EVERLASTING: Memories (Special Hae b.day—Endless Moment side story)

Title: EVERLASTING: Memories (Special Hae b.day—Endless Moment side story)

Authors: Minhye harmonic feat Hotaru Yuhime

Casts: Lee Donghae (SuJu), Lee Hyukjae aka Eunhyuk (SuJu), Choi Minhye (OC)

Others: Kim Yoori (OC), Kim Junsu aka Xiah (TVXQ/JYJ), Kim Heechul aka Chullie (SuJu), Jung Yunho aka U-Know (TVXQ), others

Genre: friendship/romance/angst/family

Warning: OOC, AU, OCs

Disclaimer: Plot/alur, semua punya kami berdua! Kecuali Junsu milik Hotaru, Donghae milik Minhye

Poster by me@minhyeharmonic.wordpress.com

PENGANUT READ-FAVE-RUN

MENJAUH!

===============================================================================

“Donghae…”

Deg! Donghae terlonjak dari tidurnya. Pandangannya menyapu seisi kamar. Semua nampak baik-baik saja, tak ada yang salah.

“Ayah…”

Donghae memegang kepalanya yang pusing. Diliriknya jam weker di tepi tempat tidur. Sudah hampir setengah tujuh. Kesiangan!

“Nek… nenek.. Kenapa nenek tak membangunkanku?” Donghae bangkit dari tempat tidurnya, mengeluh sendiri. Tak ada siapapun di rumah.

Menyerah mencari neneknya, Donghae menyeret tubuhnya menuju kamar mandi dan bersiap menuju sekolah. Masih belum terlambat jika ia bergegas.

===============================================================================

-di Sekolah-

“Hae, kau pucat.”

Donghae tak bergeming, mengacuhkan Eunhyuk yang tampak khawatir.

“Kau sakit?” tanya Eunhyuk lagi. Ruang dance tampak lengang—masih istirahat pertama, tentu saja kegiatan klub belum dimulai. Hanya ada mereka berdua di ruangan itu.

Donghae meletakkan kepalanya di meja. Masih dengan mengacuhkan Eunhyuk yang mulai panik—mencari pertolongan.

“Hye, ah, syukurlah kau lewat! Donghae sakit!”

Donghae melihat gadis itu mendekat, namun tak lama, pandangannya meredup.

“Hae…”

==============================================================================

FLASHBACK: Donghae, 5 years old…

“Hae..”

“Aku sayang kalian… tapi aku juga sayang ayah… Maaf, aku ingkar janji,” Donghae terdiam, sesak nafas, tapi dibiarkannya gadis itu tetap memeluknya.

“Kau harus kembali, nanti! Karena aku tuan Putri, kau harus menuruti perintahku!” air mata masih mengalir deras ketika gadis itu akhirnya melepaskan pelukannya dan kembali menatap Donghae.

“Iya, nona.Aku pasti menepati janjiku kali ini,” jawab Donghae. Ia beralih menatap Eunhyuk yang tak juga bergeming—menatap Donghae tajam tanpa bergerak sedikitpun. “Eunhyuk…”

Belum sempat Donghae mengucapkan kata-kata maaf dan perpisahan, Eunhyuk sudah berbalik dan berlari menjauh—menuju pohon maple favorit mereka. Kembali ia menatap Hae tajam.

Hae balas menatap Eunhyuk dengan terluka. Padahal ini terakhir kalinya mereka bertemu, tapi…

Tiba-tiba, dengan gerakan cepat, Eunhyuk memanjat pohon itu.Minhye dan Donghae tersentak. Serentak keduanya mendatangi Eunhyuk, menatapnya khawatir dari bawah pohon.Eunhyuk telah tiba di dahan yang biasa diduduki Donghae. Cukup tinggi, dan Eunhyuk berdiri di sana sambil memeluk batang pohon itu erat-erat.

“Hae… rumahmu nanti dekat laut, kan?” kata Eunhyuk dengan suara bergetar. “… dari sini lautnya kelihatan. Aku pasti bisa melihatmu dari sini.”

“Eunhyuk…”

“Nanti…kita bisa main lagi, kan?”

“Aku nggak mau ketemu kamu lagi.”

Mata Eunhyuk membulat, berkaca-kaca.

“Aku nggak mau ketemu kamu lagi karena aku buat kamu nangis,” lanjut Donghae. Eunhyuk melompat, terjatuh memeluk Donghae.

“Aku nggak akan nangis lagi, sungguh!”

Bukannya tertawa, mereka berdua malah menangis sambil berpelukan erat. Minhye tidak tinggal diam, ikut memeluk. Menangis.

“Tuh, kan. Kamu bohong,” tuding Donghae disela tangisnya.

“Nggak, aku nggak bohong!” tangis Eunhyuk makin keras.

“Donghae, saatnya pergi.” Tiba-tiba Ibu Donghae telah berada di sebelah mereka. Membuat ketiganya melepas pelukan dengan tidak rela. “Ayo.” Ibu Donghae meraih tangan Donghae, tersenyum pada Minhye, Eunhyuk beserta orangtua Minhye dan Eunhyuk yang ikut mengantar.

Donghae menggenggam erat tangan Ibunya. Berjalan mengikuti Ibunya. Sesekali menoleh ke belakang.

Tangis Eunhyuk sudah reda, menyisakan isak. “Donghae…” Panggilnya.

Minhye ikut memanggil. Tangisnya makin keras.

Donghae berhenti menaiki tangga bus. Menatap sedih ke arah sahabat-sahabatnya. Donghae menghela nafas, memasang wajah ceria dan senyum khasnya seraya melambai riang. “Sampai jumpa!” Pintu bus tertutup, bersamaan dengan hilangnya senyuman Donghae.

