Naughty Married (magicalova) part 3 -END-

Naughty Married
Title: Nughty Married ( Magicalova )
Author: LucifeRain / aya
Genre: romantic – comedy / comfort / fantasi
Lengh: oneshoot *maybe
Ratting: PG – 15
Main Cast:
Choi Minrin
Lee Taesun
Kim Kibum
Support Cast:
Lee Jinki
Choi Minho
Victoria
Kim Taeyon

Mianhaeyo aku ngepost nya lama. Ngumpulin mood itu susah banget -___- atau akunya yang kelewat males buat ngelanjutin ff ini….????
Semoga suka ya ^^

kalo aku ngepostnya lama, biasanya cerita aku buat panjang

 


~*~

MINRIN P.O.V

“tapi melihat tatapan Taesun tadi, aku yakin dia menyukaimu. Kau tahu, Taesun hyung belum pernah membawa seorang gadis kerumah”
“M-W-O??????”
Ehmm… ehmm…
Aku terperanjat sangkin kagetnya karena Taesun tiba tiba sudah berdiri di ambang pintu. saat tatapan kami bertemu aku langsung mengalihkan pandangan ke arah lain, Terasa sangat kaku ketika menatap matanya.
“taeminnie, kau mengatakan yang aneh aneh tentangku huh?” Taesun mendelik ke arah Taemin dengan tatapan curiga.
“ani… aniyo… hyung hehehe” ujar Taemin sambil melayangkan cengiran aneh, kemudian ia menatapku sambil tersenyum.
Satu hal lagi yang baru ku sadari, senyum Taesun dan Taemin serupa. Pipi mereka sama sama terangkat ketika tersenyum, membuat kelopak mata bawah tertekan ke atas. Eyesmile yang sangat indah.
“Minrin Noona aku harus les sekarang, annyeong” pamit Taemin, kemudian ia berlalu setelah menjulurkan lidah ke arah Taesun. Hampir saja ia terkena lemparan sendal darti Taesun. Aigoo… sepertinya mereka berdua tidak pernah akur.
“kajja Rin-ah”
“Rin-ah?” aku menyernyit heran. Taesun memanggilku Rin-ah? Dapat dari peramal mana dia potongan nama itu? peramal cuacakah? Peramal zodiac? Atau peramal tolak miskin? -____-
“nde, mulai sekarang aku akan memanggilmu Rin-ah. Habisnya aku bingung mau memanggilmu apa” tutur Taesun, sepertinya ia sedikit canggung karena ketika mengatakan itu pandanganya mengarah keluar, bukan menatapku.
aku berdiri dari kursi teras lalu menepuk kecil lengan Taesun “baiklah, aku akan memanggilmu Taesun Oppa”
“eh??”

~*~

Festival Seni, itulah tempat yang kami datangi sekarang. Jalan lurus yang terletak di pinggir sungai telah di blocking menjadi lokasi diadakanya festival. Stand stand seni seperti lukisan, ukiran maupun kerajinan tangan lainya semakin membuat festival ini meriah.
Di tambah lagi mainan anak anak jaman dulu yang sekarang sulit di temui, disini telah terpajang rapi untuk di jual. Terlihat sangat ramai dan penuh warna, membuatku antusias mengunungi setiap Stand yang menarik perhatianku.
“Rin-ah!” Taesun menarik lenganku ketika aku hendak melesat ke stand yang lain “kau ini seperti kodok melompat ke sana kemari” gerutunya. Dapat ku lihat Taesun sudah sangat gondok (?).
untung saja sekarang autumn, walaupun cuaca cerah, namun udara terasa dingin. Kalau tidak, pasti baju Taesun sudah basah terkena keringat karena sejak tadi ia bulak balik mengikutiku yang terbang ke sana kemari.

“Taesun Oppa, ayo kita kesana” ajak ku sambil berjingkrak jingkrang. Sejak tadi taesun menggeleng gelengkan kepala melihat kelakuanku, aku yakin sebentar lagi kepalanya pasti putus. Errr….
“Aigoo… Rin-ah! Tingkahmu tak ada bedanya dengan Taemin” umpatnya sambil berkacak pinggang.
“dan kau? Omelanmu Tak ada bedanya dengan nenek nenek tukang gosip di depan rumahku “ aku menjulurkan lidah ke arahnya lalu berbalik dan melangkah pergi ke stand yang lebih menarik.

