{Kyura Moment} : Key’s Invasion

Author   : syipoh and elftodie21

Cast       : Cho Kyuhyun, Lee Hyora, Key, Lee Donghae, Eun Hyuk, Cho Ahra

Rate       : PG15

Genre     : comedy, romance, marriedlife, family, sedikit geje ama mesum #plaakkk

***

Annyeong!!!!!!!! Huaaaaaaaaaaaaaa aku kangen Kkumerssssssssssss!!! Kangen bikin Kyuraaaaaaaaaaaa… Ffuh… Akhirnya dapet ide juga buat ff kyuranya…

Ini juga gara-gara kkumers pada minta bikinin Kyura moment lagi. Dan… Dan… Setelah kerjaanku di sekolah selesai aku langsung cari ide dimana saja, kapan saja, siang malam hendak tidur, ataupun lagi tidur *errr…yang terakhir #abaikan.

Syipoh disini juga minta mangap. Eh, maap. Dikarenakan jadi maba, para kkumers jadi terbengkalai. Moodnya sebenernya uda dapet. Cuma waktunya itu yang nggak dapet. Jadi, bentrokan deh. Padahal Kyu uda narik-narik baju aku buat ke ranjang. #plaaakkk

Semoga pada suka ya? Ini gak tau deh bagus apa gak… Hehehe. Belakangan Kyuhyun suka posssesif ama si Hyora en cemburuan banged seperti ff yang bakal kalian baca dibawah ini. Selamat membaca~…

Oh, ya. Syipoh juga mau jelasin dikit tentang Lunar Oath. FF Kyura lainnya. Itu adalah project gila yang entah kenapa keluar begitu saja di otak kami. Dan… Terakhir aku liat uda 45. Nah loh… 5 Komen lagi buat nyampe 50. Ayo.. ayo…

*****

Author’s P.O.V

“Hufff….” Hyora menghempaskan tubuhnya di samping Kyuhyun yang sedang asyik di depan laptopnya memainkan game tanpa melirik Hyora sedikitpun. Hyora baru saja memasukan pakaian kotornya dan pakaian kotor Kyuhyun ke dalam mesin cuci.

“Jangmyeon~ah…” panggil Hyora.

“Hmmm….”

“Kau sudah selesai membersihkan karpet dan lantainya?” tanya Hyora.

“Eo..” jawabnya tanpa menengokkan kepalanya ke arah Hyora dan tetap terfokus di depan laptop kesayangannya.

‘Jika sudah di depan laptop dan memainkan game, dia pasti tidak akan menggubrisku.kata Hyora dalam hati.

Dilihatnya sekilas Kyuhyun yang sedang bermain game itu.

‘Mudah sekali. Aku bisa menyelesaikannya dalam waktu 3 menit.pikirnya.

Hyora memutuskan untuk menutup kedua matanya. Mencoba mengistirahatkan tubuhnya sejenak. Hari ini adalah hari yang sangat melelahkan baginya. Sepulang dari kampus tadi, dia langsung beres-beres apartemen. Untung saja Kyuhyun segera pulang. Jadi, dia segera menyuruhnya membantu membersihkan karpet dan lantai apartemen mereka dengan vacuum cleaner. Baru saja mata Hyora tertutup beberapa menit, dia kembali membuka matanya dengan jantung berdegup kencang.

“Ya ya ya!!! Yaaaaaaaaaa……!!!!!!!” Suara Kyuhyun yang cukup keras itu membangunkannya dari tidurnya.

“Ada apa? Ada apa???” Hyora terkaget mendengar teriakan Kyuhyun.

“Oh! Myeonjang!!! Aku menangggggggggggggggggg!!!!!!!” Kyuhyun membalikan tubuhnya menghadap istrinya dengan mata yang berbinar.

“Aish!Jeongmal!!! Kau mengganggu saja…. Aku kira ada apa…” Hyora kembali meletakan kepalanya ke sandaran kursi.

“Ya~ game hallae?? (mau bermain game?). Ayo lawan aku…” tantang Kyuhyun.

“Mwo?? Kau yakin??” Hyora menegakkan tubuhnya.

“Keurom… Kita sudah lama kan tidak bermain game bersama? Dan aku juga yakin aku akan menang. Kau kan jarang sekali main game belakangan ini… Kkkk.” ucap Kyuhyun. Hyora menggembungkan pipinya kesal.

“Dan itu gara-gara siapa, hah? Kau juga yang menggangguku tiap malam, kan? Kau selalu… selalu minta…” Hyora tak mampu melanjutkan kata-katanya. Dia terlalu malu untuk mengatakan kata yang satu itu. Kyuhyun mengernyitkan alisnya. Tak lama kemudian senyuman khas ‘pangeran iblis’ nya pun keluar.

“ Minta apa, Myeonjang~ah…” goda Kyuhyun.

“Minta…” Wajah Hyora sudah memerah sekarang. Hyora seakan kehilangan kata-kata.

‘Tidak… Aku tidak boleh diam begini. Kyuhyun pasti akan semakin menggodaku!’ ucap Hyora dalam hati.

Hyora tiba-tiba membulatkan matanya dan tersenyum kecil. Matanya kemudian menyusuri wajah Kyuhyun yang tengah tersenyum evil. Hyora kemudian mendekatkan tubuhnya ke arah Kyuhyun yang terkaget dengan gerakan yang dilakukan oleh istrinya itu. Hyora tersenyum tipis seraya menatap Kyuhyun yang kini mulai gugup dengan gerakan tangan Hyora yang sudah bergerilya di atas permukaan dadanya yang masih tertutup kaos.

“Hyo..ra..” panggil Kyuhyun gugup. Entah kenapa dia merasa tubuhnya kaku seketika saat mendapat sentuhan dari Hyora yang kini malah semakin merapat ke tubuh Kyuhyun. Didekatinya wajah tampan suaminya itu. Tangan Hyora kini pun sudah berpindah ke pundak Kyuhyun. Jarak diantara mereka berdua kini pun tidak begitu kentara. Sangat dekat.

Hyora meniupkan sedikit udara ke leher Kyuhyun, membuat Kyuhyun mengerang pelan saat merasakan sensasi yang diberikan oleh Hyora. Perlahan Kyuhyun menutup matanya. Dia dapat merasakan kalau kini wajah Hyora tengah berada di depan wajahnya karena nafas hangat yang menerpa wajahnya.

‘Sebentar lagi bibirnya yang tipis itu akan menyentuh bibirku. Hahaha. Aku tidak habis pikir kalau sekarang dia sudah pintar sekali. Tidak sia-sia praktek yang kami lakukan setiap malam. Kkkk. Aish… Tapi kenapa lama sekali?’ pikir Kyuhyun.

Sementara itu, Hyora mencoba menahan tawanya karena melihat Kyuhyun yang kini sudah memajukan bibirnya, mengharapkan kecupan dari Hyora. Tangan Hyora kini bergerak pelan menuju wajah Kyuhyun dan…

“Aaaaa…” teriak Kyuhyun seraya membuka matanya. Hyora ternyata tengah menarik atau lebih tepatnya mencubit pipi Kyuhyun.

“Aigoo… Kenapa Jangmyeon jadi mesum begini? Kau ketagihan dengan ciuman dariku, ya? Apa semalam aku kurang memuaskanmu?” tanya Hyora polos. Wajah Kyuhyun tersentak kaget mendengar ucapan yang keluar dari bibir mungil Hyora. Kyuhyun pun mengalihkan pandangannya ke arah Hyora yang sudah berpindah duduk di sampingnya. Wajahnya secara tiba-tiba muncul di hadapan Hyora. Kyuhyun menyeringai kecil.

“Waa… Kau sudah banyak belajar dariku rupanya…” ujar Kyuhyun takjub yang sontak membuat wajah Hyora berubah menjadi merah merona.

“Y-Y-ya! Ayo kita main game!” teriak Hyora lantang. Hyora berusaha mengalihkan perasaan gugupnya. Dia tidak tahu kenapa kata-kata seperti itu keluar begitu saja dari mulutnya. Dalam hati dia mengutuk mulutnya sendiri yang tiba-tiba berbicara tak tentu arah seperti itu.

“Mau mengalihkan pembicaraan? Kkkk. Baiklah. Ayo kita main!” Kyuhyun pun mencubit pipi Hyora. Hyora hanya bisa memandang Kyuhyun dengan tatapan menusuk yang membuat Kyuhyun terkikik.

“Baiklah kalau begitu… Tapi aku punya syarat!” kata Hyora.

“Mwonde?” tanya Kyuhun. Hyora menunjukkan senyum liciknya. Senyum licik yang diajarkan oleh kakak ipar kesayangannya itu. Tentu saja tanpa diketahui oleh Kyuhyun.

“Kalau kau kalah kau harus menuruti apa keinginanku selama 2 minggu.” jawab Hyora mantap.

“Dan kalau aku yang menang, aku juga mau kau mengikuti keinginanku. Terutama kau tidak boleh menyuruhku makan sayur lagi. Bagaimana?” tawar Kyuhyun.

“Joha…”

“Yaksok? (janji?)” Kyuhyun mengulurkan jari kelingkingnya.

“Arasseo…” Hyora mengaitkan jari kelingkingnya juga.

“Joha!! Ja!! Kita mulai…. ” Kyuhyun memilih game-nya sedangkan Hyora mulai menyalakan laptopnya sendiri.

Dan mulailah mereka berdua tenggelam dalam game yang mereka mainkan. Sesekali terdengar suara keduanya terpekik atau berteriak-teriak dengan kata-kata yang biasa diucapkan gamers jika mereka berada dalam keadaan tersudut atau hampir menang.

“Tunjukan kemampuanmu Cho Kyuhyun…” ejek Hyora.

“Aish!” umpat Kyuhyun pelan.

“Tamatlah riwayatmu sebentar lagi.” ucap Hyora dengan penuh penekanan.

“Kau memang benar-benar ahli, Hyora~ya… Tapi aku takkan kalah…”

“Lihat saja… Nyawamu itu tinggal sedikit lagi….” Keduanya saling berkomentar tanpa mengalihkan perhatiannya dari laptop masing-masing. Mata mereka sibuk dengan pemandangan di depan mereka. Mereka tidak akan membiarkan salah satu pihak dari mereka menang begitu saja.

Tiba-tiba, Handphone Hyora berbunyi. Dilihatnya sekilas caller ID yang tertera pada layar HPnya.

“Donghae Oppa?” Hyora melirik Kyuhyun yang sedang serius.

“Jangmyeon, kita berhenti sebentar… Oppa meneleponku…” tahan Hyora.

“Kau angkat nanti saja, Hyo… Kita sedang seru….” ucap Kyuhyun.

“Berhentilah sebentar… Jebal…. Oppa sudah meneleponku dua kali. Sepertinya sangat penting..” bujuk Hyora.

“Eiii…Arasseo….” Kyuhyun sangat kecewa. Tapi di pause juga game yang sedang mereka mainkan.

“Gomawo, Jangmyeon….” Hyora tersenyum lalu cepat-cepat mengambil handphone-nya.

“Ya! Awas kau jangan curang, ya?” ancam Hyora sebelum mengangkat telepon dari Donghae Oppa-nya.

“Ne~…” jawab Kyuhyun santai. Dibalik kesantaiannya, ternyata dia menyimpan akal licik. Selagi Hyora menjauh dari wilayah permainannya sambil menjawab teleponnya, diam-diam dia men-start gamenya dan mencuri waktu untuk membuat nyawa Hyora berkurang. Dia ingin sekali menang agar tidak usah makan sayur lagi.

“Kkkkk….”

“Kim Kibum?” Sepertia antena saja telinga Kyuhyun segera mengarah pada arah suara Hyora ketika dia menyebutkan nama seorang namja. Dia segera mem-pause lagi game-nya dan melirik ke arah Hyora yang terlihat sangat senang saat menyebutkan nama namja itu.

“Dia akan datang? Jinjja oppa?? Arasseo… Aku akan menjemputnya.” jawab Hyora lalu menutup teleponnya. Dia datang dengan senyuman tersungging di bibirnya.

“Nuguya?” tanya Kyuhyun penasaran.

“Donghae Oppa…”

“Apa yang dia bilang?”

“Aku harus menjemput seseorang di bandara. Kau mau menemaniku kan, Jangmyeon??”

“Kita harus menjemput siapa? Kenapa tidak Donghae Hyung saja?” tanya Kyuhyun.

“Oppa ada tugas di luar kota selama tiga hari. Appa juga. Jadi, hanya aku yang bisa. Aku kenalkan kau padanya nanti saja. Oke?? Ayo kita lanjutkan game kita…” ajak Hyora.

“Kita akan menjemput seorang namja?” pertanyaan Kyuhyun terdengar seperti orang yang sedang cemburu.

“Nanti kau juga tahu…” Hyora tersenyum. Dia suka sekali jika Kyuhyun sudah terdengar seperti ini, jadi sekalian saja membuatnya penasaran. Tapi senyuman di wajah Hyora seketika menghilang saat melihat ada yang aneh dengan tokoh yang dimainkannya.

“Yal!! Kau curang!!!!!” teriaknya.

“Apa? Tidak. Aku tidak curang…” elak Kyuhyun.

“Jelas-jelas curang begini. Bagaimana bisa nyawaku berkurang sedikit?”

“Aniya. Dari tadi aku mendengarkanmu di telepon, kok.” jawab Kyuhyun berusaha menyembunyikan kebohongannya.

“Kotjimal….” Mata Hyora menyipit curiga ke arah Kyuhyun.

“Jeongmarya…(aku mengatakan yang sebenarnya).”

“Aish! Awas saja kau, Cho Kyuhyun. Aku tidak akan melepaskanmu…” ancamnya lagi. Dan aura dendamnya pun tiba-tiba muncul.

“Omo! Kau menakutkan sekali, Lee Hyora…” kata Kyuhyun ngeri.

“Sudah tak usah banyak bicara… Ayo kita mulai lagi…” Mereka pun melanjutkan gamenya. Hyora benar-benar mengeluarkan aura game-nya kali ini. Dan hanya dalam 5 menit saja sudah terdengar suara teriakan Kyuhyun.

“Aaaaaaaaaaaarrrgggghhhhh…. Andwaaeeee… Andwaaeeeeeeeee….”  Kyuhyun menggelepar di lantai tempat mereka duduk seperti anak kecil yang tidak dibelikan mainan oleh eomma nya.

“Kkkk… Rasakan kau, Cho Kyuhyun…” kekeh Hyora.

“Ya!! Darimana kau belajar tertawa seperti itu?” Kyuhyun berhenti menggelepar. Hyora menyunggingkan  senyumannya.

“Siapa lagi kalau bukan kau? Hehehe… Ja! Kau harus menuruti perintahku.” Hyora bangkit dari duduknya.

“Huaaaaaaa….”

“Ganti pakaianmu… kita ke bandara sekarang….” Kata Hyora.

—–

“Aish!! Kita harus menunggu berapa lama lagi, Myeonjjang?” tanya Kyuhyun tidak sabar. Mereka berdua kini tengah berada di arrival gate.

“Barsabarlah sebentar. Tadi kan sudah aku bilang. Pesawatnya akan landing jam 7.15.”

“Ini sudah jam 7…” Kyuhyun menggulung lengan kemejanya untuk melihat jamnya.

Tepat saat itu juga announcer dari Incheon Airport mengumumkan bahwa pesawat dari Amerika telah mendarat.

“Eo! Itu dia!” Hyora segera menghampiri arrival gate untuk menjemput orang tersebut.

“Jangan cepat-cepat, Lee Hyora… Tunggu aku…” kata Kyuhyun yang kemudian menyusul istrinya.

“Aku tunggu disini saja kau yang jemput dia disana…” Kyuhyun berdiri agak jauh dari arrival gate sambil menyilangkan lengannya. Dia merasa sedikit penasaran dan juga cemburu dengan namja yang membuat Hyora senang ini.

“Andwae… Kau ikut aku!” Hyora menarik lengan Kyuhyun.

“Aish!”

“Kau kan janji akan menuruti perintahku…” kata Hyora.

Dan akhirnya Kyuhyun dengan pasrahnya mengikuti Hyora. Meskipun dia masih berdiri di belakang Hyora yang sudah tidak sabar menemui namja itu.

“Kim Kibum!!!!!!!!” teriak Hyora yang seketika itu juga membuat pandangan Kyuhyun ikut mencari orang yang dipanggil Hyoranya itu. Hyora melambai pada orang itu.

“Nunaaaaaaaa!!!!” Dia langsung berlari ke arah Hyora dan memeluknya. Membuat darah Kyuhyun naik ke ubun-ubun.

End of Author’s P.O.V

 

Kyuhyun’s P.O.V

“Kim Kibum!!!!!!!!” teriak Hyora. Aku mencari arah namja yang dia panggil. Aku melihat seorang namja yang mendongak dan memandang ke arah kami. Pakaiannya cukup stylish. Bisa dilihat dia itu seorang fashionista. Aku melihat pakaianku sendiri. Aku hanya memakai jeans dan kaos putih dirangkapi kemeja kotak-kotak biruku. Huh! Bukannya jika kau mau naik pesawat kau hanya perlu pakai baju yang nyaman? Untuk apa memakai baju yang berlebihan begitu. Dan dari tampangnya, dia ini seperti anak SMA. Dasar bocah!

“Nunaaaaaaaa!!!!” Dia langsung berlari ke arah Hyora dan memeluknya. Mataku membulat saat melihat pemandangan ini. Hanya Donghae Hyung dan Appa kami yang boleh memeluknya seperti itu. Lalu kenapa bocah ingusan ini berani memeluk Hyora-ku? Aish, jinjja..

“Kibum~ah… Oremanida (lama tak bertemu)…” ucap Hyora ramah.

“Nuna~… Bogoshiposseoyo…” ucap namja itu manja. Hyora pun mengacak rambutnya pelan lalu keduanya tertawa kecil bersama. Apa-apaan ini? Apa dia tidak menyadari ada aku di hadapannya?

“Kau sehat kan, Key?”

“Aku senang sekali akhirnya aku bisa bertemu Nuna juga.” katanya. Aku memandang mereka tajam sambil menyilangkan tanganku lagi.

