[FREELANCE] Hate You, Love You 1.2

Hate you, Love you (It Started With a Kiss)
Title : Hate you, Love you (It started with a kiss)
Author : Cherry Anastasia (cherryesung)
Casts : Park Jiyeon, Yoo Seung Ho
Genre : Romance
Rating : Teen
Length : Two Shot
Part : 1/2
Backsound : Super Junior – Hate u Love u, SNSD – Girlfriend, G.Na – Kiss Me
Summary : Sejak dulu, Park Jiyeon sangat membenci teman sekelasnya, Yoo Seung Ho. Namun semenjak mereka mengalami peristiwa ‘sengaja tidak sengaja’, semuanya berubah…
Poster By : YeonNia ART
P.S : Makasih ya yang udah mau baca ff aku 😀 makasih juga yang udah mau publish ff aku ini 🙂 mian typo(s), happy reading ^^
FF ini pernah di publish di parkjiyeonfanfiction.wordpress.com
***

Park Jiyeon, 2 SMP
Pagi itu, mentari bersinar dengan cerahnya. Seorang gadis cantik berambut panjang, memasang raut kesalnya. Ia berkeliling sekolah, untuk mencari barangnya yang hilang. Berkali-kali ia menghela nafas kesal, karena barang yang ia cari tidak juga ketemu. Ia terus melangkah, sampai tiba-tiba… BRUGH!
Seorang namja dengan sengajanya menyengkat kaki Jiyeon, sehingga Jiyeon terjatuh. Jiyeon meniup poninya, lalu mendengus kesal. Tanpa melihat siapa orangnya pun, Jiyeon sudah tahu siapa yang menyengkatnya. “Namja pabo! Dasar gila!” sungut Jiyeon. Ia bangkit berdiri, membersihkan roknya yang sedikit kotor, lalu pergi begitu saja tanpa mempedulikan namja tadi. Ia sedang malas berdebat. Kalau saja moodnya tidak sedang buruk, saat ini juga ia pasti sudah menendang kaki namja tersebut, lalu memukulinya sampai babak belur. ‘Sabar, Park Jiyeon…’ Jiyeon menenangkan dirinya yang sangat kesal.
“Yeoja jelek, neo eodi ya?” tanya namja itu –Seung Ho ketika Jiyeon berjalan sambil memegangi lututnya.
“Bukan urusanmu, namja pabo!” teriak Jiyeon kesal.
“YA!! Yeoja jelek, otak serangga!! Kau tadi sedang mencari ini ya??” seru Seung Ho sambil mengacungkan sesuatu.
“Nae hyudaephon!! Kau kan Yoo Seung Ho!! Kembalikaaann!!” teriak Jiyeon lalu langsung berlari mengejar Seung Ho. Jiyeon tadi sedang mencari ponsel nya yang menghilang, dan ternyata Seung Ho yang dengan sengaja mengambilnya.
“Kalau kau mau mendapatkannya, tulis di kertas sebanyak 1000 baris. Yoo Seung Ho adalah manusia yang tampan dan baik hati!! Kalau kau tidak mau, aku tidak akan mengembalikannya! Ah ya, kau juga harus menulis Park Jiyeon adalah yeoja yang bodoh dan berotak serangga sebanyak 500 baris!! Arasseo? Annyeong, Park Jiyeon ssiiii!!”
Jiyeon hanya mendengus kesal. Percuma saja jika Jiyeon mengejar Seung Ho. Seung Ho tidak akan mengembalikan ponselnya, kecuali Jiyeon mau menuruti perintahnya. Selalu saja seperti ini. Seung Ho selalu mengancam Jiyeon, mengganggu Jiyeon, dan mengejek Jiyeon. Sepertinya hanya ada satu kata yang dapat menggambarkan perasaan Jiyeon sekarang. ‘KESAL’.
“Dasar Yoo Seung Ho bodooooohhh!!!” teriak Jiyeon kesal, lalu kembali ke kelasnya demi menjalankan perintah Yoo Seung Ho. Ah, ani. Maksudnya, demi mendapatkan ponselnya kembali.
***
Park Jiyeon, 3 SMP
“YA! Manusia otak serangga!”
“Mwo? Mwo? MWO?”
“Lihat ke bawah?”
“MWO?”
Jiyeon melihat ke bawah kursinya, dan… “YAAAAAA!!” Jiyeon menjerit histeris, karena ada tikus di bawah kursinya. Jiyeon langsung berlari takut, karena tikus adalah binatang yang paling ia takuti. Tiba-tiba… BRUK! Jiyeon terjatuh. Seung Ho langsung melongo melihat Jiyeon yang terjatuh. Karena merasa bersalah juga, Seung Ho langsung mendatangi Jiyeon. “Gwaenchanha?” tanya Seung Ho sambil menatap Jiyeon yang meringis kesakitan. Dan…
DUK! Ternyata Jiyeon hanya pura-pura jatuh. Jiyeon langsung menendang kaki Seung Ho sampai akhirnya Seung Ho terjatuh dan kakinya memar. “Dasar namja berotak serangga!!” teriak Jiyeon kesal, lalu dengan cepat pergi meninggalkan ruangan kelas.
