Endless Moment part 12

Author; Minhye harmonic feat Hotaru Yuhime

Poster by cutepixie@bananajuice03.wordpress.com

—————————————————————————————————–PART 12

Tap. Minhye menghentikan langkah, tepat di depan pintu. Sesosok pria tampaknya baru saja tiba dan menghampiri Yoori, dengan sebuket mawar putih di tangannya. Bukan, bukan Kim Heechul. Bukan pula manager Park Yoochun.

“Donghae..?” gumam Minhye, cukup keras hingga sosok itu menoleh. Yoori tampak gugup saat meletakkan mawar putihnya di atas meja. Tepat di sebelah mawar pemberian Minhye.

—————————————————————–

“Nona..? Bagaimana nona bisa ada di sini..?”

“Nona?” ulang Yoori. “Kau tak pernah memanggilku nona, Dorobbong,” goda Yoori.

“Jangan macam-macam, Yoo-chan,” Donghae melotot.

“Hei, sudah malam, jadi aku rasa aku harus pulang. Permisi,” Minhye gegas meraih tasnya.

Tiba-tiba Donghae menahan tangan Minhye. “Tunggu, nona. Bagaimana jika Yoori menginap di rumahmu? Malam ini kau sendirian, kan?”

Baik Minhye maupun Yoori tampak terkejut mendengar pernyataan Donghae barusan, namun Yoori lebih dulu bisa menguasai diri.

“Ah, benar juga. Adikku pasti bawel sekali dirumah, padahal aku ingin ke sekolah besok. Bisa-bisa aku tak tidur semalaman meladeni dia. Bila tak merepotkanmu, bolehkah aku menginap?”

===============================================================================

Hyuk melompati pagar, memanjat pohon di samping kamar Minhye seperti biasa. Duduk di dahan terdekat dengan jendela kamar Minhye, Hyuk mulai melempari jendela kamar Minhye dengan kacang yang ia bawa untuk camilan.

“Minhye~ Minhye~ Bangun.. Cewek bangun siang itu tidak baik, tahu. Ayo ke sekolah… pak Jungsoo sudah rindu sekali padamu,” Hyuk memakan kacangnya, sambil sesekali tetap melempari jendela kamar Minhye.

“Hyukkie..?” mendengar suara tak asing memanggil namanya, Hyuk sontak menghentikan gerakannya melempar kacang.

Srak…. Tirai jendela itu terbuka, sementara Hyuk masih membatu di dahan itu.

“Yoo..ri?”

Gubrak!

“Nyet!!”

“Hyukkie!!”

Bersamaan , kedua gadis itu berseru khawatir, melongok mengawasi Hyuk yang kini terkapar tak jelas di bawah pohon.

===============================================================================

“Memalukan,” Hyuk bergumam sambil menunduk dalam-dalam.

“Kau bilang sesuatu, Nyet?” goda Minhye. Wajah Hyuk memerah, terlihat jelas sekalipun ia berusaha menyembunyikannya dari Minhye. Minhye tertawa lepas. “Sekali-sekali Nyuk, di bonceng cewek cantik,” goda Minhe lagi. Hyuk menggerakkan kakinya—berusaha menendang Minhye, atau setidaknya menggertak gadis itu—namun hal itu malah membuat sepeda yang ditumpangi oleng.

“Hyukkie, jangan bergerak-gerak begitu! Berbahaya,” keluh Yoori yang jadi ‘sopir’nya.

Minhye meleletkan lidah sementara Hyuk menunduk makin dalam.

Karena terjatuh dari pohon tadi, kaki Hyuk terkilir hingga sulit berjalan. Karena itu Yoori menawarkan tumpangan dengan sepeda—milik Minho— sementara Minhye meluncur dengan sepatu roda yang biasa ia kenakan.

“Sepertinya kau berat sekali, Nyuk. Biar kubantu,” Minhye mendorong sepeda itu, membuatnya melaju lebih cepat. Namun melewati gerbang sekolah, Yoori tiba-tiba kehilangan kendali.

“Awas!!” pekik Yoori, Minhye, dan Hyuk serempak.

Beberapa siswa berlarian menghindari sepeda yang membabi buta itu. Dan keributan baru terhenti setelah sepeda tersebut dengan sukses menabrak Siwon.

