinya memang ada masalah dengan ku.Ini sudah yang ke sekian kalinya.Kurasa besok aku harus memeriksakannya ke dokter.

***

Ini adalah pertemuan keduaku dengan dokter Song Hyunwon.Seminggu yang lalu aku sudah berobat ke sini dan ia bilang bahwa aku masih harus menjalani pemeriksaan lagi, sebelum ia benar-benar mengambil kesimpulan atas apa yang sedang terjadi pada diri ku.

Saat mendengar ucapannya itu,entah mengapa aku mempunyai firasat yang buruk akan ini semua.Jika bukan penyakit yang serius,lantas kenapa aku harus periksa sampai dua kali?
Apa ada sesuatu yang parah yang terjadi pada tubuh ku?

“Eh,taemin-sshi kau sudah datang.” Ucap dokter Hyunwon dari arah belakang ku memasuki ruang kerjanya.

“Josonghamnida,aku membuat mu menunggu.Tadi ada beberapa urusan sedikit.” Ia menampakkan wajah penyesalannya.
“Bagaimana keadaan mu sekarang?” Tanyanya sambil mulai memeriksaku.

“Tak cukup baik.Belakangan nafsu makan ku seolah menurun dan gejala-gejalah yang sama,yang sering kuceritakan pada anda lebih sering terjadi.”

“Hyunwon Uisa*dokter* sebenarnya ada apa dengan ku?” Tanya ku penasaran.
Ia telah selesai memeriksa ku.Ia menatap ku sejenak dengan pandangan yang seolah mengisyaratkan keprihatinan,lalu ia bangkit untuk mengambil sesuatu di rak yang tak jauh dari meja kerjanya.
Ia kembali lagi duduk dihadapan ku,masih memberikan ku pandangan yang sama.Ia menarik nafas.

“Ku harap kau bisa kuat menerima kenyataan ini.”
Aku menatapnya dengan penuh ketidak mengertian dan kebingungan.
Sebenarnya ada apa?

***

Aku berjalan layaknya orang yang linglung,tak tahu harus kemana.Dadaku terasa sesak menerima suamua kenyataan ini.Tanpa ku sadari langkahku membawa ku ke bangku taman tempat diman aku dan Jisun selalu duduk mengobrol.langit nampak mendung,seolah mengerti akan perasaan ku saat ini.

“Spinocerebellar degeneratiaon atau yang lebih dikenal dengan sebutan ataxia.Penyakit ini memengaruhi system kerja otak dalam mengontrol tubuh seseorang,hingga secara perlahan seluruh anggota tubuh kita tak dapat lagi berfungsi sesuai perintah otak,dan pada tingkat yang parah akhirnya akan mengakibatkan kelumpuhan total,bahkan kematian bagi penderitanya.Berdasarkan dari hasil pemeriksaan mu dua minggu in dan jugagejala-gejalah yang kau ceritakani,kau di diagnosa mengidap penyakit jenis ini.”

Aku langsung sok mendengar penuturan Hyunwon Uisa tadi.Kuharap apa yang ia jelaskan tadi hanyalah sebuah mimpi atau kesalahan saja.

“apa anda tak salah periksa?Aku yakin ini adalah sebuah kesalahan.” Ucapku tak mau mempercayai semuanya.

Ini tidak bisa terjadi! Mana mungkin aku harus mengidap penyakit ini,sedangkan perjalan karir ku masih panjang untuk berdance.Impian ku belum sepenuhnya tercapai dan mimpiku tak boleh berhenti di sini.

“Gejala-gejala yang kau rasakan belakangan ini,itulah gejalah awal dari Ataxia.Memang dari seluruh orang di muka bumi ini,hanya beberapa saja yang mengidap penyakit ini,salah satu factor penyebabnya adalah factor keturunan.”

“Tapi ini bisa di sembuhkan kan? Lakukan saja operasi ,aku akan membayar berapa pun harganya.” Ucap ku.
Aku yakin dengan hasil dari penghasilan perusahaan ayah yang di kelolah minho Hyung semuanya bahkan lebih dari cukup untuk membayar operasi.

“Ini bukan masalah harga atau apa,taemin-ah.masalahnya tak ada cara untuk untuk menyembuhkan penyakit ini,baik itu dengan operasi atau apapun itu.Kalaupun kami memberimu obat,itu hanya untuk memperlambat prosesnya saja.Kami para dokter di seluruh dunia,masih sedang meneliti untuk mencari pengobatan dari penyakit ini.”