❀❀❀
Park Jiyeon, 3 SMA
“PARK JI YEEOOOOONNN!!” seru Seung Ho dengan nada jahil. Jiyeon menoleh.
“Kau merasa tidak kehilangan sesuatu?” lanjut Seung Ho sambil tersenyum jahil.
Jiyeon lalu melihat tasnya, untuk mengecek benda apa yang hilang. Jiyeon tahu, pasti akan ada sesuatu yang hilang di tasnya. Dan memang benar.
“Yoo Seung Ho!!! Buku Bahasa Korea ku!!” teriak Jiyeon kesal.
“Tidak ada padaku,” jawab Seung Ho santai.
“Lalu?”
“Di gudang.”
“YAAA!!”
Bisa gawat kalau dia tidak membawa buku bahasa koreanya. Setelah ini ada pelajaran bahasa korea dan gurunya benar-benar ‘killer’. Kalau dia tidak membawa bukunya, bisa-bisa ia dihukum berdiri di luar dengan satu kaki.
Jiyeon mencari-cari buku itu di dalam gudang, tetapi tidak ada. Berulang-ulang kali Jiyeon mencari di setiap sudut gudang, tidak ada juga. Pasti Seung Ho menyembunyikannya di tempat tersembunyi. Tiba-tiba…
“PARK JIYEON!!” suara itu suara yang tidak asing lagi bagi Jiyeon.
BRUGH! Lemari yang berada tepat di samping Jiyeon tadi terjatuh. Sesuatu menimpa tubuh Jiyeon, tetapi Jiyeon yakin itu bukan lemari. Itu manusia, seorang namja yang tak lain adalah Yoo Seung Ho! Yoo Seung Ho menimpa tubuh Jiyeon, kalau dia tidak mendorong Jiyeon, mungkin Jiyeon sudah jatuh tertimpa lemari.
“YA! Gwaenchana? Dasar makhluk bodoh! Kau hampir saja tertimpa lemari! Kalau aku tidak ada bagaimana? Neo pabo!” teriak Seung Ho kesal.
“Kau yang menyuruhku ke gudang! Seung Ho, i… ireona…” kata Jiyeon pelan, karena Seung Ho masih berada di atas badannya. Seung Ho langsung berdiri, lalu mengambil sesuatu di lantai.
“Ini, buku bahasa Korea mu,” katanya sambil melempar buku ke arah Jiyeon. Jiyeon langsung menangkapnya. “DASAR OTAK UDANG!!” teriak Jiyeon kesal.
***
Keesokan harinya …
“YAAA!! YOO SEUNG HO!!”
“Wae? Wae? WAE?” Seung Ho menyahut dengan nada tak kalah keras.
“Kembalikan!”
“Apanya?”
“Gantungan tas ku,” kata Jiyeon kesal.
“Yang mana? Aku tidak pernah mengambil gantungan tas mu! Lagipula untuk apa?”
“Tapi gantunganku tidak ada! Di kelas ini yang selalu jahil padaku hanya kau, Yoo Seung Ho!!”
“Park-Ji-Yeon!!” Seung Ho mengeja nama Jiyeon, lalu Seung Ho mulai mengeluarkan senyuman jahilnya.
“Yoo-Seung-Ho!” Jiyeon juga mengeja nama Seung Ho.
“Kalau aku memberikan gantungan itu, kau akan memberikan apa untukku?”
“Benar kan, kau yang mengambilnya!! Yoo Seung Ho!! Kembalikan!!” teriak Jiyeon kesal.
“Sudah kubilang aku tidak mengambilnya. Memangnya gantungan apa? Baiklah, aku akan mencarikannya untukmu. Tapi, ya! Di dunia ini tidak ada yang gratis. Kau mau memberikan apa jika aku berhasil menemukannya?”
“Seung Ho!”
“Aahh, bagaimana kalau… Kiss!” Seung Ho menoleh ke arah Jiyeon sambil menunjuk bibirnya.
“YAAAA!!”
Seung Ho sebenarnya bukan orang yang suka menjahili yeoja, tetapi sebenarnya Jiyeon adalah satu-satunya yeoja yang selalu Seung Ho ganggu. Setelah Jiyeon berteriak tadi, Seung Ho hanya duduk terdiam sambil memandang rerumputan hijau di taman sekolah yang sepi. Sepertinya Seung Ho benar-benar tidak menyembunyikan gantungan tas Jiyeon. Jiyeon hanya berdiri dan ikutan terdiam di belakang Seung Ho, Jiyeon tak ingin mendesak Seung Ho lagi. Sepertinya memang bukan Seung Ho yang menyembunyikan. Tetapi masalahnya, gantungan itu sangat penting bagi Jiyeon.
Suasana menjadi hening. Seung Ho hanya terdiam sambil sesekali menghela nafas. Tadi ketika Jiyeon mendapati gantungan tas nya hilang, Jiyeon langsung mencari Seung Ho ke taman, karena disitulah biasanya Seung Ho duduk dan menghirup udara segar. “Ya, Park Jiyeon,” ucap Seung Ho pelan. Jiyeon lalu ikutan duduk, di samping Seung Ho. “Park Jiyeon, lihat ini!” Seung Ho mengacungkan sesuatu. “Ini punyamu?” tanyanya. “Benar kau kan yang mengambilnya?” kata Jiyeon, namun dengan nada datar. Sebenarnya Jiyeon terkejut juga, biasanya Seung Ho bicara dengan Jiyeon dengan sangat kasar. Tetapi tadi, volume suaranya sedikit dikecilkan dan Seung Ho menanyakan dengan nada lembut. Seung Ho sendiri tidak tahu kenapa tiba-tiba jadi bersikap lembut seperti ini.