“Donghae… Donghae…”

Donghae  tersentak, menyadari air mata telah benar-benar membasahi pipi mungilnya yang chubby. “Ya, Bu!” Sahut Donghae seraya menghapus air matanya cepat.

Ibu tersenyum lembut, menarik anak lelaki itu menuju pangkuannya. “Donghae sedih?” dipeluknya tubuh mungil Donghae. “Donghae sedih?” Ibu mengulang pertanyaannya.

Donghae mendongak, menatap Ibunya. “Tidak, Ibu. Ini demi kebaikan Ayah.”

===============================================================================

8 years later

Kring..kring…

“Pagi Donghae.”

“Pagi, Paman,” Donghae melambai pada penjual ikan yang barusan menyapanya, sambil terus mengayuh sepedanya menuju kompleks perumahan elit di sisi lain pesisir.

Kring..kring.. Donghae kembali membunyikan bel sepedanya, menghindari seorang pejalan kaki.

“Donghae, jangan lupa nanti sore kapal datang!”

“Benarkah?” Sontak Donghae mengerem.

“Ya, selain bongkar muat barang, kau bisa dapat tambahan jika membantu membersihkannya.”

“Ah, baiklah. Aku akan datang. ‘Makasih infonya,” Donghae kembali melajukan sepedanya.

Donghae, 13 tahun. Seorang siswa kelas 2 SMP, tinggal bersama orangtua. Tak ada penduduk desa yang tak mengenalnya. Selain pekerja  keras, kehidupannya yang serba pas-pasan mendidiknya menjadi pekerja keras. Ramah dan mudah bergaul, serta senyuman khasnya membuat semua orang menyukainya.

Kring..kring..

Donghae berhenti di depan salah satu rumah, meletakkan botol-botol susu segar dan koran di kotak yang tersedia. Pekerjaannya setiap pagi, mengantar koran dan susu di perumahan itu. Sudah hampir setahun, sejak kondisi ayahnya kembali memburuk dan tak bisa lagi bekerja. Ibunya berjualan ikan di pasar ketika siang, dan menjahit di malam hari. Kehidupan mereka bergantung pada penghasilan harian mereka yang tak pernah pasti.

Kring..kring..

“Hei! Donghae!”

“Eh, kakak,” Donghae lekas mengerem saat sesosok tubuh jangkung menghadang laju sepedanya. “Itu bahaya, kak,” keluh Donghae kemudian.

Lelaki itu tertawa. “Kau langsung ke sekolah setelah ini?”

“Tentu saja.”

“Kalau begitu ayo sama-sama.”

“Tapi aku masih harus mengantar ini,” Donghae menunjuk tumpukan koran dan susu di sepedanya.

“Kutemani kau mengantar. Biar kubantu kau sekalian,” lelaki itu mengambil separuh muatan Donghae dan memindahkannya ke sepedanya sendiri, sebelum Donghae sempat protes.

“Hei, berarti aku harus bagi hasil dengan kakak, dong,” keluh Donghae bercanda, mengejar kakak kelasnya yang telah melaju terlebih dahulu itu dan menyejajarkan sepedanya di sampingnya.

“Ya, Dorobbong! Kau pikir aku siapa?” Lelaki itu menendang sepeda Donghae, membuatnya sedikit oleng.

“Ya! Yurobbong, namaku Donghae!”

“Namaku Yunho! Panggil aku kakak, aku ini kakak kelasmu!”

“Iya, iya, kakak Yurobbong!”

===============================================================================

“Terimakasih, Paman,” Donghae membungkuk sopan, dan menatap kembali lembaran di tangannya. Hasil kerja kerasnya seharian. Sepulang sekolah, ia langsung ke pelabuhan untuk membantu kapal-kapal membongkar muatan. Beberapa kapal memerlukan perawatan, jadi Donghae mengambil kesempatan itu untuk menambah penghasilan.

“Nih, untuk kakak.”

“Eh, tidak usah, kau kan yang butuh.”

“Kakak,” Donghae menatap Yunho serius, “..jangan kasihan padaku.”

Yunho balas menatap Donghae. Dan sejenak kemudian, tawanya pecah. “Kau ini, memangnya kenapa aku kasihan padamu, hah? Sini!” Yunho merebut lembaran di tangan Donghae. “Ku traktir kau makan.”

Donghae berdecak kecil. “Kakak terus-terusan membantuku. Kenapa kakak begitu baik padaku?”

“Jadi aku harus jahat padamu?” mereka terus menyusuri pelabuhan, melewati pasar-pasar kecil di pinggir pantai, menuju sebuah warung kecil langganan mereka. “Kau itu penyelamat hidupku.”

“Itu ‘kan  sudah lama sekali.”

Donghae teringat pertemuan pertama mereka. Ketika itu ia masih sekolah dasar, dan tengah berjalan-jalan di tepi pantai sambil memandangi langit. Tanpa sengaja ia melihat sesosok anak kecil melambai-lambai di tengah laut, nyaris mati tenggelam. Meskipun ia tak begitu pandai berenang, ia memaksakan diri menyelamatkan anak itu. Dan beruntung, keduanya selamat. Meskipun bukan orang kaya, Yunho—anak yang ia selamatkan, yang ternyata adalah kakak kelasnya—beserta orangtuanya, sangat berhutang budi pada Donghae. Sejak itulah Yunho menjadi bagian dari hidupnya. Selalu membantunya dengan berbagai dalih—dan paling sering, dengan alasan ia berhutang nyawa pada Donghae.

Sementara Donghae sendiri merasa hutang budinya pada Yunho sudah tak terhitung lagi.

“Hei, kau mau makan apa?” tegur Yunho, membuyarkan lamunan Donghae.