“Nuna..” Bocah itu tiba-tiba memandangku balik dengan tatapan tajam pula.

“Hmm?”

“Jamkkanmanyo… Ada seorang namja yang dari tadi memandangi kita terus dengan tajam… ”

“Otti?” Hyora berbalik.

“Jikyeojulkeyo, Nuna… (akan kulindungi kau, nuna).” kata bocah tengil itu. Dia mulai berlagak melindungi Hyora seperti bodyguard.

“I saramiyeyo (orang ini)…” tunjuknya ke arahku.

“Mwo?!!!” teriakku tinggi.

“Iya. Anda, Ahjussi… Kenapa kau melihat kami terus dengan pandangan seperti itu?” Ada nada mengancam dalam nada bicaranya.

“Ya! Siapa yang kau panggil ahjussi, hah??!!” Aku tidak terima. Aku kan masih muda. Sialan sekali bocah kurang ajar ini. Sudah berani memeluk Hyora seenaknya. Sekarang dia memanggilku dengan panggilan ahjussi pula. Hyora malah tertawa melihat pertengkaran kami.

“Kibum~ah… Ahahhahaha… Geumanhae… Akan kuperkenalkan kau padanya.” Hyora meraih tanganku dan menggandengnya. Aku pun tersenyum tipis saat tangannya bertautan dengan tanganku. Perasaan hangat kembali menyelimuti hatiku setelah sebelumnya hatiku panas dingin melihat kedekatannya dengan bocah sialan itu.

“Ibuni… Nae nampyeoniya…(Orang ini adalah suamiku).” Lihat kan siapa yang menang sekarang? Aku memperlihatkan seringaianku.

“Mwo??!! Kau sudah menikah dengan ahjussi ini, Nuna??” Dia mencopot kacamatanya. Aku bisa melihat ekspresi kaget terpancar dari wajahnya.

“Ya! Kenapa kau panggil Hyora dengan sebutan Nuna sementara kau memanggilku dengan sebutan Ahjussi?” Aku mulai protes lagi. Enak saja. Aku kan belum tua.

“Panggil dia Kyuhyun Hyung, Key…” kata Hyora.

“Bagaimana bisa, Nuna?? Kau tahu kan, aku menyukaimu Nuna?” Dia terlihat shock. Dan apa-apaan itu kalimat terakhirnya? Dia menyukai Hyora-ku?

“Hahahhaa… Aku juga menyukaimu, Kibum~ah… Jangmyeon~… Ini Kim Kibum. Dulu dia tinggal di sebelah rumah kami. Tapi, dia pindah ke Amerika sejak 3 tahun yang lalu. Dia akan berada di Korea selama 2 minggu untuk liburan musim panas. Aku sudah menganggapnya keluargaku sendiri. Jadi, kau juga harus menganggapnya adik juga, ok?” jelas Hyora.

“Kau tidak bersama Donghae Hyung dan Byunghun Ahjussi, Nuna? Kenapa malah bersama ahjussi ini?”

“Mworago? Kau panggil Donghae dengan sebutan Hyung. Tapi, kenapa kau sebut aku Ahjussi??” Aku sudah kesal sekali dengan sebutannya untukku.

Donghae Oppa dan Appa sedang tugas di luar kota. Jadi, mereka berdua tidak bisa menjemputmu. Hari ini Donghae oppa sudah menitipkanmu padaku. Jadi, hari ini kau tidur di apartemen kami. Dan ayolah… Kau panggil dia Hyung juga. Dia lebih muda dari Donghae Oppa.” ucap Hyora.

“Ne, Nuna…” katanya pasrah.

“Baiklah… Sekarang ambillah tasmu dan kami akan menunggumu…” kata Hyora.

“Arasseo…” Kami kemudian berpisah sebentar dengan bocah itu yang kini berjalan ke arah tempat pengambilan barang.

“Ya! Kau bilang dia menyenangkan. Apanya yang menyenangkan? Hanya kepadamu dia bersikap menyenangkan. Dan apa itu? Dia memelukmu? Namja yang boleh memelukmu itu hanya Appamu, appaku, dan Donghae Hyung saja…” kataku kesal setelah anak itu pergi.

“Hmm…. Aku mencium bau kecemburuan rupanya…” kata Hyora meledekku.

“Cemburu apa?” elakku. Aku tak mau terlihat cemburu di hadapannya. Memalukan saja. Segera kupalingkan wajahku agar wajah dan aroma cemburuku tak terlihat olehnya.

“Ayolah, Kyu… Jangan cemburu begitu. Dia itu dongsaeng yang sangat dekat denganku dan Donghae Oppa. Kau harus memperlakukannya seperti dongsaeng juga. Dia sangat menyenangkan jika kau sudah dekat dengannya. Lagipula dia kan masih SMA. Kau tidak malu cemburu dengan anak SMA?” ucapnya.

“Huh! Tapi dia memanggilku ahjussi…” ucapku sebal.

“Hahahhaa… Tenang saja. Akan kusuruh dia memanggilmu Hyung. Kaja!” Hyora menggandengku lagi dan menunggunya. Huh! Kalau tidak karena Hyora, sudah kumarahi habis-habisan bocah sialan itu. Dia itu sungguh tidak sopan dengan orang yang lebih tua. Yah… Meskipun aku begitu juga. Tapi, aku jarang sekali memanggil monyet gunung dan ikan kembung itu tanpa embel-embel Hyung.

“Ayo, Nuna…” ucap bocah sialan itu sok manis. Wajahnya mengukirkan senyuman saat melihat Hyora. Tapi, begitu melihat wajahku senyumnya pun berubah menjadi senyuman sinis. Bocah ini…

“Ayo…” ucap Hyora sambil menyunggingkan senyum manisnya. Senyum yang biasanya hanya dia tujukan untukku. Ige mwoya?? Dan bocah sialan itu pun segera menarik tangan Hyora. Keduanya berjalan beriringan sementara aku seperti satpam mereka saja. Mengikuti mereka berdua dari belakang. Grrr…

Sekarang kami bertiga. Cish. Kenapa ada kata kami? Harusnya aku, Hyora, dan bocah sialan ah ani.. Aku rasa bocah tengil lebih pantas menjadi panggilannya. Kini kami tengah berada di dalam mobil dengan posisi yang sangat menyebalkan. Bocah tengil itu duduk di belakang bersama Hyora. Sedangkan aku? Sudah seperti menjadi supir saja. Aku terus-terusan melirik ke arah mereka melalui spion dalam mobil. Terkadang aku menggeram pelan saat posisi duduk Hyora dan bocah tengil itu terlalu dekat atau tangan bocah itu yang selalu memegang-megang istriku.

“Kalian, berkenalanlah secara resmi.” perintah Hyora tiba-tiba. Cish. Sungguh, aku tak sudi.

“Kim Kibum imnida. Kau boleh panggil aku Key juga ahjussi. Pangabseumnida…” ucap bocah tengil itu.

“Sudah kubilang kan panggil dia Hyung, Key…” perintah Hyora. Bagus, Myeonjang~ah.. Itu baru istriku. Aku tersenyum kecil saat Hyora membelaku. Rasakan, bocah tengil!

“Mianhada Nuna…  Aku lupa sudah kebiasaan.” katanya sambil menggaruk rambutnya. Aish, jinjja!!

“Giliranmu Jangmyeon…”

“Namaku Cho Kyuhyun. Panggil saja KYUHYUN HYUNG. Pangawo..” Aku menekankan pada kata Kyuhyun Hyung.

“Hey… Kalian berdua harus akur, ya?” nasehat istriku.

“Ne~…” Dalam mimpi saja aku harus akur dengan bocah tengil sepertinya.

“Key~ya… Bagaimana sekolahmu?” tanya Hyora antusias.

“Aku sudah diterima di The Culinary Institute of America.  Nuna… Nanti liburan musim panas aku akan ikut program 84 minggu disana.” ucap bocah tengil itu bangga.

“Jinjja?? Wahh.. Daebak!! Kau harus memasakkanku sesuatu kalau begitu.” ucap Hyora dengan wajah berbinar. Cish. Kenapa dia senang sekali? Aku juga bisa memasak. Yah… Meskipun masakanku tidak begitu enak.

“Tenang saja Nuna… Tinggal sebut saja permintaanmu. Pasti akan aku masakkan…” Aku meliriknya melalui kaca atas. Bocah tengil itu pun memandang ke arah kaca atas lalu memperlihatkan senyuman tanda kepuasannya padaku. Eeeiiii… Menyebalkan sekali dia.

“Oh, ya. Jangmyeon~ah… Key akan menginap di apartemen kita selama seminggu ini. Jadi, kita langsung pulang saja.” ucap Hyora. Aku mengangguk-anggukkan kepalaku tanda mengerti. Tapi tunggu… Menginap? Seminggu?

CKIITT!!!

“Ige mwoya?” Aku mengerem mobilku mendadak saat mendengar ucapan Hyora. Yang benar saja? Sudah harus menjemputnya dan bertemu bocah tengil sialan itu. Sekarang dia harus menginap di apartemen kami?

“Ya! Ajuhssi! Kau bisa menyetir tidak, sih? Nuna… Kau tidak apa-apa?” bentak bocah tengil itu. Sial! Sudah berani membentakku rupanya.

“Ani, gwenchana…” ucap Hyora pelan.

“Jangmyeon~a… Tak apa kan kalau dia menginap selama seminggu di apartemen kita. Donghae Oppa tadi mengirimiku sms lagi. Tugas luar kotanya diperpanjang. Sementara kau tahu sendiri kalau appa sangat sibuk. Kasihan Key kalau dia tidak ada yang menemani.” ucap Hyora memelas. Dia menunjukkan wajah puppy eyes nya kepadaku. Aish.. Kalau seperti ini mana bisa aku menolak.

“Arasseo…” ucapku pasrah.

“Oh, ya Nuna… Kenapa kau memanggilnya dengan sebutan Jangmyeon. Bukankah namanya Kyu.. Kyu siapa ya?” tanya bocah tengil itu. Wajah Hyora sontak memerah. Ah.. Jangan kau tunjukkan wajah memerahmu di depan bocah tengil itu, Myeonjang~ah…

“Itu.. Itu karena…” Hyora tampak gugup dan tak mampu menjawab pertanyaan bocah tengil itu.

“Aku yang memintanya. Wae?” ucapku santai.

“Kekanak-kanakan.”

“Mwoya?” Aku sungguh tidak mengerti. Apa masalah bocah tengil ini. Kenapa dia selalu saja memojokkanku. Dia juga suka sekali dekat-dekat istriku. Apa dia tidak tahu bahwa yeoja yang kini tengah duduk di sampingnya itu sudah menikah?

End Of Kyuhyun’s P.O.V

—–

Hyora’s P.O.V

Sejak tadi aku melihat wajah Kyuhyun yang tertekuk terus menerus. Membuatnya terlihat menyebalkan saja. Yah.. Meskipun dia masih tetap tampan. Kuakui itu. Aku menghela nafas panjang saat Kyuhyun turun begitu saja dari mobil. Dia bahkan membanting pintu mobilnya keras. Aish.. Pasti dia marah padaku. Aku melirik ke arah Key yang masih sibuk dengan barang bawaannya.

“Aku tidur dimana, Nuna?” tanya Key saat kami sudah masuk ke dalam apartemen. Kyuhyun sudah duduk di depan tv dan sibuk menggonta-ganti channel.

“Yeogi…” Aku berjalan mendahuluinya dan membuka kamar belajarku dan Kyuhyun.

“Mian.. Sedikit berantakan. Kau tidak apa-apa kan tidur seperti ini?” Aku sedikit merasa tidak enak dengan Key. Dia hanya kuberi sebuah kasur single yang terletak di lantai. Kamar di apartemen kami hanya ada satu. Jadi, tidak mungkin kan kalau kami bertiga tidur dalam satu ranjang?

“Gwenchana, Nuna…” ucapnya sambil tersenyum. Aigoo.. Manis sekali. Coba kalau aku juga punya adik seperti dia. Pasti menyenangkan sekali.

“Baiklah, Key. Aku tinggal dulu. Kau bisa mandi dulu jika kau mau. Aku mau menyiapkan makan malam untuk kalian.” ucapku.

“Arasseo, Nuna…”

BLAM! Kututup pintu kamar belajar kami yang kini menjelma menjadi kamar sementara untuk Key. Aku berjalan ke arah dapur dan mulai menyiapkan makanan.

“Selesai!” ucapku riang. Aku menaruh semua hidangan yang akan kami makan di atas meja makan. Setelah itu, aku melirik ke arah Kyuhyun yang kini tengah berdiri dan beranjak ke kamar kami. Sepertinya aku harus berbicara dengannya. Aku melangkahkan kakiku, mengikuti langkah kakinya yang kini menuju ke kamar mandi. Sebelum Kyuhyun menutup pintu kamarnya, aku menahannya dengan tanganku. Kyuhyun membalikkan tubuhnya.

“Wae?” ucapnya seraya melangkah masuk ke dalam kamar. Aku tidak menjawab pertanyaannya. Aku masih melihat raut kesal di wajahnya. Ku tutup pintu kamar kami. Aku tidak mau Key mendengar pembicaraan kami. Kyuhyun mengambil psp dari atas meja sebelah ranjang kami dan mulai memainkannya.

“Jangmyeon~a..” panggilku. Dia melirikku sekilas lalu kembali memainkan psp nya. Aku mendesah kesal. Dia ini. Kalau sudah marah sungguh sangat mengesalkan. Aku segera menarik psp yang ada di tangannya.

“Ya! Kenapa kau…”

CUP! Aku mengecup bibirnya pelan. Aku bisa melihat perubahan ekspresi yang tergambar di wajahnya. Matanya membulat. Mungkin dia kaget dengan perbuatan yang baru saja kulakukan. Aku sendiri kaget dengan apa yang kulakukan. Aigoo.. Dia pasti akan menggodaku habis-habisan.

“Mianhae…” ucapku pelan.

“Untuk apa?” tanyanya dingin.

“Aku tahu. Kau pasti tidak suka kalau Key menginap di sini.”

“Itu kau tahu..”

“Tolonglah.. Seminggu ini saja. Aku janji akan melakukan apa saja supaya kau bisa menerimanya.” pintaku. Kyuhyun pun mendongakkan wajahnya. Aku menilik wajahnya, ingin melihat ekspresi apa yang kini ditunjukkannya. Dan… Aku hanya bisa menjelaskan satu ekspresi yang tergambar jelas di wajahnya. Ekspresinya itu… Ekspresi mesum! >////<

“Jinjja?” tanyanya dengan muka berbinar.

“E-eo…” Aigoo.. Kenapa aku masih saja gugup. Kyuhyun segera menarik tanganku dan mendudukkanku di atas pahanya. Mata kami berdua bertemu. Entah kenapa aku refleks menutup mataku saat aku merasakan hembusan nafasnya yang berada di permukaan kulitku. Aku bisa mencium aroma maskulin yang keluar dari tubuhnya. Ah.. Aroma yang memabukkan.

CUP! Akhirnya bibir kami berdua pun bertemu. Aku bisa merasakan lembutnya bibir Kyuhyun yang kini berpagut erat dengan bibirku. Ku kalungkan tanganku di lehernya. Ciuman kami berjalan pelan namun intens. Seolah tak ingin terlepas begitu saja. Ciuman kami pun tak lama kemudian sudah berubah menjadi liar. Tangan Kyuhyun sudah bergerak-gerak menyusuri lekuk tubuhku. Mencari celah untuk masuk ke dalam baju yang kupakai. Aku dapat merasakan tubuhku sedikit bergetar saat tangannya menelusup masuk ke dalam tubuhku. Kemudian…

“Nuna! Aku lapar!” teriak Key dari luar. Astaga! Aku lupa! Sekarang kami tidak sedang berdua saja. Segera saja kulepaskan ciuman kami.

“Ck. Bocah sialan.” umpat Kyuhyun pelan.

PLETAK!

“Ya! Kenapa kau pukul kepalaku?” tanya Kyuhyun kesal.

“Jangan memanggilnya dengan sebutan seperti itu. Kau itu kan lebih tua darinya. Berilah contoh yang baik padanya.” ucapku. Aku bangun dari dudukku dan merapikan kaosku yang sudah tak beraturan bentuknya karena ulah Kyuhyun.

“Eo! Sebentar…” Aku pun keluar dari kamar diikuti oleh Kyuhyun yang masih mengomel pelan.

“Kyu.. Ingat apa yang aku katakan.”

“Ne…” jawabnya pasrah.

—–

“Nuna… Kau makan apa?” tanya Key saat kami bertiga sudah duduk di atas meja makan. Aku mengambil salad sayur yang kubuat.

“Aku makan salad. Wae?” tanyaku.

“Aku mau!” ucap Key semangat.

“Jinjja?” ucapku riang. Woah.. Aku jadi semakin menyukainya. Emm. Perlu dijelaskan disini. Bukan suka dalam artian seperti rasa sukaku terhadap Kyuhyun. Key ini sudah kuanggap seperti adikku sendiri. Saat Donghae Oppa dan appa sibuk dengan semua kegiatan mereka, Key lah yang selalu menemaniku. Bermain bersamaku. Belajar bersama. Dan berbagai hal menyenangkan lainnya.

“Ne.. Aku kan sangat menyukai sayur.”

“Ah.. Nomu joha. Ja! Ini saladnya.” ucapku sambil menyodorkan salad sayur buatanku. Aku menatapnya antusias. Baru kali ini ada orang yang mau makan salad bersamaku. Kalian tentu sudah tahu kan kalau Kyuhyun tidak suka dengan…

“Salad.”  Aku terkaget saat Kyuhyun mengucapkan kalimat itu.

“Mwo?” ucapku tak percaya.

“Aku juga mau. Kemarikan saladnya.” Kyuhyun menarik mangkok besar berisi salad yang kubuat. Dia mengambilnya dan menaruhnya di atas piring makannya. Aku melihat tangannya sedikit gemetar saat tangannya hendak menyuapkan salad ke dalam mulutnya.

“Jangmyeon~a.. Kalau kau tidak mau tidak usah dimakan saja. Aku sudah memasakkan Taiwan Fried Chicken kesukaanmu.”