“Bukan aku. Itu… Aku menemukannya di tangga tadi. Mian, mianhae..”
Jiyeon semakin terkejut saja, biasanya dia berbicara sambil teriak-teriak. Sudah 5 tahun sejak terakhir kali dia berbicara lembut seperti itu. Dan baru kali ini, Seung Ho mengucapkan kata ‘mianhae’ pada Jiyeon.
“Mian… Aku tidak tahu kalau, itu… Bukan kau,” Jiyeon merasa bersalah juga karena tadi telah menuduh Seung Ho.
#Flashback#
“YAA, manusia bodoh!!” teriak Seung Ho.
“MWO?? Manusia otak udang!!” balas Jiyeon sambil menatap Seung Ho kesal.
“Kau mencari… Iniiiii?” kata Seung Ho dengan senyum jahilnya, sambil mengacungkan buku diary yang tak asing lagi bagi Jiyeon.
“YAA!! Kembalikan!!” seru Jiyeon kesal sambil mengejar Seung Ho.
“Kejar saja kalau kau bisa!! Dasar manusia berotak serangga!!”
“YAA!! Neo nappeun namjaaa!! YAAA!!”
“Park Jiyeon manusia bodoh!!” Seung Ho terus berlari sambil terus mengejek Jiyeon.
Seung Ho tidak mau mengembalikan diary itu. Tetapi, keesokan harinya diary Jiyeon sudah berada di tasnya. Ketika Jiyeon membuka diarynya, mata Jiyeon langsung membulat ketika melihat lembaran terakhir diarynya.

Aku, Park Jiyeon telah menyesal karena selalu menuliskan hal-hal buruk tentang Yoo Seung Ho. Aku akan meralat semua perkataanku, yang mengatakan bahwa Yoo Seung Ho adalah nappeun namja, manusia berotak udang, si bodoh, dan manusia sakit jiwa. Sebenarnya Yoo Seung Ho adalah namja paling baik yang pernah aku, Park Jiyeon temui. Yoo Seung Ho adalah namja pintar dan sangat baik hati.
“Yoo Seung Ho!!!!!!” Jiyeon lagi-lagi mengejar-ngejar Seung Ho, dan seperti biasa mereka kembali saling ledek.

♨End of Flashback♨

“Geundae, Park Jiyeon. Aku tidak akan mengembalikan ini, sebelum kau menepati janjimu,” kata Yoo Seung Ho, nadanya berubah ke semula, kasar.
“Museun yaksok?” tanya Jiyeon bingung, karena seingatnya Jiyeon tidak pernah memiliki janji pada Seung Ho.
Seung Ho terdiam sejenak, sambil memandangi rerumputan hijau yang bergoyang tertiup hembusan angin lembut. Rasanya Jiyeon sangat menyukai Seung Ho yang seperti ini. Dia terlihat sangat charming ketika seperti itu.
“Park Jiyeon,” kata Seung Ho lalu menatap Jiyeon. Sebenarnya jantung Jiyeon selalu berdetak kencang ketika bersama Seung Ho seperti ini, tetapi Jiyeon masih tidak mengerti hatinya sendiri.
“Jangan bergerak,” kata Seung Ho lagi.
Perlahan, Seung Ho mulai mendekati Jiyeon, milimeter demi milimeter, Seung Ho semakin mendekati wajah Jiyeon. Kedua tangan Seung Ho terangkat, lalu memegang kedua pipi Jiyeon. Seung Ho semakin mendekat dan selanjutnya,… Seung Ho mencium bibir Jiyeon lembut. Jari-jarinya mengusap lembut rambut Jiyeon. Seung Ho bisa merasakan jantung Jiyeon yang berdetak bagaikan drum yang dipukul-pukul keras.
“YAAA!! Dua musuh bebuyutan sedang berciuman, lihatlah!” teriak seseorang yang berdiri tidak jauh dari Jiyeon dan Seung Ho. Tiba-tiba beberapa orang bertepuk tangan sambil bersiul-siul jahil.
Mata Jiyeon dan Seung Ho tiba-tiba langsung melotot. Jiyeon langsung melompat menjauh dari Seung Ho. “Y…Yaa!” teriak Seung Ho. “YA!! Berciuman apanya? Mana mau aku berciuman dengan manusia otak serangga ini?” bantah Seung Ho dengan sikap salah tingkah. “Nado! Seung Ho manusia berotak udang!” teriak Jiyeon dengan wajah merahnya.
“Geotjimal! Baru saja tadi berciuman, sekarang sudah bertengkar lagi! Pasangan otak udang dan otak serangga! Ternyata, walaupun terlihat seperti kucing dan anjing, tetapi kalian ternyata…” kata seorang teman Seung Ho yang bernama Min Ho, lalu diikuti tawa keempat teman Seung Ho yang lainnya, Min Hyuk, Dong Hae, Hee Chul, dan Key.