===============================================================================

“96 atau 69?” Donghae menatap ragu pintu bernomorkan 69 di hadapannya. Pandangannya beralih pada kantung plastik hitam yang dibawanya. Dia harus cepat. Ibunya belum makan sejak tadi siang. Ayahnya pindah kamar hari itu. Ia dipindahkan dari ICU menuju kamar rawat inap biasa, hal yang patut di syukuri karena itu artinya kondisi ayahnya mulai membaik.

“Ibu!” Donghae membuka pintu dan tercengang.

“Kau siapa?” Seorang gadis yang terlihat seumuran dengannya tengah menatapnya heran dari ranjang rumah sakit.

“Aku…”

“Ya! Dorobbong! Sudah kau temukan ibumu?” Yunho mendorong Donghae dengan tak sabar, dan baru disadarinya ia melakukan kesalahan. “Sepertinya kau salah kamar,” kata Yunho.

“Dorobbong..?” Gadis itu menutup mulutnya dan mengalihkan pandangan.

“Namaku bukan… Ya! Kakak sih!”

“Sepertinya kau tak terlihat asing,” ucap Yunho mengacuhkan Donghae.

“Hm? Aku tak merasa pernah mengenalmu,” jawab gadis itu.

“Tapi kau mirip sekali dengan seseorang yang ku kenal,” ngotot Yunho.

“Yunho..?”

Merasa namanya di panggil, Yunho berbalik. “Ah, Heerobbong!”

===============================================================================

“Kamarnya nomor 96,” kata Heerobbong—Kim Heechul, kakak dari gadis yang mereka temui tadi. Pria cantik itu mengucapkan terimakasih sebelum meninggalkan petugas resepsionis.

“Baiklah. Terimakasih, kak, “ Donghae menunduk sebentar sebelum berbalik dan kembali mencari ibunya.

“Ibu! Ibu! Ibu! Ibu!” Donghae terus berteriak, memanggil-manggil Ibunya di sepanjang lorong rumah sakit. Ia tidak peduli akan terkena semprot dari suster galak atau siapa pun yang ternganggu olehnya. Yang penting dia bisa menemukan Ibunya.

Tapi alih-alih suster galak, malah Yunho yang memukulnya terlebih dahulu.

“Tak perlu teriak-teriak, kau cukup cari kamarnya.”

“He-he,” Donghae mengulas senyum terpaksa.

Dilihatnya pintu bertuliskan 96, dan gegas ia memasukinya dengan tak sabar. “Ibu!” Donghae memeluk ibunya dan mencium tangannya, kemudian memeluk ayahnya yang tampak lebih segar dari sebelumnya. “Ayah,” panggilnya pelan.

“Kau bawa apa itu, nak?” tanya ibu Donghae.

“Makanan. Untuk ibu. Ibu pasti belum makan dari tadi, kan?”

Ibu Donghae membelai Donghae dengan penuh rasa sayang. “Terimakasih, ya.”

“Ibu istirahat saja, aku akan menjaga ayah. Ayah sudah sehat, kan?”

“Ya, kalau kondisi ayah membaik, mungkin akan bisa segera pulang,” jawab sang ayah. “Kau berbuat baik, nak?”

“Tentu saja! Tadi sore aku membantu di rumah makan, kemudian bibi pemilik rumah makan itu memberi upah dan kimchi gratis. Jadi aku bawakan untuk ibu.”

Ayah Donghae menatap anak semata wayangnya itu dengan tatapan yang sulit terdefinisi—sedih, bangga, merasa bersalah. Perasaan gagal menjadi ayah yang baik membuat lapisan bening airmata mulai menggenang. “Maafkan Ayah, Hae. Ayah membuatmu kesulitan. Ayah bukan ayah yang baik.”

“Itu tidak benar,” Donghae menggeleng kuat. “Ayah adalah ayah paling baik di dunia. Cepat sembuh, Ayah.” Donghae memeluk tubuh ringkih ayahnya. “Donghae sayang Ayah.”

===============================================================================

Cklek.

“Ayah!”

“Kau salah masuk kamar lagi, Dorobbong,”

“Ah, kak Heerobbong. Maaf,” Donghae memukul-mukul kepalanya sendiri, merasa bodoh karena lagi-lagi salah kamar.

“Namaku Heechul, Kim Heechul,” protes pria itu.

“Aku Donghae, Lee Donghae,” balas Donghae, cepat mengubah ekspresi bodohnya dengan senyuman khasnya yang ramah. “Eh, adik kakak yang kemarin mana?”

Heechul menunjuk ke luar jendela. Donghae melongok ke luar. Gadis yang dilihatnya kemarin tampak tengah bercanda dengan seorang pria imut di halaman rumah sakit, riang sekali.

“Pacarnya, ya, kak?” tanya Donghae polos.

Heechul tertawa.

“Kalau iya kenapa?” goda Heechul.

“Hm.. dia lebih cantik tersenyum.”

Heechul kembali tertawa. Ditelitinya wajah Donghae, terlihat tenang dan polos, seperti biasa. Meskipun kelelahan tergurat jelas melalui peluh yang menetes di lehernya.

“Kakak juga cantik kalau tersenyum,” ujar Donghae tiba-tiba menoleh.

“Hei, kau pikir aku wanita?!”

Donghae langsung kabur sebelum Heechul mengamuk.

“Hei! Dorobbong!”

Donghae menghentikan larinya sejenak dan berbalik menghadap Heechul.

“Salam untuk ayahmu. Semoga cepat sembuh, ya.”

“Sama-sama. Adik kakak juga!”