“Kau tidak suka sayur ahjussi? Pantas saja jerawatmu bertebaran di wajahmu.” ucap Key. Aku bisa melihat rahang wajah Kyuhyun yang mengeras. Aigoo.. Jangan bilang kalau dia itu sedang marah. Bisa gawat.

“Panggil aku Hyung..” ucap Kyuhyun dingin. Aku bisa merasakan atmosfer di ruang makan kami mendadak menjadi kelam.

“Ah.. Ne.. Baiklah. Kyuhyun Hyung..” ucap Key santai. Dia melanjutkan makannya dengan lahap. Sementara itu, Kyuhyun masih menarik ulur sendok yang ada di tangannya. Wajahnya nampak begitu tersiksa.

CLETAK! Aku mendengar suara sendok yang terbanting di atas meja makan. Kyuhyun berlari ke arah wastafel dan memuntahkan makanannya. Aku menyusulnya diikuti oleh pandangan heran dari Key.

“Kyu.. Gwenchanha?” tanyaku. Dia hanya menganggukkan kepalanya pelan.

“Tidak usah memaksakan diri. Aku tahu kau tidak suka sayur.” ucapku sambil tersenyum. Kyuhyun pun ikut tersenyum. Ah.. Senyum yang sangat memikatku.

—–

“Myeonjang~ah..” Aku mendengar Kyuhyun memanggil namaku. Saat ini kami sedang berada di kamar kami berdua untuk tidur karena ini sudah malam. Aku masih merapikan ranjang kami yang sedikit berantakan sementara Kyuhyun duduk di atas ranjang. Key sudah masuk ke kamarnya sejak tadi. Sepertinya dia sedang jetlag setelah perjalanan panjang dari Amerika ke Korea.

“Wae?”

“Popo…” ucapnya manja.

“Mwo?” Aku kaget dengan aksinya yang mendadak ini. Yah… Meskipun dia biasanya memang begitu. Ah.. Molla. Aku langsung memunggunginya karena wajahku yang memanas. Aku bisa merasakan tangan besar dan hangat Kyuhyun menarik tubuhku pelan ke dalam pelukannya. Dia menghirup udara pelan di dekat leherku membuat nafasku berhenti sesaat. Aku masih saja merasakan sensasi aneh itu saat tubuh kami berdekatan meskipun kami sudah sering melakukannya. Jangan tanya padaku seberapa sering kami melakukannya karena aku sendiri tidak tahu.

Kyuhyun membalikkan tubuhku dan mengecup dahiku pelan. Aku menutup mataku merasakan sentuhannya. Sentuhannya selalu bisa membuat tubuhku bereaksi cepat. Darahku terasa mengalir deras di dalam tubuhku. Bibirnya kini sudah berpindah ke hidungku, pipiku, dan dengan cepat ia melumat bibirku. Aku merasakan bibirnya yang bergerak-gerak di atas bibirku, seakan memberi kode untuk membuka bibirku. Kubuka pelan bibirku dan dapat kurasakan lidahnya menelusup masuk ke dalam mulutku. Lidahnya meraba seluruh permukaan mulutku, terasa manis saat lidah kami berdua saling bertautan. Tangannya pun mulai bergerak aktif membuka kancing piyamaku satu persatu. Aku berjengit pelan saat tangannya meraba permukaan dadaku. Tangan Kyuhyun pun mulai membuka piyamaku lepas. Lalu….

BRAK!

“Nuna!!” teriak Key. Omo! Aku segera melepaskan ciumanku dengan Kyuhyun. Kancing piyamaku yang terlepas pun segera ku kancingkan.

“Eo… Key~ya. Wae?” ucapku gugup. Aku melirik ke arah Kyuhyun. Wajahnya sungguh menakutkan. Dia menatap ke arah Key tajam.

“Nuna… Aku tidur di sini, ya? Kamar sebelah panas sekali. AC nya mati.” ucapnya.

“Mwoya? Ya! Bocah sialan! Apa kau tidak tahu kalau kau sudah mengganggu acara olahraga empph emphh…” Aku menutup mulut Kyuhyun dengan tanganku. Aish, jinjja! Kenapa dia harus marah dengan mengucapkan kalimat seperti itu.

“Errr… Nuna. Aku tidak mengganggu, kan?” ucap Key sambil melayangkan pandangannya padaku memelas. Sepertinya dia merasa sangat bersalah.

“Aniya…” jawabku.

“Kalau begitu.. Ayo kita tidur! Nuna… Sudah lama ya kita tidak tidur bersama lagi. Terakhir kali waktu Nuna kelas 1 SMA, kan?” cerocos Key yang langsung menarik tanganku ke arah ranjang. Aku bisa melihat kilatan amarah dari mata Kyuhyun. Aigoo.. Key.. Jangan membangunkan pangeran iblis yang sedang marah..

“Hyora~ya…” panggil Kyuhyun. Aku menatapnya yang kini tengah menatapku tajam. Sementara itu, Key malah menepuk-nepuk ranjang di sebelahnya.

“Err… Itu tidak seperti yang kau pikir, Kyuhyun~ah.. Kami hanya…”

“Nuna! Kau tidur di sebelahku, ya?”

“Andwae! Ya! Kau ini mengganggu sekali. Lepaskan tanganmu dari tangan istriku.”

“Ya! Ahjussi! Kau cerewet sekali. Kau kan sudah sering tidur bersama Nuna. Sedangkan aku sudah lama tidak tidur bersama Nuna.”

“Enak saja. Dia itu istriku. Ingat! Istriku. Jadi, kau tidak berhak sama sekali untuk menyentuhnya ataupun tidur dengannya.”

“Cish.. Kekanak-kanakan sekali…”

“Ya!”

“STOPP!!!” Aku akhirnya berteriak. Mereka ini. Kenapa mereka malah jadi bertengkar seperti ini? Mereka pun akhirnya berhenti bertengkar dan menatapku bingung.

“Baiklah. Aku tidur di tengah saja.” ucapku.

“Andwae! Aku saja yang di tengah.” Dengan segera Kyuhyun duduk di tengah ranjang sehingga kini posisinya adalah Key, Kyuhyun, dan aku. Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalaku saja.

“Terserah kau sajalah…” Aku akhirnya merebahkan tubuhku di samping Kyuhyun yang kini tersenyum senang. Sementara itu, Key terus mengomel pelan. Hhhh.. Semoga saja tujuh hari ke depan tidak akan terjadi hal yang aneh-aneh.

End Of Hyora’s P.O.V

—–

Author’s P.O.V

Matahari perlahan mulai memasuki ruang kamar Kyuhyun dan Hyora. Ranjang mereka terasa sesak karena biasanya hanya diisi oleh mereka berdua kini ada tambahan satu orang lagi.

“Kyu…” Kyuhyun mengeratkan pelukannya. Menghirup aroma tubuh orang yang dipeluknya lebih dalam. Wangi kesukaanya.

“Kyu…”

“Sebentar lagi, Hyora~ya… Aku masih ingin memelukmu.”

“Lepaskan aku ahjussi gila…”

“Hyora~ya… Kenapa suaramu jadi seperti bocah tengil itu?”

“Siapa yang bocah tengil, hah? Lepaskan aku ahjussi gila!”

“Ya! Kenapa kau membentakku bocah sial! Aku kan sedang memeluk istriku sendiri? Apa hakmu untuk melarangku?” teriak Kyuhyun meskipun matanya masih tertutup rapat.

“Jangmyeon~ah… Yang kau peluk itu Key. Bukan aku.” ucap Hyora pelan.

“Mwoya!” Seketika saat itu juga Kyuhyun melepaskan pelukannya dari Key dan menendangnya sehingga Key terjatuh dari tempat tidur.

“Aish! Kau benar-benar sudah gila ahjussi…” ucap Key lantang sambil mengusap pelan pantatnya yang terasa sakit akibat terjatuh dari atas ranjang.

“Aish!… Kenapa aku jadi memelukmu bocah tengil?”

“Sudah.. sudah.. Kenapa kalian ini senang sekali berkelahi? Ayo makan. Ini sudah pagi.” Hyora hendak pergi ke arah dapur ketika tangannya di tarik Kyuhyun.

Morning kiss…” bisik Kyuhyun pelan. Sontak wajah Hyora memerah saat mendengar permintaan Kyuhyun. Yah… Meskipun biasanya Kyuhyun akan dengan mudahnya mencium bibir Hyora. Tapi, kali ini keadaannya agak berbeda. Ada orang lain yang kini tengah menatap mereka dengan tatapan aneh.

“Tapi, Kyu…”

“Morning kiss atau aku tidak akan melepaskan pelukan…”

CHU~ Kyuhyun membelalakkan matanya saat dia merasakan sebuah bibir mengecup pipinya. Wajahnya sontak memerah. Bukan. Bukan karena malu. Tapi lebih tepatnya…

“YA! Bocah tengik! Siapa yang menyuruhmu menciumku??!!”

—–

Suasana di antara Kyuhyun, Hyora, dan Key menjadi semakin mencekam saat mereka bertiga tengah makan pagi bersama. Kyuhyun dan Key tampak saling menatap tajam seolah dendam diantara mereka berdua sungguh tidak bisa diselesaikan dengan cara baik-baik. Sementara itu, Hyora malah makan dengan wajah polosnya. Seolah tidak terjadi apa-apa. =,=”

“Nuna.. Bagaimana kalau sehabis makan kita pergi ke Everland? Eottae? Kita sudah lama tidak pergi ke sana, kan?” tanya Key.

“Ah… Ide bagus, Key. Lagipula aku juga sudah lama tak pergi kesana.” Hyora memandang Kyuhyun. “Kyuhyun~ah.. Boleh kan kalau kami berdua pergi ke Everland.” lanjut Hyora.

“Tidak boleh jika hanya kalian berdua saja.” jawab Kyuhyun sinis.

“Kau mau ikut?” tanya Hyora.

“Harus. Aku tidak mau bocah tengil ini berkeliaran di sebelahmu terus.” ucap Kyuhyun yang diikuti pelototan dari Key. Kyuhyun pun membalasnya dengan pelototan yang tak kalah tajamnya.

“Arasseo…”

—–

Kyuhyun, Hyora, dan Key kini tengah berada di Everland. Salah satu theme park terbesar di  Korea Selatan. Hyora dan Key sibuk berkeliling mencari wahana permainan yang akan mereka mainkan. Sementara itu, Kyuhyun mengikuti mereka dengan pandangan yang yah… kalian tentu bisa menebaknya. Penuh dengan rasa cemburu.

“Bocah sial! Beraninya dia…” geram Kyuhyun. Dia sama sekali tidak mempedulikan tatapan kagum dari beberapa yeoja yang melihatnya. Padahal, biasanya Kyuhyun akan berpura-pura tak melihat dan meledek Hyora dengan mengatakan bahwa banyak yeoja yang terus melihatnya. Tapi, kini matanya tidak bisa lepas dari Hyora yang ditarik ke sana kemari oleh Key.

“Nuna! Ayo kita naik itu!” ucap Key sambil menunjuk bianglala.

“Mwo? Ya! Memangnya kalian berdua sedang kencan? Andwae. Tidak boleh!” bentak Kyuhyun.

“Jangan membentaknya, Kyu.. Banyak orang yang melihatnya.” Hyora menasihatinya.

End Of Author’s P.O.V

 

Kyuhyun’s P.O.V

“Mwo? Ya! Memangnya kalian berdua sedang kencan? Andwae. Tidak boleh!” bentakku. “Jangan membentaknya, Kyu.. Banyak orang yang melihatnya.” Hyora menasihatiku. Ige mwoya? Kenapa istriku sendiri malah memarahiku. Oke. Dia menasihatiku. Tapi, ini jadi terlihat sangat menyebalkan saat istrimu sendiri malah membela orang lain. Dan yang dibelanya itu adalah bocah sialan itu. Aku mendengus pelan. Baiklah, bocah tengil. Lihat saja pembalasanku.

“Ne, jagiya~…” ucapku manja.

“M-mwo?” Hyora tampak terkaget. Wajahnya yang putih kemerahan semakin memerah karena ucapanku pastinya. Hahaha. Aku suka sekali melihat semburat merah di pipinya. Aku mendekatkan tubuhku kepadanya. Tersenyum kecil kepadanya.

“Neo…  Tunggu pembalasanku malam nanti.” bisikku pelan. Hyora langsung saja memukul pundakku pelan.

“Mesum!” pekiknya.
“Tapi kau suka, kan?” godaku.

“Nuna! Ada cotton candy! Kau mau? Aku akan belikan.” Aksi goda menggodaku dengan Hyora pupus sudah saat aku mendengar suara cempreng bocah tengil ini. Sungguh. Kalau ada ekspedisi pengiriman harimau ke Afrika sana, aku sudah pasti akan menyelundupkan bocah ini. Sungguh mengganggu!

“Ah.. Aku mau..” ucap Hyora riang. Tidak.. Bocah sial itu tidak boleh merebut hati istriku.

“Biar aku yang belikan!” ucapku lalu segera berlari menuju penjual cotton candy yang letaknya ada sekitar lima meter dari tempat kami berdiri. Aku membeli satu cotton candy berwarna merah jambu. Ah.. Mengingatkanku dengan semburat yang biasanya keluar dari pipi Hyora saat aku menggodanya.

“Igo..” Aku menjulurkan cotton candy itu ke arah Hyora. Tapi…

“Ini untukku…” Bocah sial itu dengan serta merta mengambil cotton candy yang ada di tanganku dan memakannya.

“Bocah sial…” geramku pelan. Bocah itu hanya mengedikkan bahunya dan berjalan meninggalkanku yang masih geram, menahan amarah. Dasar! Apa dia tidak tahu kalau aku ini pangeran iblis?

“Sudahlah, Kyu… Kita bisa membelinya lain kali.” ucap Hyora sambil mengelus punggungku pelan. Huh.. Kalau bukan karena istriku, sudah kubabat habis bocah tengil itu.

“Bagaimana kalau kita naik roller coaster?” tawar Hyora. Seketika senyumku mengembang.

—–

“Nuna… Kau yakin?” ucap bocah itu. Ada raut takut di wajahnya. Hei! Jangan bilang kalau dia takut ketinggian. Hahaha. Ini kesempatan bagus.

“Geureom… Ini permainan kesukaanku. Ja!” ujar Hyora semangat sambil menarik tangan Key. Oke. Untuk yang ini aku tidak cemburu karena aku mendapat bonus yaitu raut wajah Key yang ketakutan setengah mati. Hahaha.

“Tapi, Nuna…”

“Manja!” ucapku pelan. Tapi, sepertinya bocah itu mendengar ucapanku. Dia menatapku tajam dan tentunya aku membalasnya tak kalah tajam. Huh! Kau tidak akan bisa mengalahkan tatapan tajamku, Key! Tiba-tiba, bocah itu mengeluarkan evil smirk nya padaku. Hei! Yang punya evil smirk itu hanya aku. Cho Kyuhyun. Namja tertampan di muka bumi ini. Dengan segera, Key menarik tangan Hyora ke tempat duduk dan mereka kini tengah duduk berdua.

“Ya! Ya! Apa-apaan kau!” Bocah ini. Benar-benar selalu membuat emosiku naik turun.

“Sudahlah, Kyu…”

“Maaf, ahjussi… Roller coaster nya akan segera berjalan. Anda mau naik tidak?” ucap penjaga roller coaster. Tunggu. Dia bilang apa tadi?

“Mwoya? Ya! Siapa yang kau bilang ahjussi?!” bentakku.

“Mau naik tidak?” tanyanya lagi. Seolah tidak peduli denganku yang sedang menatapnya tajam. Apa efek evilkyu kini tidak berpengaruh lagi?

“Arasseo…” Aku akhirnya naik dan duduk tepat di belakang mereka. Sungguh sangat membosankan. Harusnya aku bisa bersantai dengan Hyora karena ini hari Minggu. Akhir-akhir ini kami terlalu sibuk karena kami sedang persiapan skripsi. Dan para dosen sialan itu malah memberikan banyak tugas yang membuat kami harus lembur hingga tengah malam. Dan sekarang… Kami malah mendapat pengganggu yang lebih menyebalkan dari ketiga ah ani keempat cecunguk itu. Dimana mereka, ya? Sepertinya aku rindu dengan mereka.

—–

“Hoek… Hoek…” Yaiks! Menjijikkan sekali.

“Aigoo.. Key. Aku lupa kalau kau takut ketinggian.” ucap Hyora cemas. Hahaha. Rasakan bocah tengil.

“Gwenchanha, Nuna…”

“Apa lebih baik kita pulang saja?” tawarku.

“Andwae! Aku masih ingin bermain!” Huh? Ingin melawanku bocah? Siap-siap saja. Aku tidak akan melepas Hyoraku begitu saja.

Flashback

“Ahjussi… Sejak kapan kalian menikah?” Bocah tengil itu menanyaiku saat kami sedang bersiap pergi ke Everland. Hyora masih mandi di kamar mandi kamar kami.

“Panggil aku, Kyuhyun Hyung. Ini sudah bulan ke 7 kami menikah.” jawabku.

“Bagaimana bisa dia menikah denganmu? Apa kau punya keahlian khusus?” tanyanya seperti petugas imigrasi.

“Aku bisa bermain game, aku pintar matematika, dan suaraku merdu. Semua yeoja tergila-gila padaku. Apa itu tidak cukup?” ucapku bangga.

“Hahahaha.. Hanya itu? Kau bisa memasak? Hyora Nuna kan pintar memasak…” Aish! Dia ini pintar sekali melihat kelemahanku.

“Ani. Tapi, aku pintar menghabiskan makanannya…” jawabku cuek.

“Ahjussi. Kau tahu tidak kalau aku ini menyukai Hyora Nuna?” tanya bocah tengil itu.

“Karena dia sudah jadi milikku. Jadi, kau tidak boleh menyukainya lagi.” ucapku berusaha menahan emosiku. Aku tidak boleh terlihat emosi di depan bocah sial ini.

“Bagaimana jika aku ingin merebutnya darimu?” Pertanyaan ini membuat nafasku tercekat.

“Neo…”

“Aku ingin merebutnya dari tanganmu.” katanya serius.