“Tapi kau harus ingat satu hal,mengidap penyakit ini,bukan berarti kau harus menghancurkan hidup mu lantas berputus asa.Ku harap kau masih tetap menjalani hidup mu dengan penuh semangat seperti biasa.Pergunakanlah waktu yang singkat ini,untuk melaukan apa yang belum sempat kau lakukan.” Pesannya padaku ingin meberikan ku motivasi untuk hidup,tapi aku merasa itu tak ada gunanya untuk ku,walau ia bermaksud baik.

Semua percakapan ku dengan Hyunwon Uisa tadi kembali tebayang di benakku.Tanpa kusadari perlahan air mata ku mulai mengucur keluar.Kenapa harus diriku yang di pilih penyakit ini,di antara sekian banyak jiwa di muka bumi ini.

Aku punya mimpi yang besar dan tujuan hidup,dan dengan adanya penyakit ini seolah memaksaku untuk menghentikan mimpiku yang belum terwujud.

“taemin-ah,sedang apa kau di sini?” Kudengar dari arah belakang Jisun menegur ku,sambil mendorong sepedanya.
Secepat mungkin kuhapus air mata ku,dan memasang tampang seperti biasa.

“annyeong.Kau baru pulang yah.Pasti dari berbelanja lagi.” Ejekku tanpa menjawab pertanyaannya.

“Haha begitulah.”Ia tersenyum menggaruk kepalanya yang tak gatal.

“Kau mau pulang kan? Biar aku yang membonceng mu.”Tawarku.

“eh?wae? Tumben sekali,biasanya kau tak pernah mau memboncengku.”Herannya.

“Mungkin saja ini terkhir kalinya aku bisa memboncengmu,aku tak yakin kalau besok-besok aku masih mampu meboncengmu dan mengayuh sepeda lagi.”Batin ku.

“Sudahlah,jangan banyak Tanya lagi.Kajja,sebelum aku berubah fikiran.” Aku segera mengambil alih sepedanya.

“Baiklah.Lagipula aku sangat lelah hari ini.” Ia menyambut tawaran ku dengan baik.

***

Dua bulan berlalu,dan tak satu pun yang mengetahui penyakitk ini selain aku dan Hyunwon Uisa.Aku mulai merasakan ke kakuan pada kaki sebelah kiri ku,tapi aku tetap tak mau terlalu memikirkannya,sejak awal aku sudah tahu dari Hyunwon Uisa tentang gejala-gejala apa saja yang kemungkinan akan terjadi kedepannya.

“Saengil chukkhae hamnida saengil chukkhae hamnida saranghaneun uri taeminnie~ saengil chukkhae hamnida.” Minho Hyung menyanyi begitu bersemangat dengan suara sumbangnya.

“Ayo make a wish taemin-ah.” Ucap Jisun tak kalah semangatnya.
Kalau saja di saat ini aku bisa,aku ingin sekali berharap bahwa segala hal yang menimpaku ini hanyalah sebuah mimpi buruk dan aku bisa terbangun secepatnya dan menjadi seorang taemin yang dulu.Tapi sayangnya itu tak mungkin terjadi.

Aku harap semuanya akan tetap tegar saat aku pergi nanti.
Senyuman miris tersungging di bibirku menatap ke dua orang yang ada di hadapan ku ini.Dua orang yang begitu aku sayangi dan tak rela kutinggalkan.

Kutiup lilinnya satu persatu di iringi sorak bahagia dari keduanya.aku senang melihat senyum Minho hyung dan Jisun,ku harap saat aku tak ada lagi mereka masih bisa tersenyum seperti itu.

“Semoga kau tak pelit lagi taemin-ah.” Aku hanya terkekeh mendengar harapan Jisun.

“Ne,betul itu.Semoga juga dongsaeng ku ini,tambah dewasa , selalu di beri umur yang panjang dan bisa jadi dancer terbaik suatu hari nanti.” Doa minho Hyung.

Kurasa doanya tahun ini tak akan terkabul,karena aku rasa umurku tak akan panjang lagi seperti apa dia harapkan dan juga aku tak akan pernah bisa menjadi dancer terbaik lagi,karena cepat atau lambat tak akan ada yang bisa ku gerakkan dari anggota badan ku.Aku akan lumpuh total dan semuanya hanya akan menjadi impian yang tak akan pernah terwujud.

***

“Hyung lihat di atas,bintangnya begitu banyak yah.Apa di atas sana appa dan eomma bahagia.” Tanya ku pada Minho Hyung di suatu malam saat kami mengobrol di balkon kamar ku.