==============================================================================

“Cause I can’t stop thinking ‘bout you girl…” Donghae bersenandung pelan seraya menyusuri taman rumah sakit. Dia berhenti di depan bangku kayu panjang yang saling membelakangi. Duduk di salah satu bangku.

Dia memejamkan mata. Menghela nafas pelan. Berusaha menikmati hembusan udara sore nan sejuk.

“Suara yang bagus.” Donghae tersentak dan menoleh. Ternyata laki-laki yang duduk membelakanginya.

“Terima kasih.” Kata Donghae seraya tersenyum. Ia ingat pemuda itu, pemuda yang bermain dengan adik Heechul kemarin.

“Aku Kim Junsu.” Pemuda itu—Junsu—mengulurkan tangan, tersenyum tulus.

Donghae menyambut, “Aku Donghae. Lee Donghae.”

Berikutnya, mereka terlibat obrolan seru. Tertawa bersama.

Donghae teringat sesuatu, “Gadis itu, pacar Kakak?” Kemarin dia melihat Junsu memberikan setangkai mawar putih untuk adik Heechul. Bukankah itu romantis?

“Gadis itu? Siapa?” Junsu mengernyit. “Yoo-chan?” Sedetik kemudian, tawa Junsu meledak.

“Kenapa?” Donghae heran benar. Terus apa yang dia lihat kemarin? Dan yang lalu-lalu? Bukankah setiap perlakuan Junsu pada Yoori adalah sebuah kasih sayang seorang kekasih?

Bukannya menjawab, Junsu malah menepuk pundak Donghae dan mendekatkan wajahnya—membuat Donghae sedikit memundurkan badannya. Sedikit jengah. “Kau suka padanya ya?” Selidik Junsu dengan nada dibuat-buat.

“Kakak bercanda?” Tepis Donghae, “Dia kan pacar kakak.”

Junsu tersenyum, kembali ke posisi duduknya, membelakangi Donghae. “Pacar ya?”

===============================================================================

Donghae menyusuri lorong-lorong rumah sakit, seperti hari-hari kemarin, sepulang bekerja sambilan. Aura muram langsung menyambutnya begitu menapaki belokan menuju kamar gadis itu—Yoori, begitu pria bernama Junsu itu kemarin menyebutnya.

Donghae mulai merasakan jantungnya berdegup kencang.

“Kasihan sekali pria itu… Dia masih muda, bersemangat, dan baik sekali.”

“Benar, terkadang dia memberikan lelucon saat aku tugas di dekatnya.”

“Tapi menurutku ini yang terbaik. Dia sudah lama menderita, kan?”

Percakapan suster-suster yang barusan lewat itu membuatnya sedikit merasa lega—pasti bukan Yoori, dia kan bukan pria. Di depan kamar gadis itu, tampak Heechul tengah menatapi adiknya melalui celah tirai jendela kamarnya.

“Kak? Ada yang meninggal, ya?”

Heechul tersentak. “Eh, Dorobbong, sedang apa disini? Bukannya kamar ayahmu di belokan sebelah sana?” Heechul menunjuk arah datangnya Donghae tadi.

Donghae meringis.

“Salah kamar lagi?”

Tepatnya sengaja salah kamar, Donghae menggumam dalam hati.

Heechul menghela nafas panjang, kembali mengalihkan perhatiannya kembali pada adiknya.

“Junsu meninggal…”

Mata Donghae membulat. Junsu? Kim Junsu? Pria itu..?

“Adik kakak baik-baik saja..?”

Heechul tak menjawab, bahkan tak bergeming.

“Kak..?”

“Ya,” jawab Heechul pelan. “Ya… dia baik-baik saja. Dia pasti baik-baik saja.”

Donghae menangkap ketidakyakinan dalam nada bicara Heechul.

===============================================================================

“Salah kamar lagi?” Yoori menatap Donghae dari ranjangnya.

Donghae hanya garuk-garuk kepala. Usai menjenguk ayahnya, ia kembali menuju kamar itu. Entah mengapa dia seperti memiliki dorongan untuk mengenal Yoori lebih dekat, menjadikannya teman. “Em…” Donghae duduk di salah satu kursi dekat ranjang. “Aku lelah, berlari ke sana kemari, biarkan aku  duduk di sini sebentar.”

Yoori hanya mengangkat bahu. Kembali pada kegiatan membacanya.

Diam. Tidak ada yang bicara. Di dalam kepala Donghae, penuh dengan kata-kata yang akan dilontarkan, tapi nyalinya tidak cukup untuk itu. Gadis itu tampak biasa saja—nyaris tanpa emosi malah. Hanya saja matanya terlihat menghitam.

Yoori menutup komik manga-nya, meletakkannya di bawah bantal. Menatap Donghae, “Aku Yoori.”

“Aku D—“

“Lee Donghae kan?” Potong Yoori cepat, “Yurrobong cerita banyak tentangmu.” Dia tersenyum.

Seperti tersihir, Donghae ikut tersenyum. Senyum Yoori mengingatkannya pada seseorang. “Sudah lama di sini?”

“Tidak juga, baru dua bulan.” Yoori menjawab santai pertanyaan Donghae. “Eh, Ayahmu dirawat di sini ya?”

Donghae mengangguk. Matanya menyorotkan kesedihan.

“Aku turut bersedih.” Raut wajah Yoori benar-benar mengingatkan Donghae pada seseorang.

END OF FLASHBACK

===============================================================================

Donghae membuka matanya. Mengerjap. Cahaya matahari menembus ruangan, dan sejenak kemudian, ia baru teringat: bukankah ia harusnya tengah berada di sekolah?

Donghae merasakan nyeri di kepalanya, tapi ia tetap berusaha untuk bangun.