“Jangan berani kau menyentuhnya…” ancamku. Dia hanya menunjukkan senyum liciknya kepadaku.

“Aku menantangmu, Hyung… Bagaimana dengan kompetisi?” tanyanya.

“Mwo? Shireo….” Aku menolaknya mentah-mentah.

“Kalau begitu Hyora Nuna bisa menjadi milikku.”

“Hah!! Kenapa bisa begitu?”

“Kau menyerah sebelum berperang melawanku.”

“Huh! Kau ini kan hanya bocah ingusan. Hyora itu sangat mencintaiku…”

“Cih.. Aku tidak percaya. Jika kau namja, kau pasti mau menerima tatanganku.” Dasar bocah pintar. Apa boleh buat. Aku terima juga tantangannya.

“Bagaimana caranya menentukan pemenangnya?” tanyaku.

“Kita lihat siapa yang bisa merebut perhatian Nuna.”

“Sudah pasti aku…”

“Jangan bicara sebelum semuanya terjadi.”

“Pintar sekali kau bicara.”

“Apakah ini berarti deal?” tanyanya sambil mengulurkan tangan. Aku tidak langsung menyambut tangannya. Apakah keputusanku ini benar?

“Baiklah. Deal…” Aku yakin aku akan mengalahkan bocah tengil ini. Lihat saja nanti.

“Kalian sudah berbaikan?” Hyora tiba-tiba muncul.

“Ah… Ne, Nuna…” Hyora tersenyum mendengarnya.

End Of flashback

Baiklah kalau itu maumu, bocah tengil. Aku tidak akan segan-segan. Aku bukan orang yang akan melepaskan sesuatu yang sangat berharga bagiku begitu saja.

“Hei! Bagaimana dengan rumah hantu?” tawarku. Segera saja kutarik tangan Hyora tanpa peduli dengan bocah tengil itu yang terus berteriak di belakangku dan Hyora.

“Kyu…”

“Tenang saja, Myeonjang~ah… Ada aku…” Aku tahu sekali. Sangat tahu. Hyora itu sangat takut sekali dengan hal-hal yang berbau mistik atau perhantuan. Jadi, ini tentu merupakan salah satu kesempatan terbaikku untuk menaikkan image ku sebagai suami idaman pelindung istri yang setia. Hahaha.

—–

“Kyaaaa!!!” Hyora menarik kaos yang kupakai pelan. Aku bisa merasakan tangannya melingkar di pinggangku. Tapi kenapa? Kenapa bocah sial itu juga ikut-ikutan menarik kaosku dan bersembunyi di balik tubuhku?

“Ya! Lepaskan, bocah tengil!” bentakku. Bukannya melepaskan pegangannya bocah tengil itu malah makin mengeratkan.

“Nuna…”

“Kyu…”

“Aku takut…” ucap mereka berdua berbarengan. Sial! Aku pikir jika memilih wahana ini, aku dan Hyora bisa bermesra-mesraan. Tapi, nyatanya… Bocah sial ini ternyata juga sama saja seperti Hyora. Takut dengan hal-hal seperti ini. Ck. Sia-sia saja aku membawa mereka ke sini.

“Ffuh…”

“Akhirnya…” Ah.. Aku tidak sadar kalau kami sudah keluar dari wahana ini. Aku menatap Hyora dan bocah sial itu yang kini berwajah lega. Tidak seperti saat di dalam tadi. Hmmm… Apa yang harus kulakukan, ya? Aku melirik jam di tanganku. Sudah malam juga. Sekarang sudah pukul 7 malam. Aku mendongakkan kepalaku dan melihat cahaya terang dari atas sana.

Bianglala? Kenapa aku tidak berpikir untuk…

“Nuna! Ayo naik bianglala!” teriak bocah tengil itu. Sial! Aku keduluan lagi. Dia dengan sigap menarik tangan Hyora menuju antrian bianglala. Aku pun setengah berlari mengejar mereka yang kini siap menaiki bianglala. Aku tidak boleh kalah kali ini.

“Tunggu!” Segera kutampik tangan Key dari Hyora. Aku pun menarik tangan Hyora hingga akhirnya kami berdua bisa naik ke atas bianglala. Sementara, bocah tengil itu masih berteriak-teriak dari bawah. Cish.. Apa peduliku?

“Dasar jahil!”

“Hahaha…” tawaku pelan. Dia hanya meninjuku kecil tepat di lenganku.

“Hei… Lihat itu!” Hyora menunjuk ke arah luar bianglala dengan tatapan takjub. Ah.. Yeppeo… Aku suka sekali melihat ekspresinya yang berubah-rubah. Ekspresinya saat senang, marah, cemburu. Semuanya aku suka. Bisakah kalian sebutkan apa yang tidak aku suka darinya?

“Hyora~ya…”

“Hmmm…” Dia masih terpaku dengan pandangan indah di luar sana. Lampu kelap kelip yang berwarna warni memang terlihat indah saat dilihat dari atas sini. Wajah Hyora pun semakin terlihat cantik saat pantulan cahaya dari luar menerpa wajahnya. Ah.. Aku jadi ingin menggodanya. Kutarik tubuhnya pelan, mereduksi jarak diantara kami berdua. Wajahnya menatapku bingung, seperti anak kecil yang kehilangan ibunya. Hahaha. Membuatku ingin mencubit pipinya itu.

“Saranghae…” ucapku tiba-tiba. Aku sendiri juga tak tahu kenapa mendadak aku menjadi romantis begini. Kau tahu? Ini sangat menjijikkan bagiku. Tapi, entah kenapa aku merasa kalau kalimat ini memang pantas keluar dari mulutku saat ini. Saat aku sedang berada di depan yeoja yang paling kucintai. Istriku, Lee Hyora. Ah, ani. Bukankah aku sudah resmi mengganti namanya menjadi Cho Hyora? Bukankah itu terdengar lebih baik?

Aku menilik wajahnya yang kini terlihat memerah. Sungguh cantik sekali. Kubelai pelan wajahnya dan kurapikan anak rambutnya yang melewati batas telinganya. Wajahnya pun semakin bersemu merah. Ekspresi yang paling kusuka darinya.

“Na… nado…” Segera saja setelah Hyora menyelesaikan kalimat itu, tubuhku bergerak spontan. Mengecup bibirnya pelan. Lalu, melumatnya dengan pelan juga. Aku tidak ingin terburu-buru. Lagipula aku tidak mungkin akan melanjutkan kegiatan ciuman kami dengan kegiatan ‘kau-tentu-tahu-itu-apa’ kami di dalam bianglala ini, bukan?

Tapi, sepertinya ciuman kami tidak bisa berhenti begitu saja. Pembalasan yang dilakukan Hyora tak serta merta membuat tubuhku berhenti. Malah yang ada adalah efek terbalik. Ciumannya yang begitu lembut membuatku tidak ingin melepaskannya. Kami hanya melepas ciuman kami beberapa saat karena nafas kami yang nyaris habis. Wajah Hyora yang sayu membuatku ingin merasakan lebih. Merasakan setiap inchi bibirnya berpagut dengan bibirku. Tangan Hyora yang bergelantung manis di leherku membuatku menekan tubuh kami semakin dekat, hingga jarak diantara tubuh kami tidak berjarak sama sekali. Tubuh kami serasa menyatu sama lain.

Aku mulai menaikkan kaos yang dipakainya, mengelus perut datarnya. Membuat Hyora menggelinjang geli di sela-sela ciuman kami. Aku mengalihkan ciumanku ke lehernya. Aku sudah hendak memberi lukisan merah di wajahnya tapi aku akhirnya memilih untuk menghentikan ciumanku.

“Wae?” tanya Hyora bingung. Dia merapikan kaosnya yang sedikit tersingkap.

“Aku takut.”

“Takut apa?” Hyora mengerutkan keningnya.

“Takut kalau aku tidak bisa menahan diri. Kau tahu… Kau itu sangat menggoda. Tidak lucu, kan kalau kita terpergok orang lain sedang bermesraan di atas bianglala. Yah.. Meskipun pada kenyataannya kau itu istriku.” ucapku bijak. Aku tahu. Tahu dengan pasti. Bahwa ciuman kami tidak mungkin akan berhenti sampai di sini saja. Perasaan rinduku padanya yang entah kenapa menjadi sangat membuncah gara-gara kami berdua yang selalu direcoki oleh Key.

“Arasseo…” ucapnya sambil menunduk. Aigoo… Apakah istriku masih malu denganku?

End Of Kyuhyun’s P.O.V

—–

Key’s P.O.V

Sial! Aku dikerjai oleh ahjussi itu lagi. Tadi, sewaktu di Everland dia dengan sigap mengambil Hyora Nuna dari genggamanku dan membiarkanku berteriak-teriak seperti orang gila saat mereka akhirnya bisa berduaan. Ini tidak boleh terjadi. Aku tidak ingin Nuna semakin terluka karena ahjussi itu. Aku tidak ingin hidup Nuna menderita karena ahjussi itu. Ini semua gara-gara ahjussi sialan itu. Kenapa dia? Kenapa dia seenaknya saja menjadikan Nuna sebagai barang taruhan?

Flashback

Huff… Akhirnya sampai juga. Aku tidak menyangka kalau Nuna akan menikah secepat itu. Aku pikir Nuna masih seorang diri. Bahkan aku berpikir bahwa Nuna kesayanganku itu masih sendiri mengingat Donghae Hyung dan Byunghyun Ahjussi sangat over protektif terhadap Hyora Nuna.

“Baiklah, Key. Aku tinggal dulu. Kau bisa mandi dulu jika kau mau. Aku mau menyiapkan makan malam untuk kalian.” ucap Hyora Nuna. Diapun meninggalkan kamar yang menurutnya kamar belajarnya yang kini di sulap menjadi kamar sementara tempat aku tinggal. Yah.. Setidaknya aku bisa tidur di sini.

Aku merapikan koperku dan mengeluarkan pakaianku, bersiap untuk mandi. Kulihat sekeliling kamar  belajar ini. Banyak sekali buku yang ada di sini. Apa ahjussi mesum itu yang mempunyai buku itu semua? Aku menghampiri salah satu rak buku, ingin menilik apa saja buku yang ada di sini. Perencanaan kota, geometri dan arsitektur, dasar komputer… Aigoo.. Buku apa ini? Sepertinya aku tidak pernah melihatnya di salah satu buku resep yang kubaca.

BRUK!

Astaga… Aku menjatuhkan buku. Perlahan kuambil buku itu dalam kondisi terbuka. Saat aku membaliknya, aku menemukan berbagai foto yang cukup menarik. Ini kan? Foto Nuna saat sedang menikah dengan ahjussi itu. Aish, jinjja… Ahjussi itu sungguh sangat beruntung mendapatkan Nuna. Aku terus membolak-balik buku itu hingga akhirnya sebuah tulisan membuat tanganku bergetar hebat. Ini? Apa maksudnya ini? Apa Ahjussi itu berniat mempermainkan hati Nuna? Kenapa… Kenapa dia tega sekali..

Aku pun segera keluar dari kamarku. Mana Nuna?

BRAK!

“Nuna! Aku lapar!” teriakku. Lihatlah ahjussi. Aku akan membuat hidupmu tidak tenang. Tak akan kubiarkan Nuna hidup bersama orang brengsek sepertimu.

End Of flashback

Aku teringat catatan Kyuhyun Hyung yang menjadikan Hyora Nuna istrinya hanya karena dia ingin mendapatkan jurus game-nya. Aish!! Aku harus memutar otakku agar bisa memberi pelajaran pada Ahjussi itu karena telah mempermainkan Hyora Nuna. Hyora Nuna terlihat sangat terbuai dengan permainan Ahjussi itu, dia terlihat sangat mencintai ahjussi itu. Grrr… aku tidak rela Hyora Nuna memiliki suami yang cintanya hanya karangan belaka dan hanya karena game itu.

End Of Key’s P.O.V

—–     

Kyuhyun’s P.O.V

Hmmm… Enak sekali baunya…” Mataku terbuka setelah menghirup wangi roti yang membuatku terbangun. Aku melirik ke arah sebelahku, sudah kosong. Hyora pasti sudah bangun dan membuatkanku roti. Aku harus segera bangun kalau begitu. Aku menuju kamar mandi sebelumnya untuk mencuci mukaku dan menyikat gigi. Segera setelah itu, aku menuju dapur. Dan benar saja. Aku bisa menemui istriku yang cantik itu tengah mengangkat adonan rotinya yang sudah matang itu ke atas meja.

Chu~…. Aku mencium pipinya yang kemerahan itu.

“Ya! Apa yang kau lakukan??!!” katanya sedikit marah.

“Hadiah untukmu…”

“Mwo? Hadiah untuk apa?” Dia tertawa malu.

“Karena sudah membuatkanku roti-roti ini. Hehehehe…” Aku memandangnya.

“Ahjussi… Jangan bermesum ria pagi-pagi begini.” Tiba-tiba muncul suara yang sangat tidak ingin kudengar. Aku lupa kalau kami sedang kedatangan bocah ingusan, tetangga Hyora yang tinggal di Amerika dan kini tengah menumpang di apartemen kami.

“Aishh… Pagi yang indah ini sudah tercemar dengan adegan tidak senonoh…” ucapnya dengan wajah datar.

“Ya! Memangnya kau tidak pernah lihat yang seperti ini di Amerika sana?” jawabku kesal.

“Itu memang pemandangan biasa. Tapi, ini kan di Korea.”

“Tidak berguna berdebat denganmu pagi-pagi begini… Baiklah kau yang menang.” Aku sedang malas berdebat dengannya. Key hanya mengedikkan bahunya seolah tak peduli dan kembali sibuk menyiapkan peralatan makan di meja.

“Kau salah mencium pipiku tadi. Seharusnya kau mencium pipi Key saja. Dia yang membuatkan roti croissant ini.” bisik Hyora geli.

“Aish! Jeongmal!!”

“Mandilah… Kau ada kelas pagi ini, kan? Akan kusiapkan sarapan untukmu. Oke?” Hyora mengusap pipiku lembut.

“Arasseo…” Akupun beranjak dari dapur dan melangkah dengan malasnya ke kamar mandi. Hari ini aku akan mengkonsultasikan skripsiku pada profesorku.

End of Kyuhyun’s P.O.V

 

Key P.O.V

“Kibum~ah… Apakah kau baik-baik saja jika kami meninggalkan kau?” tanya Hyora Nuna.

“Ne, Nuna. Gwenchanhayo… Nanti biar aku jalan-jalan sendiri. Oh, iya. Apakah Donghae Hyung ada di rumah hari ini?”

“Begini saja. Nanti akan kuhubungi Donghae Oppa. Aku akan memberi tahumu jika dia ada di rumah. Atau biar nanti Donghae Oppa yang aku suruh untuk menemuimu.”

“Arasseoyo, Nuna.”

“Kalau kau mau pergi, kau sudah tahu jalannya, kan?”

“Tenang saja, Nuna…”

“Baiklah.. Hati-hati, ya?” Hyora Nuna melambai padaku.

“Ahjussi. Hati-hati membawa Nunaku.” kataku pada suami Hyora Nuna.

“Sudah tahu!” bentaknya. Hahahahaha…. Dia itu galak sekali.

End of Key’s P.O.V

 

Hyora’s P.O.V

“Apakah tidak apa-apa jika kita meninggalkannya?” tanya Kyuhyun sambil memasang sabuk pengaman.

“Eo, gwenchanha…  Dia anak yang mandiri. Kau tenang saja. Lagipula, tadi dia meneleponku dan dia bilang akan pulang terlambat hari ini.”

“Jinjjaya? Assa!!  Tidak ada gangguan dari bocah itu malam ini untuk sementara…” gumamnya.

Kami baru saja pulang dari kampus. Jam digital di mobil menunjukkan pukul 6 sore. Hari ini, kami berdua seharian di kampus. Menyelesaikan skripsi kami yang hanya tinggal sedikit saja. Tapi, walaupun tinggal sedikit tetap saja susah sekali.

Sebenarnya kami pulang sore juga karena Kyuhyun membantuku. Hari ini aku pergi ke perpustakaan kampus untuk mencari referensi. Saat Kyuhyun sudah selesai dengan profesornya, dia menyusulku. Aku sudah menyuruhnya pulang duluan tapi dia bersikeras menungguku. Jadilah dia akhirnya ikut membantuku mencari referensi. Dan aku sangat bersyukur memiliki suami pintar sepertinya, karena dia memberiku banyak buku referensi yang aku butuhkan sehingga mempermudahku menyelesaikannya.

“Gomawo sudah membantuku hari ini…” kataku padanya sambil tersenyum.

“Kau harus memberiku hadiah kalau begitu…” jawabnya tanpa mengalihkan perhatiannya dari mengemudi mobil.

“Hadiah apa?”

“Neo… Kenapa masih saja lemot sekali? Kukira kau sudah sedikit mengerti…” ucapnya dengan nada mesum.

“Mwo?!! Kau mau….” Wajahku sudah mulai memerah.

“Kkkkkk…”

“Ya!! Kau mau menggodaku, ya??!!” Aku menggelitikinya.

“Gyahahahahaha…ya!! Hentikan, Lee Hyora!! Hahahahha….”

“Rasakan!!” Aku melipat kedua tanganku.

“Mianhae… Aigoo… Kau cantik sekali jika sedang marah-marah begitu.” Dia melirikku sepintas lalu mencubit pipiku yang ku gembungkan.

“Ya!!” jawabku galak dan dia hanya terkekeh dengan tawa setannya itu.

“Bocah itu….”

“Namanya Kibum atau kau bisa panggil dia Key.” Jawabku sedikit kesal karena Kyuhyun selalu memanggilnya dengan kata-kata bocah tengil atau bocah sial.

“Arasseo arasseo… Apakah kau tahu dia sangat menyukaimu?” tanya Kyuhyun tiba-tiba. Kenapa dia bertanya seperti itu?

“Dia memang menyukaiku dari dulu karena aku sudah dianggapnya nuna kandungnya sendiri. Wae?”

“Ani… Jika dia bilang dia akan merebutmu dariku bagaimana?”

“Mwooo??” aku menatapnya tak percaya.