Wajah Seung Ho dan Jiyeon tambah memerah. Mereka berdua berdiri, lalu segera pergi. Seung Ho ke arah kiri, dan Jiyeon ke arah kanan. Jiyeon berlari dengan cepat, sambil memegangi dadanya yang berdebar-debar. Jiyeon lalu duduk di salah satu anak tangga sambil terengah-engah. Di kepalanya terus berputar-putar peristiwa yang barusan. Sampai Jiyeon benar-benar tidak sadar, gantungan tas nya masih berada di tangan Seung Ho. Tetapi Jiyeon benar-benar tidak peduli, Jiyeon terlalu terkejut sampai rasanya jantungnya ingin melompat keluar.
‘Perasaan apa ini? Ani, ani.. Bukankah aku sudah menyukai Min Ho oppa? Bahkan tadi Min Ho oppa melihatnya… Tetapi kenapa perasaanku aneh seperti ini? Aah, molla!’ Jiyeon berteriak-teriak sendiri, di dalam hatinya. Di satu sisi, Jiyeon sangat sedih karena tadi Min Ho melihatnya, dan tidak menunjukkan ekspresi sedih apapun. Dia malah tertawa. Tetapi di satu sisi, Jiyeon merasa ada suatu perasaan aneh yang menyusup ke sela-sela hatinya, yang membuat perasaan Jiyeon menjadi aneh seperti ini.
***
“Eommaaa, aku pulaanngg!” teriak Jiyeon saat memasuki ruang keluarga di rumahnya. Eomma nya sedang sibuk menata meja makan untuk makan sore nanti. “Nee, kau lapar?” tanya eomma nya. “Ani. Eomma, So Yeon eonni mana?” tanyaku pada eomma. So Yeon eonni adalah yeoja yang tinggal di lantai dua. Di lantai dua ada tiga kamar. Yang satu kamar Jiyeon, dan yang dua lainnya disewakan. Yang tinggal di kamar yang satu adalah Park Sang Hyun, sepupu jauh Jiyeon, dan Yoo So Yeon, yang usianya tiga tahun lebih tua dari Jiyeon.
“So Yeon? Memangnya dia tidak pamit padamu?”
“Pamit? Memangnya eonni mau kemana?” tanya Jiyeon heran.
“Dia kan akan melanjutkan kuliahnya di Busan. Tapi sebulan sekali dia akan ke Seoul.”
“Jinjja? Eomma! Lalu, kamar di lantai dua yang tadinya ditempati So Yeon eonni, sekarang kosong? Aiish, kenapa So Yeon eonni tidak bilang padaku!?”
“Ani, tidak kosong. Adik So Yeon eonni yang akan tinggal disana. Tadi katanya ia buru-buru, makanya ia tadi minta maaf padamu karena tidak sempat pamit.”
“Adik? Memangnya dia punya adik?”
“Ya, katanya begitu.”
“Lalu, adik So Yeon eonni datang kapan?” tanya Jiyeon lagi.
“Barangnya sudah di angkut ke lantai atas. Tapi orangnya, eomma tidak tahu kapan sampainya,” kata eomma nya sambil terus sibuk memasak untuk makan sore.
“Annyeong haseyo,” kata seseorang yang baru saja masuk ke dapur. Suaranya tidak asing lagi bagi Jiyeon, dan Jiyeon sangat membenci suaranya. Jiyeon dan eomma nya langsung menoleh, dan… Jantung Jiyeon lagi-lagi ingin melompat keluar setelah melihat namja yang baru saja masuk ke dapur itu. “YOO SEUNG HO!!!” seru Jiyeon sambil menunjuk namja itu. “PARK JIYEON!!” Seung Ho tak kalah terkejut ketika melihat Jiyeon.
“Kalian saling kenal?” tanya eomma Jiyeon heran.
“A… ani!! Aku tidak mengenalnya.. Dia, dia itu temannya temanku… Namanya Yoo Seung Ho,” kata Jiyeon sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Geurae, annyeong haseyo Seung Ho ssi.. Anggap saja rumahmu sendiri, kamarmu ada di lantai dua,” kata eomma Jiyeon ramah.
“Ne, ahjumma..” jawab Seung Ho sopan sambil menunduk. ‘Dasar manusia bermuka dua! Siap sekali nasibku!’ batin Jiyeon.
“Ahjumma? Andwae, andwae. Panggil saja eomeonim,” kata eomma ku sambil tertawa kecil.
“EOMEONIM???” seru Jiyeon sambil melotot ke arah Seung Ho. Seung Ho hanya tertawa kecil.
“Ne, eomeonim,” jawab Seung Ho, lalu mengerling jahil pada Jiyeon.