Pandanganku terhenti ketika menatap sebuah stand yang menjual berbagai macam baju. Yang menarik perhatianku adalah gambar depan baju baju itu dilukis tangan dengan cat khusus, gambarnya abstrak, seperti percikan dari cat air. Perpaduan warnanya terkesan alami.
“Taesun Oppa aku ingin ini” teriak ku pada Taesun karena jarak kami tidak begitu dekat. Aku pun berjalan mendekati stand.
“annyeong haseyo, silahkan dipilih” tutur seorang wanita dengan ramah, sepertinya ia penjual disini.
Tiba tiba Taesun menghampiriku, dilihat dari gelagatnya sepertinya ia tertarik juga. Kami pun memilih berbagaimacam baju tapi dengan catatan Taesun memilihkan untukku dan aku memilihkan untuknya. 15 menit berlalu, kami sudah berhadapan membawa beberapa tumpuk baju.
“jeng…. Jeng… jeng… bagus kan” ucap Taesun sambil memamerkan baju pilihanya. Lagi lagi aku ternganga, kenapa selera orang yang satu ini begitu buruk? Ia mengambil beberapa baju yang gambarnya aneh, ada yang seperti guci terbalik, tapal kuda dan OMMO? Apa itu gambarnya seperti kaus kaki bolong.
“YA! Oppa, selera mu payah!” cibirku
“wae? Lihat yang warna hijau ini! Ini kan warna kodok! Ini lucu sekali” ucapnya antusias, sekarang siapa yang terlihat seperti anak kecil heh?
“MWO? Kodok?” aku merampas kasar baju baju pilihan Taesun yang ia selempangkan di pundak “lalu kau mau bilang kalau yang warna coklat adalah warna Sapi dan kuning adalah warna ayam?”
“ani, kau salah! Yang kuning warna anak ayam, abu abu warna burung onta dan dan coklat adalah warna sapi. Ku sarankan kau beli yang warna kodok saja hahaha” Taesun tertawa lebar, sedangkan aku merengut kesal. Dasar calon dokter sesat!
“dan ini untuk mu Oppa!” aku melemparkan sebuah baju ke arahnya “warna Pink, ini warna Babi!” kali ini giliran aku yang tergelak
Sadar bahwa stand itu sangat berantakan karena ulah kami, aku pun menatap Taesun penuh arti. Hana… dul… set…. Syuuutttttttttttt….. Kami melesat pergi tanpa meninggalkan jejak secuil pun.

Hoshhh… hoshhh… hoshhh…
Pasca melarikan diri, nafas kami menjadi tak beraturan. Aku membungkuk, menumpukan telapak tangan dilutut sambil mengatur nafas. Melarikan diri itu melelahkan.
Mataku terpejam, mencoba menenangkan nafas yang tak beraturan. Tiba tiba ku rasakan sesuatu menepuk pundakku beberapa kali, membuatku mendongak lalu menegakkan punggung.
“wae Oppa?”
Taesun tersenyum penuh maksud, sepertinya hal yang tidak enak akan terjadi. Ia  menggenggam tanganku, dengan senyum yang masih mengembang ia menariku memasuki sebuah Stand tertutup yang tendanya berwarna hitam.
Sebelum Taesun menyibakkan pintu tenda dan menyeretku ke dalam Stand horor itu, sempat kubaca papan kayu yang terpajang di atas tenda. Bertuliskan ‘ Magic & Oracle ‘ itu artinya tempat ini…..
“Aigoo…. Kenapa ada Stand ramalan yang nyasar di Festival seni” aku mendecak kesal.
Ku edarkan pandanganku ke sekeliling, disana banyak tertempel simbol simbol gaib dan benda benda keramat. Tapi kalau di perhatikan dengan seksama, benda keramat itu sepertinya Tulang.
Ya, benar. Yang terpajang seperti gorden itu adalah untaian tulang, lalu hiasan dimeja itu berbentuk tulang. Dan apa itu? pentungan baseball yang terbuat dari tulang. OMMO! Daebakida! Pasti Minho Oppa menyukai ini.
Tapi, tunggu! Kenapa perabotan disini tulang semua? YA! SEBENARNYA INI STAND RAMALAN ATAU TEMPAT PENJUAL TULANG????
Aku menatap garang ke arah Taesun “ Oppa kenapa kau membawaku kesini?” tanyaku kesal, ingin rasanya ku catuk kepala namja itu dengan pentungan tulang. Tapi gagal karena sang peramal sudah duduk secara horor di depan kami. Dari mana asalnya dia? Jelmaan tulang kah?