“Kau sudah sadar? Kau pingsan di ruang klubmu, tadi,” sapa pak Jongwoon, yang ia kenali sebagai penjaga ruang kesehatan. Ah, memang masih di sekolah, ternyata. “Hyukkie dan Minhye yang mengantarmu, mereka khawatir sekali. Sudah merasa baikan?”

Donghae tak menjawab, dirasakannya ruangan sekelilingnya berputar. Merasa tak sanggup lagi menegakkan tubuh, dihempaskannya kembali tubuhnya ke tempat tidur. Nafasnya tak beraturan. Sesak…

“Panas sekali..” pak Jongwoon menyentuh kening Donghae, bergumam sendiri.

Donghae kembali menutup matanya. Dan bayang-bayang itu kembali terputar di otaknya—seperti video yang di-resume. Berkelanjutan.

===============================================================================

FLASHBACK : On

“Donghae…”

Donghae terjaga. Jantungnya berdetak cepat. Peluh menguasai seluruh tubuhnya. Dia langsung bangkit, meraih jaket yang bergantung belakang pintu, memakainya cepat.

Tak peduli ini tengah malam atau malah dini hari, Donghae mengayuh sepedanya dengan tenaga gila-gilaan. Perasaannya makin tak enak.

Masuk di pelataran rumah sakit, Donghae langsung meninggalkan begitu saja sepeda tanpa menguncinya. Berlari masuk ke dalam. Panik!

Suara jeritan dan tangis tak rela, menghentikan lari Donghae. Donghae membeku. Tepat di depannya, dua orang perawat laki-laki mendorong sebuah ranjang dengan kain putih panjang yang menutupi tubuh manusia.

“Ayah!” Jerit Donghae, air matanya berhamburan keluar. Sontak ia berlari mengejar ranjang yang didorong para perawat itu. “Bolehkah?” Tanya Donghae setengah terisak.

Perawat-perawat itu mengangguk, menyilahkan Donghae untuk menyingkap sedikit kain putih tersebut.

Tangan Donghae terjulur pelan, gemetar. Pelan dia menyingkap. Lalu menutupnya lagi. Mempersilahkan para perawat melangsungkan kembali pekerjaannya. Donghae menghela nafas lega, menyeka air matanya. Bukan ayahnya. Tapi, kenapa perasaannya masih tidak enak?

Donghae berbalik, tujuannya kamar rawat-inap Ayahnya. Tapi tidak seburu-buru dan sepanik tadi.

“Donghae!” Yunho berlari menghampirinya.

“Ada a-“

“Apa yang kau lakukan di sini?! Ayo cepat! Ikut aku!” Yunho menyambar tangan Donghae, memaksanya mengikuti larinya.

“Yurobbong tolong lepaskan.” Ucap Donghae, mulai risih karena orang-orang melihat mereka berpegangan tangan, berbisik dan terkikik geli. “Kita mau kemana???”

Yunho tidak menjawab, rahangnya mengeras. Langkah mereka baru terhenti setiba di depan sebuah ruangan bertuliskan ICU. Suara tangis ibunya terdengar jelas, menggema di kepala Donghae, memenuhi seluruh ruang dengarnya. Namun ia tak bergerak. Hanya menatap kosong ke dalam ruangan.

Seperti déjà vu, ia kembali melihat dua orang perawat laki-laki mendorong sebuah ranjang dengan kain putih panjang yang menutupi tubuh manusia. Tapi kali ini, ia tak mengejarnya.

“Donghae…”

Donghae masih membeku, pandangannya kosong. Hanya ada isak tangis ibunya yang terus menerus bergaung.

“Donghae.. aku turut berduka…,” Yunho menepuk bahu Donghae pelan, mencoba menguatkan sosok rapuh di depannya. Ya, Donghae terlihat rapuh—begitu rapuh. Pertama kali dalam sejarah hidupnya, Yunho melihat Donghae sedemikian rapuh.

“Kak. Ini mimpi, kan?”

Yunho menatap Donghae. Namun wajah yang dipandanginya itu tersenyum. Ia berusaha membohongi dirinya sendiri, namun airmata itu tetap mengalir. Yunho memeluknya erat. Berharap hal itu akan membuatnya tegar.

===============================================================================

Pemakaman itu mulai sepi. Satu persatu, pelayat mulai pulang. Menyisakan Donghae sendirian. Air matanya turun deras, sederas hujan yang membasahinya. Tadi Ibunya pingsan, terlalu tidak kuat menanggung kesedihan. Dan keluarga Yunho membawa Ibu Donghae pulang. Yunho? Dia mengerti suasana hati Donghae, dia memilih menyingkir.

Lama berdiri di sana di bawah guyuran hujan tak membuat Donghae beranjak. Dia sama sekali tidak mempunyai kekuatan untuk itu. Donghae merasakan, tak satu pun air hujan mengenainya, padahal di sekelilingnya terbasahi oleh hujan. Apa kekuatan supranatural?

“Kau basah.” Sebuah suara menjawab semuanya.

Donghae menoleh pelan. Yoori tersenyum di bawah payungnya, sedangkan tangan yang lain memegang payung untuk melindungi Donghae.

Donghae kembali menarik kepalanya. “Apa yang kau lakukan di sini?”

“Aku turut berduka, Donghae.”

“Terima kasih.” Lirih Donghae.

Hening. Hanya ada lembut angin yang berbisik-bisik di antara dedaunan.

“Aku juga. Turut berduka untukmu,” Donghae akhirnya memecah keheningan.

“Selamat ulang tahun.”

Deg.

Ulang tahun..? Donghae lupa, sungguh-sungguh lupa.

Ulang tahun..?

Dan Tuhan memanggil ayahnya tepat di hari ulang tahunnya..?