***
Jiyeon sejak tadi hanya menatap makanannya, tidak berselera untuk makan sama sekali. Kejadian tadi terus terbayang di benak Jiyeon. Saat bibir Seung Ho menyentuh bibir Jiyeon, dan tangan Seung Ho mengelus lembut rambut Jiyeon. Hari ini terlalu banyak kejadian mengejutkan. Dan sekarang, Jiyeon tinggal satu rumah dengan Seung Ho! Jiyeon melirik ke sampingnya, Seung Ho sedang makan dengan lahap. Seung Ho yang menyadari dirinya sedang di perhatikan, langsung melihat ke arah Jiyeon. “Wae??” tanya Seung Ho dengan nada kasarnya. “Mwo??” Jiyeon bertanya balik. “Otak serangga,” katanya pelan lalu melanjutkan makannya. “Otak udang!!” balas Jiyeon dengan kencang. Sang Hyun langsung memandangi Seung Ho dan Jiyeon. Eomma Jiyeon sedang pergi berbelanja keperluan memasak. Di meja makan hanya ada Sang Hyun, Jiyeon, Seung Ho, dan tentu saja makanan. Appa nya Jiyeon? Sudah meninggal karena sebuah kecelakaan, lima tahun silam. Sang Hyun sejak tadi selalu memperhatikan Seung Ho dan Jiyeon yang selalu saja memasang tampang siap berperang. “Nuna, hyeong.. Kalian sudah saling mengenal ya?” tanya Sang Hyun penasaran. Seung Ho langsung menatap Jiyeon.
“Bukan hanya kenal. Sudah lebih dari kenal, bahkan kami juga pernah bercium…” Jiyeon dengan cepat langsung menutup mulut Seung Ho.
“B… berciuman?” ulang Sang Hyun tak percaya.
Seung Ho melepaskan tangan Jiyeon yang menutup mulut Seung Ho. “YA!! Apheo!” seru Seung Ho kesal. “Sang Hyun ah, yang tadi ku katakan itu benar. Mau aku ulangi kejadiannya?” kata Seung Ho sambil memasang wajah serius, padahal dalam hatinya dia tertawa bahagia karena berhasil membuat Jiyeon kesal.
Dengan cepat Seung Ho mendekati wajah Jiyeon. Tetapi Jiyeon langsung menjauh, lalu berlari dengan cepat menaiki tangga ke lantai dua. Melihat Jiyeon yang salah tingkah seperti itu, Seung Ho langsung tertawa. “Hyeong, jinjja?” tanya Sang Hyun masih tidak percaya. “Eo, hahaha,” Seung Ho tertawa lalu segera meninggalkan meja makan dan naik ke lantai dua.
***
*TOK TOK TOK*
Jiyeon lalu membuka pintu kamarnya. Tiba-tiba… Seung Ho melempar sesuatu ke arah Jiyeon. Jiyeon menangkapnya. “Punyamu, gantungan tas. Annyeonghi jumuseyo, manusia berotak serangga!” kata Seung Ho dengan nada jahilnya. “YA!! Manusia berotak udang!! Neo nappeun namja!! Neo micheosseo? Ya!! Neo jugeo! Yoo Seung Ho!” Jiyeon berteriak-teriak pada Seung Ho, tetapi Seung Ho hanya tersenyum tanpa menoleh. “Kiss yang tadi itu, jangan di anggap serius ya.. Aku hanya mempermainkanmu saja,” ucapnya lalu segera menutup pintu kamar Jiyeon.
Jiyeon menggenggam gantungan tasnya, lalu segera menyimpannya di laci miliknya. Ia lalu memegangi dadanya. ‘Kenapa rasanya sakit ya? Apa aku kecewa karena Seung Ho hanya mempermainkanku? Andwae! Neo micheosseo, Park Jiyeon! Ini tidak mungkin,’ batin Jiyeon.
***
♠Jiyeon’s P.O.V.♠
“Eomma, aku pergi dulu yaa,” aku berpamitan pada eomma ku.
“Eomonim, aku pergi dulu ya,” kata Seung Ho pada eomma ku lalu menunduk sopan.
“Nee.. Jalga,” jawab eomma ku sambil tersenyum. Seung Ho lalu berbalik dan pergi.
“Aigooo, namja itu.. Dia sangat sopan dan ramah. Park Jiyeon, kau harus memiliki pacar yang seperti itu,” kata eomma ku.
“Dasar namja bermuka dua,” umpatku kesal.
“Mwo??” sepertinya eomma tadi mendengar umpatanku.
“Ani, eomma. Annyeong,” aku menunduk lalu segera pergi.
Aku keluar dari rumahku, dan tiba-tiba aku mendapati Seung Ho masih ada di depan rumahku dengan motor merahnya. Ah, molla.. Untuk apa aku mempedulikannya? Dia selalu memanggilku si otak serangga, manusia bodoh, yeoja cantik jelmaan monster, aarggh pokoknya aku sangat benci Yoo Seung Ho!
Aku lalu berjalan tanpa melihat ke arah Seung Ho. “Park Jiyeon! YA! Otak serangga!” teriaknya lalu menjalankan motornya dengan lambat. “Neo eodi yaa?” tanyanya padaku. Motornya berada di sampingku, mesinnya di matikan. “Sekolah,” jawabku singkat tanpa menoleh. “Kachi ka,” katanya lalu turun dari motornya. “K… kachi?” tanyaku tidak percaya. “Eo, jamkkanman. Jangan bergerak,” katanya lalu membawa motornya masuk ke dalam rumah. Tak sampai dua puluh detik, dia sudah kembali lagi. “Kaja,” katanya lalu berjalan. Aku masih terdiam dan mematung, tak percaya dengan keadaanku saat ini.