Lebih tepatnya, Siwon menghadang sepeda itu dengan sengaja untuk menghentikannya. Dibantu Donghae dari samping, mereka berhasil menghentikan laju sepeda itu.

“Kupikir aku akan mati,” keluh Hyuk.

“Maaf,” sahut Minhye dan Yoori bersamaan.

“Pagi-pagi sudah semangat sekali, buat keributan,” gumam Siwon, terkekeh geli melihat ekspresi Hyuk yang sepertinya ketakutan setengah mati.

“Senang melihatmu kembali ke sekolah, nona,” sapa Donghae. Siwon ikut tersenyum menyambutnya dengan gesture-3-jarinya. Minhye hanya tersenyum kikuk.

“Tolong bantu Hyukkie ke UKS dulu, dia jatuh dari pohon, tadi,” kata Yoori.

Siwon dan Donghae pun lekas membantu Hyuk sebelum bel masuk sekolah keburu berbunyi. Sementara Yoori memarkir sepedanya, Minhye terpaku menatap gedung sekolahnya. Ada perasaan canggung yang tiba-tiba mengganggunya.

“Semua akan baik-baik saja,” Yoori meraih telapak Minhye, menggenggamnya, dan menariknya menuju kelas. Mengusir galau yang meliputi hati Minhye.

===============================================================================

“Hei. Katakan, bagaimana bisa Yoori bersamamu tadi pagi?”

“Kakimu sudah sembuh?”

Jam istirahat siang. Baru beberapa detik yang lalu guru di kelas Minhye keluar, Hyuk sudah menyerbu masuk menemui Minhye yang tengah membereskan buku-bukunya.

“Aku bertanya lebih dulu, Minhye.”

“Dia menginap di tempatku. Jadi, kakimu sudah sembuh? Kau tak apa?”

“Aku baik-baik saja. Kau kan bisa lihat sendiri,” jawab Hyuk, menggoyang-goyangkan kakinya yang memang sudah tak apa. “Lalu mengapa dia bisa menginap di tempatmu? Dia bilang dia di rumah keluarganya, di luar kota.”

“Eunhyukkie,” Minhye mendesah kesal. “Aku pikir kau datang untuk menanyakan keadaanku. Kalau kau mau tahu tentang dia, kau harusnya bertanya langsung padanya.”

“Kalian menyembunyikan sesuatu,” tuduh Hyukjae. Minhye terdiam sejenak. “Kau, Donghae, Yoori…”

“Paling tidak, kami tidak berbohong,” jawab Minhye sebelum Hyuk berkeluh kesah lebih lanjut. “Pak Jungsoo bilang aku harus menemuinya. Aku pergi dulu.”

Minhye memukul buku-bukunya—terlalu keras hingga Hyuk sedikit terlonjak—dan beranjak pergi.

“Hei. Bukankah ada pepatah, ‘katakanlah yang sejujurnya walaupun itu pahit?”

Minhye pura-pura tak mendengar.

===============================================================================

“Kenapa kau bisa ada di tempat Minhye tadi pagi?” Hyuk, yang masih penasaran setengah hidup, kini berpindah ke kelas sebelah, meneror Yoori dengan pertanyaan yang sama. Gadis itu menghentikan gerakannya menyalin tulisan di papan tulis sejenak.

“Aku menginap.”

“Kenapa kau tiba-tiba menginap disana? Kau bilang ke rumah kerabat.”

Yoori tampak berpikir sejenak. “Kau jangan berprasangka yang bukan-bukan.”

Hyukjae tak bergeming, menatapi wajah Yoori hingga gadis itu jengah. “Baiklah, baiklah. Aku mengaku. Dorobb—Donghae yang meminta. Dia khawatir pada Minhye dan tidak ingin dia tinggal sendirian. Paling tidak hingga dia cukup kuat, yah, kau tahu maksudku.”

Yoori benar-benar meletakkan pulpennya sekarang. Niatnya menulis catatan sudah menguap. “Kehidupan yang ia jalani benar-benar sulit. Aku mengerti jika ia tertekan.”