“Kau sudah dengar, kan Hyora~ya? Bagaimana jika dia mau merebutmu dariku?”

“Jjamkkan… Kenapa kau berpikir seperti itu? Key adalah dongsaengku, Jangmyeon~a… Lagipula dia kan masih SMA. Jangan bilang kau cemburu padanya, ya?” lirikku.

“Ehem…Ani… Hanya bertanya saja… ”

“Tapi kalau itu benar…Kau tidak akan kalah darinya, kan??” Aku berkata padanya. Dia tidak menjawab.

End of Hyora’s P.O.V

 

Author’s P.O.V

Kyuhyun terbangun dari tidurnya pagi itu. Badannya masih terasa pegal gara-gara kemarin dia berada di perpustakaan seharian. Tangannya meraba-raba tempat disebelahnya. Kosong.

“Sepertinya Hyora sudah bangun duluan. Untung saja bocah itu tidak tidur disini lagi. Bisa stress aku jika dia terus-terusan tidur disini.” gerutu Kyuhyun sambil mengusap-usah wajahnya yang baru bangun itu.

Kyuhyun melirik ke arah jam mejanya yang menunjukan pukul 10. Dia menguap sebentar lalu memaksakan dirinya ke kamar mandi dan segera mencuci wajahnya dan menggosok giginya. Setelah itu, dia keluar kamar masih dengan piyama yang melekat di tubuhnya dan rambut yang masih sedikit acak-acakan. Dia melihat Hyora yang sudah cantik dan juga Key yang sudah rapi.

“Kibum~ah… Manhi mokgo…” Hyora menyendokkan nasi ke dalam mangkuk Key.

“Ne Nuna… Jalmogkoseumnida~…” kata Key riang. Kyuhyun mendesis melihat tingkah Key yang sok imut, lalu mendekati mereka.

“Eo! Kyuhyun~ah! Kau sudah bangun?” Hyora tersenyum melihat Kyuhyun.

“Hmmmmm…” Kyuhyun menjawab sambil mencium kepala bagian kanan di atas telinga Hyora. Dan hal itu membuat Key memicingkan matanya.

“Kau mau makan?” tanya Hyora.

“Aku mau sarapan sereal saja.” Kyuhyun mendekati rak piring dan mengambil mangkuk dan serela lalu menuangkannya.

“Ini susunya.” kata Hyora yang kini ada di sebelah Kyuhyun menyerahkan sekotak susu plain padanya.

“Gomawo…”

“Aku pergi ke kampus dulu. Ada janji dengan Professor Kim. Key bilang dia juga akan pergi bertemu dengan temannya. Jadi, kau hari ini istirahat saja. Tidak apa-apa kan, jika kau kutinggal sendiri?” kata Hyora sambil menepuk bahu Kyuhyun.

“Gwenchanha…”

“Keurom na kalkae…(kalau begitu aku pergi ya…) Itabwa…”

Chu~…

Hyora mencium pipi Kyuhyun. Membuat Kyuhyun berhenti mengunyah sereal yang sedari tadi dimakannya.

“Annyeong~…” Hyora berpamitan sambil menyunggingkan senyumnya yang paling manis lalu pergi meninggakan Kyuhyun begitu saja yang masih menatapnya tak percaya. Jantungnya sudah berdebar kencang.

“Key, aku pergi dulu ya? Kau akur-akurlah dengan Kyuhyun Hyung.” kata Hyora pada Key.

“Ne… Hati-hati, Nuna…”

‘Ya Tuhan senyumannya itu masih saja membuat jantungku berhenti berdetak…’ batin Kyuhyun sambil tersenyum senang.

“Ahjussi, kenapa kau tersenyum sendiri? Seperti orang gila saja…” suara Key menyentakkan Kyuhyun dari lamunannya tentang Hyora.

“Eo! Maja. Aku memang sudah gila. Gila karena Nunamu yang cantik itu… Kkkkk…” Dia terkekeh lalu duduk di depan Key yang juga masih sarapan. Key memandangnya sinis.

“Ahjussi, kau masih ingat kan taruhan kita?”

“Eo! Wae? Kau mau lomba apa lagi? Kau sudah kalah saat di Everland, kan? Hahahahaha… Masuk rumah hantu saja kau menarik-narik kaosku. Tsk… Dasar penakut.” ejek Kyuhyun. Key mengepalkan tangannya yang kini sedang memegang sendok makannya. Matanya menatap tajam ke arah Kyuhyun yang masih tertawa mengejeknya.

“Arasseoyo… Aku mengaku kalah. Baiklah, Kyuhyun Ahjussi…”

“Ya! Sudah berapa kali aku bilang panggil aku Hyung, baboya~…”

“Kau…. Mengataiku lagi ahjussi!! Akan kuadukan pada Nuna nanti.” ancam Key.

“Pengadu?  Lihat saja siapa yang kekanak-kanakan?” kali ini Kyuhyun merasa menang.

“Kau pintar sekali ya, Ahjussi…”

“Bukan. Aku bukan pintar saja. Tapi, aku jenius. Muahahahaha…”

“Kalau kau memang jenius, ayo kita bertanding memasak…”

“Mwo?? Memasak?” Kyuhyun memandang Key dengan ekspresi kaget.

‘Assa!! Aku sudah tahu kelamahanmu, Ahjussi… Hahaha… Kali ini aku pasti menang. Senyuman licik terukir di bibir Key.

“Ne, kita lomba memasak saja… Kau kan jenius. Jadi, pasti bisa memasak, kan? Kita lihat masakan siapa yang akan lebih disukai.” katanya kemudian.

“M… Mwo? Jadi, kau mau kita melakukan kompetisi memasak?” wajah Kyuhyun mulai pucat.

“Ne. Bagaimana jika hari sabtu besok? Otteyo?(bagaimana?)”

Kyuhyun berhenti makan dan berpikir sebentar.

“Geure… Aku bisa!!” kata Kyuhyun akhirnya. Dia menjawab seperti itu karena dia sepertinya sudah mempunyai rencana.

“Joha… Jadi nanti kita akan mempraktekan makanan yang simpel saja. Hmmm… Bagaimana jika pasta?”

“Pasta? Jenisnya bisa apa saja. kan?”

“Ne, tidak masalah yang penting pasta.”

“Geure…Deal?” Kyuhyun mengulurkan tangannya.

Of course it’s a deal…” Key menjawab dengan bahasa Inggris yang sempurna.

“Tsk… You will lose, Kim Kibum.”

“Kau yang akan kalah, Cho Kyuhyun Ahjussi…” keduanya mengeluarkan smirk-nya.

End of Author’s P.O.V

 

Kyuhyun’s P.O.V

“Kalau kau memang jenius, ayo kita bertanding memasak…” Pernyataan Key itu membuatku hampir tersedak.

“Mwo?? Memasak?” Aku memandangnya kaget. Sialnya aku kemudian melihat senyuman licik muncul dari bibirnya.

“Ne, kita lomba memasak saja. Kau kan jenius. Jadi, pasti bisa memasak, kan? Kita lihat masakan siapa yang akan banyak disukai.” katanya kemudian.

“M…mwo? Jadi kau mau kita melakukan kompetisi memasak?” kataku sedikit panik.

“Ne. Bagaimana jika hari sabtu besok? Otteyo?(bagaimana?)”

Aku berhenti memakan serealku dan memutar otak.

‘Bagaimana bisa aku berkompetisi memasak dengan bocah tengil ini. Dia kan sudah terdaftar di sekolah memasak terkenal di Amerika. Tapi jika aku menyerah dan tidak menerima tantangannya aku yang kalah. Sialan bocah ini… Oh, iya. Aku minta bantuan Ryeowook saja untuk mengajariku. Muahaha. Aku memang jenius. Teman SMA ku itu, masakannya kan enak-enak dan lagi dia sudah bekerja juga di restoran terkenal...

“Geure… Aku bisa!!” kataku akhirnya.

“Joha… Jadi, nanti kita akan mempraktekan makanan yang simpel saja. Hmmm… Bagaimana jika pasta?” usulnya. Pas sekali. Wookie kan bekerja di Restaurant Itali. Kkkkk… Ini menjadi lebih gampang lagi.

“Pasta? Jenisnya bisa apa saja, kan?”

“Ne, tidak masalah yang penting pasta.”

“Geure… Deal?” Aku mengulurkan tangan.

Of course it’s a deal…” Key menjawab dengan bahasa Inggris yang sempurna.

“Tsk… You will lose, Kim Kibum.”

“Kau yang akan kalah, Cho Kyuhyun Ahjussi…” Kami sama-sama mengeluarkan smirk-nya. Key pun melanjutkan makannya dengan suapan terakhirnya.

“Kyuhyun Hyung. Aku pergi dulu. Mungkin nanti aku pulang sore.” katanya yang segera beranjak dari kursi meja makan dan segera membereskan piring yang ada di meja.

“Eo…” Aku masih mengunyah sereal sarapanku. Aku menjawab biasa saja karena dia memanggilku Hyung. Coba saja dia panggil aku ahjussi, akan kulempar mangkok serealku ini.

“Bersiaplah untuk kalah Kyuhyun Ahjussi…” bisiknya sebelum pergi di telingaku.

Mwoyaaaa!! Aku sudah hampir melemparnya dengan mangkokku. Tapi, karena harga mangkok ini mahal, aku mengurungkan niatku. Ah… Kenapa aku jadi seperti Hyuk hyung, ya?

“Kau yang akan kalah!!” bentakku. Key hanya melambaikan tangannya dan menuju pintu keluar.

“Aish!! Bocah tengil itu…” Aku menggerutu sendiri.

“Ah~… Aku tak boleh menghabiskan waktuku seperti ini. Aku harus segera mandi dan menemui Wookie…” Aku pun segera menghabiskan serealku kemudian berlari ke kamar mandi.

Dua jam kemudian aku menuju mobil untuk pergi ke restoran Wookie.

“Oh, iya. Ini waktunya makan siang. Pas sekali…” gumamku setelah sampai.

“Kling kling”

Suara bel yang menggantung di pintu berbunyi saat aku membuka restoran milik teman SMA ku, Kim Ryeowook.

“Oseo Oseyo… (selamat datang ).” sapa pelayan yang ada disitu menyambutku.

“Ne, annyeong haseyo…” sapaku kembali yang lalu menuju sebuah meja untuk 2 orang.

“Silahkan…” Pelayan itu memberikan menu padaku tepat setelah aku duduk.

“Aku pesan spaggetti black pepper-nya satu dan segelas es limun saja.” kataku.

“Ne, tunggu sebentar…”

“Oh iya, Kim Ryeowook isseoyo? (Apakah Kim Ryeowook ada?)”

“Manager Kim ada di belakang.”

“Kalau begitu aku ingin bertemu dengannya. Bilang saja aku Cho Kyuhyun. Teman SMA nya.”

“Ne, akan saya panggilkan.”

“Kamsahamnida…” kataku.

Tak lama kemudian aku merasakan sebuah tepukan di pundakku.

“Ya! Cho Kyuhyun! Sudah lama kau tak kemari?” katanya yang lalu duduk di depanku.

Namja yang tidak terlalu tinggi ini adalah teman SMA ku. Selepas SMA, dia sekolah chef di Italia dan langsung membuka restoran Italia ini begitu lulus sebagai chef terbaik diantara teman-teman angkatannya.

“Wokkie~ah!! Hahaha. Mianhae… Istriku kan pintar memasak. Jadi, aku jarang sekali makan di luar.”

“Jinjjaya? Hmm… Lalu sekarang kenapa kau makan di luar? Dan mana istrimu?”

“Dia sedang di kampus. Dan aku ingin meminta bantuanmu, Wookie~ya…”

“Mwo? Bantuan apa?”

“Ehem… Ajari aku memasak spaghetti…”

“Mwoya??!!!” Dia terlihat terkejut sekali.

“Eo. Ajari aku memasak…” Aku memohon padanya.

“Ya! Kau bercanda? Kau kan…”

“Tidak bisa memasak? Iya. Maka dari itu ajari akuuu..”

“Untuk apa?”

“Ah~… Pokoknya kau harus ajari aku memasak!” bujukku. Ah, ani. Lebih tepatnya aku memaksanya.

“Keure, tapi kau harus menaati peraturannya. Kau jangan sampai sembarangan memasukan bumbu-bumbunya seperti saat kita field trip dulu…”

“Arasseo…. Putakhae. Oke?” Ryeowook tampak berpikir sebentar.

“Baiklah… Kau mau mulai kapan?”

“Aku hanya punya waktu sampai hari sabtu ini. Kalau bisa sekarang saja. Bagaimana? Kau sibuk tidak?”

“Berarti kita hanya punya waktu 5 hari saja?”

“Iya, hanya 5 hari sampai hari Sabtu. Jebal, Wookie~ya… Aku harus bisa membuat pasta. Ini ada hubungannya dengan istriku.”

“Ara ara… Baiklah. Aku ganti baju dulu. Kita latihan di rumahku saja.”

“Assa!! Kau baik sekali Wookie!! Gomawo!!”

Setelah itu, aku dan Ryeowook pergi ke supermarket. Kami berbelanja bahan untuk latihan kami. Wookie menyarankan padaku untuk membuat yang paling mudah saja, mengingat aku tidak suka sesuatu yang rumit. Yang penting rasanya, bukan? Jadi, dia menyuruhku untuk membuat spaghetti Bolognese saja.

—–

Hari ini adalah hari terakhirku berlatih di rumah Wokkie. Sehabis pulang kuliah, aku selalu ke rumahnya untuk berlatih memasak.

“Ya! Lihat itu kenapa kau memasukkan banyak sekali merica, babo~ya!!” Wookie tidak sabar gara-gara aku memasukkan banyak merica ke dalam saus yang sedang aku buat.

Hari pertama aku membuat spageti, benar-benar kacau. Tanganku ini selalu gatal memasukkan yang tidak-tidak ke dalam adonan sausnya. Dan alhasil, hasil hari pertama tidak terlalu enak. Setelah itu Wookie memberikanku banyak catatan. Aku yang tak mau Hyora tahu tentang taruhanku dan Key, hanya bisa membaca catatannya saja tanpa sempat mempraktekannya.

Tanganku juga lecet banyak karena terkena pisau. Tapi, karena aku ini jenius dan bisa belajar dengan cepat, maka hari kedua sampai hari terakhir ini tidak banyak luka yang aku dapatkan. Hyora sampai sekarang pun belum tahu kalau tanganku ini penuh luka. Berbeda saat seperti dulu, lukanya tidak langsung ku cuci jadi dia tahu karena masih banyak darah yang mengucur. Lagipula sekarang karena aku didampingi Wookie, jadi lukaku tidak terlalu banyak.

“Ja!! Ini sudah jadi… Katakan padaku sejujurnya.” Aku menyajikan sepiring spaghetti Bolognese yang baru saja aku buat. Wookie tidak langsung memakan spagettinya.

“Kyuhyun~ah… Kau melakukan ini semua sebenarnya untuk apa?” tanyanya.

“Mwo? Kenapa kau tanya itu? Tentu saja untuk istriku.”

“Hahaha… Kau benar-benar menyukai yeoja ini, ya? Aku tak percaya dia telah membuatmu sampai mau belajar memasak seperti ini.”

“Ani, aku tidak hanya menyukainya…. Aku sangat mencintainya dan tergila-gila padanya…” jawabku sambil menyilangkan tanganku. Ya Tuhan sungguh aku ini sudah gila!! Ini kali ke dua aku mempertaruhkan harga diriku memasak hanya untuk yeoja yang sungguh kucintai itu. Wookie menatapku takjub. Mungkin takjub dengan kata-kata yang barusan kukatakan. Untuk ukuran seorang Cho Kyuhyun, kata seperti itu bukanlah kata yang dengan mudah akan keluar dari mulutku.

“Hahaha… Berarti dia memang yeoja yang hebat sehingga bisa membuatmu tergila-gila padanya.” katanya sambil menyuapkan spaghetti yang sudah diputar di garpunya.

“Hmmm… Iya kau benar.” jawabku sambil tersenyum.

Baru dua kali dia mengunyah spagettinya, mata Wookie langsung melebar.

“Otte??” tanyaku penasaran.

—–

“Ahjussi, kau sudah siap?” tanya Key padaku.

“Tentu saja.” jawabku pede. Kuberi tahu arti mata Wookie yang melebar itu. Dia bilang bahwa masakanku jauh lebih baik dibandingkan yang kemarin. Muahahahaha… Keren sekali kan diriku. Jadi, sekarang aku mempunyai rasa percaya diri yang tinggi untuk melawan bocah ingusan ini.

“Hahaha… Lihat saja Ahjussi. Aku pasti menang. Jika aku menang, Hyora Nuna menjadi milikku, ya?”

“Tidak semudah itu, bodoh~…”

“Jika Hyora Nuna memilih salah satu makanan kita dialah yang menang, bagaimana?”

“Joha…” lalu kami menghampiri Hyora yang sedang ada di dapur.

End of Kyuhyun’s P.O.V

 

Hyora’s P.O.V

“Nuna…” panggil Key. Aku menoleh dan segera melihat kedua namja itu menghampiriku.

“Kalian? Ada apa?” tanyaku.

“Hari ini biarkan kami yang membuatkanmu makanan.” kata Key.

“Kau mau membuatkan makanan?”

“Aku juga…” Kyuhyun menambahkan.

“Mwo?”

“Kami akan membuatkan makanan untuk Nuna. Sekarang Nuna hanya perlu menunggu kami memasak.” Key menunjuk kursi di meja makan.

“Dan kau harus memilih salah satu dari masakan kami. Jawab dengan jujur mana yang menurutmu paling enak.” kata Kyuhyun.

“Kau mau masak?” Aku menunjuk Kyuhyun. “Andwee… Aku tidak mau kau terluka lagi!!” kataku. Aku tahu Kyuhyun pasti akan melukai tangannya jika memasak.

“Gwenchanha… Aku sudah sedikit ahli sekarang.” katanya. Aku terbelalak saat menyadari tangannya terbalut band aid berwarna kulit.

“Ya!! Ige mwoya?” Aku segera meraih tangannya.