“siapa yang mau diramal disini?” peramal itu berbicara seperti mendesis, membuat bulu jangatku meremang karena selain penampilanya, suaranya juga terkesan horor.
“dia saja, kemarin aku sudah diramal” Taesun menunjukku dan langsung ku hadiahkan pelototan maut. Heran, kenapa ada namja yang benar benar maniac ramalan.
“baiklah, silahkan pilih satu di antara tulang tulang ini” sebelum aku membantah, peramal itu menyodorkan piring kaca yang berisi berbagai bentuk tulang. Aku menyernyit, haruskah aku kabur atau….
Eh, sepertinya ada yang menarik disini. Dari sekian tumpukan tulang itu mataku tertuju pada sebuah tulang yang berbentuk blat pipih dan berwarna merah. Tulang itu berbeda dengan yang lain dan terlihat mencolok. Aku menunjuknya, tak berani mengambil karena bisa saja kan itu bom tulang o.0

Peramal itu meletakkan sebuah bola kristal dengan garis cahaya biru, di atas mejanya. Alisku mengkerut ketika menyaksikan ia membuka atas bola kristal itu dan memasukkan tulang aneh tadi ke dalam bola kristal.
Tiba tiba cahaya biru itu memudar, aura merah menyeruak dari tulang tadi. Aura merah melayang ke mana mana namun terpantul pada akhirnya karena ruang yang mereka tempati adalah kristal bundar.
Aura merah itu semakin tebal menyelubungi tulang, hingga pada suatu titik ruang itu benar benar sesak dipenuhi aura merah dan….
BUMMMMM….
Sinar menyilaukan muncul dari bola kristal, membuatku menutup mata karena serangan cahayanya yang dahsyat. Ketika aku membuka mata, mataku terbelalak lebar mendapati tulang tadi telah musnah dan aura merah itu lenyap tergantikan cahaya biru seperti semula.
Mingkinkah ini semacam sulap atau tipuan? Aku harap begitu…. Tapi….

“DAHSYAT!!! Kau tahu, selama bertahun tahun aku jadi peramal baru kau yang berani memilih tulang tadi dan kau tahu apa? Aura merah adalah pembawa bencana, takdirmu buruk. Besok atau lusa kau akan mengalami kejadian yang membuat jiwamu melayang. Aku tidak pernah bermain main dengan ucapanku, Nona”
Nafasku tercekat mendengar penjelasan peramal itu, nadanya yang tajam, mimiknya yang serius dan tatapan yang seakan mengutuk itu membuatku terpojok dan memaksaku untuk yakin dengan ucapan terkutuknya. Tidak, dia bukan Tuhan..
BRAKKK….
Aku membanting meja lalu berdiri sambil menatapnya dengan tatapan yang aku pun tidak tahu. Antara tidak percaya, kesal dan takut. Sebelum pergi dari stand itu aku menatap Taesun dengan tajam dan… kecewa.

“AKU TIDAK PERNAH MAIN MAIN DENGAN UCAPANMU HAAA HAAA HAAA”
Ucapan terakhir dan tawa peramal itu seakan memenuhi indra pendengaranku, terkuak di dalam sana lalu menggema di setiap rongga telinga. Aku berlari kencang tak peduli dengan umpatan umpatan tajam oleh orang yang tertabrak liar olehku.
Aku masih berlari, sambil menutup telingga. Layaknya orang frustasi aku menggeleng histeris, menghapus gema ucapan terakhir peramal sinting tadi. Tapi, kenapa kata katanya seperti mengutukku, dan ada apa denganku? Kenapa aku bisa terpengaruh? Kata kata itu terasa sangat nyata.

Aku menghentikan langkahku, ku tumpukan telapak tangan ke lutut dengan agak sedikit membungkuk. Aku seperti tak mempunyai nafas sekarang, sangat sesak dan apa ini?
Aku mendongak, menatap butiran air yang turun dari langit dengan kecepatan liar. Hujan…. kenapa aku bisa tak menyadari ini? Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling, dan berlari ke arah halte ketika mendapatinya.
Bajuku sangat basah dan hawa dingin semakin terasa menusuk di permukaan kulit. Tanpa sadar aku menggigil, ku pejamkan mata kuat kuat sembari berfikir.
“Rin-ah”
Suara itu?… aku membuka mataku. Ku tatap Taesun yang berdiri tepat di hadapanku, ia tertunduk. Keadaanya sama sepertiku, basah. Setelahnya kami tidak berbicara sepatah katapun, ia memilih duduk di sampingku dalam diam.
Angin semakin mengganas, membuat butiran air itu terbawa dan sesekali membasahi baju kami. Aku yang sedang kesal dan tidak mau terganggu dengan hal seperti ini, memutuskan untuk berdiri.
Tepat, sebuah box telephon umum berdinding kaca dengan besi berwana merah di pingiran sisinya berdiri di samping halte.
“sebaiknya kita berteduh disana” tawarku datar lalu berlari kecil kesana.