Hyuk tampaknya cukup bisa menerima jawaban yang ia dengar. “Kau benar. Harusnya aku menyadarinya, bicara dengan sesama wanita tentunya bisa lebih saling mengerti. Lalu, apa saja yang kalian lakukan?”

“Banyak. Kau tahu, keadaan Minhye benar-benar kacau semalam. Seperti hantu, dengan kantung mata dan lingkaran hitam. Beberapa hari tak keramas, pula. Jadi kami buat salon dadakan di rumah. Bercerita banyak hal. Mulai dari masa lalu kami, sampai rencana kehidupan masa depan. Aku baru tahu kalau kau ternyata cengeng sekali waktu kecil,” Yoori tertawa kecil.

“Kalian membicarakan aku?” Hyukjae merajuk.

“Tentang Donghae juga. Tentang keisengan waktu kau ulang tahun… Aku suka sekali mendengarnya menceritakan tentang persahabatan kalian. Ah, aku jadi iri. Hingga sebesar ini aku tak punya teman dekat.”

“Kenapa?”

Yoori hanya tersenyum. “Tak ada waktu.”

Hyukjae menautkan alis. “Kalau aku, tak mau jadi temanmu.”

Yoori mendelik. Hyukjae pasang tampang serius. “Begitu, ya?”

“Aku maunya kau jadi istriku.”

Yoori tergelak. Meraih kembali pulpennya yang tergeletak, ia menyahut, “Persis seperti yang Minhye katakan. Gombal. Dan tidak romantis.”

“Aku serius.”

“Kau lupa janjimu? Jangan jatuh cinta padaku,” Yoori kembali menyibukkan diri dengan catatannya.

“Aku tidak janji.”

“Apa susahnya sih? Kau hanya perlu mencari gadis lain.”

“Tapi Kim Yoori hanya ada satu di dunia ini.”

“Berarti, kalau aku tidak ada lagi,” Yoori menatap Hyuk tepat di matanya, “…kau tidak akan suka padaku lagi?”

“Mungkin. Tapi masalahnya, aku bukan ‘suka’ padamu. Aku jatuh cinta padamu.”

Yoori menyerah. Susah berdebat dengan Hyukjae, panjang urusan. Tak ada habisnya.

“Apa karena aku tidak romantis? Kalau kau mencari pria romantis, dengan Donghae saja.”

Yoori kembali menatap Hyuk. “Apa terjadi sesuatu antara kau dan Donghae?”

“Tidak. Kau pikir kami pasangan homo?”

Plak!! Tak tahan lagi, Yoori memukul kepala Hyuk dengan buku catatannya. “Maksudku bukan itu! Hanya saja, kulihat kalian sudah tak sama-sama lagi. Kalian bertengkar?”

“Tidak,” Hyuk memalingkan wajah, menjauhi tatapan Yoori.

“Kau bilang kau tidak suka dibohongi, tapi sekarang kau sendiri yang berbohong,” cibir Yoori. Tepat bersamaan dengan dentang bel tanda usai istirahat.

“Tidak. Memang tidak ada apa-apa,” Hyuk berdiri. “Kalau tak percaya, tanya saja padanya,” lanjutnya setengah bergumam, melirik kearah pintu kelas sesaat setelah Donghae masuk. “Sepulang sekolah, kau ada kegiatan?”

“Hm, berbelanja dengan Minhye.”

“Aku masih ingin berbincang denganmu. Pulang bareng, ya?”

“Tapi—“ Belum sempat Yoori menjawab, Hyuk sudah melesat menghilang dibalik pintu kelas.

“Dia tanya macam-macam padamu?” Donghae tiba-tiba berbisik dari belakang, membuat Yoori sedikit terlonjak.

“Kau mengejutkkanku!” keluh Yoori. “Ada apa sih dengan kalian? Benar kata Minhye, ada sesuatu di antara kalian berdua.”

“Tidak ada apa-apa, sungguh,” Donghae menggerakkan jemarinya mengisyaratkan kalimat ‘I swear’.

“Lantas mengapa kalian tidak lagi saling percaya? Kepercayaan itu penting, setidaknya, jangan berprasangka pada sahabatmu sendiri.”

Donghae masih ingin menyela, namun kehadiran wali kelasnya mengelukan lidahnya untuk bicara.