“Ani…”

“Ani? Apa maksudnya dengan ani?? Kau memasak? Lihat. Sudah kubilang, kan…”

“Kau dengar aku, kan? Nan gwenchanha… Kkokjongma… Yang harus kau lakukan sekarang hanyalah…” Dia membalikkan tubuhku dan menuntunnya ke kursi kosong tadi. “Duduk.” perintahnya.

“Kau mau apa Kyuhyun~ah??” Aku sangat khawatir.

“Pilih aku, ya??” Kyuhyun mengedipkan matanya.

“Ahjussi!! Kau jangan curang, ya!!” protes Key.

Dan mereka pun mulai memasak. Berkali-kali kulihat Kyuhyun yang dengan amatirnya memegang pisau dan memotong bawang Bombay sambil menangis. Beberapa kali pula aku melihatnya meringis karena terkena pisau. Tapi dia melarangku mendekatinya.

“Ding dong…”

“Eo! Itu pasti Donghae Hyung…” kata Key.

“Jinjja?” tanyaku.

“Aku yang mengudangnya kemari, Nuna.” jawab Key lagi.

“Mau apa kau mengundang Donghae Hyung?” tanya Kyuhyun.

“Biar saja…” Key tampak cuek.

Aku beranjak dari tempat dudukku dan membukakan pintu dan benar saja. Donghae Oppa dan Hyunri yang datang.

“Annyeong adikku…” Donghae Oppa memelukku.

“Annyeong Oppa…  Annyeong Hyungbu (kakak ipar)” Aku memeluk mereka juga.

“Annyeong, Hyora~ya…” Hyunri membalasku.

“Wuaahh… Key pasti yang sedang memasak, ya?”

“Ani. Tidak hanya Key. Tapi Kyuhyun juga.” jawabku.

“Mwo???!!” Hyunri dan Oppaku berbalik menatapku tak percaya.

“Iya. Kyuhyun juga ikut memasak…”

“Dia kan…” kata Hyunri. Aku menaikkan bahu.

“Kaja…” ajakku pada Hyunri. Sedangkan Donghae Oppa sudah kabur dulu menuju dapur untuk mengecek kebenaran pernyataanku tadi.

“Ya!! Cho Kyuhyun!! Mwohae??” Donghae Oppa mendekati Kyuhyun.

“Diam saja kau, Hyung!!” serobot Kyuhyun.

“Annyeong haseyo, Hyung” sapa Key.

“Eo! Kau masak apa?” Donghae beranjak kepada Key.

Key’s Fetuccini seafood. Hehehehe.” dia terkekeh.

“Waahhh…. Kelihatan enak.”

“Annyeong…” sapa Hyunri.

“Hyunri Nuna!!” Key melambaikan tangannya. Hyunri membalasnya.

“Kyuhyun~ah… Kau tidak…” Hyunri tidak memotong kata-katanya.

“Apa?” tanya Kyuhyun galak.

“Jangan memasukkan yang aneh-aneh dalam masakanmu.” katanya.

“Arata… Ryeowook sudah mewanti-wantiku.”

“Wookie?”

“Eo…”

“Kyuhyun suka memasukkan hal aneh dalam masakan?” bisikku.

“Eo! Dulu waktu field trip, dia mengacaukan masakan Wookie. Teman kami yang jago masak itu…”

“Hahaha… Lalu apa yang terjadi?” Aku dan Hyunri mulai bergosip.

“Masakan yang kami makan terasa aneh karena dia salah membubuhkan segala yang dia temukan.”

“Dasar…” gumamku.

“Ya~… Apa yang terjadi dengan Kyuhyun?” Donghae Oppa bertanya.

“Mana kutahu. Dia tiba-tiba bilang akan memasakkan sesuatu untukku bersama Key.” jawabku sambil menaikkan bahuku.

“Ini benar-benar momen langka. Biar kutelepon Eunhyuk agar dia bisa melihat ini.” ujar Donghae Oppa bersemangat.

Donghae Oppa lalu menelepon Eunhyuk Oppa dan mengundangnya juga ke apartemen kami. Tak lama kemudian Hyuk Oppa datang bersama Ahra Eonni dan Boram.

“Ya ampunnn…. Kau kenapa Kyuhyun~ah?” Eunhyuk Oppa langsung menghampiri Kyuhyun dan meraba dahinya.

“Kau apakan dia, Hyo?” tanya Eunhyuk Oppa yang kini beralih padaku.

“Aku tidak melakukan apa-apa, Oppa. Aku saja tak tahu kenapa dia tiba-tiba mau memasak begitu.”

“Kau tidak khawatir jika otak suamimu itu sudah konslet?”

“Mwo?Oppa~ya!!” Aku memukul lengan Eunhyuk Oppa.

“Kkkkk….”

“Kenapa kalian semua jadi datang kemari??!! Aku hanya akan membuatkan satu porsi saja untuk Hyora.” kata Kyuhyun yang lalu menaruh hasil masakannya di meja. Dan semua orang mengerumuninya.

“Kau yakin ini bisa dimakan?” tanya Donghae Oppa.

“Oppa…!!” Aku memukul lengannya seperti Eunhyuk Oppa tadi.

“Aku membuatkannya untuk Hyora. Bukan untukmu, Hyung. Jika kau tidak mau makan ya sudah…” kata Kyuhyun.

“Hyungdeul, Nunadeul… Ini hasil masakanku.” kata Key. Semua yang ada disini pun mengalihkan perhatiannya pada masakan Key yang memang kelihatan lebih enak.

“Waaa… Kalau yang ini sepertinya layak kita makan.” kata Ahra Eonnie.

Kasihan sekali Kyuhyun. Aku juga tidak yakin sih untuk memakan masakannya. Aku masih ingat masakannya yang keasinan dulu itu. Tapi, jika Kyuhyun sedang memasak begini aku tak pernah mementingkan rasanya. Aku senang dia mau berusaha untuk sesuatu yang dia benci.

“Oke. Kalau begitu aku coba punyamu dulu, Kyu…” Donghae Oppa mengambil garpu yang ada di depannya lalu menyuapkan beberapa helai spagettinya.

“Otte?” tanya yang lainnya. Donghae Oppa mengunyah sambil mengerutkan dahinya, sepertinya dia sedang meresapi rasa spaghetti buatan Kyu.

“Hmm… Lumayan…” kata Donghae Oppa akhirnya. Kyuhyun memperlihatkan smirk-nya dengan bangga.

“Jinjja??” Ahra Eonni, Boram, Hyunri, dan Eunhyuk Oppa pun kini berebutan ingin mencoba masakan Kyuhyun.

“Ya ya ya…. Jangan dihabiskan!! Ini untuk Hyora!!!” Kyuhyun memperingatkan mereka agar tidak menghabiskan spaghetti yang dia buatkan untukku. Bayangkan saja. Eunhyuk Oppa, Ahra Eonni, Boram, dan Hyunri kini berebutan ingin mencobanya karena Donghae Oppa yang bilang bahwa rasa spagettinya lumayan. Donghae Oppa sekarang beralih ke masakan Key.

“Waaaa…. Ini lebih enakkkkkkk!!!” Donghae Oppa berteriak.

“Mwo??” Serempak yang lain langsung menyerbu masakan Key.

“Hyora~ya… Kau belum mencoba masakanku.” tegur Kyuhyun yang melihatku terdiam.

“Ah iya…” Aku segera mengambil garpu.

“Nuna, ini untuk Nuna.” Ternyata Key sudah menyiapkan makanan tersendiri untukku dan dihias dengan sangat manis. Sedangkan punya Kyuhyun sudah tak berbentuk karena sudah di serbu oleh yang lain.

“Bolehkah aku mencoba punya Key dulu?” tanyaku.

“Tentu saja Nuna… Yang pertama itu sudah pasti yang kelihatan paling enak, kan?” kata Key. Aku hanya tersenyum. Kyuhyun menyilangkan tangannya.

Aku memakan fetuccini milik Key lalu menganggukkan kepala. Kemudian ke spaghetti Bolognese Kyuhyun.

Baru dua kali kunyahan aku sudah bisa merasakan rasa Spagetti Kyuhyun yang memang tak seenak Key. Tapi, ini adalah kemajuan yang luar biasa daripada saat ulang tahunku. Aku terdiam sebentar dan memandang kedua namja yang ada di depanku.

“Makan punya Key saja Hyo…. Lebih enak…” kata Eunhyuk Oppa.

“Diam kau, Hyung!!” sergah Kyuhyun. Eunhyuk Oppa segera bersembunyi di balik bahu Ahra Eonni saat Kyuhyun mulai mengeluarkan tatapan tajamnya.

“Jadi Nuna…  Kau pilih masakan siapa?” tanya Key.

“Hyora~ya… Pilih saja yang paling enak… Kalau kami semua memilih punya Key.” kata Ahra Eonnie.

“Nuna!!!”

“Aku memilih…..” Aku menggantungkan kalimatku. Semua yang ada di sini menatapku harap-harap cemas. Seperti sedang pemilihan presiden saja. =,=”. “Aku… memilih… Kyuhyun.” Akhirnya aku mengucapkannya juga.

“MWOOO!!! Kau gila ya??!!! Punya Key kan lebih enak!!!” teriak Eunhyuk Oppa.

PLETAK!

“Yak! Kyuhyun~a! Kenapa kau memukul kepalaku?” bentak Eunhyuk Oppa.

“Tanganku gatal, Hyung…” jawab Kyuhyun asal.

“Arasseo… Tapi milik suamiku rasanya tak bisa tergambar dengan kata-kata.” ucap Ahra Eonni.

“Kkkkk… Lihatlah siapa yang menang. Muahahahahaha.” Kyuhyun mengeluarkan tawa setannya. Dia lalu memeluk Donghae Oppa dan Eunhyuk Oppa bergantian.

Key tampak sedikit sedih. Dia menundukkan kepalanya. Aku tahu itu. Key biasa menundukkan kepalanya bila ia sedang sedih. Aku jadi merasa tak enak padanya. Aku pun menghampirinya.

“Mianhae Key… Bukan soal rasanya. Tapi soal perasaannya padaku… Masakanmu itu sudah tak perlu ditanya lagi kelezatannya…” Aku mengelus punggungnya. Key pun mulai mendongakkan kepalanya. Sepertinya ia masih menunggu kalimat yang akan kuutarakan selanjutnya.

“Masakan Kyuhyun tak pernah seenak ini sebelumnya. Yah…Walaupun ini juga jauh dari rasa masakanmu itu. Lagipula, masakanmu lebih banyak disukai oleh Donghae Oppa, Eunhyuk Oppa, Ahra Eonni, Boram, dan Hyunri kan? Sebagai istri, aku kan juga harus menjaga perasaan suamiku. Dia pasti akan sangat kecewa jika tak ada yang menghargai hasil kerjanya. Kau tahu, rasa masakan Kyuhyun hari ini jauh lebih enak daripada masakannya yang keasinan dulu.” lanjutku.

“Jinjjayo? Dia pernah masak keasinan?” tanya Key. Aku pun mengangguk.

“Maka dari itu aku sendiri juga sangat kaget saat mencoba masakannya hari ini…”

“Ne, Nuna arasseoyo…” Key tersenyum kecil meskipun terlihat sekali kalau ia masih tidak terima dengan kekalahannya. Sepertinya adikku ini masih tidak menerima keputusanku. Aku melirik ke arah Kyuhyun yang kini tengah bertengkar berebut spagethi buatan Key dengan Donghae Oppa dan Eunhyuk Oppa. Dasar.

End of Hyora’s P.O.V

—–

Author’s P.O.V

“Huahhh…” Kyuhyun meletakkan kunci mobilnya lalu merebahkan diri di sofa depan televisi. Melepas lelahnya karena lagi-lagi membantu Hyora seharian ini di perpustakaan. Skripsi mereka berdua sudah hampir selesai sebentar lagi. Jadi, keduanya semakin sering pergi ke perustakaan dan berkonsultasi dengan dosen mereka.

“Igo…” Hyora membawakannya segelas air.

“Eo. Gomawo…” Kyuhyun segera meneguk air yang dibawakan istrinya itu.

“Kenapa sepi sekali? Kemana bocah itu?” tanya Kyuhyun.

“Sudah kubilang panggil dia Key atau Kibum, Kyu~…”

“Sudah kebiasaan.” jawabnya cuek.

“Tadi siang dia meneleponku. Dia mengatakan bahwa dia mau berjalan-jalan dan menemui beberapa teman lamanya jadi dia bilang dia akan pulang terlambat.”

“Jeongmal? (Benarkah?)” Kyuhyun memperlihatkan wajah sumringahnya setelah dia mendengar perkataan Hyora.

“Kau mau makan sesuatu?” Hyora ikut duduk di sebelah suaminya itu.

“Ehmm…  Buatkan ramen saja…”

“Arasseo…” Hyora sudah mulai beranjak dari duduknya sebelum tangan Kyuhyun menahannya.

“Wae?”

“Nanti saja…” Dia menarik Hyora ke dalam pelukannya.

“Ya~ Mwohae??” Hyora mencoba berontak dari genggaman Kyuhyun.

“Bogoshipeo…” ucap Kyuhyun. “Hari ini kita kan sudah bekerja keras. Bagaimana kalau kita rileks sebentar?” lanjut Kyuhyun yang kini menatap Hyora penuh arti.

“Mwo? Apa maksudmu?” ucap Hyora tak mengerti.

Tanpa menjawab Kyuhyun mulai mencium kening Hyora kemudian turun ke pipinya lalu…

“Nuna…..” pasangan ini sontak terkaget dengan suara itu.

“Ki….Kibum~ah…” Hyora menengok ke arah suara itu.

“Nuna~… Na baegopa….(Nuna~ aku lapar)”

“Aish!! Katamu dia akan pulang terlambat. Masa jam 6 begini dia sudah ada di rumah?” bisik Kyuhyun. Hyora hanya menggendikan bahunya.

“Kenapa kau sudah pulang? Kau bilang akan pulang terlambat?” tanya Hyora.

“Ah…itu. Tadi ternyata temanku tidak bisa. Jadi, aku pergi bertemu Donghae Hyung dan Hyunri Nuna. Tapi setelah aku kesana dan kelaparan begini yang ada aku malah menjadi kambing congek mereka berdua. Huh. Dasar.” keluh Key.

“Kau belum makan Key?” tanya Hyora khawatir. Dia tahu perut Key itu sangat sensitif jika terlambat makan.

“Belum Nuna… Dan aku sangat kelaparan.”

“Keure keure… Kau disini dulu. Aku akan membuatkan kalian sesuatu…” Hyora segera ke dapur untuk melihat apakah ada bahan yang bisa dibuat makanan.

“Ahjussi, kenapa wajahmu begitu?” tanya Key yang kini duduk di sebelah Kyuhyun. Key melihat wajah Kyuhyun yang ditekuk.

“Neottaemune. (karena kau).” jawab Kyuhyun ketus.

“Mworagoyo?? Aku kan tidak melakukan apa-apa…”

“Kau saja yang merasa begitu. Tsk…!!” jawab Kyuhyun sebal.

“Gawat!!!” jerit Hyora.

“Wae wae wae?” Kyuhyun dan Key segera berlari ke arah dapur tempat Hyora berteriak.

“Ada apa Nuna?” tanya Key.

“Wae???!!” Kyuhyun lebih panik.

“Ani… Aku ingin membuatkan kalian Dubu Kimchi. Tapi, ternyata aku lupa belum belanja lagi…”

“Aku pikir kau kenapa…” Kyuhyun mengelus dadanya.

“Gwenchanha Nuna…” kata Key sambil merangkul Hyora. Kyuhyun terbelelak.

“Ya! Lepaskan tanganmu itu!!” kata Kyuhyun galak. Tapi, Key tidak mematuhinya.

“Kalau begitu kau mau makan apa?” tanya Hyora.

“Ramen saja…” kata Kyuhyun.

“Andwee… Perut Key sangat sensitif. Dia tidak boleh makan ramen. Tidak baik bagi perutnya. Jadi, kau mau makan apa, Key?” tanya Hyora sambil mengelus kepala Key, membuat Kyuhyun semakin mendidih.

‘Apa-apaan mereka ini?Aish!!’ umpat Kyuhyun dalam hati.

“Nuna~… Aku ingin sekali makan steak…” kata Key dengan manja.

“Kyuhyun~ah… Kita makan diluar saja, ya?” Kata Hyora yang kini menatap Kyuhyun dengan puss in boot’s eyes-nya. Kalau sudah begini biasanya Kyuhyun tak bisa menolaknya. Kyuhyun menarik nafasnya panjang.

“Baiklah…” ucap Kyuhyun lemah.

Akhirnya, mereka bertiga segera berganti baju dan menuju ke restoran rekomendasi Key. Sesampai disana, Kyuhyun segera turun. Begitu juga Key. Tapi, Key segera berkari ke arah pintu Hyora dan membukakan pintunya.

“Ayo, Nuna…” Key mengulurkan tangannya.

“Gomawo…” Hyora tersenyum.

Sedangkan Kyuhyun hanya bisa memendam rasa cemburunya. Dia selalu teringat kata-kata Hyora yang mengatakan kalau mereka hanya sebatas Nuna dan dongsaeng saja. Dia masih berusaha bersabar dengan semua ini. Diam-diam, Kyuhyun mengepalkan tangannya. Kyuhyun mencoba untuk menahan emosinya seminim mungkin.

Key memindahkan tangan Hyora di lengannya saat mereka memasuki restaurant itu dengan Kyuhyun yang ada di belakang mereka. Mereka memilih sebuah meja untuk empat orang. Key segera menarik kursi untuk Hyora.

“Ya! Kau ini sedang apa sih Key?!!” bentak Kyuhyun yang sudah mulai kesal dengan kelakuan Key yang daritadi berusaha menarik perhatian Hyora.

“Igeoneun meneo Ahjussi. Mollayo? (ini adalah manner Ahjussi. Kau tidak tahu?)”

“Jangmyeon~ah…” Hyora memegang lengan Kyuhyun memperingatkan dengan lembut.

“Tsk!!” gerutu Kyuhyun. Kyuhyun memilih duduk di depan Hyora karena kursi di sebelah Hyora sudah ditempati Key.