~*~

Aku meringkuk di sudut box telephone sambil memeluk kedua lututku yang ditekuk, aku tidak tahu seberapa biru bibirku karena udara terasa sangat dingin dan bajuku yang basah seakan membuatku berada dalam selubung es.
“Mianhae Rin-ah”
Suara itu menyusup di telingaku, membuatku mendongak menatap Taesun yang berdiri di depan pintu box telephone. Sinar matanya sarat akan penyesalan
Aku berdiri lalu menatapnya, tatapan kami bertemu lurus. Dapat ku perhatikan dari sudut mataku, titik titik air yang tertinggal di rambutnya yang basah membuatnya terlihat sangat keren.
“ini semua karena aku yang terobsesi dengan ramalan”
Kali ini mataku lari dari mata hitam pekatnya yang menatapku dengan perasaan menyesal. Semakin aku menatap Mata hitam pekat itu, semakin aku menyadari ada kilat hangat tersembunyi yang menyambar mataku. Membuatku terasa panas jika terlalu lama menikmati kilatan itu.
“lupakan kata peramal itu, aku tidak mau mempercayainya. atau lebih tepatnya, ini pertama kalinya aku tidak percaya dengan ramalan”
Semakin kesini aku semakin memperhatikanya, mataku tak henti menelusuri lekuk wajahnya yang tampan, ah tidak… sangat tampan. Ia sangat sempurna, tubuh tinggi tegap, senyum menawan, lekuk wajah yang mempesona dan mata hitam pekat yang bisa menjeratku dalam dunia tahlukanya. Seperti sekarang.
“aku takut Rin-ah, aku takut itu terjadi. Aku takut kau meninggalkanku, bahkan kenyataan bahwa tugasmu menjadi asistenku telah berakhir, benar benar membuatku takut karena kemungkinan besar aku tidak akan bertemu denganmu lagi”

Kata kata Taesun tadi sekan melenyapkan kabut kecemasan yang menyelubungi pikiranku. Tatapan kami kembali bertemu, kali ini aku menatapnya semakin dalam. Mungkin taesun benar, kami akan jarang bertemu di kemudian hari. Biarkan aku menatap raga sempurna di hadapanku ini meski hanya sekejap.

“aku ingin kau tidak mempercayai peramal itu, dengan segala hal yang dikatakanya. Tapi aku ingin kau percaya padaku ketika aku mengatakan bahwa aku mencintaimu”
Jantung ku serasa berhenti berdegub, untuk sesaat aku benar benar lupa cara bernafas. Tatapannya sangat dalam, seakan mewakili apa yang mengisi ruang dihatinya, terlebih ketika ia mengucapkan kata itu. seperti hanya itu yang bisa di katakanya saat ini, pelan dan sangat lembut tapi mampu meluluh lantakkan benteng pertahananku.
“aku mencintaimu Rin-ah, sangat…. Dari awal aku tahu kau gadis yang berbeda, ketika aku melihatmu terpejam dalam box telephone ini, aku nekat untuk turun dari halte padahal rumahku masih sangat jauh. Ini semua demi menghampirimu, terdengar bodoh memang. Tapi kau membuatku tertarik”
Taesun menarik nafas panjang, desahanya membuat nafasku tercekat. Pikiranku kosong, hanya terfokus padanya, kilat hangatnya membuatku tercandu. Ujung dari getaran asing di hati ini adalah kesadaran bahwa aku juga merasakan hal yang sama denganya.
“aku ingin memilikimu, maukah kau mengabulkan harapan itu?”
Degub jantungku semakin memburu, terlebih ketika Ia mentapku semakin dalam, membuatku semakin terlarut tanpa menyadari wajahnya semakin dekat dengan wajahku. Sedetik kemudian bibir kami menyatu, mataku terpejam mencoba menhayati setiap kehangatan yang mengalir.
Semilir angin bertiup dingin namun anehnya aku merasa kehangatan yang menyelubungiku, ini semua terasa syahdu dalam partitur hati yang mulanya rumit. Hingga pada suatu baris, partitur itu seakan terkoyak pisau kepahitan dari dunia nyata yang harus ku telan.
aku melepaskan kontak bibir di atanra kami dengan sekali hentak, membuatnya mengerutkan alis sambil mentap heran.
Entahlan, aku perlu memantapkan hati untuk mengambil sebuah keputusan. Aku tidak tahu kenapa hatiku berubah haluan dan memilih menapaku jalur keraguan….
Ramalan itu masih mengusik pikiranku

__ FLASHBACK 6 YEARS AGO END__

Tatapanku menerewang lurus mengarah ke luar jendela, sejak tadi aku hanya melamun di sudut perpustakaan. Sibuk menggali file file masalalu yang sudah terkubur dalam.
Aku mendesah mengingat semuanya, pada akhirnya harapan Taesun hanyalah sebuah harapan semu. Harus kuakui ramalan itu benar, keesokan harinya aku mengalami kecelakaan pesawat jet.
Yang aku pikirkan sekarang adalah, bagaimana keadaan Taesun? Apakah dia tahu aku kecelakaan dan apakah dia tahu aku masih hidup? Aku menghela nafas panjang, pada akhirnya aku tidak bisa menemukan jawaban dari pertanyaan itu.