“tentu itu.Kalau saja mereka masih hidup ,mereka psati sangat senag melihat kemampuan dance mu saat ini.” Ucapnya masih menatap langit.

“Kalau suatu saat nanti aku menyusul mereka duluan Hyung,apa kau akan sedih.”
Minho Hyung seketika itu menoleh pada ku,ia menatap ku begitu lama lalu tersenyum akhirnya.

“Anio.Hyung tak akan sedih.Karena hyung tahu kalau yang akan menyusul mereka duluan adalah aku,Hyungkan lebih tua dari mu,jadi akan lebih cepat menyusul mereka.Seharusnya pertanyaan itu untuk mu kan?” Ia tertawa pelan.
Andai ia tahu bahwa kenyataannya tak akan seperti itu,aku tak yakin bahkan seulas senyum pun mampu menghiasi wajahnya jika saat itu tiba.

“saranghaeyo Hyung.” Aku memeluknya erat.
Aku tak mau meninggalkan Hyungku.Aku menyayanginya.Mata ku mulai berkaca-kaca,kala mengingat nasib yang menimpaku.

“ya~ kau ini sudah dewasa,jangan bermanja-manja seperti ini lagi.Kalau jisun melihat mu,pasti dia akan merasa aneh pada mu yang bertingkah seperti ini.”

“Hyung~” rengekku mengerucutkan bibirku.
Ia hanya tertawa menaggapi ku lalau mengacak acak rambut ku.

“Tidur sana.Ini sudah larut malam.Kalau di luar terus kau nanti masuk angin.” Ia beranjak meninggalkan ku.
Aku memandangi punggungnya yang semakin lama menghilang dari pandangan ku.Lagi-lagi aku hanya tersenyum miris.

***

“Taemin-ah!Neo eodikka?” Teriak yeoja itu dari saluran telepon,hampir memecahkan gendang telingaku.

“Aku di supermarket,minho Hyung menyuruh ku membelikannya sesuatu.Kau langsung saja masuk ke kamar ku,cari di laci meja belajar ku bagian kedua.Aku menyimpan filenya di situ.”

“oh ne,arasseo.Selamat berbelanja yah.” Ejeknya.
Seperti biasa, yeoja itu pasti ingin menyalin tugas biologi yang telah ku kerjakan.Katanya ia paling tidak mengerti pelajaran itu,makanya ia tak mau jadi dokter dan karena hal itu pula dia selalu menyalin tugas ku.

“Gamsahamnida.” Ucapku setelah membayar barang belanjaan ku.

Tiba-tiba aku teringat sesuatu.Hasil tes penyakit ku kuletakkan di dekat file biologi itu.

“Pabbo!.” Rutukku.
Seharusnya dari kemarin-kemarin aku menyimpannya di tempat tersembunyi.Aku lupa akan hal itu.Sewaktu pulang dari pemeriksaan Hyunwon Uisa,aku terlalu lelah jadi ku taruh di sembarangan tempat dulu.

Ku percepat kayuhan sepeda ku menuju rumah ku.Andai saja aku bisa mengendarai motor pasti aku sudah di belikan motor dan gerakan ku tak selambat ini.

“Ini Hyung,belanjaannya.Mana Jisun?” Tanya ku terburu-buru begitu sampai di rumah.

“Wae? Dia ada di kamar mu.” Jawab hyung heran.
Tanpa menjawab pertanyaannya aku langsung menuju kamar ku,dan begitu ku buka pintu jisun langsung berbalik meghadap ku dengan sebuah map di tangannya.

Terlambat!!

Aku yakin,itu adalah hasil tes ku.

“Taemin-ah” Nada suaranya bergetar.

Aku berjalan ke arahnya mengambil map itu lalu menyimpannya di tempat yang aman.

“Akhirnya kau tahu juga.” Ucap ku tanpa memandangnya.

Aku hanya menatap kea rah luar melalui jendela kamar ku.Aku takut,jika menatap matanya,aku bisa menangis dan menjadi lemah di hadapannya.

“Sejak kapan kau..” Ucapnya terbata-bata dan langsung ku potong.

“Sudah lama.Aku selalu ingin berharap ini hanya sebuah mimpi,tapi sepertinya tidak bisa.”Senyumku miris padanya.

“Taemin-ah.” Aku yakin matanya pasti sudah berkaca-kaca tanpa aku harus melihatnya.

Ku balikkan badan ku menghadapnya.

“Jangan pasang tampang menyedihkan seperti itu.kau terlihat sangat jelek.” Ejekku berusaha untuk bercanda.