Sesaat kemudian pelayan datang dan mereka segera memesan makanan.

‘Ckckckck. Bocah tengil ini benar-benar berniat merebut perhatian Hyora dariku rupanya. Hyo pasti tidak akan terpengaruh. batin Kyuhyun sambil memandang Key sinis yang kini sedang mengobrol tentang sekolahnya dengan Hyora.

“Jinjja? Kau dapat menang kompetisi memasak itu?”

“Ne, Nuna… Aku memenangkannya. Maka dari itu aku langsung diterima di sekolahku sekarang.”

“Waaaa… Neo daebak…” Hyora mengacungkan kedua jempolnya pada Key dan mengacak rambut Key dengan rasa sayangnya. Kyuhyun masih diam memperhatikan mereka dengan pandangan yang menakutkan. Hyora dan Key tidak menyadari aura kelam yang terpancar dari tubuh Kyuhyun.

“Selamat menikmati…” pelayan yang mengantarkan pesanan mereka datang dan menyajikannya di meja.

“Kamsahamnida….”

“Waa… Masigeta…(enak sekali).” Kyuhyun bergumam. Dia segera mengiris dan memakan steaknya.

“Jamkkanman, Nuna.” Key menghentikan Hyora saat dia mau mengiris steaknya.

“Wae?” tanya Hyora. Kyuhyun memperhatikan apa yang akan dilakukan Key.

Key kemudian mengiriskan steak yang ada di piringnya. Lalu, menukar steaknya yang sudah diiris dengan steak Hyora yang masih utuh.

“Gomambta, Kibum~ah…” Hyora tersenyum senang dengan perlakuan Key ini.

“Baru kali ini ada yang mengiriskan steak untukku.” katanya lagi.

“Mwo?? Tak adakah yang mengiriskan steak untukmu, Nuna??” Key terlihat kaget.

“Ahjussi!! Kau… Bagaimana bisa? Kau tidak pernah melakukan sesuatu yang bisa menyenangkan Nunaku, ya??” tembak Key langsung. Kyuhyun menghentikan kunyahannya.

“Ani, Key… Bukan begitu.” Hyora mulai panik karena air muka Kyuhyun sudah mulai berubah menakutkan.

“Lalu apa tujuanmu menikah dengan Hyora Nuna?? Kau hanya mau memanfaatkannya saja?!!”

“Mwo… Mworago?!!” Hyora terbelalak dengan pernyataan Key ini.

Tatapan Kyuhyun semakin mengerikan. Dia menahan semua perasaannya kini yang hampir meledak.

“Aku tak tahu kau sebegitu teganya. Sepertinya selama ini hanya Hyora Nuna yang selalu membuatmu senang. Lalu, kapan kau mau menyenangkan hatinya?” Kyuhyun menggenggam garpunya kencang.

“Yang pertama, panggil aku Hyung… Yang kedua, kau tahu apa tentang kami berdua, hah? Kau itu hanya anak kemarin sore yang datang dan tiba-tiba mengatakan kalau kau mau merebut istriku, hah!!!” Kyuhyun sudah berdiri karena rasa kesal yang ditahannya sejak tadi.

“Key!!” Hyora berteriak sambil ikut berdiri berniat menahan Kyuhyun. Namun sialnya, dia keliru memanggil Kyuhyun dengan nama Key. Alhasil, mata Kyuhyun kini beralih pada Hyora yang ketakutan. Dia sudah sadar kesalahannya memanggil nama Kyuhyun.

“Mak… maksudku… Kyu…” Hyora tampak ketakutan dengan tatapan Kyuhyun. Matanya sudah mulai basah. Dia sendiri sebenarnya bingung kenapa Kyuhyun bersikap seperti ini.

Tanpa melihat Hyora dan Key lagi, Kyuhyun membanting garpunya kasar lalu pergi begitu saja dari hadapan mereka.

End of Author’s P.O.V

——

Hyora P.O.V

‘Babo!! Kenapa aku memanggilnya Key disaat seperti ini??’ ucapku dalam hati. Kenapa aku bisa salah memanggil nama Kyuhyun dengan Key? Gawat.

“Mak…maksudku… Kyu…” Aku ngeri melihat tampang seramnya itu. Mataku sudah mulai perih karena akan mengeluarkan airmata.

Kyuhyun membuang pandangannya lalu melempar garpunya sembarangan dan pergi begitu saja. Aku hanya bisa mematung.

“Ayo kita pulang sendiri saja, Nuna….” Key menggandeng tanganku.

“Key…hiks hiks… Kau seharusnya tidak berkata seperti itu padanya…” Aku merasa lemas sekali. Kenapa Key harus mengatakan hal seperti itu?

“Nuna…kaja…” Dia menarikku paksa. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Key akhirnya memberhentikan taxi untuk kami pulang. Aku masih menangis di dalam taxi. Entah kenapa air mata yang kukeluarkan seolah tidak ingin berhenti.

“Kenapa kau masih mau bertahan dengan Kyuhyun Hyung?” tanyanya tiba-tiba.

“Kyuhyun itu tidak seperti yang kau pikirkan… Aku tak pernah punya alasan pasti untuk mencintainya Key… Aku mencintai dia apa adanya. Aku telah memutuskan menikah dengannya dan aku juga akan menerima segala kekurangannya dan kelebihannya…”

“Tapi Nuna…”

“Aku sedang tidak ingin membicarkan ini, Key….” Aku sudah tak mau lagi membicarakannya. Aku sedang memikirkan caranya berbaikan dengan Kyuhyun. Selama ini dia tak pernah marah padaku. Jadi, aku belum tahu caranya meredam kemarahannya.

Selama di dalam taxi, aku tak membuka mulutku selama sisa perjalanan.

“Klik”

Aku membuka pintunya setelah memasukkan kode pengaman di pintu apartemenku dan Kyuhyun.

“Kau… Pergi tidur saja, Key…” perintahku pada Key sambil menepuk bahunya. Key memandangku tampak khawatir.

“Nan gwaenchanha… Jalja…” jawabku sambil mengantarkannya masuk ke dalam kamar.

Aku menutup pintu tempat Key tidur lalu menuju sofa. Kyuhyun pasti sudah ada di dalam kamar. Aku sudah melihat sepatunya di depan tadi. Setetes air mata mengalir kembali saat aku memeluk kedua lututku. Apa yang bisa kulakukan? Aku kemudian mengambil handphone-ku dan mengetik sms.

To: Ahra Eonnie

Eonnie, aku ingin meneleponmu. Tapi, aku takut tak bisa bicara. Beritahu aku bagaimana cara meredam kekesalan Kyuhyun?

 

Tak lama setelah aku mengirimnya, balasan Ahra Eonnie datang.

 

From: Ahra Eonnie

Kalian bertengkar? Biarkan saja Kyuhyun sendiri dulu. Tak perlu khawatir. Dia tak bisa marah lama-lama padamu. Besok pagi, cobalah bicara padanya. Pasti dia sudah tak apa. Oke? Hwaiting, Hyora~ya!!

 

Aku pun membalasnya lagi.

 

To:Ahra Eonnie

Ne, eonnie akan aku usahakan. Gomawoyo ^^

 

Huaahhh… Apa iya aku harus membiarkannya dulu sendiri? Aku semakin mempererat pelukanku di lututku. Ah~… Aku merindukan namja itu tiba-tiba. Aku benci saat dia menjadi seperti ini. Aku merindukan senyumannya, pelukannya, sentuhannya, cubitannya, ciumannya, dan segala hal yang berhubungan dengannya.

Cho Kyuhyun… kau benar-benar menyiksaku. Aku merebahkan tubuhku di sofa dan menutup mataku…..

‘Neomu himdeuro, Cho Kyuhyun. (sangat berat, Cho Kyuhyun)… ’ gumamku yang kemudian terlelap dalam tidurku.

End of Hyora P.O.V

 

Kyuhyun’s P.O.V

“Brakk!” Aku menutup pintu kamarku dengan kesal.

“Hyora!! Teganya dia memanggilku dengan nama Key!!” Aku menempatkan kedua tanganku di pinggangku. Aku berusaha mengatur nafasku yang sudah tak beraturan. Anak tengil itu sungguh sok tahu sekali!

Aku melemparkan diri ke tempat tidur. Anak kecil itu bilang aku hanya memanfaatkannya??!! Aish!! Kalau aku hanya ingin memanfaatkan Hyora, sudah kutinggalkan dia sedari dulu. Tapi, buktinya? Tidak, kan? Apa dia tidak bisa melihatku yang selalu cemburu saat melihat Hyora dengan namja lain? Oke. Aku akui aku cemburu. Bahkan saat Hyora menjelaskan padaku kalau hubungannya dengan Key hanya sebatas Nuna dan Dongsaeng, aku pun mencoba meredam rasa cemburuku. Tapi, bukankah itu begitu sulit untuk menahan perasaanmu saat orang yang kau sukai sedang berusaha untuk direbut orang lain? Apa kau hanya akan diam saja melihatnya?

Setengah jam kemudian aku mendengar suara pintu yang dibuka. Mereka sudah pulang rupanya. Dadaku masih bergemuruh kesal. Apakah Hyora akan masuk ke dalam kamar?

Aku menunggu pintu yang terbuka, berharap Hyora masuk. Tapi, pintu kamar kami tak bergerak sedikitpun. Yang bisa kudengar hanyalah suara pintu kamar belajar yang tertutup.

“Mwoya?? Apakah dia tidur dengan Key??!! Aish!! Yang benar saja!! Key benar-benar keterlaluan kalau begitu…”

Aku ragu apakah aku harus keluar dan mengecek mereka berdua atau….. Ah~… Aku tunggu saja sebentar. Siapa tahu Hyora akan masuk sebentar lagi. Kutunggu lagi sampai setengah jam dan pintunya masih tak terbuka. Hyora… Apakah dia….

Aku membuka pintu kamar. Tak ada siapa pun disana. Aku keluar dari kamar memeriksa keadaan sekitarnya. Aku melangkah masju ke depan sofa dan kemudian melihat Hyora tertidur dengan air mata yang masih sedikit basah di pipinya. Ya Tuhan… Kasihan sekali istriku ini. Aku benar-benar tak bisa marah padanya. Aku duduk di depan sofa dimana Hyora terbaring. Kuhapus air matanya yang tersisa di pipinya. Dia terlihat sangat stress meskipun sedang tidur.

“Kyu… Mianhae…” desisnya dalam tidur. Aku tesentak dengan igauannya.

“Na do mianhae. Aku terlalu emosi tadi…” gumamku sembari mengelus rambutnya. Disini dingan sekali. Dia pasti kedinginan. Aku pun menggendong Hyora untuk kutidurkan di dalam kamar. Aku meletakkan dia dengan hati-hati lalu menyelimutinya. Kupandangi dia sebentar.

“Kau pasti sangat lelah, Myeonjjang~ah… Jalja…” Kukecup keningnya. Semoga itu bisa membuatnya lebih baik.

Aku berdiri di samping Hyora. Sepertinya aku butuh sedikit air untuk menyegarkan kepalaku. Akupun melangkah keluar kamar lagi. Saat akan melangkah, aku sedikit kaget karena sudah ada Key yang berdiri di depan sofa. Aku sedang tak ingin bicara dengannya jadi aku mengalihkan pandanganku darinya dan berniat tak akan menggubrisnya.

“Kyuhyun Hyung…” panggilnya tiba-tiba. Aku menengoknya dan dia kini sudah membungkukkan badannya.

“Mianhaeyo…” Aku melihat ketulusannya meminta maaf padaku. Ternyata, dia memang anak yang baik seperti yang dikatakan Hyora. Dia masih membungkuk ke arahku. Entah kenapa rasa kesalku padanya hilang begitu saja saat melihatnya bersikap seperti itu. Jadi, aku membatalkan untuk mengambil air dan menghampiri Key. Kutepuk punggungnya pelan, menyuruhnya untuk berdiri. Sepertinya kami memang harus saling bicara.

“Anjahalae?…(kau mau duduk?)” tanyaku. Dia menegakkan tubuhnya

“Ne, hyung…” jawabnya.

End of Kyuhyun’s P.O.V

 

Key’s P.O.V

Kyuhyun Hyung pergi begitu saja dari hadapan kami setelah mendengar pernyataanku. Hyora Nuna hanya bisa terdiam melihatnya. Kyuhyun Hyung benar-benar keterlaluan… Kenapa dia malah meninggalkan Nuna.

“Ayo kita pulang sendiri saja, Nuna….” Aku menggandeng tangan Hyora Nuna.

“Key…hiks hiks… Kau seharusnya tidak berkata seperti itu padanya…”

“Nuna…kaja…” Aku menarik tangannya lalu pergi dari restaurant itu setelah membayar makanan yang tadinya akan kami makan.

Mobil Kyuhyun Hyung sudah menghilang dari tempatnya tadi. Aku pun memutuskan kami untuk pulang menggunakan taxi saja.

“Kenapa kau masih mau bertahan dengan Kyuhyun Hyung?”

“Kyuhyun itu tidak seperti yang kau pikirkan… Aku tak pernah punya alasan pasti untuk mencintainya Key… Aku mencintai dia apa adanya. Aku telah memutuskan menikah dengannya dan aku juga akan menerima segala kekurangannya dan kelebihannya…”

“Tapi Nuna…”

“Aku sedang tidak ingin membicarkan ini, Key….” Kami pun akhirnya saling berdiam diri selama perjalanan pulang.

“Klik”

Hyora Nuna membuka pintu apartemen mereka.

“Kau… Pergi tidur saja, Key…” perintah Hyora Nuna sambil menepuk bahuku. Aku memandangnya khawatir.

“Nan gwaenchanha… jalja…” katanya sambil mengantarkanku masuk kedalam kamar.

Dia menutup kamar tempat aku tidur. Ya, Tuhan! Aku merasa bersalah sekali. Aish! Mungkin aku memang keterlaluan.

Suasana di apartemen ini pun kembali hening. Nuna, maafkan aku…. Aku harus minta maaf pada Kyuhyun Hyung juga sepertinya. Besok sepertinya waktu yang tepat untuk meminta maaf.

—–

Sudah satu jam lebih aku mencoba menutup mataku, tapi tetap tak bisa. Tiba-tiba aku mendengar suara pintu Kyuhyun Hyung dan Hyora Nuna terbuka. Aku mendegarnya dengan seksama. Aku kemudian bangun dari kasur kecilku dan membuka pintu sedikit. Bisa kulihat sosok Kyuhyun Hyung yang mendekati sofa di depan TV itu masih memakai baju yang tadi dia pakai saat pergi ke restaurant. Dia kemudian berlutut lalu menggendong Hyora Nuna yang ternyata tertidur di sofa dari saat kami pulang. Dia membawanya ke kamar. Aku mencoba memberanikan diri keluar.

Aku menunggu Kyuhyun Hyung. Baiklah jika dia keluar aku akan meminta maaf padanya. Sepertinya aku sudah sangat keterlaluan padanya. Aku hanya ingin melindungi Nuna kesayanganku ini. Karenanya, aku bersikap egois dan menyebalkan pada Kyuhyun Hyung. Aku ingin Nuna mendapatkan suami yang baik dan selalu melindunginya.

Benar saja. Kyuhyun Hyung keluar dari kamar tak lama kemudian. Dia sedikit kaget melihatku berdiri di depan sofa.

“Kyuhyun Hyung…” panggilku saat dia sudah mau pergi.

“Mianhaeyo…” Aku reflek membungkuk. Entah satu atau dua menit aku tetap membungkuk sampai ada yang menepuk punggungku.

“Anjahalae?…(Kau mau duduk?)” tanyanya.

“Ne, hyung…” jawabku yang lalu mengikutinya duduk di sofa.

“Mianhaeyo Hyung…” kataku. “Aku telah lancang berkata seperti itu tentang Hyung. Mianhaeyo.” aku menunduk.

“Hmmm…” jawabnya denga kalem.

“Ini karena aku sangat menyayangi Hyora Nuna. Dia adalah Nunaku yang paling baik hati. Dia yang selalu melindungiku. Jadi, aku hanya ingin melindunginya juga…”

“Areo… Aku juga minta maaf. Hahahaha… Kau benar. Aku ini kekanakan sekali, ya?” Dia tertawa. Aku pun ikut tertawa kecil.

“Hyung… Hyora Nuna adalah yeoja yang baik. Jadi, aku juga ingin dia bisa mendapatkan suami yang baik juga.”

“Hey~… Apakah aku belum cukup baik baginya?”

“Kau tahu, Hyung? Hyora Nuna sangat menyukai hal-hal yang sangat sepele seperti yang tadi aku lakukan.” ucapku.

“Bagaimana jika aku tidak bisa melakukannya?”

“Aku tidak memaksamu Hyung. Aku hanya ingin kau mengetahuinya. Jadilah dirimu sendiri Hyung. Hyora Nuna pernah mengatakan kepadaku bahwa dia tak punya alasan untuk mencintaimu. Dia menerimamu dengan semua kekurangan dan kelebihanmu…”

“Jinjja? Dia bilang begitu padamu?”

“Hmmm…. Jadi, Hyung. Kau juga harus bisa menerimanya apa adanya.”

“Kau tahu? Aku menikah dengannya juga sangat mendadak. Jujur saja, saat kami bertemu aku memang hanya menginginkan jurus game nya karena kami bertemu lewat chatting di game yang kami mainkan. Aku kalah terus darinya. Jadi, aku pikir aku harus bertemu dengan orang yang selalu bisa mengalahkanku. Siapa tahu aku bisa mendapatkan jurus darinya. Tapi, setelah bertemu dengannya yang ternyata yeoja. Ssejak pertama kali melihatnya dadaku berdebar tak karuan dan tiba-tiba saja mulutku berkata aku ingin menikahinya. Aneh memang. Tapi, entah kenapa aku melakukannya… Aku merasa yakin kalau yeoja inilah yang akan menemani hari-hariku kemudian sejak pertama kali bertemu. ” Aku sedikit tersentak karena menyadari maksud dari buku harian Kyuhyun Hyung yang aku baca kemarin. Jadi, Kyuhyun Hyung langsung mengajak Hyora Nuna menikah on the spot. Namja ini cukup gila juga.