Rasa sakit merebak, memancing air mata Donghae kembali menganak sungai di pipinya. Sakit. Semakin di tahan, rasanya semakin sakit.

“Menangis saja kalau memang ingin menangis.”

Donghae sungguh melakukannya—dia terisak. Semakin lama semakin keras, sementara Yoori masih disisinya, memayungi tubuh mereka berdua. Gadis itu berlutut, meletakkan rangkaian bunga mawar putih di atas pusara itu, dan berdoa sejenak. Ketika ia menoleh, Donghae sudah berhenti menangis.

“Seperti inikah rasanya..?” tanya Donghae.

“Apa..?”

“Kehilangan.”

Flashback mode: off

===============================================================================

Donghae kembali terjaga—dirasakannya sentuhan lembut yang menyentuh pipinya.

“Nona,” ia menangkap sosok gadis itu di sampingnya, balas menatapnya dengan ekspresi antara sedih dan khawatir—atau mungkin juga keduanya. “Nona Minhye..”

“Kau.. kenapa… menangis..?”

Donghae cepat-cepat menghapus air mata yang entah sejak kapan telah membasahi pipinya. Dia masih mengenali ruangan itu. UKS. Jam sekolah sepertinya sudah selesai, dilihatnya Eunhuk masuk ruangan itu dengan terburu-buru sambil membawakan tasnya.

“Fishy, kau sudah baikan..?” tanya Eunhyuk.

“Aku tak apa-apa.”

“Tahun lalu kau juga begini, sebenarnya kau kenapa sih?”

“Tahun lalu?”

“Ini hari ulang tahunmu, Hae. Kami ingin membuat kejutan untukmu, tapi kau malah sakit. Dan ini sudah 2 tahun berturut-turut. Kau kenapa?” cecar Eunhyuk lagi. Minhye menyenggol Eunhyuk, melotot.

“Maksud kami, selamat ulang tahun Hae-ah.”

Benar juga. Pantas ia teringat ayahnya. Pantas seharian ini ia seperti mendengar suara ayahnya. Pantas pagi ini ia tak mendapati nenek di rumah. Hari ini…

Hari peringatan kematian ayahnya.

Donghae bangkit dari tempat tidur, meraih tasnya, dan berjalan melalui Eunhyk dan Minhye begitu saja—tanpa sepatah kata pun. Setengah menyeret tasnya, mencoba melangkah secepat yang ia bisa.

“Ya! Lee Donghae!” tukas Eunhyuk. Minhye lebih tanggap. Ia lekas menyusul sahabatnya itu, menghadang tepat di hadapannya, tapi kemudian lagi-lagi Donghae melewatinya begitu saja.

“Hae..” Minhye mencoba mencuri perhatian Donghae, tapi nihil. Berkali-kali dihadang pun Donghae terus saja melewatinya tanpa teralihkan sedikitpun, seakan-akan Minhye tidak ada disana.

Dan entah kenapa hal itu memancing Minhye untuk mulai menangis.

“Lee Donghae!” Eunhyuk—yang tak suka melihat Minhye menangis—mengguncang-guncang tubuh Donghae kuat-kuat, nyaris merontokkannya. Dan berhasil, Donghae mengerjap beberapa saat, menatap kedua sahabatnya itu bergantian dengan wajah bingung.

“Ya..? Kalian kenapa?” tanya Donghae sambil memegang kepalanya sendiri. Sakit di kepalanya membuatnya hampir gila—sakit sekali.

“Kau yang kenapa?” Marah Eunhyuk—dengan wajah khawatir luar biasa.

“Aku tak apa. Baik-baik saja. Hanya. Harus pergi. Ke suatu tempat. Maaf,” Donghae meremas rambutnya. “Nona, kumohon, berhentilah menangis.”

“Hae kau membuat kami takut,” keluh Minhye menggigit bibir. “Kau sakit. Kau harus pulang.”

“Aku harus per—“

“Kami ikut denganmu,” tukas Hyuk.

===============================================================================

Minhye dan Eunhyuk menatap punggung Donghae—yang telah kembali ke mode mayat berjalannya itu—memasuki gerbang pemakaman. Langkahnya yang terseok-seok dan limbung—siapapun yang melihat Donghae saat itu akan mengira dia tengah mabuk. Tapi tidak. Minhye dan Eunhyuk, meski belum pernah ke tempat itu sekalipun, dapat menduga dengan tepat siapa yang hendak dikunjungi Donghae.

“Ayahnya Donghae…” gumam Minhye dan Eunhyuk bersamaan.

Kedua makhluk itu masih bergeming di gerbang pemakaman, membiarkan Donghae terus menyeret tubuhnya tertatih melewati makam demi makam. Mereka baru menyusul saat Donghae berhenti di depan sebuah makam.

“Aku lupa membawakannya bunga..” gumam Donghae.

“Eh, biar aku carikan,” Eunhyuk bergegas pergi. Tapi baru beberapa meter, dia kembali lagi. “Eh, err..bunga apa?”

Donghae menunjuk setangkai mawar putih layu di atas nisan. Minhye tercekat. Bunga favoritnya. Bunga itu.. kesukaan ayah Donghae..?

Hingga beberapa menit kemudian, hening masih saja menyelimuti mereka. Hyuk masih belum kembali. Dan mereka masih terpaku di depan nisan itu.

Pandangan Minhye iseng menyapu setiap sudut makam itu. Bersih, sepertinya baru dibersihkan beberapa hari lalu. Setangkai mawar putih itu juga menjadi bukti bahwa seseorang telah berkunjung. Tanggal kematian, 12 Oktober. 5 tahun lalu. Nama…

“Eh..? Kim…Junsu?” Minhye keceplosan. Buru-buru dia menutup mulutnya.