===============================================================================

-Sepulang sekolah-

“—Hye! Nona Minhye!” suara khas Donghae menggema di selasar sekolah. Minhye, yang kebetulan memasang headset, pura-pura tidak mendengar dan malah mempercepat langkahnya melewati kelas Donghae. Sebenarnya ia melewati tempat itu untuk mencari Yoori, tapi malah bertemu Donghae—orang yang sedang tak ingin ia temui.

Dorobbong? Yoo-chan? Mereka bahkan punya nama panggilan khusus satu sama lain. Dan…mawar putih itu?

Minhye menggelengkan kepala kuat-kuat. Sedang mikir apa sih!

Di halaman belakang sekolah yang teduh, Minhye menghentikan langkah. Memutuskan menunggu Yoori di tempat itu saja. Mereka berencana untuk berjalan-jalan sebentar—hal yang jarang dilakukan Minhye, dan kebetulan merupakan keinginan Yoori untuk bisa jalan-jalan dengan seorang ‘teman’. Minhye tak bisa menolak saat Yoori mengajaknya. Kalau di pikir-pikir, gadis itu agak berbeda dengan image yang sering digambarkan Hyuk. Apa mungkin Yoori itu berkepribadian ganda?

Minhye kembali menggeleng-gelengkan kepala sendiri.

“Nona Minhye.”

Minhye menoleh. Tepat menghadap Lee Donghae. Belum sempat Minhye berpaling, Donghae menangkap tangannya.

“Kau menghindariku?” tanya Donghae tepat sasaran.

Sadar tak bisa menghindar, Minhye memaksa diri untuk tersenyum.

“Oh, maaf. Aku hanya sedang terburu-buru, ada janji dengan seseorang.”

“Siapa? Yoori? Tunggu saja disini, dia sedang ada urusan dengan wali kelas.”

“Oh,” Minhye kehabisan akal.

“Kau tak apa?”

“Eh?”

“Tadi pak Teuki—maksudku, pak Jungsoo—memanggilmu, kan?”

“Oh, itu. Iya, tak apa. Beliau hanya ingin memastikan bahwa aku baik-baik saja, dan menasehatiku macam-macam. Padahal kupikir aku akan dapat hukuman tambahan, tapi ternyata tidak,” Minhye menghela nafas panjang. “Dia juga berkerja sama dengan bibiku.”

“Mereka melakukan itu semua karena sayang padamu.”

Minhye terdiam.

“Kalau kau pikir bibimu memperalat Minho, kurasa itu salah. Bibimu itu hanya ingin memberikan kesempatan padanya untuk meraih apa yang dia inginkan,” lanjut Donghae bijak. “Dan agar kau bisa menerima kenyataan yang sebenarnya. Agar kau menjadi gadis yang kuat. Tapi kurasa, kau memang gadis yang kuat.”

“Kau tidak mengerti,” lirih Minhye.

“Aku juga tidak punya ayah,” potong Donghae, menghela nafas. Menatap langit. ”Aku masuk sekolah dengan beasiswa. Ibuku tak sanggup membiayaiku. Selain dari hasil keuntungan toko, aku juga bekerja sambilan sebagai jurnalis dan fotografer amatir,” Donghae melambaikan kamera kesayangannya. “Kamera ini, aku beli dengan berhutang pada Hyuk. Dia bilang ini hadiah ulangtahun, tapi aku tak mau—kau tahu, ini terlalu mahal. Penghasilanku memang tak seberapa, tapi banyak pihak yang selalu membantuku sehingga hingga kini aku tak merasa kekurangan.”

Panjang sekali. Minhye menatap Donghae nyaris tak berkedip.

“…Karena itu, bersyukurlah selalu. Dengan begitu kau tak akan merasa terbebani, kau akan selalu merasa cukup. Karena jika kau membuka mata lebar-lebar, nyatanya, selalu ada yang lebih kekurangan dibandingkan dirimu.”

Tes…setitik air mata menetes dari mata bening Minhye.