“Minho oppa,apa..”

“Dia belum tahu soal ini,dan ku harap dia tak akan pernah tahu.Aku tak bisa bayangkan bagaimana jika ia sampai tahu satu-satunya adik kebanggaannya ini sebentar lagi akan meninggalkannya.”

***

Jisun POV

Aku menatap foto ku bersama taemin dengan penuh senyuman.Kedepannya aku tak yakin jika kami masih bisa tersenyum seperti ini.Pasti akan banyak hari yang di lewati penuh dengan air mata.
Kutolehkan kepalaku menghadap lampu kamar Taemin yang masih menyala,tepat di seberang jendela kamar ku.

“Ku harap dia bisa kuat menghadapi semuanya.”Gumamku
Padahal tak pernah kusangka sebelumnya,orang seperti taemin akan mendapat cobaan yang begitu berat.
Dia adalah penyemangat ku.Saat mood ku sedang down dia pasti akan menjadi orang pertama yang menyemangatiku hingga aku bisa ceriah lagi.Dia terlalu banyak membantu ku sejak aku mengenalnya.Dan sekarang aku benar-benar tak bisa berbuat apa-apa untuknya.Untuk teman ku yang terbaik dan untuk…

Orang yang kusayangi..
Aku menyayanginya,tapi aku juga tak tahu apakah masih ada waktu untuk ku menyatakan perasaan ku.

Perlahan air mata ku mulai membentuk aliran di pipi ku. Alirannya semakin deras hingga aku sekarang benar-benar menagis terseduh-seduh.

***

Author POV

Jisun berjalan begitu cepat mengikuti arah taemin yang tengah terbaring sambil di dorong oleh beberapa perawat.Tadi sewaktu ia mengajak taemin ke kantin,tiba-tiba saja namja itu terjatuh dan ketika ia ingin bangkit,kakinya sama sekali tak bisa menopang badannya.Namun beberapa saat kemudia kainya berfungsi kembali tapi tak lama setelah itu dia langsung oleng dan tak sadarkan diri.

Setelah mendapat pemeriksaan dari dokter,Taemin di masukkan ke ruang perawatan biasa.Jisun begitu miris melihat keadaan taemin sekarang ini.Ia keluar sebentar dari ruangan itu,berniat membeli minuman.
Di perjalanan ia melihat orang yang sedang duduk di kursi roda,sedang menunjuk papan huruf dengan gerakan yang begitu lambat.Jisun terdiam sejenak memandangi orang tersebut.Pemandangan yang begitu memilukan hati.

“Dia juga menderita penyakit yang sama seperti teman mu,itu lah yang terjadi ketika penyakit ataxia memasuki level yang sangat parah.Penderitanya sudah tak mampu melakukan apa-apa lagi,bahkan sekalipun itu berbicara,hingga harus menggunakan alat bantu seperti itu.” Ucap seseorang di belakang Jisun.

Jisun menoleh,ingin melihat siapa yang barusaja menjawab pertanyaan-pertanyaan di otaknya.

“Anda dokter yang memeriksa Taemin tadi kan?”

“Ne ,annyeonghaseyo.Song Hyunwon imnida.”

“Annyeonghaseyo.Yoon Jisun imnida.”

“kau harus menjaga psikologi teman mu itu, agar dia tak terlalu tertekan dengan penyakitnya.Sering-seringlah menghiburnya dan jangan lakukan hal-hal yang bisa membuatnya teringat pada penyakitnya.” Nasehat Hyunwon Uisa.

“Jisun-ah” Teriak Minho sambil berlari dari kejauhan.

“Mana taemin?Ada apa dengannya?” Panik Minho.

“Tenanglah Oppa,kenalkan dulu, ini Hyunwon Uisa.Dia adalah dokter yang bertanggung jawab atas taemin,jadi biar dia yang menjelaskan semuanya pada mu.” Jelas Jisun.

“Apa kau saudaranya.” Tanya sang dokter.

“Ye,memangnya ada apa dengan dongsaengku?” Minho masih tetap panic.

“Tak enak menjelaskannya di sini.Kita bicara di ruangan ku saja.”
***

Begitu keluar dari ruangan dokter,minho masih merasa seperti mimpi dengan penjelasan sang dokter.Ini tidak mungkin menimpa adiknya.adikya terlalu baik untuk di beri cobaan sekejam ini.