“Dia seorang…” Donghae berpikir sejenak. “Teman. Teman dari seorang teman.”

“Oh,” Minhye menghela nafas lega—bukan ayahnya Donghae ternyata. Tentu saja. Donghae kan bermarga ‘Lee’.

“Mawar putih itu untuknya..?”

“Ya. Aku tak pernah tahu apa bunga kesukaan ayahku.”

Minhye mengatupkan mulutnya lagi. Diperhatikannya sosok di sampingnya. tampak tenang, tak seperti beberapa saat lalu. Hal itu membuat Minhye kembali bernapas lega. Dia takut salah bicara dan membuat pria di sampingnya itu tersinggung atau terluka—saat-saat seperti ini biasanya membuat orang menjadi sensitive, bukan?

“Kau mengingatkanku padanya.”

“Pada..nya?” Minhye tak tahu harus bilang apa.

“Ah, bukan. Dia yang mengingatkanku padamu. Gadis itu selalu saja mengingatkanku padamu.”

Canggung, Minhye merasa canggung sekali. Dia tak tahu siapa yang tengah dibicarakan Donghae, dan dia tak tahu harus mengatakan apa. Jadi ia hanya bisa ber-oh. Beruntung Eunhuk tiba tepat waktu, membawakan sebuket bunga mawar putih.

Donghae meletakkan mawar itu di sana, berdoa sejenak, dan berbalik.

Minhye dan Eunhyuk mengira Donghae sudah akan pulang, tapi tidak. Dia beralih ke sebuah makam yang lain—dan kali ini Minhye langsung membaca namanya. Marga Lee. Yang ini benar-benar ayah Donghae. Tanggal kematian…

15 Oktober.

Hari ulang tahun Donghae.

“The loneliness of nights alone,
the search for strength to carry on..
my every hopes are seemed to dry,
my eyes had no more tears to cry…”

Donghae mulai bernyanyi. Memutar kembali memorinya ke hari itu—5 tahun lalu.

===============================================================================

FLASHBACK

“… Then like the sun shining from up above,
you surrounded me with your endless love.
And all things I couldn’t see are now so clear to me..” gadis itu bernyanyi—lagu yang sama dengan yang dinyanyikan Junsu beberapa hari lalu, di hari terakhirnya. Saat pertama dan terakhir kali Donghae bertemu dan bercakap-cakap dengan pria itu.

Donghae tahu lagu itu. Waktu itu pun ia ikut menyanyikannya dengan Junsu.

“You are my everything..

Nothing your love won’t bring.

My life is yours alone,

the only love I’ve ever known..

Your spirit pulls me through

when nothing else will do..

Every night I pray,

on bended knee,

that you will always be

My everything..”

Sejenak keduanya terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Hingga akhirnya Donghae memecah keheningan di antara mereka.

“Kau tidak menjawab pertanyaanku, Yoo-chan.”

Yoori terhenyak. Donghae barusan memanggilnya dengan nama panggilan yang diberikan Junsu untuknya karena kecintaannya pada komik-komik jepang. Hanya Junsu yang memanggilnya seperti itu.

Dan ketika Donghae menyebut nama itu, air mata Yoori mendadak menggenangi pelupuk matanya.

Ia merindukan Junsu. Sangat.

“Yoo..?”

“Pertanyaan apa?” Yoori balas bertanya.

“Rasanya.. kehilangan.”

Yoori menghela nafas panjang. “Kau dan aku punya banyak kesamaan, kurasa. Kita sama-sama tahu, cepat atau lambat orang yang paling kita sayangi akan pergi. Kita sama-sama berusaha mempersiapkan diri, tapi akhirnya kita tetap saja terluka. Dan lagi…” jeda sejenak. “…Kim Junsu sialan itu juga pergi di hari ulang tahunku.”

Tes. Butir bening airmata itu jatuh juga akhirnya.

“Bedanya, aku tahu rasanya jadi mereka. Berjuang setiap hari untuk tetap hidup. Untuk menjaga orang-orang yang kami sayangi agar tidak bersedih. Bukan kematian yang kami takutkan, tapi… bagaimana kehidupan orang-orang yang kami tinggalkan.”

Deg.

“Kami bertaruh setiap hari untuk kehidupan kami, dan itu sungguh melelahkan. Tapi Jun-chan bilang, meskipun sudah tak ada di dunia ini, ia akan selalu ada. Dalam kenangan orang-orang yang menyayanginya.”

Hening lagi, Donghae tak sanggup berkata-kata.

Apakah ayahnya juga merasakan hal itu..?

END OF FLASHBACK

===============================================================================

“Ayah, aku datang. Maaf aku hampir melupakan hari ini. Aku selalu melupakan hari ulang tahunku sendiri, ayah ingat? Ayah dan ibulah yang selalu mengingatkanku,” Donghae bicara sendiri.

“Ayah, aku baik-baik saja. Aku tahu ayah selalu menjagaku dari sana, karena itu aku akan selalu baik-baik saja. Bagaimana dengan ayah? Apa ayah juga baik-baik saja disana?”

“Sebenarnya aku ingin datang dengan nenek, tapi nenek tidak ada. Mungkin ia pergi ke tempat ibu. Aku harap nenek baik-baik saja. Nenek tidak mengajakku, bahkan tidak membangunkanku pagi ini. Tahun lalu juga begitu. Nenek mungkin khawatir kalau aku akan bersedih, tapi ayah tidak ingin aku sedih, kan? Karena itu, aku tak akan bersedih.”

“Hari ini aku ditemani Minhye dan Eunhyuk. Ayah ingat mereka, kan? Sahabat kecilku dulu. Eunhyuk yang cengeng dan Minhye yang tomboy. Tapi mereka sudah tidak cengeng dan tidak tomboy lagi. Ayah, lindungi mereka juga, ya.”