“Dulu, aku juga sepertimu. Sulit sekali rasanya menerima kenyataan itu. Tapi kemudian aku bertemu Yoori. Dia juga kan, yang kemudian memberimu kekuatan untuk kembali menjalani hidup?” Donghae mengalihkan tatapan pada gadis di sisinya itu, dan terkejut sendiri menatap gadis itu kini telah berurai air mata. “Eh? Nona? Kau kenapa?”

Donghae mengulurkan tangan, hendak menghapus airmata di pipi gadis itu. Namun tegas di tepis oleh Minhye.

“Jangan,” Minhye setengah bergumam, “…melakukan sesuatu yang bisa membuat orang lain salah paham.”

“…. Apa aku berbuat kesalahan?”

Minhye hanya membungkuk 90 derajat tanpa menyahut. Dan bergegas pergi. Sementara Donghae mematung di tempat, menatap punggung Minhye yang berlari melewati jeruji sekolah.

Duak!

“Aww!”

Hyuk tampak duduk tenang tepat di pohon ditepi jalan itu, dengan tangan melempar-lemparkan sebuah batu—siap melempari Donghae lagi. Donghae menelan ludah.

“Kau menyebut nama Yoori. Bodoh sekali. Kau tidak ingat dia bahkan tak bicara padaku berhari-hari karena aku terus-menerus berbicara tentang gadis itu?”

“Eunhyuk, kau…disana sejak tadi?”

“Dan mendengarkan perbincangan kalian sejak tadi? Yap.” Hyuk melemparkan batu yang ia pegang, dan Donghae cepat menangkisnya. “Kau berhutang penjelasan padaku. Tapi sekarang, yang lebih penting, cepat kejar dia.”

“Aku tidak mengerti,” Donghae masih belum beranjak.

Dengan gerakan tiba-tiba, Hyuk melompat dari pohon dan langsung memukul kepala Donghae.

“Kau ini bodoh atau apa, sih!” omel Hyuk. “Dia itu cemburu, cepat sana pergi! Jelaskan dengan benar, kau dan Yoori itu ada apa?!”

“Cemb—“ Donghae terdiam. Dan sedetik kemudian, dia bergegas lari mengejar Minhye.

===============================================================================

Dorobbong…

Yoo-chan.

Nama-nama itu kembali memenuhi kepala Minhye.

“Tak apa. Aku suka mawar putih. Mengingatkanku pada seseorang, dia juga sering memberiku mawar putih.”

“Seseorang yang penting, eh?” tebak Minhye.

“Em.. bisa dibilang, cinta pertamaku.”

Percakapan mereka kemarin terngiang-ngiang.

“Bodoh,” Minhye menyeka sudut matanya yang sembab, “Donghae…” Minhye kembali menangis. Dia tak sanggup melanjutkan kata-katanya sendiri. Dia berharap dia salah!

“Tapi, kenapa?” Dia menyentuh dadanya, “Di sini sakit…..”

“Minho……kau dimana? Aku kangen padamu… dan—“ Dia menyeka sudut matanya, “Kyuhyun…”

Kyuhyun?

Minhye merogoh sakunya, mengeluarkan ponsel. Membuka menu kontak. Menghubungi seseorang. Kyuhyun…

“Nomor yang anda tuju tidak terdaftar.”

Klik.

Minhye mengangkat tangannya tinggi-tinggi—berancang-ancang membanting ponselnya, namun sontak tersadar. Dia sudah tidak punya apa-apa.

Tidak punya ayah-ibu.

Tidak punya siapa-siapa….

Lelah… Sesak… Minhye megap-megap mencari udara. Menumpukan kedua lengan pada lutut.

“Ayah.. ibu..”

Sebuah Audy hitam melewatinya.

“Yoori…”

“Minhye..?”

Merasa namanya dipanggil, Minhye mendongak. Wajah itu menatapnya kaku dari celah jendela—hanya beberapa detik, karena Minhye tiba-tiba terjatuh. Pingsan.

TBC

Jangan lupa komen~

sampai jumpa minggu depan~

Advertisements

15 responses to “Endless Moment part 12

  1. minhye cemburu sama yoori gara” dia deket sama donghae ?

    aku bingung sama cerita.a sebener.a minhye itu suka.a sama eunhyuk apa donghae rs donghae sama eunhyuk itu suka.a sama yoori apa minhye ?

    di tunggu kelanjutan.a eonn 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s