Ia berpgangan di tembok koridor rumah sakit yang sunyi itu.Langkahnya pun terhenti.Ia benar-benar tak bisa menerima semua kenyataan ini.Setibanya di ruangan taemin,ia bisa melihat dari kaca pintu ruangan Taemin ,adik kesayangannya itu telah terbaring lemah.Kakinya tak sanggup melangkah lebih jauh lagi.Air matanya pun seolah di paksa untuk menyeruak sekarang juga.Air mata yang entah sudah sejak kapan ia tak keluar kan sejak kematian kedua orang tuanya.Telapak tangannya menutupi mulutnya berusaha untuk meredam suara tangisannya yang hendak keluar.

“Ini” Tiba-tiba Jisun yang entah sudah sejak kapan berada di situ,mengulurkan sebuah sapu tangan.

“hilangkan bekas tangisan mu,jangan sampai Taemin akan merasa tambah sedih saat melihat Hyungnya yang pantang menagis ini,malah jadi cengeng seperti begini..”

Minho lalu mengusap air matanya,setelah itu ia memasang wajahnya seperti biasa lalu menjenguk taemin.

“Setelah tersadar,ternyata aku sudah berada di rumah sakit.” Ucap taemin tertawa pelan.

“Jadi,kau pasti sudah tahu semuanya Hyung.” Taemin akhirnya menoleh kearah minho sambil tersenyum seperti biasa.

“Pabbo! Kenapa masalah sebesar ini tak kau beritahu Hyung?Apa Kau mau jadi orang yang sok kuat huh?!” Minho terlihat begitu geram.

Entah ini pantas di katakan emosi atau hanya pelampiasan kemarahannya saja pada dirinya karena tak bisa menjaga adikknya dengan baik.

“Mianhae Hyung,aku hanya tak ingin menambah beban fikiran mu saja.aku tahu kau saat ini sedang focus pada perusahaan ayah yang hampir bangkrut.”Ucap taemin kembali memandang ke luar jendela tepat di samping ranjangnya.

“dari dulu sampai sekarang aku selalu merepotkan mu Hyung.Tapi tenang saja,begitu ini semua berakhir aku tak akan pernah lagi merepotkan mu dan menjadi beban fikiran mu.aku akan segera menyusul appa dan eomma di atas sana,dan sepertinya aku akan merepotkan mereka lagi.” Taemin terkekeh menatap hyungnya kembali.

“Berhentilah tersenyum seperti itu Taeminnie,kau membuatku takut dengan keadaan mu.Tenanglah semuanya akan baik-baik saja.” Ucap Minho menenangkan adiknya.

“semuanya tak akan pernah menjadi baik-baik saja Hyung.penyakitku ini tak ada obatnya dan satu-satunya penyelesaian masalah ini adalah kematian.Kau sendiri pasti tahu itu kan Hyung?” Suara Taemin mulai nampak bergetar.

Sebuah pelukan,tiba-tiba saja di terima Taemin dari Hyungnya itu.

“Berhentilah bicara tentang kematian,kau tak akan mati dan tak boleh mati.” Namja itupun akhirnya tak kuasa menahan tangisnya hingga tumpah ruah saat ia memeluk adiknya.

“Aku akan mati hyung.Itu adalah faktanya.”
Minho hanya menangis tak sanggup berkata-apa-apa lagi.

“Kau cengeng Hyung.Kau selalu bilang pada ku, kalau laki-laki itu pantang mengeluarkan air mata,tapi sekarang kau sendiri yang melanggar kata-kata mu.” Taemin masih tertawa pelan,dengan mata yang sudah mengeluarkan air mata pula.

Ruangan itu seketika saja menjadi haru biru,isakan-demi isakan tangis bergema di dalamnya.Sementara Jisun yang melihat adegan dua kakak beradik itu saling menagis,juga tak sanggup membendung air matanya lagi.Ia melorotkan badannya ke lantai rumah sakit yang dingin itu.Kepalanya ia benamkan di antara ke dua lututnya,badannya bergetar hebat dan tak lama setelahnya suara isakan pun mulai terdengar dari mulutnya walau sangat kecil.

Tbc

Annyeong sya kembali dengan ff gaje saya.Nih ff terinspirasi dr dorama jepang yg sukses ngures air mata saya,one litter of tears.

Awalnya mau bikin ff yg sedih tp setelah jadi, kok aneh gini yah wakkakaa.Bukan keyholic namaya kalo ada ffnya yang normal dan gak aneh.Baiklah, walaupun ini ff yg hancur tp yang baca di mohon komen.y yah *ngemiss*

Gamsa~ ^^

Advertisements

38 responses to “LIFE

  1. Pingback: LIFE [2 of 2] « KEYHOLIC'S WORLD·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s