~*~

Author P.O.V

Minrin melangkah menyusuri tepi jalan kota Seoul, suasana musim semi membuatnya semakin semangat menapaki langkah demi langkah. ia mendongak menatap langit, semburat oranya muncul malu malu disana. pusat tata surya itu semakin dekat dengan singgasananya.
Minrin mengedarkan pandang ke sekeliling, terlihat sebuah halte yang dibelakangnya terdapat taman bermain anak anak, di samping taman itu berdiri kokoh bangunan rumah sakit. ia menyatukan alis, tempat ini serasa sangat familiar baginya.
Bukankah ini halte waktu itu? halte yang menjadi saksi bisu pertemuan Minrin dengan dia? Gadis itu memperhatikan dengan saksama, dan ternyata benar. hanya saja deretan background yang dahulu menjadi latar halte itu kini berganti menjadi taman bermain anak anak.

Sebenarnya Minrin ingin sekali duduk di halte tadi, tapi melihat orang yang cukup ramai, ia mengurungkan niatnya dan memilih duduk di bangku panjang yang terletak di bawah pohon taman bermain.
Sambil bersenandung kecil Minrin menikmati keceriaan anak anak yang bermain di taman itu, jadi inggat masa kecilnya saja.
“jadi ingin punya anak saja” gumanya tanpa sadar, sejurus kemudian ia menggeleng. Yang benar saja? Ia tak bisa membayangkan dirinya akan di “macam macami” dengan namja setan seperti Key.
“sudah dua hari ia dingin padaku” gumanya lagi entah kepada siapa. Minrin memjamkan matanya lalu mendesah berat mengingat sikap Key yang kelewat dingin tanpa sebab.

Ketika Minrin membuka matanya, ia benar benar kaget melihat tak seorangpun anak yang berada disana. Terlebih lagi semburat cahaya langit yang tersisa sangat tipis. Sudah terlalu petang, berapa lama ia terpejam?
Minrin menoleh ke samping, ia hampir terlonjak ketika mendapati seorang anak perempuan –berumur sekitar 5 tahun- menatapnya dengan heran. Sepertinya tingkah anehnya tertangkap anak ini ._.
“annyeong haseyo” sapa Minrin sekenanya
“annyeong haseyo” anak perempuan itu tersenyum, terlihat amat mungil apalagi rambutnya yang di kucir dua membuatnya terlihat lucu. Ketika ia tersenyum lesung pipi menghiasi senyumnya, lekukan senyum itu terasa familiar.
“kau sedang apa?” tanya Minrin
“menunggu Appa dan Eomma, aku mau melihat kembang api dengan mereka” ujar anak itu dengan penuh semangat khas anak anak
“Appa da Eomma mu dimana?”
“disana” anak itu menunjuk rumah sakit di samping taman “mereka menolong orang sakit, hebat bukan? Mereka sibuk, mangkanya menyuruhku main sebentar ke sini” kemudian anak itu memanyunkan bibirnya, benar benar menggemaskan “tapi mereka lama sekali” gerutunya
Minrin mangut mangut mendengar penjelasan anak perempuan kecil itu. anak itu lucu, pandai bicara pula.
“namaku Choi Minrin, namamu siapa?” Minrin menjulurkan tanganya sembari tersenyum ramah. Anak itu terpekur sejenak lalu membalas uluran tangan Minrin, dengan mata bulatnya ia menatap Minrin kemudian membalas senyumnya.
“namaku….”
“Rin-ah”
Degh…. Degh…. Degh….
Panggilan itu…
Terasa sangat akrab di telinganya. Nama itu…. nama yang di peruntukan untuknya hanya dalam jangka waktu sehari, karena di hari selanjutnya tak ada seorangpun yang memanggilnya dengan nama kecil itu.
Lembaran masa lalu berkecamuk dalam benaknya, tubuhnya seakan membeku ditempat. Ia tahu betul orang yang memberikan panggilan itu dan tanpa melihatpun ia hafal suara itu adalah suara….
“Taesun-ssi” gumanya, nyaris tak terdengar.
Setelah Taesun menoleh ke belakang, matanya terbelalak lebar mendapati seseorang dari masa lalun kini berdiri di hadapanya. Orang itu sama kagetnya dengan Minrin, tubuh mereka seakan terpaku.
Dalam dentingan kekakuan yang terdengar hanyalah simfoni nada gesekan daun yang tertiup angin di atas pohon.