Musuh bebuyutanku sejak SMP, Yoo Seung Ho, namja yang tak pernah berhenti menjahili aku. Bahkan dia pernah meletakkan permen karet di kursiku, tikus mainan di bawah mejaku, dan dia pernah memasukkan batu besar ke dalam tas ku! Itu sebabnya aku sangat membencinya, walaupun terkadang ada suatu perasaan aneh yang menyelinap masuk ke dalam hatiku. “Ya, kajaaa!!” kata Seung Ho. Aku langsung berjalan, di samping Seung Ho, musuhku sendiri. Rasanya, sejak kemarin aku seperti melihat sisi-sisi lain Seung Ho. Aku tidak pernah mendengar dia bicara tanpa berteriak padaku. Baru kemarin.
Tiba-tiba aku merasakan ada yang menyentuh tanganku. Aku melirik tanganku. Dia, Yoo Seung Ho, dia menggenggam tanganku. Aku memandang ke arahnya. Tampaknya dia sedang melihat-lihat tidak jelas, mengalihkan pandangannya dariku. Aku tak dapat membohongi diriku sendiri, pada kenyataannya jantungku berdetak sangat kencang. Perasaan apa ini? Aah, tidak mungkin. Bukankah dari dulu aku hanya menyukai Min Ho oppa?
***
“Yaa, Park Jiyeon! Kau mau terjatuh?” seru Seung Ho ketika melihatku yang hampir terjatuh.
Refleks, ketika aku hampir terjatuh, Seung Ho langsung menahanku lalu memelukku. Sejak tadi aku berusaha menjaga jarak dengan musuh bebuyutanku ini. Tetapi keadaannya malah seperti ini. Di dalam bus sangat sesak, penuh dengan penduduk.
“Kaja, sudah sampai,” Seung Ho meraih tanganku, lalu menuntunku keluar bis.
Ketika sudah turun dari bis, aku melirik tanganku lagi. Seung Ho, dia masih memegang tanganku. Ketika Seung Ho sadar kalau aku melirik tanganku, dia langsung melepaskan pegangannya, lalu berjalan di depanku.
“Yo yo yo, rupanya setelah berciuman kemarin, sekarang mereka berangkat sekolah bersama,” seru Key sambil tertawa, ketika aku dan Seung Ho memasuki kelas bersamaan.
Teman-teman Seung Ho yang lain berdeham, lalu tertawa-tawa.
“YAA! Ini bukan disengaja!” bantah Seung Ho sambil menaruh tas nya di meja nya.
“Geotjimaaall…” kata Key, Donghae, Min Hyuk, Min Ho, dan Heechul bersamaan bagaikan kelompok paduan suara.
“Arasseo, arasseo.. Ternyata dua musuh bebuyutan ini kini sedang jatuh cinta satu sama lain, maja?” kata Hee Chul sambil tertawa-tawa.
Aku lalu menyandarkan kepalaku ke meja, lalu menghela nafas dalam-dalam. Jatuh cinta? Aku tidak pernah merasakannya. Tidak mungkin aku mencintai musuhku sendiri. Haha haha, maldo andwae, tidak mungkin. Geundae… Bagaimana kalau aku benar-benar menyukainya? Aaah, andwae andwae! Hajima, hajima, hajimaaa Park Jiyeon!! Mana mungkin aku menyukai namja menyebalkan seperti itu? Namja yang selama lima tahun selalu berbuat jahil padaku dan membuatku kesal. Tapi… Sebenarnya mungkin saja. Selama lima tahun, aku selalu bersamanya. Setiap hari, di kelas, saat istirahat, dan pulang sekolah, dia tak pernah berhenti menjahiliku. Jadi mungkin kan kalau rasa suka itu bisa tumbuh? Aaah, maldo andwae, andwae ANDWAEEE!!! Dia sangat menyebalkan, bahkan aku sangat terkejut ketika tahu kalau Seung Ho adalah adik So Yeon eonni yang baik hati.
***
✿Seung Ho’s P.O.V✿
Sejak tadi kelima temanku tak henti-hentinya menggangguku. Mereka menanyakan beribu-ribu pertanyaan padaku, tetapi semuanya intinya sama saja. Menanyakan apakah aku benar-benar menyukai Jiyeon? Aku selalu menjawab tidak. Ani, aku tidak menyukai Jiyeon. Tetapi hatiku terus-terusan berkata bahwa aku benar-benar menyukai Jiyeon. Entahlah, mungkin memang benar, aku menyukai gadis dengan tingkah polos itu.
Tapi… Ada sesuatu, sesuatu yang selalu kupertimbangkan, sebelum aku yakin pada hatiku bahwa aku benar-benar menyukai Jiyeon. Min Ho. Jiyeon menyukai Min Ho, sahabatku sendiri. Dia pernah menuliskannya di buku diary nya. Aku jadi bingung. Jika aku menyukainya, kemungkinan akan berujung sakit hati karena Jiyeon menyukai Min Ho. Tidak tahu, aku benar-benar tidak tahu apa yang harus aku perbuat.