“Lalu setelah menikah dengannya, adakah yang membuat hyung kecewa?” tanyaku.

“Aku tidak bisa bilang aku kecewa atau tidak. Tentu saja sebagai manusia biasa, ada beberapa hal yang membuat aku atau Hyora kecewa. Tapi, aku selalu berusaha menerimanya. Dan aku yakin Hyora pun juga begitu. Saat kau hidup berumah tangga, yang penting adalah kepercayaan dan juga saling menerima kekurangan pasangannya. Aku yakin bahwa yang lebih sering membuat kesalahan adalah aku. Tapi, selama ini dia selalu menurut padaku. Kadang dia mengomel karena aku. Tapi, dia juga yang selalu membenarkan kesalahanku. Dan aku tak mau kehilangan dia…” ucap Kyuhyun Hyung sambil menerawang.

“Hyung, aku mau kau menjaga Hyora Nuna… berjanjilah padaku”

“Baiklah… Kau akan kumasukkan dalam list orang-orang yang menyuruhku menjaganya. Hahaha.” lanjutnya.

“Itu karena aku sangat menyayangi Hyora Nuna dan tak mau dia disakiti… Jika Hyung menyakitinya, awas saja ya..  Aku dan Donghae Hyung tak akan tinggal diam.” ancamku.

You can count on me, Kibum~ah…” Kyuhyun Hyung mengacak rambutku. “Aku bahkan berjanji pada diriku sendiri takkkan pernah menyakitinya. Kau tau? Aku akan melakukan apa saja demi Hyora. Justru belakangan ini dia yang selalu membuatku khawatir….”

“Waeyo?”

“Dia terlihat lebih cantik, kan?”

“Ne, Hyung.”

“Dia melakukannya untukku. Tapi, itu malah membuatnya menjadi perhatian namja lain. Dan aku sebenarnya sangat takut…”

“Lalu kenapa tadi Hyung malah meninggalkan kami? Bisa saja kan aku membawanya kabur?”

“Hmmm… Iya. Kau benar juga. Jadi, jika hal seperti ini terjadi lagi aku harus membawanya dan mempertahankannya tetap di sampingku?”

“Keuromyo, Hyung…”

“Arasseo…”

“So, ahjussi… Are we cool?” Aku menawarkan tanganku.

“Mwo? Im hot!!” kata Kyuhyun.

“Ne?”

“Kalau Eunhyuk Hyung pasti akan menjawab seperti itu. Hahahahhaha….” Kyuhyun terkekeh.

“Eunhyuk Hyung itu yang tampangnya seperti…” Aku berhenti bicara. Kyuhyun Hyung menatapku.

“Seperti monyet? Ahahaha.. Eo, maja! (ya, benar.) Kkkk.”

“Aku tak berani berkata seperti itu. Tapi, itu yang sebenarnya mau kukatakan, Hyung.” jawab Key.

“Hey, Of course we’re cool if you stop calling me ahjussi, too.” kata Kyuhyun dengan wajah =_= sekaligus menyambut tanganku.

“Huahahahahahhaa… Arasseoyo, Hyung….” Kami berduapun tersenyum.

“Sudah, kau istirahat saja…” kata Kyuhyun Hyung.

“Ne, Hyung.” Aku beranjak dari sebelah Kyuhyun Hyung. Dadaku lega mendengar ucapan Kyuhyun Hyung. Syukurlah… Dia tidak seperti yang aku bayangkan. Aku akan bisa tidur malam ini. Sebagai permintaan maafku pada mereka aku akan membuatkan mereka sesuatu besok pagi. Aku tersenyum sendiri lalu masuk ke kamar dan saatnya tidur!

End of Key’s P.O.V

 

Hyora’s P.O.V

Ada beban berat yang tertahan di daerah perutku. Berat sekali… Akupun membuka mataku pelan, mendapati diriku yang sudah ada di atas kasur kami dan melihat kepala Kyuhyun yang ada perutku sambil memelukku.

Ah iya… Semalam dia kan marah padaku dan Key. Aish!! Kenapa aku memanggilnya Key? Membuatnya makin kesal saja. Eottokhae? Aku tak berani menggerakan badanku sesenti pun.

Aish!!Tapi ,anak ini benar-benar berat sekali. Aku berusaha melepaskannya. Tapi, yang terjadi kemudia dia malah mempererat pelukannya.

“K…Kyu…”

“Kau tidak salah memanggil namaku lagi dengan Key?” katanya masih dengan mata tertutup.

“M…mwo??”

“Jangan panggil nama namja lain di hadapanku lagi, Hyo~ya… Kau tahu itu begitu menyakitkan untukku.” ucapnya.

“Mi…mianhae, Jangmyeon~ah …” aku menunduk.

Dia menegakkan wajahnya yang baru bangun itu ke arahku lalu menegakkan daguku.

“Permintaan maaf diterima asalkan kau….”

“Chu~”

=,=”. Aku sudah tahu dia akan meminta apa. Jadi, aku menerimanya saja. Kukecup bibirnya yang memang kurindukan itu.

“Ya! Apa yang kau lakukan?” tanyanya kaget sambil duduk dari posisi tidurnya.

“Melakukan apa yang kau suruh… ” jawabku polos.

“Mwo?? Huahahahahahaha… Kau memang sudah semakin mesum, Hyora~ya…” kata Kyuhyun sambil tertawa terbahak-bahak. Aigoo… Jadi, bukan ini?

“Kenapa tertawa?? Kau memang menginginkannya, kan???!!!” bentakku.

“Aku ingin kau membuatkanku sarapan bukan popo. Huahahahaahahahaha…” Dia semakin menertawakanku.

“M…mwo??” Wajahku langsung memanas. Aish!! Ini benar-benar memalukan. Tapi, aku juga merindukan ciumannya juga, sih. Gara-gara Key disini, kami jadi tidak punya waktu berduaan saja. Omo!! Kenapa aku jadi mesum begini? Benar kata Kyuhyun aku tambah mesum!! Kyaaaaa!!! Aku menutup wajahku sendiri. >////<

“Keunde… Gwenchanha. Aku lebih suka yang tadi. Kkkkk…” Dan jawabannya itu ditutup dengan mengecup bibirku juga.

“Ahjussi!!! Nunaaaaaaa!!! Ireona!!!!” Tiba-tiba suara Key terdengar seiring dengan gedoran di pintu.

“Aish! Anak itu. Apakah dia tidak bisa jika tidak mengganggu kita? Ckckck…” kata Kyuhyun sambil menggelengkan kepalanya.

“Aku sudah membuatkan kalian sarapannnnnnnnnnn!!!”

“Kaja…” ajakku. Aku turun dari tempat tidur. Tapi, ditarik kembali oleh Kyuhyun ke dalam pelukannya.

“Mianhada…. Mulai sekarang aku akan menjagamu dengan baik dan memastikan bahwa tidak ada namja lain yang menyentuhmu.” katanya. Aku tersenyum lega mendengar pernyataannya.

“Na do, mianhae… Dan kau tidak boleh kalah dari namja manapun…” Aku membalas pelukannya.

“Ahjussiiiiiiiiiiiiii!!!” suara Key terdengar lagi.

“Iyaaaaaaaaaaaa!!!” jawab Kyuhyun kesal.

“Kaja… Key baik sekali mau membuatkan kita sarapan.”

Aku menggandengnya dan mengajaknya keluar dari kamar untuk menikmati sarapan buatan Key.

End of Hyora’s P.O.V

 

Author’s P.O.V

“Kibum~ah… Kau bangun pagi sekali?” tanya Hyora diikuti Kyuhyun di belakangnya. Hyora sudah tampak ceria karena dia sudah berbaikan dengan Kyuhyun.

“Nuna!” Key melihat kedua orang itu keluar dari kamar sambil bergandengan tangan. Dia tersenyum.

“Nuna! Ahjussi… !! Kalian sudah berbaikan, ya?”

“Ya! Neo…” ancam Kyuhyun.

“Ah~ iye Hyung…Juisonghamnida.” Key membungkuk.

“Aish! Jeongmal…” gerutu Kyuhyun kesal.

“Anjuseyo (duduklah). Hari ini aku membuatkan kalian dubu kimchi yang kemarin sempat tertunda.” kata Key sambil meletakkan semangkuk dubu kimchi panas diatas meja.

“Hmmm… Masitta…” kata Hyora sembari menghirup Dubu Kimchi yang ada di depannya.

“Meokja!!! (mari makan).” kata Key.

Dan mereka bertiga lalu makan bersama. Kyuhyun sesekali menatap Hyora yang makan dengan lahapnya.

“Igo…” Kyuhyun tiba-tiba menyuapkan dubu kimchinya pada Hyora. Hyora tampak sedikit kaget tapi dimakannya juga suapan dari Kyuhyun tersebut. Kyuhyun menatap Key. Key hanya mengangguk sambil tersenyum.

“Aku sangat lega kalian sudah berbaikan… Maafkan aku Nuna… Hyung…” kata Key.

“Sudahlah tak usah kau pikirkan lagi… Are we cool?” Kyuhyun mengangkat tangannya untuk ber-hi five..

No, Im hot!!” Key membalas hi five Kyuhyun.

“Kkkkkk…” keduanya terkekeh. Hal ini membuat Hyora kaget dan berhenti makan.

“Ka….kalian sudah berbaikan?” tanya Hyora tak percaya.

“Demi kau, Myeonjang…” Kyuhyun mengelus pipi Hyora sekilas dengan punggung tangannya.

“Ne, Nuna… Kami sudah tak apa.” kata Key.

“Jinjjaya? Wuaaaaaahhh. Na johahae…” Hyora tersenyum memandang kedua namja di depannya itu.

“Nuna… Hyung… Lusa aku harus kembali ke Amerika. Aku sudah memesan tiket pulangnya. Sebenarnya aku masih ingin sekali disini tapi ternyata minggu depan aku sudah harus berada di kampus untuk orientasi. Untung saja aku sudah bertemu dengan orang-orang yang ingin aku temui, kecuali Byunghyun Ahjussi.”

“Jinjja? Eottokhae? Appa memang sedang sibuk. Aku saja jarang sekali bertemu dengannya. Paling-paling lewat telepon saja.” ucap Hyora.

“Sudahlah, Nuna. Tak apa-apa. Sampaikan salamku saja padanya.” ucap Key.

—–

“Kau yakin tidak ada barangmu yang tertinggal?” tanya Hyora saat dia dan Kyuhyun sedang mengantarkan Key ke bandara. Hari ini Key akan kembali ke Amerika.

“Ne, Nuna. Aigoo… Nuna. Kenapa kau masih saja cerewet?”

“Aish, bocah ini. Dengarkan kata Nunamu baik-baik. Aku tidak ingin kau tiba-tiba datang dan mengganggu kami lagi yang mungkin sedang olahra…emmppghh..” Hyora segera membekap mulut Kyuhyun dan tersenyum manis ke arah Key yang menatap mereka berdua bingung. Setelah merasa Kyuhyun tidak memberontak lagi, Hyora pun melepaskan bekapannya.

“Yak! Kenapa kau membekap mulutku?” tanya Kyuhyun.

“Sebab kata-kata yang akan kau keluarkan dari mulutmu pasti mesum sekali, Hyung. Hahaha.” ucap Key yang langsung membuat mata Hyora membulat.

“Kyu….” panggil Hyora dingin.

“Aku tidak mengatakan apa-apa padanya, Myeonjang~ah..” jawab Kyuhyun ngeri.

“Sudahlah… Kenapa sekarang saat aku pergi kalian malah bertengkar begini?” tanya Key. Sesaat kemudian, terdengar suara pengumuman yang dilontarkan petugas bandara bahwa pesawat yang akan Key tumpangi akan segera berangkat.

“Nuna~… Hyung… Aku pergi dulu.”

“Ne. Jaga dirimu baik-baik.”

“Ara…”

“Hyung…” panggil Key. Dia memberikan sebuah kotak yang cukup besar yang sedari tadi ditentengnya.

“Ige mwoya?” tanya Kyuhyun dan Hyora bersamaan. Tapi, Key hanya tersenyum penuh arti.

“Buka saja di rumah dan berikan hasil yang nyata.” ucap Key yang kemudian pergi begitu saja dari hadapan Kyuhyun dan Hyora yang menatap kotak yang kini berada di tangan Hyora dengan pandangan bingung.

End of Author’s P.O.V

 

Kyuhyun’s P.O.V

“Kira-kira apa yang Key berikan pada kita ya, Jangmyeon~a?” tanya Hyora.

“Entahlah. Aku juga tidak tahu. Bagaimana kalau kita buka sekarang?” tawarku. Sekarang kami sudah kembali ke apartemen kami. Tanpa Key tentunya. Kami pun duduk di atas ranjang kami, sambil menerka-nerka benda apa sekiranya yang ada di dalam kotak ini.

Hyora mulai membuka kotak itu dan terlihatlah sebuah surat dan apa ini? Terlihat seperti kain berwarna merah menyala? Apa sebenarnya maksud bocah ini?

“Apa ini?” tanyaku sambil menunjuk kain merah itu.

“Ah… Ada suratnya.” ucap Hyora. Kami berdua pun mendekatkan diri lalu mulai membaca suratnya.

 

Annyeong… Nuna.. Hyung… Bagaimana? Kalian sudah melihat hadiah dariku? Hahaha. Kyuhyun Hyung pasti akan sangat senang sekali. Sebelumnya, aku minta maaf kepada kalian berdua karena selama aku di sana aku banyak merepotkan kalian. Aku juga minta maaf kepada Hyora Nuna karena telah membuat Nuna menangis. Kyuhyun Hyung… Aku mohon jangan membuat Nuna kesayanganku menangis lagi. Aku juga minta maaf kepada Kyuhyun Hyung. Sebenarnya, perasaanku kepada Nuna hanya perasaan antara Nuna dan Dongsaeng. Aku tidak ada niatan sama sekali untuk merebutnya darimu. Aku hanya ingin mengetesmu. Sejauh mana cintamu terhadap Hyora Nuna. Itu karena aku menemukan diarimu di kamar belajar kalian. Tapi, setelah tahu apa yang terjadi sebenarnya. Kini aku mengerti. Mianhae…^^

Ps : Kyuhyun Hyung… Hyora Nuna… Hwaiting! Jangan lupa ucapanku saat di bandara tadi. Berikan hasil yang nyata! Hahaha.

-key-

“Jadi… Dia tidak benar-benar menyukaimu?” ucapku tak percaya. Aigoo… Karena diari itu lagi rupanya. Kenapa aku selalu sial kalau berhubungan dengan diari itu? Sepertinya aku harus membuang diari itu. =.=”

“Kan aku sudah bilang. Ngomong-ngomong apa ini, ya?” tanya Hyora. Tunggu dulu. Sepertinya aku pernah mendengar kalimat itu. Hasil yang nyata. Ini seperti… kalimat yang ada di video yang Eunhyuk Hyung berikan padaku. Jadi…
“And…wae….” Hyora terlanjur mengambil kain merah itu dari kotak dan kini aku bisa melihat jelas. Benda apa yang ada di tangannya.. Sebuah kain merah transparan. Hyora membelalakkan kedua matanya sementara aku menelan ludah.
“Lingerie?” ucap Hyora kaget. Aku merasa debaran jantung di dalam tubuhku berpacu cepat. Entah karena pengaruh kain merah itu atau memang gejolak dalam diriku yang sejak kemarin selalu terhenti gara-gara bocah sial itu. Aku mendekati tubuh Hyora sehingga aroma khas tubuhnya dapat kucium dengan jelas.
“Hyora~ya…” panggilku lembut. Hyora yang terlihat kaget segera membalikkan tubuhku dan menatapku takut.
“K-kyu…” Aku tersenyum evil kepadanya.
“Sepertinya kau perlu mencoba pakaian yang diberi Key ini..” bisikku tepat di telinganya.
“Kya!!! Mesum!!” teriak Hyora sambil melemparkan bantal yang tepat mendarat dikepalaku.
“Ya!! Lee Hyoraaaaaa!! Kau pantas dihukum kalau begitu….” Aku memperlebar senyuman evil-ku dan mulai mendekatinya lagi.
“Cho Kyuhyuuuuuuunnn!!!”

*****

Mianhae *bow* karena lama publish sampe banyak yang nanya-nanya lewat sms ato fb ato twitter. Sebenernya ini masalah jarak aja. Author elftodie ama author syipoh kini tak tinggal dalam satu kota lagi, jadi kadang diskusi yang cuma lewat sms-sms mesum itu gak terlalu mantap buat saling share ide. Dan karena kesibukan author elftodie yang jadi songsaengnim en harus pulang malem terus, juga author syipoh yang sekarang tambah sibuk dengan kegiatan maba-nya.
Oh, iya. Satu lagi yang paling penting, dalam menulis semua ff kami berdua itu perlu mood yang tepat. Jadi, kadang terbengkelainya ff kami itu juga gara-gara mood kami yang gak dateng pas mau ngerjainnya. Hope this time you can heal your longing of Kyura. ^^
Keurigo, beberapa kalimat yang ada dalam kata-kata Kyuhyun juga sebenernya adalah tumpahan hati salah satu author. Ahahahahaha.. (tumpahan hati eonni kali…) Jadi, jangan muntah ya bacanya. Kkkk… Kalo kata author syipoh si Kyu udah kayak ibu-ibu pas ngomongin hal itu. Kyahahahaha! Pokoknya tunggu saja jangan ampe bosen yaa… hehehehe… Last but not least (prakatanya panjang bener dah =_=a), Are we cool? Kkkkkk…. (Eunhyuk: Im Hot!!)

 

Advertisements

53 responses to “{Kyura Moment} : Key’s Invasion

  1. tambah seru aja nih ceritanya..
    kkkk… aq kira key mau jd pengganggu rumah tangganya KyuRa.eh.. ternyata dugaanku salah 😀
    hehehe..

  2. Key bener sayang sama Hyora tapi sumpah Kyu serasa dapat rival yg sejajar evil’a sama dy wkwkwkwkwwkwkk konyol’a pas mrk mau ML Key lngsng buka pintu tanpa babibu LOL

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s