~*~

Kini dua orang itu duduk di halte mereka dulu, bedanya ada malaikat kecil yang terlelap di pengkuan ayahnya.. Ini semua seperti mimpi baginya, entah menuju ke arah bain atau sebaliknya ia tidak tahu
“namanya Lee Taerin, dia anakku”
Minrin mencelos mendengar ucapan Taesun. Ternyata garis mereka sudah sangat melenceng, garis takdir yang semula satu itu kini bercabang dan berubah haluan menuju arah berlawanan.
“dia anak yang lucu” saat ini Minrin hanya bisa berdoa agar Taesun tak mendengar getaran pilu dalam suaranya
“setahun kepergianmu aku dijodohkan dengan seseorang, dia baik sepertimu. Dia tidak pernah cemburu ketika aku membicarakanmu”
“kau membicarakanku?” Minrin menyernyit, tapi masih enggan menatap Taesun.
“ya, setelah hari itu aku selalu menunggu mu di box telephone. Selalu berdebar karena menunggu jawabamu. Tapi harapan itu sirna ketika aku tahu kau kecelakaan”
Setetes air jatuh dari sudut mata Minrin, namun ia buru buru menyekanya tak mau Taesun menyadarinya. Andai saja saat itu ia tidak melupakan janji untuk mengunjungi Lee Ahjussi di London, dia pasti tak akan membiarkan Taesun menunggu jawaban. Dia pasti akan memantapkan hatinya.
“jeongmal Mianhaeyo” desis Minrin
“kau tidak bersalah” Taesun mendesah pelan, ia lalu membenarkan posisi duduknya yang menyender. Tanpa ia sadari itu mengganggu tidur malaikat kecilnya
“Appa, aku mengantuk” rengek anak itu manja, kemudian kembali memejamlan matanya
“ne, Mianhae Rin-ah” Taesun tersenyum sambil mengelus puncak kepala anak itu. senyum yang lama tak Minrin lihat, dalam hati ia sangat merindukanya.
“kau memanggilnya Rin-ah?” Minrin sadar akan sesuatu, mungkin yang dipanggil taesun ‘rin-ah’ tadi bukan dirinya tetapi Lee Taerin, anaknya.
“ne” Taesun terseyum, lekuk wajah yang masih sempurna seperti dulu. Eyesmile di matanya masih tampak mempesona, diam diam Minrin berharap kalau ini hanya mimpi buruk. Ketika ia terbangun, ia akan kembali ke hari itu dan berjalan menuju box telephone untuk menghampiri Taesun. Untuk mengabulkan harapan taesun.
“Lee Taerin, apakah itu singkatan Taesun – Minrin?” kalimat itu meluncur tanpa komando dalam mulut Minrin. sadar, ia tertawa hambar dan mengutuk dirinya sendiri yang kecplosan
“kalau ku bilang IYA apa kau percaya?” pertanyaan Taesun berhasil membuat Minrin menatap matanya lurus lurus “dulu aku berharap bisa mempunyai Minrrin kedua, walau akhirnya aku sadar Minrin hanyalah satu dan bukan milikku”
Minrin tertunduk dalam, kata kata Taesun menusuk perasaanya. Lamunanya terbuyar ketika mendengar langkah kaki mendekati mereka. Ia mendongak, seorang perempuan yang masih mengenakan jas putih khas dokter berdiri di hadapan mereka.
Yeoja itu tersenyum, ia terlihat anggun dengan rambut pendek ikalnya.
“annyeong. dari tadi aku mencari kemana mana, ternyata disini” ucapnya pada Taesun dan Taerin
Taesun berdiri, ia menyerahkan taerin dalam gendonganya pada perempuan itu. “dia istriku, Kim Taeyon” tutur taesun sambil menatap Minrin, kemudian ia mengalihkan pandanganya ke arah Taeyon “dia Choi Minrin”
Ekspresi kedua yeoja itu hampir sama, sinar kekagetan tersirat dari matanya.
“annyeong haseyo Choi Minrin-sii, bangapseumnida. Akhirnya aku bisa bertemu dengan orang yang diceritakan taesun dulu.” Kata Taeyon lalu tertawa akrab. Minrin hanya bisa menyunggingkan seulas senyum kaku, itupun sudah amat susah baginya.

Tesun, Taeyon dan Taerin bukankah dari namanya saja menyiratkan bahwa itu adalah keluarga bahagia yang sempurna. Minrin ternyum menatapi kepergian ketiga orang itu.
Mereka tak mengobrol lama karena Taerin terbangun dan ia menagih janji untuk melihat kembang api. Akhirnya Minrin sadar, senyum yang ia kagumi dulu tak akan bisa menjadi miliknya.

~*~

Lirih dingin menyapa tajam di sela hembusan angin malam yang semakin lama semakin mengganas. Sejurus kemudian kilatan halilintar seakan membelah bumi, membuat langit bercahaya dalam sekejap mata.
Gemuruh petir disusul dengan guyuran hujan yang turun liar. Minrin tersadar dari lamunanya ketika air hujan menerpa wajahnya, ia melirik ke arah jalan tak ada satu bus pun yang lewat sejak tadi.
Gadis itu semakin gelisah, ia mengusap kedua tanganya. Pandanganya menyapu sekeliling dan berhenti ketika ia sadar sesuatu yang hampir terlupa. Box telephone itu masih kokoh di sana.
“ottokhae?”
Sesampainya di dalam box telephone Minrin semakin gelisah. Ingin minta tolong pada Key tapi ia tahu mood namja itu sedang tidak baik. Ia tidak mau diterjang salju dan hujan sekaligus.
Pada akhirnya Minrin hanya bisa meringkuk di sudut box, air mata yang ia tahan sejak tadi sudah tumpah ruah tanpa disadari. Di sela gemuru hujan, terdengar suara putaran kenop Pintu.
Minrin refleks menengadah dan mendapati seseorang masuk dengan pakaianya yang basah. Seperti de javu….