Entah sejak kapan aku mulai menyadari perasaanku padanya. Mungkin sejak kemarin, sejak aku menciumnya kemarin. Aku juga tidak tahu, entah dapat dorongan dari mana tiba-tiba aku ingin menciumnya. Aku sangat ingin berteriak kalau aku menyukai Jiyeon. Benar kata teman-temanku. Aku telah jatuh cinta pada musuhku sendiri. Tetapi bukan saling jatuh cinta. Mungkin hanya aku yang jatuh cinta padanya. Anehnya, ketika kemarin aku menciumnya, dia tidak menghindar dan tidak marah sama sekali. Dia seperti ‘menerima’ ketika aku menciumnya. Sampai sepuluh detik setelah aku menciumnya, tiba-tiba kelima sahabatku datang melihat. Aaah, kenapa aku jadi membayangkan peristiwa kemarin terus? Molla molla molla!!
***
♠Author’s P.O.V.♠
Bel pulang sekolah berbunyi. Seung Ho langsung melangkah ke meja Jiyeon, lalu meletakkan secarik kertas di meja Jiyeon. Seung Ho lalu meninggalkan meja Jiyeon dan beralih ke meja Donghae. Jiyeon yang kebingungan, lalu membaca secarik kertas itu.
Tunggu aku, di depan namsan tower jam 5 sore nanti. Jangan sampai telat, aku ingin membeli sesuatu, kau harus menemani aku. Joa? Tidak perlu protes. Yoo Seung Ho.
“YA!! Kenapa tidak berangkat bersama-sama saja dari rumah?? Dasar otak serangga!! Kita kan satu rumah, kenapa harus memintaku menunggu di…”
Ups.. Jiyeon keceplosan, mengatakan bahwa Jiyeon dan Seung Ho satu rumah. Kelima teman Seung Ho langsung terbelalak kaget. “MWO????” teriak mereka berlima bersamaan. “Y… YA!! Satu rumah?? Bagaimana… bisa?” tanya Min Hyuk heran. “Ani… anieyo…” kata Jiyeon sambil memarahi dirinya sendiri dalam hati. Kenapa bicara seperti itu di depan orang banyak? Aaah, Jiyeon babo! gerutunya dalam hati.
“Ya! Bagaimana bisa kalian satu rumah? Omo! Aku tidak pernah mengira hubungan kalian lebih dari yang kukira…”
“Anieyo! Ani, ani.. Bukan begitu! Dulu So Yeon eonni, nuna nya Seung Ho tinggal di rumahku! Eomma ku menyewakan beberapa kamar di rumahku. So Yeon eonni pindah ke Busan, dan akhirnya Seung Ho yang tinggal di rumahku! Aku juga baru tahu kalau Seung Ho itu… Adiknya So Yeon eonni,” jelas Jiyeon panjang lebar sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Sudah kan? Jangan mengira yang tidak-tidak! Aku tidak memiliki hubungan apapun dengan Jiyeon!” kata Seung Ho sambil menatap satu per satu teman-temannya.
“Tidak ada hubungan? Lalu kenapa berciuman?” tanya Min Hyuk sambil menatap tajam Jiyeon dan Seung Ho bergantian.
“Yaa! Dwaesseo, jangan bahas itu lagi,” kata Seung Ho kesal. Jiyeon lalu meninggalkan ruangan kelas dengan cepat. Seung Ho hanya menghela nafas.
“Ani, kita harus membahasnya. Bukankah kau dan Jiyeon sudah berperang sejak SMP? Lalu sekarang? Omo, kalian saling jatuh cinta bahkan berciuman,” komentar Donghae.
“Ya! Bukan berciuman. Aku yang menciumnya.”
“MWOYA??” teriak kelima teman Seung Ho.
“Yaa, kau benar-benar menyukai Jiyeon?” tanya Min Ho penasaran.
“Ya! Apa aku harus menyukai orang itu dulu baru boleh menciumnya?”
“Lalu kenapa kau menciumnya?”
“Dwaesseo!” seru Seung Ho kesal.
“YA! Kau ingin kami mati penasaran?” kata Donghae.
“Geurae, geurae! Karena aku memang ingin menciumnya, dwaesseo, tidak perlu bertanya lagi!” kata Seung Ho lalu dengan cepat berjalan keluar kelas.
“Seung Ho ah!!” teriak Min Ho.
“MWOO?” Seung Ho menoleh dengan tatapan kesal.
“Itu first kiss mu kan?”
“Ne!” seru Seung Ho, lalu pergi meninggalkan kelima temannya yang sedang bertepuk tangan tidak jelas.
***
Malam hari …
“Eomonim, aku pergi dulu,” pamit Seung Ho pada eomma Jiyeon.
“Geurae… Kau mau kemana?” tanya eomma Jiyeon ramah.
“Namsan tower,” jawab Seung Ho sambil tertawa kecil.
“Geurae, arasseo.. Kau mau bertemu seorang yeoja?” tebak eomma Jiyeon.
“Ne, eomeonim..” kata Seung Ho sambil tertawa kecil.
“Hahaha, geurae, jalga,” kata eomma Jiyeon.
Seung Ho menunduk sopan, lalu melangkah keluar rumah dengan celana jeans biru tua dan t-shirt abu-abu nya. “Aigoo, namja itu sangat tampan dan sopan,” gumam eomma Jiyeon sambil tersenyum, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya, membersihkan ruang tamu.