Minhye dan Eunhyuk berjengit saat nama mereka disebut, tapi tak berani berkomentar.

“Ayah,” Suara Donghae bergetar, baik Minhye dan Eunhyuk langsung menunduk dalam, “Ayah,” Pertahanan Donghae runtuh, dia mulai menangis.

Seseorang memegang bahunya, menepuk-nepuknya pelan. Donghae menoleh, itu Eunhyuk. Wajah Minhye sembab, dia hanya menatapi Donghae yang berpelukan dengan Eunhyuk tanpa melakukan apa-apa.

Donghae merasa semua mengabur.

===============================================================================

Mata Donghae terpaku pada bocah laki-laki berwajah imut. Mengayuh sepeda kecil ke arahnya. Di belakangnya, seorang pria berbadan tegap mengawasinya dengan wajah penuh senyum. Hati Donghae campur-aduk, perutnya serasa bergolak.

“Ayah, lihat! Donghae bisa. Donghae bisa!!” Bocah laki-laki itu berseru senang saat sepedanya semakin menjauhi pria itu. Kanak-kanak semakin memperkuat tenaga kayuhannya.

Sepedanya meluncur kencang sekali, melewati Donghae. Kanak-kanak itu berteriak takut dan menangis kencang. Sedangkan Ayahnya dengan kepanikan luar biasa, berlari kencang mengejar anaknya.

PRAK.

Bocah itu tersedu-sedu dalam dekapan Ayahnya. Selamat.

“Donghae tidak apa-apa?” Pria itu melonggarkan dekapannya, melihat wajah anaknya.

Bukannya menjawab, anak itu malah semakin menangis kencang. Lihat, kaki Ayahnya terluka gara-gara dia.

Tes.

Bulir-bulir bening itu lolos. Menodai pipi Donghae.

Bibirnya bergerak, mengatakan sesuatu.

“Ayah,”

Pria itu menoleh, matanya bertemu mata Donghae.

Donghae terkesiap.

===============================================================================

Mata Donghae perlahan terbuka. Pemandangan pertama yang dia lihat; langit-langit kamarnya yang putih.

Kamar?

Donghae menelengkan kepalanya. Membelalakkan mata. Merah padam. Lihat, wajah Minhye 30cm dari wajahnya. Terlihat damai.

Tangan Donghae yang bebas terangkat—soalnya yang sebelah digenggam erat Minhye. Hendak menyelipkan anak rambut Minhye yang bandel ke belakang telinga. Urung, mata Minhye perlahan terbuka.

“Donghae!” Berseru senang. Bangkit dari duduknya, namun tertahan. Donghae menahan tangannya.

Minhye meski tidak mengerti menurut. Mengurungkan niat memanggil Eunhyuk yang berada di ruang tengah.

Senyap. Hanya suara angin mendesah syahdu masuk dari jendela.

Sungguh, jantung Donghae rasanya hendak copot. Beraninya ia mengenggam tangan Minhye.

“Nona, terima kasih. Sungguh—“

Tulus—

“Tidak padaku?” Di pintu, Eunhyuk bersedekap sebal. “Ya! Apa yang kau lakukan?!” Mata Eunhyuk menatap tajam genggaman Donghae. Berlari masuk. Melepas paksa genggaman Donghae.

“Minhye,” Eunhyuk gantian mengenggam tangan Minhye, “Kau suka padaku kan, bukan padanya?”

PLETAK

Pecahlah perang. Minhye memukul Eunhyuk bertubi-tubi. Eunhyuk masih sempat-sempatnya narsis di saat begini. Menyisakan Donghae yang tertawa dari atas ranjang.

Donghae tahu. Tahu benar—

Dari dulu ia tak pernah sendirian.

*FIN*

Endless Moment next chap

insya allah minggu depan :]

 

Advertisements

16 responses to “EVERLASTING: Memories (Special Hae b.day—Endless Moment side story)

  1. annyeong,, author hota imnida
    *bow*
    gamsahamnida utk atensinya atas ff kami, Endless Moment, baik yang series maupun side story.x ^^d
    jeongmal gomawoyo jga trhatur bwt cover maker.x, baik yang udah lalu2 mpe yang terbaru…

    karena EM series jga masih on project,
    n author.x, terutama yg ngepost *tunjuk2 jeung(?) minhye aka fiie* sibuk bgt dihantui ama tugas2 n ulangan ato kuis *nah ini saia bgt ==”*,
    maka harap maklum kalau post.x sering telat,
    tapi semoga nggak mengecewakan.

    buat para EMshipper *jiaaah nama.x alay :p *
    jgn bosan2 komen ya, karena komen kalian ibarat bahan bakar pengisi energi dan inspirasi bagi kami 🙂

    Intinya, silakan promosikan ff kami ini, n jgn lupa komen,,
    bukannya gila komen c, tapi kami kan g minta byran, cma komen doang 😀

    yg komen, di doain ketemu biasnya deh :p

    once more, gamsahamnida…
    *deep bow*

    sign,
    hotaru yuhime

  2. aaaaaa….nangis baca ni FF
    bayangin penderitaanya Hae oppa
    saat dy harus kehilangan ayahnya
    oppa…jangan pernah nangis
    krna kau gk akan pernah sendiri
    dan lagu itu lagu yg paling aQ suka
    My Everything T___T

  3. AAAAAAA~~ sukses buat aku nangis banget T^T
    donghae tidak sendirian. dia msh punya orang2 yang sayang sama dia *tiba2 bijak*
    FF nya bagus banget! 2 thumbs up for author!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s