~*~

Beribu ribu meter dari sana terlihat tiga orang berkumpul mengelilingi meja bundar di salah satu café yang terletak di pesisir sungai han. Yeoja bernama Victoria itu tersenyum penuh kemenangan ke arah namja bernama Onew karena ia berhasil memaksa namja itu untuk mentraktir.
Sedangkan namja yang satunya bernama Choi Minho, ia sibuk merutuki hujan. karena hujan ia berteduh di dalam café dan berkumpul bersama komplotan gilanya.
“akhir akhir ini sangat membosankan, pekerjaan tak ada yang menyenangkan. Aku ingin gila” ungkap yeoja itu lalu menyeruput jus melonya
“kau itu sudah gila dari dulu” ejek Onew “aku juga merasa bosan, tidak ada kisah menarik dari client-ku”
Minho mangut mangut, hanya ia lah yang berstatus mahasiswa. Meskipun onew bermur 24 tahun, tapi ia terkenal sebagai pengacara muda. Namja itu sangat jenius sehingga mendapat kelas akselerasi di setiap tingkat sekolah dan sarjana dengan umur muda. Tapi sayang, sangtaenya Onew parah, terkadang komplotan 3 serangkai itu meragukan kejeniusan Onew karena sangtae ayamnya.
Sedangkan victoria yang berumur 25 tahun bekerja sebagai perancang busana yang tergabung dalam suatu label, karena itulah penampilanya sangat modis.
“apa kabar pasangan kecil itu ya” tentu saja yang dimaksud Victoria adalah Key-Minrin.
“sepertinya mereka bertengkar, saat aku kesana mereka tak banyak bicara” imbuh Minho lalu menyesap secangkir Cappucino late.
“Padahal aku ingin melihat bayi, huaaaaa…. Kapan mereka ‘itu-ituan’” gerutu Victoria sambil mesem mesem sendiri
“itu ituan apanya? Kalau ngomong yang jelas” cibir Minho “noona kau sudah waktunya menikah”
Victoria menghela nafas panjang “sama siapa? Sama ayam onew” ia melirik onew malas “aku benar benar ingin menggendong bayi, aku ingin punya keponakan”
Tiba tiba Onew menyeringai tajam, membuat Victoria dan Minho menoleh secara bersamaan. Dengan gerakan tangan, Onew memerintahkan kedua orang itu mendekat. Kemudian ia membisikan sesuatu.