***
♠Jiyeon’s P.O.V.♠
~DREAMING~
Hari itu, aku berjalan dengan sedikit tergesa. Pasalnya, tadi Luna, sahabatku memberitahu aku bahwa aku memenangkan lomba menyanyi. Dan aku mendapat juara kedua! ^^ Kalian tahu betapa senangnya aku? SANGAT SENAAANGG!!
Ketika aku mulai dekat dengan area lapangan, tempat dimana lomba dilaksanakan, aku semakin mempercepat langkahku. Namun tanpa kusadari…
BRUGH!
PRAAANNG!
Aku menabrak seseorang! Astaga, aku merutuki diriku sendiri dalam hati. Aku langsung menunduk dan… OMO! Piala… pialanya pecah… Dan pasti itu milik orang yang tadi kutabrak…
“YAK!” bentaknya. Dengan sedikit takut, aku mulai memberanikan diri untuk menatap namja di depanku.
‘Dia tampan…’
Tiba-tiba saja otakku memikirkan satu kalimat itu. Namun melihat wajah marahnya, aku buru-buru menghapus pikiran itu.
“M… mianhae,” ucapku pelan dan ketakutan. “Mwo!? Mianhae!? Kau telah menghancurkan piala berhargaku!” serunya kesal. “Aku tidak sengaja.. Jeongmal mianhae,” ucapku seraya membungkuk berkali-kali. Ia menatapku. Tatapannya tajam dan menusuk. Menakutkan. Aku merasakan aura dingin di sekitarku.
“Park Jiyeon! Ppali! Pialamuu!” seru Luna dari lapangan. Sekali lagi aku memberanikan diri untuk menatap namja di depanku. Dan…
LARIII!!!
“YAK! KEMBALI KAU, YEOJA PABO! YAK! TANGGUNG JAWAB! PIALAKUU!!” serunya. Namun aku tak menghiraukannya. Jahat sekali ya aku ==”
Dan kalian tahu? Karena itu aku mendapat karmanya. Ternyata dia Yoo Seung Ho, teman sekelasku. Aah sialnya aku ==” semenjak saat itu, dia selalu saja menggangguku… Astaga…
~END OF DREAMING~
Perlahan aku mengerjap-ngerjapkan mataku yang masih mengantuk. Astaga, aku baru saja bermimpi. Mimpi itu sebenarnya bukan mimpi, itu peristiwa pertemuan pertamaku dengan Seung Ho saat tanpa sengaja aku memecahkan piala berharganya. Dan aku sendiri bingung, kenapa tiba-tiba aku bisa memimpikan itu?
Ketika aku mulai sadar dan menyadari kalau ini sudah malam, aku langsung melihat ke arah jam. OMO! Jam 7.30!! Namsan tower!! Aaah, tadi aku hanya berniat tidur selama sepuluh menit, tetapi kenapa malah jadi satu jam!?
Dengan cepat, aku yang masih memakai seragam sekolahku langsung mengambil jaket yang di gantung di belakang pintu. Aku meraih ponselku, lalu langsung berlari keluar dan menuruni tangga.
“Mau kemana, Jiyeon-aa?” tanya eomma ku heran ketika melihatku dengan tergesa-gesa menuruni tangga.
“Namsan tower! Annyeong eommaaaa!!”
“Namsan tower?? Seung Ho, dia juga…”
“Na araayoo, eommaa!! Annyeong!!” jawabku cepat, karena aku sudah tahu, eomma pasti akan bilang kalau si Yoo Seung Ho itu juga pergi ke Namsan Tower.
***
♠Author’s P.O.V.♠
Dengan terengah-engah, akhirnya Jiyeon sampai juga di depan Namsan Tower. Jiyeon langsung duduk di kursi di bawah sebuah pohon yang daunnya sedang berguguran. Beberapa daun kering jatuh di kepala Jiyeon. Angin berhembus lembut mengenai wajah Jiyeon yang kedinginan. Mata Jiyeon sejak tadi mencari-cari ke sekelilingnya, seorang pria yang wajahnya amat Jiyeon hafal, Seung Ho. Tetapi sampai sekarang mata Jiyeon belum menemukan sosok yang sejak tadi ia cari-cari. Mungkin dia terlalu lama menunggu, lalu memutuskan untuk pulang, pikir Jiyeon. Jiyeon menghela nafas, lalu menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi taman. Tiba-tiba…
Semuanya menjadi gelap…
*TBC*
Gaje?? SANGAAAT! Hehehe Mungkin memang gaje, tapi please walaupun agak aneh comment yaa comment kalian sangat aku butuhkan dan harapkan banget, soalnya aku hobi banget ngitungin comment cerita aku -__- comment dari kalian bikin aku semangat banget. Setiap kali cerita aku nambah satu comment, pasti aku langsung jingkrak-jingkrak seneng. Bener deeh..
Oke, thanks yang udah mau baca n ninggalin jejak ^^ ditunggu lanjutannya ^^
“Belajarlah menghargai orang lain, kalau kalian juga ingin dihargai.”
-Cherry Anastasia-

Advertisements

41 responses to “[FREELANCE] Hate You, Love You 1.2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s