~*~

Minrin mentatap Key lekat lekat, ia mengerjapkan matanya berulang kali. Tak percaya dengan apa yang dilihatnya di depan mata. Key berdiri memunggungi pintu box telephone, pakaianya terlihat basah bakhan bulir bulir air menetes dari rambut coklatnya
“Key….”
Tatapan mereka bertemu, Minrin seperti terkena sengatan listrik ketika lekuk mata tajam itu menerjangnya. Darah berdesir cepat, membuat jantungnya berdegup kencang. Sinar mata key yang sendu mampu menenangkanya.
“aku tahu semuanya” kata kata key membuat Minrin mengerutkan alis
“maaf aku bersika dingin padamu. Saat aku tahu cinta pertamamu itu sudah mempunyai pendamping, entah kenapa aku sedikit lega” key memalingkan wajahnya, sedikit gengsi tapi ia senang karena telah mengatakan yang sebenarnya.
Key menatap Minrin lagi, kemudian ia sedikit tertunduk untuk mensejajari tinggi Minrin. tiba tiba ia mengangkat ibu jarinya lalu menempelkan ke pipi Minrin, di usapnya dengan lembut sisia air yang masih menempel disana.
“kenapa kau menangisinya? Bukankah ada aku sekarang?” tanyanya lembut, perlahan ia mendekatkan diri dan menarik Minrin dalam dekapanya.
Minrin yang awalnya tersentak refleks, lama kelamaan ia menikmati desiran aneh yang mengalir dalam dirinya.
Hujan berhenti, menyisakan tanah basah dan udara yang lembab. Kedua orang itu keluar dari box telephone umum. Key merenggangkan tanganya di udara, sedangkan Minrin masih berdebar atas perlakuan key tadi.
“ayo pulang, mobilnya ku parkir di sana” ajak Key.
Bukanya mengikuti key, Minrin masih terdiam di tempat tadi sambil memegangi perutnya. Ia meringis menatap Key yang berbalik menatapnya.
“kau kenapa?” tanya key
“aku lapar, sepertinya aku tak punya tenaga untuk berjalan” keluh Minrin
“aigoo… kau seperti Raebi saja, kalau lapar malas bergerak”
“Raebi? Siapa itu” Minrin mendelik ke arah key, ia menatap curiga.
“anjingku Muahahahah” tawa Key meledak saat itu juga, sudah ia duga pasti Minrin akan berfikir yang tidak tidak.
“tertawalah sesukamu” cibir Minrin walau dalam hari ia tertegun karena ini pertama kalinya ia melihat Key tertawa lebar seperti itu. namja yang susah ditebak.
Tiba tiba Key berjalan ke arahnya, ia lalu memunggunginya dan berjongkok “naiklah aku akan menggendongmu” ajak Key. Spontan senyum Minrin mengembang. Saat ia berada dalam gendongan Key, ia sangat berharap namja itu tak mendengar degub jantungnya yang berlomba ingin keluar.
“dari mana kau tahu semuanya?” tanya Minrin, ia menyandarkan kepalaya ke bahu Key. Untuk sesaat ia terpejam.
“ini semua karena laptop kodok aneh bin ajaibmu itu. aku membuka blog lamamu dan membaca diary mu disana. Tadi aku ke rumah sakit untuk menjenguk teman, ketika lewat taman itu aku mendengar semua pembicaraan kalian” jelas Key panjang lebar
“dan satu hal! Aku benci fotoku dengan badan kodok. Awas kau Choi Minrin” merasa janggal karena orang dalam gendonganya tak menggubris sedikit pun, ia menoleh sedikit. Key mencibir ketika mendapati Minrin tertidur, dasar putri kodok jadi jadian!
Key pun melanjutkan langkahnya, menapaki tanah basah yang ditemani perpaduan antara angin malam dan udara khas sehabis hujan. tentu saja dengan Minrin yang terlelap dalam gendonganya.

~*~

Key berdiri di depan pintu apartment, Minrin masih dalam gendonganya. Ia tidak tega membangunkan gadis itu. saat key membuka apartmentnya, ia tercengang mendapati 3 kunyuk serangkai menyambutnya di balik pintu sambil tersenyum mencurigakan.
Key merebahkan Minrin di sofa panjang depan ruang tivi dengan dibantu Onew dan Minho.
“wahhh…. Ternyata kalian romantis juga. Kapan aku mendapatkan keponakan” celetuk Victoria sambil melayangkan cengiran nggak jelas.
“Ya! Kalian kenapa bisa masuk hah?” hardik Key mengacuhkan omongan Victoria, ia yakin betul sudah mengunci Pintu apartment tadi.
“apa kau tidak tahu? Minrin itu pelupa, aku hafal dia selalu menaruh kunci di bawah pot bunga. Kerena itulah aku langsung memeriksa pot bunga di sebelah pintu apartmentmu” jelas Minho sambil mengacungkan kunci ke depan wajah Key.
Key menepis tangan Minho lalu menatap 3 kunyuk serangkai itu garang. Ia mendecak kesal lalu menyambar segelas air putih yang tersedia di atas bar mini pembatas dapur antara ruang makan, ia meneguk cepat.

Key menumpukan tanganya pada meja bar itu, kepalanya mendadak terasa pusing, semua yang dilihatnya menimbukan bayangan meskipun sudah beberapa kali ia mengerjapkan mata. Tiba tiba tubuhnya terasa limbung dan semua gelap.
Onew tersenyum penuh arti, ia berbalik menatap Victoria yang kini sedang mencekoki Minrin dengan segelas air yang sudah diberi obat tidur terlebih dahulu. Mereka tersenyum penuh kemenangan, rencana 1 berhasil.
“dimana Minho?”
“ia pergi, memastikan jet pribadinya sudah dipersiapkan atau belum”

-FIN-

Huaaaahhhh…. Akhirnya selesai juga. Maaf jelek, aku buatnya ngebut dan tanpa di edit dulu. Jadi kalo banyak typo maaf ya. Dan  Maaf ya lama, abisnya akhir akhir ini kegiatan lagi padat2nya dan menguras tenaga semua. Kalo udah cape aku jadi males ngapa ngapain.
Apalagi ngumpulin Mood itu susah banget, aku serius soal kalimat ku di paling atas itu!. jadi lanjut atau enggaknya cerita tergantung komen.
Oh ya, ada saran KiRin  Couple honeymoon kemana? Terserah mau luar korea atau daam ekekekkekekkekekek

 

cherrs,

 

LucifeRain

Advertisements

61 responses to “Naughty Married (magicalova) part 3 -END-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s